Uji Hipotesa
RATA-RATA
SATU & DUA SAMPEL
ARIF RAHMAN
1
Statistika
Statistika adalah cabang ilmu matematika yang
mempelajari metode ilmiah untuk mengumpulkan,
mengorganisasi, merangkum, menyederhanakan,
menyajikan, menginterpretasikan, menganalisa dan
mensintesa data (numerik atau nonnumerik) untuk
menghasilkan informasi dan/atau kesimpulan, yang
membantu dalam penyelesaian masalah dan/atau
pengambilan keputusan.
2
Statistika
3
Mengorganisasi,
Merangkum,
Menyederhanakan,
Menyajikan,
Menginterpretasikan
Menganalisa
Mensintesa
Mengumpulkan data
Menghasilkan informasi dan/atau kesimpulan
Menggeneralisasi
Mengestimasi,
Menguji hipotesa,
Menilai relasi,
Memprediksi
Menyelesaikan masalah Mengambil keputusan
Statistika Inferensia
Statistika inferensia adalah cabang statistika yang
menganalisa atau mensintesa data untuk
menggeneralisasi sampel terhadap populasi,
mengestimasi parameter, menguji hipotesa, menilai
relasi, dan membuat prediksi untuk menghasilkan
informasi dan/atau kesimpulan.
Terdapat banyak alat bantu statistika (statistical tools)
yang dapat dipergunakan untuk menginferensi
populasi atau sistem yang menjadi sumber asal data
sampel
4
Statistika Inferensia
5
Tujuan studi terhadap populasi Observasi atau eksperimen pada sampel
SAMPLING
INFERENSI
Parameter :
N (banyaknya anggota populasi),
μ (rata-rata populasi),
σ (simpangan baku populasi),
π (proporsi populasi)
Statistik :
n (banyaknya anggota sampel),
ẋ (rata-rata sampel),
s (simpangan baku sampel),
p (proporsi sampel)
Tipe Data
Data Nominal, data yang hanya berupa simbol (meski berupa
angka) untuk membedakan nilainya tanpa menunjukkan tingkatan
Data Ordinal, data yang mempunyai nilai untuk menunjukkan
tingkatan, namun tanpa skala yang baku dan jelas antar tingkatan.
Data Interval, data yang mempunyai nilai untuk menunjukkan
tingkatan dengan skala tertentu sesuai intervalnya. Nilai nol hanya
untuk menunjukkan titik acuan (baseline).
Data Rasio, data yang mempunyai nilai untuk menunjukkan
tingkatan dengan skala indikasi rasio perbandingan. Nilai nol
menunjukkan titik asal (origin) yang bernilai kosong (null).
6
Tipe Data
Data Parametrik, data kuantitatif yang mempunyai
sebaran variabel acak mengikuti pola distribusi
probabilitas dengan parameter tertentu (independent
and identically distributed random variables)
Data Nonparametrik, data yang tidak mempunyai
distribusi probabilitas (distribution-free)
7
Tipe Data
Data Diskrit, data hasil pencacahan atau
penghitungan, sehingga biasanya dalam angka
bilangan bulat.
Data Kontinyu, data hasil pengukuran yang
memungkinkan dalam angka bilangan nyata
(meskipun dapat pula dibulatkan)
8
Statistika Alat Bantu Problem Solving
9
Penting memperhatikan
cara memperoleh
data yang akan diolah
Demikian pula
cara mengolah data
juga penting diperhatikan
Statistika Alat Bantu Problem Solving
10
Metode statistika bukan
ramuan sihir
Alat statistika bukan
tongkat sihir
Ketelitian &
Tipe Kesalahan
11
Akurasi dan Presisi
Akurasi (accuracy), kesesuaian hasil pengukuran
terhadap nilai obyek sesungguhnya (bias kecil)
Presisi (precision), tingkat skala ketelitian
pengukuran dari alat pengukur, atau ketersebaran
yang relatif mengumpul (variansi atau deviasi kecil)
12
Akurat dan Presisi
Tidak presisi, akibat pola sebaran sampel
lebih melebar daripada pola sebaran
populasi menyebabkan deviasi yang besar.
Tidak akurat, akibat pergeseran
pemusatan sampel menjauh dari
pemusatan populasi menyebabkan bias
yang besar.
Akurat dan presisi, bias dan deviasi kecil,
membutuhkan sampel sedikit.
13
Kesalahan Pengambilan Kesimpulan
Galat tipe 1 () : kesalahan menyimpulkan karena
menolak hipotesa yang semestinya diterima
Galat tipe 2 () : kesalahan menyimpulkan karena
menerima hipotesa yang semestinya ditolak
14
 
