BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Al-Wadi’ah
Secara bahasa Al-Wadi’ah yang berasal dari kata Wada’a berarti
meninggalkan atau titipan (amanah), maksudnya adalah sesuatu yang
dititipkan baik harta, uang maupun pesan amanah.
Wadi’ah dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak
lain, baik individu ataupun badan hukum, yang harus dijaga dan
dikembalikan kapan saja ketika si penitip menghendaki.
Selain itu Wadi’ah dapat juga diartikan sebagai akad seseorang
kepada pihak lain dengan menitipkan suatu barang untuk dijaga secara
layak. Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa apabila ada kerusakan
pada benda titipan, bukan karena kelalaian si penerima titipan maka tidak
wajib baginya untuk mengganti, tetapi apabila kerusakan itu disebabkan
kelalaian si penerima titipan tersebut, maka ia wajib menggantinya.
B. Tabungan Wadi’ah
Tabungan wadi’ah merupakan tabungan yang dijalankan
berdasarkan akad wadi’ah yakni titipan murni yang harus dijaga dan di
kembalikan setiap saat sesuai dengan kehendak pemiliknya. Berkaitan
dengan tabungan wadi’ah bank syariah menggunakan akad wadiah yad
adh-dhamanah. Mengingat wadi’ah yad dhamanah mempunyai impikasi
hukum yang sama dengan qardh, maka nasabah penitip dan bank tidak
boleh saling menjanjikan untuk menghasilkan keuntungan harta tersebut.
Namun demikian bank diperkenankan memberikan bonus kepada pemilik
harta titipan selama tidak di isyaratkan di muka atau pemberian bonus
kebijakan dari bank syariah semata bersifat sukarela.
1. Ketentuan umum tabungan wadi’ah :
 Tabungan wadi’ah merupakan tabungan yang bersifat titipan
murni yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat sesuai
dengan kehendak pemilik harta.
 Keuntungan atau kerugian dari panyaluran dana atau
pemanfaatan barang menjadi milik tanggungan bank,
sedangkan nasabah penitip tidak dijanjikan imbalan dan tidak
menanggung kerugian.
 Bank di mungkinkan memberikan bonus kepada pemilik harta
sebagai sebuah insentif selama tidak diperjanjikan dalam akad
pembukaan rekening.
Dalam hal bank berkeinginan memberikan bonus wadi’ah, beberapa
metode yang harus dilakukan adalah :
1) Bonus wadi’ah atas dasar saldo terendah yakni tariff saldo wadi’ah
dikalikan dengan bulan yang bersangkutan.
2) Bonus wadi’ah atas dasar saldo rata-rata harian yakni tariff bonus
wadi’ah dikalikan dengan saldo rata-rata harian bulan yang
bersangkutan.
3) Bonus wadi’ah atas dasar harian yakni tarif bonus wadiah
dikalikan dengan saldo harian yang bersangkutan dikali hari
efektif.
Dalam meperhitungkan pemberian bonus wadi’ah hal-hal yang perlu
diperhatikan adalah :
1) Tarif bonus wadi’ah merupakan besar tarifyang diberikan bank
sesuai ketentuan.
2) Saldo terendah adalah saldo terendah dalam satu bulan
3) Saldo rata-rata harian adalah total saldo dalam satu bulan dibagi
hasil sebenarnya menurut bulan kalender. Misalnya bulan januari
31 hari bulan februari 28/29 hari, dengan catatan satu tahun 365
hari.
4) Saldo harian adalah saldo pada akhir hari.
5) Hari efektif adalah hari kalender tidak termasuk tanggal
pembukuan atau tanggal penutupan, tapi termasuk hari tanggal
tutup buku.
6) Dana tabungan yang mengendap kurang dari satu bulan karena
rekening baru dibuka awal bulan atau di tutup tidak pada akhir
bulan tidak mendapatkan bonus hadiah, kecuali apa bila
perhitungan bonus wadi’ah atas dasar saldo harian.
C. GIRO WADIAH
Giro wadiah adalah titipan pihak ketiga pada bank syariah yang
penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet
giro, kartu ATM, sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan cara
pemindah bukuan. Termasuk di dalamnya giro wadiah yang diblokir untuk
tujuan tertentu misalnya dalam rangka escrow account, giro yang diblokir
oleh yang berwajib karena suatu perkara.
Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional ditetapkan ketentuan
tentang Giro Wadiah (Himpunan Fatwa, Edisi kedua, hal 6-7) sebagai
berikut:
a. Bersifat titipan
b. Titipan bisa diambil kapan saja (on call)
c. Tidak ada imbalan yang disyaratkan, kecuali dalam bentuk pemberian
(athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank.
Karakteristik dari giro wadiah antara lain:
 Harus dikembalikan utuh seperti semula sehingga tidak boleh
overdarft
 Dapat dikenakan biaya titipan
 Dapat diberikan syarat tertentu untuk keselamatan barang titipan
misalnya menetapkan saldo minimum
 Penarikan giro wadiah dilakukan dengan cek dan bilyet giro sesuai
ketentuan yang berlaku.
