BY
1.Rizki Ismayana
2.Umaryanto
3.Tri Endah Sulistiani
4.Inez Anastasya Putri
TEORI PENDEKATAN GESTALT
Tokoh Dan Riwayat Konseling
 Teori Gestalt diperkenalkan oleh Frederick (Fritz)
Salomon Perls (1983-1970). Gestalt dalam bahasa
Jerman mempunyai arti bentuk, wujud atau
organisasi. Kata itu mengandung pengertian
kebulatan atau keparipurnaan (Schultz, 1991:171).
Simkin dalam (Gilliand, 1989:92) mengatakan
bahwa kata Gestalt mempunyai makna keseluruhan
(whole) atau konfigurasi (configuaration).
 Dengan demikian Perls lebih mengutamakan adanya
integrasi bagian-bagian terkecil kepada suatu hal
penting dan menjadi fungsi dasar bagi manusia.
Sejarah pendekatan Gestalt di awali sejak tahun
1926 ketika Perls mendapatkan gelar medical doctor
(MD) pergi ke Frankfrut-ammain dan menjadi
asisten Kurt Goldstein di The Intitute for Brain
Damage Soldier. Di sinilah Perls bekerjasama
dengan profesor Goldsteins dan Adhemar Gelb serta
ia bertemu dengan calon istrinya, Laura.
 Pada waktu itu Frankfrut-ammain adalah pusat pergolakan intelektual
dan Perls secara langsung dan tidak langsung terekpos dengan
pengaruh filsafat eksistensial dan psikoanalisis yang menjadi akar
pemikirannya dalam mengembangakan pendekatan Gestalt (Corey,
1976, p.120; yotnef 1993). Terdapat tiga tokoh yang mempengaruhi
perkembangan intelektual Perls hingga menghasilkan pendekatan
Gestalt. Pertama Filsuf Sigmund Freudlander, dari dialah Perls
mendapatkan konsep tentang diferrential thinking dan creative
indiference, yang ia sebutkan dalam buku pertamanya, Ego, Hunger
and Aggressipn (1947).
 Kedua Perls dipengaruhi oleh Jan Smuts, perdana menteri Afrika Utara
dimana Perls pindah bersama keluarganya ketika melarikan diri dari
Nazi German ketika Nazi menguasai Belanda. Sebelum menjadi
perdana menteri, Smuts telah menulis buku utama tentang Holism and
Evolution yang menjadi acuan perspektif Gestalt. Ketiga Alfred
Korzybski, seorang ahli semantik yang berpengaruh pada
perkembangan pemikiran intelektual Perls (Yotnef 1993).
KONSEP DASAR PENDEKATAN
GESTALT
 Pendekatan konseling ini berpandangan bahwa
manusia dalam kehidupanya selalu aktif sebagai
suatu keseluruhan. setiap individu bukan
semata-mata merupakan penjumlahan dari
bagian bagian organ
seperti:hati,jantung,otak,dan sebagainya.
melainkan merupakan suatu keordinasi semua
bagian tersebut. Manusia aktif terdorong kearah
keseluruhan dan integrasi
pemikiran,perasaan,dan tingkah lakunya. Setiap
individu memiliki kemampuan untuk menerima
tanggung jawab pribadi,memiliki dorongan
untuk mengembangkan kesadaran yang akan
mengarahkan menuju terbentuknya integritas
atau keutuhan pribadi.
HAKIKAT MANUSIA MENURUT TEORI
PENDEKATAN GESTALT
 Tidak dapat dipahami,kecuali dalam keseluruhan
konteksnya.
 Merupakan bagian dari lingkunganya dan hanya dapat
di pahami dalam kaitanya dengan lingkunganya itu.
 Aktor bukan Reaktor.
 Berpotensi untuk menyadari sepenuhnya
sensasi,emosi,persepsi,dan pemikirannya.
 Dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab.
 Mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara
efektif.
Top dog adalah kekuatan
yang mengharuskan,
menuntut, mengancam
Under dog adalah keadaan
defensif, membela diri, tidak
berdaya, lemah, pasif, ingin
dimaklumi.
