HUKUM ANTI MONOPOLI &
PERSAINGAN PERUSAHAAN
Kartel Cabai
 https://m.tempo.co/read/news/2017/03/06/09085
3024/kartel-cabai-ini-modus-para-tersangka
 TEMPO.CO, Jakarta - Polisi telah mengendus
modus para tersangka yang diduga terlibat dalam
kartel cabai di Jawa. Menurut Direktur Tindak Pidana
Ekonomi dan Khusus Badan Reserse Kriminal
Kepolisian RI Brigadir Jenderal Agung Setya, modus
yang dilakukan para tersangka adalah bersepakat
menetapkan harga di antara mereka dan
mengajukan penawaran ke industri yang
membutuhkan cabai sebagai bahan baku.
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)
menggandeng Badan Reserse Kriminal Mabes Polri
untuk menyelidiki dugaan praktik kartel cabai di
Indonesia.
Kartel Yamaha-Honda
 http://otomotif.kompas.com/read/2017/02/20/140448
115/keputusan.sidang.kppu.yamaha.dan.honda.terb
ukti.kartel.
 Jakarta, KompasOtomotif — Komisi Pengawas
Persaingan Usaha (KPPU) memutuskan bahwa
Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) dan
Astra Honda Motor (AHM) terbukti melakukan
pelanggaran terhadap Undang-Undang No 5 Pasal 5
Tahun 1999 tentang penetapan harga.
 Kedua perusahaan itu diputuskan terbukti
melakukan praktik kartel sesuai perkara 04/KPPU-
I/2016 tentang dugaan kartel yang dibacakan saat
sidang di kantor KPPU Jakarta, Senin (20/2/2017).
Efek Vonis Kartel Yamaha-Honda
 http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20170306153637-384-
198160/efek-samping-vonis-kppu-atas-kartel-yamaha-dan-
honda/
 Jakarta, CNN Indonesia -- Vonis yang sudah diputus oleh
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terhadap Astra
Honda Motor dan Yamaha Indonesia Manufacturing Motor
bagi sebagian pihak dianggap akan banyak merugikan industri
sepeda motor di tanah air, bahkan diprediksi dapat merusak
iklim investasi.
Sebagai terlapor, Deputy Head of Corporate Communication
Astra Honda Motor AHM Ahmad Muhibbuddin mengaku vonis
tersebut tidak akan berdampak negatif terhadap penjualannya
di Indonesia. Meski begitu, bukan tidak mungkin, vonis akan
merusak citra yang sudah dibangun Honda.
"Lebih ke brand image," kata Muhibbuddin.
Tujuan UU No. 5 Th 1999
 untuk memelihara pasar kompetitif dari pengaruh
kesepakatan dan konspirasi yang cenderung
mengurangi dan atau menghilangkan persaingan.
 Kepedulian utama dari UU persaingan usaha adalah
promoting competition dan memperkuat kedaulatan
konsumen.
Kegiatan yg Dilarang
 Monopoli
 Adalah penguasaan atas produksi dan atau
pemasaran barang dan atau atas penggunaan jasa
tertentu oleh satu pelaku usaha atau satu kelompok
pelaku usaha.
 Pelaku usaha dilarang melakukan penguasaan atas
produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa
yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik
monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.
 Pelaku usaha patut diduga atau dianggap
melakukan penguasaan atas produksi dan atau
pemasaran barang dan atau jasa sebagaimana
maksud dalam ayat (1) apabila: Barang dan atau
jasa yang bersangkutan belum ada subtitusinya;
 Mengakibatkan pelaku usaha lain tidak dapat masuk
dalam persaingan dan atau jasa yang sama; atau,
 Satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku
usaha menguasai lebih dari 50 % (lima puluh
persen) pasangsa pasar atau jenis barang atau jasa
tertentu.
Kegiatan yg Dilarang
 Monopsoni
 Adalah situasi pasar dimana hanya ada satu pelaku
usaha atau kelompok pelaku usaha yang menguasai
pangsa pasar yang besar yang bertindak sebagai
pembeli tunggal, sementara pelaku usaha atau
kelompok pelaku usaha yang bertindak sebagai
penjual jumlahnya banyak.
 Penguasaan Pasar
1. menolak dan atau menghalangi pelaku usaha
tertentu untuk melakukan kegiatan usaha yang
sama pada pasar yang bersangkutan;
2. menghalangi konsumen atau pelanggan pelaku
usaha pesaingnya untuk tidak melakukan
hubungan usaha dengan pelaku usaha
pesaingnya;
3. membatasi peredaran dan atau penjualan barang
dan atau jasa pada pasar bersangkutan;
4. melakukan praktik diskriminasi terhadap pelaku
usaha tertentu.
