Presentasi Fiqh Siyasah 6

6,336 views

Published on

Published in: Spiritual
1 Comment
1 Like
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
6,336
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
372
Actions
Shares
0
Downloads
573
Comments
1
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Presentasi Fiqh Siyasah 6

  1. 1. Presented on Wednesday, October 29, 2009 Presentasi Ke-6 Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA Membahas sejarah singkat munculnya aliran-aliran politik dalam sejarah Islam, prinsip dan doktrin yang dianut, point-point penting pemikiran politik dan analisanya P EMIKIRAN P OLITIK S YI’AH K HAWARIJ, M U’TAZILAH,
  2. 2. Tentang Syi’ah Definisi Background Sekte Syi’ah artinya pengikut, pendukung, partai, kelompok. Syiah merujuk kepada sebagian muslimin yang dalam dimensi spiritual keagamaan dan juga politik membela keturunan Nabi SAW dari garis keturunan Fatimah dan Ali atau yang dikenal dengan istilah ahl al-bayt. Lahirnya Syi'ah karena berawal dari ketidaksetujuan atas kekhalifahan Abu Bakar dan berpendirian bahwa yang berhak menjadi khalifah adalah Ali. من كنت مولاه فعلي مولاه Syi'ah lahir setelah gagalnya perundingan antara pihak pasukan Ali dan Mu'awiyah bin Abu Sufyan di Shiffin, yang lazim disebut sebagai peristiwa al–Tahkim/arbitase. Syi'ah terpecah menjadi puluhan cabang atau sekte, hal ini disebabkan karena cara pandang yang berbeda dikalangan mereka mengenai sifat imam ma'shum atau tidak dan perbedaan didalam menentukan pengganti imam. Terdapat 3 sekte besar dan berpengaruh dalam mazhab Syi'ah hingga kini: Zaidiyyah, Ismailiyyah (Sab’iyyah), dan Imamiyah (Itsna ‘Asyariyah).
  3. 3. Imam-imam Syi’ah 1. Ali bin Abi Thalib (wafat tahun 40 H) 2. Hasan bin Ali b Abi Thalib (wafat: 50 H) 3. Husein bin Ali b Abi Thalib (wafat: 61 H) 4. Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib (wafat tahun 94 H) 5. Muhammad al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali (wafat: 117 H) 6. Ja’far Shaddiq bin Muhammad al Baqir (wafat tahun 148 H) 7. Musa al Kazhim bin Ja’far Shaddiq (wafat tahun 183 H) 8. Ali Redha bin Musa al Kazhim bin Ja’far Shaddiq (wafat tahun 202 H) 9. Muhammad al Jawwad bin Ali Redha bin Musa bin Ja’far Shaddiq (wafat: 220 H) 10. Ali bin Muhammad bin Ali Redha bin Musa bin Ja’far Shaddiq (wafat: 254 H) 11. Hasan bin Ali bin Muhammad al Asykari (wafat tahun 260 H) 12. Muhammad bin Hasan al Mahdi (menghilang lenyap sejak 260 H) Imam yang ke-12 ini dipercayai dan diyakini oleh kaum Syiah sebagai Imam Mahdi (di Indonesia faham ini bernama Ratu Adil) yang akan kembali pada akhir zaman untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dimuka bumi. Ia dipercayai belum wafat tetapi bersembunyi dirumahnya di kota Samara’ (Iraq) sejak kematian ayahnya, karena ketika itu ia masih dibawah umur.
