IJARAH
DISAJIKAN OLEH:
RENDRA FAHRURROZIE [NIM: 16.01.0073]
PENGERTIAN, DASAR HUKUM, SYARAT,
RUKUN, MACAM-MACAM IJARAH, DAN
AKIBAT HUKUM AKAD IJARAH TERHADAP
PIHAK YANG BERKAD
FIQH II (MUAMALAH)
07/2018
SECARA BAHASA
Ijarah dari bentukan kata AJRAN dengan wazan fi’âlah berasal dari ajara-
ya’juru atau ajara-ya’jiru yang berarti "imbalan terhadap suatu pekerjaan
(gaji/upah)" ( ‫الجزاء‬‫على‬‫العمل‬ ) atau al-‘iwadh (kompensasi).
Dalam bentuk lain, ijarah dari kata ÎJÂRAN, mashdar dari âjara-yu’jiru-îjâran,
dengan wazan i’âlah yang fa’ - fi’il -nya dihilangkan, yang berarti sewa (‫.)الكراء‬
PENGERTIAN IJARAH
[Yahya Abdurrahman, Majalah al-Wa’ie No. 65, 01/01/2006]
Dalam perkembangan kebahasaan berikutnya, kata ijarah itu
dipahami sebagai "akad" ( ‫العقد‬ ) yaitu akad (pemilikan) terhadap
berbagai manfaat dengan imbalan ‫العقد‬‫بعوض‬ ‫المنافع‬ ‫على‬) ) atau akad
pemilikan manfaat dengan imbalan, yakni kontrak kerja dan sewa
menyewa.
SECARA ISTILAH
Definisi ringkas yang bersifat jâmi’ dan mâni‘ adalah definisi yang diberikan
oleh al-Qadhi an-Nabhani dalam asy-Syakhshiyyah al Islâmiyah juz II dan
al-Murghiyani dalam Bidâyah al-Mubtadi fî Fiqh al-Imâm Abiy Hanîfah.
Bahwa ijârah adalah:
‘aqd ‘alâ al-manfa’ah bi ‘iwadh
(akad atas suatu manfaat dengan suatu kompensasi).
PENGERTIAN IJARAH
Kata al-manfa’ah membedakan ijârah dengan bay‘ (jual-beli), karena
akad bay‘ berlaku atas zat sesuatu, sementara akad
ijârah berlaku atas manfaat sesuatu itu.
[Yahya Abdurrahman, Majalah al-Wa’ie No. 65, 01/01/2006]
DASAR HUKUM IJARAH
DARI AL QUR’AN
• Allah SWT berfirman:
Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak) kalian untuk kalian, maka
berikanlah kepada mereka upahnya.
(QS. ath-Thalaq [65]: 6)
• Allah SWT berfirman:
“Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada
dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut.
Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa
yang kamu kerjakan”. (QS. al-Baqarah [2]: 233)
DASAR HUKUM IJARAH
DARI AL HADIST
• Imam al-Bukhari meriwayatkan dari jalur Aisyah ra. bahwa Nabi SAW dan Abu
Bakar ketika hijrah dari Makkah ke Madinah, mempekerjakan seorang laki-laki
dari Bani Diyl ( yang masih memeluk agama orang ka¡r quraisy) sebagai
penunjuk jalan.
• Abu Said al-Khudzri dan Abu Hurairah menuturkan, Nabi SAW. pernah
bersabda: “Siapa saja yang mempekerjakan seorang ajir (pekerja) maka
hendaklah ia memberitahukan upahnya.” (HR al Bayhaqi, Abu Hanifah, dan
Ibn Abi Syaibah)
• “Berikanlah upah kepada orang yang kamu pekerjakan sebelum kering keringat
mereka”. (HR. Abu Ya’la, Ibnu Majah, at-Thabrani dan Tirmidzi)
(A) SYARAT SAH
1. Adanya keridhaan dari kedua belah pihak. Jika salah satu pihak dipaksa
maka akad ijarah itu tidak sah. [QS. An-Nisa: 29]
2. Manfaat yang diakadkan haruslah ma‘lûm (jelas) bagi kedua pihak (manfaat
benda atau manfaat tenaga/kerja, termasuk jelas harga atau upahnya).
3. Pekerjaan yang diakadkan secara hakiki maupun syar‘i harus mampu
dikerjakan oleh ajir. Seorang ajir tidak boleh dibebani pekerjaan kecuali
yang mampu ia kerjakan.
