Kelas : A
Dosen Pengampu :
Apt. Sanubari Relatobat, M. Farm
Kelompok 1 :
Sinta Arisandi, S. Farm 3105033
Dayang Gesti Pratiwi, S. Farm 3105051
Silvany Pratiwi, S. Farm
3105053
Lira Permata Mizolla, S. Farm 3105057
Yerich Septa, S. Farm 3105059
Sofia Nofianti, S. Farm 3105065
Rahmad Hidayat, S. Farm 3105071
Wiwing Ratna Susandri, S. Farm 3105073
Atika Sri Indriyani, S. Farm 3105075
Gheny Selwitra Insani, S. Farm 3105077
PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER (PSPA) ANGKATAN 27
SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA (STIFI) PERINTIS PADANG
2020/2021
Penyakit
kardiovaskular
1.
hipertensi
2.
Jantung
kokroner
3. Angina
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
1. Hipertensi
HIPERTENSI (TEKANAN DARAH TINGGI)
• Meningkatnya tekanan
darah dalam waktu yang
lama/kronis.
• Tekanan darah normal
120/80 mmHg
• tekanan sistolik > 140
mmHg dan tekanan
diastolik > 90 mmHg.
• Istilah kedokteran terjadi
gangguan pada
mekanisme pengaturan
tekanan darah
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
Kategori Sistolik (mmHg) Diatolik (mmHg)
optimal < 120 < 80
normal 120 - 129 80 - 84
Pre hipertensi 130 - 139 85 - 89
Stadium 1 (ringan) 140 - 159 90 – 99
Stadium 2 (sedang) 160 - 179 100 - 109
stadium 3 (berat) 180 - 209 110 - 119
Stadium 4 (maligna) > 210 > 120
Sejalan bertambah usia hampir setiap orang mengalami kenaikan tek.darah.
Tek.sistolik terus meingkat sampai usia 80th
Tek.diastolik terus menigkat sampai usia 55-60th kmdian berkurang scr perlahan bahkan menurun drastis
Klasifikasi hipertensi
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
ETIOLOGI HIPERTENSI
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
1.Hipertensi Essensial atau
Hipetensi Primer
Faktor penyebabnya faktor keturunan
(hereditas), umur dan stress.
2.Hipertensi Sekunder
Disebabkan adanya penyakit lain, 5-
10% karena penyakit ginjal dan 1-2%
kelainan hormon, obat ttu (pil
KB),malas olahraga, obesitas, stress,
alkohol, merokok.
Berikut faktor resiko mayor penyebab
hipertensi :
• Keturunan
• Umur >55 th Laki-laki dan >65 th wanita
• Asupan makanan tinggi garam
• Obesitas BMI >30
• Stress
• Merokok dan minum alkohol
• Makanan tinggi lemak/ kolesterol
• Dislipidemia
• Kurang olahraga
• Riwayat penyakit kardiovaskular
prematur
GEJALA KLINIS HIPERTENSI
• Gejala umum berupa sakit kepala, rasa berat ditengkuk
vertigo, jantung berdebar, mudah lelah, penglihatan kabur,
telinga berdengung, mimisan
• Pasien hipertensi esensial tanpa penyulit biasanya tidak ada
gejala
• Pasien hipertensi sekunder terjadi didasari penyakit, seperti
edema, lemahotot, nyeri dada, sesak nafas arimia, lemas,
masalah penglihatan, telinga berdengung
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
PATOFISIOLOGI HIPERTENSI
Cardiac output/curah jantung
meningkat
naik
Volume
darah
meningkat
TD meningkat / cardiac output/ curah jantung
meningkat
Ventrikel kiri
memompa dengan
keras
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
PATOFISIOLOGI HIPERTENSI
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
DIAGNOSA HIPERTENSI
 Hipertensi primer : dengan alat sfigmomanometer.
 Hipertensi pulmonar (jarang terdiagnosa pada stadium awal karena sering tidak ditemukan ketika
pemeriksaan fisik rutin, pada stadium lanjut, penyakit ini memiliki gejala yang serupa dengan
penyakit jantung dan paru).
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yaitu tes darah, tes generik, elektrokardiogram (EKG),
ekokardiogram, X-ray, CT scan, MRI scan, V/Q scan, polisomnogram, hingga prosedur biopsi
atau kateterisasi jantung. Selain pemeriksaan paru-paru, pemeriksaan ini dilakukan untuk
mengetahui kondisi jantung, penyebab, memastikan diagnosis dan menentukan tingkat keparahan
hipertensi pulmonal.
 Hipertensi sekunder : tidak dapat dilakukan dalam sekali pertemuan, diperlukan informasi riwayat
penyakit, riwayat kesehatan keluarga, pemeriksaan fisik (cek tekanan darah), BB, adan tidaknya
udem, pemeriksaan darah : (kadar kalium, glukosa, kreatinin, sodium, kolesterol, trigliserida, dan
nitrogen urea (BUN) dalam darah), pemeriksaan urine : untuk memeriksa adanya kondisi kesehatan
lain yang memicu naiknya tekanan darah, ultrasonografi : (untuk mendapatkan gambaran ginjal dan
arteri menggunakan gelombang suara), elektrokardiogram : (memeriksa fungsi jantung, apabila ada
kecurigaan bahwa gangguan jantung merupakan penyebab hipertensi).
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
KOMPLIKASI HIPERTENSI
 Gagal jantung, aritmia, hipertrofi jantung, infark jantung
 Stroke, penurunan fungsi otak,
 Pengumpulan darah di paru-paru
 Kelumpuhan separuh tubuh kibat pecah suatu kapiler
 Kerusakan arteri,
 Kerusakan ginjal, penyempitan arteri di ginjal
 Pelebaran hingga penggembungan pembuluh darah (aneurisma)
 Penyempitan atau pecahnya pembuluh darah mata
 Kematian akibat komplikasi otak dan jantung
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
TERAPI NON FARMAKOLOGI HIPERTENSI
Pada pasien yang menderita hipertensi derajat 1, tanpa faktor risiko kardiovaskular
lain, maka strategi pola hidup sehat merupakan tatalaksana tahap awal, yang harus dijalani
setidaknya selama 4 – 6 bulan. Bila setelah jangka waktu tersebut, tidak didapatkan
penurunan tekanan darah yang diharapkan atau didapatkan faktor risiko kardiovaskular
yang lain, maka sangat dianjurkan untuk memulai terapi farmakologi.
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
TERAPI FARMAKOLOGI HIPERTENSI
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
KASUS DRP HIPERTENSI
KASUS DRP HIPERTENSI
Pasein Ny. Neni (65 thn) didiagnosa penyakit Hipertensi stage II dengan tekanan
darah 190/90 mmHg dan sering mengalami tegang dibagian kepala. Pasien sudah memiliki
penyakit DM sejak 1 tahun yang lalu namun pasien tidak terlalu baik dalam mengontrol
gula darah sehingga sering terjadi fluktuatif tingkat kadar glukosa darahnya . Hasil
pemeriksaan glukosa darah sewaktu pasien adalah 267 mg/dL dan kadar asam urat pasien
cukup tinggi 7,2 mg/dL. Dokter meresepkan insaar dengan dosis 100 mg, letonal 100 mg,
Glucovance 2,5/500 mg, trajenta 5mg, amitriptilin 25 mg.
A. Subjective
 Ny. Neni (65 tahun).
 Tidak terlalu baik dalam mengontrol gula darah.
 Memiliki riwayat penyakit DM 1 sejak 1 tahun yang lalu dan sering mengalami tegang di
bagian kepala.
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
KASUS DRP HIPERTENSI
A. Objective
Data laboratorium :
No Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Satuan
1. Tekanan darah 190/90 130/80 mmHg
2. Asam urat 7,2 2,5-5,7 mg/dl
3. Hemoglobin 14,5 12 mg/dl
4. hbA1c 8,2 <6,5 %
5. GDS 276 <140 mg/dl
Pengobatan
No Nama Obat Kekuatan Sediaan Dosis yang diberikan
1. Insaar (Losartan) Tablet 50 mg
2x 100 mg (setelah
makan)
2. Letonal Tablet 25 mg, 100 mg 1 x 100 mg
3.
