PPN & PPnBM 
KHAIRUNNISA’ 
RAHMATUL ISMI 
NAFI DARTI
ASSALAMU’ALAIKUM wr.wb
Latar Belakang 
Jenis pajak yang seringkali kita temui 
dikehidupan sehari-hari adalah PPN 
(Pajak Pertambahan Nilai) dan PPnBM 
(Pajak Penjualan atas Barang Mewah). 
Kedua jenis pajak ini sangat 
memberikan kontribusi yang sangat 
berarti bagi pembangunan negara ini, 
karena pajak tersebut yang sering atau 
acapkali kita bayarkan baik secara 
langsung maupun tidak langsung 
dikehidupan sehari-hari.
PAJAK PERTAMBAHAN NILAI 
(PPN) 
 adalah pajak atas konsumsi barang dan jasa di 
Daerah Pabean yang dikenakan secara 
bertingkat di setiap jalur produksi dan distribusi. 
 Pengenaan PPN sangat dipengaruhi oleh 
perkembangan transaksi bisnis serta pola 
konsumsi masyarakat yang merupakan objek 
dari Pajak Pertambahan Nilai. 
 Perkembangan ekonomi yang sangat dinamis 
baik di tingkat nasional, regional, maupun 
internasional terus menciptakan jenis serta pola 
transaksi bisnis yang baru.
OBJEK PPN 
 Penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah 
Pabean yang dilakukan oleh pengusaha 
 Impor Barang Kena Pajak 
 Penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah 
Pabean yang dilakukan oleh pengusaha 
 Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud 
dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean 
 Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah 
Pabean di dalam Daerah Pabean 
 Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud oleh 
Pengusaha Kena Pajak 
 Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud oleh 
Pengusaha Kena Pajak 
 Ekspor Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena 
Pajak
BUKAN OBJEK PPN 
1. Jenis Barang yang Tidak Dikenai PPN: 
 Barang hasil pertambangan atau hasil 
pengeboran yang diambil langsung dari 
sumbernya. 
 Barang kebutuhan pokok yang sangat 
dibutuhkan oleh rakyat banyak. 
 Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, 
restoran, rumah makan, warung, dan 
sejenisnya, meliputi makanan dan minuman 
baik yang dikonsumsi di tempat maupun tidak, 
termasuk makanan dan minuman yang 
diserahkan oleh usaha jasa boga atau catering. 
 Uang, emas batangan, dan surat berharga.
BUKAN OBJEK PPN 
2. Jenis Jasa yang Tidak Dikenai PPN: 
 Jasa pelayanan kesehatan medis 
 Jasa pelayanan sosial 
 Jasa pengiriman surat dengan perangko 
 Jasa keuangan 
 Jasa asuransi 
 Jasa keagamaan 
 Jasa pendidikan 
 Jasa kesenian dan hiburan 
 Jasa penyiaran yang tidak bersifat iklan
BUKAN OBJEK PPN 
 Jasa angkutan umum di darat dan di air serta 
jasa angkutan udara dalam negeri yang menjadi 
bagian yang tidak terpisahkan dari jasa 
angkutan udara luar negeri 
 Jasa tenaga kerja 
 Jasa perhotelan 
 Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam 
rangka menjalankan pemerintahan secara umum 
 Jasa penyediaan tempat parker 
 Jasa telepon umum dengan menggunakan uang 
logam 
 Jasa pengiriman uang dengan wesel pos 
 Jasa boga atau katering.
SUBJEK PPN 
 Pengusaha Kena Pajak, yaitu pengusaha 
yang melakukan penyerahan Barang Kena 
Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena 
Pajak yang dikenai pajak berdasarkan 
Undang-Undang PPN, yang dalam 
kegiatan usaha atau pekerjaannya 
menghasilkan barang, mengimpor barang, 
mengekspor barang, melakukan usaha 
perdagangan, memanfaatkan barang tidak 
berwujud dari luar Daerah Pabean, 
melakukan usaha jasa, atau
BUKAN SUBJEK PPN 
Pengusaha kecil yang 
batasannya ditetapkan oleh 
Menteri Keuangan, kecuali 
pengusaha kecil yang memilih 
untuk dikukuhkan sebagai 
Pengusaha Kena Pajak. (Pasal 1 
angka 15 UU PPN).
