Distilasi 
Distiasi adalah suatu teknik pemisahan campuran berdasarkan penguapan 
dan re-kondensasi dari uap cairan untuk pemurnian suatu campuran
Pengertian 
I. Distilasi atau penyulingan adalah suatu 
metode pemisahan bahan kimia berdasarkan 
perbedaan kecepatan atau kemudahan 
menguap (volatilitas) bahan atau didefinisikan 
juga teknik pemisahan kimia yang 
berdasarkan perbedaan titik didih 
II. Distilasi merupakan proses fisika bukan 
merupakan reaksi kimia.
Sejarah Distilasi 
I. Distilasi pertama kali dilakukan di Mesopotamia (Irak) 2000 tahun SM 
II. Di Pakistan ditemukan distilasi alkohol pada 500 tahun SM 
III. Abad ke-8 ahli kimia Arab dan Persia menemukan Distilasi yang efektif 
untuk distilasi ester alam (parfum) dan alkohol 
IV. Distilasi Etanol pertama kali dilakukan oleh Al-Kindi 
V. Distilasi uap ditemukan oleh Ibnu Sina (Avicenna) pada abad ke-11 untuk 
memproduksi essensial oil
Distilasi - Aplikasi 
I. Salah satu penerapan terpenting dari metode distilasi adalah 
pemisahan minyak mentah menjadi bagian-bagian untuk 
penggunaan khusus seperti untuk transportasi, pembangkit listrik, 
pemanas, dll. Udara didistilasi menjadi komponen-komponen seperti 
oksigen untuk penggunaan medis dan helium untuk pengisi balon. 
II. Distilasi juga telah digunakan sejak lama untuk pemekatan alkohol 
dengan penerapan panas terhadap larutan hasil fermentasi untuk 
menghasilkan minuman suling. 
III. Selain itu ada juga dalam laboratory scale, industrial distillation dan 
food processing. 
IV. Banyak digunakan dalam proses perpindahan massa.
Pembagian Distilasi 
1. Distilasi berdasarkan prosesnya terbagi menjadi dua, yaitu : 
A. Distilasi kontinyu 
B. Distilasi batch 
2. Berdasarkan basis tekanan operasinya terbagi menjadi tiga, yaitu : 
A. Distilasi atmosferis 
B. Distilasi vakum 
C. Distilasi tekanan 
3. Berdasarkan komponen penyusunnya terbagi menjadi dua, yaitu : 
A. Destilasi system biner 
B. Destilasi system multi komponen 
4. Berdasarkan system operasinya terbagi menjadi dua, yaitu : 
A. Single-stage Distillation 
B. Multi stage Distillation
Pembagian Distilasi 
Dalam referensi lain menyebutkan macam – macam distilasi, yaitu : 
1. Distilasi sederhana 
2. Distilasi bertingkat ( fraksional ) 
3. Distilasi azeotrop 
4. Distilasi vakum 
5. Distilasi kering
Distilasi Sederhana
A. Penguapan dan Kondensasi – Sistem Satu Komponen 
1. Pada setiap larutan, molekul bergerak secara kontinyu 
2. Sebagian kecil dari molekul-molekul ini mempunyai energi kinetik 
yang cukup untukmeninggalkan fase cairan 
3. Gerakan tersebut menekan secara berlawanan terhadap tekanan 
atmosfer diatas larutan dan dikenal dengan tekanan uap P 
Atmospheric pressure, Patm 
Vapor Pressure, P 
Distilasi - Teori
A. Penguapan dan Kondensasi – Sistem Satu Komponen 
4. Ketika energi tercukupi, dalam bentuk panas, energi tersebut 
membuat tekanan uap dari larutan sebanding dengan tekanan 
atmosfer dan larutan akan mulai mendidih 
P < Patm P ≥ Patm 
Distilasi - Teori
Distilasi - Teori 
A. Penguapan dan Kondensasi – Sistem satu Komponen 
5. Uap dihasilkan dari cairan yang mendidih, ketika didinginkan, 
akan terjadi re-kondendasi menjadi cairan kembali dan dikenal 
dengan istilah distilat 
6. Proses lengkapnya disebut Distilasi
Distilasi - Aplikasi 
B. Mengapa kita melakukan Disilasi? 
Distilasi merupakan teknik yang biasa dilakukan untuk pemisahan 
dan pemurnian suatu produk
C. Beberapa aplikasi Distilasi yang biasa ditemukan: 
1. Pemisahan solvent dari solut yang non-volatil 
A + B 
Solvent 
C 
(bp typically below 100 oC) 
bp of most modern synthetic 
targets is usually >> 200 oC 
Campuran dari solvent dan 
solut diputar untuk 
meningkatkan area permukaan 
untuk evaporasi yang akan 
membantu mengurangi 
pengaruh dari peningkatan titik 
didih 
Vakum 
digunakan 
untuk 
menurunkan 
titik didih 
solvent Teknik ini adalah teknik distilasi yang 
paling umum dilakukan di 
laboratorium kimia organik – 
pemisahan solvent dari campuran 
hasil reaksi secara sederhana. 