  4. 4. Doktrin Syi’ah Syi'ah memiliki doktrin penting, terutama berkaitan dengan masalah Imamah: 1.  Ahlulbait (Ahl al-Bayt).  Secara harfiah ahlulbait berarti keluarga atau kerabat dekat. Ada 3 pengertian ahlulbait; Pertama, mencakup istri-istri Nabi dan seluruh bani Hasyim; Kedua, hanya bani Hasyim; dan Ketiga, hanya terbatas pada Nabi sendiri, Ali, Fatimah, Hasan, Husein, dan Imam-imam dari keturunan Ali bin Abi Thalib. Dalam ajaran Syi'ah bentuk yang terakhirlah yang lebih popular. 2.  Al-Bada.  Dari segi bahasa bada berarti tampak. Doktrin al-bada adalah keyakinan bahwa Allah SWT mampu mengubah sesuatu peraturan atau keputusan yang telah ditetapkan-Nya dengan peraturan atau keputusan baru. Menurut Syi'ah, perubahan keputusan Allah SWT itu bukan karena Allah baru mengetahui sebuah maslahat, yang sebelumnya tidak diketahui-Nya. 3.  Asyura.   Berasal dari kata ‘asyarah, yang artinya sepuluh.  Maksudnya adalah hari kesepuluh dalam bulan Muharram yang diperingati kaum Syi'ah sebagai hari berkabung umum untuk memperingati wafatnya Imam Husein bin Ali dan keluarganya di tangan Yazid bin Muawiyyah pada tahun 61 H di Karbala Irak.  4. Mahdawiyyah. Mahdawiyyah berasal dari kata Mahdi, yang berarti keyakinan akan datangnya seorang juru selamat pada akhir zaman yang menyelamatkan kehidupan manusia di muka bumi ini.  Juru selamat ini disebut Imam Mahdi.
  5. 5. Doktrin Syi’ah 5. Taqiyah (dissimulation). Taqiyah berasal dari kata taqiya atau ittaqa yang artinya takut. Taqiyah adalah sikap berhati-hati demi menjaga keselamatan jiwa karena khawatir akan bahaya yang dapat menimpa dirinya. Dalam kehati-hatian ini terkandung sikap penyembunyian identitas dan ketidakterusterangan. 6.  Marja’iyyah (sering disebut Marja’ Taqlid). Marja’ artinya tempat kembalinya sesuatu, Marja’ taqlid berarti “sumber rujukan”. Menurut Syi'ah Imamiyah, selama keghaiban Imam Mahdi, kepemimpinan umat terletak pada pundak para fukaha, baik dalam persoalan keagamaan maupun dalam urusan kemasyarakatan. Para fuqaha-lah yang seharusnya menjadi pucuk pimpinan masyarakat termasuk dalam persoalan kenegaraan atau politik.  Doktrin marja’iyyah ini erat kaitannya dengan konsep wilayatul faqih (pemerintahan faqih). 7. Imamah (kepemimpinan). Imamah adalah keyakinan bahwa setelah Nabi Muhammad SAW wafat harus ada pemimpin-pemimpin Islam yang melanjutkan misi atau risalah Nabi. Dalam Syi'ah kepemimpinan ini mencakup persoalan keagamaan dan kemasyarakatan. Imam bagi mereka adalah pemimpin agama sekaligus pemimpin masyarakat. Doktrin lain seperti, Ismah (menjaga), Raj’ah (pulang/ kembali), Tawassul (memohon), dan Tawali (mengangkat) atau Tabarri (menjauhkan diri) termasuk dalam doktrin-doktrin yang dianut oleh kaum Syi'ah.
  6. 6. Faktor Perkembangan Syi’ah Secara sosio–politik, berkembangnya doktrin Syi'ah dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama , imam-imam Syi'ah, selain Ali Ibn Abi Thalib, tidak pernah memegang kekuaaan politik.Mereka lebih memperlihatkan sosoknya yang memiliki integritas dan kesalehan yang tinggi.Mereka tidak memiliki pengalaman praktis dalam memerintah dan menangani permasalahan politik riil.Ketika mereka melihat realitas politik tidak sesuai dengan nilai-nilai keislaman sebagaimana mereka inginkan, maka mereka mengembangkan doktrin kema'shuman imam. Kedua , sebagian pengikut syi'ah berasal dari Persia ikut membentuk paradigma dalam corak pemikiran Syi'ah, yang diketahui mereka dulunya mengagungkan raja dan menganggapnya sebagai manusia suci, hal ini terlihat pada salah satu kelompok ini yang mempunyai suatu paradigma yakni imam Ali adalah penjelmaan Tuhan yang tinggi martabatnya bahkan dari Nabi Muhammad sendiri. Ketiga , pengalaman pahit yang selalu dialami pengikut Syi'ah dalam percaturan politik ikut mempengaruhi berkembangnya doktrin al-Mahdi al-Muntatazhar yang akan melepaskan mereka dari penderitaan.
