OLEH : ANDRY SARTIKA, S.KEP, NERS
PENGERTIAN
• Adalah tekanan yang diakibatkan cairan
cerebrospinal dalam ventrikel otak. Dalam keadaan
normal Penekanan tekanan intrakarnial harus < 15
mmHg, Beberapa pakar menganggap nilai normal
TIK antara 5 – 15 mmHg. Meninggikan letak kepala
atau berdiri akan menurunkan Penekanan TIK,
sedangkan batuk, bersin, atau mengeden (manuver
Vaisava) akan meningkatkan TIK.
• TIK Ringan : 15 – 25 mmHg, Sedang : 25-40 mmHg,
Berat : > 40 mmHg
ANATOMI FISIOLOGI
• Ruang intrakranial adalah suatu ruangan kaku yang
terisi penuh sesuai dengan kapasitasnya dengan
unsur yang tidak dapat ditekan: CSS (± 75 ml) 8%,
dan darah (± 75 ml)12%, otak (1400 g) 8%.
ETIOLOGI
• Penekanan intrakarnial secara umum dapat disebabkan
oleh 4 faktor, yaitu :
a. Peningkatan Cerebral Blood Volume.
b. Obstruksi aliran CSS.
c. Edema serebri.
d. Efek massa.
Penyebab yang lainnya adalah :
a. Neurisma pecah dan
pendarahan subarachnoid
b. Tumor otak
c. Pendarahan otak hipertensi
d. Pendarahan
e. Cedera kepala parah
Lanjutan
TANDA DAN GEJALA SPESIFIK TIK
Awal
 Penurunan derajat kesadaran
(mis : delirium, gelisah, letargi/lemas)
 Disfungsi pupil
 Kelemahan motorik
 Defisit sensorik
 Paresis nervus kranial
 Kadang-kadang disertai nyeri kepala
 Kadang-kadang disertai bangkitan / kejang
Lanjutan
Lanjut
 Lebih memburuknya derajat kesadaran
(Mis : Stupor, Soporokomatus, Koma)
 Bisa disertai muntah
 Nyeri kepala
 Pemburukan tanda vital
 Pola pernafasan ireguler
 Gangguan reflek batang otak
(Mis : Gangguan Refleks Kornea, Refleks Muntah)
Metode Monitoring TIK
• Peralatan Ini Meliputi Kateter Intraventrikuler,
Subarachnoid Bolt, Epidural Systems Dan Peralatan
Fiberoptic Intraparenchymal
CARA PEMERIKSAAN NEUROLOGIK.
• Pemburukan Derajat Kesadaran
Penderita menjadi disorientasi, mula
– mula terhadap waktu, tempat, dan
tidak mengenali seseorang, Dengan
semakin meningginya TIK, derajat
kesadaran semakin rendah, hingga
akhirnya komplikasi.
• Disfungsi Pupil
Akibat peninggian TIK Tidak hanya
ukuran pupil yang berubah, tetapi
dapat juga bentuk dan reaksi terhadap
cahaya. Pada tahap awal ukuran pupil
menjadi berdiameter 3,5 mm atau
disebut sebagai ukuran tengah. Lalu
makin melebar (dilatasi) secara
bertahap. Bentuknya dapat berubah
menjadi melonjong dan reaksi
terhadap cahaya menjadi lamban.
Lanjutan
• Abnormalitas Visual
Devisit visual dapat terjadi
sejak gejala masih awal.
Gangguan tersebut dapat
berupa : ketajaman visus,
kabur dan diplopia.
Sehingga pasien melihat
dobel pada posisi tertentu.
Lanjutan
Nyeri Kepala
• Secara umum, nyeri kepala
sebenarnya tidak terlalu sering
terjadi. nyeri kepala terjadi akibat
pereganggan struktur intrakranial
yang peka nyeri. Nyeri terjadi
akibat penekanan langsung
akibat pelebaran pembuluh
darah saat kompensasi.
Lanjutan
Muntah
• Muntah yang dapat
didahului oleh mual /
dispepsia dan juga
bisa tidak.
Lanjutan
Perubahan Tekanan Darah Dan Denyut Nadi
• Pada tahap awal tekanan darah dan
denyut nadi relatif stabil dan pada tahap
selanjutnya karena penekanan ke batang
otak terjadi perubahan tekanan darah.
Menurunnya denyut nadi terjadi sebagai
upaya jantung untuk memompa akan
ireguler, cepat, “ halus “ dan akhirnya
menghilang.