Distilasi - Aplikasi
C. Beberapa Aplikasi yang biasa dilakukan 
2. Pemisahan salah satu cairan dari cairan yang lain 
A + B C + D 
bp 60 oC bp 100 oC 
C + D 
Murni C? 
Murni D? 
Campuran C + D? 
Distilasi - Aplikasi
Distilasi – kembali ke teori 
D. Pemisahan Dua Cairan 
1. Untuk masing-masing komponen : Jika tekanan uap di plot versus 
temperatur, terjadi peningkatan tekanan uap secara eksponensial 
ketika temperatur mendekati titik didih
Distilasi – Teori 
D. Pemisahan Dua Cairan 
2. Hubungan antara tekanan uap vs temperatur dijelaskan oleh 
persamaan Clausius-Clapeyron : 
p = po exp [ - DH ] 
R (1/T – 1/To) 
x,y (independent dan dependent variabel) untuk persamaan ini 
temperatur (T) yang diketahui dan tekanan uap (p) dihitung 
berdasarkan temperatur tersebut. 
Konstanta untuk persamaan ini : 
po and To: Tekanan uap yang diketahui untuk temperatur 
yang diketahui (°K) 
   DH: panas penguapan dari cairan 
R: Konstanta gas (8.314 J . mol-1 . ° K)
Distilasi – Teori 
D. Pemisahan Dua Cairan 
1. Suatu campuran dari dua atau lebih cairan yang volatil, masing-masing 
cairan memberikan kontribusi parsial kepada tekanan uap 
keseluruhan 
Pcampuran = PA + PB + … 
2. Pada saat penjumlahan dari tekanan parsial ini sebanding 
dengan tekanan atmosfer (tekanan diatas campuran), campuran 
akan menguap 
3. Hukum ini menyiratkan bahwa jika suatu campuran dari cairan 
yang berbeda volatilitasnya dipanaskan sampai mendidih dan 
kemudian uap yang terkondensasi ditampung, maka hasilnya 
akan kaya oleh senyawa yang lebih mudah menguap. 
lebih mudah menguap = tekanan parsial lebih tinggi, titik didih 
lebih rendah 
4. Hal ini menjadi dasar dari penggunaan distilasi sebagai salah 
satu teknik untuk pemisahan dan pemurnian dari campuran 
cairan.
Distilasi – Teori 
D. Pemisahan dua Cairan – Hukum Raoult’s 
1. Raoult memperjelas hukum Dalton untuk mengilustrasikan bahwa 
kontribusi dari tekanan uap masing-masing komponen 
berhubungan dengan fraksi mol dari masing-masing komponen 
tersebut didalam campuran pada hubungan antara fase cair dan 
fase uap 
Pmixture = XAPA + XBPB + … 
2. Pada titik didihnya: 
Patm = XAPA + XBPB (Sistem 2 komponen) 
3. Komposisi dari komponen pada uap yang terkondensasi 
bergantung pada volatilitas (P) dan konsentrasi (X) komponen 
tersebut pada campuran awal.
Distilasi – Teori 
Darimana datangnya rumus- rumus ini? 
Dalton + CC? 
Raoult + CC? 
??? Apa yang kita 
dapat? 
Kenapa kita melakukannya? 
Orang kimia tertarik pada pemisahan dan pemurnian, tidak 
membutuhkan penurunan rumus-rumus fisika!
Distilasi – Teori 
Yang kita butuhkan adalah : 
• Hubungan antara fraksi mol dari komponen didalam suatu campuran 
terhadap titik didih yang teramati 
dalam bahasa indonesianya – jika kita mempunyai campuran A : B 
pada temperatur berapa campuran tersebut akan mendidih? 
• Estimasi kadar kondensat yang ditampung dari hasil mendistilasi 
campuran. 
dalam bahasa Indonesianya : jika kita mendistilasi campuran A dan 
B 80:20, akankah kita mendapat salah satu komponen dalam uap 
yang terkondensasi? 
Alat yang mana yang akan kita gunakan?
E. Mengkombinasikan hukum Raoult dengan Clausius-Clapeyron 
1. Penjumlahan fraksi mol dari semua komponen harus sama 
dengan 1 
1 = XA + XB 
2. Substitusi persamaan untuk komponen tunggal terhadap hukum 
Raoult’s 
XB = 1 – XA jadi Patm = XAPA + (1-XA)PB 
Patm - PB 
(PA - PB) 
3. Pengembangan dan penyusunan ulang dari persamaan diatas : 
XA = _______________ 
Distilasi – Teori
E. Mengkombinasikan Raoult dan Clausius-Clapeyron: 
4. Jika kita mensubstitusi persamaan : 
Patm - PB 
(PA - PB) 
[- DH (1/T – 1/To) R ] 
XA = __________ 
pada persamaan Clausius-Clapeyron : 
p = po exp 
Kita mendapatkan persamaan untuk fraksi mol dari masing-masing 
komponen dalam cairan yang mendidih pada temperatur pengujian : 
[ - DHB 
Patm - P°exp R (1/T – 1/To 
B) ] 
XA = _________________________________________________________ B P°A exp[ (1/T – 1/To 
A) - DHA 
R ] P°B exp (1/T – 1/To 
B) - DHB 
R _ [ ] 
Distilasi – Teori
Distilasi – Teori 
E. Mengkombinasikan Raoult dengan Clausius-Clapeyron: 
Jika kita mengkombinasikan persamaan untuk masing-masing 
komponen dalam campuran dua komponen, kita mendapatkan 
grafik seperti berikut : 
0.0, 1.0 0.5, 0.5 1.0, 0.0 
Fraksi mol, XA, XB 
Temperature 
TD A murni 
TD B murni 
Liquid 
Vapor 
Grafik ini menunjukkan titik didih pada berbagai komposisi campuran A dan B
Distilasi – Teori 
F. Dalton dan Clausius-Clapeyron: 
1. Kita telah membahas bagaimana komposisi cairan berhubungan 
dengan temperatur didih, apa yang terjadi pada fase uap? 
