Perpajakan I




           PAJAK PENGHASILAN (PPh)

                          Perpajakan I
                Meiriska Febrianti, SE.,Ak.,ME.,BKP

                 Trisakti School of Management
                    Semester ganjil 2011/2012



Meiriska                     Meiriska                            6/6/2012
Dasar hukum
                                   2
UU Nomor 7 Tahun 1983
UU Nomor 7 Tahun 1991

UU Nomor 10 Tahun 1994

UU Nomor 17 Tahun 2000

UU Nomor 36 Tahun 2008



Pengertian (Pasal 1)
Pajak Penghasilan (PPh) adalah pajak yang dikenakan terhadap terhadap
subjek pajak (Orang Pribadi atau Badan) atas penghasilan yang diterima
atau diperolehnya dalam tahun pajak.




Meiriska                                                         6/6/2012
Subjek pajak (Pasal 2)
                                                  3
Subjek PPh adalah
1. Orang pribadi
   Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak
2. Badan
3. Bentuk usaha tetap (BUT).
Subjek Pajak terdiri dari Subjek Pajak Dalam Negeri dan Subjek Pajak Luar Negeri.
1. Subjek Pajak Dalam Negeri
Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari
dalam jangka waktu 12 bulan, atau yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai
niat untuk bertempat tinggal di Indonesia.
Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia,
Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak.

2. Subjek Pajak Luar Negeri
Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari
183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia.
Orang Pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari
183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia yang dapat menerima atau memperoleh panghasilan dari Indonesia bukan
dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia.



Meiriska                                                                                    6/6/2012
Perbedaan wpdn dan wpln
                                           4
                WPDN                                           WPLN

1. Dikenakan pajak atas penghasilan dari
                                               1. Dikenakan     pajak   hanya          atas
   Indonesia dan dari luar Indonesia              penghasilan   yang bersumber         dari
   (World Wide Income)                            Indonesia
                                               2. Dikenakan       pajak      berdasarkan
2. Dikenakan       pajak    berdasarkan
   penghasilan netto.                             penghasilan bruto

3. Menggunakan tarif umum pasal 17             3. Menggunakan tarif pajak berdasarkan
   UU PPh.                                       tax treaty (tarif pajak sepadan)

4. Wajib menyampaikan SPT Tahunan              4. Tidak wajib menyampaikan SPT
   sebagai sarana untuk menetapkan                Tahunan, kewajiban pajak dipenuhi
   pajak yang terutang.                           melalui pemotongan pajak yang
                                                  bersifat final.


Meiriska                                                                            6/6/2012
Kewajiban sebagai wp (pasal 2A)
                                                  5

Ada 2 kewajiban sebagai syarat seseorang berstatus sebagai Wajib Pajak :
1. Kewajiban Pajak Subjektif
Suatu kewajiban yang dimulai pada diri seseorang sejak lahir dan menetap di Indonesia atau datang ke
Indonesia untuk pertama kali dengan niat untuk bertempat tinggal.
a.   Orang pribadi
     Dimulai saat dilahirkan, berada atau berniat untuk bertempat tinggal di Indonesia
     Berakhir saat meninggal dunia atau meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya
b.   Badan
     Dimulai pada saat didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia
     Berakhir saat dibubarkan atau tidak lagi bertempat kedudukan di Indonesia
c.   Warisan
     Dimulai pada saat timbulnya warisan yang belum terbagi
     Berakhir saat warisan selesai dibagi.
d.   BUT
     Dimulai saat melakukan usaha/kegiatan melalui BUT di Indonesia
     Berakhir saat tidak lagi melakukan usaha/kegiatan melalui BUT di Indonesia
e.   Selain BUT
     Dimulai saat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia
     Berakhir saat tidak lagi menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia

2. Kewajiban Pajak Objektif
Kewajiban yang dimulai pada saat seseorang menerima atau memperoleh penghasilan lebih besar dari
PTKP.
Meiriska                                                                                     6/6/2012
Bukan subjek pajak (pasal 3)
                                      6
Kantor perwakilan negara asing
Pejabat perwakilan diplomatik, dan konsulat atau pejabat-pejabat lain  dari
negara asing dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja
pada dan bertempat tinggal bersama-sama mereka, dengan syarat bukan WNI
dan di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain di luar
jabatan atau pekerjaannya, serta negara yang bersangkutan memberikan
perlakuan timbal balik
Organisasi Internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan
dengan syarat Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut, dan tidak
menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari
Indonesia selain pemberian pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal
dari iuran para anggota
Pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Keuangan dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan
tidak menjalankan usaha atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh
penghasilan dari Indonesia.
Meiriska                                                                 6/6/2012
Objek pajak (pasal 4 ayat 1)
                                       7
Yang menjadi objek pajak adalah penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan
ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak (WP), baik yang berasal dari
Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau
untuk menambah kekayaan Wajib pajak yang bersangkutan dengan nama dan
dalam bentuk apapun :
Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima
atau diperoleh, contoh : gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus,
gratifikasi, dll.
Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan dan penghargaan
Laba usaha
Keuntungan karena penjualan atau pengalihan harta
Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya
Bunga, deviden, royalti
Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta
Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala
dll


Meiriska                                                                6/6/2012
objek pajak final (pasal 4 ayat 2)
                                 8

Bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan Surat
Utang Negara dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi
kepada anggota koperasi orang pribadi.
Hadiah undian
Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya , transaksi
derivatif yang diperdagangkan dibursa, dan transaksi penjualan
saham atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan
pasangannya yang diterima oleh perusahaan modal ventura
Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau
bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha real estate dan persewaaan
tanah/dan atau bangunan
Penghasilan tertentu lainnya yang diatur dengan Peraturan
Pemerintah.

Meiriska                                                     6/6/2012
Bukan objek pajak (pasal 4 ayat 3)
                                9
Bantuan atau sumbangan/harta hibahan
Warisan
Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan
Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa
yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau
kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah
Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi
Deviden atau bagian laba yang diterima atau diperoleh PT sebagai
WP dalam negeri, koperasi, BUMN,BUMD
Iuran yang diterima dana pensiun
Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan
komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-
saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi
Dll.