4. Adanya kemampuan menyerahkan benda/sesuatu yang di-ijârah-kan
dengan manfaat yang disepakati.
5. Manfaat yang di-ijârah-kan adalah mubah (tidak haram/bukan kewajiban).
SYARAT IJARAH
[Yahya Abdurrahman, Majalah al-Wa’ie No. 65, 01/01/2006]
(B) SYARAT IN’IQAD (Syarat terjadinya akad)
• Orang yang berakad harus mukallaf, yaitu baligh dan berakal,
sedangkan anak mumayyiz belum dapat dikategorikan ahli akad.
• Objek ijarah boleh diserahkan dan dipergunakan secara langsung dan
tidak bercacat.
• Objek ijarah sesuatu yang dihalalkan oleh syara’ dan merupakan
sesuatu yang bisa disewakan.
SYARAT IJARAH
[Yahya Abdurrahman, Majalah al-Wa’ie No. 65, 01/01/2006]
RUKUN IJARAH
ADA 3 RUKUN:
1. ‘Aqidân atau dua pihak yang berakad, yakni musta’jir
(majikan atau pihak yang menyewa) dengan ajîr (pekerja)
dalam ijârah al-ajîr, atau dengan mu’jir (pihak yang
menyewakan sesuatu). Kedua pihak itu haruslah pihak
yang sah melakukan akad, yaitu berakal.
2. Ijab dan qabul. Redaksi ijab dan qabul ini bisa menggunakan
kata ijârah atau al-kirâ’ atau ungkapan yang semakna, yaitu
yang menunjukkan secara jelas makna kontrak, kerja, atau
sewa.
3. Obyek akad haruslah dapat diambil manfaatnya.
[Yahya Abdurrahman, Majalah al-Wa’ie No. 65, 01/01/2006]
Dari segi OBJEKnya, dibagi menjadi 2 (dua) macam:
1. Aijarah ‘Ala Al-manafi’ (Sewa-menyewa)
Adalah praktik ijarah yang berkutat pada pemindahan manfaat
terhadap barang.
Barang yang boleh disewakan adalah barang-barang mubah misal sawah
untuk ditanami, mobil untuk dikendarai, rumah untuk ditempati.
2. Upah Mengupah
Disebut juga dengan jual beli jasa. Idealnya diakukan seketika itu
juga. Tetapi boleh dilakukan dengan perjanjian, dan pembayarannya
sesuai perjanjian juga.
MACAM-MACAM IJARAH
Ada 2 macam pekerja:
(1) Ajir (tenaga kerja) khusus, yaitu orang yang bekerja pada satu orang untuk masa tertentu.
(2) Ajir (tenaga kerja) musyatarak, yaitu orang yang bekerja untuk lebih dari satu orang, sehingga mereka bersekutu di dalam
memanfaatkan tenaganya.
AKIBAT HUKUM AKAD IJARAH TERHADAP PIHAK YANG
BERKAD (SEWA-MENYEWA)
a) Pemberi sewa (muajjir), memperoleh pembayaran sewa biaya
dari penyewa (musta’jir) dan dapat mengakhiri akad ijarah serta
menarik objek ijarah apabila penyewa tidak mampu membayar
sewa sebagaimana diperjanjikan.
b) Kewajiban Pemberi sewa (muajjir), antara lain, yaitu:
a) Menyediakan objek ijarah yang disewakan.
b) Menanggung biaya pemeliharaan objek ijarah.
c) Menjamin objek ijarah yang disewakan tidak terdapat cacat dan
dapat berfungsi dengan baik.
Anshori, Hukum Perjanjian, (Yogyakarta: Gajah Mada University,
2010 ), hal. 73.
AKIBAT HUKUM AKAD IJARAH TERHADAP PIHAK YANG
BERKAD (SEWA-MENYEWA)
c) Hak penyewa (musta’jir), antara lain meliputi yaitu:
1. Menerima objek ijarah dalam keadaan baik dan siap dioperasikan.
2. Menggunakan objek ijarah yang disewakan sesuai dengan persyaratan-
persyaratan yang diperjanjikan.
d) Kewajiban penyewa antara lain meliputi:
1. Membayar sewa dan biaya-biaya lainnya sesuai yang diperjanjikan.
2. Mengembalikan objek ijarah apabila tidak mampu membayar sewa.
3. Menjaga dan menggunakan objek ijarah sesuai yang diperjanjikan.
4. Tidak menyewakan kembali atau tidak memindahtangankan objek ijarah k
epada pihak lain.
