Presentasi Fiqh SiyasahMuamalah 11

4,011 views

Published on

Published in: Business, Technology
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
4,011
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
381
Actions
Shares
0
Downloads
236
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Presentasi Fiqh SiyasahMuamalah 11

  1. 1. FIQH SHADAQAH DAN HIBAH Membahas Terminologi Shadaqah, Dalil, Hukum Shadaqah, Waktu, Penerima dan Cara Shadaqah, Ketentuan dan Hikmah Shadaqah, Terminologi Hibah, Hukum, Rukun dan Syarat Hibah, Ketentuan Hibah. Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA Presentasi Ke-11
  2. 2. Secara bahasa shadaqah berasal dari kata shidq yang berarti benar. B enar yang dimaksud i alah benar dalam hubungan dengan sejalannya perbuatan dan ucapan serta keyakinan , s eperti diibaratkan dalam hadis: “ Dan shadaqah itu merupakan Burhan (Bukti)”. (HR. Muslim). Secara terminologi: Shadaqah adalah pemberian dari se seorang secara sukarela dan ikhlas kepada orang yang berhak menerima sebagai kebaikan yang dilakukan , bukan kewajiban, dalam rangka ta’abbud dan taqarrub ilallah . الصدقة لغة : مأخوذة من الصدق ؛ إذ هي دليل على صدق مخرجها في إيمانه . وأما تعريفها شرعا : هي التعبد لله بالإنفاق من المال من غير إيجاب من الشرع . او ما تعطى على وجه التقرب إلى الله تعالى، فيخرج بذلك الهدية ونحوها مما يعطى على وجه التوادد والمحبة فلا تدخل في مسمى الصدقة المختصة ببعض الأحكام في الشرع SHADAQAH Al Jurjani dalam kitab al-Ta’rifat menjelaskan infaq adalah penggunaan harta untuk memenuhi kebutuhan (sharful maal ilal haajah). Dengan demikian, infaq mempunyai cakupan yang lebih luas dibanding zakat.
  3. 3. Hubungan shadaqah-infaq-zakat <ul><li>Dalam versi berbeda diibaratkan shadaqah adalah lingkaran besar yang di dalamnya terdapat lingkaran kecil yang bernama infak , dan di dalam lingkaran kecil infak itu terdapat lingkaran lagi bernama zakat . </li></ul><ul><li>Shadaqah lebih luas dari sekedar infak maupun zakat. Karena shadaqah tidak hanya berarti mengeluarkan atau mendermakan harta. Namun shadaqah mencakup segala amal atau perbuatan baik. Karena itu, untuk membedakannya dengan zakat yang hukumnya wajib, para fuqaha menggunakan istilah shadaqah tathawwu’ atau al-shadaqah al-nafilah . Sedang untuk zakat, dipakai istilah al-shadaqah al-mafrudhah . </li></ul><ul><li>Infak memiliki arti lebih luas dari zakat, yaitu mengeluarkan atau menafkahkan uang. Infak ada yang wajib, sunnah dan mubah. Infak wajib di antaranya adalah zakat, kafarat, infak untuk keluarga dan sebagainya. Infak sunnah adalah infak yang sangat dianjurkan untuk melaksanakan-nya namun tidak menjadi kewajiban, seperti infak untuk dakwah, pembangunan masjid dan sebagainya. Sedangkan infak mubah adalah infak yang tidak masuk dalam kategori wajib dan sunnah, serta tidak ada anjuran secara tekstual ayat maupun hadits, diantaranya seperti infak untuk mengajak makan-makan dan sebagainya. </li></ul>
  4. 4. HUKUM SHADAQAH Shadaqah hukum asalnya sunnah, bukan wajib. Namun hukum sunnah ini bisa menjadi haram, bila diketahui bahwa penerima shadaqah akan memanfaatkannya pada yang haram, sesuai kaidah syara’: “al wasilatu ila al-harami haram” (Segala perantaraan kepada yang haram, hukumnya haram pula). Bisa pula hukumnya menjadi wajib, misalnya untuk menolong orang yang berada dalam keadaan terpaksa (mudhthar) yang amat membutuhkan pertolongan, misalnya berupa makanan atau pakaian. Menolong mereka adalah untuk menghilangkan dharar (izalah al-dharar) yang wajib hukumnya. Jika kewajiban ini tak dapat terlaksana kecuali dengan shadaqah, maka shadaqah menjadi wajib hukumnya. Makruh bagi orang yang sudah mensedekahkan sesuatu, kemudian ia mengambil alih sesuatu itu menjadi miliknya, dengan cara hibah atau mengganti. مشروعيتها : وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ [ البقرة 271, 280 ] ، وقال صلى الله عليه وسلم : &quot; اتقوا النار ولو بشق تمرة &quot;
