• Like

Loading…

Flash Player 9 (or above) is needed to view presentations.
We have detected that you do not have it on your computer. To install it, go here.

Evaluasi Proses Pemantauan Jentik Daerah Kepadatan Jentik Rendah

  • 4,889 views
Uploaded on

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
4,889
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
107
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. 1 EVALUASI PROSES PEMANTAUAN JENTIK DI DAERAH KEPADATAN JENTIK RENDAH (STUDI DI KELURAHAN PANGGUNG LOR KOTA SEMARANG) Lidia Fibriana Putri Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, FIK, Universitas Negeri Semarang ABSTRAKKepadatan jentik berpengaruh terhadap kasus DBD. Apabila hasil pemantauan jentikmenunjukkan kepadatan jentik rendah maka diasumsikan kasus DBD akan menurun,begitu juga sebaliknya. Namun di Kelurahan Panggung Lor, kasus DBD tinggi padahalkepadatan jentiknya rendah. Ketidaksesuaian ini menimbulkan ketidakpercayaan padakebenaran data hasil pemantauan jentik yang dilatarbelakangi oleh proses pemantauanjentik. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hasil evaluasi proses pemantauanjentik di daerah kepadatan jentik rendah (Studi di Kelurahan Panggung Lor KotaSemarang). Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif menggunakan rancangan studievaluasi dengan pendekatan kualitatif tentang kondisi pemantauan jentik di daerahkepadatan jentik rendah pada tahap perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan pelaporan.Informan dalam penelitian berjumlah 11 orang yang terdiri dari ketua FKK, jumantik danmasyarakat yang ditentukan dengan teknik purposive sampling dan snowball sampling.Instrumen yang digunakan adalah panduan wawancara, lembar observasi dan lembardokumentasi. Analisis data menggunakan metode analisis isi (content analysis). Simpulandari penelitian ini perencanaan pemantauan jentik di Kelurahan Panggung Lor meliputisosialisasi secara ceramah berurutan dari DKK sampai RT melalui PKK setiap bulan,perekrutan jumantik secara penunjukkan oleh kepala kelurahan dan pokja 4 PKK dengankriteria kader sebagai jumantik, dan pelatihan jumantik secara rutin tiap tahun di DKKserta tiap bulan di puskesmas dan pokja 4 PKK. Pelaksanaan pemantauan jentik diKelurahan Panggung Lor meliputi persiapan berupa pengumpulan data rumah danpendekatan ke masyarakat tiap bulan di PKK, kunjungan rumah oleh jumantik yang tidakrutin dilakukan tiap minggu, pemantauan jentik secara mandiri oleh masyarakat,penyuluhan DBD secara individual dan kelompok setiap bulan mengenai pengenalan,gejala, dan nyamuk penular DBD, cara pemantauan jentik, PSN, dan 3M serta pencatatanhasil pada formulir JPJ-1. Monitoring pemantauan jentik di Kelurahan Panggung Lorhanya berupa pemantauan wilayah setempat tanpa pemetaan wilayah tapi tidak setiapbulan, dan data pemantauan jentik di Kelurahan Panggung Lor dilaporkan setiap bulan kepuskesmas dan diolah menjadi ABJ. Saran yang diberikan dari hasil penelitian adalahdiharapkan dilakukan perbaikan pada tahapan pelaksanaan, monitoring, dan pelaporandata pemantauan jentik di Kelurahan Panggung Lor oleh pihak Dinas Kesehatan KotaSemarang, Puskesmas Bulu Lor, dan jumantik Kelurahan Panggung Lor. ABSTRACTLarvae density was influential towards the DHF incident. If the results of monitoringlarvae indicate low larvae density, it is assumed DHF cases will decrease. However inKelurahan Panggung Lor, DHF cases high whereas its larvae density low. Thisincompatibility caused distrust in the truth of data produced by monitoring larvae is 1
  • 2. 2motivated by monitoring larvae process. The purpose of this research is to find out theresults of evaluation of process monitoring larvae in the low larvae density areas (Studyin Kelurahan Panggung Lor Kota Semarang). Kind of this research is descriptive researchusing evaluation study design with qualitative approach about the condition of monitoringlarvae in low larvae density areas at the planning, implementation, monitoring andreporting stage. Number of informants in this research is 11 people consists of a FKKchairman, Jumantik and community that were determined by purposive sampling andsnowball sampling technique. The instruments that are used is the interview guide,observation sheets and documentation sheets. Analysis of the data using content analysismethods. The conclusions of this research, planning of monitoring larvae in KelurahanPanggung Lor include socialization by sequentially explanation from DKK to RTthrought PKK every month, jumantik recruitment by appointment with criteria kader asjumantik, jumantik training is done routine every year in DKK and every month in publichealth center and pokja 4 PKK. Implementation of monitoring larvae in KelurahanPanggung Lor include preparation form of home data collection and approaches tocommunity every month in PKK, home visits by jumantik are not routinely done everyweek, monitoring larvae independently by the community, DBD counseling by individualand group every month about introduction, symptoms, and mosquito-borne dengue fever,ways of monitoring larvae, PSN, and 3M as well as recording the results on the form JPJ-1. Monitoring of monitoring larvae in Kelurahan Panggung Lor only form of local areamonitoring without mapping the area but not every month, and data of monitoring larvaeare reported monthly to the Public Health Center and processed into ABJ. Advice givenfrom the results of the study is expected to repairs on the stage of implementation,monitoring, and reporting of monitoring larvae data in Kelurahan Panggung Lor by theSemarang Health Departement, Bulu Lor Public Health Center, and Panggung Lorjumantik.Kata Kunci : Evaluasi, Pemantauan Jentik, Kepadatan Jentik PENDAHULUAN dan CFR sebesar 0,86% (Depkes RI, 2009:122). Penyebaran DBD di Deman Berdarah Dengue (DBD) Indonesia sampai tahun 2009 dari 497adalah salah satu penyakit menular kabupaten/kota tercatat 384dengan perjalanan penyakitnya cepat kabupaten/kota atau 77,26% yang(Depkes RI, 2009:121) yang terjangkit DBD (Depkes RI, 2010:49).disebabkan virus dengue yang Salah satu provinsi dengan IR tinggiditularkan dari manusia ke manusia (5,74 per 10.000 penduduk) yaitu Jawalain melalui gigitan nyamuk Aedes Tengah (Dinkes Prov. Jawa Tengah,aegypti maupun Aedes albopictus 2010:129). Dari 35 kabupaten dan kota(Dantje T. Sembel, 2009:63). Data di Jawa Tengah, pada tahun 2009 Kotatahun 2009 menunjukkan incident rate Semarang menduduki peringkat(IR) DBD di Indonesia 68,22 per pertama DBD dengan IR 26,69 per100.000 penduduk dan case fatality 10.000 penduduk (DKK Semarang,rate (CFR) 0,89% (Depkes RI, 2010:22), bahkan sampai akhir tahun2010:47), yang jauh dari target IR < 20 2009 di Kota Semarang masih terjadiper 100.000 penduduk dan mengalami KLB di 50 Kelurahan, 14 Puskesmaspeningkatan dibandingkan tahun 2008 dan 7 Kecamatan (DKK Semarang,dengan IR 59,02 per 100.000 penduduk 2010:24). Data IR DBD tahun 2010 di