Anshori, Hukum Perjanjian, (Yogyakarta: Gajah Mada University,
2010 ), hal. 73.
AKIBAT HUKUM AKAD IJARAH TERHADAP PIHAK YANG
BERKAD (UPAH-MENGUPAH)
a) Hak – hak yang diterima pekerja adalah:
1. Mereka para pekerja harus diperlakukan sebagai
manusia, tidak sebagai binatang beban.
2. Mewujudkan ketercukupan
3. Kemuliaan dan kehormatan haruslah senantiasa
melekat pada mereka.
4. Mereka harus menerima upah yang layak dan segera
dibayarkan.
5. Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum.
Muhammad Sharif Chaudry, Sistem Ekonomi Islam, (Jakarta: Kencana,
2012 ), hal 192.
AKIBAT HUKUM AKAD IJARAH TERHADAP PIHAK YANG
BERKAD (UPAH-MENGUPAH)
b) Kewajiban yang dilakukan pekerja adalah:
1. Mengetahui hal-hal yang diwajibkan dalam suatu pekerjaan se
hingga orang melakukan pekerjaan dapat memenuhi hal-hal y
ang diperlukan dan ia pun dapat me ekuni pekerjaannya dan
menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya.
2. Menunaikan janji
3. Beritiqad baik dalam melakukan aktifitas pekerjaannya.
4. Berusaha mewujudkan keamanan.
5. Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum.
[Jaribah Al-Haritsi, Fikih Ekonomi Umar bin Al-Khathab, (Jakarta: Pustaka
Al Kautsar Group), hal. 674]
Akad ijarah dapat berakhir karena hal-hal berikut:
1. Objek hilang, rusak atau musnah.
2. Tenggang waktu yang disepakati dalam akad ijarah telah berakhir.
3. Menurut ulama Hanafiyah, wafatnya seorang yang berakad.
4. Pembatalan oleh salah satu pihak yang berakad (iqolah).
BERAKHIRNYA AKAD IJARAH
[Hasan, Berbagai macam transaksi, (Jakarta: Raja Grafindo Perkasa, 2004),
hal. 236]
Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb

FIQH MUAMALAH - IJARAH

  • 1.
    IJARAH DISAJIKAN OLEH: RENDRA FAHRURROZIE[NIM: 16.01.0073] PENGERTIAN, DASAR HUKUM, SYARAT, RUKUN, MACAM-MACAM IJARAH, DAN AKIBAT HUKUM AKAD IJARAH TERHADAP PIHAK YANG BERKAD FIQH II (MUAMALAH) 07/2018
  • 2.
    SECARA BAHASA Ijarah daribentukan kata AJRAN dengan wazan fi’âlah berasal dari ajara- ya’juru atau ajara-ya’jiru yang berarti "imbalan terhadap suatu pekerjaan (gaji/upah)" ( ‫الجزاء‬‫على‬‫العمل‬ ) atau al-‘iwadh (kompensasi). Dalam bentuk lain, ijarah dari kata ÎJÂRAN, mashdar dari âjara-yu’jiru-îjâran, dengan wazan i’âlah yang fa’ - fi’il -nya dihilangkan, yang berarti sewa (‫.)الكراء‬ PENGERTIAN IJARAH [Yahya Abdurrahman, Majalah al-Wa’ie No. 65, 01/01/2006] Dalam perkembangan kebahasaan berikutnya, kata ijarah itu dipahami sebagai "akad" ( ‫العقد‬ ) yaitu akad (pemilikan) terhadap berbagai manfaat dengan imbalan ‫العقد‬‫بعوض‬ ‫المنافع‬ ‫على‬) ) atau akad pemilikan manfaat dengan imbalan, yakni kontrak kerja dan sewa menyewa.
  • 3.
    SECARA ISTILAH Definisi ringkasyang bersifat jâmi’ dan mâni‘ adalah definisi yang diberikan oleh al-Qadhi an-Nabhani dalam asy-Syakhshiyyah al Islâmiyah juz II dan al-Murghiyani dalam Bidâyah al-Mubtadi fî Fiqh al-Imâm Abiy Hanîfah. Bahwa ijârah adalah: ‘aqd ‘alâ al-manfa’ah bi ‘iwadh (akad atas suatu manfaat dengan suatu kompensasi). PENGERTIAN IJARAH Kata al-manfa’ah membedakan ijârah dengan bay‘ (jual-beli), karena akad bay‘ berlaku atas zat sesuatu, sementara akad ijârah berlaku atas manfaat sesuatu itu. [Yahya Abdurrahman, Majalah al-Wa’ie No. 65, 01/01/2006]
  • 4.
