KONSEP PENGEMBANGAN SANITASI KOTA TANGERANG

1,604 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,604
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
153
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

KONSEP PENGEMBANGAN SANITASI KOTA TANGERANG

  1. 1. KONSEP PENGEMBANGAN SANITASI I. Gambaran Umum Kota Tangerang Jumlah penduduk Kota Tangerang tahun 2011 adalah 1.854.159 jiwa.Dengan luas wilayah 16.567 ha (di luar luas Bandara Soekarno-Hatta), maka rata-rata tingkat kepadatan penduduk112 jiwa/ha dengan jumlah rumah tangganya sebanyak 463.540 KK. Hasil Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) tahun 2011 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah rumah tangga miskin mencapai 59.619 KK. Dengan jumlah rumah tangga keseluruhan sebanyak 463.540 KK, maka tingkat kemiskinan penduduk sebesar 12,86%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat kemiskinan nasional tahun 2011 berdasarkan data BPS bulan Maret 2011 yang mencapai 12,49%. II. Analisis Kondisi Sanitasi Kota Tangerang 2.1 Timbulan Air Limbah Domestik Volume timbulan air limbah domestik dihitung berdasarkan asumsi rata-rata timbulan air limbah domestik yaitu 100 liter/orang/hari dibagi dengan 1.000 untuk konversi menjadi m3/orang/hari. Sedangkan volume timbulan lumpur tinja dihitung berdasarkan asumsi bahwa pengendapan lumpur tinja = 2‰ (dua perseribu) dari volume timbulan air limbah domestik. Merujuk pada jumlah penduduk sebanyak 1.854.159 jiwa maka volume timbulan air limbah domestik Kota Tangerang pada tahun 2011 sebanyak 185.416 m3/hari dan timbulan lumpur tinja sebanyak 370,83 m3/hari. Volume Timbulan Air Limbah Domestik dan Timbulan Lumpur Tinja di Kota TangerangTahun 2011 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Kecamatan Jumlah Penduduk (jiwa) Ciledug Larangan Karang Tengah Cipondoh Pinang Tangerang Karawaci Jatiuwung Cibodas Periuk Batuceper Neglasari Benda Jumlah 151.566 168.966 122.134 223.031 165.156 156.846 176.611 123.931 146.882 133.363 93.389 106.702 85.582 1.854.159 Timbulan Timbulan Air Limbah Lumpur Domestik Tinja (m3/hari) (m3/hari) 15.157 30,31 16.897 33,79 12.213 24,43 22.303 44,61 16.516 33,03 15.685 31,37 17.661 35,32 12.393 24,79 14.688 29,38 13.336 26,67 9.339 18,68 10.670 21,34 8.558 17,12 185.416 370,83 2.2 Tingkat Pelayanan Eksisting Prasarana dan Sarana Air Limbah Domestik Sistem pengelolaan air limbah domestik di Kota Tangerang meliputi sistem setempat (on-site system) dan sistem terpusat (off-site system). A. Sistem Setempat (On-Site System) 1.IPLT Saat ini terdapat 1 unit IPLT yaitu IPLT Bawang. Untuk menghitung tingkat pelayanan IPLT Bawang digunakan 2 (dua) asumsi. Asumsi pertama, tingkat pelayanan IPLT dihitung berdasarkan kapasitas pengolahan lumpur tinja maksimum dari IPLT terhadap volume timbulan lumpur tinja dari penduduk Kota Tangerang yang harus dilayani oleh IPLT Bawang pada tahun 2011 dikalikan 100%.Tingkat pelayanan IPLT Bawang dengan menggunakan 1
  2. 2. asumsi ini disebut juga dengan tingkat pelayanan kasar. Berdasarkan hasil perhitungan, tingkat pelayanan kasar IPLT Bawang pada tahun 2011 sebesar 19,42%,. Tingkat Pelayanan Kasar IPLT Bawang di Kota TangerangTahun 2011 No Keterangan 1. 2. Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk yang Tidak Memiliki Jamban 3. Jumlah Penduduk yang Dilayani IPAL 4. Jumlah Penduduk yang Harus Dilayani IPLT Volume Timbulan Air Limbah Domestik dari Penduduk yang Harus Dilayani IPLT Volume Timbulan Lumpur Tinja dari Penduduk yang Harus Dilayani IPLT Kapasitas Pengolahan Lumpur Tinja Maksimum dari IPLT Tingkat Pelayanan Kasar IPLT Berdasarkan Kapasitas Pengolahan Maksimum 5. 6. 7. 8. Satuan jiwa KK jiwa KK jiwa jiwa Tahun 2011 1.854.159 22.703 90.812 9.793 39.172 1.802.519 m3/hari 180.252 m3/hari 360,50 m3/hari 70,00 % 19,42 Sedangkan asumsi kedua, tingkat pelayanan IPLT Bawang dihitung berdasarkan volume lumpur tinja yang diolah per hari di IPLT Bawang terhadap volume timbulan lumpur tinja dari penduduk Kota Tangerang yang harus dilayani oleh IPLT Bawang pada tahun 2011 dikalikan 100%. Volume lumpur tinja yang diolah per hari di IPLT Bawang pada tahun 2011 dihitung berdasarkan jumlah pendapatan retribusi penyedotan kakus selama tahun 2011 dibagi besarnya tarif biaya penyedotan kakus Rp 40.000,00/m3 dan dibagi 365 hari. Tingkat pelayanan IPLT Bawang dengan menggunakan asumsi kedua ini disebut juga dengan tingkat pelayanan rill. Berdasarkan hasil perhitungan, tingkat pelayanan riil IPLT Bawang pada tahun 2011 sebesar 6,67%, Tingkat Pelayanan Riil IPLT Bawang di Kota TangerangTahun 2011 No Keterangan 1. 2. Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk yang Tidak Memiliki Jamban 3. Jumlah Penduduk yang Dilayani IPAL 4. Jumlah Penduduk yang Harus Dilayani IPLT Volume Timbulan Air Limbah Domestik dari Penduduk yang Harus Dilayani IPLT Volume Timbulan Lumpur Tinja dari Penduduk yang Harus Dilayani IPLT Jumlah Retribusi Penyedotan Kakus Volume Lumpur Tinja yang Disedot dan Dibuang ke IPLT per tahun Volume Lumpur Tinja yang Dilayani IPLT per hari Tingkat Pelayanan Riil IPLT Berdasarkan Retribusi Penyedotan Kakus 5. 6. 7. 8. 9. 10. Satuan jiwa KK jiwa KK jiwa jiwa Tahun 2011 1.854.159 22.703 90.812 9.793 39.172 1.802.519 m3/hari 180.252 m3/hari 360,50 Rp m3/tahun m3/hari % 350.990.000 8.775 24,04 6,67 Berdasarkan perhitungan-perhitungan di atas, rata-rata volume lumpur tinja yang diolah di IPLT Bawang pada tahun 2011 sebesar 24,04 m3/hari, sedangkan kapasitas pengolahan lumpur tinja maksimum dari IPLT Bawang sebesar 70 m3/hari. Dengan demikian, tingkat efektivitas pemanfaatan IPLT Bawang pada tahun 2011 baru mencapai 34,34%. 2TrukTinja Tingkat pelayanan truk tinja dihitung berdasarkan volume lumpur tinja yang disedot dan diangkut oleh truk tinja terhadap volume timbulan lumpur tinja dari penduduk Kota Tangerang yang harus dilayani oleh truk tinja pada tahun 2011 dikalikan 100%. Volume lumpur tinja yang disedot dan diangkut oleh truk tinja per hari pada tahun 2011 dihitung berdasarkan jumlah pendapatan retribusi penyedotan kakus selama tahun 2011 dibagi besarnya tarif biaya penyedotan kakus Rp 40.000,00/m3 dan dibagi 365 hari. Tingkat pelayanan truk tinja dengan menggunakan asumsi ini disebut juga dengan tingkat pelayanan rill dan pada tahun 2011 sebesar 6,67%, 2