Kesalahan Pengambilan Kesimpulan
15
The true state of nature
Decision H0 is true H0 is false
Reject H0 Type I error Exact decision
Fail to reject H0 Exact decision Type II error
The true state of nature
Decision H0 is true H0 is false
Reject H0  1 – 
Fail to reject H0 1 –  
Ukuran Ketelitian Pendugaan
Tingkat keberartian (significance level, ), probabilitas
penolakan data observasi, karena menyimpang signifikan terhadap
sasaran.
Tingkat kepercayaan (confidence coefficient,1-), persentase
data observasi yang diyakini tidak berbeda signifikan dengan target.
Kuasa statistik (power,1-), persentase data observasi yang
diyakini berbeda signifikan dengan target.
Derajat kebebasan (degree of freedom, df=n-k), besaran
yang menunjukkan bebas terhadap bias dari n data observasi.
16
Contoh
17
Contoh
18
Contoh
19
Contoh
20
Contoh
21
Contoh
22
Prinsip Dasar
Pengujian Hipotesa
23
Hipotesa
Hipotesa adalah pernyataan sebuah pendugaan (presumption),
anggapan (claim), pemikiran (postulate), penegasan (assertion), atau
penerkaan (conjecture), yang mungkin benar atau salah, mengenai
data dan statistik dari satu atau lebih sampel yang berkenaan dengan
parameter dari satu atau lebih populasi
Hipotesa berkaitan dengan
 Evaluasi keputusan
 Analisa data observasi atau eksperimen
 Prediksi statistik
 Estimasi parameter
 Pengujian
 Komparasi perbandingan
24
Hipotesa
Hipotesa statistik diformulasikan dalam dua bentuk,
yaitu :
Hipotesa nol (null hypothesis), dinotasikan Ho (dibaca “H-naught”)
dengan format persamaan atau menggunakan tanda baca “=“
Hipotesa alternatif (alternative hypothesis), dinotasikan H1 (dibaca
“H-one”) dengan format pertidaksamaan.
Dua arah (two tail) menggunakan tanda baca “”
Satu arah (one tail) menggunakan tanda baca “<“ atau “>”
25
Pengujian Hipotesa
Pengujian hipotesa (hypothesis testing) adalah
prosedur menggunakan informasi dalam sampel acak dari
sebuah populasi dan probabilitasnya (termasuk distribusinya)
melalui pengujian statistik untuk membentuk keputusan atau
kesimpulan secara induksi atau inferensia menggeneralisasi
terhadap populasinya.
26
Pengujian Hipotesa
Daerah penolakan atau kritis (critical region) yaitu
daerah yang mencakup semua nilai yang memenuhi hipotesa
alternatif.
Daerah penerimaan (acceptance region) yaitu daerah
yang mencakup semua nilai yang memenuhi hipotesa nol.
Nilai kritis (critical value) yaitu nilai yang menjadi batas
antara daerah penolakan dan penerimaan.
Kesimpulan menolak Ho, jika statistik uji < nilai kritis kiri (left-
tailed) atau statistik uji > nilai kritis kanan (right tailed)
27
Critical Region
28
Kesimpulan Pengujian Hipotesa
Menerima hipotesa nol (lebih tepatnya “gagal menolak
hipotesa nol”) menyatakan bahwa data sampel tidak
mampu memberikan bukti yang cukup dan signifikan untuk
menolaknya.
Menolak hipotesa nol menyatakan bahwa data sampel
memberikan bukti yang cukup dan signifikan untuk
menolaknya.
29
Critical Region
30
P-Value
P-value adalah tingkat signifikansi terrendah di mana nilai
observasi dari statistik uji signifikan.
P-value merupakan tingkat signifikansi terrendah yang
menandakan batas penolakan hipotesa nol dari data
observasi.
Penggunaan pendekatan P-value sebagai alat bantu
pengambilan keputusan sedikit lebih natural, dan hampir
semua software statistik menyertakan P-value bersama nilai
statistik uji.
 Kesimpulan menolak Ho, jika P-value < α
31
Langkah
Pengujian Hipotesa
32
Langkah Pengujian Hipotesa
1. Menentukan tujuan pengujian hipotesa
2. Formulasi hipotesa
3. Memilih uji statistik
4. Menentukan tingkat keberartian
5. Membangun daerah keputusan
6. Menghitung statistik uji
7. Menarik kesimpulan
33
Langkah Pengujian Hipotesa
1. Menentukan tujuan pengujian hipotesa
Berdasarkan masalah yang menjadi fokus studi, untuk
menentukan parameter of interest sebagai tujuan
pengujiannya.
34
Tujuan pengujian hipotesa berawal dari maksud mempelajari sistem atau
menjawab permasalahan. Tujuan menjadi dasar utama dalam menentukan
populasi, memilih sampel, mengambil data dan mengujinya untuk memperoleh
kesimpulan yang selaras dengan tujuan tersebut.
Langkah Pengujian Hipotesa
2. Formulasi hipotesa
Hipotesa diformulasikan berdasarkan praduga yang
dirumuskan sesuai dengan tujuan. Praduga tidak selalu
menjadi hipotesa nol, bahkan lebih diutamakan praduga
direfleksikan pada hipotesa alternatif.
35
Hipotesa alternatif H1 biasanya merepresentasikan permasalahan yang akan
dijawab atau teori yang akan diuji, sehingga formulasi spesifik menjadi krusial.
Hipotesa nol H0 menyatakan status quo atau equality yang meniadakan
(nullifies) atau berlawanan (opposes) H1 dan menjadi complement dari H1 yang
bersifat mutually exclusive. Penggunaan format pertidaksamaan dengan tanda
pengujian satu arah memberikan deskripsi lebih spesifik pada H1.
Langkah Pengujian Hipotesa
3. Memilih uji statistik
Uji statistik dalam statistik inferensia dikelompokkan
menjadi dua, uji parametrik (berdistribusi) dan uji
nonparametrik. Uji statistik yang dipilih harus disesuaikan
dengan tujuan pengujian, hipotesa dan data (evidence)
yang diuji.
36
Uji parametrik mempertimbangkan tipe data dan distribusi data.
Pendekatan distribusi normal terkadang dapat dipergunakan dengan merujuk
Central Limit Theorem dan Law of Large Number
Langkah Pengujian Hipotesa
4. Menentukan tingkat keberartian
Tingkat keberartian (terkadang juga disebut taraf nyata atau
tingkat ketelitian) menunjukkan luas daerah penolakan.
Tingkat keberartian sebenarnya juga menunjukkan
besarnya peluang terjadinya galat tipe I.
37
Semakin besar nilai tingkat keberartian semakin besar peluang galat tipe 1.
Sebaliknya semakin kecil nilainya semakin kecil pula peluang galat tipe 1, tetapi
juga semakin besar peluang galat tipe 2, bukannya bermakna semakin teliti.
Peluang galat tipe 2 beririsan dengan daerah penerimaan, sehingga sebenarnya
peluang galat tipe 2 tidak sama besar dengan satu dikurangi peluang galat tipe 1.
Langkah Pengujian Hipotesa
5. Membangun daerah keputusan
Daerah keputusan terbagi menjadi dua, yaitu daerah
penolakan dan daerah penerimaan. Di antara kedua daerah
tersebut dibatasi oleh nilai kritis. Nilai kritis diperoleh
berdasarkan tingkat keberartian, dan distribusi (termasuk
parameter) yang dipergunakan dalam uji statistik.
38
Semakin besar nilai tingkat keberartian semakin luas daerah penolakan
(semakin besar peluang galat tipe 1).
Sebaliknya semakin kecil nilainya semakin luas daerah penerimaan (semakin
besar peluang galat tipe 2), bukannya bermakna semakin teliti.
Langkah Pengujian Hipotesa
6. Menghitung statistik uji
Perhitungan statistik uji berdasarkan uji statistik yang dipilih
dan distribusi (termasuk parameter) yang dipergunakan.
Hasil perhitungan statistik uji tergantung kecukupan,
sebaran, kevalidan dan kesesuaian data.
39
Data yang keliru akan memberikan hasil yang keliru (garbage in garbage out)
Uji statistik yang keliru memberikan hasil yang keliru (failure makes inappropriate
result). Periksa datanya, pahami uji statistik yang dipilih, pelajari distribusi yang
dipergunakan, dan pastikan sesuai dengan tepat.
Langkah Pengujian Hipotesa
7. Menarik kesimpulan
Kesimpulan ditarik berdasarkan hasil perhitungan statistik
uji, apakah berada di daerah penerimaan atau daerah
penolakan.
40
The truth or falsity of a statistical hypothesis is never known with absolute
certainty unless we examine the entire population. It should be made clear that
the decision procedure must include an awareness of the probability of a wrong
conclusion.
Kekeliruan Yang Kerapkali Terjadi
Menggunakan data yang salah.
Data yang tidak tepat.
Distribusi (termasuk parameter) yang keliru.
Kesalahan dalam sampling.
Kesalahan dalam pengukuran.
Memilih pengujian yang salah.
Tidak sesuai dengan tujuan studi.
Formulasi hipotesa keliru.
Tidak sesuai dengan hipotesa.
41
Kekeliruan Yang Kerapkali Terjadi
Membangun daerah keputusan yang salah.
Tingkat keberartian yang tidak tepat.
Kurang memperhatikan sebaran data yang berdampak
pada kurtosis dan skewness.
Terlalu ketat / longgar terhadap peluang galat.
Menarik kesimpulan yang salah.
Tidak berpijak kembali pada data (evidence) dan
hipotesa.
Analisa yang kurang lengkap dan keliru.
42
Distribusi Standard
Normal & Distribusi
Student’s t
43
Fungsi Probabilitas Distribusi Normal
 Parameter   (mean) dan  (standard deviation)
 Probability Density Function, f(x)
 Cummulative Distribution Function, F(x)
44
2
)
2
/(
)
(
.
2
)
(
2
2







x
e
x
f
f(x)
F(x)



x
di
i
f
x
F )
(
)
(
where erf is the error function
Parameter Distribusi Normal
Dinotasikan dengan N(x;,)
Parameter   dan 
Mean
Variance
45

