09/14/11 TUTOR  HEMATOLOGI
Pembimbing  YETTY HERNANINGSIH LABORATORIUM / INSTALASI PATOLOGI KLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA RSU Dr. SOETOMO SURABAYA 2009 Oleh :  PANTJARARA B. TUTOR HEMATOLOGI PENGECATAN SITOKIMIA  PADA  LEUKEMIA 09/14/11
09/14/11 PENDAHULUAN Pemeriksaan morfologi darah, membantu diagnosis dan klasifikasi leukimia. Abnormalitas atau imaturitas dari sel sering sulit diidentifikasi tipenya dengan tepat.
Pengecatan sitokimia pada leukemia dapat membantu membedakan tipe satu sel dengan yang lain, terutama membedakan antara leukimia Limfoid dan Mieloid.  09/14/11
Pasien dengan tipe laukemia tertentu diklasifikasikan sehubungan dengan penentuan  tindakan pengobatan  yang akurat dan  prognosis  yang lebih baik. Klasifikasi FAB membagi leukamia akut m enjadi 2 kelompok yaitu: 1. Acute Myeloid Leukemia, di bagi menjadi: M0  AML, diferensiasi minimal M1  AML, tanpa maturasi M2  AML, dengan maturasi M3  Leukemia Promielositik Akut, hipergranuler  M3v  Leukemia Promielositik Akut varian, mikrogranuler M4  Leukemia Mielomonositik Akut M4eo  Leukemia Mielomonositik Akut, dengan eosinifilia M5a  Leukemia Monoblastik Akut, dengan diferensiasi rendah M5b  Leukemia Monoblastik Akut, dengan diferensiasi baik M6  Eritroleukimia Akut M7  Leukemia Megakarioblastik Akut 09/14/11
09/14/11 2. Acut Liymphoblastic Leukemia, dibagi menjadi  3 tipe yaitu: - L1, - L2 dan - L3.
Pengecatan  sitokimia :  Sudan black, Periodic acid-Schiff (PAS), Terminal deoxynucleotidyl tranferase (TdT), Leukocyte alkaline phosphatase (LAP),  Tartrate-resistent acid phosphatase (TRAP), Myeloperoxidase,  Leukocyte spesific esterase dan Leukocyte nonspecific esterase. 09/14/11
Masing-masing metode mempunyai spesifikasi dan mekanisme terjadinya hasil positif (+) dan negatif (-). Pada tugas tutor ini: Myeloperoxidase,  Sudan black,  Periodic acid-Schiff (PAS), Leukocyte Alkaline Phosphatase  dan Non Spesific Esterase. 09/14/11
Tujuan Pemeriksaan Sitokimia:   -M embedakan antara leukimia    Limfoid dan Mieloid, -diagnosis  dan klasifikasi Leukemia  Mielositik Akut. 09/14/11
Pengecatan  S itokimia 09/14/11 1 Mieloperoksidase Prinsip:  Enzim peroksidase mengkatalisis oksidasi substrat dengan adanya hidrogen peroksida membentuk  presipitat warna coklat . SH 2 +H 2 O 2 ═S+2H2O Mieloperoksidase terdapat pada: granula dari sel netrofil, eosinofil dan  monosit.
Reagen: Fiksasi: Formal aseton bufer. BFA  (Buffered Formal Aceton) Substrat:  3,3` diaminobenzidine tetrachloride  (DAB) H 2 O 2  ( Hidrogen peroksida, 30% w/v). Bufer:  Sorensen’s phosphate buffer  pH 7,3 Counterstain: Aquous haematoxylin 09/14/11
Metode: Hapusan difiksasi  dalam  buffer  formal  aseton  selama 45 detik. Bilas dengan air kran dan keringkan. Inkubasi dalam larutan substrat selama10 mnt. Campur 30 mg DAB dalam 60ml bufer,  tambahkan H 2 O 2  120 µl Bilas dengan air kran. Counterstain  dengan Carazzi`s hematoksilin 1 menit. Bilas dengan air kran dan keringkan.  09/14/11
Interpretasi: Pengecatan myeloperoksidase membedakan antara  sel-sel  immatur pada leukemia mieloblastik akut (+) dan pada  leukemia limfoblastik akut (-). Mieloperoksidase terdapat pada netrofil, eosinofil dan monosit. Sel-sel Limfoid dan eritroid tidak memiliki enzim  dengan  aktifitas peroksidase. Sel eosinofil positif kuat (+).  Sel basofil, limfosit dan seri  eritrosit memberi hasil negatif (-).  Pada sel monosit: ada granula halus, tidak begitu terang seperti    granulosit,  monosit  negatif(-) atau positif (+). Pada AML (Leukimia mielositik akut) lebih dari  5% sel  muda  hasil positif(+).   09/14/11
2 Pengecatan dengan  sudan black   Prinsip:  Sudan Black  mewarnai granula sitoplasma yang mengandung fosfolipid intraseluler dan lipid yang ada dalam lekosit darah, berwarna  coklat hitam. 09/14/11
Reagen: Sudan Black B.  Bufer fenol. Working stain solution.  Tambahkan 40 ml buffer ke  dalam  60 ml Sudan Black B.  Counterstain: May-Grunwald-Giemsa  atau  Leishman  stain 09/14/11
Metode: Fiksasi dalam  formalin selama15 menit. Bilas dengan cepat dengan air kran dan  keringkan. Celupkan dalam working stain  selama satu jam.  Cuci dengan etanol 70%. Counterstain dengan Leishman`s atau MGG (May -Grunwald-Giemsa) 09/14/11
Interpretasi:  Hasil reaksi: granuler berwarna hitam. Membedakan antara leukemia limfoblastik akut (-) dan  leukemia myeloblastik akut (+).  Umumnya sel dengan peroksidase positif (+) memberi  reaksi  positif (+) pada pewarnaan Sudan black. Seri mielosit stadium muda granula sitolplasma berwarna  hitam  coklat (agak pucat).  Stadium matang netrofil mempunyai granula coklat hitam  (yang jelas).  Monosit  (+) lemah, berwarna hitam coklat.  Limfosit dan Limfoblas negatif (-). Basofil (-)/ bright red/purple metakromasi. Megakariosit, eritroblas, normoblas dan trombosit (-). 09/14/11
09/14/11 Kelebihan sudan black kdibanding mieloperoksidase: dapat menggunakan hapusan darah atau sumsum tulang  yang  lebih lama  dan hasilnya lebih awet.