 Jenis dan kelompok rekening sesuai dengan ketentuan yang
berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan syariah
 Dana wadiah hanya dapat digunakan seijin penitip
D. Dasar Hukum Al-Wadi’ah
Dalam hukum Wadi’ah adalah firman Allah SWT dalam surat
annisa’ ayat 58 sebagai berikut :
ِ‫ن‬َّ ‫ٱ‬‫ّلل‬ َ‫َه‬ ‫ٱ‬َ‫أ‬ْ‫م‬ْ‫ر‬ْ‫ك‬َ‫م‬‫ّلل‬ْ ‫أ‬‫ّلل‬‫ن‬ ‫ٱ‬ُ‫دَؤ‬ُّ‫ّلل‬‫ا‬ْ۟ ‫ٱ‬‫ْل‬‫أ‬َ‫ّلل‬ َ‫ّلل‬‫ك‬‫ّلل‬ َ َ ‫ٱ‬ََِ‫ّلل‬ ‫ْل‬ٰٓ ‫أ‬‫ّلل‬‫ه‬‫ْل‬‫ل‬َ‫ه‬‫ّلل‬‫ن‬ ‫ؤ‬‫ّلل‬‫إ‬‫ْل‬ٰٓ ‫ّلل‬َ ‫أ‬َْ۟‫ك‬‫ّلل‬‫م‬‫ّلل‬‫م‬ ‫ٱ‬‫ّلل‬‫أ‬َْ‫ّلل‬َ
‫ٱ‬‫ْل‬‫أن‬َ َ ‫أ‬‫ّلل‬‫ن‬ ‫ٱ‬ُ‫َؤ‬ْ‫ك‬ْ‫م‬َ‫م‬‫ّلل‬۟ ‫ٱ‬‫ْل‬‫َٱ‬ُّ‫ّلل‬ََ ‫ل‬‫ْل‬َ ‫ٱ‬ ‫ٱ‬َ‫أ‬‫ْل‬ٰٓ ‫ٱ‬‫ّلل‬ َ‫َه‬ ‫أ‬َ‫ك‬‫ْل‬َ‫ْل‬ ‫أ‬ْ‫م‬ْ‫ظ‬‫ْل‬َ‫ّلل‬ْ ِِ‫ْل‬ِ‫ْل‬َ ‫ٱ‬ ‫ٱ‬َ‫أ‬‫ْل‬ٰٓ
‫ٱ‬‫ّلل‬ َ‫َه‬ ‫ٱ‬‫ّلل‬‫أأ‬‫ّلل‬‫م‬ ‫أ‬َ‫م‬َْ‫ْل‬‫ك‬‫ّلل‬‫ا‬ ‫ب‬ َ‫ِص‬‫ر‬ً‫ا‬
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum
di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya
Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya
Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(QS: An-Nisaa Ayat: 58)
– Q.S. Al Baqarah (2) ayat 283:
‫و‬‫ِإ‬ً ُ‫ب‬‫ُت‬‫م‬ ً‫إ‬ ُ‫ى‬ً‫س‬ ً‫ت‬ ‫ر‬‫ص‬ً‫و‬ً‫ل‬ ‫م‬ً ًَ ُ‫ى‬ُ‫و‬‫ا‬ُ ‫ن‬َّ ً‫ت‬ ً ًَِ ُ‫ن‬ًٌ‫م‬ ‫ق‬ًُْ‫و‬ُ‫و‬ٌَُِ ‫ق‬‫ِن‬ً ‫ص‬ً‫م‬ َِ
ُ‫ب‬‫و‬ُُُ‫و‬ُ ً‫إ‬ ً‫ض‬ ً‫ت‬ َُِ‫ا‬ًُ ً ‫د‬ ‫ب‬ ‫ل‬ِ‫و‬ًُِ‫س‬ ً‫ت‬ ًَُ‫و‬ً ًًَِِ ً ُُ‫إ‬ َُ‫ب‬ ‫ي‬‫ت‬ِ‫بس‬ ‫د‬‫ه‬ً ُُِ ً‫م‬ َِ‫ال‬ُ ً‫ا‬ ‫ى‬ُ ُ‫ال‬ُ ً‫ا‬
‫ق‬‫ى‬ِ ًَ ً‫ون‬ُ ًُُ ً‫إ‬ ًُِ‫ا‬ ُ ‫د‬ ‫ب‬ ً‫ت‬ َُُ‫و‬ُ ًِ ‫ق‬‫ى‬َ‫ل‬ َُِ ًٌ‫م‬ ًِ ُُُ‫و‬ُ ًَ ًًَ‫ت‬ ًًَ‫ه‬ًِ ِ‫م‬‫بس‬
Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang
kamu tidak memperolah seorang penulis, maka hendaklah ada barang
tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).
Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka
hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan
hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabb-nya; dan janganlah kamu
(para saksi) menyembunyikan kesaksian.
Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia
adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Mahamengetahui apa
yang kamu kerjakan. (QS. 2:283)
Wadi’ah hukumnya adalah mubah (boleh) untuk mencapai kemaslahatan
di dunia, bahkan Wadi’ah hukumnya dapat berubah menjadi Mandhub
(disunahkan) dalam rangka tolong menolong sesame manusia.
E. Rukun dan Syarat-Syarat Al-Wadi’ah
a) Rukun Al-Wadi’ah
Menurut pasal 413 ayat (1) rukun Wadi’ah terdiri atas :
 Muwaddi (penitip)
 Mustauda (penerima titipan)
 Wadi’ah bih (harta titipan)
 Akad
Menurut mayoritas ulama ada 4 yaitu :
 Penjagaan
 Al-muta’aqidain (dua puhak yang melakukan transaksi).
 Ijab Kabul
 Sighat
b) Syarat-syarat Al-Wadi’ah
1. Barang Titipan
Barang titipan itu harus jelas, bisa dipegang dan dikuasai,
maksudnya barang titipan itu bisa diketahui jenisnya, identitasnya
dan bisa dikuasai untuk dipelihara. Kalau ia menitipkan budak
yang kabur dan tidak diketahui keberadaannya atau burung di
udara yang tidak diketahui kemana arah terbangnya atau harta yang
jatuh kelaut yang tidak diketahui letaknya maka ini tidak dijamin.
2. Pemilik Barang
Pemilik barang itu harus sudah baligh, berakal dan cakap bertindak
hukum, tidak sah penitip jika dilakukan oleh anak kecil walaupun
ia sudah baligh, hal itu desebabkan karena dalam akad Wadi’ah
banyak mengandung resiko penipuan.
3. Pihak yang Menyimpan
Bagi penerima titipan harus menjaga barang titipan tersebut dengan
baik dan harus menyimpan barang titipan tersebut yang aman
sebagaimana kebiasaan yang lazim berlaku pada orang banyak
berupa pemeliharaan.
4. Akad
Akad ijab Kabul dalam Wadi’ah yaitu ijabnya dilakukan dengan
perkataan dan kabulnya dilakukan dengan perbuatan.
Akad ijab Kabul dapat dilakukan secara jelas atau tersirat.
F. Pembagian Wadi’ah dan Penerapannya dalam Perbankan Syari’ah
Secara umum terdapat dua jenis Wadi’ah :
1. Wadi’ah yad al-amanah (Trustee Defostery)
Wadi’ah yad al-amanah merupakan titipan murni dari pihak
yang menitipkan barang kepada pihak yang menerima titipan barang.
Pihak penerima titipan barang harus menjaga dan memelihara barang
titipan, dan tidak diperkenankan untuk memanfaatkannya. Penerima
titipan harus mengembalikan barang titipan dengan utuh kepada pihak
yang menitipkan setiap saat kapanpun barang itu dibutuhkan.
Wadi’ah jenis ini memiliki karakteristik sebagai berikut :
 Pada dasarnya,penerima simpanan adalah yad al-amanah
(penerima amanah), artinya ia tidak bertanggung jawab atas
kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada asset titipan
selama hal ini bukan akibat dari kelalaian atau kecerobohan
yang bersangkutan dalam memelihara titipan (karena
faktor-faktor di luar batas kemampuan). Hal ini telah
dikemukakan oleh Rasulullah dala sebuah hadis, “jaminan
pertanggungjawaban tidak diminta dari peminjam yang
tidak menyalahgunakan (pinjaman) dan penerima titipan
yang tidak lalai terhadap titipan tersebut”
 Harta atau barang yang dititipkan tidak boleh dimanfaatkan
dan digunakan oleh peneroma titipan
 Penerima titipan hanya berfungsi sebagai penerima amanah
yang bertugas dan berkewajiban untuk menjaga barang
yang dititipkan tanpa boleh memanfaatkannya
 Sebagai kompensasi, penerima titipan diperkenankan untuk
membebankan biaya kepada yang menitipkan
 Mengingat barang atau harta yang dititipkan tidak boleh
dimanfaatkan oleh penerima titipan, aplikasi perbankan
yang memungkinkan untuk jenis ini adalah jasa penitipan
atau safe deposit box (kotak penyimpanan).
Skema al-wadi’ah Yad al-amanah
Keterangan :
Dengan konsep wadi’ah yad al-amanah, pihak yang menerima
titipan tidak boleh menggunaan dan memanfaatkan uang atau
barang yang dititipkan. Pihak penerima titipan dapat membebankan
biaya kepada penitip sebagai biaya penitipan.
