BAB 6:
PENGANGGURAN
Anggota Kelompok:
1. Andika Rachman
2. Agustian Permadi
3. Daud W.I. Panggabean
4. Garry Kusuma
5. Misbun Siddik
Pemutusan Kerja, Perolehan Pekerjaan,
dan Tingkat Pengangguran Alamiah
ď‚— Tingkat pengangguran rata-rata dalam
perekonomian yang berfluktuasi disebut
tingkat pengangguran alamiah (natural rate
of unemployment)
ď‚— Ini bisa dipandang sebagai tingkat
pengangguran di mana perekonomian
bergravitasi dalam jangka panjang
Pemutusan Kerja, Perolehan Pekerjaan,
dan Tingkat Pengangguran Alamiah
ď‚— Beberapa persamaan dasar yang
membangun model dinamika angkatan-
kerja yang menunjukkan apa yang
menentukan tingkat alamiah:
ď‚— L = Angkatan Kerja
ď‚— E = Jumlah Orang yang Bekerja
ď‚— U = Jumlah Pengangguran
ď‚— Dalam notasi ini, tingkat pengangguran
adalah U/L.
L = E + U
Pemutusan Kerja, Perolehan Pekerjaan,
dan Tingkat Pengangguran Alamiah
ď‚— Kita menotasikan tingkat pemutusan kerja
sebagai s.
ď‚— Lalu f menotasikan tingkat perolehan
pekerjaan. Bersama keduanya menentukan
tingkat pengangguran.
ď‚— fU = jumlah orang yang menemukan
pekerjaan
ď‚— sE = jumlah orang yang kehilangan
pekerjaan
f U = s E
Pemutusan Kerja, Perolehan Pekerjaan,
dan Tingkat Pengangguran Alamiah
 Dari persamaan sebelumnya, kita tahu E = L –
U, yaitu jumlah pekerja sama dengan angkatan
kerja dikurangi jumlah pengangguran. Jika kita
mensubstitusi (L-U) untuk E dalam kondisi
mapan, kita dapatkan:
ď‚— Lalu, bagi kedua sisi dengan L dan
mendapatkan:
ď‚— Sekarang selesaikan untuk U/L untuk
menemukan:
f U = s (L – U)
f U/L = s (1-U/L)
U/L = s / (s + f)
Pemutusan Kerja, Perolehan Pekerjaan,
dan Tingkat Pengangguran Alamiah
ď‚— Persamaan diatas juga bisa ditulis sebagai:
ď‚— Persamaan ini menunjukkan bahwa tingkat
pengangguran kondisi-mapan U/L
bergantung pada tingkat pemutusan kerja s
dan perolehan kerja f.
U/L = s / (s + f)
U/L = 1/ (1+ f/s)
Dampak Kebijakan
ď‚— Tiap kebijakan yang ditujukan untuk
menurunkan tingkat pengangguran alamiah
akan menurunkan tingkat pemutusan
kerja ataupun meningkatkan tingkat
perolehan pekerjaan.
ď‚— Serupa, tiap kebijakan yang mempengaruhi
tingkat pemutusan kerja atau perolehan
pekerjaan juga mengubah tingkat
pengangguran alamiah.
Pencarian Kerja dan Pengangguran
Friksional
ď‚— Pengangguran yang disebabkan oleh waktu
yang dibutuhkan pekerja untuk mencari
pekerjaan disebut pengangguran
friksional.
ď‚— Ekonom menyebut perubahan komposisi
permintaan di antara industri atau daerah
sebagai pergeseran sektoral (sectoral
shift).
ď‚— Karena pergeseran sektoral selalu terjadi,
dan karena dibutuhkan waktu bagi pekerja
untuk mengubah pekerjaan, pengangguran
friksional selalu ada.
