BAB I 
PENDAHULUAN 
1.1. Latar belakang 
Penelitian adalah suatu cara ilmiah untuk memecahkan suatu 
masalah danuntuk menembus batas-batas ketidaktahuan manusia. Kegiatan 
penelitian dengan mengumpulkan dan memproses fakta-fakta yang ada 
sehingga fakta tersebut dapat dikomunikasikan oleh peneliti dan hasil-hasilnya 
dapat dinikmati serta digunakan untuk kepentingan manusia. 
Tujuan pengukuran adalah agar peneliti dapat memperoleh 
keterangantentang tingkah laku individu atau sekelompok responden 
tertentu. Alat ukur tersebut harus valid dan reliable. Valid adalah suatu 
ukuran yang menunjukkan tingkat keandalan atau kesahihan suatualat 
ukur. Reliabel adalah keajegan (konsistensi) alat pengumpul data 
penelitian. 
Instrumen memegang peranan yang sangat penting dalam 
menentukan mutu suatu penelitian, karena validitas atau kesahihan data 
yang diperoleh akan sangat ditentukan oleh kualitas atau validitas 
instrumen yang digunakan, di samping prosedur pengumpulan data yang 
ditempuh. Hal ini mudah dipahami karena instrumen berfungsi 
mengungkapkan fakta menjadi data, sehingga jika instrumen yang 
digunakan mempunyai kualitas yang memadai dalam arti valid dan 
reliabel maka data yang diperoleh akan sesuai dengan fakta atau keadaan 
sesungguhnya di lapangan. Sedangkan jika kualitas instrumen yang 
digunakan tidak baik dalam arti mempunyai validitas dan reliabilitas yang 
rendah, maka data yang diperoleh juga tidak valid atau tidak sesuai dengan 
fakta di lapangan, sehingga dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru. 
Dengan penyimpulan masalah tersebut, maka kita perlu mengetahui 
tentang macam-macam pengukuran serta cara menyusun instrumen yang 
merupakan unsur penting dalam metode penelitian agar penelitian tersebut 
mempunyai dasar yang baik. 
1
1.2. Rumusan masalah 
1. Apakah yang dimaksud dengan pengukuran? 
2. Apa saja skala sikap yang dapat digunakan untuk penelitian administrasi, 
pendidikan dan sosial? 
3. Apa saja jenis-jenis skala pengukuran? 
4. Apakah yang dimaksud dengan instrumen penelitian? 
5. Bagaimana cara membuat instrumen penelitian? 
1.3. Tujuan 
1. Untuk mengetahui definisi pengukuran. 
2. Untuk mengetahui skala sikap yang digunakan untuk penelitian 
administrasi, pendidikan dan sosial. 
3. Untuk mengetahui jenis-jenis pengukuran. 
4. Untuk mengetahui definisi instrumen. 
5. Untuk mengetahui cara membuat instrumen. 
2
BAB II 
PEMBAHASAN 
2.1. Pengertian Pengukuran 
Definisi pengukuran menurut beberapa ahli: 
· Menurut Budi Hatoro pengukuran atau measurement merupakan suatu 
proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat 
numerik. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif, bahkan merupakan 
instrumen untuk melakukan penilaian. 
· Menurut Akmad Sudrajat pengukuran (measurement) adalah proses 
pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu 
tingkatan di mana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik 
tertentu. 
· Menurut Lien pengukuran adalah sejumlah data yang dikumpul 
dengan menggunakan alat ukur yang objektif untuk keperluan analisis 
dan interpretasi. 
· Menurut Suharsimi Arikunto pengukuran adalah membandingkan 
sesuatu dengan suatu ukuran. 
· Menurut Pflanzagl’s pengukuran adalah proses menyebutkan dengan 
pasti angka-angka tertentu untuk mendiskripsikan suatu atribut empiri 
dari suatu produk atau kejadian dengan ketentuan tertentu. 
Jadi, skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai 
acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat 
3
ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan 
menghasilkan data kuantitatif. 
2.2. Macam-macam Skala Pengukuran 
1. Skala Nominal 
Skala nominal dapat dinyatakan sebagai ukuran yang tidak sebenarnya. 
Skor untuk setiap satuan pengamatan, atau individu hanya merupakan 
tanda atau simbol yang menunjukkan ke dalam kelompok atau kelas mana 
individu tersebut termasuk. Misalnya, jenis kelamin dengan skor yang 
mungkin “1″ untuk lelaki dan “0″ untuk perempuan. Skor 1 dan 0 yang 
diberikan itu hanya untuk membedakan antara kelompok yang satu dengan 
yang lainnya. Urutan, selisih, jumlah, dan operasi hitung lainnya terhadap 
data skala nominal tidak mempunyai arti sehingga tidak bisa dilakukan. 
Kita tidak bisa mengatakan bahwa 1 lebih besar daripada 0 untuk data 
jenis kelamin tersebut. Dengan skala nominal, kita dapat mengelompokkan 
responden atau objek lain ke dalam dua kategori atau lebih menurut 
peubah yang diperhatikan. 
Merupakan skala yang paling lemah/rendah di antara keempat skala 
pengukuran. Sesuai dengan nama atau sebutannya, skala nominal hanya 
bisa membedakan benda atau peristiwa yang satu dengan yang lainnya 
berdasarkan nama (predikat). Skala nominal biasanya juga digunakan bila 
peneliti berminat terhadap jumlah benda atau peristiwa yang termasuk ke 
dalam masing-masing kategori nominal. Data semacam ini sering disebut 
data hitung (count data) atau data frekuensi. Contoh lainnya yaitu misalnya 
jawaban dikotomi (ya, tidak); warna lampu lalu lintas (merah, kuning, 
hijau); nomor urut parpol Pemilu 2004 (1, 2, ..., 44); dan lain-lain. 