  7. 7. Pemikiran Syi’ah <ul><li>Pangkat khalifah pengganti Nabi adalah harus diwarisi oleh ahli waris Nabi dan ditunjuk oleh Nabi sendiri dengan wasiat yaitu Ali bin Abi Thalib karena ia sepupu Nabi (anak paman Rasulullah SAW), ia juga menantu Nabi dan pahlawan Islam yang berani. </li></ul><ul><li>Khalifah dalam Syiah disebut IMAM yang merupakan pangkat tertinggi dalam Islam Syiah. Imam utama ditunjuk oleh Nabi dan Imam-imam lainnya ditunjuk oleh Imam utama tadi. Orang-orang memilih khalifah (pemimpin) dengan musyawarah dianggap melakukan perbuatan dosa besar. </li></ul><ul><li>Imam Syiah adalah orang yang maksum, artinya tidak pernah membuat dosa dan tidak boleh diganggu gugat dan dikritik segala ajarannya karena imam adalah pengganti Nabi yang sama derajat kedudukannya dengan Nabi. </li></ul><ul><li>Imam masih mendapat wahyu dari Tuhan walaupun wahyu itu datang tidak dengan perantaraan Malaikat Jibril. Wahyu yang dibawa dan disampaikan oleh imam wajib ditaati. </li></ul><ul><li>Orang-orang Syiah yang sudah sampai kederajat keimanan yang sangat tinggi, maka baginya sudah habis taklif (ibadah) sehingga tidak perlu sembahyang, puasa dan lain-lain. </li></ul>
  8. 8. Khawarij Definisi Nama Lain Secara bahasa kata khawarij berarti orang-orang yang telah keluar. Kata ini dipergunakan oleh kalangan Islam untuk menyebut sekelompok orang yang keluar dari barisan Ali ibn Abi Thalib r.a. karena kekecewaan mereka terhadap sikapnya yang telah menerima tawaran tahkim (arbitrase) dari kelompok Mu’awiyyah yang dikomandoi oleh Amr ibn Ash dalam Perang Shiffin (37H/657). Jadi, nama khawarij bukanlah berasal dari kelompok ini. Mereka sendiri lebih suka menamakan diri dengan Syurah atau para penjual, yaitu orang-orang yang menjual (mengorbankan) jiwa raga mereka demi keridhaan Allah, sesuai firman Allah (Al-Baqarah:207). Selain itu, ada istilah lain seperti Haruriah , yang dinisbatkan pada nama desa di Kufah, yaitu Harura, dan Muhakkimah , karena seringnya kelompok ini mendasarkan diri pada kalimat “la hukma illa lillah” (tidak ada hukum selain hukum Allah), atau “la hakama illa Allah” (tidak ada pengantara selain Allah).
  9. 9. Sejarah Khawarij Pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, terjadi perang saudara terbesar dalam Islam antara umat mukmin pimpinan Khalifah Ali melawan kelompok Mu’awiyah bin Abi Sofyan yang sangat terkenal dengan nama Perang Shiffin, yaitu suatu tempat bernama Shiffin (Irak). Dipihak Ali terbunuh lebih 25.000 orang, sedangkan dipihak Mu’awiyah terkorban lebih dari 45.000 orang. Perang ini berlangsung pada tahun 37 Hijriah. Dalam kekacauan perang, tentara Mu’awiyah menjalankan siasat “cease fire” (gencatan senjata) dengan meletakkan potongan ayat-ayat suci Al Quran diatas tombak dan pedang mereka. Kemudian diacung-acungkan sebagai bendera agar berdamai dan berhukum sesuai hukum dalam Al Quran. Pada awalnya Ali bin Abi Thalib menolak ajakan damai ini karena beliau tahu bahwa ini hanyalah siasat perang dari pasukan yang hampir kalah. Tetapi sebagian besar tentara pasukannya mendesak Ali agar berhukum kepada Al Quran. Sehingga Ali pun menyetujui gencatan senjata ini, dan kedua khalifah yaitu Ali di Baghdad dan Mu’awiyah di Damaskus menyusun delegasi perundingan damai. Pihak Ali diwakili Abu Musa Al Asy’ari (sahabat Nabi SAW, ia seorang yang jujur lagi shaleh) dan pihak Mu’awiyah diwakili ‘Amru bin ‘Ash (juga termasuk sahabat Nabi SAW, ia seorang ahli siasat perang yang sangat pandai). Perundingan ini dinamakan “Majlis Tahkim” berlangsung di Daumatul Jandal (Irak) dengan setiap pihak mengirim anggota delegasi sebanyak 100 orang.
