Stabilitas Lereng (slope stability)
Longsor
• Longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng
berupa batuan, tanah, atau material campuran tersebut,
bergerak kebawah atau keluar lereng.
• Proses terjadinya longsor diawali oleh air yang meresap
ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air
tersebut menembus sampai ke tanah kedap air yang
berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi
licin dan tanah pelapukan diatasnya akan bergerak
mengikuti lereng dan keluar lereng.
Bentuk kelongsoran
Ada beberapa jenis bentuk kelongsoran, yaitu:
1. translasi, 5. rayapan tanah
2. rotasi, 6. aliran
3. pergerakan blok, 7. jungkiran
4. jatuhan, 8. nendatan
Di Indonesia jenis longsor yang paling sering
terjadi adalah longsor translasi dan longsor rotasi.
Tipe Kelongsoran
1. Translasi:
Longsor ini terjadi karena bergeraknya massa tanah dan batuan
pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.
Lereng Asli
Massa tanah
yang bergerak
2. Rotasi:
Longsoran ini muncul akibat bergeraknya massa
tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk
cekung.
Lereng Asli
Massa tanah
yang bergerak
3. Pergerakan Blok:
Pergerakan blok terjadi karena perpindahan batuan yang
bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata. Longsor jenis
ini disebut juga longsor translasi blok batu.
Posisi awal
Blok yang bergerak
4. Jatuhan
Runtuhan batu terjadi saat sejumlah besar batuan atau material
lain bergerak kebawah dengan cara jatuh bebas. Biasanya, longsor
ini terjadi pada lereng yang terjal sampai menggantung, terutama
di daerah pantai.
Posisi awal
Jatuhan batu
5. Rayapan Tanah:
Longsor ini bergerak lambat serta serta jenis tanahnya berupa butiran kasar
dan halus. Longsor ini hampir tidak dapat dikenal. Setelah beberapa lama
terjadi longsor jenis rayapan, posisi tiang-tiang telepon, pohon-pohon, dan
rumah akan miring kebawah.
Sebagian
jalan tertutup
material
longsoran
Lapisan
batuan
dasar
dibawah
tanah
6. Aliran
Longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air
dan terjadi di sepanjang lembah yang mencapai ratusan meter
jauhnya. Kecepatan bergantung pada kemiringan lereng, volume
air, tekanan air dan jenis materialnya.
Material longsoran berasal
dari lereng bagian atas,
melanda alur dan meluas
pada daerah landai
7. Kelongsoran jungkiran
8. Kelongsoran Nendatan
Faktor-faktor
yang menyebabkan longsor
gaya pendorong pada lereng > gaya penahan
Gaya pendorong dipengaruhi oleh:
- sudut kemiringan lereng,
- air,
- beban,
- berat jenis tanah atau batuan.
Gaya penahan dipengaruhi oleh:
- kekuatan batuan dan kepadatan tanah.
Faktor alam
• Kondisi geologi : batuan lapuk, kemiringan lapisan,
sisipan lapisan batu lempung, struktur sesar dan
kekar, gempa bumi, stratigrafi, dan gunung berapi.
• Iklim : curah hujan yang tinggi.
• Keadaan topografi : lereng yang curam.
• Keadaan air : kondisi drainase yang tersumbat,
akumulasi massa air, erosi dalam, pelarutan dan
tekanan hidrostatika.
• Getaran yang diakibatkan oleh gempa bumi,
ledakan, getaran mesin, dan getaran lalu lintas
kendaraan.
Faktor manusia
• Pemotongan tebing pada penambangan batu di lereng yang
terjal.
• Penimbunan tanah urugan di daerah lereng.
• Kegagalan struktur dinding penahan tanah.
• Penggundulan hutan.
• Budidaya kolam ikan diatas lereng.
• Sistem pertanian yang tidak memperhatikan irigasi yang aman.
• Pengembangan wilayah yang tidak di imbangi dengan
kesadaran masyarakat menjaga lingkungan
• Sistem drainase daerah lereng yang tidak baik.
Tujuan Analisis Stabilitas Lereng
• Mengetahui stabilitas jangka pendek dan jangka panjang
• Mengetahui kemungkinan terjadinya longsor
• Mengetahui cara untuk mendesain ulang lereng yang
telah longsor
Hubungan Nilai Faktor Keamanan
Lereng dan Intensitas Longsor
Nilai F Kejadian longsor
F < 1,07 Sering terjadi longsor (lereng labil)
1,07 < F < 1.25 Pernah terjadi longsor (lereng kritis)
F > 1,25 Jarang terjadi longsor (lereng relatif stabil)
Beberapa metode utk
analisis stabilitas
lereng
METODE ANALISIS
KELONGSORAN TRANSLASI
• LERENG TAK BERHINGGA
• Tanah Kohesif
• Tanah Tak Kohesif
• LERENG BERHINGGA
• Plane Failure Surface
• Block Slides Analysis
Stabilitas Lereng Menerus (infinite slope)
Tanpa rembesan air



