Penyuluhan pertanian
Dedi Firmanto
Fakultas Pertanian jurusan Agribisnis
Universitas Islam Riau
Bahan Kuliah
Penyuluh Pertanian Lapangan
Peran
• Penyuluh bertugas memberikan dorongan kepada
petani agar mau mengubah cara berpikir, cara kerja
dan cara hidup yang lebih sesuai dengan
perkembangan jaman, perkembangan teknologi
pertanian yang lebih maju. Dengan demikian
seorang penyuluh pertanian dalam melaksanakan
tugasnya mempunyai tiga peranan:
a. Berperan sebagai pendidik, memberikan
pengetahuan atau cara-cara baru dalam budidaya
tanaman agar petani lebih terarah dalam
usahataninya, meningkatkan hasil dan mengatasi
kegagalan-kegagalan dalam usaha taninya;
b. Berperan sebagai pemimpin, yang dapat
membimbing dan memotivasi petani agar mau
merubah cara berfikir, cara kerjanya agar timbul
keterbukaan dan mau menerima cara-cara
bertani baru yang lebih berdaya guna dan
berhasil, sehingga tingkat hidupnya lebih
sejahtera;
c. Berperan sebagai penasehat, yang dapat
melayani, memberikan petunjuk-petunjuk dan
membantu para petani baik dalam bentuk
peragaan atau contoh-contoh kerja dalam
usahatani memecahkan segala masalah yang
dihadapi.
Kegiatan lapangan yang dilakukan
penyuluh pertanian lapangan, yaitu:
• Menyebarluaskan informasi;
• Mengajarkan ketrampilan atau kecakapan bertani
dan lain-lain yang lebih baik;
• Mengusahakan sarana produksi dan usaha
sampingan lainnya;
• Menimbulkan swadana atau swadaya dalam usaha-
usaha perbaikan;
• Memberikan rekomendasi berusaha tani dan lain-
lain yang lebih menguntungkan.
Pengertian Falsafah penyuluhan
Falsafah berarti pandangan, yang akan dan harus
diterapkan. Falsafah penyuluhan adalah Bekerja
bersama masyarakat untuk membantunya agar
mereka dapat membantu dirinya meningkatkan
harkatnya sebagai manusia.
Falsafah penyuluhan berlandaskan pada falsafah
Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, yang membawa
konsekwensi pada:
a. Perubahan administrasi penyuluhan dari yang
bersifat relatif sentralisme menjadi fasilitatif
partisipatif, dan
b. Pentingnya kemauan penyuluh memahami
budaya lokal yang seringkali mewarnai local
agricultural praktis.
Landasan falsafah penyuluhan seperti
itu mengandung pengertian :
a. Penyuluh harus bekerjasama dengan masyarakat,
bukan bekerja untuk masyarakat (Adicondro,
1990).
b. Penyuluhan tidak selalu dibatasi oleh peraturan
dari pusat yang kaku dan sentralistis.
c. Penyuluh selain memberikan ilmunya kepada
pelaku utama dan pelaku usaha agribisnis, ia
harus mau belajar untuk mengembangkan dirinya
(belajar dianggap tidak rasional, penyuluh
menganggap rasional adalah petunjuk pusat).
c. Penyuluhan harus mampu mendorong terciptanya
kreativitas dan kemandirian masyarakat, agar memiliki
kemampuan berswakarsa, swadaya, dan swakelola bagi
terselenggaranya kegiatan guna tercapainya tujuan,
harapan dan keinginan-keinginan masyarakat sasarannya.
PRINSIP PENYULUHAN
Prinsip adalah suatu pernyataan tentang
kebijaksanaan yang dijadikan pedoman dalam
pengambilan keputusan dan melaksanakan kegiatan
secara konsisten (Mathews, 1995).
Prinsip berlaku umum, dapat diterima secara umum,
dan telah diyakini kebenarannya dari berbagai
pengamatan dalam kondisi yang beragam. Prinsip
dapat dijadikan sebagai landasan pokok yang benar
bagi pelaksanaan kegiatan.