2. Komposis pada fase uap dijelaskan oleh hukum Dalton 
P = PA + PB 
3. Substitusikan hukum gas ideal pada masing-masing komponen: 
(PA = nA(RT)/V) 
dengan menghilangkan bentuk yang sama, kita mendapatkan 
bahwa rasio masing-masing komponen terhadap tekanan uap 
total: 
PA/PTOTAL = nA/nTOTAL 
4. Substitusi fraksi mol menjadi angka mol , kita menemukan bahwa 
pada 760 torr (1atm), komponen uap pada sistem ini ditunjukkan 
oleh : 
XA vapor = XA liquid (PA/760) 
Jika kita mensubsitusi persamaan ini pada Clausius-Clapeyron:
G. Kita mendapatkan persamaan untuk komposisi didalam fase uap. 
Sekarang tambahkan hubungan ini pada grafik komposisi uap 
terhadap fraksi mol dan temperatur, kita sampai pada tujuan kita: 
0.0, 1.0 0.5, 0.5 1.0, 0.0 
Mole Fraction, XA, XB 
Temperature 
bp of pure A 
bp of pure B 
Liquid 
Vapor 
Vapor composition 
Liquid composition 
Distilasi – Teori
G. Sekarang untuk semua campuran cairan, kita dapat menentukan: 
1. Titik didih campuran (garis cairan) 
2. Komposisi dari uap (garis uap), yang menunjukkan berapa 
banyak pengkayaan pada komponen yang memiliki titik didih 
lebih rendah 
Vapor 
line 
Liquid 
line 
Temperature °C 
110 
100 
90 
80 
Mole % Toluene 
Mole % Benzene 
0 
100 
20 
80 
40 
60 
60 
40 
80 
20 
100 
0 
Composition (mole%) 
Distilasi – Teori
A. Apakah itu? 
1. Merupakan distilasi yang memanfaatkan satu siklus penguapan-kondensasi 
untuk melakukan pemisahan. 
Distilasi Sederhana 
Labu distilasi 
langsung 
tersambung 
dengan ujung alat 
distilasi 
Pendingin dan vakum hanya 
berfungsi untuk mendinginkan 
uap menjadi cairan secara 
efisien dan langsung masuk 
ke labu penampung
B. Seberapa Efisienkah? 
Kita gunakan grafik untuk mengilustrasikan apa yang terjadi pada 
distilasi sederhana : 
Vapor 
line 
Liquid 
line 
Temperature °C 
110 
100 
90 
80 
Mole % Toluene 
Mole % Benzene 
0 
100 
20 
80 
40 
60 
60 
40 
80 
20 
100 
0 
Composition (mole%) 
Distilasi Sederhana
Vapor 
line 
Liquid 
line 
Temperature °C 
110 
100 
90 
80 
Distilasi Sederhana 
Mole % Toluene 
Mole % Benzene 
0 
100 
20 
80 
40 
60 
60 
40 
80 
20 
100 
0 
Composition (mole%) 
B. Seberapa efisienkah? 
Andaikan kita mempunyai campuran Toluen : Benzen 80 : 20. 
campuran ini dipesahkan dengan distilasi sederhana: 
Dari grafik, 
kita bisa 
melihat bahwa 
campuran 
mendidih pada 
~100 °C
Vapor 
line 
Liquid 
line 
Temperature °C 
110 
100 
90 
80 
Mole % Toluene 
Mole % Benzene 
0 
100 
20 
80 
40 
60 
60 
40 
80 
20 
100 
0 
Composition (mole%) 
Distilasi Sederhana
Distilasi Sederhana 
C. Aplikasi 
1. Dari analisis grafik kita melihat bahwa distilasi sederhana tidak 
100% efisien untuk memisahkan 2 cairan. 