Asumsi
Perilaku
Bermasalah
TUJUAN KONSELING
 Membantu klien agar dapat memperoleh
kesadaran pribadi, memahami kenyataan
atau realitas, serta mendapatkan insight
secara penuh.
 Membantu klien menuju pencapaian
integritas kepribadiannya
 Mengentaskan klien dari kondisinya yang
tergantung pada pertimbangan orang lain ke
mengatur diri sendiri (to be true to himself)
 Meningkatkan kesadaran individual agar
klien dapat beringkah laku menurut prinsip-
prinsip Gestalt, semua situasi bermasalah
(unfisihed bussines) yang muncul dan selalu
akan muncul dapat diatasi dengan baik
PERAN KONSELING
 Fokus utama konseling Gestalt adalah terletak ada bagaimana keadaan
konseli sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam
kesadarannya. Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong
konseli untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau
mencoba menghadapinya. Dalam hal ini perlu diarahkan agar konseli
mau belajar menggunakan perasaannya secara penuh. Dalam proses
konseling gestalt, konselor memiliki peran dan fungsi yang unik, yaitu:
konselor memfokuskan pada perasaan, kesadaran, bahasa tubuh,
hambatan energi dan hambatan untuk mencapai kesdaran yang ada
pada konseli, konselor adalah “Artistic Participant” yang memiliki
peranan dalam menciptakan hidup baru konseli, konselor berperan
sebagai Projection Screen, konselor harus dapat membaca dan
menginterpretasikan bentuk-bentuk bahasa yang dilontarkan konseli.
DESKRIPSI PROSES KONSELING
 Fase kedua, konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk
mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. Ada dua
hal yang dilakukan konselor dalam fase ini, yaitu :Membangkitkan motivasi
klien, dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari
ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya. Makin tinggi kesadaran klien
terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan
dirinya, sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan
konselor. Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan
menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal
dapat mengemukakan alasan-alasannya secara bertanggung jawab.
 Fase ketiga, konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-
perasaannya pada saat ini, klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali
segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu, dalam situasi di sini dan saat ini.
Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor.
 Fase pertama, konselor mengembangkan pertemuan konseling, agar tercapai
situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien.
Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda, karena masing-
masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan
yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan.
TEKNIK KONSELING
PRINSIP KERJA
TEKNIK-TEKNIK
KONSELING GESTALT
1.Penekanan Tanggung
Jawab Klien
2.Orientasi Sekarang dan
Disini
3.Orientasi Eksperensial
1.Permainan Dialog
2.Latihan Bertanggung
Jawab
3.Bermain Proyeksi
4.Teknik Pembalikan
5.Tetap dengan Perasaan
KEKURANGAN DAN KELEBIHAN
PENDEKATAN GESTALT
KEKURANGAN KELEBIHAN
 Terapi Gestalt tidak berlandaskan pada suatu
teori yang kukuh
 Terapi Gestalt cenderung antiintelektual
dalam arti kurang memperhitungkan faktor-
faktor kognitif.
 Terapi Gestalt menekankan tanggung jawab
atas diri kita sendiri, tetapi mengabaikan
tanggung jawab kita kepada orang lain.
 Teradapat bahaya yang nyata bahwa terapis
yang menguasai teknik-teknik Gestalt akan
menggunakannya secara mekanis sehingga
terapis sebagai pribadi tetap tersembunyi.
 Para konseli sering bereaksi negative
terhadap sejumlah teknik Gestalt karena
merasa dianggap tolol. Sudah sepantasnya
terapis berpijak pada kerangka yang layak
agar tidak tampak hanya sebagai muslihat-
muslihat.
 Terapi Gestalt menangani masa lampau dengan
membawa aspek-aspek masa lampau yang
relevan ke saat sekarang.
 Terapi Gestalt memberikan perhatian terhadap
pesan-pesan nonverbal dan pesan-pesan tubuh.
 Terapi Gestalt menolak mengakui ketidak
berdayaan sebagai alasan untuk tidak berubah.
 Terapi Gestalt meletakkan penekanan pada
konseli untuk menemukan makna dan
penafsiran-penafsiran sendiri.
 Terapi Gestalt menggairahkan hubungan dan
mengungkapkan perasaan langsung menghindari
intelektualisasi abstrak tentang masalah konseli.