  10. 10. Sejarah Khawarij Ditengah kebingungan umat menentukan siapa yang salah dan benar karena perang saudara sesama mukmin ini, muncul sebagian pasukan dari tentara Ali yang tidak menyukai berhukum kepada Al Quran dan menganggap ucapan pasukan Mu’awiyah hanyalah siasat busuk. Mereka berbalik membenci Ali karena menyetujui “Tahkim” yang mereka anggap sebagai tindakan pengecut dan ragu-ragu atas kebenaran pendirian. Mereka dipimpin Abdullah bin Wahab ar Rasyidi. Dalam Majlis Tahkim, dengan kepintaran politiknya, ‘Amru bin ‘Ash memenangkan Mu’awiyah. Karena merasa kalah tertipu bertambahlah kemarahan pendukung Ali dan perangpun kembali terjadi. Mereka menyerukan “khawarij” (keluar) dengan keluar dari pasukan dan tidak akan mendukung Khalifah Ali dan mengutuk Khalifah Mu’awiyah. Dengan kebencian yang teramat besar kemudian Kaum Khawarij merencanakan membunuh keduanya termasuk ‘Amru bin ‘Ash. Rencana pembunuhan secara serentak pada waktu subuh 17 Ramadhan 40 H terhadap Ali yang berada di Baghdad (Irak) akan dilakukan Abdullah bin Muljam, Mu’awiyah yang berada di Damaskus (Syiria) oleh Al Barak, dan pembunuhan ‘Amru bin Ash yang berada di Cairo (Mesir) oleh Umar bin Bakir. Akhirnya Khalifah Ali mati dibunuh ditikam dengan pedang ketika beliau hendak shalat subuh. Sedangkan Mu’awiyah dan ‘Amru gagal dibunuh. Khalifah Ali bin Abi Thalib dimakamkan di Najaf, Baghdad (Irak).
  11. 11. Sejarah Khawarij Setelah kematiannya maka Kaum Syiah dan sebagian Kaum AhlusSunnah mengangkat Hasan bin Ali sebagai Khalifah ke-5. Tetapi Hasan hanya bersedia menjadi Khalifah selama 2 bulan, beliau ingin menjaga jangan sampai lagi pertumpahan darah umat Islam oleh perang saudara. Hasan kemudian menyerahkan kursi (bai’at) Khalifah kepada Mu’awiyah bin Abi Sofyan. Setelah itu terbentuklah kembali 3 golongan besar dari Umat Islam yaitu : (1) Golongan terbesar, golongan yang mengikuti dan membai’at Muawiyah sebagai Khalifah ke-6 yang sah. Golongan ini tersebar di Damsyik (Syiria), Makkah, Madinah, Mesir dan kota-kota besar Islam lainnya. (2) Golongan Syi’ah, yang tidak mengakui Mu’awiyah. Mereka mengangkat Husein bin Ali (adik dari Hasan bin Ali) tetapi secara diam-diam. Golongan ini berada di Baghdad (irak), Bashrah (Irak) dan Kufah (Iran) (3) Golongan Khawarij, yaitu golongan yang tidak akan mengakui Mu’awiyah sebagai Khalifah dan juga tidak menyukai Kaum Syi’ah. Kaum Khawarij banyak bertebaran di tanah Irak dan Persia (Iran).
  12. 12. Sifat Khawarij Bid’ah Khawarij Sifat-sifat Khawarij Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al‑Fatawa, “Bid’ah yang pertama muncul dalam Islam adalah bid’ah Khawarij.” إبن تيمية : أول بدعة ظهورا في الإسلام بدعة الخوارج Mencela dan Menyesatkan ( الطعن والتضليل ) Orang‑orang Khawarij sangat mudah mencela dan menganggap sesat Muslim lain, bahkan Rasul saw. sendiri dianggap tidak adil dalam pembagian ghanimah. Buruk Sangka ( سوء الظن ) Berlebih‑lebihan dalam ibadah ( المبالغة في العبادة ) Keras terhadap sesama Muslim dan memudahkan yang lainnya ( التشدد على المسلمين والترخص على غيرهم ) Sedikit pengalamannya ( قلة التجربة ) Sedikit pemahamannya ( قلة الفقه ) Nilai Khawarij Orang‑orang Khawarij keluar dari Islam sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw., “Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari busurnya.”
