SITI YULIANA 
AMRUL RIZAL
Hal apa sajakah yang diatur dalam 
PP No 46 Tahun 2013 ? 
 Ketentuan Pajak Penghasilan yang diatur dalam 
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun 2013, 
merupakan kebijakan Pemerintah yang mengatur 
mengenai Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari 
Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang 
Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.
Apakah maksud dan tujuan kebijakan Pemerintah terkait dengan 
pemberlakuan PP Nomor 46 Tahun 2013 ini ? 
Maksud : 
 untuk memberikan kemudahan dan penyederhanaan aturan 
perpajakan; 
 mengedukasi masyarakat untuk tertib administrasi; 
 mengedukasi masyarakat untuk transparansi; 
 memberikan kesempatan masyarakat untuk berkontribusi dalam 
penyelenggaraan negara. 
Tujuan: 
 kemudahan bagi masyarakat dalam melaksanakan kewajiban 
perpajakan; 
 meningkatnya pengetahuan tentang manfaat perpajakan bagi 
masyarakat; 
 terciptanya kondisi kontrol sosial dalam memenuhi kewajiban 
perpajakan.
Objek Pajak apa saja yang dikenai Pajak Penghasilan 
berdasarkan ketentuan PP Nomor 46 Tahun 2013? 
Yang dikenai Pajak Penghasilan (PPh) ini adalah Penghasilan dari 
USAHA yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dengan 
peredaran bruto (omzet) yang tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam 
1 tahun Pajak. 
Peredaran bruto (omzet) merupakan jumlah peredaran bruto 
(omzet) semua gerai/counter/outlet atau sejenisnya baik pusat 
maupun cabangnya. 
Pajak yang terutang dan harus dibayar adalah: 
1% dari jumlah peredaran bruto (omzet) 
Catatan: Usaha meliputi usaha dagang, industri, dan jasa, seperti 
misalnya toko/kios/los kelontong, pakaian, elektronik, bengkel, 
penjahit, waruing/rumah makan, salon, dan usaha lainnya.
Objek Pajak apa saja yang TIDAK dikenai Pajak 
Penghasilan sesuai ketentuan PP Nomor 46 Tahun 
2013? 
 Penghasilan dari jasa sehubungan dengan Pekerjaan Bebas, seperti 
misalnya: dokter, advokat/pengacara, akuntan, notaris, PPAT, 
arsitek, pemain musik, pembawa acara, dan sebagaimana diuraikan 
dalam penjelasan PP tersebut; 
 Penghasilan dari usaha yang dikenai PPh Final (Pasal 4 ayat (2)), 
seperti misalnya sewa kamar kos, sewa rumah, jasa konstruksi 
(perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan), PPh usaha migas, 
dan lain sebagainya yang diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah 
tersendiri. 
 Penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri. 
Catatan: Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender 
kecuali bila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama 
dengan tahun kalender.
Siapa yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan 
ketentuan PP Nomor 46 Tahun 2013? 
Orang Pribadi; 
Badan, tidak termasuk Bentuk Usaha Tetap (BUT) 
yang menerima penghasilan dari usaha 
dengan peredaran bruto (omzet) yang tidak 
melebihi Rp4,8 miliar dalam 1 (satu) Tahun Pajak.
Siapa yang TIDAK dikenai Pajak Penghasilan 
berdasarkan ketentuan PP Nomor 46 Tahun 2013? 
 Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha 
perdagangan dan/atau jasa yang menggunakan sarana 
yang dapat dibongkar pasang dan menggunakan sebagian 
atau seluruh tempat untuk kepentingan umum. misalnya: 
pedagang keliling, pedagang asongan, warung tenda di 
area kaki-lima, dan sejenisnya. 
 Badan yang belum beroperasi secara komersial atau yang 
dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah beroperasi 
secara komersial memperoleh peredaran bruto (omzet) 
melebihi Rp4,8 miliar. 