 Menghasilkan individu atau siswa yang memiliki
kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap
persoalan yang dihadapi
CONTOH PENERAPAN PENDEKATAN
GESTALT
Setting Individu Setting Kelompok
 Sebagai contoh, klien adalah seorang ibu yang terlalu keras
mendidik anak perempuannya yang berusia 13 tahun. Aturan
keras dari ibu membuat anak merasa ketakutan, cemas dan
trauma bahakan beberapa hari tidak pulang kerumah yang tanpa
sepengetahuan ibunya ternyata anaknya menginap di rumah
nenek. Suaminya yang merasa kecewa dan kewalahan terhadap
sikap istrinya yang keras itu akhirnya meminta cerai. Latar
bekang yang membuat istrinya keras seperti itu adalah didikan
dari orang tua sang istri yang terlalu keras dari kecil sampai
remaja. Istri sebenarnya merasa “sakit hati” dengan perlakuan
itu dan sangant dendam. Dan didikan keras itulah yang
diteruskannya kepada putrinya.
 Dalam kasus seperti ini, konselor dapat menerapkan teknik
permainan dialog yang didalamnya ada teknik kursi kosong.
Klien disuruh untuk berperan sebagai under dog yang menjadi
korban. Klien di arahkan untuk menjadi sadar akan
perbuatannya saat ini bahwa sikapnya yang keras itu hanya
sebagai ungkapan balas dendam yang di teruskan kepada
putrinya. Selain itu, klien bisa disuruh untuk melakukan
permainan ulangan. Mengulang kembali apa yang dialaminya
dulu atas sikap kasar orang tuanya dengan upaya meningkatkan
kesadaran atas pengulangan tersebut.
 Sebagai contoh, teknik bermain peran di dalam
kelompok. Misalnya seseorang yang merasa khawatir
akan apa yang di pikirkan orang lain terhadapnya, ia
kemudian diminta untuk memerankan orang yang
mungkin menilainya itu. Setelah ia memerankan
orang yang danggapnya menilai dirinya, ia diminta
untuk mengecek kembali pada orang itu. Tidak
jarang terjadi bahwa apa yang dianggapnya itu tidak
nyata. Semua itu hanya penilaian saja, padahal orang
lain tidak menilainya seperti yang dianggapnya.
Dalam setting kelompok seperti ini, biasanya
anggota akan lebih cepat mengenali keyakinan yang
kurang rasional yang selama ini belum pernah
dicocokkannya dengan orang lain.
KESIMPULAN
 Pendekatan konseling gestalt merupakan pendekatan dalam layanan konseling yang memandang
manusia sebagai keseluruhan, bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian kepribadian. Terapi ini
untuk membantu individu yang mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan diri dalam kehidupan
dan lingkungannya, sedang individu tersebut memiliki gangguan psikologis dan potensi yang dimiliki
itu tidak dapat berkembang secar wajar. Inti dari terapi ini adalah penyadaran individu, penyadaran ini
menunjuk kepada suatu jenis pengalaman saat ini dan berkembang karena hubungan individu dengan
lingkungannya dan penyadaran ini mencakup pikiran dan perasaan berdasarkan persepsi individu pada
saat sekarang terhadap situasi sekarang atau atau bahwa yang paling prinsip adalah membantu
individu untuk mencapai kesadaran akan dirinya dan lingkungannya.
 Praktek konseling gestalt yang efektif melibatkan hubungan pribadi ke ppribadi antar konselor dengan
konseli. Yang penting adalah konseling secara aktif berbagi persepsi-persepsi dan pengalaman
sekarang ketika ia menghadapi konseli disini dan sekarang. Disamping itu konselig memberi umpan
balik, terutama yang berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh konseli melalui tubuhnya. Konselor
harus menghadapi konseli tanpa menolak konseli sebagai pribadi.
 Proses membangkitkan perasaan pada konseli dapat dicapai dengan cara mengembangkan hubungan
atau aliansi terapeutik yang kondusif, manusiawi dan menekankan pada aspek-aspek personal konseli.