Meiriska                                                    6/6/2012
Biaya-biaya yang boleh dikurangkan (pasal 6)
                                     10
  Ayat 1
  Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi WP dalam negeri dan BUT, ditentukan
  berdasarkan penghasilan bruto dikurangi dengan biaya untuk mendapatkan,
  menagih dan memelihara penghasilan.
  Isi lihat UU 36/2008

  Ayat 2
  Apabila penghasilan bruto setelah pengurangan didapat kerugian, maka
  kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak
  berikutnya berturut-turut sampai dengan 5 tahun.

  Ayat 3
  Kepada Orang Pribadi sebagai WP dalam negeri diberikan pengurangan
  berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)



Meiriska                                                             6/6/2012
Kompensasi kerugian
                                        11

1.Istilah kerugian merujuk kepada kerugian fiskal bukan kerugian komersial.
Kerugian atau keuntungan fiskal adalah selisih antara penghasilan dan biaya-
biaya yang telah memperhitungkan ketentuan Pajak Penghasilan.
2. Kompensasi kerugian hanya diperkenankan selama lima tahun ke depan secara
berturut-turut. Apabila pada akhir tahun kelima ternyata masih ada kerugian yang
tersisa maka sisa kerugian tersebut tidak dapat lagi dikompensasikan.
3. Kompensasi kerugian hanya untuk Wajib Pajak, baik badan maupun orang
pribadi, yang melakukan kegiatan usaha yang penghasilannya tidak dikenakan
PPh Final dan perhitungan Pajak Penghasilannnya tidak menggunakan norma
penghitungan.
4. Kerugian usaha di luar negeri tidak bisa dikompensasikan dengan penghasilan
dari dalam negeri.




Meiriska                                                                  6/6/2012
CONTOH PERHITUNGAN Kompensasi kerugian
                                                 12
PT. A dalam tahun 2003 menderita kerugian fiscal sebesar Rp 1.200.000.000. dalam 5 tahun
berikutnya laba/rugi fiskal PT. A adalah sbb :
2004       : Laba fiskal          Rp 200.000.000
2005       : Rugi fiskal          Rp 300.000.000
2006       : Laba fiskal          NIHIL
2007       : Laba fiskal          Rp 100.000.000
2008       : Laba fiskal          Rp 800.000.000
Perhitungan Kompensasi Kerugian :
Rugi fiskal 2003                           =( Rp 1.200.000.000 )
Laba fiskal 2004                           = Rp 200.000.000
           Sisa rugi fiskal 2003           =( Rp 1.000.000.000 )
Rugi fiskal 2005                           =( Rp 300.000.000 )                  Jangan
           Sisa rugi fiskal 2003           =( Rp 1.000.000.000 )             dijumlahkan
Laba fiskal 2006                           = NIHIL
           Sisa rugi fiskal 2003           =( Rp 1.000.000.000 )
Laba fiskal 2007                           = Rp 100.000.000
           Sisa rugi fiskal 2003           =( Rp 900.000.000 )
Laba fiskal 2008                           = Rp 800.000.000
           Sisa rugi fiskal 2003           =( Rp 100.000.000 )
Sisa rugi fiskal tahun 2003 sebesar Rp 100.000.000 sudah tidak bisa dikompensasikan lagi ke tahun
berikutnya, karena sudah lewat dari 5 tahun.
Rugi fiskal tahun 2005 hanya bisa dikompensasikan untuk tahun 2009 dan 2010.

Meiriska                                                                                    6/6/2012
Ptkp (pasal 7)
                                            13
Ayat 1
PTKP pertahun :
Rp 15.840.000 untuk diri WP Orang Pribadi
Rp 1.320.000 untuk WP yang kawin
Rp 15.840.000 tambahan untuk istri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan
suami
Rp 1.320.000 tambahan setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis
keturunan lurus serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3
orang anak untuk setiap keluarga.
Yang boleh menjadi tanggungan adalah : orang tua, mertua, anak kandung, anak angkat, anak
tiri.
Ayat 2
PTKP ditentukan pada awal tahun pajak (per 1 Januari) bagi WP DN atau awal bagian tahun
pajak bagi WP LN.
Ayat 3
Penyesuaian besarnya PTKP ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan setelah
dikonsultasikan dengan DPR.
Dalam hal karyawati menikah, PTKP yang boleh dikurangkan hanya untuk dirinya
sendiri, status (TK/0)

Meiriska                                                                           6/6/2012
Contoh perhitungan Ptkp
                                         14
1. WP A seorang pegawai berstatus menikah dengan 2 orang anak. Pada tanggal 15
Januari 2010, istrinya melahirkan anak ketiga. Berapa PTKP B tahun 2010?
Jawab :
Status (K/2) Rp 19.800.000
Karena anak ke-3 lahir setelah tanggal 1 Januari 2010, maka tidak boleh menjadi
tanggungan tahun 2010, baru dihitung sebagai tanggungan mulai tahun 2011.
2. WP B berstatus menikah dengan 1 orang anak. WP E juga menanggung Ibu
kandung yang sudah tidak bekerja lagi, dan seorang adik yang dibiayai sekolahnya.
Berapa besarnya PTKP bagi si B?
Jawab :
Status (K/2) Rp 19.800.000
Tanggungan yang diperbolehkan adalah anak kandung dan ibu kandung, sedangkan
adik tidak boleh menjadi tanggungan.
3. WP C seorang wanita yang bekerja di perusahaan swasta. C merupakan istri dari D
yang seorang pegawai negeri. Dari perkawinan tersebut mereka dikaruniai seorang
anak dan tidak ada perjanjian pisah harta. Berapa besarnya PTKP masing-masing,
apabila mereka dipotong PPh pasal 21 oleh pemberi kerja.
Jawab :
WP C Status (TK/0) = Rp 15.840.000, wanita yang menikah tidak bisa menanggung
suami dan anak, sehingga statusnya TK/0
WP D Status (K/1) = Rp 18.480.000
Meiriska                                                                    6/6/2012
Penghasilan istri digabung dengan suami (pasal 8)
                                            15
Ayat 1
Seluruh penghasilan atau kerugian bagi wanita yang telah kawin dianggap sebagai
penghasilan atau kerugian suaminya, kecuali penghasilan tersebut diterima dari 1 pemberi
kerja dan telah dipotong PPh Pasal 21
Ayat 2
Pengasilan Suami Istri dikenai pajak secara terpisah apabila :
Suami istri telah hidup terpisah berdasarkan putusan hakim
Dikehendaki secara tertulis oleh suami istri berdasarkan perjanjian pemisahan harta dan
penghasilan
Dikehendaki oleh istri yang memilih untuk menjalankan hak dan kewajiban
perpajakannya sendiri
Ayat 3
Penghasilan netto suami istri dikenakan pajak berdasarkan penggabungan penghasilan
netto suami istri
Ayat 1
Penghasilan anak yang belum dewasa digabung dengan penghasilan orang tuanya.