TARIF PPN 
 Tarif PPN adalah 10%. 
 Tarif PPN sebesar 0% diterapkan atas Ekspor 
Barang Kena Pajak Berwujud, Ekspor Barang Kena 
Pajak Tidak Berwujud, dan Ekspor Jasa Kena Pajak. 
 Tarif pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) 
dapat diubah menjadi paling rendah 5% dan paling 
tinggi 15% yang perubahan tarifnya diatur dengan 
Peraturan Pemerintah. Hal ini dapat disebabkan 
berbagai faktor, misalnya pertimbangan 
perkembangan perekonomian Indonesia, sehingga 
tarif PPN bisa diturunkan. Sebaliknya, misalnya jika 
Pemerintah membutuhkan penerimaan pajak yang 
besar, sehingga tarif PPN bisa dinaikkan.
DPP PPN 
1. Harga Jual 
Harga Jual adalah nilai berupa uang, 
termasuk semua biaya yang diminta atau 
seharusnya diminta oleh penjual karena 
penyerahan Barang Kena Pajak, tidak 
termasuk PPN yang dipungut menurut 
Undang-Undang ini dan potongan harga 
yang dicantumkan dalam Faktur Pajak.
DPP PPN 
2. Penggantian 
Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk 
semua biaya yang diminta atau seharusnya 
diminta oleh pengusaha karena penyerahan Jasa 
Kena Pajak, ekspor Jasa Kena Pajak, atau ekspor 
Barang Kena Pajak Tidak Berwujud, tetapi tidak 
termasuk PPN yang dipungut menurut Undang- 
Undang ini dan potongan harga yang dicantumkan 
dalam Faktur Pajak atau nilai berupa uang yang 
dibayar atau seharusnya dibayar oleh Penerima 
Jasa karena pemanfaatan Jasa Kena Pajak 
dan/atau oleh penerima manfaat Barang Kena 
Pajak Tidak Berwujud karena pemanfaatan Barang 
Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah
DPP PPN 
3. Nilai Impor 
Nilai Impor adalah nilai berupa uang yang menjadi 
dasar penghitungan bea masuk ditambah 
pungutan berdasarkan ketentuan dalam peraturan 
perundang-undangan yang mengatur mengenai 
kepabeanan dan cukai untuk impor Barang Kena 
Pajak. 
Nilai Impor adalah CIF (Cost, Insurance, and 
Freght) + Bea Masuk. 
4. Nilai Ekspor 
Nilai Ekspor adalah adalah nilai berupa uang, 
termasuk semua biaya yang diminta atau 
seharusnya diminta oleh eksportir.
DPP PPN 
5. Nilai Lain 
Nilai Lain yang dipakai sebagai dasar 
untuk menghitung pajak yang terutang 
diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan 
No.75/PMK.03/2010 tentang Nilai Lain 
Sebagai DPP dan Peraturan Menteri 
Keuangan No.102/PMK.11/2011 tentang 
Nilai Lain Sebagai DPP Atas Pemanfaatan 
Barang Kena Pajak Tidak Berwujud Dari 
Luar Daerah Pabean Di Dalam 
Daerah Pabean Berupa Film Cerita Impor 
Dan Penyerahan Film Cerita Impor.
KEWAJIBAN PKP 
 Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan 
sebagai Pengusaha Kena Pajak. 
 Memungut pajak yang terhutang. 
 Menyetorkan PPN yang masih harus 
dibayar dalam hal Pajak Keluaran lebih 
besar daripada Pajak Masukan yang 
dapat dikreditkan. 
 Melaporkan penghitungan pajak.
FAKTUR PAJAK 
 Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang 
dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak yang 
melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau 
penyerahan Jasa Kena Pajak. 
 Faktur pajak harus memenuhi persyaratan 
berikut: 
1.Persyaratan formal, yaitu apabila faktur pajak 
diisi secara lengkap, jelas, dan benar sesuai 
dengan persyaratan pada ayat (5) atau 
persyaratan pada ayat (6). 
2.Persyaratan Material, yaitu apabila faktur pajak 
berisi keterangan yang sebenarnya atau 
sesungguhnya.
