By :
Kelompok IV / A6-A
• Septian Trijayantika I Komang 12.321.1507
• Sri Somarianti Ni Putu 12.321.1508
• Sukma Handayani Ni Luh Putu 12.321.1509
• Suryani Ni Putu 12.321.1510
• Sutami Wahyuni Ni Luh 12.321.1511
• Trisna Irawan I Made 12.321.1512
• I Ngurah Kadek Verar Oka Pinatih 12.321.1513
• Wiwit Purnama Yanthi Ni Kade 12.321.1504
• Yuni Astuti Ni Nyoman 12.321.1516
• Yuni Sumantari Ida Ayu 12.321.1517
Anggota Kelompok :
1. Pengertian budaya, budaya kerja, dan budaya kerja
dalam pelayanan kesehatan.
2. Standar pelayanan minimal rumah sakit dan standar
pelayanan minimal puskesmas.
Hal yang akan kami bahas . . .
Konsep . . .
Budaya Kerja
Budaya
Kerja
Budaya diartikan sebagai pikiran, akal budi atau adat-istiadat. Secara
tata bahasa, pengertian kebudayaan diturunkan dari kata budaya yang
cenderung menunjuk pada pola pikir manusia. (Dikutip dari kamus
besar Indonesia)
Pengertian Budaya
Kerja adalah kegiatan melakukan sesuatu :
yang dilakukan (diperbuat)
Pengertian Kerja
• Budaya kerja adalah suatu
falsafah yang didasari oleh
pandangan hidup sebagai nilai-
nilai yang menjadi
sifat, kebiasaan dan kekuatan
pendorong, membudaya dalam
kehidupan suatu kelompok
masyarakat atau
organisasi, kemudian tercermin
dari sikap menjadi
prilaku, kepercayaan, cita-
cita, pendapat dan tindakan
yang terwujud sebagai kerja
atau bekerja. (Menurut Triguno
dalam Daryatmi (2002))
Budaya Kerja
1. Meningkatkan jiwa gotong royong
2. Meningkatkan kebersamaan
3. Saling terbuka satu sama lain
4. Meningkatkan jiwa kekeluargaan
5. Meningkatkan rasa kekeluargaan
6. Membangun komunikasi yang lebih baik
7. Meningkatkan produktivitas kerja
8. Tanggap dengan perkembangan dunia luar
Manfaat dari penerapan Budaya Kerja yang baik :
• Kinerja atau prestasi kerja adalah hasil kerja secara
kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai
dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung
jawab yang diberikan kepadanya.
• Faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja, yaitu
1. faktor kemampuan (ability)
2. faktor motivasi (motivation).
Budaya Kerja dalam Pelayanan Kesehatan
• Dalam pelayanan kesehatan, berbagai jenjang pelayanan
dan asuhan pasien (patient care) merupakan bisnis
utama, serta pelayanan keperawatan merupakan
mainstream sepanjang kontinum asuhan.
• Upaya untuk memperbaiki mutu dan kinerja pelayanan
klinis pada umumnya dimulai oleh perawat melalui
berbagai bentuk kegiatan, seperti: gugus kendali
mutu, penerapan standar keperawatan, pendekatan –
pendekatan pemecahan masalah, maupun audit
keperawatan.
Penerapan pendekatan kualitas pelayanan kesehatan dapat menjamin
organisasi pelayanan kesehatan akan selalu menghasilkan pelayanan
kesehatan yang berkualitas, sebuah pelayanan kesehatan yang sesuai
dengan harapan dan kebutuhan pasien.
Penerapan pendekatan kualitas pelayanan kesehatan akan menjadikan
organisasi pelayanan kesehatan semakin efisien.
Penerapan pendekatan kualitas pelayanan kesehatan akan membuat
organisasi pelayanan kesehatan menjadi terhormat, terkenal dan selalu
dicari oleh siapapun yang membutuhkan pelayanan kesehatan yang
berkualitas, serta menjadi tempat kerja menyenangkan bagi tenaga
kesehatan.
Terdapat beberapa alasan terpenting terkait penerapan kualitas
pelayan kesehatan dalam organisasi pelayanan
kesehatan, antara lain (Pohan, 2007)
Penerapan pendekatan kualitas pelayanan kesehatan terutama akan
memperhatikan keluaran pelayanan kesehatan sehingga setiap
pelaksanaan tugas harus dilakukan dengan benar agar bermanfaat bagi
pasien.
Penerapan pendekatan kualitas pelayanan kesehatan akan
menumbuhkan kepuasan kerja, komitmen, dan peningkatan moral profesi
pelayanan kesehatan, serta akhirnya akan menimbulkan kepuasan
pasien.
Lanjutan. . .
