RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Nama Madrasah : MTs Negeri Purwokerto
Mata Pelajaran : Sejarah Kebudayaan Islam
Kelas / Semester : VIII/ Genap
Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
I. Standar Kompetensi
2. Memahami perkembangan Islam pada masa Dinasti Ayyubiyah
II. Kompetensi Dasar
2.2 Mendeskripsikan perkembangan kebudayaan/ peradaban Islam pada masa
Dinasti Ayyubiyah
III. Tujuan Pembelajaran
1. Melalui membaca materi dan memperhatikan penjelasan guru, siswa dapat
menerangkan perkembangan kebudayaan/ peradaban Islam pada masa Dinasti
Ayyubiyah dengan benar.
2. Melalui membaca materi dan memperhatikan penjelasan guru, siswa dapat
mengidentifikasi faktor-faktor berkembangnya kebudayaan/ peradaban Islam pada
masa Dinasti Ayyubiyah dengan benar.
3. Melalui membaca materi dan memperhatikan penjelasan guru, siswa dapat
menjelaskan pengembangan al Azhar dari sebab berkembangnya kebudayaan/
peradaban Islam pada masa Dinasti Ayyubiyah.
Mengembangan perilaku: Gemar membaca, rasa ingin tahu, komunikatif, cermat,
teliti, tanggung jawab dan kerjasama.
IV. Indiaktor Pencapaian Hasil Belajar
2.2.1 Menerangkan perkembangan kebudayaan/ peradaban Islam pada masa
Dinati Ayyubiyah
2.2.2 Mengidentifikasi faktor-faktor berkembangnya kebudayaan/ peradaban
Islam pada masa Dinasti Ayyubiyah
2.2.3 Menjelaskan pengembangan al Azhar dari sebab berkembangnya
kebudayaan/ peradaban Islam pada masa Dinasti Ayyubiyah.
Menunjukkan perilaku: Gemar membaca, rasa ingin tahu, komunikatif, cermat,
teliti, tanggung jawab dan kerjasama.
V. Materi Pembelajaran
1. Perkembangan kebudayaan/ peradaban Islam pada masa Dinasti Al Ayyubiyah
Beberapa kemajuan dan perkembangan kebudayaan/ peradaban pada masa
Dinasti Ayyubiyah:
a. Kemajuan di Bidang Militer
Perjalanan pemerintahan Dinasti Ayyubiyah selama ±75 tahun lebih banyak
tercurah untuk membebaskan wilayah-wilayah Islam yang telah dicaplok oleh
tentara Salib (bangsa Eropa). Pembebasan wilayah-wilayah tersebut dapat
berlangsung cepat dengan kemenangan demi kemenangan melalui peperangan
yang dipimpin langsung oleh Salahuddin al Ayyubi. Kemenangan ini tidak lepas
dari kepiwaian Salahuddin dalam menerapkan strategi perang dan kekuatan
militernya. Kekuatan militer yang dimiliki oleh kaum muslimin pada saat itu sudah
termasuk dalam kategori maju.
Selama berkecamuknya perang Salib banyak terjadi jatuh korban baik di
pihak kaum muslimin atau pihak tentara Salib. Korban yang berjatuhan dari
pihakkaum muslimin jumlahnya mencapai ratusan ribu, baik laki-laki atau wanita,
orang tua atau anak-anak. Korban tersebut tidak hanya dari masyarakat sipil saja
melainkan juga dari pihak pemerintah yang berkuasa seperti gubernur, amir dan
panglima perang. Demikian juga dari pihak tentara Salib (Inggris, Perancis,
Jerman) banyak prajurit dan panglima perangnya yang berguguran di medan
perang.
Walaupun tentara Salib pada akhirnya menelan kekalahan dalam perang
tersebut, kerugian yang dialami kaum muslimin jauh lebih besar. Hal ini
disebabkan karena perang Salib terjadi di wilayah Islam. Banyak bangunan
infrastruktur yang rusak seperti istana, masjid, sekolah dan lainnya yang
mempunyai nilai peradaban yang sangat tinggi. Sebaliknya, walaupun tentara Salib
menelan kekalahan sebenarnya mereka mendapatkan hikmah yang besar. Karena
selama dua abad lamanya mereka di wilayah kaum muslimin, mereka telah banyak
mengenal peradaban dan kebudayaan islam yang jauh lebih maju dari peradaban
bangsa Eropa saat itu. Pengalaman yang mereka peroleh dari peradaban Islam
telah mendorong terjadinya kebangkitan bangsa-bangsa Eropa (Renaissance).
b. Bidang Pendidikan dan Dakwah
Selama perjalanan pemerintahan Dinasti Ayyubiyah lebih banyak
dihabiskan untuk melakukan pembebasan wilayah Islam dari perlawanan tentara
Salib. Semangat jihad terus dikobarkan oleh Salahuddin demi kehormatan umat
Islam. Namun semangat jihad ini tidak menjadi satu-satunya media dakwah
Islamiyah bagi Salahuddin al Ayyubi.
Beliau dan para khalifah Ayyubiyah memberikan perhatian yang besar
terhadap bidang pendidikan. Semasa ini banyak didirikan sekolah atau madrasah
di tiap-tiap kota. Bahkan alokasi anggaran untuk pendidikan tidak kalah besar
dengan anggaran militer. Selain mendirikan bangunan sekolah juga memberikan
biaya pendidikan bagi siswa dan memberikan gaji yang besar bagi para
pengajarnya. Pengajaran yang diberikan di madrasah-madrasah lebih banyak
mengajarkan paham Sunni sehingga sangat berbeda sekali dengan pengajaran
yang diberikan pemerintah Fathimiyah yang lebih banyak mengajarkan paham
Syi’ah.
