Dokumen ini membahas tentang indra pembau (sistem penciuman) manusia, termasuk anatomi hidung, mekanisme penciuman, dan beberapa kelainan pada indra penciuman seperti rinitis alergi, polip hidung, angiofibroma juvenil, dan rinitis atrofi.
Nasal Cavity
(Rongga Hidung)
Rongga hidung (nasal cavity) adalah
bagian dari hidung yang berfungsi untuk
mengalirkan udara dari luar ke tenggorokan
menuju paru paru. Rongga hidung ini di
hubungkan dengan bagian belakang
tenggorokan.
Rongga hidung di pisahkan oleh langit-langit
mulut kita yang di sebut dengan Palate.
6.
Nostril
Hidung manusia dibagi menjadi dua
bagian rongga yang sama besar yang di
sebut dengan Nostril.
Dinding pemisah di sebut dengan
septum, septum terbuat dari tulang
yang sangat tipis. Rongga hidung di
lapisi dengan rambut dan membran
yang mensekresi lendir lengket.
7.
Membran Mukosa
Mucous membraneatau dikenal juga
dengan sebutan membran mukosa adalah
selaputyang berfungsi mengahangatkan
udara dan melembabkannya.
Membran ini berfungsi untuk membuat mucus
(lendir atau ingus) yang berguna untuk
menangkap debu, bakteri, dan partikel-
partikel kecil lainnya yang dapat merusak
paru-paru.
Manusia mendeteksi baumenggunakan sel reseptor yang
ada di hidung. Dia atap rongga hidung terdapat
Lapisan epithelium yang sangat sensitif terhadap
molekul-molekul bau, karena pada bagian ini ada bagian
pendeteksi bau (smell receptors).
Receptor ini jumlahnya sangat banyak ada sekitar 10 juta.
Ketika partikel bau tertangkap oleh receptor, zat tersebut
Akan larut dalam lendir pada mukosa membran sehingga
terjadi pengikatan zat dengan protein membran pada
dendrit. Kemudian timbul impuls yang dikirim oleh saraf
olfaktori ke traktus olfaktori lalu masuk ke bulbus
olfaktori. Bagian inilah yang mengirim sinyal ke otak dan
kemudian di proses oleh otak.
11.
Impuls yang dijalarkandari bulbus
Olfaktorius
menuju otak akan diolah untuk :
Diinterpretasikan pada daerah bau primer
Dihubungkan dengan pusat lainnya. Ex:
dihubungan ke pusat muntah, dihubungkan
dengan hipothalamus, dll
Disimpan di korteks otak sebagai memori
(ingatan) akan bau.
12.
RINITIS ALERGI
Adalah reaksiberlebihan (hipersensitif) pada rongga
hidung karena kontak dengan bahan alergen yang
ditandai dengan pilek, bersin-bersin (kadang bersin
berkepanjangan) dan hidung buntu. Dengan faktor
penyebab antara lain:
Bahan makanan-minuman. (ex: buah tertentu, telur,
ikan laut, susu, kacang-kacangan, dll.)
Bahan hirupan. (ex: jamur, debu, dll.)
Suhu dingin. (ex: hujan, ruang ber AC, dll.)
13.
POLIP HIDUNG
Polip hidungterjadi karena munculnya jaringan lunak pada
rongga hidung yang berwarna putih atau keabuan. Jaringan
ini bisa diamati langsung dengan mata telanjang setelah
lubang hidung diperbesar dengan alat spekulum hidung.
Polip hidung biasanya menyerang orang dewasa yang
kemungkinan disebabkan oleh karena reaksi hipersensitif
atau reaksi alergi pada mukosa hidung yang berlangsung
lama. Beberapa faktor lain yang meningkatkan kemungkinan
terkena polip hidung antara lain sinusitis (radang sinus)
yang menahun, iritasi, sumbatan hidung oleh karena
kelainan anatomi.
14.
ANGIOFIBROMA JUVENIL
Angiofibroma Juveniladalah tumor jinak pada hidung
bagian belakang yang mengandung pembuluh darah.
Tumor ini paling sering ditemukan pada anak-anak laki
yang sedang mengalami masa puber. Tumor ini tidak
ganas, tetapi dapat merusak jaringan pada lapisan
hidung dan sering menyebabkan pendarahan hidung
(epistaksis, mimisan). Jika tumbuh membesar, tumor
bisa meluas ke jaringan di sekitarnya, kantung mata
atau rongga kranial (rongga yang berisi otak).
15.
RINITIS ATROFI
Rinitis atrofiyang disebut juga rinitis sika, rinitis
kering, sindrom hidung-terbuka, atau ozaena adalah
penyakit hidung kronik yang ditandai atrofi
progresif mukosa hidung dan tulang penunjangnya
disertai pembentukan sekret yang kental dan tebal
yang cepat mengering membentuk krusta,
menyebabkan obstruksi hidung, anosmia, dan
mengeluarkan bau busuk.