Presentasi Fiqh SiyasahMuamalah 12

7,772 views

Published on

Published in: Spiritual, Business
0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
7,772
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
372
Actions
Shares
0
Downloads
491
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Presentasi Fiqh SiyasahMuamalah 12

  1. 1. FIQH RIBA, RENTE DAN BANK Membahas Terminologi Riba, Dalil, Hukum Riba, Macam-macam Riba, Hikmah dari Pengharaman Riba, Hukum Bunga Bank, Perbandingan Antara Bank Konvensional dan Syariah, Perbedaan Bunga dan Bagi Hasil. Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA Presentasi Ke-12
  2. 2. Definisi dan Hukum RIBA <ul><li>Secara etimologi, riba berarti kelebihan atau tambahan. Kata Ar-Riba adalah isim maqshur, berasal dari rabaa - yarbuu , yaitu akhir kata ini ditulis dengan alif. Arti kata riba adalah ziyadah ‘tambahan’; adakalanya tambahan itu berasal dari dirinya sendiri, seperti firman Allah SWT QS. Fusshilat: 39 dan QS. Al-Nahl: 92. </li></ul><ul><li>وإذا أنزلنا عليها الماء اهتزت وربت </li></ul><ul><li>“… maka apabila Kami turunkan air di atasnya, bergerak dan (bertambah) subur…” </li></ul><ul><li>أن تكون أمة أربى من أمة </li></ul><ul><li>“… disebabkan adanya suatu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan lain…” </li></ul><ul><li>Adakalanya lagi tambahan itu berasal dari luar berupa imbalan, seperti satu dirham ditukar dengan dua dirham. </li></ul><ul><li>Ribâ adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam-meminjam secara bathil atau bertentangan dengan prinsip muamalat dalam Islam. </li></ul><ul><li>Riba, hukumnya haram dan termasuk salah satu dosa besar ( kabâir ), berdasar kitabullah, sunnah dan ijma’. QS Al-Baqarah: 278-279. QS Al-Baqarah: 275-276. </li></ul><ul><li>اجتنبوا السبع الموبقات : قالوا يا رسول الله وما هن ؟   قال : الشرك بالله   والسحر و قتل النفس التى حرم الله الا بالحق و أكل الربا   وأكل مال اليتيم   والتولى يوم الزحف   و قذف المحصنات المؤمنات الغافلات . متفق عليه </li></ul><ul><li>Nabi saw bersabda, “Jauhilah tujuh hal yang membinasakan.” Para sahabat bertanya, “Apa itu, ya Rasulullah?” Jawab Beliau, “(Pertama) melakukan kemusyrikan kepada Allah, (kedua) sihir, (ketiga) membunuh jiwa yang telah haramkan kecuali dengan cara yang haq, (keempat) makan riba, (kelima) makan harta anak yatim, (keenam) melarikan diri pada hari pertemuan dua pasukan, dan (ketujuh) menuduh berzina perempuan baik-baik yang tidak tahu menahu tentang urusan ini dan beriman kepada Allah.” </li></ul><ul><li>لعن   رسول الله   صلعم   أكل الربا ومؤكله وكاتبه   وشاهديه و قال : سواء . رواه   مسلم </li></ul><ul><li> Rasulullah saw melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, dua saksinya dan penulisnya.” Dan Beliau bersabda, “Mereka semua sama.” </li></ul>
  3. 3. Hikmah Pengharaman Riba <ul><li>Meskipun praktik riba memberi “keuntungan pasti” bagi pihak tertentu, namun akibat negatif yang ditimbulkan justru lebih luas. Islam bersikap sangat keras dalam persoalan riba semata-mata demi melindungi kemaslahatan manusia, baik dari segi akhlak, sosial masyarakat maupun perekonomiannya. </li></ul><ul><li>Hikmah pengharaman riba : 1 . Riba berarti perbuatan mengambil harta orang lain tanpa hak. Nabi SAW bersabda: &quot;Bahwa kehormatan harta manusia, sama dengan kehormatan darahnya.