Glucovance ( 2,5 mg
glibenkclamid/ 500
mg metforrmin)
Tablet 1,25/250 mg
2,5/500 mg
1 x 1,25/250 mg
4.
Trajenta
(Linaglipitin)
Tablet 5 mg 1 x 5 mg
5. Amitriptilin Tablet 25 mg 1 x ½ 2,5 mg
Diagnosa Utama : Hipertensi Stage II
Diagnosa Sekunder : DM dan Hiperurisemia
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
KASUS DRP HIPERTENSI
Penatalaksanaan
Tindakan yang diterima
-Insaar (Losartan) (2 ×100 mg)
-Letonal (Spironolactone) (1 × 100 mg)
-Glucovance (2,5 mg Glibenklamid/500 mg Metformin) (1×1,25/1×250 mg)
-Trajenta (Linagliptin) (1×5 mg)
-Amitriptilin (1×1/2 2,5 mg)
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
Assesment pada pasien
No. DRP KETERANGAN PENILAIAN
1. Indikasi yang tidak
tepat terapi
1. pasien membutuhkan terapi obat
tambahan
Iya, Allopurinol untuk
mengatasi
hiperurisemia
2. pasien menderita penyakit kronik
sehingga membutuhkan terapi lanjutan
Iya
3. pasien membutuhkan kombinasi obat
untuk memperoleh efek sinergis
Tidak
4. pasien beresiko mengalami kejadian
yang tidak diharapkan yang dapat dicegah
dengan terapi profilaksis
Tidak
2. Terapi tanpa indikasi 1. pasien menerima obat tanpa indikasi Tidak
2. terapi non obat (perubahan gaya hidup)
lebih sesuai untuk pasien
Iya
3. pasien menerima beberapa obat padahal
hanya satu terapi obat yang diindikasikan
Tidak
4. pasien menerima obat untuk mengatasi
ESO obat lain yang sebenarnya dapat
dicegah
Tidak
3. Pemilihan obat yang
tidak tepat
1. pasien memiliki riwayat alergi terhadap
obat yang diterima
Tidak
2. obat yang diterima pasien bukan
merupakan obat yang paling efektif
Iya, Linagliptin pada
pemberian bersama
dengan metformin dan
sulfonilurea
menyebabkan
hipoglikemi
3. pasien KI dengan obat yang diterima Tidak
4. pasien menerima obat efektif, tetapi
bukan obat yang paling murah
Iya
5. pasien menerima obat efektif, tetapi
bukan obat yang paling aman
Iya
6. obat yang diterima pasien tidak efektif
terhadap bakteri penyebab infeksi (bakteri
resisten terhadap obat)
Tidak
7. pasien menerima kombinasi obat yang
sebenarnya tidak diperlukan
Iya
4. Dosis sub terapi 1. dosis yang dihasilkan terlalu rendah
untuk menghasilkan respon yang
diinginkan
Tidak
2. kadar obat dalam darah berada dalam
kisaran terapi
Tidak
3. frekuensi pemberian, durasi terapi dan
cara pemberian obat pada pasien tidak
tepat
Tidak
4. waktu pemberian profilaksis tidak tepat
(antibiotik untuk bedah)
Tidak
5. ADR (Adverse drug
Reaction)
1. pasien mengalami reaksi alergi terhadap
obat
Tidak
2. pasien mengalami resiko ESO Iya
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
2. 2. Penyakit jantung koroner (pjk)
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
PENYAKIT JANTUNG KORONER (PJK)
• Penyakit akibat
penyempitan atau
penyumbatan pembuluh
arteri koroner akibat
adanya endapan lemak
(kolesterol/trigliserida)
sehingga mengakibatkan
suplai darah ke jantung
tertanggu dan memicu
serangan jantung.
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
PENYAKIT JANTUNG KORONER (PJK)
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
Penyakit jantung koroner pada mulanya
disebabkan oleh penumpukan lemak
pada dinding dalam pembuluh darah
jantung (pembuluh koroner), yang lama
kelamaan dapat menimbulkan berbagai
akibat yang cukup serius, dari angina
pektoris (nyeri dada) sampai infark
miokard jantung
KLASIFIKASI JANTUNG KORONER
1. Gagal Jantung Akut-Kronik,
Gagal jantung yang terjadi secara tiba-tiba - Perlahan-lahan
2. Gagal Jantung Kanan-Kiri
Gagal jantung kanan akibat peningkatan tekanan pulmo menyebabkan caran
berauulasike sistemik di kaki, asites, hepatomegali
Gagal jantung kiri akibat ventrike kiri gagal memopa darah secara adekuat.
3. Gagal jantung Sistoik-Diastolik
Gagal jantung sistolik akibat penurunan kontraktilitas ventrikel kiri
menurun
Gagal jantung diastolik akibat ventrikel tidak mampu mengisi darah
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
ETIOLOGI JANTUNG KORONER
• Kelainan otot jantung
• Ateroskelrosis koroner
• Hipertensi sistemik atau pulmonal
• Peradangan dan penyakit miokardium
• Stenosis katup semilunar, stenosis kat AV, perikardtis konstruktif, tampon
adeperikardium
• Hipertrofi otot jantung
• Peradangan dan penyakit ikardium degenerati
• Kegagalan ventrikel kiri atau ventrikel kanan
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
FAKTOR RESIKO JANTUNG KORONER
 Kadar Kolesterol Total dan LDL tinggi
 Kadar Kolesterol HDL rendah
 TekananDarahTinggi (Hipertensi)
 Merokok
 Diabetes Mellitus
 Kegemukan
 Riwayat keturunan penyakit jantung dalam keluarga
 Kurang olah raga
 Stress
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
PATOFISIOLOGI JANTUNG KORONER
• Disfungsi miokardium pada aterosklerosis koroner
• Terjadi infark miokard
• Meningkatnya beban kerja jantung dan mengakibatkan hipertrofi serabut otot
jantung
• Hipertensi sistemik atau pulmonal
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
PATOFISIOLOGI JANTUNG KORONER
KOMPLIKASI JANTUNG KORONER
• Serangan jantung, Gagal jantung / henti jantung
• Penyakti arteri perifer/ penyempitan pembuluh darah arteri
• Stroke
• Eneurisma
• Emboli paru
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
TERAPI NON FARMAKOLOGI JANTUNG KORONER
1) Merubah gaya hidup, memberhentikan kebiasaan merokok.
2) Olahraga dapat meningkatkan kadar HDL kolesterol dan memperbaiki kolateral koroner sehingga PJK dapat dikurangi, olahraga
bermanfaat karena :
a) Memperbaiki fungsi paru dan pemberian O2 ke miokard
b) Menurunkan berat badan sehingga lemak lemak tubuh yang berlebih berkurang bersama-sama dengan menurunnya LDL
kolesterol
c) Menurunkan tekanan darah
d) Meningkatkan kesegaran jasmani
e) Diet merupakan langkah pertama dalam penanggulangan hiperkolesterolemia. Tujuannya untuk menjaga pola makan gizi
seimbang, makan makanan yang dapat menurunkan kadar kolesterol dengan menerapkan diet rendah lemak
f) Terapi diet pada PJK yang merupakan panduan dalam masalah kesehatan kardiovaskuler yang telah diikuti secara luas adalah
dari AHA dan NCEP. Terapi diet ini secara khusus bertujuan untuk memperbaiki profil lemak darah pada batas-batas normal.
Terapi diet dasar atau tingkat 1 dapat menurunkan ≥ 10% dari total kalori berasal dari asam lemak tidak jenuh majemuk (poly-
unsaturated faty acid). bila kadar total kolesterol darah turun 10% atau lebih dan memenuhi batas yang ditargetkan, diet telah
dianggap berhasil dan perlu dipertahankan. Namun, apabila penurunan < 10%, diet dilanjutkan ke tingkat 2 selama 8-10 minggu,
dan pada akhir dilakukan tes darah. Bila hasilnya belum juga mencapai sasaran, mungkin sekali tubuh tidak cukup responsif
terhadap diet dan individu perlu berkonsultasi dengan dokter mengenai kemungkian pemakaian obat.
