KONSEP MEDIS DAN KONSEP KEPERAWATAN
GANGGUAN KELENJER ADRENAL
(SINDROM CHUSING)
OLEH
KELOMPOK III
Adrianus Pandong P1207001 Rusdin P1207026
Aisyah P1207003 Sri Nala P1207028
Iyan Tomia P1207018 Yovita Sela.P P1207031
Irmawati P1207016 Yulike Sarimanela P1207032
Nuzulya Rahmadhani P1207025
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES GRAHA EDUKASI MAKASSAR
2013 / 2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sindrom Cushing disebabkan hormon kortisol dihasilkan secara berlebihan. Hormon
kortisol dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Secara biologinya, kelenjar berbentuk seakan-
akan topi ini terdiri daripada dua lapisan yang dikenali sebagai korteks (lapisan luar) dan
medula (lapisan dalam). Kelenjar adrenal menghasilkan antara 30 hingga 50 sebatian
steroid atau hormon. Tiga hormon utama yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal ini ialah
hormon kortisol, adolsteron dan hormon androgen.
Sindrom Cushing pula selalunya terjadi pada kaum wanita. Pesakit biasanya juga
mempunyai masalah darah tinggi, peningkatan berat badan dengan rupa bentuk
‘cushingoid’.
Punca utama penyakit sindrom Cushing adalah adenoma korteks adrenal, hyperplasia
menyeluruh, hiperplasia makronodul dan kanser kelenjar adrenal. Rawatan penyakit
sindrom Cushing ialah dengan merawat puncanya. Feokromositoma adalah ketumbuhan
yang jarang ditemui dan ia merembeskan hormon katekolamin. Tanda penyakit adalah
peningkatan tekanan darah, massa abdomen dan serangan panik. Ketumbuhan boleh
berpunca dari satu kelenjar adrenal (74.2%), adrenal ekstra (16.1%) atau kedua-dua
kelenjar (9.6%).
Karsinoma korteks adrenal jarang ditemui, bersifat agresif dan mempunyai
ketumbuhan yang telah merebak. Penyakit ini boleh sembuh jika dikesan lebih awal dan
menjalani pembedahan dengan segera.
Sindrom Cushing juga biasa terdapat pada anjing peliharaan atau kuda, yang
menunjukkan simptom yang sama seperti manusia, di mana ia kelihatan bulu kerinting
rapat yang tidak gugur dan kehilangan berat badan dan laminitis.
1.2. Tujuan
1). Tujuan umum : Untuk mengetahui dan dapat memberikan asuhan keperawatan pada
penderita sindrome cushing.
2) Tujuan Khusus :
 Mampu melakukan pengkajian pada penderita sindrome cushing.
 Mampu Merumuskan diagnosa keperawatan pada penderita sindrome
cushing.
 Mampu membuat rencana keperawatan pada pasien gangguan sindrome
cushing.
 Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien gangguan
sindrome cushing.
 Mampu Mengevaluasi pelaksanaan askep pada pasien gangguan
sindrome cushing.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Konsep Medis
1.1. Defenisi
Sindrom Cushing adalah suatu keadaan yang diakibatkan oleh efek metabolik
gabungan dari peninggian kadar glukokortikoid dalam darah yang menetap. Kadar yang
tinggi ini dapat terjadi secara spontan atau karena pemberian dosis farmakologik senyawa –
senyawa glukokortikoid. (Sylvia A. Price; Patofisiologi, Hal. 1088).
1.2. Etiologi
Sindrom Cushing disebabkan oleh sekresi kortisol atau kortikosteron yang berlebihan,
kelebihan stimulasi ACTH mengakibatkan hyperplasia korteks anal ginjal berupa adenoma
maupun carcinoma yang tidak tergantung ACTH juga mengakibatkan sindrom Cushing.
Demikian juga hiperaktivitas hipofisis, atau tumor lain yang mengeluarkan ACTH.
Syndrome Cushing yang disebabkan tumor hipofisis disebut penyakit Cushing. (buku ajar
ilmu bedah, R. Syamsuhidayat, hal 945).
Sindrom Cushing dapat diakibatkan oleh pemberian glukortikoid jangka panjang
dalam dosis farmakologik (latrogen) atau oleh sekresi kortisol yang berlebihan pada
gangguan aksis hipotalamus-hipofise-adrenal (spontan) pada sindrom cusing spontan,
hiperfungsi korteks adrenal terjadi akibat ransangan belebihan oleh ACTH atau sebab
patologi adrenal yang mengakibatkan produksi kortisol abnormal. (Sylvia A. Price;
Patofisiologi, hal 1091)
1.3. Patofisiologi
Telah dibahas diatas bahwa penyebab sindrom cishing adalah peninggian kadar
glukokortikoid dalam darah yang menetap. Untuk lebih memahami manifestasi klinik
sindrom chusing, kita perlu membahas akibat-akibat metabolik dari kelebihan
glikokorikoid.
 Korteks adrenal mensintesis dan mensekresi empat jenis hormon:
a. Glukokortikoid. Glukokortikoid fisiologis yang disekresi oleh adrenal
manusia adalah kortisol.
b. Mineralokortikoid. Mineralokortikoid yang fisiologis yang diproduksi adalah
aldosteron.
c. Androgen.
d. Estrogen
 Kelebihan glukokortikoid dapat menyebabkan keadan-keadaan seperti dibawah
ini:
1. Metabolisme protein dan karbohidrat.
Glukokortikoid mempunyai efek katabolik dan antianabolik pada
protein, menyebabkan menurunnya kemampuan sel-sel pembentk protein
untuk mensistesis protein, sebagai akibatnya terjadi kehilangan protein pada
jaringan seperti kulit, otot, pembuluh darah, dan tulang.
Secara klinis dapat ditemukan:
a. Kulit mengalami atropi dan mudah rusak, luka-luka sembuh dengan
lambat.
b. Ruptura serabut-serabut elastis pada kulit menyebabkan tanda regang
pada kulit berwarna ungu (striae).
c. Otot-otot mengalami atropi dan menjadi lemah.
d. Penipisan dinding pembuluh darah dan melemahnya jaringan
penyokong vaskule menyebabkan mudah tibul luka memar.
e. Matriks protein tulang menjadi rapuh dan menyebabkan osteoporosis,
sehingga dapat dengan mudah terjadi fraktur patologis.
f. Metabolisme karbohidrat dipengaruhi dengan meransang
glukoneogenesis dan menganggu kerja insulin pada sel-sel perifer,
sebagai akibatnya penderita dapat mengalami hiperglikemia.
g. Pada seseorang yang mempunyai kapasitas produksi insulin yang
normal, maka efek dari glukokortikoid akan dilawan dengan
meningkatkan sekresi insulin untuk meningkatkan toleransi glukosa.
h. Sebaliknya penderita dengan kemampuan sekresi insulin yang menurun
tidak mampu untuk mengkompensasi keadaan tersebut, dan
menimbulkan manifestasi klinik DM.
2. Distribusi jaringan adiposa.
a) Distribusi jaringan adiposa terakumulasi didaerah sentral tubuh.
b) Obesitas.
c) Wajah bulan (moon face).
d) Memadatnya fossa supraklavikulare dan tonjolan servikodorsal
(punguk bison).
e) Obesitas trunkus dengan ekstremitas atas dan bawag yang kurus akibat
atropi otot memberikan penampilan klasik perupa penampilan
Chusingoid.
