ASKEP SINDROM CUSHING




                OLEH :

             KELOMPOK V

           SRI FITRIANTI AZIS

             R.A.ISMAWATI

                PERTIWI

                 INRAS




SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAKASSAR

   PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

                  2012




                                         i
KATA PENGANTAR


       Pujian dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena rahmat dan

kuasa-Nya kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini.

       Makalah ini dibuat dengan tujuan agar pembaca mendapatkan informasi mengenai

sindrom cushing sehingga pembaca dapat mengenal gejala dari sindom ini sejak awal karena

sindrom ini dapat diderita oleh pria maupun wanita dan umumnya pada usia dewasa.

       Kami berharap makalah ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca

mengenai masalah-masalah kesehatan khususnya tentang sindrom cushing.

       Kami menyadari bahwa makalah ini memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu,kami

sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca sekalian untuk

penyempurnaan makalah ini.




                                                               Makassar, 20 Maret 2012




                                                                      Penyusun




                                                                                           ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................................i

KATA PENGANTAR ...........................................................................................................ii

DAFTAR ISI..........................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................1

     A. Latar belakang ............................................................................................................1

     B. Rumusan masalah ......................................................................................................2

     C. Tujuan ........................................................................................................................2

     D. Manfaat ......................................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................................3

      1. Konsep medis ...........................................................................................................3

                A. Definisi ...........................................................................................................3

                B. Etiologi ...........................................................................................................3

                C. Patofisiologi ...................................................................................................4

                D. Jenis-jenis sindrom cushing ...........................................................................7

                E. Manifestasi klinik...........................................................................................7

                F. Diagnosis........................................................................................................8

                G. Pengobatan dan terapi ....................................................................................9

  2. Asuhan keperawatan .....................................................................................................10

BAB III PENUTUP ...............................................................................................................23

                     A. Kesimpulan ..............................................................................................23

                     B. Saran ........................................................................................................23

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................24


                                                                                                                                           iii
BAB I

                                 PENDAHULUAN



A. LATAR BELAKANG

          Sindrom cushing adalah suatu keadaan yang diakibatkan oleh efek metabolik

  gabungan dari peninggian kadar glukokortikoid      dalam darah yang menetap. Nama

  penyakit ini diambil dari Harvey Cushing seorang ahli bedah yang pertama kali

  mengidentifikasi penyakit ini pada tahun 1912.

          Sindroma Chusing ini ditandai dengan adanya peningkatan berat badan (obesitas),

  distribusi lemak pada bagian leher (buffalo hump) dan di wajah (moon face), striae

  berwarna ungu pada kulit, osteoporosis, hiperglikemia, hipertensi, dan lain sebagainya.

  Jenis sindrom cushing terbagi atas 2 yaitu : (1) Dependen ACTH dan (2) Independen

  ACTH.

           Prevalensi sinndroma Chusing ini pada laki-laki sebesar 1:30.000 dan pada

  perempuan 1;10.000. Angka kematian ibu yang tinggi pada sindroma Cushing

  disebabkan oleh hipertensi berat (67%), diabetes gestasional (30%), superimposed

  preeklamsia (10%) dan gagal jantung sekunder karena hipertensi berat (10%). Kematian

  ibu telah dilaporkan sebanyak 3 kasus dari 65 kehamilan dengan sindroma Cushing, 2

  kasus disebabkan gagal jantung dan 1 kasus infeksi (Hernaningsih dan Soehita, 2005).




                                                                                         iv
B. RUMUSAN MASALAH

  1. Apa definisi sindrom cushing ?

  2. Apa etiologi sindom cushing ?

  3. Apa patofisiologi sindrom cushing ?

  4. Sebutkan jenis-jenis sindrom cushing ?

  5. Bagaimana manifestasi klinik dari sindrom cushing ?

  6. Bagaimana pengobatan untuk pasien dengan sindrom cushing ?

  7. Bagaimana asuhan keperawatan pada sindrom cushing ?



C. TUJUAN

  1. Untuk mengetahui definisi sindrom cushing ?

  2. Untuk mengetahui etiologi sindom cushing ?

  3. Untuk mengetahui patofisiologi sindrom cushing ?

  4. Untuk mengetahui jenis-jenis sindrom cushing ?

  5. Untuk mengetahui manifestasi klinik dari sindrom cushing ?

  6. Untuk mengetahui pengobatan untuk pasien dengan sindrom cushing ?

  7. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada sindrom cushing ?



D. MANFAAT

  1. Sebagai informasi dasar untuk mengenal gejala-gejala dari sindrom cushing

  2.   Untuk menambah wawasan dan pengetahuan pembaca mengenai sindrom cushing




                                                                                 v
BAB II

                                         PEMBAHASAN




   A. PENGERTIAN

   Sindrom cushing adalah suatu keadaan yang diakibatkan oleh efek metabolik gabungan dari

   peninggian kadar glukokortikoid dalam darah yang menetap. Kadar yang tinggi ini dapat terjadi

   secara spontan atau karena pemeberian dosis farmakologik senyawa-senyawa glukokortikoid.



   B. ETIOLOGI

 Sindrom cushing disebabkan oleh sekresi kortisol atau kortikosteron yang berlebihan, kelebihan

   simulasi ACTH mengakibatkan hiperplasia korteks anak ginjal berupa adenoma maupun carsinoma

   yang tidak tergantung ACTH juga mengakibatkan sindrom cushing. Demikian juga hiperaktivitas

   hipofisis, atau tumor lain yang mengeluarkan ACTH. Syindrom cuhsing yang disebabkan tumor

   hipofisis disebut penyakit cusing

   .

 Sindrom cusing dapat diakibatkan       oleh pemberian glukortikoid jangka panjang dalam dosis

   farmakologik (latrogen) atau oleh sekresi kortisol yang berlebihan pada gangguan aksis hipotalamus-

   hipofise-adrenal (spontan) pada sindrom cusing spontan, hiperfungsi korteks adrenal terjadi akibat

   ransangan belebihan oleh ACTH atau sebab patologi adrenal yang mengakibatkan produksi kortisol

   abnormal.




   C. PATOFISIOLOGI


                                                                                                    vi
Telah dibahas diatas bahwa penyebab sindrom cushing adalah peninggian kadar glukokortikoid

    dalam darah yang menetap. Untuk lebih memahami manifestasi klinik sindrom chusing, kita

    perlu membahas akibat-akibat metabolik dari kelebihan glikokorikoid.

    Korteks adrenal mensintesis dan mensekresi empat jenis hormon:

              Glukokortikoid; kortisol.

              Mineralokortikoid; Aldosteron

              Androgen.

