ISLAMIC FINANCIAL MANAGEMENT
BAB 4
PRODUK-PRODUK PEMBIAYAAN
DAN MEKANISMENYA

Prof.Dr.H. Veitzhal Rivai, M.B.A.
Andria Permata Veitzhal. B.Acct., M.B.A.
A. PRINSIP BISNIS
1.
2.
Menurut
Triyuwono
dalam
Muhammad,
(2002), Prinsip
Bisnis:

3.
4.
5.
6.

Prinsip Simpanan
Prinsip Bagi Hasil
Prinsip Pengembalian
Keuntungan
Prinsip Sewa (I ra h)
ja
Pengambilan Fee
Prinsip biaya administrasi
(Qa rd hul Ha s a n/be ne vo le nt
lo a n)
A. PRINSIP BISNIS
1.

Prinsip Simpanan.
Dalam prinsip simpanan ini dikenal dengan
istilah wadi’ah, yang maknanya adalah
perjanjian antara pemilik barang (termasuk
uang), di mana pihak penyimpan bersedia
menyimpan dan menjaga keselamatan barang
yang dititipkan kepadanya. Prinsip ini
dikembangkan dalam bentuk produk simpanan,
yaitu: Giro Wadi’ah dan Tabungan Wadi’ah.
2. Prinsip bagi hasil



Jenisnya:




Musyarakah
Mudharabah
Muzara’ah
Musaqah
2. Prinsip Bagi-hasil
1.

2.

3.

Musyarakah, perjanjian kerja sama antara dua pihak atau lebih pemilik
modal (uang atau barang) untuk membiayai suatu usaha. Keuntungan usaha
tersebut dibagi sesuai dengan perjanjian antara pihak-pihak tersebut, yang
tidak harus sama dengan pangsa modal setiap pihak. Dalam hal kerugian
dilakukan sesuai dengan pangsa modal masing-masing;
Mudharabah, perjanjian antara pemilik modal (uang atau barang) dan
pengusaha. Dalam perjanjian ini pemilik modal bersedia membiayai sepenuhnya suatu proyek atau usaha, dan pengusaha setuju untuk mengelola proyek
tersebut dengan pembagian hasil sesuai dengan perjanjian. Pemilik modal
tidak dibenarkan membuat usulan dan melakukan pengawasan. Apabila usaha
yang diawasi mengalami kerugian, maka kerugian tersebut sepenuhnya
ditanggung pemilik modal, kecuali kerugian itu terjadi karena penyelewengan
atau penyalahgunaan pengusaha;
Muzara’ah, memberiakn lahan pertanian kepada si penggarap untuk ditanami
dan dipelihara dengan imbalan tertentu (persentase) dari hasil panen.
Prinsip Mudharabah dijadikan dasar pengembangan produk tabungan dan
deposito. Sementara prinsip musyarakah dan muzara’ah digunakan sebagai
dasar pengembangan produk pembiayaan.
3. Prinsip Pengembalian Keuntungan,
yang dapat disederhanakan
dengan istilah jual beli, yaitu
hak proses pemindahan hak
milik barang atau aset dengan
menggunakan uang sebagai
media.
(i) Musawamah,

Jenis
Jual Beli

jual beli biasa di mana penjual memasang harga
tanpa memberitahu si pembeli tentang berapa margin keuntungan
yang diambilnya;
(ii)Tauliah, yaitu menjual dengan harga beli tanpa mengambil
keuntungan sedikit pun, seolah si penjual menjadikan pembeli
sebagai walinya (Tauliah) atas barang atau aset;
(iii)Murabahah, yaitu menjual dengan harga asal ditambah margin
keuntungan yang telah disepakati;
(iv)Muwadhaah, yaitu menjual dengan harga yang lebih rendah dari
harga beli, atau dengan kata lain Muwadhaah merupakan bentuk
kebalikan dari murabahah;
(v) Muqayadhah, merupakan bentuk awal dari transaksi di mana
barang ditukar dengan barang (barter);
(vi)Mutlaq, yaitu bentuk jual beli biasa di mana barang ditukar
dengan uang;
(vii)Sharf, adalah jual beli valuta asing di mana uang ditukar dengan
barang (money exchange);
(viii) Bai’u bi tsaman ajil, menjual dengan harga asal ditambah
dengan margin keuntungan yang telah disepakati dan dibayar
secara kredit;
(ix)Bai’u Salam, yaitu proses jual beli di mana pembayaran
dilakukan secara advance manakala penyerahan barang dilakukan
kemudian;
(x) Bai’ Istishna’, yaitu kontrak order yang ditandatangani bersama
antara pemesan dengan produsen untuk pembuatan suatu jenis
barang tertentu. Prinsip ini dijadikan dasar pengembangan produk
pembiayaan.
4. Prinsip Sewa (Ijarah)
yaitu perjanjian antara pemilik barang dan penyewa
yang memperbolehkan penyewa untuk memanfaatkan
barang tersebut dengan membayar sewa sesuai
dengan perjanjian kedua pihak. Setelah masa sewa
berakhir, maka barang akan dikembalikan kepada
pemilik.
Jenis Akad
Ijarah:

•
•
•

Ijarah Muthlaqah
(Leasing),
Bai’u Ta’jiri (hire
purchase),
Musyarakah Mutanaqisah
(decreasing
participation),
Ijarah Muthlaqah (Leasing),
proses sewa-menyewa yang biasa kita temui dalam
kegiatan perekonomian sehari-hari;
2. Bai’u Ta’jiri (hire purchase),
suatu kontrak sewa yang diakhiri dengan penjualan.
Dalam kontrak ini pembayaran sewa telah diperhitungkan
sedemikian rupa sehingga sebagian darinya merupakan
pembelian terhadap barang secara berangsur;
3. Musyarakah Mutanaqisah (decreasing participation),
kombinasi antara musyarakah dengan ijarah/perkongsian
dengan sewa. Prinsip ini dijadikan dasar pengembangan
produk pembiayaan.
1.
5. Prinsip Pengambilan Fee

Jenis Prinsip
pengambilan Fee:

[a] Kafalah/Guarante,
Jenis-jenis kafalah adalah:
(i) Kafalah bi Nafs,
(ii) Kafalah bilmal,
(iii) Kafalah bi Taslim,
(iv) Kafalah Munjazah,
(v) Kafalah Muallaqah,
[b] Wakalah,
Jenis wakalah ada tiga:
(i) Wakalah Muthlaqah,
(ii) Wakalah Muqayyadah,
(iii) Wakalah Ammah,
[c] Hawalah,
[d] Ju’alah,
5. Prinsip Pengambilan Fee

[a] Ka fa la h/G ua ra nte ,

yakni suatu jaminan yang diberikan oleh
penanggung (kafil) kepada pihak ketiga
untuk memenuhi kewajiban pihak kedua
yang ditanggungnya.
Jenis-jenis ka fa la h adalah:
(i) Ka fa la h bi N fs
a
jaminan dari si penjamin (bank sebagai jurid ic a l p e rs o na lity dapat
memberikan jaminan untuk maksud-maksud tertentu);
(ii) Ka fa la h bilmal
jaminan pembayaran barang atau pelunasan utang;
(iii) Ka fa la h bi Ta s lim
dilakukan untuk menjamin dikembalikannya barang sewaan pada
akhir masa kontrak (dapat dilakukan antar bank dengan le a s ing
c o m p a ny terkait atas nama nasabah dengan mempergunakan
depositnya di bank dan mengambil fe e -nya);
(iv) Ka fa la h M
unja z a h
jaminan mutlak yang tidak dibatasi oleh kurun waktu tertentu atau
dihubungkannyan dengan maksud-maksud tertentu;
(v) Ka fa la h M lla q a h
ua
adalah penyederhanaan dari ka fa la h m unja z a h, di mana jaminan dibatasi oleh
kurun waktu dan tujuan-tujuan tertentu.
[b] Wakalah,
perjanjian
pemberian kuasa
kepada pihak lain
yang ditunjuk
untuk mewakilinya
dalam
melaksanakan
suatu tugas/kerja
atas nama pemberi
kuasa.

Jenis wakalah ada tiga:
(i) Wakalah Muthlaqah,
mewakilkan secara mutlak
tanpa batasan waktu atau
urusan-urusan tertentu;
(ii) Wakalah Muqayyadah,
dalam kontrak ini pihak
pertama menunjuk pihak
kedua sebagai wakilnya
untuk bertindak atas
namanya dalam urusanurusan tertentu;
(iii) Wakalah Ammah, bentuk
wakalah yang lebih luas
daripada muqayyadah,
tetapi lebih sederhana dari
muthlaqah.
C. Hawalah,
pengalihan
kewajiban
dari suatu
pihak
kepada
pihak lain.

D. Ju’alah,
suatu kontrak pihak
pertama menjanjikan
imbalan tertentu
kepada pihak kedua
atas pelaksanaan
usaha atau tugas.
Prinsip ini dijadikan
dasar pengembangan
produk jasa layanan
(services).
6. Prinsip Biaya Administrasi
(Qardhul Hasan/benevolent loan),
yakni perjanjian
pinjam-meminjam
uang atau barang
dengan tujuan
untuk membantu
penerima pinjaman.
Penerima pinjaman
wajib
mengembalikan
hutangnya dalam
jumlah yang sama.



Apabila peminjam tidak
mampu mengembalikan
pada waktunya, maka
peminjam tidak boleh
dikenai sanksi. Atas
kerelaannya, peminjam
diperbolehkan memberikan
imbalan kepada pemilik
barang/uang.
Tabel 1.2
Konsep Syariah Dalam Bank
Syariah
Nama Prinsip

Jenis-Jenis
Produk Syariah

Penerapannya dalam
Sistem Perbankan

Keterangan

Simpanan

Wadiah

Current Account
Saving Account

Wadiah dapat dikombinasikan dengan Mudharabah
untuk investasi, dengan Wakalah untuk pembukaan
L/C, dengan Kafalah untuk garansi

Bagi-hasil

Mudharabah
Musyrakah
Muzaraah
Musaqat

Invstment Account
Saving Account
Project Financing
Project Financing
Plantation Credit Financing

Deposito dapat dipergunakan untuk general investment
melalui pool of fund

Pengambilan
Keuntungan

Bai’u Murabahah
Bai’u bi tsaman ajil
Bai’u Ta’jiri
Bai’u Salam
Bai’u Istishna

Trade Financing
Letter of Credit
Trade Financing

Sewa

Ijarah
Bai’u Ta’jiri Musyarakah
Mutanaqisah

Leasing
Hire Purchase
Decreasing Participation

Pengambilan Fee

Kafalah
Hawalah
Ju’alah
Wakalah

Guarantee
Debts Transfer
Special Service
Letter of Credit

Kabajikan (Tabarru’)

Qardhul Hasan

Benevolent Loan

Biaya adminstrasi hanya dapat diambil untuk faktorfaktor yang menunjukkan terjadinya kontrak seperti
biaya notaris, materai peninjauan proyek
Sumber: M. Syafe’i Antonio, Konsep Syari'ah Bank Islam , 1992, dengan modifikasi.








Dengan perbedaan bentuk usaha tersebut, tentunya bank
syariah berpotensi menjadi alternatif bagi masyarakat
untuk melakukan simpan pinjam dengan pola usaha yang
disediakan.
Masyarakat muslim yang selama ini ragu, bahkan alergi,
dengan bank konvensional yang menggunakan bunga
sebagai pijakan kerjanya, dengan munculnya bank syariah
tersebut bisa berpartisipasi tanpa ada hambatan sedikit
pun.
Sehingga, secara teoretis, sebenarnya keberadaan bank
syariah memiliki prospek yang cerah karena potensi captive
market yang jelas.
Dengan posisi seperti itu tidak salah bila di kemudian hari
perkembangan bank syariah ini akan meningkat secara
pesat sehingga akan menjadi alternatif yang sepadan
dengan jenis bank konvensional yang telah lama
beroperasi.
B. AKTIVITAS OPERASIONAL







Manajer Investasi (mengelola dana
nasabah).
Investor (menginvestasikan dana
miliknya dan dana yang dititipkan
nasabah).
Penyedia jasa keuangan dan lalu lintas
pembayaran.
Pelaksanaan kegiatan sosial
(mengeluarkan dan mengelola zakat
maupun dana sosial lainnya).
PEMBIAYAAN
PEMBIAYAAN
(Financing)
(Financing)
BAGI HASIL
( P & L Sharing)
JUAL BELI
( Sale & Purch.)
Musyarakah
Musyarakah
Mudharabah
Mudharabah
Murabahah
Murabahah
Salam
Salam
Istishna’
Istishna’
Ijarah Wa Iqtina
Ijarah Wa Iqtina

PEMB. LAIN
( Other Fin. )

Hawalah
Hawalah
Rahn
Rahn

PINJ. KEBJK.
( Non Complen )

Qard
Qard
1.







SISTEM PEMBIAYAAN BAGI HASIL
(PROFIT & LOSS SHARING)
Bagi hasil merupakan konsep pembiayaan yang
adil dan memiliki nuansa kemitraan yang sangat
kental.
Hasil yang diperoleh dibagi berdasarkan
perbandingan (nisbah) yang disepakati dan
bukan sebagaimana penetapan bunga pada
bank konvensional.
Pembiayaan bagi hasil dalam perbankan syariah
meliputi:



Musyarakah
Mudharabah




Sistem ini ketika muncul, maka propagandanya dikatakan sebagai
bank bagi hasil. Hal ini dilakukan untuk membedakan Islamic
Banking dengan bank konvensional yang beroperasional dengan
sistem bunga. Hal ini betul, tetapi tidak sepenuhnya benar,
karena sesungguhnya bagi hasil itu hanya merupakan bagian saja
dari sistem operasi Islamic Banking. Mekanisme bagi hasil di
Islamic Banking dijalankan berdasarkan prinsip: mudharabah
dan/atau musyarakah.
Bagi hasil adalah bentuk return dari kontrak investasi, yakni yang
termasuk ke dalam natural uncertainty contracts. Dalam fikih
Islam, selain dikenal natural uncertainty contracts, juga dikenal
natural certainty contracts. Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa sistem bagi hasil sudah pasti merupakan salah satu praktik
Islamic Banking. Namun sebaliknya, praktik Islamic Banking
belum tentu sepenuhnya menggunakan sistem bagi hasil. Sebab,
selain sistem bagi hasil, masih ada sistem jual beli, sewamenyewa dan peminjaman. Dengan demikian, Islamic Banking
memiliki ruang gerak produk yang lebih luas dibandingkan dengan
bank kovensional.
2. SISTEM PEMBIAYAAN JUAL BELI
(SALE & PURCHASE) DAN SEWA



a.
b.
c.
d.

Konsep jual beli dalam bisnis Islami mengandung
beberapa kebaikan, antara lain: pembiayaan yang
diberikan selalu terkait dengan sektor riil, karena yang
menjadi dasar adalah barang yang diperjualbelikan. Di
samping itu, harga yang telah disepakati tidak akan
mengalami perubahan sampai dengan berakhirnya akad.
Konsep jual-beli yang diaplikasikan dalam produk
pembiayaan Islami, meliputi:
Bai’u Murabahah
Bai’u Salam
Bai’u Istishna’
Ijarah wa Iqtina
3. SISTEM PEMBIAYAAN LAIN
(OTHER FINANCING)
Berbeda dengan kelompok pembiayaan dengan pola bagi
hasil maupun jual beli, dalam “pembiayaan lain” tidak ada
unsur barang sebagai objek pembiayaan, dan karenanya
lebih merupakan objek transaksi.
Kalaupun ada unsur barang yang terkait dalam transaksi,
maka bukan merupakan objek transaksi, melainkan
berfungsi sebagai jaminan.
Ada dua produk perbankan syariah yang termasuk dalam
kategori ini, masing-masing adalah:











Hawalah
Rahn

Selain itu, ada satu bentuk pembiayaan lagi yang disebut
dengan qardh. Hanya, sistem ini tidak bersifat komersial.
4. DISTRIBUSI HASIL USAHA




Perhitungan pembagian hasil usaha
antara shahibul mal dan mudharib sesuai
dengan nisbah yang disepakati pada awal
akad.
Perhitungan besaran hasil usaha yang
dipergunakan sebagai dasar perhitungan.
Alur Operasional
Bank Syariah
Penghimpunan dana
Wadiah yad dhamanah

Penyaluran Dana

Pendapatan

Prinsip bagi hasil

Bagi hasil /
Laba rugi

Prinsip jual beli

Margin

Mudharabah Mutlaqah
(Investasi Tdk Terikat)
Lainnya (modal dsb)

Laporan Laba Rugi

Tabel
Bagi Hasil

Pendapatan Mdh Mutlaqah
(Investasi Tidak Terikat)
Pendapatan berbasis
imbalan (f ee base income)

Agen : Mudharabah Muqayyadah / investasi terikat
Jasa keuangan : w akalah, kafalah, sharf
a. Prinsip Distribusi Hasil Usaha
1. Revenue Sharing
 Yang dibagikan adalah pendapatan (revenue).
 Shahibul mal menanggung kerugian: usaha
dilikuidasi, jumlah aktiva lebih kecil daripada
kewajiban.
2. Profit Sharing
 Yang dibagikan adalah keuntungan (profit).
 Kerugian bukan kelalaian mudharib ditanggung
oleh shahibul mal.
b. Landasan Syariah Prinsip Distribusi
Hasil Usaha
1. QS Al-Baqarah [2]:282
Hai orang yang beriman, jika kamu
melakukan transaksi hutang piutang
untuk jangka waktu yang ditentukan
tuliskanlah,…
2. QS Al-Ma`idah [5]:1
Hai orang-orang yang beriman! penuhilah
akad-akad itu...
3. Hadis riwayat Tirmidzi dan Amr bin Auf’,
“Perdamaian dapat dilakukan kaum muslimin
kecuali perdamaian yang mengharamkan yang
halal atau menghalalkan yang haram.”
4. Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari ‘Ubadah bin
Shamit, riwayat Ahmad dari Ibnu Abbas, dan
riwayat Malik dari Yahya, “Tidak boleh
membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula
membahayakan orang lain.”
5. Kaidah Fikih:




Pada dasarnya segala bentuk muamalah adalah boleh
dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkanya.
Di mana terdapat kemaslahatan, di sana terdapat
hukum Allah.
Sistem Bagi Hasil
Lap Laba Rugi Bank
(sebagai mudharib)

Lap L/R Pengelolaan
Dana Mudharabah

=

Pendapatan :
• Pengelolaan dana

(+/-)

Pendapatan Penyaluran
Mudharabah
• Bagi Hasil (prinsip bagi hasil)

Revenue Sharing

Alokasi Keuntungan Kerugian
Kepada pemilik rekening ITT

• Margin (prinsip jual beli)
• Lainnya (SWBI, IMA dsb)

Tabel
Distribusi Pendapatan

(+/+)
Pendapatan :
• Fee base income

Beban Pengelolaan
Mudharabah
• Beban Tenaga Kerja Mudharabah

(-/-)

• Beban Administrasi Mudharabah
• Beban Penyusutan Mudharabah
• Beban Opr Mudharabah Lainnya

Beban Mudharib :
• Beban Tenaga Kerja

Laba/Rugi

Shahibul
maal

g
n
a
h
S
s
L
t
i
f
o
r
P

=

=

M
l
u
b
a
h
S
i
s
r
o
P

• Beban Administrasi
• Beban Opr Lainnya

(-/-)

Laba/Rugi Mudharabah
c. Landasan Syariah Profit & Loss Sharing




Pendapat Abu Hanifah, Malik, dan Mazhab
Zaidiyah: Mudharib dapat membelanjakan harta
mudharabah hanya bila perdagangannya itu di
perjalanan, baik itu berupa biaya makan,
minum, pakaian, dan sebagainya.
Imam Hanbali:




Membolehkan mudharib untuk menafkahkan sebagian
dari harta mudharabah, baik dalam keadaan menetap
atau bepergian dengan izin shahibul mal.
Besarnya nafkah yang boleh digunakan adalah nafkah
yang telah dikenal (menurut kebiasaan) para
pedagang dan tidak boleh boros.
C. SISTEM PEMBIAYAAN BAGI HASIL
(PROFIT & LOSS SHARING)




Bentuk khusus kontrak keuangan yang telah
dikembangkan untuk menggantikan mekanisme bunga
dalam transaksi keuangan adalah mekanisme bagi hasil
(Murinde, Naser dan Wallace, 1995). Mekanisme bagi
hasil ini merupakan core product bagi Islamic financial
institution, seperti Islamic Banking. Sebab, Islamic
Banking secara eksplisit melarang penerapan tingkat
bunga pada semua transaksi keuangannya.
Secara umum prinsip bagi hasil dalam Islamic Banking
dapat dilakukan dalam empat akad utama, yaitu:
musyarakah; mudharabah; muzara’ah; musaqah
(Antonio, 2000). Namun, yang banyak dipakai di Islamic
Banking adalah musyarakah dan mudharabah. Kedua
akad produk biasanya tergolong sebagai kontrak bagi
hasil (Antonio, 2000; Siddiqi, 1983; Chapra, 1985;
Muhamad, 2001; Warde, 1999; Humayon, Harvey dan
Presley, 1999).
1. MUSYARAKAH
a. Pengertian

Musyarakah adalah akad kerja sama
antara dua pihak atau lebih untuk suatu
usaha tertentu di mana setiap pihak
memberikan kontribusi dana (atau
amal/expertise) dengan kesepakatan bahwa
keuntungan dan risiko (kerugian) akan
ditanggung bersama sesuai dengan
kesepakatan.

b. Jenis Musyarakah Akad
(Syirkah Uqud)
1. Syirkah ‘Inan

Akad kerja sama antara dua orang atau lebih, masing-masing
memberikan kontribusi dana dan berpartisipasi dalam kerja.
Porsi dana dan bobot partisipasi dalam kerja tidak harus sama,
bahkan dimungkinkan hanya salah seorang yang aktif mengelola
usaha yang ditunjuk oleh partner lainnya. Sementara itu,
keuntungan atau kerugian yang timbul dibagi menurut
kesepakatan bersama.
2. Syirkah Mufawadhah

Akad kerja sama antara dua orang atau lebih, masing-masing
memberikan kontribusi dana dalam porsi yang sama dan
berpartisipasi dalam kerja dengan bobot yang sama pula. Setiap
partner saling menanggung satu sama lain dalam hak dan
kewajiban. Tidak diperkenankan salah seorang memasukkan
modal yang lebih besar dan memeroleh keuntungan yang lebih
besar pula dibandingkan dengan partner lainnya. Keuntungan
maupun kerugian yang diperoleh harus dibagi secara sama.
3. Syirkah A’mal

Kesepakatan kerja sama antara dua orang atau lebih
yang memiliki profesi dan keahlian tertentu, untuk
menerima serta melaksanakan suatu pekerjaan secara
bersama dan berbagi keuntungan dari hasil yang
diperoleh.
4. Syirkah Wujuh

Syirkah ini terbentuk antara dua orang atau lebih, tanpa
setoran modal. Modal yang digunakan hanyalah nama
baik yang dimiliki, terutama karena kepribadian dan
kejujuran masing-masing dalam berniaga. Dengan
memiliki reputasi seperti itu, mereka dapat membeli
barang-barang tertentu dengan pembayaran tangguh dan
menjualnya kembali secara tunai. Keuntungan yang
diperoleh akan dibagi sesuai dengan kesepakatan
bersama.
c. Prinsip Musyarakah




Proyek atau kegiatan usaha yang akan
dikerjakan feasible dan tidak bertentangan
dengan syariah.
Pihak-pihak yang turut dalam kerja sama
memasukkan dana musyarakah, dengan
ketentuan:



Dapat berupa uang tunai atau assets yang likuid.
Dana yang terhimpun bukan lagi milik perorangan,
tetapi menjadi dana usaha.
Skema Musyarakah:

Akad Musyarakah
50%

Laba

60%
Modal

40% Modal
Keahlian

Keahlian
Partner 1

50%

Partner 2
Proyek/Usaha
60%

40%
Rugi
d. Musyarakah dalam Teknis Perbankan
1. Pengertian




Musyarakah merupakan akad kerja sama
pembiayaan antara Islamic Banking, atau
beberapa lembaga keuangan secara bersamasama, dan nasabah untuk mengelola suatu
kegiatan usaha. Masing-masing memasukkan
penyertaan dana sesuai porsi yang disepakati.
Pengelolaan kegiatan usaha, dipercayakan
kepada nasabah.
Selaku pengelola, nasabah wajib menyampaikan
laporan berkala mengenai perkembangan usaha
kepada bank-bank sebagai pemilik dana. Di
samping itu, pemilik dana dapat melakukan
intervensi kebijakan usaha.
2. Aplikasi
 Pembiayaan dalam modal kerja; dapat
dialokasikan untuk perusahaan yang
bergerak dalam bidang konstruksi,
industri, perdagangan, dan jasa.
 Pembiayaan investasi; dapat dialokasikan
untuk perusahaan yang bergerak dalam
bidang industri.
 Pembiayaan secara sindikasi; baik untuk
kepentingan modal kerja maupun
investasi.
2. Mudharabah
a. Pengertian Mudharabah


Mudharabah, berasal dari kata dharb, artinya memukul
atau berjalan. Pengertian memukul atau berjalan ini lebih
tepatnya adalah proses seseorang memukulkan kakinya
dalam menjalankan usaha. Secara teknis mudharabah
adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak di mana
pihak pertama (shahibul mal) menyediakan seluruh
(100%) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi
pengelola. Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi
menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak,
sedangkan kerugian ditanggung oleh pemilik modal
selama kerugian itu bukan akibat kelalaian pengelola.
Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan
atau kelalaian pengelola, maka pengelola harus
bertanggung jawab atas kerugian tersebut


Secara lebih spesifik, pengertian mudharabah dapat dirinci
sebagai berikut:
 Mudharabah adalah akad kerja sama antara pemilik
dana (shahibul mal), yang menyediakan seluruh
kebutuhan modal, dan pihak pengelola usaha
(mudharib) untuk melakukan suatu kegiatan usaha
bersama. Keuntungan yang diperoleh dibagi menurut
perbandingan (nisbah) yang disepakati.
 Dalam hal terjadi kerugian, maka ditanggung oleh
pemilik modal selama bukan diakibatkan kelalaian
pengelola usaha. Sedangkan, kerugian yang timbul
karena kelalaian pengelola akan menjadi tanggung
jawab pengelola usaha itu sendiri.
 Pemilik modal tidak turut campur dalam pengeloalaan
usaha, tetapi memunyai hak untuk melakukan
pengawasan.
b. Landasan Hukum Mudharabah


QS Al-Jumu’ah [62]: 10

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebarkanlah
kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah
Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.


Hadis riwayat Ibnu Majah
“Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkatan: jual beli
secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan
mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan
rumah, bukan untuk dijual.”
c. Jenis Mudharabah

1. Mudharabah Muthlaqah
Pemilik dana (shahibul mal) memberikan keleluasaan
penuh kepada pengelola (mudharib) dalam menentukan
jenis usaha maupun pola pengelolaan yang dianggapnya
baik dan menguntungkan sepanjang tidak bertentangan
dengan ketentuan syariah.
2. Mudharabah Muqayyadah
Pemilik dana memberikan batasan-batasan tertentu
kepada pengelola usaha dengan menetapkan jenis usaha
yang harus dikelola, jangka waktu pengelolaan, lokasi
usaha, dan sebagainya.
Skema Mudharabah: Contoh Aplikasi Perbankan

(1)

100%

Akad Mudharabah

Rugi

(3b)

100% Modal
Usaha
Konveksi

(2)
Bank Syariah
“H”
Peng. Mdl. Ush. Rp 15
Juta/Bln (3)

50%(Nisbah)
(3a)

0%

(1)

(3a)

Keahlian
(2)

Firman

50%(Nisbah)
Laba

(3a)
d. Ketentuan dan Rukun Mudharabah






Mudharabah sebagai sebuah kegiatan kerja
sama ekonomi antara dua pihak memunyai
beberapa ketentuan yang harus dipenuhi dalam
rangka mengikat jalinan kerja sama tersebut
dalam kerangka hukum.
Menurut mazhab Hanafi, dalam kaitannya
dengan kontrak tersebut, unsur yang paling
mendasar adalah ijab dan qabul (offer and
acceptence). Artinya bersesuaiannya keinginan
dan maksud dari dua pihak tersebut untuk
menjalin ikatan kerja sama (Nyazee,1997).
Namun, beberapa mazhab lain, seperti Syafi’i,
mengajukan beberapa unsur mudharabah yang
tidak hanya adanya ijab dan qabul, tetapi juga
adanya dua pihak, adanya kerja, adanya laba,
dan adanya modal (Al-Ramli, vol.V).
1.

Ijab dan qabul.
Pernyataan kehendak yang berupa ijab dan qabul antara kedua pihak.

Syarat-syarat, yaitu:
a.
Harus jelas menunjukkan maksud untuk melakukan kegiatan mudharabah.
Dalam menjelaskan maksud tersebut, bisa menggunakan kata mudharabah,
qiradh, muqaradhah, mu’amalah, atau semua kata yang semakna
dengannya. Bisa pula tidak menyebutkan kata mudharabah dan kata-kata
sepadan lainnya jika maksud dari penawaran tersebut sudah dapat dipahami.
Misalnya, “Ambil uang ini dan gunakan untuk usaha dan keuntungan kita bagi
berdua.” (Al-Kasani, 1990).
b.
Harus bertemu. Artinya, penawaran pihak pertama sampai dan diketahui oleh
pihak kedua. Ijab yang diucapkan pihak pertama harus diterima dan disetujui
oleh pihak kedua sebagai ungkapan kesediaan bekerja sama. Kesediaan
tersebut bisa diungkapkan dengan kata-kata atau gerakan tubuh (isyarat)
lain yang menunjukkan kesediaan. Misalnya, dengan mengucapkan, “Ya, saya
terima,” atau “Saya setuju,” atau dengan isyarat-isyarat setuju lain seperti
menganggukkan kepala, diam, atau senyum. Oleh karena itu, peristiwa ini
harus terjadi dalam satu majlis akad agar terhindar dari kesalahpahaman.
c.
Harus sesuai maksud pihak pertama, cocok dengan keinginan pihak kedua.
Secara lebih luas, ijab dan qabul tidak saja terjadi dalam soal kesediaan dua
pihak untuk menjadi pemodal dan pengusaha, tetapi juga kesediaan untuk
menerima kesepakatan-kesepakatan lain yang muncul lebih terinci. Dalam hal
ini, ijab (penawaran) tidak selalu diungkapkan oleh pihak pertama. Begitu
juga sebaliknya. Keduanya harus saling menyetujui. Artinya, jika pihak
pertama melakukan ijab (penawaran), maka pihak kedua melakukan qabul
(penerimaan). Begitu juga sebaliknya. Ketika kesepakatan-kesepakatan itu
disetujui, maka terjadilah hukum.
2.

Adanya dua pihak (pihak penyedia dana dan pengusaha).
Para pihak (shahibul mal dan mudharib) disyaratkan:

a.

Cakap bertindak hukum secara syar’i.
Artinya, shahibul mal memiliki kapasitas untuk menjadi
pemodal dan mudharib memiliki kapasitas menjadi
pengelola. Jadi, mudharabah yang disepakati oleh
shahibul mal yang memunyai penyakit gila temporer tidak
sah. Namun, jika dikuasakan oleh orang lain, maka sah.
Bagi mudharib, asalkan ia memahami maksud kontrak
saja sudah cukup sah mudharabah-nya.
Memiliki walayah tawkil wa wakalah (memiliki
kewenangan mewakilkan/memberi kuasa dan menerima
pemberian kuasa), karena penyerahan modal oleh pihak
pemberi modal kepada pihak pengelola modal merupakan
suatu bentuk pemberian kuasa untuk mengolah modal
tersebut.

b.
3. Adanya modal.
Modal disyaratkan:
a.

b.

Harus jelas jumlah dan jenisnya dan diketahui oleh kedua belah pihak pada
waktu dibuatnya akad mudharabah, sehingga tidak menimbulkan sengketa
dalam pembagian laba karena ketidakjelasan jumlah. Kepastian dan
kejelasan laba itu penting dalam kontrak ini.
Harus berupa uang (bukan barang). Mengenai modal harus berupa uang
dan tidak boleh barang adalah pendapat mayoritas ulama. Mereka
beralasan, mudharabah dengan barang itu dapat menimbulkan kesamaran,
karena barang pada umumnya bersifat fluktuatif. Jika barang bersifat tidak
fluktuatif seperti emas dan perak, mereka berbeda pendapat. Imam Malik
dalam hal ini tidak tegas untuk melarang atau membolehkannya. Oleh
karenanya, para muridnya berbeda pendapat. Sebagian membolehkan dan
sebagian lain, seperti Ibnu Al-Qasim, membolehkannya dengan catatan
emas dan perak tersebut belum menjadi barang perhiasan. Dalam kaitan
mudharabah dengan emas atau perak ini, Imam Syafi’i melarangnya.
Secara umum fuqaha yang melarang mudharabah dengan emas atau perak
beralasan bahwa keduanya disamakan dengan barang, sedangkan yang
membolehkannya, termasuk di antaranya Ibnu Abi Laila, beralasan bahwa
keduanya disamakan dengan dinar dan dirham. Keduanya hanya berbeda
sedikit dalam harga (tidak fluktuatif). Dalam kaitannya dengan modal ini
pula, para fuqaha sepakat bahwa jika barang yang diserahkan tersebut
tidak untuk mudharabah, tetapi untuk dijadikan sebagai sebuah modal
mudharabah dengan cara menjualnya terlebih dahulu, maka hal ini
diperbolehkan. Menurut Ibnu Hazm, karena hal ini telah banyak disebutkan
dalam hadis Nabi Saw..
(c) Uang bersifat tunai (bukan hutang).
Mengenai keharusan uang dalam bentuk tunai (tidak hutang) bentuknya
adalah, misalnya, shahibul mal memiliki piutang kepada seseorang. Piutang
pada seseorang tersebut kemudian dijadikan modal mudharabah bersama si
berhutang. Ini tidak dibenarkan karena piutang itu sebelum diterimakan oleh
si berhutang kepada si berpihutang, masih merupakan milik siberhutang.
Jadi, apabila ia jalankan dalam suatu usaha, berarti ia menjalankan dananya
sendiri, bukan dana si berpihutang. Selain itu, hal ini bisa membuka pintu
perbuatan riba, yaitu memberi tangguh kepada si berhutang yang belum
mampu membayar hutangnya dengan kompensasi si berpihutang
mendapatkan imbalan tertentu. Dalam hal ini, para ulama fikih tidak berbeda
pendapat. Perselisihan pendapat para fuqaha terletak pada orang yang
menyuruh orang lain untuk menerima hutang dari orang ketiga, kemudian
orang tersebut memutarkannya berdasarkan mudharabah. Imam Malik dan
para pengikutnya tidak membolehkan hal tersebut, karena memandang
bahwa pada cara tersebut terdapat penambahan kerja dari orang tersebut
kepada orang yang bekerja (memutarkan harta). Kerja tambahan tersebut
adalah suruhan untuk menerimanya. Alasan ini didasarkan pada aturan
pokok mudharabah dalam mazhab Maliki bahwa barangsiapa mensyaratkan
manfaat yang lebih dalam mudharabah, maka batal. Sementara itu, Imam
Syafi’i dan Abu Hanifah membolehkannya dengan alasan orang tersebut
telah mewakilkan penerimaan kepada orang lain. Jadi, ia tidak menjadikan
penerimaan sebagai syarat pemutaran uang.
(d) Modal diserahkan sepenuhnya kepada pengelola
secara langsung. Jika tidak diserahkan kepada
mudharib secara langsung dan tidak diserahkan
sepenuhnya (berangsur-angsur) dikhawatirkan
akan terjadi kerusakan pada modal, yaitu
penundaan yang dapat mengganggu waktu mulai
bekerja dan akibat yang lebih jauh mengurangi
kerjanya secara maksimal. Jumhur fuqaha
sepakat akan hal ini. Hanya, sebagian dari
mazhab Hanafi lebih fleksibel menambahkan
apabila pengangsuran kucuran modal tersebut
dikehendaki oleh mudharib, maka tidak batal.
4. Adanya usaha (’amal).
Mengenai jenis usaha pengelolaan ini, sebagian ulama, khususnya
Syafi’i dan Maliki, mensyaratkan hanya berupa usaha dagang (commercial).
Mereka menolak usaha yang berjenis kegiatan industri (manufacture) dengan
anggapan bahwa kegiatan industri itu termasuk dalam kontrak persewaan
(ijarah) yang semua kerugian dan keuntungan ditanggung oleh pemilik modal
(investor), sementara para pegawainya digaji secara tetap (Udovitch, 1970).
Tetapi, Abu Hanifah membolehkan usaha apa saja selain berdagang, termasuk
kegiatan kerajinan atau industri. Seseorang dapat memberikan modalnya
kepada pekerja yang akan digunakannya untuk membeli bahan mentah untuk
dibuat sebuah produk dan kemudian dijual. Keuntungan ini dapat dibagi dua
antara keduanya. Ini memang tidak termasuk jenis perdagangan murni yang
seseorang hanya terlibat dalam pembelian dan penjualan. Tetapi, hal tersebut
dapat dibenarkan, sebab persekutuan antara modal dan tenaga terjadi dalam
kegiatan ini; bahkan mengenai keuntungan kadang-kadang lebih dapat
dipastikan, sehingga bagi hasil akan selalu dapat diwujudkan. Kalau ditarik lebih
jauh ke era modern ini, makna perdagangan menjadi meluas. Semua kerja
ekonomi yang mengandung kegiatan membuat atau membeli produk atau jasa,
kemudian menjualnya atau menjadikan produk atau jasa tersebut menjadi
sebuah keuntungan merupakan arti dari perdagangan. Oleh karena itu,
tampaknya semua kegiatan ekonomi itu mengandung unsur perdagangan. Jadi
sesungguhnya, dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa jenis usaha yang
diperbolehkan adalah semua jenis usaha. Tentu saja tidak hanya
menguntungkan, juga harus sesuai dengan ketentuan syariah, sehingga
merupakan usaha yang halal (Anwar, 2001).
Dalam menjalankan usaha ini, shahibul mal tidak boleh ikut
campur dalam teknis operasional dan manajemen usaha, dan tidak boleh
membatasi usaha mudharib sedemikian rupa sehingga mengakibatkan upaya
pemerolehan keuntungan maksimal tidak tercapai. Tetapi, di lain pihak,
pengelola harus senantiasa menjalankan usahanya dalam ketentuan syariah
secara umum. Apabila usaha itu dijalankan di bawah akad mudharabah
terbatas, maka ia harus memenuhi klausul-klausul yang ditentukan oleh
shahibul mal.
5. Adanya keuntungan.
(a)

(b)

(c)

Mengenai keuntungan, disyaratkan bahwa:
Keuntungan tidak boleh dihitung berdasarkan persentase dari jumlah
modal yang diinvestasikan, melainkan hanya keuntungannya saja setelah
dipotong besarnya modal. Dalam hal ini, penghitungan harus dilakukan
secara cermat. Setiap keadaan yang membuat ketidakjelasan
penghitungan akan membawa kepada suatu kontrak yang tidak sah.
Keuntungan untuk setiap pihak tidak ditentukan dalam jumlah nominal,
misalnya satu juta, dua juta, dan seterusnya. Jika ditentukan dengan nilai
nominal, berarti shahibul mal telah mematok untung tertentu dari sebuah
usaha yang belum jelas untung dan ruginya. Ini akan membawa pada
perbuatan riba.
Nisbah pembagian ditentukan dengan persentase, misalnya 60:40%,
50:50%, dan seterusnya. Penentuan persentase tidak harus terikat pada
bilangan tertentu. Artinya, jika nisbah bagi hasil tidak ditentukan pada saat
akad, maka setiap pihak memahami bahwa keuntungan itu akan dibagi
secara sama, karena aturan umum dalam penghitungan ini adalah
kesamaan. Namun, tindakan berupa penyebutan nisbah bagi hasil pada
awal kontrak adalah lebih baik untuk menghindari munculnya
kesalahpahaman. Persentase yang diungkapkan oleh salah satu pihak
dianggap cukup. Jika terdapat pihak ketiga, seorang yang membantu
usaha mudharib, maka persentase bagi hasil tidak boleh dibagi menjadi
tiga bagian. Namun, jika pihak ketiga itu merupakan budak (pekerja) dari
shahibul mal, para ulama berbeda pendapat. Imam Malik, Syafi’i, dan Abu
Hanifah membolehkannya, sementara para ulama murid Imam Malik tidak
membolehkannya.
(d)

Keuntungan harus menjadi hak bersama sehingga tidak boleh
diperjanjikan bahwa seluruh keuntungan untuk salah satu pihak.
Pada dasarnya, mudharabah membagi keuntungan berdasarkan
kesamaan. Namun, jika mudharib mensyaratkan seluruh
keuntungan untuk dirinya, para fuqaha berbeda pendapat.
Imam Malik membolehkannya, karena cara itu merupakan
kebaikan atau kesukarelaan shahibul mal. Di lain pihak, Imam
Syafi’i melarangnya. Ia menganggap cara seperti itu sebagai
suatu kesamaran, karena jika terjadi kerugian, shahibul mal pun
telah menanggung modalnya. Jadi, menurut Imam Syafi’i, beban
risiko yang ditanggung shahibul mal itu telah berat dan tidak
boleh ditambahi lagi. Imam Abu Hanifah, berkenaan dengan
masalah ini, berpendapat bahwa hal itu tidak termasuk kategori
mudharabah, melainkan qardh (pinjaman). Artinya, pelimpahan
seluruh keuntungan ke tangan mudharib menjadikan kegiatan
ekonomi itu sebagai sebuah pinjaman. Maka dari itu, jika terjadi
kejadian yang sebaliknya (kerugian), maka seluruh kerugian
ditanggung oleh mudharib.
Kesepakatan tentang aturan dan wewenang
dalam Kerja sama mudharabah
1.
2.
3.

