LOGIKA MATEMATIKA 
Oleh : Hidayati Rusnedy 
SMA NEGERI 1 BANGKINANG KOTA
Pengertian Pernyataan 
Adalah kalimat yang hanya benar saja atau salah saja, 
tetapi tidak dapat sekaligus benar dan salah. 
Contoh: 
- Menara itu tinggi. 
- Jumlah hari ada 7. 
- Tangkaplah orang itu! 
- Berapa Umurmu sekarang? 
(Pernyataan) 
(Pernyataan) 
(Bukan Pernyataan) 
(Bukan Pernyataan)
Lambang dan Nilai Kebenaran Suatu 
Pernyataan 
Lambang 
Suatu pernyataan dilambangkan dengan memakai 
huruf kecil, seperti a, b, c,…,p,q,r,…dan seterusnya. 
Contoh: 
Pernyataan “4 adalah bilangan genap” dapat dilambangkan 
dengan memakai huruf p. 
Ditulis: 
P : 4 adalah bilangan genap.
Nilai Kebenaran Suatu Pernyataan 
Nilai benar atau salah dari suatu pernyataan dapat ditentukan 
memakai: 
Dasar Empiris: 
Menentukan benar atau salah dari sebuah pernyataan berdasarkan fakta yang 
ada atau dijumpai dalam kehidupan sehari-hari 
Contoh: 
1. “Ibukota jawa Timur adalah Surabaya”, meupakan pernyataan benar. 
2. “Air adalah benda padat”, merupkana pernyataan salah. 
Dasar Tak Empiris: 
Menentukan benar atau salah dari sebuah pernyataan dengan memakai bukti 
atau perhitungan-perhitungan dalam matematika. 
Contoh: 
1. “Akar persamaan 3x – 1 = 5 adalah 2”, merupakan pernyataan benar. 
2. “Jika x > 1, maka x > 2” merupakan pernyataan salah.
Pernyataan yang benar dikatakan mempunyai nilai kebenaran 
B (benar), 
Sedangkan untuk pernyataan yang salah dikatakan 
mempunyai nilai kebenaran s (salah). 
Contoh: 
Kata nilai kebenaran dilambangkan dengan memakai huruf 
Yunani τ (dibaca: tau) 
1. τ(p) = B dibaca “niali kebenaran pernyataan p adalah B” atau 
“pernyataan p mempunyai nilai kebenran B”. 
2. q: 10 kurang dari 5, merupakan pernyataan yang salah, ditulis τ(q) = S.
 Ingkaran Atau Negasi Suatu Pernyataan 
Adalah pernyataan yang menyangkal atau mengingkari 
pernyataan awal 
Dari suatu pernyataan p dapat dibentuk “ingkaran p” atau “negasi p”, 
dilambangkan oleh ~p, dengan cara menambahkan kalimat “tidak benar 
bahwa” di depan pernyataan p, atau jika mungkin dengan menyisipkan 
perkataan “tidak” atau “bukan” di dalam pernyataan p. 
Ingkaran suatu pernyatan menyatakan kebalikan dari 
pernyataan itu sendiri berari nilai kebenarannya 
adalah terbalik 
Jika p bernilai benar, maka ~p bernilai salah 
Jika p bernilai salah, maka ~p bernilai benar. 
Tabel Kebenaran 
p ~p 
B S 
S B
Contoh: 
p : 2 + 3 = 5 (τ (p) = B) 
~p : 2 + 3 ≠ 5 (τ (~p) = S) 
q : Semua bilangan prima adalah ganjil (τ (~q) = S) 
~q : Tidak benar bahwa semua bilangan prima adalah ganjil 
(τ (~p) = B) 
atau 
~q : Ada bilangan prima yang tidak ganjil (τ (~q) = B)
Kalimat Terbuka 
Adalah kalimat yang memuat peubah/variabel, sehingga belum 
dapat ditentukan nilai kebenarannya ( benar atau salah ). 
Tetapi apabila variabel diganti nilai tertentu akan menjadi 
suatu pernyataan. 