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
TERAPI FARMAKOLOGI JANTUNG KORONER
• Analgetik
• Nitrat
• Aspirin
• Rombolitik
• Beta blocker
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
KASUS DRP JANTUNG KORONER
Tn.Charles, seorang pria berusia 54 tahun memiliki
riwayat hipertensi selama 20 tahun, dan angina selama 2
tahun. Kecanduan merokok dari umur 25 tahun, dapat
menghabiskan 50 batang/hari, tetapi 8 bulan yang lalu mulai
berhenti merokok.
Dari catatan medisnya, diketahui bahwa Tn. Charles memiliki
NSTEMI (non- ST segment elevation myocardial infarction) dan 18 bulan
yang lalu dilakukan PTCA (Percutaneous Transluminal Coronary
Angioplasty) dan pemasangan stent pada arteri koroner kirinya dan 6
minggu setelahnya ia menjalani rehabilitasi jantung. Sejak itu ia selalu
melakukan jalan santai selama 40 menit setiap hari.
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
KASUS DRP JANTUNG KORONER
Dari hasil pemeriksaan, didapatkan hasil berikut:
a. Tekanan darah : 145/85 mm/Hg b. Denyut jantung
: 80 kali/menit
c. BMI : 23,5 kg/m2
d. Kolesterol Total : 5,5 mmol/L = 212,68368 mg/dL
e. LDL : 3,9 mmol/L = 150,81206 mg/dL
f. HDL : 0,8 mmol/L = 30,93581 mg/dL
g. Trigliserida : 1,8 mmol/L = 159,43313 mg/dL
Pengobatan yang dijalani sekarang antara lain:
a. Aspirin 100 mg/hari
b. Klopidogrel 75 mg/hari c. Perindopril 4
mg/hari
d. Simvastatin 20 mg/hari
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
KASUS DRP GAGAL JANTUNG
Tetapi karena Tn. Charles kurang mengerti akan tujuan pengobatannya sehingga Tn.Charles
mengaku tidak terlalu patuh dalam mengkonsumsi obat- obatan yang telah diberikan (NPS, 2005)
Analisis SOAP
Subject Object Assesment Plan
-Pria, 54 tahun
-Tidak ada keluhan
-Perokok berat 50
batang/hari
selama29tahun,8
Bulan yang lalu
berhenti merokok.
-Pernah menjalani
PTCA dan
pemasang anstent
padaarterikoroner
kiri
-Menjalani olahraga
jalan kaki selama40
menit
-Tekanan darah:
145 /85 mm/Hg
-Denyut jantung:80
kali/menit
-BMI:23,5 kg/m2
-Kolesterol total:
212.68 mg/dl
-LDL: 150,81
mg/dl
-HDL:
30,94mg/dl
-Trigliserida:
159,43 mg/dl
-Hipertensi
(selama 20
tahun),saat ini
Hipertensitipe 1
-Anginapektoris
(se lama2tahun).
-Non ST
segment
Myocardial
infarc tion
(NSTEMI) (se
lama1tahun)
Hiperlipidemia
-TerapiNon-
Farmakologi
-Terapi
Farmakologi
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
KASUS DRP JANTUNG KORONER
Assesment pada pasien
No. DRP KETERANGAN PENILAIAN
1. Indikasi yang tidak
tepat terapi
1. pasien membutuhkan terapi obat
tambahan
TIDAK
2. pasien menderita penyakit kronik
sehingga membutuhkan terapi lanjutan
Iya
3. pasien membutuhkan kombinasi obat
untuk memperoleh efek sinergis
Tidak
4. pasien beresiko mengalami kejadian
yang tidak diharapkan yang dapat dicegah
dengan terapi profilaksis
Tidak
2. Terapi tanpa indikasi 1. pasien menerima obat tanpa indikasi Tidak
2. terapi non obat (perubahan gaya hidup)
lebih sesuai untuk pasien
Iya
3. pasien menerima beberapa obat padahal
hanya satu terapi obat yang diindikasikan
Tidak
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
4. pasien menerima obat untuk mengatasi
ESO obat lain yang sebenarnya dapat
dicegah
Tidak
3. Pemilihan obat yang
tidak tepat
1. pasien memiliki riwayat alergi terhadap
obat yang diterima
Tidak
2. obat yang diterima pasien bukan
merupakan obat yang paling efektif
Iya, penggunaan
klopidogrel sebaiknya
hanya diberikan 12
bulan setelah
pemasangan stent,
setelah itu cukup
diberikan aspirin saja.
Selain itu pasien juga
tidak mengalami
iskemia.
3. pasien KI dengan obat yang diterima Tidak
4. pasien menerima obat efektif, tetapi
bukan obat yang paling murah
tidak
5. pasien menerima obat efektif, tetapi
bukan obat yang paling aman
tidak
6. obat yang diterima pasien tidak efektif
terhadap bakteri penyebab infeksi (bakteri
resisten terhadap obat)
Tidak
7. pasien menerima kombinasi obat yang
sebenarnya tidak diperlukan
Iya, penggunaan ACE-
inhibitor (perindopril)
seharusnya
dikombinasikan
dengan beta bloker
dalam terapi hipertensi
pada pasien yang
menderita penyakit
koroner
4. Dosis sub terapi 1. dosis yang dihasilkan terlalu rendah
untuk menghasilkan respon yang
diinginkan
Iya,dosis ssimvastatin
20mg/haari kurang
effektif untuk
meennuurunkan LDL
pasien
2. kadar obat dalam darah berada dalam
kisaran terapi
Tidak
3. frekuensi pemberian, durasi terapi dan
cara pemberian obat pada pasien tidak
tepat
Tidak
4. waktu pemberian profilaksis tidak tepat
(antibiotik untuk bedah)
Tidak
5. ADR (Adverse drug
Reaction)
1. pasien mengalami reaksi alergi terhadap
obat
Tidak
2. pasien mengalami resiko ESO
(potensial)
Iya
3. pasien mengalami idiosinkrasi terhadap
obat
Tidak
4. bioavaibilitas obat berubah akibat
interaksi dengan makanan
Iya, penggunaan
simvastatin dengan jus
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
4. bioavaibilitas obat berubah akibat interaksi
dengan makanan
Iya, penggunaan
simvastatin dengan jus
anggur menyebabkan
peningkatan kadar
simvastatin didalam
plasma dan dapat
menimbulkan toksisitas
muskuloskletal
Penggunaan perindopril
bersamaan dengan
makanan diet kalium
yang tinggi dapat
menyebabkan
hiperkalemia
5. efek obat berubah akibat induksi/inhibisi
akibat enzim lain
Tidak
6. efek obat berubah akibat kandungan
makanan yang dikonsumsi
Tidak
7. efek obat berubah akibat penggantian
ikatan antara obat dengan protein oleh obat
lain
Tidak
Dosis berlebih
(Overdosis)
1. dosis obat yang diberikan terlalu tinggi tidak
2. kadar obat dalam darah pasien melebihi
kisaran terapi
Tidak
3. dosis obat yang dinaikkan terlalu cepat Tidak
4. obat terakumulasi karena pemberian dalam
jangka panjang
Tidak
5. frekuensi pemberian, durasi terapi dan cara
pemberian obat pada pasien tidak tepat
Tidak
Penderita gagal
menerima obat
1. pasien gagal menerima regimen obat yang
tepat karena adanya medication error
Tidak
2. pasien tidak mampu membeli obat (karena
terlalu mahal untuk pasien)
Tidak
3. pasien tidak memahami petunjuk
penggunaan obat
Tidak
4. pasien tidak mau makan obat (misalnya
karena rasa obat yang tidak enak)
Iya, pasien mengaku
tidak patuh dalam
mengkonsumsi obat
yang telah diberikan
Interaksi obat 1. adanya obat yang mengalami interaksi Iya
a. aspirin + klopidogrel (Moderate) =
memiliki kerja yang aditif, sehingga dapat
meningkatkan resiko terjadinya pendarahan
saluran gastrointestinal
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
3. Angina
ANGINA PEKTORIS
• Angina pektoris adalahsindrom klinis berupa serangan nyeri dada seperti
ditekan atau serasa berat di dada yang sering menjalar ke lengan kiri
• Nyeri dada timbul pada saat melakukan aktivitas da berhenti bila aktivtas
dihentikan
• Nyeri terjad 1-5 menit
• Terjadi pada pria dengan persentase 10-20% untuk usia 65- 74 tahun dan
2-5% untuk usia 45-54 tahun
• Terjadi pada wanita dengan persentase 10-15% utu usia 65-74 tahun dan
0,1-1% untuk usia 45-54 tahun
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
KLASIFIKASI ANGINA PEKTORIS
1. Angina stabil
sakit dada saat melakukan aktivitas,bersifat stabil , retensi < 10 menit,
terjadi akibat pencutanarteri jantung
2 Angina instabil
sakit dada saat istirahat, disebabkan erosi dari plak-plak pembuluh
3. Angina variant/ Angina Prinzmetal
terjadi spontan dan biasanya timbul pada malam hari
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
ETIOLOGI ANGINA PEKTORIS
Angina pektoris berkaitan dengan jantungkoroner aaterosklerotik, berikuteiologinya
:
• Ateriosklerosis
• Spasme arteri koroner
• Anemia berat
• Artritis
• Aorta insufisiensi
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
FAKTOR RESIKO ANGINA
 Emosi
 Stress
 Kerja fisik terlalu berat
 Konsumsi alkohol
 Banyak merokok
 Obesitas
 Kolesterol
 Hipertensi
 Umur, jenis kelamin, dan riwayat keluarga.
