TURBIDIMETRI DAN NEFELOMETRI 
MAKALAH 
Memenuhi tugas kelompok matakuliah 
Analisis Spektrometri 
yang dibina Ibu Qonitah Fardiyah S.Si., M.Si. 
Oleh Kelompok 1 
Mikho Imam F (11509020) 
Ferry Ch. Nalle (12509020711100 ) 
Anne Alifatur R (12509020711100 ) 
Fitriana Dewi K (125090207111011 ) 
Ella Yuni Dwi Andari (1250902071110017) 
Rohmatul Wahid (12509020711100 ) 
Puspita Diah P. (125090207111029) 
M. Alwi (12509020711100 ) 
Qurratu A’yun (12509020711100 ) 
JURUSAN KIMIA 
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM 
UNIVERSITAS BRAWIJAYA 
MALANG 
Oktober 2014
BAB I 
PENDAHULUAN 
1.1 Latar Belakang Masalah 
Beberapa senyawaan yang tak dapat larut, dalam jumlah sedikit dapat disiapkan 
dalam keadaan agregasi sedemikian sehingga diperoleh suspensi yang stabilnya sedang. 
Sifat-sifat dari setiap suspensi akan berbeda-beda menurut konsentrasi fase terdispersinya. 
Bila cahaya dilewatkan melalui suspensi itu, sebagian dari energi radiasi yang jatuh 
dihamburka denagn penyerapan, pemantulan, pembiasan, sementara sisanya 
ditransmisikan. Pengukuran intensitas cahaya yang ditransmisikan sebagai fungsi dari 
konsentrasi fase-terdispersi adalah dasar dari analisis turbidimetri. Bila suspensi 
dipandang dengan sudut tegak-lurus terhadapa aah cahaya yang jatuh, sinar tampak 
opalesens (berpendar seperti mutiara) disebabkan oleh pantulan cahaya dari partikel-partikel 
suspensi itu (efek Tyndall). 
Cahaya dipantulkan tak beraturan dan membaur, sehingga istilah cahaya-baur 
digunakan untuk menerangkan opalesens atau kekabutan itu. Pengukuran intensitas 
cahaya-baur ini, sebagai fungsi dari konversi fase-terdispersinya adalah dasar dari analisis 
nefelometri (Gr nephele = awan). Analisis nefelometri adalah paling pekaan untuk 
suspensi-suspensi yang sangat encer (> 100 mg per liter). Teknik-teknik untuk analisis 
turbidimetri dan analisis nefelometri masing-masing menyerupai analisis filter fotometri 
dan flourometri. 
1.2 Rumusan Masalah 
a. Bagaimana prinsip dari analisis turbidimetri ? 
b. Bagaimana prinsip dari analisis nefelometri? 
c. Apa saja aplikasi yang dapat diterapkan untuk analisis turbidimetri? 
d. Apa saja aplikasi yang dapat diterapkan untuk analisis nefelometri? 
e. Bagaimana contoh soal untuk analisis turbidimetri dan analisis nefelometri? 
1.3 Tujuan Penulisan 
a. Dapat menjelaskan prinsip dari analisis turbidimetri. 
b. Dapat menjelaskan prinsip dari analisis nefelometri. 
c. Dapat mengetahui aplikasi dari analisis turbidimetri. 
d. Dapat mengetahui aplikasi dari analisis nefelometri. 
e. Dapat memberikan contoh soal dari analisis turbidimetri dan analisis nefelometri.
BAB II 
PEMBAHASAN 
2.1 Prinsip Dasar Analisis Turbidimetri 
Turbidimetri adalah suatu metoda analisis kuantitatif yang berdasarkan pada 
pelenturan sinar oleh suspensi zat padat. Pada dasarnya yang diukur adalah perbandingan 
antara intensitas sinar yang diteruskan dengan intensitas sinar mula-mula. Bila cahaya 
dilewatkan melalui larutan yang bersuspensi, maka sebagian dari energi radiasi akan 
dihamburkan, diserap, dipantulkan, dibiaskan dan sisanya akan diteruskan. Pengukuran 
intensitas cahaya diteruskan sebagai fungsi dari konsentrasi yang merupakan dasar dari 
perelatan Turbidimeter. Bila suspensi dipandang dengan sudut tegak lurus terhadap cahaya 
yang datang maka sistem (larutan) tampak berpencar yang disebabkan oleh pantulan cahaya 
dari partikel-partikel suspensi (efek tyndall). Pada umumnya turbidimeter di gunakan untuk 
analisa larutan suspensi 
Skema Alat 
Keterangan alat 
1. Sumber sinar: Sumber sinar yang digunakan harus dapat memberikan sinar polikromatis 
secara kontiniu. 
2. Ceremin cekung: Digunakan untuk memantulkan sinar dari sumber sinar menuju lensa. 
3. Lensa: Berfungsi untuk memantulkan sinar dari sumber sinar menuju lensa. 
4. Filter: filetr yang digunakan harus sama dengan warna larutan (jika larutan berwarna) 
atau tergantung pad kondisi smpel yang dianalisa. 
5. Kuvet: sebagai tempat sampel 
6. Detektor: detektor berfungsi sebagai untuk medeteksi sinar hamburan yang berasal dari 
partikel padat yang terdapat dalam larutan. Detektir pada posisi ini terdapat pada 
peralatan nefelometer. 
7. Detektor. Digunakan untuk medeteksi sinar yang diteruskan oleh sample. Detector pada 
posisi ini terdapat pada perelatan turbidimeter. 
Sinar yang dipancarkan oleh lampu akan dipantulkan oleh cremin cekung dan 
kemudian diteruskan ke sample yang mengandung partikel yang tersuspensi. Sinar yang jatuh 
tepat pada partikel yang trsuspensi tersebut akan disebarkan atau dihamburkan. Kemudian 
sinar yang dihamburkan oleh cuplikan akan ditangkap nefelometer yang mana arahnya tegak 
lurus dari sumber cahaya. Sinar yang diteruskan ditangkap oleh pengamatan yang arahnya 
membentuk garis lurus dari sumber cahaya disebut Turbidimeter. Alat yang biasanya dipakai 
untuk menentukan kekeruhan secara fisual digunakan perlatan Hellige Turbiditmeter.
Pada peralatan ini terdapat 3 macam filter dan 3 macam ukuran tabung.Pemakainan 
tabung tergantung dari kekeruhan sample semakin keruh sample maka semakin pendek 
tabung yang digunakan. Filter tersebut adalh None, Dark dan Light. 
