modul 03
Dasar Pemodelan
Modul Pemodelan Sistem
1
What is MODEL ?
 A simpler representation or formalization of a real system in a particular
language, symbol or form that represents the characteristics and
behavior of the system according to the point of view and the
knowledge base of the modeler in the purpose of studying the system.
 Graphical, mathematical (symbolic), physical, or verbal representation
or simplified version of a concept, phenomenon, relationship, structure,
system, or an aspect of the real world. The objectives of a model
include (1) to facilitate understanding by eliminating unnecessary
components, (2) to aid in decision making by simulating 'what if'
scenarios, (3) to explain, control, and predict events on the basis of past
observations. Since most objects and phenomenon are very
complicated (have numerous parts) and much too complex (parts have
dense interconnections) to be comprehended in their entirety, a model
contains only those features that are of primary importance to the model
maker's purpose.
(http://www.businessdictionary.com/definition/)
What is MODEL ?
 A description or analogy used to help visualize something (such as an
atom) that cannot be directly observed (https://www.merriam-
webster.com/dictionary/)
 A simplified description, especially a mathematical one, of a system or
process, to assist calculations and predictions.
(https://en.oxforddictionaries.com/definition/)
 Something that represents another thing, either as a physical object that
is usually smaller than the real object, or as a simple description that
can be used in calculations
(http://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/)
Definisi Model
Suatu representasi atau formalisasi suatu
sistem nyata dalam bahasa, simbol atau
bentuk tertentu yang mewakili karakteristik
dan perilaku sistem sesuai sudut pandang dan
dasar pengetahuan pemodel dalam tujuan
mempelajari sistem
4
Definisi Model
5
MODEL
Sistem
Nyata
Latar belakang Pemodelan
Sistem nyata terlalu kompleks
Sistem nyata masih dalam bentuk hipotesis
Tidak memungkinkan untuk melakukan
eksperimen secara langsung
Model merupakan representasi ideal dari suatu
sistem untuk menjelaskan perilaku sistem karena
mampu menunjukan elemen-elemen terpenting
dari sistem.
Modifikasi dan verifikasi terhadap model lebih
mudah dan murah dibandingkan bila diterapkan
pada sistem nyata
6
Kriteria Model
Mengandung semua variabel penting yang relevan
Model merupakan representasi penyederhanaan dari
sistem. Sehingga untuk membuat model, variabel-variabel
penting haruslah terkandung di dalamnya, agar
representatif. Namun variabel-variabel yang kurang
penting tidak perlu dimasukkan, agar model menjadi
sederhana
Cukup sederhana
Model yang terlalu mendetail, semakin membuat
penyelesaian permasalahan lebih luas dan lebih rumit.
Namun kalau terlalu sederhana berakibat model kurang
representatif.
7
Kriteria Model
Memudahkan pengertian sistem
Model yang baik dapat menggambarkan apa saja yang
berada dalam sistem, bagaimana perilaku sistem, serta
mengapa dan untuk apa proses dalam sistem itu terjadi.
Mengembangkan alternatif keputusan yang dapat
diambil
Adanya pengembangan model di mana terdapat variabel
kontrol yang dapat dikendalikan oleh pemakai,
memungkinkan dilakukan eksperimen pada model untuk
mendapatkan sistem yang optimal sebelum diterapkan.
8
Kriteria Model
Tingkat generalisasi yang tinggi
Suatu model jika memiliki tingkat generalisasi yang
semakin tinggi, memungkinkan model untuk
menyelesaikan permasalahan yang lebih luas.
Mekanisme transparansi
Model yang menerangkan bagaimana perilaku sistem
yang ditunjukkan oleh elemen-elemen penyusunnya yang
saling berinteraksi di dalam sistem maupun dengan
lingkungannya, akan memberikan gambaran yang
menjelaskan bagaimana mekanisme model dalam
menyelesaikan permasalahan.
9
Kriteria Model
Potensial untuk dikembangkan
Model yang representatif dan telah teruji, mengundang
untuk dikembangkan pada permasalahan yang lebih
kompleks pada tingkat generalisasi yang lebih tinggi atau
sistem yang lebih besar.
Peka terhadap perubahan asumsi
Model yang mempunyai variabel umpan balik yang baik,
pastilah mampu untuk menyelesaikan permasalahan jika
terdapat perubahan asumsi.
