Kelompok 6
Bryan Adam
Dalillah Qudratillah
Dara Puji Nurillahi
Dea Nanda Zizah Bahri
Mira Ranti Saptiani
Nugraha Aditama
Putri Nadia
Yesica TM Sitorus
PENDIDIKAN
MORAL
KARAKTER
P E N D I D I K A N
M O R A L
K A R A K T E R
𝓶𝓸𝓻𝓪𝓵𝓲𝓽𝓪𝓼...a
Moral berasal dari kata latin mores yang berarti adat kebiasaan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata
moral berarti “akhlak atau kesusilaan yang mengandung makna tata tertib batin atau tata tertib hati nurani y
ang menjadi pembimbing tingkah laku batin dalam hidup. moral adalah ajaran atau pedoman yang dijadika
n landasan untuk bertingkah laku dalam kehidupan agar menjadi manusia yang baik atau beraklak
Menurut Kant moralitas adalah kesesuaian sikap dan perbuatan kita dengan norma hukum ba
tiniah kita , yakni apa yang kta pandang sebagai kewajiban itu. Moralitas akan tercapai apabil
a kita menaati hukum lahiriah bukan lantaran hal itu membawa akibat yang menguntungkan
kita atau takut pada kuasa sang pemberi hukum, melainkan kita sendiri menyadari bahwa hu
kum itu merupakan kewajiban kita
pengertian moral dapat dipahami dengan mengklasifikasikannya
sebagai berikut :
1. Moral sebagai ajaran kesusilaan, berarti segala sesuatu yang berhubung
an dengan tuntutan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik dan meni
ngalkan perbuatan jelek yang bertentangan dengan ketentuan yang berla
ku dalam suatu masyarakat.
2. Moral sebagai aturan, berarti ketentuan yang digunakan oleh masyaraka
t untuk menilai perbuatan seseorang apakah termasuk baik atau buruk.
3. Moral sebagai gejala kejiwaan yang timbul dalam bentuk perbuatan, sepe
rti berani, jujur, sabar, gairah dan sebagainya.
b 𝓼𝓾𝓶𝓫𝓮𝓻 𝓶𝓸𝓻𝓪𝓵𝓲𝓽𝓪𝓼
Moralitas Bersumber Dari Hukum Negara Rousseau mengatakan bahwa sebelum manusia me
ngorganisasi dirinya kedalam masyarakat politik, tidak ada hal yang baik dan buruk. Negara
sendiri bukanlah masyarakat kodrat, melainkan hasil sosial contract, persetujuan yang sama s
ekali konvensional, yang dengan itu manusia mengorbankan sebagian hak-hak kodratnya unt
uk menyelamatkan hak-hak kodrat lainnya. Pada saat masyarakat sipil terbentuk, masyarrakat
ini memerintahkan dan melarang perbuatan- perbuatan tertentu guna tercapinya common goo
d. Dan inilah saat munculnya hal baik dan hal buruk. Jadi, tidak ada perbuatan yang baik dan
buruk menurutt hakikatnya, tetapi hanya karena diperintahkan atau dilarang oleh Negara. Jadi
, teori ini menyamakan moralitas dengan civil legality.
𝓼𝓲𝓯𝓪𝓽 𝓶𝓸𝓻𝓪𝓵𝓲𝓽𝓪𝓼c
1. Standar moral melibatkan kesalahan serius atau manfaat signifikan
2. Standar moral lebih diutamakan daripada nilai-nilai lain
3. Standar moral tidak ditentukan oleh figur otoritas
4. Standar moral memiliki sifat universal
5. Standar moral didasarkan pada pertimbangan yang tidak memihak
6. Standar moral dikaitkan dengan emosi dan kosa kata tertentu
1. Standar Moral Melibatkan Kesalahan Serius Atau Manfaat Signifikan
Standar moral berurusan dengan hal-hal yang dapat berdampak serius,
yaitu, melukai atau memberi manfaat bagi manusia. Tidak demikian h
alnya dengan banyak standar non-moral. Misalnya, mengikuti atau me
langgar beberapa peraturan bola basket mungkin penting dalam perma
inan bola basket tetapi tidak serta merta mempengaruhi kehidupan ata
u kesejahteraan seseorang.