Meiriska                                                                          6/6/2012
Biaya yang tidak boleh dikurangkan (pasal 9)
                                16
Ayat 1
Biaya-biaya yang tidak boleh dikurangkan
Isi Lihat UU 36/2008

Ayat 2
Pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun
tidak boleh untuk dibebankan sekaligus, melainkan dibebankan
melalui penyusutan atau amortisasi.




Meiriska                                                  6/6/2012
PENYUSUTAN (pasal 11)
                                          17
Ayat 1
Penyusutan dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang
telah ditentukan bagi aktiva tersebut (Metode Garis Lurus)

Ayat 2
Penyusutan dilakukan dalam bagian yang menurun selama masa manfaat, yang dihitung
dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku dan pada akhir masa
manfaat nilai sisa buku disusutkan sekaligus (Metode Saldo Menurun)

Ayat 3
Penyusutan dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran, kecuali untuk harta yang
masih dalam proses pengerjaan, penyusutannya dimulai pada bulan selesainya pengerjaan
harta tersebut.


Pengelompokkan Aktiva Tetap berdasarkan PMK No. 96/PMK.03/2009

Meiriska                                                                       6/6/2012
Tarif PENYUSUTAN (pasal 11 ayat 6)
                                       18
     Kelompok         Masa Manfaat          Garis Lurus     Saldo Menurun
I. Bukan Bangunan
Kelompok 1                4 tahun              25%                 50%
Kelompok 2                8 tahun              12,5%               25%
Kelompok 3                16 tahun             6,25%               12,5%
Kelompok 4               20 tahun               5%                 10%
II. Bangunan
Permanen                 20 tahun               5%
Tidak Permanen            10 tahun             10%



  Pengelompokkan Aktiva Tetap berdasarkan PMK No. 96/PMK.03/2009



Meiriska                                                                   6/6/2012
amortisasi (pasal 11a)
                                      19

Ayat 1
Amortisasi untuk harta tak berwujud dilakukan dalam bagian-bagian yang sama
besar (metode garis lurus) atau bagian-bagian yang menurun (metode saldo
menurun) selama masa manfaat.

Ayat 1a
Amortisasi dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran kecuali untuk bidang
usaha tertentu uang diatur lebih lanjut dengan PMK.

Ayat 2
Tarif Amortisasi (lihat UU 36/2008)




Meiriska                                                              6/6/2012
Norma penghitungan penghasilan netto (pasal 14)
                                    20

Ayat 1
Norma Penghitungan Penghasilan Netto (NPPN) untuk menentukan penghasilan
netto dibuat dan disempurnakan terus menerus serta diterbitkan oleh Dirjen
Pajak

Ayat 2
WP Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang
peredaran brutonya dalam 1 tahun kurang dari 4,8 milyar boleh menghitung
penghasilan netto dengan NPPN

Ayat 3
WP yang menghitung penghasilan           nettonya   dengan   NPPN   wajib
menyelenggarakan pencatatan.



Meiriska                                                             6/6/2012
Penghasilan kena pajak (pasal 16)
                                     21

  1. Bagi Wajib Pajak Dalam Negeri
  Badan : Penghasilan – biaya yang diperkenankan – kompensasi kerugian
  Orang Pribadi : Penghasilan – PTKP

  2. Bagi WP Orang Pribadi yang menggunakan norma (penghasilan < 4,8 M)
  (Penghasilan X % NPPN) – PTKP

  3. Bagi WP BUT (sama dengan WP Badan)
  Penghasilan – biaya yang diperkenankan – kompensasi kerugian

  4. Bagi WP DN Orang Pribadi yang kewajiban pajak subjektifnya kurang dari
  1 tahun yang terutang pajak dalam bagian tahun pajak.
  Penghasilan netto dalam bagian tahun pajak yang disetahunkan

  Untuk keperluan penerapan tarif pajak, jumlah PKP dibulatkan ke bawah
  dalam ribuan rupiah penuh.