3  Periodic-Acid Schiff (PAS)  Prinsip: Pewarnaan PAS ( periodic acid-schiff ) untuk mendeteksi glikogen dan mukopolisakarida intraseluler. Reaksi yang terjadi adalah oksidasi glikogen oleh  periodic acid  menjadi dialdehida, kemudian dialdehida bereaksi dengan reagen schiff membentuk  warna merah . 09/14/11
09/14/11 Reagen: Fiksasi: Metanol Periodic-acid solution. Reagen schiff : basic fuchsin Caunterstain:aqueous  Haemtoxylin.
Metode: Fiksasi selama15 mnt dalam metanol. Bilas dengan cepat dengan air kran. Tambahkan  Periodic-acid solution  selama10 mnt. Cuci dengan air kran dan keringkan. Celupkan dalam reagen Schiff`s basic fuchsin  selama 30 mnt. 6. Cuci gengan air kran. 7. Counterstain Carazzi`s aqueous Haematoxylin  selama 5-10 mnt. 09/14/11
Interpretasi:   Hasil reaksi adalah mulai dari pink sampai dengan merah  terang. Pengecatan PAS  dapat digunakan pada  identifikasi  eritroleukimia,  suatu leukemia dengan sel darah  merah yang immatur.->(+) kuat Granulosit prekursor positif lemah, lebih nyata pada stadium  matang. Pengecatan PAS tampak pada sel-sel muda pada akut  limfoblastik maupun  akut mielogenik leukimia.  09/14/11
Leukosit  Alkalin Fosfatase (LAP) Prinsip: Pada granula neutrofilik terdapat enzim fosfatase yang mampu menghidrolisis substrat yang megandung naptol fosfat menjadi produk yang berikatan dengan zat wana membentuk  komplek warna biru. Substrat mengandung naptolfosfat -> hidrolisis->naptol+ azodye 09/14/11
09/14/11 Aktifitas Alkalin fosfatase ditemukan dalam  sitoplasma: Netrofil, osteoblas, sel endotelial  vaskuler, dan limfosit. Kadar alkalin fosfatase netrofil dalam darah  perifer dihitung sebagai skor LAP  (Leukocyte Alkaline Phosphatase). Leukocyte Alkaline Phosphatase  merupakan enzim yang terdapat  dalam granula sekunder dari sel  Polimorfonuklear.
Reagen  : Fiksasi  : Metanolformalin 4%  Substrat :  Naphtol AS phosphate Buffer  :  Tris buffer  0,2 mol/L pH 9,0 Stock substrate solution  :  Larutkan  naphtol AS phosphate  dalam  N,N- dimethylformaldehide.  Tambahkan  Tris  buffer  100 ml 0,2 mol/l, pH 9,1. Coupling azo-dye : garam Fast Blue BB Counterstain :  Aqueous Netral red  0,02%. 09/14/11
Metode: Fiksasi hapusan darah selama 30 detik  dalam  formalin metanol 4% Bilas dengan air kran dan keringkan Siapkan  larutan  working substrat:  stock  substrate solution  40ml. Tambahkan Fast Blue BB 24mg. Inkubasi selama 15 menit. Bilas dengan air kran dan keringkan. Counterstain  selama 3 menit dalam  Aqueous neutral red , bilas dengan  cepat dan keringkan. 09/14/11
09/14/11 Hapusan darah harus segera dibuat sebelum 30 menit, sebab aktifitas lekosit alkali fosfatase menurun dengan cepat pada pengunaan EDTA. Hapusan harus segera dicat dalam waktu 6 jam.
Interpretasi: Leukocyte  Alkaline Phosphatase (LAP) dapat diukur secara kasar dengan menentukan skor ukuran dan intensitas granula yang terwarnai. Normal :15-130, nilai yang mungkin mulai 0 maksimal 400 Penghitungan pada 100 sel netrofil Intensitas pewarnaan: 0 (tanpa pewarnaan) sampai dengan 4 (pewarnaan kuat dan dalam). 0  Negatif, tanpa granula, sitoplasma tidak tercat. 1  Positif lemah, granula jarang. 2  Positif lemah, jumlah granula  sedang. 3  Positif kuat, granula banyak. 4  Positif sangat kuat dengan banyak granula kasar dalam  sitoplasma, sering menutupi nukleus. 09/14/11
09/14/11 Kondisi yang berhubungan dengan skor abnormal Leukosit Alkalin Fosfatase Skor LAP < 15 CML Paroxysmal nocturnal hemoglobinuria Hematologic  neoplasms Myelodysplastic syndromes Infeksi atau keracunan Skor LAP >130 Infeksi Growth factor theraphy Myeloproliferative disorder  selain CML Inflammatory disorders Kehamilan, kontrasepsi oral Stress obat (lithium, korticosteroid, estrogen)
Nonspesific (alpha-naphthyl butirate or alpha-naphthyl acetate) Esterase Pengecatan non spesific esterase digunakan untuk identifikasi  sel monosit  tetapi tidak untuk granulosit atau eosinofil. Limfosit T matur yang tercat dengan karakteristik fokal,  dotlike pattern .  09/14/11
09/14/11 Prinsip:  Lekosit esterase merupakan kelompok enzim yang menghidrolisis acyl atau chloroacyl ester dari  α - naphtol atau naphtol AS. Perbedaan pemeriksaan antara  alpha-naphthyl butirate  dan alpha-naphthyl acetate Esterase  :   pada substrat spesifik dan  pH.