  5. 5. Waktu, Penerima & Cara Shadaqah <ul><li>Sangat dianjurkan di bulan Ramadhan. </li></ul><ul><li>Juga ketika menghadapi perkara penting, ketika sakit, bepergian, di kota Mekkah dan Madinah, ketika peperangan, haji dan waktu-waktu utama seperti 10 hari di awal Dzulhijjah, hari raya. </li></ul><ul><li>Diutamakan kepada famili terdekat jika sangat membutuhkan, famili yang jauh didahulukan daripada tetangga yang bukan famili, guna mempererat silaturahim. </li></ul><ul><li>روى البخاري عن أنس رضي الله عنه أن أبا طلحة أراد أن يتصدق بحديقة له هي أحب ماله إليه، فجعل أمرها إلى النبي صلى الله عليه وسلم، فقال النبي صلى الله عليه وسلم : أرى أ ن تجعلها في الأقربين </li></ul><ul><li>Cara sembunyi-sembunyi lebih utama daripada terang-terangan. </li></ul>
  6. 6. Ketentuan Shadaqah <ul><li>Benda yang disedekahkan milik sendiri, zatnya suci, diperoleh dengan cara yang benar. </li></ul><ul><li>عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن الله تعالى طيب لا يقبل إلا طيبا </li></ul><ul><li>Pada dasarnya, tidak boleh istri mensedekahkan harta suaminya tanpa izin suami, kecuali sesuatu yang kecil dan telah menjadi kebiasaan dalam rumah tangga, seperti memberi makanan. </li></ul><ul><li>Memperhatikan faktor kebutuhan. </li></ul><ul><li>Yang membatalkan (menghilangkan pahala) shadaqah adalah menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang menafkahkan harta karena riya </li></ul><ul><li>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ </li></ul>
  7. 7. <ul><li>Mendapatkan Pahala yang Berlipat Ganda (QS. Al-Baqarah: 245) </li></ul><ul><li>Shadaqah Adalah Perisai Dari Neraka لِيَتَّقِ أَحَدُكُمْ وَجْهَهُ النَّارَ وَلَوْبِشِقِّ تَمْرَةٍ </li></ul><ul><li>Shadaqah Penghapus Kesalahan وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ المَاءُ النَّارَ “ Shadaqah itu memadamkan (menghapuskan) kesalahan sebagaimana air memadamkan api” [HR. Ahmad] </li></ul><ul><li>Pelindung Di Padang Mahsyar كُلُّ امْرِئٍ فِيْ ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ “ Setiap orang berada dalam naungan shadaqahnya hingga diputuskan perkara di antara manusia ”. [HR. Ahmad] . </li></ul><ul><li>Shadaqah Adalah Sebab Malaikat Mendo’akan Seseorang </li></ul><ul><li>مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العَبْدُ فِيْهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَ يَقُوْلُ الآخَرُ : اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا </li></ul><ul><li>“ Tak ada suatu hari pun seorang hamba berada di dalamnya, kecuali ada dua orang malaikat akan turun; seorang diantaranya berdo’a, “Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq”. Yang lainnya berdo’a, “Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan infaq”. [HR. Bukhari dan Muslim] </li></ul><ul><li>Sebagai obat bagi berbagai macam penyakit baik penyakit jasmani maupun rohani. Rasulullah saw, bersabda: &quot;Obatilah orang-orang yang sakit diantaramu dengan shadaqah.&quot; </li></ul><ul><li>Sebagai penolak berbagai macam bencana dan musibah. </li></ul><ul><li>Tujuh Golongan yang dinaungi pada hari kiamat </li></ul><ul><li> سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ … : وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمُ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ </li></ul>HIKMAH SHADAQAH