Prinsip penyuluhan (Dahama dan
Bhatnagar,1980) mencakup:
a. Minat dan kebutuhan. Penyuluhan akan efektif jika
selalu mengacu kepada minat dan kebutuhan
masyarakat.
b. Keragaman budaya masyarakat. Penyuluhan akan
efektif jika mampu melibatkan /menyentuh
organisasi masyarakat bawah, sejak dari
keluarga/kekerabatan.
c. Keragaan budaya. Penyuluhan harus memperhatikan
keragaman budaya. Perencanaan penyuluhan harus
selalu disesuaikan dengan budaya lokal
d. Perubahan budaya. Setiap kegiatan penyuluhan akan
mengakibatkan perubahan budaya.
e. Kerjasama dan partisipasi. Penyuluhan akan efektif jika
mampu menggerakkan partisipasi masyarakat untuk
selalu bekerja sama dalam melaksanakan program
penyuluhan yang dirancang.
f. Demokrasi dalam penerapan ilmu. Penyuluh harus
memberi kesempatan pada masyarakat untuk menawar
setiap ilmu alternatif yang ingin diterapkan, penggunaan
metode penyuluhan, dan pengambilan keputusan yang
akan dilakukan masyarakat sasarannya.
g. Belajar sambil bekerja. Penyuluhan harus
diupayakan agar masyarakat dapat belajar sambil
bekerja atau belajar dari pengalaman yang ia
kerjakan.
h. Penggunaan metode yang sesuai. Penyuluhan
harus dilakukan dengan penerapan metode yang
selalu disesuaikan dengan kondisi (lingkungan
fisik, kemampuan ekonomi, dan nilai sosial
budaya) sasarannya.
i. Kepemimpinan. Penyuluhan harus mampu menumbuhkan
dan mengembangkan kepemimpinan lokal atau
memanfaatkan pemimpin lokal yang telah ada untuk
membantu kegiatannya.
j. Spesialis yang terlatih. Penyuluh harus benar-benar orang
yang telah memperoleh latihan khusus tentang sesuatu
yang sesuai dengan fungsinya sebagai penyuluh.
k. Kepuasan. Penyuluhan harus mampu mewujudkan
tercapainya kepuasan. Kepuasan akan sangat menentukan
keikutsertaan sasaran pada program-program penyuluhan
selanjutnya.
l. Segenap keluarga. Penyuluhan harus memperhatikan
keluarga sebagai satu kesatuan dari unit sosial.
ETIKA PENYULUH
• Etika, adalah tata pergaulan yang khas atau ciri-ciri
perilaku yang dapat digunakan untuk
mengindentifikasi, mengasosiasikan diri, dan dapat
merupakan sumber motivasi untuk berkarya dan
berprestasi bagi kelompok tertentu yang
memilikinya.
Perilaku yang perlu ditunjukkan atau
diragakan oleh setiap penyuluh (SalmonP,
1987) adalah:
• Perilaku sebagai manusia seutuhnya, yaitu manusia yang
beriman kepada Tuhan YME, jujur dan disiplin.
• Perilaku sebagai anggota masyarakat, yaitu mau
menghormati adat/kebiasaan masyarakatnya,
menghormati pelaku utama dan pelaku usaha agribisnis
dan keluarganya (apapun keadaan dan status sosial-
ekonominya) dan menghormati sesama penyuluh.
• Perilaku yang menunjukkan penampilannya sebagai yang
andal, yaitu berkeyakinan kuat atas manfaat tugasnya,
kerjanya, memiliki jiwa kerjasama yang tinggi dan
berkemampuan untuk bekerja teratur.
• Perilaku yang mencerminkan dinamika, yaitu
ulet, mental dan semangat kerja yang tinggi,
selalu berusaha mencerdaskan diri dan selalu
berusaha mengkaitkan kemampuannya.
Kompetensi seorang penyuluh
• Kegiatan penyuluhan sebagai bagian dari tugas
keprofesionalan sudah barang tentu memerlukan
kualifikasi kemampuan yang terstandarkan. Karena
sebagai tenaga profesional penyuluh diharuskan
mempunyai keahlian yang qualified sesuai
bidangnya.