09/14/11 α- Naphtyl butyrate  esterase Reagen: Fiksasi:  Buffered Formalin aseton Bufer:   Bufer fosfat 100 mmol/L pH 8,0 Substrat:  α - Naphtyl butyrate 100µL dalam 5ml aseton Coupling reagent:  Fast garnet GBC 15 mg atau Fast Blue BB Counterstain: aqueous haematoxylin
09/14/11 Metode: 1. Fiksasi: formalin aseton 30 detik 2. Bilas dgn air kran dan keringkan 3. Tambahkan Fast Garnet GBC pada bufer 4. Tambahkan 0,5 ml  α - naphtol butyrate atau larutan aseton 5. Inkubasi selama 20-40 mnt 6. Bilas dengan air kran. 7 . Counterstain: Aqueous haematoksilin selama 1-5 mnt
09/14/11 Interpretasi:  Hasil reaksi granuler coklat Mayoritas monosit (>80%) tercat kuat. Netrofil, eosinofil, basofil dan platelet negatif (-) Limfosit B (-), T tidak tercat. Pada  bone marrow  : monosit dan makrofag teracat kuat. α  – Naphtol butyrate  lebih spesifik untuk identifikasi komponen monosit dalam AML dari pada  α - Naphtol  acetate.
09/14/11 α- Naphtyl acetate esterase Reagen : Fiksasi  :  Buffered Formalin aseton Bufer  :   Bufer fosfat 66 mmol/L pH 6,3 Substrat :  α - Naphtyl acetate 100µL dalam 5ml etilen monometil eter. Medium inkubasi. Coupling reagent: pararosaniline Counterstain: aqueous haematoxylin
09/14/11 Metode: 1. Fiksasi: formalin aseton 30 detik 2. Bilas dgn air kran dan keringkan 3. Celupkan slide dalam medium inkubasi selama  30-60 mnt. 4. Bilas dengan air kran dan keringkan. 5. Counterstain: Aqueous haematoksilin  selama   2-5 mnt
09/14/11 Interpretasi Hasil reaksi: warna merah/coklat rata. Monosit normal dan lekemik tercat kuat Granulosit normal negatif (-) Mielodisplasi atau AML positif (+). Megakarioblas lekemik (+) Limfosit, Limfoblas T (+)  dotlike Leukaemic eritroblast  (+)
09/14/11 Internet atlas of hemayology NORMAL HEMOPOIETIC CELLS IN CYTOCHEMICAL STAINS Peroxidase reaction Peroxidase reaction S udan black B reaction
09/14/11 PAS reaction PAS reaction AS-D-chloroacetate esterase reaction Butyrate esterase reaction Internet atlas of hematology
09/14/11 MPO (-) Sudan Black (-) PAS (-) PAS (+) Data pasien
CONTOH HASIL POSITIF Reaksi Peroksidase. Granulosit positif kuat pada sel leukemia. Pembesaran 1000X Reaksi Peroksidase pada sumsum tulang. Pembesaran 1000X. 09/14/11 Internet atlas Leukemia library
Sudan Black B pada sumsum tulang (Leukemia Mielositik akut) (FAB M1) 09/14/11 Sudan Black B (Leukemia  Promielositk  Akut) Internet atlas Leukemia library
09/14/11 Granula kasar, PAS positif pada sitoplasma. Pembesaran 1000X. Granula kasar, PAS positif dalam sitoplasma limfoblas sumsum tulang.  Pembesaran 1000X. Internet atlas Leukemia library
Reaksi Alpha- Naphthylacetae esterase pada sumsum tulang. Limfoblas negatif. Pembesaran 500X.  09/14/11 Neutrophyl Alkaline Phosphatase. Positif kuat ( 4+) dan positif sedang (3+ dan 2+) Internet atlas Leukemia library
Reaksi Alpha- Napthylacetate esterase pada darah perifer, sel leukemia positif kuat. Pembesaran 1000X. Dengan aktifitas yang sangat tinnggi pada sel leukemia. Pembesaran 1000X. 09/14/11 Internet atlas Leukemia library
09/14/11 LAP,  A=0 LAP,  B=1+ LAP,  C=2+ Wintrobe’s
09/14/11 LAP,  D=3+ LAP, E=4+ Wintrobe’s
09/14/11 G=  PAS, granula positif pada  malignant lymphoid cell (sezary syndrom) H=  PAS, sel ALL dengan granula kasar Wintrobe’s
09/14/11 I= Peroksidase, Granula biru dari sitoplasma mieloblas pada pasien  acute myeloblastic leukemia J= Peroksidase, Granula matur warna biru Wintrobe’s
09/14/11 K= Sudan Black L= Non spesifik esterase, monosit  dan monoblas dengan sitoplasma warna coklat orange Wintrobe’s
09/14/11 M=  Chloroasetate esterase , promielosit  dengan sitoplasma warna maroon, pada pasien AML Wintrobe’s
09/14/11 Color atlas hematologi Harald Theml dkk Histochemical Features of AML FAB HISTOCHEMISTRY M1 Occasional peroxidate+ granules, PAS- M2 Strongly peroxidase+, PAS- M3 Strongly peroxidase+, PAS- M4 Strongly peroxidase+, some cells may be PAS+ M5 Many be peroxidase+ and PAS+, nonspecific esterase stains are strongly +  . M6 Red cell precursors are PAS+, ringed sideroblasts are seen with iron stains M7 Variable, platelet peroxidase can be demonstrated by electron microscopy
09/14/11 E.N Kosasih H asil tes sitokimia pada  AML  dan ALL Jenis tes sitokimia AML Klasifikasi FAB M0  M1-3  M4  M5  M6  M7  ALL Mieloperoksidase -  +  +  -  -  -  - Chloroacetate -  +  +  +/-  -  -  - α  - naphtol acetate -  -  +  +  -  +/-  - Sudan Black B -  +  +  -  -  -  - PAS -  -  +/-  +/-  +  -  +
09/14/11
09/14/11 2. Acut Liymphoblastic Leukemia, dibagi menjadi  3 tipe yaitu: L1: ALL dengan sel limfoblas kecil-kecil dan merupakan 84% dari ALL.  L2: ALL sel lebih besar, inti ireguler, kromatin bergumpal, nukleoli prominen dan sitoplasma agak banyak. Merupakan 14% dari ALL. L3: ALL mirip dengan limfoma burkitt, yaitu sitoplasma basofil dengan banyak vakuola, 1% dari ALL.