 
2
2

 
Distribusi Standard Normal
Distribusi Standard Normal adalah distribusi normal
yang mempunyai parameter  = 0 dan  = 1
Distribusi Standard Normal juga disebut dengan
Distribusi Z.
46
Fungsi Distribusi Standard Normal
 Parameter   (mean) dan  (standard deviation)
 Probability Density Function, f(x)
 Cummulative Distribution Function, F(x)
47

2
)
(
2
/
2
x
e
x
f


f(x)
F(x)



x
di
i
f
x
F )
(
)
(
where erf is the error function
Parameter Distribusi Standard Normal
Dinotasikan dengan Z(x)
Parameter   dan 
Mean
Variance
48
0


1
2


Distribusi Standard Normal
49
50
51
Cara membaca Tabel Z
52
z0 = -1.65
P(Z<-1,65) = 0,049471
dan
P(Z>-1,65) = 1 - 0,049471
= 0,950529
z0 = 1.28
P(Z<1,28) = 0,899727
dan
P(Z>1,28) = 1 - 0,899727
= 0,100273
Zα = - Z(1 - α)
jika α semakin besar maka
P(Z < zα) semakin besar dan
P(Z > zα) semakin kecil
Cara membaca Tabel Z
Nilai z0 saat P(Z < z0) = 0,05
Nilai z0 saat P(Z < z0) = 0,90
53
z0 = -1,65 + (
(0,05 – 0,049471)
X (-1,64 – (-1,65)))
(0,050503 – 0,049471)
= -1,65 + ( 0,5126 X 0,01)
= -1,644874
z0 = 1,28 + (
(0,90 – 0,899727)
X (1,29 – 1,28))
(0,901475 – 0,899727)
= 1,28 + ( 0,1562 X 0,01)
= 1,281562
Cara membaca Tabel Z
Nilai P(Z < z0) saat z0 = -1,645
Nilai P(Z < z0) saat z0 = 1,285
54
P-value = 0,049471 + (
(-1,645 – (-1,65))
X (0,050503 – 0,049471))
(-1,64 – (-1,65))
= 0,049471 + ( 0,5 X 0,001032)
= 0,049987
P-value = 0,899727 + (
(1,285 – 1,28)
X (0,901475 – 0,899727))
(1,29 – 1,28)
= 0,899727 + ( 0,5 X 0,001748)
= 0,900601
Distribusi Student’s t
Distribusi Student’s t adalah sebaran variabel acak
yang merupakan model gabungan variabel acak
X berdistribusi Standard Normal yang mempunyai
parameter =0 dan =1 dengan variabel acak Y
berdistribusi Chi square dengan derajat bebas sebesar
 yang mempunyai parameter =/2 dan =2.
55









Y
X
Fungsi Distribusi Student’s t
 Parameter   (degree of freedom)
 Probability Density Function, f(x)
 Cummulative Distribution Function, F(x)
56

)
(x
f
f(x)
F(x)

)
(x
F
where 2F1 is the hypergeometric function
Parameter Distribusi Student’s t
Dinotasikan dengan t(x;)
Parameter   (degree of freedom)
Mean
Variance
57
0