10
Klasifikasi Model (Fungsi)
Berdasarkan Fungsi
Model Deskriptif
Model yang memberikan gambaran dari sistem nyata.
Model Prediktif
Model yang menunjukkan hubungan kausal dari interaksi
elemen-elemennya, sehingga dapat memberikan
perkiraan yang diramalkan akan terjadi jika salah satu
elemen diubah dengan variabel kontrol.
Model Normatif
Model yang merekomendasikan solusi penyelesaian
permasalahan dari beberapa alternatif yang ada.
11
12
Klasifikasi Model (Struktur)
Model Ikonis
Model yang menggambarkan sistem nyata dengan skala
yang berbeda.
•Model Skala
Model yang merepresentasikan dengan skala lebih kecil atau lebih
besar.
•Model Piktorial
Model yang merepresentasikan dengan gambar atau foto 2D/3D
•Model Prototype
Model yang merepresentasikan dengan elemen belum lengkap
(elemen penting saja)
13
14
15
16
Klasifikasi Model (Struktur)
Model Analog
Model yang mensubtitusikan elemen dan proses dari sistem nyata
dengan hal yang mempunyai kesamaan.
•Analogi personifikasi
Analogi yang dilakukan, di mana pemodel berperan sebagai pembuat
keputusan dan atau sebagai salah satu elemen dalam sistem.
•Analogi langsung
Analogi pada sistem lain yang sama.
•Analogi subtitusi
Analogi pada sistem berbeda yang mempunyai kemiripan perilaku
sistem yaitu yang mempunyai interaksi dan fungsi elemen sistem mirip.
•Analogi fantasi
Analogi secara bebas berdasarkan logika pemodel.
17
18
19
20
Klasifikasi Model (Struktur)
Model Verbal
Model yang merepresentasikan dengan
menggunakan bahasa
•Model Narasi
Model yang merepresentasikan dalam untaian kalimat
untuk mendeskripsikan.
•Model Hirarki
Model yang merepresentasikan dalam poin-poin
bahasan dan sub bahasan.
21
Klasifikasi Model (Struktur)
Model Simbolik
Model yang menggunakan simbol untuk menerangkan
fungsi perilaku sistem nyata.
•Model Skematik
Model yang merepresentasikan dengan menggambarkan kembali
dalam bentuk skema atau peta
•Model Simbolik
Model yang merepresentasikan dengan simbol, lambang, tanda
atau rambu
•Model Grafik
Model yang merepresentasikan dengan grafik atau diagram
22
23
Klasifikasi Model (Struktur)
Model Matematis
Model yang menggunakan formulasi matematis
(persamaan atau pertidaksamaan) untuk menerangkan
fungsi perilaku sistem nyata.
•Model Analitis
Model yang merepresentasikan dengan formulasi matematis untuk
menerangkan fungsi perilaku sistem pada kondisi (waktu) tertentu.
•Model Simulasi
Model yang merepresentasikan dengan formulasi matematis untuk
menerangkan fungsi perilaku sistem pada beberapa kondisi (waktu)
secara diskrit maupun kontinyu.
24
Prinsip Pemodelan
Elaborasi
Model dikembangkan mulai dari yang sederhana
dan kemudian secara bertahap dielaborasi hingga
diperoleh model yang lebih representatif.
Penggunaan asumsi dalam model harus
memenuhi persyaratan konsistensi,
independensi, ekuivalensi dan relevansi.
25
Prinsip Pemodelan
Iteratif
Mengembangkan model tidak dapat dilakukan
secara mekanistik dan linear. Melainkan
dilakukan pengembangan melalui pengulangan
dan peninjauan ulang secara iteratif. Proses
iteratif diawali dari model awal berdasarkan
dugaan atau hipotesa, kemudian dikembangkan
secara bertahap, hingga dicapai tingkat
kompleksitas representatif yang diharapkan.
26
Prinsip Pemodelan
Sinektik
Mengembangkan model dapat dilakukan secara
sinektik, yaitu metode pendekatan sistem dengan
menganalogkan permasalahan yang ada. Dengan
begitu model lebih mudah dikenal dan dipahami,
karena mengadopsi dari prinsip-prinsip, hukum,
teori, aksioma dan dalil yang sudah ada dan
memiliki kemiripan identik.