Lanjutan
Perubahan Pola Pernafasan
• Perubahan pola pernafasan
merupakan pencerminan sampai
tingkat mana TIK. Bila terjadi PTIK
akut sering terjadi Oedema Pulmoner
Akut tanpa Distress Syndrome
(ARDS)
Lanjutan
Perubahan Suhu Badan
• Biasanya berhubungan dengan disfungsi
hipothalamus. Pada fase kompensasi,
suhu badan mungkin masih dalam batas
normal. Pada fase dekompensasi akan
terjadi peningkatan suhu badan sangat
cepat dan sangat tinggi.
Lanjutan
Papiludema (Pembengkakan Saraf Optikus)
• Papiludema dapat terjadi akibat PTIK,
atau memang sudah ada sejak awal.
Papiloedema akibat PTIK tak akan terjadi
seandainya belum menjadi tingkat yang
sangat tinggi. Tetapi perlu diingat bahwa
tidak adanya papiloedema bukan berarti
tidak ada PTIK.
Lanjutan
KOMPLIKASI
1. Herniasi Batang Otak diakibatkan dari
peningkatan TIK yang berlebihan, yaitu bila
tekanan bertambah di dalam ruang cranial dan
penekanan jaringan otak kearah batang otak.
2. Sindrom ketidak tepatan hormone antidiuretik
(SIADH) : akibat dari peningkatan sekresi hormone
antidiuretik. Pasien mengalami volume berlebihan
dan menurunnya jumlah urin yang keluar.
3. Fleksi, ekstensi atau rotasi leher akan
meningkatkan TIK.
PEMERIKSAAN DIGNOSTIK
a. Angiografi Serebral.
b. X-RAY Tengkorak.
c. CT Scan atau MRI.
d. Ekoensefalogram.
DAFTAR PUSTAKA
– Suarez J I, Eccer M, Cerebral Oedem and Intracranial Dynamics : Monitoring and management of intracranial pressure, In :
Critical Care Neurology and Neurosurgery, ed. Suarez J I, New Jersey : 2004, 100-47
– Morgan GE, Mikhail MS, Murray MJ, Neurophysiology & Anesthesia, in Clinical Anesthesiologi. 4th ed. USA : 2006 ,
– Anne J. Moore, David W. Newell. Neuroanesthesia and Neurosurgical Intensive Care, In : Neurosurgery Principles and
Practise. London : Springer 2005. p 104 – 71.
– Harahap S, Barbiturates and Neuromuscular Blocking Agent ; Still Valueble to Treat Intracranial Hypertension, In : Proceeding
Book 9th National Congress of Indonesian Society of Anesthesiology, ed. Nasution A H, Solihat Y, USU Press Medan : 2010,
57-46
– Seubert C N, Mahla M E, Neurologic Monitoring, In : Miller’s Anesthesia Seventh Edition, ed. Ronald D M, Elsevier : 2010,
– Drummond J C, Patel P M, Neurosurgical Anesthesia, In : Miller’s Anesthesia Seventh Edition, ed. Ronald D M, Elsevier :
2010,
– Drummond J C, Patel P M, Cerebral Physiology and the Effects of Anesthetic Drugs, In : Miller’s Anesthesia, 7th Edition, ed.
Ronald D M, Elsevier : 2010,
– Kincaid MS, Lam AM, General Considerations : Neurophysiologic Monitoring, In : Handbook of Neuroanesthesia, 4th Edition,
ed. Newdield P, Cotrell J E, Lippincott Williams & Wilkins : 2007, P 57-37
– Attaallah AF, Kofke WA, SECTION C: Monitoring Considerations for Trauma and Critical Care ; Neurological Monitoring, In :
Trauma Critical Care, Volume 2, ed. Wilsson CW, Grande MC, Hoyt DB, Informa Healt care, New York : 2007, 204-125
– Morgan GE, Mikhail MS, Murray MJ, Anesthesia for Neurosurgery, in Clinical Anesthesiologi. 4th ed. USA : 2006 ,
– Kalmar AF, De Ley G, Broecker VD, Aken V, Struys MM, Influence Of An Increased Intracranial Pressure On Cerebral And
Systemic Haemodynamics During Endoscopic Neurosurgery: an animal model, British Journal of Anaesthesia 102 (3): 361–8
(2009)
– Steiner LA, Andrews PJ. Monitoring the injured brain: ICP and CBF. British Journal of Anaesthesia 97 (1): 26–38 (2006)
– http://loyeva.blogspot.com/2013/03/tekanan-intrakranial.html
TERIMA KASIH

Presentasi Tekanan Intrakranial

  • 1.
    OLEH : ANDRYSARTIKA, S.KEP, NERS
  • 2.
    PENGERTIAN • Adalah tekananyang diakibatkan cairan cerebrospinal dalam ventrikel otak. Dalam keadaan normal Penekanan tekanan intrakarnial harus < 15 mmHg, Beberapa pakar menganggap nilai normal TIK antara 5 – 15 mmHg. Meninggikan letak kepala atau berdiri akan menurunkan Penekanan TIK, sedangkan batuk, bersin, atau mengeden (manuver Vaisava) akan meningkatkan TIK. • TIK Ringan : 15 – 25 mmHg, Sedang : 25-40 mmHg, Berat : > 40 mmHg
  • 3.
    ANATOMI FISIOLOGI • Ruangintrakranial adalah suatu ruangan kaku yang terisi penuh sesuai dengan kapasitasnya dengan unsur yang tidak dapat ditekan: CSS (± 75 ml) 8%, dan darah (± 75 ml)12%, otak (1400 g) 8%.
  • 4.
    ETIOLOGI • Penekanan intrakarnialsecara umum dapat disebabkan oleh 4 faktor, yaitu : a. Peningkatan Cerebral Blood Volume. b. Obstruksi aliran CSS. c. Edema serebri. d. Efek massa.
  • 5.
    Penyebab yang lainnyaadalah : a. Neurisma pecah dan pendarahan subarachnoid b. Tumor otak c. Pendarahan otak hipertensi d. Pendarahan e. Cedera kepala parah Lanjutan
  • 6.
    TANDA DAN GEJALASPESIFIK TIK Awal  Penurunan derajat kesadaran (mis : delirium, gelisah, letargi/lemas)  Disfungsi pupil  Kelemahan motorik  Defisit sensorik  Paresis nervus kranial  Kadang-kadang disertai nyeri kepala  Kadang-kadang disertai bangkitan / kejang
  • 7.
    Lanjutan Lanjut  Lebih memburuknyaderajat kesadaran (Mis : Stupor, Soporokomatus, Koma)  Bisa disertai muntah  Nyeri kepala  Pemburukan tanda vital  Pola pernafasan ireguler  Gangguan reflek batang otak (Mis : Gangguan Refleks Kornea, Refleks Muntah)
  • 8.
    Metode Monitoring TIK •Peralatan Ini Meliputi Kateter Intraventrikuler, Subarachnoid Bolt, Epidural Systems Dan Peralatan Fiberoptic Intraparenchymal
  • 9.
    CARA PEMERIKSAAN NEUROLOGIK. •Pemburukan Derajat Kesadaran Penderita menjadi disorientasi, mula – mula terhadap waktu, tempat, dan tidak mengenali seseorang, Dengan semakin meningginya TIK, derajat kesadaran semakin rendah, hingga akhirnya komplikasi.
  • 10.
    • Disfungsi Pupil Akibatpeninggian TIK Tidak hanya ukuran pupil yang berubah, tetapi dapat juga bentuk dan reaksi terhadap cahaya. Pada tahap awal ukuran pupil menjadi berdiameter 3,5 mm atau disebut sebagai ukuran tengah. Lalu makin melebar (dilatasi) secara bertahap. Bentuknya dapat berubah menjadi melonjong dan reaksi terhadap cahaya menjadi lamban. Lanjutan
  • 11.
    • Abnormalitas Visual Devisitvisual dapat terjadi sejak gejala masih awal. Gangguan tersebut dapat berupa : ketajaman visus, kabur dan diplopia. Sehingga pasien melihat dobel pada posisi tertentu. Lanjutan
  • 12.
    Nyeri Kepala • Secaraumum, nyeri kepala sebenarnya tidak terlalu sering terjadi. nyeri kepala terjadi akibat pereganggan struktur intrakranial yang peka nyeri. Nyeri terjadi akibat penekanan langsung akibat pelebaran pembuluh darah saat kompensasi. Lanjutan
  • 13.
    Muntah • Muntah yangdapat didahului oleh mual / dispepsia dan juga bisa tidak. Lanjutan
  • 14.
    Perubahan Tekanan DarahDan Denyut Nadi • Pada tahap awal tekanan darah dan denyut nadi relatif stabil dan pada tahap selanjutnya karena penekanan ke batang otak terjadi perubahan tekanan darah. Menurunnya denyut nadi terjadi sebagai upaya jantung untuk memompa akan ireguler, cepat, “ halus “ dan akhirnya menghilang. Lanjutan
  • 15.