Contoh: 2x + 3 = 11 (kalimat terbuka) 
Y – 3 < 4 (kalimat terbuka) 
Perhatikan contoh!! 
Jika x diganti 3, diperoleh “2(3) + 3 = 11”, merupakan pernyataan salah. 
Jika x diganti 4, diperoleh “2(4) + 3 = 11”, merupakan pernyataan benar. 
Nilai pengganti x = 4 mengubah kalimat terbuka “2x + 3 = 11” menjadi 
pernyataan yang benar. Nilai x = 4 disebut penyelesaian dari kalimat 
terbuka itu.
Kesimpulan: 
1. Kalimat terbuka dapat diubah menjadi pernyataan dengan cara 
mengganti peubah pada himpunan semestanya. 
2. Penyelesaian kalimat terbuka adalah nilai pengganti pada himpunan 
semesta yang mengubah kalimat terbuka menjadi pernyataan yang 
benar. 
3. Himpunan penyelesaian kalimat terbuka adalah suatu himpunan dengan 
anggota-anggota merupakan penyelesaian dari terbuka itu. 
Contoh: 
1. Himpunan penyelesaian persamaan x + 3 = 8 (x peubah pada 
himpunan bilangan real R) adalah HP = {5}. 
2. Himpunan penyelesaian persamaan x2 – 5x + 6 = 0 (x peubah pada 
himpunan bilangan real R) adalah HP = {2,3}.
Pernyataan Majemuk 
- Kebenaran Suatu Pernyataan Majemuk 
- Negasi Suatu Pernyataan majemuk
Kebenaran Suatu Pernyataan Majemuk 
- Disjungsi 
- Konjungsi 
- Implikasi 
- Biimplikasi
Disjungsi 
Adalah pernyataan yang dibentuk dari dua pernyataan p dan 
q dengan kata hubung “atau”. 
Notasinya: 
p v q 
Dibaca: p atau q 
Tabel Kebenaran disjungsi 
p q p v q 
B B B 
B S B 
S B B 
S S S
Contoh: 
Tentukan nilai kebenaran dari: 
6 adalah bilangan genap atau 13 adalah bilangan prima. 
Jawab: 
Misal: p : 6 adalah bilangan genap 
q : 13 adalah bilanagn prima 
p bernilai benar dan q bernilai benar sehingga pernyataan 6 
adalah bilangan genap atau 13 adalah bilangan prima bernilai 
benar
Konjungsi 
Adalah pernyataan yang dibentuk dari dua pernyataan p 
dan q dengan kata hubung “dan”. 
Dibaca: p dan q 
Tabel kebenaran konjungsi: 
Notasinya: 
p q  
 
p q p q 
B B B 
B S S 
S B S 
S S S
Contoh: 
13 bilangan prima dan 132 = 169 
Jawab: 
Misal: p : 13 bilangan prima 
Q : 132 = 169 
p bernilai benar dan q bernilai benar sehingga 
pernyataan 13 bilangan prima dan 132 = 169 berniai 
benar.
Implikasi 
Adalah pernyataan majemuk yang disusun dari dua pernyataan 
p dan q dalam bentuk “jika p, maka q”. 
Notasinya: 
p  q 
Dibaca: Jika p, maka q 
Tabel kebenaran implikasi: 
p q p  q 
B B B 
B S S 
S B B 
S S B 
Bagian “jika p” dinamakan alasan atau sebab 
dan bagian “maka q” dinamakan kesimpulan 
atau akibat.
Contoh: 
Tentukan nilai kebenaran dari implikasi berikut: 
Jika 3 + 2 = 5, maka 5 adalah bilangan prima 
Jawab: 
Misal: P : 3 + 2 = 5 
Q : 5 adalah bilangan prima 
Jika 3 + 2 = 5, maka 5 adalah bilangan prima 
B B 
Implikasi ini bernilai benar karena alasan benar dan 
kesimpulan benar
Biimplikasi 
Adalah pernyataan majemuk yang disusun dari dua 
pernyataan p dan q dalam bentuk “p jika dan hanya jika q”. 