27
Batasan dan Asumsi Model
Batasan memberikan rambu-rambu lingkup
sistem yang dimodelkan dan cara pandang
pemodel pada sistem
Asumsi menunjukkan elemen-elemen
sistem yang diabaikan pemodel karena
dianggap tidak krusial dengan
kepentingannya dalam mempelajari sistem
28
29
Stake Holder dari pemodelan
30
System
Owner
System
User
System
Customer
System
Analyst
Stake Holder dari pemodelan
System owner : pihak yang memegang
otoritas membuat keputusan
System user : pihak yang melaksanakan
keputusan
System customer : pihak yang merasakan
dampak terlaksananya keputusan
System analyst : pihak yang mempelajari
sistem dan mengembangkan model
31
Kreativitas Individu & Tim
32
Individual
creativity
Team
creativity
Mental
(assertiveness, attitude,
& confidence)
Morale
(beliefs & culture)
Mind
(knowledge & experience)
Debate
(arguing & convincing
others)
Discussion
(analyse & achieve
agreement)
Dialogue
(explore each other’s
understanding)
Iluminasi dalam kreativitas
33
Subyektivitas Model
Kepentingan dalam tujuan mempelajari
sistem
Sudut pandang dan cara pandang pribadi
pemodel
Faktor personal meliputi budaya, kehidupan
sosial, pendidikan, pengalaman dan
keyakinan
Referensi pengetahuan sebelumnya dalam
memodelkan sistem serupa
34
Subyektivitas Model
35
Subyektivitas Model
Systems thinking is not a matter of black
and white, but of shades of grey
36
Bias Pemodelan
37
Apa yang “tampak”
(dari sudut pandang
pemodel) mungkin
hanya sebagian kecil
dibandingkan apa
yang “tersembunyi”
(karena ketidaktahuan
dan kelalaian
pemodel)
Bias Pemodelan
38
Penalaran mungkin
“bertentangan”
dengan konsep dan
prinsip sistem sebagai
satu kesatuan, karena
mengabaikan sudut
pandang stake holder
lainnya
Bias Pemodelan
39
Permasalahan Model
Efisiensi dan efektivitas.
Pengembangan model biasanya dilatar-belakangi oleh
adanya masalah pengambilan keputusan. Bagi pembuat
keputusan, efisiensi biasanya menjadi tujuan utama.
Model yang dibangun biasanya berhasil menyelesaikan
permasalahan dalam jangka pendek. Hal ini karena
mengabaikan efektivitas, serta model yang dibangun
mempunyai batasan sistem dan tidak menjelaskan sistem
yang lebih besar, sehingga model yang dibangun tidak
adaptif.
40
Permasalahan Model
Keluaran yang tak terduga.
Komponen-komponen yang membangun model tidak
selengkap di dalam sistem sebenarnya. Akibatnya
interaksi komponen-komponen yang seharusnya ada di
dalam sistem tidak diketahui. Sehingga adakalanya
muncul keluaran yang tidak diperkirakan (unplanned), dan
bahkan terkadang keluaran juga tidak sesuai dengan
dugaan dan intuisi (counterintuitive).
41
Permasalahan Model
Model cacat.
Sistem yang kompleks, menyebabkan pemodel mencoba
untuk menyederhanakannya dengan memecah
permasalahan menjadi beberapa komponen yang lebih
kecil. Dan karena interaksi antar komponen tersebut
diabaikan, maka model pun menjadi cacat, di mana
keluaran dari model-model komponen tersebut ternyata
tidak mampu menjelaskan bagaimana seharusnya
keluaran dari sistem keseluruhan.
42
Permasalahan Model
Interaksi sebab-akibat dari komponen satu terhadap
komponen yang lain, menjadi dasar beberapa pemodel
untuk menjelaskan interaksi antar komponen dalam
sistem. Namun karena melupakan sebagian komponen
lain yang mungkin merupakan faktor penyebab, yang
mungkin juga merupakan umpan balik, menyebabkan
model cacat, dan keluaran yang diperoleh menyimpang
dari yang diduga.
43
Perangkap Pemodelan
Terdapat elemen-elemen sistem yang tidak
masuk dalam model.
Terdapat interaksi antar elemen yang belum
termuat dalam model.
Batasan model yang terlalu sempit
Perbedaan antara asumsi model dengan
yang terjadi di sistem nyata
44
Pikiran Terbuka Tapi Tetap Fokus
45
Hal-hal yang perlu diingat
Pemodelan bukanlah langkah akhir, melainkan alat
yang membantu dalam menyelesaikan masalah di
dunia nyata.