2
2





58
Cara membaca Tabel t
59
t0,05;9 = 1.833
α=0,05 df=9
tα = - t(1 - α)
left-tailed (negative)
P(t<-1,833) = 0,05
dan
right tailed (positive)
P(t>1,833) = 0,05
t0,10;10 = 1.372
α=0,10 df=10
left-tailed (negative)
P(t<-1,372) = 0,05
dan
right tailed (positive)
P(t>1,372) = 0,05
jika α semakin besar maka
P(t < tα) semakin kecil dan
P(t > tα) semakin besar
Cara membaca Tabel t
Nilai t0 saat P(t < t0) = 0,05 atau P(t > t0) = 0,95 dengan df = 9
Nilai t0 saat P(t < t0) = 0,90 atau P(t > t0) = 0,10 dengan df = 9
60
t0 = -1.833
t0 = 1.383
Cara membaca Tabel t
Nilai P(t < t0) saat t0 = -2 dengan df = 9
Nilai P(t > t0) saat t0 = 1,5 dengan df = 9
61
P-value = 0,025 + (
(-2 – (-2,262))
X (0,05 – 0,025))
(-1,833 – (-2,262))
= 0,025 + ( 0,6107 X 0,025)
= 0,040268
P-value = 0,05 + (
(1,5 – 1,883)
X (0,1 – 0,05))
(1,383 – 1,883)
= 0,05 + ( 0,74 X 0,05)
= 0,087
Uji Hipotesa
Rata-rata Satu Sampel
62
Uji Hipotesa Rata-rata Satu Sampel
Variansi populasi diketahui (2 known)
63
Uji Hipotesa Rata-rata Satu Sampel
64
Uji Hipotesa Rata-rata Satu Sampel
65
Uji Hipotesa Rata-rata Satu Sampel
66
z(0,95) = 1,64 + (
(0,95 – 0,949497)
X (1,65 – 1,64))
(0,950529 – 0,949497)
= 1,64 + ( 0,4874 X 0,15)
= 1,6448  1,645
 1 - α = 0,95
P(z < 1.64) = 0.949497
P(z < 1.65) = 0.950529
 1 - P(z < 2.02) = 1 - 0.978308
dari tabel Z
 dari tabel Z
Uji Hipotesa Rata-rata Satu Sampel
67
P(z > 3.25) = 1 - P(z < 3.25) = 1 - 0.999423  dari tabel Z
= 0,000577  α/2
P-value = 2 X 0,000577 = 0,001154
Uji Hipotesa Rata-rata Satu Sampel
Variansi populasi tak diketahui (2 unknown)
68
Uji Hipotesa Rata-rata Satu Sampel
69
Uji Hipotesa Rata-rata Satu Sampel
70
Uji Hipotesa Rata-rata Satu Sampel
71
P-value (t>1,80) = 0,05 + (
(1,80 – 1,833)
X (0,10 – 0,05))
(1,383 – 1,833)
= 0,05 + ( 0,0733 X 0,05)
= 0,05367  α/2  P-value two tailed = 0,10733
df = n – 1 = 10 – 1 = 9
critical value t0.025;9 = 2,262
critical region (t < -2,262) or (t > 2,262)
1,383 (t0.1;9) < 1,8 < 1,833 (t0.05;9)
Uji Hipotesa Rata-rata Satu Sampel
72
P-value (t>2,72) = 0,005 + (
(2,72 – 2,977)
X (0,01 – 0,005))
(2,624 – 2,977)
= 0,005 + ( 0,7280 X 0,005)
= 0,00864
Uji Hipotesa Rata-rata Satu Sampel
73
Uji Hipotesa Rata-rata Satu Sampel
74
Uji Hipotesa Rata-rata Satu Sampel
75
Uji Hipotesa
Rata-rata Dua Sampel
76
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
77
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
Variansi populasi diketahui (2 known, 1
2=2
2)
78
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
79
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
Variansi populasi diketahui (2 known, 1
22
2)
80
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
81
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
82
1 - P(z < 2.52) = 1 - 0.994132 = 0.005868
dari tabel Z
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
Variansi populasi tak diketahui (2 unknown, 1
2=2
2)
83
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
84
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
85
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
86
P-value = 0,1 + (
(1,04 – 1,325)
X (0,25) – 0,1)
(0,687 – 1,325)
= 0,1 + ( 0,4467 X 0,15)
= 0,167
0,687 (t0.25;20) < 1,04 < 1,325 (t0.10;20) 
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
87
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
88
df = n1 + n2 – 2 = 8 + 8 – 2 =14
critical value t0.025;14 = 2.145
critical region (t < -2.145) or (t > 2.145)
P-value (t>0,35) = 0,25 + (
(0,35 – 0,692)
X (0,40 – 0,25))
(0,258 – 0,692)
= 0,25 + ( 0,788 X 0,15)
= 0,3682  α/2  P-value two tailed = 0,7364
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
Variansi populasi tak diketahui (2 unknown, 1
22
2)
89
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
90
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
91
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
92
P-value (t>2,77) = 0,005 + (
(2,77 – 3,012)
X (0,01 – 0,005))
(2,65 – 3,012)
= 0,005 + ( 0,6685 X 0,005)
= 0,008343  α/2  P-value two tailed = 0,016686
2,650 (t0.01;13) < 2,77 < 3,012 (t0.005;13) 
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
Variansi populasi tak diketahui (sampel berpasangan)
93
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
94
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
95
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
96
P-value (t>2,06) = 0,025 + (
(2,06 – 2,145)
X (0,05 – 0,025))
(1,761 – 2,145)
= 0,025 + ( 0,22135 X 0,025)
= 0,03053  α/2  P-value two tailed = 0,06106
1,761 (t0.05;14) < 2,06 < 2,145 (t0.025;14) 
Uji Hipotesa Rata-rata Dua Sampel
97
6.15 > 5.041 (t0.0005;8)  P-value two tailed = 2 X 0.0005 = 0.001
df = n – 1 = 9 – 1 = 8
critical value t0.025;8 = 2.306
critical region (t < -2.306) or (t > 2.306)
Rekapitulasi
Uji Hipotesa
Rata-rata
98
99
Aplikasi Software:
Microsoft Excel,
MathCAD, MatLab
100
Uji Hipotesa Rata-Rata dgn MS Excel
101
Parameter P-value Test Table of
Left-tailed Right-tailed Statistics Distribution
Single sample
2 known with
DataRange
1-
ZTEST(DataRan
ge;0;)
ZTEST(DataRan
ge;0;)
NORMSINV(PVal
ue)
NORMSINV()
Single sample
2 known with
sample mean
NORMDIST(XBa
r;0;/SQRT(n);T
RUE)
1-
NORMDIST(XBa
r;0;/SQRT(n);T
RUE)
NORMSINV(PVal
ue)
NORMSINV()
Single sample
2 unknown with
DataRange
TDIST(ABS(Test
Stat);df;TailType)
TDIST(TestStat;
df;TailType)
(Average(DataRa
nge)-0)/
(STDEV(DataRa
nge)/SQRT(n))
TINV(;df)
Single sample
2 unknown with
sample mean
TDIST(ABS(Test
Stat);df;TailType)
TDIST(TestStat;
df;TailType)
(XBar-0)/
(StdDev/SQRT(n
))
TINV(;df)
Uji Hipotesa Rata-Rata dgn MS Excel
102
Parameter P-Value Test Table of
Left-tailed Right-tailed Statistics Distribution
Two samples
2 known with
DataRange
1-ZTEST(
DataRange of
differences;D0;
D)
ZTEST( Data
Range of
differences;D0;
D)
NORMSINV(P-
Value)
NORMSINV()
Two samples
2 known with
sample mean
NORMSDIST(Te
stStat)
1-
NORMSDIST(Te
stStat)
(XBar1-XBar2-
D0)/
SQRT((Var1/n1)
+(Var2/n2))
NORMSINV()
Two samples
2 unknown
TTEST(Data
Range1;Data
Range2;Tail
Type;TestType)
TTEST(Data
Range1;Data
Range2;Tail
Type;TestType)
TINV(P-Value;
df)
TINV(;df)
TestType: 1:paired test; 2:equal
variance; 3:unequal variance
Uji Hipotesa Rata-Rata dgn MathCAD
103
Parameter Test Significance Level Table of
Statistics Left-tailed Right-tailed Distribution
Single sample
2 known
or pnorm(XBar,0,
)
1- pnorm(XBar,
0,)
qnorm(,0,)
pnorm(z,0,1) 1- pnorm(z,0,1) qnorm(,0,1)
Single sample
2 unknown
or pt(t,df) 1- pt(t,df) qt(,df)
Uji Hipotesa Rata-Rata dgn MatLab
Single sample 2 known
[h,p] = ztest(Datavector,0,,,tail)
Single sample 2 unknown
[h,p] = ttest(Datavector,0,,tail)
104
105
Terima kasih ...
... Ada pertanyaan ???