  3. 3. Tingkat Pelayanan Riil Truk Tinja Milik Pemerintah Kota TangerangTahun 2011 No Keterangan 1. 2. Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk yang Tidak Memiliki Jamban 3. Jumlah Penduduk yang Dilayani IPAL 4. Jumlah Penduduk yang Harus Dilayani Truk Tinja Volume Timbulan Air Limbah Domestik dari Penduduk yang Harus Dilayani Volume Timbulan Lumpur Tinja dari Penduduk yang Harus Dilayani oleh Truk Tinja Jumlah Retribusi Penyedotan Kakus Volume Lumpur Tinja yang Disedot dan Diangkut oleh Truk Tinja per tahun Volume Lumpur Tinja yang Disedot dan Diangkut oleh Truk Tinja per hari Tingkat Pelayanan Riil Truk Tinja Kapasitas 13 unit Truk Tinja @ 3 m3 untuk 1 ritasi per hari Kapasitas 13 unit Truk Tinja @ 3 m3 untuk 2 ritasi per hari Tingkat Efektivitas Pemanfaatan Truk Tinja dengan asumsi 1 ritasi per hari Tingkat Efektivitas Pemanfaatan Truk Tinja dengan asumsi 2 ritasi per hari 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Satuan jiwa KK jiwa KK jiwa jiwa Tahun 2011 1.854.159 22.703 90.812 9.793 39.172 1.802.519 m3/hari 180.252 m3/hari 360,50 Rp 350.990.000 m3/tahun 8.775 m3/hari 24,04 % m3/hari m3/hari 6,67 39,00 78,00 % 61,64 % 30,82 Berdasarkan perhitungan asumsi 13 unit truk tinja melakukan penyedotan dan pengangkutan lumpur tinja dari tangki septik ke IPLT 1 ritasi per hari, maka volume lumpur tinja yang dapat disedot dan diangkut oleh 13 unit truk tinja adalah 39,00 m3. Dengan demikian, tingkat efektivitas pemanfaatan truk tinja dengan asumsi masingmasing truk tinja melakukan penyedotan dan pengangkutan lumpur tinja dari tangki septik ke IPLT 1 ritasi per hari baru mencapai 61,64%. Sedangkan jika diasumsikan bahwa 13 unit truk tinja melakukan penyedotan dan pengangkutan lumpur tinja dari tangki septik ke IPLT 2 ritasi per hari, maka volume lumpur tinja yang dapat disedot dan diangkut oleh 13 unit truk tinja tersebut sebesar 78,00 m3. Dkengan demikian, tingkat efektivitas pemanfaatan truk tinja dengan asumsi masing-masing truk tinja melakukan penyedotan dan pengangkutan lumpur tinja dari tangki septik ke IPLT 2 ritasi per hari hanya mencapai 30,82%. 3.Jamban Tingkat aksesibilitas penduduk terhadap sarana sanitasi tingkat rumah tangga dihitung berdasarkan rasio jumlah rumah tangga yang memiliki jamban keluarga dengan tangki septik terhadap jumlah total rumah tangga dikalikan 100%. Jumlah penduduk Kota Tangerang pada tahun 2011 sebanyak 1.854.159 jiwa. Dengan asumsi bahwa 1 KK = 4 jiwa maka jumlah rumah tangga di Kota Tangerang adalah 463.540 KK. Sedangkan jumlah rumah tangga di Kota Tangerang pada tahun 2011 yang belum memiliki jamban keluarga sebanyak 22.703 KK, atau dengan kata lain jumlah rumah tangga di Kota Tangerang pada tahun 2011 yang memiliki jamban keluarga dengan tangki septik sebanyak 440.837 KK. Dengan demikian, tingkat aksesibilitas penduduk Kota Tangerang terhadap sarana sanitasi tingkat rumah tangga pada tahun 2011 mencapai 95,10%. Menurut data Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) Tahun 2011 dari 463.540 KK yang ada di Kota Tangerang terdapat 22.703 KK (4,90%) yang belum memiliki jamban keluarga. Rumah tangga yang belum memiliki jamban keluarga ini merupakan rumah tangga miskin. B. Sistem Terpusat (Off-Site System) Tingkat pelayanan eksisting prasarana dan sarana air limbah domestik sistem terpusat (off-site system) adalah IPAL. Tingkat pelayanan IPAL dihitung berdasarkan rasio jumlah penduduk yang dilayani oleh IPAL terhadap jumlah penduduk total dikalikan 100%. Saat ini terdapat 2 unit IPAL yaitu IPAL Tanah Tinggi dan IPAL Perumnas 1 Karawaci. Cakupan pelayanan IPAL Tanah Tinggi adalah 2.750 sambungan rumah (2.750 KK). Sedangkan cakupan pelayanan IPAL Perumnas 1 Karawaci adalah 7.043 sambungan rumah (7.043 KK). Dengan menggunakan asumsi bahwa 1 KK = 4 jiwa, maka 3
  4. 4. jumlah penduduk yang dilayani oleh IPAL Tanah Tinggi sebanyak 11.000 jiwa dan jumlah penduduk yang dilayani oleh IPAL Perumnas 1 Karawaci sebanyak 28.172 jiwa. Total penduduk yang dilayani oleh kedua IPAL tersebut adalah 39.172 jiwa. Dengan jumlah penduduk total pada tahun 2011 sebanyak 1.854.159 jiwa, maka tingkat pelayanan IPAL di Kota Tangerang baru mencapai 2,11%. Tingkat Pelayanan IPAL di Kota TangerangTahun 2011 No. Keterangan 1. 2. Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk yang Dilayani IPAL Tanah Tinggi 3. Jumlah Penduduk yang Dilayani IPAL Perumnas 1 Karawaci 4. 5. Satuan Jumlah Penduduk Total yang Dilayani IPAL Tingkat Pelayanan IPAL jiwa KK jiwa KK jiwa jiwa % Tahun 2011 1.854.159 2.750 11.000 7.043 28.172 39.172 2,11 III. Analisis Tipologi Area Berisiko Sanitasi 3.1. Penentuan Kriteria Tipologi Area Berisiko Sanitasi Kriteria yang digunakan merupakan modifikasi dari kriteria risiko kesehatan lingkungan dalam buku Manual Pengembangan Strategi Sanitasi (2010) yang disesuaikan dengan ketersediaan data dan kondisi, yaitu:  Kepadatan Penduduk  Jumlah Rumah Tangga Miskin  Jumlah Rumah Tangga yang Tidak Memiliki Akses terhadap Air Bersih  Jumlah Rumah Tangga yang Tidak Memiliki Jamban 3.2. Penilaian Kriteria Tipologi Area Berisiko Sanitasi Penentuan tipologi area berisiko sanitasi dilakukan dengan menggunakan sistem scoring terhadap setiap kriteria risiko kesehatan lingkungan. Penilaian (scoring) dilakukan dengan metode interval yang dibagi dalam 4 (empat) strata dengan nilai 1 hingga 4. Semakin tinggi nilai (score) menunjukkan risiko yang semakin tinggi pula. No 1. 2. 3. 4. Sistem Penilaian Kriteria Tipologi Area Berisiko Sanitasi Kota Tangerang Skala Penilaian Kriteria Keterangan 1 2 3 4 Kepadatan 13 – 140 141 – 268 269 – 395 396 – 524 Nilai max= 524 Penduduk(jiwa/ha) Nilai min= 13 Interval= 128 Jumlah Rumah Tangga 84 – 498 499 – 914 915 – 1.329 1.330 – 1.745 Nilai max= 1.745 Miskin(KK) Nilai min= 84 Interval= 415 Jumlah Rumah Tangga yang 0 – 39 40 – 78 79 – 118 119 – 158 Nilai max= 158 Tidak Memiliki Akses Nilai min= 0 terhadap Air Bersih Interval= 40 (KK) Jumlah Rumah Tangga yang 12 – 194 195 – 377 378 – 560 561 – 744 Nilai max= 744 Tidak Memiliki Jamban(KK) Nilai min= 12 Interval= 183 4
