ASKEP
                        BPH
LANDASAN TEORI :
A. Anatomi prostat
   Kelenjar prostat merupakan salah satu organ
   dalam sistem reproduksi pria.
   Prostat merupakan jaringan yang fibromuskular
   dan granduler untuk orang dewasa dan terletak
   dibagian bawah vesika urinaria dan tepat
   disekeliling pangkal uretra serta dapat diraba
   permukaanya dengan jari melalui anus.
Kelenjar prostat tumbuh pada bulan ke 3
kehidupan janin, dari lahir sampai masa kanak
kanak kelenjar ini tetap kecil, baru pada masa
pubertas seorang pria remaja akan memiliki
kelenjar prostat sebesar kurang lebih 20-25gram,
bentuknya seperti buah kemiri, dengan warna
kemarahan dan mendapatkan aliran darah dari
arteri haemoidalis media, arteri pudenda interna
dan kembali melalui vena pleksus pelvic dan vena
hipogastrike serta dipersyarafi oleh nurvus
pudenda.
Fungsi kelenjar prostat :
1. Memproduksi dan menyimpan cairan
   semen.
2. Mendorong, merangsang atau
   mengantarkan sperma.
3. Melindung kehidupan sperma
B. Pengertian hipertropi prostat
  BPH merupakan adenomatous dari kelenjar
  bagian paling dalam (medial prostat),
  pembesaran ini menyebabkan penyempitan
  uretra, shg penderita sulit miksi.
  Sebenarnya yang terjadi bukan
  hipertropi(ukuranya membesar) tetapi
  hiperplasi (jumlah selnya yang bertambah)
C. Cara mengukur besarnya hipertropi
   prostat.
  1. Rectal grading
         Yaitu dengan rectal taucher diperkirakan
  beberapa centimeter prostat menonjol kedalam
  lumen dari rectum. Rectal taucher sebaiknya
  dilakukan dengan pengosongan buli-buli terlebih
  dahulu, bila buli2 penuh hasilnya tidak akurat.
Hasil gradasi adalah sebagai berikut :
a. 0-1cm  Grade 0
b. 1-2cm Grade 1
c. 2-3cm Grade 2
d. 3-4cm Grade 3
e. Lebih dari 4 cm  Grade 4
2. Clinical grading
   Yang menjadi patokan adalah banyaknya sisa
   urine. Pada pagi hari setelah pasien bangun,
   disuruh kencing sampai selesai, Kemudian
   dipasang kateter untuk mengeluarkan sisa urin
   dari buli-buli :
   a. Sisa urin 0 cc  Normal
   b. Sisa urin 0-50cc  Grade 1
   c. Sisa urine 50-150cc  Grade 2
   d. Sisa urine > 150 cc  Grade 3
   e. Sama sekali tidak bisa kencing  Grade 4
3. Intra uretral grading
  Melihat berapa jauh penonjolan lobus
  lateral kedalam lumen uretra. Pengukuran
  ini hanya dapat dilakukan dengan alat
  uretroscopi.
D. Pengobatan
  1. Tindakan konservatif dengan obat2an.
     cth. Testoteron untuk meningkatkan
      tonus vesika urinaria.
  2. Tindakan pembedahan
      Pembedahan diperlukan dengan indikasi
      yang bervariasi, antara lain :
       a. Adanya dilatasi traktus urinarius atas
  (hydroureter, hidroneprosis dan gangguan fungsi
  ginjal) hal ini biasanya dikonfirmasi dengan urografi.
b. Tingkat ketidakmampuan untuk miksi dan klien
   mengalami gangguan aktifitas.
c. Adanya Vesika urinaria yang tidak bisa
  dikosongkan.
d. Vesika menunjukan adanya obstruksi
  leher vesika urinaria yang lama, yang
  diakibatkan oleh dekompensasi vesika
  urinaria.
e. Sisa urine dalam vesika urinaria kurang lebih
    60cc atau lebih, serta menunjukan komplikasi
   pada vesika urinaria.
f. Hematuria yang lama dan berat karena
   tersumbatnya pembuluh2 prostat.
g. Retensi urine akut
h. Infeksi traktus urinarius yang berulang
Pembedahan prostat biasanya disebut
prostatektomi, biasanya yang diangkat
adalah jaringan adenomanya, sedangkan
jaringan prostat asli dan capsul fibrosa tidak
diangkat.
Beberapa tehnik pembedahan BPH :
1. Retropubic (extrovesical) prostatektomi :
    insisi abdomen bagian bawah, lalu kelenjar
    prostat diangkat tanpa membuka dinding
    kandung kencing.
2. Suprapubic (tranvesical) prostatektomi :
    Kelenjar prostat diangkat melalui sayatan
    dinding perut dengan membuka kandung
    kencing.
3. Perianal prostatektomi :
  Kelenjar prostat dibuang melalui perinium,
  prosedur ini dilakukan pada dugaan
  carsinoma prostat dini.