Standar Pelayanan Kesehatan
• Standar pelayanan minimal di rumah sakit
• Standar pelayanan minimal di puskesmas
No JENIS PELAYANAN INDIKATOR STANDAR
1 2 3 4
1 Gawat Darurat Kemampuan menangani life saving anak dan dewasa 100%
Jam buka pelayanan gawat darurat 24 jam
Pemberi pelayanan kegawatdaruratan yang bersertifikat
yang masih berlaku ATLS/BTLS/ACLS/PPGD
100 %
Kesediaan tim penanggulangan bencana Satu tim
Waktu tanggap pelayanan dokter di gawat darurat ≤ 5 menit terlayani
setelah pasien datang
Kepuasan pelanggan ≥ 70 %
Tidak adanya pasien yang diharuskan membayar uang
muka
100 %
Kematian pasien ≤ 24 jam ≤ dua per seribu
(pindah ke pelayanan
rawat inap setelah 8
jam)
Tidak adanya pasien yang diharuskan membayar uang
muka
100 %
STANDAR PELAYANAN MINIMAL SETIAP JENIS PELAYANAN, INDIKATOR DAN
STANDAR DI RUMAH SAKIT
Standar pelayanan minimal di rumah sakit
2 Rawat Jalan Dokter pemberi Pelayanan di
Poliklinik Spesialis
100% Dokter Spesialis
Ketersediaan pelayanan a.Klinik Anak
b.Klinik Penyakit Dalam
c.Klinik Kebidanan
d.Klinik Bedah
Jam buka pelayanan 08.00 s/d 13.00
Setiap hari kerja kecuali
Jum’at : 08.00 - 11.00
Waktu tunggu di rawat jalan ≤ 60 menit
Kepuasan pelanggan ≥ 90 %
a. Penegakan diagnosis TB melalui
pemeriksaan mikroskopis TB
b. Terlaksananya kegiatan pencatatan
dan pelaporan TB di Rumah Sakit
a. ≥ 60%
b. ≥ 60 %
3 Rawat Inap Pemberi pelayanan di Rawat Inap a.Dokter spesialis
b.Perawat minimal
pendidikan D3
Dokter penanggung jawab pasien
rawat inap
100 %
Ketersediaan Pelayanan Rawat Inap a.Anak
b.Penyakit Dalam
c.Kebidanan
d.Bedah
Jam Visite Dokter Spesialis 08.00 s/d 14.00 setiap hari
kerja
Kejadian infeksi pasca operasi ≤ 1,5 %
Kejadian infeksi nosokomial ≤ 1,5 %
Tidak adanya kejadian pasien jatuh
yang berakhir kecacatan / kematian
100 %
Kematian pasien > 48 jam ≤ 0,24 %
Kejadian pulang Paksa ≤ 5 %
Kepuasan pelanggan ≥ 90 %
Rawat inap TB :
a.Penegakan Dianogsis TB melalui
4 Bedah Sentral
(Bedah saja )
Waktu tunggu operasi elektif ≤ 2 hari
Kejadian Kematian di meja operasi ≤ 1 %
Tidak adanya kejadian operasi salah
sisi
100 %
Tidak adanya kejadian operasi salah
orang
100 %
Tidak adanya kejadian salah
tindakan pada operasi
100 %
Tidak adanya kejadian tertinggalnya
benda asing / lain pada tubuh pasien
setelah operasi.
100 %
Komplikasi anastesi karena
overdosis, reaksi anastesi, dan salah
penempatan endotracheal tube.
≤ 6 %
5 Persalinan dan
Perinatalogi
(kecuali rumah
sakit khusus
diluar rumah
sakit ibu dan
Anak)
Kejadian kematian ibu karena
persalinan
a.Perdarahan ≤ 1 %
b.Pre –Eklamsia ≤ 30%
c.Sepsis ≤ 0,2 %
Pemberi pelayanan persalinan
normal
a.Dokter Sp.OG
b.Dokter Umum terlatih
(Asuhan Persalinan
Normal )
c.Bidan
Pemberi pelayanan dengan
persalinan penyulit
Tim PONEK yang
terlatih.
Pemberi pelayanan persalinan
dengan tindakan operasi
a.Dokter Sp.OG
b.Dokter Sp.A
c.Dokter Sp.An
Kemampuan menangani BBLR 1500
gr - 2500 gr
100%
Pertolongan Persalinan melalui
seksio cesaria
≤ 20 %
Keluarga Berencana :
Persentase KB (Vasektomi &
tubektomi) yang dilakukan oleh
tenaga kompeten dr. Sp.OG,
dr.Sp.B, dr.Sp.U, dokter umum
terlatih.
Persentase peserta KB mantap
a.100%
6 Intensif Rata-rata Pasien yang kembali ke
perawatan intensif dengan kasus
yang sama < 72 jam
≤ 3 %
Pemberi pelayanan Unit intensif a. Dokter Sp.Anestesi
dan dokter spesialis
sesuai dengan kasus
yang di tangani
b. 100 % perawat
minimal D3 dengan
sertifikat Perawat mahir
ICU/setara (D4)
7 Radiologi Waktu tunggu hasil pelayanan thorax
foto.
≤ 3 jam
Pelaksana ekspertisi Dokter Spesialis
Radiologi
Kejadian kegagalan pelayanan
Rontgen
Kerusakan foto ≤ 2%
Kepuasan pelanggan. ≥ 80 %
8 Laboratorium
Patologi Klinik
Waktu tunggu hasil pelayanan
laboratorium.