  5. 5. Hasil Penilaian Kriteria No Kecamatan 1. Ciledug 2. Larangan 3. Karang Tengah 4. Cipondoh 5. Pinang 6. Tangerang Kelurahan Tajur Parung Serab Paninggilan Paninggilan Utara Sudimara Selatan Sudimara Barat Sudimara Jaya Sudimara Timur Larangan Selatan Gaga Cipadu Jaya Kereo Selatan Cipadu Kereo Larangan Indah Larangan Utara Pedurenan Pondok Pucung Karang Tengah Karang Timur Karang Mulya Parung Jaya Pondok Bahar Poris Plawad Indah Cipondoh Kenanga Gondrong Petir Ketapang Cipondoh Indah Cipondoh Makmur Poris Plawad Utara Poris Plawad Panunggangan Utara Panunggangan Panunggangan Timur Kunciran Kunciran Indah Sudimara Pinang Pinang Neroktog Kunciran Jaya Pakojan Cipete Cikokol Kelapa Indah Babakan Sukasari Buaran Indah Tanah Tinggi Sukaasih Sukarasa Kepadatan Penduduk (jiwa/ha) 127 164 191 172 151 207 295 129 218 211 177 159 160 171 156 195 265 110 138 168 90 49 83 115 109 87 109 142 99 223 212 96 74 117 80 13 114 175 126 136 101 20 41 58 72 64 106 117 167 204 98 60 Jumlah Rumah Tangga Miskin (KK) 395 387 613 685 533 467 583 329 536 283 269 532 431 345 309 333 463 351 766 416 429 475 362 222 448 563 532 322 442 194 246 541 490 799 466 257 370 813 449 326 715 478 409 411 1.113 152 559 427 1.062 1.058 84 176 Jumlah Rumah Tangga yang Tidak Memiliki Akses Air Bersih(KK) 0 0 4 0 1 0 1 4 1 2 0 4 5 3 1 2 1 2 2 0 0 1 9 0 4 0 3 0 2 1 27 28 1 7 1 0 10 3 7 1 4 3 5 2 7 1 2 18 1 6 0 2 Jumlah tipologi Rumah Tangga yang Tidak Memiliki Jambann (KK) 69 SR 27 SR 99 R 134 R 102 R 111 SR 117 R 78 SR 44 R 29 SR 12 SR 19 R 20 SR 36 SR 64 SR 40 SR 103 SR 60 SR 161 SR 22 SR 144 SR 131 SR 32 SR 110 SR 202 SR 122 SR 169 SR 99 SR 84 SR 56 SR 16 SR 113 SR 177 SR 204 R 127 SR 127 SR 79 SR 143 R 80 SR 57 SR 197 R 336 SR 198 SR 320 SR 338 R 34 SR 173 SR 187 SR 304 R 308 R 50 SR 95 SR 5
  6. 6. No Kecamatan 7. Karawaci 8. Jatiuwung 9. Cibodas 10. Periuk 11. Batuceper 12. Neglasari 13. Benda Kelurahan Karawaci Baru Nusajaya Bojongjaya Karawaci Cimone Jaya Cimone Bugel Margasari Pabuaran Sukajadi Gerendeng Koangjaya Pasarbaru Sumur Pancing Pabuaran Tumpeng Nambojaya Manis Jaya Jatake Gandasari Kroncong Alam Jaya Pasir Jaya Panunggangan Barat Cibodasari Cibodas Baru Cibodas Uwung Jaya Jatiuwung Gembor Gebang Raya Sangiang Jaya Periuk Periuk Jaya Porisgaga Baru Porisjaya Porisgaga Kebon Besar Batuceper Batujaya Batusari Karang Anyar Karang Sari Neglasari Mekarsari Kedaung Baru Kedaung Wetan Selapajang Jaya Belendung Jurumudi Baru Jurumudi Pajang Benda Kepadatan Penduduk (jiwa/ha) 230 123 56 43 167 150 169 149 141 127 154 524 81 145 209 126 115 118 92 101 156 38 75 299 213 191 147 151 98 226 265 142 77 111 106 161 101 96 84 119 40 129 69 55 52 77 60 78 102 88 174 47 Jumlah Rumah Tangga Miskin (KK) 224 427 414 596 554 617 398 385 325 322 442 559 193 191 312 187 727 628 856 405 437 649 851 422 198 1.175 582 491 703 965 1.036 998 1.139 243 147 673 692 609 277 631 964 1.664 1.555 704 770 1.745 1.418 923 1.062 1.090 504 1.124 Jumlah Rumah Tangga yang Tidak Memiliki Akses Air Bersih(KK) 1 1 2 9 1 1 1 3 4 8 3 12 0 1 2 1 3 3 21 1 4 0 0 1 0 3 4 12 0 2 2 0 11 0 0 1 3 5 3 0 4 48 18 9 80 39 158 5 4 1 0 2 Jumlah tipologi Rumah Tangga yang Tidak Memiliki Jambann (KK) 102 SR 209 SR 239 SR 332 R 309 R 272 R 145 SR 148 SR 137 SR 135 SR 262 R 227 R 80 SR 82 SR 208 R 75 SR 459 R 459 R 423 R 253 SR 237 R 427 R 252 R 98 R 29 SR 552 R 229 R 312 R 278 R 391 R 503 R 428 R 507 R 167 SR 41 SR 458 R 445 R 257 R 128 SR 230 R 519 R 643 T 667 T 209 R 412 R 677 T 744 T 453 R 690 R 262 R 211 R 532 R 6
  7. 7. Berdasarkan hasil penilaian terhadap kriteria risiko kesehatan lingkungan, sebagian besar kelurahan di Kota Tangerang dikategorikan ke dalam tipologi area berisiko sangat rendah yaitu 55 kelurahan (52,88%) dan tipologi area berisiko rendah yaitu 45 kelurahan (43,27%). Sedangkan kelurahan yang termasuk ke dalam tipologi area berisiko tinggi hanya sebanyak 4 kelurahan (3,85%) dan tidak ada satu kelurahan pun yang termasuk dalam tipologi area berisiko sangat tinggi. IV. Analisis Kebutuhan Prasarana dan Sarana Sanitasi 4.1. Pemilihan Sistem dan Teknologi Pengolahan Air Limbah Domestik Kriteria yang digunakan merupakan modifikasi dari berbagai konsep pendekatan kriteria penentuan sistem dan teknologi menurut Buku Referensi Opsi Sistem dan Teknologi Sanitasi (Tim Teknis Pembangunan Sanitasi, 2010) dan Bimbingan Teknis Keteknikan Bidang PLP (Direktorat Pengembangan PLP, Ditjen Cipta Karya, Kementrian Pekerjaan Umum, 2011). Kriteria yang digunakan dapat diuraikan sebagai berikut: Kepadatan Penduduk Yaitu tingkat kepadatan penduduk pada akhir tahun perencanaan yang diklasifikasikan menjadi: kepadatan sangat tinggi >500 jiwa/ha, kepadatan tinggi 300-500 jiwa/ha, kepadatan sedang 150-300 jiwa/ha, dan kepadatan rendah <150 jiwa/ha. Wilayah dengan kepadatan penduduk sangat tinggi >500 jiwa/ha akan memerlukan sistem dan teknologi pengolahan air limbah domestik yang berbeda dengan wilayah dengan kepadatan penduduk yang lebih rendah. Arahan Penggunaan Lahan Yaitu arahan pemanfaatan lahan menurut rencana tata ruang yang berlaku, dimana pemanfaatan ruang untuk Central Business District (CBD) atau industri akan memerlukan sistem dan teknologi yang berbeda dengan penggunaan lahan lainnya. Tipologi Area Berisiko Sanitasi Yaitu tingkat risiko kesehatan lingkungan akibat rendahnya akses terhadap layanan air limbah domestik yang diklasifikasikan menjadi: area berisiko sangat tinggi, area berisiko tinggi, area berisiko rendah, dan area berisiko sangat rendah. Area yang berisiko sangat tinggi dan tinggi akan memerlukan sistem dan teknologi pengolahan air limbah domestik yang berbeda dengan area yang berisiko rendah ataupun sangat rendah. Permeabilitas Tanah Yaitu kemampuan tanah untuk meneruskan air atau udara. Permeabilitas tanah biasanya diukur dengan istilah kecepatan air yang mengalir dalam waktu tertentu yang ditetapkan dalam satuan cm/jam. Permeabilitas tanah sangat mempengaruhi penentuan teknologi penanganan air limbah domestik khususnya untuk penerapan sistem setempat (cubluk maupun tangki septik dengan bidang resapan). Permeabilitas tanah ini diklasifikasikan menjadi: sangat lambat <0,1 cm/jam, lambat 0,1-0,5 cm/jam, agak lambat 0,5-2,0 cm/jam, sedang 2,0-6,5 cm/jam, agak cepat 6,5-12,5 cm/jam, cepat 12,5-25 cm/jam, dan sangat cepat >25 cm/jam. Wilayah dengan permeabilitas tanah >0,5 cm/jam akan memerlukan sistem dan teknologi pengolahan air limbah domestik yang berbeda dengan wilayah yang permeabilitas tanahnya <0,5 cm/jam. Tinggi Muka Airtanah Yaitu kedalaman airtanah yang diukur dari permukaan tanah setempat. Jika tinggi muka airtanah >1,5 m bmt, maka kemungkinan akan terjadi pencemaran airtanah pada penggunaan sistem setempat (on-site system) sangat kecil sehingga pemilihan teknologi cubluk pun cukup memadai tanpa menyebabkan pencemaran airtanah. Ketersediaan Lahan Yaitu ketersediaan lahan khususnya untuk penerapan sistem terpusat (pembangunan IPAL) yang dilihat dari luas lahan wilayah. Kemiringan Tanah Yaitu kondisi kemiringan tanah suatu wilayah yang diukur dengan satuan persen (%). Kemiringan tanah sangat mempengaruhi penentuan teknologi penanganan air limbah domestik khususnya untuk penerapan sistem terpusat (off-site system). Penggunaan teknologi sewerage konvensional akan sangat mahal jika kemiringan tanah <2% karena akan memerlukan banyak pompa dalam pengalirannya, sedangkan untuk penggunaan teknologi shallow sewerage sangat baik digunakan pada daerah yang mempunyai kemiringan 7