4. Transuretral resection prostat (TUR-P) :
  Kelenjar prostat diangkat(dikerok) lewat
  uretra.
Diagnosa keperawatan yang sering
      muncul pada penderita BPH


1. Gangguan pola eliminasi BAK
   sehubungan dengan peradangan pada
   saluran kencing yang ditandai dengan :
   - Klien mengatakan sakit dan panas saat
   BAK.
   - Jumlah urine sedikit
   - Setiap BAK sedikit-sedikit
Intervensi :
-   Kaji pola dan frekwensi BAK klien sehari-hari.
-   Observasi intake dan out put
-   Observasi warna, jumlah, BJ dan bau urine
-   Berikan HE pada klien bahwa gangguan
    eliminasi hanya bersifat sementara dan akan
    kembali normal apabila peradangan telah
    sembuh.
-   Dorong klien untuk menceritakan masalah
    yang dihadapinya sehubungan dengan
    kesulitan BAK
2. Gangguan rasa nyaman nyeri sehubungan dengan spasme
   blass.
   Intervensi :
   - Berikan posisi yang nyaman
   - Ciptakan lingkungan yang tenang
   - Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi
   - Kolaborasi untuk pemberian analgetika dan anti
    spasmodik.
3. Kurangannya pengetahuan tentang proses dan
   penyembuhan penyakit.
   Intervensi :
   - Jelaskan pada pasien tentang
    proses dan penyembuhan
    penyakit.
   - Berikan kesempatan kepada klien
    dan keluarga untuk mengekpresikan
    perasaanya.
4. Potensial infeksi sehubungan dengan pemasangan
   kateter.
   Intervensi :
   - Pasang kateter urine dengan tehnik
    septik aseptik.
   - Pertahankan kateter urine maksimal 7
    hari kemudian ganti
   - Pasang urine bag lebih rendah dari
    posisi pasien
   - Observasi jumlah, warna, BJ dan bau urine
   - Kolaborasi untuk pemberian obat antibiotik dan
     pemeriksaan laboratorium.
5. Potensial kerusakan integritas kulit
  sehubungan dengan urine menetes.
  Intervensi ;
  - Keringkan sekitar kemaluan dari urine.
  - Bersihkan dan beri betadine pada pangkal
  kateter
  - Ganti celana dalam bila basah
6. Potensial terjadinya kelebihan cairan
  sehubungan dengan gangguan mekanisme
  regulasi ginjal.
  Intervensi :
  - Kontrol intake dan out put
  - Kolaborasi untuk pemasangan
   kateter
  - Restriksi cairan masuk.
Askep bph

Askep bph

  • 1.
    ASKEP BPH LANDASAN TEORI : A. Anatomi prostat Kelenjar prostat merupakan salah satu organ dalam sistem reproduksi pria. Prostat merupakan jaringan yang fibromuskular dan granduler untuk orang dewasa dan terletak dibagian bawah vesika urinaria dan tepat disekeliling pangkal uretra serta dapat diraba permukaanya dengan jari melalui anus.
  • 2.
    Kelenjar prostat tumbuhpada bulan ke 3 kehidupan janin, dari lahir sampai masa kanak kanak kelenjar ini tetap kecil, baru pada masa pubertas seorang pria remaja akan memiliki kelenjar prostat sebesar kurang lebih 20-25gram, bentuknya seperti buah kemiri, dengan warna kemarahan dan mendapatkan aliran darah dari arteri haemoidalis media, arteri pudenda interna dan kembali melalui vena pleksus pelvic dan vena hipogastrike serta dipersyarafi oleh nurvus pudenda.
  • 3.
    Fungsi kelenjar prostat: 1. Memproduksi dan menyimpan cairan semen. 2. Mendorong, merangsang atau mengantarkan sperma. 3. Melindung kehidupan sperma
  • 4.
    B. Pengertian hipertropiprostat BPH merupakan adenomatous dari kelenjar bagian paling dalam (medial prostat), pembesaran ini menyebabkan penyempitan uretra, shg penderita sulit miksi. Sebenarnya yang terjadi bukan hipertropi(ukuranya membesar) tetapi hiperplasi (jumlah selnya yang bertambah)
  • 5.
    C. Cara mengukurbesarnya hipertropi prostat. 1. Rectal grading Yaitu dengan rectal taucher diperkirakan beberapa centimeter prostat menonjol kedalam lumen dari rectum. Rectal taucher sebaiknya dilakukan dengan pengosongan buli-buli terlebih dahulu, bila buli2 penuh hasilnya tidak akurat.
  • 6.
    Hasil gradasi adalahsebagai berikut : a. 0-1cm  Grade 0 b. 1-2cm Grade 1 c. 2-3cm Grade 2 d. 3-4cm Grade 3 e. Lebih dari 4 cm  Grade 4
  • 7.