Catatan: Orang Pribadi atau Badan yang diterangkan di 
atas wajib melaksanakan ketentuan Perpajakan sesuai 
dengan UU KUP maupun UU PPh secara umum.
Termasuk jenis pajak penghasilan apakah 
ketentuan PP Nomor 46 Tahun 2013 ? 
 Pajak Penghasilan yang diatur oleh PP Nomor 46 
Tahun 2013 termasuk dalam: 
 PPh Pasal 4 ayat (2), bersifat FINAL 
 setoran bulanan dimaksud merupakan PPh Pasal 4 
ayat (2), bukan PPh Pasal 25. 
 Jika penghasilan semata-mata dikenai PPh final, tidak 
wajib PPh Pasal 25.
Bagaimana penyetoran dan pelaporan PPh 
sesuai ketentuan PP Nomor 46 Tahun 2013? 
 Penyetoran paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya dengan 
menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) dan menyampaikan Surat 
Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan paling lama tanggal 20 
bulan berikutnya setelah masa pajak berkahir. Jika SSP sudah 
validasi NTPN, Wajib Pajak dianggap telah menyampaikan SPT 
Masa PPh Pasal 4 ayat (2) sesuai tanggal validasi NTPN. Penyetoran 
dimaksud dengan mencantumkan kode pada SSP sebagai berikut: 
 Kode Akun Pajak : 411128 
 Kode Jenis Setoran : 420 
 Penghasilan yang dibayar berdasarkan PP Nomor 46 Tahun 2013 
dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh pada kelompok penghasilan 
yang dikenai pajak final dan/atau bersifat final.
Contoh soal 
A. Tahun Pajak sebelumnya kurang dari 12 (dua 
belas) bulan; 
B.Wajib Pajak baru terdaftar pada Tahun Pajak yang 
sama dengan tahun berlakunya Peraturan 
Pemerintahini pada bulan sebelum bulan 
berlakunya Peraturan Pemerintah ini; dan 
C. Wajib Pajak baru terdaftar setelah berlakunya 
Peraturan Pemerintah ini, untuk Tahun Pajak 
pertama,
PT Maju Jaya menggunakan tahun kalender sebagai 
Tahun Pajak. Terdaftar sebagai Wajib Pajak sejak bulan 
Agustus 2013. Peredaran bruto selama bulan Agustus 
2013 sampai dengan Desember 2013 adalah Rp 
150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). 
Peredaran bruto tahun 2013 disetahunkan adalah: 
Rp150.000.000,00 x 12/5 = Rp360.000.000,00 
Karena peredaran bruto disetahunkan di tahun 2013 
tidak melebihi Rp4.800.000.00,00 (empat miliar 
delapan ratus juta rupiah), maka penghasilan yang 
diperoleh di tahun 2014 dikenai pajak yang bersifat final 
sesuai ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.
PT Daya Tangkap terdaftar 3 (tiga) bulan sebelum berlakunya 
Peraturan Pemerintah ini pada Tahun Pajak yang sama 
dengan tahun berlakunya Peraturan Pemerintah ini. Jumlah 
peredaran bruto selama 3 (tiga) bulan tersebut adalah 
Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). 
Peredaran bruto selama 3 (tiga) bulan yang disetahunkan 
adalah: Rp150.000.000,00 x 12/3 = Rp600.000.000,00 Karena 
peredaran bruto disetahunkan untuk 3 (tiga) bulan tersebut 
tidak melebihi Rp4.800.000.00,00 (empat miliar delapan 
ratus juta rupiah), maka penghasilan yang diperoleh mulai 
pada bulan berlakunya Peraturan Pemerintah ini sampai 
dengan akhir tahun pajak bersangkutan, dikenai pajak yang 
bersifat final sesuai ketentuan dalam Peraturan Pemerintah 
ini.
Gatot Kaca terdaftar sebagai Wajib Pajak baru pada bulan 
November 2014. Pada bulan November 2014 tersebut, 
memperoleh peredaran bruto sebesar Rp 15.000.000,00 (lima 
belas juta rupiah). 
