TEORI HARTA
(PENGERTIAN, KEDUDUKAN, FUNGSI DAN
PEMBAGIANNYA)
•

•

•

Menurut Wahbah Zuhaili, al maal
didefinisikan sebagai segala sesuatu yang
dapat mendatangkan ketenangan dan dapat
dimiliki manusia dengan sebuah upaya baik
itu berupa zat maupun manfaat.
Menurut Hanafiyah, al maal adalah sesuatu
yang mungkin dimiliki, disimpan dan
dimanfaatkan.
Pendapat Mayoritas Ulama, al maal adalah
segala sesuatu yang memilki nilai dimana
bagi orang yang merusaknya, berkewajiban
untuk menanggung atau menggantinya.






Madzab Maliki mendefinisikan hak milik menjadi
dua macam. Pertama, adalah hak yang melekat
pada seseorang yang menghalangi orang lain
untuk menguasainya. Kedua, sesuatu yang diakui
sebagai hak milik secara ’uruf (adat).
Madzab Syafi’i mendefinisikan hak milik juga
menjadi dua macam. Pertama, adalah sesuatu
yang bermanfaat bagi pemiliknya; kedua, bernilai
harta.
Hambali juga mendefinisikan hak milik menjadi
dua macam. Pertama, sesuatu yang mempunyai
nilai ekonomi; kedua, dilindungi undang-undang.


Dalam Al-Qur’an bahwa harta adalah
perluasan hidup. Pada Al-Qur’an surat ALKahfi: 46 dan surat An-Nisa: 14 dijelaskan
bahwa kebutuhan manusia terhadap harta
sama dengan kebutuhan manusia terhadap
anak atau keturunan, maka kebutuhan
manusia terhadap harta adalah kebutuhan
yang mendasar.
•

•

•
•

•

manusia bukan pemilik mutlak,tetapi dibatasi oleh hakhak Allah, maka wajib baginya untuk mengeluarkan
sebagian kecil hartanya untuk berzakat dan ibadah
lainnya.
cara-cara pengambilan manfat harta mengarah kepada
kemakmuran bersama, pelaksanannya dapat diatur oleh
masyarakat melalui wakil-wakilnya.
harta perorangan boleh digunakan untuk umum, dengan
syarat pemiliknya mendapat imbalan yang wajar.
masyarakat tidak boleh mengganggu dan melanggar
kepentingan pribadi, selama tidak merugikan orang lain
dan mayarakat.
karena pemilikan manfaat berhubungan serta dengan
hartanya, maka pemilik boleh untuk memindahkan hak
miliknya kepada orang lain, misalnya dengan cara
menjualnya, menghibahkannya dan sebagainya.
dalam kaitan ini dapat dijelaskan beberapa larangan yang berkenaan
dengan harta dan berkaitan dengan aktivitas ekonomi, produksi, distribusi
dan konsumsi harta :
1. Perkara-perkara yang merendahkan martabat manusia
2.Perkara yang merugikan hak perorangan dan kepentingan sebagian dan
keseluruhan masyarakat, berupa perdagangan yang berupa bunga
3. Penimbunan harta dengan jalan kikir, orang-orang yang menimbun dengan
maksud meninggikan harga sehingga ia mendapat keuntungan yang berlipat
ganda.
4. Aktivitas yang merupakan pemborosan (mubazir), baik pemborosan yang
menghabiskan harta pribadi, perusahaahn, masyarakat atau negara maupun
yang sifatnya mengeksploitasi sumber-sumber alam dan tidak
memperhatikan kelestarian lingkungan (ekologi).
5. Memproduksi, memperdagangkan dan mengkonsumsi barang-barang
terlarang seperti narkotika dan minuman keras kecuali untuk kepentingan
ilmu pengetahuan dan kesehatan.
•
Fungsi harta dengan ketentuan syara’ :
 Untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah yang
khas (mahdhah)
 Untuk meningkatkan keimanan (ketaqwaan) kepada
Allah swt
 Untuk menyelaraskan kehidupan dunia dan akhirat
 Untuk meneruskan satu periode ke periode berikutnya
 Untuk mengembangkan dan menegakkan ilmu-ilmu,
karena menuntut ilmu tanpa modal akan teras sulit.
 Untuk memutarkan (mentasharuf) peranan-peranan
kehidupan yakni adanya pembantu dan tuan.
 Untuk menumbuhkan silaturahmi
Para ulama fiqh membagi harta dari beberapa segi. Harta terdiri dari beberapa
bagian, tiap-tiap bagian memiliki ciri khusus dan hukumnya tersendiri.
Pembagian harta adalah sebagai berikut :
1. Mal mutaqawwim adalah sesuatu yang dapat diambil manfaatnya menurut syara’.
Harta ini ialah semua harta yang baik jenisnya maupun cara memperolehnya dan
penggunaanya.
2. Mal ghoiru mutaqqawim adalah sesuatu yang tidak dapat diambil manfaatnya
menurut syara’.
3. Mal mitsli ialah benda-benda yang ada persamaannya dengan kesatuankesatuannya, dalam artian dapat berdiri sebagiannya ditempat yang lain tanpa
ada perbedaan yang perlu dinilai.
4. Mal qimi ialah benda-benda yang kurang dalam kesatuan-kesatuannya karena
tidak dapat berdiri sebagian tempat sebagian yang lainnya tanpa perbedaan.
5. Mal istihlak ialah sesuatu yang dapat diambil kegunaan dan manfaatnya secara
biasa, kecuali dengan menghabiskannya. Harta istihlak terbagi menjadi dua ,
yaitu istihlak haqiqi ialah suatu benda yang menjadi harta secara jelas zatnya
habis dalam sekali digunakan. Harta istihlak buqiqi ialah harta yang sudah
habis nilanya bila telah digunakan, tetapi zatnya tetap ada.
6. Mal isti’mal ialah sesuatu yang dapat digunakan berulang kali dan materinya
tetap terpelihara.