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
GEJALA KLINIS ANGINA
 Sesak napas
 Nyeri seperti gejala penyakit asam lambung (GERD)
 Mual
 Pusing
 Mudah lelah
 Gelisah
Keringat berlebihan
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
DIAGNOSA ANGINA
 Angina pektoris tidak mudah untuk didiagnosa karena ada beberapa penyakit yang
memiliki gejala yang sama, contohnya penyakit asam lambung.
 melakukan tes fisik dan menanyakan riwayat kesehatan pasien beserta keluarga
 tes tekanan darah untuk mencari tahu jika penderita hipertensi
 mengukur BB dan ukur pinggul untuk memeriksa obesitas
 tes darah untuk memantau kadar kolesterol, glukosa, protein C-reaktif (CRP), dan
fungsi organ hati
 tes urine untuk memeriksa fungsi ginjal
 elektrokardiogram (EKG)
 ekokardiogram
 CT-scan/ foto rontgen
 Tes darah lanjutan
 Tes toleransi olahraga (ETT)
 Myocardial perfusion scintigraphy (MPS)
 Angiogram koroner K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
KOMPLIKASI ANGINA
 Nyeri dada seperti ditekan untuk waktu lama dan berulang-ulang
 Nyeri menyebar ke anggota tubuh lainnya seperti punggung, bahu, lengan,
rahang, gigi, dan perut.
 Nyeri perut berkepanjangan
 Gelisah
 Panik
 Mual muntah
 Napas pendek
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
TERAPI NON FARMAKOLOGI ANGINA
Tujuan tatalaksana APS adalah untuk mengurangi gejala, dan memperbaiki
prognosis. Tatalaksana PJK meliputi modifikasi pola hidup, kontrol faktor
risiko PJK, dan terapi farmakologis berdasarkan bukti-bukti yang telah ada,
dan edukasi pasien. Rehabilitasi jantung direkomendasikan untuk pasien
PJK. Rehabilitasi jantung umumnya diberikan pada pasien setelah infark
miokard atau setelah intervensi koroner, namun harus dipertimbangkan juga
untuk dilakukan pada seluruh pasien dengan PJK, termasuk pasien dengan
angina kronis. Rehabilitasi jantung berbasis latihan efektif menurunkan
mortalitas total dan angka hospitalisasi dari pasien PJK. Bukti-bukti juga
menunjukkan efek menguntungkan dari rehabilitasi jantung untuk
meningkatkan kualitas hidup. Terapi non farmakologi lainnya yang bisa
dilakukan adalah dengan memperbaiki pola hidup, seperti dengan tidak
merokok, diet dan menjaga masa tubuh tetap stabil, mengkonsumsi
makanan yang mengandung tidak banyak lemak, berolahraga
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
TERAPI FARMAKOLOGI ANGINA
• Nitrat
• Beta blocker
• Propanolol
• Calsium chanel blocker
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
KASUS DRP ANGINA
John seorang pria berusia 60 tahun datang ke klinik. Dia memiliki riwayat penyakit
hipertensi (20 tahun) dan angina (2 tahun). John merupakan perokok berat, 30 batang rokok perhari
selama 48 tahun, namun dia berhenti merokok sejak 9 bulan yang lalu. Dia tidak memiliki riwayat
pendaharan gastrointestinal dan tidak memiliki riwayat alergi. Satu tahun yang lalu keterangan
dari general practioner (dokter umum) melaporkan bahwa john memilikin non ST segment elevation
myocardial infarction (NSTEMI), John menjalani percutaneous transluminal coronary angioplasty dan
insersi stent pada arteri koroner kiri. Setelah keluar dia mengikuti program rehabilitasi jantung
selama 6 bulan di rumah sakit tersebut. Setiap hari dia berjalan kaki selama 40 menit dan tidak
ditemukan angina.
Pengobatan yang sekarang John dapatkan yaitu aspirin 100 mg perhari, clopidrogel 75 mg
perhari, perindopril 4 mg perhari, simvastatin 20 mg perhari. John kurang memahami tujuan dari terapi
yang dia dapatkan dan dia mengakui bahwa dia tidak selalu meminum obatnya. Hasil pemeriksaan fisik
tekanan darah Johm 145/85 mm Hg, denyut nadi 80/ menit, tidak ditemukan aukultasi. Hasil
echocardiogram enam bulan yang lalu menunjukan tidak ada gagal jantung. BMI 23,5 kg/m2. Hasil uji
laboratorium enam bulan yang lalu menunjukkan hasil sebagian besar normal, namun perlu diperhatikan
kadar kolestrol total 5,5 mmol/L, LDL-c 3,9 mmol/L, HDLc 0,8 mmol/L, dan trigliserida 1,8 mmol/L.
Diagonosa Utama : Angina Pektoris (2 tahun)
Diagnosa Sekunder : Hipertensi dan hiperlipidemia
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
KASUS DRP ANGINA
Tindakan yang diterima :
 Aspirin 100 mg per hari (digunakan untuk menghambat agresi platelet)
 Clopidrogel 75 mg per hari ( digunakan sebagai anti platelet)
 Peridopril 4 mg per hari (digunakan sebagai antihipertensi, kardioprotektif,
dan vaskuloprotektif)
 Simvastatin 20 mg per hari (digunakan sebagai antihiperlipidemia, mengingat
propil lipid pasien melebihi batas normal, maka diperlukan ditambahkan
simvastatin).
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
ASSASSMENT PADA PASIEN
No DRP KETERANGAN PENILAIAN
1 Indikasi tanpa obat Dalam kasus ini ditemukan
indikasi penyakt yang tidak
diobati?
Tidak
2. Obat tanpa indikasi 1. pemberian kombinasi
clopidrogel dan aspirin
dosis rendah pasca PTCA
dan stent disarankan
selama 12 bulan. Setelah
itu maintenance tearpi
disarankan dengan hanya
menggunakan aspirin
dosis rendah.
Pemberian
clopidrogel
75mg/hari sebaiknya
dihentikan.
2. Atenolol 50 mg/hari,
metoprolol 50-100 mg dua
kali sehari dan propanolol
80 mg dua kali sehari
merupakan pilihan beta
bloker yang biasa
diberikan untuk
maintenance.
Beta bloker
sebaiknya diberikan
kepada pasien yang
pernah mengalami
infark miokardiak
untuk menurunkan
morbiditas dan
martalitas.
3 Ketidaktepatan pemilihan
obat
Dalam kasus ini ditemukan
ketidaktepatan pemilihan
obat?
Tidak
4 Dosis obat kurang atau lebih 1. Dosis maintenance aspirin
yaitu 81-325 mg/hari
dalam kasus diberikan 100
mg/hari
Tidak kurang dan
tidak berlebih
2. Dosis clopidrogel yang
disarankan selama 12
bulan pasca PTCA dan
stent adalah 75 mg/hari
Tidak kurang dan
tidak berlebih
3 Dosis peridopril yang
biasanya diberikan yaitu 4-8
mg/hari dalam kasus
diberikan 4 mg/hari.