Penghasilan bruto bulan November 2014 disetahunkan 
adalah: 12/ 1 x Rp 15.000.000,00 = Rp 180.000.000,00 
Karena penghasilan bulan November 2014 (bulan pertama 
mulai terdaftar sebagaiWajib Pajak) yang disetahunkan tidak 
melebihi Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus 
juta rupiah), maka penghasilan yang diperoleh di tahun 2014 
dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final sesuai dengan 
Peraturan Pemerintah ini.

PP NO. 46 TAHUN 2013 TENTANG PPh ATAS PENGHASILAN DARI USAHA WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU

  • 1.
  • 2.
    Hal apa sajakahyang diatur dalam PP No 46 Tahun 2013 ?  Ketentuan Pajak Penghasilan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46 Tahun 2013, merupakan kebijakan Pemerintah yang mengatur mengenai Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.
  • 3.
    Apakah maksud dantujuan kebijakan Pemerintah terkait dengan pemberlakuan PP Nomor 46 Tahun 2013 ini ? Maksud :  untuk memberikan kemudahan dan penyederhanaan aturan perpajakan;  mengedukasi masyarakat untuk tertib administrasi;  mengedukasi masyarakat untuk transparansi;  memberikan kesempatan masyarakat untuk berkontribusi dalam penyelenggaraan negara. Tujuan:  kemudahan bagi masyarakat dalam melaksanakan kewajiban perpajakan;  meningkatnya pengetahuan tentang manfaat perpajakan bagi masyarakat;  terciptanya kondisi kontrol sosial dalam memenuhi kewajiban perpajakan.
  • 4.
    Objek Pajak apasaja yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan ketentuan PP Nomor 46 Tahun 2013? Yang dikenai Pajak Penghasilan (PPh) ini adalah Penghasilan dari USAHA yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dengan peredaran bruto (omzet) yang tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam 1 tahun Pajak. Peredaran bruto (omzet) merupakan jumlah peredaran bruto (omzet) semua gerai/counter/outlet atau sejenisnya baik pusat maupun cabangnya. Pajak yang terutang dan harus dibayar adalah: 1% dari jumlah peredaran bruto (omzet) Catatan: Usaha meliputi usaha dagang, industri, dan jasa, seperti misalnya toko/kios/los kelontong, pakaian, elektronik, bengkel, penjahit, waruing/rumah makan, salon, dan usaha lainnya.
  • 5.
    Objek Pajak apasaja yang TIDAK dikenai Pajak Penghasilan sesuai ketentuan PP Nomor 46 Tahun 2013?  Penghasilan dari jasa sehubungan dengan Pekerjaan Bebas, seperti misalnya: dokter, advokat/pengacara, akuntan, notaris, PPAT, arsitek, pemain musik, pembawa acara, dan sebagaimana diuraikan dalam penjelasan PP tersebut;  Penghasilan dari usaha yang dikenai PPh Final (Pasal 4 ayat (2)), seperti misalnya sewa kamar kos, sewa rumah, jasa konstruksi (perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan), PPh usaha migas, dan lain sebagainya yang diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah tersendiri.  Penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri. Catatan: Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender kecuali bila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender.
  • 6.
    Siapa yang dikenaiPajak Penghasilan berdasarkan ketentuan PP Nomor 46 Tahun 2013? Orang Pribadi; Badan, tidak termasuk Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang menerima penghasilan dari usaha dengan peredaran bruto (omzet) yang tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam 1 (satu) Tahun Pajak.
  • 7.
    Siapa yang TIDAKdikenai Pajak Penghasilan berdasarkan ketentuan PP Nomor 46 Tahun 2013?  Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dan/atau jasa yang menggunakan sarana yang dapat dibongkar pasang dan menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum. misalnya: pedagang keliling, pedagang asongan, warung tenda di area kaki-lima, dan sejenisnya.  Badan yang belum beroperasi secara komersial atau yang dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah beroperasi secara komersial memperoleh peredaran bruto (omzet) melebihi Rp4,8 miliar. Catatan: Orang Pribadi atau Badan yang diterangkan di atas wajib melaksanakan ketentuan Perpajakan sesuai dengan UU KUP maupun UU PPh secara umum.