09/14/11 Pengecatan sitokimia: Merupakan suatu metode yang digunakan dalam  pengecatan pada sampel darah dengan berdasarkan reaksi dan menggunakan bahan-bahan kimia
09/14/11 Metode: Non spesifik esterase 1, Hapusan difiksasi dengan udara kering dalam paparan  formalin ->4 menit 2 .  Bilas   dengan air suling dan keringkan 3. Inkubasi dalam  chloroacetate substrate solution -> 5-15menit ->suhu kamar. 4. Bilas dengan air suling dan keringkan. 5.Inkubasi   dalam  butyrate substrate solution -> 15-30menit-> suhu ruangan dan hindari sinar. 6 .  Bilas   dengan air suling 7.  Caunterstain  dalam  aqueous haematoxylin -> 5 menit 8. Bilas dengan air suling keringkan dan periksa.
09/14/11 Isoenzim dibagi dalam 2 kelompok: Bands 1,2,7,8 dan 9 berhubungan dengan sterase spesifik dai netrofil khususnya pengecatan dengan  naphtol AS-D chloroacetate sterase (chloroacetate esterase, CAE). Bands 3, 4, 5 dan 6 berhubungan dngan non spesifik  esterase (NSE) pengecatan dengan  α - naphtyl acetae esterase (ANAE) dan α - naphtyl butirat esterase. MPO terdapat pada granula primer dan sekunder dari netrofil, dan prekursornya di granula eosinofil dan di granula azurofilik dari monosit. MPO pada granula eosinofil, resiste terhdap sianida, dimana  pada netrofil  dan monosit sensitif.
Interpretasi: Pengecatan non spesific esterase ->identifikasi  sel   monosit  tidak untuk granulosit atau eosinofil.  Pengecatan limfosit T matur ->karakteristik fokal,  dotlike pattern .  Selain pada monosit, reaksi juga terjadi pada : makrofag, histiosit, megakariosit, dan beberapa  sel karsinoma.  Pengecatan  alpha naphthyl butyrate -> lebih  spesifik ->kurang sensitif, dari pada  alpha- naphthyl  acetate .  Perbedaan pengecatan dengan esterase: pada  megakarioblas, yang tidak tercat dengan  alpha  naphthyl butyrate  tetapi tercat dengan substrat  alpha- naphthyl acetate. 09/14/11
09/14/11 Sel-sel dengan granula primer  -> promielosit->azurofilik ->netrofil, eosinofil, basofil dapat dilihat hanya degan Elektron mikroskop. Granula sekunder->mielosit Granula sekunder->alkali fosfatase Granula tersier->tampak pada akhir mielosit-> pada human netrofil
09/14/11
09/14/11
09/14/11 Keterangan gambar: LAP: A= 0, B=1+, C=2+, D=3+, E=4+ G= PAS+ ( Sezary syndrome ) H= PAS, ALL, granulakasar I=  Peroksidase, granula biru, AML J = Cat biru pada granula matur K= Sudan Blak L= Non spesifik esterase, monosit dan monoblas  dengan  sitoplasma warna coklat orange M= Cloroasetat esterase, promielosit dengan sitoplasma    warna maroon, ada pasien AML N= Tartrat-resistent acid phosphat, granula sitoplama  warna  gelap.
09/14/11 M= Cloroasetat esterase, promielosit  dengan sitoplasma warna maroon, pada pasien AML
09/14/11 MPO (-) Sudan Black (-) PAS (-) PAS (+)
09/14/11 Perbedaan ALL dan AML Hematologi klinik ringkas, EGC Sitokimia ALL AML Mieloperoksidase - + Sudan black - + Esterase non spesifik - + PAS (kasar) + (monositik)
09/14/11 1 Mieloperoksidase Prinsip:  Enzim peroksidase mengkatalisis oksidasi substrat dengan adanya hidrogen peroksida membentuk  presipitat warna coklat . SH 2 +H 2 O 2 ═S+2H2O Mieloperoksidase terdapat pada: granula primer dari sel promielosit. granula sekunder dari sel mielosit
09/14/11 MPO Tidak dihambat EDTA, oxalat ataupun heparin, slide bisa dikerjakan  12jam  setelah pengambilan darah. Pengecatan masih bisa dilakukan pada slide yang  disimpan selama 1 minggu, pada suhu kamar Kekurangan MPO:  - Sensitif dengan cahaya, panas dan metanol - Pengecatan pada hapusan darah harus dilakukan segera, tidak boleh lebih dari 3 minggu.
09/14/11 Interpretasi:   Pengecatan PAS digunakan paling awal pada  identifikasi  eritroleukimia,  suatu leukemia dengan sel darah  merah yang immatur. Reaksi positif (+) ->adanya glikogen atau  polisakarida  setelah  penambahan diastase.  Sel netrofil: semua stadium hasil positif (+), lebih nyata  pada stadium matang. Glikogen berada dalam  sitoplasma tidak dalam granula.  Eosinofil:  Hasil positif  (+). Mieloblas:  Bervariasi antara negatif (-) dan hanya  beberapa  butir granula halus.  Monosit: Pewarnaan  samar-samar.  Limfosit : Dapat mengandung granula  kecil atau besar.

10

  • 1.
    09/14/11 TUTOR HEMATOLOGI
  • 2.