 Persekongkolan
 Adalah bentuk kerjasama yang dilakukan oleh
pelaku usaha dengan pelaku usaha lain dengan
maksud untuk menguasai pasar bersangkutan bagi
kepentingan pelaku usaha yang bersekongkol (pasal
1 angka 8 UU No.5/1999).
 Posisi Dominan
 Artinya pengaruhnya sangat kuat, dalam Pasal 1
angka 4 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999
menyebutkan posisi dominan merupakan suatu
keadaan dimana pelaku usaha tidak mempunyai
pesaing yang berarti di pasar bersangkutan dalam
kaitan dengan pangsa yang dikuasai atau pelaku
usaha mempunyai posisi tertinggi diantara
pesaingnya di pasar bersangkutan dalam kaitan
dengan kemampuan keuangan, kemampuan akses
pada pasokan, penjualan, serta kemampuan untuk
menyesuaikan pasokan dan permintaan barang atau
jasa tertentu.
 Jabatan Rangkap
 Pasal 26 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 :
bahwa seorang yang menduduki jabatan sebagai
direksi atau komisaris dari suatu perusahaan, pada
waktu yang bersamaan dilarang merangkap menjadi
direksi atau komisaris pada perusahaan lain.
 Pemilikan Saham
 Berdasarkan Pasal 27 Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1999 dikatakan bahwa pelaku usaha dilarang
memiliki saham mayoritas pada beberapa
perusahaan sejenis, melakukan kegiatan usaha
dalam bidang sama pada saat bersangkutan yang
sama atau mendirikan beberapa perusahaan yang
sama.
 Penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan
 Pasal 28 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999,
mengatakan bahwa pelaku usaha yang berbadan
hukum maupun yang bukan berbadan hukum yang
menjalankan perusahaan bersifat tetap dan terus
menerus dengan tujuan mencari keuntungan.
Perjanjian Yang Dilarang
 Oligopoli
 Adalah keadaan pasar dengan produsen dan
pembeli barang hanya berjumlah sedikit, sehingga
mereka atau seorang dari mereka dapat
mempengaruhi harga pasar.
Penetapan Harga
Dalam rangka penetralisasi pasar, pelaku usaha dilarang
membuat perjanjian, antara lain :
1. Perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk
menetapkan harga atas barang dan atau jasa yang harus
dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada pasar
bersangkutan yang sama ;
2. Perjanjian yang mengakibatkan pembeli yang harus
membayar dengan harga yang berbeda dari harga yang
harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang dan atau jasa
yang sama ;
3. Perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk
menetapkan harga di bawah harga pasar ;
4. Perjanjian dengan pelaku usaha lain yang memuat
persyaratan bahwa penerima barang dan atau jasa tidak
menjual atau memasok kembali barang dan atau jasa yang
diterimanya dengan harga lebih rendah daripada harga yang
 Pembagian wilayah
 Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan
pelaku usaha pesaingnya yang bertujuan untuk
membagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar
terhadap barang dan atau jasa.
 Pemboikotan
 Pelaku usaha dilarang untuk membuat perjanjian
dengan pelaku usaha pesaingnya yang dapat
menghalangi pelaku usaha lain untuk melakukan
usaha yang sama, baik untuk tujuan pasar dalam
negeri maupun pasar luar negeri.
 Kartel
 Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan
pelaku usaha pesaingnya yang bermaksud untuk
mempengaruhi harga dengan mengatur produksi
dan atau pemasaran suatu barang dan atau jasa.
 Trust
 Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan
pelaku usaha lain untuk melakukan kerja sama
dengan membentuk gabungan perusahaan atau
perseroan yang lebih besar, dengan tetap menjaga
dan mempertahankan kelangsungan hidup tiap-tiap
perusahaan atau perseroan anggotanya, yang
bertujuan untuk mengontrol produksi dan atau
pemasaran atas barang dan atau jasa.
 Oligopsoni
 Keadaan dimana dua atau lebih pelaku usaha
menguasai penerimaan pasokan atau menjadi
pembeli tunggal atas barang dan/atau jasa dalam
suatu pasar komoditas.
 Integrasi vertikal
 Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan
pelaku usaha lain yang bertujuan untuk menguasai
produksi sejumlah produk yang termasuk dalam
rangkaian produksi barang dan atau jasa tertentu
yang mana setiap rangkaian produksi merupakan
hasil pengelolaan atau proses lanjutan baik dalam
satu rangkaian langsung maupun tidak langsung.