  • 3. 3Kota Semarang sebesar 368,7 per upaya pencegahan dan pemberantasan100.000 penduduk. Salah satu DBD tepat.kelurahan di Kota Semarang yang Kelurahan Panggung Lor padamemiliki IR DBD tinggi (514,9 per tahun 2010 menduduki peringkat ke-3100.000 penduduk) pada tahun 2010 kelurahan dengan kepadatan jentikadalah Kelurahaan Panggung Lor. rendah di Kota Semarang. Hal iniSelain itu pada tahun yang sama di mengindikasikan sudah berhasilnyaKelurahan Panggung Lor terjadi KLB pengendalian vektor di KelurahanDBD karena ditemukannya kematian Panggung Lor. Namun, padaakibat DBD (CFR 1,4%) padahal kenyataannya walaupun kepadatantahun-tahun sebelumnya tidak jentik di Kelurahan Panggung Lorditemukan kasus meninggal. Hal ini rendah dan upaya pengendalian vektormenunjukkan DBD merupakan telah dinyatakan berhasil, kasus DBDmasalah kesehatan yang serius di di Kelurahan Panggung Lor masihKelurahan Panggung Lor. tinggi bahkan Kelurahan Panggung Lor Karena belum ditemukannya masih merupakan daerah endemis. Halvaksin yang efektif untuk mencegah ini bertentangan dengan hasil penelitiandan mengendalikan DBD (Saleha Teguh Widiyanto (2007) yangSungkar, 2007:168) maka upaya menyatakan faktor keberadaan jentikpencegahan dan pengendalian DBD berhubungan dengan kejadian DBDdilakukan melalui pengendalian vektor (p<0,05). Selain itu, juga bertentanganyang lebih ditekankan pada dengan teori yang menyatakanpemberdayaan masyarakat. Adapun kepadatan jentik rendah berpengaruhpemberdayaan masyarakat tersebut terhadap rendahnya kejadian DBDberupa kegiatan Pemberantasan Sarang karena menurunkan resiko penularanNyamuk (PSN) yang digerakkan DBD (WHO, 2000).melalui penyuluhan DBD dan Ketidaksesuaian teori danpemantauan jentik. Kegiatan penelitian sebelumnya denganpemantauan jentik tersebut dilakukan kenyataan tingginya kasus DBD dioleh juru pemantau jentik atau yang Kelurahan Panggung Lor padahaldikenal sebagai jumantik setiap satu kepadatan jentiknya rendah ini bisabulan kemudian hasil pemeriksaan dikaitkan salah satunya denganjentik ini direkapitulasi menjadi ABJ.. kegiatan pemantauan jentik. Jika hasil pemantauan jentik Ketidaksesuaian ini menimbulkanmenunjukkan ABJ >95% (kepadatan ketidakpercayaan pada kebenaran datajentik rendah) berarti upaya hasil pemantauan jentik. Kebenaranpengendalian vektor berhasil. Jika data hasil pemantauan jentik iniupaya pengendalian vektor berhasil dipengaruhi oleh sistem pemantauanmaka diasumsikan kasus DBD akan jentik yang terdiri dari sub sistemmenurun atau bahkan tidak ditemukan input, proses, dan output. Diantarakasus lagi karena keberadaan nyamuk ketiga sub sistem tersebut yangsebagai vektor penular berkurang, berkaitan langsung dengan data hasilbegitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, pemantauan jentik adalah sub sistemsangat diperlukan hasil pemantauan proses. Hal ini dikarenakan data hasiljentik yang akurat sehingga penentuan pemantauan jentik dihasilkan dari sub sistem proses. Selain itu, sebelum
  • 4. 4menilai kebenaran data hasil dilakukan pengambilan/pemeriksaanpemantauan jentik perlu dinilai jenis larva. Metode ini paling seringkesesuaian antara proses pemantauan digunakan dalam pemantauan jentikjentik yang melatarbelakangi (Widya Hary Cahyati, 2006:47).munculnya data dengan tataran Tujuan dari penelitian ini adalahidealnya. untuk mengetahui hasil evaluasi proses pemantauan jentik di daerah kepadatanKegiatan Pemantauan Jentik jentik rendah Kelurahan Panggung Lor Kegiatan pemantauan jentik adalah yang terdiri dari (1) gambarankegiatan pemeriksaan tempat perencanaan pelaksanaan pemantauanpenampungan air dan tempat jentik, (2) gambaran pelaksanaanperkembangbiakan nyamuk Ae. Aegypti pemantauan jentik, (3) gambaranuntuk mengetahui adanya jentik monitoring pelaksanaan pemantauannyamuk, yang dilakukan di rumah dan jentik, dan (4) gambaran pelaporan dantempat umum secara teratur untuk pengolahan data informasi pemantauanmengetahui keadaan populasi jentik jentik.nyamuk penular penyakit DBD. METODEJuru Pemantau Jentik Juru pemantau jentik (jumantik) Penelitian ini merupakanadalah kelompok kerja kegiatan penelitian deskriptif dengan rancanganpemberantasan penyakit demam penelitian yang digunakan adalah studiberdarah dengue di tingkat evaluasi (Moch. Imron dan Amruldesa/kelurahan dalam wadah Lembaga Munif, 2010:122) dengan pendekatanKetahanan Masyarakat Desa atau kualitatif (Saryono dan Mekar DwiForum Kesehatan Kelurahan (Depkes Anggraeni, 2010:49) dimana penelitiRI, 1992). Tugas pokok jumantik mengevaluasi proses pemantauan jentikadalah melakukan pemantauan jentik, secara retrospektif dan prospektifpenyuluhan kesehatan, menggerakkan (Moch. Imron dan Amrul Munif,pemberantasan sarang nyamuk secara 2010:122) dengan menggambarkanserentak dan periodik, serta kondisi pemantauan jentik di daerahmelaporkan hasil kegiatan tersebut kepadatan jentik rendah pada tahapkepada supervisor dan petugas perencanaan, pelaksanaan, monitoringpuskesmas, sehingga akan dapat dan pelaporan secara obyektif yangdihasilkan sistem pemantauan jentik diperoleh dari hasil mengamati fokusyang berjalan dengan baik (Tim penelitian, mencatat apa yang terjadi diPenanggulangan DBD Depkes RI, tempat penelitian, melakukan analisis2004). isi terhadap berbagai dokumen yang ditemukan di tempat penelitian danMetode Pemantauan Jentik membuat laporan penelitian secara Metode pemantauan jentik yang mendetail (Sugiyono, 2011:14).paling sering digunakan adalah survei Informasi proses pemantauanlarva secara visual. Survei ini jentik tersebut didapatkan dengan caradilakukan dengan cara melihat dan observasi tentang pelaksanaanmencatat ada tidaknya larva dalam pemantauan jentik, wawancara tentangtempat perindukan nyamuk dan tidak proses pemantauan jentik yang