≤ 140 menit
Kimia darah & darah
rutin.
Pelaksana ekspertisi Dokter Spesialis Patologi
Klinik
Tidak adanya kesalahan pemberian
hasil pemeriksaan laboratorium.
100 %
Kepuasan pelanggan. ≥ 80 %
9 Rehabilitasi
Medik
Kejadian Drop Out pasien terhadap
pelayanan rehabilitasi medik yang
direncanakan
≤ 50 %
Tidak adanya kejadian kesalahan
tindakan rehabilitasi medik
100 %
Kepuasan pelanggan. ≥ 80 %
10 Farmasi Waktu tunggu pelayanan
a. Obat jadi
b. Obat Racikan
a. ≤ 30 menit
b. ≤ 60 menit
Tidak adanya Kejadian kesalahan
pemberian obat.
100%
Kepuasan pelanggan. ≥ 80 %
Penulisan resep sesuai formularium 100 %
11 Gizi Ketepatan waktu pemberian
makanan kepada pasien
≥ 90 %
Sisa makanan yang tidak termakan
oleh pasien.
≤ 20%
Tidak adanya kejadian kesalahan
pemberian diet
100 %
12 Tranfusi Darah Kebutuhan darah bagi setiap
pelayanan tranfusi
100 % terpenuhi
Kejadian reaksi tranfusi ≤ 0,01 %
13 Pelayanan
GAKIN
Pelayanan terhadap pasien GAKIN
yang datang ke RS pada setiap unit
pelayanan
100 % terpenuhi
14 Rekam Medik Kelengkapan pengisian rekam medik
24 jam setelah selesai pelayanan
100%
Kelengkapan Informed Concent
setelah mendapatkan informasi yang
jelas.
100%
Waktu penyediaan dokomen rekam
medik pelayanan rawat jalan
≤ 10 menit
Waktu penyediaan dokumen rekam
medik rawat Inap
≤ 15 menit
15 Pengelolaan
Limbah
Buku mutu limbah cair a. BOD < 30 mg/1
b. COD < 80 mg/1
c. TSS < mg/1
d. PH 6-9
Pengelolaan limbah padat infeksius
sesuai dengan aturan.
100 %
16 Administrasi dan
manajemen
Tindak lanjut penyelesaian hasil
pertemuan direksi
100 %
Kelengkapan laporan akuntabilitas
kinerja
100 %
Ketepatan waktu pengusulan
kenaikan pangkat
100 %
Ketepatan waktu pengurusan gaji
berkala
100 %
Karyawan yang mendapat pelatihan
minimal 20 jam setahun.
≥ 60 %
Cost recovery ≥ 40 %
Ketepatan waktu penyusunan
laporan keuangan
100 %
Kecepatan waktu pemberian
informasi tentang tagihan pasien
rawat inap
≤ 2 jam
Ketepatan waktu pemberian imbalan 100 %
17 Ambulance/
Kereta Jenazah
Waktu pelayanan ambulance / kereta
jenazah
24 jam
Kecepatan memberikan pelayanan
ambulance/kereta jenazah di rumah
sakit
≤ 30 menit
Response time pelayanan ambulance
oleh masyarakat yang membutuhkan
Sesuai ketentuan daerah
18 Pemulasaraan
Jenazah
Waktu tanggap (response time)
pelayanan pemulasaraan jenazah
≤ 2 jam
19 Pelayanan
pemeliharaan
sarana rumah
sakit
Kecepatan waktu menanggapi
kerusakan alat
≤ 80 %
Ketepatan waktu pemeliharaan alat 100 %
Peralatan laboratorium dan alat ukur
yang di gunakan yang digunakan
dalam pelayanan terkalibrasi tepat
waktu sesuai dengan ketentuan
kalibrasi
100 %
20 Pelayanan
Laundry
Tidak adanya kejadian linen yang
hilang
100 %
Ketepatan waktu penyediaan linen
untuk ruang rawat inap
100 %
21 Pencegahan dan
Pengendalian
Infeksi ( PPI )
Adanya anggota tim PPI yang
terlatih
≥ 75 %
Tersedia APD disetiap instalasi /
departement
≥ 60 %
Kegiatan pencatatan dan pelaporan
infeksi nosokomial / HAI (health
care associated infections) di rumah
sakit (minimum 1 parameter)
≥ 75 %
Standar Pelayanan Minimal di Puskesmas
Fungsi Standar Pelayanan Minimal Puskesmas
a. Menjamin terselenggaranya mutu pelayanan dasar kepada
masyarakat secara merata.
b. Menjamin tercapainya kondisi rata-rata minimal yang harus dicapai
pemerintah sebagai penyedia pelayanan kepada masyarakat.
c. Pedoman pengukuran kinerja penyelenggaraan bidang kesehatan.
d. Acuan prioritas perencanaan daerah dan pembiayaan APBD bidang
kesehatan dalam melakukan pengevaluasian dan monitoring
pelaksanaan pelayanan kesehatan.
