Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
1
LANDASAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN
“Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak Remaja
Ditinjau dari Tahap-tahap Perkembangan Psikolo...
2
A. Latar Belakang
Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang jiwa manusia. Sebagai orang tua,
memahami hal-hal ya...
3
dan bertindak tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang. Pada masa remaja disebut
sebagai masa storm and stress, ...
4
bertanggung jawab yaitu belajar dengan giat dan rajin (Natawidjaja, 1979). Munculnya perasaan
tanggung jawab pada remaja...
5
1. Memberikan pengetahuan kepada anak tentang tugas perkembangannya di usia remaja
Perkembangan adalah proses perubahan ...
6
tingginya kenakalan remaja yang akhir-akhir ini terjadi sehingga orang tua perlu memberikan
penekanan anak pada pendidik...
7
a. Orang tua tidak boleh bersikap otoriter dalam menghadapi anak remaja
Banyak orang tua menganggap bahwa sebagai anak m...
8
b. Memposisikan orang tua sebagai sahabat, pendengar yang baik atas keluhan
anak remaja
Lingkungan teman sebaya dirasa a...
9
terkontrol (lost control).
Apalagi saat remaja mulai menyenangi lawan jenis, itu sangat normal terjadi sebab
remaja tela...
10
bagi orang dewasa (Natawidjaja, 1979). Hal lain yang biasanya orang tua lakukan pada anak
remaja adalah mengkritik terh...
11
sikap dan perilaku remaja dalam kehidupan mereka sehari-hari, menyediakan waktu untuk
mendampingi mereka, dan menjadi t...
12
DAFTAR RUJUKAN
Mulyadi, Seto. 1999. Sosialisasi Pada Anak: Seri Psikologi Anak 6. Jakarta: PT Elex Media
Computindo
Nat...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Paper Landasan Pendidikan: Landasan Psikologi dalam Pendidikan//Nurul Hasanah Geo PPS UM

pendidikan pada dasarnya dilandasi oleh beberapa hal, salah satunya landasan psikologi..

Related Books

Free with a 30 day trial from Scribd

See all
  • Be the first to comment

Paper Landasan Pendidikan: Landasan Psikologi dalam Pendidikan//Nurul Hasanah Geo PPS UM

  1. 1. 1 LANDASAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN “Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak Remaja Ditinjau dari Tahap-tahap Perkembangan Psikologi Anak” MAKALAH Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Landasan Pendidikan Yang Dibina Oleh Bapak Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Pd Oleh: Nurul Hasanah 130721818324 UNIVERSITAS NEGERI MALANG PROGRAM PASCASARJANA JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI DESEMBER 2013
  2. 2. 2 A. Latar Belakang Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang jiwa manusia. Sebagai orang tua, memahami hal-hal yang berkaitan dengan aspek kejiwaan anak merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam mendidik anaknya. Oleh karena itu, landasan psikologi merupakan salah satu landasan yang penting dalam bidang pendidikan. Landasan psikologi pendidikan adalah suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya serta gejala-gejala yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu untuk mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan tahapan-tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan (Tirtarahardja, 2005:106). Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa landasan psikologis pendidikan di dalamnya mempelajari adanya suatu proses perkembangan psikologi secara bertahap yaitu proses terjadinya perubahan baik secara fisik maupun mental sejak manusia mulai berada di dalam kandungan sampai meninggal. Proses perkembangan tersebut terjadi dikarenakan manusia mengalami kematangan dan proses belajar dari waktu ke waktu. Makin besar anak itu, makin berkembang pula jiwanya. Melalui tahap-tahap tertentu akhirnya anak itu mencapai kedewasaan baik dari segi kejiwaan maupun dari segi jasmani (Pidarta, 2007). Dalam perkembangan jiwa dan jasmani inilah seharusnya anak-anak belajar, sebab pada masa ini mereka peka terhadap belajar, memiliki waktu yang banyak untuk belajar, belum berumah tangga dan belum bekerja. Namun, secara psikologis tahap belajar ini bertingkat-tingkat sesuai dengan fase perkembangan anak. Oleh sebab itu, layanan-layanan pendidikan terhadap anak juga harus dibuat bertingkat-tingkat sesuai dengan usia perkembangannya. Havinghurst (dalam Pidarta, 2007) membagi perkembangan individu menjadi empat tahap, yaitu masa bayi dan kanak-kanak kecil (0-6 tahun), masa kanak-kanak (6-12 tahun), masa remaja atau adolesen (12-18 tahun), dan masa dewasa (18 tahun ke atas). Di antara tahap-tahap perkembangan tersebut, tahap perkembangan yang penuh dengan polemik adalah ketika manusia berada pada tahap remaja atau adolesen. Masa remaja merupakan suatu periode transisi dari masa awal anak-anak hingga masa awal dewasa yang dimasuki pada usia kira-kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun (Wikipedia, 2013). Remaja berada pada posisi di antara anak-anak dan orang dewasa. Mereka bukanlah sosok anak-anak, baik dari bentuk badan ataupun cara berfikir
  3. 3. 3 dan bertindak tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang. Pada masa remaja disebut sebagai masa storm and stress, yaitu masa badai dan ketegangan, masa yang penuh pertentangan dan perlawanan, bertolak belakang dari masa kecil yang lebih aman dan lebih mudah diatur. Masa remaja merupakan tahap perkembangan yang harus dilewati dengan berbagai kesulitan. Dalam menghadapi hal tersebut, diperlukan pendidikan psikologi yang harus diterima oleh remaja agar terbentuk karakter yang sesuai dengan tugas perkembangannya. Tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang harus diselesaikan individu pada fase-fase atau periode kehidupan tertentu apabila berhasil mencapainya mereka akan berbahagia, tetapi sebaliknya apabila mereka gagal akan kecewa dan dicela orang tua atau masyarakat dan perkembangan selanjutnya juga akan mengalami kesulitan. Menurut Havinghurst (dalam Pidarta, 2007) tugas perkembangan pada masa remaja idealnya adalah: Menerima keadaan jasmaniah dan menggunakannya secara efektif, menerima peranan sosial sesuai jenis kelamin sebagai pria maupun wanita, mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya, belajar bergaul dengan kelompok teman sebaya dari kedua jenis kelamin, persiapan mandiri secara ekonomi, memilih dan menyiapkan jabatan, mempersiapkan perkawinan dan kehidupan berkeluarga, mengembangkan keterampilan dan konsep-konsep yang diperlukan sebagai warga negara yang baik, mengembangkan perilaku bertanggung jawab, dan memperoleh nilai dan norma sebagai pedoman berperilaku. Dari uraian tentang tugas perkembangan remaja yang ideal tersebut, dapat disimpulkan bahwa tugas yang harus dilakukan oleh anak remaja semakin kompleks karena disesuaikan dengan usianya yang juga semakin dewasa. Sebagai orang tua, memberikan pendidikan yang berkaitan dengan tugas perkembangan remaja yang ideal merupakan suatu keharusan agar anak berperilaku sesuai dengan tugas perkembangannya. Namun, sebagian besar orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak, khusunya remaja masih kurang tepat. Orang tua cenderung otoriter. Mendidik anak usia remaja yang tepat atau ideal dapat dilakukan dengan cara memberikan kebebasan selektif. Artinya, orangtua memberikan aturan-aturan dengan pengasuhan yang baik kepada anak usia remaja agar anak remaja lebih bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan dengan batasan-batasan tertentu, misalnya, orangtua memberikan arahan kepada anak usia remaja untuk memilih sekolah yang sesuai dengan minat, tetapi tetap
