fiqh muamalah kontemporer (wadi'ah rahn qardh)

12,441 views

Published on

Published in: Technology, Travel
6 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
12,441
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
421
Actions
Shares
0
Downloads
553
Comments
6
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

fiqh muamalah kontemporer (wadi'ah rahn qardh)

  1. 1. WADI’AH,WADI’AH, RAHNRAHN,, QARDHQARDH Membahas Terminologi, Landasan Hukum, Rukun dan Syarat, serta hukum dan aplikasi wadi’ah, rahn dan qardh Oleh: Marhamah Saleh, Lc. MAOleh: Marhamah Saleh, Lc. MA Presentasi Ke-Presentasi Ke-55
  2. 2. WADI’AH Secara bahasa, wadī’ah: ma wudi’a ‘inda ghairi malikihi liyahfadhahu (sesuatu yang ditempatkan bukan pada pemiliknya untuk dijaga). Secara terminologi, menurut ulama Hanafiah, wadi’ah ialah “Mengikutsertakan orang lain dalam memelihara harta, baik dengan ungkapan yang jelas maupun melalui isyarat.” Sedangkan menurut ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah, wadi’ah adalah mewakilkan orang lain untuk memelihara harta tertentu dengan cara tertentu. Intinya, al-wadi’ah adalah penitipan, yaitu akad seseorang kepada yang lain dengan menitipkan suatu benda untuk dijaga secara layak. Jika terjadi kerusakan pada benda titipan, padahal benda tsb sudah dijaga sebagaimana layaknya, maka penerima titipan tidak wajib menggantikannya, tetapi bila kerusakan itu disebabkan oleh kelalaiannya, maka ia wajib menggantinya.
  3. 3. Dasar Hukum Wadi’ah QS. Al-Baqarah: 283. ‫بر ربه‬‫ل‬‫بر ا‬‫ق‬‫بر وليت‬‫ه‬‫بر أمانت‬‫ن‬‫بر اؤتم‬‫ى‬‫بر الذ‬‫د‬‫بر فليؤ‬‫ا‬‫بر بعض‬‫م‬‫بر بعضك‬‫ن‬‫بر أم‬‫ن‬ْ ‫فإ‬ Jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya, dan bertaqwalah kepada Allah sebagai Tuhannya. QS. Al-Nisa’: 58. ‫بر أهلها‬‫ى‬‫بر إل‬‫ت‬‫بر المانا‬‫ا‬‫بر تؤدو‬‫ن‬‫بر ا‬‫م‬‫بر يأمرك‬‫ل‬‫بر ا‬‫ن‬‫إ‬ HR. Abu Dawud, Turmudzi dan al-Hakim: ‫بر خانك‬‫ن‬‫بر م‬‫ن‬‫بر تخ‬‫ل‬‫بر و‬‫ك‬‫بر ائتمن‬‫ن‬‫بر م‬‫ى‬‫بر إل‬‫ة‬‫بر المان‬‫د‬ِ ‫أ‬ Serahkanlah amanah orang yang mempercayai engkau, dan jangan kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu Jadi, wadi’ah merupakan amanah bagi orang yang menerima titipan, dan ia wajib mengembalikannya pada waktu pemilik meminta kembali. Orang yang menerima barang titipan tidak berkewajiban menjamin, kecuali bila ia tidak melakukan kerja sebagaimana mestinya. HR. Daruquthni ‫بر عليه‬‫ن‬‫بر ضما‬‫ل‬‫بر ف‬‫ة‬‫بر وديع‬‫ع‬‫بر أود‬‫ن‬‫م‬
  4. 4. Rukun dan Syarat Wadi’ah Menurut Hanafiah, rukun wadi’ah hanya satu, yaitu ijab dan qabul, sedangkan yang lainnya termasuk syarat, bukan rukun. Tidak sah apabila yang menitipkan dan yang menerima benda titipan adalah orang gila atau anak yang belum dewasa (shabiy) Menurut jumhur ulama, rukun wadi’ah ada 3, yaitu: 1. Barang yang dititipkan, syaratnya: benda itu merupakan sesuatu yang dapat dimiliki. 2. Orang yang menitipkan dan yang menerima titipan (orang yang berakad), syaratnya: sudah baligh, berakal dan syarat- syarat lain sesuai syarat berwakil. 3. Shighat ijab dan qabul, syaratnya: dapat dimengerti kedua belah pihak, baik secara sharih (jelas) maupun kinayah (samar).
