Presentasi Ke-Presentasi Ke-55
Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MAOleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA
Membahas pengertian,Membah...
SHALAT
MAKTUBAH (SHALAT-
SHALAT FARDHU)
NAFILAH (TATHAWWU’)
NAWAFIL TANPA SEBAB
NAWAFIL DENGAN ADA
SEBAB (SHALAT GERHANA)
...
Urgensi Shalat Tathawwu’
• Selain shalat lima waktu ada shalat-shalat lainnya yang
disyari’atkan sebagai tambahan dan penu...
Hadis tentang shalat Tathawwu’
•:‫ل‬َ ‫قا‬َ ‫ة‬ُ ‫ل‬َ ‫ص‬ّ ‫ال‬ ‫م‬ُ ‫ه‬ِ ‫ل‬ِ ‫ما‬َ ‫ع‬ْ ‫أ‬َ ‫ن‬ْ ‫م‬ِ ‫ة‬ِ ‫م‬َ ‫يا‬َ ‫...
Shalat Rawatib
Shalat sunah yang dikerjakan menyertai shalat fardhu.
Shalat Rawatib terbagi dua: Shalat sunah QABLIYAH, ya...
Shalat Sunah Lainnya
Shalat Khauf. Shalat yang dilakukan pada saat-saat genting. Shalat ini dapat
dilakukan kapan pun bila...
Shalat Tahajjud. Shalat sunah yang dikerjakan pada waktu malam hari dan
dilaksanakan setelah tidur terlebih dahulu, meskip...
Shalat Witir. Witir berarti ganjil, nama bagi shalat yang rakaatnya ganjil (selain
shalat Maghrib), yaitu shalat 1, 3, 5, ...
Diantara Dalil Shalat Tathawwu’
1. Shalat sunat rawatib
‫ل‬ّ ‫إ‬ِ ‫ة‬ٍ ‫ض‬َ ‫ري‬ِ ‫ف‬َ ‫ر‬َ ‫ي‬ْ ‫غ‬َ ‫عا‬ً ‫و‬ّ ‫ط‬َ ‫ت‬َ...
Dalil-Dalil Shalat Tathawwu’
3. Shalat dhuha
‫ة‬ٌ ‫ق‬َ ‫د‬َ ‫ص‬َ ‫ة‬ٍ ‫د‬َ ‫مي‬ِ ‫ح‬ْ ‫ت‬َ ‫ل‬ّ ‫ك‬ُ ‫و‬َ ‫ة‬ٌ ‫ق‬َ ‫د‬َ ‫...
Dalil-Dalil Shalat Tathawwu’
5. Shalat tahiyyatul masjid
‫ن‬ِ ‫ي‬ْ ‫ت‬َ ‫ع‬َ ‫ك‬ْ ‫ر‬َ ‫ي‬َ ‫ل‬ّ ‫ص‬َ ‫ي‬ُ ‫تى‬ّ ‫ح‬َ ‫س‬ْ...
Dalil-Dalil Shalat Tathawwu’
8. Shalat Sebelum Adzan Jum’at
‫م‬ّ ‫ث‬ُ ‫ه‬ِ ‫ت‬ِ ‫ب‬َ ‫ط‬ْ ‫خ‬ُ ‫ن‬ْ ‫م‬ِ ‫غ‬َ ‫ر‬ُ ‫ف‬ْ ‫ي...
Dalil-Dalil Shalat Tathawwu’
10. Shalat Istikharah (meminta pilihan)
Rasulullah Saw bersabda: “Apabila salah seorang di an...
Dalil-Dalil Shalat Tathawwu’
11. Shalat gerhana
,‫ذا‬َ ‫إ‬ِ ‫ف‬َ ‫ه‬ِ ‫ت‬ِ ‫يا‬َ ‫ح‬َ ‫ل‬ِ ‫ل‬َ ‫و‬َ ‫د‬ٍ ‫ح‬َ ‫أ‬َ ‫ت‬ِ ‫...
Mohon MaafMohon Maaf
Lahir BatinLahir Batin
Supported by :
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Presentasi fiqh 5 shalat-shalat sunnah

21,206 views

Published on

Published in: Technology, Education
8 Comments
14 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
21,206
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1,726
Actions
Shares
0
Downloads
2,056
Comments
8
Likes
14
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Presentasi fiqh 5 shalat-shalat sunnah

  1. 1. Presentasi Ke-Presentasi Ke-55 Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MAOleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA Membahas pengertian,Membahas pengertian, dasar hukum atau dalildasar hukum atau dalil berkenaan denganberkenaan dengan shalatshalat sunnahsunnah jenis-jenis shalatjenis-jenis shalat tathawwu’, tatacaratathawwu’, tatacara shalat sunnahshalat sunnah FFIQHIQH SSHALAT:HALAT: DDEFINISI,EFINISI, HHUKUM,UKUM, MMACAM-ACAM-MMACAM,ACAM, TTATACARA,ATACARA, SSHALATHALAT SSUNNAHUNNAH
  2. 2. SHALAT MAKTUBAH (SHALAT- SHALAT FARDHU) NAFILAH (TATHAWWU’) NAWAFIL TANPA SEBAB NAWAFIL DENGAN ADA SEBAB (SHALAT GERHANA) Lebih muakkadah (dikerjakan Rasul meski saat hadhar dan safar, seperti shalat witir dan 2 raka’at fajar) Muakkadah (dikerjakan Rasul dalam keadaan hadhar saja, tidak dalam safar: shalat rawatib dan tahajjud). Ghairu Muakkadah, shalat sunah rawatib yang dibenarkan oleh Rasul.