7. Harta Mangul ialah segala harta yang dapat dipindahkan dari satu

tempat ke tempat lain.
8. Harta ghoiru mangul ialah sesuatu yang tidak dapat dipindahkan
dari satu tempat ketempat lainnya.
9. Harta ‘Ain adalah harta yang berbentuk benda. Harta ‘ain dibagi
menjadi 2, yaitu harta ‘ain dzati qimah ialah benda yang
memiliki bentuk yang dipandang sebagai harta karena memiliki
nilai. Harta ‘ain ghoiru dzati qimah ialah benda yang tidak
dapat dipandang sebagai harta karena tidak memiliki harga.
10. Harta Dayn (hutang) ialah sesuatu yang berada dalam tanggung
jawab. Seperti uang yang berada dalam tanggung jawab
seseorang.
11. Mal Al-’ain ialah benda yang memiliki nilai dan berwujud.
12. Mal Al-nafi ialah ar-raad yang berangsur-angsur tumbuh
menurut perkembangan masa, oleh karena itu mal al-nafi tidak
berwujud dan tidak bisa disimpan.
Mamluk ialah sesuatu yang masuk kebawah milik, milik perorangan maupun
milik badan hukum. Harta mamluk terbagi menjadi dua macam, yaitu harta
perorangan yang bukan berpautan dengan hak bukan pemilik, selanjutnya harta
pengkongsian antara dua pemilik yang berkaitan dengan hak yang bukan
pemiliknya.
14. Harta Mubah ialah sesuatu yang asalnya bukan milik seseorang, seperti air pada
mata air, binatang buruan darat, laut, pohon-pohon dihutan dan buahbuahannya.
15. Harta Mahjur ialah sesuatu yang tidak boleh dimiliki sendiri dan memberikan
kepada orang lain menurut syariat, adakalanya benda itu benda wakaf ataupun
benda yang dikhususkan untuk masyarakat umum.
16. Harta yang dapat dibagi ialah harta yang tidak menimbulkan suatu kerugian
atau kerusakan apabila harta itu dibagi-bagi, misalnya beras tepung dan lainnya.
17. Harta yang tidak dapat dibagi ialah harta yang menimbulkan suatu kerugian
atau kerusakan apabila harta tersebut dibagi-bagi, misalnya gelas, kursi, meja,
mesin, dan lainnya.
18. Harta pokok adalah harta yang mungkin darinya terjadi harta yang lain.
19. Harta hasil ialah harta yang terjadi dari harta yang lain. Pokok harta itu
disebut modal, misalnya uang, emas dan lainnya.
20. Harta khas ialah harta pribadi, tidak bersekutu dengan yang lain, tidak boleh
diambil manfaatnya tanpa disetujui pemiliknya.
21. Harta ‘am ialah harta milik umum (bersama) yang boleh diambil manfaatnya.
13

