LAPORAN PRAKTIKUM 
ANALISIS SPEKTROSKOPI 
PERCOBAAN I 
PENGENALAN INSTRUMEN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS, 
KALIBRASI DAN PENGUKURAN PANJANG GELOMBANG 
MAKSIMUM 
NAMA : MILA INDRIANI 
NIM : J0B113214 
KELOMPOK : I (SATU) 
ASISTEN : RIRI AL KAHFI 
PROGRAM STUDI DIII ANALIS FARMASI DAN MAKANAN 
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM 
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT 
BANJARBARU 
2014
LEMBAR PENILAIAN 
ANALISIS SPEKTROSKOPI 
PERCOBAAN I 
PENGENALAN INSTRUMEN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS, 
KALIBRASI DAN PENGUKURAN PANJANG GELOMBANG 
MAKSIMUM 
Nama : MILA INDRIANI 
NIM : J0B113214 
Asisten : RIRI AL KAHFI 
Tanggal mengumpul 
: 23 Oktober 2014 
laporan 
PROGRAM STUDI DIII ANALIS FARMASI DAN MAKANAN 
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM 
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT 
BANJARBARU 
2014 
Tanggal laporan 
dikembalalikan 
: 
Nilai Sementara : Nilai Akhir :
PERCOBAAN I 
PENGENALAN INSTRUMEN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS, 
KALIBRASI DAN PENGUKURAN PANJANG GELOMBANG MAKSIMUM 
I. TUJUAN PERCOBAAN 
Tujuan percobaan praktikum ini adalah mahasiswa dapat 
memahami prinsip kerja alat spektrofotometer UV-Visible, mengetahui 
cara mengkalibrasi alat spektrofotometer UV-Visibel dan mengetahui cara 
menentukan nilai λmaks panjang gelombang maksimum sebagai parameter 
penting dalam analisa spektrofotometri UV-Vis. 
II. TINJAUAN PUSTAKA 
Dalam analisis spektrofotometri digunakan suatu sember cahaya 
radiasi yang menjorok ke dalam daerah ultaviolet spektum itu. Dari 
spektrum ini dipilih panjang-panjang gelombang tertentu dengan lebar pita 
kurang dari 1 nm. Proses ini memerlukan penggunaan instrumen yang 
lebih rumit dan karenanya lebih mahal. Instrumen yang digunakan untuk 
maksud ini adalah spektrofotometer, dan seperti tesirat dalam nama ini, 
instrumen ini sebenarnya terdiri dari dua instrumen dalam satu kotak 
sebuah spektrometer dan sebuah fotometer (Bassett, 1994). 
Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitans atau 
absorbans suatu contoh sebagai funsi panjang gelombang, pengukuran 
terhadap suatu deretan contoh pada suatu panjang gelombang tunggal 
mungkin juga dapat dilakukan (Day & Underwood, 1986). Komponen-komponen 
dari spektrofotometer meliputi : 
a. Sumber tenaga radiasi yang stabil 
b. Sistem yang terdiri atas lensa, lensa, cermin, celah-celah, dan lain-lain. 
c. Monokromator untuk mengubah radiasi menjadi komponen-komponen 
panjang gelombang tunggal 
d. Tempat cuplikan yang transparan 
e. Detektor radiasi yang dihubungkan dengan sistem meter atau pencatat
SUMBER MONOKRO 
MATOR 
SEL METER 
PENYERAP 
DETEKTOR 
Gambar 1.1 Diagram spektrofotometer 
(Sastrohamidjojo, 1994). 
Suatu spektrofotometer standar terdiri atas spektrofotometer 
untuk menghasilkan cahaya dengan panjang gelombang terseleksi yaitu 
bersifat monokromatik serta suatu fotometer yaitu suatu piranti untuk 
mengukur intensitas berkas monokromatik, digabungkan bersama 
dinamakan sebagai spektrofotometer (Khopkar, 1990). Semua tipe 
spektroskopi tergantung pada absorpsi ataupun emisi radiasi 
elektromagnetik oleh sampel yang diselidiki. Dua parameter yang diukur 
oleh eksperimen yaitu : 
a. Energi radiasi elektromagnetik yang diserap atau diemisikan sampel 
b. Intensitas absopsi atau emisi sampel (Yahya, 2001). 
Spektrofotometer UV-Vis adalah pengukuran serapan cahaya 
didaerah ultraviolet (200 – 350 nm) dan sinar tampak (350 – 800 nm) oleh 
suatu senyawa. Serapan cahaya uv atau cahaya campak mengakibatkan 
transisis elektronik, yaitu promosi elektron elektron dari orbital keadaan 
dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih 
tinggi. Panjang gelombang cahaya uv atau cahaya tampak tergantung pada 
mudahnya promosi elektron.molekul molekul yang memerlukan lebih 
banyak energi untuk promosi elektron, akan menyerap pada panjang 
gelombang yang lebih pendek. Molekul yang memerlukan energi lebih 
sedikit akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih panjang. 