• Berdasarkan definisi tersebut penyuluh dituntut
untuk mempunyai kemampuan dan keahlian yang
memadai, dalam menjalankan pekerjaannya
sebagai penyuluh.
1. Kemampuan pengetahuan
Kemampuan pengetahuan merupakan kemampuan
dasar yang tidak boleh tidak harus ada pada setiap
penyuluh. Kemampuan pengetahuan dalam hal ini
menekankan kepada kemampuan seorang penyuluh
dalam menguasai isi dan substansi setiap isue
penyuluhan dan isue-isue pertanian lainnya yang
tengah dihadapi.
2. Kemampuan Andragogik
Pemahaman terhadap aspek andragogi ini tidak
sebatas kepada perhatian terhadap atribut kegaiatan
belajar. Seperti susana belajar orang dewasa dapat
dimana saja dan kapan saja. Selain aspek ruang dan
waktu, salah satu kemampuan penting lainnya adalah
kemampuan mengajar (teaching skill) kepada orang
dewasa.
3. Kemampuan kepribadian
Kepribadian seorang penyuluh senantisa harus
mendapatkan perhatian yang serius dalam
menciptkan kinerja yang optimal. Dalam hal ini
kepribadian erat kaitannya dengan cerminan etos
kerja dan budaya kerja yang berkembang
4. Kemampuan Sosial
Kemampuan seorang penyuluh dalam memposisikan
perannya sebagai fasilitator, motivator, dan inovator harus
diimbangi dengan beberapa kecakapan sosial (social skill).
Beberapa kemampuan sosial yang hendaknya dikuasai
seorang penyuluh diantaranya; teknik komunikasi yang
baik (lisan, tulisan dan isyarat), penggunaan teknologi
komunikasi dan informasi secara fungsional, mampu
melakukan pergaulan sosial secara efektif, memberikan
penghargaan terhadap norma sosial yang berlaku, dan
mampu menerapkan prinsip-prinsip kolektifitas yang
tinggi ditengah-tengah lingkungan sosial.
Sekian dan terimakasih

Penyuluhan pertanian

  • 1.
    Penyuluhan pertanian Dedi Firmanto FakultasPertanian jurusan Agribisnis Universitas Islam Riau Bahan Kuliah
  • 2.
    Penyuluh Pertanian Lapangan Peran •Penyuluh bertugas memberikan dorongan kepada petani agar mau mengubah cara berpikir, cara kerja dan cara hidup yang lebih sesuai dengan perkembangan jaman, perkembangan teknologi pertanian yang lebih maju. Dengan demikian seorang penyuluh pertanian dalam melaksanakan tugasnya mempunyai tiga peranan:
  • 3.
    a. Berperan sebagaipendidik, memberikan pengetahuan atau cara-cara baru dalam budidaya tanaman agar petani lebih terarah dalam usahataninya, meningkatkan hasil dan mengatasi kegagalan-kegagalan dalam usaha taninya;
  • 4.
    b. Berperan sebagaipemimpin, yang dapat membimbing dan memotivasi petani agar mau merubah cara berfikir, cara kerjanya agar timbul keterbukaan dan mau menerima cara-cara bertani baru yang lebih berdaya guna dan berhasil, sehingga tingkat hidupnya lebih sejahtera;
  • 5.
    c. Berperan sebagaipenasehat, yang dapat melayani, memberikan petunjuk-petunjuk dan membantu para petani baik dalam bentuk peragaan atau contoh-contoh kerja dalam usahatani memecahkan segala masalah yang dihadapi.
  • 6.
    Kegiatan lapangan yangdilakukan penyuluh pertanian lapangan, yaitu: • Menyebarluaskan informasi; • Mengajarkan ketrampilan atau kecakapan bertani dan lain-lain yang lebih baik; • Mengusahakan sarana produksi dan usaha sampingan lainnya; • Menimbulkan swadana atau swadaya dalam usaha- usaha perbaikan; • Memberikan rekomendasi berusaha tani dan lain- lain yang lebih menguntungkan.