Modul Ajar Statistika Inferensia ke-2: Uji Hipotesa Rata-rata Parametrik

  • 1.
    Uji Hipotesa RATA-RATA SATU &DUA SAMPEL ARIF RAHMAN 1
  • 2.
    Statistika Statistika adalah cabangilmu matematika yang mempelajari metode ilmiah untuk mengumpulkan, mengorganisasi, merangkum, menyederhanakan, menyajikan, menginterpretasikan, menganalisa dan mensintesa data (numerik atau nonnumerik) untuk menghasilkan informasi dan/atau kesimpulan, yang membantu dalam penyelesaian masalah dan/atau pengambilan keputusan. 2
  • 3.
    Statistika 3 Mengorganisasi, Merangkum, Menyederhanakan, Menyajikan, Menginterpretasikan Menganalisa Mensintesa Mengumpulkan data Menghasilkan informasidan/atau kesimpulan Menggeneralisasi Mengestimasi, Menguji hipotesa, Menilai relasi, Memprediksi Menyelesaikan masalah Mengambil keputusan
  • 4.
    Statistika Inferensia Statistika inferensiaadalah cabang statistika yang menganalisa atau mensintesa data untuk menggeneralisasi sampel terhadap populasi, mengestimasi parameter, menguji hipotesa, menilai relasi, dan membuat prediksi untuk menghasilkan informasi dan/atau kesimpulan. Terdapat banyak alat bantu statistika (statistical tools) yang dapat dipergunakan untuk menginferensi populasi atau sistem yang menjadi sumber asal data sampel 4
  • 5.
    Statistika Inferensia 5 Tujuan studiterhadap populasi Observasi atau eksperimen pada sampel SAMPLING INFERENSI Parameter : N (banyaknya anggota populasi), μ (rata-rata populasi), σ (simpangan baku populasi), π (proporsi populasi) Statistik : n (banyaknya anggota sampel), ẋ (rata-rata sampel), s (simpangan baku sampel), p (proporsi sampel)
  • 6.
    Tipe Data Data Nominal,data yang hanya berupa simbol (meski berupa angka) untuk membedakan nilainya tanpa menunjukkan tingkatan Data Ordinal, data yang mempunyai nilai untuk menunjukkan tingkatan, namun tanpa skala yang baku dan jelas antar tingkatan. Data Interval, data yang mempunyai nilai untuk menunjukkan tingkatan dengan skala tertentu sesuai intervalnya. Nilai nol hanya untuk menunjukkan titik acuan (baseline). Data Rasio, data yang mempunyai nilai untuk menunjukkan tingkatan dengan skala indikasi rasio perbandingan. Nilai nol menunjukkan titik asal (origin) yang bernilai kosong (null). 6
  • 7.
    Tipe Data Data Parametrik,data kuantitatif yang mempunyai sebaran variabel acak mengikuti pola distribusi probabilitas dengan parameter tertentu (independent and identically distributed random variables) Data Nonparametrik, data yang tidak mempunyai distribusi probabilitas (distribution-free) 7
  • 8.
    Tipe Data Data Diskrit,data hasil pencacahan atau penghitungan, sehingga biasanya dalam angka bilangan bulat. Data Kontinyu, data hasil pengukuran yang memungkinkan dalam angka bilangan nyata (meskipun dapat pula dibulatkan) 8
  • 9.
    Statistika Alat BantuProblem Solving 9 Penting memperhatikan cara memperoleh data yang akan diolah Demikian pula cara mengolah data juga penting diperhatikan
  • 10.
    Statistika Alat BantuProblem Solving 10 Metode statistika bukan ramuan sihir Alat statistika bukan tongkat sihir
  • 11.
  • 12.
    Akurasi dan Presisi Akurasi(accuracy), kesesuaian hasil pengukuran terhadap nilai obyek sesungguhnya (bias kecil) Presisi (precision), tingkat skala ketelitian pengukuran dari alat pengukur, atau ketersebaran yang relatif mengumpul (variansi atau deviasi kecil) 12
  • 13.
    Akurat dan Presisi Tidakpresisi, akibat pola sebaran sampel lebih melebar daripada pola sebaran populasi menyebabkan deviasi yang besar. Tidak akurat, akibat pergeseran pemusatan sampel menjauh dari pemusatan populasi menyebabkan bias yang besar. Akurat dan presisi, bias dan deviasi kecil, membutuhkan sampel sedikit. 13
  • 14.
    Kesalahan Pengambilan Kesimpulan Galattipe 1 () : kesalahan menyimpulkan karena menolak hipotesa yang semestinya diterima Galat tipe 2 () : kesalahan menyimpulkan karena menerima hipotesa yang semestinya ditolak 14  
  • 15.
    Kesalahan Pengambilan Kesimpulan 15 Thetrue state of nature Decision H0 is true H0 is false Reject H0 Type I error Exact decision Fail to reject H0 Exact decision Type II error The true state of nature Decision H0 is true H0 is false Reject H0  1 –  Fail to reject H0 1 –  
  • 16.
    Ukuran Ketelitian Pendugaan Tingkatkeberartian (significance level, ), probabilitas penolakan data observasi, karena menyimpang signifikan terhadap sasaran. Tingkat kepercayaan (confidence coefficient,1-), persentase data observasi yang diyakini tidak berbeda signifikan dengan target. Kuasa statistik (power,1-), persentase data observasi yang diyakini berbeda signifikan dengan target. Derajat kebebasan (degree of freedom, df=n-k), besaran yang menunjukkan bebas terhadap bias dari n data observasi. 16
  • 17.
  • 18.
  • 19.
  • 20.
  • 21.
  • 22.
  • 23.
  • 24.
    Hipotesa Hipotesa adalah pernyataansebuah pendugaan (presumption), anggapan (claim), pemikiran (postulate), penegasan (assertion), atau penerkaan (conjecture), yang mungkin benar atau salah, mengenai data dan statistik dari satu atau lebih sampel yang berkenaan dengan parameter dari satu atau lebih populasi Hipotesa berkaitan dengan  Evaluasi keputusan  Analisa data observasi atau eksperimen  Prediksi statistik  Estimasi parameter  Pengujian  Komparasi perbandingan 24
  • 25.
    Hipotesa Hipotesa statistik diformulasikandalam dua bentuk, yaitu : Hipotesa nol (null hypothesis), dinotasikan Ho (dibaca “H-naught”) dengan format persamaan atau menggunakan tanda baca “=“ Hipotesa alternatif (alternative hypothesis), dinotasikan H1 (dibaca “H-one”) dengan format pertidaksamaan. Dua arah (two tail) menggunakan tanda baca “” Satu arah (one tail) menggunakan tanda baca “<“ atau “>” 25
  • 26.
    Pengujian Hipotesa Pengujian hipotesa(hypothesis testing) adalah prosedur menggunakan informasi dalam sampel acak dari sebuah populasi dan probabilitasnya (termasuk distribusinya) melalui pengujian statistik untuk membentuk keputusan atau kesimpulan secara induksi atau inferensia menggeneralisasi terhadap populasinya. 26
  • 27.
    Pengujian Hipotesa Daerah penolakanatau kritis (critical region) yaitu daerah yang mencakup semua nilai yang memenuhi hipotesa alternatif. Daerah penerimaan (acceptance region) yaitu daerah yang mencakup semua nilai yang memenuhi hipotesa nol. Nilai kritis (critical value) yaitu nilai yang menjadi batas antara daerah penolakan dan penerimaan. Kesimpulan menolak Ho, jika statistik uji < nilai kritis kiri (left- tailed) atau statistik uji > nilai kritis kanan (right tailed) 27
  • 28.
  • 29.
    Kesimpulan Pengujian Hipotesa Menerimahipotesa nol (lebih tepatnya “gagal menolak hipotesa nol”) menyatakan bahwa data sampel tidak mampu memberikan bukti yang cukup dan signifikan untuk menolaknya. Menolak hipotesa nol menyatakan bahwa data sampel memberikan bukti yang cukup dan signifikan untuk menolaknya. 29
  • 30.
  • 31.