Pencarian Kerja dan Pengangguran
Friksional
ď‚— Dalam usaha mengurangi pengangguran
friksional, beberapa kebijakan secara tidak
sengaja meningkatkan jumlah
pengangguran friksional, salah satunya
asuransi pengangguran (unemployment
insurance).
ď‚— Pada program ini, pekerja dapat mengambil
sebagian upah mereka untuk periode
tertentu setelah kehilangan pekerjaan
mereka.
Kekakuan Upah-Riil dan
Pengangguran Struktural
ď‚— Kekakuan upah (Wage rigidity) adalah
gagalnya upah melakukan penyesuaian
sampai penawaran tenaga kerja sama
dengan permintaannya.
ď‚— Pengangguran yang disebabkan kekakuan
upah dan penjatahan pekerjaan disebut
pengangguran struktural (structural
unemployment)
Kekakuan Upah-Riil dan
Pengangguran Struktural
ď‚— Orang menganggur bukan karena mereka
tak bisa menemukan pekerjaan yang
paling sesuai dengan keahliannya, tapi
karena, pada upah yang berlaku,
penawaran tenaga kerja melebihi
permintaannya
ď‚— Pekerja ini hanya menunggu pekerjaan
yang akan tersedia
Kekakuan Upah-Riil dan
Pengangguran Struktural
ď‚— Jika upah riil tertahan
di atas tingkat
ekuilibrium, maka
penawaran tenaga
kerja melebihi
permintaan.
Akibatnya :
pengangguran
sebesar U
U
Upah
riil
Upah
riil
kaku
Tenaga kerja
S
D
Undang-Undang Upah- Minimum
ď‚— Pemerintah menyebabkan kekakuan upah
ketika mencegah upah turun ke tingkat
ekuilibrium.
ď‚— Banyak ekonom dan pembuat kebijakan
percaya bahwa keringanan pajak lebih baik
daripada meningkatkan upah minimum, jika
tujuan kebijakan adalah untuk
meningkatkan pendapatan pekerja miskin.
ď‚— Keringanan pajakpendapatan yand didapat
(earned income tax credit) adalah jumlah
yang keluarga pekerja miskin diizinkan
untuk dikurangi dari pajak mereka
Undang-Undang Upah- Minimum
ď‚— Ekonom percaya upah minimum memiliki
dampak terbesar pada pengangguran
remaja/pemuda.
ď‚— Penelitian menunjukkan bahwa kenaikan
10-persen pada upah minimum
mengurangi pengangguran pemuda
sebesar 1 sampai 3 persen.
ď‚— Pemuda berkeahlian paling kecil, memiliki
produktivitas marjinal terendah, dan
mendapatkan kompensasi mereka dalam
bentuk magang.
Serikat Pekerja dan Tawar-
Menawar Kolektif
ď‚— Sebab lain kekakuan upah yaitu kekuatan
monopoli serikat pekerja (unions). Di AS,
hanya 18 persen pekerja ikut serikat
pekerja.
ď‚— Sering, kesepakatan serikat mengatur upah
di atas tingkat ekuilibrium dan mengizinkan
perusahaan memutuskan berapa banyak
pekerja yang diterima.
ď‚— Akibatnya : penurunan jumlah pekerja
dipekerjakan, tingkat perolehan kerja yang
lebih rendah, dan peningkatan
pengangguran struktural.
Serikat Pekerja dan Tawar-
Menawar Kolektif
ď‚— Pengangguran yang disebabkan serikat
kerja adalah contoh konflik antara berbagai
kelompok pekerja—orang dalam (insiders)
dan orang luar(outsiders)
ď‚— Di AS, ini diselesaikan pada tingkat
perusahaan melalui tawar-menawar
(bargaining).
Upah Efisiensi
ď‚— Teori upah-efisiensi (efficiency-wage)
menyatakan upah tinggi membuat pekerja
lebih produktif.
ď‚— Jadi, meskipun pengurangan upah akan
menurunkan tagihan upah perusahaan, itu
akan juga menurunkan produktivitas
pekerja dan laba perusahaan.