2. Standar moral lebih diutamakan daripada nilai-nilai lain
Standar moral memiliki otoritas hegemonik. Jika standar moral menyatakan ba
hwa seseorang memiliki kewajiban moral untuk melakukan sesuatu, maka dia
seharusnya melakukan itu bahkan jika itu bertentangan dengan standar non-mo
ral lainnya, dan bahkan dengan kepentingan pribadi.
Sebagai contoh pengutamaan standar moral yaitu ketika lebih memilih menolo
ng orang yang jatuh di jalan, ketimbang ingin cepat sampai tempat tujuan tanp
a menolong orang tersebut.
3. Standar moral tidak ditentukan oleh figur otoritas
Standar moral tidak diciptakan, dibentuk, atau dihasilkan oleh badan otoritatif atau
orang-orang seperti badan legislatif negara. Idealnya, nilai-nilai ini harus dipertim
bangkan dalam proses pembuatan undang-undang. Karena itu pada prinsipnya, sta
ndar moral tidak dapat diubah atau dibatalkan oleh keputusan badan otoritatif terte
ntu.
Satu hal tentang standar-standar ini, bagaimanapun, adalah bahwa validitasnya terl
etak pada kecukupan alasan yang dianggap mendukung dan membenarkannya.
4. Standar moral memiliki sifat universal
Sederhananya, itu berarti bahwa setiap orang harus memenuhi standar
moral. Namun, agar lebih akurat, ini mensyaratkan bahwa prinsip-prin
sip moral harus berlaku bagi semua yang berada dalam situasi yang se
rupa. Jika seseorang menilai bahwa tindakan A secara moral benar unt
uk orang tertentu P, maka secara moral benar bagi siapa pun yang rele
van dengan P.
5. Standar moral didasarkan pada pertimbangan yang tidak memihak
Standar moral tidak mengevaluasi standar berdasarkan kepentingan oran
g atau kelompok tertentu, tetapi standar yang melampaui kepentingan pri
badi hingga ke sudut pandang universal di mana kepentingan masing-ma
sing orang dihitung secara tidak memihak atau setara.
6. Standar moral dikaitkan dengan emosi dan kosa kata tertentu
Preskriptifitas menunjukkan sifat praktis atau pedoman standar moral. Standar mo
ral ini secara umum diajukan sebagai perintah atau keharusan (seperti, “Jangan me
mbunuh,” “Jangan membahayakan,” dan “Cintailah sesama manusia”). Prinsip-pri
nsip ini diusulkan untuk digunakan, untuk memberi nasihat, dan untuk mempenga
ruhi tindakan.
Secara sederhana, kosa kata ini digunakan untuk mengevaluasi perilaku, untuk me
mberikan pujian dan menunjukkan kesalahan, serta untuk menghasilkan perasaan
puas atau bersalah.
𝓱𝓾𝓫𝓾𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓷𝓲𝓵𝓪𝓲,
𝓪𝓰𝓪𝓶𝓪, 𝓭𝓪𝓷 𝓶𝓸𝓻𝓪𝓵𝓲𝓽𝓪𝓼d
Agama merupakan seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia ghoib, kh
ususnya dengan Tuhan, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya dan mengatur hubungan manusia d
engan lingkungannya. Dalam agama ada suatu keyakinan yang dianut oleh manusia untuk bertindak sesuai dengan
apa yang telah diyakininya sebagai respons dari manusia dalam menginterprestasikan tentang apa yang dirasakan
kepada Tuhan. Agama sebagai sistem keyakinan yang akan mendorong atau penggerak serta pengontrol bagi kita
untuk bertindak agar berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan yang ada. Agama berkaitan erat dengan moral,
dalam kita bertindak dan menyikapi suatu kejadian kita harus bisa berpegang teguh terhadap keyakinan yang kita
miliki. Sebagai umat beragama kita percaya akan adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta ini dengan kuasa
dan kehendaknya. Untuk itu dalam menyikapi suatu kejadian kita harus bisa mengkombinasikan sikap moral kita.
Yaitu apakah perbuatan yang kita lakukan itu benar ataukah salah.
Thank you

Moralitas

  • 1.
