YOHANA RUSNAYUDA,SSI.,APT
BAHAN PEMBANTU DALAM INJEKSI 
 Ditambahkan pada pembuatan injeksi dengan maksud : 
 1. untuk mendapatkan pH yang optimal 
 2. untuk mendapatkan larutan yang isotonis 
 3. untuk mendapatkan larutan isoioni 
 4. sebagai zat bakterisida 
 5. sebagai pemati rasa setempat (anestetika lokal) 
 6. sebagai stabilisator
Untuk mendapatkan isoioni 
 Isoioni adalah larutan injeksi tersebut mengandung ion – ion yang 
sama dengan ion ion yang terdapat dalam darah, yaitu K+, Na+, Mg++, 
Ca++, Cl-. 
 Isoioni diperlukan pada penyuntikan dalam jumlah besar misalnya 
pada infus intravena 
Sebagai zat bakterisida/bakteriostatik 
• Zat bakterisida perlu ditambahkan jika : 
• 1. bahan obat tidak disterilkan, larutan injeksi dibuat secara aseptik 
• 2. Bila larutan injeksi disterilkan dengan cara penyaringan melalui 
penyaring bakteri steril 
• 3. bila larutan injeksi disterilkan dengan cara pemanasan suhu 98- 
1000C selama 30 menit 
• 4. bila larutan injeksi diberikan dalam wadah takaran ganda
Zat bakterisida tidak diperlukan jika : 
1. Volume satu kali penyuntikan melebihi 15 ml 
2. Bila larutan injeksi tersebut sudah cukup daya bakteriostatiknya. 
Cont TM atropin sulfat dalam pembawa asam borat, tidak perlu 
ditambah bakterisida krn asam borat dpt berfungsi sebagai 
antiseptik. 
3. Pada penyuntikan : intralumbal, peridural, intrasistenal, intra 
arterium dan intrakor 
 Sebagai zat pemati rasa (anestetika 
loka) 
Digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada tempat dilakukan 
penyuntikan, yang disebabkan larutan injeksi tersebut terlalu asam. 
Misalnya : Procain dalam injeksi Penisilin dalam minyak 
Novocain dalam injeksi Vitamin B compleks 
benzilalkohol dalam injeksi Luminal Na.
 Sebagai Stabilisator 
Stabilisator digunakan untuk : 
1. Mencegah terjadinya oksidasi oleh udara, dengan cara : 
a. mengganti udara di atas larutan injeksi dengan gas inert,misal N2 
b. menambah antioksidan untuk lar.injeksi yg tidak tahan thp O2 
dari udara, cont penambahan Na-metabisulfit / Na-pirosulfit 0,1% 
b/v pada lar. Injeksi Vit C 
2. Mencegah terjadinya endapan alkaloid oleh sifat alkalis dari gelas, 
yaitu dengan menambah garam dinatrium EDTA 
3. Mencegah terjadinya perubahan pH dengan menambah lar.dapar 
4. Menambah/menaikkan kelarutan bahan obat, misal luminal dalam 
sol.petit dan penambahan etilendiamin pada injeksi thiophyllin
 WADAH DAN TUTUP 
Dibedakan : wadah untuk injeksi dari kaca atau plastik 
Dapat juga dibedakan lagi menjadi : 
1. Wadah dosis tunggal (single dose) 
2. Wadah dosis ganda (multiple dose) 
 Wadah Kaca 
Syarat wadah kaca : 
1. Tidak boleh bereaksi dengan bahan obat 
2. Tidak boleh mempengaruhi khasiat obat 
3. Tidak boleh memberikan partikel kecil ke dalam lar injeksi. 
4. Harus dapat memungkinkan pemeriksaan isinya dgn mudah 
5. Dapat ditutup kedap dengan cara yang cocok 
6. Harus memenuhi syarat Uji wadah kaca untuk injeksi
Wadah plastik 
Wadah dari plastik contoh polietilen, polipropilen. 