3. Elektrolit
Efek minimal pada elektrolit serum.
Kalau diberikan dalam kadar yang terlalu besar dapat menyebabkan
retensi natrium dan pembuangan kalium. Menyebabkan edema, hipokalemia
dan alkalosis metabolik.
4. Sistem kekebalan
Ada dua respon utama sistem kekebalan; yang pertama adalah
pembentukan antibody humoral oleh sel-sel plasma dan limfosit B akibat
ransangan antigen yang lainnya tergantung pada reaksi-reaksi yang
diperantarai oleh limfosit T yang tersensitasi.
Glukokortikoid mengganggu pembentukan antibody humoral dan
menghabat pusat-pusat germinal limpa dan jaringan limpoid pada respon
primer terhadap anti gen.
Gangguan respon imunologik dapat terjadi pada setiap tingkatan berikut
ini:
a. Proses pengenalan antigen awal oleh sel-sel sistem monosit makrofag.
b. Induksi dan proleferasi limfosit imunokompeten.
c. Produksi anti bodi.
d. Reaksi peradangan.
e. Menekan reaksi hipersensitifitas lambat.
5. Sekresi lambung
a. Sekeresi asam lambubung dapat ditingkatkan.
b. Sekresi asam hidroklorida dan pepsin dapat meningkat.
c. Faktor-faktor protekitif mukosa dirubah oleh steroid dan faktor-faktor
ini dapat mempermudah terjadinya tukak.
6. Fungsi otak
Perubahan psikologik terjadi karena kelebihan kortikosteroid, hal ini
ditandai dengan oleh ketidak stabilan emosional, euforia, insomnia, dan
episode depresi singkat.
7. Eritropoesis
Involusi jaringan limfosit, ransangan pelepasan neutrofil dan
peningkatan eritropoiesis. Namun secara klinis efek farmakologis yang
bermanfaat dari glukokortikoid adalah kemampuannya untuk menekan reaksi
peradangan. Dalam hal ini glukokortikoid:
 Dapat menghambat hiperemia, ekstra vasasi sel, migrasi sel, dan
permeabilitas kapiler.
 Menghambat pelapasan kiniin yang bersifat pasoaktif dan menkan
fagositosis.
 Efeknya pada sel mast; menghambat sintesis histamin dan menekan
reaksi anafilaktik akut yang berlandaskan hipersensitivitas yang
dperantarai anti bodi.
 Penekanan peradangan sangat deperlukan, akan tetapi terdapat efek anti
inflamasi yang merugikan penderita. Pada infeksi akut tubuh mungkin
tidak mampu melindungi diri sebagai layaknya sementara menerima
dosis farmakologik. (Sylvia A. Price; Patofisiologi, hal 1090).
1.4. Manifestasi Klinis
 Manifestasi klinik yang sering ditemukan pada pasien dengan sindrom
cushing antaralain:
 Obesitas sentral.
 Gundukan lemak pd punggung.
 Muka bulat (moon face).
 Striae.
 Berkurangnya massa otot & kelemahan umum.
 Tanda lain yg ditemukan pd Syndrom cushing seperti:
 Atripi/ kelemahan otot sektermitas.
 Hirsutisme (kelebihan bulu pada wanita).
 Ammenorrhoe.
 Impotensi.
 Osteoporosis.
 Akne.
 Edema.
 Nyeri kepala, mudah memar dan gangguan penyembuhan luka.
1.5. Pemeriksaan Penunjang
a. CT scan  Untuk menunjukkan pembesaran adrenal pada kasus sindro
cushing.
b. Photo scanning.
c. Pemeriksaan adrenal mengharuskan pemberian kortisol radio aktif secara
intravena.
d. Pemeriksaan elektro kardiografi  Untuk menentukan adanya hipertensi
(endokrinologi edisi hal 437).
e. Uji supresi deksametason.
Mungkin diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosis peyebab
sindrom cushing tersebut, apakah hipopisis atau adrenal.
f. Pengambilan sampele darah.
Untuk menentukan adanya varyasi diurnal yang normal pada kadar kortisol,
plasma.
g. Pengumpulan urine 24 jam.
Untuk memerikasa kadar 17 – hiroksikotikorsteroid serta 17 – ketostoroid
yang merupakan metabolik kortisol dan androgen dalam urine.
1.6. Penatalaksanaan
Pengobatan tergantung pada ACTH yg tidak seragam. Apakah sumber ACTH ad
hipofis atau ektopik.
a. Jika dijumpai tumor hipofisis. Sebaiknya diusahakan reseksi tumor
transfenoidal.
b. Jika terdapat bukti hiperfungsi hipofisis namun tumor tidak dapat ditemukan
maka sebagai gantinya dapat dilakukan radiasi kobait pada kelenjar hipofisis.
c. Kelebihan kortisol juga dapat ditanggulangi dg adrenolektomi total dan
diikuti pemberian kortisol dosis fisiologik.
d. Bila kelebihan kortisol disebabkan o/ neoplasma disusul kemoterapi pada
penderita dengan karsinoma/ terapi pembedahan.
e. Digunakan obat dengan jenis metyropone, amino gluthemideo, p-ooo yang
bisa mensekresikan kortisol ( Patofisiologi Edisi 4 hal 1093 ).
1.7. Pencegahan
Untuk mengatasi gejala akibat hiperandrogen, dengan cara memberikan obat yang
berpotensi antiandrogenik, seperti Cyproterone acetate (CPA).
Dalam tubuh, CPA bekerja secara kompetitif mengikat reseptor androgen,
sehingga menurunkan kadar androgen bebas, mengurangi produksi minyak pada
kulit, dan mencegah timbulnya masalah kulit.
1.8. Komplikasi
 Diabetes Militus.
 Hipertensi.
 Osteoporosis.
 Krisis Addisonnia
 Efek yang merugikan pada aktivitas koreksi adrenal
1.9. Penyimpangan KDM
2. Konsep Keperawatan
2.1 Pengkajian
 Aktivitas/ istirahat .
Gejala : Insomnia, sensitivitas, otot lemah, gg koordinasi, kelelahan berat.
Tandanya : atrofi otot.
 Sirkulasi .
Gejala: Palpitasi, nyeri dada (angina).
Tandanya: Distritnia, irama gallop, mur-mur, takikardia saat istirahat.
 Eliminasi.
Gejala: Urine dlm jumlah banyak, perubahan dlm feces: diare.
 Itegritas ego
Gejala : Mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik..
Tandanya : Emosi letal, depresi.
 Makanan atau cairan
Gejala : Kehilangan berat badan yang mendadak, mual dan muntah.
 Neorosensori
Gejala : Bicara cepat dan parau, gangguan status mental dan prilaku seperti
binggung, disorientasi, gelisa, peka rangsangan, delirium.
 Pernafasan
Tandanya : Frekuensi pernafasan meningkatan, takepnia dispnea.
 Nyeri atau kenyamanan
Gejala : Nyeri orbital, fotobia.
 Keamanan
Gejala : Tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan tandanya suhu
meningkat diatas 37,40CC, retraksi, iritasi pada kunjungtiva dan berair.
 Seksualitas
Tandanya : Penurunan libido, hipomenoria, amenoria dan impoten.