    Kelompok 6 Bryan Adam DalillahQudratillah Dara Puji Nurillahi Dea Nanda Zizah Bahri Mira Ranti Saptiani Nugraha Aditama Putri Nadia Yesica TM Sitorus
  • 2.
    PENDIDIKAN MORAL KARAKTER P E ND I D I K A N M O R A L K A R A K T E R
  • 3.
    𝓶𝓸𝓻𝓪𝓵𝓲𝓽𝓪𝓼...a Moral berasal darikata latin mores yang berarti adat kebiasaan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata moral berarti “akhlak atau kesusilaan yang mengandung makna tata tertib batin atau tata tertib hati nurani y ang menjadi pembimbing tingkah laku batin dalam hidup. moral adalah ajaran atau pedoman yang dijadika n landasan untuk bertingkah laku dalam kehidupan agar menjadi manusia yang baik atau beraklak Menurut Kant moralitas adalah kesesuaian sikap dan perbuatan kita dengan norma hukum ba tiniah kita , yakni apa yang kta pandang sebagai kewajiban itu. Moralitas akan tercapai apabil a kita menaati hukum lahiriah bukan lantaran hal itu membawa akibat yang menguntungkan kita atau takut pada kuasa sang pemberi hukum, melainkan kita sendiri menyadari bahwa hu kum itu merupakan kewajiban kita
  • 4.
    pengertian moral dapatdipahami dengan mengklasifikasikannya sebagai berikut : 1. Moral sebagai ajaran kesusilaan, berarti segala sesuatu yang berhubung an dengan tuntutan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik dan meni ngalkan perbuatan jelek yang bertentangan dengan ketentuan yang berla ku dalam suatu masyarakat. 2. Moral sebagai aturan, berarti ketentuan yang digunakan oleh masyaraka t untuk menilai perbuatan seseorang apakah termasuk baik atau buruk. 3. Moral sebagai gejala kejiwaan yang timbul dalam bentuk perbuatan, sepe rti berani, jujur, sabar, gairah dan sebagainya.
  • 5.
    b 𝓼𝓾𝓶𝓫𝓮𝓻 𝓶𝓸𝓻𝓪𝓵𝓲𝓽𝓪𝓼 MoralitasBersumber Dari Hukum Negara Rousseau mengatakan bahwa sebelum manusia me ngorganisasi dirinya kedalam masyarakat politik, tidak ada hal yang baik dan buruk. Negara sendiri bukanlah masyarakat kodrat, melainkan hasil sosial contract, persetujuan yang sama s ekali konvensional, yang dengan itu manusia mengorbankan sebagian hak-hak kodratnya unt uk menyelamatkan hak-hak kodrat lainnya. Pada saat masyarakat sipil terbentuk, masyarrakat ini memerintahkan dan melarang perbuatan- perbuatan tertentu guna tercapinya common goo d. Dan inilah saat munculnya hal baik dan hal buruk. Jadi, tidak ada perbuatan yang baik dan buruk menurutt hakikatnya, tetapi hanya karena diperintahkan atau dilarang oleh Negara. Jadi , teori ini menyamakan moralitas dengan civil legality.
  • 6.
    𝓼𝓲𝓯𝓪𝓽 𝓶𝓸𝓻𝓪𝓵𝓲𝓽𝓪𝓼c 1. Standarmoral melibatkan kesalahan serius atau manfaat signifikan 2. Standar moral lebih diutamakan daripada nilai-nilai lain 3. Standar moral tidak ditentukan oleh figur otoritas 4. Standar moral memiliki sifat universal 5. Standar moral didasarkan pada pertimbangan yang tidak memihak 6. Standar moral dikaitkan dengan emosi dan kosa kata tertentu
  • 7.
    1. Standar MoralMelibatkan Kesalahan Serius Atau Manfaat Signifikan Standar moral berurusan dengan hal-hal yang dapat berdampak serius, yaitu, melukai atau memberi manfaat bagi manusia. Tidak demikian h alnya dengan banyak standar non-moral. Misalnya, mengikuti atau me langgar beberapa peraturan bola basket mungkin penting dalam perma inan bola basket tetapi tidak serta merta mempengaruhi kehidupan ata u kesejahteraan seseorang.