  13. 13. Pemikiran Khawarij <ul><li>Menganggap kafir orang-orang yang berseberangan dengan mereka, terutama yang terlibat dalam Perang Shiffin. Karenanya, tidak ada istilah damai untuk penentang Khawarij, mengingat yang dimaksud ishlah dalam QS. Al-Hujurat: 9 adalah sesama orang Islam, tidak dengan orang kafir. </li></ul><ul><li>Orang Islam yang berbuat dosa besar, seperti berzina dan pembunuh adalah kafir dan selamanya masuk neraka. </li></ul><ul><li>Hak khilafah tidak harus dari kerabat nabi atau suku Quraisy khususnya, dan orang Arab umumnya. Seorang khalifah harus dipilih oleh kaum Muslimin melalui pemilihan yang bebas. Khalifah yang taat kepada Tuhan wajib ditaati. Sebaliknya, khalifah yang mengingkari Tuhan dan umat yang durhaka kepada khilafah yang wajib ditaati, boleh diperangi dan dibunuh. </li></ul><ul><li>Orang musyrik adalah yang melakukan dosa besar, tidak sepaham dengan mereka, atau orang yang sepaham tetapi tidak ikut hijrah dan berperang bersama mereka. Orang musyrik itu halal darahnya. Nasib mereka bersama anak-anaknya akan kekal di neraka. </li></ul><ul><li>Mereka menganggap bahwa hanya daerahnya yang disebut dar al-Islam , dan daerah orang yang melawan mereka adalah dar al-harb. Karenanya, orang yang tinggal dalam wilayah dar al-harb , baik anak maupun wanita, boleh dibunuh. </li></ul>
  14. 14. Pemikiran Khawarij <ul><li>Ajaran agama yang harus diketahui hanya ada dua, yakni mengetahui Allah dan rasul-Nya. Selain dua hal itu tidak wajib diketahui. </li></ul><ul><li>Melakukan taqiyyah (menyembungikan keyakinan demi keselamatan diri), baik secara lisan maupun perbuatan adalah dibolehkan bila keselamatan diri mereka terancam. </li></ul><ul><li>Dosa kecil yang dilakukan secara terus menerus akan berubah menjadi dosa besar dan pelakunya menjadi musyrik. </li></ul><ul><li>Imam dan khilafah bukanlah suatu keniscayaan. Tanpa imam dan khilafah, kaum muslimin bisa hidup dalam kebenaran dengan cara saling menasihati dalam hal kebenaran. </li></ul>
  15. 15. Sejarah Mu’tazilah Aliran Mu’tazilah muncul ketika Hasan Bashri (wafat 110 H) seorang ulama AhlusSunnah di Baghdad menerangkan dalam pengajiannya bahwa setiap umat muslim yang telah beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW tetapi ia mengerjakan dosa besar dan tidak sempat bertobat, maka orang ini tetap dianggap sebagai muslim, dan ia akan dimasukkan ke neraka untuk sementara guna membersihkan dosanya, kemudian ia dimasukkan ke syurga sebagai rahmat yang sangat besar dari Allah SWT kepadanya. Lalu salah satu murid bernama Washil bin ‘Atha (wafat 131 H) tidak setuju dan menentang dengan mengatakan bahwa hal tersebut tidak masuk akal pemikiran manusia. Washil mengemukakan pendapatnya bahwa orang yang berbuat dosa besar, mati sebelum ia bertobat, maka ia tidak mukmin lagi, tidak pula kafir, melainkan fasiq, berada pada posisi diantara dua posisi (almanzilah baina al-manzilatain). Ia pun kemudian keluar dari majelis sehingga disebut orang mengasingkan diri (mu’tazil). Washil diikuti oleh ‘Amr bin Ubaid dalam mengajarkan pengajiannya sejak tahun 120 H. Berpusat di sekitar Basra dan Baghdad, Mu’tazilah mengalami masa kejayaan tahun 750-850 M. Karena pengaruh Yunani aliran ini memberikan kedudukan tinggi pada akal, melebihi wahyu. Pendapat lain menyebut bahwa Mu’tazilah yang lahir sejak tahun 40 H adalah orang-orang Syiah yang patah hati setelah diserahkannya kursi Khalifah dari Hasan bin Ali kepada Mu’awiyah.