Karena jika konseli dapat memperoleh kesadaran tentang masalah-masalah yang tak terselesaikan,
maka mereka akan menemukan jalan yang mudah menuju peemecahan masalah dan mencapai
perkembangan dan aktualisasai diri. Hubungan yang ditekankan dalam konseling gestalt adalah
hubungan yang unik yang mereka sebut “saya dan kamu’ hubungan ini menuntut konselor dan konseli
untuk sepenuhnya menghayati keadaan pada tataran “disini dan sekarang”. Konselor bekerja dengan
tulus dengan menyadari sepenuhnya perasaan, pengalaman, dan persepsi mereka sendiri, serta
membangun aklim yang dapat mendorong konseli mengembangkan kepercayaan, kesadaran dan
kesediaan untuk mencoba cara-cara baru dalam merasa, berfikir dan bertindak.
Teori pendekatan gestalt

Teori pendekatan gestalt

  • 2.
    BY 1.Rizki Ismayana 2.Umaryanto 3.Tri EndahSulistiani 4.Inez Anastasya Putri TEORI PENDEKATAN GESTALT
  • 3.
    Tokoh Dan RiwayatKonseling  Teori Gestalt diperkenalkan oleh Frederick (Fritz) Salomon Perls (1983-1970). Gestalt dalam bahasa Jerman mempunyai arti bentuk, wujud atau organisasi. Kata itu mengandung pengertian kebulatan atau keparipurnaan (Schultz, 1991:171). Simkin dalam (Gilliand, 1989:92) mengatakan bahwa kata Gestalt mempunyai makna keseluruhan (whole) atau konfigurasi (configuaration).  Dengan demikian Perls lebih mengutamakan adanya integrasi bagian-bagian terkecil kepada suatu hal penting dan menjadi fungsi dasar bagi manusia. Sejarah pendekatan Gestalt di awali sejak tahun 1926 ketika Perls mendapatkan gelar medical doctor (MD) pergi ke Frankfrut-ammain dan menjadi asisten Kurt Goldstein di The Intitute for Brain Damage Soldier. Di sinilah Perls bekerjasama dengan profesor Goldsteins dan Adhemar Gelb serta ia bertemu dengan calon istrinya, Laura.
  • 4.
     Pada waktuitu Frankfrut-ammain adalah pusat pergolakan intelektual dan Perls secara langsung dan tidak langsung terekpos dengan pengaruh filsafat eksistensial dan psikoanalisis yang menjadi akar pemikirannya dalam mengembangakan pendekatan Gestalt (Corey, 1976, p.120; yotnef 1993). Terdapat tiga tokoh yang mempengaruhi perkembangan intelektual Perls hingga menghasilkan pendekatan Gestalt. Pertama Filsuf Sigmund Freudlander, dari dialah Perls mendapatkan konsep tentang diferrential thinking dan creative indiference, yang ia sebutkan dalam buku pertamanya, Ego, Hunger and Aggressipn (1947).  Kedua Perls dipengaruhi oleh Jan Smuts, perdana menteri Afrika Utara dimana Perls pindah bersama keluarganya ketika melarikan diri dari Nazi German ketika Nazi menguasai Belanda. Sebelum menjadi perdana menteri, Smuts telah menulis buku utama tentang Holism and Evolution yang menjadi acuan perspektif Gestalt. Ketiga Alfred Korzybski, seorang ahli semantik yang berpengaruh pada perkembangan pemikiran intelektual Perls (Yotnef 1993).
  • 5.
    KONSEP DASAR PENDEKATAN GESTALT Pendekatan konseling ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupanya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian bagian organ seperti:hati,jantung,otak,dan sebagainya. melainkan merupakan suatu keordinasi semua bagian tersebut. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran,perasaan,dan tingkah lakunya. Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi,memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi.
  • 6.
    HAKIKAT MANUSIA MENURUTTEORI PENDEKATAN GESTALT  Tidak dapat dipahami,kecuali dalam keseluruhan konteksnya.  Merupakan bagian dari lingkunganya dan hanya dapat di pahami dalam kaitanya dengan lingkunganya itu.  Aktor bukan Reaktor.  Berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi,emosi,persepsi,dan pemikirannya.  Dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab.  Mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif.
  • 7.