  3. 3. Urgensi Shalat Tathawwu’ • Selain shalat lima waktu ada shalat-shalat lainnya yang disyari’atkan sebagai tambahan dan penutup kekurangan, hukumnya sunat. Shalat inilah yang disebut dengan nama shalat tathawwu’ (sunat). • Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw tentang (kewajiban) dalam Islam? Maka Rasulullah Saw menjawab: . « ‫ة‬ِ ‫ل‬َ ‫ي‬ْ ‫ل‬ّ ‫وال‬َ ‫م‬ِ ‫و‬ْ ‫ي‬َ ‫ل‬ْ ‫ا‬ ‫فى‬ِ ‫ت‬ٍ ‫وا‬َ ‫ل‬َ ‫ص‬َ ‫س‬ُ ‫م‬ْ ‫خ‬َ » “Shalat lima waktu sehari semalam.” Orang itu bertanya, “Apakah ada kewajiban lagi selain itu?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali jika anda ingin bertathawwu’…dst.” (HR. Bukhari)
  4. 4. Hadis tentang shalat Tathawwu’ •:‫ل‬َ ‫قا‬َ ‫ة‬ُ ‫ل‬َ ‫ص‬ّ ‫ال‬ ‫م‬ُ ‫ه‬ِ ‫ل‬ِ ‫ما‬َ ‫ع‬ْ ‫أ‬َ ‫ن‬ْ ‫م‬ِ ‫ة‬ِ ‫م‬َ ‫يا‬َ ‫ق‬ِ ‫ل‬ْ ‫ا‬ ‫م‬َ ‫و‬ْ ‫ي‬َ ‫ه‬ِ ‫ب‬ِ ‫س‬ُ ‫نا‬ّ ‫ال‬ ‫ب‬ُ ‫س‬َ ‫حا‬َ ‫ي‬ُ ‫ما‬َ ‫ل‬َ ‫و‬ّ ‫أ‬َ ‫ن‬ّ ‫إ‬ِ :‫ها‬َ ‫م‬ّ ‫ت‬َ ‫أ‬َ ‫ي‬ْ ‫د‬ِ ‫ب‬ْ ‫ع‬َ ‫ة‬ِ ‫ل‬َ ‫ص‬َ ‫في‬ِ ‫روا‬ُ ‫ظ‬ُ ‫ن‬ْ ‫ا‬ُ ‫م‬ُ ‫ل‬َ ‫ع‬ْ ‫أ‬َ ‫و‬َ ‫ه‬ُ ‫و‬َ ‫ه‬ِ ‫ت‬ِ ‫ك‬َ ‫ئ‬ِ ‫ل‬َ ‫م‬َ ‫ل‬ِ ‫ل‬ّ ‫ج‬َ ‫و‬َ ‫ز‬ّ ‫ع‬َ ‫نا‬َ ‫ب‬ّ ‫ر‬َ ‫ل‬ُ ‫و‬ْ ‫ق‬ُ ‫ي‬َ ‫يئا‬ْ ‫ش‬َ ‫ها‬َ ‫ن‬ْ ‫م‬ِ ‫ص‬َ ‫ق‬َ ‫ت‬َ ‫ن‬ْ ‫ا‬ ‫ن‬ْ ‫كا‬َ ‫ن‬ْ ‫إ‬ِ ‫و‬َ ،‫ة‬ً ‫م‬ّ ‫تا‬َ ‫ه‬ُ ‫ل‬َ ‫ت‬ْ ‫ب‬َ ‫ت‬ِ ‫ك‬ُ ‫ة‬ً ‫م‬ّ ‫تا‬َ ‫ت‬ْ ‫ن‬َ ‫كا‬َ ‫ن‬ْ ‫إ‬ِ ‫ف‬َ ‫ها‬َ ‫ص‬َ ‫ق‬َ ‫ن‬َ ‫م‬ْ ‫أ‬َ : :‫وا‬ْ ‫م‬ّ ‫ت‬ِ ‫أ‬َ ‫ل‬َ ‫قا‬َ ‫ع‬ٌ ‫و‬ّ ‫ط‬َ ‫ت‬َ ‫ه‬ُ ‫ل‬َ ‫ن‬َ ‫كا‬َ ‫ن‬ْ ‫إ‬ِ ‫ف‬َ ،‫ع‬ٍ ‫و‬ّ ‫ط‬َ ‫ت‬َ ‫ن‬ْ ‫م‬ِ ‫ي‬ْ ‫د‬ِ ‫ب‬ْ ‫ع‬َ ‫ل‬ِ ‫ل‬ْ ‫ه‬َ ‫وا‬ْ ‫ر‬ُ ‫ظ‬ُ ‫ن‬ْ ‫ا‬ ‫ل‬َ ‫قا‬َ ‫م‬ْ ‫ك‬ُ ‫ل‬ِ ‫ذ‬َ ‫لى‬َ ‫ع‬َ ‫ل‬ُ ‫ما‬َ ‫ع‬ْ ‫ل‬َ ‫ا‬ْ ‫ذ‬ُ ‫خ‬َ ‫ؤ‬ْ ‫ت‬ُ ‫م‬ّ ‫ث‬ُ ‫ه‬ِ ‫ع‬ِ ‫و‬ّ ‫ط‬َ ‫ت‬َ ‫ن‬ْ ‫م‬ِ ‫ه‬ُ ‫ت‬َ ‫ض‬َ ‫ي‬ْ ‫ر‬ِ ‫ف‬َ ‫ي‬ْ ‫د‬ِ ‫ب‬ْ ‫ع‬َ ‫ل‬ِ “Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Allah Azza wa Jalla akan berkata kepada para malaikat-Nya sedangkan Dia lebih mengetahui, “Lihatlah shalat hamba-Ku, apakah dia menyempurnakannya atau menguranginya?” jika ternyata sempurna, maka dicatat sempurna. Namun jika kurang, Allah berfirman, “Lihatlah! Apakah hamba-Ku memiliki ibadah sunat?” Jika ternyata ada, Allah berfirman, “Sempurnakanlah shalat fardhu hamba-Ku dengan shalat sunatnya,” lalu diambil amalannya seperti itu.” (HR. Empat orang ahli hadits dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)
  5. 5. Shalat Rawatib Shalat sunah yang dikerjakan menyertai shalat fardhu. Shalat Rawatib terbagi dua: Shalat sunah QABLIYAH, yaitu shalat sunat yang dilaksanakan sebelum mengerjakan shalat wajib. Dan shalat sunah BA'DIYAH, yaitu shalat yang dikerjakan setelah melakukan shalat wajib. MU’AKKAD (sangat dianjurkan, sering dilakukan oleh Nabi SAW.) : • dua rakaat qabla subuh • dua rakaat qabla zuhur • dua rakaat ba’da zuhur • dua rakaat ba’da maghrib • dua rakaat ba’da isya “Ibnu Umar r.a berkata: Aku ingat dari Nabi SAW 10 rakaat yaitu: dua rakaat sebelum Dhuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah maghrib di rumahnya, dua rakaat setelah Isya' di rumahnya, dan dua rakaat sebelum Shubuh. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat Bukhari-Muslim yang lain: Dan dua rakaat setelah Jum'at di rumahnya. (H.R. Bukhari Muslim) GHAIRU MU’AKKAD (tidak dikuatkan, tidak banyak dikerjakan oleh Nabi): • Sebelum zuhur dua rokaat • Setelah zuhur dua rokaat • Sebelum ashar empat rokaat • Sebelum magrib dua rokaat • Sebelum isya dua rokaat