Senyawa yang menyerap cahaya dalam daerah tampak (senyawa 
berwarna) mempunyai elektron yang mudah dipromosikan dari pada 
senyawa yang menyerap pada panjang gelombang lebih pendek (Herliani, 
2008). 
Absorpsi adalah suatu berkas radiasi elektromagnetik, bila 
dilewatkan melalui sampel kimia, sebagian akan terabsorbsi. Energi 
elektromagnetik ditransfer ke atom atau molekul dalam sampel, berarti
partikel dipromosikan dari tingkat energi yang lebih rendah ke tingkat 
energi yang lebih tinggi yaitu tingkat tereksitasi. Pada temperatur kamar, 
biasanya berada pada tingkat dasar. Absorbsi meliputi transisi dari tingkat 
dasar ke tingkat yang lebih tinggi. Penelaahan frekuensi spesies yang 
terabsorbsi merupakan cara untuk mengidentifikasi dan analisis sampel, 
yaitu spektra absorbs yang berupa pengaluran absorbansi terhadap panjang 
gelombang. Spektra ini dapat disebabkan absorbsi atom atau absobsi 
molekul. Absorbsi tergantung pada keadaan fisis, lingkungan spesies 
pengabsobsi dan faktor-faktor lainnya (Khopkar, 1990). 
Kedua hukum yang terpisah yang mengatur absorpsi biasanya 
dikenal sebagai hukum Lambert dan hukum Beer. Dalam bentuk gabungan 
hukum ini dikenal sebagai hukum Lambert-Beer. Hukum Lambert 
menyatakan bahwa bila cahaya monokromatik melewati medium tembus 
cahaya, laju berkurangnya intensitas oleh bertambahnya ketebalan, 
berbanding lurus dengan intensitas cahaya. Ini setara dengan menyatakan 
bahwa intensitas cahaya yang dipendarkan berkurang secara eksponensial 
dengan bertambahnya ketebalan medium yang menyerap. Hukum Beer 
mengkaji efek konsentrasi penyusun yang berwarna dalam larutan, 
terhadap transmisi maupun absopsi cahaya. Dijumpainya hubungan yang 
sama antara transmisi dan konsentrasi dan ketebalan lapisan, yakni 
intensitas berkas cahaya monokromatik berkurang secara eksponensial 
dengan bertambahnya konsentrasi zat penyerap secara linier (Bassett, 
1994). 
Banyak zat organik juga menunjukkan absorpsi khusus, misalnya 
permanganat, ion nitrat, ion kromat, dan ruthenium, molekul iodium dan 
ozon. Banyak pereaksi akan bereaksi dengan zat yang tidak mengabsorpsi 
memberikan hasil yang akan mengabsorpsi sinar ultra-violet atau sinar 
tampak dengan kuat. Pereaksi organik yang membentuk kompleks 
berwarna yang stabil adalah o-phenanthrolin untuk besi, dimetil glioksim 
untuk nikel, dietil thio karbamat untuk tembaga, dan sebagainya (Etty, 
1985).
Suatu grafik yang menghubungkan antara banyaknya sinar yang 
diserap dengan frekuensi (panjang gelombang) sinar merupakan spektrum 
absorpsi. Transisi yang dibolehkan untuk suatu molekul dengan struktur 
kimia yang berbeda adalah tidak sama sehingga spektra absorpsinya juga 
berbeda. Dengan demikian, spektra dapat digunakan sebagai bahan 
informasi yang bermanfaat untuk analisis kualitatif. Banyaknya sinar yang 
diabsorpsi pada panjang gelombang tertentu sebanding dengan banyaknya 
molekul yang menyerap radiasi, sehingga spektra absorpsi juga dapat 
digunakan untuk analisis kuantitatif (Gandjar dan Rohman, 2007). 
Analisis kuantitatif suatu obat dalam cairan biologis membutuhkan 
metode dengan selektifitas dan sensitivitas yang tinggi serta memiliki 
pengganggu sesedikit mungkin. Salah satu metode yang dapat digunakan 
untuk analisis ini adalah metode spektrofotometri UV-Vis. Metode ini 
memiliki keuntungan utama yaitu memberikan cara sederhana untuk 
menetapkan jumlah zat yang sangat kecil dan dengan biaya yang tidak 
mahal untuk suatu analisis kimia. Metode Spektrofotometri UV-Vis 
dipakai untuk analisis terhadap molekul-molekul yang strukturnya ada 
ikatan rangkap terkonjugasi atau mengandung kromofor dan auksokrom 
(Nur,dkk, 2010). 
III. ALAT DAN BAHAN 
A. Alat 
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah kuvet 
quartz dan spektrofotometer UV-Visible Lambda 25 Perkin Elmer. 
B. Bahan 
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah 
akuades, aseton, benzen/toluen.
IV. PROSEDUR KERJA 
A. Kalibrasi Alat Spektrofotometer UV-Vis. 
1. Dinyalakan alat spektrofotometer UV-Vis selama ±15 menit 
untuk menstabilkan sumber cahaya dan fotodetektor. 