Usaha-usaha lain yang dilakukan oleh khalifah Ayyubiyah untuk
memajukan pendidikan dan dakwah antara lain:
a. Membentuk Departemen Pendidikan
Lembaga Darul Hikmah yang didirikan oleh khalifah Dinasti
Fathimiyah oleh Salahuddin al Ayyubi dijadikan Departemen Pendidikan dan
Penerjemahan. Departemen ini melakukan penerjemahan buku-buku ilmu
pengetahuan dari bahasa asing ke bahasa Arab, sehingga lebih mudah untuk
dipelajari oleh umat Islam. Sehingga khazanah pengetahuan umat Islam lebih
kaya.
b. Mereformasi Pengajaran di al Azhar
Keberadaan masjid al Azhar yang didirikan pada tahun 970 M oleh
khalifah Fathimiyah, Mu’iz Lidinillah mempunyai peran yang sangat penting
dalam perkembangan pendidikan dan dakwah Islam, baik pada masa
pemerintahan Fathimiyuah atau pada pemerintahan Ayyubiyah. Keberadaan al
Azhar bukan sekedar sebagai tempat Ibadah shalat saja melainkan juga
banyak digunakan untuk kajian keilmuan (majlis ta’lim) sehingga pada
akhirnya berkembang menjadi sebuah Universitas.
Pada masa kekhalifahan Salahuddin al Ayyubi, seiring dengan
penyebaran paham Sunni yang dianut oleh Dinasti Ayyubiyah, visi dan misi
pendidikan di al Azhar banyak mengajarkan ilmu-ilmu agama yang bercorak
paham Sunni, padahal pada masa pemerintahan Fathimiyah pengajaran di al
Azhar bercorak paham Syi’ah. Namun disamping mengajarkan ilmu-ilmu
agama pada masa ini juga mulai diajarkan ilmu-ilmu yang lain, seperti fisika,
kimia, astronomi, biologi dan ilmu hitung.
Dengan berkembangnya al Azhar maka mulai berdatangan murid-
murid dari luar negeri yang belajar di sana. Bahkan tenaga pengajarnya jua
didatangkan dari luar negeri, seperti misalnya:
1) Abdul Latif al Baghdadi, seorang ahli ilmu Mantiq dan ilmu Bayan
2) Abu Abdullah al Qudha’I, ulama ahli Fikih, Hadits dan Sejarah
3) Al Hufi, seorang ahli bahasa
4) Abu Abdullah Muhammad bin Barakat, seorang ahli Nahwu
5) Hasan bin Khatir, seorang ahli Fiqih Madzhab Hanafi dan ahli ilmu tafsir
c. Membangun Lembaga Pendidikan
Pada masa pemerintahan Ayyubiyah hamper di setiap kota berdiri
lembaga-lembaga pendidikan Islam (madrasah) dan lembaga pendidikan
tinggi (kuliyat). Pusat-pusat ilmu pengetahuan tersebut dapat ditemukan di
kota Kairo, Damaskus, Hadramaut (Yaman) dan Palestina. Lembaga
pendidikan Islam yang didirikan diantaranya, madrasah as Shauhiyyah (tahun
1239 M) sebagai pusat pengajaran hukum empat madzhab dan Darul Hadits al
Kamilah (tahun 1222 M) sebagai pusat pengajaran hadits dan ilmu hadits.
Sedangkan lembaga pendidikan tinggi (kulliyat) yang didirikan ada 25
kulliyat, diantaranya Kulliyat Manazilul Izza, Kulliyat Arsufiyah, Kulliyat
Fadiliyah, Kulliyat Azkasyiyah dan Kulliyat ‘Asyuriyah. Madrasah-madrasah
yang didirikan oleh pemerintah Dinasti Ayyubiyah rata-rata beraliran madzhab
Syafi’iyyah dan Malikiyyah.
c. Bidang Perdagangan dan Industri
Hubungan perdagangan antara negeri Syam dan Mesir yang sudah lama
terjalin memabwa dampak yang cukup baik terhadap kehidupan social masyarakat
setempat. Keadaan yang demikian ini tentu sangat positif untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan taraf hidup masyarakat yang lebih baik.
Mesir sebagai daerah penghasil barang-barang tenun, karpet, kulit dan kayu
banyak didatangi oleh pedagang dari Syam, sebaliknya Syam sebagai daerah
penghasil kurma, buah-buahan, sutera dan berbagai macam barang keramik juga
banyak didatangi pedagang dari Mesir. Sehingga terjadilah aktifitas ekspor impor
barang-barang perdagangan antara kedua negeri tersebut.
Namun bubungan perdangan antara kedua negeri ini kadang terkendala
dengan maraknya aksi perampokan terhadap para kafilah dagang oleh para
peraompak. Sehingga aksi perampokan membawa kerugian yang tidak kecilbagi
para kafilah dagang karena barang-barangnya dirampas. Setelah pemerintah
Ayyubiyah dapat menguasai karnak dan sekitarnya berangsur-angsur aksi
perampokan semakin berkurang. Para kafilahpun dapat melakukan perjalanan
dengan nyaman dan aman tanpa gangguan para perompak (tentara Salib). Bahkan
setelah ini hubungan perdagangan semakin berkembang sampai ke beberapa
daerah Eropa.