Wadah plastik disterilkan dgn cara sterilisasi gas dgn gas 
etilen oksida. 
Keuntungan : netral, tidak mudah pecah dan tidak 
terlalu berat, mudah diangkut, tidak diperlukan 
penutup karet 
Kerugian : dapat ditembus uap air hingga kalau 
disimpan akan kehilangan air, juga dapat ditembus gas 
CO2
 TUTUP KARET 
 Digunakan pada wadah dosis ganda terbuat dari gelas/kaca 
 Dibuat dari karet sintetis / bahan lain yg cocok 
 Syarat tutup karet yang baik aadalah bila direbus dalam otoklaf, maka : 
1. Karet tidak lengket/lekat, & jika ditusuk dgn jarum suntik, tidak 
melepaskan pecahannya serta segera tertutup kembali stlh jarum 
suntik dicabut 
2. Setelah dingin tidak boleh keruh 
3. Uapnya tidak menghitamkan kertas timbal asetat (pb-asetat) 
Cara mencucinya : mula2 dicuci dengan deterjen yg cocok, bilas dengan 
air & rebus beberapa kali pendidihan, tiap kali pendidihan, air 
diganti 
Cara sterilisasi : 
Masukkan tutup karet dalam labu berisi lar.bakterisida, tutup, sterilkan 
dengan cara sterilisasi A, biarkan selama tdk kurang dari 7 hari
Cara Pembuatan Obat Suntik 
Dalam garis besar cara pembuatan larutan injeksi dibedakan : 
1. Cara aseptik 
2. Cara non-aseptik (Nasteril) 
 Cara aseptik 
Digunakan bila bahan obatnya tidak dapat disterilkan, karena akan rusak atau 
mengurai. 
Bahan obat Zat pembawa (steril) Zat pembantu (steril) 
Alat untuk pembuatan 
(gelas) 
Dicuci Disterilkan Dilarutkan (ruang Steril) 
Wadah (ampul, vial) 
Dicuci Disterilkan Diisi 
Ditutup kedap 
Dikarantina 
Diberi etiket dan dikemas Diperiksa
 Cara non - aseptik 
Dilakukan proses sterilisasi akhir. 
Bahan obat Zat pembawa Zat pembantu 
Alat untuk pembuatan 
(gelas) 
Dicuci Dilarutkan (ruang Steril) 
Wadah (ampul, vial) Disaring 
Dicuci Diisi 
Ditutup kedap 
Disterilkan 
Dikarantina 
Diberi etiket dan dikemas Diperiksa
 Pemeriksaan 
Setelah larutan injeksi ditutup kedap dan disterilkan, perlu dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan, 
untuk selanjutnya diberi etiket dandikemas. 
Pemeriksaan tersebut meliputi : 
1. Pemeriksaan kebocoran. 
2. Pemeriksaan sterilitas 
3. Pemeriksaan pirogenitas. 
4. Pemeriksaan kejernihan dan warna. 
5. Pemeriksaan keseragaman bobot. 
6. Pemeriksaan keseragaman volume. 
Pemeriksaan 1-4 tersebut di atas disebut Pemeriksaan hasil akhir produksi. 
1. Pemeriksaan Kebocoran 
Untuk mengetahui kebocoran wadah, dilakukan sebagai berikut: 
a) Untuk injeksi yang disterilkan dengan pemanasan. 
o Ampul 
Disterilkannya dalam posisi terbalik dengan ujung yang dilebur disebelah bawah. 
o Vial 
Setelah disterilkan, masih dalam keadaan panas, masukkan ke dalam larutan metilen 
biru 0,1% yang dingin. Wadah yang bocor akan berwarna biru, karena larutan metilen 
biru akan masuk ke dalam larutan injeksi tersebut.
b) Untuk injeksi yang disterilkan tanpa pemanasan atau secara aseptik / injeksi berwarna. 
diperiksa dengan memasukkan ke dalam eksikator dan divakumkan. Wadah yang bocor, 
isinya akan terisap keluar. 