“ Oleh karena itu mengambil harta orang lain tanpa hak, sudah pasti haramnya. 2 . Riba dapat melemahkan kreatifitas manusia untuk berusaha atau bekerja. Sebab kalau si pemilik uang yakin, bahwa dengan melalui riba dia akan beroleh tambahan uang, baik kontan ataupun berjangka, maka dia akan memudahkan cara mencari penghidupan, tidak mau menanggung beratnya usaha, dagang dan pekerjaan-pekerjaan yang berat. Hal semacam itu akan berakibat terputusnya bahan keperluan masyarakat. Satu hal yang tidak dapat disangkal lagi bahwa kemaslahatan dunia 100% ditentukan oleh jalannya perdagangan, pekerjaan, perusahaan dan pembangunan.(hikmah ini pasti dapat diterima, dipandang dari segi perekonomian). 3 . Riba menghilangkan nilai kebaikan dan keadilan dalam hutang piutang. Keharaman riba membuat jiwa manusia menjadi suci dari sifat lintah darat. Kalau riba diharamkan, seseorang akan merasa senang meminjamkan uang satu dirham dan kembalinya satu dirham juga. Tetapi kalau riba itu dihalalkan, maka terputuslah perasaan belas-kasih dan kebaikan. (ini hikmah dari segi etika/akhlak). 4 . Pada umumnya pemberi piutang adalah orang yang kaya, sedang peminjam adalah orang yang tidak mampu. Maka pendapat yang membolehkan riba, berarti memberikan jalan kepada orang kaya untuk mengambil harta orang miskin yang lemah sebagai tambahan. Padahal tidak layak berbuat demikian sebagai orang yang memperoleh rahmat Allah. (ini ditinjau dari segi sosial). </li></ul>
  4. 4. Proses Pengharaman Riba <ul><li>Allah Swt. menggunakan metode tadarruj fi al-tasyrî’ (proses bertahap dalam penetapan hukum) untuk menjelaskan efek buruk riba hingga pengharamannya. Pada tahap pertama , Al-Quran menjelaskan urgensi menjauhi riba ( Surat al-Rủm: 39 ). Tahap Kedua, Al-Quran Surat al-Nisâ` ayat 160-161 menceritakan tentang perilaku kaum Yahudi yang memakan riba sehingga dihukum oleh Allah Swt. Ayat yang diturunkan di Madinah ini merupakan sejarah yang menjadi peringatan bagi pelaku riba. Tahap Ketiga, Al-Quran surat Âli ‘Imrân ayat 130 mulai mengharamkan jenis riba yang bersifat fâ h isy, yaitu riba jahiliyah yang berlipat ganda. Tahap Keempat, Al-Quran dalam surat al-Baqarah ayat 278-279 menegaskan kembali pengharaman segala bentuk riba. </li></ul>
  5. 5. Macam-macam RIBA <ul><li>Secara garis besar, riba dikelompokkan menjadi dua. Masing-masing adalah riba utang-piutang dan riba jual beli . Riba utang-piutang terbagi lagi menjadi riba qardh dan riba jahiliyah . Sedangkan riba jual beli terbagi lagi menjadi riba fadhl dan riba nasî`ah . Riba Qardh yaitu suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berutang. Riba Jâhiliyyah yaitu utang dibayar lebih dari pokoknya karena si peminjam tidak mampu membayar utangnya pada waktu yang ditetapkan. Riba Fadhl ialah pertukaran antar barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan termasuk dalam jenis barang ribawi ( meliputi emas dan perak, baik itu dalam bentuk uang maupun dalam bentuk lainnya; serta bahan makanan pokok seperti beras, gandum, jagung, dan bahan makanan tambahan, seperti sayur-sayuran, buah-buahan). Riba Nasî`ah ialah penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba dalam nasî`ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dan yang diserahkan kemudian. </li></ul><ul><li>Ada beragam kriteria riba yang berkembang di masyarakat. Sebagian berpandangan bahwa yang dimaksud riba adalah