. Harta

















Harta adalah segala sesuatu yang dimanfaatkan kepada sesuatu yang legal menurut hokum
syara’ (hukum Islam) seperti jual beli, pinjaman, konsumsi, dan hibbah atau pemberian.
Jadi, apapun yang digunakan manusia dalam kehidupan dunia merupakan harta.
Pandangan Islam terhadap harta adalah pandangan yang tegas dan bijaksana, karena Allah
SWT. menjadikan harta sebagai hak milik-Nya, kemudian harta ini diberikan kepada orang
yang dikehendakinya untuk dibelanjakan pada jalan Allah. Harta yang baik adalah harta jika
diperoleh dari yang halal dan digunakan pada tempatnya. Harta menurut pandangan Islam
adalah kebaikan bukan suatu keburukan. Oleh karena itu harta tersebut tidaklah tercela
menurut pandangan Islam dan Karen itu pula Allah rela memberikan harta itu kepada
hamba-Nya. Dan kekayaan adalah suatu nikmat dari Allah sehingga Allah SWT. telah
memberikan pula beberapa kenikmatan kepada Rasul-Nya berupa kekayaan
Ada beberapa pembagian harta, yaitu.
1.
Mal Mutaqawwimin dan Ghoiru Mutaqawwimin
2.
Mal Mitsli dan Mal Qimi
3.
Harta Istihlak dan Harata Isti’mal
4.
Harta Manqun dan Harata Ghoiru Manqul
5.
Harta ‘Ain dan Harta Dayn
6.
Mal al-‘ain dan mal an-nafi (manfaat)
7.
Harta Mamluk, Mubah dan Manjur
8.
Harta yang dapat dibagi dan tidak dapat dibagi
9.
Harta Pokok dan Harta Hasil
10. Harta Khos dan ‘am
SEKIAN
DAN
TERIMA