  • 5. 5dilakukan pada partisipan, dan 2. Jumantik FKK Panggung Lor didokumentasi. Partisipan dalam RW 10 dan RW 6 (1 Jumantik perpenelitian ini ditentukan dengan teknik RW)purposive sampling dan snowball 3. masyarakat RW 10 dan RW 6sampling (Sugiyono, 2011:218–221). Kelurahan Panggung Lor (1 orangPenentuan partisipan dengan teknik per RW yang dipilih secarapurposive sampling didasarkan pada random)kriteria : Sedangkan, teknik snowball sampling1. ketua Forum Kesehatan Kelurahan digunakan karena data yang telah (FKK) Panggung Lor tahun 2010 – dikumpulkan dari partisipan 2011 sebelumnya belum mampu2. juru pemantau jentik (Jumantik) memberikan informasi yang FKK Panggung Lor yang : memuaskan, maka ditentukan − bertugas memantau jentik partisipan lain yang dapat digunakan selama tahun 2010 – 2011 sebagai sumber data berdasarkan − bertugas memantau jentik di rekomendasi partisipan sebelumnya RW dengan angka bebas jentik sampai tidak ditemukan data baru lagi. >95% selama bulan Januari – Jadi partisipan secara keseluruhan Mei 2011 berjumlah 11 orang, yang terdiri dari : − bertugas memantau jentik di 1. ketua FKK Panggung Lor RW yang ditemukan kasus 2. Jumantik FKK Panggung Lor di demam berdarah dengue pada RW 10 dan RW 6 (2 Jumantik per bulan Januari – Mei RW) 2011berdasarkan data dari 3. masyarakat RW 10 dan RW 6 Puskesmas Bulu Lor Kelurahan Panggung Lor (3 orang3. masyarakat Kelurahan Panggung per RW yang dipilih secara Lor yang : random). − tinggal di Kelurahan Panggung Lor lebih dari 1 tahun sampai HASIL DAN PEMBAHASAN penelitian berlangsung − tinggal di RW dengan angka GAMBARAN PERENCANAAN bebas jentik >95% selama bulan PEMANTAUAN JENTIK Januari – Mei 2011 Sosialisasi Pemantauan Jentik − tinggal di RW yang ditemukan Sosialisasi pemantauan jentik kasus demam berdarah dengue merupakan langkah awal untuk pada bulan Januari – Mei 2011 memperkenalkan kegiatan pemantauan berdasarkan data dari jentik kepada masyarakat. Perkenalan Puskesmas Bulu Lor ini menciptakan kesan pertama masyarakat tentang kegiatan − bersedia dijadikan informan penelitian pemantaun jentik. Kesan pertamaDari kriteria di atas ditetapkan masyarakat penting karena akanpartisipan sebanyak 5 orang, yang mempengaruhi pengetahuan, sikap, danterdiri dari : perilakunya terhadap pemantauan1. ketua FKK Panggung Lor jentik. Oleh karena itu, perlu diciptakan kesan yang baik melalui interaksi antara agen sosialisasi dengan
  • 6. 6masyarakat sebagai sasaran sosialisasi. pemantauan jentik, sehingga kegiatanAgen sosialisasi yakni orang-orang di pemantauan jentik tidak terlaksanasekitar masyarakat yang yang akhirnya membuat data kepadatanmentransmisikan nilai-nilai atau jentik yang dilaporkan pada puskesmasnorma-norma tertentu dalam hal ini atau DKK tidak sebenarnya.pemantauan jentik, baik secaralangsung maupun tidak langsung. Perekrutan Juru Pemantau JentikKarena interaksi merupakan kunci Juru Pemantau Jentik (jumantik)berlangsungnya proses sosialisasi, agen atau Petugas Pemantau Jentik (PPJ)sosialisasi yang sesuai adalah adalah orang yang ditunjuk dan diberisignificant others (orang yang paling tugas untuk pemantauan jentik rutin,dekat). Significant others yang sesuai mengumpulkan dan melaporkan datauntuk agen sosialisasi pemantauan pemantauan jentik rutin, penyuluhan,jentik di kelurahan adalah Forum dan menggerakkan masyarakatKesehatan Kelurahan (FKK). FKK (Pemerintah Kota Semarang, 2010:5).merupakan wadah partisipasi bagi Menurut Petunjuk Pelaksanaanmasyarakat dalam pengembangan Pemberantasan Sarang Nyamukpembangunan kesehatan di tingkat Demam Berdarah Dengue oleh Jurukelurahan untuk merencanakan, Pemantau Jentik yang dikeluarkan olehmenetapkan, koordinasi, dan penggerak Departemen Kesehatan Republikkegiatan serta monitoring evaluasi Indonesia tahun 2006, perekrutanpembangunan kesehatan di kelurahan jumantik dilaksanakan oleh puskesmas(Dinkes Kota Semarang, 2010:5). sesuai dengan tatacara yang telah Waktu dan tempat pelaksanaan ditetapkan dalam Surat Keputusansosialisasi pemantauan jentik Dirjen Binkesmas atau sesuai denganberdasarkan kesepakatan masyarakat ketentuan yang telah ditetapkan olehdengan petugas FKK. Di Kelurahan yang berwenang lainnya.Panggung Lor sosialisasi ini dilakukan Jika dilihat dari uraian teori di atas,setiap bulan dimulai dari tingkat pelaksanaan perekrutan jumantik dikelurahan sampai RT. Pelaksanaan Kelurahan Panggung Lor belum sesuai.sosialisasi pemantauan jentik dilakukan Hal ini dikarenakan perekrutansecara kontinyu. Hal ini bertujuan jumantik di Kelurahan Panggung Loruntuk menggerakkan masyarakat agar dilaksanakan oleh kepala kelurahan danterlibat dalam pemantauan jentik. pokja 4 PKK dengan cara penunjukkanKeterlibatan masyarakat ini dapat langsung tanpa ada tatacara khusus.membuat kegiatan pemantauan jentik Ketua pokja 4 PKK Kelurahanberjalan dengan baik. Apabila Panggung Lor selaku Petugas KBpemantauan jentik berjalan dengan baik (PKB) kelurahan ditunjuk kepalamaka akan didapat data hasil kelurahan sebagai jumantik kelurahan.pemantauan jentik yang sesuai keadaan Selanjutnya jumantik kelurahansebenarnya, sehingga kepadatan jentik menunjuk pokja 4 RW selaku PKB RWdan kejadian DBD dapat dipantau. sebagai jumantik RW dan jumantikAdapun dampak apabila sosialisasi RW menunjuk sub PKB RT sebagaipemantauan jentik tidak dilakukan jumantik RT. Berperannya PKBadalah tidak adanya kepedulian dan sebagai jumantik dikarenakan kesulitanperan serta masyarakat dalam mencari masyarakat yang bersedia
  • 7. 7menjadi kader. Selain itu, di Kota melaksanakan kegiatan kesehatan diSemarang belum ada tatacara khusus lingkungannya. Kader dapat direkrutperekrutan jumantik. Pemantauan sebagai jumantik dengan pertimbanganjentik di Kota Semarang secara umum kader telah memiliki pengetahuan dandiatur dalam Peraturan Daerah (Perda) ketrampilan kesehatan, telah terbiasaKota Semarang Nomor 5 Tahun 2010 terlibat dalam kegiatan kesehatan,tentang Pengendalian Penyakit Demam kepercayaan masyarakat pada kader,Berdarah. Kriteria jumantik di dan dekat dengan masyarakat, sehinggaKelurahan Panggung Lor yang sesuai dalam melaksanakan tugasnya tidakdengan uraian di atas yaitu jumantik mengalami kendala untuk pendekatanberasal dari Kelurahan Panggung Lor ke masyarakat. Kesulitan mencaridan kader sebagai jumantik. Kader masyarakat yang bersedia menjadiyang dimaksud adalah orang yang jumantik di Kelurahan Panggung Lorpernah mendapatkan informasi dan menunjukkan bahwa tidak adanyamengikuti pelatihan kesehatan kepedulian masyarakat mengenaitermasuk tentang pemantauan jentik pemantauan jentik. Tidak adanyadan bersedia menyampaikannya kepada imbalan dapat juga menjadi latarmasyarakat. belakang rendahnya kemauan Perekrutan jumantik bertujuan masyarakat untuk terlibat dalammencari sumber daya manusia yang pemantauan jentik. Oleh karena itu,berkompeten melaksanakan tugas dan apabila perekrutan jumantik hanyatanggung jawab dalam kegiatan berdasarkan penunjukkan tanpa disertaipemantauan jentik rutin, penyuluhan, tatacara atau pedoman, bisadan penggerakkan masyarakat untuk mengakibatkan jumantik tidak sepenuhPSN DBD. Kriteria jumantik menurut hati dalam melaksanakan tugas danPetunjuk Pelaksanaan Pemberantasan tanggung jawabnya, apalagiSarang Nyamuk DBD oleh jumantik penunjukkan tersebut