wakalah kafalah hawalah

7,443 views

Published on

Published in: Education
2 Comments
15 Likes
Statistics
Notes
  • ywahyoko@yahoo.com
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Assala'alaikum,
    semoga kesehatan menyertai anda. saya Mei Wahyoko ingin meng-copy slide anda tetapi tidak bisa, mohon dikirimkan ke alamat email saya, atas kerja samanya, trimakasih.
    Wassalamu'alaikum.
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
No Downloads
Views
Total views
7,443
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
437
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
2
Likes
15
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

wakalah kafalah hawalah

  1. 1. WAKALAH, KAFALAH, HAWALAH Membahas Terminologi, Dasar Hukum, Rukun & Syarat, serta Hikmah WAKALAH, KAFALAH, HAWALAH. Oleh: Marhamah Saleh, Lc. MA Presentasi Ke-6
  2. 2. Wakalah (Perwakilan) - ‫الوكالة‬ Secara bahasa, al-wakalah atau al-wikalah berarti al-tafwidh (penyerahan, pendelegasian dan pemberian mandat). Secara terminologi, dalam kitab kifayat al-akhyar: ‫حياته‬ ‫حال‬ ‫في‬ ‫ليحفظه‬ ‫غيره‬ ‫الى‬ ‫النيابة‬ ‫يقبل‬ ‫مما‬ ‫فعله‬ ‫له‬ ‫ما‬ ‫تفويض‬ Menyerahkan suatu pekerjaan yang dapat digantikan kepada orang lain agar dikelola dan dijaga pada masa hidupnya Wakalah adalah akad (suatu transaksi) dimana seseorang menunjuk orang lain untuk menggantikan dalam mengerjakan pekerjaannya/perkaranya ketika masih hidup. Landasan Hukum Wakalah: QS. Al-Kahfi: 19, QS. Al-Nisa’: 35 ‫المدينة‬ ‫إلى‬ ‫هذه‬ ‫بورقكم‬ ‫أحدكم‬ ‫فابعثوا‬ Maka suruhlah salah seorang diantara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini. ‫أهلها‬ ‫من‬ ‫وحكما‬ ‫أهله‬ ‫من‬ ‫حكما‬ ‫فابعثو‬ Maka kirimlah seorang utusan dari keluarga laki-laki dan hakam dari keluarga wanita. ‫وكيلي‬ ‫أتيت‬ ‫إذا‬ ‫فقال‬ ‫صم‬ ‫النبي‬ ‫فأتيت‬ ‫خيبر‬ ‫إلى‬ ‫الخروج‬ ‫أردت‬ ‫قال‬ ‫عنه‬ ‫هللا‬ ‫رضي‬ ‫جابر‬ ‫عن‬‫بخيبر‬ ‫وسقا‬ ‫عشر‬ ‫خمسة‬ ‫منه‬ ‫فخذ‬(‫داود‬ ‫ابو‬ ‫رواه‬( Dari jabir Ra. Berkata: Aku pergi ke Khaibar, lalu aku datang kepada Rasulullah SAW, maka beliau bersabda, “Bila engkau datang pada wakilku di Khaibar, maka ambillah darinya 15 wasaq.
  3. 3. Rukun dan Syarat Wakalah 1. Muwakkil, orang yang mewakilkan. Syaratnya: dia berstatus sebagai pemilik urusan/benda dan menguasainya serta dapat bertindak terhadap harta tersebut dengan dirinya sendiri. 2. Wakil, orang yang mewakili. Syaratnya adalah orang berakal. Menurut Hanafiah, anak kecil yang mumayyiz (dapat membedakan baik dan buruk) sah menjadi wakil. 3. Muwakkal fih,sesuatu yang diwakilan. Syaratnya: - Pekerjaan/urusan itu dapat diwakilkan atau digantikan oleh orang lain. - Pekerjaan itu dimiliki oleh muwakkil sewaktu akad wakalah, makanya tidak sah berwakil menjual sesuatu yang belum dimilikinya. - Pekerjaan itu diketahui secara jelas. 4. Shighat, hendaknya berupa lafaz yang menunjukkan arti mewakilkan. Dalam sighat, qabul si wakil tidak disyaratkan, artinya seandainya si wakil tidak mengucapkan qabul tetap dianggap sah. Pekerjaan yang boleh diwakilkan adalah semua pekerjaan yang dapat diakadkan oleh dirinya sendiri, artinya secara hukum pekerjaan itu dapat gugur jika digantikan. Misal, mewakilkan orang lain untuk menjual atau membeli.