Pemahaman masalah haruslah tepat untuk
menghindarkan hasil pemodelan yang bernilai
terbatas.
Pemodelan hanya penyederhanaan dari
permasalahan yang sebenarnya. Model tidak sama
persis dengan masalah nyata, karena masih
terdapat hal-hal yang belum tercakup pada model.
46
Hal-hal yang perlu diingat
Karakteristik sistem yang dimodelkan sebaiknya
memperhatikan tujuan penyelesaian masalah yang
akan diraih.
Karakteristik sistem sebaiknya menjelaskan
interaksi elemen-elemennya, meliputi pula
hubungan kausalnya (sebab-akibat)
Formulasi matematis menunjukkan fungsi interaksi
dari variabel bebasnya. Dan telah teruji validasinya
dengan baik.
Model matematis mampu mendeteksi adanya
kejadian anomali yang mungkin terjadi.
47
Hal-hal yang perlu diingat
Estimator yang digunakan sebaiknya konsisten
Desain eksperimen yang dibuat mampu
menjelaskan informasi yang dibutuhkan secara
keseluruhan tanpa memberikan informasi baru
yang tidak mampu dijelaskan model.
Hasil analisa matematis mampu diinterpretasikan
secara benar.
Pemilihan kriteria uji validasi yang tepat.
Dapat membandingkan hasil penyelesaian dari
model dengan hasil optimal yang bisa diperoleh di
sistem nyata.
48
Hal-hal yang perlu diingat
Memilih model yang paling mewakili sistem nyata,
bukanlah memaksakan model tertentu untuk
menyelesaikan masalah.
Mampu memperbaiki model jika terdapat
penyimpangan
Model matematis yang dibuat sebaiknya
sederhana namun mampu merepresentasikan
sistem sebenarnya.
49
Hal-hal yang perlu diingat
Keterbatasan seseorang menyebabkan model
yang dibuat kurang bisa berkembang. Dengan
dilakukan oleh beberapa orang maka pemodelan
akan lebih baik.
Model cukup menjelaskan hal-hal yang penting,
sedangkan hal-hal lain yang ada dalam sistem
dapat diasumsikan.
Asumsi dan batasan sistem haruslah terjelaskan.
50
End of Slides ...
Modul Pemodelan Sistem
51

Modul 03 Dasar Pemodelan

  • 1.
  • 2.
    What is MODEL?  A simpler representation or formalization of a real system in a particular language, symbol or form that represents the characteristics and behavior of the system according to the point of view and the knowledge base of the modeler in the purpose of studying the system.  Graphical, mathematical (symbolic), physical, or verbal representation or simplified version of a concept, phenomenon, relationship, structure, system, or an aspect of the real world. The objectives of a model include (1) to facilitate understanding by eliminating unnecessary components, (2) to aid in decision making by simulating 'what if' scenarios, (3) to explain, control, and predict events on the basis of past observations. Since most objects and phenomenon are very complicated (have numerous parts) and much too complex (parts have dense interconnections) to be comprehended in their entirety, a model contains only those features that are of primary importance to the model maker's purpose. (http://www.businessdictionary.com/definition/)
  • 3.
    What is MODEL?  A description or analogy used to help visualize something (such as an atom) that cannot be directly observed (https://www.merriam- webster.com/dictionary/)  A simplified description, especially a mathematical one, of a system or process, to assist calculations and predictions. (https://en.oxforddictionaries.com/definition/)  Something that represents another thing, either as a physical object that is usually smaller than the real object, or as a simple description that can be used in calculations (http://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/)
  • 4.
    Definisi Model Suatu representasiatau formalisasi suatu sistem nyata dalam bahasa, simbol atau bentuk tertentu yang mewakili karakteristik dan perilaku sistem sesuai sudut pandang dan dasar pengetahuan pemodel dalam tujuan mempelajari sistem 4
  • 5.
  • 6.
    Latar belakang Pemodelan Sistemnyata terlalu kompleks Sistem nyata masih dalam bentuk hipotesis Tidak memungkinkan untuk melakukan eksperimen secara langsung Model merupakan representasi ideal dari suatu sistem untuk menjelaskan perilaku sistem karena mampu menunjukan elemen-elemen terpenting dari sistem. Modifikasi dan verifikasi terhadap model lebih mudah dan murah dibandingkan bila diterapkan pada sistem nyata 6
  • 7.