Notasinya: 
p  q 
Dibaca: p jika dan hanya jika q 
Tabel kebenaran biimplikasi: 
p q p  q 
B B B 
B S S 
S B S 
S S B
Contoh: 
Tentukan nilai kebenaran dari implikasi berikut: 
161/2 = 4 jika dan hanya jika 16log 4 = 1/2 
Jawab: 
Misal: p :161/2 = 4 
Q : 16log 4 = 1/2 
161/2 = 4 jika dan hanya jika 16log 4 = 1/2 
B B 
Merupakan biimplikasi yang benar
Negasi Suatu Pernyataan Majemuk 
- Negasi Konjungsi 
- Negasi Disjungsi 
- Negasi Implikasi 
- Negasi Biimplikasi
Negasi Konjungsi 
Negasi dari pernyataan p q adalah ~p v ~q 
Perhatikan contoh konjungsi berikut. 
p : saya suka apel. 
q : saya tidak suka wortel. 
p q : saya suka apel dan tidak suka wortel. 
~( p q) : saya tidak suka apel atau saya suka wortel.  
p ~p q ~q p  
q ~(p q ) ~p v ~q 
B S B S B S S 
B S S B S B B 
S B B S S B B 
S B S B S B B 
 
 

Negasi Disjungsi 
Negasi disjungsi dari pernyataan p v q adalah ~p ~q 
Perhatikan contoh berikut: 
p : Andi pergi ke supermarket. 
q : Andi menonton di bioskop. 
p v q : Andi pergi ke supermarket atau menonton di bioskop. 
~(p v q) : Andi tidak pergi ke supermarket dan tidak menonton di bioskop. 
p ~p q ~q ~p v ~q ~(p v q) ~q 
B S B S B S S 
B S S B B S S 
S B B S B S S 
S B S B S B B 

Negasi Implikasi 
Negasi pernyataan “p  q” adalah “p  
~q” 
Perhatikan contoh berikut: 
p : Nico belajar dengan giat. 
q : Nico naik kelas. 
p  q : Jika nico belajar dengan giat maka nico naik kelas. 
~(p  q) : Jika Nico belajar dengan giat dan ternyata nico tidak 
naik kelas. 
 
p ~p q ~q p  q ~( p  q) p ~q 
B S B S B S S 
B S S B S B B 
S B B S S S S 
S B S B S S S
Negasi Biimplikasi 
Negasi pernyataan “p  q” adalah (p ~q) v (q ~p) 
Perhatikan contoh berikut: 
P : Ulangan dibatalkan 
Q : Diadakan kerja bakti 
p  q : Ulangan dibatalkan jika dan hanya jika diadakan kerja bakti 
~(p  q ) : Ulangan dibatalkan dan tidak diadakan kerja bakti atau 
diadakan kerja bakti dan ulangan tidak dibatalkan. 
    
p ~p q ~q p  q ~(p  q) p ~q q ~p (p ~q) v (q ~p) 
B S B S B S S S S 
B S S B S B B S B 
S B B S S B B B B 
S B S B B S S S S
Konvers, Invers, dan Kontraposisi 
Dari suatu implikasi p  q dapat dibentuk implikasi lain: 
q  p, yang disebut konvers dari p  q. 
~p  ~q, yang disebut invers dari p  q. 
~q  ~p, yang disebut kontraposisi dari p  q. 
p  q q  p 
konvers 
invers Kontraposisi invers 
~p  ~q ~q  ~p 
konvers
p ~p q ~q p  q q  p ~p  ~q ~q  ~p 
B S B S B B B B 
B S S B S B B S 
S B B S B S S B 
S B S B B B B B 
Contoh:Tentukan konvers, invers, dan kontraposisi dari implikasi: 
Jika harga minyak naik, maka harga barang naik. 
Konversnya (q  p) : jika haga barang naik maka harga minyak naik. 
