DESENTRALISASI
KELOMPOK 2 :
N. Sri Utami Putri
(115030107111053)
Rhisna Dyah A.D
(125030107111129)
Yuli Susantini
(125030101111031)
Sanfitra Adzanti
(125030100111194)
Sejarah Desentralisasi
 Politik desentralisasi
dan otoda“ rezim orba telah membuat
pemerintah daerah sangat tergantung kepada pemerintah pusat;
sebuah kondisi yang paradoks dengan makna konsep otonomi daerah.
 Selain ketergantungan, banyak daerah, khususnya “pemilik”
sumberdaya alam, seperti hutan dan tambang, tidak puas terhadap
pusat, akibat ketimpangan pembagian keuangan antara pusat dan
daerah.
 Gerakan reformasi membantu bangsa ini untuk memahami konsep
desentralisasi dengan lebih sehat dan adil, meski terus berusaha
menyempurnakan konsep yang ideal dalam pola hubungan antara
pusat dan daerah
Lanjutan …

 Pada masa penerapan UU No. 5/1974 (UU pokok-pokok
pemerintahan) dinamika hubungan pusat-daerah didominasi oleh
dinamika sentripetal (kekuasaan terpusat)
 Eforia reformasi melahirkan UU No. 22/1999. UU ini bergerak ke
pendulum yang sangat ekstrim. Tata-kelola pemerintahan daerah di
negeri ini mengalami lompatan kuantum dari yang serba-sentralistik
menuju ke yang serba-desentralistik (sentrifugal)
 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 mencoba merevisi (membagi
secara proporsional) dlm pola hub. Pusat dan daerah.
PENGERTIAN
DESENTRALISASI

 Desentralisasi menurut UU No. 32 tahun 2004 adalah penyerahan wewenang
pemerintahan oleh
Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus
urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
 Menurut Bird dan Vallaicort (2000) ada 3 variasai desentralisasi dalam
kaitannya dengan derajat kemandirian pengambilan keputusan keputusan yang di
lakukan daerah
 Pertama, desentralisasi berarti pelepasan tanggungjawab yang berada dalam
lingkungan pemerintah pusat ke instansi vertikal di daerah.
 Kedua, delegasi berhubungan dengan suatu situasi, yaitu daerah bertindak
sebagai wakil pemerintah untuk mlaksanakan fungsi2 tertentu atas nama
pemerintah.
 Ketiga, Devolusi (pelimpahan) berhubungan dg suatu situasi yang bukan saja
implementasi tetapi juga kewenangan untuk memutuskan apa yang perlu
dikerjakan di daerah.
DESENTRALISASI DALAM PANDANGAN TEORI UTAMA
Terdapat penafsiran teori- teori sosial
terhadap desentralisasi, antara lain
yaitu :

Teori pilihan
publik
Teori
demokrasi
liberal

Teori
Marsist

desentralisasi
Teori demokrasi liberal memberikan
dukungan bagi desentralisasi karena
mampu mendukung demokrasi pada dua
tingkatan, yaitu

Teori
demokrasi liberal

Local
government
Teori pilihan publik menyangkut penafsiran tentang desentralisasi yang
menunjukan adanya dukungan ahli ekonomi dalam teori ini terahadapnya. Para
ahli teori ini menganggap bahwa desentralisasi merupakan media yang penting
guna meningkatkan kesejahteraan pribadi.

Manfaat yang bisa dipetik dari local government dalam perspektif ini meliputi :
a. Adanya daya tanggap publik terhadap preferensi individual
b. Local government memiliki kemampuan untuk memenuhi permintaan akan
barang-barang publik
c. Desentralisasi mampu memberikan kepuasan yang lebih baik dalam
menyediakan penawaran barang-barang publik
Menurut pendukung teori ini, desentralisasi mengakibatkan adanya negara
pada tingkat local. Terdapat beberapa penjelasan yang
melandasi ketidakberpihakan pandangan ini terhadap desentralisasi.
a. Pandangan ini melihat bahwa pembagian wilayah dalam konteks
desentralisasi hanya akan menciptakan kondisi terjadinya akumulasi modal
sehingga memunculkan kembali kaum kapitalis.
b. Desentralisasi juga akan mempengaruhi konsumsi kolektif sehingga akan
dispolitisasi.
c. Lembaga-lembaga perwakilan dalam pemerintahan daerah tetap merupakan
simbol demokrasi liberal dan tetap akan dikuasai oleh kaum kapitalis.
d. Dalam kaitannya dengan hubungan antar pemerintahan, maka pemerintah
daerah hanya menjadi kepanjangan aparat pemerintah pusat untuk menjaga
kepentingan monopoly capital.
e.Terdapat berbagai rintangan mengenai bagaimana demokrasi lokal akan
berjalan dalam suasana desentralisasi.
14 alasan perlunya desentralisasi pemerintahan
dalam sebuah Negara (Rondineli dan Cheema)
1.
2.
3.