  4. 4. Hikmah Wakalah Pada hakikatnya wakalah adalah pemberian dan pemeliharaan amanat. Oleh karena itu baik muwakkil (orang yang mewakilkan) dan wakil (orang yang mewakili) yang sudah melakukan kerjasama kontrak wajib untuk menjalankan hak dan kewajibannya, saling percaya dan menghilangkan sifat curiga dan berburuk sangka. Di sisi lain dalam wakalah terdapat pembagian tugas, karena tidak semua orang memiliki kesempatan menjalankan pekerjaannya sendiri. Dengan mewakilkan kepada orang lain maka muncullah sikap saling tolong-menolong dan memberikan pekerjaan bagi orang lain. Muwakkil akan terbantu dalam menjalankan pekerjaannya, sedangkan wakil tidak kehilangan pekerjaannya disamping mendapat imbalan sewajarnya. BERAKHIRNYA WAKALAH, dikarenakan salah satu sebab berikut: 1. Matinya salah seorang dari yang berakad 2. Salah satunya gila 3. Pekerjaan yang dimaksud dihentikan 4. Pemutusan oleh muwakkil terhadap wakil meskipun wakil tidak mengetahui (menurut Syafi’i dan Hambali), tapi menurut Hanafi wakil wajib tahu 5. Wakil memutuskan sendiri 6. Keluarnya orang yang mewakilkan (muwakkil) dari status pemilikan.
  5. 5. Jenis & Aplikasi Wakalah Ada beberapa jenis wakalah, antara lain: 1. Wakalah al muthlaqah, yaitu mewakilkan secara mutlak, tanpa batasan waktu dan untuk segala urusan. 2. Wakalah al muqayyadah, yaitu penunjukan wakil untuk bertindak atas namanya dalam urusan-urusan tertentu. 3. Wakalah al ‘ammah, perwakilan yang lebih luas dari al muqayyadah tetapi lebih sederhana daripada al muthlaqah. Praktik wakalah dapat ditemui dalam transaksi perbankan syariah, seperti: Kliring, inkaso, transfer, commercial documentary collection (penerbitan letter of credit/LC dalam transaksi ekspor-impor), dsb. Wakalah dalam hak-hak pribadi. Wakalah melalui pengacara. Wakalah dalam jual beli, perlu penjelasan tertentu tentang jumlah, jenis dan sifat dari barang yang akan dijual atau dibeli. Wakalah dalam masalah jarimah. Menurut Imam Syafi’i, jika jarimah menyangkut hak-hak Allah, pembuktiannya tidak boleh diwakilkan. Sedangkan jarimah yang menyangkut hak-hak pribadi seperti pencurian, tuduhan zina, maka pembuktiannya boleh diwakilkan.