dengan kriteria berlipat ganda seperti yang dinukil dalam Al-Quran. Konsekuensinya jika yang diminta hanya kelebihan kecil dari pinjaman yang disalurkan berarti belum masuk kategori riba. Kelompok ini membedakan istilah riba dengan usuri . Ada pula kriteria penggolongan riba berdasarkan tujuan peminjaman. Sebagian masyarakat menganggap, bila peminjaman itu untuk tujuan konsumtif maka pengenaan bunga bisa dikategorikan riba. Namun bila peminjamannya untuk tujuan produktif, pengenaan bunga dikategorikan bukan riba. Sesungguhnya pendapat semacam ini tidak ada dalilnya dalam Islam. </li></ul><ul><li>Untuk pinjaman produktif, terdapat dua kemungkinan: memperoleh keuntungan atau menderita kerugian. Jika dalam menjalankan bisnisnya peminjam mengalami kerugian atau mungkin sejumlah keuntungan tertentu, dasar apa yang dapat membenarkan kreditor menarik keuntungan tetap secara bulanan atau tahunan dari peminjam? Kreditor bisa saja menginvestasikan modalnya pada usaha-usaha yang baik agar ia menuai keuntungan. Bila itu yang menjadi tujuan, cara yang wajar dan praktis baginya adalah dengan kerjasama usaha dan berbagi keuntungan, bukan meminjamkan modal dengan menarik keuntungan tanpa menghiraukan apa yang terjadi di sektor riil. </li></ul>
  6. 6. Hukum Bunga Bank <ul><li>KEPUTUSAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 1 Tahun 2004 Tentang BUNGA (INTEREST/FAIDAH) </li></ul><ul><li>Pertama : Pengertian Bunga (Interest) dan Riba </li></ul><ul><ul><li>Bunga (Interest/fa’idah) adalah tambahan yang dikenakan dalam transaksi pinjaman uang (al-qardh) yang di perhitungkan dari pokok pinjaman tanpa mempertimbangkan pemanfaatan/hasil pokok tersebut,berdasarkan tempo waktu,diperhitungkan secara pasti di muka,dan pada umumnya berdasarkan persentase. </li></ul></ul><ul><ul><li>Riba adalah tambahan (ziyadah) tanpa imbalan yg terjadi karena penagguhan dalam pembayaran yang diperjanjikan sebelumnya, dan inilah yang disebut Riba Nasi’ah. </li></ul></ul><ul><li>Kedua : Hukum Bunga (interest) </li></ul><ul><ul><li>Praktek pembungaan uang saat ini telah memenuhi kriteria riba yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW, yakni Riba Nasi’ah. Dengan demikian, praktek pembungaan uang ini termasuk salah satu bentuk Riba, dan Riba Haram Hukumnya. </li></ul></ul><ul><ul><li>Praktek Penggunaan tersebut hukumnya adalah haram, baik di lakukan oleh Bank, Asuransi, Pasar Modal, Pegadaian, Koperasi, dan Lembaga Keuangan lainnya maupun dilakukan oleh individu. </li></ul></ul><ul><li>Ketiga : Bermu’amalah dengan lembaga keuangan konvensional </li></ul><ul><ul><li>Untuk wilayah yang sudah ada kantor/jaringan lembaga keuangan Syari’ah dan mudah dijangkau, tidak dibolehkan melakukan transaksi yang didasarkan kepada perhitungan bunga. </li></ul></ul><ul><ul><li>Untuk wilayah yang belum ada kantor/jaringan lembaga keuangan Syari’ah, diperbolehkan melakukan kegiatan transaksi di lembaga keuangan konvensional berdasarkan prinsip dharurat/hajat. </li></ul></ul>