  5. 5. Jenis-jenis Wadi’ah Wadi’ah yad al-amanah, yaitu titipan yang bersifat amanah belaka. Imbalannya hanya mengharap ridha Allah Swt. Dalam kondisi seperti ini tidak ada kewajiban bagi orang yang dititipi untuk menanggung kerugian jika barang titipan tersebut rusak, kecuali ada unsur kesengajaan atau karena kelalaian. Wadi’ah yad al-dhamānah, yaitu akad titipan dimana pihak yang dititipi harus menaggung resiko kerugian. Konsep modifikasi inilah yang dikembangkan oleh perbankan syariah. Bank sebagai penerima simpanan dapat memanfaatkan wadi’ah untuk tujuan: current account (giro) dan saving account (tabungan berjangka). Konsekuensinya, semua keuntungan yang dihasilkan dari dana titipan tsb menjadi milik bank (demikian juga bank menjadi penanggung seluruh kemungkinan kerugian). Sebagai imbalan, si penyimpan mendapat jaminan keamanan terhadap hartanya, juga fasilitas giro lainnya. Bank juga dapat memberikan bonus, meskipun tidak ditetapkan dalam nominal atau persentase secara advance (dimuka).
  6. 6. BANK MUSTAWDA’ (Penyimpan) 1. Titip Dana MUWADDI’ (Nasabah Penitip) USERS OF FUND (Dunia Usaha) 2. Pemanfaatan 3. Bagi Hasil 4. Beri Bonus
  7. 7. Rahn (Gadai) Secara etimologi, al-rahn berarti al-tsubut wa al-dawam, artinya tetap dan kekal. Atau al-habsu wa al-luzumu, artinya pengekangan dan keharusan. Bisa pula berarti jaminan. Secara terminologi, menurut ulama Malikiyah ‫لمزم‬ ‫دين‬ ‫في‬ ‫به‬ ‫توثقا‬ ‫مالكه‬ ‫من‬ ‫يؤخذ‬ ‫متمول‬ ‫شيئ‬ Harta yang dijadikan pemiliknya sebagai jaminan utang yang bersifat mengikat. Menurut ulama Syafi’iyah dan Hanabilah: ‫وفائه‬ ‫تعذر‬ ‫عند‬ ‫منها‬ ‫يستوفي‬ ‫بدين‬ ‫وثيقة‬ ‫عين‬ ‫جعل‬ Menjadikan materi (barang) sebagai jaminan utang, yang dapay dijadikan pembayar utang jika orang yang berutang tidak bisa membayar utangnya. Hukum meminta jaminan itu mubah. Dasar Hukum Rahn: QS. Al-Baqarah: 283. ‫مقبوضة‬ ‫فرهان‬ ‫كاتبا‬ ‫تجدو‬ ‫ولم‬ ‫سفر‬ ‫على‬ ‫كنتم‬ ‫وان‬ Apabila kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai), sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). ‫ومسلم‬ ‫البخاري‬ ‫)رواه‬ ‫حديد‬ ‫من‬ ‫درعا‬ ‫رهنه‬ ‫طعاما‬ ‫يهودي‬ ‫من‬ ‫اشترى‬ ‫م‬ ‫ص‬ ‫ال‬ ‫رسول‬ ‫أن‬) Rasulullah Saw membeli makanan dari seorang Yahudi dengan menjadikan baju besinya sebagai barang jaminan.
  8. 8. Rukun dan Syarat Rahn 1. Orang yang berakad rahn, yaitu al-Rahin (orang yang menggadaikan) dan al-Murtahin (orang yang menerima gadai). Syaratnya cakap bertindak hukum, baligh dan berakal sehat. 2. Sighat (lafaz ijab dan qabul). Lafaz dalam sighat tidak boleh dikaitkan oleh syarat tertentu. 3. Utang (al-marhun bih). Syarat: (a) Merupakan hak yang wajib dikembalikan kepada pemberi utang. (b) Utang boleh dilunasi dengan jaminan. (c) Utang itu jelas dan tertentu. 4. Harta yang dijadikan jaminan (al-marhun). Syarat: (a) barang jaminan itu boleh dijual dan nilainya seimbang dengan utang. (b) barang jaminan itu berharga dan boleh dimanfaatkan. (c) barang jaminan itu jelas dan tertentu. (d) barang jaminan itu milik sah orang yang berutang. (e) barang jaminan itu tidak terkait dengan hak orang lain. (f) barang jaminan itu merupakan harta utuh. (g) barang jaminan itu boleh diserahkan baik materinya maupun manfaatnya. Sedangkan ulama Hanafiah berpendapat bahwa rukun rahn hanya ijab dan qabul. Disamping itu, untuk sempurna dan mengikatnya akad rahn, maka diperlukan adanya penguasaan barang oleh pemberi utang. Sedangkan lainnya menurut Hanafiah termasuk syarat, bukan rukun.