    Pembimbing YETTYHERNANINGSIH LABORATORIUM / INSTALASI PATOLOGI KLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA RSU Dr. SOETOMO SURABAYA 2009 Oleh : PANTJARARA B. TUTOR HEMATOLOGI PENGECATAN SITOKIMIA PADA LEUKEMIA 09/14/11
  • 3.
    09/14/11 PENDAHULUAN Pemeriksaanmorfologi darah, membantu diagnosis dan klasifikasi leukimia. Abnormalitas atau imaturitas dari sel sering sulit diidentifikasi tipenya dengan tepat.
  • 4.
    Pengecatan sitokimia padaleukemia dapat membantu membedakan tipe satu sel dengan yang lain, terutama membedakan antara leukimia Limfoid dan Mieloid. 09/14/11
  • 5.
    Pasien dengan tipelaukemia tertentu diklasifikasikan sehubungan dengan penentuan tindakan pengobatan yang akurat dan prognosis yang lebih baik. Klasifikasi FAB membagi leukamia akut m enjadi 2 kelompok yaitu: 1. Acute Myeloid Leukemia, di bagi menjadi: M0 AML, diferensiasi minimal M1 AML, tanpa maturasi M2 AML, dengan maturasi M3 Leukemia Promielositik Akut, hipergranuler M3v Leukemia Promielositik Akut varian, mikrogranuler M4 Leukemia Mielomonositik Akut M4eo Leukemia Mielomonositik Akut, dengan eosinifilia M5a Leukemia Monoblastik Akut, dengan diferensiasi rendah M5b Leukemia Monoblastik Akut, dengan diferensiasi baik M6 Eritroleukimia Akut M7 Leukemia Megakarioblastik Akut 09/14/11
  • 6.
    09/14/11 2. AcutLiymphoblastic Leukemia, dibagi menjadi 3 tipe yaitu: - L1, - L2 dan - L3.
  • 7.
    Pengecatan sitokimia: Sudan black, Periodic acid-Schiff (PAS), Terminal deoxynucleotidyl tranferase (TdT), Leukocyte alkaline phosphatase (LAP), Tartrate-resistent acid phosphatase (TRAP), Myeloperoxidase, Leukocyte spesific esterase dan Leukocyte nonspecific esterase. 09/14/11
  • 8.
    Masing-masing metode mempunyaispesifikasi dan mekanisme terjadinya hasil positif (+) dan negatif (-). Pada tugas tutor ini: Myeloperoxidase, Sudan black, Periodic acid-Schiff (PAS), Leukocyte Alkaline Phosphatase dan Non Spesific Esterase. 09/14/11
  • 9.
    Tujuan Pemeriksaan Sitokimia: -M embedakan antara leukimia Limfoid dan Mieloid, -diagnosis dan klasifikasi Leukemia Mielositik Akut. 09/14/11
  • 10.
    Pengecatan Sitokimia 09/14/11 1 Mieloperoksidase Prinsip: Enzim peroksidase mengkatalisis oksidasi substrat dengan adanya hidrogen peroksida membentuk presipitat warna coklat . SH 2 +H 2 O 2 ═S+2H2O Mieloperoksidase terdapat pada: granula dari sel netrofil, eosinofil dan monosit.
  • 11.
    Reagen: Fiksasi: Formalaseton bufer. BFA (Buffered Formal Aceton) Substrat: 3,3` diaminobenzidine tetrachloride (DAB) H 2 O 2 ( Hidrogen peroksida, 30% w/v). Bufer: Sorensen’s phosphate buffer pH 7,3 Counterstain: Aquous haematoxylin 09/14/11
  • 12.
    Metode: Hapusan difiksasi dalam buffer formal aseton selama 45 detik. Bilas dengan air kran dan keringkan. Inkubasi dalam larutan substrat selama10 mnt. Campur 30 mg DAB dalam 60ml bufer, tambahkan H 2 O 2 120 µl Bilas dengan air kran. Counterstain dengan Carazzi`s hematoksilin 1 menit. Bilas dengan air kran dan keringkan. 09/14/11
  • 13.
    Interpretasi: Pengecatan myeloperoksidasemembedakan antara sel-sel immatur pada leukemia mieloblastik akut (+) dan pada leukemia limfoblastik akut (-). Mieloperoksidase terdapat pada netrofil, eosinofil dan monosit. Sel-sel Limfoid dan eritroid tidak memiliki enzim dengan aktifitas peroksidase. Sel eosinofil positif kuat (+). Sel basofil, limfosit dan seri eritrosit memberi hasil negatif (-). Pada sel monosit: ada granula halus, tidak begitu terang seperti granulosit, monosit negatif(-) atau positif (+). Pada AML (Leukimia mielositik akut) lebih dari 5% sel muda hasil positif(+). 09/14/11
  • 14.
    2 Pengecatan dengan sudan black Prinsip: Sudan Black mewarnai granula sitoplasma yang mengandung fosfolipid intraseluler dan lipid yang ada dalam lekosit darah, berwarna coklat hitam. 09/14/11
  • 15.
    Reagen: Sudan BlackB. Bufer fenol. Working stain solution. Tambahkan 40 ml buffer ke dalam 60 ml Sudan Black B. Counterstain: May-Grunwald-Giemsa atau Leishman stain 09/14/11
  • 16.
    Metode: Fiksasi dalam formalin selama15 menit. Bilas dengan cepat dengan air kran dan keringkan. Celupkan dalam working stain selama satu jam. Cuci dengan etanol 70%. Counterstain dengan Leishman`s atau MGG (May -Grunwald-Giemsa) 09/14/11
  • 17.
    Interpretasi: Hasilreaksi: granuler berwarna hitam. Membedakan antara leukemia limfoblastik akut (-) dan leukemia myeloblastik akut (+). Umumnya sel dengan peroksidase positif (+) memberi reaksi positif (+) pada pewarnaan Sudan black. Seri mielosit stadium muda granula sitolplasma berwarna hitam coklat (agak pucat). Stadium matang netrofil mempunyai granula coklat hitam (yang jelas). Monosit (+) lemah, berwarna hitam coklat. Limfosit dan Limfoblas negatif (-). Basofil (-)/ bright red/purple metakromasi. Megakariosit, eritroblas, normoblas dan trombosit (-). 09/14/11
  • 18.