  8. 8. tanah <2% karena teknologi ini mempunyai beban yang relatif kecil sehingga air dapat berjalan dengan lancar. Kemampuan Pembiayaan Yaitu kemampuan pembiayaan untuk membangun sistem dan teknologi pengolahan air limbah domestik yang dipilih, baik dari sisi pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Berdasarkan hasil analisis, opsi sistem pengelolaan air limbah domestik yang direkomendasikan untuk kelurahan-kelurahan di Kota Tangerang adalah sistem setempat (on-site system) dengan opsi teknologi tangki septik pribadi atau tangki septik bersama (komunal) yang lebih dikenal dengan nama MCK (Mandi, Cuci, Kakus) umum. Pemilihan opsi teknologi dilakukan berdasarkan kemampuan pembiayaan untuk membangun prasarana dan sarana air limbah domestik tersebut. Hal ini akan dianalisis lebih lanjut pada bagian kebutuhan pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik. Tangki septik memerlukan pembuangan endapan tinja secara berkala, umumnya3-5 tahun sekali. Endapan tinja yang terkumpul harus diangkut dan diolah di instalasi pengolahan yang dirancang untuk tujuan ini, yaitu Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT). Kebutuhan IPLT dan truk tinja untuk mengangkut endapan tinja dari tangki septik ke IPLT akan dianalisis lebih lanjut pada bagian kebutuhan pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik. 8
  9. 9. Skema Proses Pemilihan Sistem dan Teknologi Pengolahan Air Limbah Domestik Kota Tangerang Mulai Kepadatan Penduduk Kepadatan >500 jiwa/ha tidak Kepadatan >300 jiwa/ha tidak ya ya Arahan Penggunaan Lahan CBD atau Industri ya tidak Tipologi Area Berisiko Sanitasi Area Berisiko Sangat Tinggi ya tidak Are Berisiko Tinggi tidak ya Permeabilitas Tanah Permeabilitas >0,5 cm/jam tidak ya Tinggi Muka Airtanah Airtanah >1,5 m tidak ya Ketersediaan Lahan Ketersediaan Lahan tidak ya Kemiringan Tanah Kemiringan >2% tidak ya Kemampuan Pembiayaan Sewerage Konvensional tidak Intercept Sewerage tidak Shallow Sewerage ya Opsi Sistem & Teknologi ya ya Sewerage Konvensional Intercept Sewerage Shallow Sewerage Tangki Septik Pribadi tidak Sistem Terpusat (Off-Site System) tidak ya Small Bored Sewerage Tangki Septik Pribadi Tangki Septik Bersama Sistem Setempat (On-Site System) 9
  10. 10. Opsi Sistem dan Teknologi Pengolahan Air Limbah Domestik Kota Tangerang Menurut Kecamatan dan Kelurahan No Kecamatan 1. Ciledug 2. Larangan 3. Karang Tengah 4. Cipondoh 5. Pinang 6. Tangerang Kelurahan Tajur Parung Serab Paninggilan Paninggilan Utara Sudimara Selatan Sudimara Barat Sudimara Jaya Sudimara Timur Larangan Selatan Gaga Cipadu Jaya Kereo Selatan Cipadu Kereo Larangan Indah Larangan Utara Pedurenan Pondok Pucung Karang Tengah Karang Timur Karang Mulya Parung Jaya Pondok Bahar Poris Plawad Indah Cipondoh Kenanga Gondrong Petir Ketapang Cipondoh Indah Cipondoh Makmur Poris Plawad Utara Poris Plawad Panunggangan Utara Panunggangan Panunggangan Timur Kunciran Kunciran Indah Sudimara Pinang Pinang Neroktog Kunciran Jaya Pakojan Cipete Cikokol Kelapa Indah Babakan Sukasari Buaran Indah Tanah Tinggi Sukaasih Kepadatan Penduduk 2017 (jiwa/ha) 152 196 229 207 181 248 354 155 262 254 212 190 192 205 188 234 318 133 166 202 108 59 99 138 130 104 131 171 119 267 254 115 89 140 95 16 137 210 151 164 121 24 49 69 86 77 127 141 200 245 118 Arahan Penggunaan Lahan Dominan Menurut RTRW 2011-2030 Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman CBD Permukiman Permukiman CBD CBD Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Industri, Permukiman Industri Permukiman CBD, Industri CBD Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Pariwisata, RTH Permukiman Permukiman CBD, Industri, Permukiman Permukiman CBD CBD CBD, Permukiman CBD, Permukiman CBD Tipologi Area Berisiko Sanitasi SR SR R R R SR R SR R SR SR R SR SR SR SR SR SR SR SR SR SR SR SR SR SR SR SR SR SR SR SR SR R SR SR SR R SR SR R SR SR SR R SR SR SR R R SR Permeabilitas Tanah (cm/jam) 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 Tinggi Muka Airtanah (m bmt) 15 15 15 15 15 15 15 15 17 17 17 17 17 17 17 17 10 10 10 10 10 10 10 19 19 19 19 19 19 19 19 19 19 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 14 14 14 14 14 14 14 Luas (ha) 134 118 108 118 110 97 79 112 95 119 109 130 136 119 106 126 73 119 227 110 227 135 155 208 226 157 187 190 180 133 148 204 205 180 140 300 135 183 139 150 166 376 168 217 417 180 185 187 160 180 48 Kemiringan Tanah (%) 2-5% 2-5% 2-5% 2-5% 2-5% 0-2% 0-2% 0-2% 2-5% 2-5% 2-5% 2-5% 2-5% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 2-5% 2-5% 2-5% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 2-5% 2-5% 2-5% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 2-5% 2-5% Opsi Sistem Opsi Teknologi Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama 10
  11. 11. No Kecamatan Kelurahan Sukarasa Karawaci Baru Nusajaya Bojongjaya Karawaci Cimone Jaya Cimone Bugel Margasari Pabuaran Sukajadi Gerendeng Koangjaya Pasarbaru Sumur Pancing Pabuaran Tumpeng Nambojaya 8. Jatiuwung Manis Jaya Jatake Gandasari Kroncong Alam Jaya Pasir Jaya 9. Cibodas Panunggangan Barat Cibodasari Cibodas Baru Cibodas Uwung Jaya Jatiuwung 10. Periuk Gembor Gebang Raya Sangiang Jaya Periuk Periuk Jaya 11. Batuceper Porisgaga Baru Porisjaya Porisgaga Kebon Besar Batuceper Batujaya Batusari 12. Neglasari Karang Anyar Karang Sari Neglasari Mekarsari Kedaung Baru Kedaung Wetan Selapajang Jaya 13. Benda Belendung Jurumudi Baru Jurumudi Pajang Benda Sumber: Hasil Analisis, 2012. 