2. Disiapkan laritan blangko (aquadest), dimasukkannya ke dalam 
kuvet yang telah dibersihkan dengan menggunakan tissue. 
3. Dipilih menu aplikasi wavelength scan. Dilakukan kalibrasi 
dengan menggunakan larutan blangko (min. 2 kali dengan 
menekan tombol autozerro). 
B. Menentukan panjang gelombang yang memiliki absorbansi 
maksimum (λmaks) 
1. Ditentukan range panjang gelombang yang akan digunakan 
(untuk sampel yang tidak berwarna, digunakan range panjang 
gelombang sinar UV : 180 – 400 nm). 
2. Dimasukkan sampel aseton ke dalam kuvet yang kering dan 
bersih. 
3. Dilakukan scanning panjang gelombang maksimum untuk 
sampai untuk sampel aseton hingga dihasilkan nilai λmaks. 
4. Dibuatkan grafik hubungan antara nilai absorbans sebagai fungsi 
panjang gelombang. 
5. Ditentukannya λmaks untuk sampel lain (benzen dan metanol) 
dengan cara yang sama seperti sampel aseton. 
6. Dibuatkan tabel yang menjelaskan spesifitas gugus kromofor 
dengan panjang gelombang yang dihasilkan.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 
A. Hasil 
Hasil yang diperoleh dari praktikum yang telah dilaksanakan, 
yaitu sebagai berikut: 
No. Nama 
Senyawa 
Gugus 
Kromofor 
Panjang gelombang 
Maksimal (nm) 
1. Benzen - 206 nm 
2. Aseton - 266 nm 
B. Pembahasan 
Percobaan ini bertujuan untuk memahami prinsip kerja alat 
spektrofotometer UV-Visible, mengetahui cara mengkalibrasi alat 
spektrofotometer UV-Visible, dan mengetahui cara menentukan nilai 
λmaks (panjang gelombang maksimum) sebagai parameter penting 
dalam analisa spektrofotometer UV-Vis. 
Sinar yang melewati suatu larutan akan terserap oleh 
senyawa-senyawa dalam larutan tersebut. Intensitas sinar yang diserap 
tergantung pada jenis senyawa yang ada, konsentrasi dan tebal atau 
panjang larutan tersebut. Makin tinggi konsentrasi suatu senyawa 
dalam larutan, makin banyak sinar yang diserap. Berbeda dengan 
spektrofotometri visible, pada spektrofotometri UV berdasarkan 
interaksi sampel dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang 
gelombang 190-380 nm. Sebagai sumber sinar dapat digunakan lampu 
deuterium. Deuterium disebut juga heavy hidrogen. Dia merupakan 
isotop hidrogen yang stabil yang terdapat berlimpah dilaut dan 
daratan. Inti atom deuterium mempunyai satu proton dan satu neutron, 
sementara hidrogen hanya memiliki satu proton dan tidak memiliki 
neutrron. Nama deuterium diambil dari bahasa Yunani, deuteras yang 
berarti dua, mengacu pada intinya yang memiliki 2 partikel. Karena 
sinar UV tidak dapat dideteksi dengan mata kita maka senyawa yang 
dapat menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang tidak
memiliki warna, bening dan transparan. Oleh karena itu, sampel tidak 
berwarna tidak perlu dibuat berwarna dengan penambahan reagen 
tertentu. Bahkan sampel dapat langsung dianalisa meskipun tanpa 
preparasi. Namun perlu diingat, sampel keruh tetap harus dibuat jernih 
dengan filtrasi atau sentifungi (Petruci, 1987). 
Prinsip kerja spektrofotometer merupakan alat analisis yang 
dapat digunakan untuk keperluan kualitatif dan kuantitatif dengan cara 
melewatkan sinar (dalam spektrofotometer) melalui larutan jernih 
serta untuk mengukur tranmitans atau absorban suatu sampel sebagai 
fungsi panjang gelombang. Instrumen ini bekerja dengan 
menempatkan larutan pembanding, misalnya blanko dalam sel 
pertama sedangkan larutan yang dianalisis pada sel yang kedua. 
Kemudian pilih fotosel yang cocok 200 nm-400 nm (400 nm-110 nm) 
agar daerah λ yang diperlukan dapat terliputi. Dengan ruang fotosel 
dalam keadaan tertutup “nol” galvanometer didapat dengan memutar 
tombol sensitivitas. Dengan menggunakan tombol transmitasi, 
kemudian atur besarnya pada 100%. Lewatkan berkas cahaya pada 
larutan sampel yang akan dianalisis. Skala absorbansi menunjukkan 
absorbansi larutan sampel. 
Spektrofotometri UV-Vis dapat dilakukan penentuan 
terhadap sampel yang berupa larutan, gas, atau uap. Untuk sampel 
yang berupa larutan perlu diperhatikan beberapa persyaratan pelarut 
digerakan antara lain : 
1. Pelarut yang digunakan tidak menggunakan sistem ikatan rangkap 
terkonjugasi pada struktur molekulnya dan tidak berwarna. 