  6. 6. Skema Aplikasi Wakalah di Bank
  7. 7. KAFALAH - ‫الكفالة‬ Al-kafalah menurut bahasa berarti al-dhaman (jaminan), hamalah (beban) dan za’amah (tanggungan) Secara istilah, menurut mazhab HANAFI, kafalah ada 2 pengertian: ‫عين‬ ‫او‬ ‫دين‬ ‫او‬ ‫بنفس‬ ‫المطالبة‬ ‫في‬ ‫ذمة‬ ‫إلى‬ ِ‫ة‬َ‫م‬ِ‫ذ‬ ُ‫م‬َ‫ض‬ “Mempersatukan tanggungjawab dengan tanggungjawab lainnya dalam hal tuntutan, baik terkait dengan jiwa, utang atau benda.” ‫الدين‬ ‫اصل‬ ‫في‬ ‫ذمة‬ ‫إلى‬ ِ‫ة‬َ‫م‬ِ‫ذ‬ ُ‫م‬َ‫ض‬ “Mempersatukan tanggungjawab dengan tanggungjawab lainnya dalam pokok (asal) utang”. Menurut mazhab Hanafi, hutang dalam akad kafalah tidak beralih kepada al-kafil (orang yang menanggung) dan tidak gugur dalam tanggung jawab al-ashil (orang yang punya hutang). Menurut mazhab SYAFI’I, definisi kafalah terdiri atas tiga pengertian, yaitu kafalah al-dayn, kafalah al-’ain, dan kafalah al-abdan. ‫حض‬ ‫يستحق‬ ‫ن‬َ‫م‬ ِ‫بدن‬ ‫اوإحضار‬ ‫مضمونة‬ ‫عين‬ ُ‫اوإحضار‬ ‫الغير‬ ‫ذمة‬ ‫في‬ ‫ثابت‬ ‫حق‬ ‫التزام‬ ‫يقتضي‬ ُ‫د‬‫عق‬‫وره‬ Akad yang menuntut iltizam hak yang tetap dalam tanggungan orang lain, atau menghadirkan benda yang dijaminkan, atau menghadirkan badan orang yang berhak hadir.
  8. 8. Dasar Hukum Kafalah (Q.S. Yusuf 12 : 66). َ‫ن‬ُ‫ت‬‫أ‬َ‫ت‬َ‫ل‬ ‫هللا‬ ‫من‬ ‫قا‬ِ‫ث‬ ْ‫و‬َ‫م‬ ِ‫ؤتون‬ُ‫ت‬ ‫حتى‬ ‫معكم‬ ُ‫ه‬ْ‫ل‬ِ‫س‬ْ‫ر‬ُ‫ا‬ ‫لن‬ ‫قال‬‫أن‬ ‫إال‬ ‫به‬ ‫ني‬ ‫وكيل‬ ُ‫ل‬‫نقو‬ ‫ما‬ ‫على‬ ‫هللا‬ ‫قال‬ ‫هم‬َ‫ق‬ِ‫ث‬ ْ‫و‬َ‫م‬ ُ‫ه‬ ْ‫و‬َ‫ت‬‫ءا‬ ‫فلما‬ ‫بكم‬ َ‫ط‬‫حا‬ُ‫ي‬ “Ya’qub berkata: “Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya pergi bersama- sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh”. Tatkala mereka memberikan janji mereka, Ya’qub berkata: “Allah adalah saksi atas apa yg kita ucapkan (ini)”. (Q.S. Yusuf 12 : 72). ِ‫عير‬َ‫ب‬ ُ‫ل‬ْ‫م‬ ِ‫ح‬ ‫ه‬ِ‫ب‬ َ‫ء‬‫جا‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ِ‫ل‬‫و‬ ِ‫الملك‬ َ‫ع‬‫وا‬ُ‫ص‬ ُ‫د‬ِ‫ق‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ ‫قالو‬‫و‬‫عيم‬َ‫ز‬ ‫به‬ ‫أنا‬ “Para penyeru itu berseru, kami kehilangan piala raja, dan barangsiapa yang dapat mengembalikannya, maka ia akan memperoleh bahan makanan seberat beban unta, dan aku yang menjamin terhadapnya. ‫بجنازة‬ َ‫ي‬ِ‫ت‬‫أ‬ ‫م‬ ‫ص‬ ‫النبي‬ ‫ان‬...