2. Pemeriksaan sterilitas 
Digunakan untuk menetapkan ada tidaknya bakteri, jamur dan ragi yang hidup 
dalam sediaan yang diperiksa. Dilakukan dengan tehnik aspetik yang cocok. 
Sebelum dilakukan uji sterilitas, untuk zat-zat : 
o Pengawet : larutan diencerkan dahulu, sehingga daya pengawetnya sudah tidak bekerja 
lagi. 
o Antibiotik : daya bakterisidanya diinaktifkan dulu, misalnya pada penicillin ditambah 
enzym penicillinase. 
Menurut FI.ed III. Pemeriksaan ini dilakukan sebagai berikut: 
a) Dibuat perbenihan A untuk memeriksa adanya bakteri yang terdiri dari : 
 Perbenihan thioglikolat untuk bakter aerob, sebagai pembanding digunakan Bacillus 
subtilise atau Sarcina lutea. 
 Perbenihan thioglikolat yang dibebaskan dari oksigen terlarut dengan memanaskan 
pada suhu 100o selama waktu yang diperlukan. Untuk bakteri anaerob, sebagai 
pembanding digunakan Bacteriodes vulgatus atau Clostridium sporogenus. 
Penafsiran hasil : zat uji dinyatakan pada suhu 30o - 32oC selama tidak kurang dari 7 hari, 
tidak terdapat pertumbuhan jasad renik.
3. Pemeriksaan Pirogen 
Pirogen : Berasal dari kata Pyro dan Gen artinya pembentuk demam / panas. 
Pirogen adalah zat yang terbentuk dari hasil metabolisme mikroorganisme berupa 
zat eksotoksin dari kompleks polisacharida yang terikat pada suatu radikal yang 
mengandung unsur Nitrogen dan Pospor. Dalam kadar 0,001 – 0,01 gr / kg berat 
badan dapat larut dalam air, tahan pemanasan dan dapat menimbulkan demam 
jika disuntikkan. Pirogen bersifat termolabil. Larutan injeksi yang pemakaiannya 
lebih dari 10ml satu kali pakai harus bebas pirogen. 
Cara menghilangkan pirogen : 
1) Untuk alat/zat yang tahan terhadap pemanasan (jarum suntik, alat suntik dll) dipanaskan 
pada suhu 250o selama 30 menit. 
2) Untuk aqua p.i bebas pirogen : 
a. Dilakukan oksidasi : 
 Didihkan dengan larutan H2O2 1 % selama 1 jam. 
 1 lilter air yang dapat diminum, ditambah 10 l larutan KMnO4 0,1 N dan 5 ml 
larutan 1 N, disuling dengan wadah gelas, selanjutnya kerjakan seperti pembuatan 
Air untuk injeksi. 
b. Dilakukan dengan cara absorpsi : 
Saring dengan penyaring bakteri dari asbes. Lewatkan dalam kolom Al2O3. 
panaskandalam arang pengabsorpsi 0,1 % pada suhu 60o selama 5 – 10 menit 
sambil diaduk. Kemudian disaring dengan kertas saring rangkap 2 atau dengan 
filter asbes.
a. Dilakukan dengan cara absorpsi : 
Saring dengan penyaring bakteri dari asbes. Lewatkan dalam kolom Al2O3. 
panaskandalam arang pengabsorpsi 0,1 % pada suhu 60o selama 5 – 10 menit 
sambil diaduk. Kemudian disaring dengan kertas saring rangkap 2 atau dengan 
filter asbes. 
Cara mencegah terjadinya pirogen : 
 Air suling segar yang akan digunakan untuk pembuatan air untuk injeksi 
harus segera digunakan setelah disuling. 
 Pada waktu disuling jangan ada air yang memercik. 
 Alat penampung dan cara menampung air suling harus se aseptis mungkin. 
Uji pirogenitas : 
Pengujian dilakukan dengan mengukur peningkatan suhu badan kelinci 
percobaan yang disebabkan penyuntikan intra vena sediaan uji steril. 