  • 7.
    Pengertian Falsafah penyuluhan Falsafahberarti pandangan, yang akan dan harus diterapkan. Falsafah penyuluhan adalah Bekerja bersama masyarakat untuk membantunya agar mereka dapat membantu dirinya meningkatkan harkatnya sebagai manusia.
  • 8.
    Falsafah penyuluhan berlandaskanpada falsafah Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, yang membawa konsekwensi pada: a. Perubahan administrasi penyuluhan dari yang bersifat relatif sentralisme menjadi fasilitatif partisipatif, dan b. Pentingnya kemauan penyuluh memahami budaya lokal yang seringkali mewarnai local agricultural praktis.
  • 9.
    Landasan falsafah penyuluhanseperti itu mengandung pengertian : a. Penyuluh harus bekerjasama dengan masyarakat, bukan bekerja untuk masyarakat (Adicondro, 1990). b. Penyuluhan tidak selalu dibatasi oleh peraturan dari pusat yang kaku dan sentralistis. c. Penyuluh selain memberikan ilmunya kepada pelaku utama dan pelaku usaha agribisnis, ia harus mau belajar untuk mengembangkan dirinya (belajar dianggap tidak rasional, penyuluh menganggap rasional adalah petunjuk pusat).
  • 10.
    c. Penyuluhan harusmampu mendorong terciptanya kreativitas dan kemandirian masyarakat, agar memiliki kemampuan berswakarsa, swadaya, dan swakelola bagi terselenggaranya kegiatan guna tercapainya tujuan, harapan dan keinginan-keinginan masyarakat sasarannya.
  • 11.
    PRINSIP PENYULUHAN Prinsip adalahsuatu pernyataan tentang kebijaksanaan yang dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan dan melaksanakan kegiatan secara konsisten (Mathews, 1995). Prinsip berlaku umum, dapat diterima secara umum, dan telah diyakini kebenarannya dari berbagai pengamatan dalam kondisi yang beragam. Prinsip dapat dijadikan sebagai landasan pokok yang benar bagi pelaksanaan kegiatan.
  • 12.
    Prinsip penyuluhan (Dahamadan Bhatnagar,1980) mencakup: a. Minat dan kebutuhan. Penyuluhan akan efektif jika selalu mengacu kepada minat dan kebutuhan masyarakat. b. Keragaman budaya masyarakat. Penyuluhan akan efektif jika mampu melibatkan /menyentuh organisasi masyarakat bawah, sejak dari keluarga/kekerabatan. c. Keragaan budaya. Penyuluhan harus memperhatikan keragaman budaya. Perencanaan penyuluhan harus selalu disesuaikan dengan budaya lokal
  • 13.
    d. Perubahan budaya.Setiap kegiatan penyuluhan akan mengakibatkan perubahan budaya. e. Kerjasama dan partisipasi. Penyuluhan akan efektif jika mampu menggerakkan partisipasi masyarakat untuk selalu bekerja sama dalam melaksanakan program penyuluhan yang dirancang. f. Demokrasi dalam penerapan ilmu. Penyuluh harus memberi kesempatan pada masyarakat untuk menawar setiap ilmu alternatif yang ingin diterapkan, penggunaan metode penyuluhan, dan pengambilan keputusan yang akan dilakukan masyarakat sasarannya.
  • 14.
    g. Belajar sambilbekerja. Penyuluhan harus diupayakan agar masyarakat dapat belajar sambil bekerja atau belajar dari pengalaman yang ia kerjakan. h. Penggunaan metode yang sesuai. Penyuluhan harus dilakukan dengan penerapan metode yang selalu disesuaikan dengan kondisi (lingkungan fisik, kemampuan ekonomi, dan nilai sosial budaya) sasarannya.