  6. 6. Shalat Sunah Lainnya Shalat Khauf. Shalat yang dilakukan pada saat-saat genting. Shalat ini dapat dilakukan kapan pun bila kita dalam kondisi merasa takut, misalnya karena perang, bencana alam, ancaman binatang buas, dikejar musuh atau orang jahat, dsb. Syariat shalat khauf ini didasarkan pada surat An-Nisâ: 102. Shalat Dhuha. Shalat sunah yang dikerjakan pada pagi hari, waktunya dimulai ketika matahari tampak kurang lebih setinggi tombak dan berakhir sampai tergelincir matahari (waktu zuhur). Jumlah rakaat shalat dhuha adalah sekurang-kurangnya 2 rakaat, sebanyak-banyaknya 12 atau 16 rakaat. Shalat Istisqa. Shalat sunah yang bertujuan untuk meminta hujan. Biasanya dilaksanakan ketika terjadi kemarau panjang sehingga mata air menjadi kering, tumbuh-tumbuhan mati, manusia dan hewan kekurangan makanan dan air. Bila sudah masuk dalam kondisi ini, dianjurkan pemimpin masyarakat setempat atau ulama mengajak masyarakat untuk bertobat dan berdoa. Shalat Khusuf. Shalat sunah yang dilakukan karena terjadi gerhana bulan. Waktunya adalah sejak awal gerhana sampai akhir atau tertutupnya bulan tsb. Shalat Kusuf. Shalat sunah yang dilakukan karena terjadi gerhana matahari. Waktunya adalah sejak awal gerhana sampai selesai atau tertutupnya matahari. Apabila terjadi gerhana, Rasulullah SAW keluar ke mesjid lalu menyuruh seorang pergi berkeliling menyerukan “Ash Shalatul Jami’ah”. Setelah orang-orang berkumpul di mesjid, beliau pun mengerjakan shalat. Baik shalat khusuf dan kusuf, tidak ada azan. Kaifiyat (cara shalat) adalah: dua rakaat dengan 4 ruku’ dan dengan 4 sujud (tiap-tiap rakaat, dua ruku’). Shalat Istikharah. Shalat sunah dua rakaat yang diiringi dengan doa khusus, dikerjakan untuk memohon petunjuk yang baik kepada Allah SWT sehubungan dengan urusan yang masih diragukan untuk diputuskan akan dikerjakan atau tidak. Urusan yang dimaksud bisa berupa urusan pribadi ataupun yang terkait dengan kepentingan umum. Petunjuk dari Allah SWT ini biasanya akan diperoleh melalui mimpi atau kemantapan hati untuk mengambil keputusan.
  7. 7. Shalat Tahajjud. Shalat sunah yang dikerjakan pada waktu malam hari dan dilaksanakan setelah tidur terlebih dahulu, meskipun hanya sejenak, kemudian diiringi dengan doa khusus. Shalat tahajud boleh dilakukan di awal, tengah, atau di akhir malam, asalkan sesudah tidur, namun melakukannya pada sepertiga malam yang terakhir adalah lebih baik, karena pada saat itu terdapat waktu doa para hamba dikabulkan oleh Allah SWT. Shalat Gaib. Shalat yang dilakukan atas seseorang yang meninggal dunia di suatu tempat atau negeri, baik jauh ataupun dekat dari tempat orang yang melaksanakan shalat, dan mayatnya tidak ada di tempat (di hadapan) orang- orang yang menshalatkan. Shalat Hajat. Shalat sunah dua rakaat yang dikerjakan seseorang yang mempunyai hajat (keperluan) agar keperluan tsb dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah SWT. Shalat Tahyatul Masjid. Shalat yang dilakukan sebagai penghormatan terhadap masjid, dilakukan oleh orang yang masuk ke dalam mesjid sebelum ia duduk. Shalat ‘Idain. Shalat yang dilakukan pada saat dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Idul Fitri dilaksanakan berkaitan dengan selesainya bulan Ramadhan yang jatuh pada tanggal 1 Syawal. Idul Adha dilaksanakan bertepatan dengan selesainya pelaksanaan ibadah haji, yaitu tanggal 10 Zulhijjah, yang biasanya seusai shalat dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban bagi yang mampu. Shalat Tarawih. Shalat sunah yang dikerjakan umat Islam setiap malam selama bulan Ramadhan. Ada beberapa pendapat mengenai jumlah rakaat shalat tarawih, yang pertama adalah 11 rakaat terdiri dari 4 rakaat, kemudian 4 rakaat lagi, dan ditutup dengan 3 rakaat shalat witir. Ada pendapat lain 20 rakaat ditambah 3 rakaat witir, sehingga seluruhnya adalah 23 rakaat.