Manajemen
Tenggang Waktu (Duration)
Jaminan (Dhaman)
1.

Manajemen.
Ketika mudharib telah siap dan menyediakan tenaga untuk kerja sama
mudharabah, maka saat itulah ia mulai mengelola modal shahibul mal.
Pengelolaan usaha tersebut membutuhkan kreativitas dan keterampilan tertentu
yang kadang-kadang hanya ia sendiri yang mengetahuinya. Oleh karena itu, dalam
kaitannya dengan manajemen, kebebasan mudharib dalam merencanakan,
merancang, mengatur, dan mengelola usaha merupakan faktor yang menentukan.
Menurut mazhab Hanafi, mudharabah itu dua macam: mudharabah muthlaqah
(absolut, tidak terikat) dan mudharabah muqayyadah (terikat).
a. Dalam mudharabah muthlaqah, mudharib mendapatkan kebebasan untuk mensetup mudharabah sebagaimana ia inginkan. Mudharib bisa membawa pergi
modalnya, memberikan modalnya ke pihak ketiga atau bahkan untuk modal
musyarakah dengan orang lain. Mudharib juga bisa mencampur modal
mudharabah dengan modalnya sendiri. Dia bisa menggunakan modal tersebut
untuk membeli semua barang kepada siapa pun atau kapan pun. Dia juga bisa
menjual barang-barang itu secara tunai atau cicilan. Dia bebas menyewa orang
atau barang dengan modal itu. Interfensi shahibul mal dalam mudharabah ini tidak
ada.
b. Sebaliknya, dalam mudharabah muqayyadah, semua keputusan yang mengatur
praktik mudharabah ditentukan oleh shahibul mal. Mudharib tidak bebas
mewujudkan keinginannya, tetapi dia harus terbatasi oleh aturan-aturan yang
ditetapkan oleh shahibul mal dalam sebuah kontrak (Nyazee, 1997). Menurut
Imam Malik dan Imam Syafi’i, jika shahibul mal mengatur mudharib untuk
membeli barang tertentu dan kepada seseorang tertentu, maka mudharabah itu
menjadi batal, karena hal itu dikhawatirkan upaya perolehan keuntungan yang
maksimal tidak terpenuhi.
2. Tenggang waktu (duration).
Satu hal yang harus mendapat kesepakatan antara shahibul mal dan mudharib
adalah lama waktu usaha. Ini penting karena tidak semua modal yang diberikan
kepada mudharib itu dana mati yang tidak dibutuhkan oleh pemiliknya. Di samping
itu, penentuan waktu adalah sebuah cara untuk memacu mudharib bertindak lebih
efektif dan terencana. Namun, di sisi lain, penentuan waktu itu bisa membuat
mudharib menjadi tertekan dan tidak bebas menjalani usaha mudharabah, apalagi
kerja ekonomi bersifat spekulatif, tidak selalu berjalan lancar. Karenanya, para
fuqaha berselisih pendapat. Menurut mazhab Maliki dan Syafi’I, penentuan waktu
itu dapat membatalkan kontrak, sedangkan menurut mazhab Hanafi dan Hambali,
penentuan waktu itu sah. Kontrak mudharabah dapat diakhiri oleh salah satu pihak
dengan memberitahukan terlebih dahulu. Ini dimungkinkan terjadi, dan para
fuqaha sepakat bahwa mudharabah adalah kontrak yang tidak mengikat. Tidak
ada perbedaan pendapat mengenai boleh diakhirinya kontrak sebelum mudharib
melakukan usaha. Imam Syafi’i dan Abu Hanifah berpendapat, ketika mudharib
melakukan kerja, salah satu pihak boleh dalam mengakhirinya. Namun demikian,
Imam Malik tidak membolehkannya. Ketika mudharabah menjadi batal, karena
suatu alasan tertentu, maka ia berhak menerima upah tertentu atas pekerjaan
yang telah ia kerjakan, dan ini tidak termasuk wilayah kontrak mudharabah, tetapi
wilayah kontrak sewa (ijarah). Oleh karena itu, dia harus dibayar atas usahanya.
3. Jaminan (dhaman).
Satu hal yang tidak kalah penting dalam mewujudkan kesepakatan
bersama adalah aturan tentang jaminan atau tanggungan. Tanggungan
menjadi penting ketika shahibul mal khawatir akan munculnya
penyelewengan dari mudharib. Namun, pertanyaan penting yang perlu
diajukan adalah apakah dalam suatu kerja sama yang saling
menguntungkan, jaminan menjadi suatu yang urgen? Bukankah kerja
sama itu suatu kontrak yang saling memercayai? Apakah setiap kerugian
itu berarti penyelewengan? Para ulama berbeda pendapat mengenai
keharusan adanya tanggungan dalam mudharabah ini. Para fuqaha pada
dasarnya tidak setuju adanya tanggungan. Alasannya, mudharabah
merupakan kerja sama saling menanggung; satu pihak menanggung
modal dan pihak lain menanggung kerja, dan mereka saling memercayai.
Jika terjadi kerugian, semua pihak merasakan kerugian tersebut. Oleh
karenanya, jaminan harus ditiadakan. Namun, jaminan menjadi perlu
ketika modal yang rusak melampaui batas. Tetapi, bagaimana batasan
sesuatu dianggap melampaui batas? Para ulama pun berbeda pendapat.
Menurut Imam Malik dan Syafi’i, jika shahibul mal bersikeras terhadap
adanya jaminan dan menetapkannya sebagai bagian dari kontrak, maka
kontrak menjadi tidak sah.
Implikasi dari Kontrak Mudharabah
1.
2.
3.

Mudharib sebagai Amin
Mudharib sebagai Wakil
Mudharib sebagai Mitra dalam Laba
1. Mudharib sebagai amin (orang yang dipercaya).

Seorang mudharib menjadi amin untuk modal yang telah
diserahkan kepadanya. Ini berarti dia telah diizinkan oleh
pemilik modal untuk memiliki modal tersebut. Penyerahan ini
bukan suatu jual beli, pinjaman, atau sewa. Modal yang
diserahkan dalam hal ini adalah amanah yang harus dijaga oleh
mudharib. Namun, pengertian amanah tersebut tetap berpijak
pada satu ketentuan: jika modal itu rusak di tangannya tanpa
ada unsur penyelewengan, maka tidak ada tanggungan baginya.
Posisi mudharib sebagai al-amin mengindikasikan bahwa
penyerahan modal dan pengelolaannya sepenuhnya tergantung
kepada mudharib. Sebab, dalam pengelolaannya, modal
tersebut akan bercampur dengan modal dan barang-barang lain
milik mudharib. Keadaan seperti ini tentu saja sulit dideteksi.
Oleh karena itu, diposisikannya mudharib sebagai amin akan
dapat memunculkan kesadaran dan sikap kehati-hatian
pengelola dalam mengolah usahanya, utamanya memisahkan
antara modal pribadi dan modal orang lain dalam penghitungan
keuntungannya.
2. Mudharib sebagai wakil.

Mudharib adalah wakil dari shahibul mal dalam semua
transaksi yang ia sepakati. Konsekuensinya, hak-hak
kontrak kembali kepadanya sebagai seorang yang
menyepakati transaksi. Di samping itu, dia adalah orang
yang dituntut oleh para penjual untuk melakukan
pembayaran dan dituntut oleh para pembeli untuk
mengirimkan barang. Pemaknaan mudharabah seperti ini
dilakukan oleh mazhab Hanafi. Mudharib sebagai wakil
menjelaskan bahwa mudharib merupakan tangan kanan
dari shahibul mal dalam kegiatan bisnis. Implikasinya,
sebagai seorang wakil, tentu dia tidak menanggung apa
pun dari modal ketika terjadi kerugian. Namun, menurut
mayoritas fuqaha, seorang wakil tetap akan mendapat
upah dari kerjanya.
3. Mudharib sebagai mitra dalam laba.

Mudharib akan mendapatkan bagian laba dari
usaha yang telah dia lakukan, sebab
mudharabah sendiri adalah pertemanan dalam
laba. Sementara seorang agen atau wakil tidak
mendapatkan laba ketika terjadi keuntungan
dalam usahanya, karena dia hanya teman dalam
kaitannya dengan kontrak. Pembagian laba ini
telah ditentukan pada awal kontrak. Dengan
menjadikan mudharib sebagai mitra dalam laba,
maka besar atau kecilnya laba akan sangat
tergantung pada keterampilan mudharib dalam
menjalankan usahanya.


Demikian pendapat para ulama fikih tentang
mudharabah. Pembahasan tentang mudharabah
yang diulas dalam bagian ini tidak hanya
memaparkan teori-teori fikih murni yang menjadi
sumber utama, tetapi juga teori-teori fikih yang
sudah dikombinasikan dengan pemikiran para
praktisi Islamic Banking, sehingga yang tampak
bukanlah analisis fikih secara keseluruhan, tetapi
teori-teori yang bersifat parsial yang menjadi
tumpuan bagi eksistensi Islamic Banking
sekaligus menjadi landasan operasionalnya.
e. Mudharabah dalam Teknis Perbankan
1. Pengertian (dalam Konteks Pembiayaan)

a.

Keuntungan usaha dibagi berdasarkan perbandingan
nisbah yang telah disepakati dan pada akhir periode kerja
sama nasabah harus mengembalikan semua modal usaha
lembaga keuangan.

b.

Dalam hal terjadi kerugian, akan menjadi tanggungan
lembaga keuangan, kecuali bila diakibatkan oleh kelalaian
nasabah. Untuk menghindari kemungkinan terjadinya
kerugian, lembaga keuangan harus memahami
karakteristik risiko usaha tersebut dan kerja sama dengan
nasabah untuk mengatasi berbagai masalah.
2. Aplikasi (dalam Konteks Pembiayaan)
a. Pembiayaan modal kerja; modal bagi
perusahaan yang bergerak dalam bidang
industri, perdagangan, dan jasa.
b. Pembiayaan investasi; untuk pengadaan barangbarang modal, aktiva tetap, dan sebagainya.
c. Pembiayaan investasi khusus; bank bertindak
dan memosisikan diri sebagai arranger yang
mempertemukan kepentingan pemilik dana,
seperti yayasan dan lembaga keuangan
nonbank, dengan pengusaha yang memerlukan.
3. Praktik Pembiayaan Mudharabah




Penempatan dana dapat dilakukan dalam bentuk
pembiayaan berakad jual beli maupun syirkah atau kerja
sama bagi hasil. Jika pembiayaan berakad jual beli (bai’u
bi tsaman ajil dan murabahah), maka bank akan
mendapatkan margin keuntungan. Pembagiannya tidak
begitu rumit. Namun, jika pembiayaan berkaitan dengan
akad syirkah (musyarakah dan mudharabah), maka
pembiayaan ini membutuhkan perhitungan-perhitungan
yang cukup “njlimet”.
Dalam pembiayaan mudharabah (bagi hasil), ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh kedua belah
pihak, yaitu: (1) nisbah bagi hasil yang disepakati; (2)
tingkat keuntungan bisnis aktual yang didapat. Oleh
karena itu, bank sebagai pihak yang memiliki dana akan
melakukan perhitungan nisbah yang akan dijadikan
kesepakatan pembagian pendapatan.
f. Cara Menentukan Nisbah
Nisbah merupakan faktor penting dalam menentukan bagi
hasil. Sebab, nisbah merupakan aspek yang disepakati
bersama antara kedua belah pihak yang melakukan
transaksi.

Untuk menentukan nisbah bagi hasil, perlu diperhatikan
aspek-aspek:
a. Data usaha,
b. Kemampuan angsuran,
c. Hasil usaha yang dijalankan atau tingkat return aktual
bisnis,
d. Tingkat return yang diharapkan,
e. Nisbah pembiayaan,
f. Distribusi pembagian hasil.



Penentuan nisbah bagi hasil dibuat sesuai
dengan jenis pembiayaan mudharabah
yang dipilih. Ada dua jenis pembiayaan
mudharabah, yaitu: (1) mudharabah
muthlaqah dan (2) mudharabah
muqayyadah.
1.



Nisbah Bagi Hasil
Pembiayaan Mudharabah Mutlaqah
Nisbah Bagi Hasil Pembiayaan Mudharabah Muthlaqah
Pembiayaan mudharabah muthlaqah adalah pembiayaan
yang pemilik dana tidak meminta syarat, kecuali syarat
baku, untuk berlakunya kontrak mudharabah. Untuk ini,
nisbah dibuat berdasarkan metode expected profit rate
(EPR). EPR diperoleh berdasarkan: (1) tingkat
keuntungan rata-rata pada industri sejenis; (2)
pertumbuhan ekonomi; (3) dihitung dari nilai required
profit rate (RPR)[1] yang berlaku di bank yang
bersangkutan.



[1]Nilai required profit rate diperoleh dengan rumus: rpr
= n. v (n = tingkat keuntungan dalam transaksi tunai; v
= jumlah transaksi dalam satu periode).


Dengan demikian, nisbah bagi hasil dapat dihitung dengan
rumus sebagai berikut:
Expected Profit Rate (EPR)
Nisbah Bank= ------------------------- x 100%
Expected Return Bisnis yang dibiayai (ERB)




Nisbah Nasabah
Aktual return bank
bisnis

= 100% - Nisbah Bank
= nisbah bank + aktual return
Contoh:
 Diketahui data ekonomi sebagai berikut:
tingkat return bisnis jual beli sepeda
motor adalah sebesar 7%. Dari tingkat
return bisnis tersebut, Islamic Banking
menargetkan keuntungannya sebesar 3%.
Dengan demikian, nisbah bank dan nisbah
untuk nasabah dapat dicari dengan cara,
sebagai berikut:

EPR
Nisbah bank = ------- x 100%, jadi
ERB
3%
Nisbah bank = -------- x 100% = 42,86%
7%




Nisbah nasabah = 100% - 42,86% = 57,14%
Rasio (nisbah) bagi hasil antara bank dan nasabah adalah 42,86%
: 57,14%
Setelah perhitungan nisbah ditemukan, maka pihak bank akan
melakukan tawar-menawar nisbah dengan nasabah pembiayaan.
Jika nisbah tersebut disepakati, maka pembiayaan mudharabah
yang akan dijalankan diikat dengan nisbah pembagian
keuntungan bisnis aktual dengan porsi nisbah antara bank dan
nasabah adalah 42,86% banding 57,14%.
2. Nisbah Bagi Hasil Pembiayaan
Mudharabah Muqayyadah


Suatu ketika Islamic business mendapatkan
nasabah yang menghendaki pembiayaan
mudharabah muqayyadah. Pada pembiayaan
jenis ini, biasanya nasabah menuntut adanya
nisbah yang sebanding dengan situasi bisnis
tertentu. Dengan kata lain, pada kontrak
pembiayaan mudharabah muqayyadah, pemilik
dana menambah syarat di luar syarat kebiasaan
kontrak mudharabah.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Nisbah bagi hasil pada pembiayaan mudharabah
muqayyadah dapat dihitung, seperti pada kasus berikut.
Contoh:
Seseorang atau lembaga keuangan memiliki modal sebesar
Rp 125.000.000. Modal tersebut akan dibiayakan kepada
nasabah penjual kacang kedelai. Data-data yang terkait
dengan jual beli kacang kedelai adalah sebagai berikut:
Harga jual kacang kedelai
= Rp 2.150/kg
Harga jual kepada nasabah
= setara 16% p.a
(return yang diminta oleh pemilik dana muqayyadah)
Volume penjualan kedelai per bulan
= 65.000 kg
Nilai penjualan (65.000 x Rp 2.150)
= Rp 139.750.000
Harga pokok pembelian
= Rp 125.000.000
Laba bersih penjualan kedelai
= Rp 14.750.000
Berapa Nisbah Bagi Hasilnya? Perhitungan Nisbah:








Volume penjualan
Profit margin (Rp 14.750.000/139.750.000)x 100%
Lama piutang (data 31-07-2003)
Lama persediaan (data 31-08-2003)
Lama hutang dagang (pembayaran ke supplier dan carry)
Cash to cash period = 360/(DI+DR-DP)

=
=
=
=
=
=

65.000 kg
10,55%
65 hari
2 hari
0
5,4
Dengan demikian:




Profit margin per tahun = 5,4 x 10,55
Nisbah: (16%)/(57%)x100%
Nisbah untuk nasabah: 100% - 28%

= 57%
= 28%
= 72%

Rasio (nisbah) bagi hasil antara bank dan nasabah adalah:
bank = 28%, dan nasabah = 72%.
3. Contoh Perhitungan Bagi Hasil
Dalam Pembiayaan Mudharabah


Seorang nasabah mengajukan
pembiayaan untuk modal kerja dagang
sebesar Rp 100.000.000 selama satu
tahun. Jika situasi ekonomi mampu
memberikan return bisnis aktual sebesar
8% dan return bisnis yang diharapkan
Islamic business sebagai penyandang
dana sebesar 3%. Setelah bisnis
dijalankan, nasabah mampu mencetak
keuntungan bisnisnya selama satu tahun
sebagai berikut:
Bulan

Pendapatan Usaha

1

6.000.000

2

7.000.000

3

4.000.000

4

4.500.000

5

5.000.000

6

5.500.000

7

6.000.000

8

5.400.000

9

9.000.000

10

5.700.000

11

4.700.000

12

3.500.000
Pertanyaan:
1. Berapa nisbah yang harus disepakati
antara lembaga keuangan dengan
nasabah?
2. Bagaimana distribusi bagi hasil
pendapatan antara Islamic business
dengan nasabah berdasarkan data
tersebut di atas?

Penyelesaian
Langkah-langkah untuk menyelesaikan kasus di
atas dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Menentukan nisbah untuk kedua belah pihak
yang melakukan kontrak pembiayaan, yaitu:


a. Nisbah Islamic business = 3,2%/8% x 100% = 40%
b. Nisbah nasabah = 100% - 40% = 60%
c. Rasio (nisbah) antara Islamic business
dan nasabah adalah = 40% banding 60%.

2. Menghitung distribusi bagi hasil untuk bank dan
nasabah sesuai dengan nisbah dan pendapatan
aktual usaha, sebagai berikut:
Tabel pembantu penyelesaian
Bulan

Laba Usaha

Bagian lembaga
keuangan 40%

Bagian Nasabah
60%

Cicilan Pokok

Setoran

1

6.000.000

2.400.000

3.600.000

2.400.000

2

7.000.000

2.800.000

4.200.000

2.800.000

3

4.000.000

1.600.000

2.400.000

1.600.000

4

4.500.000

1.800.000

2.700.000

1.800.000

5

5.000.000

2.000.000

3.000.000

2.000.000

6

5.500.000

2.200.000

3.300.000

2.200.000

7

6.000.000

2.400.000

3.600.000

2.400.000

8

5.400.000

2.160.000

3.240.000

2.160.000

9

9.000.000

3.600.000

5.400.000

3.600.000

10

5.700.000

2.280.000

3,420.000

2.280.000

11

4.700.000

1.880.000

2.820.000

1.880.000

12

3.500.000

1.400.000

2.100.000

100.000.000

1.400.000

Total

66.300.000

26.520.000

39.780.000

100.000.000

126.520.000

% dari Hasil Usaha

0,40

0,60

% dari Modal

26,52

39.78
Catatan:
Jika dalam pembiayaan mudharabah ternyata
mengalami kerugian, maka kedua belah pihak
akan berbagai rugi. Pembagian rugi dilakukan
setelah diketahui dari mana sumber kerugian
tersebut timbul.
1. Jika kerugian diakibatkan risiko bisnis, maka
kerugian atas modal ditanggung oleh pemilik
modal, ementara nasabah menderita kerugian
dalam hal tenaga, waktu, dan biaya.
2. Jika kerugian diakibatkan risiko karakter nasabah
(moral hazard), maka nasabah menanggung
kerugiannya.

g. Permasalahan-Permasalahan
dalam Pembiayaan Mudharabah
Menurut beberapa pengamatan Saeed (2003), hal ini terjadi
karena beberapa alasan, di antaranya:
1. Standar Moral
 Terdapat anggapan bahwa standar moral yang berkembang di
kebanyakan komunitas muslim tidak memberi kebebasan
penggunaan bagi hasil sebagai mekanisme investasi. Hal ini
berdasarkan argumentasi yang mendorong bank untuk
mengadakan pemantauan lebih intensif terhadap setiap investasi
yang diberikan. Hal itu membuat operasional perbankan berjalan
tidak ekonomis dan tidak efisien. Berdasarkan alasan ini, Islamic
business menggunakan pembiayaan bagi hasil yang diberikan
setelah melakukan pemantauan yang mendalam terhadap bisnis
yang akan dijalankan. Dana hanya akan diberikan kepada rekanan
(mitra) yang efisien dalam mengelola bisnis, jujur dalam
melakukan transaksi, proyek usaha yang dijalankan profitable,
serta pembiayaan usaha tersebut umumnya untuk jangka pendek.

2. Ketidakefektifan Model Pembiayaan Bagi Hasil

Pembiayaan bagi hasil (mudharabah) tidak menyediakan
berbagai macam kebutuhan pembiayaan dari ekonomi
kontemporer. Walaupun demikian, pembiayaan bagi hasil
yang diterapkan dalam bentuk mudharabah maupun
musyarakah merupakan alat yang terbaik untuk
menghapus bunga dalam berbagai macam transaksi dan
pembiayaan jangka pendek. Namun, kemungkinan untuk
dilaksanakan ke dalam pembiayaan institusional menjadi
terhambat. Berbagai masalah yang berkaitan dengan
aplikasinya membuat prinsip mudharabah dan
musyarakah pada tingkat pembiayaan institusional benarbenar tidak dapat diterapkan. Di antara alasannya adalah
meningkatnya permintaan pinjaman pemerintah untuk
anggaran belanjanya. Dengan demikian, permintaan
pemakaian pembiayaan dengan sistem bagi hasil menjadi
tidak terpenuhi.
3. Berkaitan dengan Para Pengusaha

Keterkaitan lembaga keuangan dengan pembiayaan,
sistem bagi hasil untuk membantu perkembangan usaha
lebih banyak melibatkan pengusaha secara langsung
daripada sistem lainnya pada bank konvensional.
Lembaga keuangan memerlukan informasi yang lebih rinci
tentang aktivitas bisnis yang dibiayai dan besar
kemungkinan pihak lembaga keuangan turut
memengaruhi setiap pengambilan keputusan bisnis
mitranya. Pada sisi lain, keterlibatan yang tinggi ini akan
mengecilkan naluri pengusaha yang sebenarnya lebih
menuntut kebebasan yang luas daripada campur tangan
dalam penggunaan dana yang dipinjamkan.
4. Dari Segi Biaya

Pemberian pinjaman berdasarkan sistem bagi hasil memerlukan
kewaspadaan yang lebih tinggi dari pihak lembaga keuangan.
Lembaga keuangan kemungkinan besar meningkatkan kualitas
pegawainya dengan cara mempekerjakan para teknisi dan ahli
manajemen untuk mengevaluasi proyek usaha yang dipinjami
untuk mencermati lebih teliti dan lebih jeli daripada teknis
peminjaman pada bank konvensional. Hal ini akan
meningkatkan biaya yang dikeluarkan oleh para pebisnis dalam
menjaga efisiensi kinerja banknya yang secara langsung akan
berimbas terhadap pengembalian dana pinjaman. Otomatis ini
akan menimbulkan beban yang lebih besar terhadap pemakai
dana. Tambahan biaya yang dikeluarkan oleh para pebisnis yang
digunakan untuk menjaga efektivitas operasional perbankan
syariah kemungkinan akan menghasilkan biaya ekstra yang
ditanggung oleh mitra ketika mengembalikan dana pinjaman
bagi hasil.
5. Segi Teknis

Problem teknis menyangkut penggunaan sistem bagi hasil tampaknya
berkaitan dengan pihak lembaga keuangan, nasabah, perhitungan
keuntungan. Pada satu sisi dari bank sendiri, profesionalitas pegawai
pada saat ini kurang memadai dari segi keahlian dan pengetahuan dalam
menjalankan mekanisme bagi hasil. Di sisi lain, dengan menggunakan
sistem bagi hasil, lembaga keuangan membutuhkan pengetahuan yang
luas mengenai perilaku aktivitas ekonomi yang berguna untuk
memprediksi keuntungan yang akan diperoleh pada tiap-tiap jaringan
serta mengetahui secara menyeluruh tentang keadaan keuangan
investor dan komitmennya dalam menjalankan proyek usaha.

Dari sisi nasabah, buta huruf masih menyelimuti masyarakat dunia
muslim. Hal itu akan menyulitkan dalam pembuatan catatan akuntansi
secara rinci. Padahal, ini sangat penting untuk transaksi bagi hasil.
Perhitungan keuntungan dalam sistem bagi hasil juga mengalami
kesulitan untuk diterapkan, karena perhitungan keuntungan sistem bagi
hasil harus mengikuti apa yang terjadi secara aktual dalam bisnis.
6. Kurang Menariknya Sistem Bagi Hasil dalam Aktivitas Bisnis

Dalam dunia bisnis dan industri, biaya yang dikeluarkan
dari dana-dana yang diperoleh berdasarkan sistem bagi
hasil tidak diketahui secara jelas dan pasti. Hal ini akan
menimbulkan terbongkarnya rahasia keuangan
pengusaha oleh pihak lembaga keuangan dan juga
intervensi bank terhadap urusan manajemen pengusaha.
Keadaan ini sangat berbeda dengan sistem pembiayaan
dengan berdasarkan bunga, di mana modalnya aman
terjaga, pendapatan yang diperoleh secara pasti, dan
biaya pinjaman diketahui dengan jelas.
7. Permasalahan Efisiensi

Tingkat investasi bagi hasil mungkin lebih tinggi
dibandingkan dengan sistem lain, karena dalam sistem
bagi hasil diberikan penawaran yang sesuai terhadap
dana-dana yang dapat dipinjamkan. Oleh karena itu,
pengusaha dapat mengabaikan kepastian bagian hasil
usaha yang diberikan kepada pemberi pinjaman yang
disebabkan ketidaktentuan hasil produksinya, serta tidak
adanya kekhawatiran terjadinya penyelewengan dana
pinjaman terhadap investasi riil. Kesanggupan para
pemberi pinjaman untuk turut menanggung risiko
kemungkinan akan mendorong investasi lebih berisiko.
Meskipun, kesanggupan ini juga akan mengurangi
penekanan biaya-biaya yang berguna untuk efisiensi
kelangsungan bisnis yang pada tingkat kepentingan
tertentu cukup mengesankan.
3. Sistem Perhitungan Bagi Hasil




Dari sudut pandang nasabah sebagai investor:
a. Mudharabah muqayyadah off balance
sheet.
b. Mudharabah muqayyadah on balance sheet.
c. Mudharabah muthlaqah.
Dari sudut pandang bank:
a. Perhitungan saldo akhir bulan.
b. Perhitungan saldo rata-rata harian.
Skema-Skema Mudharabah
Skema Mudharabah Muqayyadah Off Balance Sheet
Satu pelaksana
usaha

Satu nasabah
investor

Bank Syariah
Skema Mudharabah Muqayyadah Off Balance Sheet Berdasarkan sektor
Pertanian
Satu nasabah
investor

Bank Syariah

Manufaktur
Jasa

Skema Mudharabah Muqayyadah Off Balance Sheet Berdasarkan sektor
Penjualan Cicilan
Satu nasabah
investor

Bank Syariah

Penyewaan Cicilan
Kerjasama Usaha
Skema-Skema Mudharabah
Skema Mudharabah Muqayyadah On Balance Sheet
Penjualan 1
Pertanian

Penjualan 2
Penjualan n

Nasabah 1
Nasabah 2
Nasabah 3
Nasabah n

Penyewaan 1
Bank Syariah

Sewa

Penyewaan 2
Penyewaan n

Kerjasama 1
Kerjasama Usaha

Kerjasama 2
Kerjasama n
a. Teknik Perhitungan Bagi Hasil




Kasus:
Bapak Ahmad membuka deposito sebesar Rp
10.000.000 jangka waktu satu bulan (tanggal 1
Mei sampai dengan 1 Juni 2008). Nisbah bagi
hasil antara nasabah dan bank 57:43. Jika
keuntungan bank yang diperoleh untuk deposito
satu bulan per 31 Mei 2007 adalah Rp
20.000.000 dan rata-rata deposito jangka waktu
satu bulan adalah Rp 950.000.000, berapa
keuntungan yang diperoleh Bapak Ahmad?
Jawab:
Bagi hasil yang diperoleh bapak Ahmad adalah:
(Rp 10 juta/Rp 950 juta) x Rp 20 juta x 57% =
Rp120.000
b. Faktor Penentu Bagi Hasil dan Bunga
1. Bagi hasil ditentukan oleh:
 Pendapatan bank.
 Nisbah bagi hasil antara nasabah dan bank.
 Nominal deposito nasabah.
 Rata-rata deposito untuk jangka waktu yang
sama pada bank.
2. Bunga ditentukan oleh:
 Tingkat bunga yang berlaku.
 Nominal deposito nasabah.
 Jangka waktu deposito.
c. Penentuan Nisbah Pembiayaan
Nisbah bagi hasil dihitung berdasarkan profit sharing dari
usaha pengadaan kacang kedelai yang dibiayai dengan
fasilitas mudharabah muqayyadah, dengan data sebagai
berikut:







Harga jual kacang kedelai
Harga jual kepada nasabah
Volume penjualan kedelai per bulan
Nilai penjualan (65.000 x Rp 2.150)
Harga pokok pembelian
Laba bersih penjualan kedelai

=
=
=
=
=
=

Rp 2.150/kg
setara 16% p.a
65.000 kg
Rp 139.750.000
Rp 125.000.000
Rp 14.750.000
Berapa nisbah bagi hasilnya?
Penghitungan Nisbah:











Volume penjualan
Profit margin (Rp 14.750.000/139.750.000)x100%
Lama piutang (data neraca 31-07-2008)
Lama persediaan (data neraca 31-08-2008)
Lama hutang dagang
(pembayaran ke supplier dan carry)

=
=
=
=
=

65.000 kg
10.55%
65 hari
2 hari
0

Cash to cash period = 360/(DI+DR-DP)
Profit margin per tahun = 5,4 x 10,55
Nisbah Islamic Banking: (16%)/(57%)x100%
Nisbah untuk nasabah: 100%-28%

=
=
=
=

5,4
57%
28%
72%
d. Metode Penentuan Return Pembiayaan
Mark-up Pricing
 Target-Return Pricing
 Perceived-Value Pricing
 Value Pricing

1. Mark-up Pricing
Penentuan tingkat harga dengan memarkup biaya produksi komoditas yang
bersangkutan.
Contoh: sebuah perusahaan tusuk gigi
dalam menentukan tingkat harga dan
biaya produksinya:
a. Variabel cost per unit
Rp 5
b. Fixed Cost
Rp 200.000
c. Expected unit sales
Rp 50.000
Biaya produksi perusahaan tusuk gigi
setiap unit adalah sebagai berikut:

H
r
ga i d
a a
aY awt
gn r

Diasumsikan, perusahan menetapkan keuntungan sebesar 20%
dari penjualan, maka mark-up price untuk setiap unit:
2). Target –Return Pricing


Penentuan dengan tujuan pencapaian
tingkat return on investment (ROI).



Contoh: perusahaan tusuk gigi pada
contoh di atas melakukan investasi
sebesar Rp 562.500 di suatu bisnis yang
menghasilkan tingkat pendapatan
sebesar 20% ROI atau Rp 200.000. Maka
target return price dapat dihitung dengan
formula sebagai berikut:
2). Target –Return Pricing

H
ga
ar ti d
nY a
g a kaw
ar
n
3. Perceived-Value Pricing




Penentuan harga dengan tidak menggunakan
variable harga sebagai dasar harga jual. Harga
jual didasarkan pada harga competitor di mana
perusahaan melakukan penambahan atau
perbaikan unit untuk meningkatkan kepuasan
pembeli.
Contoh: seseorang lebih suka menabung di
Islamic Banking Berkah daripada di Islamic
Banking Permai walaupun tingkat bagi hasil di
Islamic Banking Permai lebih tinggi dibanding
Islamic Banking Berkah. Nasabah merasa puas
karena di Bank Syariah Berkah pelayanannya
lebih baik.
4. Value Pricing


Merupakan kebijakan harga yang kompetitif
atas barang yang berkualitas tinggi.
Barang yang baik pasti harganya mahal (ono
rego ono rupo)



Namun, perusahaan yang sukses adalah
perusahaan yang mampu menghasilkan barang
yang berkualitas dengan biaya yang efisien,
sehingga perusahaan tersebut dapat dengan
leluasa menentukan tingkat harga di bawah
harga kompetitor.
e. Penentuan Harga dalam
Pembiayaan Syariah


Penentuan harga dalam pembiayaan di Islamic
Banking dapat dengan menggunakan salah satu
di antara empat model di atas.



Namun, yang lazim digunakan oleh Islamic
Banking saat ini adalah dengan menggunakan
metode going rate pricing, yaitu dengan
menggunakan tingkat suku bunga pasar sebagai
rujukan (benchmark). Mengapa diterapkan?
Karena, Islamic Banking berkompetisi dengan
bank konvensional. Di samping itu, Islamic
Banking juga berkeinginan untuk mendapatkan
customer yang bersifat floating customer.
1)

Penerapan Mark-up Pricing dalam
Pembiayaan Syariah



Mark-up Pricing hanya tepat digunakan
untuk pembiayaan yang sumber dananya
dari restricted invesment account (RIA)
atau mudharabah muqayyadah.
Polanya dapat dilakukan dengan:








Historical average cost (on balance sheet).
Marginal cost of fund (off balance sheet).
Pooled marginal cost of fund (on balance sheet).
Weighted average propjected cost (on balance sheet).
2) Penerapan Target-Return Pricing
dalam pembiayaan Syariah




Islamic Banking beroperasi dengan tidak
menggunakan bunga. Di dalamnya juga
diklasifikasikan akad yang menghasilkan
keuntungan secara pasti, disebut natural certainty
contract, dan akad yang menghasilkan keuntungan
yang tidak pasti, disebut natural uncertainty
contract.
Jika pembiayaan dilakukan dengan akad natural
certainty contract, maka metode yang digunakan
adalah required profit rate (rpr).


Rpr = n v (n = tingkat keuntungan dalam transaksi
tunai; v = jumlah transaksi dalam satu periode).




Jika pembiayaan dilakukan dengan akad natural
uncertainty contract, maka metode yang digunakan
adalah expected profit rate (epr).

Epr diperoleh berdasarkan: (1) tingkat
keuntungan rata-rata pada usaha sejenis; (2)
pertumbuhan ekonomi; dan (3) dihitung dari
nilai rpr yang berlaku di bank yang
bersangkutan.

Penghitungannya:




Nisbah bank = epr/expected return bisnis yang
dibiayai*100%
Aktual return bank = nisbah bank +actual return bisnis.
D. Sistem Pembiayaan Jual Beli
(Sale & Purchase) dan Sewa






Pembiayaan yang diberikan kepada nasabah tidak hanya
diselesaikan dengan cara mudharabah dan musyarakah (bagi
hasil). Namun, Islamic Banking dapat juga menjalankan
pembiayaan dengan akad jual beli dan sewa. Pada akad jual beli
dan sewa, Islamic Banking akan memeroleh pendapatan secara
pasti. Hal ini sesuai dengan konsep dasar teori pertukaran.
Teori pertukaran, sering disebut sebagai natural certainty
contracts, adalah kontrak dalam bisnis yang memberikan
kepastian pembayaran, baik dari segi jumlah maupun waktu.
Dalam bentuk ini: (1) Cash flow-nya pasti atau sudah disepakati
pada awal kontrak; (2) Objek pertukarannya juga pasti secara
jumlah, mutu, waktu, maupun harga.
Kontrak bisnis yang masuk dalam kategori ini, adalah kontrak
bisnis tijarah dan ijarah. Oleh karena itu, ketentuan yang
berlaku dalam kontrak jual beli (bai’u) berlaku juga dalam
kontrak sewa (ijarah). Demikian mayoritas ulama mengatakan,
“Syarat-syarat yang berlaku bagi harga jual berlaku juga bagi
harga sewa.” (Al-Dardir, 4: 59; al-Ramli, 5:322; Ibnu
Qudamah).
1. Murabahah
a. Pengertian dan Hukum Murabahah

Murabahah adalah akad jual beli atas suatu barang,
dengan harga yang disepakati antara penjual dan
pembeli, setelah sebelumnya penjual menyebutkan
dengan sebenarnya harga perolehan atas barang tersebut
dan besarnya keuntungan yang diperolehnya.

Al-Qur’an tidak pernah secara langsung membicarakan
murabahah meski di sana ada sejumlah acuan tentang
jual beli, laba, rugi, dan perdagangan. Demikian pula,
tampaknya tidak ada hadis yang memiliki rujukan
langsung kepada murabahah.

Para ulama generasi awal, semisal Malik dan Syafi’i yang
secara khusus mengatakan bahwa jual beli murabahah
adalah halal, tidak memperkuat pendapat mereka dengan
satu hadis pun. Al-Kaff (tt), seorang kritikus murabahah
kontemporer, menyimpulkan bahwa murabahah adalah
“salah satu jenis jual beli yang tidak dikenal pada zaman
Nabi atau para sahabatnya.”
b. Landasan Hukum Murabahah
a.

Al-Qur’an Surah Al-Baqarah [2]: 275
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat
berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang
kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.
Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan
mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu
sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual
beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah
sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus
berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang
telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan
urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali
(mengambil riba), maka orang itu adalah penghunipenghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.