4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Alat utk mengatasi hambatan bawaan akibat perencanaan nasional yg terpusat.
Memotong rantai panjang prosedur birokrasi.
Meningkatkan kepekaan para pejabat ttg masalah dan kebutuhan masyarakat
daerah.
Memberi peluang lebih baik pada Pemerintah Pusat utk melakukan campur tangan
politik dan administrasi.
Memberi peluang lebih besar kpd perwakilan kelompok politik, agama, etnik, dll
dalam membuat keputusan utk pembangunan.
Meningkatkan kemampuan Pemda dan Lembaga Swasta Daerah.
Efisiensi pemerintahan, krn tugas rutin dilaksanakan oleh aparat di lapangan.
Koordinasi lintas departemen menjadi efektif.
Partisipasi masyarakat dapat dilembagakan secara efektif.
Melibatkan elit lokal.
Administrasi menjadi lebih luwes, inovatif, dan kreatif.
Penempatan pelayanan dan fasilitas ke dalam komunitas lebih efektif.
Meningkatkan stabilitas politik dan persatuan nasional.
Efisiensi manajemen barang dan jasa publik.
Hubungan antar
pemerintahan

RENTANG PENGERTIAN DESENTRALISASI

Di dalam kepustakaan
Amerika Serikat, Harold F.
Alderfer (1964: 176)
mengatakan bahwa ada
dua prinsip umum dalam
membedakan bagaimana
pemerintah pusat
mengalokasikan
kekuasaannya ke bawah.
a)deconcentration
b)decentralization

Di dalam khazanah
Inggris, desentralisasi
dimengerti dalam dua
jenis yang berbeda
menurut Conyers (1983:
102) yakni :
a)devolution
b)deconcentration
Hubungan antar
pemerintahan

Conyers (1986: 89) membagi jenis desentralisasi ini dan untuk menentukan
suatu negara berdasar jenis yang tampaknya didasarkan pada beberapa
petimbangan.

Menurut Alderfer, decentralization menyerupai dengan devolution menurut
Conyers. Sementara deconcentration yang mereka berdua pergunakan juga
menunjuk pada kondisi yang sama.

Rondinelli dan kawan-kawan lebih luas lagi dalam mengungkapkan jenis
desentralisasi (dalam Meenakshisundaram, 1999: 55-56) yakni:
a) deconcentration,
b) delegation
c) devolution, dan
d) privatization
Hubungan antar
pemerintahan

Rondinelli, McMullough, &
Jonhson (1989)
mengungkapkan bahwa
bentuk desentralisasi ada 5
macam:
1.Privatization
2.Deregulation of private
service provision
3.Devolution to local
goverment
4.Delegation to public
enterprises or publicly
regulated private enterprises
5.Deconcentration of central
goverment bureaucracy.

Pengertian desentralisasi tersebut
menyerupai jenis desentralisasi yang
diungkapkan oleh Cohen & Peterson
(1999) yang terbagi dalam
deconcentration, devolution, dan
delegation (yg mencakup pula
privatization). Jika semula privatisasi
berdiri sendiri, kini Cohen & Peterson
justru memasukannya sebagai bagian
delegasi. Pembedaan ini didasarkan
pada enam pendekatan, yakni:
pembedaan berdasar asal mula
sejarah, berdasarkan hierarki dan
fungsi, berdasarkan masalah yg diatasi
Hubungan antar
pemerintahan