  7. 7. Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional <ul><li>Bank atau perbankan adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang dengan tujuan memenuhi kebutuhan kredit dengan modal sendiri atau orang lain. </li></ul>1. Melakukan investasi yang halal dan haram. 2. Memakai perangkat bunga. 3. Profit oriented 4. Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan kreditur-debitur. 5. Tidak terdapat dewan sejenis (DPS). 1. Melakukan investasi-investasi yang halal saja. 2. Berdasarkan prinsip bagi hasil, jual beli, atau sewa. 3. Berorientasi pada keuntungan (profit oriented) dan kemakmuran serta kebahagian dunia akhirat ( falah ) 4. Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan kemitraan. 5. Penghimpunan dan penyaluran dana harus sesuai dengan fatwa Dewan Pengawas Syariah (DPS) Bank Konvensional Bank syariah
  8. 8. Perbedaan Bunga dan Bagi Hasil <ul><li>BUNGA </li></ul><ul><li>Penentuan bunga dibuat pada waktu akad dgn asumsi harus selalu untung. </li></ul><ul><li>Besarnya persentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yg dipinjamkan. </li></ul><ul><li>Pembayaran bunga tetap seperti yg dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yg dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi. </li></ul><ul><li>Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang ‘booming’ </li></ul><ul><li>Eksistensi bunga diragukan --bahkan dilarang-- oleh semua agama termasuk Islam. </li></ul><ul><li>BAGI HASIL </li></ul><ul><li>Penentuan besarnya rasio/nisbah bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi. </li></ul><ul><li>Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yg diperoleh. </li></ul><ul><li>Bagi hasil tergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan. </li></ul><ul><li>Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan. </li></ul><ul><li>Tidak ada yang meragukan kebsahan bagi hasil. </li></ul>
  9. 9. islamic Banking Captured from
  10. 10. Instrumen Keuangan Syari’ah Captured from
  11. 11. Produk-produk Bank Syariah (BS) <ul><li>Produk bank syariah meliputi: Produk di sisi pasiva – simpanan, Produk di sisi aktiva – pembiayaan, dan Produk Jasa. </li></ul><ul><li>PRODUK SIMPANAN </li></ul><ul><li>1. Giro wadi’ah. Wadiah adalah prinsip titipan . Ada dua macam wadiah, yaitu: </li></ul><ul><li>a. wadi’ah yad amanah , di mana pihak yang dititipi tidak boleh menggunakan barang yang dititipkan untuk kepentingan usahanya, dan harus mengembalikan apabila diminta oleh pemiliknya sewaktu-waktu. </li></ul><ul><li>b. wadi’ah yad dhamanah , di mana di mana pihak yang dititipi harus mengembalikan apabila diminta oleh pemiliknya sewaktu-waktu dan boleh menggunakan barang yang dititipkan untuk kepentingan usahanya. Atas penggunaan barang tersebut, apabila mendapatkan keuntungan, pihak yang dititipi boleh memberikan bonus kepada pemilik barang tapi tidak dipersyaratkan di awal akad. </li></ul><ul><li>Giro wadi’ah menggunakan prinsip wadiah yad dhamanah , di mana pihak bank adalah pihak yang dititipi dan nasabah adalah pemilik dana. Pihak bank boleh menggunakan dana yang dititipkan untuk kepentingan usahanya. Apabila untung, dapat memberikan bonus kepada pemilik dana. Sehingga bonus yang diterima pemegang giro wadiah mutlak kewenangan pihak bank. Selain itu, ketentuan giro wadiah seperti halnya giro konvensional. </li></ul><ul><li>2. Tabungan wadi’ah. Menggunakan prinsip wadiah yad dhamanah. </li></ul><ul><li>3. Tabungan mudharabah. Merupakan suatu investasi tidak terikat (ITT) nasabah kepada bank syariah menggunakan skema mudharabah mutlaqah, yaitu nasabah tidak memberikan batasan atau syarat kepada pengelola (bank syariah) mengenai bagaimana dananya harus dikelola atau dalam wilayah usaha tertentu . </li></ul><ul><li>4. Deposito mudharabah. Menggunakan prinsip mudharabah mutlaqah, bukan muqayyadah. </li></ul>