Tidak kurang dan
tidak berlebih
5. Interaksi obat Aspirin + Clopidrogel :
interaksi meningkatkan
toksisitas keduanya melalui
mekanisme sinergisme
farmakkodinamik
Tingkat Signifikan
Aspirin + Perindopril :
gunakan aspirin dosis
rendah. Aspirin
menyebabkan penurunan
efek perindopril melalui
mekanisme antagonis
farmakodinamik.
Tingkat Signifikan/
Monitoring dengan
ketat.
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1

Kardiovaskular CASE STUDY PELAYANAN KEFARMASIAN

  • 1.
    Kelas : A DosenPengampu : Apt. Sanubari Relatobat, M. Farm Kelompok 1 : Sinta Arisandi, S. Farm 3105033 Dayang Gesti Pratiwi, S. Farm 3105051 Silvany Pratiwi, S. Farm 3105053 Lira Permata Mizolla, S. Farm 3105057 Yerich Septa, S. Farm 3105059 Sofia Nofianti, S. Farm 3105065 Rahmad Hidayat, S. Farm 3105071 Wiwing Ratna Susandri, S. Farm 3105073 Atika Sri Indriyani, S. Farm 3105075 Gheny Selwitra Insani, S. Farm 3105077 PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER (PSPA) ANGKATAN 27 SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA (STIFI) PERINTIS PADANG 2020/2021
  • 2.
  • 3.
    K A RD I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1 1. Hipertensi
  • 4.
    HIPERTENSI (TEKANAN DARAHTINGGI) • Meningkatnya tekanan darah dalam waktu yang lama/kronis. • Tekanan darah normal 120/80 mmHg • tekanan sistolik > 140 mmHg dan tekanan diastolik > 90 mmHg. • Istilah kedokteran terjadi gangguan pada mekanisme pengaturan tekanan darah
  • 5.
    K A RD I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 6.
    Kategori Sistolik (mmHg)Diatolik (mmHg) optimal < 120 < 80 normal 120 - 129 80 - 84 Pre hipertensi 130 - 139 85 - 89 Stadium 1 (ringan) 140 - 159 90 – 99 Stadium 2 (sedang) 160 - 179 100 - 109 stadium 3 (berat) 180 - 209 110 - 119 Stadium 4 (maligna) > 210 > 120 Sejalan bertambah usia hampir setiap orang mengalami kenaikan tek.darah. Tek.sistolik terus meingkat sampai usia 80th Tek.diastolik terus menigkat sampai usia 55-60th kmdian berkurang scr perlahan bahkan menurun drastis Klasifikasi hipertensi K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 7.
    ETIOLOGI HIPERTENSI K AR D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1 1.Hipertensi Essensial atau Hipetensi Primer Faktor penyebabnya faktor keturunan (hereditas), umur dan stress. 2.Hipertensi Sekunder Disebabkan adanya penyakit lain, 5- 10% karena penyakit ginjal dan 1-2% kelainan hormon, obat ttu (pil KB),malas olahraga, obesitas, stress, alkohol, merokok. Berikut faktor resiko mayor penyebab hipertensi : • Keturunan • Umur >55 th Laki-laki dan >65 th wanita • Asupan makanan tinggi garam • Obesitas BMI >30 • Stress • Merokok dan minum alkohol • Makanan tinggi lemak/ kolesterol • Dislipidemia • Kurang olahraga • Riwayat penyakit kardiovaskular prematur
  • 8.
    GEJALA KLINIS HIPERTENSI •Gejala umum berupa sakit kepala, rasa berat ditengkuk vertigo, jantung berdebar, mudah lelah, penglihatan kabur, telinga berdengung, mimisan • Pasien hipertensi esensial tanpa penyulit biasanya tidak ada gejala • Pasien hipertensi sekunder terjadi didasari penyakit, seperti edema, lemahotot, nyeri dada, sesak nafas arimia, lemas, masalah penglihatan, telinga berdengung K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 9.
    PATOFISIOLOGI HIPERTENSI Cardiac output/curahjantung meningkat naik Volume darah meningkat TD meningkat / cardiac output/ curah jantung meningkat Ventrikel kiri memompa dengan keras K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 10.
    PATOFISIOLOGI HIPERTENSI K AR D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 11.
    DIAGNOSA HIPERTENSI  Hipertensiprimer : dengan alat sfigmomanometer.  Hipertensi pulmonar (jarang terdiagnosa pada stadium awal karena sering tidak ditemukan ketika pemeriksaan fisik rutin, pada stadium lanjut, penyakit ini memiliki gejala yang serupa dengan penyakit jantung dan paru). Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yaitu tes darah, tes generik, elektrokardiogram (EKG), ekokardiogram, X-ray, CT scan, MRI scan, V/Q scan, polisomnogram, hingga prosedur biopsi atau kateterisasi jantung. Selain pemeriksaan paru-paru, pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui kondisi jantung, penyebab, memastikan diagnosis dan menentukan tingkat keparahan hipertensi pulmonal.  Hipertensi sekunder : tidak dapat dilakukan dalam sekali pertemuan, diperlukan informasi riwayat penyakit, riwayat kesehatan keluarga, pemeriksaan fisik (cek tekanan darah), BB, adan tidaknya udem, pemeriksaan darah : (kadar kalium, glukosa, kreatinin, sodium, kolesterol, trigliserida, dan nitrogen urea (BUN) dalam darah), pemeriksaan urine : untuk memeriksa adanya kondisi kesehatan lain yang memicu naiknya tekanan darah, ultrasonografi : (untuk mendapatkan gambaran ginjal dan arteri menggunakan gelombang suara), elektrokardiogram : (memeriksa fungsi jantung, apabila ada kecurigaan bahwa gangguan jantung merupakan penyebab hipertensi). K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 12.
    KOMPLIKASI HIPERTENSI  Gagaljantung, aritmia, hipertrofi jantung, infark jantung  Stroke, penurunan fungsi otak,  Pengumpulan darah di paru-paru  Kelumpuhan separuh tubuh kibat pecah suatu kapiler  Kerusakan arteri,  Kerusakan ginjal, penyempitan arteri di ginjal  Pelebaran hingga penggembungan pembuluh darah (aneurisma)  Penyempitan atau pecahnya pembuluh darah mata  Kematian akibat komplikasi otak dan jantung K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 13.
    TERAPI NON FARMAKOLOGIHIPERTENSI Pada pasien yang menderita hipertensi derajat 1, tanpa faktor risiko kardiovaskular lain, maka strategi pola hidup sehat merupakan tatalaksana tahap awal, yang harus dijalani setidaknya selama 4 – 6 bulan. Bila setelah jangka waktu tersebut, tidak didapatkan penurunan tekanan darah yang diharapkan atau didapatkan faktor risiko kardiovaskular yang lain, maka sangat dianjurkan untuk memulai terapi farmakologi. K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 14.
    TERAPI FARMAKOLOGI HIPERTENSI KA R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 15.
    KASUS DRP HIPERTENSI KASUSDRP HIPERTENSI Pasein Ny. Neni (65 thn) didiagnosa penyakit Hipertensi stage II dengan tekanan darah 190/90 mmHg dan sering mengalami tegang dibagian kepala. Pasien sudah memiliki penyakit DM sejak 1 tahun yang lalu namun pasien tidak terlalu baik dalam mengontrol gula darah sehingga sering terjadi fluktuatif tingkat kadar glukosa darahnya . Hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu pasien adalah 267 mg/dL dan kadar asam urat pasien cukup tinggi 7,2 mg/dL. Dokter meresepkan insaar dengan dosis 100 mg, letonal 100 mg, Glucovance 2,5/500 mg, trajenta 5mg, amitriptilin 25 mg. A. Subjective  Ny. Neni (65 tahun).  Tidak terlalu baik dalam mengontrol gula darah.  Memiliki riwayat penyakit DM 1 sejak 1 tahun yang lalu dan sering mengalami tegang di bagian kepala. K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 16.