Tujuan Standar Pelayanan Minimal Puskesmas
a. Pedoman bagi Puskesmas dalam penyelenggaraan layanan kepada masyarakat.
b. Terjaminnya hak masyarakat dalam menerima suatu layanan.
c. Dapat digunakan sebagai alat untuk menentukan alokasi anggaran yang dibutuhkan.
d. Alat akuntabilitas Puskesmas dalam penyelenggaraan layanannya.
e. Mendorong terwujudnya checks and balances.
f. Terciptanya transparansi dan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan puskesmas.
g. Standar Pelayanan Minimal (SPM) ini bertujuan untuk menyamakan pemahaman tentang
definisi operasional, indikator kinerja, ukuran atau satuan rujukan, target nasional
tahunan, cara perhitungan, rumus, pembilangan, penyebut, standar, satuan pencapaian
kinerja, dan sumber data.
Berikut adalah Standar Pelayanan Minimal di Puskesmas:
No. Jenis
Pelayanan
Indikator Keterangan
I. Pelayanan
Kesehatan
Dasar
1. Cakupan kunjungan Ibu
Hamil K- 4.
Ibu hamil yang mendapatkan
pelayanan antenatal sesuai standar
paling sedikit empat kali, triwulan
ketiga umur kehamilan.
2. Cakupan komplikasi
kebidanan yang ditangani.
Komplikasi kebidanan pada
kehamilan, persalinan, nifas.
3. Cakupan pertolongan
persalinan oleh tenaga
kesehatan yang memiliki
kompetensi kebidanan.
Proses pelayanan persalinan
dimulai pada kala I
sampai dengan kala IV persalinan.
4. Cakupan Pelayanan Nifas pelayanan kepada ibu nifas
sedikitnya 3 kali, pada 6 jam pasca
persalinan s.d 3 hari; pada minggu
ke II, dan pada minggu ke VI
termasuk persiapan dan/atau
pemasangan KB Pasca Persalinan
5. Cakupan Neonatus
dengan komplikasi yang
ditangani
Bayi berumur 0 – 28 hari, dengan
penyakit dan kelainan yang dapat
menyebabkan kesakitan, kecacatan,
dan kematian
6. Cakupan Kunjungan Bayi Setiap bayi memperoleh pelayanan
kesehatan minimal 4 kali yaitu
1 kali pada umur 29 hari-3 bulan, 1
kali pada umur 3-6 bulan, 1 kali
pada umur 6-9 bulan, dan 1 kali
pada umur 9-11 bulan.
7. Cakupan Desa/ imunisasi dasar secara lengkap
8. Cakupan pelayanan anak balita Mencakup Pemantauan pertumbuhan dan
Pemantauan perkembangan setiap anak usia 12-
59 bulan dilaksanakan minimal 2 kali pertahun
(setiap 6 bulan)
Pemberian makanan pendamping ASI pada anak
usia 6 – 24 Bulan dari keluarga miskin selama 90
hari.
10. Cakupan balita gizi buruk
mendapat perawatan
balita gizi buruk yang ditangani di sarana
pelayanan kesehatan sesuai tatalaksana gizi
buruk di satu wilayah kerja pada kurun waktu
tertentu.
11. Cakupan penjaringan kesehatan
siswa SD dan setingkat
pemeriksaan kesehatan umum, kesehatan gigi
dan mulut siswa kelas 1 SD dan Madrasah
Ibtidaiyah yang dilaksanakan oleh tenaga
kesehatan bersama guru, dokter kecil.
12. Cakupan peserta KB aktif Pasangan suami – Isteri, yang istrinya berusia 15
– 49 tahun. Angka Cakupan Peserta KB aktif
menunjukkan Tingkat pemanfaatan kontrasepsi
di antara para Pasangan Usia Subur (PUS).
13. Cakupan Penemuan dan
Penanganan Penderita Penyakit.
a. Acute Flacid Paralysis (AFP) rate per
100.000 penduduk < 15 tahun
b. Penemuan Penderita Pneumonia Balita
c. Penemuan pasien baru TB BTA Positif
d. Penderita DBD yang ditangani
14. Cakupan pelayanan kesehatan
dasar pasien masyarakat miskin
Jumlah pasien masyarakat miskin di puskesmas
pada kurun waktu tertentu.
II Pelayanan
kesehatan
rujukan
15. Cakupan pelayanan
kesehatan rujukan pasien
masyarakat miskin
Rawat Jalan Tingkat Lanjut
meliputi rawat inap di sarana
kesehatan strata dua dan strata tiga
16. Cakupan Pelayanan
Gawat Darurat level 1 yang
harus diberikan
tempat pelayanan gawat darurat
yang memiliki Dokter
Umum on site 24 jam dengan.
General Emergency Life Support.
Advance Trauma Life Support.
Advance Cardiac Life Support.