2. Tidak terjasi interaksi dengan senyawa di analisa. 
3. Kemurniaannya harus tinggi atau derajat untuk analisis. 
Spektrum absorpsi yang diperoleh dari hasil analisis dapat 
memberikan informasi panjang gelombang dengan absorban 
maksimum dari senyawa atau unsur. Panjang gelombang dan absorban 
yang dihasilkan selama proses analisis digunakan untuk membuat 
kurva standar. Konsentrasi suatu senyawa atau unsur dapat dihitung
dari kurva standar yang diukur pada panjang gelombang dengan 
absorban maksimum. Dari kurva standar kalibrasi, diperoleh 
persamaan garis: 
Y = ax + b 
Dimana Y merupakan serapan dan x adalah konsentrasi unsur 
atau senyawa. Dengan persamaan garis tersebut dapat ditentukan 
konsentrasi sampel. Pada spektrofotometer UV-VIS, warna yang 
diserap oleh suatu senyawa atau unsur adalah warna komplementer 
dari warna yang teramati. Hal tersebut dapat diketahui dari larutan 
berwarna yang memiliki serapan maksimum pada warna 
komplementernya. Namun apabila larutan berwarna dilewati radiasi 
atau cahaya putih, maka radiasi tersebut pada panjang gelombang 
tertentu akan diserap secara selektif sedangkan radiasi yang tidak 
diserap akan diteruskan. 
Keaditifan absorbans larutan ini dilakukan dengan mengukur 
absorbans aseton dan benzen dengan panjang gelombang 200 nm 
dengan alat spektrofotometer UV-Vis. Sebelum melakukan 
pengukaran absorbans spektrofotometer harus disetel sedemikian rupa 
sehingga transmisi larutan blanko menjadi 100% atau absorbansinya = 
0% dengan mengatur celah-celah keluar monokromator dan kepekaan 
dari amplifator. Larutan yang diukur absorbansinya dimasukkan ke 
dalam kuvet dan larutan blankonya dimasukkan ke dalam kuvet lain. 
Ukuran larutan aseton dan benzen larutan blanko yang digunakan 
adalah akuades. Larutan blanko yang digunakan disesuaikan dengan 
pelarut. Setelah didapatkan nilai absorbans dengan panjang 
gelombang tertentu, maka dibuat grafik tersebut, dapat ditentukan 
nilai panjang gelombang maksimum dimana absorbansi bernilai 
maksimum. 
Bahan yang digunakan yaitu benzen, aseton dan akuades. 
Prosedur pertama yaitu kalibrasi alat spektrofotometer UV-Vis. 
Selanjutnya dilakukan pengenceran pada larutan aseton dan benzen
agar tidak terlalu pekat, serta mudah untuk diadsorpsi pada panjang 
gelombang maksimum.Dari hasil percobaan, pengukuran spektroskopi 
diperoleh dua panjang gelombang maksimal untuk benzena pada 
panjang gelombang sekitar 206 nm dengan gugus kromofor sebesar . 
Panjang gelombang yang didapatkan tersebut sesuai dengan panjang 
gelombang pada literatur (Suwandri, 2006) yang menunjukkan 
panjang gelombang toluen/benzen adalah 226 nm-274 nm. Pada 
aseton didapatkan panjang gelombang sekitar 266. karena alat yang 
digunakan tidak bisa membaca panjang gelombang dibawah 200 nm 
dan diatas 8000 nm. Maka harus dilakukan pengencenceran 10 ml/ 
100ml sekitar (20 tetes), agar dapat terbaca oleh kerja alat 
spektrofotometri uv-visible.
VI. KESIMPULAN 
Dari pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa: 
1. Prinsip kerja spektrofotometer berdasarkan hukum Lambert Beer, bila 
cahaya monokromatik (Io) melalui suatu media maka sebagian cahaya 
tersebut diserap (Ia) sebagian dipantulkan (Ir) dan sebagian lagi 
dipancarkan (It). 
2. Bahan yang digunakan yaitu benzen, aseton dan akuades. 
3. Terdapat 1 panjang gelombang maksimum pada benzen yaitu 206 nm 
dengan gugus kromofor sebesar . 
4. Pada aseton panjang gelombang maksimum yang di peroleh sekitar 
266 nm dangan gugus kromofor sebesar .
DAFTAR PUSTAKA 
Basset, J. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Penerbit 
Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 
Day, R.A. Jr. & A.L. Underwood. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. 
Erlangga. Jakarta. 
Etty, T. 1985. Spektrofotometer Ultra-Violet dan Sinar Tampak Serta Aplikasinya 
Dalam Oseanologi. Oseana. Vol 10. No. 1 : 39-47. 
Gandjar, I.G. & Rohman A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar. 
Yogyakarta. 