Tipologi Desentralisasi
Dalam Arti Luas

Dekonsentrasi
Delegasi

Desentralisasi dalam
arti luas

Devolusi

Privatisasi

Deregulasi
PELAKSANAAN DESENTRALISASI
INDONESIA
• Dalam era reformasi kebijakan desentralisasi lebih berpihak pada kemandirian
daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan, atau penyelenggaraan
pemerintahan cenderung bersifat desentralis. Hal ini ditandai dengan
berlakunya UU Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang
kemudian direvisi menjadi UU Nomor 32 tahun 2004.
• Kebijakan ini tentunya sejalan dengan semangat reformasi, meskipun demikian
dalam implementasinya ternyata belum benar-benar dapat mewujudkan otonomi
daerah.
• Sebagian besar urusan pemerintahan telah diserahkan kepada daerah disertai
dengan dukungan fiskalnya, tetapi pengelolaannya belum berdampak signifikan
terhadap peningkatan kualitas pelayanan dan kesejahteraan masyarakat.
• Hal ini diantaranya terlihat dari: fenomena tingginya political cost yang harus
dikeluarkan untuk membiayai proses demokrasi di daerah, sementara di lain
pihak terdapat fenomena masih rendahnya tingkat pendidikan pada sebagian
besar lapisan masyarakat, tingginya angka kemiskinan di daerah-daerah, masih
rendahnya indeks pembangunan manusia, dan terbatasnya penyediaan sarana dan
prasarana pembangunan di berbagai daerah.
Dampak Desentralisasi
1.

Dampak Positif

a.

Dengan luasnya kewenangan bagi Daerah untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat, Daerah dapat lebih leluasa untuk meraih
kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan.

b.

Dengan adanya perimbangan keuangan antara Pusat dan Daerah yang relatif
lebih maju dibandingkan masa lalu, Daerah memiliki sumber dana yang relatif
memadai untuk membuat masyarakat sejahtera. Masalahnya lebih terletak pada
cara untuk mengalokasikan dana yang ada (manajemen pengeluaran). Selama
ini Pemerintah Daerah lebih banyak menaruh perhatian pada manajemen
penerimaan.
Muncul pusat-pusat pertumbuhan baru;
Muncul kebanggaan kedaerahan;
Terpenuhinya sebagian kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan,
kesehatan, penciptaan lapangan pekerjaan, fasilitas umum dlsb.
Terbangunnya secara bertahap sumberdaya manusia Daerah yang berkualitas.

c.
d.
e.
f.
2. Dampak Negatif

a.

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Pengurasan sumber daya alam dan sumber potensi masyarakat untuk mengejar
pertumbuhan dan kemajuan;
Konflik kepentingan antar daerah;
Pembangunan berorientasi kepentingan jangka pendek dan berskala lokal;
Dominasi pertimbangan politik;
Kesenjangan antardaerah dan antarmasyarakat;
Kerusakan lingkungan yang berdampak pada timbulnya bencana alam dan
munculnya varian penyakit baru.
Hilangnya flora dan fauna khas, yang dapat menjadi sumberdaya alam
terbarukan.
Erosi wawasan kebangsaaan.
Muncul penyakit moral yang baru yakni PEMBOROSAN.
Hubungan antar
pemerintahan