 Perjanjian tertutup
 Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan
pelaku usaha lain yang memuat persyaratan bahwa
pihak yang menerima barang dan atau jasa hanya
akan memasok atau tidak memasok kembali barang
dan atau jasa tersebut kepada pihak tertentu dan
atau pada tempat tertentu.
 Perjanjian dengan pihak luar negeri
 Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan
pihak luar negeri yang memuat ketentuan yang
dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli
dan atau persaingan usaha tidak sehat.
Komisi Pengawasan Persaingan Usaha
 Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) adalah
sebuah lembaga independen di Indonesia yang
dibentuk untuk memenuhi amanat Undang-Undang
no. 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli
dan persaingan usaha tidak sehat.
Sanksi Pidana
 Pasal 48
 Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 4, Pasal 9 sampai
dengan Pasal 14, Pasal 16 sampai dengan Pasal 19, Pasal
25, Pasal 27, dan Pasal 28 diancam pidana denda serendah-
rendahnya Rp25.000.000.000 (dua puluh lima miliar rupiah)
dan setinggi-tingginya Rp100.000.000.000 (seratus miliar
rupiah), atau pidana kurungan pengganti denda selama-
lamanya 6 (enam) bulan.
 Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 5 sampai dengan
Pasal 8, Pasal 15, Pasal 20 sampai dengan Pasal 24, dan
Pasal 26 Undang-Undang ini diancam pidana denda
serendah-rendahnya Rp5.000.000.000 ( lima miliar rupiah)
dan setinggi-tingginya Rp25.000.000.000 (dua puluh lima
miliar rupialh), atau pidana kurungan pengganti denda
selama-lamanya 5 (lima) bulan.
 Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 41 Undang-undang ini
diancam pidana denda serendah-rendahnya Rp1.000.000.000
(satu miliar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp5.000.000.000
(lima miliar rupiah), atau pidana kurungan pengganti denda
selama-lamanya 3 (tiga) bulan.
Sanksi Administratif
 Pasal 49
 Dengan menunjuk ketentuan Pasal 10 Kitab Undang-
undang Hukum Pidana, terhadap pidana sebagaimana
diatur dalam Pasal 48 dapat dijatuhkan pidana tambahan
berupa
1. pencabutan izin usaha; atau
2. larangan kepada pelaku usaha yang telah terbukti
melakukan pelanggaran terhadap undang-undang ini
untuk menduduki jabatan direksi atau komisaris
sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dan selama-
lamanya 5 (lima) tahun; atau
3. penghentian kegiatan atau tindakan tertentu yang
menyebabkan timbulnva kerugian pada pihak lain.

11 hk. antimonopoli

  • 1.
    HUKUM ANTI MONOPOLI& PERSAINGAN PERUSAHAAN
  • 2.
    Kartel Cabai  https://m.tempo.co/read/news/2017/03/06/09085 3024/kartel-cabai-ini-modus-para-tersangka TEMPO.CO, Jakarta - Polisi telah mengendus modus para tersangka yang diduga terlibat dalam kartel cabai di Jawa. Menurut Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI Brigadir Jenderal Agung Setya, modus yang dilakukan para tersangka adalah bersepakat menetapkan harga di antara mereka dan mengajukan penawaran ke industri yang membutuhkan cabai sebagai bahan baku. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menggandeng Badan Reserse Kriminal Mabes Polri untuk menyelidiki dugaan praktik kartel cabai di Indonesia.
  • 3.
    Kartel Yamaha-Honda  http://otomotif.kompas.com/read/2017/02/20/140448 115/keputusan.sidang.kppu.yamaha.dan.honda.terb ukti.kartel. Jakarta, KompasOtomotif — Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memutuskan bahwa Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) dan Astra Honda Motor (AHM) terbukti melakukan pelanggaran terhadap Undang-Undang No 5 Pasal 5 Tahun 1999 tentang penetapan harga.  Kedua perusahaan itu diputuskan terbukti melakukan praktik kartel sesuai perkara 04/KPPU- I/2016 tentang dugaan kartel yang dibacakan saat sidang di kantor KPPU Jakarta, Senin (20/2/2017).
  • 4.