2. Skala Ordinal 
Skala ordinal menunjukkan urutan (peringkat, tingkatan, atau ranking) di 
samping berfungsi sebagai pengelompokan (skala nominal). Misalnya, 
4
peubah tingkatan dalam suatu rumah susun dengan angka 1, 2, 3, ….; 
peubah pendidikan dengan kategori “1″ di bawah SD, “2″ yang tamat SD, 
“3″ yang tamat SLTP, dan “4″ yang tamat SLTA atau di atasnya. Pada 
skala ordinal, selisih antara dua ukuran, serta operasi hitung lainnya tidak 
dapat dilakukan karena tidak mempunyai arti, kecuali urutannya yang 
mempunyai makna. Kita tidak bisa mengatakan bahwa jarak antara 2 dan 3 
sama dengan jarak antara 3 dan 4, karena perbedaan antara tamatan SD 
dan tamatan SLTP tidak sama dengan perbedaan antara tamatan SLTP dan 
tamatan SLTA ke atas. Skala ordinal ini memungkinkan peneliti untuk 
mengurutkan respondennya dari tingkatan paling rendah ke tingkatan 
paling tinggi atau sebaliknya menurut suatu atribut tertentu. Misalnya, 
ukuran untuk kelas ekonomi biasanya dipakai ukuran ordinal, yakni kelas 
ekonomi tingkat atas (skor 3), kelas ekonomi tingkat menengah (skor 2), 
dan kdas ekonomi tingkat bawah (skor 1). Ukuran ini tidak menunjukkan 
angka rerata kelas ekonomi, dan tidak memberikan informasi mengenai 
besar interval atau jarak antara kelas ekonomi rendah dan kelas ekonomi 
atas. Karena itu, perhitungan statistik yang didasarkan atas perhitungan 
rerata dan simpangan baku tidak dapat diterapkan pada data ukuran 
ordinal. Demikian pula, kita tidak dapat mengatakan bahwa kelas ekonomi 
atas (skor 3) tiga kali lebih kaya daripada kelas ekonomi bawah (skor 1), 
demikian hula tidak dapat dikatakan bahwa kelas ekonomi menengah (skor 
2) dua kali lebih kaya daripada kelas ekonomi bawah. Namun, skala 
ordinal sudah beranjak meninggalkan kelas data kualitatif dan mulai 
masuk ke kelas data kuantitaif. 
3. Skala Interval 
Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala 
nominal dan ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa 
adanya interval yang tetap. Dengan demikian, skala interval sudah 
memiliki nilai intrinsik, sudah memiliki jarak, tetapi jarak tersebut belum 
merupakan kelipatan. 
5
Pengertian “jarak belum merupakan kelipatan” ini kadang-kadang 
diartikan bahwa skala interval tidak memiliki nilai nol mutlak. Misalnya 
pada pengukuran suhu. Kalau ada tiga daerah dengan suhu daerah A = 
10oC, daerah B = 15 oC dan daerah C=20oC. Kita bisa mengatakan bahwa 
selisih suhu daerah B, 5oC lebih panas dibandingkan daerah A, dan selisih 
suhu daerah C dengan daerah B adalah 5oC (Ini menunjukkan pengukuran 
interval sudah memiliki jarak yang tetap). Tetapi, kita tidak bisa 
mengatakan bahwa suhu daerah C dua kali lebih panas dibandingkan 
daerah A (artinya tidak bisa jadi kelipatan). Kenapa? Karena dengan 
pengukuran yang lain, misalnya dengan Fahrenheit, di daerah A suhunya 
adalah 50oF, di daerah B = 59oF dan daerah C=68oF. Artinya, dengan 
pengukuran Fahrenheit, daerah C tidak dua kali lebih panas dibandingkan 
daerah A, dan ini terjadi karena dalam derajat Fahrenheit titik nolnya pada 
32, sedangkan dalam derajat Celcius titik nolnya pada 0. Skala interval ini 
sudah benar-benar angka dan, kita sudah dapat menerapkan semua operasi 
matematika serta peralatan statistik kecuali yang berdasarkan pada rasio 
seperti koefisien variasi. 
4. Skala Rasio 
Skala rasio adalah skala data dengan kualitas paling tinggi. Pada skala 
rasio, terdapat semua karakteristik skala nominal,ordinal dan skala interval 
ditambah dengan sifat adanya nilai nol yang bersifat mutlak. Nilai nol 
mutlak ini artinya adalah nilai dasar yang tidak bisa diubah meskipun 
menggunakan skala yang lain. Oleh karenanya, pada skala ratio, 
pengukuran sudah mempunyai nilai perbandingan/rasio. 
Pengukuran-pengukuran dalam skala rasio yang sering digunakan adalah 
pengukuran tinggi dan berat. Misalnya berat benda A adalah 30 kg, 
sedangkan benda B adalah 60 kg. Maka dapat dikatakan bahwa benda B 
dua kali lebih berat dibandingkan benda A. 
Skala rasio sedikit berbeda dengan skala interval, yakni skala rasio 
mempunyai titik nol mutlak. Sebagai contoh, peubah umur dalam bulan, 
6
tinggi badan dalam meter, luas wilayah dalam kilometer persegi, dan 
penghasilan dalam rupiah. Jika Ali mempunyai uang Rp 300,00, dan Bakri 
mempunyai uang Rp 100,00, maka uang Ali sama dengan tiga kali uang 
Bakri. Kayu yang panjangnya 10 meter adalah dua kali lebih panjang 
daripada kayu yang panjangnya 5 meter. 
2.3. Macam-macam skala sikap yang digunakan untuk berbagai penelitian. 
Berbagai skala sikap yang dapat digunakan untuk penelitian 
administrasi, pendidikan dan sosial antara lain adalah: 
a. Skala Likert 
Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan 
persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. 
Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh 
peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian. 
Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan 
menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai 
titik tolak untuk menyusun item-item instrument yang dapat berupa 
pernyataan atau pertanyaan. 
Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala likert 
mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat 
berupa kata- kata antara lain: 
a. Sangat setuju a. Selalu 
b. Setuju b. Sering 
c. Ragu-ragu c. Kadang-kadang 
d. Tidak setuju d. Tidak pernah 
e. Sangat tidak setuju 
7
a. Sangat positif a. Sangat baik 
b. Positif b. Baik 
c. Negative c. Tidak baik 
d. Sangat negative d. Sangat tidak baik 
Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor, 
misalnya: 
1. Setuju/selalu/sangat positif diberi skor 5. 
2. Setuju/sering/positif diberi skor 4. 
3. Ragu-ragu/kadang-kadang/netral diberi skor 3. 
4. Tidak setuju/hamper tidak pernah/negative diberi skor 2. 
5. Sangat tidak setuju/tidak pernah/diberi skor 1. 
Instrumen penelitian yang menggunakan skala Likert dapat dibuat 
dalam bentuk checklist ataupun pilihan ganda. 
a. Contoh bentuk checklist: 
Berilah jawaban pertanyaan berikut sesuai dengan pendapat anda, 
dengan cara memberi (Ö) tanda pada kolom yang tersedia. 
No Pertanyaan 
Jawaban 
SS ST RG TS ST 
S 
1 Sekolah ini akan menggunakan 
teknologi informasi dalam 
pelayanan administrasi dan 
akademik. 
Ö 
8
SS = Sangat Setuju diberi skor 5 
ST = Setuju diberi skor 4 
RG = Ragu-ragu diberi skor 3 
TS = Tidak Setuju diberi skor 2 
STS = Sangat Tidak Setuju diberi skor 1 
Kemudian dengan teknik pengumpulan data angket, maka insrumen 
tersebut misalnya diberikan kepada 100 orang karyawan yang diambil 
secara random. Dari 100 orang pegawai setelah dilakukan analisis, 
misalnya : 
25 Orang menjawab SS 
40 Orang menjawab ST 
5 Orang menjawab RG 
20 Orang menjawab TS 
10 Orang menjawab STS 
Berdasarkan data tersebut 65 orang (40+25) atau 65% stakeholder 
menjawab setuju dan sangat setuju. Jadi kesimpulannya mayoritas 
stakeholder setuju dengan sekolah yang akan menggunakan teknologi 
informasi dalam pelayanan administrasi dan akademik. 
b. Contoh bentuk pilihan ganda 
Berilah salah satu jawaban terhadap pertanyaan berikut sesuai 
dengan pendapat anda, dengan cara memberi tanda lingkaran pada nomor 
jawaban yang tersedia. 
Kurikulum baru itu akan segera ditetapkan di lembaga pendidikan anda? 
a. Sangat tidak setuju 
9
b. Tidak setuju 
c. Ragu-ragu/netral 
d. Setuju 
e. Sangat setuju 
Dengan bentuk pilihan ganda itu, maka jawaban dapat diletakkan 
pada tempat yang berbeda-beda. Untuk jawaban diatas “sangat tidak 
setuju” diletakkan pada jawaban nomor pertama. Untuk item selanjutnya 
jawaban “sangat tidak setuju” dapat diletakkan pada jawaban nomor 
terakhir. 
Dalam penyusunan instrumen untuk variabel tertentu sebaiknya 
butir-butir pertanyaan dibuat dalam bentuk kalimat positif, netral atau 
negative, sehingga responden dapat menjawab dengan serius dan 
konsisten. Contoh: 
1. Saya setuju dengan Ujian Nasional untuk mengukur kompetensi 
lulusan sekolah di Indonesia (positif). 
2. Ujian Nasional telah banyak diterapkan di negara-negara maju 
(netral). 
3. Saya tidak setuju dengan Ujian Nasional untuk mengukur 
kompetensi lulusan sekolah di Indonesia (negative). 
Dengan cara demikian maka kecenderungan responden untuk 
menjawab pada kolom tertentu dari bentuk checklist dapat dikurangi. 
Dengan model ini juga responden akan selalu membaca pertanyaan setiap 
item instrument dan juga jawabannya. Pada bentuk checklist, sering 
jawaban tidak dibaca, karena letak jawaban sudah menentu. Tetapi dengan 
bentuk checklist, maka akan didapat keuntungan dalam hal ini singkat 
dalam pembuatannya, hemat kertas, mudah mentabulasikan data, dan 
10
secara visual lebih menarik. Data yang diperoleh dari skala tersebut adalah 
berupa data interval. 
b. Skala Guttman 
Skala pengukuran dengan tipe ini, akan didapat jawaban yang 
tegas, yaitu “ya-tidak”; “benar-salah”; “pernah-tidak pernah”; “positif-negatif” 
dan lain-lain. Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau 
rasio dikhotomi (dua alternative). Jadi kalau pada skala Likert terdapat 3, 
4, 5, 6, 7, interval, dari kata “sangat setuju” sampai “sangat tidak setuju”, 
maka dalam skala Guttman hanya ada dua interval yaitu “setuju” atau 
“tidak setuju”. Penelitian menggunakan skala Guttman dilakukan bila 
ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang 
ditanyakan. Contoh: 
1. Bagaimana pendapat anda, bila orang itu menjabat Kepala Sekolah 
disini ? 
a. Setuju. b. Tidak setuju. 
2. Pernahkah Pemilik Sekolah melakukan pemeriksaan di ruang kelas 
anda ? 
a. Tidak pernah b. Pernah. 
Skala Guttman selain dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda, 
juga dapat dibuat dalam bentuk checklist. Jawaban dapat dibuat skor 
tertinggi 1 dan tidak setuju diberi skor 0. Analisa dilakukan seperti pada 
skala Likert. 
Pertanyaan yang berkenaan dengan fakta benda bukan termasuk 
dalam skala pengukuran interval dikotomi. Contoh: 
1. Apakah sekolah anda dekat dengan Jalan Protokol? 
a. Ya b. Tidak 
11
2. Apakah Anda punya ijazah sarjana? 
a. Tidak b. Punya 
3. Semantic Differential 
Skala pengukuran yang berbentuk semantic defferential 
dikembangkan oleh Osgood. Skala ini juga digunakan untuk mengukur 
sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda atau checklist, tetapi tersusun 
dalam satu garis kontinum yang jawaban “sangat positifnya” terletak di 
bagian kanan garis, dan jawaban “sangat negatif” terletak di bagian kiri 
garis, atau sebaliknya. Data yang diperoleh adalah data interval, dan 
biasanya skala ini digunakan untuk mengukur sikap/karakteristik tertentu 
yang dipunyai seseorang. Contoh: 
Mohon diberi nilai gaya kepemimpinan kepala sekolah 
Bersahabat 5 4 3 2 1 Tidak Bersahabat 
Tepat Janji 5 4 3 2 1 Lupa Janji 
Bersaudara 5 4 3 2 1 Memusuhi 
Memberi Pujian 5 4 3 2 1 Mendominasi 
Responden dapat memberi jawaban pada rentang jawaban yang 
positif sampai dengan negatif. Hal ini tergantung kepada persepsi 
responden terhadap kepada yang dinilai. 