  12. 12. <ul><li>PRODUK PEMBIAYAAN </li></ul><ul><li>1. Pembiayaan berdasar prinsip bagi hasil musyarakah. Dalam pembiayaan musyarakah, nasabah dan bank sama-sama menyetorkan modal untuk membuat usaha. Tetapi, bank tidak ikut serta dalam kepengelolaan usaha tersebut. </li></ul><ul><li>Mengenai bagi hasil, ada dua metode yang dapat digunakan, yaitu profit sharing (bagi laba) dan revenue sharing (bagi pendapatan). Jika BS memakai metode revenue sharing, berarti yang dibagi hasil antara BS dan nasabah pembiayaan adalah pendapatan tanpa dikurangi dengan biaya-biaya. Sedangkan apabila menggunakan metode profit sharing, maka yang dibagi hasil antara BS dan nasabah pembiayaan adalah pendapatan setelah dikurangi biaya-biaya (laba). </li></ul><ul><li>2. Pembiayaan berdasar prinsip bagi hasil mudharabah. BS sebagai pemilik modal 100% dan nasabah sebagai pengelola 100%. Keduanya sepakat untuk bekerja sama membuat suatu usaha. Jika terdapat keuntungan, maka dibagi berdua sesuai nisbah. Jika terjadi kerugian akibat kesalahan pengelola, maka pengelola sendiri yang harus menanggungnya. Tapi jika kesalahan itu bukan karena kesalahan pengelola, maka pemilik dana (BS) yang harus menanggungnya. </li></ul><ul><li>3. Pembiayaan berdasar prinsip jual beli murabahah. Murabahah ialah menjual barang sebesar harga pokok ditambah marjin keuntungan, dimana pembayarannya dapat dilakukan secara tunai atau angsuran. Pembeli dan penjual harus sama-sama tahu mengenai harga pokok dan menyepakati marjin. Sekali harga disepakati, harga tersebut yang berlaku sampai akad berakhir, artinya, harga kesepakatan tidak akan berubah sampai akad selesai. Dalam produk ini, BS bertindak sebagai penjual. </li></ul><ul><li>4. Pembiayaan berdasar prinsip jual beli salam. Yaitu prinsip jual beli, dimana pembayaran dilakukan di muka, dan barang diserahkan dikemudian hari. Biasanya diaplikasikan dalam sektor pertanian. Dalam salam, spesifikasi barang, kuantifikasi dan kualifikasi barang diketahui dan diukur secara jelas dan spesifik. </li></ul><ul><li>5. Pembiayaan berdasar prinsip jual beli istishna’. Biasanya ini diaplikasikan dalam sektor manufaktur. Penjual harus terlebih dulu membuat barang yang diinginkan pembeli. Cara pembayaran bisa di muka (seperti salam), bisa diangsur atau ditangguhkan sampai waktu yang ditentukan. Seperti salam, istishna juga dapat dilakukan secara paralel. Yaitu antara nasabah pembuat dengan BS, di sini BS bertindak sebagai pembeli. Dan antara BS dengan nasabah pembeli, di sini BS bertindak sebagai penjual. </li></ul><ul><li>6. Pembiayaan berdasar prinsip sewa ijarah. Ijarah adalah prinsip sewa- menyewa barang, dalam jangka waktu tertentu barang harus dikembalikan kepada pemilik dalam keadaan seperti semula. Ada pula ijarah muntahiya bittamlik, yaitu akad sewa yang pada akhir masa sewa, terjadi perpindahan kepemilikan barang. Barang menjadi milik penyewa. Perpindahan ini, dapat dikarenakan hibah atau beli (sewa-beli). </li></ul>