    09/14/11 Kelebihan sudanblack kdibanding mieloperoksidase: dapat menggunakan hapusan darah atau sumsum tulang yang lebih lama dan hasilnya lebih awet.
  • 19.
    3 Periodic-AcidSchiff (PAS) Prinsip: Pewarnaan PAS ( periodic acid-schiff ) untuk mendeteksi glikogen dan mukopolisakarida intraseluler. Reaksi yang terjadi adalah oksidasi glikogen oleh periodic acid menjadi dialdehida, kemudian dialdehida bereaksi dengan reagen schiff membentuk warna merah . 09/14/11
  • 20.
    09/14/11 Reagen: Fiksasi:Metanol Periodic-acid solution. Reagen schiff : basic fuchsin Caunterstain:aqueous Haemtoxylin.
  • 21.
    Metode: Fiksasi selama15mnt dalam metanol. Bilas dengan cepat dengan air kran. Tambahkan Periodic-acid solution selama10 mnt. Cuci dengan air kran dan keringkan. Celupkan dalam reagen Schiff`s basic fuchsin selama 30 mnt. 6. Cuci gengan air kran. 7. Counterstain Carazzi`s aqueous Haematoxylin selama 5-10 mnt. 09/14/11
  • 22.
    Interpretasi: Hasil reaksi adalah mulai dari pink sampai dengan merah terang. Pengecatan PAS dapat digunakan pada identifikasi eritroleukimia, suatu leukemia dengan sel darah merah yang immatur.->(+) kuat Granulosit prekursor positif lemah, lebih nyata pada stadium matang. Pengecatan PAS tampak pada sel-sel muda pada akut limfoblastik maupun akut mielogenik leukimia. 09/14/11
  • 23.
    Leukosit AlkalinFosfatase (LAP) Prinsip: Pada granula neutrofilik terdapat enzim fosfatase yang mampu menghidrolisis substrat yang megandung naptol fosfat menjadi produk yang berikatan dengan zat wana membentuk komplek warna biru. Substrat mengandung naptolfosfat -> hidrolisis->naptol+ azodye 09/14/11
  • 24.
    09/14/11 Aktifitas Alkalinfosfatase ditemukan dalam sitoplasma: Netrofil, osteoblas, sel endotelial vaskuler, dan limfosit. Kadar alkalin fosfatase netrofil dalam darah perifer dihitung sebagai skor LAP (Leukocyte Alkaline Phosphatase). Leukocyte Alkaline Phosphatase merupakan enzim yang terdapat dalam granula sekunder dari sel Polimorfonuklear.
  • 25.
    Reagen :Fiksasi : Metanolformalin 4% Substrat : Naphtol AS phosphate Buffer : Tris buffer 0,2 mol/L pH 9,0 Stock substrate solution : Larutkan naphtol AS phosphate dalam N,N- dimethylformaldehide. Tambahkan Tris buffer 100 ml 0,2 mol/l, pH 9,1. Coupling azo-dye : garam Fast Blue BB Counterstain : Aqueous Netral red 0,02%. 09/14/11
  • 26.
    Metode: Fiksasi hapusandarah selama 30 detik dalam formalin metanol 4% Bilas dengan air kran dan keringkan Siapkan larutan working substrat: stock substrate solution 40ml. Tambahkan Fast Blue BB 24mg. Inkubasi selama 15 menit. Bilas dengan air kran dan keringkan. Counterstain selama 3 menit dalam Aqueous neutral red , bilas dengan cepat dan keringkan. 09/14/11
  • 27.
    09/14/11 Hapusan darahharus segera dibuat sebelum 30 menit, sebab aktifitas lekosit alkali fosfatase menurun dengan cepat pada pengunaan EDTA. Hapusan harus segera dicat dalam waktu 6 jam.
  • 28.
    Interpretasi: Leukocyte Alkaline Phosphatase (LAP) dapat diukur secara kasar dengan menentukan skor ukuran dan intensitas granula yang terwarnai. Normal :15-130, nilai yang mungkin mulai 0 maksimal 400 Penghitungan pada 100 sel netrofil Intensitas pewarnaan: 0 (tanpa pewarnaan) sampai dengan 4 (pewarnaan kuat dan dalam). 0 Negatif, tanpa granula, sitoplasma tidak tercat. 1 Positif lemah, granula jarang. 2 Positif lemah, jumlah granula sedang. 3 Positif kuat, granula banyak. 4 Positif sangat kuat dengan banyak granula kasar dalam sitoplasma, sering menutupi nukleus. 09/14/11
  • 29.
    09/14/11 Kondisi yangberhubungan dengan skor abnormal Leukosit Alkalin Fosfatase Skor LAP < 15 CML Paroxysmal nocturnal hemoglobinuria Hematologic neoplasms Myelodysplastic syndromes Infeksi atau keracunan Skor LAP >130 Infeksi Growth factor theraphy Myeloproliferative disorder selain CML Inflammatory disorders Kehamilan, kontrasepsi oral Stress obat (lithium, korticosteroid, estrogen)
  • 30.
    Nonspesific (alpha-naphthyl butirateor alpha-naphthyl acetate) Esterase Pengecatan non spesific esterase digunakan untuk identifikasi sel monosit tetapi tidak untuk granulosit atau eosinofil. Limfosit T matur yang tercat dengan karakteristik fokal, dotlike pattern . 09/14/11
  • 31.
    09/14/11 Prinsip: Lekosit esterase merupakan kelompok enzim yang menghidrolisis acyl atau chloroacyl ester dari α - naphtol atau naphtol AS. Perbedaan pemeriksaan antara alpha-naphthyl butirate dan alpha-naphthyl acetate Esterase : pada substrat spesifik dan pH.
  • 32.