‫ق‬ ‫ن‬ْ‫ي‬َ‫د‬ ‫عليه‬ ْ‫ل‬َ‫ه‬‫ف‬ ‫قال‬ ‫ال‬ ‫قالو‬ ‫شيئا‬ َ‫ك‬َ‫ر‬َ‫ت‬ ‫هل‬ ‫فقال‬‫قال‬ َ‫دنانير‬ ُ‫ثالثة‬ ‫الوا‬ ‫و‬ ‫هللا‬ ‫رسول‬ ‫يا‬ ‫عليه‬ ِ‫ل‬‫ص‬ َ‫ة‬‫قتاد‬ ‫أبو‬ ‫قال‬ ‫كم‬ِ‫ب‬‫صاح‬ ‫على‬ ‫صلوا‬‫ه‬ُ‫ن‬ْ‫ي‬َ‫د‬ َ‫علي‬‫علي‬ ‫فصلى‬‫ه‬–‫البخاري‬ ‫رواه‬ Telah dihadapkan kepada Rasul Saw seorang jenazah…lalu Rasul bertanya, “apakah dia mempunyai warisan?” Para sahabat menjawab, “tidak”. Rasul bertanya lagi, “apakah dia mempunyai utang?” Sahabat menjawab, “ya, sejumlah 3 dinar”. Rasul pun menyuruh para sahabat menshalatkannya (tapi beliau sendiri tidak). Lalu Abu Qatadah berkata, “saya menjamin utangnya ya Rasulullah”. Maka Rasul pun menshalatkan mayat tersebut.
  9. 9. RUKUN & SYARAT KAFALAH Menurut mazhab Hanafi, rukun al-kafalah hanya satu, yaitu ijab dan qabul. Sedangkan menurut jumhur ulama, ada 5 rukun al-kafalah: 1. Al-Dhamin, Kafil, atau Za’im: orang yang menjamin. Disyaratkan sudah baligh, berakal, merdeka dalam mengelola harta bendanya/ tidak dicegah membelanjakan hartanya (mahjur) dan dilakukan dengan kehendaknya sendiri. Jadi, anak-anak, orang gila, orang yang di bawah pengampunan tidak dapat menjadi penjamin. 2. Al-Madhmun lahu (al-mafkul lahu): orang yang berpiutang. Syaratnya yang berpiutang diketahui oleh orang yang menjamin karena manusia tidak sama dalam hal tuntutan, ada yang keras dan ada yang lunak. Hal ini dilakukan untuk kemudahan dan kedisiplinan terutama dimaksudkan untuk menghindari kekecewaan di belakang hari bagi penjamin, bila orang yang dijamin membuat ulah. 3. Al-Madhmun ‘anhu (al-makful ‘anhu): orang yang berutang, tidak disyaratkan baginya kerelaan terhadap penjamin karena pada prinsipnya hutang itu harus lunak, baik orang yang berhutang rela maupun tidak. Namun lebih baik dia rela/ridha.
