QARDH dan ARIYAH
Pengertian Qardh
Di dalam fiqih Islam, hutang piutang telah dikenal
dengan istilah Al-Qardh.
Sedangkan pengertian istilah Qardh menurut ulama :
• Hanafiyah berpendapat qardh adalah: harta
yang diberikan seseorang untuk kemudian dibayar
atau dikembalikan.
• Safi‟iyah berpendapat qardh adalah: sesuatu
yang diberikan kepada orang lain , yang suatu
saat harus di kembalikan.
• Hanbaliyah berpendapat qardh
adalah: memberikan harta kepada orang yang
memanfaatkannya dan kemudian
mengembalikan penggantiannya.
Dasar Hukum Qardh

Al-qardh dibolehkan dalam Islam, tidak
hanya itu Allah juga menawarkan
bahwa barangsiapa yang
berkehendak membantu meringankan
beban orang lain dengan memberi
pinjaman yang baik, maka Allah akan
melipat gandakan pengembaliannya
Artinya: “Siapakah yang mau meminjamkan
kepada Allah pinjaman yang baik, Allah akan
melipatgandakan (balasan) pinjaman
untuknya dan dia akan memperoleh pahala
yang banyak.” (QS. Al-Hadiid: 11)
Artinya: Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah
berkata: aku melihat pada waktu malam diisra’kan,
pada pintu surga tertulis: sedekah dibalas sepuluh kali
lipat dan qardh delapan belas kali. Aku bertanya,
Wahai jibril, mengapa qardh lebih utama dari
sedekah? Ia menjawab, karena peminta-minta
sesuatu dan ia punya, sedangkan yang meminjam
tidak akan meminjam kecuali karena keperluan. (HR
Ibnu Majah dan Baihaqi)
Dari macam-macam qardh ini
dikelompokkan menjadi tiga
komponen, yaitu: dilihat dari segi
subjectnya (pemberi hutang), dari
segi kuat lemahnya bukti, dan dari
segi waktu pelunasannya.
Dilihat dari pihak pemberi hutang

Duyun Allah
atau
hutang kepada Allah

Duyun al-Ibad
atau
hutang kepada sesama manusia
Dilihat dari segi kuat atau lemahnya
pembuktian keberannya

Duyun as-Sihah

Duyun al-Marad
Dilihat dari segi waktu pelunasannya

Duyun al-Halah

Duyun al-Mujjalah
Rukun Qardh
Adapun yang menjadi rukun qardh adalah:
1. Muqridh (pemilik barang atau yang memberikan
pinjaman),
2. Muqtaridh (peminjam),
3. Qardh (objek atau barang yang dipinjamkan),
4. Serah terima (Ijab qabul).
Syarat Qardh
1. Orang yang melakukan akad (Muqridh dan muqtaridh) harus
baligh, dan berakal.
2. Qardh (objek) berupa harta yang bisa dimanfaatkan
3. Dana yang digunakan ada manfaatnya.
4. Aqad hutang piutang tidak boleh dikaitkan dengan suatu
persyaratan di luar hutang piutang itu sendiri yang
menguntungkan pihak muqridh.
5. Ada kesepakatan diantara kedua belah pihak (ijab dan
qabul).
Pengertian Ariyah
„Aariyah menurut etimologi diambil dari kata „Aara yang
berarti datang dan pergi. Menurut sebagian pendapat
„Aariyah berasal dari kata at-Ta’aawuru, yang berarti saling
menukar dan mengganti, yakni dalam tradisi pinjam
meminjam.
Menurut terminologi syara‟ ulama fiqh berbeda pendapat
dalam mendefinisikannya, antara lain :
• Menurut Syarkhasyi dan ulama Malikiyah, „Aariyah adalah
“Pemilikan atas manfaat suatu benda tanpa pengganti”.
• Menurut Syafi‟iyah dan Hambaliyah, „Aariyah adalah
“Pembolehan untuk mengambil manfaat tanpa
mengganti”
• Secara operasional, „Aariyah adalah sesuatu yang
diberikan kepada orang yang bisa memanfaatkannya
hingga waktu tertentu kemudian dikembalikan kepada
pemiliknya.
“ Dan saling tolong menolonglah kamu dalam
kebajikan dan ketaqwaan dan jangan tolong
menolong dalam berbuat dosa dan
permusuhan.”
Artinya :
” dari sahabat ibnu mas’ud bahwa nabi
Muhammad SAW bersabda: tidak ada
seorang muslim yang meminjami muslim
lainnya dua kali kecuali yang satunya
seperti shodaqoh.”
Macam-macam Ariyah

Ariyah

„Ariyah Mutlaq

„Ariyah Muqayyad
Rukun Ariyah
1. Ada yang meminjamkan
2. Ada yang meminjam
3. Ada barang yang dipinjam
4. Ada lafadz.