    DASAR HUKUM IJARAH DARIAL QUR’AN • Allah SWT berfirman: Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak) kalian untuk kalian, maka berikanlah kepada mereka upahnya. (QS. ath-Thalaq [65]: 6) • Allah SWT berfirman: “Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Baqarah [2]: 233)
  • 5.
    DASAR HUKUM IJARAH DARIAL HADIST • Imam al-Bukhari meriwayatkan dari jalur Aisyah ra. bahwa Nabi SAW dan Abu Bakar ketika hijrah dari Makkah ke Madinah, mempekerjakan seorang laki-laki dari Bani Diyl ( yang masih memeluk agama orang ka¡r quraisy) sebagai penunjuk jalan. • Abu Said al-Khudzri dan Abu Hurairah menuturkan, Nabi SAW. pernah bersabda: “Siapa saja yang mempekerjakan seorang ajir (pekerja) maka hendaklah ia memberitahukan upahnya.” (HR al Bayhaqi, Abu Hanifah, dan Ibn Abi Syaibah) • “Berikanlah upah kepada orang yang kamu pekerjakan sebelum kering keringat mereka”. (HR. Abu Ya’la, Ibnu Majah, at-Thabrani dan Tirmidzi)
  • 6.
    (A) SYARAT SAH 1.Adanya keridhaan dari kedua belah pihak. Jika salah satu pihak dipaksa maka akad ijarah itu tidak sah. [QS. An-Nisa: 29] 2. Manfaat yang diakadkan haruslah ma‘lûm (jelas) bagi kedua pihak (manfaat benda atau manfaat tenaga/kerja, termasuk jelas harga atau upahnya). 3. Pekerjaan yang diakadkan secara hakiki maupun syar‘i harus mampu dikerjakan oleh ajir. Seorang ajir tidak boleh dibebani pekerjaan kecuali yang mampu ia kerjakan. 4. Adanya kemampuan menyerahkan benda/sesuatu yang di-ijârah-kan dengan manfaat yang disepakati. 5. Manfaat yang di-ijârah-kan adalah mubah (tidak haram/bukan kewajiban). SYARAT IJARAH [Yahya Abdurrahman, Majalah al-Wa’ie No. 65, 01/01/2006]
  • 7.
    (B) SYARAT IN’IQAD(Syarat terjadinya akad) • Orang yang berakad harus mukallaf, yaitu baligh dan berakal, sedangkan anak mumayyiz belum dapat dikategorikan ahli akad. • Objek ijarah boleh diserahkan dan dipergunakan secara langsung dan tidak bercacat. • Objek ijarah sesuatu yang dihalalkan oleh syara’ dan merupakan sesuatu yang bisa disewakan. SYARAT IJARAH [Yahya Abdurrahman, Majalah al-Wa’ie No. 65, 01/01/2006]
  • 8.
    RUKUN IJARAH ADA 3RUKUN: 1. ‘Aqidân atau dua pihak yang berakad, yakni musta’jir (majikan atau pihak yang menyewa) dengan ajîr (pekerja) dalam ijârah al-ajîr, atau dengan mu’jir (pihak yang menyewakan sesuatu). Kedua pihak itu haruslah pihak yang sah melakukan akad, yaitu berakal. 2. Ijab dan qabul. Redaksi ijab dan qabul ini bisa menggunakan kata ijârah atau al-kirâ’ atau ungkapan yang semakna, yaitu yang menunjukkan secara jelas makna kontrak, kerja, atau sewa. 3. Obyek akad haruslah dapat diambil manfaatnya. [Yahya Abdurrahman, Majalah al-Wa’ie No. 65, 01/01/2006]
  • 9.