dilakukan oleh(Depkes RI, 2006) berfungsi sebagai orang yang memiliki kedudukan lebihpanduan untuk memudahkan pencarian tinggi yang bisa menyebabkansumber daya manusia yang kesediaan jumantik hanya karena rasaberkompeten tersebut. Selain itu, tidak enak hati. Hal ini mempengaruhikemauan juga menjadi kriteria proses dan hasil kerja jumantik.jumantik, karena tanpa kemauanjumantik tidak akan bisa menjalankan Pelatihan Juru Pemantau Jentiktugas dan tanggung jawabnya dengan Menurut Petunjuk bagi Kelompokmaksimal. Jumantik dapat direkrut dari Kerja Pemberantasan Penyakit DBDkader kesehatan. Hal ini (pokja DBD) tahun 1995, pelatihandilatarbelakangi karena baik jumantik jumantik merupakan salah satumaupun kader kesehatan memiliki kegiatan awal untuk mempersiapkanperan yang sama untuk membantu penggerakan peran serta masyarakatpencapaian derajat kesehatan dalam pemberantasan DBD. Pelatihanmasyarakat yang optimal. Menurut kepada jumantik secara kontinyu iniPerda Kota Semarang Nomor 5 Tahun dapat meningkatkan pengetahuan,2010, kader kesehatan adalah anggota kesiapan, dan kemampuan jumantikmasyarakat yang bersedia secara dalam melaksanakan pemantauansukarela, mampu, dan memiliki waktu jentik, menggerakkan masyarakat
  • 8. 8dalam PSN DBD, dan melakukan petugas puskesmas. Apabila pelatihpenyuluhan pemberantasan DBD baik tidak berkompeten bisa dipastikansecara individu maupun kelompok. Hal jumantik yang dilatih juga tidak akanini sesuai dengan hasil penelitian Yuli memiliki kemampuan yang kompeten.Kusumawati dan S. Darnoto (2006) Hal ini membuat proses pemantauanyaitu pelatihan meningkatkan jentik tidak sesuai tataran idealnyapengetahuan kader tentang sehingga mempengaruhi hasilpemberantasan penyakit DBD. pemantauan jentik. Materi pelatihanPeningkatan pengetahuan kader harus benar dan berkembang, karenamenciptakan rasa percaya diri kader, apabila materi tidak sesuai akansehingga membuat kader merasa lebih menimbulkan pengetahuan dansiap untuk melaksanakan tugas dan pemahaman yang keliru yang akantanggung jawabnya. Selain itu, mempengaruhi kinerja dan hasil kerjapelatihan membekali kader dengan jumantik. Selain itu, perlu jugakemampuan sehingga kader lebih dilakukan praktek langsung saatmahir dan berkompeten. pelatihan agar jumantik lebih mahir Berdasarkan hasil wawancara dan terbiasa dalam melaksanakandengan partisipan diketahui bahwa tugasnya. Waktu pelatihan mengacupelatihan pemantauan jentik dilakukan pada frekuensi pelatihan. Pelatihandengan berurutan dari tingkat kota ke harus diberikan kontinyu agar jumantiktingkat RT. Pelatihan oleh DKK dan tidak lupa dan kemampuan jumantikpuskesmas dilakukan di DKK dan dapat terus dikembangkan. PelatihanPuskesmas dengan mengundang ini sangat diperlukan jumantik agarjumantik secara perwakilan. Adapun dalam pelaksanaan tugasnya tidakcara pelatihan pemantauan jentik terjadi kekeliruan, keadaan yangdengan penjelasan materi tentang cara sebenarnya dapat diidentifikasipemantauan jentik, tempat-tempat jumantik dengan benar.penampungan air apa saja yang harusdiperiksa, dan cara menaburkan abate GAMBARAN PELAKSANAANke tempat-tempat penampungan air. PEMANTAUAN JENTIKMateri yang telah diberikan kepada Persiapan Pemantauan Jentikjumantik oleh DKK, puskesmas, dan Berdasarkan hasil wawancarapokja 4 kelurahan disampaikan turun dengan partisipan diketahui bahwake RW dan RT saat arisan dan PKK pengumpulan data penduduk danoleh jumantik RW dan RT. rumah/bangunan untuk pemantauan Pelatihan merupakan bekal bagi jentik di Kelurahan Panggung Lorjumantik untuk melaksanakan tugas dilakukan dengan pengumpulan kartudan tanggung jawabnya dalam keluarga (KK). KK dikumpulkan kepemantauan jentik, penyuluhan, dan sekretaris RT secara langsung ataupenggerakan masyarakat untuk PSN melalui sub PKB RT dan dasawisma,DBD. Dalam pemberian bekal ini harus dan selanjutnya KK tersebutmemperhatikan pelatih, materi, dan dikumpulkan ke RW dan kelurahan.waktu pelatihan. Pelatih harus memiliki Tahap pertemuan pemantauan jentikkompetensi dalam hal pemantauan dan pendekatan kepada masyarakat dijentik dan pengendalian DBD, seperti Kelurahan Panggung Lor dilakukantenaga kesehatan, petugas DKK, dan setiap bulan dengan durasi tiap
  • 9. 9pertemuan 1–1,5 jam. Pertemuan di tidak diperiksa padahal berpotensi jugakelurahan dilakukan di balai desa sebagai tempat perkembangbiakanbersamaan dengan rakor pokja 4 PKK vektor. Hal ini mengakibatkan tidakdan PKK kelurahan. Selanjutnya hasil bisa diketahuinya kepadatan jentik perpertemuan pemantauan jentik di tingkat wilayah. Data rumah/bangunan yangkelurahan disampaikan ke tingkat RW dibutuhkan untuk menghasilkan angkabersamaan dengan PKK RW. Dari bebas jentik sebagai indikatorpertemuan RW hasil pertemuan kepadatan jentik bila digantikan dengandisampaikan ke tingkat RT bersamaan data penduduk, maka hasil pemantauandengan PKK RT, dalam pertemuan ini jentik tidak menggambarkan kepadatansekaligus dilakukan pendekatan kepada jentik sebenarnya.masyarakat. Hal yang menjadi bahasan Pertemuan pemantauan jentikdalam pertemuan pemantauan jentik bertujuan untuk membahas danmengenai pemantauan jentik, mempersiapkan segala hal yangposyandu, KB, dan lain-lain yang berkaitan dengan pemantauan jentik.bersangkutan dengan pokja 4 PKK dan Pendekatan ke masyarakat bertujuankesehatan. Adapun hal yang untuk mengenali karakteristikdisampaikan pada pendekatan ke masyarakat dan menggerakkanmasyarakat tentang pelaksanaan masyarakat dalam pemantauan jentik.kegiatan pemeriksaan jentik. Di Dengan pendekatan ke masyarakatKelurahan Panggung Lor tidak ada masalah-masalah terkait penerimaanrencana kerja khusus pemantauan masyarakat akan lebih mudahjentik. Rencana kerja pemantauan diidentifikasi. Diharapkan denganjentik termasuk dalam program pokja 4 pertemuan dan pendekatan kePKK yang diberikan secara lisan masyarakat pelaksanaan pemantauankepada jumantik saat pertemuan. jentik berjalan lancar dan kendala- Pengumpulan data penduduk dan kendala pemantaun jentik dapat diatasi.rumah/bangunan bertujuan untuk Pertemuan dan pendekatan kemengetahui cakupan sasaran masyarakat ini harus dilakukan secarapemantauan jentik yaitu kontinyu agar perkembanganrumah/bangunan yang akan diperiksa. pemantauan jentik dapat dimonitoringOleh karena itu, selain pengumpulan dan ditindaklanjuti dengan tepat.data melalui KK, pengumpulan data Rencana kerja bertujuan untukrumah/bangunan perlu dilakukan memudahkan dan mengarahkankarena data rumah/bangunan kosong jumantik dalam melaksanakantidak dapat diketahui melalui KK dan tugasnya. Selain itu, rencana kerja jugadalam satu rumah kemungkinan bisa bertujuan untuk memudahkan petugasdihuni lebih dari satu KK. Bila hanya kesehatan/supervisor dalam melakukandilakukan pengumpulan data penduduk bimbingan dan monitoring kepadasaja bisa terjadi kesalahan jumantik. Rencana kerja harus memuatpengumpulan dan pengolahan data. rincian kegiatan, waktu pelaksanaan,Dimungkinkan pemeriksaan jentik sumber dana, dan penanggung jawabyang seharusnya dilakukan di tempat kegiatan (Dirjen PPM-PLP, 1995:30,penampung air tiap rumah/bangunan 33). Oleh karena itu, rencana kerjajustru dilakukan pada tiap KK dan pemantauan jentik harus dibuat secarakemungkinan rumah/bangunan kosong rinci dan detail. Jumantik Kelurahan