Komplikasi
1. Krisis Addison.
2. Efek yang merugikan pd aktivitas korteks adrenal.
3. Patah tulang akibat osteoporosis.
Penilaian Nyeri Berdasarkan PQRST
P : Provokatif / Paliatif
Apa kira-kira Penyebab timbulnya rasa nyeri…? Apakah karena terkena ruda
paksa / benturan..? Akibat penyayatan..? dll.
Q : Qualitas / Quantitas
Seberapa berat keluhan nyeri terasa..?. Bagaimana rasanya..?. Seberapa sering
terjadinya..? Ex : Seperti tertusuk, tertekan / tertimpa benda berat, diris-iris, dll.
R : Region / Radiasi
Lokasi dimana keluhan nyeri tersebut dirasakan / ditemukan..? Apakah juga
menyebar ke daerah lain / area penyebarannya..?
S : Skala Seviritas
Skala kegawatan dapat dilihat menggunakan GCS ( Baca : Cara Mengukur
GCS (Glasgow’s Coma Scale) untuk gangguan kesadaran, skala nyeri / ukuran lain
yang berkaitan dengan keluhan.
T : Timing
Kapan keluhan nyeri tersebut mulai ditemukan / dirasakan..? Seberapa sering
keluhan nyeri tersebut dirasakan / terjadi…? Apakah terjadi secara mendadak atau
bertahap..? Acut atau Kronis..?
2.2. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko cedera dan infeksi b/d kelemahan dan perubahan metabolisme protein
serta respon inflamasi
2. Defisit perawatan diri; kelemahan perasaan mudah lelah, atropi otot dan
perubahan pola tidur.
3. Gangguan integritas kulit b/d edema, gangguan kesembuhan dan kulit yg tipis
serta rapuh.
4. Gangguan citra tubuh b/d perubahan penampilan fisik, gangguan fungsi seksual
dan penurunan tingkat aktivitas.
5. Gangguan proses berpikir b/d fluktuasi emosi, iritabilitas dan depresi.
6. Nyeri berhubungan dengan perlukaan pada mukosa lambung.
7. Resiko infeksi b.d penurunan respon imun, respon inflamasi.
2.3. Intervensi Keperawatan
1. Dx : Resiko cedera dan infeksi b/d kelemahan dan perubahan metabolisme
protein serta respon inflamasi.
 Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam
Klien tidak mengalami cidera setelah dilakukan intervensi.
 Kriteria Hasil : - Cedera jaringan lunak (-), Fraktur (-), Ekimosis (-)
Kelemahan (-)
Intervensi Rasional
 Ciptakan lingkungan yang protektif
/ aman.
 Lingkungan yang protektif dapat
mencegah jatuh, fraktur dan cedera
lainnya pada tulang dan jaringan
lunak.
 Bantu klien saat ambulansi  Kondisi yang lemah sangat
beresiko terjatuh / terbentur saat
ambulasi
 Berikan penghalang tempat tidur /
tempat tidur dengan posisi yang
rendah
 Menurunkan kemungkinan adanya
trauma
 Anjurkan kepada klien untuk
istirahat secara adekuat dengan
aktivitas yang sedang
 Memudahkan proses penyembuhan
 Anjurkan klien untuk diet tinggi  Untuk meminimalkan pengurangan
protein, kalsium dan vitamin D massa otot
 Kolaborasi pemberian obat-obatan
seperti sedative
 Dapat meningkatkan istirahat
2. Dx : Defisit perawatan diri; kelemahan perasaan mudah lelah, atropi otot dan
perubahan pola tidur.
 Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam
Klien menunjukkan perawatan diri yang maksimal.
 Kriteria Hasil : - Kelemahan (-), Keletihan (-), Klien ikut serta dalam
aktivitas perawatan diri, Klien mengalami peningkatan dalam
perawatan diri, Klien bebas dari komplikasi imobilitas.
Intervensi Rasional
 Kaji kemampuan klien dalam
melakukan aktivitas perawatan diri.
 Dapat mengetahui kemampuan
klien dan memudahkan intervensi
selanjutnya.
 Bantu klien dalam melakukan
aktivitas perawatan diri.
 Pemenuhan kebutuhan perawatan
diri klien.
 Libatkan keluarga dalam aktivitas
perawatan diri klien.
 Keluarga merupakan orang
terdekat dalam pemenuhan
kebutuhan perawatan diri klien.
 Rencanakan aktivitas dan latihan
klien.
 Istirahat klien tidak terganggu
dengan adanya aktivitas dan
latihan yang terencana.
 Berikan dorongan untuk melakukan
perawatan diri kepada klien dan
atur aktivitasnya.
 Dapat mencegah komplikasi
imobilitas.
 Ciptakan lingkungan yang tenang
dan nyaman
 Lingkungan yang tenang dan
nyaman dapat menaikan istirahat
dan tidur.
3. Dx : Gangguan integritas kulit b/d edema, gangguan kesembuhan dan kulit
yang tipis serta rapuh.
 Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam
Klien menunjukkan integritas kulit kembali utuh setelah dilakukan
tindakan keperawatan.
 Criteria Hasil : Penipisan kulit (-), Petechie (-), Ekimosis (-), Edema
pada ekstremitas (-), Keadaan kulit baik dan utuh, Striae (-)
Intervensi Rasional
 .Kaji ulang keadaan kulit klien  Mengetahui kelainan / perubahan
kulit serta untuk menentukan
intervensi selanjutnya
 Ubah posisi klien tiap 2 jam  Meminimalkan / mengurangi
tekanan yang berlebihan didaerah
yang menonjol serta melancarkan
sirkulasi
 Hindari penggunaan plester  Penggunaan plester dapat
menimbulkan iritasi dan luka pada
kulit yang rapuh
 Berikan lotion non alergik dan
bantalan pada tonjolan tulang dan
kulit
 dapat mengurangi lecet dan iritasi
4. Dx : Gangguan citra tubuh b/d perubahan penampilan fisik, gangguan fungsi
seksual dan penurunan tingkat aktivitas.
 Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam
Klien menunjukkan gambaran diri yang positif setelah dilakukan
 Kriteria Hasil : Klien dapat mengekspresikan perasaanya terhadap
perubahan penampilannya, Klien dapat mengutarakan perasaannya
tentang perubahan sexual, Klien dapat menyebutkan tanda dan gejala
yang terjadi selama pengobatan, Klien dapat melakukan personal
hygine setiap hari.
Intervensi Rasional
 Ciptakan lingkungan yang kondusif
dengan klien mengenai perubahan
body image yang dialami
 Lingkungan yang kondusif dapat
memudahkan klien untuk
mengungkapkan perasaannya
 Beri penguatan terhadap
mekanisme koping yang positif
 Membantu klien dalam
meningkatkan dan
mempertahankan kontrol dan
membantu mengembangkan harga
diri klien
 Berikan informasi pada klien
mengenai gejala yang berhubungan
dengan pengobatan
 Dengan diberikan penjelasan
tersebut, klien dapat menerima
perubahan pada dirinya
 Beri dukungan pada klien dan
jadilah pendengar yang baik
 Memberikan dukungan dapat
memotivasi klien untuk
berinteraksi dengan lingkungan
sekitar
 Kolaborasi dengan ahli psikolog  Pasien mungkin membutuhkan
dukungan selama berhadapan
dengan proses jangka panjang
ketidakmampuan
5. Dx : Gangguan proses berpikir b/d fluktuasi emosi, iritabilitas dan depresi.
 Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam
Klien menunjukkan Tidak terjadi perubahan proses pikir.
