FILSAFAT PENDIDIKAN
EKSISTENSIALISME

OLEH:
ELCE PURWANDARI
PENDAHULUAN
 Filsafat pendidikan berusaha memahami
pendidikan dalam keseluruhan, menafsirkannya

dengan konsep-konsep umum, yang akan
membimbing kita dalam memilih tujuan dan
kebijakan pendidikan. Dengan cara yang sama
filsafat mengkoordinasi hasil-hasil penemuan
sains yang berlainan dan berbeda-beda, maka
filsafat pendidikan menafsirkan penemuanpenemuan tersebut berkaitan dengan
pendidikan.
Lanjutan
 Terdapat beberapa mazhab filsafat

pendidikan , salah satu mazhab filsafat
pendidikan adalah EKSISTENSIALISME.
 Bagaimanakah tinjauan pendidikan dalam
perspektif filsafat Eksistensialisme?
Definisi Filsafat
 Secara etimologis kata filsafat dapat diartikan
sebagai cinta atau kecenderungan akan
kebijaksanaan, atau cinta secara mendalam akan
kebijaksanaan atau cinta sedalam-dalamnya
akan kearifan atau cinta secara sungguhsungguh terhadap pandangan, kebenaran (love
of wisdom or love of the vision or truth)
 secara terminologis filsafat dapat diartikan
sebagai ilmu yang mempelajari dengan
sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala
sesuatu
Filsafat Pendidikan
 Filsafat pendidikan menurut Al-Syaibany

(dalam Sadulloh, 2011: 71) adalah:
“Pelaksanaan pandangan falsafah dan kaidah
falsafah dalam bidang pendidikan. Filsafat itu
mencerminkan satu segi dari segi pelaksanaan
falsafah umum dan menitikberatkan kepada
pelaksanaan prinsip-prinsip dan kepercayaankepercayaan yang menjadi dasar dari falsafah
umum dalam menyelesaikan masalahmasalah pendidikan secara praktis”
Lanjutan
 Kneller (dalam Sadulloh, 2011: 72), filsafat

pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam
lapangan pendidikan.Seperti halnya filsafat, filsafat
pendidikan dapat dikatakan
spekulatif, preskiptif, dan analitik.
 Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan
bahwa filsafat pendidikan adalah terapan dari
filsafat umum yang dilaksanakan dalam pandangan
dan kaidah bidang pendidikan yang berusaha
membangun teori-teori hakikat
manusia, masyarakat, dan dunia, menentukan
tujuan-tujuan yang harus dicapai dalam lapangan
pendidikan.
Eksistensialisme
 Secara Etimologis Eksistensialisme berasal

dari kata eksistensi yang berarti berdiri
dengan keluar dari diri sendiri.
 Secara umum, eksistensialisme menekankan
pilihan kreatif, subyektivitas pengalaman
manusia, dan tindakan kongkret dari
keberadaan manusia atas setiap skema
rasional untuk hakikat manusia atau realitas.
Realitas
 Eksistensialisme berpandangan bahwa

realitas adalah kenyataan hidup itu sendiri.
Untuk menggambarkan realitas, kita harus
melihat apa yang ada dalam diri kita sendiri.
 Bagi eksistensialisme, benda-benda
materi, alam fisik, dunia yang berada di luar
manusia tidak akan bermakna atau tidak
memiliki tujuan apa-apa kalau terpisah dari
manusia. Jadi, dunia ini bermakna karena
manusia.
Pengetahuan
 Pengetahuan manusia tergantung pada

pemahamannya tentang realitas, tergantung
pada interpretasi manusia terhadap realitas.
Pengetahuan yang diberikan di sekolah
bukan sebagai alat untuk memperoleh
pekerjaan atau karir anak, melainkan untuk
dapat dijadikan alat perkembangan dan alat
pemenuhan diri.
Nilai
 Pemahaman eksistensialisme terhadap nilai

menekankan kebebasan dalam tindakan.
Kebebasan bukan tujuan atau suatu cita-cita
dalam dirinya sendiri, melainkan merupakan
suatu potensi untuk suatu tindakan. Manusia
memiliki kebebasan untuk memilih, namun
menentukan pilihan-pilihan di antara pilihanpilihan yang terbaik adalah yang paling sukar.
Pendidikan
 Tujuan Pendidikan
Pendidikan hanya dilakukan manusia, dan

memiliki tujuan mendorong individu mampu
mengembangkan semua potensi untuk
pemenuhan diri. Memberi bekal pengalaman
yang luas dan komprehensif dalam semua
bentuk kehidupan.
 Kurikulum
kurikulum yang memberikan para peserta didik
kebebasan individual yang luas.
Lanjutan
 Proses Belajar Mengajar

proses belajar mengajar, pengetahuan tidak
dilimpahkan, melainkan ditawarkan ”Dialog”. Dan
metode yang dipakai harus merujuk pada cara untuk
mencapai kebahagiaan dan karakter yang baik.
 Peranan Guru
Guru harus memberi kebebasan peserta didik
memilih dan memberi pengalaman yang akan
menemukan makna dari kehidupan mereka
sendiri, namun guru pun harus mampu
membimbing dan mengarahkan peserta didik
dengan seksama.
Potret Guru Eksistensialis
 Guru yang menganut paham eksistensialisme
menginginkan para siswanya bereaksi secara
kritis dan skeptis pada apa yang ia ajarkan pada

mereka. Ia juga mendorong mereka untuk
berpikir secara mendalam dan berani mengenai
makna kehidupan, kecantikan, cinta, dan
kematian. Ia menilai keefektifannya dengan
tataran dimana para siswa mampu dan mau
menjadi lebih tahu tentang pilihan-pilihan yang
terbuka bagi mereka. Misalnya, memberi tugastugas menulis yang mendorong para siswa untuk
melihat ke dalam agar dapat mengembangkan
pengetahuan diri yang lebih besar.
SEKIAN