    Efek Vonis KartelYamaha-Honda  http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20170306153637-384- 198160/efek-samping-vonis-kppu-atas-kartel-yamaha-dan- honda/  Jakarta, CNN Indonesia -- Vonis yang sudah diputus oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terhadap Astra Honda Motor dan Yamaha Indonesia Manufacturing Motor bagi sebagian pihak dianggap akan banyak merugikan industri sepeda motor di tanah air, bahkan diprediksi dapat merusak iklim investasi. Sebagai terlapor, Deputy Head of Corporate Communication Astra Honda Motor AHM Ahmad Muhibbuddin mengaku vonis tersebut tidak akan berdampak negatif terhadap penjualannya di Indonesia. Meski begitu, bukan tidak mungkin, vonis akan merusak citra yang sudah dibangun Honda. "Lebih ke brand image," kata Muhibbuddin.
  • 5.
    Tujuan UU No.5 Th 1999  untuk memelihara pasar kompetitif dari pengaruh kesepakatan dan konspirasi yang cenderung mengurangi dan atau menghilangkan persaingan.  Kepedulian utama dari UU persaingan usaha adalah promoting competition dan memperkuat kedaulatan konsumen.
  • 6.
    Kegiatan yg Dilarang Monopoli  Adalah penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau atas penggunaan jasa tertentu oleh satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha.
  • 7.
     Pelaku usahadilarang melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.  Pelaku usaha patut diduga atau dianggap melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa sebagaimana maksud dalam ayat (1) apabila: Barang dan atau jasa yang bersangkutan belum ada subtitusinya;
  • 8.
     Mengakibatkan pelakuusaha lain tidak dapat masuk dalam persaingan dan atau jasa yang sama; atau,  Satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50 % (lima puluh persen) pasangsa pasar atau jenis barang atau jasa tertentu.
  • 9.
    Kegiatan yg Dilarang Monopsoni  Adalah situasi pasar dimana hanya ada satu pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha yang menguasai pangsa pasar yang besar yang bertindak sebagai pembeli tunggal, sementara pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha yang bertindak sebagai penjual jumlahnya banyak.
  • 10.
     Penguasaan Pasar 1.menolak dan atau menghalangi pelaku usaha tertentu untuk melakukan kegiatan usaha yang sama pada pasar yang bersangkutan; 2. menghalangi konsumen atau pelanggan pelaku usaha pesaingnya untuk tidak melakukan hubungan usaha dengan pelaku usaha pesaingnya; 3. membatasi peredaran dan atau penjualan barang dan atau jasa pada pasar bersangkutan; 4. melakukan praktik diskriminasi terhadap pelaku usaha tertentu.
  • 11.
     Persekongkolan  Adalahbentuk kerjasama yang dilakukan oleh pelaku usaha dengan pelaku usaha lain dengan maksud untuk menguasai pasar bersangkutan bagi kepentingan pelaku usaha yang bersekongkol (pasal 1 angka 8 UU No.5/1999).
  • 12.
     Posisi Dominan Artinya pengaruhnya sangat kuat, dalam Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 menyebutkan posisi dominan merupakan suatu keadaan dimana pelaku usaha tidak mempunyai pesaing yang berarti di pasar bersangkutan dalam kaitan dengan pangsa yang dikuasai atau pelaku usaha mempunyai posisi tertinggi diantara pesaingnya di pasar bersangkutan dalam kaitan dengan kemampuan keuangan, kemampuan akses pada pasokan, penjualan, serta kemampuan untuk menyesuaikan pasokan dan permintaan barang atau jasa tertentu.
  • 13.
     Jabatan Rangkap Pasal 26 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 : bahwa seorang yang menduduki jabatan sebagai direksi atau komisaris dari suatu perusahaan, pada waktu yang bersamaan dilarang merangkap menjadi direksi atau komisaris pada perusahaan lain.
  • 14.
     Pemilikan Saham Berdasarkan Pasal 27 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 dikatakan bahwa pelaku usaha dilarang memiliki saham mayoritas pada beberapa perusahaan sejenis, melakukan kegiatan usaha dalam bidang sama pada saat bersangkutan yang sama atau mendirikan beberapa perusahaan yang sama.
  • 15.
     Penggabungan, peleburan,dan pengambilalihan  Pasal 28 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, mengatakan bahwa pelaku usaha yang berbadan hukum maupun yang bukan berbadan hukum yang menjalankan perusahaan bersifat tetap dan terus menerus dengan tujuan mencari keuntungan.
  • 16.
    Perjanjian Yang Dilarang Oligopoli  Adalah keadaan pasar dengan produsen dan pembeli barang hanya berjumlah sedikit, sehingga mereka atau seorang dari mereka dapat mempengaruhi harga pasar.
  • 17.