2. Wadi’ah yad adh-dhaanah (Guarantee Depository)
Wadi’ah yad adh-dhaanah adalah akad antara dua pehak, satu
pihak sebagai pihak yang enitipkan (nasabah) dan pihak lain sebagai
pihak yang menerima titipan. Pihak yang menerima titipan boleh
meanfaatkan barang titipan tersebut. Penerima titipan wajib
mengembalikan barang titipan tersebut dalam keadaan utuh, dan
Titip Barang
Bebankan Biaya
Penitipan
NASABAH NASABAH
penerima titipan juga diperbolehkan memberikan imbalan dalam
bentuk bonus yang tidak diperjanjikan sebelumnya.
Wai’dah jenis ini memiliki karakteristik sebagai berikut :
 Harta dan barang yang dititipkan boleh dan dapat
dimanfaatkan oleh yang menerima titipan
 Karena dimanfaatkan, barang dan harta yang dititipkan
tersebut tentu dapat menghasilkan manfaat. Sekalipun
demikian, tidak ada keharusan bagi penerima titipan untuk
memberikan hasil manfaat kepada si penitip
 Produk perbankan yang sesuai dengan akad ini adalah
produk pendanaan Giro (Current Account) Wadi’ah, dan
Tabungan (Saving Account) Wadi’ah
 Bank konfensional memberikan jasa giro sebagai imbalan
yang dihitung berdasarkan persentase yang telah ditetapkan.
Adapun pada bank syariah, pemberian bonus (semacam
jasa giro) tidak boleh disebutkan dalam kontrak ataupun
dijanjikan dalam akad, tetapi benar-benar pemberian
sepihak sebagai tanda terimakasih dari pihak bank
 Jumlah pemberian bonus sepenuhnya merupakan
kewenagnan manajemen bank syariah karena pada
prinsipnya akad ini penekanannya adalah titipan
 Produk tabungan juga dapat menggunakan akad wadi’ah
karena pada prinsipnya perbedaannya tabungan tidak dapat
ditarik dengan cek atau alat lain yang dipersaakan.
Skema al-wadi’ah Yad adh-dhamanah
Keterangan :.
Dengan konsep wadi’ah Yad adh-dhamanah, pihak yang menerima
titipan boleh menggunakan dan memanfaatkan uang atau barang
yang dititipkan. Tentu, pihak bank dalam al ini mendapatkan hasil
dari penggunaan dana. Bank dapat memberikan insentif kepada
insentif dalam bentuk bonus.
Berikut adalah perbedaan antara Bonus dalam Bank
Konvensional dengan Bonus dalam Bank Syariah :
NO. BUNOS KONVENSIONAL BONUS SYARIAH
1 Diperjanjikan Tidak Diperjanjikan
2 Disebutkan Dalam Akad Benarbenar Merupakan
Budi Baik Bank
3 Ditentukan Dalam Persentase
yang Tepat
Ditentukan Sebagai
Keuntungan Riil Bank
Tab.1 Perbedaan bonus dalam perbankan konvensional dan perbankan syariah
1. Titipan Dana
4. Beri Bonus
2. Pemanfaatan
3. Bagi Hasil Dana
NASABAH
Penitip
BANK
Penyimpan
Nasabah
Pengguna
dana
G. Prinsip Wadi’ah
Prinsip Wadi’ah di terapkan adalah wadi’ah yang diterapkan
adalah wadi’ah yad dhamanah yang diterapkan pada produk rekening giro.
Wadi’ah yad damanah berbeda dengan wadi’ah amanah. Dalam wadi’ah
amanah pada prinsipnya harta titipan tidak boleh dimanfaatkan oleh pihak
yang dititipkan dengan alasan apapun juga, tetapi pihak yang dititipkan
boleh mengenakan biaya administrasi kepada pihak yang menitipkan
sebagai kontraprestasi atas penjagaan barang yang dititipkan. Pada
wadi’ah yad dhamanah pihak yang dititipkan bertanggung jawap atas
harta titipan sehingga ia boleh memanfaatkan harta titipan tersebut. Pihak
bank boleh memberikan sedikit keuntungan yang didapat kepada
nasabahnya berdasarkan kebijaksanaan pihak bank.
H. Hukum Menerima Benda Titipan
Hukum menerima benda titipan ada 4 macam, yaitu:
a) Sunat, disunatkan menerima titipan bagi orang yang percaya kepada
dirinya bahwa dia sanggup menjaga benda-benda yang dititipkan
kepadanya.
b) Wajib, diwajibkan menerima benda-benda titipan bagi seseorang yang
percaya bahwa dirinya sanggup menerima dan menjaga benda-benda
tersebut, sementara orang lain tidak ada seorangpun yang dapat
dipercaya untuk memelihara benda-benda tersebut.
c) Haram, apabila seorang tidak kuasa dan tidak sanggup memelihara
benda-benda titipan.
d) Makruh, bagi orang yang percaya kepada dirinya sendiri bahwa dia
mampu menjaga benda-benda titipan, tetapi dia kurang yakin(ragu)
pada kemampuannya, maka bagi orang yang seperti ini dimakruhkan
menerima benda-benda titipan sebab dikhawatirkan dia akan
berkhianat terhadap yang menitipkan dengan cara merusak benda-
benda titipan atau menghilangkannya.