Prinsip kerja: Sample dimasukkan kedalam tabung atau kuffet sampai tanda garis 
kemudian ditutup dengan “Plunger “ kuffet yang berisi sample tersebut ke dalam turbidimeter 
dan dipasang filter yang digunakan yang tergantung kepada keadaan sample kemudian alat 
dihidupkan dan diatur tombol skala 0 – 200 sampai didapatkan banyangan yang merata 
Bila banyangan mereta telah diperoleh bacalah ckala yang ditunjukkan pada saat banyangan 
mereta tersebut. Angka yang didapt diplot kedalam kurva yang telah tersedia akan didapatkan 
kekeruhan sebagai ppm SiO2. 
Prinsip kerja dari turbidimetri sendiri adalah menghitung jumlah cahaya yang 
diteruskan (dan mengkalkulasi jumlah cahaya yang diabsorbsi) oleh partikel dalam suspensi 
untuk menentukan konsentrasi substansi yang ingin dicari. Karena menggunakan jumlah 
cahaya yang diabsorbsi untuk pengukuran konsentrasi, maka jumlah cahaya yang diabsorbsi 
akan bergantung pada : 
1. Jumlah partikel 
2. Ukuran partikel. 
Semakin besar dan banyak jumlah partikel, maka jumlah cahaya yang diabsorbsi akan 
semakin besar. 
Dan untuk penentuan kadarnya (detector) digunakan spektrofotometer cahaya. 
Ilustrasi : 
Keterangan : 
 Sejumlah cahaya ditembakkan dari sebuah sumber cahaya menuju monokromator 
 Monokromator akan menguraikan cahaya dan meneruskannya menuju cuvet yang 
berisikan suspensi sel 
 Ketika cahaya melewati cuvet, maka terjadi tiga kemungkinan 
1. Cahaya akan diserap sebagian oleh partikel tersuspensi
2. Sebagian cahaya diteruskan 
3. dan sebagian lagi menyebar ke segala arah 
 Jumlah cahaya yang diserap akan sebanding dengan jumlah partikel tersuspensi 
(konsentrasi sampel). 
 Pengukuran dilakukan dengan spektrofotometr (detektor) 
2.2 Prinsip Dasar Analisis Nefelometri 
Nephelometri dan turbidimetri terkait erat dengan teknik analisis yang berdasarkan 
pada hamburan radiasi dengan larutan yang mengandung materi partikulat tersebar. Ketika 
radiasi yang melewati media transparan yang partikelnya padat tersebar, bagian radiasi 
tersebar ke segala arah, memberikan penampilan keruh pada campuran. Penurunan kejadian 
radiasi, sebagai hasil dari hamburan oleh partikel adalah dasar dari metode turbidimetri. 
Disisi lain, metode nephelometri didasarkan pada pengukuran radiasi tersebar, biasanya 
disudut kanan insiden balok tersebut. Pilihan antara nephelometri dan pengukuran 
turbidimetri tergantung pada fraksi cahaya yang tersebar. Ketika hamburan luas, karena 
kehadiran banyak partikel, turbidimetri umunya menghasilkan hasil yang lebih dapat 
diandalkan. Nephelometri lebih disukai pada konsentrasi rendah karena intensitas tersebarnya 
kecil dengan latar belakang hitam lebih mudah untuk diukur dibandingkan perubahan kecil 
dalam intensitas radiasi yang ditransmisikan intens. Hal ini penting untuk dicatat bahwa 
hamburan terkait dengan kedua nephelometri dan turbidimetri tidak melibatkan kerugian 
daya radiasi, hanya arah propagasi dipengaruhi (Morais, dkk, 2012). 
Nephelometri didasarkan pada pengukuran radiasi tersebar oleh partikel sampel 
disudut kanan pada balok. Detektor ditempatkan pada jalan insiden radiasi dari sumber. 
Dalam kebanyakan kasus, detektor ditempatkan di 90 derajat relative terhadap jalur insiden 
radiasi. Ini mengukur intensitas yang bagian dari radiasi tersebar yang dipancarkan tegak 
lurus dari sel ke arah detektor. Untuk pengukuran nephelometric, persamaan menggambarkan 
hubungan antara intensitas radiasi tersebar, intensitas kejadian radiasi, dan konsentrasi 
partikel yang menyebabkan hamburan (Morais, dkk, 2012): 
I = KI0C 
Nilai K adalah konstan hanya untuk instrumen tertentu dan ketika eksperimental kondisi 
dikendalikan dengan hati-hati. Intensitas radiasi tersebar adalah berbanding lurus dengan 
kedua intensitas radiasi insiden dan konsentrasi analit. Untuk tes solusi diencerkan, hal ini 
menguntungkan untuk menggunakan insiden radiasi yang memiliki intensitas tinggi (Morais, 
dkk, 2012). 
Sinyal yang teredeteksi tersebar mungkin timbul dari partikel bunga tetapi juga dari 
debu, bercak di latar belakang, atau dari molekul lain (misalnya, protein dan lipid) dalam 
sampel. Refleksi dan menyebar dari komponen optic instrumen juga dapat menyebabkan 
sinyal latar belakang. Kinerja terbaik diperoleh dalam solusi encer mana penyerapan dan 
refleksi yang minimal. Dengan kondisi tersebut, hubungan antara konsentrasi hamburan 
partikel dan intensitas cahaya yang tersebar hampir linier atas sangat luas berbagai 
konsentrasi (Morais, dkk, 2012).
Prinsip kerja : 
 Nefelometri menitik beratkan pengukuran pada jumlah cahaya yang disebarkan 
(scaterred) dari kuvet yang mengandung suspense partikel dalam suatu cairan 
(solution) 
 Komponen-komponen dari nefelometer itu sama dengan komponen yang terdapat pada 
spektrometer cahaya kecuali pada detector yang ditempatkan pada sudut yang khusus 
dari sumber cahaya. 
 Detector merupakan sabuah tube fotomultiplier yang ditempatkan pada suatu posisi 
untuk mendeteksi cahaya yang tersebar. Detektor bisa ditempatkan pada sudut 90o, 
70o or 37o tergantung pada sudut mana paling banyak ditemukan cahaya yang 
disebarkan. 