Invernya (~p  ~q) : jika harga minyak tidak naik mak harga barang tidak naik. 
Kontraposisi (~q  ~p) : jika harga barang tidak naik maka harga minyak tidak naik.
Kuantor Universal dan Kuantor 
Eksistensial 
- Kuantor Universal 
- Kuantor Eksistensial
Kuantor Universal 
Sebuah pernyataan dikatakan menggunakan kuantor 
universal jika menggunakan kata setiap atau semua atau 
yang ekuivalen dengan itu. 
Contoh: 
1. Semua siswa kelas XA senang olahraga. 
2. Setiap peserta ujian wajib membawa kartu tanda 
peserta ujian.
Kuantor Eksistensial 
Pernyataan dikatakan menggunakan kuantor 
eksistensial jika menggunakan kata beberapa atau ada 
atau yang ekuivalen dengan itu. 
Contoh: 
1. Beberapa siswa kelas XB senang olahraga. 
2. Ada siswa yang senang matematika.
Inkaran dari Pernyataan Berkuantor 
- Ingkaran dari Pernyataan Berkuantor Universal 
- Ingkaran dari Pernyataan Berkuantor Eksistensial
Ingkaran dari Pernyataan Berkuantor 
Universal 
Ingkaran dari semua p adalah q yaitu beberapa p 
bukan q. 
Contoh: p : ”Semua bilangan prima adalah bilngan asli”. 
Bernilai benar 
Tentukan ~ p serta nilai kebenarannya. 
~ p : ”Tidak semua bilangan prima adalah bilangan asli”, atau 
~ p : ”Beberapa bilangan prima bukan bilangan asli”. 
Jadi, jelas bahwa ~ p bernilai salah. 
ingkaran dari pernyataan berkuantor universial adalah 
sebuah pernyataan berkuantor eksistensial
Ingkaran dari Pernyataan Berkuantor 
Eksistensial 
Ingkaran dari beberapa p adalah q yaitu semua p 
bukan q. 
Contoh:p : ”Beberapa bilangan prima adalah bilangan 
genap” 
Tentukan ~ p serta nilai kebenarannya 
~ p : ”Semua bilangan prima bukan bilangan genap”, atau 
~ p : ”Tidak ada bilangan prima yang bilangan genap”, atau 
~ p : ”Jika x adalah bilangan prima, maka x bukan bilangan 
genap”. 
ingkaran dari pernyataan berkuantor eksistensial adalah 
sebuah pernyataan berkuantor universal
Penarikan Kesimpulan 
- Prinsip Modus Ponens 
- Prinsip Modus Tolens 
- Prinsip Silogisme
Prinsip Modus Ponens 
Premis 1 : p  q 
Premis 2 : p 
Konklusi : q 
Contoh: 
Premis 1 : Jika Afra kehujanan, maka Afra 
akan masuk angin. 
Premis 2 : Afra kehujanan. 
Konklusi : Afra masuk angin. 
Misal: p: Afra kehujanan 
q: Afra masuk angin 
Penarikan kesimpulannya: 
p  q 
p 
q 
Penarikan kesimpulan ini menggunakan prinsip modus ponens, berarti 
kesimpulan yang ditarik adalah sah.
Prinsip Modus Tolens 
Premis 1 : p  q 
Premis 2 : q 
Konklusi : p 
Contoh: 
Premis 1 : Jika saya berolahraga 
teratur, maka saya akan sehat. 
Premis 2 : Saya tidak sehat 
Konklusi : Saya tidak berolahraga 
teratur 
Misal: p: saya berolahraga teratur 
q: saya akan sehat 
Penarikan kesimpulannya: 
p  q 
~q 
~p 
Penarikan kesimpulan ini menggunakan prinsip modus tolens, 
berarti kesimpulan yang ditarik adalah sah
Prinsip Silogisme 
Premis 1 : p  q 
Premis 2 : q r 
Konklusi : p r 
Premis 1 : jika x bilangan ganjil, maka 2x bilangan genap. 