Meiriska                                                              6/6/2012
Tarif pajak (pasal 17)
                                22


WP Orang Pribadi (Mulai berlaku 1 Januari 2009)
Lapisan Penghasilan                Tarif
s/d 50 juta                         5%
> 50 juta s/d 250 juta             15%
> 250 juta s/d 500 juta            25%
> 500 juta                         30%

WP Badan
Tarif tunggal 28% Tahun 2009
Tarif Tunggal 25% tahun 2010



Meiriska                                          6/6/2012
Perhitungan pajak terhutang
                                23

 Pajak terhutang = Jumlah Penghasilan Kena Pajak X Tarif Pajak

 Contoh :
 Diketahui Penghasilan Kena Pajak Rp 350.720.800
 Pembulatan ribuan ke bawah Rp 350.720.000

 5% X Rp 50.000.000                  = Rp 2.500.000
 15% X Rp 200.000.000                = Rp 30.000.000
 25% X Rp 100.720.000                = Rp 25.180.000
                                     = Rp 57.680.000



Meiriska                                                    6/6/2012
Pelunasan pajak dalam tahun berjalan (pasal 20)
                                  24

1. Pajak yang diperkirakan akan terhutang dalam suatu tahun pajak,
   dilunasi oleh Wajib Pajak dalam tahun pajak berjalan melalui
   pemotongan dan pemungutan pajak oleh pihak lain (PPh Pasal 21, 22,
   23 dan 24), serta pembayaran pajak oleh Wajib Pajak sendiri (PPh
   Pasal 25)
2. Pelunasan pajak dilakukan untuk setiap bulan atau masa lain yang
   ditetapkan oleh Menteri Keuangan
3. Pelunasan pajak merupakan angsuran pajak yang boleh dikreditkan
   terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk tahun pajak yang
   bersangkutan, kecuali untuk penghasilan yang pengenaan pajaknya
   bersifat final.



Meiriska                                                        6/6/2012
Soal kompensasi kerugian
                                           25

1. PT. B mengalami kerugian fiskal tahun 2002 sebesar Rp 850.000.000,-. Laba dan rugi
fiscal untuk tahun – tahun berikutnya adalah
2003      : Laba Fiskal     Rp 200.000.000
2004      : Laba fiskal     Rp 250.000.000
2005      : Rugi fiskal     Rp 300.000.000
2006      : Laba fiskal     Rp 200.000.000
2007      : Laba fiskal     Rp 120.000.000
2008      : Laba fiskal     Rp 200.000.000
2009      : Laba fiskal     Rp 180.000.000
Buatlah perhitungan kompensasi kerugian fiskal!
2.. Dari laporan keuangan PT. C diketahui perolehan laba/rugi setiap tahun adalah sbb :
2005       : Rugi fiskal    Rp 1.500.000.000
2006       : Rugi fiskal    Rp 800.000.000
2007       : Laba fiskal    Rp 320.000.000
2008       : Laba fiskal    Rp 450.000.000
2009       : Laba fiskal    Rp 250.000.000
2010       : Rugi fiskal    Rp 180.000.000
2011       : Laba fiskal    Rp 540.000.000
Buatlah perhitungan kompensasi kerugian fiskal!


Meiriska                                                                        6/6/2012
Soal perhitungan ptkp
                                       26
1. WP X menikah dengan WP S dengan perjanjian pisah harta. Anak pertama lahir
pada tanggal 2 Februari 2011. Dirumahnya WP X juga membiayai ibu kandung,
seorang adik kandung, dan seorang adik ipar.
Berapa PTKP bagi WP X dan WP S masing-masing pada tahun 2011!

2. WP Y seorang pegawai swasta status menikah dengan 2 orang anak. Istrinya juga
bekerja di perusahaan swasta dan sudah dipotong PPh pasal 21 oleh si pemberi
kerja.
Berapa PTKP bagi Y?
Apabila selain bekerja, istrinya juga mempunyai usaha salon dirumah dan
penghasilannya digabung dengan penghasilan suami, berapa PTKP si Y.

3. WP Z berstatus menikah. Karena tidak memiliki anak pada tahun 2010 dia
mengadopsi seorang anak untuk dijadikan anak angkat dan sudah mendapat
pengesahan dari Pengadilan. Dirumahnya juga tinggal ibu mertua yang dibiayai
sepenuhnya.
Berapa PTKP Z tahun 2011?

Meiriska                                                                6/6/2012
Soal perhitungan penyusutan
                                            27
1. Pada tanggal 1 Maret 2010, PT. Jaya Maju sebuah mesin dengan harga perolehan Rp
180.000.000. Mesin tersebut termasuk kelompok I.
Hitunglah besarnya penyusutan dengan metode garis lurus dan saldo menurun!

2. PT. Nusantara mengeluarkan dana sebesar 1.5 M untuk pembangunan sebuah gedung.
Pembangunan dimulai sejak 10 Agustus 2009. Gedung tersebut selesai dibangun dan langsung
digunakan pd bulan Mei 2010. Hitunglah jumlah penyusutan untuk tahun 2010!

3. PT. Agri Jaya pada bulan Juli 2007 membeli sebuah alat pertanian yang mempunyai masa
manfaat 4 tahun seharga Rp. 100.000.000.
Hitunglah besarnya penyusutan dengan metode garis lurus dan saldo menurun!

4. PT. Madusari menghitung penyusutannya dengan menggunakan metode garis lurus atas semua
aktiva tetap. Pada tanggal 2 Juli 2010 PT. Madusari membeli sebuah kendaraan operasional
seharga Rp 220.000.000. Kendaraan tersebut diperkirakan memiliki umur manfaat 5 tahun dengan
nilai sisa Rp 40.000.000,-. Dari pembukuannya diketahui biaya penyusutan yang sudah
dibebankan untuk tahun 2008 sebesar Rp 18.000.000,-
Untuk laporan SPT, PT. Madusari ingin menggunakan metode saldo menurun, dimana kendaraan
tersebut termasuk harta berwujud kelompok I.
Hitunglah besarnya penyusutan tahun 2010 PT. Madusari secara pajak!