Bab ii

  • 1.
    BAB II PEMBAHASAN A. PengertianAl-Wadi’ah Secara bahasa Al-Wadi’ah yang berasal dari kata Wada’a berarti meninggalkan atau titipan (amanah), maksudnya adalah sesuatu yang dititipkan baik harta, uang maupun pesan amanah. Wadi’ah dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik individu ataupun badan hukum, yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja ketika si penitip menghendaki. Selain itu Wadi’ah dapat juga diartikan sebagai akad seseorang kepada pihak lain dengan menitipkan suatu barang untuk dijaga secara layak. Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa apabila ada kerusakan pada benda titipan, bukan karena kelalaian si penerima titipan maka tidak wajib baginya untuk mengganti, tetapi apabila kerusakan itu disebabkan kelalaian si penerima titipan tersebut, maka ia wajib menggantinya. B. Tabungan Wadi’ah Tabungan wadi’ah merupakan tabungan yang dijalankan berdasarkan akad wadi’ah yakni titipan murni yang harus dijaga dan di kembalikan setiap saat sesuai dengan kehendak pemiliknya. Berkaitan dengan tabungan wadi’ah bank syariah menggunakan akad wadiah yad adh-dhamanah. Mengingat wadi’ah yad dhamanah mempunyai impikasi hukum yang sama dengan qardh, maka nasabah penitip dan bank tidak boleh saling menjanjikan untuk menghasilkan keuntungan harta tersebut. Namun demikian bank diperkenankan memberikan bonus kepada pemilik
  • 2.
    harta titipan selamatidak di isyaratkan di muka atau pemberian bonus kebijakan dari bank syariah semata bersifat sukarela. 1. Ketentuan umum tabungan wadi’ah :  Tabungan wadi’ah merupakan tabungan yang bersifat titipan murni yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat sesuai dengan kehendak pemilik harta.  Keuntungan atau kerugian dari panyaluran dana atau pemanfaatan barang menjadi milik tanggungan bank, sedangkan nasabah penitip tidak dijanjikan imbalan dan tidak menanggung kerugian.  Bank di mungkinkan memberikan bonus kepada pemilik harta sebagai sebuah insentif selama tidak diperjanjikan dalam akad pembukaan rekening. Dalam hal bank berkeinginan memberikan bonus wadi’ah, beberapa metode yang harus dilakukan adalah : 1) Bonus wadi’ah atas dasar saldo terendah yakni tariff saldo wadi’ah dikalikan dengan bulan yang bersangkutan. 2) Bonus wadi’ah atas dasar saldo rata-rata harian yakni tariff bonus wadi’ah dikalikan dengan saldo rata-rata harian bulan yang bersangkutan. 3) Bonus wadi’ah atas dasar harian yakni tarif bonus wadiah dikalikan dengan saldo harian yang bersangkutan dikali hari efektif. Dalam meperhitungkan pemberian bonus wadi’ah hal-hal yang perlu diperhatikan adalah : 1) Tarif bonus wadi’ah merupakan besar tarifyang diberikan bank sesuai ketentuan. 2) Saldo terendah adalah saldo terendah dalam satu bulan
  • 3.
    3) Saldo rata-rataharian adalah total saldo dalam satu bulan dibagi hasil sebenarnya menurut bulan kalender. Misalnya bulan januari 31 hari bulan februari 28/29 hari, dengan catatan satu tahun 365 hari. 4) Saldo harian adalah saldo pada akhir hari. 5) Hari efektif adalah hari kalender tidak termasuk tanggal pembukuan atau tanggal penutupan, tapi termasuk hari tanggal tutup buku. 6) Dana tabungan yang mengendap kurang dari satu bulan karena rekening baru dibuka awal bulan atau di tutup tidak pada akhir bulan tidak mendapatkan bonus hadiah, kecuali apa bila perhitungan bonus wadi’ah atas dasar saldo harian. C. GIRO WADIAH Giro wadiah adalah titipan pihak ketiga pada bank syariah yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, kartu ATM, sarana perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindah bukuan. Termasuk di dalamnya giro wadiah yang diblokir untuk tujuan tertentu misalnya dalam rangka escrow account, giro yang diblokir oleh yang berwajib karena suatu perkara. Dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional ditetapkan ketentuan tentang Giro Wadiah (Himpunan Fatwa, Edisi kedua, hal 6-7) sebagai berikut: a. Bersifat titipan b. Titipan bisa diambil kapan saja (on call) c. Tidak ada imbalan yang disyaratkan, kecuali dalam bentuk pemberian (athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank.