Premis 2 : jika 2x bilangan genap, amka 2x + 1 bilangan ganjil. 
Konklusi : jika x bilangan ganjil, maka 2x + 1 bilangan ganjil. 
Misal: 
p: x bilangan ganjil 
q: 2x bilangan genap 
r: 2x + 1 bilangan ganjil 
Penarikan kesimpulannya: 
p  q 
q  r 
p  r 
Penarikan kesimpulan ini menggunakan 
prinsip silogisme, berarti penarikan 
kesimpulan ini sah.

Kelas x bab 7

  • 1.
    LOGIKA MATEMATIKA Oleh: Hidayati Rusnedy SMA NEGERI 1 BANGKINANG KOTA
  • 2.
    Pengertian Pernyataan Adalahkalimat yang hanya benar saja atau salah saja, tetapi tidak dapat sekaligus benar dan salah. Contoh: - Menara itu tinggi. - Jumlah hari ada 7. - Tangkaplah orang itu! - Berapa Umurmu sekarang? (Pernyataan) (Pernyataan) (Bukan Pernyataan) (Bukan Pernyataan)
  • 3.
    Lambang dan NilaiKebenaran Suatu Pernyataan Lambang Suatu pernyataan dilambangkan dengan memakai huruf kecil, seperti a, b, c,…,p,q,r,…dan seterusnya. Contoh: Pernyataan “4 adalah bilangan genap” dapat dilambangkan dengan memakai huruf p. Ditulis: P : 4 adalah bilangan genap.
  • 4.
    Nilai Kebenaran SuatuPernyataan Nilai benar atau salah dari suatu pernyataan dapat ditentukan memakai: Dasar Empiris: Menentukan benar atau salah dari sebuah pernyataan berdasarkan fakta yang ada atau dijumpai dalam kehidupan sehari-hari Contoh: 1. “Ibukota jawa Timur adalah Surabaya”, meupakan pernyataan benar. 2. “Air adalah benda padat”, merupkana pernyataan salah. Dasar Tak Empiris: Menentukan benar atau salah dari sebuah pernyataan dengan memakai bukti atau perhitungan-perhitungan dalam matematika. Contoh: 1. “Akar persamaan 3x – 1 = 5 adalah 2”, merupakan pernyataan benar. 2. “Jika x > 1, maka x > 2” merupakan pernyataan salah.
  • 5.
    Pernyataan yang benardikatakan mempunyai nilai kebenaran B (benar), Sedangkan untuk pernyataan yang salah dikatakan mempunyai nilai kebenaran s (salah). Contoh: Kata nilai kebenaran dilambangkan dengan memakai huruf Yunani τ (dibaca: tau) 1. τ(p) = B dibaca “niali kebenaran pernyataan p adalah B” atau “pernyataan p mempunyai nilai kebenran B”. 2. q: 10 kurang dari 5, merupakan pernyataan yang salah, ditulis τ(q) = S.
  • 6.
     Ingkaran AtauNegasi Suatu Pernyataan Adalah pernyataan yang menyangkal atau mengingkari pernyataan awal Dari suatu pernyataan p dapat dibentuk “ingkaran p” atau “negasi p”, dilambangkan oleh ~p, dengan cara menambahkan kalimat “tidak benar bahwa” di depan pernyataan p, atau jika mungkin dengan menyisipkan perkataan “tidak” atau “bukan” di dalam pernyataan p. Ingkaran suatu pernyatan menyatakan kebalikan dari pernyataan itu sendiri berari nilai kebenarannya adalah terbalik Jika p bernilai benar, maka ~p bernilai salah Jika p bernilai salah, maka ~p bernilai benar. Tabel Kebenaran p ~p B S S B
  • 7.
    Contoh: p :2 + 3 = 5 (τ (p) = B) ~p : 2 + 3 ≠ 5 (τ (~p) = S) q : Semua bilangan prima adalah ganjil (τ (~q) = S) ~q : Tidak benar bahwa semua bilangan prima adalah ganjil (τ (~p) = B) atau ~q : Ada bilangan prima yang tidak ganjil (τ (~q) = B)
  • 8.