 Karena jumlah cahaya yang disebarkan jauh lebih besar daripada yang diteruskan 
dalam suspensi turbid, maka nefelometri memiliki tingkat sensitifitas yang lebih tinggi 
daripada turbidimetri. 
 Jumlah cahaya yang disebarkan, bergantung pada jumlah dan ukuran partikel yang 
tersuspensi 
Ilustrasi : 
 Sebagian besar aplikasi klinis, sumber cahaya yang digunakan adalah lampu tungsten, 
dimana tungsten memberikan cahaya dalam daerah visible. 
 Untuk snsitivitas yang lebih tinggi dan untuk aplikasi penentuan ukuran dan jumlah 
partikel dalam suspense, digunakan laser light nefelometer 
2.3 Aplikasi Turbidimetri 
 Penentuan konsentrasi total protein dalam cairan biologis seperti urin dan CSF yang 
mengandung sedikit protein (mg/L kuantitas) menggunakan Asam Trikoloroasetat. 
 Penentuan aktivitas amilase menggunakan pati sebagai substrat. Penurunan 
kekeruhan berbanding lurus dengan aktivitas amilase. 
 Penentuan aktivitas enzim lipase menggunakan trigliserida sebagai substrat. 
Penurunan kekeruhan berbanding lurus dengan aktivitas enzim lipase. 
 Penentuan kekeruhan pada air reservoir 
 Analisa limbah detergen
 Penentuan Kadar Sulfat dengan Metode Turbidimetri 
Metode : 
Standar sulfat sebanyak 0,5 ; 1,0 ; 1,5 ; 2,0 ; dan 3,0 ml diletakkan dalam labu takar 
25 ml kedalam masing-masing labu takar ditambahkan 2,5 ml NaCl-HCl dan 5 ml 
larutan gliserol-etanol dan diencerkan sampai tanda tera dengan air. BaCl2 1 g 
ditambahkan ke tiap labu,ditutup, dan dikocok selama 1 menit dengan cara 
membalik-balik labu takar. Larutan blankodisiapkan tanpa penambahan 
larutan standar sulfat. Larutan analat disiapkan juga dengan perlakuan yang sama 
seperti larutan standar dan dibuat dalam 3 kali ulangan. Turbiditas masing-masing 
larutan diukur. Kurva hubungan turbiditas dengan kandungan sulfat (ppm) 
dibuat.Kadar sulfat dalam analat beserta standar deviasi dan selang kepercayaan 
95% lalu dihitung. 
2.4 Aplikasi Nefelometri 
 Digunakan secara luas untuk menentukan konsentrasi zat yang tidak diketahui dimana 
terdapat reaksi antigen-antibody 
 Penetuan immunoglobulin (total, IgG, IgE, IgM, IgA) di dalam serum dan cairan 
biologi lainnya. 
 Penentuan konsentrasi serum protein individu; Hb, Haptoglobin, Transferring, c-reaktif 
protein, 1-antitrypsin, albumin (dengan menggunakan antibody spesifik 
untuk setiap protein). 
 Penetuan ukuran dan jumlah partikel (dengan laser – nephelometer). 
 Sintesis Imunoglobulin Cairan Cerebrospinal 
 Menentukan tingkat beberapa protein plasma darah. Misalnya total tingkat antibodi 
isotypes atau kelas: Immunoglobulin M, imunoglobulin G, dan Imunoglobulin A. Hal 
ini penting dalam kuantifikasi M - protein dalam penyakit seperti multiple myeloma 
(Anonim1, 2013). 
Hal ini dilakukan dengan mengukur kekeruhan dalam sampel air dengan 
melewatkan cahaya melalui sampel yang diukur. Dalam nephelometri pengukuran 
dilakukan dengan mengukur cahaya melewati sampel di sudut (Anonim2, 2013). 
Teknik ini banyak digunakan di laboratorium klinis karena relatif mudah 
otomatis. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa suspensi encer partikel kecil akan 
menghamburkan cahaya (biasanya laser) melewatinya bukan hanya menyerapnya. 
Jumlah menyebar ditentukan dengan mengumpulkan cahaya pada sudut (biasanya 
pada 30 dan 90 derajat) (Anonim2, 2013). 
Antibodi dan antigen dicampur dalam konsentrasi sehingga hanya agregat 
kecil dibentuk yang tidak cepat menyelesaikan ke bawah. Jumlah menghamburkan 
cahaya diukur dan dibandingkan dengan jumlah pencar dari campuran dikenal. 
Jumlah diketahui ditentukan dari kurva standar (Anonim2, 2013). 
 Mendeteksi antigen atau antibodi, tetapi biasanya dijalankan dengan antibodi sebagai 
reagen dan antigen pasien sebagai diketahui (Stevens, 2010). Titik akhir tes 
nephelometry dijalankan dengan memungkinkan reaksi antibodi/antigen untuk
menjalankan sampai selesai (sampai semua antibodi reagen hadir dan membawa 
antigen sampel pasien yang dapat agregat telah melakukannya dan tidak lebih 
kompleks dapat terbentuk). Sayangnya, partikel yang besar akan jatuh keluar dari 
solusi dan menyebabkan pembacaan palsu pencar, sehingga nephelometry kinetik itu 
dibuat (Rahma, 2011). 
2.5 Contoh soal Turbidimetri dan Nefelometri 
1. Sebutkan perbedaan turbidimetri dan neflometri ! 
2. Gambarkan diagram skema metode neflometi dan turbidimetri ! 
3. Tuliskan Persamaan matematis untuk neflometri dan turbidimetri ! 
4. Sebutkan aplikasi turbidimetri dan neflometri ! 
JAWABAN 
1. Turbidimetri : pengukuran spesi dengan pergerakan cahaya dalam larutan dengan 
penurunan intensitas cahaya setelah dilewatkan pada larutan. Pada turbidimetri 
detector ditempatkan sejajar dengan sumber sinar dan mengukur penurunan kekuatan 
radiasi yang ditransmisikan. 
Neflometri : teknik untuk mengukur spesi dengan pergerakan cahaya dalam larutan 
dengan intensitas cahaya pada sudut terjauh dari cahaya yang dilewatkan melalui 
sampel. Pada neflometri pergerakan radiasi diukur pada sudut 900C terhadap sumber 
sinar. 