Al- Qur’an Surah Al-Nisaa’ [4]: 29
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
saling memakan harta sesamamu dengan jalan
yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang
Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.
dan janganlah kamu membunuh dirimu [larangan
membunuh diri sendiri mencakup juga larangan
membunuh orang lain, sebab membunuh orang
lain berarti membunuh diri sendiri, karena umat
merupakan suatu kesatuan]; Sesungguhnya Allah
adalah Maha Penyayang kepadamu.


Hadis riwayat Tirmidzi
“Pedagang yang jujur dan terpercaya,
maka dia bersama nabi, orang-orang yang
jujur, dan para syuhada.”
c. Syarat dan Rukun Murabahah
1) Rukun Murabahah
 Ba’iu (penjual).
 Musytari (pembeli).
 Mabi’ (barang yang diperjualbelikan).
 Tsaman (harga barang).
 Ijab qabul (pernyataan serah terima).
2) Syarat Murabahah







Syarat yang berakad (ba’iu dan musytari) cakap
hukum dan tidak dalam keadaan terpaksa.
Barang yang diperjualbelikan (mabi’) tidak
termasuk barang yang haram dan jenis maupun
jumlahnya jelas.
Harga barang (tsaman) harus dinyatakan secara
transparan (harga pokok dan komponen
keuntungan) dan cara pembayarannya
disebutkan dengan jelas.
Pernyataan serah terima (ijab qabul) harus jelas
dengan menyebutkan secara spesifik pihak-pihak
yang berakad.
Skema Murabahah:
(1)

Negosiasi

(1)

(2)

(2)
Akad Murabahah
Bayar Kewajiban
(4)

Penjual
Kirim barang & dokumen
(3)

Pembeli
Terima barang & dokumen

Barang

(3a)
d. Murabahah dalam Teknis Perbankan
1) Pengertian

Murabahah adalah akad jual-beli antara lembaga keuangan dan
nasabah atas suatu jenis barang tertentu dengan harga yang
disepakati bersama. Lembaga keuangan akan mengadakan
barang yang dibutuhkan dan menjualnya kepada nasabah
dengan harga setelah ditambah keuntungan yang disepakati.

Guna memastikan keseriusannya untuk membeli, bank dapat
mensyaratkan nasabah agar terlebih dahulu membayar uang
muka.

Nasabah membayar kepada bank atas harga barang tersebut
(setelah dikurangi uang muka) secara angsuran selama jangka
waktu yang disepakati, dengan memerhatikan kemampuan
mengangsur ataupun arus kas usahanya. Pembayaran secara
angsuran ini dikenal dengan istilah bai’u bitsaman ajil (BBA).

Baik harga jual maupun besar angsuran yang telah disepakati
tidak berubah hingga akad pembiayaan berakhir.

Tidak ada denda atas keterlambatan pembayaran angsuran
(penalty overdue).
Skema Murabahah: Contoh Aplikasi Perbankan
Negosiasi
(1)

(1)

(2)

(2)
Akad Murabahah
Bayar uang muka Rp 120 Juta
(3)

Bayar Angsuran
(6)

Serahkan surat –surat ruko
(7)

CV Bina Amanah

Bank Syariah “Q”
Beli ruko Rp 400 Juta

Jual ruko Rp 420 Juta

(4)

(5)
Ruko
2) Praktik Murabahah dalam Islamic Banking


Umumnya murabahah diadopsi untuk memberikan pembiayaan
jangka pendek kepada para nasabah guna pembelian barang
meskipun mungkin si nasabah tidak memiliki uang untuk
membayar. Murabahah, sebagaimana yang digunakan dalam
perbankan syariah, prinsipnya didasarkan pada dua elemen
pokok: harga beli serta biaya yang terkait, dan kesepakatan
atas mark-up (laba). Ciri dasar kontrak murabahah (sebagai jual
beli dengan pembayaran tunda) adalah: (i) pembeli harus
memiliki pengetahuan tentang biaya-biaya terkait dan harga asli
barang; batas laba (mark-up) harus ditetapkan dalam bentuk
persentase dari total harga plus biaya-biayanya; (ii) apa yang
dijual adalah barang atau komoditas, dan dibayar dengan uang;
(iii) apa yang diperjualbelikan harus ada dan dimiliki oleh
penjual, dan penjual harus mampu menyerahkan barang itu
kepada pembeli; dan (iv) pembayarannya ditangguhkan.
Murabahah seperti yang dipahami di sini, digunakan dalam
setiap pembiayaan di mana ada barang yang bisa diidentifikasi
untuk dijual.




Pada umumnya murabahah telah digunakan sebagai metode pembiayaan yang
utama, meliputi kira-kira tujuh puluh lima persen dari total kekayaan. Angka
persentase ini kira-kira cocok dengan banyak Islamic Banking. Begitu pula dengan
sistem perbankan, baik di Pakistan maupun di Iran. Semenjak awal 1984, di
Pakistan, pembiayaan jenis murabahah mencapai sekitar delapan puluh tujuh persen
dari total pembiayaan dalam investasi deposito PLS. Dalam kasus Dubai Islamic
Bank, Islamic Banking terawal di sektor swasta, pembiayaan murabahah mencapai
delapan puluh dua persen dari total pembiayaan selama tahun 1989 (IDB, 1989).
Bahkan, bagi Islamic Development Bank (IDB), selama lebih dari sepuluh tahun
periode pembiayaan, tujuh puluh tiga persen dari seluruh pembiayaannya adalah
murabahah, yaitu dalam pembiayaan dagang luar negeri (IDB, 1989).
Sejumlah alasan diajukan untuk menjelaskan popularitas murabahah dalam operasi
investasi perbankan Islam: (i) murabahah adalah suatu mekanisme investasi jangka
pendek dan, dibandingkan dengan sistem profit and loss sharing (PLS), cukup
memudahkan; (ii) mark-up dalam murabahah dapat ditetapkan sedemikian rupa
sehingga memastikan bahwa bank dapat memeroleh keuntungan yang sebanding
dengan keuntungan bank-bank berbasis bunga yang menjadi saingan Islamic
Banking; (iii) murabahah menjauhkan ketidakpastian yang ada pada pendapatan
dari bisnis-bisnis dengan sistem PLS (Ahmad, 1998); dan (iv) murabahah tidak
memungkinkan Islamic Banking untuk mencampuri manajemen bisnis, karena bank
bukanlah mitra nasabah, sebab hubungan mereka dalam murabahah adalah
hubungan antara kreditur dan debitur.
e. Perbandingan antara Pembiayaan Berbasis
Murabahah dan Bunga Tetap


Tujuan perbandingan ringkas di sini adalah untuk melihat
apakah ada perbedaan yang signifikan antara pembiayaan
dengan murabahah dengan pembiayaan lewat bunga
tetap untuk tujuan-tujuan yang sama. Perbandingan
difokuskan pada aspek-aspek berikut: harga pembiayaan,
risiko dalam pembiayaan murabahah, keamanan,
hubungan antara bank dan pembeli, dan penyelesaian
utang.
1. Biaya untuk Pembiayaan
2. Murabahah:Bebas Risiko atau Berbagi Risiko
a. Risiko yang terkait dengan barang
b. Risiko yang terkait dengan Nasabah
c. Risiko yang terkait dengan pembayaran
3) Jaminan untuk Pembiayaan Murabahah






Meminta jaminan atas uang pada dasarnya bukanlah sesuatu
yang tercela, demikian menurut Al-Qur’an dan Sunnah. Al-Qur’an
memerintahkan umat Islam untuk menulis tagihan utang mereka,
dan jika perlu, meminta jaminan atas utang itu.
Dalam sejumlah kesempatan, Nabi memberikan jaminannya
kepada krediturnya atas utang beliau. Jaminan adalah satu cara
untuk memastikan bahwa hak-hak kreditur tidak akan
dihilangkan, dan untuk menghindarkan diri dari “memakan harta
orang dengan cara batil”.
Namun demikian, karena meminta jaminan dipandang oleh para
pendukung perbankan Islam sebagai suatu penghambat dalam
aliran dana bank untuk para pengusaha kecil, Islamic Banking
cenderung mengkritik bank-bank konvensional sebagai terlalu
‘berorientasi jaminan’ (security oriented). Dalam kalimat
International Islamic Bank for Investment and Development
(IIBID), “Jaminan-jaminan adalah ‘unsur terpenting’ dalam
keputusan memberikan pinjaman oleh bank konvensional.” Secara
tidak langsung ini menyatakan bahwa bagi Islamic Banking
jaminan bukan soal penting dalam keputusan pembiayaan.
Peran Jaminan pada Bank Konvensional


Dalam konteks pemberian pinjaman bank konvensional, jaminan
memainkan peran penting untuk memastikan pengembalian pinjaman
ketika jatuh tempo. Namun, jaminan bukanlah faktor terpenting untuk
menentukan apakah uang muka perlu dikenakan atau tidak terhadap
nasabah. Pitcher, seorang bankir konvensional, mengatakan, “Kebanyakan
kami, selama dalam pelatihan, belajar bahwa [jaminan] adalah salah satu
aspek yang kurang penting dalam usulan pinjaman, tetapi bagi
kebanyakan nasabah kami, jaminan sering tampak menjadi faktor utama
di depan benak kami ketika kami melihat permintaan mereka dan menjadi
prasyarat bagi setiap pembahasan yang berarti. Saya dapat mengingat
dengan baik seorang manajer tua memberitahuku segera setelah saya
bergabung dengan bank, ‘Jangan biarkan jaminan memengaruhi
keputusan peminjaman. Saya tidak pernah meminjamkan uang dengan
jaminan yang saya juga tidak meminjamkannya bila tidak ada jaminan” ….
Memberikan pinjaman dengan jaminan material ada tempatnya, tetapi
memberikan pinjaman karena jaminan saja pasti secara tidak adil akan
membatasi kucuran dana bank bagi usaha-usaha yang terkontrol dengan
baik yang dapat meminjam uang dengan sukses kalau saja mereka
memiliki harta yang diperlukan untuk menopang janjinya sebagai
jaminan.” (Pitcher, 1990: 11).
Jaminan Pihak ke-3 dalam
Pembiayaan Murabahah






Kontrak-kontrak murabahah Islamic Banking dan cabang-cabang syariah bank
konvensional berisi klausul-klausul yang menekankan pentingnya jaminan. Dalam
kontrak Faisal Islamic Bank of Egypt (FIBE), Jordan Islamic Bank (JIB), International
Islamic Bank of Investment and Development (IIBID), Egyptian Gulf Bank (EGB),
Bank of Credit and Commerce (BCCI), dan Banque Misr, misalnya, garansi dan
jaminan dimintakan dari nasabah.
Jaminan-jaminan itu dapat berupa benda bergerak, maupun tidak bergerak, barangbarang murabahah sendiri bilamana dipandang pantas untuk dijadikan jaminan,
garansi pihak ketiga, pembayaran uang muka, dan surat-surat komersial. Menurut
kontrak, bank memilih hak untuk meminta jaminan tambahan kepada nasabah yang
jaminan itu dapat diterima oleh bank dalam hal bank berpikir bahwa jaminan yang
telah diberikan sebelumnya tidak mencukupi. Jika diminta, maka nasabah harus
memberikan jaminan itu tanpa bantahan atau penundaan.
Umumnya, jaminan pihak ketiga adalah mutlak. Kontrak murabahah, misalnya,
mengatakan, Pihak ketiga memberikan jaminan mutlak atas tanggung jawab dan
kewajiban nasabah yang timbul akibat kontrak ini. Pihak ketiga setuju bahwa
jaminannya adalah suatu jaminan tambahan. Jaminan ini tidak dapat memengaruhi
atau dipengaruhi oleh jaminan yang lain yang mungkin telah diberikan sebelumnya
oleh nasabah, atau jaminan yang mungkin diperoleh bank darinya dimasa yang akan
datang. Pihak ketiga menganggap dirinya terikat oleh jaminan ini sebagai suatu
asuransi yang berlangsung terus.




Hak-hak bank sangat terlindungi di dalam kontrak. Semua barang
bergerak dan tidak bergerak milik nasabah dan penjaminnya dapat
digunakan untuk memenuhi kewajiban yang timbul akibat kontrak
murabahah. Menurut kontrak murabahah Jordan Islamic Bank (JIB),
“Nasabah dan penjamin setuju bahwa bank memiliki hak untuk
menerapkan segala hukuman dan keputusan yang dikeluarkan terhadap
mereka, secara bersama-sama, pribadi-pribadi, maupun terhadap semua
harta mereka atau harta salah seorang dari mereka, baik harta bergerak
maupun tidak bergerak.”
Di samping semua itu, nasabah harus, saat memohon dana, menaruh cek
pada bank untuk tiap-tiap angsuran yang diberi tanggal sesuai dengan
jatuh temponya. Bank memiliki hak untuk mencairkan cek guna penagihan
pada tanggal jatuh tempo jika nasabah tidak membayar angsurannya saat
jatuh tempo. Semua ini tentu menjamin, hampir pasti, pelunasan hutang
murabahah. Sikap bank yang semacam ini terhadap jaminan tidak
membenarkan kritik mereka terhadap kebijakan bank konvensional
mengenai jaminan. Sebenarnya dapat dikatakan bahwa jika demikian
adanya perhatian Islamic Banking terhadap jaminan, maka praktik mereka
jelas tidak lebih baik daripada praktik jaminan bank konvensional.
BAB 4
LANJUTAN

Islamic Financial Management
by Prof. Veitsal
4) Hubungan antara Bank
dan Nasabah Murabahah




Teori perbankan Islam mengatakan bahwa ciri utama dalam hubungan
antara bank dengan nasabah adalah ‘kemitraan’. Ciri ini, katanya,
menghapuskan sifat debitur-kreditur dalam hubungan bank-nasabah
dalam bank-bank konvensional. Bagaimanapun, sulit untuk
membenarkan sikap teoretis ini mengingat pentingnya murabahah dalam
operasi perbankan Islam, yang jumlahnya mencapai lebih dari tujuh
puluh lima persen dari operasi investasi Islamic Banking itu pada
umumnya.
Dalam murabahah, kontrak jual beli membawa suatu hubungan debiturkreditur antara nasabah dan bank. Si pembeli setuju untuk membayar
harga barang plus mark-up secara angsuran, jumlah dan tanggal jatuhtempo angsuran yang ditentukan di dalam kontrak. Begitu bank dan
nasabah memasuki kontrak jual beli ini, harga jual menjadi tanggungan
hutang nasabah kepada bank. Jadi, hubungan antara nasabah dan bank
menjadi debitur-kreditur. Ini juga merupakan hubungan yang dominan,
meski tidak berarti satu-satunya, antara bank tradisional dan para
konsumennya.
5) Penyelesaian Hutang Murabahah




Pembiayaan untuk suatu kongsi berdasarkan murabahah
yang harus dilunasi pada jangka waktu tertentu tidak
jauh berbeda dengan pembiayaan kongsi berdasarkan
suku bunga tetap. Dalam kedua kasus tersebut,
pembiayaan adalah hutang. Biaya pembiayaan, apakah
itu disebut bunga atau laba, dan jangka waktu
pembayaran ditetapkan.
Perbedaan paling penting adalah dalam hal debitur gagal
melunasi hutang pada waktu yang telah ditentukan.
Pinjaman dengan bunga pada umumnya menimbulkan
sanksi bunga tambahan jika pinjaman tidak dilunasi pada
saat jatuh tempo, entah si debitur mampu membayar
atau tidak. Dalam Islamic Banking, debitur harus diberi
waktu toleransi untuk melunasi jika ia tidak mampu,
sesuai dengan perintah Al-Qur’an bahwa “jika debitur
memunyai kesulitan, maka berilah penundaan sampai ia
memeroleh kemudahan”.




Meskipun hutang dalam jual beli murabahah adalah tetap, dalam arti
bahwa jumlah hutang tidak dapat berubah setelah kontrak ditandatangani
oleh bank dan pembeli, bank dapat melindungi investasinya jika pembeli
tidak membayar tepat waktu. Mengomentari pengalaman Pakistan dalam
pembiayaan dagang terkait, tim Ingram dari Grind Lays Bank (Pakistan)
mengatakan, “Sistem yang telah diadopsi di Pakistan dalam jenis-jenis
pembiayaan mark-up ini, jika diletakkan dalam klausul-klausul yang
terkait dengan bunga (interest-bearing terms), yakni bahwa dalam
dokumen, kami membebankan apa yang senilai dengan kira-kira bunga
tambahan tujuh bulan ke dalam nilai mark-up. Dengan kata lain, kami
dapat membeli barang dari pelanggan senilai Rp100; ia segera
menandatangani kontrak untuk membelinya lagi dari kami seharga Rp120,
yang harus dibayar selama enam bulan berikut. Sekarang, berdasarkan
interest-bearing yang berlaku di Barat, jumlah itu bisa mencapai 40
persen per tahun, yang jumlah ini lebih banyak daripada yang diinginkan
bank sebenarnya. Jadi, apa yang kami miliki adalah dokumentasi
alternatif, suatu pembayaran potongan harga (rebate) yang cepat, yang
diterima oleh pelanggan.”
Semua itu menunjukkan bahwa sampai dalam penyelesaian hutang pun,
Islamic Banking telah menggunakan cara-cara untuk menjamin agar
hutang dilunasi tepat waktu. Jika tidak, ‘kerugian’ yang diderita bank
ditanggung oleh nasabah.
f. Persoalan Harga dalam Murabahah
1) Bolehkah Harga Jual yang Lebih Tinggi dalam
Murabahah?
 Murabahah sebagai suatu mekanisme jual beli
dengan pembayaran tunda, dapat terjadi baik
(i) pada harga tunai, dengan menghindari
segala bentuk mark-up pengganti waktu yang
ditundakan untuk pembayaran, atau (ii) pada
harga tunai plus mark-up untuk pengganti
waktu penundaan pembayaran (IAIB, 1999).
Fokus kajian berikut adalah pada jenis kedua
dari jual beli dengan pembayaran tunda.




Para fuqaha tidak mempersoalkan keabsahan jual beli dengan pembayaran
tunda jenis yang pertama, yaitu pembayaran tunda pada harga tunai.
Perbedaan pendapat di kalangan ulama terjadi pada harga cicilan yang
lebih tinggi (sebagai lawan dari harga tunai) dalam jual beli dengan
pembayaran tunda (Mishri, tt). Para tokoh fuqaha awal, seperti Malik dan
Syafi’I, tidak menyetujui harga jual yang lebih tinggi untuk jual beli
dengan pembayaran tunda dan harga yang lebih rendah untuk
pembayaran tunai. Baik dalam Muwaththa’ Malik maupun dalam
pembahasan Syafi’i tentang jual beli dengan pembayaran tunda di Kitab
al-Umm, penulis tidak menemukan satu pendapat pun dari para fuqaha ini
yang membolehkan jual beli suatu barang berdasarkan murabahah dengan
harga jual yang lebih tinggi daripada harga kontannya (Syafi’i, tt).
Argumen-argumen di atas selalu diajukan untuk membenarkan kenaikan
pada jual beli dengan pembayaran tunda yang secara jelas terkait dengan
jangka waktu utang. Islamic Bankings sudah barang tentu menerima
keabsahan kenaikan harga tersebut, dan ini telah menjadi praktik baku
untuk mengenakan harga yang lebih tinggi dalam jual beli dengan
pembayaran tunda selama transaksinya secara eksplisit tidak mengandung
tukar-menukar uang dengan uang.
2) Kenaikan pada Harga dalam Murabahah


Banyak tokoh fuqaha awal rupanya tidak mengakui bahwa
kenaikan dalam suatu utang-piutang atau harga jual
dapat dibenarkan berdasarkan waktu, karena waktu
sendiri bukanlah uang atau objek material yang dapat
menjadi nilai imbangan dalam suatu utang. Faqih mazhab
Hanafi, Jashshash, menyatakan percepatan pembayaran
utang dengan syarat bahwa kreditur mengurangi
jumlahnya adalah riba (Jashshash, Ahkam Al-Qur’an, I, h.
467). Ia mendasarkan pandangannya pada suatu riwayat
dari Zaid bin Tsabit (w. 45/665), Abdullah bin Umar (w.
73/693), Sa’id bin Jubair (w. 95/714) dan as-Sya’bi (w.
103/722). Para ulama generasi awal itu menyamakan
antara pengurangan jumlah yang disebabkan oleh waktu
dalam utang-piutang dengan riba. Zaid bin Tsabit menilai
bahwa keuntungan dari pengurangan semacam itu tidak
boleh digunakan oleh si penerima, juga tidak boleh
diberikan kepada orang lain (Malik bin Anas, Muwaththa,
h. 271).
3) Batas Maksimal Penentuan Keuntungan
Tidak ada dalil dalam syariah yang berkaitan dengan penentuan
keuntungan usaha, sehingga bila melebihi jumlah tersebut
dianggap haram. Hal demikian telah menjadi kaidah umum untuk
seluruh jenis barang dagangan di setiap zaman dan tempat.
Ketentuan tersebut, karena ada beberapa hikmah, di antaranya:
a) Perbedaan harga terkadang cepat berputar dan terkadang lambat.
Menurut kebiasaan, kalau perputarannya cepat, maka
keuntungannya lebih sedikit. Sementara, bila perputarannya
lambat, keuntungannya banyak.
b) Perbedaan penjualan kontan dengan penjualan pembayaran tunda
(cicilan). Pada asalnya, keuntungan pada penjualan kontan lebih
kecil dibandingkan keuntungan pada penjualan cicilan.
c) Perbedaan komoditas yang dijual, antara komoditas primer dan
sekunder yang keuntungannya lebih sedikit karena memerhatikan
kaum papa dan orang-orang yang membutuhkan, dengan
komoditas luks, yang keuntungannya dilebihkan menurut
kebiasaan karena kurang dibutuhkan.



Sebagaimana telah dijelaskan, tidak ada riwayat dalam sunnah Nabi yang mengatur
pembatasan keuntungan, sehingga tidak boleh mengambil keuntungan melebihi dari
yang sewajarnya. Bahkan sebaliknya, diriwayatkan suatu hadis yang menetapkan
bolehnya keuntungan perdagangan itu mencapai dua kali lipat pada kondisi tertentu,
atau bahkan lebih.



Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya dari Urwah bahwa ia menceritakan
Nabi pernah ditawarkan kambing dagang. Lalu beliau memberikan satu dinar
kepadaku. Beliau bersabda, “Hai Urwah, datangi pedagang hewan itu, belikan
untukku satu ekor kambing.” Aku mendatangi pedagang tersebut dan menawar
kambingnya. Akhirnya aku berhasil membawa dua ekor kambing. Aku kembali
dengan membawa kedua ekor kambing tersebut – dalam riwayat lain – menggiring
kedua kambing itu. Di tengah jalan, aku bertemu seorang lelaki dan menawar
kambingku. Kujual satu ekor kambing dengan harga satu dinar. Aku kembali kepada
Nabi dengan membawa satu dinar berikut satu ekor kambing. Aku berkata, “Wahai
Rasulullah, ini kambing Anda dan ini satu dinar juga milik Anda!” Beliau bertanya,
“Apa yang engkau lakukan?” Aku menceritakan semuanya. Beliau bersabda, “Ya
Allah, berkatilah keuntungan perniagaannya.” Kualami sesudah itu bahwa aku
pernah berdiri di Kinasah di Kota Kufah, aku berhasil membawa keuntungan empat
puluh ribu dinar sebelum aku sampai ke rumah menemui keluargaku. (Musnad
Ahmad, IV: 376 cet. al-Maktab al-Islami).



Diriwayatkan dengan sahih bahwa Zubair bin Awwam pernah membeli sebuah tanah
hutan, yakni sebidang tanah luas di daerah tinggi di kota Madinah dengan harga
seratur tujuh puluh ribu dinar. Namun, kemudian ia menjualnya dengan harga satu
juta dinar, yakni menjualnya dengan harga berlipat-lipat kali lebih mahal.




Hal yang perlu dicermati di sini bahwa semua kejadian itu tidak
mengandung unsur penipuan, manipulasi, monopoli,
memanfaatkan keluguan pembeli, ketidaktahuannya, kondisinya
yang terpepet atau sedang membutuhkan, lalu harga ditinggikan.
Di sisi lain, semua kejadian ini tidaklah menggambarkan kaidah
umum dalam mengukur keuntungan. Justru sikap memberi
kemudahan, sikap santun dan puas dengan keuntungan yang
sedikit itu lebih sesuai dengan petunjuk para ulama dan spirit
kehidupan syariah.
Orang yang puas dengan keuntungan sedikit pasti usahanya akan
penuh dengan berkah. Ali bin Abi Thalib biasa keliling pasar Kufah
dengan membawa tongkat sambil berkata, “Hai para pedagang,
ambillah hak kalian, kalian akan selamat. Jangan kalian tolak
keuntungan yang sedikit, karena kalian bisa dihalangi
mendapatkan keuntungan besar....” (Abdullah al-Mushlih dan
Shalah al-Shawi, 2001: 80)
g. Metode Penentuan Harga Jual
dan Profit Margin
1) Metode Penentuan Profit Margin
 Ada empat metode penentuan profit margin
yang diterapkan pada bisnis/bank konvensional,
yaitu: (1) mark-up pricing; (2) target-return
pricing; (3) perceived-value pricing; dan (4)
value pricing. Keempat metode penentuan
harga jual barang ini dapat diuraikan secara
ringkas sebagai berikut:
a) Mark-up Pricing
 Penentuan tingkat harga dengan me-markup
biaya produksi komoditas yang bersangkutan
Contoh:
PT Arif memproduksi barang A. Dalam
menentukan tingkat harga dan biaya
produksinya, perusahaan tersebut
mempertimbangkan biaya-biaya sebagai
berikut:
 Biaya variabel per unit = Rp 10
 Biaya tetap
= Rp 100.000
 Jumlah unit yang diharapkan terjual,
sebanyak 10.000 unit.


Dengan demikian, biaya produksi
perusahaan untuk memproduksi barang A
adalah sebagai berikut:
Biaya tetap

Biaya per unit = Biaya variabel + -----------------Jumlah penjualan
Rp 100.000
= Rp 10 + ----------------- = Rp 20
10.000


Diasumsikan perusahaan menetapkan keuntungan sebesar
10% dari penjualan, maka mark-up price untuk setiap unit
adalah sebagai berikut:
Biaya per unit
Harga Mark-up =---------------------------------------(1 – pendapatan penjualan yang diharapkan)

Rp 20
= ----------------- = Rp 22,22
(1 – 0.10)


Harga sebesar Rp 22,22 merupakan harga yang telah dimark-up. Harga tersebut yang dijadikan sebagai harga
dasar penawaran penjualan kepada calon nasabah yang
akan membeli barang A tersebut. Jika calon nasabah
menyepakati harga tersebut, maka akan terjadi kontrak
jual beli.
b) Target-Return Pricing


Penentuan harga jual produk yang
bertujuan mendapatkan tingkat return
atas besarnya modal yang diinvestasikan.
Dalam bahasa keuangan dikenal dengan
return on investment (ROI). Dalam hal
ini, perusahaan akan menentukan berapa
return yang diharapkan atas modal yang
telah diinvestasikan.
Contoh:


PT Arif memproduksi barang A dan telah menginvestasikan
dana sebesar Rp 1.000.000, dengan menghasilkan tingkat
return sebesar 20%. Dengan demikian, target return
pricing dapat dicari sebagai berikut:

Return yang diharapkan x modal investasi
Target return-price = unit cost + ----------------------------------------------Unit sale
0,20 x Rp 1.000.000
= Rp 20 + ----------------------------- = Rp 40
10.000


Rp 40 merupakan harga yang telah ditargetkan dari
banyaknya modal yang diinvestasikan. Harga tersebut yang
dijadikan sebagai harga dasar penawaran penjualan kepada
calon nasabah yang akan membeli barang A tersebut. Jika
calon nasabah menyepakati harga tersebut maka akan
terjadi kontrak jual beli.
c) Perceived-Value Pricing


Penentuan harga dengan tidak menggunakan variabel
harga sebagai dasar harga jual. Harga jual didasarkan
pada harga produk pesaing di mana perusahaan
melakukan penambahan atau perbaikan unit untuk
meningkatkan kepuasan pembeli.

Contoh:

Seseorang lebih suka menabung di Islamic Banking
Berkah daripada di Islamic Banking Permai walaupun
tingkat bagi hasil di Islamic Banking Permai lebih tinggi.
Nasabah merasa puas karena di Islamic Banking Berkah
pelayanannya lebih baik dibandingkan dengan pelayanan
yang diberikan oleh Islamic Banking Permai.
d) Value Pricing


Kebijakan harga yang kompetitif atas barang yang berkualitas tinggi.
Dengan ungkapan: ono rego ono rupo. Artinya, barang yang baik pasti
harganya mahal. Namun, perusahaan yang sukses adalah perusahaan
yang mampu menghasilkan barang yang berkualitas dengan biaya yang
efisien, sehingga perusahaan tersebut dapat dengan leluasa menentukan
tingkat harga di bawah harga kompetitor.



Dapatkah metode penentuan harga yang berlaku dalam ekonomi
konvensional tersebut digunakan untuk menentukan tingkat harga dalam
mekanisme syariah? Penentuan harga dalam pembiayaan di Islamic
Banking dapat menggunakan salah satu di antara empat model tersebut
di atas. Namun, yang lazim digunakan oleh Islamic Banking saat ini
adalah metode going rate pricing, yaitu menggunakan tingkat suku
bunga pasar sebagai rujukan (benchmark). Mengapa diterapkan? Karena
Islamic Banking berkompetisi dengan bank konvensional. Di samping itu,
Islamic Banking juga berkeinginan untuk mendapatkan customer yang
bersifat floating customer.



Meskipun demikian, penentuan harga jual produk pada Islamic Banking
harus dengan memerhatikan ketentuan-ketentuan yang dibenarkan
menurut syariah. Oleh karena itu, metode penentuan harga jual
berdasarkan pada mark-up pricing maupun target return pricing dapat
digunakan dengan melakukan modifikasi.
2) Penerapan-penerapan Metode Pembiayaan
a) Penerapan Mark-up Pricing Pembiayaan
 Jika Islamic Banking hendak menerapkan
metode mark-up pricing, metode ini hanya tepat
jika digunakan untuk pembiayaan yang sumber
dananya dari restricted investment account
(RIA) atau mudharabah muqayyadah. Mengapa
demikian?
 Sebab, akad mudharabah muqayyadah adalah
akad yang pemilik dana menuntut adanya
kepastian hasil dari modal yang diinvestasikan.
Oleh karena itu, pola yang diterapkan dengan
memerhatikan:








Historical average cost jika dana mudharabah
muqayyadah dilakukan dengan on balance sheet.
Marginal cost of fund jika dana mudharabah
muqayyadah dilakukan dengan off balance sheet.
Pooled marginal cost of fund jika dana
mudharabah muqayyadah dilakukan dengan on
balance sheet.
Weighted average projected cost jika dana
mudharabah muqayyadah dilakukan dengan on
balance sheet.
b) Penerapan Target Return
Pricing Pembiayaan






Islamic Banking beroperasi dengan tidak menggunakan
bunga. Mekanisme operasional dalam memeroleh
pendapatan dapat dihasilkan berdasarkan klasifikasi akad.
Akad yang menghasilkan keuntungan secara pasti disebut
natural certainty contract, dan akad yang menghasilkan
keuntungan yang tidak pasti disebut natural uncertainty
contract.
Jika pembiayaan dilakukan dengan akad natural certainty
contract, maka metode yang digunakan adalah required
profit rate (rpr).
rpr = n. v
Di mana n = tingkat keuntungan dalam transaksi tunai;
v = jumlah transaksi dalam satu periode.
Jika pembiayaan dilakukan dengan akad natural
uncertainty contract, maka metode yang
digunakan adalah expected profit rate (epr).
Expected profit rate (epr) diperoleh berdasarkan:
1. Tingkat keuntungan rata-rata pada
industri sejenis.
2. Pertumbuhan ekonomi.
3. Dihitung dari nilai rpr yang berlaku di
bank yang bersangkutan.
 Penghitungannya:
Nisbah bank
= epr/expected return bisnis
yang dibiayai * 100%
Aktual return bank = nisbah bank + aktual return
bisnis

Contoh kasus: penentuan target return untuk
kontrak dengan hasil tidak pasti


Bank Permata memprediksikan nilai epr dari proyek Halal
sebesar 15%. Dengan mempertimbangkan target return,
bank menetapkan nisbah bagi hasil antara bank dan
pengusaha 40:60 (bank:nasabah). Dari transaksi proyek
Halal tersebut dihasilkan keuntungan aktual sebesar Rp 30
juta (modal yang digunakan, misalnya, sebesar Rp 75
juta). Bila bank Permata memprediksikan nilai epr dari
suatu proyek sebesar 20% (dengan asumsi aktual return
usaha yang dibiayai adalah Rp 100 juta) dan target
keuntungan aktual adalah Rp 60 juta, maka dengan
menetapkan tingkat perolehan aktual tetap, bank dapat
menetapkan tingkat nisbah bagi hasil dengan pengusaha
sebesar 30:70 (bank:nasabah)
Contoh kasus: penentuan target return untuk
kontrak dengan hasil pasti


Pak Amin memunyai modal usaha 100 juta. Modal tersebut
diusahakan dalam bisnis perumahan. Setiap satu kali
transaksi jual beli rumah, Amin mendapatkan keuntungan
10 juta atau 10%. Dari pengalaman sebelumnya selama
satu tahun, Amin dapat menjual rumah sebanyak enam
unit. Suatu ketika ada seseorang yang ingin membeli
rumah tersebut dengan pembayaran di kemudian hari,
yaitu pada akhir tahun. Apabila Amin menjual rumah
tersebut dengan margin keuntungan 10% maka dia akan
mengalami kerugian atau kehilangan peluang untuk
melakukan penjualan rumah lagi sebanyak lima kali per
unit. Oleh karena itu, untuk menutup hilangnya opportunity
loss, Amin menawarkan harga rumah kepada seseorang
tersebut dengan harga 160 juta atau margin keuntungan
sebesar 60%. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa
tingkat 60% tersebut adalah sama dengan tingkat
keuntungan 10% dengan enam kali transaksi.




Tingkat keuntungan jual beli juga dipengaruhi
oleh faktor lain, seperti tingkat harga di pasar.
Meskipun demikian, penjual perlu mengacu
kepada aturan fikih dalam menentukan harga
kontan dengan harga cicilan. Dengan demikian,
penentuan nilai rpr dapat dihitung dengan
menggunakan rumus berikut:
rpr = π . v
π adalah tingkat keuntungan dalam transaksi
tunai; v adalah jumlah transaksi yang bisa
dilakukan dalam satu periode.
Contoh:


Bila dalam suatu pembiayaan yang memberikan
hasil pasti (murabahah), bank menetapkan
tingkat keuntungan sebesar 12%, sementara
pembiayaan tersebut membutuhkan dana
sebesar Rp 200 juta, maka bank sudah bisa
melakukan prediksi bahwa keuntungan aktual
yang akan diperoleh adalah:



Keuntungan aktual yang diperoleh
= rpr x jumlah pembiayaan
= 12% x Rp 200 juta
= Rp 24 juta


Sebaiknya, penetapan harga jual murabahah
dapat dilakukan dengan cara Rasulullah ketika
berdagang. Dalam menentukan harga penjualan,
Rasul secara transparan menjelaskan berapa
harga belinya, berapa biaya yang telah
dikeluarkan untuk setiap komoditas dan berapa
keuntungan wajar yang diinginkan. Cara yang
dilakukan oleh Rasulullah ini dapat dipakai
sebagai salah satu metode Islamic Banking dalam
menentukan harga jual produk murabahah.
Dengan demikian, secara matematis harga jual
barang oleh bank kepada calon nasabah
pembiayaan murabahah dapat dihitung dengan
rumus sebagai berikut:
Harga Jual Bank

= Harga Beli Bank + Cost Recovery + Keuntungan

Cost Recovery

Proyeksi Biaya Operasi
= -----------------------------------------Target Volume Pembiayaan

Cost Recovery + keuntungan
Margin dalam prosentase = -------------------------------------------- x 100%
Harga Beli Bank




Biaya yang dikeluarkan dan harus dikembalikan (cost recovery)
bisa didekati dengan membagi proyeksi biaya operasional bank,
dengan target volume pembiayaan murabahah di Islamic Banking.
Angka-angka tersebut dapat diperoleh dari Rencana Kerja dan
Anggaran Perusahaan (RKAP). Angka yang diperoleh kemudian
ditambahkan dengan harga beli dari pemasok dan keuntungan
yang diinginkan, sehingga didapatkan harga jual. Margin dalam
konteks ini adalah cost recovery ditambah dengan keuntungan
bank. Apabila margin ingin dihitung persentasenya, tinggal dibagi
dengan harga beli barang dikalikan 100%.
Setelah angka-angka tersebut didapat, barulah persentase margin
ini dibandingkan dengan suku bunga. Jadi, suku bunga hanya
dijadikan benchmark. Agar pembiayaan murabahah kompetitif,
margin murabahah harus lebih kecil daripada bunga pinjaman.
Jika masih lebih besar, maka yang harus dimainkan adalah
dengan memperkecil cost recovery dan keuntungan yang
diharapkan.




Langkah pertama adalah menurunkan keuntungan. Jika keuntungan sudah
turun sampai batas minimal, dan ternyata marginnya masih lebih besar
daripada bunga bank, maka tentu ada yang tidak beres dengan cost
recovery. Artinya, efisiensi bank tersebut rendah. Efisiensi yang rendah itu
dapat ditingkatkan dengan mengurangi biaya operasional pada target
volume pembiayaan yang sama. Efisiensi juga dapat dicapai dengan
memperbesar target volume pembiayaan pada biaya operasional yang
sama. Hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan kualitas SDM Islamic
Banking. Semakin berkualitas SDM dalam meyakinkan nasabah untuk
mendepositokan dananya ke Islamic Banking, semakin banyak pula dana
yang dapat disalurkan untuk pembiayaan murabahah. Dengan demikian,
semakin besar peluang untuk meningkatkan efisiensi.
Lebih cantik lagi bila pengurangan biaya operasional dilakukan bersamaan
dengan meningkatkan volume pembiayaan. Efisiensi tinggi akan segera
diperoleh, cost recovery semakin kecil dan insya Allah keuntungan bank
akan meningkat walaupun dengan margin murabahah yang lebih kecil
daripada bunga pinjaman bank konvensional. Hal penting yang perlu
diingat dan dicatat, hasil perhitungan margin yang dicantumkan dalam
kontrak murabahah dinyatakan dalam angka nominal, bukan bentuk
persentasenya.
Contoh Kasus


Tuan Ali berkeinginan membeli sebuah mobil untuk
kepentingan usaha antar jemput anak sekolah. Harga beli
mobil sebesar Rp 150.000.000. Pada saat ini, Tuan Ali
hanya memiliki dana Rp 30.000.000. Untuk mengatasi
kekurangan dana tersebut, Tuan Ali mengubungi Islamic
Banking TOAT untuk mendapatkan pemecahan masalah
akibat kekurangan dana tersebut. Islamic Banking
menawarkan solusi dengan akad murabahah. Islamic
Banking memperkirakan biaya operasi Rp 200.000.000
dalam satu tahun, jumlah pembiayaan Rp 5 milyar, markup yang ditentukan (hanya sekali) 10% dari pembiayaan
murabahah, dan lama pembiayaan dua tahun. Bagiamana
cara penyelesaiannya?
Jawab (penyelesaian dengan rumus
harga jual efisien)
Data pembiayaan:
Harga

Pokok Mobil
= Rp 150.000.000
Dibayar nasabah (uang muka) = Rp 30.000.000 Kekurangan dibayar Bank
= Rp 120.000.000
1) Hitung cost recovery
Cost Recovery = (Pembiayaan
Murabahah/Estimasi Total Pembiayaan) X
Estimasi Biaya Operasi 1 tahun
Cost Recovery = (Rp 120 juta/Rp 5 milyar) x Rp
200 juta
= Rp 4.800.000

2) Hitung mark-up




Hitung Markup= 10% x pembiyaan
Markup
= 10% x Rp 120 juta
= Rp 12.000.000
3) Hitung harga jual bank
Harga Jual Bank = Pembiyaan + cost recovery + Markup
= Rp 120 juta + (2 x Rp 4.800.000) + Rp 12 juta
= Rp 141.600.000
5) Hitung total harga jual
Total Harga jual

= Rp 150 juta + Rp 16.800.000
= Rp 166.800.000

6) Hitung margin dalam persentase
Hitung Margin dalam %= Cost Recovery + Markup/Harga beli
= [(2 x Rp 4.800.000 + Rp 12juta)/Rp150.000.000] x 100%
= 14,4% = 0,6%
2. Bai’u Salam
a. Pengertian

Salam adalah akad jual-beli atas suatu barang
dengan jenis dan dalam jumlah tertentu yang
penyerahannya dilakukan beberapa waktu
kemudian, sedangkan pembayarannya segera (di
muka).