Dengan meningkatnya kebutuhan barang, maka semakin banyak tumbuh
industri perdangan baik skala rumah tangga atau industri besar seperti industri
sabun, tenun, penyulingan zaitun, penyamakan kulit, minyak wangi dll. Beberapa
kota yang terkenal sebagai kawasan industri diantaranya Akhmim di Shaid,
Dimyath di Wajhil Bahri dan Bahnisa.
d. Bidang Sosial Budaya
Perang Salib tidak selamanya memiliki nuansa buruk bagi bangsa Eropa.
Sebenarnya selama berlangsungnya perang Salib lebih kurang dua abad lamanya,
disitu terjadi proses interaksi budaya antara bangsa Barat dan bangsa Timur.
Bangsa Barat lebih banyak mempelajari kebudayaan bangsa Timur yang saat itu
lebih maju.
e. Bidang Politik
Pada masa sebelum Salahuddin berkuasa kondisi umat Islam terpecah
belah. Ketika itu banyak terjadi persaingan kerajaan-kerajaan kecil dan
permusuhan antara Madzhab. Semangat jihad dikalangan masyarakat juga sangat
rendah. Namun berkat kepemimpinan seorang Salahuddin keadaan masyarakat
Islam bisa bersatu dalam satu barisan. Ia berhasil mempersatukan wilayah Islam
mulai Mesir utara sampai Yaman, mulai Afrika Utara, mulai dari Afrika Utara
sampai Asia kecil. Selain itu Salahuddin juga membuat beberapa kebijakan dalam
membangun pemerintahan, diantaranya:
1. Mengganti pegawai pemerintahan yang korup
2. Memecat pegawai yang bersekongkol dengan penjahat
f. Kemajuan di Bidang Kesehatan
Disamping mendirikan Madrasah, Salahuddin juga mendirikan 2 (Dua)
buah rumah sakit di Kairo. Bangunan rumah sakit itu dirancang mengikuti model
Rumah Sakit Nuriyah di Damaskus. Sebelumnya, Ibnu Thulun dan Khalifah
Kafur dari masa pemerintahan Iksidiyah telah mendirikan lembaga yang sama
yang berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan masyarakat yang memungut
biaya.
g. Kemajuan di Bidang Arsitektur
Salah satu peninggalan yang menunjukkan kemajuan Arsitektur pada masa
Dinasti Ayyubiyah adalah Benteng Kairo yang dibangun pada tahun 1183 oleh
Salahuddin Al Ayyubi. Bahan bangunan yang digunakan adalah batu-batu alam
yang berbentuk balok, serupa dengan batu balok yang dipakai bangunan Piramida.
Konstruksi benteng ini mirip dengan pertahanan benteng-benteng Normandia
yang terdapat di Palestina.
2. Faktor-faktor berkembangnya kebudayaan/ peradaban Islam pada masa Dinasti
Al Ayyubiyah
a. Adanya perhatian para khalifah terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan
kebudayaan. Bentuk perhatian Salahuddin Al Ayyubi terhadap ilmu pengetahuan
misalnya:
1) Ia menjadi pelindung para sarjana dan ilmuwan serta penyokong kajian ilmu
kalam.
2) Untuk mengganti paham Syi’ah dengan paham Suni, Salahuddin
melakukannya melalui pendidikan.
3) Dibangunnnya sekolah, madrasah dan akademi.
b. Tercapainya kemajuan pada masa Dinasti Al Ayyubiyah dilatarbelakangi dengan
munculnya perguruan tinggi al Azhar yang dibangun oleh panglima perang Islam
Jauhar as Saqali pada masa Dinasti Fatimiyah pada tahun 972 M.
c. Lembaga ini dijadikan pusat kajian ilmu pengetahuan pada waktu itu dan hingga
sekarang menjadi salah satu pusat Study Islam di Timur Tengah.