    Kalimat Terbuka Adalahkalimat yang memuat peubah/variabel, sehingga belum dapat ditentukan nilai kebenarannya ( benar atau salah ). Tetapi apabila variabel diganti nilai tertentu akan menjadi suatu pernyataan. Contoh: 2x + 3 = 11 (kalimat terbuka) Y – 3 < 4 (kalimat terbuka) Perhatikan contoh!! Jika x diganti 3, diperoleh “2(3) + 3 = 11”, merupakan pernyataan salah. Jika x diganti 4, diperoleh “2(4) + 3 = 11”, merupakan pernyataan benar. Nilai pengganti x = 4 mengubah kalimat terbuka “2x + 3 = 11” menjadi pernyataan yang benar. Nilai x = 4 disebut penyelesaian dari kalimat terbuka itu.
  • 9.
    Kesimpulan: 1. Kalimatterbuka dapat diubah menjadi pernyataan dengan cara mengganti peubah pada himpunan semestanya. 2. Penyelesaian kalimat terbuka adalah nilai pengganti pada himpunan semesta yang mengubah kalimat terbuka menjadi pernyataan yang benar. 3. Himpunan penyelesaian kalimat terbuka adalah suatu himpunan dengan anggota-anggota merupakan penyelesaian dari terbuka itu. Contoh: 1. Himpunan penyelesaian persamaan x + 3 = 8 (x peubah pada himpunan bilangan real R) adalah HP = {5}. 2. Himpunan penyelesaian persamaan x2 – 5x + 6 = 0 (x peubah pada himpunan bilangan real R) adalah HP = {2,3}.
  • 10.
    Pernyataan Majemuk -Kebenaran Suatu Pernyataan Majemuk - Negasi Suatu Pernyataan majemuk
  • 11.
    Kebenaran Suatu PernyataanMajemuk - Disjungsi - Konjungsi - Implikasi - Biimplikasi
  • 12.
    Disjungsi Adalah pernyataanyang dibentuk dari dua pernyataan p dan q dengan kata hubung “atau”. Notasinya: p v q Dibaca: p atau q Tabel Kebenaran disjungsi p q p v q B B B B S B S B B S S S
  • 13.
    Contoh: Tentukan nilaikebenaran dari: 6 adalah bilangan genap atau 13 adalah bilangan prima. Jawab: Misal: p : 6 adalah bilangan genap q : 13 adalah bilanagn prima p bernilai benar dan q bernilai benar sehingga pernyataan 6 adalah bilangan genap atau 13 adalah bilangan prima bernilai benar
  • 14.
    Konjungsi Adalah pernyataanyang dibentuk dari dua pernyataan p dan q dengan kata hubung “dan”. Dibaca: p dan q Tabel kebenaran konjungsi: Notasinya: p q   p q p q B B B B S S S B S S S S
  • 15.
    Contoh: 13 bilanganprima dan 132 = 169 Jawab: Misal: p : 13 bilangan prima Q : 132 = 169 p bernilai benar dan q bernilai benar sehingga pernyataan 13 bilangan prima dan 132 = 169 berniai benar.
  • 16.
    Implikasi Adalah pernyataanmajemuk yang disusun dari dua pernyataan p dan q dalam bentuk “jika p, maka q”. Notasinya: p  q Dibaca: Jika p, maka q Tabel kebenaran implikasi: p q p  q B B B B S S S B B S S B Bagian “jika p” dinamakan alasan atau sebab dan bagian “maka q” dinamakan kesimpulan atau akibat.
  • 17.
    Contoh: Tentukan nilaikebenaran dari implikasi berikut: Jika 3 + 2 = 5, maka 5 adalah bilangan prima Jawab: Misal: P : 3 + 2 = 5 Q : 5 adalah bilangan prima Jika 3 + 2 = 5, maka 5 adalah bilangan prima B B Implikasi ini bernilai benar karena alasan benar dan kesimpulan benar
  • 18.