Herliani, An an. 2008. Spektrofotometri. Pengendalian Mutu Agroindustri- 
Program D4-PJJ 
Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press. Jakarta. 
Nur, I.D.R., P.I. Utami & D. Setiawan. 2010. Analisis Kuantitatif Tablet 
Levofloksasin Merk Dan Generik Dalam Plasma Manusia Secara In Vitro 
Dengan Metode Spektrofotometri Ultraviolet Visible. Pharmacy. Vol 7. 
No. 1 : 119-128. 
Petruci, R. 1987. Kimia Dasar Edisi 4 Jilid 2. Bogor. Erlangga. 
Sastrohamidjojo, H. 1994. Spektroskopi Resonansi Magnetik Inti. Liberty. 
Yogyakarta. 
Yahya, M.U. 2001. Ikatan Kimia. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

analisis spektroskopi percobaan 1

  • 1.
    LAPORAN PRAKTIKUM ANALISISSPEKTROSKOPI PERCOBAAN I PENGENALAN INSTRUMEN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS, KALIBRASI DAN PENGUKURAN PANJANG GELOMBANG MAKSIMUM NAMA : MILA INDRIANI NIM : J0B113214 KELOMPOK : I (SATU) ASISTEN : RIRI AL KAHFI PROGRAM STUDI DIII ANALIS FARMASI DAN MAKANAN FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU 2014
  • 2.
    LEMBAR PENILAIAN ANALISISSPEKTROSKOPI PERCOBAAN I PENGENALAN INSTRUMEN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS, KALIBRASI DAN PENGUKURAN PANJANG GELOMBANG MAKSIMUM Nama : MILA INDRIANI NIM : J0B113214 Asisten : RIRI AL KAHFI Tanggal mengumpul : 23 Oktober 2014 laporan PROGRAM STUDI DIII ANALIS FARMASI DAN MAKANAN FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU 2014 Tanggal laporan dikembalalikan : Nilai Sementara : Nilai Akhir :
  • 3.
    PERCOBAAN I PENGENALANINSTRUMEN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS, KALIBRASI DAN PENGUKURAN PANJANG GELOMBANG MAKSIMUM I. TUJUAN PERCOBAAN Tujuan percobaan praktikum ini adalah mahasiswa dapat memahami prinsip kerja alat spektrofotometer UV-Visible, mengetahui cara mengkalibrasi alat spektrofotometer UV-Visibel dan mengetahui cara menentukan nilai λmaks panjang gelombang maksimum sebagai parameter penting dalam analisa spektrofotometri UV-Vis. II. TINJAUAN PUSTAKA Dalam analisis spektrofotometri digunakan suatu sember cahaya radiasi yang menjorok ke dalam daerah ultaviolet spektum itu. Dari spektrum ini dipilih panjang-panjang gelombang tertentu dengan lebar pita kurang dari 1 nm. Proses ini memerlukan penggunaan instrumen yang lebih rumit dan karenanya lebih mahal. Instrumen yang digunakan untuk maksud ini adalah spektrofotometer, dan seperti tesirat dalam nama ini, instrumen ini sebenarnya terdiri dari dua instrumen dalam satu kotak sebuah spektrometer dan sebuah fotometer (Bassett, 1994). Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitans atau absorbans suatu contoh sebagai funsi panjang gelombang, pengukuran terhadap suatu deretan contoh pada suatu panjang gelombang tunggal mungkin juga dapat dilakukan (Day & Underwood, 1986). Komponen-komponen dari spektrofotometer meliputi : a. Sumber tenaga radiasi yang stabil b. Sistem yang terdiri atas lensa, lensa, cermin, celah-celah, dan lain-lain. c. Monokromator untuk mengubah radiasi menjadi komponen-komponen panjang gelombang tunggal d. Tempat cuplikan yang transparan e. Detektor radiasi yang dihubungkan dengan sistem meter atau pencatat
  • 4.
    SUMBER MONOKRO MATOR SEL METER PENYERAP DETEKTOR Gambar 1.1 Diagram spektrofotometer (Sastrohamidjojo, 1994). Suatu spektrofotometer standar terdiri atas spektrofotometer untuk menghasilkan cahaya dengan panjang gelombang terseleksi yaitu bersifat monokromatik serta suatu fotometer yaitu suatu piranti untuk mengukur intensitas berkas monokromatik, digabungkan bersama dinamakan sebagai spektrofotometer (Khopkar, 1990). Semua tipe spektroskopi tergantung pada absorpsi ataupun emisi radiasi elektromagnetik oleh sampel yang diselidiki. Dua parameter yang diukur oleh eksperimen yaitu : a. Energi radiasi elektromagnetik yang diserap atau diemisikan sampel b. Intensitas absopsi atau emisi sampel (Yahya, 2001). Spektrofotometer UV-Vis adalah pengukuran serapan cahaya didaerah ultraviolet (200 – 350 nm) dan sinar tampak (350 – 800 nm) oleh suatu senyawa. Serapan cahaya uv atau cahaya campak mengakibatkan transisis elektronik, yaitu promosi elektron elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi. Panjang gelombang cahaya uv atau cahaya tampak tergantung pada mudahnya promosi elektron.molekul molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk promosi elektron, akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih pendek. Molekul yang memerlukan energi lebih sedikit akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih panjang. Senyawa yang menyerap cahaya dalam daerah tampak (senyawa berwarna) mempunyai elektron yang mudah dipromosikan dari pada senyawa yang menyerap pada panjang gelombang lebih pendek (Herliani, 2008). Absorpsi adalah suatu berkas radiasi elektromagnetik, bila dilewatkan melalui sampel kimia, sebagian akan terabsorbsi. Energi elektromagnetik ditransfer ke atom atau molekul dalam sampel, berarti
  • 5.