    KASUS DRP HIPERTENSI A.Objective Data laboratorium : No Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Satuan 1. Tekanan darah 190/90 130/80 mmHg 2. Asam urat 7,2 2,5-5,7 mg/dl 3. Hemoglobin 14,5 12 mg/dl 4. hbA1c 8,2 <6,5 % 5. GDS 276 <140 mg/dl Pengobatan No Nama Obat Kekuatan Sediaan Dosis yang diberikan 1. Insaar (Losartan) Tablet 50 mg 2x 100 mg (setelah makan) 2. Letonal Tablet 25 mg, 100 mg 1 x 100 mg 3. Glucovance ( 2,5 mg glibenkclamid/ 500 mg metforrmin) Tablet 1,25/250 mg 2,5/500 mg 1 x 1,25/250 mg 4. Trajenta (Linaglipitin) Tablet 5 mg 1 x 5 mg 5. Amitriptilin Tablet 25 mg 1 x ½ 2,5 mg Diagnosa Utama : Hipertensi Stage II Diagnosa Sekunder : DM dan Hiperurisemia K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 17.
    KASUS DRP HIPERTENSI Penatalaksanaan Tindakanyang diterima -Insaar (Losartan) (2 ×100 mg) -Letonal (Spironolactone) (1 × 100 mg) -Glucovance (2,5 mg Glibenklamid/500 mg Metformin) (1×1,25/1×250 mg) -Trajenta (Linagliptin) (1×5 mg) -Amitriptilin (1×1/2 2,5 mg) K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 18.
    Assesment pada pasien No.DRP KETERANGAN PENILAIAN 1. Indikasi yang tidak tepat terapi 1. pasien membutuhkan terapi obat tambahan Iya, Allopurinol untuk mengatasi hiperurisemia 2. pasien menderita penyakit kronik sehingga membutuhkan terapi lanjutan Iya 3. pasien membutuhkan kombinasi obat untuk memperoleh efek sinergis Tidak 4. pasien beresiko mengalami kejadian yang tidak diharapkan yang dapat dicegah dengan terapi profilaksis Tidak 2. Terapi tanpa indikasi 1. pasien menerima obat tanpa indikasi Tidak 2. terapi non obat (perubahan gaya hidup) lebih sesuai untuk pasien Iya 3. pasien menerima beberapa obat padahal hanya satu terapi obat yang diindikasikan Tidak 4. pasien menerima obat untuk mengatasi ESO obat lain yang sebenarnya dapat dicegah Tidak 3. Pemilihan obat yang tidak tepat 1. pasien memiliki riwayat alergi terhadap obat yang diterima Tidak 2. obat yang diterima pasien bukan merupakan obat yang paling efektif Iya, Linagliptin pada pemberian bersama dengan metformin dan sulfonilurea menyebabkan hipoglikemi 3. pasien KI dengan obat yang diterima Tidak 4. pasien menerima obat efektif, tetapi bukan obat yang paling murah Iya 5. pasien menerima obat efektif, tetapi bukan obat yang paling aman Iya 6. obat yang diterima pasien tidak efektif terhadap bakteri penyebab infeksi (bakteri resisten terhadap obat) Tidak 7. pasien menerima kombinasi obat yang sebenarnya tidak diperlukan Iya 4. Dosis sub terapi 1. dosis yang dihasilkan terlalu rendah untuk menghasilkan respon yang diinginkan Tidak 2. kadar obat dalam darah berada dalam kisaran terapi Tidak 3. frekuensi pemberian, durasi terapi dan cara pemberian obat pada pasien tidak tepat Tidak 4. waktu pemberian profilaksis tidak tepat (antibiotik untuk bedah) Tidak 5. ADR (Adverse drug Reaction) 1. pasien mengalami reaksi alergi terhadap obat Tidak 2. pasien mengalami resiko ESO Iya K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 19.
    2. 2. Penyakitjantung koroner (pjk) K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 20.
    PENYAKIT JANTUNG KORONER(PJK) • Penyakit akibat penyempitan atau penyumbatan pembuluh arteri koroner akibat adanya endapan lemak (kolesterol/trigliserida) sehingga mengakibatkan suplai darah ke jantung tertanggu dan memicu serangan jantung. K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 22.
    PENYAKIT JANTUNG KORONER(PJK) K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1 Penyakit jantung koroner pada mulanya disebabkan oleh penumpukan lemak pada dinding dalam pembuluh darah jantung (pembuluh koroner), yang lama kelamaan dapat menimbulkan berbagai akibat yang cukup serius, dari angina pektoris (nyeri dada) sampai infark miokard jantung
  • 23.
    KLASIFIKASI JANTUNG KORONER 1.Gagal Jantung Akut-Kronik, Gagal jantung yang terjadi secara tiba-tiba - Perlahan-lahan 2. Gagal Jantung Kanan-Kiri Gagal jantung kanan akibat peningkatan tekanan pulmo menyebabkan caran berauulasike sistemik di kaki, asites, hepatomegali Gagal jantung kiri akibat ventrike kiri gagal memopa darah secara adekuat. 3. Gagal jantung Sistoik-Diastolik Gagal jantung sistolik akibat penurunan kontraktilitas ventrikel kiri menurun Gagal jantung diastolik akibat ventrikel tidak mampu mengisi darah K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 24.
    ETIOLOGI JANTUNG KORONER •Kelainan otot jantung • Ateroskelrosis koroner • Hipertensi sistemik atau pulmonal • Peradangan dan penyakit miokardium • Stenosis katup semilunar, stenosis kat AV, perikardtis konstruktif, tampon adeperikardium • Hipertrofi otot jantung • Peradangan dan penyakit ikardium degenerati • Kegagalan ventrikel kiri atau ventrikel kanan K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 25.
    FAKTOR RESIKO JANTUNGKORONER  Kadar Kolesterol Total dan LDL tinggi  Kadar Kolesterol HDL rendah  TekananDarahTinggi (Hipertensi)  Merokok  Diabetes Mellitus  Kegemukan  Riwayat keturunan penyakit jantung dalam keluarga  Kurang olah raga  Stress K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 26.
    PATOFISIOLOGI JANTUNG KORONER •Disfungsi miokardium pada aterosklerosis koroner • Terjadi infark miokard • Meningkatnya beban kerja jantung dan mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung • Hipertensi sistemik atau pulmonal K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 27.
    K A RD I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1 PATOFISIOLOGI JANTUNG KORONER
  • 28.
    KOMPLIKASI JANTUNG KORONER •Serangan jantung, Gagal jantung / henti jantung • Penyakti arteri perifer/ penyempitan pembuluh darah arteri • Stroke • Eneurisma • Emboli paru K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 29.
    TERAPI NON FARMAKOLOGIJANTUNG KORONER 1) Merubah gaya hidup, memberhentikan kebiasaan merokok. 2) Olahraga dapat meningkatkan kadar HDL kolesterol dan memperbaiki kolateral koroner sehingga PJK dapat dikurangi, olahraga bermanfaat karena : a) Memperbaiki fungsi paru dan pemberian O2 ke miokard b) Menurunkan berat badan sehingga lemak lemak tubuh yang berlebih berkurang bersama-sama dengan menurunnya LDL kolesterol c) Menurunkan tekanan darah d) Meningkatkan kesegaran jasmani e) Diet merupakan langkah pertama dalam penanggulangan hiperkolesterolemia. Tujuannya untuk menjaga pola makan gizi seimbang, makan makanan yang dapat menurunkan kadar kolesterol dengan menerapkan diet rendah lemak f) Terapi diet pada PJK yang merupakan panduan dalam masalah kesehatan kardiovaskuler yang telah diikuti secara luas adalah dari AHA dan NCEP. Terapi diet ini secara khusus bertujuan untuk memperbaiki profil lemak darah pada batas-batas normal. Terapi diet dasar atau tingkat 1 dapat menurunkan ≥ 10% dari total kalori berasal dari asam lemak tidak jenuh majemuk (poly- unsaturated faty acid). bila kadar total kolesterol darah turun 10% atau lebih dan memenuhi batas yang ditargetkan, diet telah dianggap berhasil dan perlu dipertahankan. Namun, apabila penurunan < 10%, diet dilanjutkan ke tingkat 2 selama 8-10 minggu, dan pada akhir dilakukan tes darah. Bila hasilnya belum juga mencapai sasaran, mungkin sekali tubuh tidak cukup responsif terhadap diet dan individu perlu berkonsultasi dengan dokter mengenai kemungkian pemakaian obat. K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 30.