III Penyelidikan
epidemiologi
dan
penanggulangan
KLB
17. cakupan desa/kelurahan
mengalami KLB yang
dilakukan penyelidikan
epidemiologi <24 jam
Upaya untuk menemukan penderita
atau tersangka penderita,
penatalaksanaan penderita,
pencegahan peningkatan, perluasan
dan menghentikan suatu KLB
IV. Promosi
Kesehatan dan
Pemberdayaan
Masyarakat
18. Cakupan Desa Siaga
Aktif
desa yang mempunyai Pos
Kesehatan Desa (Poskesdes) atau
UKBM lainnya berfungsi sebagai
pemberi pelayanan kesehatan
dasar, penanggulangan bencana
dan kegawatdaruratan, surveilance
berbasis masyarakat yang meliputi
pemantauan pertumbuhan (gizi),
penyakit, lingkungan dan
Suksema . . . . . . .
Semoga materi ini bisa bermanfaat untuk kita.

Budaya Kerja dan Standar Pelayanan Minimal

  • 1.
  • 2.
    • Septian TrijayantikaI Komang 12.321.1507 • Sri Somarianti Ni Putu 12.321.1508 • Sukma Handayani Ni Luh Putu 12.321.1509 • Suryani Ni Putu 12.321.1510 • Sutami Wahyuni Ni Luh 12.321.1511 • Trisna Irawan I Made 12.321.1512 • I Ngurah Kadek Verar Oka Pinatih 12.321.1513 • Wiwit Purnama Yanthi Ni Kade 12.321.1504 • Yuni Astuti Ni Nyoman 12.321.1516 • Yuni Sumantari Ida Ayu 12.321.1517 Anggota Kelompok :
  • 3.
    1. Pengertian budaya,budaya kerja, dan budaya kerja dalam pelayanan kesehatan. 2. Standar pelayanan minimal rumah sakit dan standar pelayanan minimal puskesmas. Hal yang akan kami bahas . . .
  • 4.
    Konsep . .. Budaya Kerja Budaya Kerja
  • 5.
    Budaya diartikan sebagaipikiran, akal budi atau adat-istiadat. Secara tata bahasa, pengertian kebudayaan diturunkan dari kata budaya yang cenderung menunjuk pada pola pikir manusia. (Dikutip dari kamus besar Indonesia) Pengertian Budaya
  • 6.
    Kerja adalah kegiatanmelakukan sesuatu : yang dilakukan (diperbuat) Pengertian Kerja
  • 7.
    • Budaya kerjaadalah suatu falsafah yang didasari oleh pandangan hidup sebagai nilai- nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan kekuatan pendorong, membudaya dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat atau organisasi, kemudian tercermin dari sikap menjadi prilaku, kepercayaan, cita- cita, pendapat dan tindakan yang terwujud sebagai kerja atau bekerja. (Menurut Triguno dalam Daryatmi (2002)) Budaya Kerja
  • 8.
    1. Meningkatkan jiwagotong royong 2. Meningkatkan kebersamaan 3. Saling terbuka satu sama lain 4. Meningkatkan jiwa kekeluargaan 5. Meningkatkan rasa kekeluargaan 6. Membangun komunikasi yang lebih baik 7. Meningkatkan produktivitas kerja 8. Tanggap dengan perkembangan dunia luar Manfaat dari penerapan Budaya Kerja yang baik :
  • 9.
    • Kinerja atauprestasi kerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. • Faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja, yaitu 1. faktor kemampuan (ability) 2. faktor motivasi (motivation). Budaya Kerja dalam Pelayanan Kesehatan
  • 10.
    • Dalam pelayanankesehatan, berbagai jenjang pelayanan dan asuhan pasien (patient care) merupakan bisnis utama, serta pelayanan keperawatan merupakan mainstream sepanjang kontinum asuhan. • Upaya untuk memperbaiki mutu dan kinerja pelayanan klinis pada umumnya dimulai oleh perawat melalui berbagai bentuk kegiatan, seperti: gugus kendali mutu, penerapan standar keperawatan, pendekatan – pendekatan pemecahan masalah, maupun audit keperawatan.
  • 11.
    Penerapan pendekatan kualitaspelayanan kesehatan dapat menjamin organisasi pelayanan kesehatan akan selalu menghasilkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, sebuah pelayanan kesehatan yang sesuai dengan harapan dan kebutuhan pasien. Penerapan pendekatan kualitas pelayanan kesehatan akan menjadikan organisasi pelayanan kesehatan semakin efisien. Penerapan pendekatan kualitas pelayanan kesehatan akan membuat organisasi pelayanan kesehatan menjadi terhormat, terkenal dan selalu dicari oleh siapapun yang membutuhkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, serta menjadi tempat kerja menyenangkan bagi tenaga kesehatan. Terdapat beberapa alasan terpenting terkait penerapan kualitas pelayan kesehatan dalam organisasi pelayanan kesehatan, antara lain (Pohan, 2007)
  • 12.