2. Distilasi sederhana sebaiknya digunakan dimana : 
• Kedua komponen mempunyai perbedaan titik didih lebih dari 
30-40 °C 
• Salah satu cairan sudah kira-kira 90+% murni 
• biasanya distilasi sederhana untuk memisahkan pelarut murni 
dari solut yang non-volatil (teknik distilasi yang paling umum 
digunakan untuk menghilangkan solvent pada reaksi organik 
untuk mendapatkan produk) 
• Jika kita tidak mempunyai bahan yang cukup untuk 
melakukan distilasi fraksional
Distilasi Fraksional 
A. Apakah itu? 
Distilasi fraksional memanfaatkan 2 atau lebih siklus penguapan-kondensasi 
untuk menghasilkan pemisahan yang efektif 
proses ini dihasilkan oleh alat yang disebut 
aparatus distilasi fraksional yaitu : 
Kolom fraksionasi 
Kolom fraksionasi menyebabkan siklus 
penguapan-kondensasi berulang 
dengan adanya permukaan bertingkat 
untuk terjadinya siklus
Distilasi Fraksional 
A. Apakah itu? 
Kolom fraksionasi ditempatkan 
diantara labu distilasi dan distillation 
head 
Dengan menggunakan grafik toluen : 
benzen sebagai contoh, kita lihat 
bagaimana cara kerjanya….
Vapor 
line 
Liquid 
line 
Temperature °C 
110 
100 
90 
80 
Mole % Toluene 
Mole % Benzene 
0 
100 
20 
80 
40 
60 
60 
40 
80 
20 
100 
0 
Composition (mole%) 
Uap dari 
labu Distilasi 
Ketika uap panas meninggalkan labu distilasi, uap 
tersebut terkondensasi pada permukaan dingin pertama, 
terjadi satu siklus penguapan-kondensasi 
Andaikan kita mendistilasi campuran Toluen : Benzen 
yang sama yaitu 80 : 20 
Distilasi Fraksional
Vapor 
line 
Liquid 
line 
Temperature °C 
110 
100 
90 
80 
Mole % Toluene 
Mole % Benzene 
0 
100 
20 
80 
40 
60 
60 
40 
80 
20 
100 
0 
Composition (mole%) 
Distilasi Fraksional 
Uap dari 
Labu Distilasi 
permukaan ini mulai memanas dari uap yang terkondensasi 
yang sekarang mengandung 55:45 toluene-benzene 
Cairan yang kaya akan benzen ini sekarang mempunyai titik 
didih ~94 °C (lebih rendah dari uap yang datang), uap 
tersebut mendidihkan permukaan yang lebih tinggi
Vapor 
line 
Liquid 
line 
Temperature °C 
110 
100 
90 
80 
Mole % Toluene 
Mole % Benzene 
0 
100 
20 
80 
40 
60 
60 
40 
80 
20 
100 
0 
Composition (mole%) 
Uap dari 
Labu Distilasi 
Uap ini bahkan lebih kaya akan benzen (sekarang 30:70, 
toluene:benzene) dan terkondensasi pada permukaan 
berikutnya 
Distilasi Fraksional
Vapor 
line 
Liquid 
line 
Temperature °C 
110 
100 
90 
80 
Mole % Toluene 
Mole % Benzene 
0 
100 
20 
80 
40 
60 
60 
40 
80 
20 
100 
0 
Composition (mole%) 
Distilasi Fraksional 
Uap dari 
Labu Distilasi 
Cairan kondensasi ini mempunyai titik didih yang lebih 
rendah, pada saat cairan ini dipanaskan sampai titik 
didihnya, uap cairan in akan naik ke permukaan berikutnya 
yang lebih tinggi
Vapor 
line 
Liquid 
line 
Temperature °C 
110 
100 
90 
80 
Mole % Toluene 
Mole % Benzene 
0 
100 
20 
80 
40 
60 
60 
40 
80 
20 
100 
0 
Composition (mole%) 
Distilasi Fraksional 
Uap dari 
Labu Distilasi 
Uap ini sekarang terkondensasi pada permukaan dingin 
berikutnya (sekarang 20:80, toluene:benzene) dan siklus 
kembali berlanjut
Vapor 
line 
Liquid 
line 
Temperature °C 
110 
100 
90 
80 
Mole % Toluene 
Mole % Benzene 
0 
100 
20 
80 
40 
60 
60 
40 
80 
20 
100 
0 
Composition (mole%) 
Distilasi Fraksional 
1:99 toluene:benzene 
Uap dari 
labu Distilasi 
Siklus ini akan terus berlanjut sampai mencapai puncak 
kolom 
Cairan yang ditampung setelah terjadi 7 siklus adalah 99% 
benzen! 
80:20 toluene-benzene
Vapor 
line 
Liquid 
line 
Temperature °C 
110 
100 
90 
80 
Mole % Toluene 
Mole % Benzene 
0 
100 
20 
80 
40 
60 
60 
40 
80 
20 
100 
0 
Composition (mole%) 
Catatan – 
Apa yang sudah dibahas 
hanya benar untuk distilat 
tetesan pertama! 
Ketika labu distilasi kehilangan 
uap suatu komponen, kondisi 
titik awal untuk tetesan 
berikutnya akan berbeda ! 
Pada contoh ini, akan terdapat 
lebih banyak toluen pada labu 
distilasi, sehingga dibutuhkan 
pemanasan yang lebih tinggi 
untuk membuat cairan 
mendidih dan memanaskan 
kolom distilasi. 