 2
cos..
cos
cos...
H
L
HL
bc
Na











 sin.cos..
cos
sin..
H
L
HL
bc
Ta









L
b
c
WNa
Ta
H
W = LH 
Na = LH  . cos 
Ta = LH  . sin 
Tegangan normal () akibat berat W adalah
Tegangan geser () akibat berat W adalah
Stabilitas Lereng Menerus (infinite slope)
Tanpa rembesan air




sin.cos..
tan.cos.. 2
H
Hc
SF
d


Tegangan geser () diimbangi/ ditahan oleh kuat geser tanah (f)
 = c +  tan 
f = c + L H  cos  tan 
Stabilitas lereng :
Pada kondisi kritis f = d
c + .H cos2  tan  = . H. cos . sin 
1. Untuk tanah berbutir kasar, c = 0
.H cos2  tan  = . H. cos . sin 
tan  = tan 
2. Untuk tanah berbutir halus,  = 0
c = . H. cos . sin 
Stabilitas Lereng Menerus (infinite slope)
Dengan Rembesan Air



 2
cos..
cos
cos...
H
L
HL
bc
N
sat
sata











 sin.cos..
cos
sin..
H
L
HL
bc
T
sat
sata
d 








L
b
c
WNa
Ta
H
W = LH sat
Na = LH sat . cos 
Ta = LH sat . sin 
tegangan normal () akibat berat W adalah
tegangan geser () akibat berat W adalah

H cos 
arah
rembesan air
H cos2 
Tegangan geser () diimbangi/ ditahan oleh kuat geser tanah (f)
 = c + ’ tan 
f = c + (-u) tan 
dimana
u = w H cos2 
 = sat H cos2 
f = c + (sat H cos2  - wH cos2  ) tan 
f = c + (sat - w ) H cos2  tan 
f = c + ’H cos2  tan 




sin.cos..
tan.cos.'. 2
H
Hc
SF
satd
f 

Pada kondisi kritis (seimbang), f = d
c +  ’ .H cos2  tan  = sat. H. cos . sin 



 tan
'
'
tan
w

1. Untuk tanah berbutir kasar, c = 0
 ‘ .H cos2  tan  =  sat. H. cos . sin 
Kemiringan lereng maksimum adalah
2. Untuk tanah berbutir halus,  = 0
c =  sat. H. cos . sin 
KELONGSORAN TRANSLASI
LERENG BERHINGGA
Stabilitas Lereng Tinggi Terbatas (finite slope)
dengan Bidang Longsor Lurus
.ABCW 
 

sin.sin
)sin(2
.5,0 -
 HW
H
A
B C
Ta
Na
W
 












 -






 -


sin
)sin(
5,0
sin.
sin.sin
)sin(
5,0
sin
2
2
HT
HT
WT
a
a
a




cos.
sin.sin
)sin(
5,0
cos
2





 -


HN
WN
a
a
Gaya pendorong (Ta) Gaya normal (Na)
Berat massa ABC
Stabilitas Lereng Tinggi Terbatas (finite slope)
dengan Bidang Longsor Lurus
Tegangan normal () adalah










