AKULTURASI 3
alam memperingati satu abad Sri Sultan Hamengku Buwana IX, Komunitas Yogya
Semesta menyelenggarakan dialog dan pentas seni di Bangsal Kepatihan,
Yogyakarta. Kali ini topic yang diangkat dalam acarfa tersebut adalah Akulturasi
Budaya Tionghoa dengan Indonesia/Jawa dalam Proses Membangsa. Acara yang
biasa diselenggarakan setiap Selasa malam sebulan sekali itu, kali ini
diselenggarakan pada hari Sabtu malam (18/2).
Untuk dialog budaya dihadirkan narasumber Prof. Dr. Bambang Cipto, MA. (Wakil
Rektor I Bidang Akademik/Guru Besar Hubungan Internasional ISIPOL UMY, Didi
Kwartanada, SE (Sejarawan Yayasan Nation Building/Nabil) Jakarta, drg. R. Eddy
Purjanto (Dirut PT Kabare Jogja Media Utama), Oei Tjhian Hwat (Koh HwatPengembang Seni Macapat dan Geguritan di kalangan masyarakat Tionghoa).
Sedangkan para pembahasnya adalah Prof. Dr. Gunawan Sumodiningrat (Mantan
Dirjen dan Pejabat Bappenas), Prof. Dr. Lasiyo, MA., MM. (Guru Besar Filsafat
China, Fakultas Filsafat, UGM), KH. Muhammad Jazir ASP (Pengasuh Pondok
Pesantren Abdullah Ibnu Abbas Grojogan, Tamanan, Banguntapan, Bantul).
Dialog dipandu oleh pengasuh Yogya Semesta, Heri Dendi.
Sementara gelar seni yang ditampilkan berupa Tari Dewi Kwan Im oleh Didik Nini
Thowok, Kolaborasi Musik Tradisional China Tan Me Djing, Musik Erhu (rebab) dari
Solo dengan Grup Musik Cin Ma, Pementasan dalang cilik Tionghoa (Yudistiro)
dan demonstrasi wushu dari Sasana Wushu Indonesia.
Selain itu, seperti biasa, sebelum acara dimulai seluruh peserta dipersilakan
menikmati hidangan warung kucing, bakmi Jawa, ronde, gudeg, bakso, dan nasi
langgi. Usai bersantap acara dimulai dengan pergelaran wayang purwa oleh
dalang cilik Tionghoa, disusul pertunjukan wushu. Pada galibnya semua yang
disajikan itu merupakan bagian dari bagaimana kebudayaan Tionghoa hidup dan
berbaur dalam kebudayaan lokal Nusantara (Jawa). Bakmi, ronde, bakso, soto,
dan lain-lain adalah produk makanan yang tidak asing lagi di Indonesia, namun
jika dirunut semuanya adalah pengaruh kuliner Tionghoa.
Dennys Lombard sendiri mengatakan bahwa orang-orang Tionghoa di Jawa tidak
kelihatan lagi
perbedaannya dengan orang Jawa. Antar orang Tionghoa sendiri bahkan telah
menggunakan bahasa Jawa dan tidak saling meninggikan diri. Bahkan orangorang Tionghoa di Jawa sebenarnya telah menjadi orang Jawa yang bermata sipit.
Demikian Didi Kwartanada menyampaikan bagian dari paparannya. Bahkan pada
awal berdirinya Kerajaan Yogyakarta pun interaksi Jawa-Tionghoa sudah cukup
kuat.