  8. 8. Shalat Witir. Witir berarti ganjil, nama bagi shalat yang rakaatnya ganjil (selain shalat Maghrib), yaitu shalat 1, 3, 5, 7, 9 atau 11 rakaat yang bersambungan dan hanya satu kali salam. Waktu pelaksanaannya malam hari, sesudah shalat Isya sampai terbit fajar. Yang paling baik, witir dijadikan sebagai shalat yang paling akhir dikerjakan pada malam hari. Bila seseorang khawatir tidak bangun pada waktu menjelang terbit fajar, ia boleh mengerjakan shalat witir segera setelah shalat fardu dan sesudah Isya. Shalat Taubat. Shalat untuk menyatakan bahwa kita bertaubat dari suatu dosa, artinya menyesal atas perbuatan yang dilakukan, dan bertekad kelak tidak akan melakukannya lagi, disertai permohonan ampun kepada Allah. Shalat Tasbih. Shalat sunah empat rakaat yang setiap rakaatnya membaca tasbih sebanyak 75 kali, sehingga seluruhnya berjumlah 300 kali. Rincian jumlah tasbih untuk setiap rakaat adalah sbg berikut: 15 kali sesudah membaca surat dan sebelum rukuk 10 kali sesudah membaca tasbih rukuk dan sebelum i’tidal 10 kali setelah membaca tahmid i’tidal 10 kali setelah membacab tasbih sujud 10 kali setelah membaca doa duduk diantara dua sujud 10 kali setelah membaca tasbih sujud kedua 10 kali setelah duduk istirahat sesudah sujud kedua. Bagi setiap muslim, dianjurkan mengerjakan shalat tasbih setiap malam, bila tidak mampu maka sekali seminggu, atau sekali sebulan, atau sekali setahun, bila masih tidak bisa, maka sekurang-kurangnya sekali seumur hidup. Waktu pelaksanaannya dapat siang hari atau malam hari, empat rakaat dengan satu atau dua kali salam.
  9. 9. Diantara Dalil Shalat Tathawwu’ 1. Shalat sunat rawatib ‫ل‬ّ ‫إ‬ِ ‫ة‬ٍ ‫ض‬َ ‫ري‬ِ ‫ف‬َ ‫ر‬َ ‫ي‬ْ ‫غ‬َ ‫عا‬ً ‫و‬ّ ‫ط‬َ ‫ت‬َ ‫ة‬ً ‫ع‬َ ‫ك‬ْ ‫ر‬َ ‫ة‬َ ‫ر‬َ ‫ش‬ْ ‫ع‬َ ‫ى‬ْ ‫ت‬َ ‫ن‬ْ ‫ث‬ِ ‫م‬ٍ ‫و‬ْ ‫ي‬َ ‫ل‬ّ ‫ك‬ُ ‫ه‬ِ ‫ل‬ّ ‫ل‬ِ ‫لى‬ّ ‫ص‬َ ‫ي‬ُ ‫م‬ٍ ‫ل‬ِ ‫س‬ْ ‫م‬ُ ‫د‬ٍ ‫ب‬ْ ‫ع‬َ ‫ن‬ْ ‫م‬ِ ‫ما‬َ « ‫ة‬ِ ‫ن‬ّ ‫ج‬َ ‫ل‬ْ ‫ا‬ ‫فى‬ِ ‫ت‬ٌ ‫ي‬ْ ‫ب‬َ ‫ه‬ُ ‫ل‬َ ‫ى‬َ ‫ن‬ِ ‫ب‬ُ ‫ل‬ّ ‫إ‬ِ ‫و‬ْ ‫أ‬َ ‫ة‬ِ ‫ن‬ّ ‫ج‬َ ‫ل‬ْ ‫ا‬ ‫فى‬ِ ‫تا‬ً ‫ي‬ْ ‫ب‬َ ‫ه‬ُ ‫ل‬َ ‫ه‬ُ ‫ل‬ّ ‫ال‬ ‫نى‬َ ‫ب‬َ “Tidak ada seorang muslim yang melakukan shalat karena Allah dalam setiap