2. Gambar skema perbedaan neflometri dan turbidimetri (Harvey,2000) 
3. Persamaan untuk Neflometri 
Persamaan untuk Turbidimetri
Dimana : 
T : Transmitan 
IT : Intensitas Radiasi yang ditransmisikan oleh sampel 
I0 : Intensitas sumber radiasi yang ditransmisikan oleh blanko 
C : konsentrasi (w/v) 
k : konstanta (bergantung pada ukuran beberapa factor seperti ukuran dan bentuk 
hamburan patikel dan panjang gelombang dari sumber radiasi. 
b : panjang kuvet 
IS : intensitas hamburan radiasi 
kS : konstanta empiris untuk system 
I0 : intensitas sumber radiasi 
4. Aplikasi turbidimetri 
a. Penentuan konsentrasi total protein pada fluida biologis seperti urine dan CSF 
yang terdiri atas protein dalam jumlah kecil (mg/L) menggunakan asam 
trikloroasetik. 
b. Penentuan aktivitas amylase menggunakan amilum sebagai substrat. 
c. Penentuan aktivitas lipas menggunakan trigliserida sebagai substrat. 
Aplikasi Neflometri 
a. penentuan immunoglobulin pada serum dan fluida biologis laiinya 
b. penentuan konsentrasi serum protein seperti hemoglobin,haptoglobin,albumin,dsb 
c. penentuan ukuran dan jumlah partikel (laser neflometer) 
5. Tentukan kadar ion sulfat jika diketahui tabel berikut! 
2-] 
Tabel 1 penentuan kurva kalibrasi larutan standart sulfat [SO4 
Larutan 
Volume SO4 
2- 
(mL) 
Konsentrasi 
SO4 
2- (ppm) 
Turbidan 
Terukur (NTU) 
Turbidan 
Terkoreksi 
(NTU) 
Blanko 0.0000 0.0000 5.23 0 
Standart 1 0.1000 0.174000 17.50 14.50 
Standart 2 0.2000 3.48000 46.50 42.00 
Standart 3 0.3000 5.22000 75.50 71.00 
Standart 4 0.4000 6.96000 86.50 82.20 
Standart 5 0.5000 8.70000 102.50 97.50 
Standart 6 0.6000 10.44000 126.50 121.44
Perhitungan: 
1. Turbidan Terkoreksi = Turbidan Terukur – Turbidan Blanko 
= (17.50 – 5.23) NTU 
= 12.27 ppm 
2. Berat Molekul K2SO4 = 174 g/mol 
3. Konsentrasi larutan stok sulfat (ppm) = 0.01 mol/L x 174 g/mol x 1000 mg/1 g 
= 1740 ppm 
4. Pengenceran 
V1N1 = V2N2 
0.100 mL x 1740 ppm = 100 mL x N2 
N2 = 0.1740 
Tabel 2 Pengukuran Konsentrasi Pada Sampel dengan Turbidimetri 
Laruta 
n 
Turbiditasterukur 
(NTU) 
Turbiditasterkoreksi 
(NTU) 
Konsentrasi (ppm) 
1 2 3 1 2 3 1 2 3 Rerata 
Sampel 
1 
96.0 
0 
93.1 
0 
84.6 
0 
91.7 
7 
88.8 
7 
80.3 
7 
39.093 
5 
37.864 
8 
34.246 
3 
37.073 
8 
Sampel 
2 
56.4 
0 
62.7 
0 
62.4 
0 
52.1 
7 
58.4 
7 
58.1 
7 
22.314 
6 
24.983 
9 
24.856 
8 
24.051 
8 
Perhitungan: 
1. Persamaan regresi 
y = 2.3601x – 0.4946 
R2 = 0.9859 
2. Konsentrasi 1 ulangan 1 
91.77 = 2.3601x – 0.4946 
x = 39.0935 
3. Rerata Konsentrasi sampel 1 = 
푈푙푎푛푔푎푛 1+푈푙푎푛푔푎푛 2+푈푙푎푛푔푎푛 3 
3 
= 
(39.0935+37.8648+34.2463)ppm 
3 
= 37.0738 
Σ (푥−(푥 푟푎푡푎−푟푎푡푎))2 푖 
4. Standart Deviasi sampel 1 = √=1 
푛푛−1 
= √(39.0935−37.0738)+(37.8648−37.0738)+(34.2463−37.0738) 
3−1 
= 2.5104 
Σ (푥−(푥 푟푎푡푎−푟푎푡푎))2 푖 
5. Standart Deviasi sampel 2 = √=1 
푛푛−1 
= 1.5058 
6. Ketelitian Sampel 1 = ( 1- 
푆푡푎푛푑푎푟푡 퐷푒푣푖푎푠푖 
푅푒푟푎푡푎 
) x 100 % 
= ( 1- 
2.5104 
37.0738 
) x 100 %
= 93.29 % 
7. Ketelitian Sampel 2 = ( 1- 
푆푡푎푛푑푎푟푡 퐷푒푣푖푎푠푖 
푅푒푟푎푡푎 
) x 100 % 
= ( 1- 
1.5058 
24.0518 
) x 100 % 
= 93.74 %
BAB III 
PENUTUP 
3.1 Kesimpulan 
1. Turbidimetri adalah suatu metoda analisis kuantitatif yang berdasarkan pada 
pelenturan sinar oleh suspensi zat padat. Pada dasarnya yang diukur adalah 
perbandingan antara intensitas sinar yang diteruskan dengan intensitas sinar mula-mula. 
Bila cahaya dilewatkan melalui larutan yang bersuspensi, maka sebagian dari 
energi radiasi akan dihamburkan, diserap, dipantulkan, dibiaskan dan sisanya akan 
diteruskan. 
2. Nephelometri didasarkan pada pengukuran radiasi tersebar oleh partikel sampel 
disudut kanan pada balok. Detektor ditempatkan pada jalan insiden radiasi dari 
sumber 
3. Turbidimetri dapat diaplikasikan salah satunya dalam analisa limbah detergen 
4. Nefelometri salah satunya digunakan untuk menentukan konsentrasi zat yang tidak 
diketahui dimana terdapat reaksi antigen-antibody
DAFTAR PUSTAKA 
Anonim1, 2013, Definition of Nephelometry, 
http://www.lib.mcg.edu/edu/esimmuno/ch4/nephelom.htm, (online) diakses pada 
tanggal 15 Oktober 2014. 
Anonim2, 2013, Quantitave Nephelometry, 
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003545.htm, (online) diakses pada 
tanggal 15 Oktober 2014. 