FAKTUR PAJAK 
 Faktur Pajak harus dibuat pada: 
a)saat penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau 
penyerahan Jasa Kena Pajak. 
b)saat penerimaan pembayaran dalam hal 
penerimaan pembayaran terjadi sebelum 
penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau 
sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak. 
c)saat penerimaan pembayaran termin dalam hal 
penyerahan sebagian tahap pekerjaan. 
d)saat lain yang diatur dengan atau berdasarkan 
Peraturan Menteri Keuangan.
Fungsi Faktur Pajak 
 Sebagai bukti pungut PPN yang dibuat oleh 
PKP atau Direktorat Jendral Bea dan Cukai, 
baik karena penyerahan BKP atau JKP 
maupun Impor BKP. 
 Sebagai bukti pembayaran PPN yang telah 
dilakukan oleh pembeli BKP atau penerima 
JKP kepada PKP atau Direktorat Bea dan 
Cukai. 
 Sebagai sarana pengawasan administrasi 
terhadap kewajiban perpajakan.
MEKANISME PENGKREDITAN 
PPN 
 PPN yang terutang dihitung dengan cara 
mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam 
Pasal 7 UU PPN dengan Dasar Pengenaan Pajak. 
 Pajak Masukan dalam suatu Masa Pajak 
dikreditkan dengan Pajak Keluaran untuk Masa 
Pajak yang sama. 
 Dalam hal belum ada Pajak Keluaran dalam suatu 
Masa Pajak, maka Pajak Masukan tetap dapat 
dikreditkan. 
 Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Keluaran 
lebih besar daripada Pajak Masukan, maka 
selisihnya merupakan Pajak Pertambahan Nilai 
yang harus dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak.
MEKANISME PENGKREDITAN 
PPN 
• Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Masukan 
yang dapat dikreditkan lebih besar daripada Pajak 
Keluaran, maka selisihnya merupakan kelebihan 
pajak yang dapat dimintakan kembali atau 
dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya. 
 Apabila dalam suatu Masa Pajak, PKP selain 
melakukan penyerahan yang terutang pajak juga 
melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak, 
sepanjang bagian penyerahan yang terutang pajak 
dapat diketahui dengan pasti dari pembukuannya, 
maka jumlah Pajak Masukan yang dapat 
dikreditkan adalah Pajak Masukan yang 
berkenaan dengan penyerahan yang terutang 
pajak.
MEKANISME PENGKREDITAN 
PPN 
 Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pengusaha 
Kena Pajak selain melakukan penyerahan yang 
terutang pajak juga melakukan penyerahan yang 
tidak terutang pajak, sedangkan Pajak Masukan 
untuk penyerahan yang terutang pajak tidak dapat 
diketahui dengan pasti, maka jumlah Pajak 
Masukan yang dapat dikreditkan untuk 
penyerahan yang terutang pajak dihitung dengan 
menggunakan pedoman yang diatur dengan 
Keputusan Menteri Keuangan. 
 Besarnya Pajak Masukan yang dapat dikreditkan 
oleh Pengusaha yang dikenakan Pajak 
Penghasilan dengan menggunakan Norma
MEKANISME PENGKREDITAN 
PPN 
…..sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang 
Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan 
sebagaimana telah diubah terakhir dengan 
Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000, dapat 
dihitung dengan menggunakan pedoman 
penghitungan pengkreditan Pajak Masukan yang 
ditetapkan oleh Menteri Keuangan. 
 Pajak Masukan yang dapat dikreditkan tetapi 
belum dikreditkan dengan Pajak Keluaran pada 
Masa Pajak yang sama, dapat dikreditkan pada 
Masa Pajak berikutnya paling lambat 3 (tiga) 
bulan setelah berakhirnya Masa Pajak yang 
bersangkutan sepanjang belum dibebankan
CONTOH 
1. PKP “A” menjual tunai Barang Kena Pajak 
(BKP) dengan Harga Jual Rp 
25.000.000,00 
Pajak Pertambahan Nilai yang terutang 
= 10% x Rp25.000.000,00 
= Rp2.500.000,00 
PPN sebesar Rp2.500.000,00 tersebut 
merupakan Pajak Keluaran yang didapat 
oleh Pengusaha Kena Pajak “A”.