  • 10. 10Panggung Lor seharusnya memiliki selalu melakukan PSN DBD sebagairencana kerja pemantauan jentik bentuk kesiapan bila sewaktu-waktutersendiri. Selain itu penyampaian rumahnya dikunjungi. Saat kunjunganrencana kerja secara lisan seharusnya rumah dilakukan pemeriksaan tempat-diberikan juga secara tertulis agar tempat penampungan air sehingga akanjumantik tidak lupa. dihasilkan data pemantauan jentik yang Sedangkan pada tahapan sesungguhnya. Saat kunjungan rumahpenentuan rumah/keluarga yang akan juga dilakukan penyuluhan DBD secaradikunjungi/diperiksa tidak dilakukan individu pada pemilik rumah untukkarena kunjungan rumah oleh Jumantik meningkatkan partisipasi masyarakathanya dilakukan sesekali dan dalam PSN DBD (I Wayanpemeriksaan dilakukan mandiri oleh Sudiadnyana, 2009:19),masyarakat. Penentuan rumah/keluarga mengidentifikasi permasalah yangyang akan dikunjungi diperlukan agar dihadapi masyarakat dalampelaksanaan pemantauan jentik lebih pemantauan jentik dan memberikanterkontrol dan perkembangan hasil solusinya, dan mengetahui adapemantauan jentik dapat dipantau. tidaknya kasus DBD di wilayah yangApabila rumah/keluarga yang akan dikunjungi. Dengan kunjungan yangdikunjungi tidak ditentukan dan bahkan berulang-ulang disertai penyuluhankunjungan rumah tidak dilakukan, hasil diharapkan masyarakat dapatpemantauan jentik yang sebenarnya melaksanakan PSN DBD secara teraturtidak akan diketahui. dan terus-menerus (Dirjen P2PL, 2010:3-4).Kunjungan Rumah Berdasarkan hasil wawancara Pemantauan Jentikdengan partisipan diketahui bahwa Pemantauan jentik adalahkunjungan rumah di Kelurahan pemeriksaan tempat-tempatPanggung Lor tidak rutin, hanya perkembangbiakan nyamuk Aedesdilakukan sekali dua kali saja. Kegiatan aegypti yang dilakukan secara teraturyang dilakukan jumantik Kelurahan oleh petugas kesehatan atau kader atauPanggung Lor saat kunjungan rumah petugas pemantau jentik (Jumantik)hanya memeriksa keberadaan jentik di (Dirjen P2PL, 2010:2).tempat-tempat penampungan air di luar Pemantauan jentik di Kelurahanrumah, memberi pengarah kepada Panggung Lor merupakan pemantauanpemilik rumah untuk memeriksa jentik, jentik rutin (dilakukan oleh jumantikmembersihkan lingkungan rumah, dan dan masyarakat). Pemantauan jentikmemberikan penyuluhan DBD tapi oleh jumantik hanya sesekali sajatidak secara detail. tergantung waktu luang jumantik yang Kunjungan rumah bertujuan untuk sebelumnya telah diberitahukanmemeriksa jentik dan memberikan terlebih dahulu kepada masyarakat.penyuluhan pada masyarakat secara Pemantauan jentik oleh masyarakatindividual. Selain itu, kunjungan rumah dilakukan setiap minggu dan hasilnyaoleh jumantik juga berfungsi untuk dilaporkan kepada jumantik saatmonitoring pelaksanaan PSN DBD pertemuan PKK RT. Adapun sasaranmasyarakat. Dilaksanakannya pemantauan jentik oleh jumantikkunjungan rumah membuat masyarakat adalah tempat-tempat penampungan air
  • 11. 11yang ada di luar rumah, sedangkan masyarakat, jumantik juga perlutempat-tempat penampungan air di memonitoring pelaksanaan dan hasildalam rumah seperti bak mandi pemantauan jentik untuk menghindaridipantau oleh pemilik rumah masing- manipulasi data oleh masyarakat.masing. Alasan pemantauan jentik Selain itu, data hasil pemantauan jentiktidak dilaksanakan sepenuhnya oleh oleh masyarakat harus dilaporkan tepatjumantik karena sebagian besar waktu dan rutin agar pengolahan datamasyarakat Kelurahan Panggung Lor tidak terkendala.tidak bersedia bila rumahnya diperiksaoleh jumantik. Penyuluhan DBD Tujuan kegiatan pemeriksaan Berdasarkan hasil wawancarajentik adalah melakukan pemeriksaan dengan partisipan diketahui bahwajentik nyamuk penular demam berdarah penyuluhan DBD kepada masyarakat didengue termasuk memotivasi Kelurahan Panggung Lor dilakukankeluarga/masyarakat dalam melakukan bersamaan dengan program pokja 4PSN DBD. Pemantauan jentik rutin PKK. Penyuluhan khusus DBD hanyabaik oleh jumantik maupun masyarakat dilakukan di Dinas Kesehatan Kotadilakukan rutin tiap minggu. Hal ini (DKK) Semarang sewaktu-waktu dandikarenakan pemantauan jentik rutin di Puseksmas Bulu Lor setiap bulanbertujuan untuk mengetahui yang dihadiri oleh perwakilan darikeberhasilan pemantauan jentik tiap jumantik. Penyuluhan di DKK danminggu dan upaya PSN DBD yang puskesmas disampaikan dengan slidedilihat dari ABJ. Hal ini sejalan dengan presentasi. Penggunaan media inihasil penelitian Abd. Rachman Rosidi sangat mendukung penyuluhan karenadan Wiku Adisasmito (2006) yang media/alat peraga berfungsimenyatakan ada hubungan yang memperjelas informasi yang inginbermakna antara pemantauan jentik disampaikan dan membangkitkandengan angka bebas jentik (p=0,048). suasana penyuluhan sehingga sasaranJumantik harus melakukan penyuluhan tertarik, lebih mengerti,pemeriksaan jentik karena hal itu dan diharapkan dapat menularkan danmerupakan tugas dan tanggung menerapkan informasi yang didapatjawabnya. Masyarakat harus ikut serta untuk pengendalian DBD. Sedangkandalam pemeriksaan jentik karena hal penyuluhan di kelurahan diberikanitu berkaitan dengan pencegahan DBD dengan penjelasan dan ceramah.secara pribadi. Kendala ketidaksediaan Penyuluhan kepada masyarakat denganmasyarakat bila rumahnya diperiksa cara materi yang dijelaskan oleh DKKjumantik, bisa ditangani dengan dan puskesmas kepada jumantikpemeriksaan jentik secara mandiri oleh disampaikan di kelurahan kepadamasyarakat dan melaporkan hasilnya jumantik RW lainnya. Selanjutnyapada jumantik. Namun dalam jumantik RW ini menyampaikan materipelaksanaannya, masyarakat harus tersebut di tingkat RW dan RT saatdibekali pengetahuan dan kemampuan pertemuan PKK. Adapun materi yangmemantau jentik agar tidak terjadi diberikan pada penyuluhan DBDkesalahan saat pelaksanaan maupun kelompok di Kelurahan Panggung Loridentifikasi hasil pemantauan jentik. mengenai pengenalan DBD, gejala-Walaupun dilakukan mandiri oleh gejala DBD, nyamuk penular DBD,
  • 12. 12cara pemantauan jentik, kegiatan kelompok (seperti pada pertemuanpemberantasan sarang nyamuk (PSN), kader, arisan, dan selapanan) dandan upaya 3M (menguras, menutup, secara massal (seperti pada saatmengubur). pertunjukkan film layar tancap, Menurut Azwar (1983) dalam Heri ceramah agama, dan pertemuanD.J Maulana (2009), penyuluhan musyawarah desa) (Dirjen P2PL,kesehatan adalah kegiatan pendidikan 2010:16). Penyuluhan kelompok olehkesehatan yang dilakukan dengan kader ini sangat berperan untukmenyebarkan pesan, menanamkan menyadarkan dan menggerakkankeyakinan, sehingga masyarakat tidak masyarakat melaksanakan PSN DBDsaja sadar, tahu, dan mengerti, tetapi sesuai dengan hasil penelitian Paimanjuga mau dan mampu melakukan Soeparmanto dan Setia Pranata (2000)anjuran yang ada hubungannya dengan yang menyatakan pendidikan kesehatankesehatan. Penyuluhan DBD adalah berbasis masyarakat dimanapendidikan kesehatan yang bertujuan penyuluhan dilakukan oleh pemukauntuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, kader kesehatan, dan ibu-masyarakat tentang pengendalian ibu PKK dapat meningkatkanpenyakit DBD. Adanya peningkatan partisipasi masyarakat dalam PSNpengetahuan masyarakat ini diharapkan DBD.dapat mempengaruhi sikap danperilaku masyarakat untuk ikut Pencatatan Hasilberperan aktif dalam pengendalian Hasil pemantauan jentik dicatatDBD. Penyuluhan DBD kepada pada Kartu Jentik Rumah/Bangunanmasyarakat di Kelurahan Panggung Lor (lihat lampiran 5) yang ditinggalkan dimerupakan bentuk penyuluhan rumah/bangunan dan pada formulirindividual yang dilakukan saat kegiatan JPJ-1 untuk pelaporan ke puskesmaspemantauan jentik. Penyuluhan dan yang terkait lainnya (Dirjen P2PL,individual merupakan pendekatan 2010:4). Cara pencatatan hasilindividual yang didasari setiap orang pemantauan jentik tersebut denganmempunyai masalah atau alasan yang menuliskan nama dan alamat pemilikberbeda-beda sehubungan dengan rumah yang diperiksa serta menuliskanpenerimaan atau perilaku baru tersebut. tanda (+) bila ditemukan jentik danBentuk pendekatan ini meliputi tanda (-) apabila tidak ditemukan dibimbingan dan penyuluhan serta kolom yang tersedia. Pencatatan diwawancara (Soekidjo Notoatmodjo, Kartu Jentik Rumah/Bangunan2007:57). Selain itu, penyuluhan DBD dilakukan per minggu setiap bulannyadi Kelurahan Panggung Lor juga selama satu tahun. Sedangkandilakukan secara kelompok bersamaan pencatatan di JPJ-1 dilakukan perdengan pertemuan PKK/arisan di RT minggu selama satu bulan.dan RW serta pertemuan rakor pokja 4 Jika dilihat dari uraian teori di atas,PKK di Kelurahan. Hal ini sesuai pencatatan hasil pemantauan jentik didengan pernyataan yang menyatakan Kelurahan Panggung Lor kurangbahwa selain penyuluhan secara sesuai. Hal ini dikarenakan hasilindividu yang dilakukan melalui pemantauan jentik di Kelurahankegiatan PJR, penyuluhan DBD kepada Panggung Lor hanya dicatat padamasyarakat luas juga dilakukan secara formulir PJB 1 atau JPJ-1. Di rumah
  • 13. 13masyarakat Kelurahan Panggung Lor tidak ada pemantauan wilayahtidak ditemukan Kartu Jentik setempat, pemeriksaan jentikRumah/Bangunan, Kartu Jentik sepenuhnya dipercayakan kepadaRumah/Bangunan digantikan dengan petugas PKB RT dengan didampingipapan pemantauan jentik per RT yang Bu RT.dipasang di depan rumah jumantik RT. Jika dilihat dari hasil wawancara diSelain dua formulir tersebut, digunakan atas, pemantauan wilayah setempat dijuga formulir pemantauan jentik tingkat Kelurahan Panggung Lor kurang sesuaikelurahan dari FKD untuk merekap dengan teori. Hal ini dikarenakanhasil pemantauan jentik sekelurahan. pelaksanaan pemantauan wilayah Pencatatan hasil pemantauan jentik setempat tidak rutin. Padahal maksuddi formulir JPJ-1 bertujuan untuk dari pemantauan wilayah setempatmemudahkan pelaporan dan adalah untuk mengetahuipengolahan data pemantauan jentik perkembangan hasil penggerakan PSNserta sebagai bukti dokumentasi DBD di masing-masing RW setiappelaksanaan pemantauan jentik. bulannya (Dirjen PPM-PLP, 1995:25).Pencatatan hasil pemantauan jentik di Indikator yang digunakan adalahKartu Jentik Rumah/Bangunan Angka Bebas Jentik (ABJ). Selain itubertujuan untuk memudahkan hasil pemantauan tidak dicatat padamonitoring perkembangan pemantauan Formulir Pemantauan Wilayahjentik dan pelaksanaan PSN DBD di Setempat (PWS) (lihat lampiran 6).tiap rumah. Padahal melalui formulir PWS dapat diketahui perkembangan ABJ dari tiap-GAMBARAN MONITORING tiap RW, jumlah penderita DBD, danPEMANTAUAN JENTIK kegiatan-kegiatan penggerakan PSNPemantauan Wilayah Setempat DBD di masing-masing RW pada Berdasarkan hasil wawancara bulan yang bersangkutan sehinggadengan partisipan diketahui bahwa diharapkan agar RW yang kepadatanpemantauan wilayah setempat di jentiknya masih tinggi dapat lebihKelurahan Panggung Lor dilakukan meningkatkan kegiatan penggerakanoleh ketua FKK dan jumantik RW. PSN DBD di lingkungannya.Pemantauan wilayah setempat inidilaksanakan hanya sewaktu-waktu dan Pemetaan Wilayah per RWtanpa diberitahukan terlebih dahulu Berdasarkan hasil wawancarakepada masyarakat. Dalam pemantauan dengan partisipan diketahui bahwawilayah setempat dilakukan pemetaan wilayah per RW dari hasilpemantauan jentik secara sampel 10 pemantauan jentik di Kelurahanrumah per RT dengan teknik dari RW I Panggung Lor tidak pernah dilakukan.diambil 10 rumah, RW II 10 rumah, Bila ada rumah yang positif saatdan seterusnya sampai kira-kira 5 RW pemantaun jentik, jumantik RTdalam sehari. Penentuan RW secara langsung menghimbau agar tempatacak bergantian. Selain memantau penampungan air dikuras dan diberijentik, dalam pemantauan wilayah abate. Selain itu, jika ada laporan kasussetempat juga dilakukan peninjauan DBD, jumantik kelurahan melaporkanpapan pemantauan jentik yang kepada puskesmas dan selanjutnyadipasang di rumah sub PKB RT. Bila