  10. 10. RUKUN & SYARAT KAFALAH 4. Al-Madhmun adalah utang, barang atau orang. Disebut juga madhmun bih atau makful bih. Disyaratkan pada madhmun dapat diketahui dan tetap keadaannya (ditetapkan), baik sudah tetap maupun akan tetap. Tidak sah dhaman (jaminan), jika objek jaminan hutang tidak diketahui dan belum ditetapkan karena ada kemungkinan hal ini ada gharar (tipuan/ketidakjelasan). 5. Sighat atau lafadz pernyataan yang diucapkan oleh penjamin, disyaratkan keadaan sighat mengandung makna menjamin, tidak digantungkan kepada sesuatu dan tidak berarti sementara. Lafaz-lafaz al-kafalah misalnya: Tahammaltu, takaffultu, dhammintu, ana kafil laka, ana za’im, huwa laka ‘indi, huwa laka ‘alayya Shighat hanya diperlukan bagi pihak penjamin. Dengan demikian, kafalah / dhaman hanya pernyataan sepihak saja. Jaminan berlaku hanya menyangkut harta dengan sesama manusia saja, tidak dengan Allah. Tidak boleh menjamin hukuman qishash karena hukuman tersebut harus dijalani langsung oleh pelakunya dan tidak boleh dialihkan kepada orang lain. ‫حد‬ ‫في‬ ‫كفالة‬ ‫ال‬–‫البيهقي‬ ‫رواه‬
  11. 11. Macam-macam al-Kafalah Keharusan bagi penjamin untuk menghadirkan badan orang yang ia tanggung. Penanggungan terhadap hak Allah seperti had khamr, had qazaf, sariqah adalah tidak sah. JIWA (ْ‫ج‬ َ‫و‬ْ‫ال‬ِ‫ب‬ِ‫ه‬) Kewajiban yg mesti ditunaikan oleh kafil dengan pembayaran berupa harta. 1. Kafalah bi al- dayn 2. Kafalah dengan penyerahan benda 3. Kafalah dgn ‘aib HARTA
  12. 12. Jenis & Aplikasi al-Kafalah ‫الكفالة‬ ‫بالنفس‬ ‫بالمال‬ ‫بالتسل‬‫يم‬ ‫ج‬ْ‫ن‬ُ‫م‬‫ال‬‫ة‬ َ‫ز‬ ‫المعلقة‬ Kafalah bi al-nafs: Personal guarantee, semacam jaminan yang diberikan berkaitan dengan kredibilitas atau performance seseorang. Walaupun bank secara fisik tidak memegang barang apapun, tapi dengan jaminan nama baik dan ketokohan seseorang, bank berharap tokoh tersebut dapat mengusahakan pembayaran ketika nasabah yang dibiayai mengalami kesulitan. Kafalah bi al-mal: Jaminan yang diberikan sehubungan dengan pembayaran atas pembelian barang tertentu atau untuk keperluan pelunasan hutang. Dengan adanya jaminan itu maka akan membantu memperlancar transaksi jual-beli baik secara tunai maupun kredit, karena pihak pertama mendapat perlindungan dan kepastian pembayaran.
  13. 13. Jenis, Aplikasi & Skema al-Kafalah Kafalah bi al-taslim: Jaminan yang diberikan untuk menjamin pengembalian atas barang yang disewa pada waktu masa sewa berakhir, sesuai kesepakatan. Misal, bank dapat mengeluarkan surat jaminan untuk menjamin nasabahnya atas pengembalian barang sewa kepada perusahaan penyewaan (leasing company). Adapun jaminan pembayaran bagi bank dapat berupa tabungan, dan bank dapat membebankan fee kepada nasabah tsb. Kafalah al-munjizah: Jaminan yang diberikan secara mutlak tanpa adanya pembatasan waktu tertentu yang digunakan untuk menjamin pihak ketiga agar pihak kedua (nasabah) melaksanakan kewajibannya sesuai kesepatan mereka. Misal, jaminan dalam bentuk performance bonds (jaminan prestasi / jaminan kepastian bagi pemilik proyek bahwa pemenang tender akan melaksanakan proyek sesuai dengan perjanjian). Kafalah al-mu’allaqah: merupakan penyederhanaan dari kafalah al-munjazah, jaminan dibatasi oleh kurun waktu tertentu dan tujuan tertentu pula. Penanggung ( LKS ) Ditanggung (Nasabah) Tertanggung (Jasa/Objek) Jaminan Kewajiban
  14. 14. HAWALAH ‫الحوالة‬- MENURUT BAHASA Yang dimaksud hawalah ialah al-intiqal dan al-tahwil, artinya memindahkan atau mengalihkan. Menurut Abdurrahman al-Jaziri dalam al-Fiqh ‘ala madzahib al-Arba’ah, hiwalah adalah: ‫محل‬ ‫من‬ ‫النقل‬ ‫محل‬ ‫الى‬ “Pemindahan dari suatu tempat ke tempat yang lain”. MENURUT SYARA’ • Menurut Hanafiyah, yang dimaksud hiwalah adalah : “Memindahkan tagihan dari tanggung jawab yang berutang kepada yang lain yang punya tanggung jawab kewajiban pula” • Menurut Maliki, Syafi’i dan Hanbali, hiwalah adalah : “Pemindahan atau pengalihan hak untuk menuntut pembayaran hutang dari satu pihak kepada pihak yang lain”. • Kalau diperhatikan, maka kedua definisi di atas bisa dikatakan sama. Perbedaannya terletak pada kenyataan bahwa mazhab Hanafi menekankan pada segi kewajiban membayar hutang. Sedangkan ketiga madzhab lainnya menekankan pada segi hak menerima pembayaran hutang.