              Estrogen

    Kelebihan glukokortikoid dapat menyebabkan keadaan-keadaan seperti dibawah ini:

        1. Metabolisme protein dan karbohidrat.

    Glukokortikoid mempunyai efek katabolik dan antianabolik pada protein, menyebabkan

    menurunnya kemampuan sel-sel pembentk protein untuk mensistesis protein, sebagai

    akibatnya terjadi kehilangan protein pada jaringan seperti kulit, otot, pembuluh darah, dan

    tulang.

    Secara klinis dapat ditemukan:

   Kulit mengalami atropi dan mudah rusak, luka-luka sembuh dengan lambat.

   Ruptura serabut-serabut elastis pada kulit menyebabkan tanda regang pada kulit berwarna

    ungu (striae).

   Otot-otot mengalami atropi dan menjadi lemah.

   Penipisan dinding pembuluh darah dan melemahnya jaringan penyokong vaskuler

    menyebabkan mudah tibul luka memar.

   Matriks protein tulang menjadi rapuh dan menyebabkan osteoporosis, sehingga dapat dengan

    mudah terjadi fraktur patologis.




                                                                                            vii
   Metabolisme karbohidrat dipengaruhi dengan meransang glukoneogenesis dan menganggu

    kerja insulin pada sel-sel perifer, sebagai akibatnya penderita dapat mengalami hiperglikemia.

   Pada seseorang yang mempunyai kapasitas produksi insulin yang normal, maka efek dari

    glukokortikoid akan dilawan dengan meningkatkan sekresi insulin untuk meningkatkan toleransi

    glukosa.

   Sebaliknya penderita dengan kemampuan sekresi insulin yang menurun tidak mampu untuk

    mengkompensasi keadaan tersebut, dan menimbulkan manifestasi klinik DM.

        2. Distribusi jaringan adiposa.

   Distribusi jaringan adiposa terakumulasi didaerah sentral tubuh

   Obisitas

   Wajah bulan (moon face)

   Memadatnya fossa supraklavikulare dan tonjolan servikodorsal (punguk bison)

   Obesitas trunkus dengan ekstremitas atas dan bawag yang kurus akibat atropi otot memberikan

    penampilan klasik perupa penampilan Chusingoid.

        3. Elektrolit

    efek minimal pada elektrolit serum.

 Kalau diberikan dalam kadar yang terlalu besar dapat menyebabkan retensi natrium dan

    pembuangan kalium. Menyebabkan edema, hipokalemia dan alkalosis metabolik.

        4. Sistem kekebalan

    ada dua respon utama sistem kekebalan; yang pertama adalah pembentukan antibody humoral

    oleh sel-sel plasma dan limfosit B akibat ransangan antigen yang lainnya tergantung pada reaksi-

    reaksi yang diperantarai oleh limfosit T yang tersensitasi.

 Glukokortikoid mengganggu pembentukan antibodi humoral dan menghabat pusat-pusat

    germinal limpa dan jaringan limpoid pada respon primer terhadap anti gen.


                                                                                                 viii
Gangguan respon imunologik dapat terjadi pada setiap tingkatan berikut ini:

   Proses pengenalan antigen awal oleh sel-sel sistem monosit makrofag

   Induksi dan proleferasi limfosit imunokompeten

   Produksi anti bodi

   Reaksi peradangan

   Menekan reaksi hipersensitifitas lambat.

        5. Sekresi lambung

   sekeresi asam lambung dapat meningkat

   sekresi asam hidroklorida dan pepsin dapat meningkat.

   Faktor-faktor protekitif mukosa dirubah oleh steroid dan faktor-faktor ini dapat mempermudah

    terjadinya tukak.

        6. Fungsi otak

    perubahan psikologik terjadi karena kelebihan kortikosteroid, hal ini ditandai dengan oleh

    ketidak stabilan emosional, euforia, insomnia, dan episode depresi singkat.

        7. Eritropoesis

 Involusi jaringan limfosit, ransangan pelepasan neutrofil dan peningkatan eritropoiesis.

    Namun secara klinis efek farmakologis yang            bermanfaat dari glukokortikoid adalah

    kemampuannya untuk menekan reaksi peradangan. Dalam hal ini glukokortikoid:

           Dapat menghambat hiperemia, ekstra vasasi sel, migrasi sel, dan permeabilitas kapiler.

           Menghambat pelapasan kiniin yang bersifat pasoaktif dan menkan fagositosis.

           Efeknya pada sel mast; menghambat sintesis histamin dan menekan reaksi anafilaktik

        akut yang berlandaskan hipersensitivitas yang dperantarai anti bodi.




                                                                                                     ix
Penekanan peradangan sangat deperlukan, akan tetapi terdapat efek antiinflamasi yang

merugikan penderita. Pada infeksi akut tubuh mungkin tidak mampu melindungi diri sebagai

layaknya sementara menerima dosis farmakologik.



D.       JENIS-JENIS SINDROM CUSHING

Sindrom cushing dapat dibagi dalam 2 jenis:

1)       Tergantung ACTH

2)       Tak tergantung ACTH



E.       MANIFESTASI KLINIK

Manifestasi klinik yang sering ditemukan pada penyakit sydrom cushing antara lain obesitas

sentral, gundukan lemak pada punggung, muka bulat (moon face), striae, berkurangnya massa

otot dan kelemahan umum.

Tanda dan gejala lain yang dapat ditemukan pada sindrom cushing seperti atropi/kelemahan

otot ekstremitas, hirsutisme (kelebihan bulu pada wanita), ammenorrhoe, impotensi,

osteoporosis, atropi kulit,     akne, udema., nyeri kepala, mudah memar dan gangguan

penyembuhan luka.




F.       DIAGNOSIS

        Adanya sindrom cushing dapat ditentukan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan

         jasmani yang telah dijelaskan.

        Diagnosis umunya ditegakkan berdasarkan kadar kortisol yang tinggi dalam plasma dan

         kemih.




                                                                                           x
Ada juga tes-tes spesifik yang dipakai untuk menentukan adanya tidaknya irama sirkandian

normal pelepasan kortisol dan mekanisme pengaturan

        umpan balik yang sensitif. Tidak adanya irama sirkandian dan berkurangnya kepekaan

         sistim pengaturan umpan balik merupakan ciri sindrom cushing.

        Pemeriksaan fisiologi dapat membantu membedakan cushing hipofisis dari cushing

         ektopik atau cushing korteks adrenal primer. Pada sindrom cushing ektopik dan korteks

         adrenal, sekresi abnormal ACTH atau kortisol biasanya tidak berubah pada peransangan

         ataupun penekanan untuk menguji mekanisme kontrol umpan balik negatif yang

         normal.

        CT scan resolusi.