7. Karawaci Kepadatan Penduduk 2017 (jiwa/ha) 72 276 147 67 51 200 181 202 179 169 153 185 629 97 174 251 151 138 141 110 121 188 46 90 359 256 229 176 181 117 271 318 170 92 134 127 194 121 115 101 143 48 155 83 67 62 92 72 93 122 106 208 57 Arahan Penggunaan Lahan Dominan Menurut RTRW 2011-2030 CBD Permukiman Permukiman Industri Industri Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Permukiman Industri, Permukiman Permukiman Industri Industri, Permukiman Permukiman Industri, Permukiman Industri Industri Industri Industri Industri Industri CBD, Permukiman Permukiman Permukiman Industri, Permukiman Industri Industri Industri, Permukiman Permukiman Permukiman Industri, Permukiman Industri Industri Permukiman Industri, Permukiman Industri, Permukiman Industri, Permukiman Industri, Permukiman Industri, Permukiman Permukiman Permukiman, Penunjang Bandara Permukiman, Penunjang Bandara Penunjang Bandara, RTH Penunjang Bandara, RTH Industri, Permukiman Penunjang Bandara, RTH Permukiman, Penunjang Bandara Industri, Permukiman Industri, Permukiman Penunjang Bandara CBD Tipologi Area Berisiko Sanitasi SR SR SR SR R R R SR SR SR SR R R SR SR R SR R R R SR R R R R SR R R R R R R R R SR SR R R R SR R R T T R R T T R R R R R Permeabilitas Tanah (cm/jam) 0,5-2,0 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 6,5-12,5 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 0,5-2,0 Tinggi Muka Airtanah (m bmt) 14 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 32 32 32 32 32 32 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 14 14 14 14 14 14 14 11 11 11 11 11 11 11 9 9 9 9 9 Luas (ha) 96 58 117 156 166 89 123 82 108 81 57 64 16 60 42 69 60 161 150 290 194 142 503 314 97 88 153 202 110 303 160 102 162 228 100 102 117 118 138 142 131 329 190 257 182 154 209 288 262 205 232 40 357 Kemiringan Tanah (%) 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 2-5% 0-2% 2-5% 2-5% 0-2% 0-2% 2-5% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 2-5% 0-2% 2-5% 2-5% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 2-5% 2-5% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% 0-2% Opsi Sistem Opsi Teknologi Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Setempat Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama Tangki Septik Pribadi/Bersama 11
  12. 12. 4.2. Kebutuhan Pengembangan Prasarana dan Sarana Air Limbah Domestik Berdasarkan hasil analisis pemilihan sistem dan teknologi pengelolaan air limbah domestik, sistem pengelolaan yang direkomendasikan untuk diterapkan di Kota Tangerang adalah sistem setempat (on-site system), sehingga analisis kebutuhan pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestiknya pun khusus untuk penerapan sistem setempat tersebut. Sedangkan analisis kebutuhan pengembangan prasarana dan sarana air limbah sistem terpusat (off-site system) diarahkan pada optimalisasi prasarana dan sarana air limbah sistem terpusat yang sudah ada. 4.2.1 Pengembangan Sistem Setempat (On-Site System) Kebutuhan prasarana dan sarana air limbah domestik sistem setempat (on-site system) yang dianalisis meliputi: kebutuhan pengembangan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT), kebutuhan truk tinja pengangkut lumpur tinja dari tangki septik ke IPLT, serta kebutuhan jamban keluarga dan MCK umum sebagai sarana sanitasi tingkat rumah tangga. Pengembangan IPLT Perhitungan kebutuhan pengembangan IPLT dilakukan berdasarkan proyeksi timbulan lumpur tinja yang akan dilayani dengan menggunakan beberapa asumsi dan target layanan.Beberapa kaidah teknis yang dijadikan acuan dan asumsi yang digunakan dalam analisis kebutuhan pengembangan IPLT di Kota Tangerang dapat diuraikan sebagai berikut: a) Tingkat pelayanan yang hendak dicapai pada akhir tahun perencanaan yaitu tahun 2017 adalah 80%, artinya minimum 80% dari total penduduk Kota Tangerang pada tahun 2017 dapat dilayani oleh IPLT. Halini sesuai dengan arahan dalam RTRW 2011-2030. Sebagai perbandingan, target tingkat pelayanan berdasarkan MDGs adalah 76,82% pada tahun 2015, sedangkan menurut SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2010) adalah 60% pada tahun 2014. b) Proyeksi volume timbulan air limbah domestik dilakukan berdasarkan proyeksi jumlah penduduk. Volume timbulan air limbah domestik dihitung berdasarkan asumsi rata-rata timbulan air limbah domestik di Kota Tangerang = 100 liter/orang/hari dibagi dengan 1.000 untuk konversi menjadi m3/orang/hari. Sedangkan volume timbulan lumpur tinja dihitung berdasarkan asumsi bahwa pengendapan lumpur tinja = 2‰ (dua perseribu) dari volume timbulan air limbah domestik. c) Berdasarkan pertimbangan terbatasnya ketersediaan lahan di Kota Tangerang dan efisiensi dalam pembiayaan, maka pengembangan IPLT diarahkan pada peningkatan kapasitas IPLT yang sudah ada. Dengan menggunakan beberapa asumsi di atas, maka dapat dihitung jumlah penduduk dan timbulan lumpur tinja yang akan dilayani, serta kebutuhan peningkatan kapasitas pengolahan IPLT untuk pengembangan IPLT tersebut.. Kebutuhan Pengembangan IPLT di Kota Tangerang Tahun 2013-2017 Tahun 2013 2014 2015 2016 2017 1. Jumlah Penduduk jiwa 1.970.517 2.031.406 2.094.176 2.158.886 2.225.596 2. Tingkat Pelayanan % 40% 50% 60% 70% 80% 3. Jumlah Penduduk yang Dilayani jiwa 788.207 1.015.703 1.256.506 1.511.220 1.780.477 4. Volume Timbulan Air Limbah m3/hari 78.821 101.570 125.651 151.122 178.048 Domestik 5. Volume Timbulan Lumpur Tinja m3/hari 158 203 251 302 356 6. Kapasitas Minimum IPLT m3/hari 158 203 251 302 356 (= Volume Timbulan Lumpur Tinja yang Harus Diolah) Saat ini terdapat 1 unit IPLT di Kota Tangerang yang terletak di Kecamatan Karawaci dengan kapasitas pengolahan maksimum 70 m3/hari dan luas area IPLT ±1 ha. Berdasarkan perhitungan kebutuhan pengembangan di atas, maka perlu dilakukan peningkatan kapasitas pengolahan dari IPLT Bawang pada tahun 2017 agar dapat melayani 80% dari total penduduk Kota Tangerang menjadi 356 m 3/hari. Peningkatan kapasitas pengolahan ini berdampak pada perlunya perluasan area IPLT Bawang. Untuk menghitung kebutuhan luas lahan untuk pengembangan IPLT Bawang diperlukan kajian lebih lanjut dan tidak dilakukan dalam studi ini. Dengan demikian, dalam pengembangan IPLT Bawang ini perlu diawali dengan penyusunan studi kelayakan (feasibility study) dan penyusunan DED (Detailed Engineering Design). No Keterangan Satuan 12
  13. 13. 2. Truk Tinja Perhitungan kebutuhan truk tinja di Kota Tangerang dilakukan berdasarkan proyeksi timbulan lumpur tinja yang akan dilayani dengan menggunakan beberapa asumsi dan target layanan sebagai berikut: Tingkat pelayanan yang hendak dicapai pada akhir tahun perencanaan yaitu tahun 2017 adalah 80%, artinya minimum 80% dari total penduduk Kota Tangerang pada tahun 2017 dapat dilayani oleh truk tinja. Hal ini sesuai dengan arahan dalam RTRW 2011-2030. Sebagai perbandingan, target tingkat pelayanan berdasarkan MDGs adalah 76,82% pada tahun 2015, sedangkan menurut SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2010) adalah 60% pada tahun 2014. Berdasarkan SPM Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan Permukiman, dan Pekerjaan Umum (Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 534/KPTS/M/2001) 1 unit truk tinja dengan kapasitas 4 m3 diasumsikan digunakan untuk pelayanan maksimal 120.000 jiwa penduduk. Nilai tersebut ekivalen dengan 1 unit truk tinja dengan kapasitas 3 m 3 diasumsikan digunakan untuk pelayanan