Bassett ,J. dkk. 1994. Buku Ajar Vogel: Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta: 
Kedokteran EGC. 
Harvey, D. 2000. Modern Analytical Chemistry. New York: McGraw Hill. 
Khopkar.1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia. 
Morais, Ines P. A., Ildiko V. Toth, and Antonio O. S. S. Rangel. 2012. Turbidimetric and 
Nephelometric Flow Analysis: Concepts and Applications, pg 557-559, Universidade 
Cato´lica Portuguesa. Portugal. 
Rahma, S. 2011. Turbidimetri dan nefelometri. ITB. Bandung. 
Stevens. 2010. Clinical Immunology dan Seriology 3rd Ed, pg 127. USA: FA Davis 
Company. 
Walimah, A. 2014. Turbidimetri untuk analisis ion sulfat dengan menggunakan flow 
injection analysis. Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan alam. Universitas 
Negeri Jember.

turbidi dan neflo

  • 1.
    TURBIDIMETRI DAN NEFELOMETRI MAKALAH Memenuhi tugas kelompok matakuliah Analisis Spektrometri yang dibina Ibu Qonitah Fardiyah S.Si., M.Si. Oleh Kelompok 1 Mikho Imam F (11509020) Ferry Ch. Nalle (12509020711100 ) Anne Alifatur R (12509020711100 ) Fitriana Dewi K (125090207111011 ) Ella Yuni Dwi Andari (1250902071110017) Rohmatul Wahid (12509020711100 ) Puspita Diah P. (125090207111029) M. Alwi (12509020711100 ) Qurratu A’yun (12509020711100 ) JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG Oktober 2014
  • 2.
    BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Beberapa senyawaan yang tak dapat larut, dalam jumlah sedikit dapat disiapkan dalam keadaan agregasi sedemikian sehingga diperoleh suspensi yang stabilnya sedang. Sifat-sifat dari setiap suspensi akan berbeda-beda menurut konsentrasi fase terdispersinya. Bila cahaya dilewatkan melalui suspensi itu, sebagian dari energi radiasi yang jatuh dihamburka denagn penyerapan, pemantulan, pembiasan, sementara sisanya ditransmisikan. Pengukuran intensitas cahaya yang ditransmisikan sebagai fungsi dari konsentrasi fase-terdispersi adalah dasar dari analisis turbidimetri. Bila suspensi dipandang dengan sudut tegak-lurus terhadapa aah cahaya yang jatuh, sinar tampak opalesens (berpendar seperti mutiara) disebabkan oleh pantulan cahaya dari partikel-partikel suspensi itu (efek Tyndall). Cahaya dipantulkan tak beraturan dan membaur, sehingga istilah cahaya-baur digunakan untuk menerangkan opalesens atau kekabutan itu. Pengukuran intensitas cahaya-baur ini, sebagai fungsi dari konversi fase-terdispersinya adalah dasar dari analisis nefelometri (Gr nephele = awan). Analisis nefelometri adalah paling pekaan untuk suspensi-suspensi yang sangat encer (> 100 mg per liter). Teknik-teknik untuk analisis turbidimetri dan analisis nefelometri masing-masing menyerupai analisis filter fotometri dan flourometri. 1.2 Rumusan Masalah a. Bagaimana prinsip dari analisis turbidimetri ? b. Bagaimana prinsip dari analisis nefelometri? c. Apa saja aplikasi yang dapat diterapkan untuk analisis turbidimetri? d. Apa saja aplikasi yang dapat diterapkan untuk analisis nefelometri? e. Bagaimana contoh soal untuk analisis turbidimetri dan analisis nefelometri? 1.3 Tujuan Penulisan a. Dapat menjelaskan prinsip dari analisis turbidimetri. b. Dapat menjelaskan prinsip dari analisis nefelometri. c. Dapat mengetahui aplikasi dari analisis turbidimetri. d. Dapat mengetahui aplikasi dari analisis nefelometri. e. Dapat memberikan contoh soal dari analisis turbidimetri dan analisis nefelometri.
  • 3.
    BAB II PEMBAHASAN 2.1 Prinsip Dasar Analisis Turbidimetri Turbidimetri adalah suatu metoda analisis kuantitatif yang berdasarkan pada pelenturan sinar oleh suspensi zat padat. Pada dasarnya yang diukur adalah perbandingan antara intensitas sinar yang diteruskan dengan intensitas sinar mula-mula. Bila cahaya dilewatkan melalui larutan yang bersuspensi, maka sebagian dari energi radiasi akan dihamburkan, diserap, dipantulkan, dibiaskan dan sisanya akan diteruskan. Pengukuran intensitas cahaya diteruskan sebagai fungsi dari konsentrasi yang merupakan dasar dari perelatan Turbidimeter. Bila suspensi dipandang dengan sudut tegak lurus terhadap cahaya yang datang maka sistem (larutan) tampak berpencar yang disebabkan oleh pantulan cahaya dari partikel-partikel suspensi (efek tyndall). Pada umumnya turbidimeter di gunakan untuk analisa larutan suspensi Skema Alat Keterangan alat 1. Sumber sinar: Sumber sinar yang digunakan harus dapat memberikan sinar polikromatis secara kontiniu. 2. Ceremin cekung: Digunakan untuk memantulkan sinar dari sumber sinar menuju lensa. 3. Lensa: Berfungsi untuk memantulkan sinar dari sumber sinar menuju lensa. 4. Filter: filetr yang digunakan harus sama dengan warna larutan (jika larutan berwarna) atau tergantung pad kondisi smpel yang dianalisa. 5. Kuvet: sebagai tempat sampel 6. Detektor: detektor berfungsi sebagai untuk medeteksi sinar hamburan yang berasal dari partikel padat yang terdapat dalam larutan. Detektir pada posisi ini terdapat pada peralatan nefelometer. 7. Detektor. Digunakan untuk medeteksi sinar yang diteruskan oleh sample. Detector pada posisi ini terdapat pada perelatan turbidimeter. Sinar yang dipancarkan oleh lampu akan dipantulkan oleh cremin cekung dan kemudian diteruskan ke sample yang mengandung partikel yang tersuspensi. Sinar yang jatuh tepat pada partikel yang trsuspensi tersebut akan disebarkan atau dihamburkan. Kemudian sinar yang dihamburkan oleh cuplikan akan ditangkap nefelometer yang mana arahnya tegak lurus dari sumber cahaya. Sinar yang diteruskan ditangkap oleh pengamatan yang arahnya membentuk garis lurus dari sumber cahaya disebut Turbidimeter. Alat yang biasanya dipakai untuk menentukan kekeruhan secara fisual digunakan perlatan Hellige Turbiditmeter.