cos.
sin
)sin(
5,0
sin
cos.
sin.sin
)sin(
5,0 2





 -










 -


H
H
H
AC
Na










sin.
sin
)sin(
5,0
sin
sin.
sin.sin
)sin(
5,0 2





 -












 -


H
H
H
AC
T
d
d
a
d
Tegangan geser () adalah
Stabilitas Lereng Tinggi Terbatas (finite slope)
dengan Bidang Longsor Lurus
Tegangan geser akan ditahan (diimbangi) oleh kuat geser tanah





tan.cos.
sin
)sin(
5,0
tan





 -


Hc
c
f
f
d
f
SF



Stabilitas lereng ditentukan dari perbandingan kuat geser tanah (f )
dengan tegangangeser tanah ()
SF (safety factor) adalah faktor keamanan. Lereng akan stabil bila SF
bernilai 1 atau lebih
Pada kondisi kritis SF = 1, atau f = , maka






sin.
sin
)sin(
5,0tan.cos.
sin
)sin(
5,0 




 -





 -
 HHc





 --



cos.sin
)cos(1
4
.H
c






--

)cos(1
cos.sin.4



c
H
Sehingga dengan penyederhanaan diperoleh
Tinggi maksimum lereng adalah
METODE ANALISIS
KELONGSORAN ROTASI
• CIRCULAR SURFACE ANALYSIS
• Circular Arc Method
• Friction Circle Method
• METHOD OF SLICE
• Ordinary Method Of Slices (OMS)
• Janbu’s Simplified Method
• Bishop’s Simplified Method
• Morgenstren-Price Method
• dll
KELONGSORAN ROTASI
METODE ANALISIS
KELONGSORAN ROTASI
METODE SLICE
1 2
3
4
5
6
7
Nai = Wi cos a
Tai = Wi sin a
Fri =  . b
= (c +  tan  ) b
= c.b + b  tan 
5
Fri
a
y
x
W5
b
Nai
Tai
 = Nai/b atau Nai =  . b
a  tan-1 (y/x)
= c (x/cos a) + W . cos a tan 
= c.b + Nai tan 
Analisis stabilitas lereng menggunakan
metode irisan (slice method)
a
a
sin
)tan.cos.(
.
.
.
_
_
i
i
a
ri
a
ri
W
Wbc
SF
TR
FR
TR
FR
SF
peruntuhmomen
penahanmomen
SF