VI. Metode/ Pendekatan/ Model Pembelajaran
Ceramah, Diskusi, Tanya jawab/ Direct Indtruction/ Group Investigation
VII. Langkah-langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Pendahuluan
 Memulai pembelajaran dengan salam dan membaca Basmallah bersama-sama
(Religius)
 Ketua kelas menyampaikan kehadiran siswa (Disiplin)
 Memotivasi siswa
 Melakukan tanya jawab tentang Dinasti Ayyubiyah (Rasa Ingin Tahu)
 Menyampaikan tujuan pembelajaran (Rasa ingin tahu)
2. Kegiatan Inti
a. Eksplorasi
 Siswa dibagi menjadi 6 kelompok diskusi (Komunikatif)
 Siswa diberikan tugas untuk masing-masing kelompok yakni untuk tiap
kelompok mendapatkan tugas yang berbeda (Kouminkatif)
 Setiap kelompok diberi waktu beberapa menit untuk mendiskusikan materi
sesuai dengan topik yang diberikan (Komunikatif)
 Dalam diskusi siswa terlibat aktif dalam kelompoknya (Komunikatif)
b. Elaborasi
 Setelah masing-masing kelompok selesai berdiskusi kemudian salah satu siswa
perwakilan dari masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
(Berani)
 Guru memberikan klarifikasi terkait diskusi materi perkembangan kebudayaan/
peradaban Islam pada masa Dinasti Ayyubiyah
 Salah satu Peserta didik menjelaskan kemajuan perkembangan kebudayaan/
peradaban Islam Dinasti Ayyubiyah di bidang militer (Komunikatif)
 Salah satu Peserta didik menjelaskan kemajuan perkembangan kebudayaan/
peradaban Islam Dinasti Ayyubiyah di bidang pendidikan dan dakwah
(Komunikatif)
 Salah satu Peserta didik menjelaskan kemajuan perkembangan kebudayaan/
peradaban Islam Dinasti Ayyubiyah di bidang pertanian (Komunikatif)
 Salah satu peserta didik menjelaskan kemajuan perkembangan kebudayaan/
peradaban Islam Dinasti Ayyubiyah di bidang kesehatan (Komunikatif)
 Salah satu peserta didik menjelaskan kemajuan perkembangan kebudayaan/
peradaban Islam Dinasti Ayyubiyah di bidang arsitektur (Komunikatif)
 Salah satu peserta didik menjelaskan kemajuan perkembangan kebudayaan/
peradaban Islam Dinasti Ayyubiyah di bidang politik (Komunikatif)
c. Konfirmasi
 Memberikan penguatan dengan memberikan pujian bagi peserta didik yang
telah mempresentasikan hasil diskusinya (menghargai prestasi)
 Memberikan klarifikasi (Tanggungjawab)
3. Penutup
Merumuskan kesimpulan pembelajaran
Memberikan evaluasi pembelajaran
Guru mengajak peserta didik untuk mengakhiri pembelajaran dengan bacaan
hamdalah
VIII. Media dan Sumber Belajar
1. Media:
a. Papan tulis
b. Spidol
c. Kertas
2. Sumber Belajar:
a. LKS
b. Buku SKI kelas VIII Penerbit Tiga Serangkai
IX. Penilaian
a. Teknik penilaian : Tertulis
b. Bentuk soal : Uraian/ Essay
c. Kisi-kisi penilaian : (terlampir)
KISI-KISI PENILAIAN
No
.
Standar
Kompetensi
Kompetensi Dasar Materi Indikator
No.
Soal
Bentuk
soal
Bobot
soal
1. 2. Memahami
Perkembanga
n Masyarakat
Islam Pada
Masa Dinasti
Al Ayyubiyah
2.2 Mendeskripsikan
perkembangan
kebudayaan/peradaba
n Islam pada masa
Dinasti Al Ayyubiyah
Bentuk kemajuan-
kemajuan
perkembangan
kebudayaan/perada
ban Islam pada
masa Dinasti
Ayyubiyah
2.2.1 Menerangkan perkembangan kebudayaan/
peradaban Islam pada masa Dinati Ayyubiyah
2.2.2 Mengidentifikasi faktor-faktor berkembangnya
kebudayaan/ peradaban Islam pada masa Dinasti Al
Ayyubiyah
2.2.3 Menjelaskan pengembangan al Azhar dari sebab
berkembangnya kebudayaan/ peradaban Islam pada
masa Dinasti Ayyubiyah.
1
2
3
4
5
Essay
Essay
Essay
Essay
Essay
20
20
20
20
20
 Instrumen Penilaian:
1. Sebutkan bidang-bidang apa saja yang mengalami kemajuan pada masa Dinasti Ayybiyah!
2. Sebutkan contoh kemajuan di bidang pendidikan dan kesehatan pda masa Dinasti Ayyubiyah!
3. Sebutkan 3 tenaga beserta keahliaanya pengajar al Azhar yang didatangkan dari luar negeri pada masa Dinasti Ayyubiyah!
4. Sebutkan fungsi al Azhar pada masa Dinasti Ayyubiyah!
5. Sebutkan bentuk perhatian Salahuddin Al Ayyubi terhadap ilmu pengetahuan!
 Kunci Jawaban
1. Bidang-bidang yang mengalami kemajuan pada masa Dinasti Ayyubiyah
a. Bidang militer e. Bidang politik
b. Bidang Pendidikan dan Dakwah f. Bidang kesehatan
c. Bidang pertanian, perdagangan dan pengetahuan g. Bidang Arsitektur
d. Bidang sosial dan budaya
2. Kemajuan di bidang pendidikan
a. Membentuk departemen pendidikan
b. Mereformasi pengajaran di al Azhar
c. Membangun lembaga pendidikan
Adapun kemajuan di bidang kesehatan yaitu Salahuddin mendirikan dua buah rumah sakit di Kairo.
3. Pengajar luar negeri al Azhar dan keahliannya
a. al Hufi, seorang ahli bahasa
b. al Qudha’i, ahli fikih, hadits dan sejarah
c. Hasan bin Khatir, ahli fiqih madzhab Hanafi dan ilmu tafsir
4. Fungsi Al Azhar pada masa Dinasti Ayyubiyah
a. Sebagai sarana peribadahan (masjid)
b. Tempat menimba ilmu
c. Tempat bermusyawarah
5. Perhatian Salahuddin terdapap ilmu pengetahuan
a. Menjadi pelindung para sarjana dan ilmuwan serta penyokong kajian ilmu kalam
b. Mengganti faham Syi’ah dengan faham Suni melalui pendidikan
c. Mendirikan sekolah, madrasah dan akademi
Nilai Akhir = Perolehan Skor x Skor Ideal (100) = ................