Eksistensialisme

  • 1.
  • 2.
    PENDAHULUAN  Filsafat pendidikanberusaha memahami pendidikan dalam keseluruhan, menafsirkannya dengan konsep-konsep umum, yang akan membimbing kita dalam memilih tujuan dan kebijakan pendidikan. Dengan cara yang sama filsafat mengkoordinasi hasil-hasil penemuan sains yang berlainan dan berbeda-beda, maka filsafat pendidikan menafsirkan penemuanpenemuan tersebut berkaitan dengan pendidikan.
  • 3.
    Lanjutan  Terdapat beberapamazhab filsafat pendidikan , salah satu mazhab filsafat pendidikan adalah EKSISTENSIALISME.  Bagaimanakah tinjauan pendidikan dalam perspektif filsafat Eksistensialisme?
  • 4.
    Definisi Filsafat  Secaraetimologis kata filsafat dapat diartikan sebagai cinta atau kecenderungan akan kebijaksanaan, atau cinta secara mendalam akan kebijaksanaan atau cinta sedalam-dalamnya akan kearifan atau cinta secara sungguhsungguh terhadap pandangan, kebenaran (love of wisdom or love of the vision or truth)  secara terminologis filsafat dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu
  • 5.
    Filsafat Pendidikan  Filsafatpendidikan menurut Al-Syaibany (dalam Sadulloh, 2011: 71) adalah: “Pelaksanaan pandangan falsafah dan kaidah falsafah dalam bidang pendidikan. Filsafat itu mencerminkan satu segi dari segi pelaksanaan falsafah umum dan menitikberatkan kepada pelaksanaan prinsip-prinsip dan kepercayaankepercayaan yang menjadi dasar dari falsafah umum dalam menyelesaikan masalahmasalah pendidikan secara praktis”
  • 6.
    Lanjutan  Kneller (dalamSadulloh, 2011: 72), filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam lapangan pendidikan.Seperti halnya filsafat, filsafat pendidikan dapat dikatakan spekulatif, preskiptif, dan analitik.  Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa filsafat pendidikan adalah terapan dari filsafat umum yang dilaksanakan dalam pandangan dan kaidah bidang pendidikan yang berusaha membangun teori-teori hakikat manusia, masyarakat, dan dunia, menentukan tujuan-tujuan yang harus dicapai dalam lapangan pendidikan.
  • 7.
    Eksistensialisme  Secara EtimologisEksistensialisme berasal dari kata eksistensi yang berarti berdiri dengan keluar dari diri sendiri.  Secara umum, eksistensialisme menekankan pilihan kreatif, subyektivitas pengalaman manusia, dan tindakan kongkret dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakikat manusia atau realitas.
  • 8.
    Realitas  Eksistensialisme berpandanganbahwa realitas adalah kenyataan hidup itu sendiri. Untuk menggambarkan realitas, kita harus melihat apa yang ada dalam diri kita sendiri.  Bagi eksistensialisme, benda-benda materi, alam fisik, dunia yang berada di luar manusia tidak akan bermakna atau tidak memiliki tujuan apa-apa kalau terpisah dari manusia. Jadi, dunia ini bermakna karena manusia.
  • 9.
    Pengetahuan  Pengetahuan manusiatergantung pada pemahamannya tentang realitas, tergantung pada interpretasi manusia terhadap realitas. Pengetahuan yang diberikan di sekolah bukan sebagai alat untuk memperoleh pekerjaan atau karir anak, melainkan untuk dapat dijadikan alat perkembangan dan alat pemenuhan diri.
  • 10.
    Nilai  Pemahaman eksistensialismeterhadap nilai menekankan kebebasan dalam tindakan. Kebebasan bukan tujuan atau suatu cita-cita dalam dirinya sendiri, melainkan merupakan suatu potensi untuk suatu tindakan. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih, namun menentukan pilihan-pilihan di antara pilihanpilihan yang terbaik adalah yang paling sukar.
  • 11.
    Pendidikan  Tujuan Pendidikan Pendidikanhanya dilakukan manusia, dan memiliki tujuan mendorong individu mampu mengembangkan semua potensi untuk pemenuhan diri. Memberi bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk kehidupan.  Kurikulum kurikulum yang memberikan para peserta didik kebebasan individual yang luas.
  • 12.
    Lanjutan  Proses BelajarMengajar proses belajar mengajar, pengetahuan tidak dilimpahkan, melainkan ditawarkan ”Dialog”. Dan metode yang dipakai harus merujuk pada cara untuk mencapai kebahagiaan dan karakter yang baik.  Peranan Guru Guru harus memberi kebebasan peserta didik memilih dan memberi pengalaman yang akan menemukan makna dari kehidupan mereka sendiri, namun guru pun harus mampu membimbing dan mengarahkan peserta didik dengan seksama.
  • 13.
    Potret Guru Eksistensialis Guru yang menganut paham eksistensialisme menginginkan para siswanya bereaksi secara kritis dan skeptis pada apa yang ia ajarkan pada mereka. Ia juga mendorong mereka untuk berpikir secara mendalam dan berani mengenai makna kehidupan, kecantikan, cinta, dan kematian. Ia menilai keefektifannya dengan tataran dimana para siswa mampu dan mau menjadi lebih tahu tentang pilihan-pilihan yang terbuka bagi mereka. Misalnya, memberi tugastugas menulis yang mendorong para siswa untuk melihat ke dalam agar dapat mengembangkan pengetahuan diri yang lebih besar.
  • 14.