    TERAPI FARMAKOLOGI JANTUNGKORONER • Analgetik • Nitrat • Aspirin • Rombolitik • Beta blocker K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 31.
    KASUS DRP JANTUNGKORONER Tn.Charles, seorang pria berusia 54 tahun memiliki riwayat hipertensi selama 20 tahun, dan angina selama 2 tahun. Kecanduan merokok dari umur 25 tahun, dapat menghabiskan 50 batang/hari, tetapi 8 bulan yang lalu mulai berhenti merokok. Dari catatan medisnya, diketahui bahwa Tn. Charles memiliki NSTEMI (non- ST segment elevation myocardial infarction) dan 18 bulan yang lalu dilakukan PTCA (Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty) dan pemasangan stent pada arteri koroner kirinya dan 6 minggu setelahnya ia menjalani rehabilitasi jantung. Sejak itu ia selalu melakukan jalan santai selama 40 menit setiap hari. K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 32.
    KASUS DRP JANTUNGKORONER Dari hasil pemeriksaan, didapatkan hasil berikut: a. Tekanan darah : 145/85 mm/Hg b. Denyut jantung : 80 kali/menit c. BMI : 23,5 kg/m2 d. Kolesterol Total : 5,5 mmol/L = 212,68368 mg/dL e. LDL : 3,9 mmol/L = 150,81206 mg/dL f. HDL : 0,8 mmol/L = 30,93581 mg/dL g. Trigliserida : 1,8 mmol/L = 159,43313 mg/dL Pengobatan yang dijalani sekarang antara lain: a. Aspirin 100 mg/hari b. Klopidogrel 75 mg/hari c. Perindopril 4 mg/hari d. Simvastatin 20 mg/hari K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 33.
    KASUS DRP GAGALJANTUNG Tetapi karena Tn. Charles kurang mengerti akan tujuan pengobatannya sehingga Tn.Charles mengaku tidak terlalu patuh dalam mengkonsumsi obat- obatan yang telah diberikan (NPS, 2005) Analisis SOAP Subject Object Assesment Plan -Pria, 54 tahun -Tidak ada keluhan -Perokok berat 50 batang/hari selama29tahun,8 Bulan yang lalu berhenti merokok. -Pernah menjalani PTCA dan pemasang anstent padaarterikoroner kiri -Menjalani olahraga jalan kaki selama40 menit -Tekanan darah: 145 /85 mm/Hg -Denyut jantung:80 kali/menit -BMI:23,5 kg/m2 -Kolesterol total: 212.68 mg/dl -LDL: 150,81 mg/dl -HDL: 30,94mg/dl -Trigliserida: 159,43 mg/dl -Hipertensi (selama 20 tahun),saat ini Hipertensitipe 1 -Anginapektoris (se lama2tahun). -Non ST segment Myocardial infarc tion (NSTEMI) (se lama1tahun) Hiperlipidemia -TerapiNon- Farmakologi -Terapi Farmakologi K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 34.
    KASUS DRP JANTUNGKORONER Assesment pada pasien No. DRP KETERANGAN PENILAIAN 1. Indikasi yang tidak tepat terapi 1. pasien membutuhkan terapi obat tambahan TIDAK 2. pasien menderita penyakit kronik sehingga membutuhkan terapi lanjutan Iya 3. pasien membutuhkan kombinasi obat untuk memperoleh efek sinergis Tidak 4. pasien beresiko mengalami kejadian yang tidak diharapkan yang dapat dicegah dengan terapi profilaksis Tidak 2. Terapi tanpa indikasi 1. pasien menerima obat tanpa indikasi Tidak 2. terapi non obat (perubahan gaya hidup) lebih sesuai untuk pasien Iya 3. pasien menerima beberapa obat padahal hanya satu terapi obat yang diindikasikan Tidak K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 35.
    4. pasien menerimaobat untuk mengatasi ESO obat lain yang sebenarnya dapat dicegah Tidak 3. Pemilihan obat yang tidak tepat 1. pasien memiliki riwayat alergi terhadap obat yang diterima Tidak 2. obat yang diterima pasien bukan merupakan obat yang paling efektif Iya, penggunaan klopidogrel sebaiknya hanya diberikan 12 bulan setelah pemasangan stent, setelah itu cukup diberikan aspirin saja. Selain itu pasien juga tidak mengalami iskemia. 3. pasien KI dengan obat yang diterima Tidak 4. pasien menerima obat efektif, tetapi bukan obat yang paling murah tidak 5. pasien menerima obat efektif, tetapi bukan obat yang paling aman tidak 6. obat yang diterima pasien tidak efektif terhadap bakteri penyebab infeksi (bakteri resisten terhadap obat) Tidak 7. pasien menerima kombinasi obat yang sebenarnya tidak diperlukan Iya, penggunaan ACE- inhibitor (perindopril) seharusnya dikombinasikan dengan beta bloker dalam terapi hipertensi pada pasien yang menderita penyakit koroner 4. Dosis sub terapi 1. dosis yang dihasilkan terlalu rendah untuk menghasilkan respon yang diinginkan Iya,dosis ssimvastatin 20mg/haari kurang effektif untuk meennuurunkan LDL pasien 2. kadar obat dalam darah berada dalam kisaran terapi Tidak 3. frekuensi pemberian, durasi terapi dan cara pemberian obat pada pasien tidak tepat Tidak 4. waktu pemberian profilaksis tidak tepat (antibiotik untuk bedah) Tidak 5. ADR (Adverse drug Reaction) 1. pasien mengalami reaksi alergi terhadap obat Tidak 2. pasien mengalami resiko ESO (potensial) Iya 3. pasien mengalami idiosinkrasi terhadap obat Tidak 4. bioavaibilitas obat berubah akibat interaksi dengan makanan Iya, penggunaan simvastatin dengan jus K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 36.
    4. bioavaibilitas obatberubah akibat interaksi dengan makanan Iya, penggunaan simvastatin dengan jus anggur menyebabkan peningkatan kadar simvastatin didalam plasma dan dapat menimbulkan toksisitas muskuloskletal Penggunaan perindopril bersamaan dengan makanan diet kalium yang tinggi dapat menyebabkan hiperkalemia 5. efek obat berubah akibat induksi/inhibisi akibat enzim lain Tidak 6. efek obat berubah akibat kandungan makanan yang dikonsumsi Tidak 7. efek obat berubah akibat penggantian ikatan antara obat dengan protein oleh obat lain Tidak Dosis berlebih (Overdosis) 1. dosis obat yang diberikan terlalu tinggi tidak 2. kadar obat dalam darah pasien melebihi kisaran terapi Tidak 3. dosis obat yang dinaikkan terlalu cepat Tidak 4. obat terakumulasi karena pemberian dalam jangka panjang Tidak 5. frekuensi pemberian, durasi terapi dan cara pemberian obat pada pasien tidak tepat Tidak Penderita gagal menerima obat 1. pasien gagal menerima regimen obat yang tepat karena adanya medication error Tidak 2. pasien tidak mampu membeli obat (karena terlalu mahal untuk pasien) Tidak 3. pasien tidak memahami petunjuk penggunaan obat Tidak 4. pasien tidak mau makan obat (misalnya karena rasa obat yang tidak enak) Iya, pasien mengaku tidak patuh dalam mengkonsumsi obat yang telah diberikan Interaksi obat 1. adanya obat yang mengalami interaksi Iya a. aspirin + klopidogrel (Moderate) = memiliki kerja yang aditif, sehingga dapat meningkatkan resiko terjadinya pendarahan saluran gastrointestinal K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 37.
    K A RD I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1 3. Angina
  • 38.
    ANGINA PEKTORIS • Anginapektoris adalahsindrom klinis berupa serangan nyeri dada seperti ditekan atau serasa berat di dada yang sering menjalar ke lengan kiri • Nyeri dada timbul pada saat melakukan aktivitas da berhenti bila aktivtas dihentikan • Nyeri terjad 1-5 menit • Terjadi pada pria dengan persentase 10-20% untuk usia 65- 74 tahun dan 2-5% untuk usia 45-54 tahun • Terjadi pada wanita dengan persentase 10-15% utu usia 65-74 tahun dan 0,1-1% untuk usia 45-54 tahun K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 39.