Responden yang memberi penilaian dengan angka 5, berarti 
persepsi responden terhadap Kepala Sekolah itu sangat positif, sedangkan 
bila memberi jawaban pada angka 3, berarti netral, dan bila memberi 
jawaban pada angka 1, maka persepsi responden terhadap Kepala Sekolah 
sangat negatif. 
4. Rating Scale 
12
Dari ketiga skala pengukuran seperti yang telah dikemukakan, data 
yang diperoleh semuanya adalah data kualitatif yang kemudian 
dikuantitatifkan. Tetapi dengan rating scale data mentah yang diperoleh 
berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. 
Responden menjawab, senang atau tidak senang, setuju atau tidak 
setuju, pernah-tidak pernah adalah merupakan data kualitatif. Dalam skala 
model rating scale, responden tidak akan menjawab salah satu dari 
jawaban kuantitatif yang telah disediakan. Oleh karena itu, rating scale ini 
lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk 
mengukur persepsi responden terhadap fenomena lainnya, seperti skala 
untuk mengukur status sosial ekonomi, kelembagaan, pengetahuan, 
kemampuan, proses kegiatan dan lain-lain. 
Yang penting bagi penyusun instrumen dengan rating scale adalah 
harus dapat mengartikan setiap angka yang diberikan pada alternatif 
jawaban pada setiap item instrumen. Orang tertentu memilih jawaban 
angka 2, tetapi angka 2 oleh orang tertentu belum tentu sama maknanya 
dengan orang lain yang juga memilih jawaban dengan angka 2. Contoh : 
Seberapa baik ruang kelas di sekolah ini A? 
4. Bila tata ruang itu sangat baik. 
3. Bila tata ruang itu cukup baik. 
2. Bila tata ruang itu kurang baik. 
1. Bila tata ruang itu sangat tidak baik. 
2.3. Pengertian Instrumen penelitian 
Instrumen yaitu sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah 
seseorang melakukan tugas atau mencapai tujuan secara efektif atau efisien 
(Suharsimi Arikunto, 2009: 25). Instrumen disebut juga sebagai alat. 
Instrumen evaluasi juga dapat diartikan sebagai alat evaluasi. Menurut Farida 
13
Yusuf Tayibnapis (2000: 102), instrumen merupakan alat yang digunakan 
untuk merekam informasi yang dikumpulkan. 
Untuk memperjelas pengertian instrumen diberikan contoh sebagai berikut: 
Ada dua cara untuk mengupas kelapa, yang satu menggunakan pisau dan 
yang satu lagi tidak. Hasil pekerjaan mengupas kelapa dengan pisau akan 
lebih baik daripada tanpa menggunakan pisau. Dalam evaluasi, fungsi 
instrumen juga untuk memperoleh hasil yang lebih baik sesuai dengan 
kenyataan yang dievaluasi (Suharsimi Arikunto, 2009: 26). 
Suatu instrumen evaluasi dikatakan baik apabila mampu mengevaluasi 
sesuatu yang dievaluasi sesuai dengan keadaan sebenarnya (Suharsimi 
Arikunto, 2009: 26). Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh Pada prinsipnya 
meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial maupun 
alam. Meneliti dengan data yang sudah ada lebih tepat kalau dinamakan 
membuat laporan daripada melakukan penelitian. Namun demikian dalam 
skala yang paling rendah laporan juga dapat dinyatakan sebagai bentuk 
penelitian (Emory, 1985). 
Jadi instrument penelitian adalah suatu alat ukur yang digunakan 
mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik semua 
fenomena ini disebut variabel penelitian. 
2.4 Cara menyusun instrumen 
Instrumen-instrumen penelitian dalam bidang sosial umumnya dan 
khususnya dalam bidang pendidikan khususnya sudah baku sulit ditemukan. 
Untuk itu maka peneliti harus mampu membuat instrument yang akan 
digunakn untuk penelitian. 
Titik tolak dari penyusunan adalah variabel-variabel penelitian yang 
ditetapkan untuk diteliti. Dari variabel-variabel tersebut diberikan definisi 
operasionalnya, dan selanjutnya ditentukan indikator yang diukur. Dari 
14
indikator ini kemudian dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan atau 
pernyataan. Untuk memudahkan penyusunan instrument, maka perlu 
digunakan “matrik pengembangan instrument” atau “kisi-kisi instrument”. 
Sebagai contoh misalnya variabel penelitiannya”tingkat kekayaan”. Indikator 
kekayaan misalnya: rumah, kendaraan, tempat belanja, pendidikan, jenis 
makanan yang sering dimakan, jenis olahraga yang dilakukan dan sebagainya. 
Untuk indikator rumah, bentuk pertanyaannya misalnya : 1)berapa jumlah 
rumah, 2)dimana letak rumah, 3)berapa luas masing-masing rumah, 
4)bagaimana kualitas bangunan rumah dan sebagainya. 
Untuk bisa menetapkan indikator-indikator dari setiap variabel yang 
diteliti, maka diperlukan wawasan yang luas dan mendalam tentang varibel 
yang diteliti,dan teori-teori yang mendukungnya. Penggunaan teori untuk 
menyusun instrument harus secermat mungkin agar diperolah indikator 
yang valid. 
BAB III 
PENUTUP 
3.1. Kesimpulan 
Definisi skala pengukuran. Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang 
digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval 
yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam 
pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. 