  16. 16. Pemikiran Politik Mu’tazilah Tidak jauh beda dengan Khawarij. Pembentukan imamah tidak wajib berdasarkan syara’, melainkan atas dasar pertimbangan rasio dan tuntutan keperluan manusia. Kemestian adanya imam dikaitkan dengan fungsi dan peranannya dalam melaksanakan hukum, menegakkan pengadilan, melindungi masyarakat, memelihara keluarga, mempersenjatai tentara, dsb. Teori persamaan hak atas imamah. Pemegang kekuasaan imamah atau khilafah bukan hak istimewa keluarga atau suku tertentu. Apakah ia orang Quraisy atau bukan, sama-sama punya hak. Argumennya, Allah SWT tidak memberikan nash yang menentukan seseorang atau golongan tertentu untuk memimpin umat pasca Nabi Saw, lihat surat al-Hujurat: 13, “Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu adalah orang yang paling taqwa”. Persoalan imamah adalah hak rakyat, dan hak memilih kepala negara berada di tangan rakyat. Yang berhak menjadi kepala negara adalah yang memenuhi kualifikasi. Masalah Imamah Teori Imam
  17. 17. Perkembangan Mu’tazilah Mu’tazilah sebagai gerakan atau sikap politik lahir pada awal pemerintahan Khalifah Ali. Dalam sejarah, kaum Mu’tazilah tidak pernah membentuk pemerintahan. Bahkan di bidang politik praktis tidak menarik perhatian, mereka lebih memilih sikap netral terhadap kasus berbau politik. Perjuangan Mu’tazilah lebih menekankan pada gerakan ide dan pemikiran. Mu’tazilah mulai tumbuh dan berkembang di akhir masa pemerintahan Umayah. Periode terpenting adalah dari tahun 100-255 H. di masa Dinasti Abbasiyah, terutama periode pemerintahan Al-Makmun, Al-Mu’tasim dan Al-Wasiq. Bahkan Al-Makmun menjadikannya sebagai mazhab resmi Dinasti Abbasiyah, merekrut para pemukanya, bertujuan untuk menangkis ide-ide yang masuk ke dalam Islam yang bisa menyesatkan umat, dengan hujjah dan dalil yang rasional, serta untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Prinsip kepemimpinan tidak harus dari suku Quraisy juga dianut oleh Syi’ah Zaidiyah dan sebagin besar Khawarij. Fakta
  18. 18. Karakteristik Mu’tazilah Ajaran dasar Mu’tazilah berasal dair Ibn Atha, pokok-pokok pikiran itu dirumuskan dalam al-ushul al-khamsah 1. Al-Tauhid 2. Al-‘adl (hanya Allah yang dapat berbuat adil) 3. Al-wa’du wa al-wa’id (janji dan ancaman) 4. Al-manzilah bain al-manzilatain 5. Al-‘amr bi al-ma’ruf wa al-nahi ‘an al-munkar Aliran Washiliyah, dipimpin oleh Washil bin Atha’ Aliran Huzailiyah, dipimpin oleh Huzel al Allaf Aliran Nazamiyah, dipimpin oleh Sayyar bin Nazham Aliran Haithiyah, dipimpin oleh Ahmad bin Haith Aliran Basyariyah, dipimpin oleh Basyar bin Mu’atmar Aliran Ma’mariyah, dipimpin Ma’mar bin Ubeid alSalami Aliran Mizdariyah, dipimpin oleh Abu Musa al Mizdar Aliran Tsamariyah, dipimpin oleh Thamamah bin ar Rasy Aliran Hisyamiyah, dipimpin Hisyam bin Umar al Fathi Aliran Khayathiyah, dipimpin oleh Abu Hasan al Khayath Aliran Jubaiyah, dipimpin oleh Abu Ali al Jubai Prinsip Dasar Aliran / Sekte
  19. 19. Next Week Sistem politik di negara-negara Islam: Saudi Arabia, Maroko dan Jordania Mesir dan sejumlah Republik Arab Turki dan Pakistan

×