  4. 4. 4 bertanggung jawab yaitu belajar dengan giat dan rajin (Natawidjaja, 1979). Munculnya perasaan tanggung jawab pada remaja perlu dibina, di mana remaja harus berani berbuat berarti harus berani menanggung akibat yang dilakukannya. Jika hal terwujud maka menjadi suatu indikator bagi orangtua untuk memberikan pola asuh yang baik dan memberukan kepercayaan kepada remaja untuk menghadapi masalah dalam kehidupannya. Seiring dengan perkembangan zaman dan pengaruh lingkungan yang semakin kompleks, banyak terjadi penyimpangan pada perilaku remaja ke arah yang semakin memprihatinkan. Misalnya, remaja terjebak dalam narkoba, banyak remaja yang mengkonsumsi bacaan-bacaan porno, melihat film-film blue, bahkan ada yang beranggapan bahwa gaul atau tidaknya seorang remaja dilihat dari pengalaman seks mereka, sehingga ada opini seks adalah sesuatu yang menarik dan perlu dicoba, tawuran antar pelajar, anak mulai suka membantah pada orang tua, menyimpang dari aturan agama, dan yang paling sering terlihat adalah banyaknya anak-anak usia remaja yang sudah berani memadu kasih antar lawan jenis “pacaran”. Semakin rumitnya permasalahan yang dialami remaja saat ini, dirasa sangat perlu bagi remaja untuk mendalami tugas-tugas perkembangannya secara maksimal agar dapat terhindar dari konflik atau kenakalan remaja yang dapat menyulitkan dirinya, keluarga bahkan mungkin guru dan masyarakat di sekitarnya. Sebagai pendidik di lingkungan rumah, tentu orang tua mempunyai peran yang sangat penting untuk mengontrol dan mendidik anaknya yang berada di usia remaja untuk mencapai tugas perkembangannya sehingga terbentuk pribadi yang baik dan mampu meraih cita-citanya. B. Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan beberapa masalah antara lain: 1. Kurangnya pengetahuan remaja terhadap tugas perkembangan usia remaja yang sebenarnya. 2. Kurangnya pengetahuan orang tua tentang cara mendidik anaknya ketika usia remaja dengan benar. 3. Kurangnya kepedulian dan tangung jawab orang tua terhadap perilaku anak ketika mencapai usia remaja. C. Solusi Dari permasalahan yang dipaparkan di atas, beberapa solusi atau pemecahan masalah yang ditawarkan penulis antara lain:
  5. 5. 5 1. Memberikan pengetahuan kepada anak tentang tugas perkembangannya di usia remaja Perkembangan adalah proses perubahan yang berlangsung terus-menerus sejak terjadinya pembuahan hingga meninggal dunia. Proses perkembangan tersebut terjadi dikarenakan anak mengalami kematangan dan proses belajar dari waktu ke waktu. Sedangkan kematangan adalah perubahan yang terjadi pada setiap individu dikarenakan adanya pertumbuhan fisik dan biologis, misalnya remaja akan mengalami perubahan pada bagian fisik tubuhnya yang semakin lebih tinggi, lebih ramping, dan lain-lain juga mengalami perubahan mentalnya, misalnya remaja mulai mengerti perlunya bergaul dengan lawan jenis, timbulnya rasa ingin tahu yang tinggi, ingin selalu bebas, memiliki rasa ingin dimengerti, dan lain-lain (Natawidjaja, 1979). Tugas perkembangan remaja adalah sikap dan perilaku dirinya sendiri dalam menyikapi lingkungan di sekitarnya (Wibowo, 2012). Perubahan yang terjadi pada fisik maupun psikologisnya menuntut remaja untuk dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan dan tantangan hidup yang ada dihadapannya. Tugas perkembangan masa remaja yang disertai dengan berkembangnya kapasitas intelektual, stres dan harapan-harapan baru yang dialami remaja membuat mereka mudah mengalami gangguan baik berupa gangguan pikiran, perasaan maupun perilaku membuat mereka mengambil resiko dengan melakukan kenakalan. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa tugas perkembangan remaja sangatlah kompleks sebab akan menjadi bekal mereka menuju masa dewasa kelak. Saat ini yang sering terlihat adalah perilaku remaja yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya menjadi tugas perkembangannya. Sukses atau gagalnya pelaksanaan tugas perkembangan remaja tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya: belum maksimalnya pertumbuhan fisik remaja, perkembangan psikisnya yang berkembang tidak wajar, posisi remaja dalam keluarga misal sebagai anak tunggal atau bukan, anak kandung atau anak angkat, anak pertama atau anak terakhir, ada tidaknya adanya motivasi yang ada dalam diri dan di luar diri seorang remaja serta lancar tidaknya pelaksanaan tugas-tugas perkembangan pada masa sebelumnya. Dalam hal ini peran orang tua sangat diperlukan dalam memberikan pengetahuan dan mengarahkan anak agar berhasil melaksanakan tugas perkembangannya di usia remaja. Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua dalam membimbing anaknya dalam mencapai tugas perkembangannya dengan baik, yaitu : a. Memberikan penanaman moral dengan menggunakan pendekatan religi. Hal ini disebabkan
  6. 6. 6 tingginya kenakalan remaja yang akhir-akhir ini terjadi sehingga orang tua perlu memberikan penekanan anak pada pendidikan agama. Misalnya, memasukkan anaknya ke pondok pesantren sambil sekolah, atau orang tua senantiasa mengajak anak untuk beribadah bersama- sama, mengaji setiap malam, dan memberikan masukan-masukan tentang cara berperilaku yang baik sesuai dengan aturan agama dan norma. b. Memberi banyak kesempatan kepada remaja untuk aktif dalam berbagai aktivitas sosial, seperti kegiatan kemasyarakatan (karang taruna, remaja masjid), olahraga dan seni. c. Membantu mengarahkan peran remaja sesuai dengan tugasnya, seperti anak laki- laki diajarkan untuk memiliki jiwa berani memimpin, melindungi, mengayomi, rela berkorban, berkonsentrasi pada studi dan karir. Sedangkan anak perempuan diajarkan untuk menjadi perempuan yang feminim, bertingkah laku anggun, sopan, dan lemah lembut, mempersiapkan diri menjadi seorang ibu. d. Membantu remaja yang lambat perkembangannya melalui penjelasan bahwa hal itu biasa terjadi dalam perubahan jasmani yang bersifat variatif dan membuka peluang diskusi antara anak dengan orang tua sehingga anak tidak minder. e. Mengarahkan remaja pada jenis pendidikan yang harus dimasukinya sebagai persiapan memasuki lapangan kerja yang sesuai dengan bakat dan keinginannya. 2. Orang tua perlu memperbanyak pengetahuan tentang cara mendidik anaknya ketika usia remaja Menjadi orang tua yang sukses membutuhkan kerja keras, keberanian dan kesabaran agar menghasilkan anak-anak yang bertingkah laku baik (Severe, 2002). Pembentukan karakter dan tingkah laku anak sangat ditentukan oleh baik buruknya kualitas pendidikan yang didapatkan anak, terutama pendidikan di lingkungan keluarga. Oleh sebab itu, pihak yang sangat berperan penting dalam pemberian pendidikan adalah orang tua. Orang tua sebagai pihak pertama yang bertanggung jawab terhadap keselamatan putra-putrinya dalam menjalani tahapan-tahapan perkembangan, baik dari segi fisik, emosional, intelektual, sosialnya maupun seksual. Untuk mewujudkan harapan tersebut, banyak hal yang perlu dilakukan oleh orang tua berkaitan dengan bagaimana seharusnya orang tua bersikap dalam menghadapi anak usia remaja, diantaranya adalah:
  7. 7. 7 a. Orang tua tidak boleh bersikap otoriter dalam menghadapi anak remaja Banyak orang tua menganggap bahwa sebagai anak mereka harus mematuhi apa yang dikatakan atau diperintahkan oleh orang tuanya sehingga orang tua terkesan mempunyai wewenang kepada anak. Ketika anak masih kecil, mungkin anak akan menerima hal tersebut, tetapi akan berbeda situasinya jika menghadapi anak sudah remaja, mereka sudah mempunyai pilihan sendiri untuk bertindak. Janganlah selalu menempatkan posisi sebagai orang tua yang berkuasa dan yang harus selalu dipatuhi. Misalnya, ketika anak anda sedang mengalami masalah di sekolah, jangan terburu- buru menginterogasinya dengan berbagai pertanyaan dan omelan . Hal itu justru akan memicu kemarahannya pada orang tua. Orang tua perlu memposisikan diri sebagai teman yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk mencurahkan keluh kesah sebab mereka membutuhkan orang lain sebagai tempat untuk mendengarkan keluh kesahnya dan bukan untuk mencari nasehat. Sebagai orang tua dalam menghadapi anak yang sudah remaja perlu mengetahui tentang 3 yaitu penerimaan, batasan, dan membantu pembentukan karakter/ sifat. Penerimaan adalah sikap orang tua yang memahami bahwa anak yang sudah beranjak dewasa sangat membutuhkan persetujuan. Mereka biasanya akan lebih mendengarkan pendapat yang disampaikan oleh orang lain dari pada orang tuanya. Jika anak tidak mendapatkan perhatian yang penuh dari orang tua, mereka tidak akan lagi mendengarkan arahan kita. Bahkan mereka akan lebih memilih mendengarkan opini orang lain yang belum tentu benar adanya. Memberikan batasan/ boundaries adalah situasi dimana remaja menginginkan orang tua terlibat dalam kehidupan mereka yang sudah mulai menemukan lingkungan yang bervariasi. Mereka membutuhkan inspeksi dari orang tuanya dan mereka juga membutuhkan batasan dari orang tuanya. Oleh sebab itu, apabila orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri, menyebabkan anak menjadi kurang kasih sayang (broken home) dan dampaknya adalah mereka akan menjadi remaja yang menyimpang sebab anak kurang mendapatkan batasan dari orang tua. Sedangkan orang tua sebagai pembentuk karakter/sifat anak pada usia remaja adalah anak usia remaja memerlukan pengetahuan tentang bagaimana bersikap yang benar serta bagaimana untuk bisa tetap kuat bertahan di tengah-tengah tekanan. Misalnya, gambaran seorang ibu yang sangat menyayanginya, selalu memberi perhatian penuh dan pengertian serta bisa menjadi sebagai seorang sahabat yang bisa di ajak curhat akan melekat pada diri seorang remaja, sehingga gambaran mengenai ibunya tersebut akan menjadi landasan dan cermin bagi remaja.
  8. 8. 8 b. Memposisikan orang tua sebagai sahabat, pendengar yang baik atas keluhan anak remaja Lingkungan teman sebaya dirasa akan menumbuhkan rasa aman pada remaja secara emosional sebab di sini remaja akan menemukan suatu kenyamanan psikologis yang belum tentu dapat mereka temukan dengan pada interaksinya dengan orang dewasa (Mulyadi, 1999). Itulah sebabnya, anak lebih suka menceritakan permasalahannya pada teman sebayanya, buku diary, bahkan media sosial di internet. Anak remaja lebih terkesan tertutup dalam menceritakan segala permasalahan yang dihadapinya pada keluarga atau orang tua. Padahal yang baik adalah orang tua perlu mengetahui apa yang terjadi pada anaknya agar anak tidak salah dalam mengambil keputusan dalam menghadapi permasalahannya. Upaya yang harus dilakukan orang tua adalah menghargai pendapat anak dengan cara berusaha menjadi pendengar dan teman curhat yang baik bagi mereka. Pada masa pubertas ini, logika mereka akan semakin matang. Dengan cara demikian mereka akan lebih mudah dalam mengungkapkan isi hati dan problematika yang dialaminya. Dengan demikian, remaja merasa dipahami dan secara otomatis mereka akan terbuka pada orang tua. Hindari kata-kata menduga anak tentang hal-hal yang buruk seperti ''Kamu pasti sudah menonton VCD porno ya?, teman-temanmu kelihatannya anak-anak nakal!!''