15
Macam-macam skala pengukuran yaitu: 
1. Skala nominal. 
2. Skala ordinal. 
3. Skala interval. 
4. Skala Ratio. 
Macam-macam skala sikap yang digunakan dalam berbagai penelitian 
administrasi, pendidikan, sosial dan lain-lain: 
1. Skala likert. 
2. Skala Guttman. 
3. Rating Scale. 
4. Semantic Deferensial. 
Definisi instrument penelitian. Instrument penelitian adalah suatu alat ukur 
yang digunakan mengukur fenomena alam mauun sosial yang diamati. Secara 
spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian. 
Penyusunan instrumen. Titik tolak dari penyusunan adalah variabel-variabel 
penelitian yang ditetapkan untuk diteliti. Dari variabel-variabel tersebut 
diberikan definisi operasionalnya, dan selanjutnya ditentukan indikator yang 
diukur. Dari indikator ini kemudian dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan 
atau pernyataan. 
3.2. Saran 
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi 
pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan 
kelemahannya, karena terbatasnya pengetahuan atau kurangnya referensi yang 
ada hubungannya dengan judul makalah ini. Kami banyak berharap para 
pembaca memberikan kritik dan saran yang membangun kepada Kami demi 
sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan 
16
berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga 
para pembaca pada umumnya. 
17

Skala pengukuran

  • 1.
    BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Penelitian adalah suatu cara ilmiah untuk memecahkan suatu masalah danuntuk menembus batas-batas ketidaktahuan manusia. Kegiatan penelitian dengan mengumpulkan dan memproses fakta-fakta yang ada sehingga fakta tersebut dapat dikomunikasikan oleh peneliti dan hasil-hasilnya dapat dinikmati serta digunakan untuk kepentingan manusia. Tujuan pengukuran adalah agar peneliti dapat memperoleh keterangantentang tingkah laku individu atau sekelompok responden tertentu. Alat ukur tersebut harus valid dan reliable. Valid adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat keandalan atau kesahihan suatualat ukur. Reliabel adalah keajegan (konsistensi) alat pengumpul data penelitian. Instrumen memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan mutu suatu penelitian, karena validitas atau kesahihan data yang diperoleh akan sangat ditentukan oleh kualitas atau validitas instrumen yang digunakan, di samping prosedur pengumpulan data yang ditempuh. Hal ini mudah dipahami karena instrumen berfungsi mengungkapkan fakta menjadi data, sehingga jika instrumen yang digunakan mempunyai kualitas yang memadai dalam arti valid dan reliabel maka data yang diperoleh akan sesuai dengan fakta atau keadaan sesungguhnya di lapangan. Sedangkan jika kualitas instrumen yang digunakan tidak baik dalam arti mempunyai validitas dan reliabilitas yang rendah, maka data yang diperoleh juga tidak valid atau tidak sesuai dengan fakta di lapangan, sehingga dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru. Dengan penyimpulan masalah tersebut, maka kita perlu mengetahui tentang macam-macam pengukuran serta cara menyusun instrumen yang merupakan unsur penting dalam metode penelitian agar penelitian tersebut mempunyai dasar yang baik. 1
  • 2.
    1.2. Rumusan masalah 1. Apakah yang dimaksud dengan pengukuran? 2. Apa saja skala sikap yang dapat digunakan untuk penelitian administrasi, pendidikan dan sosial? 3. Apa saja jenis-jenis skala pengukuran? 4. Apakah yang dimaksud dengan instrumen penelitian? 5. Bagaimana cara membuat instrumen penelitian? 1.3. Tujuan 1. Untuk mengetahui definisi pengukuran. 2. Untuk mengetahui skala sikap yang digunakan untuk penelitian administrasi, pendidikan dan sosial. 3. Untuk mengetahui jenis-jenis pengukuran. 4. Untuk mengetahui definisi instrumen. 5. Untuk mengetahui cara membuat instrumen. 2
  • 3.
    BAB II PEMBAHASAN 2.1. Pengertian Pengukuran Definisi pengukuran menurut beberapa ahli: · Menurut Budi Hatoro pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif, bahkan merupakan instrumen untuk melakukan penilaian. · Menurut Akmad Sudrajat pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan di mana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu. · Menurut Lien pengukuran adalah sejumlah data yang dikumpul dengan menggunakan alat ukur yang objektif untuk keperluan analisis dan interpretasi. · Menurut Suharsimi Arikunto pengukuran adalah membandingkan sesuatu dengan suatu ukuran. · Menurut Pflanzagl’s pengukuran adalah proses menyebutkan dengan pasti angka-angka tertentu untuk mendiskripsikan suatu atribut empiri dari suatu produk atau kejadian dengan ketentuan tertentu. Jadi, skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat 3
  • 4.
    ukur, sehingga alatukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. 2.2. Macam-macam Skala Pengukuran 1. Skala Nominal Skala nominal dapat dinyatakan sebagai ukuran yang tidak sebenarnya. Skor untuk setiap satuan pengamatan, atau individu hanya merupakan tanda atau simbol yang menunjukkan ke dalam kelompok atau kelas mana individu tersebut termasuk. Misalnya, jenis kelamin dengan skor yang mungkin “1″ untuk lelaki dan “0″ untuk perempuan. Skor 1 dan 0 yang diberikan itu hanya untuk membedakan antara kelompok yang satu dengan yang lainnya. Urutan, selisih, jumlah, dan operasi hitung lainnya terhadap data skala nominal tidak mempunyai arti sehingga tidak bisa dilakukan. Kita tidak bisa mengatakan bahwa 1 lebih besar daripada 0 untuk data jenis kelamin tersebut. Dengan skala nominal, kita dapat mengelompokkan responden atau objek lain ke dalam dua kategori atau lebih menurut peubah yang diperhatikan. Merupakan skala yang paling lemah/rendah di antara keempat skala pengukuran. Sesuai dengan nama atau sebutannya, skala nominal hanya bisa membedakan benda atau peristiwa yang satu dengan yang lainnya berdasarkan nama (predikat). Skala nominal biasanya juga digunakan bila peneliti berminat terhadap jumlah benda atau peristiwa yang termasuk ke dalam masing-masing kategori nominal. Data semacam ini sering disebut data hitung (count data) atau data frekuensi. Contoh lainnya yaitu misalnya jawaban dikotomi (ya, tidak); warna lampu lalu lintas (merah, kuning, hijau); nomor urut parpol Pemilu 2004 (1, 2, ..., 44); dan lain-lain. 2. Skala Ordinal Skala ordinal menunjukkan urutan (peringkat, tingkatan, atau ranking) di samping berfungsi sebagai pengelompokan (skala nominal). Misalnya, 4
  • 5.