Komposisi 
toluen terus 
bertambah 
selama proses 
distilasi 
berlangsungs 
Distilasi Fraksional
Pada skala 
industri, 
distilasi 
fraksional 
sangat 
umum 
digunakan 
dan biasanya 
dilakukan 
secara 
konsitnyu
ARTIKEL 
TEKNOLOGI PASCA PANEN 
BUNGA SEDAP MALAM 
SUYANTI 
Balai Penelitian Tanaman Hias, Jalan Raya Pacet- 
Ciherang Sindanglaya, Kotak Pos 8, Cianjur 43253
TERIMAKASIH
Azeotrop 
Titik A pada pada kurva merupakan boiling point campuran pada kondisi 
sebelum mencapai azeotrop. Campuran kemudian dididihkan dan uapnya dipisahkan 
dari sistem kesetimbangan uap cair (titik B). Uap ini kemudian didinginkan 
dan terkondensasi (titik C). Kondensat kemudian dididihkan, didinginkan, 
dan seterusnya hingga mencapai titik azeotrop. 
Pada titik azeotrop, proses tidak dapat diteruskan karena komposisi campuran 
akan selalu tetap. Pada gambar di atas, titik azeotrop digambarkan 
sebagai pertemuan antara kurva saturated vapor dan saturated liquid. 
(ditandai dengan garis vertikal putus-putus)

Distilasi

  • 1.
    Distilasi Distiasi adalahsuatu teknik pemisahan campuran berdasarkan penguapan dan re-kondensasi dari uap cairan untuk pemurnian suatu campuran
  • 2.
    Pengertian I. Distilasiatau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan atau didefinisikan juga teknik pemisahan kimia yang berdasarkan perbedaan titik didih II. Distilasi merupakan proses fisika bukan merupakan reaksi kimia.
  • 3.
    Sejarah Distilasi I.Distilasi pertama kali dilakukan di Mesopotamia (Irak) 2000 tahun SM II. Di Pakistan ditemukan distilasi alkohol pada 500 tahun SM III. Abad ke-8 ahli kimia Arab dan Persia menemukan Distilasi yang efektif untuk distilasi ester alam (parfum) dan alkohol IV. Distilasi Etanol pertama kali dilakukan oleh Al-Kindi V. Distilasi uap ditemukan oleh Ibnu Sina (Avicenna) pada abad ke-11 untuk memproduksi essensial oil
  • 4.
    Distilasi - Aplikasi I. Salah satu penerapan terpenting dari metode distilasi adalah pemisahan minyak mentah menjadi bagian-bagian untuk penggunaan khusus seperti untuk transportasi, pembangkit listrik, pemanas, dll. Udara didistilasi menjadi komponen-komponen seperti oksigen untuk penggunaan medis dan helium untuk pengisi balon. II. Distilasi juga telah digunakan sejak lama untuk pemekatan alkohol dengan penerapan panas terhadap larutan hasil fermentasi untuk menghasilkan minuman suling. III. Selain itu ada juga dalam laboratory scale, industrial distillation dan food processing. IV. Banyak digunakan dalam proses perpindahan massa.
  • 5.
    Pembagian Distilasi 1.Distilasi berdasarkan prosesnya terbagi menjadi dua, yaitu : A. Distilasi kontinyu B. Distilasi batch 2. Berdasarkan basis tekanan operasinya terbagi menjadi tiga, yaitu : A. Distilasi atmosferis B. Distilasi vakum C. Distilasi tekanan 3. Berdasarkan komponen penyusunnya terbagi menjadi dua, yaitu : A. Destilasi system biner B. Destilasi system multi komponen 4. Berdasarkan system operasinya terbagi menjadi dua, yaitu : A. Single-stage Distillation B. Multi stage Distillation
  • 6.
    Pembagian Distilasi Dalamreferensi lain menyebutkan macam – macam distilasi, yaitu : 1. Distilasi sederhana 2. Distilasi bertingkat ( fraksional ) 3. Distilasi azeotrop 4. Distilasi vakum 5. Distilasi kering
  • 7.
  • 8.
    A. Penguapan danKondensasi – Sistem Satu Komponen 1. Pada setiap larutan, molekul bergerak secara kontinyu 2. Sebagian kecil dari molekul-molekul ini mempunyai energi kinetik yang cukup untukmeninggalkan fase cairan 3. Gerakan tersebut menekan secara berlawanan terhadap tekanan atmosfer diatas larutan dan dikenal dengan tekanan uap P Atmospheric pressure, Patm Vapor Pressure, P Distilasi - Teori
  • 9.
    A. Penguapan danKondensasi – Sistem Satu Komponen 4. Ketika energi tercukupi, dalam bentuk panas, energi tersebut membuat tekanan uap dari larutan sebanding dengan tekanan atmosfer dan larutan akan mulai mendidih P < Patm P ≥ Patm Distilasi - Teori
  • 10.
    Distilasi - Teori A. Penguapan dan Kondensasi – Sistem satu Komponen 5. Uap dihasilkan dari cairan yang mendidih, ketika didinginkan, akan terjadi re-kondendasi menjadi cairan kembali dan dikenal dengan istilah distilat 6. Proses lengkapnya disebut Distilasi
  • 11.
    Distilasi - Aplikasi B. Mengapa kita melakukan Disilasi? Distilasi merupakan teknik yang biasa dilakukan untuk pemisahan dan pemurnian suatu produk
  • 12.