  8. 8. Bentuk-bentuk Shadaqah <ul><li>Memberi dalam bentuk materi </li></ul><ul><li>Membantu orang dalam bentuk perbuatan </li></ul><ul><li>Amar ma’ruf nahi munkar </li></ul><ul><li>Berlaku adil dalam mendamaikan orang yang bersengketa </li></ul><ul><li>Menyingkirkan benda yang mengganggu di jalan </li></ul><ul><li>Mengucap kalimat thayyibah </li></ul><ul><li>Bekerja dan memberi nafkah pada sanak keluarga </li></ul><ul><li>Memberi senyuman </li></ul><ul><li>Mengucap zikir, tasbih, tahlil, tahmid </li></ul><ul><li>Hubungan intim suami istri </li></ul><ul><li>Menjenguk orang sakit, dsb. </li></ul>
  9. 9. <ul><li>عن أبي ذر رضي الله عنهً : ” أن ناساً من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم قالوا للنبي صلى الله عليه وسلم يا رسول الله، ذهب أهل الدثور بالأجور، يصلون كما نصلي، ويصومون كما نصوم، ويتصدقون بفضول أموالهم . قال : أو ليس قد جعل الله لكم ما تصدقون : إن لكم بكل تسبيحة صدقة، وكل تكبيرة صدقة، وكل تحميدة صدقة، وكل تهليلة صدقة، وأمر بالمعروف صدقة، ونهي عن منكر صدقة، وفي بُضع أحدكم صدقة . قالوا : يا رسول الله، أيأتي أحدنا شهوته ويكون له فيها أجر؟ قال : أرأيتم لو وضعها في حرام أكان عليه وزر؟ فكذلك إذا وضعها في الحلال كان له أجر ” رواه مسلم ” </li></ul><ul><li>Dari Abu Dzar r.a. berkata, bahwasanya sahabat-sahabat Rasulullah saw. berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah saw., orang-orang kaya telah pergi membawa banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.” Rasulullah saw. bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan untukmu sesuatu yang dapat disedekahkan? Yaitu, setiap kali tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh pada kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan hubungan intim kalian (dengan isteri) adalah sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya dan dia mendapatkan pahala?” Rasulullah saw. menjawab, “Bagaimana pendapat kalian jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, apakah ia berdosa? Demikian juga jika melampiaskannya pada yang halal, maka ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim) </li></ul><ul><li>Asbabul Wurud Hadits: Hadits ini merupakan jawaban terhadap pertanyaan beberapa Muhajirin yang fakir, dimana mereka ‘terpaksa’ meninggalkan harta benda mereka di Mekah, sehingga mereka merasa tidak dapat bershadaqah. Ketika pertanyaan mereka terlontar ke Rasulullah saw., beliau sebagai murabbi sejati memberikan jawaban yang dapat menenangkan jiwa dan pikiran mereka. </li></ul>
  10. 10. DEFINISI & DALIL HIBAH <ul><li>Hibah secara etimologi berarti pemberian atau hadiah kepada orang lain walaupun bukan berbentuk harta atau hanya manfaatnya saja. Hibah juga berarti melewatkan atau menyalurkan. Jumhur ulama mendefinisikan hibah sebagai akad yang mengakibatkan pemilikan harta, tanpa ganti rugi yang dilakukan seseorang dalam keadaan hidup kepada orang lain secara sukarela. </li></ul><ul><li>الهبة لغة من هبوب الريح – أي مروره . وهي التبرع والتفضل على الغير ولو بغير مال أي بما ينتفع به مطلقا سواء كان مالا ام غير مال . و اصطلاحاً : عقد يفيد تمليك الإنسان ماله لغيره في الحياة بلا عوض </li></ul><ul><li>DALIL </li></ul><ul><li>هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي ص م قال تهادوا تحابوا رواه البخاري </li></ul>