    Kriteria Model Mengandung semuavariabel penting yang relevan Model merupakan representasi penyederhanaan dari sistem. Sehingga untuk membuat model, variabel-variabel penting haruslah terkandung di dalamnya, agar representatif. Namun variabel-variabel yang kurang penting tidak perlu dimasukkan, agar model menjadi sederhana Cukup sederhana Model yang terlalu mendetail, semakin membuat penyelesaian permasalahan lebih luas dan lebih rumit. Namun kalau terlalu sederhana berakibat model kurang representatif. 7
  • 8.
    Kriteria Model Memudahkan pengertiansistem Model yang baik dapat menggambarkan apa saja yang berada dalam sistem, bagaimana perilaku sistem, serta mengapa dan untuk apa proses dalam sistem itu terjadi. Mengembangkan alternatif keputusan yang dapat diambil Adanya pengembangan model di mana terdapat variabel kontrol yang dapat dikendalikan oleh pemakai, memungkinkan dilakukan eksperimen pada model untuk mendapatkan sistem yang optimal sebelum diterapkan. 8
  • 9.
    Kriteria Model Tingkat generalisasiyang tinggi Suatu model jika memiliki tingkat generalisasi yang semakin tinggi, memungkinkan model untuk menyelesaikan permasalahan yang lebih luas. Mekanisme transparansi Model yang menerangkan bagaimana perilaku sistem yang ditunjukkan oleh elemen-elemen penyusunnya yang saling berinteraksi di dalam sistem maupun dengan lingkungannya, akan memberikan gambaran yang menjelaskan bagaimana mekanisme model dalam menyelesaikan permasalahan. 9
  • 10.
    Kriteria Model Potensial untukdikembangkan Model yang representatif dan telah teruji, mengundang untuk dikembangkan pada permasalahan yang lebih kompleks pada tingkat generalisasi yang lebih tinggi atau sistem yang lebih besar. Peka terhadap perubahan asumsi Model yang mempunyai variabel umpan balik yang baik, pastilah mampu untuk menyelesaikan permasalahan jika terdapat perubahan asumsi. 10
  • 11.
    Klasifikasi Model (Fungsi) BerdasarkanFungsi Model Deskriptif Model yang memberikan gambaran dari sistem nyata. Model Prediktif Model yang menunjukkan hubungan kausal dari interaksi elemen-elemennya, sehingga dapat memberikan perkiraan yang diramalkan akan terjadi jika salah satu elemen diubah dengan variabel kontrol. Model Normatif Model yang merekomendasikan solusi penyelesaian permasalahan dari beberapa alternatif yang ada. 11
  • 12.
  • 13.
    Klasifikasi Model (Struktur) ModelIkonis Model yang menggambarkan sistem nyata dengan skala yang berbeda. •Model Skala Model yang merepresentasikan dengan skala lebih kecil atau lebih besar. •Model Piktorial Model yang merepresentasikan dengan gambar atau foto 2D/3D •Model Prototype Model yang merepresentasikan dengan elemen belum lengkap (elemen penting saja) 13
  • 14.
  • 15.
  • 16.
  • 17.
    Klasifikasi Model (Struktur) ModelAnalog Model yang mensubtitusikan elemen dan proses dari sistem nyata dengan hal yang mempunyai kesamaan. •Analogi personifikasi Analogi yang dilakukan, di mana pemodel berperan sebagai pembuat keputusan dan atau sebagai salah satu elemen dalam sistem. •Analogi langsung Analogi pada sistem lain yang sama. •Analogi subtitusi Analogi pada sistem berbeda yang mempunyai kemiripan perilaku sistem yaitu yang mempunyai interaksi dan fungsi elemen sistem mirip. •Analogi fantasi Analogi secara bebas berdasarkan logika pemodel. 17
  • 18.
  • 19.
  • 20.
  • 21.
    Klasifikasi Model (Struktur) ModelVerbal Model yang merepresentasikan dengan menggunakan bahasa •Model Narasi Model yang merepresentasikan dalam untaian kalimat untuk mendeskripsikan. •Model Hirarki Model yang merepresentasikan dalam poin-poin bahasan dan sub bahasan. 21
  • 22.