CONTOH 
2. PKP “B” melakukan penyerahan Jasa Kena 
(JKP) Pajak dengan memperoleh 
Penggantian sebesar Rp20.000.000,00 
PPN yang terutang yang dipungut oleh PKP 
“B” 
= 10% x Rp20.000.000,00 
= Rp 2.000.000,00 
PPN sebesar Rp2.000.000,00 tersebut 
merupakan Pajak Keluaran yang didapat 
oleh Pengusaha Kena Pajak “B”.
CONTOH 
 3. Bapak andre saputra simanjuntak mempunyai 
perusahaan yang memproduksi bahan alkohol , dia 
melakukan penjualan sebesar Rp. 120.000.000,- dengan 
PPN sebesar 15% 
 Perhitungan : 
 = Rp. 120.000.000,- x 15% 
 = Rp. 18.000.000,- 
 Jadi pajak PPN yang dipungut oleh perusahaan bapak 
andre adalah Rp. 18.000.000,-
PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG 
MEWAH (PPnBM) 
PPnBM adalah pajak yang 
dikenakan atas konsumsi BKP 
yang tergolong mewah didalam 
daerah pabean.
PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG 
MEWAH (PPnBM) 
 OBJEK PPnBM 
1. Penyerahan Barang Kena Pajak yang tergolong 
mewah yang dilakukan oleh pengusaha yang 
menghasilkan barang tersebut di dalam Daerah 
Pabean dalam kegiatan usaha atau 
pekerjaannya 
2. Impor Barang Kena Pajak yang tergolong mewah 
 DPP PPnBM 
PPnBM dikenakan hanya 1 (satu) kali pada waktu 
penyerahan Barang Kena Pajak yang tergolong 
mewah oleh pengusaha yang menghasilkan atau 
pada waktu impor Barang Kena Pajak yang 
tergolong mewah.
BKP yang tergolong mewah 
adalah : 
Barang tersebut bukan merupakan 
barang kebutuhan pokok; 
Barang tersebut dikonsumsi oleh 
masyarakat tertentu; 
Pada umumnya barang tersebut 
dikonsumsi oleh masyarakat 
berpenghasilan tinggi atau apabila 
dikonsumsi dapat merusak 
kesehatan dan moral serta 
mengganggu ketertiban masyarakat.
PENETAPAN TARIF 
 Tarif PPnBM dibedakan menjadi beberapa 
kelompok tarif yaitu tarif terendah sebesar 
10% dan tarif tertinggi sebesar 200%. 
Perbedaan tersebut didasarkan pada 
pengelompokkan BKP yang tergolong 
mewah yang atas penyerahannya 
dikenakan juga PPnBM. 
 Tarif PPnBM ditetapkan sebesar 0% atas 
ekspor BKP yang tergolong mewah, 
karena diekspor atau dikonsumsi di luar 
daerah Pabean
Saat Pembayaran/Penyetoran 
PPN/PPnBM 
 PPN dan PPnBM yang dihitung sendiri 
oleh PKP harus disetor paling lama akhir 
bulan berikutnya setelah Masa Pajak 
berakhir dan sebelum Surat 
Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan 
Nilai disampaikan. 
 PPN dan PPnBM yang tercantum dalam 
SKPKB, SKPKBT, dan STP harus 
dibayar/disetor sesuai batas waktu yang 
tercantum dalam SKPKB, SKPKBT, dan 
STP tersebut.
LANJUTAN.. 
 PPN/PPnBM atas Impor, harus dilunasi 
bersamaan dengan saat pembayaran Bea 
Masuk, dan apabila pembayaran Bea 
Masuk ditunda/ dibebaskan, harus 
dilunasi pada saat penyelesaian dokumen 
Impor. 
 PPN/PPnBM yang pemungutannya 
dilakukan oleh: 
 Bendahara Pemerintah, harus disetor paling 
lama tanggal 7 (tujuh) bulan berikutnya 
setelah Masa Pajak berakhir. 
 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang
Pengusaha Kena Pajak “D” mengimpor 
Barang Kena Pajak yang tergolong Mewah 
dengan Nilai Impor sebesar Rp. 