. Bangunlah kepercayaan remaja pada orang tua sehingga mereka aman dan nyaman berbicara pada orang tua. Maka sebagai orang tua sangat perlu mencurahkan perhatian dan rasa kasih sayang kepada anak hingga menjadikan anak sebagai sahabat setia yang selalu ada ketika anak membutuhkannya. Hal ini bisa menjadi benteng positif bagi anak ketika mendapat pengaruh buruk dari lingkungan luar. Anak akan selalu menghargai dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh orang tua, karena dirinya meyakini bahwa orang tua mereka menyayanginya dan petunjuk serta nasihat orang tua akan dianggap sebagai solusi terbaik bagi anak. c. Jangan terlalu protektif tetapi juga jangan terlalu membebaskan anak remaja Dalam menghadapi anak usia remaja memang perlu teknik khusus untuk mendekatinya sebab masa ini merupakan masa pemberontakan yang muncul pada diri anak yang menganggap mereka sudah dewasa dan bisa menentukan sikap dan pilihannya sendiri. Sebagai orang tua janganlah terlalu melarang keinginan anak karena semakin dilarang, biasanya anak dalam masa pubertas akan semakin membangkang dan penasaran ingin mencobanya (Severe, 2002). Tetapi juga jangan terlalu memberikan kebebasan sebab anak remaja akan bersikap yang tidak
  9. 9. 9 terkontrol (lost control). Apalagi saat remaja mulai menyenangi lawan jenis, itu sangat normal terjadi sebab remaja telah megalami kematangan seksual dan emosional. Namun yang harus dilakukan orangtua adalah berusaha selalu mengontrol dan medekati anak agar orang tua mengetahui dengan siapa anak bergaul. Setelah itu mengarahkan anak dengan menggunakan kata-kata yang baik agar menyadari bahwa berdekatan dengan lawan jenis untuk saat remaja banyak tidak baiknya dan hanya menimbulkan permasalahan-permaslahan yang lebih berat, misal terjadinya putus cinta karena pada usia remaja kebanyakan hanyalah cinta monyet, serta dikhawatirkan terjebak pada pergaulan bebas. Hal ini perlu kerja keras orang tua agar anak berani terbuka dan jujur kepada orang tua mengenai siapa teman dekat anak ketika remaja. 3. Orang tua senantiasa peduli dan bertanggung jawab terhadap perkembangan perilaku anak usia remaja namun dengan memahami pemikiran (emosi) remaja Pemikiran remaja jauh lebih banyak didorong oleh perasaan mereka daripada pemikiran yang baik untuk mereka. Dengan mengetahui hal ini, maka sia-sia upaya orang tua menasehati mereka seharian. Justru membuat anak bertambah “sebal” dengan kelakuan kita (Ricker & Crowder, 2003). Dalam kondisi emosi yang negatif, seorang remaja tidak dapat menerima input dan nasehat yang dapat mengubah perilaku mereka. Berbeda hasilnya jika kita mampu mengerti dan mengenali perasaan emosi mereka terlebih dahulu. Mereka akan terbuka dan mendengarkan saran logis dari orang tuanya. Cara terbaik untuk memahami pemikiran mereka adalah, mengenali atau memahami emosinya dan beri mereka kekuatan untuk menemukan solusi atas masalah mereka sendiri. Contoh, orang tua bersedia mendengarkan keluhan anak tanpa membuatnya takut untuk dihakimi, anak akan berbicara jujur dengan sendirinya. Untuk berikutnya akan mudah bagi anak untuk terbuka terhadap orangtuanya, dan sikap saling percaya antara orangtua dan anak akan terbentuk dengan baik. Anak remaja yaitu apabila dikerasi seperti dipukul atau dimarahi dengan kalimat kasar mereka akan melawan dan semakin menjadi-jadi. Tetapi, jika mereka dinasihati baik-baik juga tidak mau mendengar, malah jadi besar kepala. Maka solusinya adalah mengetahui apa yang membuat mereka menjadi seperti itu. Karena biasanya, anak remaja usia muda sedikit tertutup kepada keluarga. Ketegangan emosional remaja sangat tinggi yang disebabkan mulai beradaptasi dari tingkah laku dan sikap kekanak-kananakan digantikan oleh sikap dan tingkah laku yang berlaku