  • 8.
    Termasuk jenis pajakpenghasilan apakah ketentuan PP Nomor 46 Tahun 2013 ?  Pajak Penghasilan yang diatur oleh PP Nomor 46 Tahun 2013 termasuk dalam:  PPh Pasal 4 ayat (2), bersifat FINAL  setoran bulanan dimaksud merupakan PPh Pasal 4 ayat (2), bukan PPh Pasal 25.  Jika penghasilan semata-mata dikenai PPh final, tidak wajib PPh Pasal 25.
  • 9.
    Bagaimana penyetoran danpelaporan PPh sesuai ketentuan PP Nomor 46 Tahun 2013?  Penyetoran paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) dan menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan paling lama tanggal 20 bulan berikutnya setelah masa pajak berkahir. Jika SSP sudah validasi NTPN, Wajib Pajak dianggap telah menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2) sesuai tanggal validasi NTPN. Penyetoran dimaksud dengan mencantumkan kode pada SSP sebagai berikut:  Kode Akun Pajak : 411128  Kode Jenis Setoran : 420  Penghasilan yang dibayar berdasarkan PP Nomor 46 Tahun 2013 dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh pada kelompok penghasilan yang dikenai pajak final dan/atau bersifat final.
  • 10.
    Contoh soal A.Tahun Pajak sebelumnya kurang dari 12 (dua belas) bulan; B.Wajib Pajak baru terdaftar pada Tahun Pajak yang sama dengan tahun berlakunya Peraturan Pemerintahini pada bulan sebelum bulan berlakunya Peraturan Pemerintah ini; dan C. Wajib Pajak baru terdaftar setelah berlakunya Peraturan Pemerintah ini, untuk Tahun Pajak pertama,
  • 11.
    PT Maju Jayamenggunakan tahun kalender sebagai Tahun Pajak. Terdaftar sebagai Wajib Pajak sejak bulan Agustus 2013. Peredaran bruto selama bulan Agustus 2013 sampai dengan Desember 2013 adalah Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). Peredaran bruto tahun 2013 disetahunkan adalah: Rp150.000.000,00 x 12/5 = Rp360.000.000,00 Karena peredaran bruto disetahunkan di tahun 2013 tidak melebihi Rp4.800.000.00,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah), maka penghasilan yang diperoleh di tahun 2014 dikenai pajak yang bersifat final sesuai ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.
  • 12.
    PT Daya Tangkapterdaftar 3 (tiga) bulan sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini pada Tahun Pajak yang sama dengan tahun berlakunya Peraturan Pemerintah ini. Jumlah peredaran bruto selama 3 (tiga) bulan tersebut adalah Rp150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). Peredaran bruto selama 3 (tiga) bulan yang disetahunkan adalah: Rp150.000.000,00 x 12/3 = Rp600.000.000,00 Karena peredaran bruto disetahunkan untuk 3 (tiga) bulan tersebut tidak melebihi Rp4.800.000.00,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah), maka penghasilan yang diperoleh mulai pada bulan berlakunya Peraturan Pemerintah ini sampai dengan akhir tahun pajak bersangkutan, dikenai pajak yang bersifat final sesuai ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.
  • 13.
    Gatot Kaca terdaftarsebagai Wajib Pajak baru pada bulan November 2014. Pada bulan November 2014 tersebut, memperoleh peredaran bruto sebesar Rp 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah). Penghasilan bruto bulan November 2014 disetahunkan adalah: 12/ 1 x Rp 15.000.000,00 = Rp 180.000.000,00 Karena penghasilan bulan November 2014 (bulan pertama mulai terdaftar sebagaiWajib Pajak) yang disetahunkan tidak melebihi Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah), maka penghasilan yang diperoleh di tahun 2014 dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final sesuai dengan Peraturan Pemerintah ini.