    partikel dipromosikan daritingkat energi yang lebih rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi yaitu tingkat tereksitasi. Pada temperatur kamar, biasanya berada pada tingkat dasar. Absorbsi meliputi transisi dari tingkat dasar ke tingkat yang lebih tinggi. Penelaahan frekuensi spesies yang terabsorbsi merupakan cara untuk mengidentifikasi dan analisis sampel, yaitu spektra absorbs yang berupa pengaluran absorbansi terhadap panjang gelombang. Spektra ini dapat disebabkan absorbsi atom atau absobsi molekul. Absorbsi tergantung pada keadaan fisis, lingkungan spesies pengabsobsi dan faktor-faktor lainnya (Khopkar, 1990). Kedua hukum yang terpisah yang mengatur absorpsi biasanya dikenal sebagai hukum Lambert dan hukum Beer. Dalam bentuk gabungan hukum ini dikenal sebagai hukum Lambert-Beer. Hukum Lambert menyatakan bahwa bila cahaya monokromatik melewati medium tembus cahaya, laju berkurangnya intensitas oleh bertambahnya ketebalan, berbanding lurus dengan intensitas cahaya. Ini setara dengan menyatakan bahwa intensitas cahaya yang dipendarkan berkurang secara eksponensial dengan bertambahnya ketebalan medium yang menyerap. Hukum Beer mengkaji efek konsentrasi penyusun yang berwarna dalam larutan, terhadap transmisi maupun absopsi cahaya. Dijumpainya hubungan yang sama antara transmisi dan konsentrasi dan ketebalan lapisan, yakni intensitas berkas cahaya monokromatik berkurang secara eksponensial dengan bertambahnya konsentrasi zat penyerap secara linier (Bassett, 1994). Banyak zat organik juga menunjukkan absorpsi khusus, misalnya permanganat, ion nitrat, ion kromat, dan ruthenium, molekul iodium dan ozon. Banyak pereaksi akan bereaksi dengan zat yang tidak mengabsorpsi memberikan hasil yang akan mengabsorpsi sinar ultra-violet atau sinar tampak dengan kuat. Pereaksi organik yang membentuk kompleks berwarna yang stabil adalah o-phenanthrolin untuk besi, dimetil glioksim untuk nikel, dietil thio karbamat untuk tembaga, dan sebagainya (Etty, 1985).
  • 6.
    Suatu grafik yangmenghubungkan antara banyaknya sinar yang diserap dengan frekuensi (panjang gelombang) sinar merupakan spektrum absorpsi. Transisi yang dibolehkan untuk suatu molekul dengan struktur kimia yang berbeda adalah tidak sama sehingga spektra absorpsinya juga berbeda. Dengan demikian, spektra dapat digunakan sebagai bahan informasi yang bermanfaat untuk analisis kualitatif. Banyaknya sinar yang diabsorpsi pada panjang gelombang tertentu sebanding dengan banyaknya molekul yang menyerap radiasi, sehingga spektra absorpsi juga dapat digunakan untuk analisis kuantitatif (Gandjar dan Rohman, 2007). Analisis kuantitatif suatu obat dalam cairan biologis membutuhkan metode dengan selektifitas dan sensitivitas yang tinggi serta memiliki pengganggu sesedikit mungkin. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk analisis ini adalah metode spektrofotometri UV-Vis. Metode ini memiliki keuntungan utama yaitu memberikan cara sederhana untuk menetapkan jumlah zat yang sangat kecil dan dengan biaya yang tidak mahal untuk suatu analisis kimia. Metode Spektrofotometri UV-Vis dipakai untuk analisis terhadap molekul-molekul yang strukturnya ada ikatan rangkap terkonjugasi atau mengandung kromofor dan auksokrom (Nur,dkk, 2010). III. ALAT DAN BAHAN A. Alat Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah kuvet quartz dan spektrofotometer UV-Visible Lambda 25 Perkin Elmer. B. Bahan Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah akuades, aseton, benzen/toluen.
  • 7.