    Perubahan Pola Pernafasan •Perubahan pola pernafasan merupakan pencerminan sampai tingkat mana TIK. Bila terjadi PTIK akut sering terjadi Oedema Pulmoner Akut tanpa Distress Syndrome (ARDS) Lanjutan
  • 16.
    Perubahan Suhu Badan •Biasanya berhubungan dengan disfungsi hipothalamus. Pada fase kompensasi, suhu badan mungkin masih dalam batas normal. Pada fase dekompensasi akan terjadi peningkatan suhu badan sangat cepat dan sangat tinggi. Lanjutan
  • 17.
    Papiludema (Pembengkakan SarafOptikus) • Papiludema dapat terjadi akibat PTIK, atau memang sudah ada sejak awal. Papiloedema akibat PTIK tak akan terjadi seandainya belum menjadi tingkat yang sangat tinggi. Tetapi perlu diingat bahwa tidak adanya papiloedema bukan berarti tidak ada PTIK. Lanjutan
  • 18.
    KOMPLIKASI 1. Herniasi BatangOtak diakibatkan dari peningkatan TIK yang berlebihan, yaitu bila tekanan bertambah di dalam ruang cranial dan penekanan jaringan otak kearah batang otak. 2. Sindrom ketidak tepatan hormone antidiuretik (SIADH) : akibat dari peningkatan sekresi hormone antidiuretik. Pasien mengalami volume berlebihan dan menurunnya jumlah urin yang keluar. 3. Fleksi, ekstensi atau rotasi leher akan meningkatkan TIK.
  • 19.
    PEMERIKSAAN DIGNOSTIK a. AngiografiSerebral. b. X-RAY Tengkorak. c. CT Scan atau MRI. d. Ekoensefalogram.
  • 21.
    DAFTAR PUSTAKA – SuarezJ I, Eccer M, Cerebral Oedem and Intracranial Dynamics : Monitoring and management of intracranial pressure, In : Critical Care Neurology and Neurosurgery, ed. Suarez J I, New Jersey : 2004, 100-47 – Morgan GE, Mikhail MS, Murray MJ, Neurophysiology & Anesthesia, in Clinical Anesthesiologi. 4th ed. USA : 2006 , – Anne J. Moore, David W. Newell. Neuroanesthesia and Neurosurgical Intensive Care, In : Neurosurgery Principles and Practise. London : Springer 2005. p 104 – 71. – Harahap S, Barbiturates and Neuromuscular Blocking Agent ; Still Valueble to Treat Intracranial Hypertension, In : Proceeding Book 9th National Congress of Indonesian Society of Anesthesiology, ed. Nasution A H, Solihat Y, USU Press Medan : 2010, 57-46 – Seubert C N, Mahla M E, Neurologic Monitoring, In : Miller’s Anesthesia Seventh Edition, ed. Ronald D M, Elsevier : 2010, – Drummond J C, Patel P M, Neurosurgical Anesthesia, In : Miller’s Anesthesia Seventh Edition, ed. Ronald D M, Elsevier : 2010, – Drummond J C, Patel P M, Cerebral Physiology and the Effects of Anesthetic Drugs, In : Miller’s Anesthesia, 7th Edition, ed. Ronald D M, Elsevier : 2010, – Kincaid MS, Lam AM, General Considerations : Neurophysiologic Monitoring, In : Handbook of Neuroanesthesia, 4th Edition, ed. Newdield P, Cotrell J E, Lippincott Williams & Wilkins : 2007, P 57-37 – Attaallah AF, Kofke WA, SECTION C: Monitoring Considerations for Trauma and Critical Care ; Neurological Monitoring, In : Trauma Critical Care, Volume 2, ed. Wilsson CW, Grande MC, Hoyt DB, Informa Healt care, New York : 2007, 204-125 – Morgan GE, Mikhail MS, Murray MJ, Anesthesia for Neurosurgery, in Clinical Anesthesiologi. 4th ed. USA : 2006 , – Kalmar AF, De Ley G, Broecker VD, Aken V, Struys MM, Influence Of An Increased Intracranial Pressure On Cerebral And Systemic Haemodynamics During Endoscopic Neurosurgery: an animal model, British Journal of Anaesthesia 102 (3): 361–8 (2009) – Steiner LA, Andrews PJ. Monitoring the injured brain: ICP and CBF. British Journal of Anaesthesia 97 (1): 26–38 (2006) – http://loyeva.blogspot.com/2013/03/tekanan-intrakranial.html
  • 22.