Skor Maksimal
Purwokerto, 21 Februari 2013
Mengetahui,
Guru Pamong Praktekkan
Uswatun Hasanah, S.Ag Iwan Burhanudin
NIP. 150416107 NIM. 092331012

Bidang militer ayyubi

  • 1.
    RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN NamaMadrasah : MTs Negeri Purwokerto Mata Pelajaran : Sejarah Kebudayaan Islam Kelas / Semester : VIII/ Genap Alokasi Waktu : 2 x 40 menit I. Standar Kompetensi 2. Memahami perkembangan Islam pada masa Dinasti Ayyubiyah II. Kompetensi Dasar 2.2 Mendeskripsikan perkembangan kebudayaan/ peradaban Islam pada masa Dinasti Ayyubiyah III. Tujuan Pembelajaran 1. Melalui membaca materi dan memperhatikan penjelasan guru, siswa dapat menerangkan perkembangan kebudayaan/ peradaban Islam pada masa Dinasti Ayyubiyah dengan benar. 2. Melalui membaca materi dan memperhatikan penjelasan guru, siswa dapat mengidentifikasi faktor-faktor berkembangnya kebudayaan/ peradaban Islam pada masa Dinasti Ayyubiyah dengan benar. 3. Melalui membaca materi dan memperhatikan penjelasan guru, siswa dapat menjelaskan pengembangan al Azhar dari sebab berkembangnya kebudayaan/ peradaban Islam pada masa Dinasti Ayyubiyah. Mengembangan perilaku: Gemar membaca, rasa ingin tahu, komunikatif, cermat, teliti, tanggung jawab dan kerjasama. IV. Indiaktor Pencapaian Hasil Belajar 2.2.1 Menerangkan perkembangan kebudayaan/ peradaban Islam pada masa Dinati Ayyubiyah 2.2.2 Mengidentifikasi faktor-faktor berkembangnya kebudayaan/ peradaban Islam pada masa Dinasti Ayyubiyah 2.2.3 Menjelaskan pengembangan al Azhar dari sebab berkembangnya kebudayaan/ peradaban Islam pada masa Dinasti Ayyubiyah. Menunjukkan perilaku: Gemar membaca, rasa ingin tahu, komunikatif, cermat, teliti, tanggung jawab dan kerjasama. V. Materi Pembelajaran
  • 2.
    1. Perkembangan kebudayaan/peradaban Islam pada masa Dinasti Al Ayyubiyah Beberapa kemajuan dan perkembangan kebudayaan/ peradaban pada masa Dinasti Ayyubiyah: a. Kemajuan di Bidang Militer Perjalanan pemerintahan Dinasti Ayyubiyah selama ±75 tahun lebih banyak tercurah untuk membebaskan wilayah-wilayah Islam yang telah dicaplok oleh tentara Salib (bangsa Eropa). Pembebasan wilayah-wilayah tersebut dapat berlangsung cepat dengan kemenangan demi kemenangan melalui peperangan yang dipimpin langsung oleh Salahuddin al Ayyubi. Kemenangan ini tidak lepas dari kepiwaian Salahuddin dalam menerapkan strategi perang dan kekuatan militernya. Kekuatan militer yang dimiliki oleh kaum muslimin pada saat itu sudah termasuk dalam kategori maju. Selama berkecamuknya perang Salib banyak terjadi jatuh korban baik di pihak kaum muslimin atau pihak tentara Salib. Korban yang berjatuhan dari pihakkaum muslimin jumlahnya mencapai ratusan ribu, baik laki-laki atau wanita, orang tua atau anak-anak. Korban tersebut tidak hanya dari masyarakat sipil saja melainkan juga dari pihak pemerintah yang berkuasa seperti gubernur, amir dan panglima perang. Demikian juga dari pihak tentara Salib (Inggris, Perancis, Jerman) banyak prajurit dan panglima perangnya yang berguguran di medan perang. Walaupun tentara Salib pada akhirnya menelan kekalahan dalam perang tersebut, kerugian yang dialami kaum muslimin jauh lebih besar. Hal ini disebabkan karena perang Salib terjadi di wilayah Islam. Banyak bangunan infrastruktur yang rusak seperti istana, masjid, sekolah dan lainnya yang mempunyai nilai peradaban yang sangat tinggi. Sebaliknya, walaupun tentara Salib menelan kekalahan sebenarnya mereka mendapatkan hikmah yang besar. Karena selama dua abad lamanya mereka di wilayah kaum muslimin, mereka telah banyak mengenal peradaban dan kebudayaan islam yang jauh lebih maju dari peradaban bangsa Eropa saat itu. Pengalaman yang mereka peroleh dari peradaban Islam telah mendorong terjadinya kebangkitan bangsa-bangsa Eropa (Renaissance). b. Bidang Pendidikan dan Dakwah Selama perjalanan pemerintahan Dinasti Ayyubiyah lebih banyak dihabiskan untuk melakukan pembebasan wilayah Islam dari perlawanan tentara Salib. Semangat jihad terus dikobarkan oleh Salahuddin demi kehormatan umat Islam. Namun semangat jihad ini tidak menjadi satu-satunya media dakwah Islamiyah bagi Salahuddin al Ayyubi. Beliau dan para khalifah Ayyubiyah memberikan perhatian yang besar terhadap bidang pendidikan. Semasa ini banyak didirikan sekolah atau madrasah di tiap-tiap kota. Bahkan alokasi anggaran untuk pendidikan tidak kalah besar dengan anggaran militer. Selain mendirikan bangunan sekolah juga memberikan
  • 3.