    2. Clinical grading Yang menjadi patokan adalah banyaknya sisa urine. Pada pagi hari setelah pasien bangun, disuruh kencing sampai selesai, Kemudian dipasang kateter untuk mengeluarkan sisa urin dari buli-buli : a. Sisa urin 0 cc  Normal b. Sisa urin 0-50cc  Grade 1 c. Sisa urine 50-150cc  Grade 2 d. Sisa urine > 150 cc  Grade 3 e. Sama sekali tidak bisa kencing  Grade 4
  • 8.
    3. Intra uretralgrading Melihat berapa jauh penonjolan lobus lateral kedalam lumen uretra. Pengukuran ini hanya dapat dilakukan dengan alat uretroscopi.
  • 9.
    D. Pengobatan 1. Tindakan konservatif dengan obat2an. cth. Testoteron untuk meningkatkan tonus vesika urinaria. 2. Tindakan pembedahan Pembedahan diperlukan dengan indikasi yang bervariasi, antara lain : a. Adanya dilatasi traktus urinarius atas (hydroureter, hidroneprosis dan gangguan fungsi ginjal) hal ini biasanya dikonfirmasi dengan urografi.
  • 10.
    b. Tingkat ketidakmampuanuntuk miksi dan klien mengalami gangguan aktifitas. c. Adanya Vesika urinaria yang tidak bisa dikosongkan. d. Vesika menunjukan adanya obstruksi leher vesika urinaria yang lama, yang diakibatkan oleh dekompensasi vesika urinaria. e. Sisa urine dalam vesika urinaria kurang lebih 60cc atau lebih, serta menunjukan komplikasi pada vesika urinaria.
  • 11.
    f. Hematuria yanglama dan berat karena tersumbatnya pembuluh2 prostat. g. Retensi urine akut h. Infeksi traktus urinarius yang berulang
  • 12.
    Pembedahan prostat biasanyadisebut prostatektomi, biasanya yang diangkat adalah jaringan adenomanya, sedangkan jaringan prostat asli dan capsul fibrosa tidak diangkat.
  • 13.
    Beberapa tehnik pembedahanBPH : 1. Retropubic (extrovesical) prostatektomi : insisi abdomen bagian bawah, lalu kelenjar prostat diangkat tanpa membuka dinding kandung kencing. 2. Suprapubic (tranvesical) prostatektomi : Kelenjar prostat diangkat melalui sayatan dinding perut dengan membuka kandung kencing.
  • 14.
    3. Perianal prostatektomi: Kelenjar prostat dibuang melalui perinium, prosedur ini dilakukan pada dugaan carsinoma prostat dini. 4. Transuretral resection prostat (TUR-P) : Kelenjar prostat diangkat(dikerok) lewat uretra.
  • 15.
    Diagnosa keperawatan yangsering muncul pada penderita BPH 1. Gangguan pola eliminasi BAK sehubungan dengan peradangan pada saluran kencing yang ditandai dengan : - Klien mengatakan sakit dan panas saat BAK. - Jumlah urine sedikit - Setiap BAK sedikit-sedikit
  • 16.
    Intervensi : - Kaji pola dan frekwensi BAK klien sehari-hari. - Observasi intake dan out put - Observasi warna, jumlah, BJ dan bau urine - Berikan HE pada klien bahwa gangguan eliminasi hanya bersifat sementara dan akan kembali normal apabila peradangan telah sembuh. - Dorong klien untuk menceritakan masalah yang dihadapinya sehubungan dengan kesulitan BAK
  • 17.
    2. Gangguan rasanyaman nyeri sehubungan dengan spasme blass. Intervensi : - Berikan posisi yang nyaman - Ciptakan lingkungan yang tenang - Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi - Kolaborasi untuk pemberian analgetika dan anti spasmodik.
  • 18.
    3. Kurangannya pengetahuantentang proses dan penyembuhan penyakit. Intervensi : - Jelaskan pada pasien tentang proses dan penyembuhan penyakit. - Berikan kesempatan kepada klien dan keluarga untuk mengekpresikan perasaanya.
  • 19.
    4. Potensial infeksisehubungan dengan pemasangan kateter. Intervensi : - Pasang kateter urine dengan tehnik septik aseptik. - Pertahankan kateter urine maksimal 7 hari kemudian ganti - Pasang urine bag lebih rendah dari posisi pasien - Observasi jumlah, warna, BJ dan bau urine - Kolaborasi untuk pemberian obat antibiotik dan pemeriksaan laboratorium.
  • 20.
    5. Potensial kerusakanintegritas kulit sehubungan dengan urine menetes. Intervensi ; - Keringkan sekitar kemaluan dari urine. - Bersihkan dan beri betadine pada pangkal kateter - Ganti celana dalam bila basah
  • 21.
    6. Potensial terjadinyakelebihan cairan sehubungan dengan gangguan mekanisme regulasi ginjal. Intervensi : - Kontrol intake dan out put - Kolaborasi untuk pemasangan kateter - Restriksi cairan masuk.