Sultan Hamengku Buwana I waktu itu telah memerintahkan Kapiten To In untuk
mengisi kekosongan kas kerajaan sehingga menjelang Sultan Hamengku Buwana
I wafat kas kerajaan telah terisi 3 kali lipat besarnya dari besar kas yang
diperoleh pertama kali saat kerajaan mulai berdiri. Sultan Hamengku Buwana I
juga disebut-sebut menyukai hasil kesenian atau kebudayaan Tionghoa seperti
pesta kembang api dan petasan di hari raya Imlek. Demikian pula dengan
permainan kartu. Sultan Hamengku Buwana I juga mempunyai selir orang
Tionghoa yang bernama Mas Ayu Sumarsanawati. Ada banyak orang Tionghoa
terlibat dalam urusan Kerajaan Yogyakarta. Sebut saja Tan Jin Sing, Nyonya
Persen, atau Pangeran Jayakusuma.
Menurut Kyai Jazir interaksi Cina-jawa sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 403
Masehi. Hubungan kian intensif sejak Cina banyak memproduksi teh dan porselin.
Penyebar agama Islam di Jawa mula-mula juga dilakukan oleh orang-orang Cina.
Para wali banyak yang berdarah Tionghoa. Raden Patah (Fattah) sendiri adalah
keturunan Cina dengan nama kecilnya Jim Bun. Adipati Terung yang disusupkan
ke Majapahit juga seorang Cina yang nama lainnya adalah Sin Kan. Pasca
keruntuhan Majapahit yang diberi kuasa untuk mengelola Trowulan adalah orang
Cina juga yang bernama Nyo Wai Lan. Pendeknya, interkasi Cina-Jawa itu telah
berjalan berabad-abad. Selama itu pula bisa dikatakan tidak ada persoalan apa
pun. Cina-Jawa bisa saling menopang, tolong-menolong, saling mengerti,
membaur tanpa harus lebur.
Pada intinya pergaulan antarbangsa, ras, etnis, bahkan juga keyakinan tidak bisa
tidak mesti terjadi. Saling menghormati dan menghargai adalah salah satu hal
yang dapat menjadi pilar demi kemajuan dan kenyamanan bersama. Kejujuran,
kerendahan hati, dan rela berbagi merupakan kelengkapan modal lain untuk
membangun hal demikian sehingga ke depan akan tercapai bangsa Indonesia
yang besar, bersatu, dan jaya.

Akulturasi 3

  • 1.
    AKULTURASI 3 alam memperingatisatu abad Sri Sultan Hamengku Buwana IX, Komunitas Yogya Semesta menyelenggarakan dialog dan pentas seni di Bangsal Kepatihan, Yogyakarta. Kali ini topic yang diangkat dalam acarfa tersebut adalah Akulturasi Budaya Tionghoa dengan Indonesia/Jawa dalam Proses Membangsa. Acara yang biasa diselenggarakan setiap Selasa malam sebulan sekali itu, kali ini diselenggarakan pada hari Sabtu malam (18/2). Untuk dialog budaya dihadirkan narasumber Prof. Dr. Bambang Cipto, MA. (Wakil Rektor I Bidang Akademik/Guru Besar Hubungan Internasional ISIPOL UMY, Didi Kwartanada, SE (Sejarawan Yayasan Nation Building/Nabil) Jakarta, drg. R. Eddy Purjanto (Dirut PT Kabare Jogja Media Utama), Oei Tjhian Hwat (Koh HwatPengembang Seni Macapat dan Geguritan di kalangan masyarakat Tionghoa). Sedangkan para pembahasnya adalah Prof. Dr. Gunawan Sumodiningrat (Mantan Dirjen dan Pejabat Bappenas), Prof. Dr. Lasiyo, MA., MM. (Guru Besar Filsafat China, Fakultas Filsafat, UGM), KH. Muhammad Jazir ASP (Pengasuh Pondok Pesantren Abdullah Ibnu Abbas Grojogan, Tamanan, Banguntapan, Bantul). Dialog dipandu oleh pengasuh Yogya Semesta, Heri Dendi. Sementara gelar seni yang ditampilkan berupa Tari Dewi Kwan Im oleh Didik Nini