  11. 11. HUKUM, RUKUN & SYARAT HIBAH <ul><li>Hukum hibah ialah sunnah. Didasari oleh dalil </li></ul><ul><li>لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ </li></ul><ul><li>Ulama Hanafiyah mengatakan bahwa rukun hibah adalah adanya ijab dan qabul. Jumhur ulama mengungkapkan bahwa rukun hibah itu ada 4 yakni orang yang menghibahkan (wahib), harta yang dihibahkan (mauhub), lafaz hibah, dan orang yang menerima hibah (mauhub lahu). </li></ul><ul><li>Syarat Mauhub (harta yang dihibahkan): </li></ul><ul><li>Harta yang akan dihibahkan benar-benar ada ketika akad hibah berlangsung </li></ul><ul><li>Harta yang dihibahkan memiliki nilai (manfaat) menurut syara’ </li></ul><ul><li>Harta itu merupakan milik orang yang menghibahkannya </li></ul><ul><li>Menurut ulama Hanafiyah apabila harta yang dihibahkan itu berbentuk rumah harus bersifat utuh, sekalipun rumah itu boleh dibagi. Akan tetapi ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah mengatakan bahwa menghibahkan sebagian rumah boleh saja dan hukumnya sah. </li></ul><ul><li>Harta yang dihibahkan itu terpisah dari yang lainnya dan tidak terkait dengan harta atau hak lainnya, karena prinsip barang yang dihibahkan itu dapat dipergunakan oleh penerima hibah setelah akad berlangsung. </li></ul><ul><li>Harta yang dihibahkan itu dapat langsung dikuasai penerima hibah. Menurut sebagian ulama Hanafiah dan sebagaian ulama Hanabilah, syarat ini malah dijadikan rukun hibah, karena keberadaannya sangat penting. </li></ul>
  12. 12. Syarat Wahib (Penghibah) & Mauhub Lahu <ul><li>Syarat-syarat bagi penghibah: </li></ul><ul><li>Penghibah memiliki apa yang dihibahkan. </li></ul><ul><li>Penghibah bukan orang yang dibatasi haknya karena suatu alasan, artinya dia cakap dan bebas bertindak menurut hukum </li></ul><ul><li>Penghibah orang dewasa, berakal. Sebab anak-anak kurang kemampuanya. Tidak disyaratkan penghibah harus muslim, karena boleh menerima hadiah dari orang kafir. Nabi Muhammad SAW. pernah menerima hadiah dari orang Kisra, dan beliau pernah mengizinkan Umar Ibn Khatab untuk memberikan sebuah baju kepada saudaranya yang masih musyrik di Mekah. </li></ul><ul><li>Penghibah tidak dipaksa, sebab itu akad yang mempersyaratkan keridhaan dalam keabsahanya. </li></ul><ul><li>Syarat Bagi Orang Yang Diberi Hibah, ia benar-benar ada pada saat diberi hibah, jika masih kecil atau gila, maka diserahkan kepada walinya. Tidak sah hibah untuk bayi dalam kandungan. </li></ul>
  13. 13. Ketentuan Hibah <ul><li>Dasar dan ketetapan hibah adalah tetapnya barang yang dihibahkan bagi mauhub lahu (penerima hibah) tanpa adanya pengganti. </li></ul><ul><li>Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa sifat kepemilikan pada hibah adalah tidak mengikat. Dengan demkian, dapat dibatalkan oleh pemberi sebagaimana sabda Rasul Saw. dari Abu Hurairah: “ Pemberi hibah lebih berhak atas barang yang dihibahkan selama tidak ada pengganti.” (HR. Ibnu Majah dan Daruquthni). Dengan demikian, dibolehkan mengembalikan barang yang telah dihibahkan. Akan tetapi, dihukumi makruh sebab perbuatan itu termasuk menghina si pemberi hibah. Selain itu, yang diberi hibah harus ridha. Hal itu diibaratkan adanya cacat dalam jual beli setelah barang dipegang pembeli. </li></ul><ul><li>Ulama Malikiyah berpendapat, barang yang telah diberikan, jika sudah dipegang tidak boleh dikembalikan, kecuali pemberian orang tua kepada anaknya yang masih kecil. Juga ulama Hanabilah & Syafi’iyah. </li></ul><ul><li>Hibah Bersyarat : Apabila dalam Suatu pemberian hibah ditetapkan syarat-syarat tertentu, seperti pembatasan penggunaan barang hibah dan sebagainya, maka syarat-syarat yang demikian adalah syarat yang tidak sah sekalipun hibahnya sendiri adalah sah. Syarat yang demikian mengakibatkan hibah yang fasid (rusak). </li></ul>