50.000.000,00 Barang Kena Pajak yang 
tergolong mewah tersebut selain dikenakan 
PPN juga dikenakan PPnBM misalnya dengan 
tarif 20%. Penghitungan PPN dan PPnBM 
yang terutang atas 
impor Barang Kena Pajak yang tergolong 
mewah tersebut adalah: 
a. Dasar Pengenaan Pajak Rp. 50.000.000,00 
b. PPN = 10% xRp. 50.000.000,00 = Rp. 
5.000.000,00 
c. PPn BM = 20% x Rp. 50.000.000,00 = Rp. 
10.000.000,00
Kemudian PKP “D” menggunakan BKP 
yang diimpor tersebut sebagai bagian dari 
suatu BKP yang atas penyerahannya 
dikenakan PPN 10% dan PPnBM dengan 
tarif misalnya 35%. Oleh karena PPnBM 
yang telah dibayar atas BKP yang diimpor 
tersebut tidak dapat dikreditkan, maka 
PPnBM sebesar Rp. 10.000.000,00 dapat 
ditambahkan ke dalam harga BKP yang 
dihasilkan oleh PKP “D” atau dibebankan 
sebagai biaya.
Misalnya PKP “D” menjual BKP yang 
dihasilkannya kepada PKP “X” dengan harga 
jual Rp. 150.000.000,00 maka penghitungan 
PPN dan PPn BM yang terutang adalah : 
a. Dasar Pengenaan Pajak Rp. 150.000.000,00 
b. PPN = 10% x Rp. 
150.000.000,00=Rp.15.000.000,00 
c. PPn BM = 35% x Rp. 150.000.000,00 = 
Rp.52.500.000,00 
PPN sebesar Rp. 5.000.000,00 yang dibayar 
pada saat impor merupakan pajak masukan 
bagi PKP “D” dan PPN sebesar Rp. 
15.000.000,00 merupakan pajak keluaran bagi 
PKP “D”. Sedangkan PPnBM sebesar Rp. 
10.000.000,00 tidak dapat dikreditkan. Begitu 
pun dengan PPnBM sebesar Rp. 52.500.000,00 
tidak dapat dikreditkan oleh PKP “X”
Kesimpulan 
Pajak Pertambahan Nilai 
(PPN) dan Pajak Penjualan 
atas Barang Mewah (PPnBM) 
merupakan pajak yang 
dikenakan atas barang 
konsumsi yang dipakai dalam 
kehidupan sehari-hari, baik 
itu oleh masyarakat kalangan 
atas maupun menengah 
kebawah.

Presentasi PPN dan PPnBM

  • 1.
    PPN & PPnBM KHAIRUNNISA’ RAHMATUL ISMI NAFI DARTI
  • 2.
  • 3.
    Latar Belakang Jenispajak yang seringkali kita temui dikehidupan sehari-hari adalah PPN (Pajak Pertambahan Nilai) dan PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah). Kedua jenis pajak ini sangat memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi pembangunan negara ini, karena pajak tersebut yang sering atau acapkali kita bayarkan baik secara langsung maupun tidak langsung dikehidupan sehari-hari.
  • 4.
    PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN)  adalah pajak atas konsumsi barang dan jasa di Daerah Pabean yang dikenakan secara bertingkat di setiap jalur produksi dan distribusi.  Pengenaan PPN sangat dipengaruhi oleh perkembangan transaksi bisnis serta pola konsumsi masyarakat yang merupakan objek dari Pajak Pertambahan Nilai.  Perkembangan ekonomi yang sangat dinamis baik di tingkat nasional, regional, maupun internasional terus menciptakan jenis serta pola transaksi bisnis yang baru.
  • 5.
    OBJEK PPN Penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha  Impor Barang Kena Pajak  Penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha  Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean  Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean  Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak  Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak  Ekspor Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak
  • 6.
    BUKAN OBJEK PPN 1. Jenis Barang yang Tidak Dikenai PPN:  Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya.  Barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak.  Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung, dan sejenisnya, meliputi makanan dan minuman baik yang dikonsumsi di tempat maupun tidak, termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha jasa boga atau catering.  Uang, emas batangan, dan surat berharga.
  • 7.
    BUKAN OBJEK PPN 2. Jenis Jasa yang Tidak Dikenai PPN:  Jasa pelayanan kesehatan medis  Jasa pelayanan sosial  Jasa pengiriman surat dengan perangko  Jasa keuangan  Jasa asuransi  Jasa keagamaan  Jasa pendidikan  Jasa kesenian dan hiburan  Jasa penyiaran yang tidak bersifat iklan
  • 8.