4. Pemeriksaan kejernihan dan warna 
Diperiksa dengan melihat wadah pada latar belakang hitam-putih, disinari dari 
samping. Kotoran berwarna akan terlihat pada latar belakang putih, kotoran 
tidak berwarna akan terlihat pada latar belakang hitam.
5. Pemeriksaan keseragaman bobot 
Hilangkan etiket 10 wadah; cuci bagian luar wadah dengan air, keringkan pada 
suhu 105o . Timbang satu per satu dalam keadaan terbuka; keluarkan isi wadah ; 
cuci wadah dengan air, kemudian dengan etanol 95% ; keringkan lagi pada suhu 
105o sampai bobot tetap ; dinginkan dan kemudian timbang satu per satu. 
Bobot isi wadah tidak boleh menyimpang lebih dari batas yang tertera, kecuali satu 
wadah yang boleh menyimpang tidak lebih dari 2 kali batas yang tertera. 
tabel : Syarat keseragaman bobot injeksi 
Bobot yang tertera pada etiket Batas penyimpangan (%) 
Tidak lebih dari 120 mg 10,0 
Antara 120 mg dan 300 mg 7,5 
300 ng atau lebih 5,0
6. Pemeriksaan keseragaman Volume 
Untuk injeksi dalam bentuk cairan, volume isi netto tiap wadah harus sedikit 
berlebih dari volume yang ditetapkan. Kelebihan volume yang dianjurkan tertera 
dalam daftar berikut ini. 
Tabel : Syarat keseragaman volume injeksi 
Volume pada etiket 
Volume tambahan yang dianjurkan 
Cairan encer Cairan kental 
0,5 ml 
1,0 ml 
2,1 ml 
5,0 ml 
10,0 ml 
20,0 ml 
30,0 ml 
50,0 ml atau lebih 
0,10 ml (20 %) 
0,10 ml (10 %) 
0,15 ml (7,5 %) 
0,30 ml (6 %) 
0,50 ml (5%) 
0,60 ml (3 %) 
0,80 ml (2,6%) 
2,00 ml (4%) 
0,12 ml (24 %) 
0,15 ml (15%) 
0,25 ml (12,5 %) 
0,50 ml (10 %) 
0,70 ml (7 %) 
0,90 ml (4,5 %) 
1,20 ml (4 %) 
3,00 ml (6%)

MATERI INJEKSI 2

  • 1.
  • 2.
    BAHAN PEMBANTU DALAMINJEKSI  Ditambahkan pada pembuatan injeksi dengan maksud :  1. untuk mendapatkan pH yang optimal  2. untuk mendapatkan larutan yang isotonis  3. untuk mendapatkan larutan isoioni  4. sebagai zat bakterisida  5. sebagai pemati rasa setempat (anestetika lokal)  6. sebagai stabilisator
  • 3.
    Untuk mendapatkan isoioni  Isoioni adalah larutan injeksi tersebut mengandung ion – ion yang sama dengan ion ion yang terdapat dalam darah, yaitu K+, Na+, Mg++, Ca++, Cl-.  Isoioni diperlukan pada penyuntikan dalam jumlah besar misalnya pada infus intravena Sebagai zat bakterisida/bakteriostatik • Zat bakterisida perlu ditambahkan jika : • 1. bahan obat tidak disterilkan, larutan injeksi dibuat secara aseptik • 2. Bila larutan injeksi disterilkan dengan cara penyaringan melalui penyaring bakteri steril • 3. bila larutan injeksi disterilkan dengan cara pemanasan suhu 98- 1000C selama 30 menit • 4. bila larutan injeksi diberikan dalam wadah takaran ganda
  • 4.