  • 4.
    Pada peralatan initerdapat 3 macam filter dan 3 macam ukuran tabung.Pemakainan tabung tergantung dari kekeruhan sample semakin keruh sample maka semakin pendek tabung yang digunakan. Filter tersebut adalh None, Dark dan Light. Prinsip kerja: Sample dimasukkan kedalam tabung atau kuffet sampai tanda garis kemudian ditutup dengan “Plunger “ kuffet yang berisi sample tersebut ke dalam turbidimeter dan dipasang filter yang digunakan yang tergantung kepada keadaan sample kemudian alat dihidupkan dan diatur tombol skala 0 – 200 sampai didapatkan banyangan yang merata Bila banyangan mereta telah diperoleh bacalah ckala yang ditunjukkan pada saat banyangan mereta tersebut. Angka yang didapt diplot kedalam kurva yang telah tersedia akan didapatkan kekeruhan sebagai ppm SiO2. Prinsip kerja dari turbidimetri sendiri adalah menghitung jumlah cahaya yang diteruskan (dan mengkalkulasi jumlah cahaya yang diabsorbsi) oleh partikel dalam suspensi untuk menentukan konsentrasi substansi yang ingin dicari. Karena menggunakan jumlah cahaya yang diabsorbsi untuk pengukuran konsentrasi, maka jumlah cahaya yang diabsorbsi akan bergantung pada : 1. Jumlah partikel 2. Ukuran partikel. Semakin besar dan banyak jumlah partikel, maka jumlah cahaya yang diabsorbsi akan semakin besar. Dan untuk penentuan kadarnya (detector) digunakan spektrofotometer cahaya. Ilustrasi : Keterangan :  Sejumlah cahaya ditembakkan dari sebuah sumber cahaya menuju monokromator  Monokromator akan menguraikan cahaya dan meneruskannya menuju cuvet yang berisikan suspensi sel  Ketika cahaya melewati cuvet, maka terjadi tiga kemungkinan 1. Cahaya akan diserap sebagian oleh partikel tersuspensi
  • 5.
    2. Sebagian cahayaditeruskan 3. dan sebagian lagi menyebar ke segala arah  Jumlah cahaya yang diserap akan sebanding dengan jumlah partikel tersuspensi (konsentrasi sampel).  Pengukuran dilakukan dengan spektrofotometr (detektor) 2.2 Prinsip Dasar Analisis Nefelometri Nephelometri dan turbidimetri terkait erat dengan teknik analisis yang berdasarkan pada hamburan radiasi dengan larutan yang mengandung materi partikulat tersebar. Ketika radiasi yang melewati media transparan yang partikelnya padat tersebar, bagian radiasi tersebar ke segala arah, memberikan penampilan keruh pada campuran. Penurunan kejadian radiasi, sebagai hasil dari hamburan oleh partikel adalah dasar dari metode turbidimetri. Disisi lain, metode nephelometri didasarkan pada pengukuran radiasi tersebar, biasanya disudut kanan insiden balok tersebut. Pilihan antara nephelometri dan pengukuran turbidimetri tergantung pada fraksi cahaya yang tersebar. Ketika hamburan luas, karena kehadiran banyak partikel, turbidimetri umunya menghasilkan hasil yang lebih dapat diandalkan. Nephelometri lebih disukai pada konsentrasi rendah karena intensitas tersebarnya kecil dengan latar belakang hitam lebih mudah untuk diukur dibandingkan perubahan kecil dalam intensitas radiasi yang ditransmisikan intens. Hal ini penting untuk dicatat bahwa hamburan terkait dengan kedua nephelometri dan turbidimetri tidak melibatkan kerugian daya radiasi, hanya arah propagasi dipengaruhi (Morais, dkk, 2012). Nephelometri didasarkan pada pengukuran radiasi tersebar oleh partikel sampel disudut kanan pada balok. Detektor ditempatkan pada jalan insiden radiasi dari sumber. Dalam kebanyakan kasus, detektor ditempatkan di 90 derajat relative terhadap jalur insiden radiasi. Ini mengukur intensitas yang bagian dari radiasi tersebar yang dipancarkan tegak lurus dari sel ke arah detektor. Untuk pengukuran nephelometric, persamaan menggambarkan hubungan antara intensitas radiasi tersebar, intensitas kejadian radiasi, dan konsentrasi partikel yang menyebabkan hamburan (Morais, dkk, 2012): I = KI0C Nilai K adalah konstan hanya untuk instrumen tertentu dan ketika eksperimental kondisi dikendalikan dengan hati-hati. Intensitas radiasi tersebar adalah berbanding lurus dengan kedua intensitas radiasi insiden dan konsentrasi analit. Untuk tes solusi diencerkan, hal ini menguntungkan untuk menggunakan insiden radiasi yang memiliki intensitas tinggi (Morais, dkk, 2012). Sinyal yang teredeteksi tersebar mungkin timbul dari partikel bunga tetapi juga dari debu, bercak di latar belakang, atau dari molekul lain (misalnya, protein dan lipid) dalam sampel. Refleksi dan menyebar dari komponen optic instrumen juga dapat menyebabkan sinyal latar belakang. Kinerja terbaik diperoleh dalam solusi encer mana penyerapan dan refleksi yang minimal. Dengan kondisi tersebut, hubungan antara konsentrasi hamburan partikel dan intensitas cahaya yang tersebar hampir linier atas sangat luas berbagai konsentrasi (Morais, dkk, 2012).
  • 6.