    Penerapan pendekatan kualitaspelayanan kesehatan terutama akan memperhatikan keluaran pelayanan kesehatan sehingga setiap pelaksanaan tugas harus dilakukan dengan benar agar bermanfaat bagi pasien. Penerapan pendekatan kualitas pelayanan kesehatan akan menumbuhkan kepuasan kerja, komitmen, dan peningkatan moral profesi pelayanan kesehatan, serta akhirnya akan menimbulkan kepuasan pasien. Lanjutan. . .
  • 13.
    Standar Pelayanan Kesehatan •Standar pelayanan minimal di rumah sakit • Standar pelayanan minimal di puskesmas
  • 14.
    No JENIS PELAYANANINDIKATOR STANDAR 1 2 3 4 1 Gawat Darurat Kemampuan menangani life saving anak dan dewasa 100% Jam buka pelayanan gawat darurat 24 jam Pemberi pelayanan kegawatdaruratan yang bersertifikat yang masih berlaku ATLS/BTLS/ACLS/PPGD 100 % Kesediaan tim penanggulangan bencana Satu tim Waktu tanggap pelayanan dokter di gawat darurat ≤ 5 menit terlayani setelah pasien datang Kepuasan pelanggan ≥ 70 % Tidak adanya pasien yang diharuskan membayar uang muka 100 % Kematian pasien ≤ 24 jam ≤ dua per seribu (pindah ke pelayanan rawat inap setelah 8 jam) Tidak adanya pasien yang diharuskan membayar uang muka 100 % STANDAR PELAYANAN MINIMAL SETIAP JENIS PELAYANAN, INDIKATOR DAN STANDAR DI RUMAH SAKIT Standar pelayanan minimal di rumah sakit
  • 15.
    2 Rawat JalanDokter pemberi Pelayanan di Poliklinik Spesialis 100% Dokter Spesialis Ketersediaan pelayanan a.Klinik Anak b.Klinik Penyakit Dalam c.Klinik Kebidanan d.Klinik Bedah Jam buka pelayanan 08.00 s/d 13.00 Setiap hari kerja kecuali Jum’at : 08.00 - 11.00 Waktu tunggu di rawat jalan ≤ 60 menit Kepuasan pelanggan ≥ 90 % a. Penegakan diagnosis TB melalui pemeriksaan mikroskopis TB b. Terlaksananya kegiatan pencatatan dan pelaporan TB di Rumah Sakit a. ≥ 60% b. ≥ 60 % 3 Rawat Inap Pemberi pelayanan di Rawat Inap a.Dokter spesialis b.Perawat minimal pendidikan D3 Dokter penanggung jawab pasien rawat inap 100 % Ketersediaan Pelayanan Rawat Inap a.Anak b.Penyakit Dalam c.Kebidanan d.Bedah Jam Visite Dokter Spesialis 08.00 s/d 14.00 setiap hari kerja Kejadian infeksi pasca operasi ≤ 1,5 % Kejadian infeksi nosokomial ≤ 1,5 % Tidak adanya kejadian pasien jatuh yang berakhir kecacatan / kematian 100 % Kematian pasien > 48 jam ≤ 0,24 % Kejadian pulang Paksa ≤ 5 % Kepuasan pelanggan ≥ 90 % Rawat inap TB : a.Penegakan Dianogsis TB melalui 4 Bedah Sentral (Bedah saja ) Waktu tunggu operasi elektif ≤ 2 hari Kejadian Kematian di meja operasi ≤ 1 % Tidak adanya kejadian operasi salah sisi 100 % Tidak adanya kejadian operasi salah orang 100 % Tidak adanya kejadian salah tindakan pada operasi 100 % Tidak adanya kejadian tertinggalnya benda asing / lain pada tubuh pasien setelah operasi. 100 % Komplikasi anastesi karena overdosis, reaksi anastesi, dan salah penempatan endotracheal tube. ≤ 6 % 5 Persalinan dan Perinatalogi (kecuali rumah sakit khusus diluar rumah sakit ibu dan Anak) Kejadian kematian ibu karena persalinan a.Perdarahan ≤ 1 % b.Pre –Eklamsia ≤ 30% c.Sepsis ≤ 0,2 % Pemberi pelayanan persalinan normal a.Dokter Sp.OG b.Dokter Umum terlatih (Asuhan Persalinan Normal ) c.Bidan Pemberi pelayanan dengan persalinan penyulit Tim PONEK yang terlatih. Pemberi pelayanan persalinan dengan tindakan operasi a.Dokter Sp.OG b.Dokter Sp.A c.Dokter Sp.An Kemampuan menangani BBLR 1500 gr - 2500 gr 100% Pertolongan Persalinan melalui seksio cesaria ≤ 20 % Keluarga Berencana : Persentase KB (Vasektomi & tubektomi) yang dilakukan oleh tenaga kompeten dr. Sp.OG, dr.Sp.B, dr.Sp.U, dokter umum terlatih. Persentase peserta KB mantap a.100%
  • 16.