 Criteria Hasil : Klien mempraktekkan teknik relaksasi, Klien
mendiskusikan perasaannya dengan mudah, Klien dapat berorientasi
terhadap lingkungan.
Intervensi Rasional
 Orientasikan pada tempat, orang
dan waktu
 Dapat menolong mempertahankan
orientasi dan menurunkan
kebingungan.
 Tetapkan jadwal perawatan rutin
untuk memberikan waktu istirahat
yang teratur.
 Menaikkan orientasi dan
mencegah kelelahan yang
berlebihan.
 Anjurkan klien untuk melakukan
perawatan diri sendiri sesuai
kemampuan.
 Mempertahankan orientasi pada
lingkungan.
 Ajarkan teknik relaksasi.  Teknik relaksasi dapat
mempengaruhi proses pikir,
sehingga klien dapat lebih tenang.
 Berikan tindakan yang stabil, terang
dan tidak menimbulkan stress.
 Tindakan yang stabil, tenang dan
tidak menimbulkan stress
memperbaiki proses pikir.
6. Dx : Nyeri berhubungan dengan perlukaan pada mukosa lambung.
 Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam
nyeri klien berkurang.
 Kriteria Hasil : Klien mengatakan nyeri hilang/berkurang,
menunjukkan postur tubuh rileks dan mampu tidur dengan tepat.
Intervensi Rasional
 Catat keluhan nyeri, lokasi,
lamanya, intensitas (skala 0-10)
 Nyeri tidak selalu ada tetapi bila
ada harus dibandingkan dengan
gejala nyeri pasien.
 Kaji ulang faktor yang
meningkatkan dan menurunkan
nyeri
 Membantu dalam membuat
diagnosa dan kebutuhan terapi.
 Berikan makan sedikit tapi sering
sesuai indikasi untuk pasien
 makanan mempunyai efek
penetralisir asam, juga
menghancurkan kandungan gaster.
Makanan sedikit mencegah
distensi dan haluaran gaster.
 Berikan obat sesuai indikasi.
Misalnya, antasida.
 menurunkan keasaman gaster
dengan absorbsi atau dengan
menetralisir kimia
7. Dx : Resiko infeksi b.d penurunan respon imun, respon inflamasi.
 Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam
Infeksi tidak terjadi setelah dilakukan intervensi.
 Kriteria Hasil : Tanda-tanda infeksi (tumor, calor, dolor, rubor, fungsio
laesa) tidak ada, Suhu normal : 36,5-37,1˚C, Hasil lab : Leukosit :
5000-10.000 gr/dL.
Intervensi Rasional
 Kaji tanda-tanda infeksi  Adanya tanda-tanda infeksi
(tumor, rubor, dolor, calor, fungsio
laesa) merupakan indicator adanya
infeksi
 Ukur TTV setiap 8 jam  Suhu yang meningkat merupakan
indicator adanya infeksi
 Cuci tangan sebelum dan sesudah
melakukan tindakan keperawatan
 Mencegah timbulnya infeksi silang
 Batasi pengunjung sesuai indikasi  Mengurangi pemajanan terhadap
patogen infeksi lain
 Tempatkan klien pada ruang isolasi
sesuai indikasi
 Tehnik isolasi mungkin diperlukan
untuk mencegah penyebaran /
melindungi pasien dari proses
infeksi lain Kolaborasi
 Pemberian antibiotik sesuai indikasi  Terapi antibiotik untuk
mengurangi resiko terjadinya
infeksi nosokomial
 Pemeriksaan lab (Leukosit)  Leukosit meningkat indikasi
terjadinya infeksi
2.4. Implementasi
Implementasi dilakukan sesuai intervensi yang disesuaikan dengan kondisi klien.
2.5. Evaluasi
1. Menurunkan resiko cedera dan infeksi
a. Bebas fraktur atau cedera jaringan lunak.
b. Bebas daerah ekimosis.
c. Tidak mengalami kenaikan suhu, kemerahan, rasa nyeri ataupun
tanda-tanda lain infeksi serta inflamasi.
2. Meningkatkan partisipasi dalam aktivitas perawatan mandiri.
a. Merencanakan aktivitas perawatan dan latihan untuk memungkinkan
periode istirahat.
b. Melaporkan perbaikan perasaan sehat.
c. Bebas komplikasi mobilitas.
3. Mencapai/mempertahankan integritas kulit.
a. Memiliki kulit yang utuh tanpa ada bukti adanya luka atau infeksi.
b. Menunjukkan bukti berkurangnya edema pada ekstremitas dan badan.
c. Mengubah posisi dengan sering dan memeriksa bagian kukit yang
menonjol setiap hari.
4. Mencapai perbaikan citra tubuh.
a. Mengutarakan perasaan tentang perubahan penampilan, fungsi seksual
dan tingkat aktivitas.
b. Mengungkapkan kesadaran bahwa perubahan fisil merupakan akibat
dari pemberian kortikosteroid yang berlebihan.
5. Proses pikir klien kembali normal.
6. Klien toleransi terhadap aktivitas.
7. Infeksi tidak terjadi.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Fungsi utamanya kelenjar endokrin adalah menghasilkan dan melepaskan hormon-
hormon secara langsung ke dalam aliran darah.
Organ utama dari sistem kelenjar endokrin adalah:
1. hipotalamus
2. kelenjar hipofisa
3. kelenjar tiroid
4. kelenjar paratiroid
5. pulau-pulau pankreas
6. kelenjar adrenal
7. buah zakar
Kelenjar supraneralis jumlahnya ada 2, terdapat pada bagian atas dari ginjal kiri dan
kanan. Ukurannya berbeda-beda, beratnya rata-rata 5-9 gram.
1. Medula Adrenal
2. Korteks Adrenal
Sel-sel korteks adrenal dapat menyintesis kolestrol dan juga mengambilnya dari sirkulasi.
 Disfungsi kelenjar adrenal merupakan gangguan metabolic yang menunjukkan
kelebihan / defisiensi kelenjar adrenal (Rumohorbo Hotma, 1999)
1. Hiperfungsi kelenjar adrenal
  Sindrom Cushing
  Sindrom Adrenogenital
  Hiperaldosteronisme
2. Hipofungsi Kelenjar Adrenal
  Insufisiensi Adrenokortikal Akut (krisis adrenal)
  Insufisiensi Adreno Kortikal Sekunder
  Insufisiensi Adrenokortikal Kronik Primer (penyakit Addison)
 Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Disfungsi Kelenjar Adrenal Sindrom
Cushing.
Sindrom Cushing adalah keadan klinik yang terjadi akibat dari paparan terhadap
glukokortikoid sirkulasi dengan jumlah yang berlebihan untuk waktu yang lama. (Green
Span, 1998).
Merupakan tipe Sindroma Cushing yang paling sering ditemukan berjumlah kira-kira
70 % dari kasus yang dilaporkan. Penyakit Cushing lebih sering pada wanita (8:1, wanita :
pria) dan umur saat diagnosis biasanya antara 20-40 tahun.