  • 14. 14pihak puskesmas melakukan PE dan masyarakat kepada jumantik RT setiapfogging. bulan saat PKK RT berupa data Dari hasil wawancara tersebut pemantauan jentik tiap minggu. Datadiketahui bahwa pemetaan wilayah di yang telah dilaporkan tersebut ditulisKelurahan Panggung Lor tidak sesuai jumantik RT pada formulir PJB 1 dandengan teori. Seharusnya disamping dikumpulkan kepada jumantik RWteguran langsung kepada masyarakat, untuk direkap. Rekapan datapemetaan wilayah dari hasil pemantauan jentik per RW selanjutnyapemantauan jentik juga perlu dilakukan direkap oleh ketua FKK sehinggakarena pemetaan wilayah ini menghasilkan data pemantauan jentikmempermudah mengetahui kepadatan sekelurahan tiap bulan. Pelaporan datajentik tiap RW sebagai indikator PSN dilaksanakan saat PKK dan rakor pokjaDBD, sehingga mempercepat deteksi 4 PKK. Selanjutnya data pemantauandan pengendalian DBD. Pemetaan jentik sekelurahan tersebut dilaporkanwilayah per RW ini dilakukan dengan ke puskesmas dan DKK setiap bulan.memetakan wilayah RW berdasarkan Dari hasil laporan tersebutABJ. RW dengan ABJ >95% ditindaklanjuti bila ada rumah yangmerupakan wilayah kepadatan jentik positif jentik diperingatkan agarrendah dan berada pada status aman dikuras, sehingga pada pemeriksaanDBD. Sedangkan RW dengan ABJ selanjutnya hasilnya negatif. Selain itu<95% merupakan wilayah kepadatan jika ditemukan kasus DBD dilaporkanjentik tinggi dan berada pada status ke puskesmas agar dilakukanwaspada DBD sehingga perlu penyelidikan epidemiologi dan foggingpeningkatan pengendalian DBD. di wilayah yang bersangkutan. Sebagai apresiasi kegiatan pemantauan jentikGAMBARAN PELAPORAN DAN juga pernah diadakan lomba jentik diPENGOLAHAN DATA tingkat kelurahan. Adapun kendalaPEMANTAUAN JENTIK dalam pelaporan data pemantauanPelaporan Data Pemantauan Jentik jentik di Kelurahan Panggung Lor Hasil pemantauan jentik tingkat adalah ketidaktepatan waktuRT direkap dan dilaporkan kepada RW. pengumpulan data dari masyarakat keSelanjutnya hasil rekapan pemantauan jumantik RT. Hal ini membuatjentik per RW dilaporkan ke ketua pemakaian ganda data bulanFKK untuk direkap menjadi hasil sebelumnya untuk bulan-bulan yangpemantauan jentik kelurahan. Hasil akan datang.pemantauan jentik kelurahan ini Pelaporan data pemantauan jentikdilaporkan ke puskesmas setiap satu dilakukan dengan pengumpulan databulan sekali (Thomas Suroso dkk, keberadaan jentik dalam tempat2006:20). Jika dilihat dari uraian teori penampungan air di tiaptersebut, pelaporan data pemantauan rumah/bangunan setiap bulannya.jentik di Kelurahan Panggung Lor Pelaporan ini mempengaruhisudah sesuai. pengolahan data, apabila ditemui Berdasarkan hasil wawancara kendala dalam pelaporan data makadengan partisipan diketahui bahwa data pengolahan data akan terhambat.pemantauan jentik di Kelurahan Kendala yang sering dihadapi padaPanggung Lor dilaporkan oleh pelaporan data adalah kebenaran data
  • 15. 15yang dilaporkan dengan keadaan di petunjuk pengolahan data yang ada dilapangan dan ketepatan waktu bawah formulir pemantauan jentik.pelaporan. Ketidaksesuaian data yang Data yang diolah adalah datadilaporkan dengan kenyataannya prosentase rumah dan/atau bangunanmenimbulkan kesalahan hasil dari yang tidak ditemukan jentik padaproses pemantauan jentik. kegiatan pemantauan jentik, dimulaiKetidaktepatan waktu pelaporan dari tingkat RT sampai kelurahan.mengakibatkan penggunaan data ganda Hambatan yang dihadapi ketua FKKdari laporan bulan sebelumnya atau dalam pengolahan data pemantauanpenggunaan data fiktif untuk laporan jentik adalah keterlambatanke puskesmas dan DKK. Kesalahan ini pengumpulan data dari RW denganmengakibatkan kepadatan jentik dari alasan jumantik RW lupa.laporan hasil pemantauan jentik tidakdapat digunakan untuk SIMPULANmenggambarkan keberhasilan upayapengendalian vektor yang 1. Perencanaan pelaksanaansesungguhnya dan tidak dapat pemantauan jentik di Kelurahandigunakan untuk deteksi kejadian Panggung Lor meliputi sosialisasiDBD. Hal ini mempengaruhi pemantauan jentik secara ceramahpengambilan kebijakan tentang upaya berurutan dari DKK sampai RTpengendalian vektor dan melalui PKK setiap bulan,pemberantasan DBD sebagai tindak perekrutan jumantik secaralanjut dari proses pemantauan jentik. penunjukkan oleh kepala kelurahan dan pokja 4 PKKPengolahan Data Pemantauan Jentik dengan kriteria kader sebagai Ukuran pengolahan data hasil jumantik, dan pelatihan jumantikpemantauan jentik yang biasa secara rutin tiap tahun di DKKdigunakan adalah Angka Bebas Jentik serta tiap bulan di puskesmas dan(ABJ). ABJ adalah persentase antara pokja 4 PKK.rumah/TTU yang tidak ditemukan 2. Pelaksanaan pemantauan jentik dijentik terhadap seluruh rumah/TTU Kelurahan Panggung Lor meliputiyang diperiksa. (Thomas Suroso, persiapan pemantauan jentik yang2003:52). Pengolahan data ABJ ini hanya berupa pengumpulan datadilakukan oleh jumantik sesuai rumah dan pendekatan kepetunjuk yang ada di formulir masyarakat tiap bulan di PKK,pemantauan jentik. kunjungan rumah oleh jumantik Berdasarkan hasil wawancara yang tidak rutin dilakukan tiapdengan partisipan diketahui bahwa minggu, pemantauan jentik secarapengolahan data pemantauan jentik di mandiri oleh masyarakat,Kelurahan Panggung Lor sudah sesuai penyuluhan DBD secara individualdengan teori. Pengolahan data saat jumantik berkunjung danpemantauan jentik di Kelurahan kelompok setiap bulan di PKKPanggung Lor dilakukan oleh jumantik mengenai pengenalan, gejala, danRW dan ketua FKK selaku jumantik nyamuk penular DBD, carakelurahan. Cara pengolahan data pemantauan jentik, PSN, dan 3Mpemantauan jentik didasarkan pada serta pencatatan hasil pada
  • 16. 16 formulir JPJ-1 tanpa dicatat di http://adln.lib.unair.ac.id/files/di Kartu Pemantauan Jentik sk1/296/gdlhub-gdl-s1-2011- Rumah/Bangunan. rahmadhani-14756-abstrak-3. Monitoring pemantauan jentik di e.pdf, Diakses tanggal 4 Mei Kelurahan Panggung Lor hanya 2011. berupa pemantauan wilayah setempat tanpa pemetaan wilayah Azizah Gama T dan Faizah Betty R, tapi tidak setiap bulan. 2010, Analisis Faktor Resiko4. Data pemantauan jentik di Kejadian Demam Berdarah Kelurahan Panggung Lor Dengue di Desa Mojosongo dilaporkan setiap bulan ke Kabupaten Boyolali, Jurnal puskesmas dan diolah menjadi Eksplanasi Vol. 5 No. 2 Edisi ABJ. Oktober 2010. Budioro B, 2002, Pengantar UCAPAN TERIMA KASIH Administrasi Kesehatan Masyarakat, Semarang : Badan Ucapan terima kasih penulis Penerbit Universitassampaikan pada semua pihak yang Diponegoro.membantu penelitian ini antara lain :Ketua Jurusan dan Dosen Ilmu Burhan Burgin, 2008, MetodologiKesehatan Masyarakat Universitas Penelitian Kualitatif, Jakarta :Negeri Semarang, Sie PKPKL Dinas Rajagrafindo Persada.Kesehatan Kota Semarang, KepalaKelurahan, Jumantik dan Masyarakat Dantje T. Sembel, 2009, EntomologiKelurahan Panggung Lor. Kedokteran, Yogyakarta : Penerbit ANDI. DAFTAR PUSTAKAAbdul Rachman Rosidi, Wiku Departemen Kesehatan Republik Adisasmito, 2006, Hubungan Indonesia, 2009, Profil Faktor Penggerakan Kesehatan Indonesia 2008, Pemberantasan Sarang Nyamuk Jakarta : Departemen Kesehatan Demam Berdarah Dengue Republik Indonesia. (PSN-DBD) dengan Angka Bebas Jentik di Kecamatan ____________________, 2010, Profil Sumberjaya Kabupaten Kesehatan Indonesia 2009, Majalengka Jawa Barat, Jurnal Jakarta : Departemen Kesehatan MKB Volume XII No 2 Tahun Republik Indonesia 2009.Amellia Rahmadhani, Evaluasi Dinas Kesehatan Kota Semarang, 2010, Pelaksanaan Kegiatan Juru Profil Kesehatan Kota Pemantau Jentik dalam Semarang 2009, Semarang : Mengupayakan Peningkatan Dinas Kesehatan Kota Atribut Surveilans, Dalam : Semarang.