    6 Intensif Rata-rataPasien yang kembali ke perawatan intensif dengan kasus yang sama < 72 jam ≤ 3 % Pemberi pelayanan Unit intensif a. Dokter Sp.Anestesi dan dokter spesialis sesuai dengan kasus yang di tangani b. 100 % perawat minimal D3 dengan sertifikat Perawat mahir ICU/setara (D4) 7 Radiologi Waktu tunggu hasil pelayanan thorax foto. ≤ 3 jam Pelaksana ekspertisi Dokter Spesialis Radiologi Kejadian kegagalan pelayanan Rontgen Kerusakan foto ≤ 2% Kepuasan pelanggan. ≥ 80 % 8 Laboratorium Patologi Klinik Waktu tunggu hasil pelayanan laboratorium. ≤ 140 menit Kimia darah & darah rutin. Pelaksana ekspertisi Dokter Spesialis Patologi Klinik Tidak adanya kesalahan pemberian hasil pemeriksaan laboratorium. 100 % Kepuasan pelanggan. ≥ 80 % 9 Rehabilitasi Medik Kejadian Drop Out pasien terhadap pelayanan rehabilitasi medik yang direncanakan ≤ 50 % Tidak adanya kejadian kesalahan tindakan rehabilitasi medik 100 % Kepuasan pelanggan. ≥ 80 % 10 Farmasi Waktu tunggu pelayanan a. Obat jadi b. Obat Racikan a. ≤ 30 menit b. ≤ 60 menit Tidak adanya Kejadian kesalahan pemberian obat. 100% Kepuasan pelanggan. ≥ 80 % Penulisan resep sesuai formularium 100 % 11 Gizi Ketepatan waktu pemberian makanan kepada pasien ≥ 90 % Sisa makanan yang tidak termakan oleh pasien. ≤ 20% Tidak adanya kejadian kesalahan pemberian diet 100 % 12 Tranfusi Darah Kebutuhan darah bagi setiap pelayanan tranfusi 100 % terpenuhi Kejadian reaksi tranfusi ≤ 0,01 % 13 Pelayanan GAKIN Pelayanan terhadap pasien GAKIN yang datang ke RS pada setiap unit pelayanan 100 % terpenuhi
  • 17.
    14 Rekam MedikKelengkapan pengisian rekam medik 24 jam setelah selesai pelayanan 100% Kelengkapan Informed Concent setelah mendapatkan informasi yang jelas. 100% Waktu penyediaan dokomen rekam medik pelayanan rawat jalan ≤ 10 menit Waktu penyediaan dokumen rekam medik rawat Inap ≤ 15 menit 15 Pengelolaan Limbah Buku mutu limbah cair a. BOD < 30 mg/1 b. COD < 80 mg/1 c. TSS < mg/1 d. PH 6-9 Pengelolaan limbah padat infeksius sesuai dengan aturan. 100 % 16 Administrasi dan manajemen Tindak lanjut penyelesaian hasil pertemuan direksi 100 % Kelengkapan laporan akuntabilitas kinerja 100 % Ketepatan waktu pengusulan kenaikan pangkat 100 % Ketepatan waktu pengurusan gaji berkala 100 % Karyawan yang mendapat pelatihan minimal 20 jam setahun. ≥ 60 % Cost recovery ≥ 40 % Ketepatan waktu penyusunan laporan keuangan 100 % Kecepatan waktu pemberian informasi tentang tagihan pasien rawat inap ≤ 2 jam Ketepatan waktu pemberian imbalan 100 % 17 Ambulance/ Kereta Jenazah Waktu pelayanan ambulance / kereta jenazah 24 jam Kecepatan memberikan pelayanan ambulance/kereta jenazah di rumah sakit ≤ 30 menit Response time pelayanan ambulance oleh masyarakat yang membutuhkan Sesuai ketentuan daerah 18 Pemulasaraan Jenazah Waktu tanggap (response time) pelayanan pemulasaraan jenazah ≤ 2 jam 19 Pelayanan pemeliharaan sarana rumah sakit Kecepatan waktu menanggapi kerusakan alat ≤ 80 % Ketepatan waktu pemeliharaan alat 100 % Peralatan laboratorium dan alat ukur yang di gunakan yang digunakan dalam pelayanan terkalibrasi tepat waktu sesuai dengan ketentuan kalibrasi 100 % 20 Pelayanan Laundry Tidak adanya kejadian linen yang hilang 100 % Ketepatan waktu penyediaan linen untuk ruang rawat inap 100 % 21 Pencegahan dan Pengendalian Infeksi ( PPI ) Adanya anggota tim PPI yang terlatih ≥ 75 % Tersedia APD disetiap instalasi / departement ≥ 60 % Kegiatan pencatatan dan pelaporan infeksi nosokomial / HAI (health care associated infections) di rumah sakit (minimum 1 parameter) ≥ 75 %
  • 18.
    Standar Pelayanan Minimaldi Puskesmas Fungsi Standar Pelayanan Minimal Puskesmas a. Menjamin terselenggaranya mutu pelayanan dasar kepada masyarakat secara merata. b. Menjamin tercapainya kondisi rata-rata minimal yang harus dicapai pemerintah sebagai penyedia pelayanan kepada masyarakat. c. Pedoman pengukuran kinerja penyelenggaraan bidang kesehatan. d. Acuan prioritas perencanaan daerah dan pembiayaan APBD bidang kesehatan dalam melakukan pengevaluasian dan monitoring pelaksanaan pelayanan kesehatan.