  • 15.
    i. Kepemimpinan. Penyuluhanharus mampu menumbuhkan dan mengembangkan kepemimpinan lokal atau memanfaatkan pemimpin lokal yang telah ada untuk membantu kegiatannya. j. Spesialis yang terlatih. Penyuluh harus benar-benar orang yang telah memperoleh latihan khusus tentang sesuatu yang sesuai dengan fungsinya sebagai penyuluh. k. Kepuasan. Penyuluhan harus mampu mewujudkan tercapainya kepuasan. Kepuasan akan sangat menentukan keikutsertaan sasaran pada program-program penyuluhan selanjutnya. l. Segenap keluarga. Penyuluhan harus memperhatikan keluarga sebagai satu kesatuan dari unit sosial.
  • 16.
    ETIKA PENYULUH • Etika,adalah tata pergaulan yang khas atau ciri-ciri perilaku yang dapat digunakan untuk mengindentifikasi, mengasosiasikan diri, dan dapat merupakan sumber motivasi untuk berkarya dan berprestasi bagi kelompok tertentu yang memilikinya.
  • 17.
    Perilaku yang perluditunjukkan atau diragakan oleh setiap penyuluh (SalmonP, 1987) adalah: • Perilaku sebagai manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman kepada Tuhan YME, jujur dan disiplin. • Perilaku sebagai anggota masyarakat, yaitu mau menghormati adat/kebiasaan masyarakatnya, menghormati pelaku utama dan pelaku usaha agribisnis dan keluarganya (apapun keadaan dan status sosial- ekonominya) dan menghormati sesama penyuluh. • Perilaku yang menunjukkan penampilannya sebagai yang andal, yaitu berkeyakinan kuat atas manfaat tugasnya, kerjanya, memiliki jiwa kerjasama yang tinggi dan berkemampuan untuk bekerja teratur.
  • 18.
    • Perilaku yangmencerminkan dinamika, yaitu ulet, mental dan semangat kerja yang tinggi, selalu berusaha mencerdaskan diri dan selalu berusaha mengkaitkan kemampuannya.
  • 19.
    Kompetensi seorang penyuluh •Kegiatan penyuluhan sebagai bagian dari tugas keprofesionalan sudah barang tentu memerlukan kualifikasi kemampuan yang terstandarkan. Karena sebagai tenaga profesional penyuluh diharuskan mempunyai keahlian yang qualified sesuai bidangnya. • Berdasarkan definisi tersebut penyuluh dituntut untuk mempunyai kemampuan dan keahlian yang memadai, dalam menjalankan pekerjaannya sebagai penyuluh.
  • 20.
    1. Kemampuan pengetahuan Kemampuanpengetahuan merupakan kemampuan dasar yang tidak boleh tidak harus ada pada setiap penyuluh. Kemampuan pengetahuan dalam hal ini menekankan kepada kemampuan seorang penyuluh dalam menguasai isi dan substansi setiap isue penyuluhan dan isue-isue pertanian lainnya yang tengah dihadapi.
  • 21.
    2. Kemampuan Andragogik Pemahamanterhadap aspek andragogi ini tidak sebatas kepada perhatian terhadap atribut kegaiatan belajar. Seperti susana belajar orang dewasa dapat dimana saja dan kapan saja. Selain aspek ruang dan waktu, salah satu kemampuan penting lainnya adalah kemampuan mengajar (teaching skill) kepada orang dewasa.
  • 22.
    3. Kemampuan kepribadian Kepribadianseorang penyuluh senantisa harus mendapatkan perhatian yang serius dalam menciptkan kinerja yang optimal. Dalam hal ini kepribadian erat kaitannya dengan cerminan etos kerja dan budaya kerja yang berkembang
  • 23.
    4. Kemampuan Sosial Kemampuanseorang penyuluh dalam memposisikan perannya sebagai fasilitator, motivator, dan inovator harus diimbangi dengan beberapa kecakapan sosial (social skill). Beberapa kemampuan sosial yang hendaknya dikuasai seorang penyuluh diantaranya; teknik komunikasi yang baik (lisan, tulisan dan isyarat), penggunaan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional, mampu melakukan pergaulan sosial secara efektif, memberikan penghargaan terhadap norma sosial yang berlaku, dan mampu menerapkan prinsip-prinsip kolektifitas yang tinggi ditengah-tengah lingkungan sosial.
  • 24.