    09/14/11 α- Naphtylbutyrate esterase Reagen: Fiksasi: Buffered Formalin aseton Bufer: Bufer fosfat 100 mmol/L pH 8,0 Substrat: α - Naphtyl butyrate 100µL dalam 5ml aseton Coupling reagent: Fast garnet GBC 15 mg atau Fast Blue BB Counterstain: aqueous haematoxylin
  • 33.
    09/14/11 Metode: 1.Fiksasi: formalin aseton 30 detik 2. Bilas dgn air kran dan keringkan 3. Tambahkan Fast Garnet GBC pada bufer 4. Tambahkan 0,5 ml α - naphtol butyrate atau larutan aseton 5. Inkubasi selama 20-40 mnt 6. Bilas dengan air kran. 7 . Counterstain: Aqueous haematoksilin selama 1-5 mnt
  • 34.
    09/14/11 Interpretasi: Hasil reaksi granuler coklat Mayoritas monosit (>80%) tercat kuat. Netrofil, eosinofil, basofil dan platelet negatif (-) Limfosit B (-), T tidak tercat. Pada bone marrow : monosit dan makrofag teracat kuat. α – Naphtol butyrate lebih spesifik untuk identifikasi komponen monosit dalam AML dari pada α - Naphtol acetate.
  • 35.
    09/14/11 α- Naphtylacetate esterase Reagen : Fiksasi : Buffered Formalin aseton Bufer : Bufer fosfat 66 mmol/L pH 6,3 Substrat : α - Naphtyl acetate 100µL dalam 5ml etilen monometil eter. Medium inkubasi. Coupling reagent: pararosaniline Counterstain: aqueous haematoxylin
  • 36.
    09/14/11 Metode: 1.Fiksasi: formalin aseton 30 detik 2. Bilas dgn air kran dan keringkan 3. Celupkan slide dalam medium inkubasi selama 30-60 mnt. 4. Bilas dengan air kran dan keringkan. 5. Counterstain: Aqueous haematoksilin selama 2-5 mnt
  • 37.
    09/14/11 Interpretasi Hasilreaksi: warna merah/coklat rata. Monosit normal dan lekemik tercat kuat Granulosit normal negatif (-) Mielodisplasi atau AML positif (+). Megakarioblas lekemik (+) Limfosit, Limfoblas T (+) dotlike Leukaemic eritroblast (+)
  • 38.
    09/14/11 Internet atlasof hemayology NORMAL HEMOPOIETIC CELLS IN CYTOCHEMICAL STAINS Peroxidase reaction Peroxidase reaction S udan black B reaction
  • 39.
    09/14/11 PAS reactionPAS reaction AS-D-chloroacetate esterase reaction Butyrate esterase reaction Internet atlas of hematology
  • 40.
    09/14/11 MPO (-)Sudan Black (-) PAS (-) PAS (+) Data pasien
  • 41.
    CONTOH HASIL POSITIFReaksi Peroksidase. Granulosit positif kuat pada sel leukemia. Pembesaran 1000X Reaksi Peroksidase pada sumsum tulang. Pembesaran 1000X. 09/14/11 Internet atlas Leukemia library
  • 42.
    Sudan Black Bpada sumsum tulang (Leukemia Mielositik akut) (FAB M1) 09/14/11 Sudan Black B (Leukemia Promielositk Akut) Internet atlas Leukemia library
  • 43.
    09/14/11 Granula kasar,PAS positif pada sitoplasma. Pembesaran 1000X. Granula kasar, PAS positif dalam sitoplasma limfoblas sumsum tulang. Pembesaran 1000X. Internet atlas Leukemia library
  • 44.
    Reaksi Alpha- Naphthylacetaeesterase pada sumsum tulang. Limfoblas negatif. Pembesaran 500X. 09/14/11 Neutrophyl Alkaline Phosphatase. Positif kuat ( 4+) dan positif sedang (3+ dan 2+) Internet atlas Leukemia library
  • 45.
    Reaksi Alpha- Napthylacetateesterase pada darah perifer, sel leukemia positif kuat. Pembesaran 1000X. Dengan aktifitas yang sangat tinnggi pada sel leukemia. Pembesaran 1000X. 09/14/11 Internet atlas Leukemia library
  • 46.
    09/14/11 LAP, A=0 LAP, B=1+ LAP, C=2+ Wintrobe’s
  • 47.
    09/14/11 LAP, D=3+ LAP, E=4+ Wintrobe’s
  • 48.
    09/14/11 G= PAS, granula positif pada malignant lymphoid cell (sezary syndrom) H= PAS, sel ALL dengan granula kasar Wintrobe’s
  • 49.
    09/14/11 I= Peroksidase,Granula biru dari sitoplasma mieloblas pada pasien acute myeloblastic leukemia J= Peroksidase, Granula matur warna biru Wintrobe’s
  • 50.
    09/14/11 K= SudanBlack L= Non spesifik esterase, monosit dan monoblas dengan sitoplasma warna coklat orange Wintrobe’s
  • 51.
    09/14/11 M= Chloroasetate esterase , promielosit dengan sitoplasma warna maroon, pada pasien AML Wintrobe’s
  • 52.
    09/14/11 Color atlashematologi Harald Theml dkk Histochemical Features of AML FAB HISTOCHEMISTRY M1 Occasional peroxidate+ granules, PAS- M2 Strongly peroxidase+, PAS- M3 Strongly peroxidase+, PAS- M4 Strongly peroxidase+, some cells may be PAS+ M5 Many be peroxidase+ and PAS+, nonspecific esterase stains are strongly + . M6 Red cell precursors are PAS+, ringed sideroblasts are seen with iron stains M7 Variable, platelet peroxidase can be demonstrated by electron microscopy
  • 53.
    09/14/11 E.N KosasihH asil tes sitokimia pada AML dan ALL Jenis tes sitokimia AML Klasifikasi FAB M0 M1-3 M4 M5 M6 M7 ALL Mieloperoksidase - + + - - - - Chloroacetate - + + +/- - - - α - naphtol acetate - - + + - +/- - Sudan Black B - + + - - - - PAS - - +/- +/- + - +
  • 54.