Desentralisasi Secara Luas dan Sempit

  • 1.
  • 2.
    KELOMPOK 2 : N.Sri Utami Putri (115030107111053) Rhisna Dyah A.D (125030107111129) Yuli Susantini (125030101111031) Sanfitra Adzanti (125030100111194)
  • 3.
    Sejarah Desentralisasi  Politikdesentralisasi dan otoda“ rezim orba telah membuat pemerintah daerah sangat tergantung kepada pemerintah pusat; sebuah kondisi yang paradoks dengan makna konsep otonomi daerah.  Selain ketergantungan, banyak daerah, khususnya “pemilik” sumberdaya alam, seperti hutan dan tambang, tidak puas terhadap pusat, akibat ketimpangan pembagian keuangan antara pusat dan daerah.  Gerakan reformasi membantu bangsa ini untuk memahami konsep desentralisasi dengan lebih sehat dan adil, meski terus berusaha menyempurnakan konsep yang ideal dalam pola hubungan antara pusat dan daerah
  • 4.
    Lanjutan …  Padamasa penerapan UU No. 5/1974 (UU pokok-pokok pemerintahan) dinamika hubungan pusat-daerah didominasi oleh dinamika sentripetal (kekuasaan terpusat)  Eforia reformasi melahirkan UU No. 22/1999. UU ini bergerak ke pendulum yang sangat ekstrim. Tata-kelola pemerintahan daerah di negeri ini mengalami lompatan kuantum dari yang serba-sentralistik menuju ke yang serba-desentralistik (sentrifugal)  Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 mencoba merevisi (membagi secara proporsional) dlm pola hub. Pusat dan daerah.
  • 5.
    PENGERTIAN DESENTRALISASI  Desentralisasi menurutUU No. 32 tahun 2004 adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Menurut Bird dan Vallaicort (2000) ada 3 variasai desentralisasi dalam kaitannya dengan derajat kemandirian pengambilan keputusan keputusan yang di lakukan daerah  Pertama, desentralisasi berarti pelepasan tanggungjawab yang berada dalam lingkungan pemerintah pusat ke instansi vertikal di daerah.  Kedua, delegasi berhubungan dengan suatu situasi, yaitu daerah bertindak sebagai wakil pemerintah untuk mlaksanakan fungsi2 tertentu atas nama pemerintah.  Ketiga, Devolusi (pelimpahan) berhubungan dg suatu situasi yang bukan saja implementasi tetapi juga kewenangan untuk memutuskan apa yang perlu dikerjakan di daerah.
  • 6.
    DESENTRALISASI DALAM PANDANGANTEORI UTAMA Terdapat penafsiran teori- teori sosial terhadap desentralisasi, antara lain yaitu : Teori pilihan publik Teori demokrasi liberal Teori Marsist desentralisasi
  • 7.
    Teori demokrasi liberalmemberikan dukungan bagi desentralisasi karena mampu mendukung demokrasi pada dua tingkatan, yaitu Teori demokrasi liberal Local government
  • 8.
    Teori pilihan publikmenyangkut penafsiran tentang desentralisasi yang menunjukan adanya dukungan ahli ekonomi dalam teori ini terahadapnya. Para ahli teori ini menganggap bahwa desentralisasi merupakan media yang penting guna meningkatkan kesejahteraan pribadi. Manfaat yang bisa dipetik dari local government dalam perspektif ini meliputi : a. Adanya daya tanggap publik terhadap preferensi individual b. Local government memiliki kemampuan untuk memenuhi permintaan akan barang-barang publik c. Desentralisasi mampu memberikan kepuasan yang lebih baik dalam menyediakan penawaran barang-barang publik
  • 9.
    Menurut pendukung teoriini, desentralisasi mengakibatkan adanya negara pada tingkat local. Terdapat beberapa penjelasan yang melandasi ketidakberpihakan pandangan ini terhadap desentralisasi. a. Pandangan ini melihat bahwa pembagian wilayah dalam konteks desentralisasi hanya akan menciptakan kondisi terjadinya akumulasi modal sehingga memunculkan kembali kaum kapitalis. b. Desentralisasi juga akan mempengaruhi konsumsi kolektif sehingga akan dispolitisasi. c. Lembaga-lembaga perwakilan dalam pemerintahan daerah tetap merupakan simbol demokrasi liberal dan tetap akan dikuasai oleh kaum kapitalis. d. Dalam kaitannya dengan hubungan antar pemerintahan, maka pemerintah daerah hanya menjadi kepanjangan aparat pemerintah pusat untuk menjaga kepentingan monopoly capital. e.Terdapat berbagai rintangan mengenai bagaimana demokrasi lokal akan berjalan dalam suasana desentralisasi.
  • 10.
    14 alasan perlunyadesentralisasi pemerintahan dalam sebuah Negara (Rondineli dan Cheema) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Alat utk mengatasi hambatan bawaan akibat perencanaan nasional yg terpusat. Memotong rantai panjang prosedur birokrasi. Meningkatkan kepekaan para pejabat ttg masalah dan kebutuhan masyarakat daerah. Memberi peluang lebih baik pada Pemerintah Pusat utk melakukan campur tangan politik dan administrasi. Memberi peluang lebih besar kpd perwakilan kelompok politik, agama, etnik, dll dalam membuat keputusan utk pembangunan. Meningkatkan kemampuan Pemda dan Lembaga Swasta Daerah. Efisiensi pemerintahan, krn tugas rutin dilaksanakan oleh aparat di lapangan. Koordinasi lintas departemen menjadi efektif. Partisipasi masyarakat dapat dilembagakan secara efektif. Melibatkan elit lokal. Administrasi menjadi lebih luwes, inovatif, dan kreatif. Penempatan pelayanan dan fasilitas ke dalam komunitas lebih efektif. Meningkatkan stabilitas politik dan persatuan nasional. Efisiensi manajemen barang dan jasa publik.