  13. 13. Skema Salam dan Murabahah BANK (Penjual/Bâi’ dan Muslim) 1b. Negosiasi & Akad PEMBELI (Nasabah 2) (Musytari) 1a . Negosiasi & Akad Salam 4. Bayar kewajiban 2. Bayar 3b. Kirim Dokumen PETANI (Nasabah 1) (Muslam ilaih) BARANG PESANAN (Muslam Fihi) 3a. Kirim Barang dan Dokumen <ul><li>Teknis Perbankan: </li></ul><ul><li>Bank membeli secara salam. </li></ul><ul><li>Bank menjual secara murabahah. </li></ul><ul><li>1a. Negosiasi & akad salam antara Bank & Petani. </li></ul><ul><li>1b. Negosiasi & akad murabahah antara bank dan Pembeli. </li></ul><ul><li>2. Bank melakukan pembayaran ke petani. </li></ul><ul><li>3a. Petani kirim barang & dokumen kepada pembeli. </li></ul><ul><li>3b. Petani juga kirim dokumen kepada bank. </li></ul><ul><li>4. Pembeli membayar kewajibannya kepada bank. </li></ul>
  14. 14. Aplikasi Istishna ’ Paralel <ul><li>Istishna’ merupakan fasilitas penyaluran dana untuk pengadaan objek atau barang investasi yang diberikan berdasarkan pesanan nasabah. Pembiayaan ini memerlukan proses produksi/ pembangunan/renovasi. Pihak produsen/pemasok/kontraktor bisa ditunjuk oleh bank atau nasabah sendiri. </li></ul><ul><li>Bank menjual barang yang dipesan nasabah sebesar harga pokok plus margin keuntungan. Penyerahan barang kepada nasabah dilakukan setelah barang selesai atau sesudah melewati masa proses produksi/pembangunan/ renovasi. Setelah memenuhi prosedur, persyaratan seperti uang muka dan kelayakan mengenai kemampuan angsuran dan lainnya, nasabah sebagai pembeli dapat memanfaatkan fasilitas angsuran untuk jangka waktu tertentu. </li></ul><ul><li>Keunggulan: Jumlah angsuran tetap tidak berubah, walaupun terjadi fluktuatif suku bunga. Kewajiban angsuran dapat dilakukan setelah masa proses produksi. </li></ul>BANK (Shani’ & Mustashni’) 2a. Akad istishna’ I PEMESAN (Nasabah) (Mustashni’) 2b. Akad istishna’ II 1a. Pesan barang sesuai kriteria 1b. Minta membuatkan barang 4. Membuat Barang PEMASOK (Shani’) BARANG PESANAN (Mashnu’) 5b. Kirim Dokumen 5a. Kirim Mashnu’ yang telah selesai dibuat 3a. Bayar 3b. Bayar 8
  15. 15. Perbankan Syariah Designed by
  16. 19. Al-Shulhu (Perdamaian) <ul><li>Secara bahasa الصلح berarti قطع النزاع artinya memutus perselisihan </li></ul><ul><li>Secara istilah syara’, dalam kitab Kifayat al-Akhyar </li></ul><ul><li>العقد الذي ينقطع به خصومة المتخاصمين </li></ul><ul><li>Akad yang memutuskan perselisihan dua pihak yang bertengkar (berselisih). </li></ul><ul><li>عقد يتفق فيه المتنازعان في حق على مايرتفع به النزاع </li></ul><ul><li>Akad yang disepakati dua orang yang bertengkar dalam hak untuk melaksanakan sesuatu, dengan akad itu dapat hilang perselisihan. </li></ul><ul><li>Kesimpulan: al-Shulh adalah akad yang bertujuan untuk mengakhiri perselisihan atau persengketaan. </li></ul><ul><li>Dasar Hukum al-Shulh: QS. Al-Hujurat: 9, al-Nisa’: 114 dan 128. </li></ul><ul><li>- وإن طائفتان من المؤمنين اقتتلو فأصلحو بينهما </li></ul><ul><li>- لاخير في كثير من نجواهم إلا من أمر بصدقة او معروف او إصلاح بين الناس </li></ul><ul><li>- والصلح خير </li></ul><ul><li>Hadis riwayat Ibnu Hibban dan Tirmizi dari Umar bin ‘Auf al-Muzanni </li></ul><ul><li>الصلح جائز بين المسلمين إلا صلحا حرم حلالا او أحل حراما والمسلمون على شروطهم إلا شرطا حرم حلالا او أحل حراما </li></ul><ul><li>Perdamaian dibolehkan di kalangan muslimin, kecuali perdamaian yang mengharamkan sesuatu yang halal atau menghalalkan yang haram. Dan orang-orang Islam (yang mengadakan perdamaian itu) bergantung pada syarat-syarat mereka (yang telah disepakati), selain syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. </li></ul>