    biaya pendidikan bagisiswa dan memberikan gaji yang besar bagi para pengajarnya. Pengajaran yang diberikan di madrasah-madrasah lebih banyak mengajarkan paham Sunni sehingga sangat berbeda sekali dengan pengajaran yang diberikan pemerintah Fathimiyah yang lebih banyak mengajarkan paham Syi’ah. Usaha-usaha lain yang dilakukan oleh khalifah Ayyubiyah untuk memajukan pendidikan dan dakwah antara lain: a. Membentuk Departemen Pendidikan Lembaga Darul Hikmah yang didirikan oleh khalifah Dinasti Fathimiyah oleh Salahuddin al Ayyubi dijadikan Departemen Pendidikan dan Penerjemahan. Departemen ini melakukan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa asing ke bahasa Arab, sehingga lebih mudah untuk dipelajari oleh umat Islam. Sehingga khazanah pengetahuan umat Islam lebih kaya. b. Mereformasi Pengajaran di al Azhar Keberadaan masjid al Azhar yang didirikan pada tahun 970 M oleh khalifah Fathimiyah, Mu’iz Lidinillah mempunyai peran yang sangat penting dalam perkembangan pendidikan dan dakwah Islam, baik pada masa pemerintahan Fathimiyuah atau pada pemerintahan Ayyubiyah. Keberadaan al Azhar bukan sekedar sebagai tempat Ibadah shalat saja melainkan juga banyak digunakan untuk kajian keilmuan (majlis ta’lim) sehingga pada akhirnya berkembang menjadi sebuah Universitas. Pada masa kekhalifahan Salahuddin al Ayyubi, seiring dengan penyebaran paham Sunni yang dianut oleh Dinasti Ayyubiyah, visi dan misi pendidikan di al Azhar banyak mengajarkan ilmu-ilmu agama yang bercorak paham Sunni, padahal pada masa pemerintahan Fathimiyah pengajaran di al Azhar bercorak paham Syi’ah. Namun disamping mengajarkan ilmu-ilmu agama pada masa ini juga mulai diajarkan ilmu-ilmu yang lain, seperti fisika, kimia, astronomi, biologi dan ilmu hitung. Dengan berkembangnya al Azhar maka mulai berdatangan murid- murid dari luar negeri yang belajar di sana. Bahkan tenaga pengajarnya jua didatangkan dari luar negeri, seperti misalnya: 1) Abdul Latif al Baghdadi, seorang ahli ilmu Mantiq dan ilmu Bayan 2) Abu Abdullah al Qudha’I, ulama ahli Fikih, Hadits dan Sejarah 3) Al Hufi, seorang ahli bahasa 4) Abu Abdullah Muhammad bin Barakat, seorang ahli Nahwu 5) Hasan bin Khatir, seorang ahli Fiqih Madzhab Hanafi dan ahli ilmu tafsir c. Membangun Lembaga Pendidikan
  • 4.
    Pada masa pemerintahanAyyubiyah hamper di setiap kota berdiri lembaga-lembaga pendidikan Islam (madrasah) dan lembaga pendidikan tinggi (kuliyat). Pusat-pusat ilmu pengetahuan tersebut dapat ditemukan di kota Kairo, Damaskus, Hadramaut (Yaman) dan Palestina. Lembaga pendidikan Islam yang didirikan diantaranya, madrasah as Shauhiyyah (tahun 1239 M) sebagai pusat pengajaran hukum empat madzhab dan Darul Hadits al Kamilah (tahun 1222 M) sebagai pusat pengajaran hadits dan ilmu hadits. Sedangkan lembaga pendidikan tinggi (kulliyat) yang didirikan ada 25 kulliyat, diantaranya Kulliyat Manazilul Izza, Kulliyat Arsufiyah, Kulliyat Fadiliyah, Kulliyat Azkasyiyah dan Kulliyat ‘Asyuriyah. Madrasah-madrasah yang didirikan oleh pemerintah Dinasti Ayyubiyah rata-rata beraliran madzhab Syafi’iyyah dan Malikiyyah. c. Bidang Perdagangan dan Industri Hubungan perdagangan antara negeri Syam dan Mesir yang sudah lama terjalin memabwa dampak yang cukup baik terhadap kehidupan social masyarakat setempat. Keadaan yang demikian ini tentu sangat positif untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan taraf hidup masyarakat yang lebih baik. Mesir sebagai daerah penghasil barang-barang tenun, karpet, kulit dan kayu banyak didatangi oleh pedagang dari Syam, sebaliknya Syam sebagai daerah penghasil kurma, buah-buahan, sutera dan berbagai macam barang keramik juga banyak didatangi pedagang dari Mesir. Sehingga terjadilah aktifitas ekspor impor barang-barang perdagangan antara kedua negeri tersebut. Namun bubungan perdangan antara kedua negeri ini kadang terkendala dengan maraknya aksi perampokan terhadap para kafilah dagang oleh para peraompak. Sehingga aksi perampokan membawa kerugian yang tidak kecilbagi para kafilah dagang karena barang-barangnya dirampas. Setelah pemerintah Ayyubiyah dapat menguasai karnak dan sekitarnya berangsur-angsur aksi perampokan semakin berkurang. Para kafilahpun dapat melakukan perjalanan dengan nyaman dan aman tanpa gangguan para perompak (tentara Salib). Bahkan setelah ini hubungan perdagangan semakin berkembang sampai ke beberapa daerah Eropa. Dengan meningkatnya kebutuhan barang, maka semakin banyak tumbuh industri perdangan baik skala rumah tangga atau industri besar seperti industri sabun, tenun, penyulingan zaitun, penyamakan kulit, minyak wangi dll. Beberapa kota yang terkenal sebagai kawasan industri diantaranya Akhmim di Shaid, Dimyath di Wajhil Bahri dan Bahnisa. d. Bidang Sosial Budaya Perang Salib tidak selamanya memiliki nuansa buruk bagi bangsa Eropa. Sebenarnya selama berlangsungnya perang Salib lebih kurang dua abad lamanya, disitu terjadi proses interaksi budaya antara bangsa Barat dan bangsa Timur.