    P-Value P-value adalah tingkatsignifikansi terrendah di mana nilai observasi dari statistik uji signifikan. P-value merupakan tingkat signifikansi terrendah yang menandakan batas penolakan hipotesa nol dari data observasi. Penggunaan pendekatan P-value sebagai alat bantu pengambilan keputusan sedikit lebih natural, dan hampir semua software statistik menyertakan P-value bersama nilai statistik uji.  Kesimpulan menolak Ho, jika P-value < α 31
  • 32.
  • 33.
    Langkah Pengujian Hipotesa 1.Menentukan tujuan pengujian hipotesa 2. Formulasi hipotesa 3. Memilih uji statistik 4. Menentukan tingkat keberartian 5. Membangun daerah keputusan 6. Menghitung statistik uji 7. Menarik kesimpulan 33
  • 34.
    Langkah Pengujian Hipotesa 1.Menentukan tujuan pengujian hipotesa Berdasarkan masalah yang menjadi fokus studi, untuk menentukan parameter of interest sebagai tujuan pengujiannya. 34 Tujuan pengujian hipotesa berawal dari maksud mempelajari sistem atau menjawab permasalahan. Tujuan menjadi dasar utama dalam menentukan populasi, memilih sampel, mengambil data dan mengujinya untuk memperoleh kesimpulan yang selaras dengan tujuan tersebut.
  • 35.
    Langkah Pengujian Hipotesa 2.Formulasi hipotesa Hipotesa diformulasikan berdasarkan praduga yang dirumuskan sesuai dengan tujuan. Praduga tidak selalu menjadi hipotesa nol, bahkan lebih diutamakan praduga direfleksikan pada hipotesa alternatif. 35 Hipotesa alternatif H1 biasanya merepresentasikan permasalahan yang akan dijawab atau teori yang akan diuji, sehingga formulasi spesifik menjadi krusial. Hipotesa nol H0 menyatakan status quo atau equality yang meniadakan (nullifies) atau berlawanan (opposes) H1 dan menjadi complement dari H1 yang bersifat mutually exclusive. Penggunaan format pertidaksamaan dengan tanda pengujian satu arah memberikan deskripsi lebih spesifik pada H1.
  • 36.
    Langkah Pengujian Hipotesa 3.Memilih uji statistik Uji statistik dalam statistik inferensia dikelompokkan menjadi dua, uji parametrik (berdistribusi) dan uji nonparametrik. Uji statistik yang dipilih harus disesuaikan dengan tujuan pengujian, hipotesa dan data (evidence) yang diuji. 36 Uji parametrik mempertimbangkan tipe data dan distribusi data. Pendekatan distribusi normal terkadang dapat dipergunakan dengan merujuk Central Limit Theorem dan Law of Large Number
  • 37.
    Langkah Pengujian Hipotesa 4.Menentukan tingkat keberartian Tingkat keberartian (terkadang juga disebut taraf nyata atau tingkat ketelitian) menunjukkan luas daerah penolakan. Tingkat keberartian sebenarnya juga menunjukkan besarnya peluang terjadinya galat tipe I. 37 Semakin besar nilai tingkat keberartian semakin besar peluang galat tipe 1. Sebaliknya semakin kecil nilainya semakin kecil pula peluang galat tipe 1, tetapi juga semakin besar peluang galat tipe 2, bukannya bermakna semakin teliti. Peluang galat tipe 2 beririsan dengan daerah penerimaan, sehingga sebenarnya peluang galat tipe 2 tidak sama besar dengan satu dikurangi peluang galat tipe 1.
  • 38.
    Langkah Pengujian Hipotesa 5.Membangun daerah keputusan Daerah keputusan terbagi menjadi dua, yaitu daerah penolakan dan daerah penerimaan. Di antara kedua daerah tersebut dibatasi oleh nilai kritis. Nilai kritis diperoleh berdasarkan tingkat keberartian, dan distribusi (termasuk parameter) yang dipergunakan dalam uji statistik. 38 Semakin besar nilai tingkat keberartian semakin luas daerah penolakan (semakin besar peluang galat tipe 1). Sebaliknya semakin kecil nilainya semakin luas daerah penerimaan (semakin besar peluang galat tipe 2), bukannya bermakna semakin teliti.
  • 39.
    Langkah Pengujian Hipotesa 6.Menghitung statistik uji Perhitungan statistik uji berdasarkan uji statistik yang dipilih dan distribusi (termasuk parameter) yang dipergunakan. Hasil perhitungan statistik uji tergantung kecukupan, sebaran, kevalidan dan kesesuaian data. 39 Data yang keliru akan memberikan hasil yang keliru (garbage in garbage out) Uji statistik yang keliru memberikan hasil yang keliru (failure makes inappropriate result). Periksa datanya, pahami uji statistik yang dipilih, pelajari distribusi yang dipergunakan, dan pastikan sesuai dengan tepat.
  • 40.
    Langkah Pengujian Hipotesa 7.Menarik kesimpulan Kesimpulan ditarik berdasarkan hasil perhitungan statistik uji, apakah berada di daerah penerimaan atau daerah penolakan. 40 The truth or falsity of a statistical hypothesis is never known with absolute certainty unless we examine the entire population. It should be made clear that the decision procedure must include an awareness of the probability of a wrong conclusion.
  • 41.
    Kekeliruan Yang KerapkaliTerjadi Menggunakan data yang salah. Data yang tidak tepat. Distribusi (termasuk parameter) yang keliru. Kesalahan dalam sampling. Kesalahan dalam pengukuran. Memilih pengujian yang salah. Tidak sesuai dengan tujuan studi. Formulasi hipotesa keliru. Tidak sesuai dengan hipotesa. 41
  • 42.
    Kekeliruan Yang KerapkaliTerjadi Membangun daerah keputusan yang salah. Tingkat keberartian yang tidak tepat. Kurang memperhatikan sebaran data yang berdampak pada kurtosis dan skewness. Terlalu ketat / longgar terhadap peluang galat. Menarik kesimpulan yang salah. Tidak berpijak kembali pada data (evidence) dan hipotesa. Analisa yang kurang lengkap dan keliru. 42
  • 43.
    Distribusi Standard Normal &Distribusi Student’s t 43
  • 44.
    Fungsi Probabilitas DistribusiNormal  Parameter   (mean) dan  (standard deviation)  Probability Density Function, f(x)  Cummulative Distribution Function, F(x) 44 2 ) 2 /( ) ( . 2 ) ( 2 2        x e x f f(x) F(x)    x di i f x F ) ( ) ( where erf is the error function
  • 45.
    Parameter Distribusi Normal Dinotasikandengan N(x;,) Parameter   dan  Mean Variance 45    2 2   
  • 46.
    Distribusi Standard Normal DistribusiStandard Normal adalah distribusi normal yang mempunyai parameter  = 0 dan  = 1 Distribusi Standard Normal juga disebut dengan Distribusi Z. 46
  • 47.
    Fungsi Distribusi StandardNormal  Parameter   (mean) dan  (standard deviation)  Probability Density Function, f(x)  Cummulative Distribution Function, F(x) 47  2 ) ( 2 / 2 x e x f   f(x) F(x)    x di i f x F ) ( ) ( where erf is the error function
  • 48.
    Parameter Distribusi StandardNormal Dinotasikan dengan Z(x) Parameter   dan  Mean Variance 48 0   1 2  
  • 49.
  • 50.
  • 51.
  • 52.
    Cara membaca TabelZ 52 z0 = -1.65 P(Z<-1,65) = 0,049471 dan P(Z>-1,65) = 1 - 0,049471 = 0,950529 z0 = 1.28 P(Z<1,28) = 0,899727 dan P(Z>1,28) = 1 - 0,899727 = 0,100273 Zα = - Z(1 - α) jika α semakin besar maka P(Z < zα) semakin besar dan P(Z > zα) semakin kecil
  • 53.
    Cara membaca TabelZ Nilai z0 saat P(Z < z0) = 0,05 Nilai z0 saat P(Z < z0) = 0,90 53 z0 = -1,65 + ( (0,05 – 0,049471) X (-1,64 – (-1,65))) (0,050503 – 0,049471) = -1,65 + ( 0,5126 X 0,01) = -1,644874 z0 = 1,28 + ( (0,90 – 0,899727) X (1,29 – 1,28)) (0,901475 – 0,899727) = 1,28 + ( 0,1562 X 0,01) = 1,281562
  • 54.