    Klasifikasi Model (Struktur) ModelSimbolik Model yang menggunakan simbol untuk menerangkan fungsi perilaku sistem nyata. •Model Skematik Model yang merepresentasikan dengan menggambarkan kembali dalam bentuk skema atau peta •Model Simbolik Model yang merepresentasikan dengan simbol, lambang, tanda atau rambu •Model Grafik Model yang merepresentasikan dengan grafik atau diagram 22
  • 23.
  • 24.
    Klasifikasi Model (Struktur) ModelMatematis Model yang menggunakan formulasi matematis (persamaan atau pertidaksamaan) untuk menerangkan fungsi perilaku sistem nyata. •Model Analitis Model yang merepresentasikan dengan formulasi matematis untuk menerangkan fungsi perilaku sistem pada kondisi (waktu) tertentu. •Model Simulasi Model yang merepresentasikan dengan formulasi matematis untuk menerangkan fungsi perilaku sistem pada beberapa kondisi (waktu) secara diskrit maupun kontinyu. 24
  • 25.
    Prinsip Pemodelan Elaborasi Model dikembangkanmulai dari yang sederhana dan kemudian secara bertahap dielaborasi hingga diperoleh model yang lebih representatif. Penggunaan asumsi dalam model harus memenuhi persyaratan konsistensi, independensi, ekuivalensi dan relevansi. 25
  • 26.
    Prinsip Pemodelan Iteratif Mengembangkan modeltidak dapat dilakukan secara mekanistik dan linear. Melainkan dilakukan pengembangan melalui pengulangan dan peninjauan ulang secara iteratif. Proses iteratif diawali dari model awal berdasarkan dugaan atau hipotesa, kemudian dikembangkan secara bertahap, hingga dicapai tingkat kompleksitas representatif yang diharapkan. 26
  • 27.
    Prinsip Pemodelan Sinektik Mengembangkan modeldapat dilakukan secara sinektik, yaitu metode pendekatan sistem dengan menganalogkan permasalahan yang ada. Dengan begitu model lebih mudah dikenal dan dipahami, karena mengadopsi dari prinsip-prinsip, hukum, teori, aksioma dan dalil yang sudah ada dan memiliki kemiripan identik. 27
  • 28.
    Batasan dan AsumsiModel Batasan memberikan rambu-rambu lingkup sistem yang dimodelkan dan cara pandang pemodel pada sistem Asumsi menunjukkan elemen-elemen sistem yang diabaikan pemodel karena dianggap tidak krusial dengan kepentingannya dalam mempelajari sistem 28
  • 29.
  • 30.
    Stake Holder daripemodelan 30 System Owner System User System Customer System Analyst
  • 31.
    Stake Holder daripemodelan System owner : pihak yang memegang otoritas membuat keputusan System user : pihak yang melaksanakan keputusan System customer : pihak yang merasakan dampak terlaksananya keputusan System analyst : pihak yang mempelajari sistem dan mengembangkan model 31
  • 32.
    Kreativitas Individu &Tim 32 Individual creativity Team creativity Mental (assertiveness, attitude, & confidence) Morale (beliefs & culture) Mind (knowledge & experience) Debate (arguing & convincing others) Discussion (analyse & achieve agreement) Dialogue (explore each other’s understanding)
  • 33.
  • 34.
    Subyektivitas Model Kepentingan dalamtujuan mempelajari sistem Sudut pandang dan cara pandang pribadi pemodel Faktor personal meliputi budaya, kehidupan sosial, pendidikan, pengalaman dan keyakinan Referensi pengetahuan sebelumnya dalam memodelkan sistem serupa 34
  • 35.
  • 36.
    Subyektivitas Model Systems thinkingis not a matter of black and white, but of shades of grey 36
  • 37.
    Bias Pemodelan 37 Apa yang“tampak” (dari sudut pandang pemodel) mungkin hanya sebagian kecil dibandingkan apa yang “tersembunyi” (karena ketidaktahuan dan kelalaian pemodel)
  • 38.
    Bias Pemodelan 38 Penalaran mungkin “bertentangan” dengankonsep dan prinsip sistem sebagai satu kesatuan, karena mengabaikan sudut pandang stake holder lainnya
  • 39.
  • 40.
    Permasalahan Model Efisiensi danefektivitas. Pengembangan model biasanya dilatar-belakangi oleh adanya masalah pengambilan keputusan. Bagi pembuat keputusan, efisiensi biasanya menjadi tujuan utama. Model yang dibangun biasanya berhasil menyelesaikan permasalahan dalam jangka pendek. Hal ini karena mengabaikan efektivitas, serta model yang dibangun mempunyai batasan sistem dan tidak menjelaskan sistem yang lebih besar, sehingga model yang dibangun tidak adaptif. 40
  • 41.