KASIH

Teori Harta Dalam Islam

  • 1.
    TEORI HARTA (PENGERTIAN, KEDUDUKAN,FUNGSI DAN PEMBAGIANNYA)
  • 2.
    • • • Menurut Wahbah Zuhaili,al maal didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dapat mendatangkan ketenangan dan dapat dimiliki manusia dengan sebuah upaya baik itu berupa zat maupun manfaat. Menurut Hanafiyah, al maal adalah sesuatu yang mungkin dimiliki, disimpan dan dimanfaatkan. Pendapat Mayoritas Ulama, al maal adalah segala sesuatu yang memilki nilai dimana bagi orang yang merusaknya, berkewajiban untuk menanggung atau menggantinya.
  • 3.
       Madzab Maliki mendefinisikanhak milik menjadi dua macam. Pertama, adalah hak yang melekat pada seseorang yang menghalangi orang lain untuk menguasainya. Kedua, sesuatu yang diakui sebagai hak milik secara ’uruf (adat). Madzab Syafi’i mendefinisikan hak milik juga menjadi dua macam. Pertama, adalah sesuatu yang bermanfaat bagi pemiliknya; kedua, bernilai harta. Hambali juga mendefinisikan hak milik menjadi dua macam. Pertama, sesuatu yang mempunyai nilai ekonomi; kedua, dilindungi undang-undang.
  • 4.
     Dalam Al-Qur’an bahwaharta adalah perluasan hidup. Pada Al-Qur’an surat ALKahfi: 46 dan surat An-Nisa: 14 dijelaskan bahwa kebutuhan manusia terhadap harta sama dengan kebutuhan manusia terhadap anak atau keturunan, maka kebutuhan manusia terhadap harta adalah kebutuhan yang mendasar.
  • 5.
    • • • • • manusia bukan pemilikmutlak,tetapi dibatasi oleh hakhak Allah, maka wajib baginya untuk mengeluarkan sebagian kecil hartanya untuk berzakat dan ibadah lainnya. cara-cara pengambilan manfat harta mengarah kepada kemakmuran bersama, pelaksanannya dapat diatur oleh masyarakat melalui wakil-wakilnya. harta perorangan boleh digunakan untuk umum, dengan syarat pemiliknya mendapat imbalan yang wajar. masyarakat tidak boleh mengganggu dan melanggar kepentingan pribadi, selama tidak merugikan orang lain dan mayarakat. karena pemilikan manfaat berhubungan serta dengan hartanya, maka pemilik boleh untuk memindahkan hak miliknya kepada orang lain, misalnya dengan cara menjualnya, menghibahkannya dan sebagainya.
  • 6.
    dalam kaitan inidapat dijelaskan beberapa larangan yang berkenaan dengan harta dan berkaitan dengan aktivitas ekonomi, produksi, distribusi dan konsumsi harta : 1. Perkara-perkara yang merendahkan martabat manusia 2.Perkara yang merugikan hak perorangan dan kepentingan sebagian dan keseluruhan masyarakat, berupa perdagangan yang berupa bunga 3. Penimbunan harta dengan jalan kikir, orang-orang yang menimbun dengan maksud meninggikan harga sehingga ia mendapat keuntungan yang berlipat ganda. 4. Aktivitas yang merupakan pemborosan (mubazir), baik pemborosan yang menghabiskan harta pribadi, perusahaahn, masyarakat atau negara maupun yang sifatnya mengeksploitasi sumber-sumber alam dan tidak memperhatikan kelestarian lingkungan (ekologi). 5. Memproduksi, memperdagangkan dan mengkonsumsi barang-barang terlarang seperti narkotika dan minuman keras kecuali untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan kesehatan. •
  • 7.
    Fungsi harta denganketentuan syara’ :  Untuk menyempurnakan pelaksanaan ibadah yang khas (mahdhah)  Untuk meningkatkan keimanan (ketaqwaan) kepada Allah swt  Untuk menyelaraskan kehidupan dunia dan akhirat  Untuk meneruskan satu periode ke periode berikutnya  Untuk mengembangkan dan menegakkan ilmu-ilmu, karena menuntut ilmu tanpa modal akan teras sulit.  Untuk memutarkan (mentasharuf) peranan-peranan kehidupan yakni adanya pembantu dan tuan.  Untuk menumbuhkan silaturahmi
  • 8.
    Para ulama fiqhmembagi harta dari beberapa segi. Harta terdiri dari beberapa bagian, tiap-tiap bagian memiliki ciri khusus dan hukumnya tersendiri. Pembagian harta adalah sebagai berikut : 1. Mal mutaqawwim adalah sesuatu yang dapat diambil manfaatnya menurut syara’. Harta ini ialah semua harta yang baik jenisnya maupun cara memperolehnya dan penggunaanya. 2. Mal ghoiru mutaqqawim adalah sesuatu yang tidak dapat diambil manfaatnya menurut syara’. 3. Mal mitsli ialah benda-benda yang ada persamaannya dengan kesatuankesatuannya, dalam artian dapat berdiri sebagiannya ditempat yang lain tanpa ada perbedaan yang perlu dinilai. 4. Mal qimi ialah benda-benda yang kurang dalam kesatuan-kesatuannya karena tidak dapat berdiri sebagian tempat sebagian yang lainnya tanpa perbedaan. 5. Mal istihlak ialah sesuatu yang dapat diambil kegunaan dan manfaatnya secara biasa, kecuali dengan menghabiskannya. Harta istihlak terbagi menjadi dua , yaitu istihlak haqiqi ialah suatu benda yang menjadi harta secara jelas zatnya habis dalam sekali digunakan. Harta istihlak buqiqi ialah harta yang sudah habis nilanya bila telah digunakan, tetapi zatnya tetap ada. 6. Mal isti’mal ialah sesuatu yang dapat digunakan berulang kali dan materinya tetap terpelihara. 