  • 17. 17 ______________, 2004,___________________________, Kebijaksanaan Program P2- 2010, Buku Pegangan Kader DBD dan Situasi Terkini DBD Kesehatan dan Tokoh Indonesia, Jakarta : Depkes RI. Masyarakat, Semarang : Dinas Kesehatan Kota Semarang. Dirjen P2PL, 2010, Pemberantasan Nyamuk Penular Demam___________________________, Berdarah Dengue, Jakarta : 2011, Data Morbiditas DBD Depkes RI. dan ABJ Kota Semarang 2010, Semarang : Dinas Kesehatan ___________, 2010, Pemberantasan Kota Semarang. Sarang Nyamuk DemamDinas Kesehatan Provinsi Jawa93 Berdarah Dengue dan Tengah, 2010, Profil Kesehatan Pemeriksaan Jentik Berkala, Jawa Tengah 2009, Semarang : Jakarta : Depkes RI. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Dwi Rohini, 2005, Evaluasi Pelaksanaan PSN DBD dalamDirjen PPM&PL, 1995, Menuju Desa Rangka Upaya Peningkatan Bebas Demam Berdarah ABJ di Puskesmas Buaran Dengue, Jakarta : Depkes RI. Kabupaten Pekalongan Tahun 2005, Skripsi, Universitas_______________, 1996, Kumpulan Diponegoro. Surat Keputusan/Edaran tentang Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Frida N, 2008, Mengenal Demam Dengue, Jakarta : Dirjen Berdarah Dengue, Jakarta : PPM&PL. Penerbit Pamularsih._______________, 2003, Surveilans Heri D.J. Maulana, 2009, Promosi Epidemiologi Penyakit, Jakarta : Kesehatan, Jakarta : Penerbit Depkes RI. Buku Kedokteran EGC._______________, 2004, Juru Irien Setianingsih, 2007, Hubungan Pemantau Jentik (Jumantik) Kepadatan Penduduk, Salah Satu Peran Serta Kepadatan Rumah, Kepadatan Masyarakat dalam Jentik, dan Ketinggian Tempat Penanggulangan Demam dengan Kejadian Penyakit Berdarah Dengue (DBD), Demam Berdarah Dengue di Buletin Harian Tim Kota Semarang Tahun 2007 Penanggulangan DBD Depkes dengan Pendekatan Spasial, RI Edisi Selasa, 9 Maret 2004. Skripsi, Universitas Diponegoro.
  • 18. 18Juni Prianto L. A, dkk, 2002, Atlas Srisasi Gandahusada, Herry D. Parasitologi Kedokteran, Illahude, Wita Pribadi, 2000, Jakarta : Gramedia. Parasitologi Kedokteran,Moch. Imron, Amrul Munif, 2010, Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Metodologi Penelitian Bidang Kesehatan, Jakarta : Sagung Sri Sugirilyati, 1995, Evaluasi Seto. Program Pemberantasan Vektor Intensif DemamPaiman Soeparmanto dan Setia Berdarah Dengue (DBD) di Pranata, 2000, Peningkatan Kota Madya Dati II Bogor, Penanggulangan Penyakit Tesis, Universitas Indonesia. Demam Berdarah Dengue Berbasis Masyarakat dengan Sugiyono, 2011, Metode Penelitian Penyuluhan Kesehatan, Berita Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Kedokteran Masyarakat Bandung : Penerbit Alfabeta. Volume 22 No 2, Juni 2006 Hal 75-81. Suharsimi Arikunto, 2006, Prosedur Penelitian, Jakarta : RinekaRirih Y, Anny V, 2005, Hubungan Cipta. Kondisi Lingkungan, Kontainer, dan Perilaku Masyarakat Teguh Widiyanto, 2007, Kajian dengan Keberadaan Jentik Manajemen Lingkungan Nyamuk Aedes Aegypti di terhadap Kejadian Demam Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue di Kota Berdarah Dengue Surabaya, Purwokerto Jawa Tengah, Jurnal Kesehatan Lingkungan, Tesis, Universitas Diponegoro. Vol.. 1 No. 2 Januari 2005. Thomas Suroso, 2003, Pencegahan danSaleha Sungkar, 2007, Pemberantasan Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue : Demam Dengue dan Demam Sebuah Tantangan yang Harus Berdarah Dengue, Jakarta : Dijawab, Majalah Kedokteran Departemen Kesehatan Indonesia, Volume 57, Nomor Republik Indonesia. 6, Juni 2007. Thomas Suroso, 2006, Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD)Saryono dan Mekar Dwi Anggraeni, oleh Juru Pemantau Jentik 2010, Metodologi Penelitian (Jumantik), Jakarta : Kualitatif dalam Bidang Departemen Kesehatan Kesehatan, Yogyakarta : Nuha Republik Indonesia. Medika. Upik Kesumawati Hadi, Susi Soviana,Soekidjo Notoatmodjo, 2007, Promosi 2000, Ektoparasit : Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Jakarta : Rineka Cipta.
  • 19. 19 Pengenalan, Diagnosis dan Pengendaliannya, Bogor : IPB.Walikota Semarang, 2010, Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 5 Tahun 2010 tentang Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue, Semarang : Pemerintah Kota Semarang.Widia Hary Cahyati, 2006, Dinamika Aedes aegypti sebagai Vektor Penyakit, Jurnal Kemas Volume II No. 1, Juli 2006 Hal. 40-50.Widoyono, 2008, Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan & Pemberantasannya, Jakarta : Erlangga.Yuli Kusumawati dan S. Darnoto, 2008, Pelatihan Peningkatan Kemampuan Kader Posyandu dalam Penanggulangan Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Joyotakan Kecamatan Serengan Surakarta, Warta Volume 11 No. 2, September 2008.