Meiriska                                                                           6/6/2012
Soal perhitungan pajak terutang
                                              28
1.   Hitunglah besarnya PPh terutang untuk WP Orang Pribadi berikut ini :
     a. Penghasilan netto Rp 345.724.780 status K/2
     b. Penghasilan netto Rp 225.720.250 status K/1
     c. Penghasilan netto suami Rp 340.720.470, penghasilan netto istri dari usaha Rp
     225.720.220, status K/0, tidak ada perjanjian pisah harta
     d. Penghasilan Bruto Rp 555.666.000, WP menghitung Penghasilan Netto dengan NPPN Tarif
     30%, status K/3.
     e. Penghasilan Bruto Suami Rp 735.670.800, status K/1, tarif NPPN 25%, penghasilan netto
     istri dari PT.X Rp 82.420.000 (sudah dipotong pajak di PT.X)

2. Hitunglah besarnya PPh terutang untuk WP Badan berikut ini :
a. PT. A memiliki laba bersih tahun 2010 Rp 1.034.567.800
b. PT. B mengalami kerugian untuk tahun pajak 2010 sebesar Rp 345.720.500
c. PT. C memperoleh laba bersih tahun 2010 sebesar Rp 2.042.375.200, terdapat sisa
    kompensasi kerugian tahun 2008 berdasarkan SKP sebesar Rp 444.888.340.
d. PT. D memperoleh laba bersih tahun 2009 sebesar Rp 777.420.999 dan terdapat kredit pajak
    tahun 2009 sebesar Rp 56.620.000
e. PT. E memperoleh laba bersih tahun 2010 sebesar Rp 2.043.540.000, angsuran PPh pasal 25
    yang sudah dibayar Rp 220.540.000 dan PPh pasal 23 yang dipotong oleh pihak lain Rp
    52.720.400



 Meiriska                                                                           6/6/2012