Thowok, Kolaborasi Musik Tradisional China Tan Me Djing, Musik Erhu (rebab) dari Solo dengan Grup Musik Cin Ma, Pementasan dalang cilik Tionghoa (Yudistiro) dan demonstrasi wushu dari Sasana Wushu Indonesia. Selain itu, seperti biasa, sebelum acara dimulai seluruh peserta dipersilakan menikmati hidangan warung kucing, bakmi Jawa, ronde, gudeg, bakso, dan nasi langgi. Usai bersantap acara dimulai dengan pergelaran wayang purwa oleh dalang cilik Tionghoa, disusul pertunjukan wushu. Pada galibnya semua yang disajikan itu merupakan bagian dari bagaimana kebudayaan Tionghoa hidup dan berbaur dalam kebudayaan lokal Nusantara (Jawa). Bakmi, ronde, bakso, soto, dan lain-lain adalah produk makanan yang tidak asing lagi di Indonesia, namun jika dirunut semuanya adalah pengaruh kuliner Tionghoa. Dennys Lombard sendiri mengatakan bahwa orang-orang Tionghoa di Jawa tidak kelihatan lagi perbedaannya dengan orang Jawa. Antar orang Tionghoa sendiri bahkan telah menggunakan bahasa Jawa dan tidak saling meninggikan diri. Bahkan orangorang Tionghoa di Jawa sebenarnya telah menjadi orang Jawa yang bermata sipit. Demikian Didi Kwartanada menyampaikan bagian dari paparannya. Bahkan pada awal berdirinya Kerajaan Yogyakarta pun interaksi Jawa-Tionghoa sudah cukup kuat. Sultan Hamengku Buwana I waktu itu telah memerintahkan Kapiten To In untuk mengisi kekosongan kas kerajaan sehingga menjelang Sultan Hamengku Buwana I wafat kas kerajaan telah terisi 3 kali lipat besarnya dari besar kas yang diperoleh pertama kali saat kerajaan mulai berdiri. Sultan Hamengku Buwana I juga disebut-sebut menyukai hasil kesenian atau kebudayaan Tionghoa seperti pesta kembang api dan petasan di hari raya Imlek. Demikian pula dengan
  • 2.
    permainan kartu. SultanHamengku Buwana I juga mempunyai selir orang Tionghoa yang bernama Mas Ayu Sumarsanawati. Ada banyak orang Tionghoa terlibat dalam urusan Kerajaan Yogyakarta. Sebut saja Tan Jin Sing, Nyonya Persen, atau Pangeran Jayakusuma. Menurut Kyai Jazir interaksi Cina-jawa sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 403 Masehi. Hubungan kian intensif sejak Cina banyak memproduksi teh dan porselin. Penyebar agama Islam di Jawa mula-mula juga dilakukan oleh orang-orang Cina. Para wali banyak yang berdarah Tionghoa. Raden Patah (Fattah) sendiri adalah keturunan Cina dengan nama kecilnya Jim Bun. Adipati Terung yang disusupkan ke Majapahit juga seorang Cina yang nama lainnya adalah Sin Kan. Pasca keruntuhan Majapahit yang diberi kuasa untuk mengelola Trowulan adalah orang Cina juga yang bernama Nyo Wai Lan. Pendeknya, interkasi Cina-Jawa itu telah berjalan berabad-abad. Selama itu pula bisa dikatakan tidak ada persoalan apa pun. Cina-Jawa bisa saling menopang, tolong-menolong, saling mengerti, membaur tanpa harus lebur. Pada intinya pergaulan antarbangsa, ras, etnis, bahkan juga keyakinan tidak bisa tidak mesti terjadi. Saling menghormati dan menghargai adalah salah satu hal yang dapat menjadi pilar demi kemajuan dan kenyamanan bersama. Kejujuran, kerendahan hati, dan rela berbagi merupakan kelengkapan modal lain untuk membangun hal demikian sehingga ke depan akan tercapai bangsa Indonesia yang besar, bersatu, dan jaya.