2. Saran
Sebaiknya pasien menjalani operasi pengangkatan tumor hipofisis dahulu, kemudian
mungkin juga dapat dikombinasikan dengan obat – obatan penghambat sintesis hormone
adrenokortikal.
DAFTAR PUSTAKA
http://ameliarina.blogspot.com/2011/03/askep-hiperfungsi-kelenjar-adrenal.html
http://www.scribd.com/doc/92098470/ASKEP-CUSHING-SINDROM
http://2.bp.blogspot.com/-
vHyxVaAWo7c/UBqQsUe4B7I/AAAAAAAAAGw/9Xy0DAkC5X8/s1600/2.jpg
http://nursevieluppy.blogspot.com/2012/05/askep-dengan-cushing-syndrom.html

Askep Chusing Sindrom

  • 1.
    KONSEP MEDIS DANKONSEP KEPERAWATAN GANGGUAN KELENJER ADRENAL (SINDROM CHUSING) OLEH KELOMPOK III Adrianus Pandong P1207001 Rusdin P1207026 Aisyah P1207003 Sri Nala P1207028 Iyan Tomia P1207018 Yovita Sela.P P1207031 Irmawati P1207016 Yulike Sarimanela P1207032 Nuzulya Rahmadhani P1207025 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN STIKES GRAHA EDUKASI MAKASSAR 2013 / 2014
  • 2.
    BAB I PENDAHULUAN 1.1. LatarBelakang Sindrom Cushing disebabkan hormon kortisol dihasilkan secara berlebihan. Hormon kortisol dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Secara biologinya, kelenjar berbentuk seakan- akan topi ini terdiri daripada dua lapisan yang dikenali sebagai korteks (lapisan luar) dan medula (lapisan dalam). Kelenjar adrenal menghasilkan antara 30 hingga 50 sebatian steroid atau hormon. Tiga hormon utama yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal ini ialah hormon kortisol, adolsteron dan hormon androgen. Sindrom Cushing pula selalunya terjadi pada kaum wanita. Pesakit biasanya juga mempunyai masalah darah tinggi, peningkatan berat badan dengan rupa bentuk ‘cushingoid’. Punca utama penyakit sindrom Cushing adalah adenoma korteks adrenal, hyperplasia menyeluruh, hiperplasia makronodul dan kanser kelenjar adrenal. Rawatan penyakit sindrom Cushing ialah dengan merawat puncanya. Feokromositoma adalah ketumbuhan yang jarang ditemui dan ia merembeskan hormon katekolamin. Tanda penyakit adalah peningkatan tekanan darah, massa abdomen dan serangan panik. Ketumbuhan boleh berpunca dari satu kelenjar adrenal (74.2%), adrenal ekstra (16.1%) atau kedua-dua kelenjar (9.6%). Karsinoma korteks adrenal jarang ditemui, bersifat agresif dan mempunyai ketumbuhan yang telah merebak. Penyakit ini boleh sembuh jika dikesan lebih awal dan menjalani pembedahan dengan segera. Sindrom Cushing juga biasa terdapat pada anjing peliharaan atau kuda, yang menunjukkan simptom yang sama seperti manusia, di mana ia kelihatan bulu kerinting rapat yang tidak gugur dan kehilangan berat badan dan laminitis.
  • 3.
    1.2. Tujuan 1). Tujuanumum : Untuk mengetahui dan dapat memberikan asuhan keperawatan pada penderita sindrome cushing. 2) Tujuan Khusus :  Mampu melakukan pengkajian pada penderita sindrome cushing.  Mampu Merumuskan diagnosa keperawatan pada penderita sindrome cushing.  Mampu membuat rencana keperawatan pada pasien gangguan sindrome cushing.  Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien gangguan sindrome cushing.  Mampu Mengevaluasi pelaksanaan askep pada pasien gangguan sindrome cushing.
  • 4.
    BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.Konsep Medis 1.1. Defenisi Sindrom Cushing adalah suatu keadaan yang diakibatkan oleh efek metabolik gabungan dari peninggian kadar glukokortikoid dalam darah yang menetap. Kadar yang tinggi ini dapat terjadi secara spontan atau karena pemberian dosis farmakologik senyawa – senyawa glukokortikoid. (Sylvia A. Price; Patofisiologi, Hal. 1088). 1.2. Etiologi Sindrom Cushing disebabkan oleh sekresi kortisol atau kortikosteron yang berlebihan, kelebihan stimulasi ACTH mengakibatkan hyperplasia korteks anal ginjal berupa adenoma maupun carcinoma yang tidak tergantung ACTH juga mengakibatkan sindrom Cushing. Demikian juga hiperaktivitas hipofisis, atau tumor lain yang mengeluarkan ACTH. Syndrome Cushing yang disebabkan tumor hipofisis disebut penyakit Cushing. (buku ajar ilmu bedah, R. Syamsuhidayat, hal 945). Sindrom Cushing dapat diakibatkan oleh pemberian glukortikoid jangka panjang dalam dosis farmakologik (latrogen) atau oleh sekresi kortisol yang berlebihan pada gangguan aksis hipotalamus-hipofise-adrenal (spontan) pada sindrom cusing spontan, hiperfungsi korteks adrenal terjadi akibat ransangan belebihan oleh ACTH atau sebab patologi adrenal yang mengakibatkan produksi kortisol abnormal. (Sylvia A. Price; Patofisiologi, hal 1091) 1.3. Patofisiologi Telah dibahas diatas bahwa penyebab sindrom cishing adalah peninggian kadar glukokortikoid dalam darah yang menetap. Untuk lebih memahami manifestasi klinik sindrom chusing, kita perlu membahas akibat-akibat metabolik dari kelebihan glikokorikoid.
  • 5.
     Korteks adrenalmensintesis dan mensekresi empat jenis hormon: a. Glukokortikoid. Glukokortikoid fisiologis yang disekresi oleh adrenal manusia adalah kortisol. b. Mineralokortikoid. Mineralokortikoid yang fisiologis yang diproduksi adalah aldosteron. c. Androgen. d. Estrogen  Kelebihan glukokortikoid dapat menyebabkan keadan-keadaan seperti dibawah ini: 1. Metabolisme protein dan karbohidrat. Glukokortikoid mempunyai efek katabolik dan antianabolik pada protein, menyebabkan menurunnya kemampuan sel-sel pembentk protein untuk mensistesis protein, sebagai akibatnya terjadi kehilangan protein pada jaringan seperti kulit, otot, pembuluh darah, dan tulang. Secara klinis dapat ditemukan: a. Kulit mengalami atropi dan mudah rusak, luka-luka sembuh dengan lambat. b. Ruptura serabut-serabut elastis pada kulit menyebabkan tanda regang pada kulit berwarna ungu (striae). c. Otot-otot mengalami atropi dan menjadi lemah. d. Penipisan dinding pembuluh darah dan melemahnya jaringan penyokong vaskule menyebabkan mudah tibul luka memar. e. Matriks protein tulang menjadi rapuh dan menyebabkan osteoporosis, sehingga dapat dengan mudah terjadi fraktur patologis. f. Metabolisme karbohidrat dipengaruhi dengan meransang glukoneogenesis dan menganggu kerja insulin pada sel-sel perifer, sebagai akibatnya penderita dapat mengalami hiperglikemia. g. Pada seseorang yang mempunyai kapasitas produksi insulin yang normal, maka efek dari glukokortikoid akan dilawan dengan meningkatkan sekresi insulin untuk meningkatkan toleransi glukosa.
  • 6.
    h. Sebaliknya penderitadengan kemampuan sekresi insulin yang menurun tidak mampu untuk mengkompensasi keadaan tersebut, dan menimbulkan manifestasi klinik DM. 2. Distribusi jaringan adiposa. a) Distribusi jaringan adiposa terakumulasi didaerah sentral tubuh. b) Obesitas. c) Wajah bulan (moon face). d) Memadatnya fossa supraklavikulare dan tonjolan servikodorsal (punguk bison). e) Obesitas trunkus dengan ekstremitas atas dan bawag yang kurus akibat atropi otot memberikan penampilan klasik perupa penampilan Chusingoid. 3. Elektrolit Efek minimal pada elektrolit serum. Kalau diberikan dalam kadar yang terlalu besar dapat menyebabkan retensi natrium dan pembuangan kalium. Menyebabkan edema, hipokalemia dan alkalosis metabolik. 4. Sistem kekebalan Ada dua respon utama sistem kekebalan; yang pertama adalah pembentukan antibody humoral oleh sel-sel plasma dan limfosit B akibat ransangan antigen yang lainnya tergantung pada reaksi-reaksi yang diperantarai oleh limfosit T yang tersensitasi. Glukokortikoid mengganggu pembentukan antibody humoral dan menghabat pusat-pusat germinal limpa dan jaringan limpoid pada respon primer terhadap anti gen. Gangguan respon imunologik dapat terjadi pada setiap tingkatan berikut ini: a. Proses pengenalan antigen awal oleh sel-sel sistem monosit makrofag. b. Induksi dan proleferasi limfosit imunokompeten. c. Produksi anti bodi. d. Reaksi peradangan.
  • 7.
    e. Menekan reaksihipersensitifitas lambat. 5. Sekresi lambung a. Sekeresi asam lambubung dapat ditingkatkan. b. Sekresi asam hidroklorida dan pepsin dapat meningkat. c. Faktor-faktor protekitif mukosa dirubah oleh steroid dan faktor-faktor ini dapat mempermudah terjadinya tukak. 6. Fungsi otak Perubahan psikologik terjadi karena kelebihan kortikosteroid, hal ini ditandai dengan oleh ketidak stabilan emosional, euforia, insomnia, dan episode depresi singkat. 7. Eritropoesis Involusi jaringan limfosit, ransangan pelepasan neutrofil dan peningkatan eritropoiesis. Namun secara klinis efek farmakologis yang bermanfaat dari glukokortikoid adalah kemampuannya untuk menekan reaksi peradangan. Dalam hal ini glukokortikoid:  Dapat menghambat hiperemia, ekstra vasasi sel, migrasi sel, dan permeabilitas kapiler.  Menghambat pelapasan kiniin yang bersifat pasoaktif dan menkan fagositosis.  Efeknya pada sel mast; menghambat sintesis histamin dan menekan reaksi anafilaktik akut yang berlandaskan hipersensitivitas yang dperantarai anti bodi.  Penekanan peradangan sangat deperlukan, akan tetapi terdapat efek anti inflamasi yang merugikan penderita. Pada infeksi akut tubuh mungkin tidak mampu melindungi diri sebagai layaknya sementara menerima dosis farmakologik. (Sylvia A. Price; Patofisiologi, hal 1090).
  • 8.
    1.4. Manifestasi Klinis Manifestasi klinik yang sering ditemukan pada pasien dengan sindrom cushing antaralain:  Obesitas sentral.  Gundukan lemak pd punggung.  Muka bulat (moon face).  Striae.  Berkurangnya massa otot & kelemahan umum.  Tanda lain yg ditemukan pd Syndrom cushing seperti:  Atripi/ kelemahan otot sektermitas.  Hirsutisme (kelebihan bulu pada wanita).  Ammenorrhoe.  Impotensi.  Osteoporosis.  Akne.  Edema.  Nyeri kepala, mudah memar dan gangguan penyembuhan luka. 1.5. Pemeriksaan Penunjang a. CT scan  Untuk menunjukkan pembesaran adrenal pada kasus sindro cushing. b. Photo scanning. c. Pemeriksaan adrenal mengharuskan pemberian kortisol radio aktif secara intravena. d. Pemeriksaan elektro kardiografi  Untuk menentukan adanya hipertensi (endokrinologi edisi hal 437). e. Uji supresi deksametason. Mungkin diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosis peyebab sindrom cushing tersebut, apakah hipopisis atau adrenal. f. Pengambilan sampele darah.
  • 9.
    Untuk menentukan adanyavaryasi diurnal yang normal pada kadar kortisol, plasma. g. Pengumpulan urine 24 jam. Untuk memerikasa kadar 17 – hiroksikotikorsteroid serta 17 – ketostoroid yang merupakan metabolik kortisol dan androgen dalam urine. 1.6. Penatalaksanaan Pengobatan tergantung pada ACTH yg tidak seragam. Apakah sumber ACTH ad hipofis atau ektopik. a. Jika dijumpai tumor hipofisis. Sebaiknya diusahakan reseksi tumor transfenoidal. b. Jika terdapat bukti hiperfungsi hipofisis namun tumor tidak dapat ditemukan maka sebagai gantinya dapat dilakukan radiasi kobait pada kelenjar hipofisis. c. Kelebihan kortisol juga dapat ditanggulangi dg adrenolektomi total dan diikuti pemberian kortisol dosis fisiologik. d. Bila kelebihan kortisol disebabkan o/ neoplasma disusul kemoterapi pada penderita dengan karsinoma/ terapi pembedahan. e. Digunakan obat dengan jenis metyropone, amino gluthemideo, p-ooo yang bisa mensekresikan kortisol ( Patofisiologi Edisi 4 hal 1093 ). 1.7. Pencegahan Untuk mengatasi gejala akibat hiperandrogen, dengan cara memberikan obat yang berpotensi antiandrogenik, seperti Cyproterone acetate (CPA). Dalam tubuh, CPA bekerja secara kompetitif mengikat reseptor androgen, sehingga menurunkan kadar androgen bebas, mengurangi produksi minyak pada kulit, dan mencegah timbulnya masalah kulit. 1.8. Komplikasi  Diabetes Militus.  Hipertensi.  Osteoporosis.
  • 10.
     Krisis Addisonnia Efek yang merugikan pada aktivitas koreksi adrenal
  • 11.
  • 12.
    2. Konsep Keperawatan 2.1Pengkajian  Aktivitas/ istirahat . Gejala : Insomnia, sensitivitas, otot lemah, gg koordinasi, kelelahan berat. Tandanya : atrofi otot.  Sirkulasi . Gejala: Palpitasi, nyeri dada (angina). Tandanya: Distritnia, irama gallop, mur-mur, takikardia saat istirahat.  Eliminasi. Gejala: Urine dlm jumlah banyak, perubahan dlm feces: diare.  Itegritas ego Gejala : Mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik.. Tandanya : Emosi letal, depresi.  Makanan atau cairan Gejala : Kehilangan berat badan yang mendadak, mual dan muntah.  Neorosensori Gejala : Bicara cepat dan parau, gangguan status mental dan prilaku seperti binggung, disorientasi, gelisa, peka rangsangan, delirium.  Pernafasan Tandanya : Frekuensi pernafasan meningkatan, takepnia dispnea.  Nyeri atau kenyamanan Gejala : Nyeri orbital, fotobia.  Keamanan Gejala : Tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan tandanya suhu meningkat diatas 37,40CC, retraksi, iritasi pada kunjungtiva dan berair.  Seksualitas Tandanya : Penurunan libido, hipomenoria, amenoria dan impoten. Komplikasi 1. Krisis Addison. 2. Efek yang merugikan pd aktivitas korteks adrenal. 3. Patah tulang akibat osteoporosis.