maksimal 90.000 jiwa penduduk Dengan menggunakan asumsi di atas, maka dapat dihitung jumlah penduduk yang akan dilayani dan kebutuhan truk tinja.. Kebutuhan Truk Tinja di Kota TangerangTahun 2013-2017 Tahun No Keterangan Satuan 2013 2014 2015 2016 2017 1. Jumlah Penduduk jiwa 1.970.517 2.031.406 2.094.176 2.158.886 2.225.596 2. Tingkat Pelayanan % 40% 50% 60% 70% 80% 3. Jumlah Penduduk yang Dilayani jiwa 788.207 1.015.703 1.256.506 1.511.220 1.780.477 4. Kebutuhan Truk Tinja dengan unit 7 8 10 13 15 Kapasitas 4 m3 5. Kebutuhan Truk Tinja dengan unit 9 11 14 17 20 Kapasitas 3 m3 Saat ini Pemerintah Kota Tangerang sudah memiliki 13 unit truk tinja dengan kapasitas masing-masing 3 m3. Berdasarkan perhitungan kebutuhan truk tinja di atas, untuk dapat melayani 80% dari total penduduk Kota Tangerang pada tahun 2017 diperlukan 15 unit truk tinja dengan kapasitas masing-masing 4 m3 atau setara dengan 20 unit truk tinja dengan kapasitas masing-masing 3 m3. Dengan demikian, pada tahun 2017 diperlukan penambahan 7 unit truk tinja dengan kapasitas masing-masing 3 m3. Sejalan dengan pemisahan fungsi regulator dan operator dalam pengelolaan air limbah domestik dimana Pemerintah lebih berkonsentrasi pada fungsi regulator, maka dalam pengadaan serta operasional dan pemeliharaan truk tinja yang merupakan fungsi operator sudah saatnya melibatkan swasta. Dalam hal ini swasta dapat berinvestasi secara langsung atau melalui kemitraan pemerintah-swasta (KPS). Dengan demikian, langkah Pemerintah Kota Tangerang dalam memenuhi kebutuhan truk tinja di Kota Tangerang bukan lagi berupa pengadaan, operasional dan pemeliharaan truk tinja melainkan membangun kemitraan dengan swasta. 1. Jamban Keluarga dan MCK Umum Jamban keluarga yang dimaksud adalah jamban yang dilengkapi tangki septik.Jamban keluarga ini merupakan sarana sanitasi yang digunakan oleh satu rumah tangga.Sedangkan MCK (Mandi, Cuci, dan Kakus) umum adalah sarana sanitasi yang digunakan bersama oleh beberapa rumah tangga.Pengembangan jamban keluarga dan MCK umum ini diperuntukkan bagi rumah tangga miskin karena rumah tangga miskin diasumsikan memiliki keterbatasan pembiayaan untuk membangun sarana sanitasi sendiri. Perhitungan kebutuhan jamban keluarga dan MCK umum di Kota Tangerang dilakukan berdasarkan jumlah rumah tangga miskin yang tidak memiliki jamban dengan menggunakan beberapa asumsi berdasarkan SNI 03-2398-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Tangki Septik dengan Sistem Resapan dan SNI 03-2399-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Bangunan MCK Umum. Beberapa asumsi yang digunakan dapat diuraikan sebagai berikut: a) Satu unit MCK Umum dapat digunakan untuk melayani 20 – 200 KK dan jarak maksimum antara lokasi MCK umum dengan rumah penduduk yang dilayani adalah 100 m. b) Berdasarkan ketentuan di atas dapat diasumsikan bahwa apabila dalam 1 (satu) rukun tetangga (RT) terdapat 20 – 200 KK yang tidak memiliki jamban maka perlu dibangun 1 unit MCK umum. 13
  14. 14. c) Sedangkan apabila dalam 1 (satu) rukun tetangga (RT) jumlah rumah tangga yang tidak memiliki jamban <20 KK, maka perlu dibangun jamban keluarga untuk masing-masing rumah tangga yang tidak memiliki jamban tersebut. d) Jumlah rumah tangga miskin di Kota Tangerang diasumsikan tidak bertambah hingga akhir tahun perencanaan yaitu tahun 2017. Dengan menggunakan asumsi di atas, maka dapat dihitung kebutuhan jamban keluarga dan MCK umum. Hasil perhitungan kebutuhan jamban keluarga di Kota Tangerang hingga tahun 2017 sebanyak 12.291 unit jamban, sedangkan kebutuhan MCK umum sebanyak 340 unit. No 1. 2 3 4 5 6 7 8i 9 10 11 12 13 Kecamatan Ciledug Larangan Karang tengah Cipondoh Pinang Tangerang Karawaci Jatiuwung cibodas Periuk Batuceper Neglasari Benda TOTAL Kebutuhan Jamban Keluarga (unit) 679 264 545 1.005 1.211 1.209 1.828 1134 797 674 892 1.147 906 12.291 Kebutuhan MCK Umum (unit) 2 4 5 24 11 38 39 23 46 28 79 41 340 4.2.2 Sistem Terpusat (Off-Site System) Saat ini Kota Tangerang sudah mempunyai sistem perpipaan air limbah domestik (off-site system), yaitu IPAL Tanah Tinggi dan IPAL Perumnas 1 Karawaci. Walaupun dari hasil pemilihan sistem pengelolaan air limbah domestik yang direkomendasikan untuk kondisi Kota Tangerang adalah sistem sanitasi setempat (on-site system), akan tetapi tidak berarti bahwa sistem terpusat (off-site system) yang ada kemudian harus ditutup. Sistem terpusat (off-site system) ini sebaiknya dipertahankan dan dikembangkan jika memungkinkan karena pesatnya perkembangan Kota Tangerang, terutama di Kecamatan Karawaci, Kecamatan Tangerang, dan Kecamatan Cibodas yang merupakan pusat perkembangan kota. Sistem terpusat (off-site system) yang ada saat ini merupakan sistem perpipaan yang sudah lama ada sehingga informasi atau data jaringan perpipaan sudah tidak diketahui lagi oleh instansi terkait. Untuk itu, pengembangan yang sebaiknya dilakukan untuk sistem terpusat (off-site system) ini adalah melakukan pemetaan ulang sistem perpipaan, pengecekan kondisi perpipaan, identifikasi ulang daerah pelayanan, dan perhitungan ulang beban pengaliran eksisting untuk melihat kemungkinan pengembangan daerah pelayanan. 14
  15. 15. V. Strategi dan Program Pengembangan 5.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan hasil analisis kondisi eksisting sanitasi dan analisis kebutuhan pengembangan prasarana dan sarana sanitasi, maka dapat diidentifikasi permasalahan pengelolaan air limbah domestik yang ada di Kota Tangerang. Permasalahan tersebut mencakup berbagai aspek, baik aspek teknis, aspek pembiayaan, aspek kelembagaan, aspek peraturan, maupun aspek peran serta masyarakat. A. Permasalahan Aspek Teknis Volume timbulan air limbah domestik dan timbulan lumpur tinja semakin meningkat dari tahun ke tahun sejalan dengan pertumbuhan penduduknya. Hal ini berdampak pada peningkatan kebutuhan prasarana dan sarana air limbah domestik. Masih terdapat kelurahan yang termasuk ke dalam tipologi are berisiko sanitasi tinggi atau mempunyai tingkat risiko kesehatan lingkungan yang tinggi yaitu sebanyak 4 kelurahan atau 3,85% dari jumlah total kelurahan di Kota Tangerang. Masih terdapat rumah tangga yang tidak memiliki jamban keluarga yaitu sebanyak 22.703 KK atau 4,90% dari jumlah total rumah tangga di Kota Tangerang. Berdasarkan nilai pendapatan retribusi penyedotan kakus, IPLT yang ada di Kota Tangerang yaitu IPLT Bawang saat ini mengolah lumpur tinja sebanyak 24,04 m3/hari padahal volume timbulan lumpur tinja yang harus dilayani oleh IPLT Bawang sebanyak 360,50 m3/hari, artinya tingkat