  15. 15. Dalil Hadis Tentang Hawalah َ‫ي‬ْ‫ل‬‫ف‬ ‫ي‬ِ‫ل‬َ‫م‬ ‫على‬ ‫ُكم‬‫د‬‫أح‬ َ‫ع‬ِ‫ب‬ْ‫ت‬ُ‫ا‬ ‫فإذا‬ ‫م‬ْ‫ل‬ُ‫ظ‬ ‫ي‬ِ‫ن‬َ‫غ‬‫ال‬ ُ‫ل‬ْ‫ط‬َ‫م‬‫ع‬َ‫ب‬ْ‫ت‬ “menunda pembayaran bagi orang yang mampu adalah suatu kezaliman. Dan jika salah seorang dari kamu dialihkan (dihiwalahkan) kepada orang yang kaya yang mampu, maka turutlah (menerima pengalihan/hawalah tersebut).”(HR. Bukhari Muslim)
  16. 16. Rukun Hiwalah • Menurut madzhab Hanafi, rukun hiwalah hanya ijab (pernyataan yang melakukan hiwalah) dari muhil (pihak pertama) dan qabul (pernyataan menerima hiwalah) dari muhal (pihak kedua) kepada muhal ‘alaih (pihak ketiga). • Menurut madzhab Maliki, Syafi’i, Hambali, rukun hiwalah ada 6 : 1. Pihak pertama (muhil) yaitu orang yang menghiwalahkan (memindahkan) utang 2. Pihak kedua (muhal) yaitu orang yang dihiwalahkan (orang yang mempunyai utang kepada muhil) 3. Pihak ketiga (muhal ‘alaih) yaitu orang yang menerima hiwalah 4. Ada piutang muhil kepada muhal 5. Ada piutang muhal ‘alaih kepada muhil 6. Ada sighat hiwalah yaitu ijab dari muhil dengan kata-katanya, “Aku hiwalahkan utangku yang hak bagi engkau kepada fulan” dan qabul dari muhal dengan kata, “Aku terima hiwalah engkau”.
  17. 17. JENIS HIWALAH Madzhab Hanafi membagi hiwalah dalam beberapa bagian : • Ditinjau dari segi objek akad, hiwalah dibagi menjadi 2 jenis : 1. Hiwalah al-haqq yaitu apabila yang dipindahkan itu merupakan hak menuntut hutang (pemindahan hak). 2. Hiwalah al-dayn yaitu apabila yang dipindahkan itu kewajiban untuk membayar hutang (pemindahan hutang/kewajiban). • Ditinjau dari jenis akad, hiwalah dibagi menjadi 2 jenis : 1. Hiwalah al-Muqayyadah: Pemindahan sebagai ganti dari pembayaran hutang muhil (pihak 1) kepada muhal atau pihak II (pemindahan bersyarat). Contoh: A berpiutang kepada B sebesar 5 dirham. Sedangkan B berpiutang ke C sebesar 5 dirham. B kemudian memindahkan/mengalihkan haknya untuk menuntut piutangnya yang berada pada C ke A sebagai ganti pembayaran hutang B kepada A. Jadi, Hiwalah al-muqayyadah pada satu sisi merupakan hiwalah al-haq karena mengalihkan hak menuntut piutangnya dari C ke A (pemindahan hak). Disisi lain, sekaligus merupakan hiwalah al- dayn karena B mengalihkan kepada A menjadi kewajiban C kepada A (pemindahan hutang/kewajiban).