    peubah tingkatan dalamsuatu rumah susun dengan angka 1, 2, 3, ….; peubah pendidikan dengan kategori “1″ di bawah SD, “2″ yang tamat SD, “3″ yang tamat SLTP, dan “4″ yang tamat SLTA atau di atasnya. Pada skala ordinal, selisih antara dua ukuran, serta operasi hitung lainnya tidak dapat dilakukan karena tidak mempunyai arti, kecuali urutannya yang mempunyai makna. Kita tidak bisa mengatakan bahwa jarak antara 2 dan 3 sama dengan jarak antara 3 dan 4, karena perbedaan antara tamatan SD dan tamatan SLTP tidak sama dengan perbedaan antara tamatan SLTP dan tamatan SLTA ke atas. Skala ordinal ini memungkinkan peneliti untuk mengurutkan respondennya dari tingkatan paling rendah ke tingkatan paling tinggi atau sebaliknya menurut suatu atribut tertentu. Misalnya, ukuran untuk kelas ekonomi biasanya dipakai ukuran ordinal, yakni kelas ekonomi tingkat atas (skor 3), kelas ekonomi tingkat menengah (skor 2), dan kdas ekonomi tingkat bawah (skor 1). Ukuran ini tidak menunjukkan angka rerata kelas ekonomi, dan tidak memberikan informasi mengenai besar interval atau jarak antara kelas ekonomi rendah dan kelas ekonomi atas. Karena itu, perhitungan statistik yang didasarkan atas perhitungan rerata dan simpangan baku tidak dapat diterapkan pada data ukuran ordinal. Demikian pula, kita tidak dapat mengatakan bahwa kelas ekonomi atas (skor 3) tiga kali lebih kaya daripada kelas ekonomi bawah (skor 1), demikian hula tidak dapat dikatakan bahwa kelas ekonomi menengah (skor 2) dua kali lebih kaya daripada kelas ekonomi bawah. Namun, skala ordinal sudah beranjak meninggalkan kelas data kualitatif dan mulai masuk ke kelas data kuantitaif. 3. Skala Interval Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa adanya interval yang tetap. Dengan demikian, skala interval sudah memiliki nilai intrinsik, sudah memiliki jarak, tetapi jarak tersebut belum merupakan kelipatan. 5
  • 6.
    Pengertian “jarak belummerupakan kelipatan” ini kadang-kadang diartikan bahwa skala interval tidak memiliki nilai nol mutlak. Misalnya pada pengukuran suhu. Kalau ada tiga daerah dengan suhu daerah A = 10oC, daerah B = 15 oC dan daerah C=20oC. Kita bisa mengatakan bahwa selisih suhu daerah B, 5oC lebih panas dibandingkan daerah A, dan selisih suhu daerah C dengan daerah B adalah 5oC (Ini menunjukkan pengukuran interval sudah memiliki jarak yang tetap). Tetapi, kita tidak bisa mengatakan bahwa suhu daerah C dua kali lebih panas dibandingkan daerah A (artinya tidak bisa jadi kelipatan). Kenapa? Karena dengan pengukuran yang lain, misalnya dengan Fahrenheit, di daerah A suhunya adalah 50oF, di daerah B = 59oF dan daerah C=68oF. Artinya, dengan pengukuran Fahrenheit, daerah C tidak dua kali lebih panas dibandingkan daerah A, dan ini terjadi karena dalam derajat Fahrenheit titik nolnya pada 32, sedangkan dalam derajat Celcius titik nolnya pada 0. Skala interval ini sudah benar-benar angka dan, kita sudah dapat menerapkan semua operasi matematika serta peralatan statistik kecuali yang berdasarkan pada rasio seperti koefisien variasi. 4. Skala Rasio Skala rasio adalah skala data dengan kualitas paling tinggi. Pada skala rasio, terdapat semua karakteristik skala nominal,ordinal dan skala interval ditambah dengan sifat adanya nilai nol yang bersifat mutlak. Nilai nol mutlak ini artinya adalah nilai dasar yang tidak bisa diubah meskipun menggunakan skala yang lain. Oleh karenanya, pada skala ratio, pengukuran sudah mempunyai nilai perbandingan/rasio. Pengukuran-pengukuran dalam skala rasio yang sering digunakan adalah pengukuran tinggi dan berat. Misalnya berat benda A adalah 30 kg, sedangkan benda B adalah 60 kg. Maka dapat dikatakan bahwa benda B dua kali lebih berat dibandingkan benda A. Skala rasio sedikit berbeda dengan skala interval, yakni skala rasio mempunyai titik nol mutlak. Sebagai contoh, peubah umur dalam bulan, 6
  • 7.
    tinggi badan dalammeter, luas wilayah dalam kilometer persegi, dan penghasilan dalam rupiah. Jika Ali mempunyai uang Rp 300,00, dan Bakri mempunyai uang Rp 100,00, maka uang Ali sama dengan tiga kali uang Bakri. Kayu yang panjangnya 10 meter adalah dua kali lebih panjang daripada kayu yang panjangnya 5 meter. 2.3. Macam-macam skala sikap yang digunakan untuk berbagai penelitian. Berbagai skala sikap yang dapat digunakan untuk penelitian administrasi, pendidikan dan sosial antara lain adalah: a. Skala Likert Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian. Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrument yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata- kata antara lain: a. Sangat setuju a. Selalu b. Setuju b. Sering c. Ragu-ragu c. Kadang-kadang d. Tidak setuju d. Tidak pernah e. Sangat tidak setuju 7
  • 8.