    BUKAN OBJEK PPN  Jasa angkutan umum di darat dan di air serta jasa angkutan udara dalam negeri yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari jasa angkutan udara luar negeri  Jasa tenaga kerja  Jasa perhotelan  Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum  Jasa penyediaan tempat parker  Jasa telepon umum dengan menggunakan uang logam  Jasa pengiriman uang dengan wesel pos  Jasa boga atau katering.
  • 9.
    SUBJEK PPN Pengusaha Kena Pajak, yaitu pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang PPN, yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar Daerah Pabean, melakukan usaha jasa, atau
  • 10.
    BUKAN SUBJEK PPN Pengusaha kecil yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan, kecuali pengusaha kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. (Pasal 1 angka 15 UU PPN).
  • 11.
    TARIF PPN Tarif PPN adalah 10%.  Tarif PPN sebesar 0% diterapkan atas Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud, Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud, dan Ekspor Jasa Kena Pajak.  Tarif pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diubah menjadi paling rendah 5% dan paling tinggi 15% yang perubahan tarifnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Hal ini dapat disebabkan berbagai faktor, misalnya pertimbangan perkembangan perekonomian Indonesia, sehingga tarif PPN bisa diturunkan. Sebaliknya, misalnya jika Pemerintah membutuhkan penerimaan pajak yang besar, sehingga tarif PPN bisa dinaikkan.
  • 12.
    DPP PPN 1.Harga Jual Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak, tidak termasuk PPN yang dipungut menurut Undang-Undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak.
  • 13.
    DPP PPN 2.Penggantian Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pengusaha karena penyerahan Jasa Kena Pajak, ekspor Jasa Kena Pajak, atau ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud, tetapi tidak termasuk PPN yang dipungut menurut Undang- Undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak atau nilai berupa uang yang dibayar atau seharusnya dibayar oleh Penerima Jasa karena pemanfaatan Jasa Kena Pajak dan/atau oleh penerima manfaat Barang Kena Pajak Tidak Berwujud karena pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah
  • 14.
    DPP PPN 3.Nilai Impor Nilai Impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea masuk ditambah pungutan berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kepabeanan dan cukai untuk impor Barang Kena Pajak. Nilai Impor adalah CIF (Cost, Insurance, and Freght) + Bea Masuk. 4. Nilai Ekspor Nilai Ekspor adalah adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh eksportir.
  • 15.
    DPP PPN 5.Nilai Lain Nilai Lain yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No.75/PMK.03/2010 tentang Nilai Lain Sebagai DPP dan Peraturan Menteri Keuangan No.102/PMK.11/2011 tentang Nilai Lain Sebagai DPP Atas Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud Dari Luar Daerah Pabean Di Dalam Daerah Pabean Berupa Film Cerita Impor Dan Penyerahan Film Cerita Impor.
  • 16.
    KEWAJIBAN PKP Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.  Memungut pajak yang terhutang.  Menyetorkan PPN yang masih harus dibayar dalam hal Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan yang dapat dikreditkan.  Melaporkan penghitungan pajak.
  • 17.
    FAKTUR PAJAK Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak.  Faktur pajak harus memenuhi persyaratan berikut: 1.Persyaratan formal, yaitu apabila faktur pajak diisi secara lengkap, jelas, dan benar sesuai dengan persyaratan pada ayat (5) atau persyaratan pada ayat (6). 2.Persyaratan Material, yaitu apabila faktur pajak berisi keterangan yang sebenarnya atau sesungguhnya.
  • 18.
    FAKTUR PAJAK Faktur Pajak harus dibuat pada: a)saat penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak. b)saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak. c)saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan. d)saat lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
  • 19.
    Fungsi Faktur Pajak  Sebagai bukti pungut PPN yang dibuat oleh PKP atau Direktorat Jendral Bea dan Cukai, baik karena penyerahan BKP atau JKP maupun Impor BKP.  Sebagai bukti pembayaran PPN yang telah dilakukan oleh pembeli BKP atau penerima JKP kepada PKP atau Direktorat Bea dan Cukai.  Sebagai sarana pengawasan administrasi terhadap kewajiban perpajakan.