  • 13.
    Penilaian Nyeri BerdasarkanPQRST P : Provokatif / Paliatif Apa kira-kira Penyebab timbulnya rasa nyeri…? Apakah karena terkena ruda paksa / benturan..? Akibat penyayatan..? dll. Q : Qualitas / Quantitas Seberapa berat keluhan nyeri terasa..?. Bagaimana rasanya..?. Seberapa sering terjadinya..? Ex : Seperti tertusuk, tertekan / tertimpa benda berat, diris-iris, dll. R : Region / Radiasi Lokasi dimana keluhan nyeri tersebut dirasakan / ditemukan..? Apakah juga menyebar ke daerah lain / area penyebarannya..? S : Skala Seviritas Skala kegawatan dapat dilihat menggunakan GCS ( Baca : Cara Mengukur GCS (Glasgow’s Coma Scale) untuk gangguan kesadaran, skala nyeri / ukuran lain yang berkaitan dengan keluhan. T : Timing Kapan keluhan nyeri tersebut mulai ditemukan / dirasakan..? Seberapa sering keluhan nyeri tersebut dirasakan / terjadi…? Apakah terjadi secara mendadak atau bertahap..? Acut atau Kronis..? 2.2. Diagnosa Keperawatan 1. Resiko cedera dan infeksi b/d kelemahan dan perubahan metabolisme protein serta respon inflamasi 2. Defisit perawatan diri; kelemahan perasaan mudah lelah, atropi otot dan perubahan pola tidur.
  • 14.
    3. Gangguan integritaskulit b/d edema, gangguan kesembuhan dan kulit yg tipis serta rapuh. 4. Gangguan citra tubuh b/d perubahan penampilan fisik, gangguan fungsi seksual dan penurunan tingkat aktivitas. 5. Gangguan proses berpikir b/d fluktuasi emosi, iritabilitas dan depresi. 6. Nyeri berhubungan dengan perlukaan pada mukosa lambung. 7. Resiko infeksi b.d penurunan respon imun, respon inflamasi. 2.3. Intervensi Keperawatan 1. Dx : Resiko cedera dan infeksi b/d kelemahan dan perubahan metabolisme protein serta respon inflamasi.  Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam Klien tidak mengalami cidera setelah dilakukan intervensi.  Kriteria Hasil : - Cedera jaringan lunak (-), Fraktur (-), Ekimosis (-) Kelemahan (-) Intervensi Rasional  Ciptakan lingkungan yang protektif / aman.  Lingkungan yang protektif dapat mencegah jatuh, fraktur dan cedera lainnya pada tulang dan jaringan lunak.  Bantu klien saat ambulansi  Kondisi yang lemah sangat beresiko terjatuh / terbentur saat ambulasi  Berikan penghalang tempat tidur / tempat tidur dengan posisi yang rendah  Menurunkan kemungkinan adanya trauma  Anjurkan kepada klien untuk istirahat secara adekuat dengan aktivitas yang sedang  Memudahkan proses penyembuhan  Anjurkan klien untuk diet tinggi  Untuk meminimalkan pengurangan
  • 15.
    protein, kalsium danvitamin D massa otot  Kolaborasi pemberian obat-obatan seperti sedative  Dapat meningkatkan istirahat 2. Dx : Defisit perawatan diri; kelemahan perasaan mudah lelah, atropi otot dan perubahan pola tidur.  Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam Klien menunjukkan perawatan diri yang maksimal.  Kriteria Hasil : - Kelemahan (-), Keletihan (-), Klien ikut serta dalam aktivitas perawatan diri, Klien mengalami peningkatan dalam perawatan diri, Klien bebas dari komplikasi imobilitas. Intervensi Rasional  Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktivitas perawatan diri.  Dapat mengetahui kemampuan klien dan memudahkan intervensi selanjutnya.  Bantu klien dalam melakukan aktivitas perawatan diri.  Pemenuhan kebutuhan perawatan diri klien.  Libatkan keluarga dalam aktivitas perawatan diri klien.  Keluarga merupakan orang terdekat dalam pemenuhan kebutuhan perawatan diri klien.  Rencanakan aktivitas dan latihan klien.  Istirahat klien tidak terganggu dengan adanya aktivitas dan latihan yang terencana.  Berikan dorongan untuk melakukan perawatan diri kepada klien dan atur aktivitasnya.  Dapat mencegah komplikasi imobilitas.  Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman  Lingkungan yang tenang dan nyaman dapat menaikan istirahat dan tidur.
  • 16.
    3. Dx :Gangguan integritas kulit b/d edema, gangguan kesembuhan dan kulit yang tipis serta rapuh.  Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam Klien menunjukkan integritas kulit kembali utuh setelah dilakukan tindakan keperawatan.  Criteria Hasil : Penipisan kulit (-), Petechie (-), Ekimosis (-), Edema pada ekstremitas (-), Keadaan kulit baik dan utuh, Striae (-) Intervensi Rasional  .Kaji ulang keadaan kulit klien  Mengetahui kelainan / perubahan kulit serta untuk menentukan intervensi selanjutnya  Ubah posisi klien tiap 2 jam  Meminimalkan / mengurangi tekanan yang berlebihan didaerah yang menonjol serta melancarkan sirkulasi  Hindari penggunaan plester  Penggunaan plester dapat menimbulkan iritasi dan luka pada kulit yang rapuh  Berikan lotion non alergik dan bantalan pada tonjolan tulang dan kulit  dapat mengurangi lecet dan iritasi 4. Dx : Gangguan citra tubuh b/d perubahan penampilan fisik, gangguan fungsi seksual dan penurunan tingkat aktivitas.  Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam Klien menunjukkan gambaran diri yang positif setelah dilakukan  Kriteria Hasil : Klien dapat mengekspresikan perasaanya terhadap perubahan penampilannya, Klien dapat mengutarakan perasaannya tentang perubahan sexual, Klien dapat menyebutkan tanda dan gejala yang terjadi selama pengobatan, Klien dapat melakukan personal hygine setiap hari.
  • 17.
    Intervensi Rasional  Ciptakanlingkungan yang kondusif dengan klien mengenai perubahan body image yang dialami  Lingkungan yang kondusif dapat memudahkan klien untuk mengungkapkan perasaannya  Beri penguatan terhadap mekanisme koping yang positif  Membantu klien dalam meningkatkan dan mempertahankan kontrol dan membantu mengembangkan harga diri klien  Berikan informasi pada klien mengenai gejala yang berhubungan dengan pengobatan  Dengan diberikan penjelasan tersebut, klien dapat menerima perubahan pada dirinya  Beri dukungan pada klien dan jadilah pendengar yang baik  Memberikan dukungan dapat memotivasi klien untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar  Kolaborasi dengan ahli psikolog  Pasien mungkin membutuhkan dukungan selama berhadapan dengan proses jangka panjang ketidakmampuan 5. Dx : Gangguan proses berpikir b/d fluktuasi emosi, iritabilitas dan depresi.  Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam Klien menunjukkan Tidak terjadi perubahan proses pikir.  Criteria Hasil : Klien mempraktekkan teknik relaksasi, Klien mendiskusikan perasaannya dengan mudah, Klien dapat berorientasi terhadap lingkungan.