  18. 18. JENIS HIWALAH 2. Hiwalah al-Muthlaqah yaitu pemindahan hutang yang tidak ditegaskan sebagai ganti rugi dari pembayaran hutang muhil (pihak pertama) kepada muhal atau pihak kedua (pemindahan mutlak). Contoh: A berhutang kepada B sebesar 5 dirham. Kemudian A mengalihkan hutangnya kepada C sehingga C berkewajiban membayar hutang A kepada B tanpa menyebutkan bahwa pemindahan hutang tersebut sebagai ganti rugi dari pembayaran hutang C kepada A. Dengan demikian, hiwalah al-muthlaqah hanya mengandung hiwalah al-dayn saja karena yang dipindahkan hanya hutang A kepada B menjadi hutang C kepada B.
  19. 19. APLIKASI HAWALAH DALAM PERBANKAN: • Hawalah biasanya diterapkan dalam hal factoring atau anjak piutang, dimana para nasabah yang memiliki piutang kepada pihak ketiga memindahkan piutang itu kepada bank, lalu bank membayar piutang tersebut, dan bank menagihnya dari pihak ketiga itu. • Post-Dated Check, dimana bank bertindak sebagai juru tagih, tanpa membayar dulu piutang tsb. • Bill Discounting. • Kartu Kredit Syariah. Nasabah pada dasarnya memiliki hutang kepada merchant (dengan membeli suatu barang atau jasa tertentu misalnya), dan kemudian merchant tersebut menagih kepada Bank. Dalam ini, antara merchant dengan Bank tidak ada hubungan khusus. Namun, karena adanya wakalah yang ditindaklanjuti dengan Hawalah, maka Bank berkewajiban untuk membayarkan tagihan hutang dari Merchant tersebut atas nama Nasabah.
  20. 20. Skema Aplikasi Hawalah Dalam Jual Beli Penyuplai Pembeli Pengambil alih 1. Suplai barang 3.bayar 2.invoice 5.bayar 4.tagih Jual Beli
  21. 21. Skema HAWALAH AL-HAQQ (hawalah yang objeknya adalah piutang atau hak pengihan) MUHIL MUHAL MUHAL ‘ALAIH 1b. Janji Bayar Tanggung 1a. Transaksi 2. Akad Hawalah 4. Penagihan
  22. 22. Skema HAWALAH AL-DAYN (hawalah yang objeknya adalah hutang) MUHIL MUHAL MUHAL ‘ALAIH 1a. Berhutang 1b. Berhutang MUHIL MUHAL MUHAL ‘ALAIH 3. Hutang Lunas 2. Akad Hawalah 4a. Berhutang
  23. 23. BERAKHIRNYA AKAD HAWALAH Akad hawalah berakhir jika terjadi hal-hal berikut : • Salah satu pihak yang melakukan akad tersebut membatalkan akad hiwalah sebelum akad itu berlaku secara tetap. • Muhal melunasi hutang yang dialihkan kepada muhal ‘alaih • Jika muhal meninggal dunia, sedangkan muhal ‘alaih merupakan ahli waris yang mewarisi harta muhal. • Muhal ‘alaih menghibahkan atau menyedekahkan harta yang merupakan hutang dalam akad hiwalah tersebut kepada muhal. • Muhal membebaskan muhal ‘alaih dari kewajibannya untuk membayar hutang yang dialihkan tersebut. • Menurut madzhab Hanafi, hak muhal tidak dapat dipenuhi karena pihak ketiga mengalami pailit (bangkrut) atau wafat dalam keadaan pailit. Sedangkan menurut madzhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali selama akad hiwalah sudah berlaku tetap karena persyaratan sudah dipenuhi maka akad hiwalah tidak dapat berakhir dengan mengalami alasan pailit.

×