        MRI dengan koontras memberikan temuan positif pada mayoritas penderita. CT scan

         kelenjar adrenal biasanya menujukkan pembesaran adrenal pada kasus sindrom cushing

         tergantung ACTH dan massa adrenal pada pasien dengan adenoma atau karsinoma

         adrenal.



G.       PENGOBATAN/ TERAPI

        Pengobatan sindrom cushing tergantung ACTH tidak seragam, bergantung pada apakah

         sumber ACTH adalah hiposis atau ektopik.

        Jika dijumpai tumor hipofisis sebaiknya sdiusahakan reseksi tumor transfenoidal.

        Tetapi jika terdapat bukti hiperfungsi hipofisis namun tumor tidak dapat ditemukan

         maka sebagai gantinya dapat dilakukan radiasi kobalt pada kelenjar hipofise.

        Kelebihan kortisol juga dapat ditanggulangi dengan adrenalektomi total dan diikuti

         pemberian kortisol dosis fisiologik atau dengan kimia yang mampu menghambat atau

         merusak sel-sel korteks adrenal yang mensekresi kortisol.


                                                                                            xi
   Pengobatan sindrom ACTH ektopik adalah dengan reseksi neoplasma yang mensekresi

                 ACTH atau adrenalektomi atau supresi kimia fungsi adrenal seperti dianjurkan pada

                 penderita sindrom cushing jenis tergantung ACTH hipofisis.




2.ASUHAN KEPERAWATAN

PENGKAJIAN

NEUROLOGIS

 Kelabilan alam perasaan depresi sampai mania.

MUSKULSKELETAL

 Bufallo hamp

 Obesitas badan dengan ekstremitas kecil

 Penumpukan lemak supra klapikular

 Sakit pinggang

 Kehilangan otot atau kehilangan massa otot

 Osteoporosis

KARDIOVASKULER


                                                                                                xii
 Hipertensi

 Hiper tensi cairan dengan pitting udema

GASTROINTESTINAL

 Polidipsia

 Peningkatan berat badan

GINJAL

 Poliuri

METABOLISME

 Gangguan penyembuhan luka

 Peningkatan kemudahan untuk terserang infeksi

 Intoleransi karbohidrat

INTRGUMEN

 Moon face

 Kulit tipis transparan

 Peningkatan pigmrntasi

 Mudah memar

SEKSUAL DAN REPRODUKSI

 Maskulinitas wanita

 Gangguan menstruasi

 Feminisasi pria

 Impotensi

 Penurunan libido

PEMERIKSAAN DIAGNISTIK LABORATORIUM

 Hiperglikemi


                                                  xiii
 Alkalosis metabolik

 Hipokalemia

 Peningkatan ACTH plasma bila di test sepanjang hari

 Peningkatan natrium serum dan plasma kortisol

 Plasma kortisol tidak dapat sitekan dengan deksa metason

 Hitung sel darah putih meningkat

 Respon hiperaktif terhadap tes ransangan ACTH 8 jam

 Peningkatan kortisol urine24 jam dan 17-hidroksil kortokosteroid

 Peningkatan respon tergadap metapiron




                                                                     xiv
DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan umum yang dapat dijumpai pada klien dengan sindrom Cushing adalah

sebagai berikut :

a. Resiko terhadap cedera berhubungan dengan kelemahan dan perubahan metabolisme protein.

b. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan, keletihan, pengurusan masa otot.

c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema.

d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan fisik,.

e. Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan suasana hati, mudah tersinggung dan

depresi.

f. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kelebihan natrium

g. Resiko perdarahan berhubungan dengan melemahnya jaringan penyokong perivaskuler

h. Nyeri berhubungan dengan perlukaan pada mukosa lambung

i. Resiko tinggi gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

intak in adekuat

j. Potensial komplikasi: Hiperglikemia

RENCANA KEPERAWATAN

a. Resiko terhadap cedera berhubungan dengan kelemahan dan perubahan metabolisme protein.

Kriteria hasil:

1) Klien bebas dari cedera jaringan lunak atau fraktur

2) Klien bebas dari area ekimotik

3) Klien tidak mengalami kenaikan suhu tubuh, kemerahan, nyeri, atau tanda-tanda infeksi dan

inflamasi lainnya

Rencana tindakan keperawatan:



                                                                                           xv
1) Kaji tanda-tanda ringan infeksi

Rasional : Efek antiinflamasi kortikosteroid dapat mengaburkan tanda-tanda umum inflamasi

dan infeksi.

2) Ciptakan lingkungan yang protektif

Rasional : Mencegah jatuh, fraktur dan cedera lainnya pada tulang dan jaringan lunak.

3) Bantu klien ambulasi

Rasional : Mencegah terjatuh atau terbentur pada sudut furniture yang tajam.

4) Berikan diet tinggi protein, kalsium, dan vitamin D

Rasional : Meminimalkan penipisan massa otot dan osteoporosis.

c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema.

Kriteria hasil:

Klien mampu mempertahankan keutuhan kulit, menunjukkan perilaku/teknik untuk mencegah

kerusakan/cedera kulit.

Rencana tindakan keperawatan:

1) Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor, vaskular.

Rasional : menandakan area sirkulasi buruk/kerusakan yang dapat menimbulkan pembentukan

infeksi.

2) Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa.

Rasional : mendeteksi adanya dehidrasi/hidrasi berlebihan yang mempengaruhi sirkulasi dan

integritas jaringan pada tingkat seluler.

3) Inspeksi area tergantung edema.

Rasional : jaringan edema lebih cenderung rusak/robek.

4) Berikan perawatan kulit. Berikan salep atau krim.



                                                                                        xvi
Rasional : lotion dan salep mungkin diinginkan untuk menghilangkan kering, robekan kulit.

5) Anjurkan menggunakan pakaian katun longgar.

Rasional : mencegah iritasi dermal langsung dan meningkatkan evaporasi lembab pada kulit.

6) Kolaborasi dalam pemberian matras busa.

Rasional : menurunkan tekanan lama pada jaringan.

d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan fisik.

Kriteria hasil:

Klien mengungkapkan perasaan dan metode koping untuk persepsi negatif tentang perubahan

penampilan, fungsi seksualitas, dan tingkat aktivitas. Menyatakan penerimaan terhadap situasi

diri.

Rencana tindakan keperawatan:

1) Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang kondisi dan pengobatan.

Rasional : mengidentifikasi luas masalah dan perlunya intervensi.

2) Diskusikan arti perubahan pada pasien.

Rasional : beberapa pasien memandang situasi sebagai tantangan, beberapa sulit menerima

perubahan hidup/penampilan peran dan kehilangan kemampuan control tubuh sendiri.

3) Anjurkan orang terdekat memperlakukan pasien secara normal dan bukan sebagai orang cacat.

Rasional : menyampaikan harapan bahwa pasien mampu untuk mangatur situasi dan membantu

untuk mempertahankan perasaan harga diri dan tujuan hidup.