  • 9.
    7. Harta Mangulialah segala harta yang dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. 8. Harta ghoiru mangul ialah sesuatu yang tidak dapat dipindahkan dari satu tempat ketempat lainnya. 9. Harta ‘Ain adalah harta yang berbentuk benda. Harta ‘ain dibagi menjadi 2, yaitu harta ‘ain dzati qimah ialah benda yang memiliki bentuk yang dipandang sebagai harta karena memiliki nilai. Harta ‘ain ghoiru dzati qimah ialah benda yang tidak dapat dipandang sebagai harta karena tidak memiliki harga. 10. Harta Dayn (hutang) ialah sesuatu yang berada dalam tanggung jawab. Seperti uang yang berada dalam tanggung jawab seseorang. 11. Mal Al-’ain ialah benda yang memiliki nilai dan berwujud. 12. Mal Al-nafi ialah ar-raad yang berangsur-angsur tumbuh menurut perkembangan masa, oleh karena itu mal al-nafi tidak berwujud dan tidak bisa disimpan.
  • 10.
    Mamluk ialah sesuatuyang masuk kebawah milik, milik perorangan maupun milik badan hukum. Harta mamluk terbagi menjadi dua macam, yaitu harta perorangan yang bukan berpautan dengan hak bukan pemilik, selanjutnya harta pengkongsian antara dua pemilik yang berkaitan dengan hak yang bukan pemiliknya. 14. Harta Mubah ialah sesuatu yang asalnya bukan milik seseorang, seperti air pada mata air, binatang buruan darat, laut, pohon-pohon dihutan dan buahbuahannya. 15. Harta Mahjur ialah sesuatu yang tidak boleh dimiliki sendiri dan memberikan kepada orang lain menurut syariat, adakalanya benda itu benda wakaf ataupun benda yang dikhususkan untuk masyarakat umum. 16. Harta yang dapat dibagi ialah harta yang tidak menimbulkan suatu kerugian atau kerusakan apabila harta itu dibagi-bagi, misalnya beras tepung dan lainnya. 17. Harta yang tidak dapat dibagi ialah harta yang menimbulkan suatu kerugian atau kerusakan apabila harta tersebut dibagi-bagi, misalnya gelas, kursi, meja, mesin, dan lainnya. 18. Harta pokok adalah harta yang mungkin darinya terjadi harta yang lain. 19. Harta hasil ialah harta yang terjadi dari harta yang lain. Pokok harta itu disebut modal, misalnya uang, emas dan lainnya. 20. Harta khas ialah harta pribadi, tidak bersekutu dengan yang lain, tidak boleh diambil manfaatnya tanpa disetujui pemiliknya. 21. Harta ‘am ialah harta milik umum (bersama) yang boleh diambil manfaatnya. 13 . Harta
  • 11.
                 Harta adalah segalasesuatu yang dimanfaatkan kepada sesuatu yang legal menurut hokum syara’ (hukum Islam) seperti jual beli, pinjaman, konsumsi, dan hibbah atau pemberian. Jadi, apapun yang digunakan manusia dalam kehidupan dunia merupakan harta. Pandangan Islam terhadap harta adalah pandangan yang tegas dan bijaksana, karena Allah SWT. menjadikan harta sebagai hak milik-Nya, kemudian harta ini diberikan kepada orang yang dikehendakinya untuk dibelanjakan pada jalan Allah. Harta yang baik adalah harta jika diperoleh dari yang halal dan digunakan pada tempatnya. Harta menurut pandangan Islam adalah kebaikan bukan suatu keburukan. Oleh karena itu harta tersebut tidaklah tercela menurut pandangan Islam dan Karen itu pula Allah rela memberikan harta itu kepada hamba-Nya. Dan kekayaan adalah suatu nikmat dari Allah sehingga Allah SWT. telah memberikan pula beberapa kenikmatan kepada Rasul-Nya berupa kekayaan Ada beberapa pembagian harta, yaitu. 1. Mal Mutaqawwimin dan Ghoiru Mutaqawwimin 2. Mal Mitsli dan Mal Qimi 3. Harta Istihlak dan Harata Isti’mal 4. Harta Manqun dan Harata Ghoiru Manqul 5. Harta ‘Ain dan Harta Dayn 6. Mal al-‘ain dan mal an-nafi (manfaat) 7. Harta Mamluk, Mubah dan Manjur 8. Harta yang dapat dibagi dan tidak dapat dibagi 9. Harta Pokok dan Harta Hasil 10. Harta Khos dan ‘am
  • 12.