    a. Sangat positifa. Sangat baik b. Positif b. Baik c. Negative c. Tidak baik d. Sangat negative d. Sangat tidak baik Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor, misalnya: 1. Setuju/selalu/sangat positif diberi skor 5. 2. Setuju/sering/positif diberi skor 4. 3. Ragu-ragu/kadang-kadang/netral diberi skor 3. 4. Tidak setuju/hamper tidak pernah/negative diberi skor 2. 5. Sangat tidak setuju/tidak pernah/diberi skor 1. Instrumen penelitian yang menggunakan skala Likert dapat dibuat dalam bentuk checklist ataupun pilihan ganda. a. Contoh bentuk checklist: Berilah jawaban pertanyaan berikut sesuai dengan pendapat anda, dengan cara memberi (Ö) tanda pada kolom yang tersedia. No Pertanyaan Jawaban SS ST RG TS ST S 1 Sekolah ini akan menggunakan teknologi informasi dalam pelayanan administrasi dan akademik. Ö 8
  • 9.
    SS = SangatSetuju diberi skor 5 ST = Setuju diberi skor 4 RG = Ragu-ragu diberi skor 3 TS = Tidak Setuju diberi skor 2 STS = Sangat Tidak Setuju diberi skor 1 Kemudian dengan teknik pengumpulan data angket, maka insrumen tersebut misalnya diberikan kepada 100 orang karyawan yang diambil secara random. Dari 100 orang pegawai setelah dilakukan analisis, misalnya : 25 Orang menjawab SS 40 Orang menjawab ST 5 Orang menjawab RG 20 Orang menjawab TS 10 Orang menjawab STS Berdasarkan data tersebut 65 orang (40+25) atau 65% stakeholder menjawab setuju dan sangat setuju. Jadi kesimpulannya mayoritas stakeholder setuju dengan sekolah yang akan menggunakan teknologi informasi dalam pelayanan administrasi dan akademik. b. Contoh bentuk pilihan ganda Berilah salah satu jawaban terhadap pertanyaan berikut sesuai dengan pendapat anda, dengan cara memberi tanda lingkaran pada nomor jawaban yang tersedia. Kurikulum baru itu akan segera ditetapkan di lembaga pendidikan anda? a. Sangat tidak setuju 9
  • 10.
    b. Tidak setuju c. Ragu-ragu/netral d. Setuju e. Sangat setuju Dengan bentuk pilihan ganda itu, maka jawaban dapat diletakkan pada tempat yang berbeda-beda. Untuk jawaban diatas “sangat tidak setuju” diletakkan pada jawaban nomor pertama. Untuk item selanjutnya jawaban “sangat tidak setuju” dapat diletakkan pada jawaban nomor terakhir. Dalam penyusunan instrumen untuk variabel tertentu sebaiknya butir-butir pertanyaan dibuat dalam bentuk kalimat positif, netral atau negative, sehingga responden dapat menjawab dengan serius dan konsisten. Contoh: 1. Saya setuju dengan Ujian Nasional untuk mengukur kompetensi lulusan sekolah di Indonesia (positif). 2. Ujian Nasional telah banyak diterapkan di negara-negara maju (netral). 3. Saya tidak setuju dengan Ujian Nasional untuk mengukur kompetensi lulusan sekolah di Indonesia (negative). Dengan cara demikian maka kecenderungan responden untuk menjawab pada kolom tertentu dari bentuk checklist dapat dikurangi. Dengan model ini juga responden akan selalu membaca pertanyaan setiap item instrument dan juga jawabannya. Pada bentuk checklist, sering jawaban tidak dibaca, karena letak jawaban sudah menentu. Tetapi dengan bentuk checklist, maka akan didapat keuntungan dalam hal ini singkat dalam pembuatannya, hemat kertas, mudah mentabulasikan data, dan 10
  • 11.
    secara visual lebihmenarik. Data yang diperoleh dari skala tersebut adalah berupa data interval. b. Skala Guttman Skala pengukuran dengan tipe ini, akan didapat jawaban yang tegas, yaitu “ya-tidak”; “benar-salah”; “pernah-tidak pernah”; “positif-negatif” dan lain-lain. Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio dikhotomi (dua alternative). Jadi kalau pada skala Likert terdapat 3, 4, 5, 6, 7, interval, dari kata “sangat setuju” sampai “sangat tidak setuju”, maka dalam skala Guttman hanya ada dua interval yaitu “setuju” atau “tidak setuju”. Penelitian menggunakan skala Guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan. Contoh: 1. Bagaimana pendapat anda, bila orang itu menjabat Kepala Sekolah disini ? a. Setuju. b. Tidak setuju. 2. Pernahkah Pemilik Sekolah melakukan pemeriksaan di ruang kelas anda ? a. Tidak pernah b. Pernah. Skala Guttman selain dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda, juga dapat dibuat dalam bentuk checklist. Jawaban dapat dibuat skor tertinggi 1 dan tidak setuju diberi skor 0. Analisa dilakukan seperti pada skala Likert. Pertanyaan yang berkenaan dengan fakta benda bukan termasuk dalam skala pengukuran interval dikotomi. Contoh: 1. Apakah sekolah anda dekat dengan Jalan Protokol? a. Ya b. Tidak 11
  • 12.
    2. Apakah Andapunya ijazah sarjana? a. Tidak b. Punya 3. Semantic Differential Skala pengukuran yang berbentuk semantic defferential dikembangkan oleh Osgood. Skala ini juga digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda atau checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban “sangat positifnya” terletak di bagian kanan garis, dan jawaban “sangat negatif” terletak di bagian kiri garis, atau sebaliknya. Data yang diperoleh adalah data interval, dan biasanya skala ini digunakan untuk mengukur sikap/karakteristik tertentu yang dipunyai seseorang. Contoh: Mohon diberi nilai gaya kepemimpinan kepala sekolah Bersahabat 5 4 3 2 1 Tidak Bersahabat Tepat Janji 5 4 3 2 1 Lupa Janji Bersaudara 5 4 3 2 1 Memusuhi Memberi Pujian 5 4 3 2 1 Mendominasi Responden dapat memberi jawaban pada rentang jawaban yang positif sampai dengan negatif. Hal ini tergantung kepada persepsi responden terhadap kepada yang dinilai. Responden yang memberi penilaian dengan angka 5, berarti persepsi responden terhadap Kepala Sekolah itu sangat positif, sedangkan bila memberi jawaban pada angka 3, berarti netral, dan bila memberi jawaban pada angka 1, maka persepsi responden terhadap Kepala Sekolah sangat negatif. 4. Rating Scale 12
  • 13.