    Cara membaca TabelZ Nilai P(Z < z0) saat z0 = -1,645 Nilai P(Z < z0) saat z0 = 1,285 54 P-value = 0,049471 + ( (-1,645 – (-1,65)) X (0,050503 – 0,049471)) (-1,64 – (-1,65)) = 0,049471 + ( 0,5 X 0,001032) = 0,049987 P-value = 0,899727 + ( (1,285 – 1,28) X (0,901475 – 0,899727)) (1,29 – 1,28) = 0,899727 + ( 0,5 X 0,001748) = 0,900601
  • 55.
    Distribusi Student’s t DistribusiStudent’s t adalah sebaran variabel acak yang merupakan model gabungan variabel acak X berdistribusi Standard Normal yang mempunyai parameter =0 dan =1 dengan variabel acak Y berdistribusi Chi square dengan derajat bebas sebesar  yang mempunyai parameter =/2 dan =2. 55          Y X
  • 56.
    Fungsi Distribusi Student’st  Parameter   (degree of freedom)  Probability Density Function, f(x)  Cummulative Distribution Function, F(x) 56  ) (x f f(x) F(x)  ) (x F where 2F1 is the hypergeometric function
  • 57.
    Parameter Distribusi Student’st Dinotasikan dengan t(x;) Parameter   (degree of freedom) Mean Variance 57 0   2 2     
  • 58.
  • 59.
    Cara membaca Tabelt 59 t0,05;9 = 1.833 α=0,05 df=9 tα = - t(1 - α) left-tailed (negative) P(t<-1,833) = 0,05 dan right tailed (positive) P(t>1,833) = 0,05 t0,10;10 = 1.372 α=0,10 df=10 left-tailed (negative) P(t<-1,372) = 0,05 dan right tailed (positive) P(t>1,372) = 0,05 jika α semakin besar maka P(t < tα) semakin kecil dan P(t > tα) semakin besar
  • 60.
    Cara membaca Tabelt Nilai t0 saat P(t < t0) = 0,05 atau P(t > t0) = 0,95 dengan df = 9 Nilai t0 saat P(t < t0) = 0,90 atau P(t > t0) = 0,10 dengan df = 9 60 t0 = -1.833 t0 = 1.383
  • 61.
    Cara membaca Tabelt Nilai P(t < t0) saat t0 = -2 dengan df = 9 Nilai P(t > t0) saat t0 = 1,5 dengan df = 9 61 P-value = 0,025 + ( (-2 – (-2,262)) X (0,05 – 0,025)) (-1,833 – (-2,262)) = 0,025 + ( 0,6107 X 0,025) = 0,040268 P-value = 0,05 + ( (1,5 – 1,883) X (0,1 – 0,05)) (1,383 – 1,883) = 0,05 + ( 0,74 X 0,05) = 0,087
  • 62.
  • 63.
    Uji Hipotesa Rata-rataSatu Sampel Variansi populasi diketahui (2 known) 63
  • 64.
    Uji Hipotesa Rata-rataSatu Sampel 64
  • 65.
    Uji Hipotesa Rata-rataSatu Sampel 65
  • 66.
    Uji Hipotesa Rata-rataSatu Sampel 66 z(0,95) = 1,64 + ( (0,95 – 0,949497) X (1,65 – 1,64)) (0,950529 – 0,949497) = 1,64 + ( 0,4874 X 0,15) = 1,6448  1,645  1 - α = 0,95 P(z < 1.64) = 0.949497 P(z < 1.65) = 0.950529  1 - P(z < 2.02) = 1 - 0.978308 dari tabel Z  dari tabel Z
  • 67.
    Uji Hipotesa Rata-rataSatu Sampel 67 P(z > 3.25) = 1 - P(z < 3.25) = 1 - 0.999423  dari tabel Z = 0,000577  α/2 P-value = 2 X 0,000577 = 0,001154
  • 68.
    Uji Hipotesa Rata-rataSatu Sampel Variansi populasi tak diketahui (2 unknown) 68
  • 69.
    Uji Hipotesa Rata-rataSatu Sampel 69
  • 70.
    Uji Hipotesa Rata-rataSatu Sampel 70
  • 71.
    Uji Hipotesa Rata-rataSatu Sampel 71 P-value (t>1,80) = 0,05 + ( (1,80 – 1,833) X (0,10 – 0,05)) (1,383 – 1,833) = 0,05 + ( 0,0733 X 0,05) = 0,05367  α/2  P-value two tailed = 0,10733 df = n – 1 = 10 – 1 = 9 critical value t0.025;9 = 2,262 critical region (t < -2,262) or (t > 2,262) 1,383 (t0.1;9) < 1,8 < 1,833 (t0.05;9)
  • 72.
    Uji Hipotesa Rata-rataSatu Sampel 72 P-value (t>2,72) = 0,005 + ( (2,72 – 2,977) X (0,01 – 0,005)) (2,624 – 2,977) = 0,005 + ( 0,7280 X 0,005) = 0,00864
  • 73.
    Uji Hipotesa Rata-rataSatu Sampel 73
  • 74.
    Uji Hipotesa Rata-rataSatu Sampel 74
  • 75.
    Uji Hipotesa Rata-rataSatu Sampel 75
  • 76.
  • 77.
  • 78.
    Uji Hipotesa Rata-rataDua Sampel Variansi populasi diketahui (2 known, 1 2=2 2) 78
  • 79.
  • 80.
    Uji Hipotesa Rata-rataDua Sampel Variansi populasi diketahui (2 known, 1 22 2) 80
  • 81.
  • 82.
    Uji Hipotesa Rata-rataDua Sampel 82 1 - P(z < 2.52) = 1 - 0.994132 = 0.005868 dari tabel Z
  • 83.
    Uji Hipotesa Rata-rataDua Sampel Variansi populasi tak diketahui (2 unknown, 1 2=2 2) 83
  • 84.
  • 85.
  • 86.
    Uji Hipotesa Rata-rataDua Sampel 86 P-value = 0,1 + ( (1,04 – 1,325) X (0,25) – 0,1) (0,687 – 1,325) = 0,1 + ( 0,4467 X 0,15) = 0,167 0,687 (t0.25;20) < 1,04 < 1,325 (t0.10;20) 
  • 87.
  • 88.
    Uji Hipotesa Rata-rataDua Sampel 88 df = n1 + n2 – 2 = 8 + 8 – 2 =14 critical value t0.025;14 = 2.145 critical region (t < -2.145) or (t > 2.145) P-value (t>0,35) = 0,25 + ( (0,35 – 0,692) X (0,40 – 0,25)) (0,258 – 0,692) = 0,25 + ( 0,788 X 0,15) = 0,3682  α/2  P-value two tailed = 0,7364
  • 89.
    Uji Hipotesa Rata-rataDua Sampel Variansi populasi tak diketahui (2 unknown, 1 22 2) 89
  • 90.
  • 91.
  • 92.
    Uji Hipotesa Rata-rataDua Sampel 92 P-value (t>2,77) = 0,005 + ( (2,77 – 3,012) X (0,01 – 0,005)) (2,65 – 3,012) = 0,005 + ( 0,6685 X 0,005) = 0,008343  α/2  P-value two tailed = 0,016686 2,650 (t0.01;13) < 2,77 < 3,012 (t0.005;13) 
  • 93.
    Uji Hipotesa Rata-rataDua Sampel Variansi populasi tak diketahui (sampel berpasangan) 93
  • 94.
  • 95.
  • 96.
    Uji Hipotesa Rata-rataDua Sampel 96 P-value (t>2,06) = 0,025 + ( (2,06 – 2,145) X (0,05 – 0,025)) (1,761 – 2,145) = 0,025 + ( 0,22135 X 0,025) = 0,03053  α/2  P-value two tailed = 0,06106 1,761 (t0.05;14) < 2,06 < 2,145 (t0.025;14) 
  • 97.
    Uji Hipotesa Rata-rataDua Sampel 97 6.15 > 5.041 (t0.0005;8)  P-value two tailed = 2 X 0.0005 = 0.001 df = n – 1 = 9 – 1 = 8 critical value t0.025;8 = 2.306 critical region (t < -2.306) or (t > 2.306)
  • 98.
  • 99.
  • 100.
  • 101.
    Uji Hipotesa Rata-Ratadgn MS Excel 101 Parameter P-value Test Table of Left-tailed Right-tailed Statistics Distribution Single sample 2 known with DataRange 1- ZTEST(DataRan ge;0;) ZTEST(DataRan ge;0;) NORMSINV(PVal ue) NORMSINV() Single sample 2 known with sample mean NORMDIST(XBa r;0;/SQRT(n);T RUE) 1- NORMDIST(XBa r;0;/SQRT(n);T RUE) NORMSINV(PVal ue) NORMSINV() Single sample 2 unknown with DataRange TDIST(ABS(Test Stat);df;TailType) TDIST(TestStat; df;TailType) (Average(DataRa nge)-0)/ (STDEV(DataRa nge)/SQRT(n)) TINV(;df) Single sample 2 unknown with sample mean TDIST(ABS(Test Stat);df;TailType) TDIST(TestStat; df;TailType) (XBar-0)/ (StdDev/SQRT(n )) TINV(;df)
  • 102.
    Uji Hipotesa Rata-Ratadgn MS Excel 102 Parameter P-Value Test Table of Left-tailed Right-tailed Statistics Distribution Two samples 2 known with DataRange 1-ZTEST( DataRange of differences;D0; D) ZTEST( Data Range of differences;D0; D) NORMSINV(P- Value) NORMSINV() Two samples 2 known with sample mean NORMSDIST(Te stStat) 1- NORMSDIST(Te stStat) (XBar1-XBar2- D0)/ SQRT((Var1/n1) +(Var2/n2)) NORMSINV() Two samples 2 unknown TTEST(Data Range1;Data Range2;Tail Type;TestType) TTEST(Data Range1;Data Range2;Tail Type;TestType) TINV(P-Value; df) TINV(;df) TestType: 1:paired test; 2:equal variance; 3:unequal variance
  • 103.
    Uji Hipotesa Rata-Ratadgn MathCAD 103 Parameter Test Significance Level Table of Statistics Left-tailed Right-tailed Distribution Single sample 2 known or pnorm(XBar,0, ) 1- pnorm(XBar, 0,) qnorm(,0,) pnorm(z,0,1) 1- pnorm(z,0,1) qnorm(,0,1) Single sample 2 unknown or pt(t,df) 1- pt(t,df) qt(,df)
  • 104.
    Uji Hipotesa Rata-Ratadgn MatLab Single sample 2 known [h,p] = ztest(Datavector,0,,,tail) Single sample 2 unknown [h,p] = ttest(Datavector,0,,tail) 104
  • 105.
    105 Terima kasih ... ...Ada pertanyaan ???