  • 4.
    Karakteristik dari girowadiah antara lain:  Harus dikembalikan utuh seperti semula sehingga tidak boleh overdarft  Dapat dikenakan biaya titipan  Dapat diberikan syarat tertentu untuk keselamatan barang titipan misalnya menetapkan saldo minimum  Penarikan giro wadiah dilakukan dengan cek dan bilyet giro sesuai ketentuan yang berlaku.  Jenis dan kelompok rekening sesuai dengan ketentuan yang berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan syariah  Dana wadiah hanya dapat digunakan seijin penitip D. Dasar Hukum Al-Wadi’ah Dalam hukum Wadi’ah adalah firman Allah SWT dalam surat annisa’ ayat 58 sebagai berikut : ِ‫ن‬َّ ‫ٱ‬‫ّلل‬ َ‫َه‬ ‫ٱ‬َ‫أ‬ْ‫م‬ْ‫ر‬ْ‫ك‬َ‫م‬‫ّلل‬ْ ‫أ‬‫ّلل‬‫ن‬ ‫ٱ‬ُ‫دَؤ‬ُّ‫ّلل‬‫ا‬ْ۟ ‫ٱ‬‫ْل‬‫أ‬َ‫ّلل‬ َ‫ّلل‬‫ك‬‫ّلل‬ َ َ ‫ٱ‬ََِ‫ّلل‬ ‫ْل‬ٰٓ ‫أ‬‫ّلل‬‫ه‬‫ْل‬‫ل‬َ‫ه‬‫ّلل‬‫ن‬ ‫ؤ‬‫ّلل‬‫إ‬‫ْل‬ٰٓ ‫ّلل‬َ ‫أ‬َْ۟‫ك‬‫ّلل‬‫م‬‫ّلل‬‫م‬ ‫ٱ‬‫ّلل‬‫أ‬َْ‫ّلل‬َ ‫ٱ‬‫ْل‬‫أن‬َ َ ‫أ‬‫ّلل‬‫ن‬ ‫ٱ‬ُ‫َؤ‬ْ‫ك‬ْ‫م‬َ‫م‬‫ّلل‬۟ ‫ٱ‬‫ْل‬‫َٱ‬ُّ‫ّلل‬ََ ‫ل‬‫ْل‬َ ‫ٱ‬ ‫ٱ‬َ‫أ‬‫ْل‬ٰٓ ‫ٱ‬‫ّلل‬ َ‫َه‬ ‫أ‬َ‫ك‬‫ْل‬َ‫ْل‬ ‫أ‬ْ‫م‬ْ‫ظ‬‫ْل‬َ‫ّلل‬ْ ِِ‫ْل‬ِ‫ْل‬َ ‫ٱ‬ ‫ٱ‬َ‫أ‬‫ْل‬ٰٓ ‫ٱ‬‫ّلل‬ َ‫َه‬ ‫ٱ‬‫ّلل‬‫أأ‬‫ّلل‬‫م‬ ‫أ‬َ‫م‬َْ‫ْل‬‫ك‬‫ّلل‬‫ا‬ ‫ب‬ َ‫ِص‬‫ر‬ً‫ا‬ Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS: An-Nisaa Ayat: 58)
  • 5.
    – Q.S. AlBaqarah (2) ayat 283: ‫و‬‫ِإ‬ً ُ‫ب‬‫ُت‬‫م‬ ً‫إ‬ ُ‫ى‬ً‫س‬ ً‫ت‬ ‫ر‬‫ص‬ً‫و‬ً‫ل‬ ‫م‬ً ًَ ُ‫ى‬ُ‫و‬‫ا‬ُ ‫ن‬َّ ً‫ت‬ ً ًَِ ُ‫ن‬ًٌ‫م‬ ‫ق‬ًُْ‫و‬ُ‫و‬ٌَُِ ‫ق‬‫ِن‬ً ‫ص‬ً‫م‬ َِ ُ‫ب‬‫و‬ُُُ‫و‬ُ ً‫إ‬ ً‫ض‬ ً‫ت‬ َُِ‫ا‬ًُ ً ‫د‬ ‫ب‬ ‫ل‬ِ‫و‬ًُِ‫س‬ ً‫ت‬ ًَُ‫و‬ً ًًَِِ ً ُُ‫إ‬ َُ‫ب‬ ‫ي‬‫ت‬ِ‫بس‬ ‫د‬‫ه‬ً ُُِ ً‫م‬ َِ‫ال‬ُ ً‫ا‬ ‫ى‬ُ ُ‫ال‬ُ ً‫ا‬ ‫ق‬‫ى‬ِ ًَ ً‫ون‬ُ ًُُ ً‫إ‬ ًُِ‫ا‬ ُ ‫د‬ ‫ب‬ ً‫ت‬ َُُ‫و‬ُ ًِ ‫ق‬‫ى‬َ‫ل‬ َُِ ًٌ‫م‬ ًِ ُُُ‫و‬ُ ًَ ًًَ‫ت‬ ًًَ‫ه‬ًِ ِ‫م‬‫بس‬ Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperolah seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Rabb-nya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan kesaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 2:283) Wadi’ah hukumnya adalah mubah (boleh) untuk mencapai kemaslahatan di dunia, bahkan Wadi’ah hukumnya dapat berubah menjadi Mandhub (disunahkan) dalam rangka tolong menolong sesame manusia. E. Rukun dan Syarat-Syarat Al-Wadi’ah a) Rukun Al-Wadi’ah Menurut pasal 413 ayat (1) rukun Wadi’ah terdiri atas :  Muwaddi (penitip)  Mustauda (penerima titipan)  Wadi’ah bih (harta titipan)  Akad
  • 6.