  • 20.
    MEKANISME PENGKREDITAN PPN  PPN yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 UU PPN dengan Dasar Pengenaan Pajak.  Pajak Masukan dalam suatu Masa Pajak dikreditkan dengan Pajak Keluaran untuk Masa Pajak yang sama.  Dalam hal belum ada Pajak Keluaran dalam suatu Masa Pajak, maka Pajak Masukan tetap dapat dikreditkan.  Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan, maka selisihnya merupakan Pajak Pertambahan Nilai yang harus dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak.
  • 21.
    MEKANISME PENGKREDITAN PPN • Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Masukan yang dapat dikreditkan lebih besar daripada Pajak Keluaran, maka selisihnya merupakan kelebihan pajak yang dapat dimintakan kembali atau dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya.  Apabila dalam suatu Masa Pajak, PKP selain melakukan penyerahan yang terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak, sepanjang bagian penyerahan yang terutang pajak dapat diketahui dengan pasti dari pembukuannya, maka jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan adalah Pajak Masukan yang berkenaan dengan penyerahan yang terutang pajak.
  • 22.
    MEKANISME PENGKREDITAN PPN  Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pengusaha Kena Pajak selain melakukan penyerahan yang terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak, sedangkan Pajak Masukan untuk penyerahan yang terutang pajak tidak dapat diketahui dengan pasti, maka jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan untuk penyerahan yang terutang pajak dihitung dengan menggunakan pedoman yang diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan.  Besarnya Pajak Masukan yang dapat dikreditkan oleh Pengusaha yang dikenakan Pajak Penghasilan dengan menggunakan Norma
  • 23.
    MEKANISME PENGKREDITAN PPN …..sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000, dapat dihitung dengan menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan Pajak Masukan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.  Pajak Masukan yang dapat dikreditkan tetapi belum dikreditkan dengan Pajak Keluaran pada Masa Pajak yang sama, dapat dikreditkan pada Masa Pajak berikutnya paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya Masa Pajak yang bersangkutan sepanjang belum dibebankan
  • 24.
    CONTOH 1. PKP“A” menjual tunai Barang Kena Pajak (BKP) dengan Harga Jual Rp 25.000.000,00 Pajak Pertambahan Nilai yang terutang = 10% x Rp25.000.000,00 = Rp2.500.000,00 PPN sebesar Rp2.500.000,00 tersebut merupakan Pajak Keluaran yang didapat oleh Pengusaha Kena Pajak “A”.
  • 25.
    CONTOH 2. PKP“B” melakukan penyerahan Jasa Kena (JKP) Pajak dengan memperoleh Penggantian sebesar Rp20.000.000,00 PPN yang terutang yang dipungut oleh PKP “B” = 10% x Rp20.000.000,00 = Rp 2.000.000,00 PPN sebesar Rp2.000.000,00 tersebut merupakan Pajak Keluaran yang didapat oleh Pengusaha Kena Pajak “B”.
  • 26.
    CONTOH  3.Bapak andre saputra simanjuntak mempunyai perusahaan yang memproduksi bahan alkohol , dia melakukan penjualan sebesar Rp. 120.000.000,- dengan PPN sebesar 15%  Perhitungan :  = Rp. 120.000.000,- x 15%  = Rp. 18.000.000,-  Jadi pajak PPN yang dipungut oleh perusahaan bapak andre adalah Rp. 18.000.000,-
  • 27.
    PAJAK PENJUALAN ATASBARANG MEWAH (PPnBM) PPnBM adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi BKP yang tergolong mewah didalam daerah pabean.
  • 28.
    PAJAK PENJUALAN ATASBARANG MEWAH (PPnBM)  OBJEK PPnBM 1. Penyerahan Barang Kena Pajak yang tergolong mewah yang dilakukan oleh pengusaha yang menghasilkan barang tersebut di dalam Daerah Pabean dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya 2. Impor Barang Kena Pajak yang tergolong mewah  DPP PPnBM PPnBM dikenakan hanya 1 (satu) kali pada waktu penyerahan Barang Kena Pajak yang tergolong mewah oleh pengusaha yang menghasilkan atau pada waktu impor Barang Kena Pajak yang tergolong mewah.