Editor's Notes

  • #10 Statistika dapat menjadi alat bantu dalam menyelesaikan masalah. Mulai dari saat mengumpulkan data, mengolah, menginterpresikan, menganalisa dan mensitesanya. Namun saat keliru menetapkan populasi atau keliru memilih sampel, serta keliru mendeskripsikan variabel yang akan diambil datanya, melalaikan tujuan penelitian, maka hasil pengolahannyapun akan menjadi sampah. Demikian pula meskipun data yang diambil benar dan representatif, namun metode dan alat pengolahannya pun keliru yang dipilih atau keliru cara mempergunakannya, maka hasilnya pun akan menjadi sampah. Sehingga perlu kita pahami bahwa statistika cuma alat berbasis model matematis, ada angka dimasukkan akan mengeluarkan hasil, entah itu benar atau sampah.
  • #11 Alat statistika bukan tongkat sihir, apapun dan bagaimanapun keadaan datanya dengan tongkat sihir ajaib bisa mengubahnya menjadi hasil yang sesuai dengan tujuan penelitian. Metode statistika pun bukan ramuan sihir, apapun dan bagaimanapun keadaan datanya diolah dalam ramuan sihir ajaib bisa mewujudkan hasil yang sesuai dengan tujuan penelitian.
  • #67 Kesimpulan menolak Ho karena statistik uji (z=2,02) > critical value (z=1,645), atau P-value (0,0217) < alpha (0,05)
  • #68 Kesimpulan menolak Ho karena statistik uji (z=3,25) > critical value (z=1,96), atau P-value (0,0012) < alpha (0,05)
  • #72 Kesimpulan gagal menolak Ho karena statistik uji (t=1,80) < critical value (t=2,262), atau P-value (0,106) > alpha (0,05)
  • #73 Kesimpulan menolak Ho karena statistik uji (t=2,72) > critical value (t=1,761), atau P-value (0,00864) < alpha (0,05)
  • #83 Kesimpulan menolak Ho karena statistik uji (z=2,52) > critical value (z=1,645), atau P-value (0,0059) < alpha (0,05)
  • #89 Kesimpulan gagal menolak Ho karena statistik uji (t=-0,35) > critical value (t=-2.145), atau P-value (0,3682) > alpha (0,05)
  • #93 Kesimpulan menolak Ho karena statistik uji (t=-2,77) < critical value (t=-2.160), atau P-value (0,016) < alpha (0,05)
  • #97 Kesimpulan gagal menolak Ho karena statistik uji (t=2.06) < critical value (t=2.145), atau P-value (0,06) > alpha (0,05)
  • #98 Kesimpulan menolak Ho karena statistik uji (t=6.15) > critical value (t=2.306), atau P-value (0,001) < alpha (0,05)