    IV. PROSEDUR KERJA A. Kalibrasi Alat Spektrofotometer UV-Vis. 1. Dinyalakan alat spektrofotometer UV-Vis selama ±15 menit untuk menstabilkan sumber cahaya dan fotodetektor. 2. Disiapkan laritan blangko (aquadest), dimasukkannya ke dalam kuvet yang telah dibersihkan dengan menggunakan tissue. 3. Dipilih menu aplikasi wavelength scan. Dilakukan kalibrasi dengan menggunakan larutan blangko (min. 2 kali dengan menekan tombol autozerro). B. Menentukan panjang gelombang yang memiliki absorbansi maksimum (λmaks) 1. Ditentukan range panjang gelombang yang akan digunakan (untuk sampel yang tidak berwarna, digunakan range panjang gelombang sinar UV : 180 – 400 nm). 2. Dimasukkan sampel aseton ke dalam kuvet yang kering dan bersih. 3. Dilakukan scanning panjang gelombang maksimum untuk sampai untuk sampel aseton hingga dihasilkan nilai λmaks. 4. Dibuatkan grafik hubungan antara nilai absorbans sebagai fungsi panjang gelombang. 5. Ditentukannya λmaks untuk sampel lain (benzen dan metanol) dengan cara yang sama seperti sampel aseton. 6. Dibuatkan tabel yang menjelaskan spesifitas gugus kromofor dengan panjang gelombang yang dihasilkan.
  • 8.
    V. HASIL DANPEMBAHASAN A. Hasil Hasil yang diperoleh dari praktikum yang telah dilaksanakan, yaitu sebagai berikut: No. Nama Senyawa Gugus Kromofor Panjang gelombang Maksimal (nm) 1. Benzen - 206 nm 2. Aseton - 266 nm B. Pembahasan Percobaan ini bertujuan untuk memahami prinsip kerja alat spektrofotometer UV-Visible, mengetahui cara mengkalibrasi alat spektrofotometer UV-Visible, dan mengetahui cara menentukan nilai λmaks (panjang gelombang maksimum) sebagai parameter penting dalam analisa spektrofotometer UV-Vis. Sinar yang melewati suatu larutan akan terserap oleh senyawa-senyawa dalam larutan tersebut. Intensitas sinar yang diserap tergantung pada jenis senyawa yang ada, konsentrasi dan tebal atau panjang larutan tersebut. Makin tinggi konsentrasi suatu senyawa dalam larutan, makin banyak sinar yang diserap. Berbeda dengan spektrofotometri visible, pada spektrofotometri UV berdasarkan interaksi sampel dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang gelombang 190-380 nm. Sebagai sumber sinar dapat digunakan lampu deuterium. Deuterium disebut juga heavy hidrogen. Dia merupakan isotop hidrogen yang stabil yang terdapat berlimpah dilaut dan daratan. Inti atom deuterium mempunyai satu proton dan satu neutron, sementara hidrogen hanya memiliki satu proton dan tidak memiliki neutrron. Nama deuterium diambil dari bahasa Yunani, deuteras yang berarti dua, mengacu pada intinya yang memiliki 2 partikel. Karena sinar UV tidak dapat dideteksi dengan mata kita maka senyawa yang dapat menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang tidak
  • 9.
    memiliki warna, beningdan transparan. Oleh karena itu, sampel tidak berwarna tidak perlu dibuat berwarna dengan penambahan reagen tertentu. Bahkan sampel dapat langsung dianalisa meskipun tanpa preparasi. Namun perlu diingat, sampel keruh tetap harus dibuat jernih dengan filtrasi atau sentifungi (Petruci, 1987). Prinsip kerja spektrofotometer merupakan alat analisis yang dapat digunakan untuk keperluan kualitatif dan kuantitatif dengan cara melewatkan sinar (dalam spektrofotometer) melalui larutan jernih serta untuk mengukur tranmitans atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Instrumen ini bekerja dengan menempatkan larutan pembanding, misalnya blanko dalam sel pertama sedangkan larutan yang dianalisis pada sel yang kedua. Kemudian pilih fotosel yang cocok 200 nm-400 nm (400 nm-110 nm) agar daerah λ yang diperlukan dapat terliputi. Dengan ruang fotosel dalam keadaan tertutup “nol” galvanometer didapat dengan memutar tombol sensitivitas. Dengan menggunakan tombol transmitasi, kemudian atur besarnya pada 100%. Lewatkan berkas cahaya pada larutan sampel yang akan dianalisis. Skala absorbansi menunjukkan absorbansi larutan sampel. Spektrofotometri UV-Vis dapat dilakukan penentuan terhadap sampel yang berupa larutan, gas, atau uap. Untuk sampel yang berupa larutan perlu diperhatikan beberapa persyaratan pelarut digerakan antara lain : 1. Pelarut yang digunakan tidak menggunakan sistem ikatan rangkap terkonjugasi pada struktur molekulnya dan tidak berwarna. 2. Tidak terjasi interaksi dengan senyawa di analisa. 3. Kemurniaannya harus tinggi atau derajat untuk analisis. Spektrum absorpsi yang diperoleh dari hasil analisis dapat memberikan informasi panjang gelombang dengan absorban maksimum dari senyawa atau unsur. Panjang gelombang dan absorban yang dihasilkan selama proses analisis digunakan untuk membuat kurva standar. Konsentrasi suatu senyawa atau unsur dapat dihitung
  • 10.