4) Rujuk ke perawatan kesehatan. Contoh: kelompok pendukung.

Rasional : memberikan bantuan tambahan untuk manajemen jangka panjang dari perubahan pola

hidup.




                                                                                            xvii
e. Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan suasana hati, mudah tersinggung dan

depresi.

Kriteria hasil:

Klien mampu mempertahankan tingkat orientasi realita sehari-hari, mengenali perubahan pada

pemikiran dan tingkah laku

Rencana tindakan keperawatan:

1) Evaluasi tingkat stress individu dan hadapi dengan tepat

Rasional : tingkat stress mungkin dapat meningkat dnegan pesat karena perubahan yang baru,

sedang atau telah terjadi.

2) Panggil pasien dengan namanya.

Rasional : Untuk menolong mempertahankan orientasi.

3) Catat perubahan siklik dalam mental/tingkah laku. Ikutsertakan dalam latihan rutin dan

program aktivitas.

Rasional : penelitian menunjukkan bahwa penarikan diri dan pasien yang tidak aktif memiliki

resiko yang lebih besar untuk mengalami kebingungan

4) Dukung keikutsertaan pasien dalam perawatan diri sendiri.

Rasional : pilihan merupakan komponen yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

f. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kelebihan natrium

Kriteria hasil :

Menunjukkan volume cairan stabil, dengan keseimbangan pemasukan dan pengeluaran, berat

badan stabil, tanda vital dalam rentang normal dan tak ada edema.

Rencana tindakan keperawatan:

1) Ukur masukan dan haluaran, catat keseimbangan positif. Timbang berat badan tiap hari.



                                                                                           xviii
Rasional : menunjukkan status volume sirkulasi, terjadinya/ perbaikan perpindahan cairan, dan

respon terhadap terapi. Keseimbangan positif/peningkatan berat badan sering menunjukkan

retensi cairan lenjut.

2) Awasi tekanan darah.

Rasional : Peningkatan tekanan darah biasanya berhubungan dengan kelebihan volume cairan

tetapi mungkin tidak terjadi karena perpindahan cairan keluar area vaskuler.

3) Kaji derajat perifer/edema dependen

Rasional : Perpindahan cairan pada jaringan sebagai akibat retensi natrium dan air, penurunan

albumin dan penurunan ADH.

4) Awasi albumin serum dan elektrolit (khususnya kalium dan natrium)

Rasional : penurunan albumin serum memperngaruhi tekanan osmotic koloid plasma,

mengakibatkan pembentukan edema.

5) Batasi natrium dan cairan sesuai indikasi.

Rasional : Natrium mungkin dibatasi untuk meminimalkan retensi cairan dalam area

ekstravaskuler.

g. Resiko perdarahan berhubungan dengan melemahnya jaringan penyokong perivaskuler

Keriteria hasil:

Trombosit dalam batas normal

Intervensi

1) Kaji adanya perdarahan

Rasional : mempermudah menentukan intervensi selanjutnya.

2) Observasi tanda-tanda vital (S.N.RR)

Rasional :



                                                                                          xix
3) Antisipasi terjadinya perlukaan / perdarahan.

Rasional : mencegah terjadi perdarahan

4) Anjurkan keluarga klien untuk lebih banyak mengistirahatkan klien

Rasional : Mengurangi resiko cedera sehingga memperkecil adanya perdarahan

5) Monitor hasil darah, Trombosit

Rasional : penurunan jumlah trombosit menandakan adanya perdarahan

h. Nyeri berhubungan dengan terjadinya perlukaan pada mukosa lambung.

Keriteria hasil :

Klien mengatakan nyeri hilang/berkurang, menunjukkan postur tubuh rileks dan mampu tidur

dengan tepat

Rencana tindakan keperawatan:

1) Catat keluhan nyeri, lokasi, lamanya, intensitas (skala 0-10)

Rasional : Nyeri tidak selalu ada tetapi bila ada harus dibandingkan dengan gejala nyeri pasien.

2) Kaji ulang faktor yang meningkatkan dan menurunkan nyeri

Rasional : membantudalam membuat diagnosa dan kebutuhan terapi.

3) Berikan makan sedikit tapi sering sesuai indikasi untuk pasien

Rasional : makanan mempunyai efek penetralisir asam, juga menghancurkan kandungan gaster.

Makanan sedikit mencegah distensi dan haluaran gaster.

4) Berikan obat sesuai indikasi. Mis, antasida.

Rasional : menurunkan keasaman gaster dengan absorbsi atau dengan menetralisir kimia

i. Resiko tinggi gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

intak in adekuat

Keriteria hasil :



                                                                                                   xx
Mempertahankan berat badan stabil, bebas dari tanda malnutrisi.

Rencana tindakan keperawatan:

1) Kaji riwayat nutrisi

Rasional : mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi

2) Catat berat badan

Rasional : Pengawasan kehilangan dan alat pengkajian kebutuhan nutrisi/keefektifan terapi.

3) Diskusikan makanan yang disukai oleh pasien dan masukan dalam diet murni

Rasional : dapat maningkatkan masukan, meningkatkan rasa partisipasi

4) Anjurkan klien makan sedikit tapi sering

Rasional : makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan pemasukan juga

mencegah distensi gaster.

5) Rujuk ke ahli gizi.

Rasional : Perlu bantuan dalam perencanaan diet yang memenuhi kebutuhan nutrisi

j. Potensial komplikasi: Hiperglikemia

Keriteria hasil:

Tidak terjadi hiperglikemi

Rencana tindakan keperawatan

1) Observasi tanda-tanda hipeglikemi

Rasional : membantu dalam menentukan intervensi selanjutnya

2) Berikan suntik insulin menurut sleding scale

Rasional : mengupayakan agar gula darah dalam keadaan normal

3) Awasi pemeriksaan laboratorium terutama GDS

Rasional : Gula darah yang tinggi merupakan indicator terjadi hiperglikemia.



                                                                                             xxi
BAB III

                                      PENUTUP



A.KESIMPULAN

    Sindrom cushing adalah suatu keadaan yang diakibatkan oleh efek metabolik gabungan

    dari peninggian kadar glukokortikoid dalam darah yang menetap.Sindrom cushing dapat

    diderita oleh pria maupun wanita, dan bukan merupakan penyakit yang bisa dianggap

    sepele apabila tidak diobati dengan segera. Dalam memberikan asuhan keperawatan

    dibutuhkan penguasaan materi dan praktik yang kuat sehingga dapat memberikan

    pelayanan kesehatan yang sesuai dan tepat.



B.SARAN

    Mengingat sindrom cushing masih belum terlalu dikenal oleh masyarkat awam maka

    pengenalan dini penyakit ini perlu dilakukan salah satunya melalui pendidikan kesehatan.