Upah Efisiensi
ď‚— Teori upah-efisiensi pertama menyatakan
upah mempengaruhi kesehatan.
ď‚— Teori upah-efisiensi kedua menyatakan
upah tinggi mengurangi perputaran tenaga
kerja.
ď‚— Teori upah-efisiensi ketiga menyatakan
kualitas rata-rata tenaga kerja perusahaan
bergantung pada upah yang dibayar ke
karyawannya.
ď‚— Teori upah-efisiensi keempat menyatakan
upah tinggi memperbaiki upaya pekerja.
Tren Pengangguran
ď‚— Tingkat pengangguran alamiah tidak
pernah stabil.
ď‚— Di AS, pada tahun 1950-an & 1960-an
tingkat pengangguran di bawah 5%.
ď‚— Pada tahun 1970-an & 1980-an tingkat
pengangguran di atas 6%.
ď‚— Pada tahun 1990-an tingkat pengangguran
di bawah 5%.
Tren Pengangguran
ď‚— Hipotesis para ekonom atas perubahan tren
tingkat pengangguran:
ď‚— Demografis
ď‚— Pergeseran Sektoral
ď‚— Produktivitas
Pengangguran Eropa
 Empat negara Eropa terbesar– Prancis,
Jerman, Italia, dan Inggris mengalami
tingkat pengangguran tinggi pada tahun-
tahun terakhir. Sebabnya?
ď‚— Tak ada yang tahu dengan pasti, tapi inilah
teori utama : Banyak ekonom percaya
bahwa masalahnya bisa dirunut pada
interaksi antara kebijakan berdurasi-
panjang dan kejutan baru.
Pengangguran Eropa
ď‚— Kebijakan berdurasi-panjang adalah untuk
memberikan keuntungan royal untuk
penganggur.
ď‚— Kejutan baru adalah turunnya permintaan
akan pekerja tak-terampil relatif terhadap
pekerja terampil karena kemajuan
teknologi.
Bab 6 pengangguran

Bab 6 pengangguran

  • 1.
    BAB 6: PENGANGGURAN Anggota Kelompok: 1.Andika Rachman 2. Agustian Permadi 3. Daud W.I. Panggabean 4. Garry Kusuma 5. Misbun Siddik
  • 2.
    Pemutusan Kerja, PerolehanPekerjaan, dan Tingkat Pengangguran Alamiah ď‚— Tingkat pengangguran rata-rata dalam perekonomian yang berfluktuasi disebut tingkat pengangguran alamiah (natural rate of unemployment) ď‚— Ini bisa dipandang sebagai tingkat pengangguran di mana perekonomian bergravitasi dalam jangka panjang
  • 3.
    Pemutusan Kerja, PerolehanPekerjaan, dan Tingkat Pengangguran Alamiah ď‚— Beberapa persamaan dasar yang membangun model dinamika angkatan- kerja yang menunjukkan apa yang menentukan tingkat alamiah: ď‚— L = Angkatan Kerja ď‚— E = Jumlah Orang yang Bekerja ď‚— U = Jumlah Pengangguran ď‚— Dalam notasi ini, tingkat pengangguran adalah U/L. L = E + U
  • 4.
    Pemutusan Kerja, PerolehanPekerjaan, dan Tingkat Pengangguran Alamiah ď‚— Kita menotasikan tingkat pemutusan kerja sebagai s. ď‚— Lalu f menotasikan tingkat perolehan pekerjaan. Bersama keduanya menentukan tingkat pengangguran. ď‚— fU = jumlah orang yang menemukan pekerjaan ď‚— sE = jumlah orang yang kehilangan pekerjaan f U = s E
  • 5.