    dari kurva standaryang diukur pada panjang gelombang dengan absorban maksimum. Dari kurva standar kalibrasi, diperoleh persamaan garis: Y = ax + b Dimana Y merupakan serapan dan x adalah konsentrasi unsur atau senyawa. Dengan persamaan garis tersebut dapat ditentukan konsentrasi sampel. Pada spektrofotometer UV-VIS, warna yang diserap oleh suatu senyawa atau unsur adalah warna komplementer dari warna yang teramati. Hal tersebut dapat diketahui dari larutan berwarna yang memiliki serapan maksimum pada warna komplementernya. Namun apabila larutan berwarna dilewati radiasi atau cahaya putih, maka radiasi tersebut pada panjang gelombang tertentu akan diserap secara selektif sedangkan radiasi yang tidak diserap akan diteruskan. Keaditifan absorbans larutan ini dilakukan dengan mengukur absorbans aseton dan benzen dengan panjang gelombang 200 nm dengan alat spektrofotometer UV-Vis. Sebelum melakukan pengukaran absorbans spektrofotometer harus disetel sedemikian rupa sehingga transmisi larutan blanko menjadi 100% atau absorbansinya = 0% dengan mengatur celah-celah keluar monokromator dan kepekaan dari amplifator. Larutan yang diukur absorbansinya dimasukkan ke dalam kuvet dan larutan blankonya dimasukkan ke dalam kuvet lain. Ukuran larutan aseton dan benzen larutan blanko yang digunakan adalah akuades. Larutan blanko yang digunakan disesuaikan dengan pelarut. Setelah didapatkan nilai absorbans dengan panjang gelombang tertentu, maka dibuat grafik tersebut, dapat ditentukan nilai panjang gelombang maksimum dimana absorbansi bernilai maksimum. Bahan yang digunakan yaitu benzen, aseton dan akuades. Prosedur pertama yaitu kalibrasi alat spektrofotometer UV-Vis. Selanjutnya dilakukan pengenceran pada larutan aseton dan benzen
  • 11.
    agar tidak terlalupekat, serta mudah untuk diadsorpsi pada panjang gelombang maksimum.Dari hasil percobaan, pengukuran spektroskopi diperoleh dua panjang gelombang maksimal untuk benzena pada panjang gelombang sekitar 206 nm dengan gugus kromofor sebesar . Panjang gelombang yang didapatkan tersebut sesuai dengan panjang gelombang pada literatur (Suwandri, 2006) yang menunjukkan panjang gelombang toluen/benzen adalah 226 nm-274 nm. Pada aseton didapatkan panjang gelombang sekitar 266. karena alat yang digunakan tidak bisa membaca panjang gelombang dibawah 200 nm dan diatas 8000 nm. Maka harus dilakukan pengencenceran 10 ml/ 100ml sekitar (20 tetes), agar dapat terbaca oleh kerja alat spektrofotometri uv-visible.
  • 12.
    VI. KESIMPULAN Daripembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Prinsip kerja spektrofotometer berdasarkan hukum Lambert Beer, bila cahaya monokromatik (Io) melalui suatu media maka sebagian cahaya tersebut diserap (Ia) sebagian dipantulkan (Ir) dan sebagian lagi dipancarkan (It). 2. Bahan yang digunakan yaitu benzen, aseton dan akuades. 3. Terdapat 1 panjang gelombang maksimum pada benzen yaitu 206 nm dengan gugus kromofor sebesar . 4. Pada aseton panjang gelombang maksimum yang di peroleh sekitar 266 nm dangan gugus kromofor sebesar .
  • 13.
    DAFTAR PUSTAKA Basset,J. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Day, R.A. Jr. & A.L. Underwood. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Erlangga. Jakarta. Etty, T. 1985. Spektrofotometer Ultra-Violet dan Sinar Tampak Serta Aplikasinya Dalam Oseanologi. Oseana. Vol 10. No. 1 : 39-47. Gandjar, I.G. & Rohman A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Herliani, An an. 2008. Spektrofotometri. Pengendalian Mutu Agroindustri- Program D4-PJJ Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press. Jakarta. Nur, I.D.R., P.I. Utami & D. Setiawan. 2010. Analisis Kuantitatif Tablet Levofloksasin Merk Dan Generik Dalam Plasma Manusia Secara In Vitro Dengan Metode Spektrofotometri Ultraviolet Visible. Pharmacy. Vol 7. No. 1 : 119-128. Petruci, R. 1987. Kimia Dasar Edisi 4 Jilid 2. Bogor. Erlangga. Sastrohamidjojo, H. 1994. Spektroskopi Resonansi Magnetik Inti. Liberty. Yogyakarta. Yahya, M.U. 2001. Ikatan Kimia. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.