  • 11.
    Hubungan antar pemerintahan RENTANG PENGERTIANDESENTRALISASI Di dalam kepustakaan Amerika Serikat, Harold F. Alderfer (1964: 176) mengatakan bahwa ada dua prinsip umum dalam membedakan bagaimana pemerintah pusat mengalokasikan kekuasaannya ke bawah. a)deconcentration b)decentralization Di dalam khazanah Inggris, desentralisasi dimengerti dalam dua jenis yang berbeda menurut Conyers (1983: 102) yakni : a)devolution b)deconcentration
  • 12.
    Hubungan antar pemerintahan Conyers (1986:89) membagi jenis desentralisasi ini dan untuk menentukan suatu negara berdasar jenis yang tampaknya didasarkan pada beberapa petimbangan. Menurut Alderfer, decentralization menyerupai dengan devolution menurut Conyers. Sementara deconcentration yang mereka berdua pergunakan juga menunjuk pada kondisi yang sama. Rondinelli dan kawan-kawan lebih luas lagi dalam mengungkapkan jenis desentralisasi (dalam Meenakshisundaram, 1999: 55-56) yakni: a) deconcentration, b) delegation c) devolution, dan d) privatization
  • 13.
    Hubungan antar pemerintahan Rondinelli, McMullough,& Jonhson (1989) mengungkapkan bahwa bentuk desentralisasi ada 5 macam: 1.Privatization 2.Deregulation of private service provision 3.Devolution to local goverment 4.Delegation to public enterprises or publicly regulated private enterprises 5.Deconcentration of central goverment bureaucracy. Pengertian desentralisasi tersebut menyerupai jenis desentralisasi yang diungkapkan oleh Cohen & Peterson (1999) yang terbagi dalam deconcentration, devolution, dan delegation (yg mencakup pula privatization). Jika semula privatisasi berdiri sendiri, kini Cohen & Peterson justru memasukannya sebagai bagian delegasi. Pembedaan ini didasarkan pada enam pendekatan, yakni: pembedaan berdasar asal mula sejarah, berdasarkan hierarki dan fungsi, berdasarkan masalah yg diatasi
  • 14.
    Hubungan antar pemerintahan Tipologi Desentralisasi DalamArti Luas Dekonsentrasi Delegasi Desentralisasi dalam arti luas Devolusi Privatisasi Deregulasi
  • 15.
    PELAKSANAAN DESENTRALISASI INDONESIA • Dalamera reformasi kebijakan desentralisasi lebih berpihak pada kemandirian daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan, atau penyelenggaraan pemerintahan cenderung bersifat desentralis. Hal ini ditandai dengan berlakunya UU Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian direvisi menjadi UU Nomor 32 tahun 2004. • Kebijakan ini tentunya sejalan dengan semangat reformasi, meskipun demikian dalam implementasinya ternyata belum benar-benar dapat mewujudkan otonomi daerah. • Sebagian besar urusan pemerintahan telah diserahkan kepada daerah disertai dengan dukungan fiskalnya, tetapi pengelolaannya belum berdampak signifikan terhadap peningkatan kualitas pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. • Hal ini diantaranya terlihat dari: fenomena tingginya political cost yang harus dikeluarkan untuk membiayai proses demokrasi di daerah, sementara di lain pihak terdapat fenomena masih rendahnya tingkat pendidikan pada sebagian besar lapisan masyarakat, tingginya angka kemiskinan di daerah-daerah, masih rendahnya indeks pembangunan manusia, dan terbatasnya penyediaan sarana dan prasarana pembangunan di berbagai daerah.
  • 16.
    Dampak Desentralisasi 1. Dampak Positif a. Denganluasnya kewenangan bagi Daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, Daerah dapat lebih leluasa untuk meraih kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan. b. Dengan adanya perimbangan keuangan antara Pusat dan Daerah yang relatif lebih maju dibandingkan masa lalu, Daerah memiliki sumber dana yang relatif memadai untuk membuat masyarakat sejahtera. Masalahnya lebih terletak pada cara untuk mengalokasikan dana yang ada (manajemen pengeluaran). Selama ini Pemerintah Daerah lebih banyak menaruh perhatian pada manajemen penerimaan. Muncul pusat-pusat pertumbuhan baru; Muncul kebanggaan kedaerahan; Terpenuhinya sebagian kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan, kesehatan, penciptaan lapangan pekerjaan, fasilitas umum dlsb. Terbangunnya secara bertahap sumberdaya manusia Daerah yang berkualitas. c. d. e. f.
  • 17.
    2. Dampak Negatif a. b. c. d. e. f. g. h. i. Pengurasansumber daya alam dan sumber potensi masyarakat untuk mengejar pertumbuhan dan kemajuan; Konflik kepentingan antar daerah; Pembangunan berorientasi kepentingan jangka pendek dan berskala lokal; Dominasi pertimbangan politik; Kesenjangan antardaerah dan antarmasyarakat; Kerusakan lingkungan yang berdampak pada timbulnya bencana alam dan munculnya varian penyakit baru. Hilangnya flora dan fauna khas, yang dapat menjadi sumberdaya alam terbarukan. Erosi wawasan kebangsaaan. Muncul penyakit moral yang baru yakni PEMBOROSAN.
  • 18.