Pertemuan 7

  • 1.
    Perpajakan I PAJAK PENGHASILAN (PPh) Perpajakan I Meiriska Febrianti, SE.,Ak.,ME.,BKP Trisakti School of Management Semester ganjil 2011/2012 Meiriska Meiriska 6/6/2012
  • 2.
    Dasar hukum 2 UU Nomor 7 Tahun 1983 UU Nomor 7 Tahun 1991 UU Nomor 10 Tahun 1994 UU Nomor 17 Tahun 2000 UU Nomor 36 Tahun 2008 Pengertian (Pasal 1) Pajak Penghasilan (PPh) adalah pajak yang dikenakan terhadap terhadap subjek pajak (Orang Pribadi atau Badan) atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Meiriska 6/6/2012
  • 3.
    Subjek pajak (Pasal2) 3 Subjek PPh adalah 1. Orang pribadi Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak 2. Badan 3. Bentuk usaha tetap (BUT). Subjek Pajak terdiri dari Subjek Pajak Dalam Negeri dan Subjek Pajak Luar Negeri. 1. Subjek Pajak Dalam Negeri Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, atau yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia. Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia, Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak. 2. Subjek Pajak Luar Negeri Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia. Orang Pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang dapat menerima atau memperoleh panghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia. Meiriska 6/6/2012
  • 4.
    Perbedaan wpdn danwpln 4 WPDN WPLN 1. Dikenakan pajak atas penghasilan dari 1. Dikenakan pajak hanya atas Indonesia dan dari luar Indonesia penghasilan yang bersumber dari (World Wide Income) Indonesia 2. Dikenakan pajak berdasarkan 2. Dikenakan pajak berdasarkan penghasilan netto. penghasilan bruto 3. Menggunakan tarif umum pasal 17 3. Menggunakan tarif pajak berdasarkan UU PPh. tax treaty (tarif pajak sepadan) 4. Wajib menyampaikan SPT Tahunan 4. Tidak wajib menyampaikan SPT sebagai sarana untuk menetapkan Tahunan, kewajiban pajak dipenuhi pajak yang terutang. melalui pemotongan pajak yang bersifat final. Meiriska 6/6/2012
  • 5.
    Kewajiban sebagai wp(pasal 2A) 5 Ada 2 kewajiban sebagai syarat seseorang berstatus sebagai Wajib Pajak : 1. Kewajiban Pajak Subjektif Suatu kewajiban yang dimulai pada diri seseorang sejak lahir dan menetap di Indonesia atau datang ke Indonesia untuk pertama kali dengan niat untuk bertempat tinggal. a. Orang pribadi Dimulai saat dilahirkan, berada atau berniat untuk bertempat tinggal di Indonesia Berakhir saat meninggal dunia atau meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya b. Badan Dimulai pada saat didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia Berakhir saat dibubarkan atau tidak lagi bertempat kedudukan di Indonesia c. Warisan Dimulai pada saat timbulnya warisan yang belum terbagi Berakhir saat warisan selesai dibagi. d. BUT Dimulai saat melakukan usaha/kegiatan melalui BUT di Indonesia Berakhir saat tidak lagi melakukan usaha/kegiatan melalui BUT di Indonesia e. Selain BUT Dimulai saat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia Berakhir saat tidak lagi menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia 2. Kewajiban Pajak Objektif Kewajiban yang dimulai pada saat seseorang menerima atau memperoleh penghasilan lebih besar dari PTKP. Meiriska 6/6/2012
  • 6.
    Bukan subjek pajak(pasal 3) 6 Kantor perwakilan negara asing Pejabat perwakilan diplomatik, dan konsulat atau pejabat-pejabat lain dari negara asing dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-sama mereka, dengan syarat bukan WNI dan di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain di luar jabatan atau pekerjaannya, serta negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik Organisasi Internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan dengan syarat Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut, dan tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain pemberian pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota Pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia. Meiriska 6/6/2012
  • 7.
    Objek pajak (pasal4 ayat 1) 7 Yang menjadi objek pajak adalah penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak (WP), baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib pajak yang bersangkutan dengan nama dan dalam bentuk apapun : Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh, contoh : gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, dll. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan dan penghargaan Laba usaha Keuntungan karena penjualan atau pengalihan harta Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya Bunga, deviden, royalti Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala dll Meiriska 6/6/2012
  • 8.
    objek pajak final(pasal 4 ayat 2) 8 Bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan Surat Utang Negara dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi. Hadiah undian Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya , transaksi derivatif yang diperdagangkan dibursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan modal ventura Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha real estate dan persewaaan tanah/dan atau bangunan Penghasilan tertentu lainnya yang diatur dengan Peraturan Pemerintah. Meiriska 6/6/2012
  • 9.
    Bukan objek pajak(pasal 4 ayat 3) 9 Bantuan atau sumbangan/harta hibahan Warisan Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintah Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi Deviden atau bagian laba yang diterima atau diperoleh PT sebagai WP dalam negeri, koperasi, BUMN,BUMD Iuran yang diterima dana pensiun Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham- saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi Dll. Meiriska 6/6/2012
  • 10.
    Biaya-biaya yang bolehdikurangkan (pasal 6) 10 Ayat 1 Besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi WP dalam negeri dan BUT, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi dengan biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan. Isi lihat UU 36/2008 Ayat 2 Apabila penghasilan bruto setelah pengurangan didapat kerugian, maka kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai dengan 5 tahun. Ayat 3 Kepada Orang Pribadi sebagai WP dalam negeri diberikan pengurangan berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) Meiriska 6/6/2012
  • 11.