    C. Beberapa aplikasiDistilasi yang biasa ditemukan: 1. Pemisahan solvent dari solut yang non-volatil A + B Solvent C (bp typically below 100 oC) bp of most modern synthetic targets is usually >> 200 oC Campuran dari solvent dan solut diputar untuk meningkatkan area permukaan untuk evaporasi yang akan membantu mengurangi pengaruh dari peningkatan titik didih Vakum digunakan untuk menurunkan titik didih solvent Teknik ini adalah teknik distilasi yang paling umum dilakukan di laboratorium kimia organik – pemisahan solvent dari campuran hasil reaksi secara sederhana. Distilasi - Aplikasi
  • 13.
    C. Beberapa Aplikasiyang biasa dilakukan 2. Pemisahan salah satu cairan dari cairan yang lain A + B C + D bp 60 oC bp 100 oC C + D Murni C? Murni D? Campuran C + D? Distilasi - Aplikasi
  • 14.
    Distilasi – kembalike teori D. Pemisahan Dua Cairan 1. Untuk masing-masing komponen : Jika tekanan uap di plot versus temperatur, terjadi peningkatan tekanan uap secara eksponensial ketika temperatur mendekati titik didih
  • 15.
    Distilasi – Teori D. Pemisahan Dua Cairan 2. Hubungan antara tekanan uap vs temperatur dijelaskan oleh persamaan Clausius-Clapeyron : p = po exp [ - DH ] R (1/T – 1/To) x,y (independent dan dependent variabel) untuk persamaan ini temperatur (T) yang diketahui dan tekanan uap (p) dihitung berdasarkan temperatur tersebut. Konstanta untuk persamaan ini : po and To: Tekanan uap yang diketahui untuk temperatur yang diketahui (°K) DH: panas penguapan dari cairan R: Konstanta gas (8.314 J . mol-1 . ° K)
  • 16.
    Distilasi – Teori D. Pemisahan Dua Cairan 1. Suatu campuran dari dua atau lebih cairan yang volatil, masing-masing cairan memberikan kontribusi parsial kepada tekanan uap keseluruhan Pcampuran = PA + PB + … 2. Pada saat penjumlahan dari tekanan parsial ini sebanding dengan tekanan atmosfer (tekanan diatas campuran), campuran akan menguap 3. Hukum ini menyiratkan bahwa jika suatu campuran dari cairan yang berbeda volatilitasnya dipanaskan sampai mendidih dan kemudian uap yang terkondensasi ditampung, maka hasilnya akan kaya oleh senyawa yang lebih mudah menguap. lebih mudah menguap = tekanan parsial lebih tinggi, titik didih lebih rendah 4. Hal ini menjadi dasar dari penggunaan distilasi sebagai salah satu teknik untuk pemisahan dan pemurnian dari campuran cairan.
  • 17.
    Distilasi – Teori D. Pemisahan dua Cairan – Hukum Raoult’s 1. Raoult memperjelas hukum Dalton untuk mengilustrasikan bahwa kontribusi dari tekanan uap masing-masing komponen berhubungan dengan fraksi mol dari masing-masing komponen tersebut didalam campuran pada hubungan antara fase cair dan fase uap Pmixture = XAPA + XBPB + … 2. Pada titik didihnya: Patm = XAPA + XBPB (Sistem 2 komponen) 3. Komposisi dari komponen pada uap yang terkondensasi bergantung pada volatilitas (P) dan konsentrasi (X) komponen tersebut pada campuran awal.
  • 18.
    Distilasi – Teori Darimana datangnya rumus- rumus ini? Dalton + CC? Raoult + CC? ??? Apa yang kita dapat? Kenapa kita melakukannya? Orang kimia tertarik pada pemisahan dan pemurnian, tidak membutuhkan penurunan rumus-rumus fisika!
  • 19.
    Distilasi – Teori Yang kita butuhkan adalah : • Hubungan antara fraksi mol dari komponen didalam suatu campuran terhadap titik didih yang teramati dalam bahasa indonesianya – jika kita mempunyai campuran A : B pada temperatur berapa campuran tersebut akan mendidih? • Estimasi kadar kondensat yang ditampung dari hasil mendistilasi campuran. dalam bahasa Indonesianya : jika kita mendistilasi campuran A dan B 80:20, akankah kita mendapat salah satu komponen dalam uap yang terkondensasi? Alat yang mana yang akan kita gunakan?
  • 20.
    E. Mengkombinasikan hukumRaoult dengan Clausius-Clapeyron 1. Penjumlahan fraksi mol dari semua komponen harus sama dengan 1 1 = XA + XB 2. Substitusi persamaan untuk komponen tunggal terhadap hukum Raoult’s XB = 1 – XA jadi Patm = XAPA + (1-XA)PB Patm - PB (PA - PB) 3. Pengembangan dan penyusunan ulang dari persamaan diatas : XA = _______________ Distilasi – Teori
  • 21.