harinya sebanyak 12 rak’at; yakni shalat sunat yang bukan fardhu, kecuali Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga atau akan dibangunkan untuknya rumah di surga.” (HR. Muslim) Yaitu 4 rak’at sebelum Zhuhur dan 2 rak’at setelahnya, 2 rak’at setelah Maghrib, 2 rak’at setelah Isya dan 2 rak’at sebelum shalat Shubuh sehingga jumlahnya 12. Bisa juga sebelum Zhuhur 2 rak’at, sehingga jumlahnya 10. 2. Shalat malam (Tahajjud) ‫ة‬ِ ‫ض‬َ ‫ري‬ِ ‫ف‬َ ‫ل‬ْ ‫ا‬ ‫د‬َ ‫ع‬ْ ‫ب‬َ ‫ة‬ِ ‫ل‬َ ‫ص‬ّ ‫ال‬ ‫ل‬ُ ‫ض‬َ ‫ف‬ْ ‫أ‬َ ‫و‬َ ‫م‬ُ ‫ر‬ّ ‫ح‬َ ‫م‬ُ ‫ل‬ْ ‫ا‬ ‫ه‬ِ ‫ل‬ّ ‫ال‬ ‫ر‬ُ ‫ه‬ْ ‫ش‬َ ‫ن‬َ ‫ضا‬َ ‫م‬َ ‫ر‬َ ‫د‬َ ‫ع‬ْ ‫ب‬َ ‫م‬ِ ‫يا‬َ ‫ص‬ّ ‫ال‬ ‫ل‬ُ ‫ض‬َ ‫ف‬ْ ‫أ‬َ » . « ‫ل‬ِ ‫ي‬ْ ‫ل‬ّ ‫ال‬ ‫ة‬ُ ‫ل‬َ ‫ص‬َ “Puasa paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram (yakni tanggal sepuluh dengan sembilannya), dan shalat paling
  10. 10. Dalil-Dalil Shalat Tathawwu’ 3. Shalat dhuha ‫ة‬ٌ ‫ق‬َ ‫د‬َ ‫ص‬َ ‫ة‬ٍ ‫د‬َ ‫مي‬ِ ‫ح‬ْ ‫ت‬َ ‫ل‬ّ ‫ك‬ُ ‫و‬َ ‫ة‬ٌ ‫ق‬َ ‫د‬َ ‫ص‬َ ‫ة‬ٍ ‫ح‬َ ‫بي‬ِ ‫س‬ْ ‫ت‬َ ‫ل‬ّ ‫ك‬ُ ‫ف‬َ ‫ة‬ٌ ‫ق‬َ ‫د‬َ ‫ص‬َ ‫م‬ْ ‫ك‬ُ ‫د‬ِ ‫ح‬َ ‫أ‬َ ‫ن‬ْ ‫م‬ِ ‫مى‬َ ‫ل‬َ ‫س‬ُ ‫ل‬ّ ‫ك‬ُ ‫لى‬َ ‫ع‬َ ‫ح‬ُ ‫ب‬ِ ‫ص‬ْ ‫ي‬ُ » ‫ر‬ِ ‫ك‬َ ‫ن‬ْ ‫م‬ُ ‫ل‬ْ ‫ا‬ ‫ن‬ِ ‫ع‬َ ‫ى‬ٌ ‫ه‬ْ ‫ن‬َ ‫و‬َ ‫ة‬ٌ ‫ق‬َ ‫د‬َ ‫ص‬َ ‫ف‬ِ ‫رو‬ُ ‫ع‬ْ ‫م‬َ ‫ل‬ْ ‫با‬ِ ‫ر‬ٌ ‫م‬ْ ‫أ‬َ ‫و‬َ ‫ة‬ٌ ‫ق‬َ ‫د‬َ ‫ص‬َ ‫ة‬ٍ ‫ر‬َ ‫بي‬ِ ‫ك‬ْ ‫ت‬َ ‫ل‬ّ ‫ك‬ُ ‫و‬َ ‫ة‬ٌ ‫ق‬َ ‫د‬َ ‫ص‬َ ‫ة‬ٍ ‫ل‬َ ‫لي‬ِ ‫ه‬ْ ‫ت‬َ ‫ل‬ّ ‫ك‬ُ ‫و‬َ . « ‫حى‬َ ‫ض‬ّ ‫ال‬ ‫ن‬َ ‫م‬ِ ‫ما‬َ ‫ه‬ُ ‫ع‬ُ ‫ك‬َ ‫ر‬ْ ‫ي‬َ ‫ن‬ِ ‫تا‬َ ‫ع‬َ ‫ك‬ْ ‫ر‬َ ‫ك‬َ ‫ل‬ِ ‫ذ‬َ ‫ن‬ْ ‫م‬ِ ‫ئ‬ُ ‫ز‬ِ ‫ج‬ْ ‫ي‬ُ ‫و‬َ ‫ة‬ٌ ‫ق‬َ ‫د‬َ ‫ص‬َ “Pada pagi hari setiap persendian kamu harus bersedekah; setiap tasbih adalah sedekah. Setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan Laailaahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi mungkar juga sedekah dan hal itu bisa terpenuhi oleh dua rak’at yang dikerjakannya di waktu Dhuha.” (HR. Muslim) Jumlah shalat Dhuha bisa 2 rak’at, 4 rak’at, 6 rak’at, 8 rak’at maupun 12 rak’at. 4. Shalat dua rak’at setelah wudhu’ ‫ما‬َ ‫ه‬ُ ‫ل‬َ ‫ه‬ُ ‫ل‬ّ ‫ال‬ ‫ر‬َ ‫ف‬َ ‫غ‬َ ، ‫ه‬ُ ‫س‬َ ‫ف‬ْ ‫ن‬َ ‫ما‬َ ‫ه‬ِ ‫في‬ِ ‫ث‬ُ ‫د‬ّ ‫ح‬َ ‫ي‬ُ ‫ل‬َ ، ‫ن‬ِ ‫ي‬ْ ‫ت‬َ ‫ع‬َ ‫ك‬ْ ‫ر‬َ ‫لى‬ّ ‫ص‬َ ‫م‬ّ ‫ث‬ُ ‫ذا‬َ ‫ه‬َ ‫ئى‬ِ ‫ضو‬ُ ‫و‬ُ ‫و‬َ ‫ح‬ْ ‫ن‬َ ‫أ‬َ ‫ض‬ّ ‫و‬َ ‫ت‬َ ‫ن‬ْ ‫م‬َ . « ‫ه‬ِ ‫ب‬ِ ‫ن‬ْ ‫ذ‬َ ‫ن‬ْ ‫م‬ِ ‫م‬َ ‫د‬ّ ‫ق‬َ ‫ت‬َ “Barang siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian shalat dua rak’at dengan khusyu’ melainkan Allah akan mengampuni dosa- dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  11. 11. Dalil-Dalil Shalat Tathawwu’ 5. Shalat tahiyyatul masjid ‫ن‬ِ ‫ي‬ْ ‫ت‬َ ‫ع‬َ ‫ك‬ْ ‫ر‬َ ‫ي‬َ ‫ل‬ّ ‫ص‬َ ‫ي‬ُ ‫تى‬ّ ‫ح‬َ ‫س‬ْ ‫ل‬ِ ‫ج‬ْ ‫ي‬َ ‫ل‬َ ‫ف‬َ ‫د‬َ ‫ج‬ِ ‫س‬ْ ‫م‬َ ‫ل‬ْ ‫ا‬ ‫م‬ُ ‫ك‬ُ ‫د‬ُ ‫ح‬َ ‫أ‬َ ‫ل‬َ ‫خ‬َ ‫د‬َ ‫ذا‬َ ‫إ‬ِ “Apabila salah seorang di antara kamu masuk ke masjid, maka janganlah duduk sampai ia shalat dua rak’at.” (HR. Bukhari) 6. Shalat antara azan dan iqamat ‫ء‬َ ‫شا‬َ ‫ن‬ْ ‫م‬َ ‫ل‬ِ ‫ة‬ِ ‫ث‬َ ‫ل‬ِ ‫ثا‬ّ ‫ال‬ ‫في‬ِ ‫ل‬َ ‫قا‬َ ‫م‬ّ ‫ث‬ُ ‫ة‬ٌ ‫ل‬َ ‫ص‬َ ‫ن‬ِ ‫ي‬ْ ‫ن‬َ ‫ذا‬َ ‫أ‬َ ‫ل‬ّ ‫ك‬ُ ‫ن‬َ ‫ي‬ْ ‫ب‬َ ‫ة‬ٌ ‫ل‬َ ‫ص‬َ ‫ن‬ِ ‫ي‬ْ ‫ن‬َ ‫ذا‬َ ‫أ‬َ ‫ل‬ّ ‫ك‬ُ ‫ن‬َ ‫ي‬ْ ‫ب‬َ “Antara dua azan (azan dan iqamat) ada shalat, antara dua azan ada shalat,” pada ketiga kalinya Beliau mengatakan, “Bagi siapa saja yang mau.” (HR. Bukhari) 7. Shalat tobat ‫ه‬ُ ‫ل‬َ ‫ا‬ُ ‫ر‬َ ‫ف‬َ ‫غ‬َ ‫ل‬ّ ‫إ‬ِ ‫ا‬َ ‫ر‬ُ ‫ف‬ِ ‫غ‬ْ ‫ت‬َ ‫س‬ْ ‫ي‬َ ‫م‬ّ ‫ث‬ُ ‫لي‬ّ ‫ص‬َ ‫ي‬ُ ‫م‬ّ ‫ث‬ُ ‫ر‬ُ ‫ه‬ّ ‫ط‬َ ‫ت‬َ ‫ي‬َ ‫ف‬َ ‫م‬ُ ‫و‬ْ ‫ق‬ُ ‫ي‬َ ‫م‬ّ ‫ث‬ُ ‫نبا‬ْ ‫ذ‬َ ‫ب‬ُ ‫ن‬ِ ‫ذ‬ْ ‫ي‬ُ ‫ل‬ٍ ‫ج‬ُ ‫ر‬َ ‫ن‬ْ ‫م‬ِ ‫ما‬َ “Tidak ada seseorang yang melakukan suatu dosa, kemudian ia berdiri dan berwudhu, lalu shalat. Setelah itu, ia meminta ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuninya.” Kemudian Beliau membacakan surat Ali Imran: 135. (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud, dan dihasankan oleh Al Albani)
  12. 12. Dalil-Dalil Shalat Tathawwu’ 8. Shalat Sebelum Adzan Jum’at ‫م‬ّ ‫ث‬ُ ‫ه‬ِ ‫ت‬ِ ‫ب‬َ ‫ط‬ْ ‫خ‬ُ ‫ن‬ْ ‫م‬ِ ‫غ‬َ ‫ر‬ُ ‫ف‬ْ ‫ي‬َ ‫تى‬ّ ‫ح‬َ ‫ت‬َ ‫ص‬َ ‫ن‬ْ ‫أ‬َ ‫م‬ّ ‫ث‬ُ ‫ه‬ُ ‫ل‬َ ‫ر‬َ ‫د‬ّ ‫ق‬ُ ‫ما‬َ ‫لى‬ّ ‫ص‬َ ‫ف‬َ ‫ة‬َ ‫ع‬َ ‫م‬ُ ‫ج‬ُ ‫ل‬ْ ‫ا‬ ‫تى‬َ ‫أ‬َ ‫م‬ّ ‫ث‬ُ ‫ل‬َ ‫س‬َ ‫ت‬َ ‫غ‬ْ ‫ا‬ ‫ن‬ِ ‫م‬َ » . « ‫م‬ٍ ‫يا‬ّ ‫أ‬َ ‫ة‬ِ ‫ث‬َ ‫ل‬َ ‫ث‬َ ‫ل‬َ ‫ض‬ْ ‫ف‬َ ‫و‬َ ‫رى‬َ ‫خ‬ْ ‫ل‬ُ ‫ا‬ ‫ة‬ِ ‫ع‬َ ‫م‬ُ ‫ج‬ُ ‫ل‬ْ ‫ا‬ ‫ن‬َ ‫ي‬ْ ‫ب‬َ ‫و‬َ ‫ه‬ُ ‫ن‬َ ‫ي‬ْ ‫ب‬َ ‫ما‬َ ‫ه‬ُ ‫ل‬َ ‫ر‬َ ‫ف‬ِ ‫غ‬ُ ‫ه‬ُ ‫ع‬َ ‫م‬َ ‫ى‬َ ‫ل‬ّ ‫ص‬َ ‫ي‬ُ “Barang siapa yang mandi kemudian menghadiri shalat Jum’at, sebelumnya ia shalat semampunya, lalu ia diam sampai khatib menyelesaikan khutbahnya, kemudian ia shalat bersamanya, maka akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at yang satu ke Jum’at berikutnya dengan ditambah tiga hari.” (HR. Muslim) Shalat ini tidak dilakukan setelah azan dikumandangkan, tetapi sebelumnya sampai khatib datang. 9. Shalat ba’diyyah Jum’at . « ‫عا‬ً ‫ب‬َ ‫ر‬ْ ‫أ‬َ ‫ها‬َ ‫د‬َ ‫ع‬ْ ‫ب‬َ ‫ل‬ّ ‫ص‬َ ‫ي‬ُ ‫ل‬ْ ‫ف‬َ ‫ة‬َ ‫ع‬َ ‫م‬ُ ‫ج‬ُ ‫ل‬ْ ‫ا‬ ‫م‬ُ ‫ك‬ُ ‫د‬ُ ‫ح‬َ ‫أ‬َ ‫لى‬ّ ‫ص‬َ ‫ذا‬َ ‫إ‬ِ » “Apabila salah seorang di antara kamu shalat Jum’at, maka kerjakanlah setelahnya empat rak’at.” (HR. Muslim) Bisa juga ia kerjakan hanya dua rak’at karena Rasulullah Saw pernah melakukannya seperti itu.
  13. 13. Dalil-Dalil Shalat Tathawwu’ 10. Shalat Istikharah (meminta pilihan) Rasulullah Saw bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu ingin melakukan suatu perbuatan, maka lakukanlah shalat dua rak’at bukan di shalat fardhu. Setelah itu ucapkanlah: ‫ر‬ُ ‫د‬ِ ‫ق‬ْ ‫ت‬َ ‫ك‬َ ‫ن‬ّ ‫إ‬ِ ‫ف‬َ ‫م‬ِ ‫ظي‬ِ ‫ع‬َ ‫ل‬ْ ‫ا‬ ‫ك‬َ ‫ل‬ِ ‫ض‬ْ ‫ف‬َ ‫ن‬ْ ‫م‬ِ ‫ك‬َ ‫ل‬ُ ‫أ‬َ ‫س‬ْ ‫أ‬َ ‫و‬َ ‫ك‬َ ‫ت‬ِ ‫ر‬َ ‫د‬ْ ‫ق‬ُ ‫ب‬ِ ‫ك‬َ ‫ر‬ُ ‫د‬ِ ‫ق‬ْ ‫ت‬َ ‫س‬ْ ‫أ‬َ ‫و‬َ ‫ك‬َ ‫م‬ِ ‫ل‬ْ ‫ع‬ِ ‫ب‬ِ ‫ك‬َ ‫ر‬ُ ‫خي‬ِ ‫ت‬َ ‫س‬ْ ‫أ‬َ ‫ني‬ّ ‫إ‬ِ ‫م‬ّ ‫ه‬ُ ‫ل‬ّ ‫ال‬ ‫ر‬ٌ ‫ي‬ْ ‫خ‬َ ‫ر‬َ ‫م‬ْ ‫ل‬َْ ‫ا‬ ‫ذا‬َ ‫ه‬َ ‫ن‬ّ ‫أ‬َ ‫م‬ُ ‫ل‬َ ‫ع‬ْ ‫ت‬َ ‫ت‬َ ‫ن‬ْ ‫ك‬ُ ‫ن‬ْ ‫إ‬ِ ‫م‬ّ ‫ه‬ُ ‫ل‬ّ ‫ال‬ ‫ب‬ِ ‫يو‬ُ ‫غ‬ُ ‫ل‬ْ ‫ا‬ ‫م‬ُ ‫ل‬ّ ‫ع‬َ ‫ت‬َ ‫ن‬ْ ‫أ‬َ ‫و‬َ ‫م‬ُ ‫ل‬َ ‫ع‬ْ ‫أ‬َ ‫ل‬َ ‫و‬َ ‫م‬ُ ‫ل‬َ ‫ع‬ْ ‫ت‬َ ‫و‬َ ‫ر‬ُ ‫د‬ِ ‫ق‬ْ ‫أ‬َ ‫ل‬َ ‫و‬َ ‫لي‬ِ ‫ه‬ُ ‫ر‬ْ ‫د‬ُ ‫ق‬ْ ‫فا‬َ ‫ه‬ِ ‫ل‬ِ ‫ج‬ِ ‫وآ‬َ ‫ري‬ِ ‫م‬ْ ‫أ‬َ ‫ل‬ِ ‫ج‬ِ ‫عا‬َ ‫ل‬َ ‫قا‬َ ‫و‬ْ ‫أ‬َ ‫ري‬ِ ‫م‬ْ ‫أ‬َ ‫ة‬ِ ‫ب‬َ ‫ق‬ِ ‫عا‬َ ‫و‬َ ‫شي‬ِ ‫عا‬َ ‫م‬َ ‫و‬َ ‫ني‬ِ ‫دي‬ِ ‫في‬ِ ‫لي‬ِ ُ‫ني‬ِ ‫دي‬ِ ‫في‬ِ ‫لي‬ِ ‫ر‬ّ ‫ش‬َ ‫ر‬َ ‫م‬ْ ‫ل‬َْ ‫ا‬ ‫ذا‬َ ‫ه‬َ ‫ن‬ّ ‫أ‬َ ‫م‬ُ ‫ل‬َ ‫ع‬ْ ‫ت‬َ ‫ت‬َ ‫ن‬ْ ُ‫ن‬ْ ‫إ‬ِ ‫و‬َ ‫ه‬ِ ‫في‬ِ ‫لي‬ِ ‫ك‬ْ ‫ر‬ِ ‫با‬َ ‫م‬ّ ‫ث‬ُ ‫لي‬ِ ‫ه‬ُ ‫ر‬ْ ‫س‬ّ ‫ي‬َ ‫و‬َ ‫ني‬ِ ‫ف‬ْ ‫ر‬ِ ‫ص‬ْ ‫وا‬َ ‫ني‬ّ ‫ع‬َ ‫ه‬ُ ‫ف‬ْ ‫ر‬ِ ‫ص‬ْ ‫فا‬َ ‫ه‬ِ ‫ل‬ِ ‫ج‬ِ ‫وآ‬َ ‫ري‬ِ ‫م‬ْ ‫أ‬َ ‫ل‬ِ ‫ج‬ِ ‫عا‬َ ‫في‬ِ ‫ل‬َ ‫قا‬َ ‫و‬ْ ‫أ‬َ ‫ري‬ِ ‫م‬ْ ‫أ‬َ ‫ة‬ِ ‫ب‬َ ‫ق‬ِ ‫عا‬َ ‫و‬َ ‫شي‬ِ ‫عا‬َ ‫م‬َ ‫و‬َ ‫ني‬ِ ‫ض‬ِ ‫ر‬ْ ‫أ‬َ ‫م‬ّ ‫ث‬ُ ‫ن‬َ ‫كا‬َ ‫ث‬ُ ‫ي‬ْ ‫ح‬َ ‫ر‬َ ‫ي‬ْ ‫خ‬َ ‫ل‬ْ ‫ا‬ ‫ي‬َ ‫ل‬ِ ‫ر‬ْ ‫د‬ُ ‫ق‬ْ ‫وا‬َ ‫ه‬ُ ‫ن‬ْ ‫ع‬َ “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan kepada-Mu, meminta upaya dengan kekuasaan-Mu. Aku meminta kepada-Mu di antara karunia-Mu yang besar. Engkau kuasa, aku tidak kuasa, Engkau Mengetahu aku tidak mengetahui. Engkau Maha Mengetahui yang ghaib. Ya Allah, jika hal ini (ia sebutkan pilihannya) baik untukku, agamaku, duniaku dan akibatnya, cepat atau lambat, maka taqdirkanlah buatku dan mudahkanlah ia, kemudian berikanlah keberkahan kepadanya. Namun, apabila hal itu buruk buatku baik untuk agamaku, duniaku dan akibatnya, cepat atau lambat, maka hindarkanlah ia dariku dan hindarkanlah aku darinya, taqdirkanlah untukku
  14. 14. Dalil-Dalil Shalat Tathawwu’ 11. Shalat gerhana ,‫ذا‬َ ‫إ‬ِ ‫ف‬َ ‫ه‬ِ ‫ت‬ِ ‫يا‬َ ‫ح‬َ ‫ل‬ِ ‫ل‬َ ‫و‬َ ‫د‬ٍ ‫ح‬َ ‫أ‬َ ‫ت‬ِ ‫و‬ْ ‫م‬َ ‫ل‬ِ ‫ن‬ِ ‫فا‬َ ‫س‬ِ ‫ك‬َ ‫ن‬ْ ‫ي‬َ ‫ل‬َ ‫ه‬ِ ‫ل‬ّ ‫ال‬َ ‫ت‬ِ ‫يا‬َ ‫آ‬ ‫ن‬ْ ‫م‬ِ ‫ن‬ِ ‫تا‬َ ‫ي‬َ ‫آ‬ ‫ر‬َ ‫م‬َ ‫ق‬َ ‫ل‬ْ ‫وا‬َ ‫س‬َ ‫م‬ْ ‫ش‬ّ ‫ال‬َ ‫ن‬ّ ‫إ‬ِ , ,‫ف‬َ ‫ش‬ِ ‫ك‬َ ‫ن‬ْ ‫ت‬َ ‫تى‬ّ ‫ح‬َ ‫لوا‬ّ ‫ص‬َ ‫و‬َ ‫ه‬َ ‫ل‬ّ ‫ال‬َ ‫عوا‬ُ ‫د‬ْ ‫فا‬َ ‫ما‬َ ‫ه‬ُ ‫مو‬ُ ‫ت‬ُ ‫ي‬ْ ‫أ‬َ ‫ر‬َ “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda- tanda kekuasaan Allah, keduanya tidaklah terjadi gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena hidupnya. Apabila kamu melihatnya berdoalah kepada Allah dan lakukanlah shalat sampai hilang.” (HR. Bukhari dan Muslim) Jumlahnya dua rak’at, dilakukan secara berjama’ah. Masing-masing rak’at dua kali ruku’ dan dua kali berdiri (pada setiap berdiri membaca Al Fatihah dan surat). Hendaknya imam mengucapkan “Ashsholatu jaami’ah” sebelum sholat dimulai. Waktu sholat gerhana ialah semenjak terjadinya gerhana sampai gerhana itu selesai. Setelah melakukan shalat gerhana, imam disunnahkan untuk berkhutbah, menasehati orang-orang, mendorong mereka untuk beristighfar dan beramal shalih.
  15. 15. Mohon MaafMohon Maaf Lahir BatinLahir Batin Supported by :

×