    Biimplikasi Adalah pernyataanmajemuk yang disusun dari dua pernyataan p dan q dalam bentuk “p jika dan hanya jika q”. Notasinya: p  q Dibaca: p jika dan hanya jika q Tabel kebenaran biimplikasi: p q p  q B B B B S S S B S S S B
  • 19.
    Contoh: Tentukan nilaikebenaran dari implikasi berikut: 161/2 = 4 jika dan hanya jika 16log 4 = 1/2 Jawab: Misal: p :161/2 = 4 Q : 16log 4 = 1/2 161/2 = 4 jika dan hanya jika 16log 4 = 1/2 B B Merupakan biimplikasi yang benar
  • 20.
    Negasi Suatu PernyataanMajemuk - Negasi Konjungsi - Negasi Disjungsi - Negasi Implikasi - Negasi Biimplikasi
  • 21.
    Negasi Konjungsi Negasidari pernyataan p q adalah ~p v ~q Perhatikan contoh konjungsi berikut. p : saya suka apel. q : saya tidak suka wortel. p q : saya suka apel dan tidak suka wortel. ~( p q) : saya tidak suka apel atau saya suka wortel.  p ~p q ~q p  q ~(p q ) ~p v ~q B S B S B S S B S S B S B B S B B S S B B S B S B S B B   
  • 22.
    Negasi Disjungsi Negasidisjungsi dari pernyataan p v q adalah ~p ~q Perhatikan contoh berikut: p : Andi pergi ke supermarket. q : Andi menonton di bioskop. p v q : Andi pergi ke supermarket atau menonton di bioskop. ~(p v q) : Andi tidak pergi ke supermarket dan tidak menonton di bioskop. p ~p q ~q ~p v ~q ~(p v q) ~q B S B S B S S B S S B B S S S B B S B S S S B S B S B B 
  • 23.
    Negasi Implikasi Negasipernyataan “p  q” adalah “p  ~q” Perhatikan contoh berikut: p : Nico belajar dengan giat. q : Nico naik kelas. p  q : Jika nico belajar dengan giat maka nico naik kelas. ~(p  q) : Jika Nico belajar dengan giat dan ternyata nico tidak naik kelas.  p ~p q ~q p  q ~( p  q) p ~q B S B S B S S B S S B S B B S B B S S S S S B S B S S S
  • 24.
    Negasi Biimplikasi Negasipernyataan “p  q” adalah (p ~q) v (q ~p) Perhatikan contoh berikut: P : Ulangan dibatalkan Q : Diadakan kerja bakti p  q : Ulangan dibatalkan jika dan hanya jika diadakan kerja bakti ~(p  q ) : Ulangan dibatalkan dan tidak diadakan kerja bakti atau diadakan kerja bakti dan ulangan tidak dibatalkan.     p ~p q ~q p  q ~(p  q) p ~q q ~p (p ~q) v (q ~p) B S B S B S S S S B S S B S B B S B S B B S S B B B B S B S B B S S S S
  • 25.
    Konvers, Invers, danKontraposisi Dari suatu implikasi p  q dapat dibentuk implikasi lain: q  p, yang disebut konvers dari p  q. ~p  ~q, yang disebut invers dari p  q. ~q  ~p, yang disebut kontraposisi dari p  q. p  q q  p konvers invers Kontraposisi invers ~p  ~q ~q  ~p konvers
  • 26.
    p ~p q~q p  q q  p ~p  ~q ~q  ~p B S B S B B B B B S S B S B B S S B B S B S S B S B S B B B B B Contoh:Tentukan konvers, invers, dan kontraposisi dari implikasi: Jika harga minyak naik, maka harga barang naik. Konversnya (q  p) : jika haga barang naik maka harga minyak naik. Invernya (~p  ~q) : jika harga minyak tidak naik mak harga barang tidak naik. Kontraposisi (~q  ~p) : jika harga barang tidak naik maka harga minyak tidak naik.
  • 27.