    Pemutusan Kerja, PerolehanPekerjaan, dan Tingkat Pengangguran Alamiah  Dari persamaan sebelumnya, kita tahu E = L – U, yaitu jumlah pekerja sama dengan angkatan kerja dikurangi jumlah pengangguran. Jika kita mensubstitusi (L-U) untuk E dalam kondisi mapan, kita dapatkan:  Lalu, bagi kedua sisi dengan L dan mendapatkan:  Sekarang selesaikan untuk U/L untuk menemukan: f U = s (L – U) f U/L = s (1-U/L) U/L = s / (s + f)
  • 6.
    Pemutusan Kerja, PerolehanPekerjaan, dan Tingkat Pengangguran Alamiah ď‚— Persamaan diatas juga bisa ditulis sebagai: ď‚— Persamaan ini menunjukkan bahwa tingkat pengangguran kondisi-mapan U/L bergantung pada tingkat pemutusan kerja s dan perolehan kerja f. U/L = s / (s + f) U/L = 1/ (1+ f/s)
  • 7.
    Dampak Kebijakan ď‚— Tiapkebijakan yang ditujukan untuk menurunkan tingkat pengangguran alamiah akan menurunkan tingkat pemutusan kerja ataupun meningkatkan tingkat perolehan pekerjaan. ď‚— Serupa, tiap kebijakan yang mempengaruhi tingkat pemutusan kerja atau perolehan pekerjaan juga mengubah tingkat pengangguran alamiah.
  • 8.
    Pencarian Kerja danPengangguran Friksional ď‚— Pengangguran yang disebabkan oleh waktu yang dibutuhkan pekerja untuk mencari pekerjaan disebut pengangguran friksional. ď‚— Ekonom menyebut perubahan komposisi permintaan di antara industri atau daerah sebagai pergeseran sektoral (sectoral shift). ď‚— Karena pergeseran sektoral selalu terjadi, dan karena dibutuhkan waktu bagi pekerja untuk mengubah pekerjaan, pengangguran friksional selalu ada.
  • 9.
    Pencarian Kerja danPengangguran Friksional ď‚— Dalam usaha mengurangi pengangguran friksional, beberapa kebijakan secara tidak sengaja meningkatkan jumlah pengangguran friksional, salah satunya asuransi pengangguran (unemployment insurance). ď‚— Pada program ini, pekerja dapat mengambil sebagian upah mereka untuk periode tertentu setelah kehilangan pekerjaan mereka.
  • 10.
    Kekakuan Upah-Riil dan PengangguranStruktural ď‚— Kekakuan upah (Wage rigidity) adalah gagalnya upah melakukan penyesuaian sampai penawaran tenaga kerja sama dengan permintaannya. ď‚— Pengangguran yang disebabkan kekakuan upah dan penjatahan pekerjaan disebut pengangguran struktural (structural unemployment)
  • 11.
    Kekakuan Upah-Riil dan PengangguranStruktural ď‚— Orang menganggur bukan karena mereka tak bisa menemukan pekerjaan yang paling sesuai dengan keahliannya, tapi karena, pada upah yang berlaku, penawaran tenaga kerja melebihi permintaannya ď‚— Pekerja ini hanya menunggu pekerjaan yang akan tersedia
  • 12.
    Kekakuan Upah-Riil dan PengangguranStruktural ď‚— Jika upah riil tertahan di atas tingkat ekuilibrium, maka penawaran tenaga kerja melebihi permintaan. Akibatnya : pengangguran sebesar U U Upah riil Upah riil kaku Tenaga kerja S D
  • 13.
    Undang-Undang Upah- Minimum ď‚—Pemerintah menyebabkan kekakuan upah ketika mencegah upah turun ke tingkat ekuilibrium. ď‚— Banyak ekonom dan pembuat kebijakan percaya bahwa keringanan pajak lebih baik daripada meningkatkan upah minimum, jika tujuan kebijakan adalah untuk meningkatkan pendapatan pekerja miskin. ď‚— Keringanan pajakpendapatan yand didapat (earned income tax credit) adalah jumlah yang keluarga pekerja miskin diizinkan untuk dikurangi dari pajak mereka
  • 14.