  • 18.
    Intervensi Rasional  Orientasikanpada tempat, orang dan waktu  Dapat menolong mempertahankan orientasi dan menurunkan kebingungan.  Tetapkan jadwal perawatan rutin untuk memberikan waktu istirahat yang teratur.  Menaikkan orientasi dan mencegah kelelahan yang berlebihan.  Anjurkan klien untuk melakukan perawatan diri sendiri sesuai kemampuan.  Mempertahankan orientasi pada lingkungan.  Ajarkan teknik relaksasi.  Teknik relaksasi dapat mempengaruhi proses pikir, sehingga klien dapat lebih tenang.  Berikan tindakan yang stabil, terang dan tidak menimbulkan stress.  Tindakan yang stabil, tenang dan tidak menimbulkan stress memperbaiki proses pikir. 6. Dx : Nyeri berhubungan dengan perlukaan pada mukosa lambung.  Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam nyeri klien berkurang.  Kriteria Hasil : Klien mengatakan nyeri hilang/berkurang, menunjukkan postur tubuh rileks dan mampu tidur dengan tepat. Intervensi Rasional  Catat keluhan nyeri, lokasi, lamanya, intensitas (skala 0-10)  Nyeri tidak selalu ada tetapi bila ada harus dibandingkan dengan gejala nyeri pasien.  Kaji ulang faktor yang meningkatkan dan menurunkan nyeri  Membantu dalam membuat diagnosa dan kebutuhan terapi.
  • 19.
     Berikan makansedikit tapi sering sesuai indikasi untuk pasien  makanan mempunyai efek penetralisir asam, juga menghancurkan kandungan gaster. Makanan sedikit mencegah distensi dan haluaran gaster.  Berikan obat sesuai indikasi. Misalnya, antasida.  menurunkan keasaman gaster dengan absorbsi atau dengan menetralisir kimia 7. Dx : Resiko infeksi b.d penurunan respon imun, respon inflamasi.  Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam Infeksi tidak terjadi setelah dilakukan intervensi.  Kriteria Hasil : Tanda-tanda infeksi (tumor, calor, dolor, rubor, fungsio laesa) tidak ada, Suhu normal : 36,5-37,1˚C, Hasil lab : Leukosit : 5000-10.000 gr/dL. Intervensi Rasional  Kaji tanda-tanda infeksi  Adanya tanda-tanda infeksi (tumor, rubor, dolor, calor, fungsio laesa) merupakan indicator adanya infeksi  Ukur TTV setiap 8 jam  Suhu yang meningkat merupakan indicator adanya infeksi  Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan  Mencegah timbulnya infeksi silang  Batasi pengunjung sesuai indikasi  Mengurangi pemajanan terhadap patogen infeksi lain  Tempatkan klien pada ruang isolasi sesuai indikasi  Tehnik isolasi mungkin diperlukan untuk mencegah penyebaran / melindungi pasien dari proses infeksi lain Kolaborasi
  • 20.
     Pemberian antibiotiksesuai indikasi  Terapi antibiotik untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi nosokomial  Pemeriksaan lab (Leukosit)  Leukosit meningkat indikasi terjadinya infeksi 2.4. Implementasi Implementasi dilakukan sesuai intervensi yang disesuaikan dengan kondisi klien. 2.5. Evaluasi 1. Menurunkan resiko cedera dan infeksi a. Bebas fraktur atau cedera jaringan lunak. b. Bebas daerah ekimosis. c. Tidak mengalami kenaikan suhu, kemerahan, rasa nyeri ataupun tanda-tanda lain infeksi serta inflamasi. 2. Meningkatkan partisipasi dalam aktivitas perawatan mandiri. a. Merencanakan aktivitas perawatan dan latihan untuk memungkinkan periode istirahat. b. Melaporkan perbaikan perasaan sehat. c. Bebas komplikasi mobilitas. 3. Mencapai/mempertahankan integritas kulit. a. Memiliki kulit yang utuh tanpa ada bukti adanya luka atau infeksi. b. Menunjukkan bukti berkurangnya edema pada ekstremitas dan badan. c. Mengubah posisi dengan sering dan memeriksa bagian kukit yang menonjol setiap hari. 4. Mencapai perbaikan citra tubuh. a. Mengutarakan perasaan tentang perubahan penampilan, fungsi seksual dan tingkat aktivitas. b. Mengungkapkan kesadaran bahwa perubahan fisil merupakan akibat dari pemberian kortikosteroid yang berlebihan. 5. Proses pikir klien kembali normal.
  • 21.
    6. Klien toleransiterhadap aktivitas. 7. Infeksi tidak terjadi.
  • 22.
    BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan Fungsiutamanya kelenjar endokrin adalah menghasilkan dan melepaskan hormon- hormon secara langsung ke dalam aliran darah. Organ utama dari sistem kelenjar endokrin adalah: 1. hipotalamus 2. kelenjar hipofisa 3. kelenjar tiroid 4. kelenjar paratiroid 5. pulau-pulau pankreas 6. kelenjar adrenal 7. buah zakar Kelenjar supraneralis jumlahnya ada 2, terdapat pada bagian atas dari ginjal kiri dan kanan. Ukurannya berbeda-beda, beratnya rata-rata 5-9 gram. 1. Medula Adrenal 2. Korteks Adrenal Sel-sel korteks adrenal dapat menyintesis kolestrol dan juga mengambilnya dari sirkulasi.  Disfungsi kelenjar adrenal merupakan gangguan metabolic yang menunjukkan kelebihan / defisiensi kelenjar adrenal (Rumohorbo Hotma, 1999) 1. Hiperfungsi kelenjar adrenal   Sindrom Cushing   Sindrom Adrenogenital   Hiperaldosteronisme 2. Hipofungsi Kelenjar Adrenal   Insufisiensi Adrenokortikal Akut (krisis adrenal)   Insufisiensi Adreno Kortikal Sekunder   Insufisiensi Adrenokortikal Kronik Primer (penyakit Addison)
  • 23.
     Asuhan KeperawatanPada Klien Dengan Disfungsi Kelenjar Adrenal Sindrom Cushing. Sindrom Cushing adalah keadan klinik yang terjadi akibat dari paparan terhadap glukokortikoid sirkulasi dengan jumlah yang berlebihan untuk waktu yang lama. (Green Span, 1998). Merupakan tipe Sindroma Cushing yang paling sering ditemukan berjumlah kira-kira 70 % dari kasus yang dilaporkan. Penyakit Cushing lebih sering pada wanita (8:1, wanita : pria) dan umur saat diagnosis biasanya antara 20-40 tahun. 2. Saran Sebaiknya pasien menjalani operasi pengangkatan tumor hipofisis dahulu, kemudian mungkin juga dapat dikombinasikan dengan obat – obatan penghambat sintesis hormone adrenokortikal.
  • 24.