Salam Paralel merupakan dua transaksi Salam
yang dilakukan secara simultan dan melibatkan tiga
pihak yang berkepentangan. Salah satu di
antaranya bertindak sebagai pembeli dan sekaligus
penjual: membeli suatu barang dari pihak kedua
dan menjualnya kembali kepada pihak ketiga.

b. Landasan Syariah






QS Al-Baqarah [2]: 282
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah
tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan,
.hendaklah kamu menuliskannya
Ibnu Abbas r.a. mengungkapkan, “Aku bersaksi bahwa
salam (salaf) yang dijamin untuk jangka waktu tertentu
telah dihalalkan Allah pada kitab-Nya dan diizinkan-Nya,”
seraya membaca ayat tersebut di atas.
Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah
bersabda, “Barangsiapa yang melakukan salaf (salam),
hendaknya ia melakukan dengan takaran yang jelas dan
timbangan yang jelas pula, untuk jangka waktu yang
diketahui.”
c. Rukun Salam
1.
2.
3.
4.
5.

Pembeli (muslam)
Penjual (muslam ilaih)
Barang yang diperjualbelikan (muslam fih)
Harga barang (ra’sul mal)
Sighat (ijab qabul)
Skema Salam:
(1)

Negosiasi

(2)

(1)
(2)

Akad Salam

Bayar Harga Barang
(3)

Produsen/Penjual
Produksi barang
(4)

Barang

Pembeli
Kirim barang
(5)
d. Salam Pararel dalam Teknis Perbankan
Pengertian:

Salam Paralel merupakan transaksi pembelian atas
barang tertentu yang dilakukan oleh bank dari pihak
produsen atau pihak ketiga lainnya dengan pembayaran
di muka, untuk kemudian dijual kembali kepada nasabah
dengan waktu penyerahan yang disepakati.

Pembayaran oleh nasabah kepada bank dapat dilakukan
di muka pada saat ditandatanganinya akad salam atau
secara tunai pada saat penyerahan barang (salam wal
bai’u muthlaqah) atau dengan cara mengangsur (salam
wal murabahah).

Apabila pembayaran oleh nasabah dilakukan secara tunai
atau dengan cara mengangsur, biasanya bank
mensyaratkan agar nasabah terlebih dahulu membayar
sejumlah uang muka yang diperlukan.
Skema Salam: Contoh Aplikasi Perbankan
Negosiasi

(1)
(2)

(1)
(2)

)

Akad Salam

Bayar uang muka
Rp 300 Juta
(4)

Bank Syariah “XYZ”

(8)

PT.
Anugrah
Sentosa

Bayar Angsuran

Akad salam (2a)
Negosiasi (1a)
Bank garansi (3)

Bayar Rp 1.,5 M (5)
Kirim faktur (7a)

KUD
Lestari

Produksi jagung

(6)

Jagung

Kirim
jagung
(7)
3. Bai’ Istishna’
a. Syarat Istishna’
 Produsen dan pemesan (shani’ dan mustashni’)
cakap hukum, tidak dalam keadaan terpaksa,
dan tidak ingkar janji.
 Produsen (shani’) memiliki kapasitas dan
kesanggupan untuk membuat/mengadakan
barang yang dipesan.
 Barang yang dipesan (mashnu’) harus jelas
spesifikasinya dan tidak termasuk yang dilarang
syariah, sedangkan waktu penyerahannya
sesuai kesepakatan.
 Harga barang (tsaman) harus dinyatakan secara
jelas dan pembayarannya dilakukan sesuai
dengan kesepakatan
Skema Istishna’:
Pesan barang
(1)

Akad Istishna’
(2)
Bayar Harga Barang
(5)
Produsen (Shani’)
Produksi barang
(3)

Barang
(Mashnu’)

Pembeli (Mustashni’)
Kirim barang
(4)
Skema Istishna’: Contoh aplikasi Perbankan
Serah Terima Pry. (5)

Serah Terima Proyek (5a)

Kerjakan proyek (4)
Proyek ruko
PT. Angin Ribut (Kontraktor)
Negosiasi (1a)

(5)

Husein (Nasabah)

(5a)

Akad Istishna’ (2a)

Negosiasi (1)
Akad Istishna’ (2)

Bank Garansi (3a)

Bayar Uang Muka (3a)

Kembali B. Garansi (6)

Bayar Angsuran (8)

Bayar Rp 4,5 M (7)

Bank Syariah “Madani”
b. Aplikasi Istishna’ Paralel
dalam Teknis Perbankan






Pembiayaan modal kerja; misalnya,
untuk modal kerja industri barang-barang
konsumsi, termasuk garmen, sepatu, dan
sebagainya.
Pembiayaan investasi; misalnya, untuk
pengadakan barang-barang modal seperti
mesin-mesin.
Pembiayaan konstruksi (construction
financing).
4. Ijarah dan Ijarah Wa Iqtina
a. Prinsip Sewa (Ijarah)

Transaksi ijarah dilandasi dengan adanya perpindahan manfaat
(hak guna), bukan perpindahan kepemilikan (hak milik). Jadi,
pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan prinsip jual beli.
Perbedaannya terletak pada objek transaksinya. Pada jual beli,
objek transaksinya barang, sedangkan pada ijarah, objek
transaksinya adalah barang maupun jasa.

Ijarah didefinisikan sebagai hak untuk memanfaatkan
barang/jasa dengan membayar imbalan tertentu (Sarkhasi, alMabshut, 15:74; Al-Umm, 3:250). Menurut fatwa Dewan
Syariah Nasional, ijarah adalah akad pemindahan hak guna
(manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu
melalui pembayaran sewa/upah, tanpa diikuti dengan
pemindahan kepemilikan barang itu sendiri (2001). Dengan
demikian, dalam akad ijarah tidak ada perubahan kepemilikan,
tetapi hanya perpindahan hak guna dari yang menyewakan
kepada penyewa.
Skema Ijarah Wa Iqtina:
Penyerahan Kepemilikan (5)

Penyerahan Kepemilikan (5)
Penyerahan Hak
Penggunaan (3)

OBJEK SEWA
(Ma’jur)

Pemanfaatan Hak
Penggunaan (3)

Akad Ijarah Wa Iqtina (1)
Pembayaran Sewa (2)

Pembayaran Atas Pembelian (4)
Pemilik Barang
(Mu’jir)

Penyewa
(Musta’jir)
b. Hak dan Kewajiban Kedua Belah Pihak




Apa saja kewajiban penyewa dan pihak yang menyewakan? Pihak yang menyewakan
wajib mempersiapkan barang yang disewakan untuk dapat digunakan secara optimal
oleh penyewa. Misalnya, mobil yang disewa ternyata tidak dapat digunakan karena
akinya lemah, maka yang menyewakan wajib menggantinya. Bila yang menyewakan
tidak dapat memperbaikinya, penyewa memunyai pilihan untuk membatalkan akad
atau menerima manfaat yang rusak. Bila demikian keadaannya, apakah harga sewa
masih harus dibayar penuh? Sebagian ulama berpendapat, bila penyewa tidak
membatalkan akad, harga sewa harus dibayar penuh (Mula Khasra, Syarh Al-Durr,
3:278 – 279, dan Al-Muhattab, 2:405). Sebagian ulama lain berpendapat, harga
sewa dapat dikurangkan dulu dengan biaya untuk perbaikan kerusakan.
Penyewa wajib menggunakan barang yang disewakan menurut syarat-syarat akad
atau menurut kalaziman penggunaannya. Penyewa juga wajib menjaga barang yang
disewakan agar tetap utuh. Bagaimana dengan perawatan barang yang disewa?
Secara prinsip tidak boleh dinyatakan dalam akad bahwa penyewa bertanggung
jawab atas perawatan karena ini berarti penyewa bertanggung jawab atas jumlah
yang tidak pasti (gharar). Oleh karena itu, ulama berpendapat bahwa bila penyewa
diminta untuk melakukan perawatan, ia berhak untuk mendapatkan upah dan biaya
yang wajar untuk pekerjaannya itu. Bila penyewa melakukan perawatan atas
kehendaknya sendiri, ini dianggap sebagai hadiah dari penyewa dan ia tidak dapat
meminta pembayaran apa pun (Al-Fatawa Al-Hindiyah, 4:443; Al-Buhuti, Kasyful
Qina’,4;416; Al-Ramli, Nihayatul Muhtaj, 5:264 – 265).
c. Kesepakatan Mengenai Harga Sewa






Misalnya, dikatakan, “Saya sewakan mobil ini selama satu bulan dengan harga sewa
Rp X.” Bila penyewa ingin memperpanjang masa sewa, dapat saja harga sewanya
berubah. Bahkan, pihak yang menyewakan dapat saja meminta harga sewa dua kali
lipat daripada sebelumnya. Sebaliknya, penyewa dapat saja menawar setengah
harga sewa sebelumnya. Semuanya tergantung kesepakatan antara kedua belah
pihak: penyewa dan pihak yang menyewakan. Namun, dalam periode pertama yang
telah disepakati harga sewanya, itulah kesepakatannya. Mayoritas ulama
mengatakan, “Syarat-syarat yang berlaku bagi harga jual berlaku juga bagi harga
sewa” (Al-Dardir, Syarh Al-Shagir, 4:59; Al-Ramli, Nihayatul Muhtaj, 5:322, Ibnu
Qudhamah, Al-Mughni, 5:327).
Bagaimana dengan praktik para penjahit, misalnya menjelang lebaran, yang
menentukan harga jahit makin tinggi? Ulama mazhab memberikan keleluasaan
dalam menentukan harga sewa semacam itu.Al-Jaziri mencontohkan, “Jika Anda
menjahitkan bajuku hari ini, upahnya satu dirham; jika Anda menjahit bajuku besok,
upahnya setengah dirham. Jika Anda tinggal di rumah ini sebagai tukang besi,
sewanya sepuluh dirham; jika Anda tinggal di rumah ini sebagai penjual minyak
wangi, sewanya lima dirham.”
Bagaimana pula dengan kebiasaan sebagian orang yang naik becak atau ojek tanpa
kesepakatan harga terlebih dahulu? Pada prinsipnya, upah harus diketahui terlebih
dahulu, sesuai dengan hadis Rasulullah Saw., “Barangsiapa mempekerjakan seorang
pekerja, harus memberitahukan upahnya” (HR Baihaqi dari Abu Hurairah). Fatwa
ulama menjelaskan bahwa harga sewa yang lazim berlaku bila ditentukan di muka.
“Bila manfaat telah dinikmati, sedangkan harga sewa tidak ditentukan, maka sewa
untuk manfaat yang sama harus dibayar.” (Al-Fatawa Al-Hindiyah, 4:42; Al-Maushili,
Al-Ikhtiyar, 2:507)
d. Ijarah Muntahia Bit tamlik (IMBT)


Bai’u wal Ijarah Muntahia Bit Tamlik (IMBT) merupakan rangkaian dua buah akad,
yakni bai’u merupakan akad jual beli, dan IMBT merupakan kombinasi antara
sewa-menyewa (ijarah) dan jual beli atau hibah pada akhir masa sewa. Dalam
ijarah muntahia bit tamlik, pemindahan hak milik barang terjadi dengan salah satu
dari dua cara berikut ini:









Pihak yang menyewakan berjanji akan menjual barang yang disewakan tersebut pada akhir
masa sewa;
Pihak yang menyewakan berjanji akan menghibahkan barang yang disewakan tersebut pada
akhir masa sewa.

Pilihan untuk menjual barang pada akhir masa sewa (alternatif 1) biasanya diambil
bila kemampuan finansial penyewa untuk membayar sewa relatif kecil. Karena
sewa yang dibayarkan relatif kecil, akumulasi nilai sewa yang sudah dibayarkan
sampai akhir periode belum mencukupi harga beli barang tersebut dan margin
laba yang ditetapkan oleh bank. Karena itu, untuk menutupi kekurangan tersebut,
bila pihak penyewa ingin memiliki barang tersebut, ia harus membeli barang itu
pada akhir periode.
Pilihan untuk menghibahkan barang pada akhir masa sewa (alternatif 2) biasanya
diambil bila kemampuan finansial penyewa untuk membayar sewa relatif lebih
besar. Karena sewa yang dibayarkan relatif besar, akumulasi sewa pada akhir
periode sudah mencukupi untuk menutupi harga beli barang dan margin laba yang
ditetapkan oleh bank. Dengan demikian, bank dapat menghibahkan barang
tersebut pada akhir masa periode sewa kepada pihak penyewa.
Pada Bai’u wal Ijarah Muntahia Bit tamlik (IMBT) dengan sumber pembiayaan dari
Unrestricted Investment Account (URIA), pembayaran oleh nasabah dilakukan
secara bulanan. Hal ini karena pihak bank harus memunyai cash in setiap bulan
untuk memberikan bagi hasil kepada para nasabah yang dilakukan secara bulanan
juga.
e. Ijarah wa Iqtina dalam Teknis Perbankan
1) Pengertian

Ijarah wa Iqtina (Ijarah Muntahia Bit tamlik) adalah akad
sewa-menyewa atas barang tertentu antara bank sebagai
pemilik barang (mu’jir) dan nasabah selaku penyewa
(musta’jir) untuk suatu jangka waktu dan dengan harga
yang disepakati. Pada akhir masa sewa, bank
memberikan opsi kepada nasabah untuk membeli barang
tersebut dengan harga yang disepakati pula.
2) Aplikasi



Pembiayaan investasi; seperti untuk pembiayaan barangbarang modal, seperti mesin-mesin.
Pembiayaan konsumer; seperti untuk pembelian mobil,
rumah, dan sebagainya.
3) Pembiayaan Ijarah dan IMBT di Islamic Banking

Pembiayaan ijarah dan ijarah muntahia bit tamlik (IMBT)
memiliki kesamaan perlakuan dengan pembiayaan murabahah.
Sampai saat ini, mayoritas produk pembiayaan Islamic Banking
masih terfokus pada produk-produk murabahah (prinsip jualbeli). Kesamaan keduanya bahwa pembiayaan tersebut
termasuk dalam kategori natural certainty contract, dan pada
dasarnya adalah kontrak jual beli. Perbedaan kedua jenis
pembiayaan (ijarah/IMBT dengan murabahah) hanyahlah objek
transaksi yang diperjualbelikan tersebut. Dalam pembiayaan
murabahah, objek transaksi adalah barang seperti rumah dan
mobil, sedangkan dalam pembiayaan ijarah, objek transaksinya
adalah jasa, baik manfaat atas barang maupun manfaat atas
tenaga kerja. Dengan pembiayaan murabahah, Islamic Banking
hanya dapat melayani kebutuhan nasabah untuk memiliki
barang, sedangkan nasabah yang membutuhkan jasa tidak
dapat dilayani. Dengan skim ijarah, Islamic Banking dapat pula
melayani nasabah yang hanya membutuhkan jasa.
f. Ijarah dan Leasing




Karena ijarah adalah akad yang mengatur pemanfaatan
hak guna tanpa terjadi pemindahan kepemilikan, maka
banyak orang yang menyamakan ijarah ini dengan
leasing. Ini terjadi karena kedua istilah tersebut samasama mengacu kepada hal sewa-menyewa. Menyamakan
ijarah dengan leasing tidak sepenuhnya salah, tapi tidak
sepenuhnya benar pula. Pada dasarnya, walaupun
terdapat kesamaan antara ijarah dan leasing, ada
beberapa karakteristik yang membedakannya. Pada
bagian ini, perbedaan dan persamaan antara keduanya
akan kita bahas.
Tabel berikut ini memberikan ikhtisar perbedaan dan
kesamaan antara ijarah dan leasing. Sedikitnya ada lima
aspek yang dapat kita cermati, yakni objek, metode
pembayaran, perpindahan kepemilikan, lease purchase,
dan sale and lease back.
Tabel 1.
Ijarah dan Leasing: Perbedaan dan
Persamaannya
Ijarah

Leasing

Objek: Manfaat barang dan jasa

Objek: Manfaat barang saja

Methods of Payment:
Contingent to performance
Not contingent to performance.

Methods of Payment: Not contingent to
performance

Transfer of Title:
Transfer of title:
•Ijarah → No transfer of title
•Operating lease → No transfer of title.
•IMBT → Promise to sell or hibah at the beginning •Financial lease → Option to buy or not
of period.
to buy, at the end of period.
Lease Purchase/sewa-beli: Bentuk leasing seperti Lease-Purchase/sewa-beli Ok
ini haram karena akadnya gharar, (yakni antara
sewa dan beli).
Sale and Lease Back Ok.

Sale and Lease Back Ok.
Penjelasan ringkas sebagai berikut:
1) Objek




Bila dilihat dari segi objek yang disewakan, leasing berlaku
untuk sewa-menyewa barang saja. Jadi, yang disewakan
dalam leasing terbatas pada manfaat barang. Bila ingin
mendapatkan manfaat tenaga kerja, kita tidak dapat
menggunakan leasing.
Di lain pihak, dalam ijarah, objek yang disewakan bisa
berupa barang atau jasa/tenaga kerja. Ijarah, bila
diterapkan untuk mendapatkan manfaat barang, disebut
sewa-menyewa, sedangkan bila diterapkan untuk
mendapatkan manfaat tenaga kerja/jasa disebut upahmengupah. Jadi, yang disewakan dalam ijarah adalah
manfaat barang atau manfaat tenaga kerja. Dengan
demikian, bila dilihat dari segi objeknya, ijarah memunyai
cakupan yang lebih luas daripada leasing.
2) Metode Pembayaran




Bila dilihat dari segi metode pembayaran, leasing memiliki satu metode
pembayaran saja, yakni yang bersifat not contingent to performance.
Artinya, pembayaran sewa pada leasing tidak tergantung pada kinerja
objek yang disewa. Misalnya, Ahmad menyewa mobil X pada Toyota
Rent A Car untuk dua hari dengan tarif Rp 1.000.000,-/hari. Dengan
mobil tersebut, Ahmad berencana untuk pergi ke Bandung. Bila ternyata
tidak pergi ke Bandung, tetapi hanya ke Bogor, Ahmad tetap harus
membayar sewa mobil tersebut seharga Rp 1.000.000,-/hari. Dengan
demikian, penentuan harga sewa pada kasus di atas tergantung pada
lamanya waktu sewa, bukan pada apakah mobil tersebut dapat
mengantarkan kita ke Bandung atau tidak.
Di lain pihak, dari segi metode pembayaran, ijarah dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu: ijarah yang pembiayaannya tergantung pada kinerja
objek yang disewa (contingent to performance) dan ijarah yang
pembayarannya tidak tergantung pada kinerja objek yang disewa (not
contingent performance). Ijarah yang pertama disebut ijarah, gaji
dan/atau sewa, sedangkan ijarah yang kedua disebut ju’alah, atau
success fee.






Contoh ijarah yang not contingent to performance sama dengan
kasus Ahmad di atas. Sementara, contoh ju’alah sebagai berikut:
Ahmad ingin pergi ke Bandung bersama keluarganya. Karena
tidak ingin mengemudikan mobilnya sendiri, ia menghubungi
perusahaan travel. Kepada perusahaan travel, Ahmad
mengatakan, “Tolong antarkan saya beserta keluarga ke Bandung
dengan mobil perusahaan Anda. Jika bisa mengantarkan kami ke
Bandung, Anda akan dibayar Rp 500.000,-.”
Dalam akad ju’alah di atas, pembayaran sewa tidak tergantung
pada berapa lamanya mobil itu digunakan oleh penyewa (seperti
pada contoh leasing terdahulu). Pembayaran sewa bergantung
pada apakah mobil tersebut dapat mengantarkan penyewa ke
Bandung atau tidak (tergantung kinerja). Bila ternyata mobil
tersebut hanya mengantarkan sampai di Bogor, Ahmad tidak
perlu membayar.
Contoh lain: dalam upah-mengupah buruh bangunan, dikenal dua
macam sistem, yaitu sistem upah harian dan sistem upah
borongan. Upah harian ini adalah contoh ijarah, sedangkan upah
borongan adalah contoh ju’alah.
3) Perpindahan Kepemilikan
(Transfer of Title)




Dari aspek perpindahan kepemilikan, dalam leasing kita
kenal ada dua jenis: operating lease dan financial lease.
Dalam operating lease, tidak terjadi pemindahan
kepemilikan asset, baik pada awal maupun pada akhir
periode sewa. Dalam financial lease, pada akhir periode
sewa si penyewa memberikan pilihan untuk membeli atau
tidak membeli barang yang disewa tersebut. Jadi, transfer
of title masih berupa pilihan dan dilakukan pada akhir
periode. Namun, pada praktiknya (khususnya di
Indonesia), dalam financial lease sudah tidak ada opsi lagi
untuk membeli atau tidak membeli, karena pilihan untuk
membeli atau tidak membeli itu sudah “dikunci” pada
awal periode.
Di lain pihak, ijarah sama seperti financial lease, yakni
tidak ada transfer of title baik pada awal maupun pada
akhir periode. Namun demikian, pada akhir masa sewa,
bank dapat saja
menjual barang yang disewakannya kepada nasabah.
Karena itu, dalam perbankan syariah dikenal ijarah
muntahia bit tamlik/IMBT (sewa yang diikuti dengan
berpindahnya kepemilikan). Harga sewa dan harga jual
disepakati pada awal perjanjian. Karena itu, dalam IMBT,
pihak yang menyewakan berjanji pada awal periode kepada
pihak penyewa, apakah akan menjual barang tersebut atau
akan menghibahkannya. Dengan demikian, ada dua jenis
IMBT, yakni:
a. IMBT dengan janji menghibahkan barang pada akhir
periode sewa. (IMBT with a promise to hibah).
b. IMBT dengan janji menjual barang pada akhir periode
sewa. (IMBT with a promise to sell).

4) Lease-Purchase




Variasi lainnya dari leasing adalah lease-purchase (sewabeli), yakni kontrak sewa sekaligus beli. Dalam kontrak
sewa-beli ini, perpindahan kepemilikan terjadi selama
periode sewa secara bertahap. Bila kontrak sewa-beli ini
dibatalkan, hak milik barang terbagi antara milik penyewa
dan milik yang menyewakan.
Dalam syariah, akad lease and purchase ini diharamkan,
karena ada two in one (dua akad sekaligus, atau dalam
bahasa Arab: Safaqatain fi shafaqah, ingat bahasan kita
terdahulu). Ini menyebabkan gharar dalam akad, yakni
ada ketidakjelasan akad: apakah yang berlaku akad sewa
atau akad beli. (Two in one terjadi bila semua ketiga
faktor ini terpenuhi: objeknya sama, pelakunya sama,
jangka waktunya sama). Dalam lease-purchase, ketiga
faktor di atas terpenuhi, sehingga diharamkan.
5) Sale and Lease-Back






Sale and lease-back terjadi bila, misalnya, A menjual barang X
ke B, tetapi karena A tetap ingin memiliki barang X tersebut, B
menyewakannya kembali ke A dengan kontrak financial lease,
sehingga A memunyai pilihan untuk memiliki barang X tersebut
pada akhir periode.
Sekarang, misalnya, A menjual barang X seharga Rp 120 juta
secara cicilan kepada B, dengan syarat bahwa B harus kembali
menjual barang X tersebut kepada A secara tunai seharga 100
juta. Transaksi di atas haram, karena ada persyaratan bahwa A
bersedia menjual barang X ke B asalkan B kembali menjual
barang tersebut kepada A. Dalam kasus di atas disyaratkan
bahwa akad I berlaku efektif bila akad II dilakukan. Penerapan
syarat ini mencegah terpenuhinya rukun. Dalam istilah fikih, jual
beli seperti ini dinamakan bai’u al-‘inah. Pada bai’u al-‘inah,
terjadi ta’alluq. Karena itu, transaksi ini haram.
Bila dua akad di atas tidak saling dikaitkan berlakunya, hal ini
dibolehkan. Dua skema akad di bawah ini, misalnya, halal bila
tidak terjadi ta’alluq.
g. Skema dan Pola Pembiayaan Ijarah
Gambar 1
Skema Pembiayaan Ijarah

3. Akad Pembiayaan Ij arah
1. Permohonan Pembiayaan

A. Islamic Banking

B. Nasabah

2. Menyew a/membeli
obj ek ij arah

C. Suplier/Penjual/Pemilik

D. Objek Ijarah
Keterangan:
1.
2.
3.

4.

5.

6.

Nasabah mengajukan pembiayaan ijarah ke Islamic Banking
Islamic Banking memberi/menyewa barang yang diinginkan oleh
nasabah, sebagai objek ijarah, dari supplier/penjual/pemilik.
Setelah dicapai kesepakatan antara nasabah dengan bank
mengenai barang objek ijarah, tarif ijarah, periode ijarah, dan
biaya pemeliharaannya, maka akad ijarah ditandatangani.
Nasabah diwajibkan menyerahkan jaminan yang dimiliki.
Bank menyerahkan objek ijarah kepada nasabah sesuai akad yang
disepakati. Setelah periode ijarah berakhir, nasabah
mengembalikan objek ijarah tersebut kepada bank.
Bila bank membeli objek ijarah tersebut (al-bai’u wal ijarah)
setelah periode ijarah berakhir, objek ijarah tersebut disimpan
oleh bank sebagai aset yang dapat disewakan kembali.
Bila bank menyewa objek ijarah tersebut (al-ijarah wal ijarah,
atau ijarah paralel) setelah periode ijarah berakhir, objek ijarah
tersebut dikembalikan oleh bank kepada supplier/penjual/pemilik.
2) Jenis Barang/Jasa yang Dapat Disewakan
Barang

modal: aset tetap, seperti
bangunan, gedung, kantor, dan ruko.






Barang produksi: mesin, alat-alat berat, dan
lain-lain.
Barang kendaraan transportasi: darat, laut, dan
udara.
Jasa untuk membayar ongkos: uang
sekolah/kuliah, tenaga kerja, hotel,
angkutan/transportasi, dan sebagainya.
3. Pola-pola Pembiayaan Ijarah

Bai’u wal Ijarah

a
Pola-Pola
Pembiayaan
Ijarah

a.1

Bai’u wal Ijarah Akhir

a.2

Bai’u wal
Ijarah

Bai’u Mu’ajjal wal
Ijarah

a.3

Bai’u Mu’ajjal wal
Ijarah Akhir

a.4

b
Ijarah
Paralel

Bai’u wal Ijarah
Bai’u wal Ijarah
Bai’u wal Ijarah

b.1
b.2
b.3
Gambar 2:
Pola-pola Pembiayaan Ijarah
Tipe-Tipe Ijarah
Dari Segi Manfaat Barang.
Ijarah Murni:
Bai’u wal ijarah
Bayar pada akhir lump-sum
Bayar dengan cicilan/mu’ajjal
Ijarah Paralel
Bayar pada akhir lump-sum
Bayar dengan cicilan/mu’ajjal
Ijarah Muntahia Bit tamlik:
Bai’u wal IMBT
IMBT Paralel
Dari Segi Manfaat Tenaga Kerja.
Ijarah wal Ijarah (Subkontrak)
Bayar pada akhir lump-sum
Bayar dengan cicilan/mu’ajjal
Dari Segi Metode Pembayaran.
Contingent to Performance
Barang
Tenaga Kerja
Not Contingent to Performance
Barang
Tenaga Kerja
Contoh-contoh Kasus Pembiayaan Ijarah
1) Ijarah Murni
a. Ijarah bil Ijarah, bayar dengan cicilan

Bapak Ahmad hendak menyewakan sebuah ruang
perkantoran di sebuah gedung selama satu tahun mulai
dari tanggal 1 Mei 2007 sampai 1 Mei 2008. Pemilik
gedung menginginkan pembayaran sewa secara tunai di
muka sebesar Rp 240.000.000,-. Dengan pola
pembayaran tersebut, kemampuan keuangan Ahmad
tidak memungkinkan. Ahmad hanya dapat membayar
sewa secara angsuran per bulan. Untuk memecahkan
masalah ini, Ahmad datang untuk meminta pembiayaan,
dengan memaparkan kondisi kebutuhan dan
keuangannya. Analisis dilakukan dengan
memperhitungkan kebutuhan dan kemampuan keuangan
nasabah serta required rate of profit bank (sebesar 20%):
Harga

sewa 1 tahun (tunai di muka)
Required rate of profit bank (20%)
Harga sewa kepada nasabah
Periode pembiayaan
Besarnya angsuran nasabah per bulan
Dengan

: Rp 240.000.000
: Rp 48.000.000
: Rp 288.000.000
: 12 bulan (= 360 hari)
: Rp 24.000.000

analisis tersebut, maka bentuk pembiayaan yang
diberikan oleh bank kepada Ahmad adalah:
Pembiayaan ijarah, harga sewa Rp 288.000.000, selama
12 bulan (360 hari) dengan angsuran Rp 24.000.000/bulan
Pendanaan diambil dari unresstricted investment account
(URIA)
b. Ijarah bil Ijarah,
bayar pada akhir lump-sum


Ahmad hendak menyewa sebuah ruang perkantoran di
sebuah gedung selama 3 bulan mulai dari tanggal 1 Mei
2007 sampai 1 Agustus 2007. Pemilik gedung
menginginkan pembayaran sewa secara tunai di muka
sebesar Rp 80.000.000,-. Dengan pola pembayaran
tersebut, kemampuan keuangan Bapak Ahmad tidak
memungkinkan. Ahmad hanya dapat membayar sewa
pada akhir masa sewa, yaitu tanggal 1 Agustus. Untuk
memecahkan masalahnya, Ahmad mendatangi Islamic
Banking untuk meminta pembiayaan, dengan
memaparkan kondisi kebutuhan dan keuangannya.


Analisis Islamic Banking dilakukan dengan
memperhitungkan kebutuhan dan kemampuan keuangan
nasabah serta required rate of profit bank (sebesar 20%):

a.

Harga sewa 3 bulan (tunai di muka)
Required rate of profit bank (20%)
Harga sewa kepada nasabah
96.000.000
Periode pembiayaan
hari)
Besarnya sewa yang harus dibayar
nasabah pada akhir periode sewa

b.
c.
d.
e.
f.

: Rp 80.000.000
: Rp 16.000.000
: Rp
: 3 bulan (= 90

: Rp 96.000.000
Dengan analisis tersebut, maka bentuk
pembiayaan yang diberikan oleh bank
kepada Ahmad adalah:
a. Pembiayaan ijarah, harga sewa Rp
96.000.000, selama 3 bulan (90 hari)
dengan pembayaran sewa di belakang
sekaligus.
b. Pendanaan diambil dari RIA.
2. Ijarah Muntahia bit Tamlik (IMBT)


Ilustrasi Kasus



Hasan hendak menyewa sebuah ruko selama 1 tahun mulai dari
tanggal 1 Agustus 2007 sampai 31 Juli 2008 dan bermaksud
membelinya pada akhir mada sewa. Pemilik ruko menginginkan
pembayaran sewa secara tunai di muka sebesar Rp 2 milyar
(tanggal 1 Agustus 2007) dan Rp 2 milyar pada akhir masa sewa
(31 Juli 2008) untuk membeli ruko tersebut. Atau bila ruko
tersebut dibeli langsung pada tanggal 1 Agustus 2007, pemilik
ruko bersedia menjualnya dengan harga Rp 3,5 milyar. Dengan
pola pembayaran seperti di atas, kemampuan keuangan Pak
Hasan tidak memungkinkan.
Hasan hanya dapat membayar sewa secara cicilan sebesar Rp
300.000.000 per bulan dan membeli ruko pada akhir masa sewa.
Oleh karena itu, Pak Hasan meminta pembiayaan dari Islamic
Banking sebesar Rp 2 milyar pada awal masa sewa (1 Agustus
2002) dan Rp 2 milyar pada akhir masa sewa (31 Juli 2003).
Islamic Banking menginginkan persentase keuntungan sebesar
20% dari pembiayaan yang diberikan dengan persentase
keuntungan bank ketika menyewakan sebesar 2,857% dari harga
barang.


Jawaban Kasus:
Kebutuhan
nasabah

Nasabah ingin menyewa ruko selama 1 tahun dan
kemudian memilikinya pada akhir masa sewa

Kemampuan
keuangan
nasabah

Pak Hasan hanya mampu membayar sewa secara
cicilan sebesar Rp 300.000.000 per bulan

Syarat
pembayaran

Pembayaran dilakukan pada awal secara tunai
sebesar Rp 2 milyar dan pada akhir masa sewa
sebesar Rp 2 milyar. Bila dibeli tunai, harganya Rp
3,5 milyar
Analisis Bank
Harga Barang
Harga beli tunai
Keuntungan bank ketika menyewa
(2,857% * Rp 3,5 milyar)
Keuntungan bank ketika menjual
(17,143 % * Rp 3,5 milyar)
Total harga barang
A.

Rp 3.500.000.000
Rp 100.000.000
A. Rp 600.000.000
Rp 4.200.000.000

Rp 3.600.000.000
Kemampuan membayar nasabah
A. Rp 600.000.000
Pembayaran sewa cicilan Rp 300.000.000 per
bulan
Rp 4.200.000.000
Pembelian ruko pada akhir masa sewa
Total kemampuan membayar
Struktur Akad

•Bai’u

wal Ijarah Muntahia Bit Tamlik dengan janji untuk menjual barang tersebut pada akhir masa sewa.

Rp 3,5 milyar
(1/8/20)
Bai’u Cash in Rp 300 juta per bulan
IMBT
cash in Rp 0,6 milyar (31/7/03)
Bank sebagai pembeli sewa
Bank sebagai penjual (31/7/03)
Barang diserahkan oleh bank (31/7/03)

Akad I: Bai’u
Pelaku

•Bank, bertindak
•Pemilik barang

sebagai pembeli barang
sebagai penjual barang

Bank sebagai pembeli (1/8/07)
Barang diterima oleh bank (1/8/07)

Rp
Cash out
Rp

Rp

Rp

Rp

Rp

Rp

Rp

R
p

Transaksi

Bank membeli barang dari pemilik barang dengan pembayaran tunai. Dengan kondisi ini, maka:
•Bank mengeluarkan uang (cash out) sebesar Rp 3,5 milyar (1/8/02) sebagai pembayaran tunai atas ruko.
•Bank telah dapat menyewakan ruko tersebut selama 12 bulan.

Akad II: Ijarah Muntahia Bit tamlik
Pelaku
Transaksi

•Bank bertindak

Sumber Pendanaan

Karena bank menerima pemasukan (cash in) setiap bulan, maka pembiayaan ini dapat didanai dengan penggunakan unrestricted investment
account (URIA) sehingga bank dapat membayarkan bagi hasil setiap bulannya kepada pemegang URIA.

sebagai pemberi sewa dan penjual pada akhir masa sewa.
bertindak sebagai penyewa dan pada akhir masa sewa menjadi pemilik.
•Bank membeli barang dari pemilik barang dengan pembayaran tunai. Dengan kondisi ini:
oBank mengeluarkan uang (cash out) sebesar Rp 3,5 milyar (1/8/07) sebagai pembayaran tunai atas ruko.
oBank telah dapat menyewakan ruko tersebut selama 12 bulan kepada nasabah (1/8/07).
oBank menerima pembayaran sewa (cash in) sebesar Rp 300 juta setiap bulan selama 12 bulan periode yang disepakati dari nasabah.
oPada akhir masa sewa, bank menerima uang pembelian barang dari nasabah sebesar Rp 0,6 milyar (31/7/08), sehingga terjadi perpindahan
kepemilikan barang dan sejak saat itu nasabah sebagai pemilik barang (31/7/08).
•Nasabah

Ilustrasi:
Bapak Ahmad hendak menyewakan sebuah ruang perkantoran di sebuah gedung selama satu tahun mulai tanggal 1 Mei 2007 sampai 1 Mei 2008. Pemilik gedung menginginkan pembayaran sewa secara tunai di muka
sebesar Rp 240.000.000,-. Dengan pola pembayaran ini, kemampuan keuangan Bapak Ahmad tidak memungkinkan. Bapak Ahmad hanya dapat membayar sewa secara angsuran per bulan. Untuk memecahkan masalah ini,
Bapak Ahmad mendatangi Islamic Banking untuk meminta pembiayaan, dengan memaparkan kondisi kebutuhan dan keuangannya. Analisis Islamic Banking dilakukan dengan memperhitungkan kebutuhan dan kemampuan
keuangan nasabah serta required rate of profit bank (sebesar 20%):
•Harga sewa 1 tahun (tunai di muka)
: Rp 240.000.000
•Required rate of profit bank (20%)
: Rp 48.000.000
•Harga sewa kepada nasabah
: Rp 288.000.000
•Periode pembiayaan
: 12 bulan (= 360 hari)
•Besarnya angsuran nasabah per bulan
: Rp 24.000.000
Dengan analisis tersebut, maka bentuk pembiayaan yang diberikan oleh bank kepada Bapak Ahmad adalah:
•Pembiayaan ijarah, harga sewa Rp 288.000.000, selama 12 bulan (360 hari) dengan angsuran Rp 24.000.000/bulan
•Pendanaan diambil dari URIA
E. Sistem Pembiayaan Lain (Other Financing)
1. Hawalah
a. Rukun Hawalah:
 Pihak yang berhutang (muhil)
 Pihak yang berpiutang (muhal)
 Pihak yang menerima pengalihan hutangpiutang (muhal ’alaih)
 Sighat (ijab qabul)
b. Hawalah dalam Teknis Perbankan

Pengertian:

Hawalah adalah akad pengalihan piutang nasabah
(muhal) kepada bank (muhal ’alaih). Nasabah meminta
bantuan bank agar membayarkan terlebih dahulu
piutangnya atas transaksi yang halal dengan pihak yang
berhutang (muhil). Selanjutnya bank akan menagih
kepada pihak yang berhutang tersebut.