  10. 10. 10 bagi orang dewasa (Natawidjaja, 1979). Hal lain yang biasanya orang tua lakukan pada anak remaja adalah mengkritik terhadap apa yang dilakukan remaja, misal terhadap model rambut, pilihan baju, teman yang diajak ke rumah, musik yang mereka dengar yang kadang tidak sesuai dengan pikiran orang tua. Hal ini menimbulkan remaja membenci dan memberontak kepada orang tuanya walaupun tujuan orang tua agar anak remajanya tidak jatuh ke gaya hidup yang salah. Cara terbaik yang harus dilakukan orang tua adalah dengan mengkritik melalui kata-kata yang tidak membuatnya sakit hati dan diimbangi dengan pujian. Pujilah anak remaja ketika dia sedang berbuat sesuatu yang baik, dan dukunglah dia untuk menumbuhkan dan mempertahankan hal-hal yang baik dalam dirinya. Bagi remaja, penghargaan orang tua sangat berharga. Jika orang tua memberikan komentar dengan baik, dengan perasaan hormat mereka akan mengubah dirinya lebih baik sesuai keinginan orang tua. D. Kesimpulan 1. Agar pemberian pendidikan terhadap anak berhasil, pendidik harus menyesuaikan dengan tahap pekembangan psikologisnya agar pembelajaran tersebut dapat diterima dan dipahami anak dalam mencapai tugas-tugas perkembangan di usianya. Masa remaja disebut sebagai masa storm and stress, yaitu masa badai dan ketegangan, masa yang penuh pertentangan dan perlawanan, bertolak belakang dari masa kecil yang lebih aman dan lebih mudah diatur. Oleh sebab itu, orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam mengarahkan anak remaja untuk berhasil menjadi remaja yang baik. 2. Beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak remajanya adalah: a. Memberikan pengetahuan anak tentang tugas perkembangannya di usia remaja. b. Orang tua perlu memperbanyak pengetahuan tentang cara mendidik anaknya ketika usia remaja dengan cara: 1) Orang tua tidak boleh bersikap otoriter dalam menghadapi anak remaja; 2) memposisikan orang tua sebagai sahabat, pendengar yang baik atas keluhan anak remaja; 3) Jangan terlalu protektif namun jangan terlalu membebaskan anak remaja. c. Orang tua senantiasa peduli dan bertanggung jawab terhadap perkembangan perilaku anak usia remaja namun dengan memahami pemikiran (emosi) remaja 3. Membangun komunikasi yang baik antara anak remaja dengan orang tua sangatlah penting agar terbentuk hubungan yang baik dalam keluarga yang nantinya akan berpengaruh pada
  11. 11. 11 sikap dan perilaku remaja dalam kehidupan mereka sehari-hari, menyediakan waktu untuk mendampingi mereka, dan menjadi teladan yang baik bagi mereka serta membentengi anak melalui pendidikan agama yang kuat. Tidak ada orangtua yang sempurna, tetapi setiap orangtua bisa menjadi orangtua yang sukses dengan jalan melakukan hal yang dia tahu itu benar.
  12. 12. 12 DAFTAR RUJUKAN Mulyadi, Seto. 1999. Sosialisasi Pada Anak: Seri Psikologi Anak 6. Jakarta: PT Elex Media Computindo Natawidjaja, Rochman. 1979. Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT Abadi Pidarta, Made. 2007. Landasan Pendidikan- Stimulus ilmu pendidikan bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta Ricker, Audrey & Crowder, Caroline. 2003. Bila Anak Membangkang: 4 Langkah Mengajarkan Disiplin dan Sopan Santun. Bandung: Kaifa. Severe, Sal. 2002. Bagaimana Bersikap Baik Pada Anak Agar Anak Bersikap Baik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Tirtarahardja, Umar. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta Wibowo, Timothy. 2012. Cara Terbaik Memahami Anak. (Online), (www.pendidikankarakter.com/cara-terbaik-memahami-anak/), diakses tanggal 20 Oktober 2013. Wijaya, Winda. 2013. Bagaimana Cara Mendidik Anak yang Memasuki Usia Remaja?. (Online), (http://bidanku.com/forum/showthread.php/92-Bagaimana-Cara-Mendidik-Anak-yang- Memasuki-Usia-Remaja), diakses 20 Oktober 2013. Wikipedia. 2013. Remaja. (Online), (www.id.m.wikipedia.org/wiki/Remaja), diakses tanggal 21 oktober 2013

×