  17. 20. Rukun dan Syarat Shulhu <ul><li>RUKUN SHULHU: </li></ul><ul><li>Mushalih , yaitu dua belah pihak yang melakukan akad shulhu untuk mengakhiri pertengkaran atau perselisihan. </li></ul><ul><li>Mushalih ‘anhu , yaitu persoalan yang diperselisihkan. </li></ul><ul><li>Mushalih bih , sesuatu yang dilakukan oleh salah satu pihak terhadap lawannya untuk memutuskan perselisihan. Disebut badal al-shulh . </li></ul><ul><li>Shighat ijab qabul. Jika akad telah diikrarkan, maka konsekuensinya kedua belah pihak harus melaksanakannya. Masing-masing pihak tidak dibenarkan mengundurkan diri dengan jalan memfasakhnya, kecuali disepakati oleh kedua belah pihak. </li></ul><ul><li>SYARAT-SYARAT SHULHU: </li></ul><ul><li>Syarat yang berhubungan dengan mushalih (orang yang berdamai) yaitu disyaratkan mereka adalah orang yang tindakannya dinyatakan sah secara hukum (bukan anak kecil, orang gila, dsb.) </li></ul><ul><li>Syarat yg berhubungan dengan mushalih bih: (a) berbentuk harta yang dapat dinilai, dapat diserahterimakan, berguna. (b) Diketahui secara jelas sehingga tidak ada kesamaran yang menimbulkan perselisihan. </li></ul><ul><li>Syarat yang berhubungan dengan mushalih ‘anhu, yaitu sesuatu yang diperkarakan termasuk hak manusia yang boleh di ‘iwadh-kan (diganti). Jika berkaitan dengan hak-hak Allah maka tidak dapat bershulhu. </li></ul>
  18. 21. Macam dan Hikmah Shulhu <ul><li>Menurut Syafi’iyah, shulhu (perdamaian) terbagi menjadi empat: </li></ul><ul><li>Perdamaian antara muslim dengan kafir, yaitu membuat perjanjian gencatan senjata dalam masa tertentu. </li></ul><ul><li>Perdamaian antara kepala negara dengan pemberontak </li></ul><ul><li>Perdamaian antara suami isteri, yaitu membuat perjanjian dan aturan tentang pembagian nafkah, masalah durhaka, serta dalam masalah menyerahkan haknya kepada suami manakala terjadi perselisihan. </li></ul><ul><li>Perdamaian dalam muamalat, seperti hutang-piutang. </li></ul><ul><li>Dilihat dari cara melakukannya, shulhu terbagi tiga: </li></ul><ul><li>Shulhu dengan ikrar, yaitu shulhu yang dicapai melalui ikrar. </li></ul><ul><li>Shulhu dengan ingkar, perdamaian yang dicapai melalui cara menolak. </li></ul><ul><li>Shulhu dengan sukut (diam), perdamaian yang dicapai dengan diam. </li></ul><ul><li>Dilihat dari segi keabsahannya, shulhu dapat dibagi dua: </li></ul><ul><li>Shulhu Ibra’, yaitu melepaskan sebagian dari apa yang menjadi haknya. Shulhu Ibra’ ini tidak terikat oleh syarat. </li></ul><ul><li>Shulhu muawadah, yaitu berpalingnya seseorang dari haknya kepada orang lain. Hukum yang berlaku pada shulhu ini adalah hukum jual beli. </li></ul><ul><li>HIKMAH SHULHU: Shulhu merupakan cara yang terpuji untuk menyelesaikan permasalahan. Allah dan rasulNya memerintahkan untuk berdamai jika terjadi perselisihan. Melalui perdamaian semua pihak akan merasa puas, hilang rasa dendam dan sikap egois. Dalam perdamaian tidak ada istilah kalah dan menang. Semuanya menjadi pihak yang berpegang kepada kebenaran yang ditetapkan oleh Allah dan Rasulnya. Dengan Shulhu akan terjaga rasa kasih sayang, menjauhkan perpecahan. </li></ul>
  19. 22. Selamat Tahun Baru Hijriyah 1431 H. Dan Selamat Ujian, Semoga Sukses.
  20. 23. Next Week <ul><li>Penyerahan Softcopy Kumpulan Materi Makalah dan Presentasi Fiqh Siyasah dan Muamalah dalam format CD (Insya Allah) </li></ul>

×