Syarat Ariyah
1. Pemberi pinjaman hendaknya orang yang baik
hati.
2. Manfaat dari barang yang dipinjamkan itu
hendaklah milik dari yang meminjamkan.
3. Barang yang dipinjamkan hendaklah ada
manfaatnya.
4. Barang pinjaman harus tetap utuh, tidak boleh
rusak setelah diambil manfaatnya
Qardh secara etimologis adalah potongan. Secara
istilah bisa diterjemahkan sebagai pinjaman uang.
Sedangkan pinjaman barang dalam bahasa fikih
biasanya disebut ‟ariyah.

Perbedaan lain antara ‟Aariyah dengan Qardh
adalah pada objeknya. Jika ‟Aariyah adalah
antara barang yang dipinjam kemudian
dikembalikan adalah barang yang harus sama
wujudnya. Sedangkan Qardh, pengembalian
barang pinjaman tidak harus barang yang sama
wujudnya, akan tetapi memiliki nilai yang sama.
Misalnya dalam hal peminjaman uang.
Hikmah pinjam meminjam tidak jauh berbeda dengan
hikmah yang terkandung pada qardh. Karena keduanya
sama memberikan kegembiraan terhadap orang yang
mendapat kesusahan, menghilangkan bencana, terjalin
kasih mengasihi, sayang menyayangi.
Di sisi Alloh yang memberi pinjaman tercatat sebagai
pelaku kebaikan diberi pahala yang besar dan disenangi
oleh sesama serta di akherat terhindar dari ancaman
Alloh.
Allah telah menakut-nakuti orang yang enggan menolong
dengan barang berguna berupa ancaman neraka Wail
dan siksa-an yang pedih. Allah swt. Berfirman dalam
QS., al-Ma‟un 4-7,
“Maka celakalah bagi orang-orarg yang shalat. (Yaitu)
orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang
berbuat riya. Dan enggan (menolong dengan) barang
berguna.”
Http://mugnisulaeman.blogspot.com