  14. 14. Balasan Hadiah <ul><li>Disunnahkan membalas hadiah, sekalipun dari orang yang lebih tinggi. Rasul Saw pernah menerima hadiah dan membalasnya dengan yang lebih baik. </li></ul><ul><li>Al-Khattabi membagi pembalasan hadiah menjadi tiga: </li></ul><ul><li>Pemberian kepada orang yang lebih rendah untuk menghormati dan mengasihi, seperti pembantu. Tidak menghendaki pembalasan. </li></ul><ul><li>Pemberian orang kecil kepada orang besar untuk mendapat kebutuhan dan manfaat. Wajib dibalas. </li></ul><ul><li>Pemberian dari seseorang kepada orang lain yang selevel dengannya untuk keakraban dan kedekatan. Wajib dibalas. </li></ul><ul><li>Menurut jumhur ulama, pemberian haram diminta kembali sekalipun antara saudara atau suami isteri, kecuali pemberi hadiah adalah ayah dan penerimanya adalah anaknya sendiri. Ayah harus memperlakukan anak-anaknya secara adil, tidak melebihkan pemberian kepada sebagian anak-anaknya di atas anak yang lain. </li></ul><ul><li>سووا بين أولادكم في العطية فلو كنت مفضلا أحدا لفضلت النساء . ( ضعيف ) والشطر الأول من الحديث صحيح روى معناه الشيخان وغيرهما من حديث النعمان بن بشير بلفظ : اتقوا الله واعدلوا بين أولادكم . </li></ul>
  15. 15. Hadis-hadis Hibah <ul><li>Dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas bahwa Nabi Saw bersabda: &quot;Tidak halal bagi seorang muslim memberi kan suatu pemberian kemudian menariknya kembali, kecuali seorang ayah yang menarik kembali apa yang diberikan kepada anaknya.&quot; Riwayat Ahmad dan Imam Empat. </li></ul><ul><li>'Aisyah RA berkata: Rasulullah Saw pernah menerima hadiah dan membalasnya. HR. Bukhari. </li></ul><ul><li>Umar berkata: Aku pernah memberikan seekor kuda untuk perjuangan di jalan Allah, namun orang yang diberi kuda itu menelantarkannya. Lalu aku mengira bahwa ia akan menjualnya dengan harga yang murah. Maka aku tanyakan hal itu kepada Rasulullah Saw dan beliau bersabda: &quot;Jangan membelinya walaupun ia memberimu harga satu dirham.&quot; </li></ul><ul><li>عَنْ اِبْنِ عُمَرَ ، وَابْنِ عَبَّاسٍ - رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمْ - , عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( لَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُعْطِيَ اَلْعَطِيَّةَ , ثُمَّ يَرْجِعَ فِيهَا ; إِلَّا اَلْوَالِدُ فِيمَا يُعْطِي وَلَدَهُ )  رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَالْأَرْبَعَةُ , وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ , وَابْنُ حِبَّانَ , وَالْحَاكِم </li></ul><ul><li>َوَعَنْ عَائِشَةَ - رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا - قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقْبَلُ اَلْهَدِيَّةَ , وَيُثِيبُ عَلَيْهَا رَوَاهُ اَلْبُخَارِيّ </li></ul><ul><li>َوَعَنْ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ : ( حَمَلْتُ عَلَى فَرَسٍ فِي سَبِيلِ اَللَّهِ , فَأَضَاعَهُ صَاحِبُهُ , فَظَنَنْتُ أَنَّهُ بَائِعُهُ بِرُخْصٍ، فَسَأَلْتُ رَسُولَ اَللَّهِ ص م عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ : لَا تَبْتَعْهُ , وَإِنْ أَعْطَاكَهُ بِدِرْهَمٍ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْه </li></ul>
  16. 16. Next Week <ul><li>AL-SULHU (Perdamaian): </li></ul><ul><li>Definisi, rukun, syarat dan hikmahnya </li></ul>

×