    Kuantor Universal danKuantor Eksistensial - Kuantor Universal - Kuantor Eksistensial
  • 28.
    Kuantor Universal Sebuahpernyataan dikatakan menggunakan kuantor universal jika menggunakan kata setiap atau semua atau yang ekuivalen dengan itu. Contoh: 1. Semua siswa kelas XA senang olahraga. 2. Setiap peserta ujian wajib membawa kartu tanda peserta ujian.
  • 29.
    Kuantor Eksistensial Pernyataandikatakan menggunakan kuantor eksistensial jika menggunakan kata beberapa atau ada atau yang ekuivalen dengan itu. Contoh: 1. Beberapa siswa kelas XB senang olahraga. 2. Ada siswa yang senang matematika.
  • 30.
    Inkaran dari PernyataanBerkuantor - Ingkaran dari Pernyataan Berkuantor Universal - Ingkaran dari Pernyataan Berkuantor Eksistensial
  • 31.
    Ingkaran dari PernyataanBerkuantor Universal Ingkaran dari semua p adalah q yaitu beberapa p bukan q. Contoh: p : ”Semua bilangan prima adalah bilngan asli”. Bernilai benar Tentukan ~ p serta nilai kebenarannya. ~ p : ”Tidak semua bilangan prima adalah bilangan asli”, atau ~ p : ”Beberapa bilangan prima bukan bilangan asli”. Jadi, jelas bahwa ~ p bernilai salah. ingkaran dari pernyataan berkuantor universial adalah sebuah pernyataan berkuantor eksistensial
  • 32.
    Ingkaran dari PernyataanBerkuantor Eksistensial Ingkaran dari beberapa p adalah q yaitu semua p bukan q. Contoh:p : ”Beberapa bilangan prima adalah bilangan genap” Tentukan ~ p serta nilai kebenarannya ~ p : ”Semua bilangan prima bukan bilangan genap”, atau ~ p : ”Tidak ada bilangan prima yang bilangan genap”, atau ~ p : ”Jika x adalah bilangan prima, maka x bukan bilangan genap”. ingkaran dari pernyataan berkuantor eksistensial adalah sebuah pernyataan berkuantor universal
  • 33.
    Penarikan Kesimpulan -Prinsip Modus Ponens - Prinsip Modus Tolens - Prinsip Silogisme
  • 34.
    Prinsip Modus Ponens Premis 1 : p  q Premis 2 : p Konklusi : q Contoh: Premis 1 : Jika Afra kehujanan, maka Afra akan masuk angin. Premis 2 : Afra kehujanan. Konklusi : Afra masuk angin. Misal: p: Afra kehujanan q: Afra masuk angin Penarikan kesimpulannya: p  q p q Penarikan kesimpulan ini menggunakan prinsip modus ponens, berarti kesimpulan yang ditarik adalah sah.
  • 35.
    Prinsip Modus Tolens Premis 1 : p  q Premis 2 : q Konklusi : p Contoh: Premis 1 : Jika saya berolahraga teratur, maka saya akan sehat. Premis 2 : Saya tidak sehat Konklusi : Saya tidak berolahraga teratur Misal: p: saya berolahraga teratur q: saya akan sehat Penarikan kesimpulannya: p  q ~q ~p Penarikan kesimpulan ini menggunakan prinsip modus tolens, berarti kesimpulan yang ditarik adalah sah
  • 36.
    Prinsip Silogisme Premis1 : p  q Premis 2 : q r Konklusi : p r Premis 1 : jika x bilangan ganjil, maka 2x bilangan genap. Premis 2 : jika 2x bilangan genap, amka 2x + 1 bilangan ganjil. Konklusi : jika x bilangan ganjil, maka 2x + 1 bilangan ganjil. Misal: p: x bilangan ganjil q: 2x bilangan genap r: 2x + 1 bilangan ganjil Penarikan kesimpulannya: p  q q  r p  r Penarikan kesimpulan ini menggunakan prinsip silogisme, berarti penarikan kesimpulan ini sah.