    Permasalahan Model Keluaran yangtak terduga. Komponen-komponen yang membangun model tidak selengkap di dalam sistem sebenarnya. Akibatnya interaksi komponen-komponen yang seharusnya ada di dalam sistem tidak diketahui. Sehingga adakalanya muncul keluaran yang tidak diperkirakan (unplanned), dan bahkan terkadang keluaran juga tidak sesuai dengan dugaan dan intuisi (counterintuitive). 41
  • 42.
    Permasalahan Model Model cacat. Sistemyang kompleks, menyebabkan pemodel mencoba untuk menyederhanakannya dengan memecah permasalahan menjadi beberapa komponen yang lebih kecil. Dan karena interaksi antar komponen tersebut diabaikan, maka model pun menjadi cacat, di mana keluaran dari model-model komponen tersebut ternyata tidak mampu menjelaskan bagaimana seharusnya keluaran dari sistem keseluruhan. 42
  • 43.
    Permasalahan Model Interaksi sebab-akibatdari komponen satu terhadap komponen yang lain, menjadi dasar beberapa pemodel untuk menjelaskan interaksi antar komponen dalam sistem. Namun karena melupakan sebagian komponen lain yang mungkin merupakan faktor penyebab, yang mungkin juga merupakan umpan balik, menyebabkan model cacat, dan keluaran yang diperoleh menyimpang dari yang diduga. 43
  • 44.
    Perangkap Pemodelan Terdapat elemen-elemensistem yang tidak masuk dalam model. Terdapat interaksi antar elemen yang belum termuat dalam model. Batasan model yang terlalu sempit Perbedaan antara asumsi model dengan yang terjadi di sistem nyata 44
  • 45.
    Pikiran Terbuka TapiTetap Fokus 45
  • 46.
    Hal-hal yang perludiingat Pemodelan bukanlah langkah akhir, melainkan alat yang membantu dalam menyelesaikan masalah di dunia nyata. Pemahaman masalah haruslah tepat untuk menghindarkan hasil pemodelan yang bernilai terbatas. Pemodelan hanya penyederhanaan dari permasalahan yang sebenarnya. Model tidak sama persis dengan masalah nyata, karena masih terdapat hal-hal yang belum tercakup pada model. 46
  • 47.
    Hal-hal yang perludiingat Karakteristik sistem yang dimodelkan sebaiknya memperhatikan tujuan penyelesaian masalah yang akan diraih. Karakteristik sistem sebaiknya menjelaskan interaksi elemen-elemennya, meliputi pula hubungan kausalnya (sebab-akibat) Formulasi matematis menunjukkan fungsi interaksi dari variabel bebasnya. Dan telah teruji validasinya dengan baik. Model matematis mampu mendeteksi adanya kejadian anomali yang mungkin terjadi. 47
  • 48.
    Hal-hal yang perludiingat Estimator yang digunakan sebaiknya konsisten Desain eksperimen yang dibuat mampu menjelaskan informasi yang dibutuhkan secara keseluruhan tanpa memberikan informasi baru yang tidak mampu dijelaskan model. Hasil analisa matematis mampu diinterpretasikan secara benar. Pemilihan kriteria uji validasi yang tepat. Dapat membandingkan hasil penyelesaian dari model dengan hasil optimal yang bisa diperoleh di sistem nyata. 48
  • 49.
    Hal-hal yang perludiingat Memilih model yang paling mewakili sistem nyata, bukanlah memaksakan model tertentu untuk menyelesaikan masalah. Mampu memperbaiki model jika terdapat penyimpangan Model matematis yang dibuat sebaiknya sederhana namun mampu merepresentasikan sistem sebenarnya. 49
  • 50.
    Hal-hal yang perludiingat Keterbatasan seseorang menyebabkan model yang dibuat kurang bisa berkembang. Dengan dilakukan oleh beberapa orang maka pemodelan akan lebih baik. Model cukup menjelaskan hal-hal yang penting, sedangkan hal-hal lain yang ada dalam sistem dapat diasumsikan. Asumsi dan batasan sistem haruslah terjelaskan. 50
  • 51.
    End of Slides... Modul Pemodelan Sistem 51