    Prinsip kerja :  Nefelometri menitik beratkan pengukuran pada jumlah cahaya yang disebarkan (scaterred) dari kuvet yang mengandung suspense partikel dalam suatu cairan (solution)  Komponen-komponen dari nefelometer itu sama dengan komponen yang terdapat pada spektrometer cahaya kecuali pada detector yang ditempatkan pada sudut yang khusus dari sumber cahaya.  Detector merupakan sabuah tube fotomultiplier yang ditempatkan pada suatu posisi untuk mendeteksi cahaya yang tersebar. Detektor bisa ditempatkan pada sudut 90o, 70o or 37o tergantung pada sudut mana paling banyak ditemukan cahaya yang disebarkan.  Karena jumlah cahaya yang disebarkan jauh lebih besar daripada yang diteruskan dalam suspensi turbid, maka nefelometri memiliki tingkat sensitifitas yang lebih tinggi daripada turbidimetri.  Jumlah cahaya yang disebarkan, bergantung pada jumlah dan ukuran partikel yang tersuspensi Ilustrasi :  Sebagian besar aplikasi klinis, sumber cahaya yang digunakan adalah lampu tungsten, dimana tungsten memberikan cahaya dalam daerah visible.  Untuk snsitivitas yang lebih tinggi dan untuk aplikasi penentuan ukuran dan jumlah partikel dalam suspense, digunakan laser light nefelometer 2.3 Aplikasi Turbidimetri  Penentuan konsentrasi total protein dalam cairan biologis seperti urin dan CSF yang mengandung sedikit protein (mg/L kuantitas) menggunakan Asam Trikoloroasetat.  Penentuan aktivitas amilase menggunakan pati sebagai substrat. Penurunan kekeruhan berbanding lurus dengan aktivitas amilase.  Penentuan aktivitas enzim lipase menggunakan trigliserida sebagai substrat. Penurunan kekeruhan berbanding lurus dengan aktivitas enzim lipase.  Penentuan kekeruhan pada air reservoir  Analisa limbah detergen
  • 7.
     Penentuan KadarSulfat dengan Metode Turbidimetri Metode : Standar sulfat sebanyak 0,5 ; 1,0 ; 1,5 ; 2,0 ; dan 3,0 ml diletakkan dalam labu takar 25 ml kedalam masing-masing labu takar ditambahkan 2,5 ml NaCl-HCl dan 5 ml larutan gliserol-etanol dan diencerkan sampai tanda tera dengan air. BaCl2 1 g ditambahkan ke tiap labu,ditutup, dan dikocok selama 1 menit dengan cara membalik-balik labu takar. Larutan blankodisiapkan tanpa penambahan larutan standar sulfat. Larutan analat disiapkan juga dengan perlakuan yang sama seperti larutan standar dan dibuat dalam 3 kali ulangan. Turbiditas masing-masing larutan diukur. Kurva hubungan turbiditas dengan kandungan sulfat (ppm) dibuat.Kadar sulfat dalam analat beserta standar deviasi dan selang kepercayaan 95% lalu dihitung. 2.4 Aplikasi Nefelometri  Digunakan secara luas untuk menentukan konsentrasi zat yang tidak diketahui dimana terdapat reaksi antigen-antibody  Penetuan immunoglobulin (total, IgG, IgE, IgM, IgA) di dalam serum dan cairan biologi lainnya.  Penentuan konsentrasi serum protein individu; Hb, Haptoglobin, Transferring, c-reaktif protein, 1-antitrypsin, albumin (dengan menggunakan antibody spesifik untuk setiap protein).  Penetuan ukuran dan jumlah partikel (dengan laser – nephelometer).  Sintesis Imunoglobulin Cairan Cerebrospinal  Menentukan tingkat beberapa protein plasma darah. Misalnya total tingkat antibodi isotypes atau kelas: Immunoglobulin M, imunoglobulin G, dan Imunoglobulin A. Hal ini penting dalam kuantifikasi M - protein dalam penyakit seperti multiple myeloma (Anonim1, 2013). Hal ini dilakukan dengan mengukur kekeruhan dalam sampel air dengan melewatkan cahaya melalui sampel yang diukur. Dalam nephelometri pengukuran dilakukan dengan mengukur cahaya melewati sampel di sudut (Anonim2, 2013). Teknik ini banyak digunakan di laboratorium klinis karena relatif mudah otomatis. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa suspensi encer partikel kecil akan menghamburkan cahaya (biasanya laser) melewatinya bukan hanya menyerapnya. Jumlah menyebar ditentukan dengan mengumpulkan cahaya pada sudut (biasanya pada 30 dan 90 derajat) (Anonim2, 2013). Antibodi dan antigen dicampur dalam konsentrasi sehingga hanya agregat kecil dibentuk yang tidak cepat menyelesaikan ke bawah. Jumlah menghamburkan cahaya diukur dan dibandingkan dengan jumlah pencar dari campuran dikenal. Jumlah diketahui ditentukan dari kurva standar (Anonim2, 2013).  Mendeteksi antigen atau antibodi, tetapi biasanya dijalankan dengan antibodi sebagai reagen dan antigen pasien sebagai diketahui (Stevens, 2010). Titik akhir tes nephelometry dijalankan dengan memungkinkan reaksi antibodi/antigen untuk
  • 8.
    menjalankan sampai selesai(sampai semua antibodi reagen hadir dan membawa antigen sampel pasien yang dapat agregat telah melakukannya dan tidak lebih kompleks dapat terbentuk). Sayangnya, partikel yang besar akan jatuh keluar dari solusi dan menyebabkan pembacaan palsu pencar, sehingga nephelometry kinetik itu dibuat (Rahma, 2011). 2.5 Contoh soal Turbidimetri dan Nefelometri 1. Sebutkan perbedaan turbidimetri dan neflometri ! 2. Gambarkan diagram skema metode neflometi dan turbidimetri ! 3. Tuliskan Persamaan matematis untuk neflometri dan turbidimetri ! 4. Sebutkan aplikasi turbidimetri dan neflometri ! JAWABAN 1. Turbidimetri : pengukuran spesi dengan pergerakan cahaya dalam larutan dengan penurunan intensitas cahaya setelah dilewatkan pada larutan. Pada turbidimetri detector ditempatkan sejajar dengan sumber sinar dan mengukur penurunan kekuatan radiasi yang ditransmisikan. Neflometri : teknik untuk mengukur spesi dengan pergerakan cahaya dalam larutan dengan intensitas cahaya pada sudut terjauh dari cahaya yang dilewatkan melalui sampel. Pada neflometri pergerakan radiasi diukur pada sudut 900C terhadap sumber sinar. 2. Gambar skema perbedaan neflometri dan turbidimetri (Harvey,2000) 3. Persamaan untuk Neflometri Persamaan untuk Turbidimetri
  • 9.