    Selain itu peningkatan mutu pelayanan kesehatan baik melalui tenaga kesehatan,

    prasarana dan sarana kesehatan dapat mendukung penanganan penyakit ini dengan

    maksimal




                                                                                         xxii
DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M. E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan

pendokumentasian perawatan pasien, edisi 3. Jakarta: EGC

R. Syamsuhidayat Buku Ajar Ilmu Bedah; EGC; Jakarta; 1997.

Sylvia A. Price; Patofisiolgi Konsep klinis Proses-Proses Penyakit ; EGC; Jakarta; 1994.




                                                                                           xxiii

Makalah sindrom cushing

  • 1.
    ASKEP SINDROM CUSHING OLEH : KELOMPOK V SRI FITRIANTI AZIS R.A.ISMAWATI PERTIWI INRAS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAKASSAR PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN 2012 i
  • 2.
    KATA PENGANTAR Pujian dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena rahmat dan kuasa-Nya kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini. Makalah ini dibuat dengan tujuan agar pembaca mendapatkan informasi mengenai sindrom cushing sehingga pembaca dapat mengenal gejala dari sindom ini sejak awal karena sindrom ini dapat diderita oleh pria maupun wanita dan umumnya pada usia dewasa. Kami berharap makalah ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca mengenai masalah-masalah kesehatan khususnya tentang sindrom cushing. Kami menyadari bahwa makalah ini memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu,kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca sekalian untuk penyempurnaan makalah ini. Makassar, 20 Maret 2012 Penyusun ii
  • 3.
    DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.............................................................................................................i KATA PENGANTAR ...........................................................................................................ii DAFTAR ISI..........................................................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................1 A. Latar belakang ............................................................................................................1 B. Rumusan masalah ......................................................................................................2 C. Tujuan ........................................................................................................................2 D. Manfaat ......................................................................................................................2 BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................................3 1. Konsep medis ...........................................................................................................3 A. Definisi ...........................................................................................................3 B. Etiologi ...........................................................................................................3 C. Patofisiologi ...................................................................................................4 D. Jenis-jenis sindrom cushing ...........................................................................7 E. Manifestasi klinik...........................................................................................7 F. Diagnosis........................................................................................................8 G. Pengobatan dan terapi ....................................................................................9 2. Asuhan keperawatan .....................................................................................................10 BAB III PENUTUP ...............................................................................................................23 A. Kesimpulan ..............................................................................................23 B. Saran ........................................................................................................23 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................24 iii
  • 4.
    BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Sindrom cushing adalah suatu keadaan yang diakibatkan oleh efek metabolik gabungan dari peninggian kadar glukokortikoid dalam darah yang menetap. Nama penyakit ini diambil dari Harvey Cushing seorang ahli bedah yang pertama kali mengidentifikasi penyakit ini pada tahun 1912. Sindroma Chusing ini ditandai dengan adanya peningkatan berat badan (obesitas), distribusi lemak pada bagian leher (buffalo hump) dan di wajah (moon face), striae berwarna ungu pada kulit, osteoporosis, hiperglikemia, hipertensi, dan lain sebagainya. Jenis sindrom cushing terbagi atas 2 yaitu : (1) Dependen ACTH dan (2) Independen ACTH. Prevalensi sinndroma Chusing ini pada laki-laki sebesar 1:30.000 dan pada perempuan 1;10.000. Angka kematian ibu yang tinggi pada sindroma Cushing disebabkan oleh hipertensi berat (67%), diabetes gestasional (30%), superimposed preeklamsia (10%) dan gagal jantung sekunder karena hipertensi berat (10%). Kematian ibu telah dilaporkan sebanyak 3 kasus dari 65 kehamilan dengan sindroma Cushing, 2 kasus disebabkan gagal jantung dan 1 kasus infeksi (Hernaningsih dan Soehita, 2005). iv
  • 5.
    B. RUMUSAN MASALAH 1. Apa definisi sindrom cushing ? 2. Apa etiologi sindom cushing ? 3. Apa patofisiologi sindrom cushing ? 4. Sebutkan jenis-jenis sindrom cushing ? 5. Bagaimana manifestasi klinik dari sindrom cushing ? 6. Bagaimana pengobatan untuk pasien dengan sindrom cushing ? 7. Bagaimana asuhan keperawatan pada sindrom cushing ? C. TUJUAN 1. Untuk mengetahui definisi sindrom cushing ? 2. Untuk mengetahui etiologi sindom cushing ? 3. Untuk mengetahui patofisiologi sindrom cushing ? 4. Untuk mengetahui jenis-jenis sindrom cushing ? 5. Untuk mengetahui manifestasi klinik dari sindrom cushing ? 6. Untuk mengetahui pengobatan untuk pasien dengan sindrom cushing ? 7. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada sindrom cushing ? D. MANFAAT 1. Sebagai informasi dasar untuk mengenal gejala-gejala dari sindrom cushing 2. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan pembaca mengenai sindrom cushing v
  • 6.