    Dari ketiga skalapengukuran seperti yang telah dikemukakan, data yang diperoleh semuanya adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Tetapi dengan rating scale data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Responden menjawab, senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju, pernah-tidak pernah adalah merupakan data kualitatif. Dalam skala model rating scale, responden tidak akan menjawab salah satu dari jawaban kuantitatif yang telah disediakan. Oleh karena itu, rating scale ini lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lainnya, seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi, kelembagaan, pengetahuan, kemampuan, proses kegiatan dan lain-lain. Yang penting bagi penyusun instrumen dengan rating scale adalah harus dapat mengartikan setiap angka yang diberikan pada alternatif jawaban pada setiap item instrumen. Orang tertentu memilih jawaban angka 2, tetapi angka 2 oleh orang tertentu belum tentu sama maknanya dengan orang lain yang juga memilih jawaban dengan angka 2. Contoh : Seberapa baik ruang kelas di sekolah ini A? 4. Bila tata ruang itu sangat baik. 3. Bila tata ruang itu cukup baik. 2. Bila tata ruang itu kurang baik. 1. Bila tata ruang itu sangat tidak baik. 2.3. Pengertian Instrumen penelitian Instrumen yaitu sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah seseorang melakukan tugas atau mencapai tujuan secara efektif atau efisien (Suharsimi Arikunto, 2009: 25). Instrumen disebut juga sebagai alat. Instrumen evaluasi juga dapat diartikan sebagai alat evaluasi. Menurut Farida 13
  • 14.
    Yusuf Tayibnapis (2000:102), instrumen merupakan alat yang digunakan untuk merekam informasi yang dikumpulkan. Untuk memperjelas pengertian instrumen diberikan contoh sebagai berikut: Ada dua cara untuk mengupas kelapa, yang satu menggunakan pisau dan yang satu lagi tidak. Hasil pekerjaan mengupas kelapa dengan pisau akan lebih baik daripada tanpa menggunakan pisau. Dalam evaluasi, fungsi instrumen juga untuk memperoleh hasil yang lebih baik sesuai dengan kenyataan yang dievaluasi (Suharsimi Arikunto, 2009: 26). Suatu instrumen evaluasi dikatakan baik apabila mampu mengevaluasi sesuatu yang dievaluasi sesuai dengan keadaan sebenarnya (Suharsimi Arikunto, 2009: 26). Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial maupun alam. Meneliti dengan data yang sudah ada lebih tepat kalau dinamakan membuat laporan daripada melakukan penelitian. Namun demikian dalam skala yang paling rendah laporan juga dapat dinyatakan sebagai bentuk penelitian (Emory, 1985). Jadi instrument penelitian adalah suatu alat ukur yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian. 2.4 Cara menyusun instrumen Instrumen-instrumen penelitian dalam bidang sosial umumnya dan khususnya dalam bidang pendidikan khususnya sudah baku sulit ditemukan. Untuk itu maka peneliti harus mampu membuat instrument yang akan digunakn untuk penelitian. Titik tolak dari penyusunan adalah variabel-variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti. Dari variabel-variabel tersebut diberikan definisi operasionalnya, dan selanjutnya ditentukan indikator yang diukur. Dari 14
  • 15.
    indikator ini kemudiandijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan atau pernyataan. Untuk memudahkan penyusunan instrument, maka perlu digunakan “matrik pengembangan instrument” atau “kisi-kisi instrument”. Sebagai contoh misalnya variabel penelitiannya”tingkat kekayaan”. Indikator kekayaan misalnya: rumah, kendaraan, tempat belanja, pendidikan, jenis makanan yang sering dimakan, jenis olahraga yang dilakukan dan sebagainya. Untuk indikator rumah, bentuk pertanyaannya misalnya : 1)berapa jumlah rumah, 2)dimana letak rumah, 3)berapa luas masing-masing rumah, 4)bagaimana kualitas bangunan rumah dan sebagainya. Untuk bisa menetapkan indikator-indikator dari setiap variabel yang diteliti, maka diperlukan wawasan yang luas dan mendalam tentang varibel yang diteliti,dan teori-teori yang mendukungnya. Penggunaan teori untuk menyusun instrument harus secermat mungkin agar diperolah indikator yang valid. BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Definisi skala pengukuran. Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. 15
  • 16.
    Macam-macam skala pengukuranyaitu: 1. Skala nominal. 2. Skala ordinal. 3. Skala interval. 4. Skala Ratio. Macam-macam skala sikap yang digunakan dalam berbagai penelitian administrasi, pendidikan, sosial dan lain-lain: 1. Skala likert. 2. Skala Guttman. 3. Rating Scale. 4. Semantic Deferensial. Definisi instrument penelitian. Instrument penelitian adalah suatu alat ukur yang digunakan mengukur fenomena alam mauun sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian. Penyusunan instrumen. Titik tolak dari penyusunan adalah variabel-variabel penelitian yang ditetapkan untuk diteliti. Dari variabel-variabel tersebut diberikan definisi operasionalnya, dan selanjutnya ditentukan indikator yang diukur. Dari indikator ini kemudian dijabarkan menjadi butir-butir pertanyaan atau pernyataan. 3.2. Saran Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, karena terbatasnya pengetahuan atau kurangnya referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Kami banyak berharap para pembaca memberikan kritik dan saran yang membangun kepada Kami demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan 16
  • 17.
    berikutnya. Semoga makalahini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca pada umumnya. 17