    Dari segi OBJEKnya,dibagi menjadi 2 (dua) macam: 1. Aijarah ‘Ala Al-manafi’ (Sewa-menyewa) Adalah praktik ijarah yang berkutat pada pemindahan manfaat terhadap barang. Barang yang boleh disewakan adalah barang-barang mubah misal sawah untuk ditanami, mobil untuk dikendarai, rumah untuk ditempati. 2. Upah Mengupah Disebut juga dengan jual beli jasa. Idealnya diakukan seketika itu juga. Tetapi boleh dilakukan dengan perjanjian, dan pembayarannya sesuai perjanjian juga. MACAM-MACAM IJARAH Ada 2 macam pekerja: (1) Ajir (tenaga kerja) khusus, yaitu orang yang bekerja pada satu orang untuk masa tertentu. (2) Ajir (tenaga kerja) musyatarak, yaitu orang yang bekerja untuk lebih dari satu orang, sehingga mereka bersekutu di dalam memanfaatkan tenaganya.
  • 10.
    AKIBAT HUKUM AKADIJARAH TERHADAP PIHAK YANG BERKAD (SEWA-MENYEWA) a) Pemberi sewa (muajjir), memperoleh pembayaran sewa biaya dari penyewa (musta’jir) dan dapat mengakhiri akad ijarah serta menarik objek ijarah apabila penyewa tidak mampu membayar sewa sebagaimana diperjanjikan. b) Kewajiban Pemberi sewa (muajjir), antara lain, yaitu: a) Menyediakan objek ijarah yang disewakan. b) Menanggung biaya pemeliharaan objek ijarah. c) Menjamin objek ijarah yang disewakan tidak terdapat cacat dan dapat berfungsi dengan baik. Anshori, Hukum Perjanjian, (Yogyakarta: Gajah Mada University, 2010 ), hal. 73.
  • 11.
    AKIBAT HUKUM AKADIJARAH TERHADAP PIHAK YANG BERKAD (SEWA-MENYEWA) c) Hak penyewa (musta’jir), antara lain meliputi yaitu: 1. Menerima objek ijarah dalam keadaan baik dan siap dioperasikan. 2. Menggunakan objek ijarah yang disewakan sesuai dengan persyaratan- persyaratan yang diperjanjikan. d) Kewajiban penyewa antara lain meliputi: 1. Membayar sewa dan biaya-biaya lainnya sesuai yang diperjanjikan. 2. Mengembalikan objek ijarah apabila tidak mampu membayar sewa. 3. Menjaga dan menggunakan objek ijarah sesuai yang diperjanjikan. 4. Tidak menyewakan kembali atau tidak memindahtangankan objek ijarah k epada pihak lain. Anshori, Hukum Perjanjian, (Yogyakarta: Gajah Mada University, 2010 ), hal. 73.
  • 12.
    AKIBAT HUKUM AKADIJARAH TERHADAP PIHAK YANG BERKAD (UPAH-MENGUPAH) a) Hak – hak yang diterima pekerja adalah: 1. Mereka para pekerja harus diperlakukan sebagai manusia, tidak sebagai binatang beban. 2. Mewujudkan ketercukupan 3. Kemuliaan dan kehormatan haruslah senantiasa melekat pada mereka. 4. Mereka harus menerima upah yang layak dan segera dibayarkan. 5. Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum. Muhammad Sharif Chaudry, Sistem Ekonomi Islam, (Jakarta: Kencana, 2012 ), hal 192.
  • 13.
    AKIBAT HUKUM AKADIJARAH TERHADAP PIHAK YANG BERKAD (UPAH-MENGUPAH) b) Kewajiban yang dilakukan pekerja adalah: 1. Mengetahui hal-hal yang diwajibkan dalam suatu pekerjaan se hingga orang melakukan pekerjaan dapat memenuhi hal-hal y ang diperlukan dan ia pun dapat me ekuni pekerjaannya dan menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya. 2. Menunaikan janji 3. Beritiqad baik dalam melakukan aktifitas pekerjaannya. 4. Berusaha mewujudkan keamanan. 5. Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum. [Jaribah Al-Haritsi, Fikih Ekonomi Umar bin Al-Khathab, (Jakarta: Pustaka Al Kautsar Group), hal. 674]
  • 14.
    Akad ijarah dapatberakhir karena hal-hal berikut: 1. Objek hilang, rusak atau musnah. 2. Tenggang waktu yang disepakati dalam akad ijarah telah berakhir. 3. Menurut ulama Hanafiyah, wafatnya seorang yang berakad. 4. Pembatalan oleh salah satu pihak yang berakad (iqolah). BERAKHIRNYA AKAD IJARAH [Hasan, Berbagai macam transaksi, (Jakarta: Raja Grafindo Perkasa, 2004), hal. 236]
  • 15.