    BAB II PEMBAHASAN A. PENGERTIAN Sindrom cushing adalah suatu keadaan yang diakibatkan oleh efek metabolik gabungan dari peninggian kadar glukokortikoid dalam darah yang menetap. Kadar yang tinggi ini dapat terjadi secara spontan atau karena pemeberian dosis farmakologik senyawa-senyawa glukokortikoid. B. ETIOLOGI  Sindrom cushing disebabkan oleh sekresi kortisol atau kortikosteron yang berlebihan, kelebihan simulasi ACTH mengakibatkan hiperplasia korteks anak ginjal berupa adenoma maupun carsinoma yang tidak tergantung ACTH juga mengakibatkan sindrom cushing. Demikian juga hiperaktivitas hipofisis, atau tumor lain yang mengeluarkan ACTH. Syindrom cuhsing yang disebabkan tumor hipofisis disebut penyakit cusing .  Sindrom cusing dapat diakibatkan oleh pemberian glukortikoid jangka panjang dalam dosis farmakologik (latrogen) atau oleh sekresi kortisol yang berlebihan pada gangguan aksis hipotalamus- hipofise-adrenal (spontan) pada sindrom cusing spontan, hiperfungsi korteks adrenal terjadi akibat ransangan belebihan oleh ACTH atau sebab patologi adrenal yang mengakibatkan produksi kortisol abnormal. C. PATOFISIOLOGI vi
  • 7.
    Telah dibahas diatasbahwa penyebab sindrom cushing adalah peninggian kadar glukokortikoid dalam darah yang menetap. Untuk lebih memahami manifestasi klinik sindrom chusing, kita perlu membahas akibat-akibat metabolik dari kelebihan glikokorikoid. Korteks adrenal mensintesis dan mensekresi empat jenis hormon: Glukokortikoid; kortisol. Mineralokortikoid; Aldosteron Androgen. Estrogen Kelebihan glukokortikoid dapat menyebabkan keadaan-keadaan seperti dibawah ini: 1. Metabolisme protein dan karbohidrat. Glukokortikoid mempunyai efek katabolik dan antianabolik pada protein, menyebabkan menurunnya kemampuan sel-sel pembentk protein untuk mensistesis protein, sebagai akibatnya terjadi kehilangan protein pada jaringan seperti kulit, otot, pembuluh darah, dan tulang. Secara klinis dapat ditemukan:  Kulit mengalami atropi dan mudah rusak, luka-luka sembuh dengan lambat.  Ruptura serabut-serabut elastis pada kulit menyebabkan tanda regang pada kulit berwarna ungu (striae).  Otot-otot mengalami atropi dan menjadi lemah.  Penipisan dinding pembuluh darah dan melemahnya jaringan penyokong vaskuler menyebabkan mudah tibul luka memar.  Matriks protein tulang menjadi rapuh dan menyebabkan osteoporosis, sehingga dapat dengan mudah terjadi fraktur patologis. vii
  • 8.
    Metabolisme karbohidrat dipengaruhi dengan meransang glukoneogenesis dan menganggu kerja insulin pada sel-sel perifer, sebagai akibatnya penderita dapat mengalami hiperglikemia.  Pada seseorang yang mempunyai kapasitas produksi insulin yang normal, maka efek dari glukokortikoid akan dilawan dengan meningkatkan sekresi insulin untuk meningkatkan toleransi glukosa.  Sebaliknya penderita dengan kemampuan sekresi insulin yang menurun tidak mampu untuk mengkompensasi keadaan tersebut, dan menimbulkan manifestasi klinik DM. 2. Distribusi jaringan adiposa.  Distribusi jaringan adiposa terakumulasi didaerah sentral tubuh  Obisitas  Wajah bulan (moon face)  Memadatnya fossa supraklavikulare dan tonjolan servikodorsal (punguk bison)  Obesitas trunkus dengan ekstremitas atas dan bawag yang kurus akibat atropi otot memberikan penampilan klasik perupa penampilan Chusingoid. 3. Elektrolit efek minimal pada elektrolit serum.  Kalau diberikan dalam kadar yang terlalu besar dapat menyebabkan retensi natrium dan pembuangan kalium. Menyebabkan edema, hipokalemia dan alkalosis metabolik. 4. Sistem kekebalan ada dua respon utama sistem kekebalan; yang pertama adalah pembentukan antibody humoral oleh sel-sel plasma dan limfosit B akibat ransangan antigen yang lainnya tergantung pada reaksi- reaksi yang diperantarai oleh limfosit T yang tersensitasi.  Glukokortikoid mengganggu pembentukan antibodi humoral dan menghabat pusat-pusat germinal limpa dan jaringan limpoid pada respon primer terhadap anti gen. viii
  • 9.
    Gangguan respon imunologikdapat terjadi pada setiap tingkatan berikut ini:  Proses pengenalan antigen awal oleh sel-sel sistem monosit makrofag  Induksi dan proleferasi limfosit imunokompeten  Produksi anti bodi  Reaksi peradangan  Menekan reaksi hipersensitifitas lambat. 5. Sekresi lambung  sekeresi asam lambung dapat meningkat  sekresi asam hidroklorida dan pepsin dapat meningkat.  Faktor-faktor protekitif mukosa dirubah oleh steroid dan faktor-faktor ini dapat mempermudah terjadinya tukak. 6. Fungsi otak perubahan psikologik terjadi karena kelebihan kortikosteroid, hal ini ditandai dengan oleh ketidak stabilan emosional, euforia, insomnia, dan episode depresi singkat. 7. Eritropoesis  Involusi jaringan limfosit, ransangan pelepasan neutrofil dan peningkatan eritropoiesis. Namun secara klinis efek farmakologis yang bermanfaat dari glukokortikoid adalah kemampuannya untuk menekan reaksi peradangan. Dalam hal ini glukokortikoid:  Dapat menghambat hiperemia, ekstra vasasi sel, migrasi sel, dan permeabilitas kapiler.  Menghambat pelapasan kiniin yang bersifat pasoaktif dan menkan fagositosis.  Efeknya pada sel mast; menghambat sintesis histamin dan menekan reaksi anafilaktik akut yang berlandaskan hipersensitivitas yang dperantarai anti bodi. ix
  • 10.
    Penekanan peradangan sangatdeperlukan, akan tetapi terdapat efek antiinflamasi yang merugikan penderita. Pada infeksi akut tubuh mungkin tidak mampu melindungi diri sebagai layaknya sementara menerima dosis farmakologik. D. JENIS-JENIS SINDROM CUSHING Sindrom cushing dapat dibagi dalam 2 jenis: 1) Tergantung ACTH 2) Tak tergantung ACTH E. MANIFESTASI KLINIK Manifestasi klinik yang sering ditemukan pada penyakit sydrom cushing antara lain obesitas sentral, gundukan lemak pada punggung, muka bulat (moon face), striae, berkurangnya massa otot dan kelemahan umum. Tanda dan gejala lain yang dapat ditemukan pada sindrom cushing seperti atropi/kelemahan otot ekstremitas, hirsutisme (kelebihan bulu pada wanita), ammenorrhoe, impotensi, osteoporosis, atropi kulit, akne, udema., nyeri kepala, mudah memar dan gangguan penyembuhan luka. F. DIAGNOSIS  Adanya sindrom cushing dapat ditentukan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan jasmani yang telah dijelaskan.  Diagnosis umunya ditegakkan berdasarkan kadar kortisol yang tinggi dalam plasma dan kemih. x
  • 11.