Atas bantuannya membayarkan terlebih dahulu piutang
nasabah, bank dapat membebankan fee jasa penagihan.
Penetapannya dilakukan dengan memerhatikan besarkecilnya risiko tidak tertagihnya piutang.
Skema Hawalah: Contoh Aplikasi Perbankan
Penunjukan supplier (1)
Supply barang (2)
Invoice (3)
PT Nyiur Melambai
(Supplier/Muhal)

PT Carefour Ind.
(Pembeli/Muhil)

Tagih/Invoice (7)
Bayar (8)

Akad Hawalah (4)
Invoice (5)
Bayar (6)

Bank Syariah Amanah (Muhal ‘Alaih)
2. Rahn
a. Rukun Rahn
 Pihak yang menggadaikan (rahin)
 Pihak yang menerima gadai (murtahin)
 Barang yang digadaikan (marhun.
 Hutang/pinjaman (marhun bih)
 Sighat (Ijab qabul)
b. Syarat Rahn
 Pihak yang menggadaikan (rahin) dan pihak yang
menerima gadai (murtahin) cakap hukum serta
sama-sama ikhlas
 Pihak yang menggadaikan (rahin) memunyai
kemampuan untuk mengembalikan pinjaman.
 Barang yang digadaikan (marhun) benar-benar
milik rahin dan bebas dari ikatan atau syarat apa
pun.
 Jumlah hutang (marhun bih) disebutkan dengan
jelas.
c. Rahn dalam Teknis Perbankan






Rahn merupakan produk penunjang sebagai
alternatif pegadaian, terutama untuk membantu
nasabah dalam memenuhi kebutuhan
insidentilnya yang mendesak.
Bank tidak menarik manfaat apa pun, kecuali
biaya pemeliharaan dan keamanan atas barang
yang digadaikan.
Akad rahn dapat pula diaplikasikan untuk
memenuhi permintaan bank akan jaminan
tambahan atas suatu pemberian fasilitas
pembiayaan kepada nasabah.
3. Qardh
a. Landasan Syariah

QS Al-Hadiid [57]:11
Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik,
maka Allah akan melipat gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya,
dan dia akan memeroleh pahala yang banyak.

Hadis riwayat Muslim, “Barangsiapa yang telah melepaskan saudaranya
yang muslim satu dari kesusahan dunia, maka Allah akan membantunya
di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah senantiasa membantu seorang
hamba selama hamba tersebut membantu saudaranya.”

Hadis riwayat Ibnu Majah, “Tidaklah seorang muslim meminjamkan
muslim (lainnya) dua kali kecuali yang satunya adalah (senilai)
sedekah.”

Hadis riwayat Ibnu Majah, “Aku melihat pada waktu malam di-isra-kan
pada pintu surga tertulis: ‘Sedekah dibayar sepuluh kali lipat dan qardh
18 kali. Aku bertanya, ‘Wahai Jibril, mengapa qardh lebih utama
daripada sedekah?’ Ia menjawab, “Karena peminta, minta sesuatu dan ia
punya, sedangkan yang meminjam tidak akan meminjam kecuali
keperluan.”
b. Aplikasi dalam Perbankan
 Mengingat sifatnya bukan transaksi komersial
dan tanpa kompensasi, maka qardh
menggunakan sumber dana yang berasal:
 Untuk membantu dana talangan yang bersifat
jangka pendek, digunakan modal bank.
 Untuk membantu usaha sangat kecil dan
keperluan sosial, digunakan dana yang
bersumber dari zakat, infak, dan sedekah.
Skema Qardh: Contoh Aplikasi Perbankan

Akad Qardh
Pinjaman dana (Qardh)

(1)

(1)

(2)

Pengelolaan
(3)
Nasabah
(Muqtaridh)

Usaha

Modal Usaha
(2)
Bank Syariah
(Muqridh)

(4)
100% keuntungan
(5a)

Modal + Keuntungan

Pengembalian Modal
(5)