  9. 9. Hukum-hukum Rahn Pemanfaatan barang gadai oleh al-rahin menurut jumhur ulama selain Syafi’iyah melarang al-Rahin untuk memanfaatkan barang gadai atau jaminan. Sedangkan ulama Syafi’iyah membolehkannya sejauh tidak memudharatkan al-murtahin. Jumhur ulama selain Hanabilah juga berpendapat bahwa murtahin tidak boleh memanfaatkan barang gadai, kecuali bila rahin tidak mau membiayai barang gadai tsb. Maka boleh mengambil manfaat sekedar mengganti ongkos pembiayaan. Menurut ulama Hanabilah, murtahin boleh memanfaatkan barang gadai jika berupa kendaraan atau hewan, seperti boleh mengendarainya atau mengambil susunya sebagai pengganti pembiayaan. Menurut Syafi’iyah, bila barang gadai (marhun) hilang dibawah penguasaan murtahin, maka murtahin tidak wajib menggantinya, kecuali bila rusak atau hilangnya itu karena kelalaian murtahin. Berbeda dengan Hanafiah yang menyatakan bahwa murtahin yang memegang marhun menanggung resiko kerusakan atau kehilangan marhun, baik karena kelalaian maupun tidak. Perjanjian pada gadai (rahn) pada dasarnya adalah akad utang-piutang, hanya saja dalam gadai ada jaminannya. Apakah dalam gadai terdapat unsur riba? Bisa riba jika ada tiga kemungkinan: 1. Apabila dalam akad gadai ditentukan bahwa rahin (penggadai) harus memberikan tambahan kepada murtahin ketika membayar utangnya. 2. Apabila akad gadai ditentukan syarat-syarat, kemudian syarat tersebut dilaksanakan. 3. Apabila rahin tidak mampu membayar utangnya hingga waktu yang ditentukan, kemudian murtahin menjual marhun dengan tidak memberikan kelebihan harga marhun kepada rahin. Padahal utang rahin lebih kecil nilainya dari marhun.
  10. 10. QARDH (Pinjaman) Yaitu menghutangkan harta kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan, untuk dikembalikan dengan pengganti yang sama dan dapat ditagih atau diminta kembali kapan saja dikehendaki. Akad qardh adalah akad tolong-menolong, tidak diperkenankan mengambil keuntungan dari akad tsb. Qardh yang mensyaratkan manfaat tertentu bagi pemilik pinjaman adalah diharamkan. Kecuali jika peminjam memberikan manfaat tambahan tanpa dipersyaratkan di awal, maka itu dianggap sebagai hadiah. Qardh juga tidak boleh menjadi syarat akad lain seperti jual beli. Misal, seorang pedagang meminjamkan motor dengan syarat si peminjam harus belanja di tokonya.
  11. 11. Dasar Hukum Qardh QS. Al-Baqarah: 245 ‫كثيرة‬ ‫أضعافا‬ ‫له‬ ‫فيضاعفه‬ ‫حسنا‬ ‫قرضا‬ ‫ال‬ ‫يقرض‬ ‫الذي‬ ‫ذا‬ ‫من‬ Barangsiapa yang mau memberikan pinjaman kepada Allah berupa pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.
  12. 12. Rukun dan Syarat Qardh Rukun Qardh ada 4: 1. Muqridh, orang yang mempunyai barang untuk dihutangkan. 2. Muqtaridh, orang yang mempunyai hutang 3. Muqtaradh, obyek yang dihutangkan 4. Sighat akad (ijab dan qabul) SYARAT QARDH: Syarat bagi muqridh dan muqtaridh adalah ahliyatu al-tabarru’, orang yang mampu mengelola hartanya sendiri secara mutlak dan bertanggung jawab. Jadi anak kecil dan orang gila tidak masuk kategori ini. Selain itu juga disyaratkan tidak ada paksaan Syarat muqtaradh adalah barang yang bermanfaat, bernilai dan dapat dipergunakan. Syarat sighat harus menunjukkan kesepakatan kedua belah pihak. Qardh tidak boleh mendatangkan manfaat bagi muqridh. Dalam sighat ijab qabul juga tidak mensyaratkan qardh bagi akad lainnya.
  13. 13. Aplikasi Qardh dalam Perbankan Qardh dikategorikan akad ta’awuni (saling tolong-menolong), bukan transaksi komersial. Akad ini dijalankan untuk fungsi sosial bank syariah. Dananya bisa diambil dari dana zakat, infaq dan shadaqah yang dihimpun oleh bank. Bank memberikan pinjaman murni kepada orang miskin tanpa dikenakan biaya apapun. Lebih efektif jika pinjaman diberikan untuk kepentingan produktif, bukan konsumtif. Adapun cara pengembaliannya dengan diangsur atau dibayar tunai sekaligus. Jika pinjaman sudah dikembalikan, bank dapat memutar kembali secara bergulir dan bergilir.

×