  • 19.
    Tujuan Standar PelayananMinimal Puskesmas a. Pedoman bagi Puskesmas dalam penyelenggaraan layanan kepada masyarakat. b. Terjaminnya hak masyarakat dalam menerima suatu layanan. c. Dapat digunakan sebagai alat untuk menentukan alokasi anggaran yang dibutuhkan. d. Alat akuntabilitas Puskesmas dalam penyelenggaraan layanannya. e. Mendorong terwujudnya checks and balances. f. Terciptanya transparansi dan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan puskesmas. g. Standar Pelayanan Minimal (SPM) ini bertujuan untuk menyamakan pemahaman tentang definisi operasional, indikator kinerja, ukuran atau satuan rujukan, target nasional tahunan, cara perhitungan, rumus, pembilangan, penyebut, standar, satuan pencapaian kinerja, dan sumber data.
  • 20.
    Berikut adalah StandarPelayanan Minimal di Puskesmas: No. Jenis Pelayanan Indikator Keterangan I. Pelayanan Kesehatan Dasar 1. Cakupan kunjungan Ibu Hamil K- 4. Ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit empat kali, triwulan ketiga umur kehamilan. 2. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani. Komplikasi kebidanan pada kehamilan, persalinan, nifas. 3. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan. Proses pelayanan persalinan dimulai pada kala I sampai dengan kala IV persalinan. 4. Cakupan Pelayanan Nifas pelayanan kepada ibu nifas sedikitnya 3 kali, pada 6 jam pasca persalinan s.d 3 hari; pada minggu ke II, dan pada minggu ke VI termasuk persiapan dan/atau pemasangan KB Pasca Persalinan 5. Cakupan Neonatus dengan komplikasi yang ditangani Bayi berumur 0 – 28 hari, dengan penyakit dan kelainan yang dapat menyebabkan kesakitan, kecacatan, dan kematian 6. Cakupan Kunjungan Bayi Setiap bayi memperoleh pelayanan kesehatan minimal 4 kali yaitu 1 kali pada umur 29 hari-3 bulan, 1 kali pada umur 3-6 bulan, 1 kali pada umur 6-9 bulan, dan 1 kali pada umur 9-11 bulan. 7. Cakupan Desa/ imunisasi dasar secara lengkap 8. Cakupan pelayanan anak balita Mencakup Pemantauan pertumbuhan dan Pemantauan perkembangan setiap anak usia 12- 59 bulan dilaksanakan minimal 2 kali pertahun (setiap 6 bulan) Pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6 – 24 Bulan dari keluarga miskin selama 90 hari. 10. Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan balita gizi buruk yang ditangani di sarana pelayanan kesehatan sesuai tatalaksana gizi buruk di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. 11. Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat pemeriksaan kesehatan umum, kesehatan gigi dan mulut siswa kelas 1 SD dan Madrasah Ibtidaiyah yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bersama guru, dokter kecil. 12. Cakupan peserta KB aktif Pasangan suami – Isteri, yang istrinya berusia 15 – 49 tahun. Angka Cakupan Peserta KB aktif menunjukkan Tingkat pemanfaatan kontrasepsi di antara para Pasangan Usia Subur (PUS). 13. Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit. a. Acute Flacid Paralysis (AFP) rate per 100.000 penduduk < 15 tahun b. Penemuan Penderita Pneumonia Balita c. Penemuan pasien baru TB BTA Positif d. Penderita DBD yang ditangani 14. Cakupan pelayanan kesehatan dasar pasien masyarakat miskin Jumlah pasien masyarakat miskin di puskesmas pada kurun waktu tertentu.
  • 21.
    II Pelayanan kesehatan rujukan 15. Cakupanpelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin Rawat Jalan Tingkat Lanjut meliputi rawat inap di sarana kesehatan strata dua dan strata tiga 16. Cakupan Pelayanan Gawat Darurat level 1 yang harus diberikan tempat pelayanan gawat darurat yang memiliki Dokter Umum on site 24 jam dengan. General Emergency Life Support. Advance Trauma Life Support. Advance Cardiac Life Support. III Penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan KLB 17. cakupan desa/kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi <24 jam Upaya untuk menemukan penderita atau tersangka penderita, penatalaksanaan penderita, pencegahan peningkatan, perluasan dan menghentikan suatu KLB IV. Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat 18. Cakupan Desa Siaga Aktif desa yang mempunyai Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) atau UKBM lainnya berfungsi sebagai pemberi pelayanan kesehatan dasar, penanggulangan bencana dan kegawatdaruratan, surveilance berbasis masyarakat yang meliputi pemantauan pertumbuhan (gizi), penyakit, lingkungan dan
  • 22.
    Suksema . .. . . . . Semoga materi ini bisa bermanfaat untuk kita.