    Penetapan Harga Dalam rangkapenetralisasi pasar, pelaku usaha dilarang membuat perjanjian, antara lain : 1. Perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga atas barang dan atau jasa yang harus dibayar oleh konsumen atau pelanggan pada pasar bersangkutan yang sama ; 2. Perjanjian yang mengakibatkan pembeli yang harus membayar dengan harga yang berbeda dari harga yang harus dibayar oleh pembeli lain untuk barang dan atau jasa yang sama ; 3. Perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya untuk menetapkan harga di bawah harga pasar ; 4. Perjanjian dengan pelaku usaha lain yang memuat persyaratan bahwa penerima barang dan atau jasa tidak menjual atau memasok kembali barang dan atau jasa yang diterimanya dengan harga lebih rendah daripada harga yang
  • 18.
     Pembagian wilayah Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya yang bertujuan untuk membagi wilayah pemasaran atau alokasi pasar terhadap barang dan atau jasa.
  • 19.
     Pemboikotan  Pelakuusaha dilarang untuk membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya yang dapat menghalangi pelaku usaha lain untuk melakukan usaha yang sama, baik untuk tujuan pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri.
  • 20.
     Kartel  Pelakuusaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha pesaingnya yang bermaksud untuk mempengaruhi harga dengan mengatur produksi dan atau pemasaran suatu barang dan atau jasa.
  • 21.
     Trust  Pelakuusaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain untuk melakukan kerja sama dengan membentuk gabungan perusahaan atau perseroan yang lebih besar, dengan tetap menjaga dan mempertahankan kelangsungan hidup tiap-tiap perusahaan atau perseroan anggotanya, yang bertujuan untuk mengontrol produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa.
  • 22.
     Oligopsoni  Keadaandimana dua atau lebih pelaku usaha menguasai penerimaan pasokan atau menjadi pembeli tunggal atas barang dan/atau jasa dalam suatu pasar komoditas.
  • 23.
     Integrasi vertikal Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang bertujuan untuk menguasai produksi sejumlah produk yang termasuk dalam rangkaian produksi barang dan atau jasa tertentu yang mana setiap rangkaian produksi merupakan hasil pengelolaan atau proses lanjutan baik dalam satu rangkaian langsung maupun tidak langsung.
  • 24.
     Perjanjian tertutup Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha lain yang memuat persyaratan bahwa pihak yang menerima barang dan atau jasa hanya akan memasok atau tidak memasok kembali barang dan atau jasa tersebut kepada pihak tertentu dan atau pada tempat tertentu.
  • 25.
     Perjanjian denganpihak luar negeri  Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pihak luar negeri yang memuat ketentuan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.
  • 26.
    Komisi Pengawasan PersainganUsaha  Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) adalah sebuah lembaga independen di Indonesia yang dibentuk untuk memenuhi amanat Undang-Undang no. 5 tahun 1999 tentang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.
  • 27.
    Sanksi Pidana  Pasal48  Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 4, Pasal 9 sampai dengan Pasal 14, Pasal 16 sampai dengan Pasal 19, Pasal 25, Pasal 27, dan Pasal 28 diancam pidana denda serendah- rendahnya Rp25.000.000.000 (dua puluh lima miliar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp100.000.000.000 (seratus miliar rupiah), atau pidana kurungan pengganti denda selama- lamanya 6 (enam) bulan.  Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 5 sampai dengan Pasal 8, Pasal 15, Pasal 20 sampai dengan Pasal 24, dan Pasal 26 Undang-Undang ini diancam pidana denda serendah-rendahnya Rp5.000.000.000 ( lima miliar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp25.000.000.000 (dua puluh lima miliar rupialh), atau pidana kurungan pengganti denda selama-lamanya 5 (lima) bulan.  Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 41 Undang-undang ini diancam pidana denda serendah-rendahnya Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp5.000.000.000 (lima miliar rupiah), atau pidana kurungan pengganti denda selama-lamanya 3 (tiga) bulan.
  • 28.
    Sanksi Administratif  Pasal49  Dengan menunjuk ketentuan Pasal 10 Kitab Undang- undang Hukum Pidana, terhadap pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 48 dapat dijatuhkan pidana tambahan berupa 1. pencabutan izin usaha; atau 2. larangan kepada pelaku usaha yang telah terbukti melakukan pelanggaran terhadap undang-undang ini untuk menduduki jabatan direksi atau komisaris sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dan selama- lamanya 5 (lima) tahun; atau 3. penghentian kegiatan atau tindakan tertentu yang menyebabkan timbulnva kerugian pada pihak lain.