    Top dog adalahkekuatan yang mengharuskan, menuntut, mengancam Under dog adalah keadaan defensif, membela diri, tidak berdaya, lemah, pasif, ingin dimaklumi. Asumsi Perilaku Bermasalah
  • 8.
    TUJUAN KONSELING  Membantuklien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi, memahami kenyataan atau realitas, serta mendapatkan insight secara penuh.  Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya  Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself)  Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsip- prinsip Gestalt, semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik
  • 9.
    PERAN KONSELING  Fokusutama konseling Gestalt adalah terletak ada bagaimana keadaan konseli sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong konseli untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau mencoba menghadapinya. Dalam hal ini perlu diarahkan agar konseli mau belajar menggunakan perasaannya secara penuh. Dalam proses konseling gestalt, konselor memiliki peran dan fungsi yang unik, yaitu: konselor memfokuskan pada perasaan, kesadaran, bahasa tubuh, hambatan energi dan hambatan untuk mencapai kesdaran yang ada pada konseli, konselor adalah “Artistic Participant” yang memiliki peranan dalam menciptakan hidup baru konseli, konselor berperan sebagai Projection Screen, konselor harus dapat membaca dan menginterpretasikan bentuk-bentuk bahasa yang dilontarkan konseli.
  • 10.
    DESKRIPSI PROSES KONSELING Fase kedua, konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini, yaitu :Membangkitkan motivasi klien, dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya. Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya, sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor. Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasan-alasannya secara bertanggung jawab.  Fase ketiga, konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan- perasaannya pada saat ini, klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu, dalam situasi di sini dan saat ini. Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor.  Fase pertama, konselor mengembangkan pertemuan konseling, agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda, karena masing- masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan.
  • 11.
    TEKNIK KONSELING PRINSIP KERJA TEKNIK-TEKNIK KONSELINGGESTALT 1.Penekanan Tanggung Jawab Klien 2.Orientasi Sekarang dan Disini 3.Orientasi Eksperensial 1.Permainan Dialog 2.Latihan Bertanggung Jawab 3.Bermain Proyeksi 4.Teknik Pembalikan 5.Tetap dengan Perasaan
  • 12.
    KEKURANGAN DAN KELEBIHAN PENDEKATANGESTALT KEKURANGAN KELEBIHAN  Terapi Gestalt tidak berlandaskan pada suatu teori yang kukuh  Terapi Gestalt cenderung antiintelektual dalam arti kurang memperhitungkan faktor- faktor kognitif.  Terapi Gestalt menekankan tanggung jawab atas diri kita sendiri, tetapi mengabaikan tanggung jawab kita kepada orang lain.  Teradapat bahaya yang nyata bahwa terapis yang menguasai teknik-teknik Gestalt akan menggunakannya secara mekanis sehingga terapis sebagai pribadi tetap tersembunyi.  Para konseli sering bereaksi negative terhadap sejumlah teknik Gestalt karena merasa dianggap tolol. Sudah sepantasnya terapis berpijak pada kerangka yang layak agar tidak tampak hanya sebagai muslihat- muslihat.  Terapi Gestalt menangani masa lampau dengan membawa aspek-aspek masa lampau yang relevan ke saat sekarang.  Terapi Gestalt memberikan perhatian terhadap pesan-pesan nonverbal dan pesan-pesan tubuh.  Terapi Gestalt menolak mengakui ketidak berdayaan sebagai alasan untuk tidak berubah.  Terapi Gestalt meletakkan penekanan pada konseli untuk menemukan makna dan penafsiran-penafsiran sendiri.  Terapi Gestalt menggairahkan hubungan dan mengungkapkan perasaan langsung menghindari intelektualisasi abstrak tentang masalah konseli.  Menghasilkan individu atau siswa yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi
  • 13.