METODE
PENANGGULANGAN
KELONGSORAN
TERIMA
KASIH

Stabilitas lereng

  • 1.
  • 2.
    Longsor • Longsor adalahperpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak kebawah atau keluar lereng. • Proses terjadinya longsor diawali oleh air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai ke tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan diatasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.
  • 3.
    Bentuk kelongsoran Ada beberapajenis bentuk kelongsoran, yaitu: 1. translasi, 5. rayapan tanah 2. rotasi, 6. aliran 3. pergerakan blok, 7. jungkiran 4. jatuhan, 8. nendatan Di Indonesia jenis longsor yang paling sering terjadi adalah longsor translasi dan longsor rotasi.
  • 4.
    Tipe Kelongsoran 1. Translasi: Longsorini terjadi karena bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai. Lereng Asli Massa tanah yang bergerak
  • 6.
    2. Rotasi: Longsoran inimuncul akibat bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung. Lereng Asli Massa tanah yang bergerak
  • 8.
    3. Pergerakan Blok: Pergerakanblok terjadi karena perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata. Longsor jenis ini disebut juga longsor translasi blok batu. Posisi awal Blok yang bergerak
  • 9.
    4. Jatuhan Runtuhan batuterjadi saat sejumlah besar batuan atau material lain bergerak kebawah dengan cara jatuh bebas. Biasanya, longsor ini terjadi pada lereng yang terjal sampai menggantung, terutama di daerah pantai. Posisi awal Jatuhan batu
  • 11.
    5. Rayapan Tanah: Longsorini bergerak lambat serta serta jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Longsor ini hampir tidak dapat dikenal. Setelah beberapa lama terjadi longsor jenis rayapan, posisi tiang-tiang telepon, pohon-pohon, dan rumah akan miring kebawah. Sebagian jalan tertutup material longsoran Lapisan batuan dasar dibawah tanah
  • 12.
    6. Aliran Longsor initerjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air dan terjadi di sepanjang lembah yang mencapai ratusan meter jauhnya. Kecepatan bergantung pada kemiringan lereng, volume air, tekanan air dan jenis materialnya. Material longsoran berasal dari lereng bagian atas, melanda alur dan meluas pada daerah landai
  • 14.
  • 15.
  • 16.
    Faktor-faktor yang menyebabkan longsor gayapendorong pada lereng > gaya penahan Gaya pendorong dipengaruhi oleh: - sudut kemiringan lereng, - air, - beban, - berat jenis tanah atau batuan. Gaya penahan dipengaruhi oleh: - kekuatan batuan dan kepadatan tanah.
  • 17.
    Faktor alam • Kondisigeologi : batuan lapuk, kemiringan lapisan, sisipan lapisan batu lempung, struktur sesar dan kekar, gempa bumi, stratigrafi, dan gunung berapi. • Iklim : curah hujan yang tinggi. • Keadaan topografi : lereng yang curam. • Keadaan air : kondisi drainase yang tersumbat, akumulasi massa air, erosi dalam, pelarutan dan tekanan hidrostatika. • Getaran yang diakibatkan oleh gempa bumi, ledakan, getaran mesin, dan getaran lalu lintas kendaraan.
  • 18.
    Faktor manusia • Pemotongantebing pada penambangan batu di lereng yang terjal. • Penimbunan tanah urugan di daerah lereng. • Kegagalan struktur dinding penahan tanah. • Penggundulan hutan. • Budidaya kolam ikan diatas lereng. • Sistem pertanian yang tidak memperhatikan irigasi yang aman. • Pengembangan wilayah yang tidak di imbangi dengan kesadaran masyarakat menjaga lingkungan • Sistem drainase daerah lereng yang tidak baik.
  • 19.
    Tujuan Analisis StabilitasLereng • Mengetahui stabilitas jangka pendek dan jangka panjang • Mengetahui kemungkinan terjadinya longsor • Mengetahui cara untuk mendesain ulang lereng yang telah longsor
  • 20.
    Hubungan Nilai FaktorKeamanan Lereng dan Intensitas Longsor Nilai F Kejadian longsor F < 1,07 Sering terjadi longsor (lereng labil) 1,07 < F < 1.25 Pernah terjadi longsor (lereng kritis) F > 1,25 Jarang terjadi longsor (lereng relatif stabil)