    Dimana : T: Transmitan IT : Intensitas Radiasi yang ditransmisikan oleh sampel I0 : Intensitas sumber radiasi yang ditransmisikan oleh blanko C : konsentrasi (w/v) k : konstanta (bergantung pada ukuran beberapa factor seperti ukuran dan bentuk hamburan patikel dan panjang gelombang dari sumber radiasi. b : panjang kuvet IS : intensitas hamburan radiasi kS : konstanta empiris untuk system I0 : intensitas sumber radiasi 4. Aplikasi turbidimetri a. Penentuan konsentrasi total protein pada fluida biologis seperti urine dan CSF yang terdiri atas protein dalam jumlah kecil (mg/L) menggunakan asam trikloroasetik. b. Penentuan aktivitas amylase menggunakan amilum sebagai substrat. c. Penentuan aktivitas lipas menggunakan trigliserida sebagai substrat. Aplikasi Neflometri a. penentuan immunoglobulin pada serum dan fluida biologis laiinya b. penentuan konsentrasi serum protein seperti hemoglobin,haptoglobin,albumin,dsb c. penentuan ukuran dan jumlah partikel (laser neflometer) 5. Tentukan kadar ion sulfat jika diketahui tabel berikut! 2-] Tabel 1 penentuan kurva kalibrasi larutan standart sulfat [SO4 Larutan Volume SO4 2- (mL) Konsentrasi SO4 2- (ppm) Turbidan Terukur (NTU) Turbidan Terkoreksi (NTU) Blanko 0.0000 0.0000 5.23 0 Standart 1 0.1000 0.174000 17.50 14.50 Standart 2 0.2000 3.48000 46.50 42.00 Standart 3 0.3000 5.22000 75.50 71.00 Standart 4 0.4000 6.96000 86.50 82.20 Standart 5 0.5000 8.70000 102.50 97.50 Standart 6 0.6000 10.44000 126.50 121.44
  • 10.
    Perhitungan: 1. TurbidanTerkoreksi = Turbidan Terukur – Turbidan Blanko = (17.50 – 5.23) NTU = 12.27 ppm 2. Berat Molekul K2SO4 = 174 g/mol 3. Konsentrasi larutan stok sulfat (ppm) = 0.01 mol/L x 174 g/mol x 1000 mg/1 g = 1740 ppm 4. Pengenceran V1N1 = V2N2 0.100 mL x 1740 ppm = 100 mL x N2 N2 = 0.1740 Tabel 2 Pengukuran Konsentrasi Pada Sampel dengan Turbidimetri Laruta n Turbiditasterukur (NTU) Turbiditasterkoreksi (NTU) Konsentrasi (ppm) 1 2 3 1 2 3 1 2 3 Rerata Sampel 1 96.0 0 93.1 0 84.6 0 91.7 7 88.8 7 80.3 7 39.093 5 37.864 8 34.246 3 37.073 8 Sampel 2 56.4 0 62.7 0 62.4 0 52.1 7 58.4 7 58.1 7 22.314 6 24.983 9 24.856 8 24.051 8 Perhitungan: 1. Persamaan regresi y = 2.3601x – 0.4946 R2 = 0.9859 2. Konsentrasi 1 ulangan 1 91.77 = 2.3601x – 0.4946 x = 39.0935 3. Rerata Konsentrasi sampel 1 = 푈푙푎푛푔푎푛 1+푈푙푎푛푔푎푛 2+푈푙푎푛푔푎푛 3 3 = (39.0935+37.8648+34.2463)ppm 3 = 37.0738 Σ (푥−(푥 푟푎푡푎−푟푎푡푎))2 푖 4. Standart Deviasi sampel 1 = √=1 푛푛−1 = √(39.0935−37.0738)+(37.8648−37.0738)+(34.2463−37.0738) 3−1 = 2.5104 Σ (푥−(푥 푟푎푡푎−푟푎푡푎))2 푖 5. Standart Deviasi sampel 2 = √=1 푛푛−1 = 1.5058 6. Ketelitian Sampel 1 = ( 1- 푆푡푎푛푑푎푟푡 퐷푒푣푖푎푠푖 푅푒푟푎푡푎 ) x 100 % = ( 1- 2.5104 37.0738 ) x 100 %
  • 11.
    = 93.29 % 7. Ketelitian Sampel 2 = ( 1- 푆푡푎푛푑푎푟푡 퐷푒푣푖푎푠푖 푅푒푟푎푡푎 ) x 100 % = ( 1- 1.5058 24.0518 ) x 100 % = 93.74 %
  • 12.
    BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan 1. Turbidimetri adalah suatu metoda analisis kuantitatif yang berdasarkan pada pelenturan sinar oleh suspensi zat padat. Pada dasarnya yang diukur adalah perbandingan antara intensitas sinar yang diteruskan dengan intensitas sinar mula-mula. Bila cahaya dilewatkan melalui larutan yang bersuspensi, maka sebagian dari energi radiasi akan dihamburkan, diserap, dipantulkan, dibiaskan dan sisanya akan diteruskan. 2. Nephelometri didasarkan pada pengukuran radiasi tersebar oleh partikel sampel disudut kanan pada balok. Detektor ditempatkan pada jalan insiden radiasi dari sumber 3. Turbidimetri dapat diaplikasikan salah satunya dalam analisa limbah detergen 4. Nefelometri salah satunya digunakan untuk menentukan konsentrasi zat yang tidak diketahui dimana terdapat reaksi antigen-antibody
  • 13.
    DAFTAR PUSTAKA Anonim1,2013, Definition of Nephelometry, http://www.lib.mcg.edu/edu/esimmuno/ch4/nephelom.htm, (online) diakses pada tanggal 15 Oktober 2014. Anonim2, 2013, Quantitave Nephelometry, http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003545.htm, (online) diakses pada tanggal 15 Oktober 2014. Bassett ,J. dkk. 1994. Buku Ajar Vogel: Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta: Kedokteran EGC. Harvey, D. 2000. Modern Analytical Chemistry. New York: McGraw Hill. Khopkar.1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia. Morais, Ines P. A., Ildiko V. Toth, and Antonio O. S. S. Rangel. 2012. Turbidimetric and Nephelometric Flow Analysis: Concepts and Applications, pg 557-559, Universidade Cato´lica Portuguesa. Portugal. Rahma, S. 2011. Turbidimetri dan nefelometri. ITB. Bandung. Stevens. 2010. Clinical Immunology dan Seriology 3rd Ed, pg 127. USA: FA Davis Company. Walimah, A. 2014. Turbidimetri untuk analisis ion sulfat dengan menggunakan flow injection analysis. Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan alam. Universitas Negeri Jember.