    Ada juga tes-tesspesifik yang dipakai untuk menentukan adanya tidaknya irama sirkandian normal pelepasan kortisol dan mekanisme pengaturan  umpan balik yang sensitif. Tidak adanya irama sirkandian dan berkurangnya kepekaan sistim pengaturan umpan balik merupakan ciri sindrom cushing.  Pemeriksaan fisiologi dapat membantu membedakan cushing hipofisis dari cushing ektopik atau cushing korteks adrenal primer. Pada sindrom cushing ektopik dan korteks adrenal, sekresi abnormal ACTH atau kortisol biasanya tidak berubah pada peransangan ataupun penekanan untuk menguji mekanisme kontrol umpan balik negatif yang normal.  CT scan resolusi.  MRI dengan koontras memberikan temuan positif pada mayoritas penderita. CT scan kelenjar adrenal biasanya menujukkan pembesaran adrenal pada kasus sindrom cushing tergantung ACTH dan massa adrenal pada pasien dengan adenoma atau karsinoma adrenal. G. PENGOBATAN/ TERAPI  Pengobatan sindrom cushing tergantung ACTH tidak seragam, bergantung pada apakah sumber ACTH adalah hiposis atau ektopik.  Jika dijumpai tumor hipofisis sebaiknya sdiusahakan reseksi tumor transfenoidal.  Tetapi jika terdapat bukti hiperfungsi hipofisis namun tumor tidak dapat ditemukan maka sebagai gantinya dapat dilakukan radiasi kobalt pada kelenjar hipofise.  Kelebihan kortisol juga dapat ditanggulangi dengan adrenalektomi total dan diikuti pemberian kortisol dosis fisiologik atau dengan kimia yang mampu menghambat atau merusak sel-sel korteks adrenal yang mensekresi kortisol. xi
  • 12.
    Pengobatan sindrom ACTH ektopik adalah dengan reseksi neoplasma yang mensekresi ACTH atau adrenalektomi atau supresi kimia fungsi adrenal seperti dianjurkan pada penderita sindrom cushing jenis tergantung ACTH hipofisis. 2.ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN NEUROLOGIS  Kelabilan alam perasaan depresi sampai mania. MUSKULSKELETAL  Bufallo hamp  Obesitas badan dengan ekstremitas kecil  Penumpukan lemak supra klapikular  Sakit pinggang  Kehilangan otot atau kehilangan massa otot  Osteoporosis KARDIOVASKULER xii
  • 13.
     Hipertensi  Hipertensi cairan dengan pitting udema GASTROINTESTINAL  Polidipsia  Peningkatan berat badan GINJAL  Poliuri METABOLISME  Gangguan penyembuhan luka  Peningkatan kemudahan untuk terserang infeksi  Intoleransi karbohidrat INTRGUMEN  Moon face  Kulit tipis transparan  Peningkatan pigmrntasi  Mudah memar SEKSUAL DAN REPRODUKSI  Maskulinitas wanita  Gangguan menstruasi  Feminisasi pria  Impotensi  Penurunan libido PEMERIKSAAN DIAGNISTIK LABORATORIUM  Hiperglikemi xiii
  • 14.
     Alkalosis metabolik Hipokalemia  Peningkatan ACTH plasma bila di test sepanjang hari  Peningkatan natrium serum dan plasma kortisol  Plasma kortisol tidak dapat sitekan dengan deksa metason  Hitung sel darah putih meningkat  Respon hiperaktif terhadap tes ransangan ACTH 8 jam  Peningkatan kortisol urine24 jam dan 17-hidroksil kortokosteroid  Peningkatan respon tergadap metapiron xiv
  • 15.
    DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatanumum yang dapat dijumpai pada klien dengan sindrom Cushing adalah sebagai berikut : a. Resiko terhadap cedera berhubungan dengan kelemahan dan perubahan metabolisme protein. b. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan, keletihan, pengurusan masa otot. c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema. d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan fisik,. e. Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan suasana hati, mudah tersinggung dan depresi. f. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kelebihan natrium g. Resiko perdarahan berhubungan dengan melemahnya jaringan penyokong perivaskuler h. Nyeri berhubungan dengan perlukaan pada mukosa lambung i. Resiko tinggi gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intak in adekuat j. Potensial komplikasi: Hiperglikemia RENCANA KEPERAWATAN a. Resiko terhadap cedera berhubungan dengan kelemahan dan perubahan metabolisme protein. Kriteria hasil: 1) Klien bebas dari cedera jaringan lunak atau fraktur 2) Klien bebas dari area ekimotik 3) Klien tidak mengalami kenaikan suhu tubuh, kemerahan, nyeri, atau tanda-tanda infeksi dan inflamasi lainnya Rencana tindakan keperawatan: xv
  • 16.
    1) Kaji tanda-tandaringan infeksi Rasional : Efek antiinflamasi kortikosteroid dapat mengaburkan tanda-tanda umum inflamasi dan infeksi. 2) Ciptakan lingkungan yang protektif Rasional : Mencegah jatuh, fraktur dan cedera lainnya pada tulang dan jaringan lunak. 3) Bantu klien ambulasi Rasional : Mencegah terjatuh atau terbentur pada sudut furniture yang tajam. 4) Berikan diet tinggi protein, kalsium, dan vitamin D Rasional : Meminimalkan penipisan massa otot dan osteoporosis. c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema. Kriteria hasil: Klien mampu mempertahankan keutuhan kulit, menunjukkan perilaku/teknik untuk mencegah kerusakan/cedera kulit. Rencana tindakan keperawatan: 1) Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor, vaskular. Rasional : menandakan area sirkulasi buruk/kerusakan yang dapat menimbulkan pembentukan infeksi. 2) Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa. Rasional : mendeteksi adanya dehidrasi/hidrasi berlebihan yang mempengaruhi sirkulasi dan integritas jaringan pada tingkat seluler. 3) Inspeksi area tergantung edema. Rasional : jaringan edema lebih cenderung rusak/robek. 4) Berikan perawatan kulit. Berikan salep atau krim. xvi
  • 17.
    Rasional : lotiondan salep mungkin diinginkan untuk menghilangkan kering, robekan kulit. 5) Anjurkan menggunakan pakaian katun longgar. Rasional : mencegah iritasi dermal langsung dan meningkatkan evaporasi lembab pada kulit. 6) Kolaborasi dalam pemberian matras busa. Rasional : menurunkan tekanan lama pada jaringan. d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan fisik. Kriteria hasil: Klien mengungkapkan perasaan dan metode koping untuk persepsi negatif tentang perubahan penampilan, fungsi seksualitas, dan tingkat aktivitas. Menyatakan penerimaan terhadap situasi diri. Rencana tindakan keperawatan: 1) Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang kondisi dan pengobatan. Rasional : mengidentifikasi luas masalah dan perlunya intervensi. 2) Diskusikan arti perubahan pada pasien. Rasional : beberapa pasien memandang situasi sebagai tantangan, beberapa sulit menerima perubahan hidup/penampilan peran dan kehilangan kemampuan control tubuh sendiri. 3) Anjurkan orang terdekat memperlakukan pasien secara normal dan bukan sebagai orang cacat. Rasional : menyampaikan harapan bahwa pasien mampu untuk mangatur situasi dan membantu untuk mempertahankan perasaan harga diri dan tujuan hidup. 4) Rujuk ke perawatan kesehatan. Contoh: kelompok pendukung. Rasional : memberikan bantuan tambahan untuk manajemen jangka panjang dari perubahan pola hidup. xvii