    Menurut mayoritas ulamaada 4 yaitu :  Penjagaan  Al-muta’aqidain (dua puhak yang melakukan transaksi).  Ijab Kabul  Sighat b) Syarat-syarat Al-Wadi’ah 1. Barang Titipan Barang titipan itu harus jelas, bisa dipegang dan dikuasai, maksudnya barang titipan itu bisa diketahui jenisnya, identitasnya dan bisa dikuasai untuk dipelihara. Kalau ia menitipkan budak yang kabur dan tidak diketahui keberadaannya atau burung di udara yang tidak diketahui kemana arah terbangnya atau harta yang jatuh kelaut yang tidak diketahui letaknya maka ini tidak dijamin. 2. Pemilik Barang Pemilik barang itu harus sudah baligh, berakal dan cakap bertindak hukum, tidak sah penitip jika dilakukan oleh anak kecil walaupun ia sudah baligh, hal itu desebabkan karena dalam akad Wadi’ah banyak mengandung resiko penipuan. 3. Pihak yang Menyimpan Bagi penerima titipan harus menjaga barang titipan tersebut dengan baik dan harus menyimpan barang titipan tersebut yang aman sebagaimana kebiasaan yang lazim berlaku pada orang banyak berupa pemeliharaan.
  • 7.
    4. Akad Akad ijabKabul dalam Wadi’ah yaitu ijabnya dilakukan dengan perkataan dan kabulnya dilakukan dengan perbuatan. Akad ijab Kabul dapat dilakukan secara jelas atau tersirat. F. Pembagian Wadi’ah dan Penerapannya dalam Perbankan Syari’ah Secara umum terdapat dua jenis Wadi’ah : 1. Wadi’ah yad al-amanah (Trustee Defostery) Wadi’ah yad al-amanah merupakan titipan murni dari pihak yang menitipkan barang kepada pihak yang menerima titipan barang. Pihak penerima titipan barang harus menjaga dan memelihara barang titipan, dan tidak diperkenankan untuk memanfaatkannya. Penerima titipan harus mengembalikan barang titipan dengan utuh kepada pihak yang menitipkan setiap saat kapanpun barang itu dibutuhkan. Wadi’ah jenis ini memiliki karakteristik sebagai berikut :  Pada dasarnya,penerima simpanan adalah yad al-amanah (penerima amanah), artinya ia tidak bertanggung jawab atas kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada asset titipan selama hal ini bukan akibat dari kelalaian atau kecerobohan yang bersangkutan dalam memelihara titipan (karena faktor-faktor di luar batas kemampuan). Hal ini telah dikemukakan oleh Rasulullah dala sebuah hadis, “jaminan pertanggungjawaban tidak diminta dari peminjam yang tidak menyalahgunakan (pinjaman) dan penerima titipan yang tidak lalai terhadap titipan tersebut”  Harta atau barang yang dititipkan tidak boleh dimanfaatkan dan digunakan oleh peneroma titipan
  • 8.
     Penerima titipanhanya berfungsi sebagai penerima amanah yang bertugas dan berkewajiban untuk menjaga barang yang dititipkan tanpa boleh memanfaatkannya  Sebagai kompensasi, penerima titipan diperkenankan untuk membebankan biaya kepada yang menitipkan  Mengingat barang atau harta yang dititipkan tidak boleh dimanfaatkan oleh penerima titipan, aplikasi perbankan yang memungkinkan untuk jenis ini adalah jasa penitipan atau safe deposit box (kotak penyimpanan). Skema al-wadi’ah Yad al-amanah Keterangan : Dengan konsep wadi’ah yad al-amanah, pihak yang menerima titipan tidak boleh menggunaan dan memanfaatkan uang atau barang yang dititipkan. Pihak penerima titipan dapat membebankan biaya kepada penitip sebagai biaya penitipan. 2. Wadi’ah yad adh-dhaanah (Guarantee Depository) Wadi’ah yad adh-dhaanah adalah akad antara dua pehak, satu pihak sebagai pihak yang enitipkan (nasabah) dan pihak lain sebagai pihak yang menerima titipan. Pihak yang menerima titipan boleh meanfaatkan barang titipan tersebut. Penerima titipan wajib mengembalikan barang titipan tersebut dalam keadaan utuh, dan Titip Barang Bebankan Biaya Penitipan NASABAH NASABAH
  • 9.