    E. Mengkombinasikan Raoultdan Clausius-Clapeyron: 4. Jika kita mensubstitusi persamaan : Patm - PB (PA - PB) [- DH (1/T – 1/To) R ] XA = __________ pada persamaan Clausius-Clapeyron : p = po exp Kita mendapatkan persamaan untuk fraksi mol dari masing-masing komponen dalam cairan yang mendidih pada temperatur pengujian : [ - DHB Patm - P°exp R (1/T – 1/To B) ] XA = _________________________________________________________ B P°A exp[ (1/T – 1/To A) - DHA R ] P°B exp (1/T – 1/To B) - DHB R _ [ ] Distilasi – Teori
  • 22.
    Distilasi – Teori E. Mengkombinasikan Raoult dengan Clausius-Clapeyron: Jika kita mengkombinasikan persamaan untuk masing-masing komponen dalam campuran dua komponen, kita mendapatkan grafik seperti berikut : 0.0, 1.0 0.5, 0.5 1.0, 0.0 Fraksi mol, XA, XB Temperature TD A murni TD B murni Liquid Vapor Grafik ini menunjukkan titik didih pada berbagai komposisi campuran A dan B
  • 23.
    Distilasi – Teori F. Dalton dan Clausius-Clapeyron: 1. Kita telah membahas bagaimana komposisi cairan berhubungan dengan temperatur didih, apa yang terjadi pada fase uap? 2. Komposis pada fase uap dijelaskan oleh hukum Dalton P = PA + PB 3. Substitusikan hukum gas ideal pada masing-masing komponen: (PA = nA(RT)/V) dengan menghilangkan bentuk yang sama, kita mendapatkan bahwa rasio masing-masing komponen terhadap tekanan uap total: PA/PTOTAL = nA/nTOTAL 4. Substitusi fraksi mol menjadi angka mol , kita menemukan bahwa pada 760 torr (1atm), komponen uap pada sistem ini ditunjukkan oleh : XA vapor = XA liquid (PA/760) Jika kita mensubsitusi persamaan ini pada Clausius-Clapeyron:
  • 24.
    G. Kita mendapatkanpersamaan untuk komposisi didalam fase uap. Sekarang tambahkan hubungan ini pada grafik komposisi uap terhadap fraksi mol dan temperatur, kita sampai pada tujuan kita: 0.0, 1.0 0.5, 0.5 1.0, 0.0 Mole Fraction, XA, XB Temperature bp of pure A bp of pure B Liquid Vapor Vapor composition Liquid composition Distilasi – Teori
  • 25.
    G. Sekarang untuksemua campuran cairan, kita dapat menentukan: 1. Titik didih campuran (garis cairan) 2. Komposisi dari uap (garis uap), yang menunjukkan berapa banyak pengkayaan pada komponen yang memiliki titik didih lebih rendah Vapor line Liquid line Temperature °C 110 100 90 80 Mole % Toluene Mole % Benzene 0 100 20 80 40 60 60 40 80 20 100 0 Composition (mole%) Distilasi – Teori
  • 26.
    A. Apakah itu? 1. Merupakan distilasi yang memanfaatkan satu siklus penguapan-kondensasi untuk melakukan pemisahan. Distilasi Sederhana Labu distilasi langsung tersambung dengan ujung alat distilasi Pendingin dan vakum hanya berfungsi untuk mendinginkan uap menjadi cairan secara efisien dan langsung masuk ke labu penampung
  • 27.
    B. Seberapa Efisienkah? Kita gunakan grafik untuk mengilustrasikan apa yang terjadi pada distilasi sederhana : Vapor line Liquid line Temperature °C 110 100 90 80 Mole % Toluene Mole % Benzene 0 100 20 80 40 60 60 40 80 20 100 0 Composition (mole%) Distilasi Sederhana
  • 28.
    Vapor line Liquid line Temperature °C 110 100 90 80 Distilasi Sederhana Mole % Toluene Mole % Benzene 0 100 20 80 40 60 60 40 80 20 100 0 Composition (mole%) B. Seberapa efisienkah? Andaikan kita mempunyai campuran Toluen : Benzen 80 : 20. campuran ini dipesahkan dengan distilasi sederhana: Dari grafik, kita bisa melihat bahwa campuran mendidih pada ~100 °C
  • 29.
    Vapor line Liquid line Temperature °C 110 100 90 80 Mole % Toluene Mole % Benzene 0 100 20 80 40 60 60 40 80 20 100 0 Composition (mole%) Distilasi Sederhana
  • 30.
    Distilasi Sederhana C.Aplikasi 1. Dari analisis grafik kita melihat bahwa distilasi sederhana tidak 100% efisien untuk memisahkan 2 cairan. 2. Distilasi sederhana sebaiknya digunakan dimana : • Kedua komponen mempunyai perbedaan titik didih lebih dari 30-40 °C • Salah satu cairan sudah kira-kira 90+% murni • biasanya distilasi sederhana untuk memisahkan pelarut murni dari solut yang non-volatil (teknik distilasi yang paling umum digunakan untuk menghilangkan solvent pada reaksi organik untuk mendapatkan produk) • Jika kita tidak mempunyai bahan yang cukup untuk melakukan distilasi fraksional
  • 31.
    Distilasi Fraksional A.Apakah itu? Distilasi fraksional memanfaatkan 2 atau lebih siklus penguapan-kondensasi untuk menghasilkan pemisahan yang efektif proses ini dihasilkan oleh alat yang disebut aparatus distilasi fraksional yaitu : Kolom fraksionasi Kolom fraksionasi menyebabkan siklus penguapan-kondensasi berulang dengan adanya permukaan bertingkat untuk terjadinya siklus
  • 32.