  • 18.
    e. Perubahan prosespikir berhubungan dengan perubahan suasana hati, mudah tersinggung dan depresi. Kriteria hasil: Klien mampu mempertahankan tingkat orientasi realita sehari-hari, mengenali perubahan pada pemikiran dan tingkah laku Rencana tindakan keperawatan: 1) Evaluasi tingkat stress individu dan hadapi dengan tepat Rasional : tingkat stress mungkin dapat meningkat dnegan pesat karena perubahan yang baru, sedang atau telah terjadi. 2) Panggil pasien dengan namanya. Rasional : Untuk menolong mempertahankan orientasi. 3) Catat perubahan siklik dalam mental/tingkah laku. Ikutsertakan dalam latihan rutin dan program aktivitas. Rasional : penelitian menunjukkan bahwa penarikan diri dan pasien yang tidak aktif memiliki resiko yang lebih besar untuk mengalami kebingungan 4) Dukung keikutsertaan pasien dalam perawatan diri sendiri. Rasional : pilihan merupakan komponen yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. f. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kelebihan natrium Kriteria hasil : Menunjukkan volume cairan stabil, dengan keseimbangan pemasukan dan pengeluaran, berat badan stabil, tanda vital dalam rentang normal dan tak ada edema. Rencana tindakan keperawatan: 1) Ukur masukan dan haluaran, catat keseimbangan positif. Timbang berat badan tiap hari. xviii
  • 19.
    Rasional : menunjukkanstatus volume sirkulasi, terjadinya/ perbaikan perpindahan cairan, dan respon terhadap terapi. Keseimbangan positif/peningkatan berat badan sering menunjukkan retensi cairan lenjut. 2) Awasi tekanan darah. Rasional : Peningkatan tekanan darah biasanya berhubungan dengan kelebihan volume cairan tetapi mungkin tidak terjadi karena perpindahan cairan keluar area vaskuler. 3) Kaji derajat perifer/edema dependen Rasional : Perpindahan cairan pada jaringan sebagai akibat retensi natrium dan air, penurunan albumin dan penurunan ADH. 4) Awasi albumin serum dan elektrolit (khususnya kalium dan natrium) Rasional : penurunan albumin serum memperngaruhi tekanan osmotic koloid plasma, mengakibatkan pembentukan edema. 5) Batasi natrium dan cairan sesuai indikasi. Rasional : Natrium mungkin dibatasi untuk meminimalkan retensi cairan dalam area ekstravaskuler. g. Resiko perdarahan berhubungan dengan melemahnya jaringan penyokong perivaskuler Keriteria hasil: Trombosit dalam batas normal Intervensi 1) Kaji adanya perdarahan Rasional : mempermudah menentukan intervensi selanjutnya. 2) Observasi tanda-tanda vital (S.N.RR) Rasional : xix
  • 20.
    3) Antisipasi terjadinyaperlukaan / perdarahan. Rasional : mencegah terjadi perdarahan 4) Anjurkan keluarga klien untuk lebih banyak mengistirahatkan klien Rasional : Mengurangi resiko cedera sehingga memperkecil adanya perdarahan 5) Monitor hasil darah, Trombosit Rasional : penurunan jumlah trombosit menandakan adanya perdarahan h. Nyeri berhubungan dengan terjadinya perlukaan pada mukosa lambung. Keriteria hasil : Klien mengatakan nyeri hilang/berkurang, menunjukkan postur tubuh rileks dan mampu tidur dengan tepat Rencana tindakan keperawatan: 1) Catat keluhan nyeri, lokasi, lamanya, intensitas (skala 0-10) Rasional : Nyeri tidak selalu ada tetapi bila ada harus dibandingkan dengan gejala nyeri pasien. 2) Kaji ulang faktor yang meningkatkan dan menurunkan nyeri Rasional : membantudalam membuat diagnosa dan kebutuhan terapi. 3) Berikan makan sedikit tapi sering sesuai indikasi untuk pasien Rasional : makanan mempunyai efek penetralisir asam, juga menghancurkan kandungan gaster. Makanan sedikit mencegah distensi dan haluaran gaster. 4) Berikan obat sesuai indikasi. Mis, antasida. Rasional : menurunkan keasaman gaster dengan absorbsi atau dengan menetralisir kimia i. Resiko tinggi gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intak in adekuat Keriteria hasil : xx
  • 21.
    Mempertahankan berat badanstabil, bebas dari tanda malnutrisi. Rencana tindakan keperawatan: 1) Kaji riwayat nutrisi Rasional : mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi 2) Catat berat badan Rasional : Pengawasan kehilangan dan alat pengkajian kebutuhan nutrisi/keefektifan terapi. 3) Diskusikan makanan yang disukai oleh pasien dan masukan dalam diet murni Rasional : dapat maningkatkan masukan, meningkatkan rasa partisipasi 4) Anjurkan klien makan sedikit tapi sering Rasional : makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan pemasukan juga mencegah distensi gaster. 5) Rujuk ke ahli gizi. Rasional : Perlu bantuan dalam perencanaan diet yang memenuhi kebutuhan nutrisi j. Potensial komplikasi: Hiperglikemia Keriteria hasil: Tidak terjadi hiperglikemi Rencana tindakan keperawatan 1) Observasi tanda-tanda hipeglikemi Rasional : membantu dalam menentukan intervensi selanjutnya 2) Berikan suntik insulin menurut sleding scale Rasional : mengupayakan agar gula darah dalam keadaan normal 3) Awasi pemeriksaan laboratorium terutama GDS Rasional : Gula darah yang tinggi merupakan indicator terjadi hiperglikemia. xxi
  • 22.
    BAB III PENUTUP A.KESIMPULAN Sindrom cushing adalah suatu keadaan yang diakibatkan oleh efek metabolik gabungan dari peninggian kadar glukokortikoid dalam darah yang menetap.Sindrom cushing dapat diderita oleh pria maupun wanita, dan bukan merupakan penyakit yang bisa dianggap sepele apabila tidak diobati dengan segera. Dalam memberikan asuhan keperawatan dibutuhkan penguasaan materi dan praktik yang kuat sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan yang sesuai dan tepat. B.SARAN Mengingat sindrom cushing masih belum terlalu dikenal oleh masyarkat awam maka pengenalan dini penyakit ini perlu dilakukan salah satunya melalui pendidikan kesehatan. Selain itu peningkatan mutu pelayanan kesehatan baik melalui tenaga kesehatan, prasarana dan sarana kesehatan dapat mendukung penanganan penyakit ini dengan maksimal xxii
  • 23.
    DAFTAR PUSTAKA Doenges, M.E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, edisi 3. Jakarta: EGC R. Syamsuhidayat Buku Ajar Ilmu Bedah; EGC; Jakarta; 1997. Sylvia A. Price; Patofisiolgi Konsep klinis Proses-Proses Penyakit ; EGC; Jakarta; 1994. xxiii