    Undang-Undang Upah- Minimum ď‚—Ekonom percaya upah minimum memiliki dampak terbesar pada pengangguran remaja/pemuda. ď‚— Penelitian menunjukkan bahwa kenaikan 10-persen pada upah minimum mengurangi pengangguran pemuda sebesar 1 sampai 3 persen. ď‚— Pemuda berkeahlian paling kecil, memiliki produktivitas marjinal terendah, dan mendapatkan kompensasi mereka dalam bentuk magang.
  • 15.
    Serikat Pekerja danTawar- Menawar Kolektif ď‚— Sebab lain kekakuan upah yaitu kekuatan monopoli serikat pekerja (unions). Di AS, hanya 18 persen pekerja ikut serikat pekerja. ď‚— Sering, kesepakatan serikat mengatur upah di atas tingkat ekuilibrium dan mengizinkan perusahaan memutuskan berapa banyak pekerja yang diterima. ď‚— Akibatnya : penurunan jumlah pekerja dipekerjakan, tingkat perolehan kerja yang lebih rendah, dan peningkatan pengangguran struktural.
  • 16.
    Serikat Pekerja danTawar- Menawar Kolektif  Pengangguran yang disebabkan serikat kerja adalah contoh konflik antara berbagai kelompok pekerja—orang dalam (insiders) dan orang luar(outsiders)  Di AS, ini diselesaikan pada tingkat perusahaan melalui tawar-menawar (bargaining).
  • 17.
    Upah Efisiensi ď‚— Teoriupah-efisiensi (efficiency-wage) menyatakan upah tinggi membuat pekerja lebih produktif. ď‚— Jadi, meskipun pengurangan upah akan menurunkan tagihan upah perusahaan, itu akan juga menurunkan produktivitas pekerja dan laba perusahaan.
  • 18.
    Upah Efisiensi ď‚— Teoriupah-efisiensi pertama menyatakan upah mempengaruhi kesehatan. ď‚— Teori upah-efisiensi kedua menyatakan upah tinggi mengurangi perputaran tenaga kerja. ď‚— Teori upah-efisiensi ketiga menyatakan kualitas rata-rata tenaga kerja perusahaan bergantung pada upah yang dibayar ke karyawannya. ď‚— Teori upah-efisiensi keempat menyatakan upah tinggi memperbaiki upaya pekerja.
  • 19.
    Tren Pengangguran ď‚— Tingkatpengangguran alamiah tidak pernah stabil. ď‚— Di AS, pada tahun 1950-an & 1960-an tingkat pengangguran di bawah 5%. ď‚— Pada tahun 1970-an & 1980-an tingkat pengangguran di atas 6%. ď‚— Pada tahun 1990-an tingkat pengangguran di bawah 5%.
  • 20.
    Tren Pengangguran ď‚— Hipotesispara ekonom atas perubahan tren tingkat pengangguran: ď‚— Demografis ď‚— Pergeseran Sektoral ď‚— Produktivitas
  • 21.
    Pengangguran Eropa  Empatnegara Eropa terbesar– Prancis, Jerman, Italia, dan Inggris mengalami tingkat pengangguran tinggi pada tahun- tahun terakhir. Sebabnya?  Tak ada yang tahu dengan pasti, tapi inilah teori utama : Banyak ekonom percaya bahwa masalahnya bisa dirunut pada interaksi antara kebijakan berdurasi- panjang dan kejutan baru.
  • 22.
    Pengangguran Eropa ď‚— Kebijakanberdurasi-panjang adalah untuk memberikan keuntungan royal untuk penganggur. ď‚— Kejutan baru adalah turunnya permintaan akan pekerja tak-terampil relatif terhadap pekerja terampil karena kemajuan teknologi.