    Zat bakterisida tidakdiperlukan jika : 1. Volume satu kali penyuntikan melebihi 15 ml 2. Bila larutan injeksi tersebut sudah cukup daya bakteriostatiknya. Cont TM atropin sulfat dalam pembawa asam borat, tidak perlu ditambah bakterisida krn asam borat dpt berfungsi sebagai antiseptik. 3. Pada penyuntikan : intralumbal, peridural, intrasistenal, intra arterium dan intrakor  Sebagai zat pemati rasa (anestetika loka) Digunakan untuk mengurangi rasa sakit pada tempat dilakukan penyuntikan, yang disebabkan larutan injeksi tersebut terlalu asam. Misalnya : Procain dalam injeksi Penisilin dalam minyak Novocain dalam injeksi Vitamin B compleks benzilalkohol dalam injeksi Luminal Na.
  • 5.
     Sebagai Stabilisator Stabilisator digunakan untuk : 1. Mencegah terjadinya oksidasi oleh udara, dengan cara : a. mengganti udara di atas larutan injeksi dengan gas inert,misal N2 b. menambah antioksidan untuk lar.injeksi yg tidak tahan thp O2 dari udara, cont penambahan Na-metabisulfit / Na-pirosulfit 0,1% b/v pada lar. Injeksi Vit C 2. Mencegah terjadinya endapan alkaloid oleh sifat alkalis dari gelas, yaitu dengan menambah garam dinatrium EDTA 3. Mencegah terjadinya perubahan pH dengan menambah lar.dapar 4. Menambah/menaikkan kelarutan bahan obat, misal luminal dalam sol.petit dan penambahan etilendiamin pada injeksi thiophyllin
  • 6.
     WADAH DANTUTUP Dibedakan : wadah untuk injeksi dari kaca atau plastik Dapat juga dibedakan lagi menjadi : 1. Wadah dosis tunggal (single dose) 2. Wadah dosis ganda (multiple dose)  Wadah Kaca Syarat wadah kaca : 1. Tidak boleh bereaksi dengan bahan obat 2. Tidak boleh mempengaruhi khasiat obat 3. Tidak boleh memberikan partikel kecil ke dalam lar injeksi. 4. Harus dapat memungkinkan pemeriksaan isinya dgn mudah 5. Dapat ditutup kedap dengan cara yang cocok 6. Harus memenuhi syarat Uji wadah kaca untuk injeksi
  • 7.
    Wadah plastik Wadahdari plastik contoh polietilen, polipropilen. Wadah plastik disterilkan dgn cara sterilisasi gas dgn gas etilen oksida. Keuntungan : netral, tidak mudah pecah dan tidak terlalu berat, mudah diangkut, tidak diperlukan penutup karet Kerugian : dapat ditembus uap air hingga kalau disimpan akan kehilangan air, juga dapat ditembus gas CO2
  • 8.
     TUTUP KARET  Digunakan pada wadah dosis ganda terbuat dari gelas/kaca  Dibuat dari karet sintetis / bahan lain yg cocok  Syarat tutup karet yang baik aadalah bila direbus dalam otoklaf, maka : 1. Karet tidak lengket/lekat, & jika ditusuk dgn jarum suntik, tidak melepaskan pecahannya serta segera tertutup kembali stlh jarum suntik dicabut 2. Setelah dingin tidak boleh keruh 3. Uapnya tidak menghitamkan kertas timbal asetat (pb-asetat) Cara mencucinya : mula2 dicuci dengan deterjen yg cocok, bilas dengan air & rebus beberapa kali pendidihan, tiap kali pendidihan, air diganti Cara sterilisasi : Masukkan tutup karet dalam labu berisi lar.bakterisida, tutup, sterilkan dengan cara sterilisasi A, biarkan selama tdk kurang dari 7 hari
  • 9.
    Cara Pembuatan ObatSuntik Dalam garis besar cara pembuatan larutan injeksi dibedakan : 1. Cara aseptik 2. Cara non-aseptik (Nasteril)  Cara aseptik Digunakan bila bahan obatnya tidak dapat disterilkan, karena akan rusak atau mengurai. Bahan obat Zat pembawa (steril) Zat pembantu (steril) Alat untuk pembuatan (gelas) Dicuci Disterilkan Dilarutkan (ruang Steril) Wadah (ampul, vial) Dicuci Disterilkan Diisi Ditutup kedap Dikarantina Diberi etiket dan dikemas Diperiksa
  • 10.