  • 29.
    BKP yang tergolongmewah adalah : Barang tersebut bukan merupakan barang kebutuhan pokok; Barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat tertentu; Pada umumnya barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi atau apabila dikonsumsi dapat merusak kesehatan dan moral serta mengganggu ketertiban masyarakat.
  • 30.
    PENETAPAN TARIF Tarif PPnBM dibedakan menjadi beberapa kelompok tarif yaitu tarif terendah sebesar 10% dan tarif tertinggi sebesar 200%. Perbedaan tersebut didasarkan pada pengelompokkan BKP yang tergolong mewah yang atas penyerahannya dikenakan juga PPnBM.  Tarif PPnBM ditetapkan sebesar 0% atas ekspor BKP yang tergolong mewah, karena diekspor atau dikonsumsi di luar daerah Pabean
  • 31.
    Saat Pembayaran/Penyetoran PPN/PPnBM  PPN dan PPnBM yang dihitung sendiri oleh PKP harus disetor paling lama akhir bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir dan sebelum Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai disampaikan.  PPN dan PPnBM yang tercantum dalam SKPKB, SKPKBT, dan STP harus dibayar/disetor sesuai batas waktu yang tercantum dalam SKPKB, SKPKBT, dan STP tersebut.
  • 32.
    LANJUTAN..  PPN/PPnBMatas Impor, harus dilunasi bersamaan dengan saat pembayaran Bea Masuk, dan apabila pembayaran Bea Masuk ditunda/ dibebaskan, harus dilunasi pada saat penyelesaian dokumen Impor.  PPN/PPnBM yang pemungutannya dilakukan oleh:  Bendahara Pemerintah, harus disetor paling lama tanggal 7 (tujuh) bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.  Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang
  • 33.
    Pengusaha Kena Pajak“D” mengimpor Barang Kena Pajak yang tergolong Mewah dengan Nilai Impor sebesar Rp. 50.000.000,00 Barang Kena Pajak yang tergolong mewah tersebut selain dikenakan PPN juga dikenakan PPnBM misalnya dengan tarif 20%. Penghitungan PPN dan PPnBM yang terutang atas impor Barang Kena Pajak yang tergolong mewah tersebut adalah: a. Dasar Pengenaan Pajak Rp. 50.000.000,00 b. PPN = 10% xRp. 50.000.000,00 = Rp. 5.000.000,00 c. PPn BM = 20% x Rp. 50.000.000,00 = Rp. 10.000.000,00
  • 34.
    Kemudian PKP “D”menggunakan BKP yang diimpor tersebut sebagai bagian dari suatu BKP yang atas penyerahannya dikenakan PPN 10% dan PPnBM dengan tarif misalnya 35%. Oleh karena PPnBM yang telah dibayar atas BKP yang diimpor tersebut tidak dapat dikreditkan, maka PPnBM sebesar Rp. 10.000.000,00 dapat ditambahkan ke dalam harga BKP yang dihasilkan oleh PKP “D” atau dibebankan sebagai biaya.
  • 35.
    Misalnya PKP “D”menjual BKP yang dihasilkannya kepada PKP “X” dengan harga jual Rp. 150.000.000,00 maka penghitungan PPN dan PPn BM yang terutang adalah : a. Dasar Pengenaan Pajak Rp. 150.000.000,00 b. PPN = 10% x Rp. 150.000.000,00=Rp.15.000.000,00 c. PPn BM = 35% x Rp. 150.000.000,00 = Rp.52.500.000,00 PPN sebesar Rp. 5.000.000,00 yang dibayar pada saat impor merupakan pajak masukan bagi PKP “D” dan PPN sebesar Rp. 15.000.000,00 merupakan pajak keluaran bagi PKP “D”. Sedangkan PPnBM sebesar Rp. 10.000.000,00 tidak dapat dikreditkan. Begitu pun dengan PPnBM sebesar Rp. 52.500.000,00 tidak dapat dikreditkan oleh PKP “X”
  • 36.
    Kesimpulan Pajak PertambahanNilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) merupakan pajak yang dikenakan atas barang konsumsi yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari, baik itu oleh masyarakat kalangan atas maupun menengah kebawah.