    Kompensasi kerugian 11 1.Istilah kerugian merujuk kepada kerugian fiskal bukan kerugian komersial. Kerugian atau keuntungan fiskal adalah selisih antara penghasilan dan biaya- biaya yang telah memperhitungkan ketentuan Pajak Penghasilan. 2. Kompensasi kerugian hanya diperkenankan selama lima tahun ke depan secara berturut-turut. Apabila pada akhir tahun kelima ternyata masih ada kerugian yang tersisa maka sisa kerugian tersebut tidak dapat lagi dikompensasikan. 3. Kompensasi kerugian hanya untuk Wajib Pajak, baik badan maupun orang pribadi, yang melakukan kegiatan usaha yang penghasilannya tidak dikenakan PPh Final dan perhitungan Pajak Penghasilannnya tidak menggunakan norma penghitungan. 4. Kerugian usaha di luar negeri tidak bisa dikompensasikan dengan penghasilan dari dalam negeri. Meiriska 6/6/2012
  • 12.
    CONTOH PERHITUNGAN Kompensasikerugian 12 PT. A dalam tahun 2003 menderita kerugian fiscal sebesar Rp 1.200.000.000. dalam 5 tahun berikutnya laba/rugi fiskal PT. A adalah sbb : 2004 : Laba fiskal Rp 200.000.000 2005 : Rugi fiskal Rp 300.000.000 2006 : Laba fiskal NIHIL 2007 : Laba fiskal Rp 100.000.000 2008 : Laba fiskal Rp 800.000.000 Perhitungan Kompensasi Kerugian : Rugi fiskal 2003 =( Rp 1.200.000.000 ) Laba fiskal 2004 = Rp 200.000.000 Sisa rugi fiskal 2003 =( Rp 1.000.000.000 ) Rugi fiskal 2005 =( Rp 300.000.000 ) Jangan Sisa rugi fiskal 2003 =( Rp 1.000.000.000 ) dijumlahkan Laba fiskal 2006 = NIHIL Sisa rugi fiskal 2003 =( Rp 1.000.000.000 ) Laba fiskal 2007 = Rp 100.000.000 Sisa rugi fiskal 2003 =( Rp 900.000.000 ) Laba fiskal 2008 = Rp 800.000.000 Sisa rugi fiskal 2003 =( Rp 100.000.000 ) Sisa rugi fiskal tahun 2003 sebesar Rp 100.000.000 sudah tidak bisa dikompensasikan lagi ke tahun berikutnya, karena sudah lewat dari 5 tahun. Rugi fiskal tahun 2005 hanya bisa dikompensasikan untuk tahun 2009 dan 2010. Meiriska 6/6/2012
  • 13.
    Ptkp (pasal 7) 13 Ayat 1 PTKP pertahun : Rp 15.840.000 untuk diri WP Orang Pribadi Rp 1.320.000 untuk WP yang kawin Rp 15.840.000 tambahan untuk istri yang penghasilannya digabung dengan penghasilan suami Rp 1.320.000 tambahan setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 orang anak untuk setiap keluarga. Yang boleh menjadi tanggungan adalah : orang tua, mertua, anak kandung, anak angkat, anak tiri. Ayat 2 PTKP ditentukan pada awal tahun pajak (per 1 Januari) bagi WP DN atau awal bagian tahun pajak bagi WP LN. Ayat 3 Penyesuaian besarnya PTKP ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan setelah dikonsultasikan dengan DPR. Dalam hal karyawati menikah, PTKP yang boleh dikurangkan hanya untuk dirinya sendiri, status (TK/0) Meiriska 6/6/2012
  • 14.
    Contoh perhitungan Ptkp 14 1. WP A seorang pegawai berstatus menikah dengan 2 orang anak. Pada tanggal 15 Januari 2010, istrinya melahirkan anak ketiga. Berapa PTKP B tahun 2010? Jawab : Status (K/2) Rp 19.800.000 Karena anak ke-3 lahir setelah tanggal 1 Januari 2010, maka tidak boleh menjadi tanggungan tahun 2010, baru dihitung sebagai tanggungan mulai tahun 2011. 2. WP B berstatus menikah dengan 1 orang anak. WP E juga menanggung Ibu kandung yang sudah tidak bekerja lagi, dan seorang adik yang dibiayai sekolahnya. Berapa besarnya PTKP bagi si B? Jawab : Status (K/2) Rp 19.800.000 Tanggungan yang diperbolehkan adalah anak kandung dan ibu kandung, sedangkan adik tidak boleh menjadi tanggungan. 3. WP C seorang wanita yang bekerja di perusahaan swasta. C merupakan istri dari D yang seorang pegawai negeri. Dari perkawinan tersebut mereka dikaruniai seorang anak dan tidak ada perjanjian pisah harta. Berapa besarnya PTKP masing-masing, apabila mereka dipotong PPh pasal 21 oleh pemberi kerja. Jawab : WP C Status (TK/0) = Rp 15.840.000, wanita yang menikah tidak bisa menanggung suami dan anak, sehingga statusnya TK/0 WP D Status (K/1) = Rp 18.480.000 Meiriska 6/6/2012
  • 15.
    Penghasilan istri digabungdengan suami (pasal 8) 15 Ayat 1 Seluruh penghasilan atau kerugian bagi wanita yang telah kawin dianggap sebagai penghasilan atau kerugian suaminya, kecuali penghasilan tersebut diterima dari 1 pemberi kerja dan telah dipotong PPh Pasal 21 Ayat 2 Pengasilan Suami Istri dikenai pajak secara terpisah apabila : Suami istri telah hidup terpisah berdasarkan putusan hakim Dikehendaki secara tertulis oleh suami istri berdasarkan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan Dikehendaki oleh istri yang memilih untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri Ayat 3 Penghasilan netto suami istri dikenakan pajak berdasarkan penggabungan penghasilan netto suami istri Ayat 1 Penghasilan anak yang belum dewasa digabung dengan penghasilan orang tuanya. Meiriska 6/6/2012
  • 16.
    Biaya yang tidakboleh dikurangkan (pasal 9) 16 Ayat 1 Biaya-biaya yang tidak boleh dikurangkan Isi Lihat UU 36/2008 Ayat 2 Pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun tidak boleh untuk dibebankan sekaligus, melainkan dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi. Meiriska 6/6/2012
  • 17.
    PENYUSUTAN (pasal 11) 17 Ayat 1 Penyusutan dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang telah ditentukan bagi aktiva tersebut (Metode Garis Lurus) Ayat 2 Penyusutan dilakukan dalam bagian yang menurun selama masa manfaat, yang dihitung dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku dan pada akhir masa manfaat nilai sisa buku disusutkan sekaligus (Metode Saldo Menurun) Ayat 3 Penyusutan dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran, kecuali untuk harta yang masih dalam proses pengerjaan, penyusutannya dimulai pada bulan selesainya pengerjaan harta tersebut. Pengelompokkan Aktiva Tetap berdasarkan PMK No. 96/PMK.03/2009 Meiriska 6/6/2012
  • 18.
    Tarif PENYUSUTAN (pasal11 ayat 6) 18 Kelompok Masa Manfaat Garis Lurus Saldo Menurun I. Bukan Bangunan Kelompok 1 4 tahun 25% 50% Kelompok 2 8 tahun 12,5% 25% Kelompok 3 16 tahun 6,25% 12,5% Kelompok 4 20 tahun 5% 10% II. Bangunan Permanen 20 tahun 5% Tidak Permanen 10 tahun 10% Pengelompokkan Aktiva Tetap berdasarkan PMK No. 96/PMK.03/2009 Meiriska 6/6/2012
  • 19.
    amortisasi (pasal 11a) 19 Ayat 1 Amortisasi untuk harta tak berwujud dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar (metode garis lurus) atau bagian-bagian yang menurun (metode saldo menurun) selama masa manfaat. Ayat 1a Amortisasi dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran kecuali untuk bidang usaha tertentu uang diatur lebih lanjut dengan PMK. Ayat 2 Tarif Amortisasi (lihat UU 36/2008) Meiriska 6/6/2012
  • 20.
    Norma penghitungan penghasilannetto (pasal 14) 20 Ayat 1 Norma Penghitungan Penghasilan Netto (NPPN) untuk menentukan penghasilan netto dibuat dan disempurnakan terus menerus serta diterbitkan oleh Dirjen Pajak Ayat 2 WP Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang peredaran brutonya dalam 1 tahun kurang dari 4,8 milyar boleh menghitung penghasilan netto dengan NPPN Ayat 3 WP yang menghitung penghasilan nettonya dengan NPPN wajib menyelenggarakan pencatatan. Meiriska 6/6/2012