  • 21.
  • 22.
    METODE ANALISIS KELONGSORAN TRANSLASI •LERENG TAK BERHINGGA • Tanah Kohesif • Tanah Tak Kohesif • LERENG BERHINGGA • Plane Failure Surface • Block Slides Analysis
  • 23.
    Stabilitas Lereng Menerus(infinite slope) Tanpa rembesan air     2 cos.. cos cos... H L HL bc Na             sin.cos.. cos sin.. H L HL bc Ta          L b c WNa Ta H W = LH  Na = LH  . cos  Ta = LH  . sin  Tegangan normal () akibat berat W adalah Tegangan geser () akibat berat W adalah
  • 24.
    Stabilitas Lereng Menerus(infinite slope) Tanpa rembesan air     sin.cos.. tan.cos.. 2 H Hc SF d   Tegangan geser () diimbangi/ ditahan oleh kuat geser tanah (f)  = c +  tan  f = c + L H  cos  tan  Stabilitas lereng :
  • 25.
    Pada kondisi kritisf = d c + .H cos2  tan  = . H. cos . sin  1. Untuk tanah berbutir kasar, c = 0 .H cos2  tan  = . H. cos . sin  tan  = tan  2. Untuk tanah berbutir halus,  = 0 c = . H. cos . sin 
  • 26.
    Stabilitas Lereng Menerus(infinite slope) Dengan Rembesan Air     2 cos.. cos cos... H L HL bc N sat sata             sin.cos.. cos sin.. H L HL bc T sat sata d          L b c WNa Ta H W = LH sat Na = LH sat . cos  Ta = LH sat . sin  tegangan normal () akibat berat W adalah tegangan geser () akibat berat W adalah  H cos  arah rembesan air H cos2 
  • 27.
    Tegangan geser ()diimbangi/ ditahan oleh kuat geser tanah (f)  = c + ’ tan  f = c + (-u) tan  dimana u = w H cos2   = sat H cos2  f = c + (sat H cos2  - wH cos2  ) tan  f = c + (sat - w ) H cos2  tan  f = c + ’H cos2  tan      sin.cos.. tan.cos.'. 2 H Hc SF satd f  
  • 28.
    Pada kondisi kritis(seimbang), f = d c +  ’ .H cos2  tan  = sat. H. cos . sin      tan ' ' tan w  1. Untuk tanah berbutir kasar, c = 0  ‘ .H cos2  tan  =  sat. H. cos . sin  Kemiringan lereng maksimum adalah 2. Untuk tanah berbutir halus,  = 0 c =  sat. H. cos . sin 
  • 29.
  • 30.
    Stabilitas Lereng TinggiTerbatas (finite slope) dengan Bidang Longsor Lurus .ABCW     sin.sin )sin(2 .5,0 -  HW H A B C Ta Na W                -        -   sin )sin( 5,0 sin. sin.sin )sin( 5,0 sin 2 2 HT HT WT a a a     cos. sin.sin )sin( 5,0 cos 2       -   HN WN a a Gaya pendorong (Ta) Gaya normal (Na) Berat massa ABC
  • 31.
    Stabilitas Lereng TinggiTerbatas (finite slope) dengan Bidang Longsor Lurus Tegangan normal () adalah           cos. sin )sin( 5,0 sin cos. sin.sin )sin( 5,0 2       -            -   H H H AC Na           sin. sin )sin( 5,0 sin sin. sin.sin )sin( 5,0 2       -              -   H H H AC T d d a d Tegangan geser () adalah
  • 32.
    Stabilitas Lereng TinggiTerbatas (finite slope) dengan Bidang Longsor Lurus Tegangan geser akan ditahan (diimbangi) oleh kuat geser tanah      tan.cos. sin )sin( 5,0 tan       -   Hc c f f d f SF    Stabilitas lereng ditentukan dari perbandingan kuat geser tanah (f ) dengan tegangangeser tanah () SF (safety factor) adalah faktor keamanan. Lereng akan stabil bila SF bernilai 1 atau lebih
  • 33.
    Pada kondisi kritisSF = 1, atau f = , maka       sin. sin )sin( 5,0tan.cos. sin )sin( 5,0       -       -  HHc       --    cos.sin )cos(1 4 .H c       --  )cos(1 cos.sin.4    c H Sehingga dengan penyederhanaan diperoleh Tinggi maksimum lereng adalah
  • 34.
    METODE ANALISIS KELONGSORAN ROTASI •CIRCULAR SURFACE ANALYSIS • Circular Arc Method • Friction Circle Method • METHOD OF SLICE • Ordinary Method Of Slices (OMS) • Janbu’s Simplified Method • Bishop’s Simplified Method • Morgenstren-Price Method • dll
  • 35.
  • 40.
  • 42.
    1 2 3 4 5 6 7 Nai =Wi cos a Tai = Wi sin a Fri =  . b = (c +  tan  ) b = c.b + b  tan  5 Fri a y x W5 b Nai Tai  = Nai/b atau Nai =  . b a  tan-1 (y/x) = c (x/cos a) + W . cos a tan  = c.b + Nai tan 
  • 43.
    Analisis stabilitas lerengmenggunakan metode irisan (slice method) a a sin )tan.cos.( . . . _ _ i i a ri a ri W Wbc SF TR FR TR FR SF peruntuhmomen penahanmomen SF            
  • 47.
  • 52.