pelayanan IPLT Bawang berdasarkan volume lumpur tinja yang diolah adalah 6,67%. Sedangkan berdasarkan kapasitasnya IPLT Bawang dapat mengolah lumpur tinja sebanyak 70 m 3/hari. Dengan demikian, tingkat efektivitas pemanfaatan IPLT Bawang ini baru mencapai 34,34%. Berdasarkan nilai pendapatan retribusi penyedotan kakus, truk tinja yang dimiliki Pemerintah Kota Tangerang sebanyak 13 unit dengan kapasitas masing-masing 3 m3 saat ini menyedot dan mengangkut lumpur tinja sebanyak 24,04 m3/hari padahal volume timbulan lumpur tinja yang harus dilayani oleh truk tinja tersebut sebanyak 360,50 m 3/hari, artinya tingkat pelayanan truk tinja berdasarkan volume lumpur tinja yang disedot dan diangkut adalah 6,67%. Sedangkan jika diasumsikan masing-masing truk tinja melakukan penyedotan dan pengangkutan lumpur tinja dari tangki septik ke IPLT 2 ritasi per hari maka volume lumpur tinja yang dapat disedot dan diangkut oleh 13 unit truk tinja tersebut sebesar 78,00 m3. Artinya tingkat efektivitas pemanfaatan truk tinja yang dimiliki Pemerintah Kota Tangerang dengan asumsi tersebut hanya 30,82%. Prasarana dan sarana air limbah domestik sistem terpusat (off-site system) yang ada saat ini yaitu IPAL Tanah Tinggi dan IPAL Perumnas 1 Karawaci merupakan sistem perpipaan yang sudah lama ada sehingga informasi atau data jaringan perpipaan sudah tidak diketahui lagi oleh instansi terkait. Analisis kinerja jaringan perpipaan dan sistem pengolahan sulit dilakukan karena tidak adanya data jaringan perpipaan sehingga sulit diketahui kapasitas optimal sistem perpipaan dan sulitnya mengetahui kapasitas pengolahan eksisting yang saat ini ada. Untuk itu, pengembangan yang sebaiknya dilakukan untuk sistem terpusat (off-site system) ini adalah melakukan pemetaan ulang sistem perpipaan, pengecekan kondisi perpipaan, identifikasi ulang daerah pelayanan, dan perhitungan ulang beban pengaliran eksisting untuk melihat kemungkinan pengembangan daerah pelayanan. Selain itu, juga dapat diketahui beban nyata bagi IPAL eksisting berdasarkan sistem perpipaan dan beban pengaliran yang ada, sehingga dapat dilakukan evaluasi kinerja dan kemungkinan pengembangan IPAL tersebut. B. Permasalahan Aspek Pembiayaan Hasil analisis kondisi eksisting sanitasi dan analisis kebutuhan pengembangan prasarana dan sarana sanitasi menunjukkan bahwa permasalahan pengelolaan air limbah domestik yang ada di Kota Tangerang ditinjau dari aspek pembiayaan antara lain sebagai berikut: Belum adanya arah pengembangan yang jelas dalam pembangunan sanitasi menyebabkan besar anggaran yang diperlukan menjadi sulit terukur. Hal ini yang membuat kecilnya proporsi anggaran belanja sektor sanitasi khususnya air limbah domestik di Kota Tangerang dimana saat ini hanya sebesar 5,02% terhadap anggaran belanja total Dinas Pekerjaan Umum Kota Tangerang. Pendapatan daerah Kota Tangerang yang terkait langsung dengan sektor sanitasi khususnya air limbah domestik yaitu pendapatan yang berasal dari retribusi penyedotan kakus masih relatif kecil untuk dapat membiayai pembangunan, operasional dan pemeliharaan prasarana dan sarana air limbah domestik di Kota Tangerang. Proporsi pendapatan dari retribusi penyedotan kakus 1
  16. 16. terhadap anggaran belanja sektor sanitasi khususnya air limbah domestik saat ini hanya sebesar 4,64%. Sebagai konsekuensinya Pemerintah Kota Tangerang harus terus memberikan subsidi untuk biaya pembangunan, operasional dan pemeliharaan prasarana dan sarana air limbah domestik. C. Permasalahan Aspek Kelembagaan Hasil analisis kondisi eksisting sanitasi dan analisis kebutuhan pengembangan prasarana dan sarana sanitasi menunjukkan bahwa permasalahan pengelolaan air limbah domestik yang ada di Kota Tangerang ditinjau dari aspek kelembagaan antara lain sebagai berikut:  Belum terpisahnya fungsi regulator dan operator dalam pengelolaan air limbah domestik di Kota Tangerang.  Belum terbentuknya kemitraan pemerintah swasta (KPS) dalam pengelolaan air limbah domestik di Kota Tangerang. Hal ini juga sebagai akibat dari belum terpisahnya fungsi regulator dan operator dalam pengelolaan air limbah domestik. Padahal Pemerintah Kota Tangerang dapat lebih fokus dalam mengemban fungsi regulator, sedangkan fungsi operator dapat diserahkan kepada pihak swasta melalui pola KPS.  Belum terbentuknya lembaga pengelola air limbah domestik di tingkat masyarakat di Kota Tangerang. Padahal keberadaan lembaga pengelola air limbah domestik di tingkat masyarakat sangat penting untuk mengembangkan pengelolaan sanitasi berbasis masyarakat. D. Permasalahan Aspek Peraturan Hasil analisis kondisi eksisting sanitasi dan analisis kebutuhan pengembangan prasarana dan sarana sanitasi menunjukkan bahwa permasalahan pengelolaan air limbah domestik yang ada di Kota Tangerang ditinjau dari aspek peraturan antara lain sebagai berikut:  Belum adanya peraturan di tingkat Kota Tangerang tentang kebijakan pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik di wilayah Kota Tangerang.  Belum adanya rencana induk pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik Kota Tangerang yang dapat memberikan arah pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik yang jelas dan terukur. E. Permasalahan Aspek Peran Serta Masyarakat Hasil analisis kondisi eksisting sanitasi dan analisis kebutuhan pengembangan prasarana dan sarana sanitasi menunjukkan bahwa permasalahan pengelolaan air limbah domestik yang ada di Kota Tangerang ditinjau dari aspek peran serta masyarakat antara lain sebagai berikut:  Pemahaman masyarakat terhadap dampak air limbah domestik masih relatif rendah sehingga pembuangan air limbah domestik jarang dipikirkan sebagai ancaman terhadap kelestarian lingkungan khususnya sumber daya air.  Tingkat kemauan untuk membayar (willingness to pay) masyarakat Kota Tangerang dalam pembiayaan pembangunan, operasional dan pemeliharaan prasarana dan sarana air limbah domestik masih relatif rendah. Hal ini sangat terkait dengan pemahaman dan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan air limbah domestik karena tanpa pengelolaan yang baik air limbah domestik dapat menjadi ancaman terhadap kesehatan lingkungan dan kelestarian lingkungan khususnya sumber daya air.  Masih terbatasnya penyelenggaraan pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik berbasis masyarakat.  Masih rendahnya tingkat partisipasi swasta dalam penyelenggaraan pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik. 5.2. Tujuan Pengembangan Tujuan pengembangan sanitasi Kota Tangerang adalah: Meningkatkan penyediaan dan pelayanan prasarana dan sarana sanitasi untuk meningkatkan kualitas permukiman dan perkotaan. Sasaran dalam mencapai tujuan pengembangan sanitasi Kota Tangerang tersebut adalah sebagai berikut: 1. Meningkatnya pelayanan prasarana dan sarana air limbah domestik baik sistem sanitasi on-site maupun sistem sanitasi off-site, dengan indikator keberhasilan sebagai berikut:  Peningkatancakupan pelayanan IPLT menjadi 80% dari seluruh penduduk pada tahun 2017.  Peningkatancakupan pelayanan truk tinja menjadi 80% dari seluruh penduduk pada tahun 2017. 2