  • 55.
    09/14/11 2. AcutLiymphoblastic Leukemia, dibagi menjadi 3 tipe yaitu: L1: ALL dengan sel limfoblas kecil-kecil dan merupakan 84% dari ALL. L2: ALL sel lebih besar, inti ireguler, kromatin bergumpal, nukleoli prominen dan sitoplasma agak banyak. Merupakan 14% dari ALL. L3: ALL mirip dengan limfoma burkitt, yaitu sitoplasma basofil dengan banyak vakuola, 1% dari ALL.
  • 56.
    09/14/11 Pengecatan sitokimia:Merupakan suatu metode yang digunakan dalam pengecatan pada sampel darah dengan berdasarkan reaksi dan menggunakan bahan-bahan kimia
  • 57.
    09/14/11 Metode: Nonspesifik esterase 1, Hapusan difiksasi dengan udara kering dalam paparan formalin ->4 menit 2 . Bilas dengan air suling dan keringkan 3. Inkubasi dalam chloroacetate substrate solution -> 5-15menit ->suhu kamar. 4. Bilas dengan air suling dan keringkan. 5.Inkubasi dalam butyrate substrate solution -> 15-30menit-> suhu ruangan dan hindari sinar. 6 . Bilas dengan air suling 7. Caunterstain dalam aqueous haematoxylin -> 5 menit 8. Bilas dengan air suling keringkan dan periksa.
  • 58.
    09/14/11 Isoenzim dibagidalam 2 kelompok: Bands 1,2,7,8 dan 9 berhubungan dengan sterase spesifik dai netrofil khususnya pengecatan dengan naphtol AS-D chloroacetate sterase (chloroacetate esterase, CAE). Bands 3, 4, 5 dan 6 berhubungan dngan non spesifik esterase (NSE) pengecatan dengan α - naphtyl acetae esterase (ANAE) dan α - naphtyl butirat esterase. MPO terdapat pada granula primer dan sekunder dari netrofil, dan prekursornya di granula eosinofil dan di granula azurofilik dari monosit. MPO pada granula eosinofil, resiste terhdap sianida, dimana pada netrofil dan monosit sensitif.
  • 59.
    Interpretasi: Pengecatan nonspesific esterase ->identifikasi sel monosit tidak untuk granulosit atau eosinofil. Pengecatan limfosit T matur ->karakteristik fokal, dotlike pattern . Selain pada monosit, reaksi juga terjadi pada : makrofag, histiosit, megakariosit, dan beberapa sel karsinoma. Pengecatan alpha naphthyl butyrate -> lebih spesifik ->kurang sensitif, dari pada alpha- naphthyl acetate . Perbedaan pengecatan dengan esterase: pada megakarioblas, yang tidak tercat dengan alpha naphthyl butyrate tetapi tercat dengan substrat alpha- naphthyl acetate. 09/14/11
  • 60.
    09/14/11 Sel-sel dengangranula primer -> promielosit->azurofilik ->netrofil, eosinofil, basofil dapat dilihat hanya degan Elektron mikroskop. Granula sekunder->mielosit Granula sekunder->alkali fosfatase Granula tersier->tampak pada akhir mielosit-> pada human netrofil
  • 61.
  • 62.
  • 63.
    09/14/11 Keterangan gambar:LAP: A= 0, B=1+, C=2+, D=3+, E=4+ G= PAS+ ( Sezary syndrome ) H= PAS, ALL, granulakasar I= Peroksidase, granula biru, AML J = Cat biru pada granula matur K= Sudan Blak L= Non spesifik esterase, monosit dan monoblas dengan sitoplasma warna coklat orange M= Cloroasetat esterase, promielosit dengan sitoplasma warna maroon, ada pasien AML N= Tartrat-resistent acid phosphat, granula sitoplama warna gelap.
  • 64.
    09/14/11 M= Cloroasetatesterase, promielosit dengan sitoplasma warna maroon, pada pasien AML
  • 65.
    09/14/11 MPO (-)Sudan Black (-) PAS (-) PAS (+)
  • 66.
    09/14/11 Perbedaan ALLdan AML Hematologi klinik ringkas, EGC Sitokimia ALL AML Mieloperoksidase - + Sudan black - + Esterase non spesifik - + PAS (kasar) + (monositik)
  • 67.
    09/14/11 1 MieloperoksidasePrinsip: Enzim peroksidase mengkatalisis oksidasi substrat dengan adanya hidrogen peroksida membentuk presipitat warna coklat . SH 2 +H 2 O 2 ═S+2H2O Mieloperoksidase terdapat pada: granula primer dari sel promielosit. granula sekunder dari sel mielosit
  • 68.
    09/14/11 MPO Tidakdihambat EDTA, oxalat ataupun heparin, slide bisa dikerjakan 12jam setelah pengambilan darah. Pengecatan masih bisa dilakukan pada slide yang disimpan selama 1 minggu, pada suhu kamar Kekurangan MPO: - Sensitif dengan cahaya, panas dan metanol - Pengecatan pada hapusan darah harus dilakukan segera, tidak boleh lebih dari 3 minggu.
  • 69.
    09/14/11 Interpretasi: Pengecatan PAS digunakan paling awal pada identifikasi eritroleukimia, suatu leukemia dengan sel darah merah yang immatur. Reaksi positif (+) ->adanya glikogen atau polisakarida setelah penambahan diastase. Sel netrofil: semua stadium hasil positif (+), lebih nyata pada stadium matang. Glikogen berada dalam sitoplasma tidak dalam granula. Eosinofil: Hasil positif (+). Mieloblas: Bervariasi antara negatif (-) dan hanya beberapa butir granula halus. Monosit: Pewarnaan samar-samar. Limfosit : Dapat mengandung granula kecil atau besar.

Editor's Notes