    CONTOH PENERAPAN PENDEKATAN GESTALT SettingIndividu Setting Kelompok  Sebagai contoh, klien adalah seorang ibu yang terlalu keras mendidik anak perempuannya yang berusia 13 tahun. Aturan keras dari ibu membuat anak merasa ketakutan, cemas dan trauma bahakan beberapa hari tidak pulang kerumah yang tanpa sepengetahuan ibunya ternyata anaknya menginap di rumah nenek. Suaminya yang merasa kecewa dan kewalahan terhadap sikap istrinya yang keras itu akhirnya meminta cerai. Latar bekang yang membuat istrinya keras seperti itu adalah didikan dari orang tua sang istri yang terlalu keras dari kecil sampai remaja. Istri sebenarnya merasa “sakit hati” dengan perlakuan itu dan sangant dendam. Dan didikan keras itulah yang diteruskannya kepada putrinya.  Dalam kasus seperti ini, konselor dapat menerapkan teknik permainan dialog yang didalamnya ada teknik kursi kosong. Klien disuruh untuk berperan sebagai under dog yang menjadi korban. Klien di arahkan untuk menjadi sadar akan perbuatannya saat ini bahwa sikapnya yang keras itu hanya sebagai ungkapan balas dendam yang di teruskan kepada putrinya. Selain itu, klien bisa disuruh untuk melakukan permainan ulangan. Mengulang kembali apa yang dialaminya dulu atas sikap kasar orang tuanya dengan upaya meningkatkan kesadaran atas pengulangan tersebut.  Sebagai contoh, teknik bermain peran di dalam kelompok. Misalnya seseorang yang merasa khawatir akan apa yang di pikirkan orang lain terhadapnya, ia kemudian diminta untuk memerankan orang yang mungkin menilainya itu. Setelah ia memerankan orang yang danggapnya menilai dirinya, ia diminta untuk mengecek kembali pada orang itu. Tidak jarang terjadi bahwa apa yang dianggapnya itu tidak nyata. Semua itu hanya penilaian saja, padahal orang lain tidak menilainya seperti yang dianggapnya. Dalam setting kelompok seperti ini, biasanya anggota akan lebih cepat mengenali keyakinan yang kurang rasional yang selama ini belum pernah dicocokkannya dengan orang lain.
  • 14.
    KESIMPULAN  Pendekatan konselinggestalt merupakan pendekatan dalam layanan konseling yang memandang manusia sebagai keseluruhan, bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian kepribadian. Terapi ini untuk membantu individu yang mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan diri dalam kehidupan dan lingkungannya, sedang individu tersebut memiliki gangguan psikologis dan potensi yang dimiliki itu tidak dapat berkembang secar wajar. Inti dari terapi ini adalah penyadaran individu, penyadaran ini menunjuk kepada suatu jenis pengalaman saat ini dan berkembang karena hubungan individu dengan lingkungannya dan penyadaran ini mencakup pikiran dan perasaan berdasarkan persepsi individu pada saat sekarang terhadap situasi sekarang atau atau bahwa yang paling prinsip adalah membantu individu untuk mencapai kesadaran akan dirinya dan lingkungannya.  Praktek konseling gestalt yang efektif melibatkan hubungan pribadi ke ppribadi antar konselor dengan konseli. Yang penting adalah konseling secara aktif berbagi persepsi-persepsi dan pengalaman sekarang ketika ia menghadapi konseli disini dan sekarang. Disamping itu konselig memberi umpan balik, terutama yang berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh konseli melalui tubuhnya. Konselor harus menghadapi konseli tanpa menolak konseli sebagai pribadi.  Proses membangkitkan perasaan pada konseli dapat dicapai dengan cara mengembangkan hubungan atau aliansi terapeutik yang kondusif, manusiawi dan menekankan pada aspek-aspek personal konseli. Karena jika konseli dapat memperoleh kesadaran tentang masalah-masalah yang tak terselesaikan, maka mereka akan menemukan jalan yang mudah menuju peemecahan masalah dan mencapai perkembangan dan aktualisasai diri. Hubungan yang ditekankan dalam konseling gestalt adalah hubungan yang unik yang mereka sebut “saya dan kamu’ hubungan ini menuntut konselor dan konseli untuk sepenuhnya menghayati keadaan pada tataran “disini dan sekarang”. Konselor bekerja dengan tulus dengan menyadari sepenuhnya perasaan, pengalaman, dan persepsi mereka sendiri, serta membangun aklim yang dapat mendorong konseli mengembangkan kepercayaan, kesadaran dan kesediaan untuk mencoba cara-cara baru dalam merasa, berfikir dan bertindak.