  • 5.
    Bangsa Barat lebihbanyak mempelajari kebudayaan bangsa Timur yang saat itu lebih maju. e. Bidang Politik Pada masa sebelum Salahuddin berkuasa kondisi umat Islam terpecah belah. Ketika itu banyak terjadi persaingan kerajaan-kerajaan kecil dan permusuhan antara Madzhab. Semangat jihad dikalangan masyarakat juga sangat rendah. Namun berkat kepemimpinan seorang Salahuddin keadaan masyarakat Islam bisa bersatu dalam satu barisan. Ia berhasil mempersatukan wilayah Islam mulai Mesir utara sampai Yaman, mulai Afrika Utara, mulai dari Afrika Utara sampai Asia kecil. Selain itu Salahuddin juga membuat beberapa kebijakan dalam membangun pemerintahan, diantaranya: 1. Mengganti pegawai pemerintahan yang korup 2. Memecat pegawai yang bersekongkol dengan penjahat f. Kemajuan di Bidang Kesehatan Disamping mendirikan Madrasah, Salahuddin juga mendirikan 2 (Dua) buah rumah sakit di Kairo. Bangunan rumah sakit itu dirancang mengikuti model Rumah Sakit Nuriyah di Damaskus. Sebelumnya, Ibnu Thulun dan Khalifah Kafur dari masa pemerintahan Iksidiyah telah mendirikan lembaga yang sama yang berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan masyarakat yang memungut biaya. g. Kemajuan di Bidang Arsitektur Salah satu peninggalan yang menunjukkan kemajuan Arsitektur pada masa Dinasti Ayyubiyah adalah Benteng Kairo yang dibangun pada tahun 1183 oleh Salahuddin Al Ayyubi. Bahan bangunan yang digunakan adalah batu-batu alam yang berbentuk balok, serupa dengan batu balok yang dipakai bangunan Piramida. Konstruksi benteng ini mirip dengan pertahanan benteng-benteng Normandia yang terdapat di Palestina. 2. Faktor-faktor berkembangnya kebudayaan/ peradaban Islam pada masa Dinasti Al Ayyubiyah a. Adanya perhatian para khalifah terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Bentuk perhatian Salahuddin Al Ayyubi terhadap ilmu pengetahuan misalnya: 1) Ia menjadi pelindung para sarjana dan ilmuwan serta penyokong kajian ilmu kalam. 2) Untuk mengganti paham Syi’ah dengan paham Suni, Salahuddin melakukannya melalui pendidikan. 3) Dibangunnnya sekolah, madrasah dan akademi. b. Tercapainya kemajuan pada masa Dinasti Al Ayyubiyah dilatarbelakangi dengan munculnya perguruan tinggi al Azhar yang dibangun oleh panglima perang Islam Jauhar as Saqali pada masa Dinasti Fatimiyah pada tahun 972 M.
  • 6.
    c. Lembaga inidijadikan pusat kajian ilmu pengetahuan pada waktu itu dan hingga sekarang menjadi salah satu pusat Study Islam di Timur Tengah. VI. Metode/ Pendekatan/ Model Pembelajaran Ceramah, Diskusi, Tanya jawab/ Direct Indtruction/ Group Investigation VII. Langkah-langkah Pembelajaran 1. Kegiatan Pendahuluan  Memulai pembelajaran dengan salam dan membaca Basmallah bersama-sama (Religius)  Ketua kelas menyampaikan kehadiran siswa (Disiplin)  Memotivasi siswa  Melakukan tanya jawab tentang Dinasti Ayyubiyah (Rasa Ingin Tahu)  Menyampaikan tujuan pembelajaran (Rasa ingin tahu) 2. Kegiatan Inti a. Eksplorasi  Siswa dibagi menjadi 6 kelompok diskusi (Komunikatif)  Siswa diberikan tugas untuk masing-masing kelompok yakni untuk tiap kelompok mendapatkan tugas yang berbeda (Kouminkatif)  Setiap kelompok diberi waktu beberapa menit untuk mendiskusikan materi sesuai dengan topik yang diberikan (Komunikatif)  Dalam diskusi siswa terlibat aktif dalam kelompoknya (Komunikatif) b. Elaborasi  Setelah masing-masing kelompok selesai berdiskusi kemudian salah satu siswa perwakilan dari masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya (Berani)  Guru memberikan klarifikasi terkait diskusi materi perkembangan kebudayaan/ peradaban Islam pada masa Dinasti Ayyubiyah  Salah satu Peserta didik menjelaskan kemajuan perkembangan kebudayaan/ peradaban Islam Dinasti Ayyubiyah di bidang militer (Komunikatif)  Salah satu Peserta didik menjelaskan kemajuan perkembangan kebudayaan/ peradaban Islam Dinasti Ayyubiyah di bidang pendidikan dan dakwah (Komunikatif)  Salah satu Peserta didik menjelaskan kemajuan perkembangan kebudayaan/ peradaban Islam Dinasti Ayyubiyah di bidang pertanian (Komunikatif)  Salah satu peserta didik menjelaskan kemajuan perkembangan kebudayaan/ peradaban Islam Dinasti Ayyubiyah di bidang kesehatan (Komunikatif)  Salah satu peserta didik menjelaskan kemajuan perkembangan kebudayaan/ peradaban Islam Dinasti Ayyubiyah di bidang arsitektur (Komunikatif)  Salah satu peserta didik menjelaskan kemajuan perkembangan kebudayaan/ peradaban Islam Dinasti Ayyubiyah di bidang politik (Komunikatif)
  • 7.