Bab 4

  • 1.
    ISLAMIC FINANCIAL MANAGEMENT BAB4 PRODUK-PRODUK PEMBIAYAAN DAN MEKANISMENYA Prof.Dr.H. Veitzhal Rivai, M.B.A. Andria Permata Veitzhal. B.Acct., M.B.A.
  • 2.
    A. PRINSIP BISNIS 1. 2. Menurut Triyuwono dalam Muhammad, (2002),Prinsip Bisnis: 3. 4. 5. 6. Prinsip Simpanan Prinsip Bagi Hasil Prinsip Pengembalian Keuntungan Prinsip Sewa (I ra h) ja Pengambilan Fee Prinsip biaya administrasi (Qa rd hul Ha s a n/be ne vo le nt lo a n)
  • 3.
    A. PRINSIP BISNIS 1. PrinsipSimpanan. Dalam prinsip simpanan ini dikenal dengan istilah wadi’ah, yang maknanya adalah perjanjian antara pemilik barang (termasuk uang), di mana pihak penyimpan bersedia menyimpan dan menjaga keselamatan barang yang dititipkan kepadanya. Prinsip ini dikembangkan dalam bentuk produk simpanan, yaitu: Giro Wadi’ah dan Tabungan Wadi’ah.
  • 4.
    2. Prinsip bagihasil   Jenisnya:   Musyarakah Mudharabah Muzara’ah Musaqah
  • 5.
    2. Prinsip Bagi-hasil 1. 2. 3. Musyarakah,perjanjian kerja sama antara dua pihak atau lebih pemilik modal (uang atau barang) untuk membiayai suatu usaha. Keuntungan usaha tersebut dibagi sesuai dengan perjanjian antara pihak-pihak tersebut, yang tidak harus sama dengan pangsa modal setiap pihak. Dalam hal kerugian dilakukan sesuai dengan pangsa modal masing-masing; Mudharabah, perjanjian antara pemilik modal (uang atau barang) dan pengusaha. Dalam perjanjian ini pemilik modal bersedia membiayai sepenuhnya suatu proyek atau usaha, dan pengusaha setuju untuk mengelola proyek tersebut dengan pembagian hasil sesuai dengan perjanjian. Pemilik modal tidak dibenarkan membuat usulan dan melakukan pengawasan. Apabila usaha yang diawasi mengalami kerugian, maka kerugian tersebut sepenuhnya ditanggung pemilik modal, kecuali kerugian itu terjadi karena penyelewengan atau penyalahgunaan pengusaha; Muzara’ah, memberiakn lahan pertanian kepada si penggarap untuk ditanami dan dipelihara dengan imbalan tertentu (persentase) dari hasil panen. Prinsip Mudharabah dijadikan dasar pengembangan produk tabungan dan deposito. Sementara prinsip musyarakah dan muzara’ah digunakan sebagai dasar pengembangan produk pembiayaan.
  • 6.
    3. Prinsip PengembalianKeuntungan, yang dapat disederhanakan dengan istilah jual beli, yaitu hak proses pemindahan hak milik barang atau aset dengan menggunakan uang sebagai media.
  • 7.
    (i) Musawamah, Jenis Jual Beli jualbeli biasa di mana penjual memasang harga tanpa memberitahu si pembeli tentang berapa margin keuntungan yang diambilnya; (ii)Tauliah, yaitu menjual dengan harga beli tanpa mengambil keuntungan sedikit pun, seolah si penjual menjadikan pembeli sebagai walinya (Tauliah) atas barang atau aset; (iii)Murabahah, yaitu menjual dengan harga asal ditambah margin keuntungan yang telah disepakati; (iv)Muwadhaah, yaitu menjual dengan harga yang lebih rendah dari harga beli, atau dengan kata lain Muwadhaah merupakan bentuk kebalikan dari murabahah; (v) Muqayadhah, merupakan bentuk awal dari transaksi di mana barang ditukar dengan barang (barter); (vi)Mutlaq, yaitu bentuk jual beli biasa di mana barang ditukar dengan uang; (vii)Sharf, adalah jual beli valuta asing di mana uang ditukar dengan barang (money exchange); (viii) Bai’u bi tsaman ajil, menjual dengan harga asal ditambah dengan margin keuntungan yang telah disepakati dan dibayar secara kredit; (ix)Bai’u Salam, yaitu proses jual beli di mana pembayaran dilakukan secara advance manakala penyerahan barang dilakukan kemudian; (x) Bai’ Istishna’, yaitu kontrak order yang ditandatangani bersama antara pemesan dengan produsen untuk pembuatan suatu jenis barang tertentu. Prinsip ini dijadikan dasar pengembangan produk pembiayaan.
  • 8.
    4. Prinsip Sewa(Ijarah) yaitu perjanjian antara pemilik barang dan penyewa yang memperbolehkan penyewa untuk memanfaatkan barang tersebut dengan membayar sewa sesuai dengan perjanjian kedua pihak. Setelah masa sewa berakhir, maka barang akan dikembalikan kepada pemilik.
  • 9.
    Jenis Akad Ijarah: • • • Ijarah Muthlaqah (Leasing), Bai’uTa’jiri (hire purchase), Musyarakah Mutanaqisah (decreasing participation),
  • 10.
    Ijarah Muthlaqah (Leasing), prosessewa-menyewa yang biasa kita temui dalam kegiatan perekonomian sehari-hari; 2. Bai’u Ta’jiri (hire purchase), suatu kontrak sewa yang diakhiri dengan penjualan. Dalam kontrak ini pembayaran sewa telah diperhitungkan sedemikian rupa sehingga sebagian darinya merupakan pembelian terhadap barang secara berangsur; 3. Musyarakah Mutanaqisah (decreasing participation), kombinasi antara musyarakah dengan ijarah/perkongsian dengan sewa. Prinsip ini dijadikan dasar pengembangan produk pembiayaan. 1.
  • 11.
    5. Prinsip PengambilanFee Jenis Prinsip pengambilan Fee: [a] Kafalah/Guarante, Jenis-jenis kafalah adalah: (i) Kafalah bi Nafs, (ii) Kafalah bilmal, (iii) Kafalah bi Taslim, (iv) Kafalah Munjazah, (v) Kafalah Muallaqah, [b] Wakalah, Jenis wakalah ada tiga: (i) Wakalah Muthlaqah, (ii) Wakalah Muqayyadah, (iii) Wakalah Ammah, [c] Hawalah, [d] Ju’alah,
  • 12.
    5. Prinsip PengambilanFee [a] Ka fa la h/G ua ra nte , yakni suatu jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua yang ditanggungnya.
  • 13.
    Jenis-jenis ka fala h adalah: (i) Ka fa la h bi N fs a jaminan dari si penjamin (bank sebagai jurid ic a l p e rs o na lity dapat memberikan jaminan untuk maksud-maksud tertentu); (ii) Ka fa la h bilmal jaminan pembayaran barang atau pelunasan utang; (iii) Ka fa la h bi Ta s lim dilakukan untuk menjamin dikembalikannya barang sewaan pada akhir masa kontrak (dapat dilakukan antar bank dengan le a s ing c o m p a ny terkait atas nama nasabah dengan mempergunakan depositnya di bank dan mengambil fe e -nya); (iv) Ka fa la h M unja z a h jaminan mutlak yang tidak dibatasi oleh kurun waktu tertentu atau dihubungkannyan dengan maksud-maksud tertentu; (v) Ka fa la h M lla q a h ua adalah penyederhanaan dari ka fa la h m unja z a h, di mana jaminan dibatasi oleh kurun waktu dan tujuan-tujuan tertentu.
  • 14.
    [b] Wakalah, perjanjian pemberian kuasa kepadapihak lain yang ditunjuk untuk mewakilinya dalam melaksanakan suatu tugas/kerja atas nama pemberi kuasa. Jenis wakalah ada tiga: (i) Wakalah Muthlaqah, mewakilkan secara mutlak tanpa batasan waktu atau urusan-urusan tertentu; (ii) Wakalah Muqayyadah, dalam kontrak ini pihak pertama menunjuk pihak kedua sebagai wakilnya untuk bertindak atas namanya dalam urusanurusan tertentu; (iii) Wakalah Ammah, bentuk wakalah yang lebih luas daripada muqayyadah, tetapi lebih sederhana dari muthlaqah.
  • 15.
    C. Hawalah, pengalihan kewajiban dari suatu pihak kepada pihaklain. D. Ju’alah, suatu kontrak pihak pertama menjanjikan imbalan tertentu kepada pihak kedua atas pelaksanaan usaha atau tugas. Prinsip ini dijadikan dasar pengembangan produk jasa layanan (services).
  • 16.
    6. Prinsip BiayaAdministrasi (Qardhul Hasan/benevolent loan), yakni perjanjian pinjam-meminjam uang atau barang dengan tujuan untuk membantu penerima pinjaman. Penerima pinjaman wajib mengembalikan hutangnya dalam jumlah yang sama.  Apabila peminjam tidak mampu mengembalikan pada waktunya, maka peminjam tidak boleh dikenai sanksi. Atas kerelaannya, peminjam diperbolehkan memberikan imbalan kepada pemilik barang/uang.
  • 17.
    Tabel 1.2 Konsep SyariahDalam Bank Syariah Nama Prinsip Jenis-Jenis Produk Syariah Penerapannya dalam Sistem Perbankan Keterangan Simpanan Wadiah Current Account Saving Account Wadiah dapat dikombinasikan dengan Mudharabah untuk investasi, dengan Wakalah untuk pembukaan L/C, dengan Kafalah untuk garansi Bagi-hasil Mudharabah Musyrakah Muzaraah Musaqat Invstment Account Saving Account Project Financing Project Financing Plantation Credit Financing Deposito dapat dipergunakan untuk general investment melalui pool of fund Pengambilan Keuntungan Bai’u Murabahah Bai’u bi tsaman ajil Bai’u Ta’jiri Bai’u Salam Bai’u Istishna Trade Financing Letter of Credit Trade Financing Sewa Ijarah Bai’u Ta’jiri Musyarakah Mutanaqisah Leasing Hire Purchase Decreasing Participation Pengambilan Fee Kafalah Hawalah Ju’alah Wakalah Guarantee Debts Transfer Special Service Letter of Credit Kabajikan (Tabarru’) Qardhul Hasan Benevolent Loan Biaya adminstrasi hanya dapat diambil untuk faktorfaktor yang menunjukkan terjadinya kontrak seperti biaya notaris, materai peninjauan proyek Sumber: M. Syafe’i Antonio, Konsep Syari'ah Bank Islam , 1992, dengan modifikasi.
  • 18.
        Dengan perbedaan bentukusaha tersebut, tentunya bank syariah berpotensi menjadi alternatif bagi masyarakat untuk melakukan simpan pinjam dengan pola usaha yang disediakan. Masyarakat muslim yang selama ini ragu, bahkan alergi, dengan bank konvensional yang menggunakan bunga sebagai pijakan kerjanya, dengan munculnya bank syariah tersebut bisa berpartisipasi tanpa ada hambatan sedikit pun. Sehingga, secara teoretis, sebenarnya keberadaan bank syariah memiliki prospek yang cerah karena potensi captive market yang jelas. Dengan posisi seperti itu tidak salah bila di kemudian hari perkembangan bank syariah ini akan meningkat secara pesat sehingga akan menjadi alternatif yang sepadan dengan jenis bank konvensional yang telah lama beroperasi.
  • 19.
    B. AKTIVITAS OPERASIONAL     ManajerInvestasi (mengelola dana nasabah). Investor (menginvestasikan dana miliknya dan dana yang dititipkan nasabah). Penyedia jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran. Pelaksanaan kegiatan sosial (mengeluarkan dan mengelola zakat maupun dana sosial lainnya).
  • 20.
    PEMBIAYAAN PEMBIAYAAN (Financing) (Financing) BAGI HASIL ( P& L Sharing) JUAL BELI ( Sale & Purch.) Musyarakah Musyarakah Mudharabah Mudharabah Murabahah Murabahah Salam Salam Istishna’ Istishna’ Ijarah Wa Iqtina Ijarah Wa Iqtina PEMB. LAIN ( Other Fin. ) Hawalah Hawalah Rahn Rahn PINJ. KEBJK. ( Non Complen ) Qard Qard
  • 21.
    1.    SISTEM PEMBIAYAAN BAGIHASIL (PROFIT & LOSS SHARING) Bagi hasil merupakan konsep pembiayaan yang adil dan memiliki nuansa kemitraan yang sangat kental. Hasil yang diperoleh dibagi berdasarkan perbandingan (nisbah) yang disepakati dan bukan sebagaimana penetapan bunga pada bank konvensional. Pembiayaan bagi hasil dalam perbankan syariah meliputi:   Musyarakah Mudharabah
  • 22.
      Sistem ini ketikamuncul, maka propagandanya dikatakan sebagai bank bagi hasil. Hal ini dilakukan untuk membedakan Islamic Banking dengan bank konvensional yang beroperasional dengan sistem bunga. Hal ini betul, tetapi tidak sepenuhnya benar, karena sesungguhnya bagi hasil itu hanya merupakan bagian saja dari sistem operasi Islamic Banking. Mekanisme bagi hasil di Islamic Banking dijalankan berdasarkan prinsip: mudharabah dan/atau musyarakah. Bagi hasil adalah bentuk return dari kontrak investasi, yakni yang termasuk ke dalam natural uncertainty contracts. Dalam fikih Islam, selain dikenal natural uncertainty contracts, juga dikenal natural certainty contracts. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sistem bagi hasil sudah pasti merupakan salah satu praktik Islamic Banking. Namun sebaliknya, praktik Islamic Banking belum tentu sepenuhnya menggunakan sistem bagi hasil. Sebab, selain sistem bagi hasil, masih ada sistem jual beli, sewamenyewa dan peminjaman. Dengan demikian, Islamic Banking memiliki ruang gerak produk yang lebih luas dibandingkan dengan bank kovensional.
  • 23.
    2. SISTEM PEMBIAYAANJUAL BELI (SALE & PURCHASE) DAN SEWA   a. b. c. d. Konsep jual beli dalam bisnis Islami mengandung beberapa kebaikan, antara lain: pembiayaan yang diberikan selalu terkait dengan sektor riil, karena yang menjadi dasar adalah barang yang diperjualbelikan. Di samping itu, harga yang telah disepakati tidak akan mengalami perubahan sampai dengan berakhirnya akad. Konsep jual-beli yang diaplikasikan dalam produk pembiayaan Islami, meliputi: Bai’u Murabahah Bai’u Salam Bai’u Istishna’ Ijarah wa Iqtina
  • 24.
    3. SISTEM PEMBIAYAANLAIN (OTHER FINANCING) Berbeda dengan kelompok pembiayaan dengan pola bagi hasil maupun jual beli, dalam “pembiayaan lain” tidak ada unsur barang sebagai objek pembiayaan, dan karenanya lebih merupakan objek transaksi. Kalaupun ada unsur barang yang terkait dalam transaksi, maka bukan merupakan objek transaksi, melainkan berfungsi sebagai jaminan. Ada dua produk perbankan syariah yang termasuk dalam kategori ini, masing-masing adalah:       Hawalah Rahn Selain itu, ada satu bentuk pembiayaan lagi yang disebut dengan qardh. Hanya, sistem ini tidak bersifat komersial.
  • 25.
    4. DISTRIBUSI HASILUSAHA   Perhitungan pembagian hasil usaha antara shahibul mal dan mudharib sesuai dengan nisbah yang disepakati pada awal akad. Perhitungan besaran hasil usaha yang dipergunakan sebagai dasar perhitungan.
  • 26.
    Alur Operasional Bank Syariah Penghimpunandana Wadiah yad dhamanah Penyaluran Dana Pendapatan Prinsip bagi hasil Bagi hasil / Laba rugi Prinsip jual beli Margin Mudharabah Mutlaqah (Investasi Tdk Terikat) Lainnya (modal dsb) Laporan Laba Rugi Tabel Bagi Hasil Pendapatan Mdh Mutlaqah (Investasi Tidak Terikat) Pendapatan berbasis imbalan (f ee base income) Agen : Mudharabah Muqayyadah / investasi terikat Jasa keuangan : w akalah, kafalah, sharf
  • 27.
    a. Prinsip DistribusiHasil Usaha 1. Revenue Sharing  Yang dibagikan adalah pendapatan (revenue).  Shahibul mal menanggung kerugian: usaha dilikuidasi, jumlah aktiva lebih kecil daripada kewajiban. 2. Profit Sharing  Yang dibagikan adalah keuntungan (profit).  Kerugian bukan kelalaian mudharib ditanggung oleh shahibul mal.
  • 28.
    b. Landasan SyariahPrinsip Distribusi Hasil Usaha 1. QS Al-Baqarah [2]:282 Hai orang yang beriman, jika kamu melakukan transaksi hutang piutang untuk jangka waktu yang ditentukan tuliskanlah,… 2. QS Al-Ma`idah [5]:1 Hai orang-orang yang beriman! penuhilah akad-akad itu...
  • 29.
    3. Hadis riwayatTirmidzi dan Amr bin Auf’, “Perdamaian dapat dilakukan kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” 4. Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari ‘Ubadah bin Shamit, riwayat Ahmad dari Ibnu Abbas, dan riwayat Malik dari Yahya, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.” 5. Kaidah Fikih:   Pada dasarnya segala bentuk muamalah adalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkanya. Di mana terdapat kemaslahatan, di sana terdapat hukum Allah.
  • 30.
    Sistem Bagi Hasil LapLaba Rugi Bank (sebagai mudharib) Lap L/R Pengelolaan Dana Mudharabah = Pendapatan : • Pengelolaan dana (+/-) Pendapatan Penyaluran Mudharabah • Bagi Hasil (prinsip bagi hasil) Revenue Sharing Alokasi Keuntungan Kerugian Kepada pemilik rekening ITT • Margin (prinsip jual beli) • Lainnya (SWBI, IMA dsb) Tabel Distribusi Pendapatan (+/+) Pendapatan : • Fee base income Beban Pengelolaan Mudharabah • Beban Tenaga Kerja Mudharabah (-/-) • Beban Administrasi Mudharabah • Beban Penyusutan Mudharabah • Beban Opr Mudharabah Lainnya Beban Mudharib : • Beban Tenaga Kerja Laba/Rugi Shahibul maal g n a h S s L t i f o r P = = M l u b a h S i s r o P • Beban Administrasi • Beban Opr Lainnya (-/-) Laba/Rugi Mudharabah
  • 31.
    c. Landasan SyariahProfit & Loss Sharing   Pendapat Abu Hanifah, Malik, dan Mazhab Zaidiyah: Mudharib dapat membelanjakan harta mudharabah hanya bila perdagangannya itu di perjalanan, baik itu berupa biaya makan, minum, pakaian, dan sebagainya. Imam Hanbali:   Membolehkan mudharib untuk menafkahkan sebagian dari harta mudharabah, baik dalam keadaan menetap atau bepergian dengan izin shahibul mal. Besarnya nafkah yang boleh digunakan adalah nafkah yang telah dikenal (menurut kebiasaan) para pedagang dan tidak boleh boros.
  • 32.
    C. SISTEM PEMBIAYAANBAGI HASIL (PROFIT & LOSS SHARING)   Bentuk khusus kontrak keuangan yang telah dikembangkan untuk menggantikan mekanisme bunga dalam transaksi keuangan adalah mekanisme bagi hasil (Murinde, Naser dan Wallace, 1995). Mekanisme bagi hasil ini merupakan core product bagi Islamic financial institution, seperti Islamic Banking. Sebab, Islamic Banking secara eksplisit melarang penerapan tingkat bunga pada semua transaksi keuangannya. Secara umum prinsip bagi hasil dalam Islamic Banking dapat dilakukan dalam empat akad utama, yaitu: musyarakah; mudharabah; muzara’ah; musaqah (Antonio, 2000). Namun, yang banyak dipakai di Islamic Banking adalah musyarakah dan mudharabah. Kedua akad produk biasanya tergolong sebagai kontrak bagi hasil (Antonio, 2000; Siddiqi, 1983; Chapra, 1985; Muhamad, 2001; Warde, 1999; Humayon, Harvey dan Presley, 1999).
  • 33.
    1. MUSYARAKAH a. Pengertian Musyarakahadalah akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu di mana setiap pihak memberikan kontribusi dana (atau amal/expertise) dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko (kerugian) akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. 
  • 34.
    b. Jenis MusyarakahAkad (Syirkah Uqud) 1. Syirkah ‘Inan  Akad kerja sama antara dua orang atau lebih, masing-masing memberikan kontribusi dana dan berpartisipasi dalam kerja. Porsi dana dan bobot partisipasi dalam kerja tidak harus sama, bahkan dimungkinkan hanya salah seorang yang aktif mengelola usaha yang ditunjuk oleh partner lainnya. Sementara itu, keuntungan atau kerugian yang timbul dibagi menurut kesepakatan bersama. 2. Syirkah Mufawadhah  Akad kerja sama antara dua orang atau lebih, masing-masing memberikan kontribusi dana dalam porsi yang sama dan berpartisipasi dalam kerja dengan bobot yang sama pula. Setiap partner saling menanggung satu sama lain dalam hak dan kewajiban. Tidak diperkenankan salah seorang memasukkan modal yang lebih besar dan memeroleh keuntungan yang lebih besar pula dibandingkan dengan partner lainnya. Keuntungan maupun kerugian yang diperoleh harus dibagi secara sama.
  • 35.
    3. Syirkah A’mal  Kesepakatankerja sama antara dua orang atau lebih yang memiliki profesi dan keahlian tertentu, untuk menerima serta melaksanakan suatu pekerjaan secara bersama dan berbagi keuntungan dari hasil yang diperoleh. 4. Syirkah Wujuh  Syirkah ini terbentuk antara dua orang atau lebih, tanpa setoran modal. Modal yang digunakan hanyalah nama baik yang dimiliki, terutama karena kepribadian dan kejujuran masing-masing dalam berniaga. Dengan memiliki reputasi seperti itu, mereka dapat membeli barang-barang tertentu dengan pembayaran tangguh dan menjualnya kembali secara tunai. Keuntungan yang diperoleh akan dibagi sesuai dengan kesepakatan bersama.
  • 36.
    c. Prinsip Musyarakah   Proyekatau kegiatan usaha yang akan dikerjakan feasible dan tidak bertentangan dengan syariah. Pihak-pihak yang turut dalam kerja sama memasukkan dana musyarakah, dengan ketentuan:   Dapat berupa uang tunai atau assets yang likuid. Dana yang terhimpun bukan lagi milik perorangan, tetapi menjadi dana usaha.
  • 37.
    Skema Musyarakah: Akad Musyarakah 50% Laba 60% Modal 40%Modal Keahlian Keahlian Partner 1 50% Partner 2 Proyek/Usaha 60% 40% Rugi
  • 38.
    d. Musyarakah dalamTeknis Perbankan 1. Pengertian   Musyarakah merupakan akad kerja sama pembiayaan antara Islamic Banking, atau beberapa lembaga keuangan secara bersamasama, dan nasabah untuk mengelola suatu kegiatan usaha. Masing-masing memasukkan penyertaan dana sesuai porsi yang disepakati. Pengelolaan kegiatan usaha, dipercayakan kepada nasabah. Selaku pengelola, nasabah wajib menyampaikan laporan berkala mengenai perkembangan usaha kepada bank-bank sebagai pemilik dana. Di samping itu, pemilik dana dapat melakukan intervensi kebijakan usaha.
  • 39.
    2. Aplikasi  Pembiayaandalam modal kerja; dapat dialokasikan untuk perusahaan yang bergerak dalam bidang konstruksi, industri, perdagangan, dan jasa.  Pembiayaan investasi; dapat dialokasikan untuk perusahaan yang bergerak dalam bidang industri.  Pembiayaan secara sindikasi; baik untuk kepentingan modal kerja maupun investasi.
  • 40.
    2. Mudharabah a. PengertianMudharabah  Mudharabah, berasal dari kata dharb, artinya memukul atau berjalan. Pengertian memukul atau berjalan ini lebih tepatnya adalah proses seseorang memukulkan kakinya dalam menjalankan usaha. Secara teknis mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak di mana pihak pertama (shahibul mal) menyediakan seluruh (100%) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan kerugian ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian pengelola, maka pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut
  • 41.
     Secara lebih spesifik,pengertian mudharabah dapat dirinci sebagai berikut:  Mudharabah adalah akad kerja sama antara pemilik dana (shahibul mal), yang menyediakan seluruh kebutuhan modal, dan pihak pengelola usaha (mudharib) untuk melakukan suatu kegiatan usaha bersama. Keuntungan yang diperoleh dibagi menurut perbandingan (nisbah) yang disepakati.  Dalam hal terjadi kerugian, maka ditanggung oleh pemilik modal selama bukan diakibatkan kelalaian pengelola usaha. Sedangkan, kerugian yang timbul karena kelalaian pengelola akan menjadi tanggung jawab pengelola usaha itu sendiri.  Pemilik modal tidak turut campur dalam pengeloalaan usaha, tetapi memunyai hak untuk melakukan pengawasan.
  • 42.
    b. Landasan HukumMudharabah  QS Al-Jumu’ah [62]: 10 Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebarkanlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.  Hadis riwayat Ibnu Majah “Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkatan: jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual.”
  • 43.
    c. Jenis Mudharabah 1.Mudharabah Muthlaqah Pemilik dana (shahibul mal) memberikan keleluasaan penuh kepada pengelola (mudharib) dalam menentukan jenis usaha maupun pola pengelolaan yang dianggapnya baik dan menguntungkan sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan syariah. 2. Mudharabah Muqayyadah Pemilik dana memberikan batasan-batasan tertentu kepada pengelola usaha dengan menetapkan jenis usaha yang harus dikelola, jangka waktu pengelolaan, lokasi usaha, dan sebagainya.
  • 44.
    Skema Mudharabah: ContohAplikasi Perbankan (1) 100% Akad Mudharabah Rugi (3b) 100% Modal Usaha Konveksi (2) Bank Syariah “H” Peng. Mdl. Ush. Rp 15 Juta/Bln (3) 50%(Nisbah) (3a) 0% (1) (3a) Keahlian (2) Firman 50%(Nisbah) Laba (3a)
  • 45.
    d. Ketentuan danRukun Mudharabah    Mudharabah sebagai sebuah kegiatan kerja sama ekonomi antara dua pihak memunyai beberapa ketentuan yang harus dipenuhi dalam rangka mengikat jalinan kerja sama tersebut dalam kerangka hukum. Menurut mazhab Hanafi, dalam kaitannya dengan kontrak tersebut, unsur yang paling mendasar adalah ijab dan qabul (offer and acceptence). Artinya bersesuaiannya keinginan dan maksud dari dua pihak tersebut untuk menjalin ikatan kerja sama (Nyazee,1997). Namun, beberapa mazhab lain, seperti Syafi’i, mengajukan beberapa unsur mudharabah yang tidak hanya adanya ijab dan qabul, tetapi juga adanya dua pihak, adanya kerja, adanya laba, dan adanya modal (Al-Ramli, vol.V).
  • 46.
    1. Ijab dan qabul. Pernyataankehendak yang berupa ijab dan qabul antara kedua pihak. Syarat-syarat, yaitu: a. Harus jelas menunjukkan maksud untuk melakukan kegiatan mudharabah. Dalam menjelaskan maksud tersebut, bisa menggunakan kata mudharabah, qiradh, muqaradhah, mu’amalah, atau semua kata yang semakna dengannya. Bisa pula tidak menyebutkan kata mudharabah dan kata-kata sepadan lainnya jika maksud dari penawaran tersebut sudah dapat dipahami. Misalnya, “Ambil uang ini dan gunakan untuk usaha dan keuntungan kita bagi berdua.” (Al-Kasani, 1990). b. Harus bertemu. Artinya, penawaran pihak pertama sampai dan diketahui oleh pihak kedua. Ijab yang diucapkan pihak pertama harus diterima dan disetujui oleh pihak kedua sebagai ungkapan kesediaan bekerja sama. Kesediaan tersebut bisa diungkapkan dengan kata-kata atau gerakan tubuh (isyarat) lain yang menunjukkan kesediaan. Misalnya, dengan mengucapkan, “Ya, saya terima,” atau “Saya setuju,” atau dengan isyarat-isyarat setuju lain seperti menganggukkan kepala, diam, atau senyum. Oleh karena itu, peristiwa ini harus terjadi dalam satu majlis akad agar terhindar dari kesalahpahaman. c. Harus sesuai maksud pihak pertama, cocok dengan keinginan pihak kedua. Secara lebih luas, ijab dan qabul tidak saja terjadi dalam soal kesediaan dua pihak untuk menjadi pemodal dan pengusaha, tetapi juga kesediaan untuk menerima kesepakatan-kesepakatan lain yang muncul lebih terinci. Dalam hal ini, ijab (penawaran) tidak selalu diungkapkan oleh pihak pertama. Begitu juga sebaliknya. Keduanya harus saling menyetujui. Artinya, jika pihak pertama melakukan ijab (penawaran), maka pihak kedua melakukan qabul (penerimaan). Begitu juga sebaliknya. Ketika kesepakatan-kesepakatan itu disetujui, maka terjadilah hukum.
  • 47.
    2. Adanya dua pihak(pihak penyedia dana dan pengusaha). Para pihak (shahibul mal dan mudharib) disyaratkan: a. Cakap bertindak hukum secara syar’i. Artinya, shahibul mal memiliki kapasitas untuk menjadi pemodal dan mudharib memiliki kapasitas menjadi pengelola. Jadi, mudharabah yang disepakati oleh shahibul mal yang memunyai penyakit gila temporer tidak sah. Namun, jika dikuasakan oleh orang lain, maka sah. Bagi mudharib, asalkan ia memahami maksud kontrak saja sudah cukup sah mudharabah-nya. Memiliki walayah tawkil wa wakalah (memiliki kewenangan mewakilkan/memberi kuasa dan menerima pemberian kuasa), karena penyerahan modal oleh pihak pemberi modal kepada pihak pengelola modal merupakan suatu bentuk pemberian kuasa untuk mengolah modal tersebut. b.
  • 48.
    3. Adanya modal. Modaldisyaratkan: a. b. Harus jelas jumlah dan jenisnya dan diketahui oleh kedua belah pihak pada waktu dibuatnya akad mudharabah, sehingga tidak menimbulkan sengketa dalam pembagian laba karena ketidakjelasan jumlah. Kepastian dan kejelasan laba itu penting dalam kontrak ini. Harus berupa uang (bukan barang). Mengenai modal harus berupa uang dan tidak boleh barang adalah pendapat mayoritas ulama. Mereka beralasan, mudharabah dengan barang itu dapat menimbulkan kesamaran, karena barang pada umumnya bersifat fluktuatif. Jika barang bersifat tidak fluktuatif seperti emas dan perak, mereka berbeda pendapat. Imam Malik dalam hal ini tidak tegas untuk melarang atau membolehkannya. Oleh karenanya, para muridnya berbeda pendapat. Sebagian membolehkan dan sebagian lain, seperti Ibnu Al-Qasim, membolehkannya dengan catatan emas dan perak tersebut belum menjadi barang perhiasan. Dalam kaitan mudharabah dengan emas atau perak ini, Imam Syafi’i melarangnya. Secara umum fuqaha yang melarang mudharabah dengan emas atau perak beralasan bahwa keduanya disamakan dengan barang, sedangkan yang membolehkannya, termasuk di antaranya Ibnu Abi Laila, beralasan bahwa keduanya disamakan dengan dinar dan dirham. Keduanya hanya berbeda sedikit dalam harga (tidak fluktuatif). Dalam kaitannya dengan modal ini pula, para fuqaha sepakat bahwa jika barang yang diserahkan tersebut tidak untuk mudharabah, tetapi untuk dijadikan sebagai sebuah modal mudharabah dengan cara menjualnya terlebih dahulu, maka hal ini diperbolehkan. Menurut Ibnu Hazm, karena hal ini telah banyak disebutkan dalam hadis Nabi Saw..
  • 49.
    (c) Uang bersifattunai (bukan hutang). Mengenai keharusan uang dalam bentuk tunai (tidak hutang) bentuknya adalah, misalnya, shahibul mal memiliki piutang kepada seseorang. Piutang pada seseorang tersebut kemudian dijadikan modal mudharabah bersama si berhutang. Ini tidak dibenarkan karena piutang itu sebelum diterimakan oleh si berhutang kepada si berpihutang, masih merupakan milik siberhutang. Jadi, apabila ia jalankan dalam suatu usaha, berarti ia menjalankan dananya sendiri, bukan dana si berpihutang. Selain itu, hal ini bisa membuka pintu perbuatan riba, yaitu memberi tangguh kepada si berhutang yang belum mampu membayar hutangnya dengan kompensasi si berpihutang mendapatkan imbalan tertentu. Dalam hal ini, para ulama fikih tidak berbeda pendapat. Perselisihan pendapat para fuqaha terletak pada orang yang menyuruh orang lain untuk menerima hutang dari orang ketiga, kemudian orang tersebut memutarkannya berdasarkan mudharabah. Imam Malik dan para pengikutnya tidak membolehkan hal tersebut, karena memandang bahwa pada cara tersebut terdapat penambahan kerja dari orang tersebut kepada orang yang bekerja (memutarkan harta). Kerja tambahan tersebut adalah suruhan untuk menerimanya. Alasan ini didasarkan pada aturan pokok mudharabah dalam mazhab Maliki bahwa barangsiapa mensyaratkan manfaat yang lebih dalam mudharabah, maka batal. Sementara itu, Imam Syafi’i dan Abu Hanifah membolehkannya dengan alasan orang tersebut telah mewakilkan penerimaan kepada orang lain. Jadi, ia tidak menjadikan penerimaan sebagai syarat pemutaran uang.
  • 50.
    (d) Modal diserahkansepenuhnya kepada pengelola secara langsung. Jika tidak diserahkan kepada mudharib secara langsung dan tidak diserahkan sepenuhnya (berangsur-angsur) dikhawatirkan akan terjadi kerusakan pada modal, yaitu penundaan yang dapat mengganggu waktu mulai bekerja dan akibat yang lebih jauh mengurangi kerjanya secara maksimal. Jumhur fuqaha sepakat akan hal ini. Hanya, sebagian dari mazhab Hanafi lebih fleksibel menambahkan apabila pengangsuran kucuran modal tersebut dikehendaki oleh mudharib, maka tidak batal.
  • 51.
    4. Adanya usaha(’amal). Mengenai jenis usaha pengelolaan ini, sebagian ulama, khususnya Syafi’i dan Maliki, mensyaratkan hanya berupa usaha dagang (commercial). Mereka menolak usaha yang berjenis kegiatan industri (manufacture) dengan anggapan bahwa kegiatan industri itu termasuk dalam kontrak persewaan (ijarah) yang semua kerugian dan keuntungan ditanggung oleh pemilik modal (investor), sementara para pegawainya digaji secara tetap (Udovitch, 1970). Tetapi, Abu Hanifah membolehkan usaha apa saja selain berdagang, termasuk kegiatan kerajinan atau industri. Seseorang dapat memberikan modalnya kepada pekerja yang akan digunakannya untuk membeli bahan mentah untuk dibuat sebuah produk dan kemudian dijual. Keuntungan ini dapat dibagi dua antara keduanya. Ini memang tidak termasuk jenis perdagangan murni yang seseorang hanya terlibat dalam pembelian dan penjualan. Tetapi, hal tersebut dapat dibenarkan, sebab persekutuan antara modal dan tenaga terjadi dalam kegiatan ini; bahkan mengenai keuntungan kadang-kadang lebih dapat dipastikan, sehingga bagi hasil akan selalu dapat diwujudkan. Kalau ditarik lebih jauh ke era modern ini, makna perdagangan menjadi meluas. Semua kerja ekonomi yang mengandung kegiatan membuat atau membeli produk atau jasa, kemudian menjualnya atau menjadikan produk atau jasa tersebut menjadi sebuah keuntungan merupakan arti dari perdagangan. Oleh karena itu, tampaknya semua kegiatan ekonomi itu mengandung unsur perdagangan. Jadi sesungguhnya, dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa jenis usaha yang diperbolehkan adalah semua jenis usaha. Tentu saja tidak hanya menguntungkan, juga harus sesuai dengan ketentuan syariah, sehingga merupakan usaha yang halal (Anwar, 2001). Dalam menjalankan usaha ini, shahibul mal tidak boleh ikut campur dalam teknis operasional dan manajemen usaha, dan tidak boleh membatasi usaha mudharib sedemikian rupa sehingga mengakibatkan upaya pemerolehan keuntungan maksimal tidak tercapai. Tetapi, di lain pihak, pengelola harus senantiasa menjalankan usahanya dalam ketentuan syariah secara umum. Apabila usaha itu dijalankan di bawah akad mudharabah terbatas, maka ia harus memenuhi klausul-klausul yang ditentukan oleh shahibul mal.
  • 52.
    5. Adanya keuntungan. (a) (b) (c) Mengenaikeuntungan, disyaratkan bahwa: Keuntungan tidak boleh dihitung berdasarkan persentase dari jumlah modal yang diinvestasikan, melainkan hanya keuntungannya saja setelah dipotong besarnya modal. Dalam hal ini, penghitungan harus dilakukan secara cermat. Setiap keadaan yang membuat ketidakjelasan penghitungan akan membawa kepada suatu kontrak yang tidak sah. Keuntungan untuk setiap pihak tidak ditentukan dalam jumlah nominal, misalnya satu juta, dua juta, dan seterusnya. Jika ditentukan dengan nilai nominal, berarti shahibul mal telah mematok untung tertentu dari sebuah usaha yang belum jelas untung dan ruginya. Ini akan membawa pada perbuatan riba. Nisbah pembagian ditentukan dengan persentase, misalnya 60:40%, 50:50%, dan seterusnya. Penentuan persentase tidak harus terikat pada bilangan tertentu. Artinya, jika nisbah bagi hasil tidak ditentukan pada saat akad, maka setiap pihak memahami bahwa keuntungan itu akan dibagi secara sama, karena aturan umum dalam penghitungan ini adalah kesamaan. Namun, tindakan berupa penyebutan nisbah bagi hasil pada awal kontrak adalah lebih baik untuk menghindari munculnya kesalahpahaman. Persentase yang diungkapkan oleh salah satu pihak dianggap cukup. Jika terdapat pihak ketiga, seorang yang membantu usaha mudharib, maka persentase bagi hasil tidak boleh dibagi menjadi tiga bagian. Namun, jika pihak ketiga itu merupakan budak (pekerja) dari shahibul mal, para ulama berbeda pendapat. Imam Malik, Syafi’i, dan Abu Hanifah membolehkannya, sementara para ulama murid Imam Malik tidak membolehkannya.
  • 53.
    (d) Keuntungan harus menjadihak bersama sehingga tidak boleh diperjanjikan bahwa seluruh keuntungan untuk salah satu pihak. Pada dasarnya, mudharabah membagi keuntungan berdasarkan kesamaan. Namun, jika mudharib mensyaratkan seluruh keuntungan untuk dirinya, para fuqaha berbeda pendapat. Imam Malik membolehkannya, karena cara itu merupakan kebaikan atau kesukarelaan shahibul mal. Di lain pihak, Imam Syafi’i melarangnya. Ia menganggap cara seperti itu sebagai suatu kesamaran, karena jika terjadi kerugian, shahibul mal pun telah menanggung modalnya. Jadi, menurut Imam Syafi’i, beban risiko yang ditanggung shahibul mal itu telah berat dan tidak boleh ditambahi lagi. Imam Abu Hanifah, berkenaan dengan masalah ini, berpendapat bahwa hal itu tidak termasuk kategori mudharabah, melainkan qardh (pinjaman). Artinya, pelimpahan seluruh keuntungan ke tangan mudharib menjadikan kegiatan ekonomi itu sebagai sebuah pinjaman. Maka dari itu, jika terjadi kejadian yang sebaliknya (kerugian), maka seluruh kerugian ditanggung oleh mudharib.
  • 54.
    Kesepakatan tentang aturandan wewenang dalam Kerja sama mudharabah 1. 2. 3. Manajemen Tenggang Waktu (Duration) Jaminan (Dhaman)
  • 55.
    1. Manajemen. Ketika mudharib telahsiap dan menyediakan tenaga untuk kerja sama mudharabah, maka saat itulah ia mulai mengelola modal shahibul mal. Pengelolaan usaha tersebut membutuhkan kreativitas dan keterampilan tertentu yang kadang-kadang hanya ia sendiri yang mengetahuinya. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan manajemen, kebebasan mudharib dalam merencanakan, merancang, mengatur, dan mengelola usaha merupakan faktor yang menentukan. Menurut mazhab Hanafi, mudharabah itu dua macam: mudharabah muthlaqah (absolut, tidak terikat) dan mudharabah muqayyadah (terikat). a. Dalam mudharabah muthlaqah, mudharib mendapatkan kebebasan untuk mensetup mudharabah sebagaimana ia inginkan. Mudharib bisa membawa pergi modalnya, memberikan modalnya ke pihak ketiga atau bahkan untuk modal musyarakah dengan orang lain. Mudharib juga bisa mencampur modal mudharabah dengan modalnya sendiri. Dia bisa menggunakan modal tersebut untuk membeli semua barang kepada siapa pun atau kapan pun. Dia juga bisa menjual barang-barang itu secara tunai atau cicilan. Dia bebas menyewa orang atau barang dengan modal itu. Interfensi shahibul mal dalam mudharabah ini tidak ada. b. Sebaliknya, dalam mudharabah muqayyadah, semua keputusan yang mengatur praktik mudharabah ditentukan oleh shahibul mal. Mudharib tidak bebas mewujudkan keinginannya, tetapi dia harus terbatasi oleh aturan-aturan yang ditetapkan oleh shahibul mal dalam sebuah kontrak (Nyazee, 1997). Menurut Imam Malik dan Imam Syafi’i, jika shahibul mal mengatur mudharib untuk membeli barang tertentu dan kepada seseorang tertentu, maka mudharabah itu menjadi batal, karena hal itu dikhawatirkan upaya perolehan keuntungan yang maksimal tidak terpenuhi.
  • 56.
    2. Tenggang waktu(duration). Satu hal yang harus mendapat kesepakatan antara shahibul mal dan mudharib adalah lama waktu usaha. Ini penting karena tidak semua modal yang diberikan kepada mudharib itu dana mati yang tidak dibutuhkan oleh pemiliknya. Di samping itu, penentuan waktu adalah sebuah cara untuk memacu mudharib bertindak lebih efektif dan terencana. Namun, di sisi lain, penentuan waktu itu bisa membuat mudharib menjadi tertekan dan tidak bebas menjalani usaha mudharabah, apalagi kerja ekonomi bersifat spekulatif, tidak selalu berjalan lancar. Karenanya, para fuqaha berselisih pendapat. Menurut mazhab Maliki dan Syafi’I, penentuan waktu itu dapat membatalkan kontrak, sedangkan menurut mazhab Hanafi dan Hambali, penentuan waktu itu sah. Kontrak mudharabah dapat diakhiri oleh salah satu pihak dengan memberitahukan terlebih dahulu. Ini dimungkinkan terjadi, dan para fuqaha sepakat bahwa mudharabah adalah kontrak yang tidak mengikat. Tidak ada perbedaan pendapat mengenai boleh diakhirinya kontrak sebelum mudharib melakukan usaha. Imam Syafi’i dan Abu Hanifah berpendapat, ketika mudharib melakukan kerja, salah satu pihak boleh dalam mengakhirinya. Namun demikian, Imam Malik tidak membolehkannya. Ketika mudharabah menjadi batal, karena suatu alasan tertentu, maka ia berhak menerima upah tertentu atas pekerjaan yang telah ia kerjakan, dan ini tidak termasuk wilayah kontrak mudharabah, tetapi wilayah kontrak sewa (ijarah). Oleh karena itu, dia harus dibayar atas usahanya.
  • 57.
    3. Jaminan (dhaman). Satuhal yang tidak kalah penting dalam mewujudkan kesepakatan bersama adalah aturan tentang jaminan atau tanggungan. Tanggungan menjadi penting ketika shahibul mal khawatir akan munculnya penyelewengan dari mudharib. Namun, pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah apakah dalam suatu kerja sama yang saling menguntungkan, jaminan menjadi suatu yang urgen? Bukankah kerja sama itu suatu kontrak yang saling memercayai? Apakah setiap kerugian itu berarti penyelewengan? Para ulama berbeda pendapat mengenai keharusan adanya tanggungan dalam mudharabah ini. Para fuqaha pada dasarnya tidak setuju adanya tanggungan. Alasannya, mudharabah merupakan kerja sama saling menanggung; satu pihak menanggung modal dan pihak lain menanggung kerja, dan mereka saling memercayai. Jika terjadi kerugian, semua pihak merasakan kerugian tersebut. Oleh karenanya, jaminan harus ditiadakan. Namun, jaminan menjadi perlu ketika modal yang rusak melampaui batas. Tetapi, bagaimana batasan sesuatu dianggap melampaui batas? Para ulama pun berbeda pendapat. Menurut Imam Malik dan Syafi’i, jika shahibul mal bersikeras terhadap adanya jaminan dan menetapkannya sebagai bagian dari kontrak, maka kontrak menjadi tidak sah.
  • 58.
    Implikasi dari KontrakMudharabah 1. 2. 3. Mudharib sebagai Amin Mudharib sebagai Wakil Mudharib sebagai Mitra dalam Laba
  • 59.
    1. Mudharib sebagaiamin (orang yang dipercaya).  Seorang mudharib menjadi amin untuk modal yang telah diserahkan kepadanya. Ini berarti dia telah diizinkan oleh pemilik modal untuk memiliki modal tersebut. Penyerahan ini bukan suatu jual beli, pinjaman, atau sewa. Modal yang diserahkan dalam hal ini adalah amanah yang harus dijaga oleh mudharib. Namun, pengertian amanah tersebut tetap berpijak pada satu ketentuan: jika modal itu rusak di tangannya tanpa ada unsur penyelewengan, maka tidak ada tanggungan baginya. Posisi mudharib sebagai al-amin mengindikasikan bahwa penyerahan modal dan pengelolaannya sepenuhnya tergantung kepada mudharib. Sebab, dalam pengelolaannya, modal tersebut akan bercampur dengan modal dan barang-barang lain milik mudharib. Keadaan seperti ini tentu saja sulit dideteksi. Oleh karena itu, diposisikannya mudharib sebagai amin akan dapat memunculkan kesadaran dan sikap kehati-hatian pengelola dalam mengolah usahanya, utamanya memisahkan antara modal pribadi dan modal orang lain dalam penghitungan keuntungannya.
  • 60.
    2. Mudharib sebagaiwakil.  Mudharib adalah wakil dari shahibul mal dalam semua transaksi yang ia sepakati. Konsekuensinya, hak-hak kontrak kembali kepadanya sebagai seorang yang menyepakati transaksi. Di samping itu, dia adalah orang yang dituntut oleh para penjual untuk melakukan pembayaran dan dituntut oleh para pembeli untuk mengirimkan barang. Pemaknaan mudharabah seperti ini dilakukan oleh mazhab Hanafi. Mudharib sebagai wakil menjelaskan bahwa mudharib merupakan tangan kanan dari shahibul mal dalam kegiatan bisnis. Implikasinya, sebagai seorang wakil, tentu dia tidak menanggung apa pun dari modal ketika terjadi kerugian. Namun, menurut mayoritas fuqaha, seorang wakil tetap akan mendapat upah dari kerjanya.
  • 61.
    3. Mudharib sebagaimitra dalam laba.  Mudharib akan mendapatkan bagian laba dari usaha yang telah dia lakukan, sebab mudharabah sendiri adalah pertemanan dalam laba. Sementara seorang agen atau wakil tidak mendapatkan laba ketika terjadi keuntungan dalam usahanya, karena dia hanya teman dalam kaitannya dengan kontrak. Pembagian laba ini telah ditentukan pada awal kontrak. Dengan menjadikan mudharib sebagai mitra dalam laba, maka besar atau kecilnya laba akan sangat tergantung pada keterampilan mudharib dalam menjalankan usahanya.
  • 62.
     Demikian pendapat paraulama fikih tentang mudharabah. Pembahasan tentang mudharabah yang diulas dalam bagian ini tidak hanya memaparkan teori-teori fikih murni yang menjadi sumber utama, tetapi juga teori-teori fikih yang sudah dikombinasikan dengan pemikiran para praktisi Islamic Banking, sehingga yang tampak bukanlah analisis fikih secara keseluruhan, tetapi teori-teori yang bersifat parsial yang menjadi tumpuan bagi eksistensi Islamic Banking sekaligus menjadi landasan operasionalnya.
  • 63.
    e. Mudharabah dalamTeknis Perbankan 1. Pengertian (dalam Konteks Pembiayaan) a. Keuntungan usaha dibagi berdasarkan perbandingan nisbah yang telah disepakati dan pada akhir periode kerja sama nasabah harus mengembalikan semua modal usaha lembaga keuangan. b. Dalam hal terjadi kerugian, akan menjadi tanggungan lembaga keuangan, kecuali bila diakibatkan oleh kelalaian nasabah. Untuk menghindari kemungkinan terjadinya kerugian, lembaga keuangan harus memahami karakteristik risiko usaha tersebut dan kerja sama dengan nasabah untuk mengatasi berbagai masalah.
  • 64.
    2. Aplikasi (dalamKonteks Pembiayaan) a. Pembiayaan modal kerja; modal bagi perusahaan yang bergerak dalam bidang industri, perdagangan, dan jasa. b. Pembiayaan investasi; untuk pengadaan barangbarang modal, aktiva tetap, dan sebagainya. c. Pembiayaan investasi khusus; bank bertindak dan memosisikan diri sebagai arranger yang mempertemukan kepentingan pemilik dana, seperti yayasan dan lembaga keuangan nonbank, dengan pengusaha yang memerlukan.
  • 65.
    3. Praktik PembiayaanMudharabah   Penempatan dana dapat dilakukan dalam bentuk pembiayaan berakad jual beli maupun syirkah atau kerja sama bagi hasil. Jika pembiayaan berakad jual beli (bai’u bi tsaman ajil dan murabahah), maka bank akan mendapatkan margin keuntungan. Pembagiannya tidak begitu rumit. Namun, jika pembiayaan berkaitan dengan akad syirkah (musyarakah dan mudharabah), maka pembiayaan ini membutuhkan perhitungan-perhitungan yang cukup “njlimet”. Dalam pembiayaan mudharabah (bagi hasil), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh kedua belah pihak, yaitu: (1) nisbah bagi hasil yang disepakati; (2) tingkat keuntungan bisnis aktual yang didapat. Oleh karena itu, bank sebagai pihak yang memiliki dana akan melakukan perhitungan nisbah yang akan dijadikan kesepakatan pembagian pendapatan.
  • 66.
    f. Cara MenentukanNisbah Nisbah merupakan faktor penting dalam menentukan bagi hasil. Sebab, nisbah merupakan aspek yang disepakati bersama antara kedua belah pihak yang melakukan transaksi.  Untuk menentukan nisbah bagi hasil, perlu diperhatikan aspek-aspek: a. Data usaha, b. Kemampuan angsuran, c. Hasil usaha yang dijalankan atau tingkat return aktual bisnis, d. Tingkat return yang diharapkan, e. Nisbah pembiayaan, f. Distribusi pembagian hasil. 
  • 67.
     Penentuan nisbah bagihasil dibuat sesuai dengan jenis pembiayaan mudharabah yang dipilih. Ada dua jenis pembiayaan mudharabah, yaitu: (1) mudharabah muthlaqah dan (2) mudharabah muqayyadah.
  • 68.