    KLASIFIKASI ANGINA PEKTORIS 1.Angina stabil sakit dada saat melakukan aktivitas,bersifat stabil , retensi < 10 menit, terjadi akibat pencutanarteri jantung 2 Angina instabil sakit dada saat istirahat, disebabkan erosi dari plak-plak pembuluh 3. Angina variant/ Angina Prinzmetal terjadi spontan dan biasanya timbul pada malam hari K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 40.
    ETIOLOGI ANGINA PEKTORIS Anginapektoris berkaitan dengan jantungkoroner aaterosklerotik, berikuteiologinya : • Ateriosklerosis • Spasme arteri koroner • Anemia berat • Artritis • Aorta insufisiensi K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 41.
    K A RD I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 43.
    FAKTOR RESIKO ANGINA Emosi  Stress  Kerja fisik terlalu berat  Konsumsi alkohol  Banyak merokok  Obesitas  Kolesterol  Hipertensi  Umur, jenis kelamin, dan riwayat keluarga. K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 44.
    GEJALA KLINIS ANGINA Sesak napas  Nyeri seperti gejala penyakit asam lambung (GERD)  Mual  Pusing  Mudah lelah  Gelisah Keringat berlebihan K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 45.
    DIAGNOSA ANGINA  Anginapektoris tidak mudah untuk didiagnosa karena ada beberapa penyakit yang memiliki gejala yang sama, contohnya penyakit asam lambung.  melakukan tes fisik dan menanyakan riwayat kesehatan pasien beserta keluarga  tes tekanan darah untuk mencari tahu jika penderita hipertensi  mengukur BB dan ukur pinggul untuk memeriksa obesitas  tes darah untuk memantau kadar kolesterol, glukosa, protein C-reaktif (CRP), dan fungsi organ hati  tes urine untuk memeriksa fungsi ginjal  elektrokardiogram (EKG)  ekokardiogram  CT-scan/ foto rontgen  Tes darah lanjutan  Tes toleransi olahraga (ETT)  Myocardial perfusion scintigraphy (MPS)  Angiogram koroner K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 46.
    KOMPLIKASI ANGINA  Nyeridada seperti ditekan untuk waktu lama dan berulang-ulang  Nyeri menyebar ke anggota tubuh lainnya seperti punggung, bahu, lengan, rahang, gigi, dan perut.  Nyeri perut berkepanjangan  Gelisah  Panik  Mual muntah  Napas pendek K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 47.
    TERAPI NON FARMAKOLOGIANGINA Tujuan tatalaksana APS adalah untuk mengurangi gejala, dan memperbaiki prognosis. Tatalaksana PJK meliputi modifikasi pola hidup, kontrol faktor risiko PJK, dan terapi farmakologis berdasarkan bukti-bukti yang telah ada, dan edukasi pasien. Rehabilitasi jantung direkomendasikan untuk pasien PJK. Rehabilitasi jantung umumnya diberikan pada pasien setelah infark miokard atau setelah intervensi koroner, namun harus dipertimbangkan juga untuk dilakukan pada seluruh pasien dengan PJK, termasuk pasien dengan angina kronis. Rehabilitasi jantung berbasis latihan efektif menurunkan mortalitas total dan angka hospitalisasi dari pasien PJK. Bukti-bukti juga menunjukkan efek menguntungkan dari rehabilitasi jantung untuk meningkatkan kualitas hidup. Terapi non farmakologi lainnya yang bisa dilakukan adalah dengan memperbaiki pola hidup, seperti dengan tidak merokok, diet dan menjaga masa tubuh tetap stabil, mengkonsumsi makanan yang mengandung tidak banyak lemak, berolahraga K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 48.
    TERAPI FARMAKOLOGI ANGINA •Nitrat • Beta blocker • Propanolol • Calsium chanel blocker K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 49.
    KASUS DRP ANGINA Johnseorang pria berusia 60 tahun datang ke klinik. Dia memiliki riwayat penyakit hipertensi (20 tahun) dan angina (2 tahun). John merupakan perokok berat, 30 batang rokok perhari selama 48 tahun, namun dia berhenti merokok sejak 9 bulan yang lalu. Dia tidak memiliki riwayat pendaharan gastrointestinal dan tidak memiliki riwayat alergi. Satu tahun yang lalu keterangan dari general practioner (dokter umum) melaporkan bahwa john memilikin non ST segment elevation myocardial infarction (NSTEMI), John menjalani percutaneous transluminal coronary angioplasty dan insersi stent pada arteri koroner kiri. Setelah keluar dia mengikuti program rehabilitasi jantung selama 6 bulan di rumah sakit tersebut. Setiap hari dia berjalan kaki selama 40 menit dan tidak ditemukan angina. Pengobatan yang sekarang John dapatkan yaitu aspirin 100 mg perhari, clopidrogel 75 mg perhari, perindopril 4 mg perhari, simvastatin 20 mg perhari. John kurang memahami tujuan dari terapi yang dia dapatkan dan dia mengakui bahwa dia tidak selalu meminum obatnya. Hasil pemeriksaan fisik tekanan darah Johm 145/85 mm Hg, denyut nadi 80/ menit, tidak ditemukan aukultasi. Hasil echocardiogram enam bulan yang lalu menunjukan tidak ada gagal jantung. BMI 23,5 kg/m2. Hasil uji laboratorium enam bulan yang lalu menunjukkan hasil sebagian besar normal, namun perlu diperhatikan kadar kolestrol total 5,5 mmol/L, LDL-c 3,9 mmol/L, HDLc 0,8 mmol/L, dan trigliserida 1,8 mmol/L. Diagonosa Utama : Angina Pektoris (2 tahun) Diagnosa Sekunder : Hipertensi dan hiperlipidemia K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 50.
    KASUS DRP ANGINA Tindakanyang diterima :  Aspirin 100 mg per hari (digunakan untuk menghambat agresi platelet)  Clopidrogel 75 mg per hari ( digunakan sebagai anti platelet)  Peridopril 4 mg per hari (digunakan sebagai antihipertensi, kardioprotektif, dan vaskuloprotektif)  Simvastatin 20 mg per hari (digunakan sebagai antihiperlipidemia, mengingat propil lipid pasien melebihi batas normal, maka diperlukan ditambahkan simvastatin). K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 51.
    ASSASSMENT PADA PASIEN NoDRP KETERANGAN PENILAIAN 1 Indikasi tanpa obat Dalam kasus ini ditemukan indikasi penyakt yang tidak diobati? Tidak 2. Obat tanpa indikasi 1. pemberian kombinasi clopidrogel dan aspirin dosis rendah pasca PTCA dan stent disarankan selama 12 bulan. Setelah itu maintenance tearpi disarankan dengan hanya menggunakan aspirin dosis rendah. Pemberian clopidrogel 75mg/hari sebaiknya dihentikan. 2. Atenolol 50 mg/hari, metoprolol 50-100 mg dua kali sehari dan propanolol 80 mg dua kali sehari merupakan pilihan beta bloker yang biasa diberikan untuk maintenance. Beta bloker sebaiknya diberikan kepada pasien yang pernah mengalami infark miokardiak untuk menurunkan morbiditas dan martalitas. 3 Ketidaktepatan pemilihan obat Dalam kasus ini ditemukan ketidaktepatan pemilihan obat? Tidak 4 Dosis obat kurang atau lebih 1. Dosis maintenance aspirin yaitu 81-325 mg/hari dalam kasus diberikan 100 mg/hari Tidak kurang dan tidak berlebih 2. Dosis clopidrogel yang disarankan selama 12 bulan pasca PTCA dan stent adalah 75 mg/hari Tidak kurang dan tidak berlebih 3 Dosis peridopril yang biasanya diberikan yaitu 4-8 mg/hari dalam kasus diberikan 4 mg/hari. Tidak kurang dan tidak berlebih 5. Interaksi obat Aspirin + Clopidrogel : interaksi meningkatkan toksisitas keduanya melalui mekanisme sinergisme farmakkodinamik Tingkat Signifikan Aspirin + Perindopril : gunakan aspirin dosis rendah. Aspirin menyebabkan penurunan efek perindopril melalui mekanisme antagonis farmakodinamik. Tingkat Signifikan/ Monitoring dengan ketat. K A R D I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1
  • 52.
    K A RD I O V A S K U L A R K E L O M P O K 1