    c. Konfirmasi  Memberikanpenguatan dengan memberikan pujian bagi peserta didik yang telah mempresentasikan hasil diskusinya (menghargai prestasi)  Memberikan klarifikasi (Tanggungjawab) 3. Penutup Merumuskan kesimpulan pembelajaran Memberikan evaluasi pembelajaran Guru mengajak peserta didik untuk mengakhiri pembelajaran dengan bacaan hamdalah VIII. Media dan Sumber Belajar 1. Media: a. Papan tulis b. Spidol c. Kertas 2. Sumber Belajar: a. LKS b. Buku SKI kelas VIII Penerbit Tiga Serangkai IX. Penilaian a. Teknik penilaian : Tertulis b. Bentuk soal : Uraian/ Essay c. Kisi-kisi penilaian : (terlampir)
  • 8.
    KISI-KISI PENILAIAN No . Standar Kompetensi Kompetensi DasarMateri Indikator No. Soal Bentuk soal Bobot soal 1. 2. Memahami Perkembanga n Masyarakat Islam Pada Masa Dinasti Al Ayyubiyah 2.2 Mendeskripsikan perkembangan kebudayaan/peradaba n Islam pada masa Dinasti Al Ayyubiyah Bentuk kemajuan- kemajuan perkembangan kebudayaan/perada ban Islam pada masa Dinasti Ayyubiyah 2.2.1 Menerangkan perkembangan kebudayaan/ peradaban Islam pada masa Dinati Ayyubiyah 2.2.2 Mengidentifikasi faktor-faktor berkembangnya kebudayaan/ peradaban Islam pada masa Dinasti Al Ayyubiyah 2.2.3 Menjelaskan pengembangan al Azhar dari sebab berkembangnya kebudayaan/ peradaban Islam pada masa Dinasti Ayyubiyah. 1 2 3 4 5 Essay Essay Essay Essay Essay 20 20 20 20 20  Instrumen Penilaian: 1. Sebutkan bidang-bidang apa saja yang mengalami kemajuan pada masa Dinasti Ayybiyah! 2. Sebutkan contoh kemajuan di bidang pendidikan dan kesehatan pda masa Dinasti Ayyubiyah! 3. Sebutkan 3 tenaga beserta keahliaanya pengajar al Azhar yang didatangkan dari luar negeri pada masa Dinasti Ayyubiyah! 4. Sebutkan fungsi al Azhar pada masa Dinasti Ayyubiyah! 5. Sebutkan bentuk perhatian Salahuddin Al Ayyubi terhadap ilmu pengetahuan!
  • 9.
     Kunci Jawaban 1.Bidang-bidang yang mengalami kemajuan pada masa Dinasti Ayyubiyah a. Bidang militer e. Bidang politik b. Bidang Pendidikan dan Dakwah f. Bidang kesehatan c. Bidang pertanian, perdagangan dan pengetahuan g. Bidang Arsitektur d. Bidang sosial dan budaya 2. Kemajuan di bidang pendidikan a. Membentuk departemen pendidikan b. Mereformasi pengajaran di al Azhar c. Membangun lembaga pendidikan Adapun kemajuan di bidang kesehatan yaitu Salahuddin mendirikan dua buah rumah sakit di Kairo. 3. Pengajar luar negeri al Azhar dan keahliannya a. al Hufi, seorang ahli bahasa b. al Qudha’i, ahli fikih, hadits dan sejarah c. Hasan bin Khatir, ahli fiqih madzhab Hanafi dan ilmu tafsir 4. Fungsi Al Azhar pada masa Dinasti Ayyubiyah a. Sebagai sarana peribadahan (masjid) b. Tempat menimba ilmu c. Tempat bermusyawarah 5. Perhatian Salahuddin terdapap ilmu pengetahuan a. Menjadi pelindung para sarjana dan ilmuwan serta penyokong kajian ilmu kalam b. Mengganti faham Syi’ah dengan faham Suni melalui pendidikan
  • 10.
    c. Mendirikan sekolah,madrasah dan akademi Nilai Akhir = Perolehan Skor x Skor Ideal (100) = ................ Skor Maksimal Purwokerto, 21 Februari 2013 Mengetahui, Guru Pamong Praktekkan Uswatun Hasanah, S.Ag Iwan Burhanudin NIP. 150416107 NIM. 092331012