     Cara non- aseptik Dilakukan proses sterilisasi akhir. Bahan obat Zat pembawa Zat pembantu Alat untuk pembuatan (gelas) Dicuci Dilarutkan (ruang Steril) Wadah (ampul, vial) Disaring Dicuci Diisi Ditutup kedap Disterilkan Dikarantina Diberi etiket dan dikemas Diperiksa
  • 11.
     Pemeriksaan Setelahlarutan injeksi ditutup kedap dan disterilkan, perlu dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan, untuk selanjutnya diberi etiket dandikemas. Pemeriksaan tersebut meliputi : 1. Pemeriksaan kebocoran. 2. Pemeriksaan sterilitas 3. Pemeriksaan pirogenitas. 4. Pemeriksaan kejernihan dan warna. 5. Pemeriksaan keseragaman bobot. 6. Pemeriksaan keseragaman volume. Pemeriksaan 1-4 tersebut di atas disebut Pemeriksaan hasil akhir produksi. 1. Pemeriksaan Kebocoran Untuk mengetahui kebocoran wadah, dilakukan sebagai berikut: a) Untuk injeksi yang disterilkan dengan pemanasan. o Ampul Disterilkannya dalam posisi terbalik dengan ujung yang dilebur disebelah bawah. o Vial Setelah disterilkan, masih dalam keadaan panas, masukkan ke dalam larutan metilen biru 0,1% yang dingin. Wadah yang bocor akan berwarna biru, karena larutan metilen biru akan masuk ke dalam larutan injeksi tersebut.
  • 12.
    b) Untuk injeksiyang disterilkan tanpa pemanasan atau secara aseptik / injeksi berwarna. diperiksa dengan memasukkan ke dalam eksikator dan divakumkan. Wadah yang bocor, isinya akan terisap keluar. 2. Pemeriksaan sterilitas Digunakan untuk menetapkan ada tidaknya bakteri, jamur dan ragi yang hidup dalam sediaan yang diperiksa. Dilakukan dengan tehnik aspetik yang cocok. Sebelum dilakukan uji sterilitas, untuk zat-zat : o Pengawet : larutan diencerkan dahulu, sehingga daya pengawetnya sudah tidak bekerja lagi. o Antibiotik : daya bakterisidanya diinaktifkan dulu, misalnya pada penicillin ditambah enzym penicillinase. Menurut FI.ed III. Pemeriksaan ini dilakukan sebagai berikut: a) Dibuat perbenihan A untuk memeriksa adanya bakteri yang terdiri dari :  Perbenihan thioglikolat untuk bakter aerob, sebagai pembanding digunakan Bacillus subtilise atau Sarcina lutea.  Perbenihan thioglikolat yang dibebaskan dari oksigen terlarut dengan memanaskan pada suhu 100o selama waktu yang diperlukan. Untuk bakteri anaerob, sebagai pembanding digunakan Bacteriodes vulgatus atau Clostridium sporogenus. Penafsiran hasil : zat uji dinyatakan pada suhu 30o - 32oC selama tidak kurang dari 7 hari, tidak terdapat pertumbuhan jasad renik.
  • 13.