    1.   Nisbah Bagi Hasil PembiayaanMudharabah Mutlaqah Nisbah Bagi Hasil Pembiayaan Mudharabah Muthlaqah Pembiayaan mudharabah muthlaqah adalah pembiayaan yang pemilik dana tidak meminta syarat, kecuali syarat baku, untuk berlakunya kontrak mudharabah. Untuk ini, nisbah dibuat berdasarkan metode expected profit rate (EPR). EPR diperoleh berdasarkan: (1) tingkat keuntungan rata-rata pada industri sejenis; (2) pertumbuhan ekonomi; (3) dihitung dari nilai required profit rate (RPR)[1] yang berlaku di bank yang bersangkutan.  [1]Nilai required profit rate diperoleh dengan rumus: rpr = n. v (n = tingkat keuntungan dalam transaksi tunai; v = jumlah transaksi dalam satu periode).
  • 69.
     Dengan demikian, nisbahbagi hasil dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: Expected Profit Rate (EPR) Nisbah Bank= ------------------------- x 100% Expected Return Bisnis yang dibiayai (ERB)   Nisbah Nasabah Aktual return bank bisnis = 100% - Nisbah Bank = nisbah bank + aktual return
  • 70.
    Contoh:  Diketahui dataekonomi sebagai berikut: tingkat return bisnis jual beli sepeda motor adalah sebesar 7%. Dari tingkat return bisnis tersebut, Islamic Banking menargetkan keuntungannya sebesar 3%. Dengan demikian, nisbah bank dan nisbah untuk nasabah dapat dicari dengan cara, sebagai berikut: 
  • 71.
    EPR Nisbah bank =------- x 100%, jadi ERB 3% Nisbah bank = -------- x 100% = 42,86% 7%    Nisbah nasabah = 100% - 42,86% = 57,14% Rasio (nisbah) bagi hasil antara bank dan nasabah adalah 42,86% : 57,14% Setelah perhitungan nisbah ditemukan, maka pihak bank akan melakukan tawar-menawar nisbah dengan nasabah pembiayaan. Jika nisbah tersebut disepakati, maka pembiayaan mudharabah yang akan dijalankan diikat dengan nisbah pembagian keuntungan bisnis aktual dengan porsi nisbah antara bank dan nasabah adalah 42,86% banding 57,14%.
  • 72.
    2. Nisbah BagiHasil Pembiayaan Mudharabah Muqayyadah  Suatu ketika Islamic business mendapatkan nasabah yang menghendaki pembiayaan mudharabah muqayyadah. Pada pembiayaan jenis ini, biasanya nasabah menuntut adanya nisbah yang sebanding dengan situasi bisnis tertentu. Dengan kata lain, pada kontrak pembiayaan mudharabah muqayyadah, pemilik dana menambah syarat di luar syarat kebiasaan kontrak mudharabah.
  • 73.
    a. b. c. d. e. f. Nisbah bagi hasilpada pembiayaan mudharabah muqayyadah dapat dihitung, seperti pada kasus berikut. Contoh: Seseorang atau lembaga keuangan memiliki modal sebesar Rp 125.000.000. Modal tersebut akan dibiayakan kepada nasabah penjual kacang kedelai. Data-data yang terkait dengan jual beli kacang kedelai adalah sebagai berikut: Harga jual kacang kedelai = Rp 2.150/kg Harga jual kepada nasabah = setara 16% p.a (return yang diminta oleh pemilik dana muqayyadah) Volume penjualan kedelai per bulan = 65.000 kg Nilai penjualan (65.000 x Rp 2.150) = Rp 139.750.000 Harga pokok pembelian = Rp 125.000.000 Laba bersih penjualan kedelai = Rp 14.750.000
  • 74.
    Berapa Nisbah BagiHasilnya? Perhitungan Nisbah:       Volume penjualan Profit margin (Rp 14.750.000/139.750.000)x 100% Lama piutang (data 31-07-2003) Lama persediaan (data 31-08-2003) Lama hutang dagang (pembayaran ke supplier dan carry) Cash to cash period = 360/(DI+DR-DP) = = = = = = 65.000 kg 10,55% 65 hari 2 hari 0 5,4
  • 75.
    Dengan demikian:    Profit marginper tahun = 5,4 x 10,55 Nisbah: (16%)/(57%)x100% Nisbah untuk nasabah: 100% - 28% = 57% = 28% = 72% Rasio (nisbah) bagi hasil antara bank dan nasabah adalah: bank = 28%, dan nasabah = 72%.
  • 76.
    3. Contoh PerhitunganBagi Hasil Dalam Pembiayaan Mudharabah  Seorang nasabah mengajukan pembiayaan untuk modal kerja dagang sebesar Rp 100.000.000 selama satu tahun. Jika situasi ekonomi mampu memberikan return bisnis aktual sebesar 8% dan return bisnis yang diharapkan Islamic business sebagai penyandang dana sebesar 3%. Setelah bisnis dijalankan, nasabah mampu mencetak keuntungan bisnisnya selama satu tahun sebagai berikut:
  • 77.
  • 78.
    Pertanyaan: 1. Berapa nisbahyang harus disepakati antara lembaga keuangan dengan nasabah? 2. Bagaimana distribusi bagi hasil pendapatan antara Islamic business dengan nasabah berdasarkan data tersebut di atas? 
  • 79.
    Penyelesaian Langkah-langkah untuk menyelesaikankasus di atas dapat dilakukan sebagai berikut: 1. Menentukan nisbah untuk kedua belah pihak yang melakukan kontrak pembiayaan, yaitu:  a. Nisbah Islamic business = 3,2%/8% x 100% = 40% b. Nisbah nasabah = 100% - 40% = 60% c. Rasio (nisbah) antara Islamic business dan nasabah adalah = 40% banding 60%. 2. Menghitung distribusi bagi hasil untuk bank dan nasabah sesuai dengan nisbah dan pendapatan aktual usaha, sebagai berikut:
  • 80.
    Tabel pembantu penyelesaian Bulan LabaUsaha Bagian lembaga keuangan 40% Bagian Nasabah 60% Cicilan Pokok Setoran 1 6.000.000 2.400.000 3.600.000 2.400.000 2 7.000.000 2.800.000 4.200.000 2.800.000 3 4.000.000 1.600.000 2.400.000 1.600.000 4 4.500.000 1.800.000 2.700.000 1.800.000 5 5.000.000 2.000.000 3.000.000 2.000.000 6 5.500.000 2.200.000 3.300.000 2.200.000 7 6.000.000 2.400.000 3.600.000 2.400.000 8 5.400.000 2.160.000 3.240.000 2.160.000 9 9.000.000 3.600.000 5.400.000 3.600.000 10 5.700.000 2.280.000 3,420.000 2.280.000 11 4.700.000 1.880.000 2.820.000 1.880.000 12 3.500.000 1.400.000 2.100.000 100.000.000 1.400.000 Total 66.300.000 26.520.000 39.780.000 100.000.000 126.520.000 % dari Hasil Usaha 0,40 0,60 % dari Modal 26,52 39.78
  • 81.
    Catatan: Jika dalam pembiayaanmudharabah ternyata mengalami kerugian, maka kedua belah pihak akan berbagai rugi. Pembagian rugi dilakukan setelah diketahui dari mana sumber kerugian tersebut timbul. 1. Jika kerugian diakibatkan risiko bisnis, maka kerugian atas modal ditanggung oleh pemilik modal, ementara nasabah menderita kerugian dalam hal tenaga, waktu, dan biaya. 2. Jika kerugian diakibatkan risiko karakter nasabah (moral hazard), maka nasabah menanggung kerugiannya. 
  • 82.
    g. Permasalahan-Permasalahan dalam PembiayaanMudharabah Menurut beberapa pengamatan Saeed (2003), hal ini terjadi karena beberapa alasan, di antaranya: 1. Standar Moral  Terdapat anggapan bahwa standar moral yang berkembang di kebanyakan komunitas muslim tidak memberi kebebasan penggunaan bagi hasil sebagai mekanisme investasi. Hal ini berdasarkan argumentasi yang mendorong bank untuk mengadakan pemantauan lebih intensif terhadap setiap investasi yang diberikan. Hal itu membuat operasional perbankan berjalan tidak ekonomis dan tidak efisien. Berdasarkan alasan ini, Islamic business menggunakan pembiayaan bagi hasil yang diberikan setelah melakukan pemantauan yang mendalam terhadap bisnis yang akan dijalankan. Dana hanya akan diberikan kepada rekanan (mitra) yang efisien dalam mengelola bisnis, jujur dalam melakukan transaksi, proyek usaha yang dijalankan profitable, serta pembiayaan usaha tersebut umumnya untuk jangka pendek. 
  • 83.
    2. Ketidakefektifan ModelPembiayaan Bagi Hasil  Pembiayaan bagi hasil (mudharabah) tidak menyediakan berbagai macam kebutuhan pembiayaan dari ekonomi kontemporer. Walaupun demikian, pembiayaan bagi hasil yang diterapkan dalam bentuk mudharabah maupun musyarakah merupakan alat yang terbaik untuk menghapus bunga dalam berbagai macam transaksi dan pembiayaan jangka pendek. Namun, kemungkinan untuk dilaksanakan ke dalam pembiayaan institusional menjadi terhambat. Berbagai masalah yang berkaitan dengan aplikasinya membuat prinsip mudharabah dan musyarakah pada tingkat pembiayaan institusional benarbenar tidak dapat diterapkan. Di antara alasannya adalah meningkatnya permintaan pinjaman pemerintah untuk anggaran belanjanya. Dengan demikian, permintaan pemakaian pembiayaan dengan sistem bagi hasil menjadi tidak terpenuhi.
  • 84.
    3. Berkaitan denganPara Pengusaha  Keterkaitan lembaga keuangan dengan pembiayaan, sistem bagi hasil untuk membantu perkembangan usaha lebih banyak melibatkan pengusaha secara langsung daripada sistem lainnya pada bank konvensional. Lembaga keuangan memerlukan informasi yang lebih rinci tentang aktivitas bisnis yang dibiayai dan besar kemungkinan pihak lembaga keuangan turut memengaruhi setiap pengambilan keputusan bisnis mitranya. Pada sisi lain, keterlibatan yang tinggi ini akan mengecilkan naluri pengusaha yang sebenarnya lebih menuntut kebebasan yang luas daripada campur tangan dalam penggunaan dana yang dipinjamkan.
  • 85.
    4. Dari SegiBiaya  Pemberian pinjaman berdasarkan sistem bagi hasil memerlukan kewaspadaan yang lebih tinggi dari pihak lembaga keuangan. Lembaga keuangan kemungkinan besar meningkatkan kualitas pegawainya dengan cara mempekerjakan para teknisi dan ahli manajemen untuk mengevaluasi proyek usaha yang dipinjami untuk mencermati lebih teliti dan lebih jeli daripada teknis peminjaman pada bank konvensional. Hal ini akan meningkatkan biaya yang dikeluarkan oleh para pebisnis dalam menjaga efisiensi kinerja banknya yang secara langsung akan berimbas terhadap pengembalian dana pinjaman. Otomatis ini akan menimbulkan beban yang lebih besar terhadap pemakai dana. Tambahan biaya yang dikeluarkan oleh para pebisnis yang digunakan untuk menjaga efektivitas operasional perbankan syariah kemungkinan akan menghasilkan biaya ekstra yang ditanggung oleh mitra ketika mengembalikan dana pinjaman bagi hasil.
  • 86.
    5. Segi Teknis  Problemteknis menyangkut penggunaan sistem bagi hasil tampaknya berkaitan dengan pihak lembaga keuangan, nasabah, perhitungan keuntungan. Pada satu sisi dari bank sendiri, profesionalitas pegawai pada saat ini kurang memadai dari segi keahlian dan pengetahuan dalam menjalankan mekanisme bagi hasil. Di sisi lain, dengan menggunakan sistem bagi hasil, lembaga keuangan membutuhkan pengetahuan yang luas mengenai perilaku aktivitas ekonomi yang berguna untuk memprediksi keuntungan yang akan diperoleh pada tiap-tiap jaringan serta mengetahui secara menyeluruh tentang keadaan keuangan investor dan komitmennya dalam menjalankan proyek usaha.  Dari sisi nasabah, buta huruf masih menyelimuti masyarakat dunia muslim. Hal itu akan menyulitkan dalam pembuatan catatan akuntansi secara rinci. Padahal, ini sangat penting untuk transaksi bagi hasil. Perhitungan keuntungan dalam sistem bagi hasil juga mengalami kesulitan untuk diterapkan, karena perhitungan keuntungan sistem bagi hasil harus mengikuti apa yang terjadi secara aktual dalam bisnis.
  • 87.
    6. Kurang MenariknyaSistem Bagi Hasil dalam Aktivitas Bisnis  Dalam dunia bisnis dan industri, biaya yang dikeluarkan dari dana-dana yang diperoleh berdasarkan sistem bagi hasil tidak diketahui secara jelas dan pasti. Hal ini akan menimbulkan terbongkarnya rahasia keuangan pengusaha oleh pihak lembaga keuangan dan juga intervensi bank terhadap urusan manajemen pengusaha. Keadaan ini sangat berbeda dengan sistem pembiayaan dengan berdasarkan bunga, di mana modalnya aman terjaga, pendapatan yang diperoleh secara pasti, dan biaya pinjaman diketahui dengan jelas.
  • 88.
    7. Permasalahan Efisiensi  Tingkatinvestasi bagi hasil mungkin lebih tinggi dibandingkan dengan sistem lain, karena dalam sistem bagi hasil diberikan penawaran yang sesuai terhadap dana-dana yang dapat dipinjamkan. Oleh karena itu, pengusaha dapat mengabaikan kepastian bagian hasil usaha yang diberikan kepada pemberi pinjaman yang disebabkan ketidaktentuan hasil produksinya, serta tidak adanya kekhawatiran terjadinya penyelewengan dana pinjaman terhadap investasi riil. Kesanggupan para pemberi pinjaman untuk turut menanggung risiko kemungkinan akan mendorong investasi lebih berisiko. Meskipun, kesanggupan ini juga akan mengurangi penekanan biaya-biaya yang berguna untuk efisiensi kelangsungan bisnis yang pada tingkat kepentingan tertentu cukup mengesankan.
  • 89.
    3. Sistem PerhitunganBagi Hasil   Dari sudut pandang nasabah sebagai investor: a. Mudharabah muqayyadah off balance sheet. b. Mudharabah muqayyadah on balance sheet. c. Mudharabah muthlaqah. Dari sudut pandang bank: a. Perhitungan saldo akhir bulan. b. Perhitungan saldo rata-rata harian.
  • 90.
    Skema-Skema Mudharabah Skema MudharabahMuqayyadah Off Balance Sheet Satu pelaksana usaha Satu nasabah investor Bank Syariah Skema Mudharabah Muqayyadah Off Balance Sheet Berdasarkan sektor Pertanian Satu nasabah investor Bank Syariah Manufaktur Jasa Skema Mudharabah Muqayyadah Off Balance Sheet Berdasarkan sektor Penjualan Cicilan Satu nasabah investor Bank Syariah Penyewaan Cicilan Kerjasama Usaha
  • 91.
    Skema-Skema Mudharabah Skema MudharabahMuqayyadah On Balance Sheet Penjualan 1 Pertanian Penjualan 2 Penjualan n Nasabah 1 Nasabah 2 Nasabah 3 Nasabah n Penyewaan 1 Bank Syariah Sewa Penyewaan 2 Penyewaan n Kerjasama 1 Kerjasama Usaha Kerjasama 2 Kerjasama n
  • 92.
    a. Teknik PerhitunganBagi Hasil   Kasus: Bapak Ahmad membuka deposito sebesar Rp 10.000.000 jangka waktu satu bulan (tanggal 1 Mei sampai dengan 1 Juni 2008). Nisbah bagi hasil antara nasabah dan bank 57:43. Jika keuntungan bank yang diperoleh untuk deposito satu bulan per 31 Mei 2007 adalah Rp 20.000.000 dan rata-rata deposito jangka waktu satu bulan adalah Rp 950.000.000, berapa keuntungan yang diperoleh Bapak Ahmad? Jawab: Bagi hasil yang diperoleh bapak Ahmad adalah: (Rp 10 juta/Rp 950 juta) x Rp 20 juta x 57% = Rp120.000
  • 93.
    b. Faktor PenentuBagi Hasil dan Bunga 1. Bagi hasil ditentukan oleh:  Pendapatan bank.  Nisbah bagi hasil antara nasabah dan bank.  Nominal deposito nasabah.  Rata-rata deposito untuk jangka waktu yang sama pada bank. 2. Bunga ditentukan oleh:  Tingkat bunga yang berlaku.  Nominal deposito nasabah.  Jangka waktu deposito.
  • 94.
    c. Penentuan NisbahPembiayaan Nisbah bagi hasil dihitung berdasarkan profit sharing dari usaha pengadaan kacang kedelai yang dibiayai dengan fasilitas mudharabah muqayyadah, dengan data sebagai berikut:       Harga jual kacang kedelai Harga jual kepada nasabah Volume penjualan kedelai per bulan Nilai penjualan (65.000 x Rp 2.150) Harga pokok pembelian Laba bersih penjualan kedelai = = = = = = Rp 2.150/kg setara 16% p.a 65.000 kg Rp 139.750.000 Rp 125.000.000 Rp 14.750.000
  • 95.
    Berapa nisbah bagihasilnya? Penghitungan Nisbah:          Volume penjualan Profit margin (Rp 14.750.000/139.750.000)x100% Lama piutang (data neraca 31-07-2008) Lama persediaan (data neraca 31-08-2008) Lama hutang dagang (pembayaran ke supplier dan carry) = = = = = 65.000 kg 10.55% 65 hari 2 hari 0 Cash to cash period = 360/(DI+DR-DP) Profit margin per tahun = 5,4 x 10,55 Nisbah Islamic Banking: (16%)/(57%)x100% Nisbah untuk nasabah: 100%-28% = = = = 5,4 57% 28% 72%
  • 96.
    d. Metode PenentuanReturn Pembiayaan Mark-up Pricing  Target-Return Pricing  Perceived-Value Pricing  Value Pricing 
  • 97.
    1. Mark-up Pricing Penentuantingkat harga dengan memarkup biaya produksi komoditas yang bersangkutan. Contoh: sebuah perusahaan tusuk gigi dalam menentukan tingkat harga dan biaya produksinya: a. Variabel cost per unit Rp 5 b. Fixed Cost Rp 200.000 c. Expected unit sales Rp 50.000
  • 98.
    Biaya produksi perusahaantusuk gigi setiap unit adalah sebagai berikut: H r ga i d a a aY awt gn r Diasumsikan, perusahan menetapkan keuntungan sebesar 20% dari penjualan, maka mark-up price untuk setiap unit:
  • 99.
    2). Target –ReturnPricing  Penentuan dengan tujuan pencapaian tingkat return on investment (ROI).  Contoh: perusahaan tusuk gigi pada contoh di atas melakukan investasi sebesar Rp 562.500 di suatu bisnis yang menghasilkan tingkat pendapatan sebesar 20% ROI atau Rp 200.000. Maka target return price dapat dihitung dengan formula sebagai berikut:
  • 100.
    2). Target –ReturnPricing H ga ar ti d nY a g a kaw ar n
  • 101.
    3. Perceived-Value Pricing   Penentuanharga dengan tidak menggunakan variable harga sebagai dasar harga jual. Harga jual didasarkan pada harga competitor di mana perusahaan melakukan penambahan atau perbaikan unit untuk meningkatkan kepuasan pembeli. Contoh: seseorang lebih suka menabung di Islamic Banking Berkah daripada di Islamic Banking Permai walaupun tingkat bagi hasil di Islamic Banking Permai lebih tinggi dibanding Islamic Banking Berkah. Nasabah merasa puas karena di Bank Syariah Berkah pelayanannya lebih baik.
  • 102.
    4. Value Pricing  Merupakankebijakan harga yang kompetitif atas barang yang berkualitas tinggi. Barang yang baik pasti harganya mahal (ono rego ono rupo)  Namun, perusahaan yang sukses adalah perusahaan yang mampu menghasilkan barang yang berkualitas dengan biaya yang efisien, sehingga perusahaan tersebut dapat dengan leluasa menentukan tingkat harga di bawah harga kompetitor.
  • 103.
    e. Penentuan Hargadalam Pembiayaan Syariah  Penentuan harga dalam pembiayaan di Islamic Banking dapat dengan menggunakan salah satu di antara empat model di atas.  Namun, yang lazim digunakan oleh Islamic Banking saat ini adalah dengan menggunakan metode going rate pricing, yaitu dengan menggunakan tingkat suku bunga pasar sebagai rujukan (benchmark). Mengapa diterapkan? Karena, Islamic Banking berkompetisi dengan bank konvensional. Di samping itu, Islamic Banking juga berkeinginan untuk mendapatkan customer yang bersifat floating customer.
  • 104.
    1) Penerapan Mark-up Pricingdalam Pembiayaan Syariah  Mark-up Pricing hanya tepat digunakan untuk pembiayaan yang sumber dananya dari restricted invesment account (RIA) atau mudharabah muqayyadah. Polanya dapat dilakukan dengan:      Historical average cost (on balance sheet). Marginal cost of fund (off balance sheet). Pooled marginal cost of fund (on balance sheet). Weighted average propjected cost (on balance sheet).
  • 105.
    2) Penerapan Target-ReturnPricing dalam pembiayaan Syariah   Islamic Banking beroperasi dengan tidak menggunakan bunga. Di dalamnya juga diklasifikasikan akad yang menghasilkan keuntungan secara pasti, disebut natural certainty contract, dan akad yang menghasilkan keuntungan yang tidak pasti, disebut natural uncertainty contract. Jika pembiayaan dilakukan dengan akad natural certainty contract, maka metode yang digunakan adalah required profit rate (rpr).  Rpr = n v (n = tingkat keuntungan dalam transaksi tunai; v = jumlah transaksi dalam satu periode).
  • 106.
      Jika pembiayaan dilakukandengan akad natural uncertainty contract, maka metode yang digunakan adalah expected profit rate (epr). Epr diperoleh berdasarkan: (1) tingkat keuntungan rata-rata pada usaha sejenis; (2) pertumbuhan ekonomi; dan (3) dihitung dari nilai rpr yang berlaku di bank yang bersangkutan. Penghitungannya:   Nisbah bank = epr/expected return bisnis yang dibiayai*100% Aktual return bank = nisbah bank +actual return bisnis.
  • 107.
    D. Sistem PembiayaanJual Beli (Sale & Purchase) dan Sewa    Pembiayaan yang diberikan kepada nasabah tidak hanya diselesaikan dengan cara mudharabah dan musyarakah (bagi hasil). Namun, Islamic Banking dapat juga menjalankan pembiayaan dengan akad jual beli dan sewa. Pada akad jual beli dan sewa, Islamic Banking akan memeroleh pendapatan secara pasti. Hal ini sesuai dengan konsep dasar teori pertukaran. Teori pertukaran, sering disebut sebagai natural certainty contracts, adalah kontrak dalam bisnis yang memberikan kepastian pembayaran, baik dari segi jumlah maupun waktu. Dalam bentuk ini: (1) Cash flow-nya pasti atau sudah disepakati pada awal kontrak; (2) Objek pertukarannya juga pasti secara jumlah, mutu, waktu, maupun harga. Kontrak bisnis yang masuk dalam kategori ini, adalah kontrak bisnis tijarah dan ijarah. Oleh karena itu, ketentuan yang berlaku dalam kontrak jual beli (bai’u) berlaku juga dalam kontrak sewa (ijarah). Demikian mayoritas ulama mengatakan, “Syarat-syarat yang berlaku bagi harga jual berlaku juga bagi harga sewa.” (Al-Dardir, 4: 59; al-Ramli, 5:322; Ibnu Qudamah).
  • 108.
    1. Murabahah a. Pengertiandan Hukum Murabahah  Murabahah adalah akad jual beli atas suatu barang, dengan harga yang disepakati antara penjual dan pembeli, setelah sebelumnya penjual menyebutkan dengan sebenarnya harga perolehan atas barang tersebut dan besarnya keuntungan yang diperolehnya.  Al-Qur’an tidak pernah secara langsung membicarakan murabahah meski di sana ada sejumlah acuan tentang jual beli, laba, rugi, dan perdagangan. Demikian pula, tampaknya tidak ada hadis yang memiliki rujukan langsung kepada murabahah.  Para ulama generasi awal, semisal Malik dan Syafi’i yang secara khusus mengatakan bahwa jual beli murabahah adalah halal, tidak memperkuat pendapat mereka dengan satu hadis pun. Al-Kaff (tt), seorang kritikus murabahah kontemporer, menyimpulkan bahwa murabahah adalah “salah satu jenis jual beli yang tidak dikenal pada zaman Nabi atau para sahabatnya.”
  • 109.
    b. Landasan HukumMurabahah a. Al-Qur’an Surah Al-Baqarah [2]: 275 Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghunipenghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
  • 110.
      Al- Qur’an SurahAl-Nisaa’ [4]: 29 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu [larangan membunuh diri sendiri mencakup juga larangan membunuh orang lain, sebab membunuh orang lain berarti membunuh diri sendiri, karena umat merupakan suatu kesatuan]; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
  • 111.
     Hadis riwayat Tirmidzi “Pedagangyang jujur dan terpercaya, maka dia bersama nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada.”
  • 112.
    c. Syarat danRukun Murabahah 1) Rukun Murabahah  Ba’iu (penjual).  Musytari (pembeli).  Mabi’ (barang yang diperjualbelikan).  Tsaman (harga barang).  Ijab qabul (pernyataan serah terima).
  • 113.
    2) Syarat Murabahah     Syaratyang berakad (ba’iu dan musytari) cakap hukum dan tidak dalam keadaan terpaksa. Barang yang diperjualbelikan (mabi’) tidak termasuk barang yang haram dan jenis maupun jumlahnya jelas. Harga barang (tsaman) harus dinyatakan secara transparan (harga pokok dan komponen keuntungan) dan cara pembayarannya disebutkan dengan jelas. Pernyataan serah terima (ijab qabul) harus jelas dengan menyebutkan secara spesifik pihak-pihak yang berakad.
  • 114.
    Skema Murabahah: (1) Negosiasi (1) (2) (2) Akad Murabahah BayarKewajiban (4) Penjual Kirim barang & dokumen (3) Pembeli Terima barang & dokumen Barang (3a)
  • 115.
    d. Murabahah dalamTeknis Perbankan 1) Pengertian  Murabahah adalah akad jual-beli antara lembaga keuangan dan nasabah atas suatu jenis barang tertentu dengan harga yang disepakati bersama. Lembaga keuangan akan mengadakan barang yang dibutuhkan dan menjualnya kepada nasabah dengan harga setelah ditambah keuntungan yang disepakati.  Guna memastikan keseriusannya untuk membeli, bank dapat mensyaratkan nasabah agar terlebih dahulu membayar uang muka.  Nasabah membayar kepada bank atas harga barang tersebut (setelah dikurangi uang muka) secara angsuran selama jangka waktu yang disepakati, dengan memerhatikan kemampuan mengangsur ataupun arus kas usahanya. Pembayaran secara angsuran ini dikenal dengan istilah bai’u bitsaman ajil (BBA).  Baik harga jual maupun besar angsuran yang telah disepakati tidak berubah hingga akad pembiayaan berakhir.  Tidak ada denda atas keterlambatan pembayaran angsuran (penalty overdue).
  • 116.
    Skema Murabahah: ContohAplikasi Perbankan Negosiasi (1) (1) (2) (2) Akad Murabahah Bayar uang muka Rp 120 Juta (3) Bayar Angsuran (6) Serahkan surat –surat ruko (7) CV Bina Amanah Bank Syariah “Q” Beli ruko Rp 400 Juta Jual ruko Rp 420 Juta (4) (5) Ruko
  • 117.
    2) Praktik Murabahahdalam Islamic Banking  Umumnya murabahah diadopsi untuk memberikan pembiayaan jangka pendek kepada para nasabah guna pembelian barang meskipun mungkin si nasabah tidak memiliki uang untuk membayar. Murabahah, sebagaimana yang digunakan dalam perbankan syariah, prinsipnya didasarkan pada dua elemen pokok: harga beli serta biaya yang terkait, dan kesepakatan atas mark-up (laba). Ciri dasar kontrak murabahah (sebagai jual beli dengan pembayaran tunda) adalah: (i) pembeli harus memiliki pengetahuan tentang biaya-biaya terkait dan harga asli barang; batas laba (mark-up) harus ditetapkan dalam bentuk persentase dari total harga plus biaya-biayanya; (ii) apa yang dijual adalah barang atau komoditas, dan dibayar dengan uang; (iii) apa yang diperjualbelikan harus ada dan dimiliki oleh penjual, dan penjual harus mampu menyerahkan barang itu kepada pembeli; dan (iv) pembayarannya ditangguhkan. Murabahah seperti yang dipahami di sini, digunakan dalam setiap pembiayaan di mana ada barang yang bisa diidentifikasi untuk dijual.
  • 118.
      Pada umumnya murabahahtelah digunakan sebagai metode pembiayaan yang utama, meliputi kira-kira tujuh puluh lima persen dari total kekayaan. Angka persentase ini kira-kira cocok dengan banyak Islamic Banking. Begitu pula dengan sistem perbankan, baik di Pakistan maupun di Iran. Semenjak awal 1984, di Pakistan, pembiayaan jenis murabahah mencapai sekitar delapan puluh tujuh persen dari total pembiayaan dalam investasi deposito PLS. Dalam kasus Dubai Islamic Bank, Islamic Banking terawal di sektor swasta, pembiayaan murabahah mencapai delapan puluh dua persen dari total pembiayaan selama tahun 1989 (IDB, 1989). Bahkan, bagi Islamic Development Bank (IDB), selama lebih dari sepuluh tahun periode pembiayaan, tujuh puluh tiga persen dari seluruh pembiayaannya adalah murabahah, yaitu dalam pembiayaan dagang luar negeri (IDB, 1989). Sejumlah alasan diajukan untuk menjelaskan popularitas murabahah dalam operasi investasi perbankan Islam: (i) murabahah adalah suatu mekanisme investasi jangka pendek dan, dibandingkan dengan sistem profit and loss sharing (PLS), cukup memudahkan; (ii) mark-up dalam murabahah dapat ditetapkan sedemikian rupa sehingga memastikan bahwa bank dapat memeroleh keuntungan yang sebanding dengan keuntungan bank-bank berbasis bunga yang menjadi saingan Islamic Banking; (iii) murabahah menjauhkan ketidakpastian yang ada pada pendapatan dari bisnis-bisnis dengan sistem PLS (Ahmad, 1998); dan (iv) murabahah tidak memungkinkan Islamic Banking untuk mencampuri manajemen bisnis, karena bank bukanlah mitra nasabah, sebab hubungan mereka dalam murabahah adalah hubungan antara kreditur dan debitur.
  • 119.
    e. Perbandingan antaraPembiayaan Berbasis Murabahah dan Bunga Tetap  Tujuan perbandingan ringkas di sini adalah untuk melihat apakah ada perbedaan yang signifikan antara pembiayaan dengan murabahah dengan pembiayaan lewat bunga tetap untuk tujuan-tujuan yang sama. Perbandingan difokuskan pada aspek-aspek berikut: harga pembiayaan, risiko dalam pembiayaan murabahah, keamanan, hubungan antara bank dan pembeli, dan penyelesaian utang. 1. Biaya untuk Pembiayaan 2. Murabahah:Bebas Risiko atau Berbagi Risiko a. Risiko yang terkait dengan barang b. Risiko yang terkait dengan Nasabah c. Risiko yang terkait dengan pembayaran
  • 120.
    3) Jaminan untukPembiayaan Murabahah    Meminta jaminan atas uang pada dasarnya bukanlah sesuatu yang tercela, demikian menurut Al-Qur’an dan Sunnah. Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk menulis tagihan utang mereka, dan jika perlu, meminta jaminan atas utang itu. Dalam sejumlah kesempatan, Nabi memberikan jaminannya kepada krediturnya atas utang beliau. Jaminan adalah satu cara untuk memastikan bahwa hak-hak kreditur tidak akan dihilangkan, dan untuk menghindarkan diri dari “memakan harta orang dengan cara batil”. Namun demikian, karena meminta jaminan dipandang oleh para pendukung perbankan Islam sebagai suatu penghambat dalam aliran dana bank untuk para pengusaha kecil, Islamic Banking cenderung mengkritik bank-bank konvensional sebagai terlalu ‘berorientasi jaminan’ (security oriented). Dalam kalimat International Islamic Bank for Investment and Development (IIBID), “Jaminan-jaminan adalah ‘unsur terpenting’ dalam keputusan memberikan pinjaman oleh bank konvensional.” Secara tidak langsung ini menyatakan bahwa bagi Islamic Banking jaminan bukan soal penting dalam keputusan pembiayaan.
  • 121.
    Peran Jaminan padaBank Konvensional  Dalam konteks pemberian pinjaman bank konvensional, jaminan memainkan peran penting untuk memastikan pengembalian pinjaman ketika jatuh tempo. Namun, jaminan bukanlah faktor terpenting untuk menentukan apakah uang muka perlu dikenakan atau tidak terhadap nasabah. Pitcher, seorang bankir konvensional, mengatakan, “Kebanyakan kami, selama dalam pelatihan, belajar bahwa [jaminan] adalah salah satu aspek yang kurang penting dalam usulan pinjaman, tetapi bagi kebanyakan nasabah kami, jaminan sering tampak menjadi faktor utama di depan benak kami ketika kami melihat permintaan mereka dan menjadi prasyarat bagi setiap pembahasan yang berarti. Saya dapat mengingat dengan baik seorang manajer tua memberitahuku segera setelah saya bergabung dengan bank, ‘Jangan biarkan jaminan memengaruhi keputusan peminjaman. Saya tidak pernah meminjamkan uang dengan jaminan yang saya juga tidak meminjamkannya bila tidak ada jaminan” …. Memberikan pinjaman dengan jaminan material ada tempatnya, tetapi memberikan pinjaman karena jaminan saja pasti secara tidak adil akan membatasi kucuran dana bank bagi usaha-usaha yang terkontrol dengan baik yang dapat meminjam uang dengan sukses kalau saja mereka memiliki harta yang diperlukan untuk menopang janjinya sebagai jaminan.” (Pitcher, 1990: 11).
  • 122.
    Jaminan Pihak ke-3dalam Pembiayaan Murabahah    Kontrak-kontrak murabahah Islamic Banking dan cabang-cabang syariah bank konvensional berisi klausul-klausul yang menekankan pentingnya jaminan. Dalam kontrak Faisal Islamic Bank of Egypt (FIBE), Jordan Islamic Bank (JIB), International Islamic Bank of Investment and Development (IIBID), Egyptian Gulf Bank (EGB), Bank of Credit and Commerce (BCCI), dan Banque Misr, misalnya, garansi dan jaminan dimintakan dari nasabah. Jaminan-jaminan itu dapat berupa benda bergerak, maupun tidak bergerak, barangbarang murabahah sendiri bilamana dipandang pantas untuk dijadikan jaminan, garansi pihak ketiga, pembayaran uang muka, dan surat-surat komersial. Menurut kontrak, bank memilih hak untuk meminta jaminan tambahan kepada nasabah yang jaminan itu dapat diterima oleh bank dalam hal bank berpikir bahwa jaminan yang telah diberikan sebelumnya tidak mencukupi. Jika diminta, maka nasabah harus memberikan jaminan itu tanpa bantahan atau penundaan. Umumnya, jaminan pihak ketiga adalah mutlak. Kontrak murabahah, misalnya, mengatakan, Pihak ketiga memberikan jaminan mutlak atas tanggung jawab dan kewajiban nasabah yang timbul akibat kontrak ini. Pihak ketiga setuju bahwa jaminannya adalah suatu jaminan tambahan. Jaminan ini tidak dapat memengaruhi atau dipengaruhi oleh jaminan yang lain yang mungkin telah diberikan sebelumnya oleh nasabah, atau jaminan yang mungkin diperoleh bank darinya dimasa yang akan datang. Pihak ketiga menganggap dirinya terikat oleh jaminan ini sebagai suatu asuransi yang berlangsung terus.
  • 123.
      Hak-hak bank sangatterlindungi di dalam kontrak. Semua barang bergerak dan tidak bergerak milik nasabah dan penjaminnya dapat digunakan untuk memenuhi kewajiban yang timbul akibat kontrak murabahah. Menurut kontrak murabahah Jordan Islamic Bank (JIB), “Nasabah dan penjamin setuju bahwa bank memiliki hak untuk menerapkan segala hukuman dan keputusan yang dikeluarkan terhadap mereka, secara bersama-sama, pribadi-pribadi, maupun terhadap semua harta mereka atau harta salah seorang dari mereka, baik harta bergerak maupun tidak bergerak.” Di samping semua itu, nasabah harus, saat memohon dana, menaruh cek pada bank untuk tiap-tiap angsuran yang diberi tanggal sesuai dengan jatuh temponya. Bank memiliki hak untuk mencairkan cek guna penagihan pada tanggal jatuh tempo jika nasabah tidak membayar angsurannya saat jatuh tempo. Semua ini tentu menjamin, hampir pasti, pelunasan hutang murabahah. Sikap bank yang semacam ini terhadap jaminan tidak membenarkan kritik mereka terhadap kebijakan bank konvensional mengenai jaminan. Sebenarnya dapat dikatakan bahwa jika demikian adanya perhatian Islamic Banking terhadap jaminan, maka praktik mereka jelas tidak lebih baik daripada praktik jaminan bank konvensional.
  • 124.
    BAB 4 LANJUTAN Islamic FinancialManagement by Prof. Veitsal
  • 125.
    4) Hubungan antaraBank dan Nasabah Murabahah   Teori perbankan Islam mengatakan bahwa ciri utama dalam hubungan antara bank dengan nasabah adalah ‘kemitraan’. Ciri ini, katanya, menghapuskan sifat debitur-kreditur dalam hubungan bank-nasabah dalam bank-bank konvensional. Bagaimanapun, sulit untuk membenarkan sikap teoretis ini mengingat pentingnya murabahah dalam operasi perbankan Islam, yang jumlahnya mencapai lebih dari tujuh puluh lima persen dari operasi investasi Islamic Banking itu pada umumnya. Dalam murabahah, kontrak jual beli membawa suatu hubungan debiturkreditur antara nasabah dan bank. Si pembeli setuju untuk membayar harga barang plus mark-up secara angsuran, jumlah dan tanggal jatuhtempo angsuran yang ditentukan di dalam kontrak. Begitu bank dan nasabah memasuki kontrak jual beli ini, harga jual menjadi tanggungan hutang nasabah kepada bank. Jadi, hubungan antara nasabah dan bank menjadi debitur-kreditur. Ini juga merupakan hubungan yang dominan, meski tidak berarti satu-satunya, antara bank tradisional dan para konsumennya.
  • 126.
    5) Penyelesaian HutangMurabahah   Pembiayaan untuk suatu kongsi berdasarkan murabahah yang harus dilunasi pada jangka waktu tertentu tidak jauh berbeda dengan pembiayaan kongsi berdasarkan suku bunga tetap. Dalam kedua kasus tersebut, pembiayaan adalah hutang. Biaya pembiayaan, apakah itu disebut bunga atau laba, dan jangka waktu pembayaran ditetapkan. Perbedaan paling penting adalah dalam hal debitur gagal melunasi hutang pada waktu yang telah ditentukan. Pinjaman dengan bunga pada umumnya menimbulkan sanksi bunga tambahan jika pinjaman tidak dilunasi pada saat jatuh tempo, entah si debitur mampu membayar atau tidak. Dalam Islamic Banking, debitur harus diberi waktu toleransi untuk melunasi jika ia tidak mampu, sesuai dengan perintah Al-Qur’an bahwa “jika debitur memunyai kesulitan, maka berilah penundaan sampai ia memeroleh kemudahan”.
  • 127.
      Meskipun hutang dalamjual beli murabahah adalah tetap, dalam arti bahwa jumlah hutang tidak dapat berubah setelah kontrak ditandatangani oleh bank dan pembeli, bank dapat melindungi investasinya jika pembeli tidak membayar tepat waktu. Mengomentari pengalaman Pakistan dalam pembiayaan dagang terkait, tim Ingram dari Grind Lays Bank (Pakistan) mengatakan, “Sistem yang telah diadopsi di Pakistan dalam jenis-jenis pembiayaan mark-up ini, jika diletakkan dalam klausul-klausul yang terkait dengan bunga (interest-bearing terms), yakni bahwa dalam dokumen, kami membebankan apa yang senilai dengan kira-kira bunga tambahan tujuh bulan ke dalam nilai mark-up. Dengan kata lain, kami dapat membeli barang dari pelanggan senilai Rp100; ia segera menandatangani kontrak untuk membelinya lagi dari kami seharga Rp120, yang harus dibayar selama enam bulan berikut. Sekarang, berdasarkan interest-bearing yang berlaku di Barat, jumlah itu bisa mencapai 40 persen per tahun, yang jumlah ini lebih banyak daripada yang diinginkan bank sebenarnya. Jadi, apa yang kami miliki adalah dokumentasi alternatif, suatu pembayaran potongan harga (rebate) yang cepat, yang diterima oleh pelanggan.” Semua itu menunjukkan bahwa sampai dalam penyelesaian hutang pun, Islamic Banking telah menggunakan cara-cara untuk menjamin agar hutang dilunasi tepat waktu. Jika tidak, ‘kerugian’ yang diderita bank ditanggung oleh nasabah.
  • 128.
    f. Persoalan Hargadalam Murabahah 1) Bolehkah Harga Jual yang Lebih Tinggi dalam Murabahah?  Murabahah sebagai suatu mekanisme jual beli dengan pembayaran tunda, dapat terjadi baik (i) pada harga tunai, dengan menghindari segala bentuk mark-up pengganti waktu yang ditundakan untuk pembayaran, atau (ii) pada harga tunai plus mark-up untuk pengganti waktu penundaan pembayaran (IAIB, 1999). Fokus kajian berikut adalah pada jenis kedua dari jual beli dengan pembayaran tunda.
  • 129.
      Para fuqaha tidakmempersoalkan keabsahan jual beli dengan pembayaran tunda jenis yang pertama, yaitu pembayaran tunda pada harga tunai. Perbedaan pendapat di kalangan ulama terjadi pada harga cicilan yang lebih tinggi (sebagai lawan dari harga tunai) dalam jual beli dengan pembayaran tunda (Mishri, tt). Para tokoh fuqaha awal, seperti Malik dan Syafi’I, tidak menyetujui harga jual yang lebih tinggi untuk jual beli dengan pembayaran tunda dan harga yang lebih rendah untuk pembayaran tunai. Baik dalam Muwaththa’ Malik maupun dalam pembahasan Syafi’i tentang jual beli dengan pembayaran tunda di Kitab al-Umm, penulis tidak menemukan satu pendapat pun dari para fuqaha ini yang membolehkan jual beli suatu barang berdasarkan murabahah dengan harga jual yang lebih tinggi daripada harga kontannya (Syafi’i, tt). Argumen-argumen di atas selalu diajukan untuk membenarkan kenaikan pada jual beli dengan pembayaran tunda yang secara jelas terkait dengan jangka waktu utang. Islamic Bankings sudah barang tentu menerima keabsahan kenaikan harga tersebut, dan ini telah menjadi praktik baku untuk mengenakan harga yang lebih tinggi dalam jual beli dengan pembayaran tunda selama transaksinya secara eksplisit tidak mengandung tukar-menukar uang dengan uang.
  • 130.
    2) Kenaikan padaHarga dalam Murabahah  Banyak tokoh fuqaha awal rupanya tidak mengakui bahwa kenaikan dalam suatu utang-piutang atau harga jual dapat dibenarkan berdasarkan waktu, karena waktu sendiri bukanlah uang atau objek material yang dapat menjadi nilai imbangan dalam suatu utang. Faqih mazhab Hanafi, Jashshash, menyatakan percepatan pembayaran utang dengan syarat bahwa kreditur mengurangi jumlahnya adalah riba (Jashshash, Ahkam Al-Qur’an, I, h. 467). Ia mendasarkan pandangannya pada suatu riwayat dari Zaid bin Tsabit (w. 45/665), Abdullah bin Umar (w. 73/693), Sa’id bin Jubair (w. 95/714) dan as-Sya’bi (w. 103/722). Para ulama generasi awal itu menyamakan antara pengurangan jumlah yang disebabkan oleh waktu dalam utang-piutang dengan riba. Zaid bin Tsabit menilai bahwa keuntungan dari pengurangan semacam itu tidak boleh digunakan oleh si penerima, juga tidak boleh diberikan kepada orang lain (Malik bin Anas, Muwaththa, h. 271).
  • 131.
    3) Batas MaksimalPenentuan Keuntungan Tidak ada dalil dalam syariah yang berkaitan dengan penentuan keuntungan usaha, sehingga bila melebihi jumlah tersebut dianggap haram. Hal demikian telah menjadi kaidah umum untuk seluruh jenis barang dagangan di setiap zaman dan tempat. Ketentuan tersebut, karena ada beberapa hikmah, di antaranya: a) Perbedaan harga terkadang cepat berputar dan terkadang lambat. Menurut kebiasaan, kalau perputarannya cepat, maka keuntungannya lebih sedikit. Sementara, bila perputarannya lambat, keuntungannya banyak. b) Perbedaan penjualan kontan dengan penjualan pembayaran tunda (cicilan). Pada asalnya, keuntungan pada penjualan kontan lebih kecil dibandingkan keuntungan pada penjualan cicilan. c) Perbedaan komoditas yang dijual, antara komoditas primer dan sekunder yang keuntungannya lebih sedikit karena memerhatikan kaum papa dan orang-orang yang membutuhkan, dengan komoditas luks, yang keuntungannya dilebihkan menurut kebiasaan karena kurang dibutuhkan. 
  • 132.
     Sebagaimana telah dijelaskan,tidak ada riwayat dalam sunnah Nabi yang mengatur pembatasan keuntungan, sehingga tidak boleh mengambil keuntungan melebihi dari yang sewajarnya. Bahkan sebaliknya, diriwayatkan suatu hadis yang menetapkan bolehnya keuntungan perdagangan itu mencapai dua kali lipat pada kondisi tertentu, atau bahkan lebih.  Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya dari Urwah bahwa ia menceritakan Nabi pernah ditawarkan kambing dagang. Lalu beliau memberikan satu dinar kepadaku. Beliau bersabda, “Hai Urwah, datangi pedagang hewan itu, belikan untukku satu ekor kambing.” Aku mendatangi pedagang tersebut dan menawar kambingnya. Akhirnya aku berhasil membawa dua ekor kambing. Aku kembali dengan membawa kedua ekor kambing tersebut – dalam riwayat lain – menggiring kedua kambing itu. Di tengah jalan, aku bertemu seorang lelaki dan menawar kambingku. Kujual satu ekor kambing dengan harga satu dinar. Aku kembali kepada Nabi dengan membawa satu dinar berikut satu ekor kambing. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, ini kambing Anda dan ini satu dinar juga milik Anda!” Beliau bertanya, “Apa yang engkau lakukan?” Aku menceritakan semuanya. Beliau bersabda, “Ya Allah, berkatilah keuntungan perniagaannya.” Kualami sesudah itu bahwa aku pernah berdiri di Kinasah di Kota Kufah, aku berhasil membawa keuntungan empat puluh ribu dinar sebelum aku sampai ke rumah menemui keluargaku. (Musnad Ahmad, IV: 376 cet. al-Maktab al-Islami).  Diriwayatkan dengan sahih bahwa Zubair bin Awwam pernah membeli sebuah tanah hutan, yakni sebidang tanah luas di daerah tinggi di kota Madinah dengan harga seratur tujuh puluh ribu dinar. Namun, kemudian ia menjualnya dengan harga satu juta dinar, yakni menjualnya dengan harga berlipat-lipat kali lebih mahal.
  • 133.
      Hal yang perludicermati di sini bahwa semua kejadian itu tidak mengandung unsur penipuan, manipulasi, monopoli, memanfaatkan keluguan pembeli, ketidaktahuannya, kondisinya yang terpepet atau sedang membutuhkan, lalu harga ditinggikan. Di sisi lain, semua kejadian ini tidaklah menggambarkan kaidah umum dalam mengukur keuntungan. Justru sikap memberi kemudahan, sikap santun dan puas dengan keuntungan yang sedikit itu lebih sesuai dengan petunjuk para ulama dan spirit kehidupan syariah. Orang yang puas dengan keuntungan sedikit pasti usahanya akan penuh dengan berkah. Ali bin Abi Thalib biasa keliling pasar Kufah dengan membawa tongkat sambil berkata, “Hai para pedagang, ambillah hak kalian, kalian akan selamat. Jangan kalian tolak keuntungan yang sedikit, karena kalian bisa dihalangi mendapatkan keuntungan besar....” (Abdullah al-Mushlih dan Shalah al-Shawi, 2001: 80)
  • 134.
    g. Metode PenentuanHarga Jual dan Profit Margin 1) Metode Penentuan Profit Margin  Ada empat metode penentuan profit margin yang diterapkan pada bisnis/bank konvensional, yaitu: (1) mark-up pricing; (2) target-return pricing; (3) perceived-value pricing; dan (4) value pricing. Keempat metode penentuan harga jual barang ini dapat diuraikan secara ringkas sebagai berikut: a) Mark-up Pricing  Penentuan tingkat harga dengan me-markup biaya produksi komoditas yang bersangkutan
  • 135.
    Contoh: PT Arif memproduksibarang A. Dalam menentukan tingkat harga dan biaya produksinya, perusahaan tersebut mempertimbangkan biaya-biaya sebagai berikut:  Biaya variabel per unit = Rp 10  Biaya tetap = Rp 100.000  Jumlah unit yang diharapkan terjual, sebanyak 10.000 unit.
  • 136.
     Dengan demikian, biayaproduksi perusahaan untuk memproduksi barang A adalah sebagai berikut: Biaya tetap Biaya per unit = Biaya variabel + -----------------Jumlah penjualan Rp 100.000 = Rp 10 + ----------------- = Rp 20 10.000
  • 137.
     Diasumsikan perusahaan menetapkankeuntungan sebesar 10% dari penjualan, maka mark-up price untuk setiap unit adalah sebagai berikut: Biaya per unit Harga Mark-up =---------------------------------------(1 – pendapatan penjualan yang diharapkan) Rp 20 = ----------------- = Rp 22,22 (1 – 0.10)  Harga sebesar Rp 22,22 merupakan harga yang telah dimark-up. Harga tersebut yang dijadikan sebagai harga dasar penawaran penjualan kepada calon nasabah yang akan membeli barang A tersebut. Jika calon nasabah menyepakati harga tersebut, maka akan terjadi kontrak jual beli.
  • 138.
    b) Target-Return Pricing  Penentuanharga jual produk yang bertujuan mendapatkan tingkat return atas besarnya modal yang diinvestasikan. Dalam bahasa keuangan dikenal dengan return on investment (ROI). Dalam hal ini, perusahaan akan menentukan berapa return yang diharapkan atas modal yang telah diinvestasikan.
  • 139.
    Contoh:  PT Arif memproduksibarang A dan telah menginvestasikan dana sebesar Rp 1.000.000, dengan menghasilkan tingkat return sebesar 20%. Dengan demikian, target return pricing dapat dicari sebagai berikut: Return yang diharapkan x modal investasi Target return-price = unit cost + ----------------------------------------------Unit sale 0,20 x Rp 1.000.000 = Rp 20 + ----------------------------- = Rp 40 10.000  Rp 40 merupakan harga yang telah ditargetkan dari banyaknya modal yang diinvestasikan. Harga tersebut yang dijadikan sebagai harga dasar penawaran penjualan kepada calon nasabah yang akan membeli barang A tersebut. Jika calon nasabah menyepakati harga tersebut maka akan terjadi kontrak jual beli.
  • 140.