  • 8.
    2. Standar morallebih diutamakan daripada nilai-nilai lain Standar moral memiliki otoritas hegemonik. Jika standar moral menyatakan ba hwa seseorang memiliki kewajiban moral untuk melakukan sesuatu, maka dia seharusnya melakukan itu bahkan jika itu bertentangan dengan standar non-mo ral lainnya, dan bahkan dengan kepentingan pribadi. Sebagai contoh pengutamaan standar moral yaitu ketika lebih memilih menolo ng orang yang jatuh di jalan, ketimbang ingin cepat sampai tempat tujuan tanp a menolong orang tersebut.
  • 9.
    3. Standar moraltidak ditentukan oleh figur otoritas Standar moral tidak diciptakan, dibentuk, atau dihasilkan oleh badan otoritatif atau orang-orang seperti badan legislatif negara. Idealnya, nilai-nilai ini harus dipertim bangkan dalam proses pembuatan undang-undang. Karena itu pada prinsipnya, sta ndar moral tidak dapat diubah atau dibatalkan oleh keputusan badan otoritatif terte ntu. Satu hal tentang standar-standar ini, bagaimanapun, adalah bahwa validitasnya terl etak pada kecukupan alasan yang dianggap mendukung dan membenarkannya.
  • 10.
    4. Standar moralmemiliki sifat universal Sederhananya, itu berarti bahwa setiap orang harus memenuhi standar moral. Namun, agar lebih akurat, ini mensyaratkan bahwa prinsip-prin sip moral harus berlaku bagi semua yang berada dalam situasi yang se rupa. Jika seseorang menilai bahwa tindakan A secara moral benar unt uk orang tertentu P, maka secara moral benar bagi siapa pun yang rele van dengan P.
  • 11.
    5. Standar moraldidasarkan pada pertimbangan yang tidak memihak Standar moral tidak mengevaluasi standar berdasarkan kepentingan oran g atau kelompok tertentu, tetapi standar yang melampaui kepentingan pri badi hingga ke sudut pandang universal di mana kepentingan masing-ma sing orang dihitung secara tidak memihak atau setara.
  • 12.
    6. Standar moraldikaitkan dengan emosi dan kosa kata tertentu Preskriptifitas menunjukkan sifat praktis atau pedoman standar moral. Standar mo ral ini secara umum diajukan sebagai perintah atau keharusan (seperti, “Jangan me mbunuh,” “Jangan membahayakan,” dan “Cintailah sesama manusia”). Prinsip-pri nsip ini diusulkan untuk digunakan, untuk memberi nasihat, dan untuk mempenga ruhi tindakan. Secara sederhana, kosa kata ini digunakan untuk mengevaluasi perilaku, untuk me mberikan pujian dan menunjukkan kesalahan, serta untuk menghasilkan perasaan puas atau bersalah.
  • 13.
    𝓱𝓾𝓫𝓾𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓷𝓲𝓵𝓪𝓲, 𝓪𝓰𝓪𝓶𝓪,𝓭𝓪𝓷 𝓶𝓸𝓻𝓪𝓵𝓲𝓽𝓪𝓼d Agama merupakan seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia ghoib, kh ususnya dengan Tuhan, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya dan mengatur hubungan manusia d engan lingkungannya. Dalam agama ada suatu keyakinan yang dianut oleh manusia untuk bertindak sesuai dengan apa yang telah diyakininya sebagai respons dari manusia dalam menginterprestasikan tentang apa yang dirasakan kepada Tuhan. Agama sebagai sistem keyakinan yang akan mendorong atau penggerak serta pengontrol bagi kita untuk bertindak agar berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan yang ada. Agama berkaitan erat dengan moral, dalam kita bertindak dan menyikapi suatu kejadian kita harus bisa berpegang teguh terhadap keyakinan yang kita miliki. Sebagai umat beragama kita percaya akan adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta ini dengan kuasa dan kehendaknya. Untuk itu dalam menyikapi suatu kejadian kita harus bisa mengkombinasikan sikap moral kita. Yaitu apakah perbuatan yang kita lakukan itu benar ataukah salah.
  • 14.