    3. Pemeriksaan Pirogen Pirogen : Berasal dari kata Pyro dan Gen artinya pembentuk demam / panas. Pirogen adalah zat yang terbentuk dari hasil metabolisme mikroorganisme berupa zat eksotoksin dari kompleks polisacharida yang terikat pada suatu radikal yang mengandung unsur Nitrogen dan Pospor. Dalam kadar 0,001 – 0,01 gr / kg berat badan dapat larut dalam air, tahan pemanasan dan dapat menimbulkan demam jika disuntikkan. Pirogen bersifat termolabil. Larutan injeksi yang pemakaiannya lebih dari 10ml satu kali pakai harus bebas pirogen. Cara menghilangkan pirogen : 1) Untuk alat/zat yang tahan terhadap pemanasan (jarum suntik, alat suntik dll) dipanaskan pada suhu 250o selama 30 menit. 2) Untuk aqua p.i bebas pirogen : a. Dilakukan oksidasi :  Didihkan dengan larutan H2O2 1 % selama 1 jam.  1 lilter air yang dapat diminum, ditambah 10 l larutan KMnO4 0,1 N dan 5 ml larutan 1 N, disuling dengan wadah gelas, selanjutnya kerjakan seperti pembuatan Air untuk injeksi. b. Dilakukan dengan cara absorpsi : Saring dengan penyaring bakteri dari asbes. Lewatkan dalam kolom Al2O3. panaskandalam arang pengabsorpsi 0,1 % pada suhu 60o selama 5 – 10 menit sambil diaduk. Kemudian disaring dengan kertas saring rangkap 2 atau dengan filter asbes.
  • 14.
    a. Dilakukan dengancara absorpsi : Saring dengan penyaring bakteri dari asbes. Lewatkan dalam kolom Al2O3. panaskandalam arang pengabsorpsi 0,1 % pada suhu 60o selama 5 – 10 menit sambil diaduk. Kemudian disaring dengan kertas saring rangkap 2 atau dengan filter asbes. Cara mencegah terjadinya pirogen :  Air suling segar yang akan digunakan untuk pembuatan air untuk injeksi harus segera digunakan setelah disuling.  Pada waktu disuling jangan ada air yang memercik.  Alat penampung dan cara menampung air suling harus se aseptis mungkin. Uji pirogenitas : Pengujian dilakukan dengan mengukur peningkatan suhu badan kelinci percobaan yang disebabkan penyuntikan intra vena sediaan uji steril. 4. Pemeriksaan kejernihan dan warna Diperiksa dengan melihat wadah pada latar belakang hitam-putih, disinari dari samping. Kotoran berwarna akan terlihat pada latar belakang putih, kotoran tidak berwarna akan terlihat pada latar belakang hitam.
  • 15.
    5. Pemeriksaan keseragamanbobot Hilangkan etiket 10 wadah; cuci bagian luar wadah dengan air, keringkan pada suhu 105o . Timbang satu per satu dalam keadaan terbuka; keluarkan isi wadah ; cuci wadah dengan air, kemudian dengan etanol 95% ; keringkan lagi pada suhu 105o sampai bobot tetap ; dinginkan dan kemudian timbang satu per satu. Bobot isi wadah tidak boleh menyimpang lebih dari batas yang tertera, kecuali satu wadah yang boleh menyimpang tidak lebih dari 2 kali batas yang tertera. tabel : Syarat keseragaman bobot injeksi Bobot yang tertera pada etiket Batas penyimpangan (%) Tidak lebih dari 120 mg 10,0 Antara 120 mg dan 300 mg 7,5 300 ng atau lebih 5,0
  • 16.
    6. Pemeriksaan keseragamanVolume Untuk injeksi dalam bentuk cairan, volume isi netto tiap wadah harus sedikit berlebih dari volume yang ditetapkan. Kelebihan volume yang dianjurkan tertera dalam daftar berikut ini. Tabel : Syarat keseragaman volume injeksi Volume pada etiket Volume tambahan yang dianjurkan Cairan encer Cairan kental 0,5 ml 1,0 ml 2,1 ml 5,0 ml 10,0 ml 20,0 ml 30,0 ml 50,0 ml atau lebih 0,10 ml (20 %) 0,10 ml (10 %) 0,15 ml (7,5 %) 0,30 ml (6 %) 0,50 ml (5%) 0,60 ml (3 %) 0,80 ml (2,6%) 2,00 ml (4%) 0,12 ml (24 %) 0,15 ml (15%) 0,25 ml (12,5 %) 0,50 ml (10 %) 0,70 ml (7 %) 0,90 ml (4,5 %) 1,20 ml (4 %) 3,00 ml (6%)