    c) Perceived-Value Pricing  Penentuanharga dengan tidak menggunakan variabel harga sebagai dasar harga jual. Harga jual didasarkan pada harga produk pesaing di mana perusahaan melakukan penambahan atau perbaikan unit untuk meningkatkan kepuasan pembeli. Contoh:  Seseorang lebih suka menabung di Islamic Banking Berkah daripada di Islamic Banking Permai walaupun tingkat bagi hasil di Islamic Banking Permai lebih tinggi. Nasabah merasa puas karena di Islamic Banking Berkah pelayanannya lebih baik dibandingkan dengan pelayanan yang diberikan oleh Islamic Banking Permai.
  • 141.
    d) Value Pricing  Kebijakanharga yang kompetitif atas barang yang berkualitas tinggi. Dengan ungkapan: ono rego ono rupo. Artinya, barang yang baik pasti harganya mahal. Namun, perusahaan yang sukses adalah perusahaan yang mampu menghasilkan barang yang berkualitas dengan biaya yang efisien, sehingga perusahaan tersebut dapat dengan leluasa menentukan tingkat harga di bawah harga kompetitor.  Dapatkah metode penentuan harga yang berlaku dalam ekonomi konvensional tersebut digunakan untuk menentukan tingkat harga dalam mekanisme syariah? Penentuan harga dalam pembiayaan di Islamic Banking dapat menggunakan salah satu di antara empat model tersebut di atas. Namun, yang lazim digunakan oleh Islamic Banking saat ini adalah metode going rate pricing, yaitu menggunakan tingkat suku bunga pasar sebagai rujukan (benchmark). Mengapa diterapkan? Karena Islamic Banking berkompetisi dengan bank konvensional. Di samping itu, Islamic Banking juga berkeinginan untuk mendapatkan customer yang bersifat floating customer.  Meskipun demikian, penentuan harga jual produk pada Islamic Banking harus dengan memerhatikan ketentuan-ketentuan yang dibenarkan menurut syariah. Oleh karena itu, metode penentuan harga jual berdasarkan pada mark-up pricing maupun target return pricing dapat digunakan dengan melakukan modifikasi.
  • 142.
    2) Penerapan-penerapan MetodePembiayaan a) Penerapan Mark-up Pricing Pembiayaan  Jika Islamic Banking hendak menerapkan metode mark-up pricing, metode ini hanya tepat jika digunakan untuk pembiayaan yang sumber dananya dari restricted investment account (RIA) atau mudharabah muqayyadah. Mengapa demikian?  Sebab, akad mudharabah muqayyadah adalah akad yang pemilik dana menuntut adanya kepastian hasil dari modal yang diinvestasikan. Oleh karena itu, pola yang diterapkan dengan memerhatikan:
  • 143.
        Historical average costjika dana mudharabah muqayyadah dilakukan dengan on balance sheet. Marginal cost of fund jika dana mudharabah muqayyadah dilakukan dengan off balance sheet. Pooled marginal cost of fund jika dana mudharabah muqayyadah dilakukan dengan on balance sheet. Weighted average projected cost jika dana mudharabah muqayyadah dilakukan dengan on balance sheet.
  • 144.
    b) Penerapan TargetReturn Pricing Pembiayaan    Islamic Banking beroperasi dengan tidak menggunakan bunga. Mekanisme operasional dalam memeroleh pendapatan dapat dihasilkan berdasarkan klasifikasi akad. Akad yang menghasilkan keuntungan secara pasti disebut natural certainty contract, dan akad yang menghasilkan keuntungan yang tidak pasti disebut natural uncertainty contract. Jika pembiayaan dilakukan dengan akad natural certainty contract, maka metode yang digunakan adalah required profit rate (rpr). rpr = n. v Di mana n = tingkat keuntungan dalam transaksi tunai; v = jumlah transaksi dalam satu periode.
  • 145.
    Jika pembiayaan dilakukandengan akad natural uncertainty contract, maka metode yang digunakan adalah expected profit rate (epr). Expected profit rate (epr) diperoleh berdasarkan: 1. Tingkat keuntungan rata-rata pada industri sejenis. 2. Pertumbuhan ekonomi. 3. Dihitung dari nilai rpr yang berlaku di bank yang bersangkutan.  Penghitungannya: Nisbah bank = epr/expected return bisnis yang dibiayai * 100% Aktual return bank = nisbah bank + aktual return bisnis 
  • 146.
    Contoh kasus: penentuantarget return untuk kontrak dengan hasil tidak pasti  Bank Permata memprediksikan nilai epr dari proyek Halal sebesar 15%. Dengan mempertimbangkan target return, bank menetapkan nisbah bagi hasil antara bank dan pengusaha 40:60 (bank:nasabah). Dari transaksi proyek Halal tersebut dihasilkan keuntungan aktual sebesar Rp 30 juta (modal yang digunakan, misalnya, sebesar Rp 75 juta). Bila bank Permata memprediksikan nilai epr dari suatu proyek sebesar 20% (dengan asumsi aktual return usaha yang dibiayai adalah Rp 100 juta) dan target keuntungan aktual adalah Rp 60 juta, maka dengan menetapkan tingkat perolehan aktual tetap, bank dapat menetapkan tingkat nisbah bagi hasil dengan pengusaha sebesar 30:70 (bank:nasabah)
  • 147.
    Contoh kasus: penentuantarget return untuk kontrak dengan hasil pasti  Pak Amin memunyai modal usaha 100 juta. Modal tersebut diusahakan dalam bisnis perumahan. Setiap satu kali transaksi jual beli rumah, Amin mendapatkan keuntungan 10 juta atau 10%. Dari pengalaman sebelumnya selama satu tahun, Amin dapat menjual rumah sebanyak enam unit. Suatu ketika ada seseorang yang ingin membeli rumah tersebut dengan pembayaran di kemudian hari, yaitu pada akhir tahun. Apabila Amin menjual rumah tersebut dengan margin keuntungan 10% maka dia akan mengalami kerugian atau kehilangan peluang untuk melakukan penjualan rumah lagi sebanyak lima kali per unit. Oleh karena itu, untuk menutup hilangnya opportunity loss, Amin menawarkan harga rumah kepada seseorang tersebut dengan harga 160 juta atau margin keuntungan sebesar 60%. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa tingkat 60% tersebut adalah sama dengan tingkat keuntungan 10% dengan enam kali transaksi.
  • 148.
      Tingkat keuntungan jualbeli juga dipengaruhi oleh faktor lain, seperti tingkat harga di pasar. Meskipun demikian, penjual perlu mengacu kepada aturan fikih dalam menentukan harga kontan dengan harga cicilan. Dengan demikian, penentuan nilai rpr dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut: rpr = π . v π adalah tingkat keuntungan dalam transaksi tunai; v adalah jumlah transaksi yang bisa dilakukan dalam satu periode.
  • 149.
    Contoh:  Bila dalam suatupembiayaan yang memberikan hasil pasti (murabahah), bank menetapkan tingkat keuntungan sebesar 12%, sementara pembiayaan tersebut membutuhkan dana sebesar Rp 200 juta, maka bank sudah bisa melakukan prediksi bahwa keuntungan aktual yang akan diperoleh adalah:  Keuntungan aktual yang diperoleh = rpr x jumlah pembiayaan = 12% x Rp 200 juta = Rp 24 juta
  • 150.
     Sebaiknya, penetapan hargajual murabahah dapat dilakukan dengan cara Rasulullah ketika berdagang. Dalam menentukan harga penjualan, Rasul secara transparan menjelaskan berapa harga belinya, berapa biaya yang telah dikeluarkan untuk setiap komoditas dan berapa keuntungan wajar yang diinginkan. Cara yang dilakukan oleh Rasulullah ini dapat dipakai sebagai salah satu metode Islamic Banking dalam menentukan harga jual produk murabahah. Dengan demikian, secara matematis harga jual barang oleh bank kepada calon nasabah pembiayaan murabahah dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
  • 151.
    Harga Jual Bank =Harga Beli Bank + Cost Recovery + Keuntungan Cost Recovery Proyeksi Biaya Operasi = -----------------------------------------Target Volume Pembiayaan Cost Recovery + keuntungan Margin dalam prosentase = -------------------------------------------- x 100% Harga Beli Bank
  • 152.
      Biaya yang dikeluarkandan harus dikembalikan (cost recovery) bisa didekati dengan membagi proyeksi biaya operasional bank, dengan target volume pembiayaan murabahah di Islamic Banking. Angka-angka tersebut dapat diperoleh dari Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Angka yang diperoleh kemudian ditambahkan dengan harga beli dari pemasok dan keuntungan yang diinginkan, sehingga didapatkan harga jual. Margin dalam konteks ini adalah cost recovery ditambah dengan keuntungan bank. Apabila margin ingin dihitung persentasenya, tinggal dibagi dengan harga beli barang dikalikan 100%. Setelah angka-angka tersebut didapat, barulah persentase margin ini dibandingkan dengan suku bunga. Jadi, suku bunga hanya dijadikan benchmark. Agar pembiayaan murabahah kompetitif, margin murabahah harus lebih kecil daripada bunga pinjaman. Jika masih lebih besar, maka yang harus dimainkan adalah dengan memperkecil cost recovery dan keuntungan yang diharapkan.
  • 153.
      Langkah pertama adalahmenurunkan keuntungan. Jika keuntungan sudah turun sampai batas minimal, dan ternyata marginnya masih lebih besar daripada bunga bank, maka tentu ada yang tidak beres dengan cost recovery. Artinya, efisiensi bank tersebut rendah. Efisiensi yang rendah itu dapat ditingkatkan dengan mengurangi biaya operasional pada target volume pembiayaan yang sama. Efisiensi juga dapat dicapai dengan memperbesar target volume pembiayaan pada biaya operasional yang sama. Hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan kualitas SDM Islamic Banking. Semakin berkualitas SDM dalam meyakinkan nasabah untuk mendepositokan dananya ke Islamic Banking, semakin banyak pula dana yang dapat disalurkan untuk pembiayaan murabahah. Dengan demikian, semakin besar peluang untuk meningkatkan efisiensi. Lebih cantik lagi bila pengurangan biaya operasional dilakukan bersamaan dengan meningkatkan volume pembiayaan. Efisiensi tinggi akan segera diperoleh, cost recovery semakin kecil dan insya Allah keuntungan bank akan meningkat walaupun dengan margin murabahah yang lebih kecil daripada bunga pinjaman bank konvensional. Hal penting yang perlu diingat dan dicatat, hasil perhitungan margin yang dicantumkan dalam kontrak murabahah dinyatakan dalam angka nominal, bukan bentuk persentasenya.
  • 154.
    Contoh Kasus  Tuan Aliberkeinginan membeli sebuah mobil untuk kepentingan usaha antar jemput anak sekolah. Harga beli mobil sebesar Rp 150.000.000. Pada saat ini, Tuan Ali hanya memiliki dana Rp 30.000.000. Untuk mengatasi kekurangan dana tersebut, Tuan Ali mengubungi Islamic Banking TOAT untuk mendapatkan pemecahan masalah akibat kekurangan dana tersebut. Islamic Banking menawarkan solusi dengan akad murabahah. Islamic Banking memperkirakan biaya operasi Rp 200.000.000 dalam satu tahun, jumlah pembiayaan Rp 5 milyar, markup yang ditentukan (hanya sekali) 10% dari pembiayaan murabahah, dan lama pembiayaan dua tahun. Bagiamana cara penyelesaiannya?
  • 155.
    Jawab (penyelesaian denganrumus harga jual efisien) Data pembiayaan: Harga Pokok Mobil = Rp 150.000.000 Dibayar nasabah (uang muka) = Rp 30.000.000 Kekurangan dibayar Bank = Rp 120.000.000
  • 156.
    1) Hitung costrecovery Cost Recovery = (Pembiayaan Murabahah/Estimasi Total Pembiayaan) X Estimasi Biaya Operasi 1 tahun Cost Recovery = (Rp 120 juta/Rp 5 milyar) x Rp 200 juta = Rp 4.800.000 2) Hitung mark-up    Hitung Markup= 10% x pembiyaan Markup = 10% x Rp 120 juta = Rp 12.000.000
  • 157.
    3) Hitung hargajual bank Harga Jual Bank = Pembiyaan + cost recovery + Markup = Rp 120 juta + (2 x Rp 4.800.000) + Rp 12 juta = Rp 141.600.000
  • 158.
    5) Hitung totalharga jual Total Harga jual = Rp 150 juta + Rp 16.800.000 = Rp 166.800.000 6) Hitung margin dalam persentase Hitung Margin dalam %= Cost Recovery + Markup/Harga beli = [(2 x Rp 4.800.000 + Rp 12juta)/Rp150.000.000] x 100% = 14,4% = 0,6%
  • 159.
    2. Bai’u Salam a.Pengertian Salam adalah akad jual-beli atas suatu barang dengan jenis dan dalam jumlah tertentu yang penyerahannya dilakukan beberapa waktu kemudian, sedangkan pembayarannya segera (di muka).  Salam Paralel merupakan dua transaksi Salam yang dilakukan secara simultan dan melibatkan tiga pihak yang berkepentangan. Salah satu di antaranya bertindak sebagai pembeli dan sekaligus penjual: membeli suatu barang dari pihak kedua dan menjualnya kembali kepada pihak ketiga. 
  • 160.
    b. Landasan Syariah    QSAl-Baqarah [2]: 282 Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, .hendaklah kamu menuliskannya Ibnu Abbas r.a. mengungkapkan, “Aku bersaksi bahwa salam (salaf) yang dijamin untuk jangka waktu tertentu telah dihalalkan Allah pada kitab-Nya dan diizinkan-Nya,” seraya membaca ayat tersebut di atas. Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang melakukan salaf (salam), hendaknya ia melakukan dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas pula, untuk jangka waktu yang diketahui.”
  • 161.
    c. Rukun Salam 1. 2. 3. 4. 5. Pembeli(muslam) Penjual (muslam ilaih) Barang yang diperjualbelikan (muslam fih) Harga barang (ra’sul mal) Sighat (ijab qabul)
  • 162.
    Skema Salam: (1) Negosiasi (2) (1) (2) Akad Salam BayarHarga Barang (3) Produsen/Penjual Produksi barang (4) Barang Pembeli Kirim barang (5)
  • 163.
    d. Salam Parareldalam Teknis Perbankan Pengertian:  Salam Paralel merupakan transaksi pembelian atas barang tertentu yang dilakukan oleh bank dari pihak produsen atau pihak ketiga lainnya dengan pembayaran di muka, untuk kemudian dijual kembali kepada nasabah dengan waktu penyerahan yang disepakati.  Pembayaran oleh nasabah kepada bank dapat dilakukan di muka pada saat ditandatanganinya akad salam atau secara tunai pada saat penyerahan barang (salam wal bai’u muthlaqah) atau dengan cara mengangsur (salam wal murabahah).  Apabila pembayaran oleh nasabah dilakukan secara tunai atau dengan cara mengangsur, biasanya bank mensyaratkan agar nasabah terlebih dahulu membayar sejumlah uang muka yang diperlukan.
  • 164.
    Skema Salam: ContohAplikasi Perbankan Negosiasi (1) (2) (1) (2) ) Akad Salam Bayar uang muka Rp 300 Juta (4) Bank Syariah “XYZ” (8) PT. Anugrah Sentosa Bayar Angsuran Akad salam (2a) Negosiasi (1a) Bank garansi (3) Bayar Rp 1.,5 M (5) Kirim faktur (7a) KUD Lestari Produksi jagung (6) Jagung Kirim jagung (7)
  • 165.
    3. Bai’ Istishna’ a.Syarat Istishna’  Produsen dan pemesan (shani’ dan mustashni’) cakap hukum, tidak dalam keadaan terpaksa, dan tidak ingkar janji.  Produsen (shani’) memiliki kapasitas dan kesanggupan untuk membuat/mengadakan barang yang dipesan.  Barang yang dipesan (mashnu’) harus jelas spesifikasinya dan tidak termasuk yang dilarang syariah, sedangkan waktu penyerahannya sesuai kesepakatan.  Harga barang (tsaman) harus dinyatakan secara jelas dan pembayarannya dilakukan sesuai dengan kesepakatan
  • 166.
    Skema Istishna’: Pesan barang (1) AkadIstishna’ (2) Bayar Harga Barang (5) Produsen (Shani’) Produksi barang (3) Barang (Mashnu’) Pembeli (Mustashni’) Kirim barang (4)
  • 167.
    Skema Istishna’: Contohaplikasi Perbankan Serah Terima Pry. (5) Serah Terima Proyek (5a) Kerjakan proyek (4) Proyek ruko PT. Angin Ribut (Kontraktor) Negosiasi (1a) (5) Husein (Nasabah) (5a) Akad Istishna’ (2a) Negosiasi (1) Akad Istishna’ (2) Bank Garansi (3a) Bayar Uang Muka (3a) Kembali B. Garansi (6) Bayar Angsuran (8) Bayar Rp 4,5 M (7) Bank Syariah “Madani”
  • 168.
    b. Aplikasi Istishna’Paralel dalam Teknis Perbankan    Pembiayaan modal kerja; misalnya, untuk modal kerja industri barang-barang konsumsi, termasuk garmen, sepatu, dan sebagainya. Pembiayaan investasi; misalnya, untuk pengadakan barang-barang modal seperti mesin-mesin. Pembiayaan konstruksi (construction financing).
  • 169.
    4. Ijarah danIjarah Wa Iqtina a. Prinsip Sewa (Ijarah)  Transaksi ijarah dilandasi dengan adanya perpindahan manfaat (hak guna), bukan perpindahan kepemilikan (hak milik). Jadi, pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan prinsip jual beli. Perbedaannya terletak pada objek transaksinya. Pada jual beli, objek transaksinya barang, sedangkan pada ijarah, objek transaksinya adalah barang maupun jasa.  Ijarah didefinisikan sebagai hak untuk memanfaatkan barang/jasa dengan membayar imbalan tertentu (Sarkhasi, alMabshut, 15:74; Al-Umm, 3:250). Menurut fatwa Dewan Syariah Nasional, ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri (2001). Dengan demikian, dalam akad ijarah tidak ada perubahan kepemilikan, tetapi hanya perpindahan hak guna dari yang menyewakan kepada penyewa.
  • 170.
    Skema Ijarah WaIqtina: Penyerahan Kepemilikan (5) Penyerahan Kepemilikan (5) Penyerahan Hak Penggunaan (3) OBJEK SEWA (Ma’jur) Pemanfaatan Hak Penggunaan (3) Akad Ijarah Wa Iqtina (1) Pembayaran Sewa (2) Pembayaran Atas Pembelian (4) Pemilik Barang (Mu’jir) Penyewa (Musta’jir)
  • 171.
    b. Hak danKewajiban Kedua Belah Pihak   Apa saja kewajiban penyewa dan pihak yang menyewakan? Pihak yang menyewakan wajib mempersiapkan barang yang disewakan untuk dapat digunakan secara optimal oleh penyewa. Misalnya, mobil yang disewa ternyata tidak dapat digunakan karena akinya lemah, maka yang menyewakan wajib menggantinya. Bila yang menyewakan tidak dapat memperbaikinya, penyewa memunyai pilihan untuk membatalkan akad atau menerima manfaat yang rusak. Bila demikian keadaannya, apakah harga sewa masih harus dibayar penuh? Sebagian ulama berpendapat, bila penyewa tidak membatalkan akad, harga sewa harus dibayar penuh (Mula Khasra, Syarh Al-Durr, 3:278 – 279, dan Al-Muhattab, 2:405). Sebagian ulama lain berpendapat, harga sewa dapat dikurangkan dulu dengan biaya untuk perbaikan kerusakan. Penyewa wajib menggunakan barang yang disewakan menurut syarat-syarat akad atau menurut kalaziman penggunaannya. Penyewa juga wajib menjaga barang yang disewakan agar tetap utuh. Bagaimana dengan perawatan barang yang disewa? Secara prinsip tidak boleh dinyatakan dalam akad bahwa penyewa bertanggung jawab atas perawatan karena ini berarti penyewa bertanggung jawab atas jumlah yang tidak pasti (gharar). Oleh karena itu, ulama berpendapat bahwa bila penyewa diminta untuk melakukan perawatan, ia berhak untuk mendapatkan upah dan biaya yang wajar untuk pekerjaannya itu. Bila penyewa melakukan perawatan atas kehendaknya sendiri, ini dianggap sebagai hadiah dari penyewa dan ia tidak dapat meminta pembayaran apa pun (Al-Fatawa Al-Hindiyah, 4:443; Al-Buhuti, Kasyful Qina’,4;416; Al-Ramli, Nihayatul Muhtaj, 5:264 – 265).
  • 172.
    c. Kesepakatan MengenaiHarga Sewa    Misalnya, dikatakan, “Saya sewakan mobil ini selama satu bulan dengan harga sewa Rp X.” Bila penyewa ingin memperpanjang masa sewa, dapat saja harga sewanya berubah. Bahkan, pihak yang menyewakan dapat saja meminta harga sewa dua kali lipat daripada sebelumnya. Sebaliknya, penyewa dapat saja menawar setengah harga sewa sebelumnya. Semuanya tergantung kesepakatan antara kedua belah pihak: penyewa dan pihak yang menyewakan. Namun, dalam periode pertama yang telah disepakati harga sewanya, itulah kesepakatannya. Mayoritas ulama mengatakan, “Syarat-syarat yang berlaku bagi harga jual berlaku juga bagi harga sewa” (Al-Dardir, Syarh Al-Shagir, 4:59; Al-Ramli, Nihayatul Muhtaj, 5:322, Ibnu Qudhamah, Al-Mughni, 5:327). Bagaimana dengan praktik para penjahit, misalnya menjelang lebaran, yang menentukan harga jahit makin tinggi? Ulama mazhab memberikan keleluasaan dalam menentukan harga sewa semacam itu.Al-Jaziri mencontohkan, “Jika Anda menjahitkan bajuku hari ini, upahnya satu dirham; jika Anda menjahit bajuku besok, upahnya setengah dirham. Jika Anda tinggal di rumah ini sebagai tukang besi, sewanya sepuluh dirham; jika Anda tinggal di rumah ini sebagai penjual minyak wangi, sewanya lima dirham.” Bagaimana pula dengan kebiasaan sebagian orang yang naik becak atau ojek tanpa kesepakatan harga terlebih dahulu? Pada prinsipnya, upah harus diketahui terlebih dahulu, sesuai dengan hadis Rasulullah Saw., “Barangsiapa mempekerjakan seorang pekerja, harus memberitahukan upahnya” (HR Baihaqi dari Abu Hurairah). Fatwa ulama menjelaskan bahwa harga sewa yang lazim berlaku bila ditentukan di muka. “Bila manfaat telah dinikmati, sedangkan harga sewa tidak ditentukan, maka sewa untuk manfaat yang sama harus dibayar.” (Al-Fatawa Al-Hindiyah, 4:42; Al-Maushili, Al-Ikhtiyar, 2:507)
  • 173.
    d. Ijarah MuntahiaBit tamlik (IMBT)  Bai’u wal Ijarah Muntahia Bit Tamlik (IMBT) merupakan rangkaian dua buah akad, yakni bai’u merupakan akad jual beli, dan IMBT merupakan kombinasi antara sewa-menyewa (ijarah) dan jual beli atau hibah pada akhir masa sewa. Dalam ijarah muntahia bit tamlik, pemindahan hak milik barang terjadi dengan salah satu dari dua cara berikut ini:      Pihak yang menyewakan berjanji akan menjual barang yang disewakan tersebut pada akhir masa sewa; Pihak yang menyewakan berjanji akan menghibahkan barang yang disewakan tersebut pada akhir masa sewa. Pilihan untuk menjual barang pada akhir masa sewa (alternatif 1) biasanya diambil bila kemampuan finansial penyewa untuk membayar sewa relatif kecil. Karena sewa yang dibayarkan relatif kecil, akumulasi nilai sewa yang sudah dibayarkan sampai akhir periode belum mencukupi harga beli barang tersebut dan margin laba yang ditetapkan oleh bank. Karena itu, untuk menutupi kekurangan tersebut, bila pihak penyewa ingin memiliki barang tersebut, ia harus membeli barang itu pada akhir periode. Pilihan untuk menghibahkan barang pada akhir masa sewa (alternatif 2) biasanya diambil bila kemampuan finansial penyewa untuk membayar sewa relatif lebih besar. Karena sewa yang dibayarkan relatif besar, akumulasi sewa pada akhir periode sudah mencukupi untuk menutupi harga beli barang dan margin laba yang ditetapkan oleh bank. Dengan demikian, bank dapat menghibahkan barang tersebut pada akhir masa periode sewa kepada pihak penyewa. Pada Bai’u wal Ijarah Muntahia Bit tamlik (IMBT) dengan sumber pembiayaan dari Unrestricted Investment Account (URIA), pembayaran oleh nasabah dilakukan secara bulanan. Hal ini karena pihak bank harus memunyai cash in setiap bulan untuk memberikan bagi hasil kepada para nasabah yang dilakukan secara bulanan juga.
  • 174.
    e. Ijarah waIqtina dalam Teknis Perbankan 1) Pengertian  Ijarah wa Iqtina (Ijarah Muntahia Bit tamlik) adalah akad sewa-menyewa atas barang tertentu antara bank sebagai pemilik barang (mu’jir) dan nasabah selaku penyewa (musta’jir) untuk suatu jangka waktu dan dengan harga yang disepakati. Pada akhir masa sewa, bank memberikan opsi kepada nasabah untuk membeli barang tersebut dengan harga yang disepakati pula. 2) Aplikasi   Pembiayaan investasi; seperti untuk pembiayaan barangbarang modal, seperti mesin-mesin. Pembiayaan konsumer; seperti untuk pembelian mobil, rumah, dan sebagainya.
  • 175.
    3) Pembiayaan Ijarahdan IMBT di Islamic Banking  Pembiayaan ijarah dan ijarah muntahia bit tamlik (IMBT) memiliki kesamaan perlakuan dengan pembiayaan murabahah. Sampai saat ini, mayoritas produk pembiayaan Islamic Banking masih terfokus pada produk-produk murabahah (prinsip jualbeli). Kesamaan keduanya bahwa pembiayaan tersebut termasuk dalam kategori natural certainty contract, dan pada dasarnya adalah kontrak jual beli. Perbedaan kedua jenis pembiayaan (ijarah/IMBT dengan murabahah) hanyahlah objek transaksi yang diperjualbelikan tersebut. Dalam pembiayaan murabahah, objek transaksi adalah barang seperti rumah dan mobil, sedangkan dalam pembiayaan ijarah, objek transaksinya adalah jasa, baik manfaat atas barang maupun manfaat atas tenaga kerja. Dengan pembiayaan murabahah, Islamic Banking hanya dapat melayani kebutuhan nasabah untuk memiliki barang, sedangkan nasabah yang membutuhkan jasa tidak dapat dilayani. Dengan skim ijarah, Islamic Banking dapat pula melayani nasabah yang hanya membutuhkan jasa.
  • 176.
    f. Ijarah danLeasing   Karena ijarah adalah akad yang mengatur pemanfaatan hak guna tanpa terjadi pemindahan kepemilikan, maka banyak orang yang menyamakan ijarah ini dengan leasing. Ini terjadi karena kedua istilah tersebut samasama mengacu kepada hal sewa-menyewa. Menyamakan ijarah dengan leasing tidak sepenuhnya salah, tapi tidak sepenuhnya benar pula. Pada dasarnya, walaupun terdapat kesamaan antara ijarah dan leasing, ada beberapa karakteristik yang membedakannya. Pada bagian ini, perbedaan dan persamaan antara keduanya akan kita bahas. Tabel berikut ini memberikan ikhtisar perbedaan dan kesamaan antara ijarah dan leasing. Sedikitnya ada lima aspek yang dapat kita cermati, yakni objek, metode pembayaran, perpindahan kepemilikan, lease purchase, dan sale and lease back.
  • 177.
    Tabel 1. Ijarah danLeasing: Perbedaan dan Persamaannya Ijarah Leasing Objek: Manfaat barang dan jasa Objek: Manfaat barang saja Methods of Payment: Contingent to performance Not contingent to performance. Methods of Payment: Not contingent to performance Transfer of Title: Transfer of title: •Ijarah → No transfer of title •Operating lease → No transfer of title. •IMBT → Promise to sell or hibah at the beginning •Financial lease → Option to buy or not of period. to buy, at the end of period. Lease Purchase/sewa-beli: Bentuk leasing seperti Lease-Purchase/sewa-beli Ok ini haram karena akadnya gharar, (yakni antara sewa dan beli). Sale and Lease Back Ok. Sale and Lease Back Ok.
  • 178.
    Penjelasan ringkas sebagaiberikut: 1) Objek   Bila dilihat dari segi objek yang disewakan, leasing berlaku untuk sewa-menyewa barang saja. Jadi, yang disewakan dalam leasing terbatas pada manfaat barang. Bila ingin mendapatkan manfaat tenaga kerja, kita tidak dapat menggunakan leasing. Di lain pihak, dalam ijarah, objek yang disewakan bisa berupa barang atau jasa/tenaga kerja. Ijarah, bila diterapkan untuk mendapatkan manfaat barang, disebut sewa-menyewa, sedangkan bila diterapkan untuk mendapatkan manfaat tenaga kerja/jasa disebut upahmengupah. Jadi, yang disewakan dalam ijarah adalah manfaat barang atau manfaat tenaga kerja. Dengan demikian, bila dilihat dari segi objeknya, ijarah memunyai cakupan yang lebih luas daripada leasing.
  • 179.
    2) Metode Pembayaran   Biladilihat dari segi metode pembayaran, leasing memiliki satu metode pembayaran saja, yakni yang bersifat not contingent to performance. Artinya, pembayaran sewa pada leasing tidak tergantung pada kinerja objek yang disewa. Misalnya, Ahmad menyewa mobil X pada Toyota Rent A Car untuk dua hari dengan tarif Rp 1.000.000,-/hari. Dengan mobil tersebut, Ahmad berencana untuk pergi ke Bandung. Bila ternyata tidak pergi ke Bandung, tetapi hanya ke Bogor, Ahmad tetap harus membayar sewa mobil tersebut seharga Rp 1.000.000,-/hari. Dengan demikian, penentuan harga sewa pada kasus di atas tergantung pada lamanya waktu sewa, bukan pada apakah mobil tersebut dapat mengantarkan kita ke Bandung atau tidak. Di lain pihak, dari segi metode pembayaran, ijarah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: ijarah yang pembiayaannya tergantung pada kinerja objek yang disewa (contingent to performance) dan ijarah yang pembayarannya tidak tergantung pada kinerja objek yang disewa (not contingent performance). Ijarah yang pertama disebut ijarah, gaji dan/atau sewa, sedangkan ijarah yang kedua disebut ju’alah, atau success fee.
  • 180.
       Contoh ijarah yangnot contingent to performance sama dengan kasus Ahmad di atas. Sementara, contoh ju’alah sebagai berikut: Ahmad ingin pergi ke Bandung bersama keluarganya. Karena tidak ingin mengemudikan mobilnya sendiri, ia menghubungi perusahaan travel. Kepada perusahaan travel, Ahmad mengatakan, “Tolong antarkan saya beserta keluarga ke Bandung dengan mobil perusahaan Anda. Jika bisa mengantarkan kami ke Bandung, Anda akan dibayar Rp 500.000,-.” Dalam akad ju’alah di atas, pembayaran sewa tidak tergantung pada berapa lamanya mobil itu digunakan oleh penyewa (seperti pada contoh leasing terdahulu). Pembayaran sewa bergantung pada apakah mobil tersebut dapat mengantarkan penyewa ke Bandung atau tidak (tergantung kinerja). Bila ternyata mobil tersebut hanya mengantarkan sampai di Bogor, Ahmad tidak perlu membayar. Contoh lain: dalam upah-mengupah buruh bangunan, dikenal dua macam sistem, yaitu sistem upah harian dan sistem upah borongan. Upah harian ini adalah contoh ijarah, sedangkan upah borongan adalah contoh ju’alah.
  • 181.
    3) Perpindahan Kepemilikan (Transferof Title)   Dari aspek perpindahan kepemilikan, dalam leasing kita kenal ada dua jenis: operating lease dan financial lease. Dalam operating lease, tidak terjadi pemindahan kepemilikan asset, baik pada awal maupun pada akhir periode sewa. Dalam financial lease, pada akhir periode sewa si penyewa memberikan pilihan untuk membeli atau tidak membeli barang yang disewa tersebut. Jadi, transfer of title masih berupa pilihan dan dilakukan pada akhir periode. Namun, pada praktiknya (khususnya di Indonesia), dalam financial lease sudah tidak ada opsi lagi untuk membeli atau tidak membeli, karena pilihan untuk membeli atau tidak membeli itu sudah “dikunci” pada awal periode. Di lain pihak, ijarah sama seperti financial lease, yakni tidak ada transfer of title baik pada awal maupun pada akhir periode. Namun demikian, pada akhir masa sewa, bank dapat saja
  • 182.
    menjual barang yangdisewakannya kepada nasabah. Karena itu, dalam perbankan syariah dikenal ijarah muntahia bit tamlik/IMBT (sewa yang diikuti dengan berpindahnya kepemilikan). Harga sewa dan harga jual disepakati pada awal perjanjian. Karena itu, dalam IMBT, pihak yang menyewakan berjanji pada awal periode kepada pihak penyewa, apakah akan menjual barang tersebut atau akan menghibahkannya. Dengan demikian, ada dua jenis IMBT, yakni: a. IMBT dengan janji menghibahkan barang pada akhir periode sewa. (IMBT with a promise to hibah). b. IMBT dengan janji menjual barang pada akhir periode sewa. (IMBT with a promise to sell). 
  • 183.
    4) Lease-Purchase   Variasi lainnyadari leasing adalah lease-purchase (sewabeli), yakni kontrak sewa sekaligus beli. Dalam kontrak sewa-beli ini, perpindahan kepemilikan terjadi selama periode sewa secara bertahap. Bila kontrak sewa-beli ini dibatalkan, hak milik barang terbagi antara milik penyewa dan milik yang menyewakan. Dalam syariah, akad lease and purchase ini diharamkan, karena ada two in one (dua akad sekaligus, atau dalam bahasa Arab: Safaqatain fi shafaqah, ingat bahasan kita terdahulu). Ini menyebabkan gharar dalam akad, yakni ada ketidakjelasan akad: apakah yang berlaku akad sewa atau akad beli. (Two in one terjadi bila semua ketiga faktor ini terpenuhi: objeknya sama, pelakunya sama, jangka waktunya sama). Dalam lease-purchase, ketiga faktor di atas terpenuhi, sehingga diharamkan.
  • 184.
    5) Sale andLease-Back    Sale and lease-back terjadi bila, misalnya, A menjual barang X ke B, tetapi karena A tetap ingin memiliki barang X tersebut, B menyewakannya kembali ke A dengan kontrak financial lease, sehingga A memunyai pilihan untuk memiliki barang X tersebut pada akhir periode. Sekarang, misalnya, A menjual barang X seharga Rp 120 juta secara cicilan kepada B, dengan syarat bahwa B harus kembali menjual barang X tersebut kepada A secara tunai seharga 100 juta. Transaksi di atas haram, karena ada persyaratan bahwa A bersedia menjual barang X ke B asalkan B kembali menjual barang tersebut kepada A. Dalam kasus di atas disyaratkan bahwa akad I berlaku efektif bila akad II dilakukan. Penerapan syarat ini mencegah terpenuhinya rukun. Dalam istilah fikih, jual beli seperti ini dinamakan bai’u al-‘inah. Pada bai’u al-‘inah, terjadi ta’alluq. Karena itu, transaksi ini haram. Bila dua akad di atas tidak saling dikaitkan berlakunya, hal ini dibolehkan. Dua skema akad di bawah ini, misalnya, halal bila tidak terjadi ta’alluq.
  • 185.
    g. Skema danPola Pembiayaan Ijarah Gambar 1 Skema Pembiayaan Ijarah 3. Akad Pembiayaan Ij arah 1. Permohonan Pembiayaan A. Islamic Banking B. Nasabah 2. Menyew a/membeli obj ek ij arah C. Suplier/Penjual/Pemilik D. Objek Ijarah
  • 186.
    Keterangan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Nasabah mengajukan pembiayaanijarah ke Islamic Banking Islamic Banking memberi/menyewa barang yang diinginkan oleh nasabah, sebagai objek ijarah, dari supplier/penjual/pemilik. Setelah dicapai kesepakatan antara nasabah dengan bank mengenai barang objek ijarah, tarif ijarah, periode ijarah, dan biaya pemeliharaannya, maka akad ijarah ditandatangani. Nasabah diwajibkan menyerahkan jaminan yang dimiliki. Bank menyerahkan objek ijarah kepada nasabah sesuai akad yang disepakati. Setelah periode ijarah berakhir, nasabah mengembalikan objek ijarah tersebut kepada bank. Bila bank membeli objek ijarah tersebut (al-bai’u wal ijarah) setelah periode ijarah berakhir, objek ijarah tersebut disimpan oleh bank sebagai aset yang dapat disewakan kembali. Bila bank menyewa objek ijarah tersebut (al-ijarah wal ijarah, atau ijarah paralel) setelah periode ijarah berakhir, objek ijarah tersebut dikembalikan oleh bank kepada supplier/penjual/pemilik.
  • 187.
    2) Jenis Barang/Jasayang Dapat Disewakan Barang modal: aset tetap, seperti bangunan, gedung, kantor, dan ruko.    Barang produksi: mesin, alat-alat berat, dan lain-lain. Barang kendaraan transportasi: darat, laut, dan udara. Jasa untuk membayar ongkos: uang sekolah/kuliah, tenaga kerja, hotel, angkutan/transportasi, dan sebagainya.
  • 188.
    3. Pola-pola PembiayaanIjarah Bai’u wal Ijarah a Pola-Pola Pembiayaan Ijarah a.1 Bai’u wal Ijarah Akhir a.2 Bai’u wal Ijarah Bai’u Mu’ajjal wal Ijarah a.3 Bai’u Mu’ajjal wal Ijarah Akhir a.4 b Ijarah Paralel Bai’u wal Ijarah Bai’u wal Ijarah Bai’u wal Ijarah b.1 b.2 b.3
  • 189.
    Gambar 2: Pola-pola PembiayaanIjarah Tipe-Tipe Ijarah Dari Segi Manfaat Barang. Ijarah Murni: Bai’u wal ijarah Bayar pada akhir lump-sum Bayar dengan cicilan/mu’ajjal Ijarah Paralel Bayar pada akhir lump-sum Bayar dengan cicilan/mu’ajjal Ijarah Muntahia Bit tamlik: Bai’u wal IMBT IMBT Paralel Dari Segi Manfaat Tenaga Kerja. Ijarah wal Ijarah (Subkontrak) Bayar pada akhir lump-sum Bayar dengan cicilan/mu’ajjal Dari Segi Metode Pembayaran. Contingent to Performance Barang Tenaga Kerja Not Contingent to Performance Barang Tenaga Kerja
  • 190.
    Contoh-contoh Kasus PembiayaanIjarah 1) Ijarah Murni a. Ijarah bil Ijarah, bayar dengan cicilan  Bapak Ahmad hendak menyewakan sebuah ruang perkantoran di sebuah gedung selama satu tahun mulai dari tanggal 1 Mei 2007 sampai 1 Mei 2008. Pemilik gedung menginginkan pembayaran sewa secara tunai di muka sebesar Rp 240.000.000,-. Dengan pola pembayaran tersebut, kemampuan keuangan Ahmad tidak memungkinkan. Ahmad hanya dapat membayar sewa secara angsuran per bulan. Untuk memecahkan masalah ini, Ahmad datang untuk meminta pembiayaan, dengan memaparkan kondisi kebutuhan dan keuangannya. Analisis dilakukan dengan memperhitungkan kebutuhan dan kemampuan keuangan nasabah serta required rate of profit bank (sebesar 20%):
  • 191.
    Harga sewa 1 tahun(tunai di muka) Required rate of profit bank (20%) Harga sewa kepada nasabah Periode pembiayaan Besarnya angsuran nasabah per bulan Dengan : Rp 240.000.000 : Rp 48.000.000 : Rp 288.000.000 : 12 bulan (= 360 hari) : Rp 24.000.000 analisis tersebut, maka bentuk pembiayaan yang diberikan oleh bank kepada Ahmad adalah: Pembiayaan ijarah, harga sewa Rp 288.000.000, selama 12 bulan (360 hari) dengan angsuran Rp 24.000.000/bulan Pendanaan diambil dari unresstricted investment account (URIA)
  • 192.
    b. Ijarah bilIjarah, bayar pada akhir lump-sum  Ahmad hendak menyewa sebuah ruang perkantoran di sebuah gedung selama 3 bulan mulai dari tanggal 1 Mei 2007 sampai 1 Agustus 2007. Pemilik gedung menginginkan pembayaran sewa secara tunai di muka sebesar Rp 80.000.000,-. Dengan pola pembayaran tersebut, kemampuan keuangan Bapak Ahmad tidak memungkinkan. Ahmad hanya dapat membayar sewa pada akhir masa sewa, yaitu tanggal 1 Agustus. Untuk memecahkan masalahnya, Ahmad mendatangi Islamic Banking untuk meminta pembiayaan, dengan memaparkan kondisi kebutuhan dan keuangannya.
  • 193.
     Analisis Islamic Bankingdilakukan dengan memperhitungkan kebutuhan dan kemampuan keuangan nasabah serta required rate of profit bank (sebesar 20%): a. Harga sewa 3 bulan (tunai di muka) Required rate of profit bank (20%) Harga sewa kepada nasabah 96.000.000 Periode pembiayaan hari) Besarnya sewa yang harus dibayar nasabah pada akhir periode sewa b. c. d. e. f. : Rp 80.000.000 : Rp 16.000.000 : Rp : 3 bulan (= 90 : Rp 96.000.000
  • 194.
    Dengan analisis tersebut,maka bentuk pembiayaan yang diberikan oleh bank kepada Ahmad adalah: a. Pembiayaan ijarah, harga sewa Rp 96.000.000, selama 3 bulan (90 hari) dengan pembayaran sewa di belakang sekaligus. b. Pendanaan diambil dari RIA.
  • 195.
    2. Ijarah Muntahiabit Tamlik (IMBT)  Ilustrasi Kasus  Hasan hendak menyewa sebuah ruko selama 1 tahun mulai dari tanggal 1 Agustus 2007 sampai 31 Juli 2008 dan bermaksud membelinya pada akhir mada sewa. Pemilik ruko menginginkan pembayaran sewa secara tunai di muka sebesar Rp 2 milyar (tanggal 1 Agustus 2007) dan Rp 2 milyar pada akhir masa sewa (31 Juli 2008) untuk membeli ruko tersebut. Atau bila ruko tersebut dibeli langsung pada tanggal 1 Agustus 2007, pemilik ruko bersedia menjualnya dengan harga Rp 3,5 milyar. Dengan pola pembayaran seperti di atas, kemampuan keuangan Pak Hasan tidak memungkinkan. Hasan hanya dapat membayar sewa secara cicilan sebesar Rp 300.000.000 per bulan dan membeli ruko pada akhir masa sewa. Oleh karena itu, Pak Hasan meminta pembiayaan dari Islamic Banking sebesar Rp 2 milyar pada awal masa sewa (1 Agustus 2002) dan Rp 2 milyar pada akhir masa sewa (31 Juli 2003). Islamic Banking menginginkan persentase keuntungan sebesar 20% dari pembiayaan yang diberikan dengan persentase keuntungan bank ketika menyewakan sebesar 2,857% dari harga barang. 
  • 196.
    Jawaban Kasus: Kebutuhan nasabah Nasabah inginmenyewa ruko selama 1 tahun dan kemudian memilikinya pada akhir masa sewa Kemampuan keuangan nasabah Pak Hasan hanya mampu membayar sewa secara cicilan sebesar Rp 300.000.000 per bulan Syarat pembayaran Pembayaran dilakukan pada awal secara tunai sebesar Rp 2 milyar dan pada akhir masa sewa sebesar Rp 2 milyar. Bila dibeli tunai, harganya Rp 3,5 milyar
  • 197.
    Analisis Bank Harga Barang Hargabeli tunai Keuntungan bank ketika menyewa (2,857% * Rp 3,5 milyar) Keuntungan bank ketika menjual (17,143 % * Rp 3,5 milyar) Total harga barang A. Rp 3.500.000.000 Rp 100.000.000 A. Rp 600.000.000 Rp 4.200.000.000 Rp 3.600.000.000 Kemampuan membayar nasabah A. Rp 600.000.000 Pembayaran sewa cicilan Rp 300.000.000 per bulan Rp 4.200.000.000 Pembelian ruko pada akhir masa sewa Total kemampuan membayar
  • 198.
    Struktur Akad •Bai’u wal IjarahMuntahia Bit Tamlik dengan janji untuk menjual barang tersebut pada akhir masa sewa. Rp 3,5 milyar (1/8/20) Bai’u Cash in Rp 300 juta per bulan IMBT cash in Rp 0,6 milyar (31/7/03) Bank sebagai pembeli sewa Bank sebagai penjual (31/7/03) Barang diserahkan oleh bank (31/7/03) Akad I: Bai’u Pelaku •Bank, bertindak •Pemilik barang sebagai pembeli barang sebagai penjual barang Bank sebagai pembeli (1/8/07) Barang diterima oleh bank (1/8/07) Rp Cash out Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp R p Transaksi Bank membeli barang dari pemilik barang dengan pembayaran tunai. Dengan kondisi ini, maka: •Bank mengeluarkan uang (cash out) sebesar Rp 3,5 milyar (1/8/02) sebagai pembayaran tunai atas ruko. •Bank telah dapat menyewakan ruko tersebut selama 12 bulan. Akad II: Ijarah Muntahia Bit tamlik Pelaku Transaksi •Bank bertindak Sumber Pendanaan Karena bank menerima pemasukan (cash in) setiap bulan, maka pembiayaan ini dapat didanai dengan penggunakan unrestricted investment account (URIA) sehingga bank dapat membayarkan bagi hasil setiap bulannya kepada pemegang URIA. sebagai pemberi sewa dan penjual pada akhir masa sewa. bertindak sebagai penyewa dan pada akhir masa sewa menjadi pemilik. •Bank membeli barang dari pemilik barang dengan pembayaran tunai. Dengan kondisi ini: oBank mengeluarkan uang (cash out) sebesar Rp 3,5 milyar (1/8/07) sebagai pembayaran tunai atas ruko. oBank telah dapat menyewakan ruko tersebut selama 12 bulan kepada nasabah (1/8/07). oBank menerima pembayaran sewa (cash in) sebesar Rp 300 juta setiap bulan selama 12 bulan periode yang disepakati dari nasabah. oPada akhir masa sewa, bank menerima uang pembelian barang dari nasabah sebesar Rp 0,6 milyar (31/7/08), sehingga terjadi perpindahan kepemilikan barang dan sejak saat itu nasabah sebagai pemilik barang (31/7/08). •Nasabah Ilustrasi: Bapak Ahmad hendak menyewakan sebuah ruang perkantoran di sebuah gedung selama satu tahun mulai tanggal 1 Mei 2007 sampai 1 Mei 2008. Pemilik gedung menginginkan pembayaran sewa secara tunai di muka sebesar Rp 240.000.000,-. Dengan pola pembayaran ini, kemampuan keuangan Bapak Ahmad tidak memungkinkan. Bapak Ahmad hanya dapat membayar sewa secara angsuran per bulan. Untuk memecahkan masalah ini, Bapak Ahmad mendatangi Islamic Banking untuk meminta pembiayaan, dengan memaparkan kondisi kebutuhan dan keuangannya. Analisis Islamic Banking dilakukan dengan memperhitungkan kebutuhan dan kemampuan keuangan nasabah serta required rate of profit bank (sebesar 20%): •Harga sewa 1 tahun (tunai di muka) : Rp 240.000.000 •Required rate of profit bank (20%) : Rp 48.000.000 •Harga sewa kepada nasabah : Rp 288.000.000 •Periode pembiayaan : 12 bulan (= 360 hari) •Besarnya angsuran nasabah per bulan : Rp 24.000.000 Dengan analisis tersebut, maka bentuk pembiayaan yang diberikan oleh bank kepada Bapak Ahmad adalah: •Pembiayaan ijarah, harga sewa Rp 288.000.000, selama 12 bulan (360 hari) dengan angsuran Rp 24.000.000/bulan •Pendanaan diambil dari URIA
  • 199.
    E. Sistem PembiayaanLain (Other Financing) 1. Hawalah a. Rukun Hawalah:  Pihak yang berhutang (muhil)  Pihak yang berpiutang (muhal)  Pihak yang menerima pengalihan hutangpiutang (muhal ’alaih)  Sighat (ijab qabul)
  • 200.
    b. Hawalah dalamTeknis Perbankan  Pengertian:  Hawalah adalah akad pengalihan piutang nasabah (muhal) kepada bank (muhal ’alaih). Nasabah meminta bantuan bank agar membayarkan terlebih dahulu piutangnya atas transaksi yang halal dengan pihak yang berhutang (muhil). Selanjutnya bank akan menagih kepada pihak yang berhutang tersebut.  Atas bantuannya membayarkan terlebih dahulu piutang nasabah, bank dapat membebankan fee jasa penagihan. Penetapannya dilakukan dengan memerhatikan besarkecilnya risiko tidak tertagihnya piutang.
  • 201.
    Skema Hawalah: ContohAplikasi Perbankan Penunjukan supplier (1) Supply barang (2) Invoice (3) PT Nyiur Melambai (Supplier/Muhal) PT Carefour Ind. (Pembeli/Muhil) Tagih/Invoice (7) Bayar (8) Akad Hawalah (4) Invoice (5) Bayar (6) Bank Syariah Amanah (Muhal ‘Alaih)
  • 202.
    2. Rahn a. RukunRahn  Pihak yang menggadaikan (rahin)  Pihak yang menerima gadai (murtahin)  Barang yang digadaikan (marhun.  Hutang/pinjaman (marhun bih)  Sighat (Ijab qabul)
  • 203.
    b. Syarat Rahn Pihak yang menggadaikan (rahin) dan pihak yang menerima gadai (murtahin) cakap hukum serta sama-sama ikhlas  Pihak yang menggadaikan (rahin) memunyai kemampuan untuk mengembalikan pinjaman.  Barang yang digadaikan (marhun) benar-benar milik rahin dan bebas dari ikatan atau syarat apa pun.  Jumlah hutang (marhun bih) disebutkan dengan jelas.
  • 204.
    c. Rahn dalamTeknis Perbankan    Rahn merupakan produk penunjang sebagai alternatif pegadaian, terutama untuk membantu nasabah dalam memenuhi kebutuhan insidentilnya yang mendesak. Bank tidak menarik manfaat apa pun, kecuali biaya pemeliharaan dan keamanan atas barang yang digadaikan. Akad rahn dapat pula diaplikasikan untuk memenuhi permintaan bank akan jaminan tambahan atas suatu pemberian fasilitas pembiayaan kepada nasabah.
  • 205.
    3. Qardh a. LandasanSyariah  QS Al-Hadiid [57]:11 Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memeroleh pahala yang banyak.  Hadis riwayat Muslim, “Barangsiapa yang telah melepaskan saudaranya yang muslim satu dari kesusahan dunia, maka Allah akan membantunya di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah senantiasa membantu seorang hamba selama hamba tersebut membantu saudaranya.”  Hadis riwayat Ibnu Majah, “Tidaklah seorang muslim meminjamkan muslim (lainnya) dua kali kecuali yang satunya adalah (senilai) sedekah.”  Hadis riwayat Ibnu Majah, “Aku melihat pada waktu malam di-isra-kan pada pintu surga tertulis: ‘Sedekah dibayar sepuluh kali lipat dan qardh 18 kali. Aku bertanya, ‘Wahai Jibril, mengapa qardh lebih utama daripada sedekah?’ Ia menjawab, “Karena peminta, minta sesuatu dan ia punya, sedangkan yang meminjam tidak akan meminjam kecuali keperluan.”
  • 206.
    b. Aplikasi dalamPerbankan  Mengingat sifatnya bukan transaksi komersial dan tanpa kompensasi, maka qardh menggunakan sumber dana yang berasal:  Untuk membantu dana talangan yang bersifat jangka pendek, digunakan modal bank.  Untuk membantu usaha sangat kecil dan keperluan sosial, digunakan dana yang bersumber dari zakat, infak, dan sedekah.
  • 207.
    Skema Qardh: ContohAplikasi Perbankan Akad Qardh Pinjaman dana (Qardh) (1) (1) (2) Pengelolaan (3) Nasabah (Muqtaridh) Usaha Modal Usaha (2) Bank Syariah (Muqridh) (4) 100% keuntungan (5a) Modal + Keuntungan Pengembalian Modal (5)