    penerima titipan jugadiperbolehkan memberikan imbalan dalam bentuk bonus yang tidak diperjanjikan sebelumnya. Wai’dah jenis ini memiliki karakteristik sebagai berikut :  Harta dan barang yang dititipkan boleh dan dapat dimanfaatkan oleh yang menerima titipan  Karena dimanfaatkan, barang dan harta yang dititipkan tersebut tentu dapat menghasilkan manfaat. Sekalipun demikian, tidak ada keharusan bagi penerima titipan untuk memberikan hasil manfaat kepada si penitip  Produk perbankan yang sesuai dengan akad ini adalah produk pendanaan Giro (Current Account) Wadi’ah, dan Tabungan (Saving Account) Wadi’ah  Bank konfensional memberikan jasa giro sebagai imbalan yang dihitung berdasarkan persentase yang telah ditetapkan. Adapun pada bank syariah, pemberian bonus (semacam jasa giro) tidak boleh disebutkan dalam kontrak ataupun dijanjikan dalam akad, tetapi benar-benar pemberian sepihak sebagai tanda terimakasih dari pihak bank  Jumlah pemberian bonus sepenuhnya merupakan kewenagnan manajemen bank syariah karena pada prinsipnya akad ini penekanannya adalah titipan  Produk tabungan juga dapat menggunakan akad wadi’ah karena pada prinsipnya perbedaannya tabungan tidak dapat ditarik dengan cek atau alat lain yang dipersaakan.
  • 10.
    Skema al-wadi’ah Yadadh-dhamanah Keterangan :. Dengan konsep wadi’ah Yad adh-dhamanah, pihak yang menerima titipan boleh menggunakan dan memanfaatkan uang atau barang yang dititipkan. Tentu, pihak bank dalam al ini mendapatkan hasil dari penggunaan dana. Bank dapat memberikan insentif kepada insentif dalam bentuk bonus. Berikut adalah perbedaan antara Bonus dalam Bank Konvensional dengan Bonus dalam Bank Syariah : NO. BUNOS KONVENSIONAL BONUS SYARIAH 1 Diperjanjikan Tidak Diperjanjikan 2 Disebutkan Dalam Akad Benarbenar Merupakan Budi Baik Bank 3 Ditentukan Dalam Persentase yang Tepat Ditentukan Sebagai Keuntungan Riil Bank Tab.1 Perbedaan bonus dalam perbankan konvensional dan perbankan syariah 1. Titipan Dana 4. Beri Bonus 2. Pemanfaatan 3. Bagi Hasil Dana NASABAH Penitip BANK Penyimpan Nasabah Pengguna dana
  • 11.
    G. Prinsip Wadi’ah PrinsipWadi’ah di terapkan adalah wadi’ah yang diterapkan adalah wadi’ah yad dhamanah yang diterapkan pada produk rekening giro. Wadi’ah yad damanah berbeda dengan wadi’ah amanah. Dalam wadi’ah amanah pada prinsipnya harta titipan tidak boleh dimanfaatkan oleh pihak yang dititipkan dengan alasan apapun juga, tetapi pihak yang dititipkan boleh mengenakan biaya administrasi kepada pihak yang menitipkan sebagai kontraprestasi atas penjagaan barang yang dititipkan. Pada wadi’ah yad dhamanah pihak yang dititipkan bertanggung jawap atas harta titipan sehingga ia boleh memanfaatkan harta titipan tersebut. Pihak bank boleh memberikan sedikit keuntungan yang didapat kepada nasabahnya berdasarkan kebijaksanaan pihak bank. H. Hukum Menerima Benda Titipan Hukum menerima benda titipan ada 4 macam, yaitu: a) Sunat, disunatkan menerima titipan bagi orang yang percaya kepada dirinya bahwa dia sanggup menjaga benda-benda yang dititipkan kepadanya. b) Wajib, diwajibkan menerima benda-benda titipan bagi seseorang yang percaya bahwa dirinya sanggup menerima dan menjaga benda-benda tersebut, sementara orang lain tidak ada seorangpun yang dapat dipercaya untuk memelihara benda-benda tersebut. c) Haram, apabila seorang tidak kuasa dan tidak sanggup memelihara benda-benda titipan. d) Makruh, bagi orang yang percaya kepada dirinya sendiri bahwa dia mampu menjaga benda-benda titipan, tetapi dia kurang yakin(ragu) pada kemampuannya, maka bagi orang yang seperti ini dimakruhkan menerima benda-benda titipan sebab dikhawatirkan dia akan berkhianat terhadap yang menitipkan dengan cara merusak benda- benda titipan atau menghilangkannya.