    Distilasi Fraksional A.Apakah itu? Kolom fraksionasi ditempatkan diantara labu distilasi dan distillation head Dengan menggunakan grafik toluen : benzen sebagai contoh, kita lihat bagaimana cara kerjanya….
  • 33.
    Vapor line Liquid line Temperature °C 110 100 90 80 Mole % Toluene Mole % Benzene 0 100 20 80 40 60 60 40 80 20 100 0 Composition (mole%) Uap dari labu Distilasi Ketika uap panas meninggalkan labu distilasi, uap tersebut terkondensasi pada permukaan dingin pertama, terjadi satu siklus penguapan-kondensasi Andaikan kita mendistilasi campuran Toluen : Benzen yang sama yaitu 80 : 20 Distilasi Fraksional
  • 34.
    Vapor line Liquid line Temperature °C 110 100 90 80 Mole % Toluene Mole % Benzene 0 100 20 80 40 60 60 40 80 20 100 0 Composition (mole%) Distilasi Fraksional Uap dari Labu Distilasi permukaan ini mulai memanas dari uap yang terkondensasi yang sekarang mengandung 55:45 toluene-benzene Cairan yang kaya akan benzen ini sekarang mempunyai titik didih ~94 °C (lebih rendah dari uap yang datang), uap tersebut mendidihkan permukaan yang lebih tinggi
  • 35.
    Vapor line Liquid line Temperature °C 110 100 90 80 Mole % Toluene Mole % Benzene 0 100 20 80 40 60 60 40 80 20 100 0 Composition (mole%) Uap dari Labu Distilasi Uap ini bahkan lebih kaya akan benzen (sekarang 30:70, toluene:benzene) dan terkondensasi pada permukaan berikutnya Distilasi Fraksional
  • 36.
    Vapor line Liquid line Temperature °C 110 100 90 80 Mole % Toluene Mole % Benzene 0 100 20 80 40 60 60 40 80 20 100 0 Composition (mole%) Distilasi Fraksional Uap dari Labu Distilasi Cairan kondensasi ini mempunyai titik didih yang lebih rendah, pada saat cairan ini dipanaskan sampai titik didihnya, uap cairan in akan naik ke permukaan berikutnya yang lebih tinggi
  • 37.
    Vapor line Liquid line Temperature °C 110 100 90 80 Mole % Toluene Mole % Benzene 0 100 20 80 40 60 60 40 80 20 100 0 Composition (mole%) Distilasi Fraksional Uap dari Labu Distilasi Uap ini sekarang terkondensasi pada permukaan dingin berikutnya (sekarang 20:80, toluene:benzene) dan siklus kembali berlanjut
  • 38.
    Vapor line Liquid line Temperature °C 110 100 90 80 Mole % Toluene Mole % Benzene 0 100 20 80 40 60 60 40 80 20 100 0 Composition (mole%) Distilasi Fraksional 1:99 toluene:benzene Uap dari labu Distilasi Siklus ini akan terus berlanjut sampai mencapai puncak kolom Cairan yang ditampung setelah terjadi 7 siklus adalah 99% benzen! 80:20 toluene-benzene
  • 39.
    Vapor line Liquid line Temperature °C 110 100 90 80 Mole % Toluene Mole % Benzene 0 100 20 80 40 60 60 40 80 20 100 0 Composition (mole%) Catatan – Apa yang sudah dibahas hanya benar untuk distilat tetesan pertama! Ketika labu distilasi kehilangan uap suatu komponen, kondisi titik awal untuk tetesan berikutnya akan berbeda ! Pada contoh ini, akan terdapat lebih banyak toluen pada labu distilasi, sehingga dibutuhkan pemanasan yang lebih tinggi untuk membuat cairan mendidih dan memanaskan kolom distilasi. Komposisi toluen terus bertambah selama proses distilasi berlangsungs Distilasi Fraksional
  • 40.
    Pada skala industri, distilasi fraksional sangat umum digunakan dan biasanya dilakukan secara konsitnyu
  • 41.
    ARTIKEL TEKNOLOGI PASCAPANEN BUNGA SEDAP MALAM SUYANTI Balai Penelitian Tanaman Hias, Jalan Raya Pacet- Ciherang Sindanglaya, Kotak Pos 8, Cianjur 43253
  • 47.
  • 48.
    Azeotrop Titik Apada pada kurva merupakan boiling point campuran pada kondisi sebelum mencapai azeotrop. Campuran kemudian dididihkan dan uapnya dipisahkan dari sistem kesetimbangan uap cair (titik B). Uap ini kemudian didinginkan dan terkondensasi (titik C). Kondensat kemudian dididihkan, didinginkan, dan seterusnya hingga mencapai titik azeotrop. Pada titik azeotrop, proses tidak dapat diteruskan karena komposisi campuran akan selalu tetap. Pada gambar di atas, titik azeotrop digambarkan sebagai pertemuan antara kurva saturated vapor dan saturated liquid. (ditandai dengan garis vertikal putus-putus)