Qardh dan Ariyah

  • 1.
  • 2.
    Pengertian Qardh Di dalamfiqih Islam, hutang piutang telah dikenal dengan istilah Al-Qardh. Sedangkan pengertian istilah Qardh menurut ulama : • Hanafiyah berpendapat qardh adalah: harta yang diberikan seseorang untuk kemudian dibayar atau dikembalikan. • Safi‟iyah berpendapat qardh adalah: sesuatu yang diberikan kepada orang lain , yang suatu saat harus di kembalikan. • Hanbaliyah berpendapat qardh adalah: memberikan harta kepada orang yang memanfaatkannya dan kemudian mengembalikan penggantiannya.
  • 3.
    Dasar Hukum Qardh Al-qardhdibolehkan dalam Islam, tidak hanya itu Allah juga menawarkan bahwa barangsiapa yang berkehendak membantu meringankan beban orang lain dengan memberi pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat gandakan pengembaliannya
  • 4.
    Artinya: “Siapakah yangmau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” (QS. Al-Hadiid: 11)
  • 5.
    Artinya: Anas binMalik berkata bahwa Rasulullah berkata: aku melihat pada waktu malam diisra’kan, pada pintu surga tertulis: sedekah dibalas sepuluh kali lipat dan qardh delapan belas kali. Aku bertanya, Wahai jibril, mengapa qardh lebih utama dari sedekah? Ia menjawab, karena peminta-minta sesuatu dan ia punya, sedangkan yang meminjam tidak akan meminjam kecuali karena keperluan. (HR Ibnu Majah dan Baihaqi)
  • 6.
    Dari macam-macam qardhini dikelompokkan menjadi tiga komponen, yaitu: dilihat dari segi subjectnya (pemberi hutang), dari segi kuat lemahnya bukti, dan dari segi waktu pelunasannya.
  • 7.
    Dilihat dari pihakpemberi hutang Duyun Allah atau hutang kepada Allah Duyun al-Ibad atau hutang kepada sesama manusia
  • 8.
    Dilihat dari segikuat atau lemahnya pembuktian keberannya Duyun as-Sihah Duyun al-Marad
  • 9.
    Dilihat dari segiwaktu pelunasannya Duyun al-Halah Duyun al-Mujjalah
  • 10.
    Rukun Qardh Adapun yangmenjadi rukun qardh adalah: 1. Muqridh (pemilik barang atau yang memberikan pinjaman), 2. Muqtaridh (peminjam), 3. Qardh (objek atau barang yang dipinjamkan), 4. Serah terima (Ijab qabul). Syarat Qardh 1. Orang yang melakukan akad (Muqridh dan muqtaridh) harus baligh, dan berakal. 2. Qardh (objek) berupa harta yang bisa dimanfaatkan 3. Dana yang digunakan ada manfaatnya. 4. Aqad hutang piutang tidak boleh dikaitkan dengan suatu persyaratan di luar hutang piutang itu sendiri yang menguntungkan pihak muqridh. 5. Ada kesepakatan diantara kedua belah pihak (ijab dan qabul).
  • 11.
    Pengertian Ariyah „Aariyah menurutetimologi diambil dari kata „Aara yang berarti datang dan pergi. Menurut sebagian pendapat „Aariyah berasal dari kata at-Ta’aawuru, yang berarti saling menukar dan mengganti, yakni dalam tradisi pinjam meminjam. Menurut terminologi syara‟ ulama fiqh berbeda pendapat dalam mendefinisikannya, antara lain : • Menurut Syarkhasyi dan ulama Malikiyah, „Aariyah adalah “Pemilikan atas manfaat suatu benda tanpa pengganti”. • Menurut Syafi‟iyah dan Hambaliyah, „Aariyah adalah “Pembolehan untuk mengambil manfaat tanpa mengganti” • Secara operasional, „Aariyah adalah sesuatu yang diberikan kepada orang yang bisa memanfaatkannya hingga waktu tertentu kemudian dikembalikan kepada pemiliknya.
  • 12.
    “ Dan salingtolong menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketaqwaan dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
  • 13.
    Artinya : ” darisahabat ibnu mas’ud bahwa nabi Muhammad SAW bersabda: tidak ada seorang muslim yang meminjami muslim lainnya dua kali kecuali yang satunya seperti shodaqoh.”
  • 14.
  • 15.
    Rukun Ariyah 1. Adayang meminjamkan 2. Ada yang meminjam 3. Ada barang yang dipinjam 4. Ada lafadz. Syarat Ariyah 1. Pemberi pinjaman hendaknya orang yang baik hati. 2. Manfaat dari barang yang dipinjamkan itu hendaklah milik dari yang meminjamkan. 3. Barang yang dipinjamkan hendaklah ada manfaatnya. 4. Barang pinjaman harus tetap utuh, tidak boleh rusak setelah diambil manfaatnya
  • 16.
    Qardh secara etimologisadalah potongan. Secara istilah bisa diterjemahkan sebagai pinjaman uang. Sedangkan pinjaman barang dalam bahasa fikih biasanya disebut ‟ariyah. Perbedaan lain antara ‟Aariyah dengan Qardh adalah pada objeknya. Jika ‟Aariyah adalah antara barang yang dipinjam kemudian dikembalikan adalah barang yang harus sama wujudnya. Sedangkan Qardh, pengembalian barang pinjaman tidak harus barang yang sama wujudnya, akan tetapi memiliki nilai yang sama. Misalnya dalam hal peminjaman uang.
  • 17.
    Hikmah pinjam meminjamtidak jauh berbeda dengan hikmah yang terkandung pada qardh. Karena keduanya sama memberikan kegembiraan terhadap orang yang mendapat kesusahan, menghilangkan bencana, terjalin kasih mengasihi, sayang menyayangi. Di sisi Alloh yang memberi pinjaman tercatat sebagai pelaku kebaikan diberi pahala yang besar dan disenangi oleh sesama serta di akherat terhindar dari ancaman Alloh. Allah telah menakut-nakuti orang yang enggan menolong dengan barang berguna berupa ancaman neraka Wail dan siksa-an yang pedih. Allah swt. Berfirman dalam QS., al-Ma‟un 4-7, “Maka celakalah bagi orang-orarg yang shalat. (Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna.”
  • 18.