  • 21.
    Penghasilan kena pajak(pasal 16) 21 1. Bagi Wajib Pajak Dalam Negeri Badan : Penghasilan – biaya yang diperkenankan – kompensasi kerugian Orang Pribadi : Penghasilan – PTKP 2. Bagi WP Orang Pribadi yang menggunakan norma (penghasilan < 4,8 M) (Penghasilan X % NPPN) – PTKP 3. Bagi WP BUT (sama dengan WP Badan) Penghasilan – biaya yang diperkenankan – kompensasi kerugian 4. Bagi WP DN Orang Pribadi yang kewajiban pajak subjektifnya kurang dari 1 tahun yang terutang pajak dalam bagian tahun pajak. Penghasilan netto dalam bagian tahun pajak yang disetahunkan Untuk keperluan penerapan tarif pajak, jumlah PKP dibulatkan ke bawah dalam ribuan rupiah penuh. Meiriska 6/6/2012
  • 22.
    Tarif pajak (pasal17) 22 WP Orang Pribadi (Mulai berlaku 1 Januari 2009) Lapisan Penghasilan Tarif s/d 50 juta 5% > 50 juta s/d 250 juta 15% > 250 juta s/d 500 juta 25% > 500 juta 30% WP Badan Tarif tunggal 28% Tahun 2009 Tarif Tunggal 25% tahun 2010 Meiriska 6/6/2012
  • 23.
    Perhitungan pajak terhutang 23 Pajak terhutang = Jumlah Penghasilan Kena Pajak X Tarif Pajak Contoh : Diketahui Penghasilan Kena Pajak Rp 350.720.800 Pembulatan ribuan ke bawah Rp 350.720.000 5% X Rp 50.000.000 = Rp 2.500.000 15% X Rp 200.000.000 = Rp 30.000.000 25% X Rp 100.720.000 = Rp 25.180.000 = Rp 57.680.000 Meiriska 6/6/2012
  • 24.
    Pelunasan pajak dalamtahun berjalan (pasal 20) 24 1. Pajak yang diperkirakan akan terhutang dalam suatu tahun pajak, dilunasi oleh Wajib Pajak dalam tahun pajak berjalan melalui pemotongan dan pemungutan pajak oleh pihak lain (PPh Pasal 21, 22, 23 dan 24), serta pembayaran pajak oleh Wajib Pajak sendiri (PPh Pasal 25) 2. Pelunasan pajak dilakukan untuk setiap bulan atau masa lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan 3. Pelunasan pajak merupakan angsuran pajak yang boleh dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan, kecuali untuk penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final. Meiriska 6/6/2012
  • 25.
    Soal kompensasi kerugian 25 1. PT. B mengalami kerugian fiskal tahun 2002 sebesar Rp 850.000.000,-. Laba dan rugi fiscal untuk tahun – tahun berikutnya adalah 2003 : Laba Fiskal Rp 200.000.000 2004 : Laba fiskal Rp 250.000.000 2005 : Rugi fiskal Rp 300.000.000 2006 : Laba fiskal Rp 200.000.000 2007 : Laba fiskal Rp 120.000.000 2008 : Laba fiskal Rp 200.000.000 2009 : Laba fiskal Rp 180.000.000 Buatlah perhitungan kompensasi kerugian fiskal! 2.. Dari laporan keuangan PT. C diketahui perolehan laba/rugi setiap tahun adalah sbb : 2005 : Rugi fiskal Rp 1.500.000.000 2006 : Rugi fiskal Rp 800.000.000 2007 : Laba fiskal Rp 320.000.000 2008 : Laba fiskal Rp 450.000.000 2009 : Laba fiskal Rp 250.000.000 2010 : Rugi fiskal Rp 180.000.000 2011 : Laba fiskal Rp 540.000.000 Buatlah perhitungan kompensasi kerugian fiskal! Meiriska 6/6/2012
  • 26.
    Soal perhitungan ptkp 26 1. WP X menikah dengan WP S dengan perjanjian pisah harta. Anak pertama lahir pada tanggal 2 Februari 2011. Dirumahnya WP X juga membiayai ibu kandung, seorang adik kandung, dan seorang adik ipar. Berapa PTKP bagi WP X dan WP S masing-masing pada tahun 2011! 2. WP Y seorang pegawai swasta status menikah dengan 2 orang anak. Istrinya juga bekerja di perusahaan swasta dan sudah dipotong PPh pasal 21 oleh si pemberi kerja. Berapa PTKP bagi Y? Apabila selain bekerja, istrinya juga mempunyai usaha salon dirumah dan penghasilannya digabung dengan penghasilan suami, berapa PTKP si Y. 3. WP Z berstatus menikah. Karena tidak memiliki anak pada tahun 2010 dia mengadopsi seorang anak untuk dijadikan anak angkat dan sudah mendapat pengesahan dari Pengadilan. Dirumahnya juga tinggal ibu mertua yang dibiayai sepenuhnya. Berapa PTKP Z tahun 2011? Meiriska 6/6/2012
  • 27.
    Soal perhitungan penyusutan 27 1. Pada tanggal 1 Maret 2010, PT. Jaya Maju sebuah mesin dengan harga perolehan Rp 180.000.000. Mesin tersebut termasuk kelompok I. Hitunglah besarnya penyusutan dengan metode garis lurus dan saldo menurun! 2. PT. Nusantara mengeluarkan dana sebesar 1.5 M untuk pembangunan sebuah gedung. Pembangunan dimulai sejak 10 Agustus 2009. Gedung tersebut selesai dibangun dan langsung digunakan pd bulan Mei 2010. Hitunglah jumlah penyusutan untuk tahun 2010! 3. PT. Agri Jaya pada bulan Juli 2007 membeli sebuah alat pertanian yang mempunyai masa manfaat 4 tahun seharga Rp. 100.000.000. Hitunglah besarnya penyusutan dengan metode garis lurus dan saldo menurun! 4. PT. Madusari menghitung penyusutannya dengan menggunakan metode garis lurus atas semua aktiva tetap. Pada tanggal 2 Juli 2010 PT. Madusari membeli sebuah kendaraan operasional seharga Rp 220.000.000. Kendaraan tersebut diperkirakan memiliki umur manfaat 5 tahun dengan nilai sisa Rp 40.000.000,-. Dari pembukuannya diketahui biaya penyusutan yang sudah dibebankan untuk tahun 2008 sebesar Rp 18.000.000,- Untuk laporan SPT, PT. Madusari ingin menggunakan metode saldo menurun, dimana kendaraan tersebut termasuk harta berwujud kelompok I. Hitunglah besarnya penyusutan tahun 2010 PT. Madusari secara pajak! Meiriska 6/6/2012
  • 28.
    Soal perhitungan pajakterutang 28 1. Hitunglah besarnya PPh terutang untuk WP Orang Pribadi berikut ini : a. Penghasilan netto Rp 345.724.780 status K/2 b. Penghasilan netto Rp 225.720.250 status K/1 c. Penghasilan netto suami Rp 340.720.470, penghasilan netto istri dari usaha Rp 225.720.220, status K/0, tidak ada perjanjian pisah harta d. Penghasilan Bruto Rp 555.666.000, WP menghitung Penghasilan Netto dengan NPPN Tarif 30%, status K/3. e. Penghasilan Bruto Suami Rp 735.670.800, status K/1, tarif NPPN 25%, penghasilan netto istri dari PT.X Rp 82.420.000 (sudah dipotong pajak di PT.X) 2. Hitunglah besarnya PPh terutang untuk WP Badan berikut ini : a. PT. A memiliki laba bersih tahun 2010 Rp 1.034.567.800 b. PT. B mengalami kerugian untuk tahun pajak 2010 sebesar Rp 345.720.500 c. PT. C memperoleh laba bersih tahun 2010 sebesar Rp 2.042.375.200, terdapat sisa kompensasi kerugian tahun 2008 berdasarkan SKP sebesar Rp 444.888.340. d. PT. D memperoleh laba bersih tahun 2009 sebesar Rp 777.420.999 dan terdapat kredit pajak tahun 2009 sebesar Rp 56.620.000 e. PT. E memperoleh laba bersih tahun 2010 sebesar Rp 2.043.540.000, angsuran PPh pasal 25 yang sudah dibayar Rp 220.540.000 dan PPh pasal 23 yang dipotong oleh pihak lain Rp 52.720.400 Meiriska 6/6/2012