  17. 17.   Peningkatan akses penduduk terhadap sarana air limbah domestik tingkat rumah tangga menjadi 100% dari seluruh penduduk pada tahun 2017. Optimalisasi pelayanan IPAL menjadi 100% dari total kapasitasnya pada tahun 2017. 2. Meningkatnya ketersediaan dana untuk pembiayaan pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik, dengan indikator keberhasilan sebagai berikut:  Peningkatan anggaran belanja sektor sanitasi khususnya air limbah domestik melalui penyusunan rencana pengembangan yang jelas dan terukur.  Peningkatan pendapatan retribusi penyedotan kakus melalui optimalisasi pelayanan. 3. Menguatnya kelembagaan pengelola air limbah domestik, dengan indikator keberhasilan sebagai berikut:  Penguatan lembaga regulator dalam pengelolaan air limbah domestik.  Pembentukan lembaga operatordalam pengelolaan air limbah domestik melalui pengembangan kemitraan pemerintah swasta (KPS).  Pembentukan lembaga pengelola air limbah domestik tingkat masyarakat. 4. Tersedianya peraturantentang pengelolaan air limbah domestik, dengan indikator keberhasilan sebagai berikut:  Penyusunan, penetapan, penyebarluasan informasi, dan penerapan peraturan tentang kebijakan dan rencana induk pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik Kota Tangerang.  Penyusunan, penetapan, penyebarluasan informasi, dan penerapan peraturan tentang kemitraan pemerintah swasta (KPS) dalam pengelolaan air limbah domestik Kota Tangerang. 5. Meningkatnya peran serta masyarakat dalam pengelolaan air limbah domestik, dengan indikator keberhasilan sebagai berikut:  Peningkatan pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap perlunya pengelolaan air limbah domestik.  Peningkatan partisipasi swasta dalam penyelenggaraan pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik. 5.3. Program Pengembangan Program pengembangan sanitasi Kota Tangerang dirumuskan untuk memecahkan permasalahan sanitasi yang ada dan merupakan pendetailan strategi dan kebijakan pengembangan yang telah dirumuskan sebelumnya. Program pengembangan ini mempunyai jangka waktu pelaksanaan selama lima tahun yaitu tahun 2013-2017 yang pelaksanaannya disesuaikan dengan skala prioritas. 3
  18. 18. Indikasi Program Pengembangan Sanitasi Kota Tangerang Tahun 2013-2017 Sasaran Strategi Kebijakan Program Indikator Sasaran Program Target Sasaran Pengembangan 4 Program peningkatan pelayanan IPLT Bawang (Program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah) Program peningkatan pelayanan truk tinja (Program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah) - 1 Indikator Kinerja SKPD - - Penyusunan FS dan DED pengembangan IPLT Bawang (Fasilitasi pembinaan teknik pengolahan air limbah) Jumlah dokumen FS dan DED pengembangan IPLT Bawang sebanyak 1 dokumen pada tahun 2014 Tingkat Kota Tangerang pemanfaatan dokumen FS dan DED pengembangan IPLT Bawang sebesar 100% Penduduk Kota Tangerang Dinas Pekerjaan Umum - 1 - - Sosialisasi rencana pengembangan IPLT Bawang (Fasilitasi pembinaan teknik pengolahan air limbah) Jumlah kegiatan sosialisasi rencana pengembangan IPLT Bawang sebanyak 1 kegiatan pada tahun 2015 Tingkat pemanfaatan hasil sosialisasi pengembangan IPLT Bawang sebesar 100% Kota Tangerang Penduduk Kota Tangerang Dinas Pekerjaan Umum - - 1 - Pembebasan lahan untuk area pengembangan IPLT Bawang (Rehabilitasi/ pemeliharaan sarana dan prasarana air limbah) Jumlah kegiatan pembebasan lahan untuk area pengembangan IPLT Bawang sebanyak 1 kegiatan pada tahun 2016 Tingkat Kota Tangerang pemanfaatan hasil pembebasan lahan untuk area pengembangan IPLT Bawang sebesar 100% Penduduk Kota Tangerang Dinas Pekerjaan Umum - - - 1 Pengembangan IPLT Bawang (Rehabilitasi/ pemeliharaan sarana dan prasarana air limbah) Kapasitas pengolahan IPLT Bawang menjadi 356 m3/hari pada tahun 2017 Tingkat Kota Tangerang pemanfaatan hasil peningkatan kapasitas IPLT Bawang menjadi 356 m3/hari sebesar 100% pada tahun 2017 Penduduk Kota Tangerang Dinas Pekerjaan Umum Peningkatan pelayanan truk tinja menjadi 80% terhadap total penduduk pada tahun 2017 - - - - 1 Fasilitasi kemitraan pemerintah swasta (KPS) untuk pengadaan, operasional, dan pemeliharaan truk tinja (Penyediaan prasarana dan sarana air limbah) Jumlah kegiatan fasilitasi kemitraan pemerintah swasta (KPS) untuk pengadaan, operasional, dan pemeliharaan truk tinja sebanyak 1 kegiatan pada tahun 2017 Tingkat Kota Tangerang pemanfaatan hasil fasilitasi kemitraan pemerintah swasta (KPS) untuk pengadaan, operasional, dan pemeliharaan truk tinja sebesar 100% Penduduk Kota Tangerang Dinas Pekerjaan Umum 6 7 Outcome Kelompok Sasaran - 5 Peningkatan kapasitas pengolahan IPLT Bawang dari 70 m3/hari menjadi 356 m3/hari Output Lokasi 2017 - 3 Meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana air limbah domestik sistem setempat (onsite) 2015 Kegiatan 2016 - 2 Peningkatan pelayanan prasarana dan sarana air limbah domestik 2014 - 1 Meningkatnya pelayanan prasarana dan sarana air limbah domestik baik sistem sanitasi on-site maupun sistem sanitasi off-site 2013 8 9 10 11 4
  19. 19. Sasaran Strategi Kebijakan 1 2 3 Program Indikator Sasaran Program Target Sasaran Pengembangan 2013 2014 2015 2016 2017 Indikator Kinerja Output Meningkatkan ketersediaan dana untuk pembiayaan pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik 5 68 68 68 68 68 Pembangunan MCK umum untuk masyarakat miskin (Penyediaan prasarana dan sarana air limbah) Jumlah MCK umum untuk masyarakat miskin yang dibangun sebanyak 68 unit per tahun (20132017) Tingkat pemanfaatan MCK umum untuk masyarakat miskin sebesar 100% Kota Tangerang Rumah Tangga Miskin Kota Tangerang Dinas Pekerjaan Umum Pembangunan jamban keluarga untuk masyarakat miskin sebanyak 12.291 unit hingga tahun 2017 2.458 2.458 2.458 2.458 2.459 Pembangunan jamban keluarga untuk masyarakat miskin (Penyediaan prasarana dan sarana air limbah) Jumlah jamban keluarga untuk masyarakat miskin yang dibangun sebanyak 2.458 unit per tahun (2013-2016) dan 2.459 unit pada tahun 2017 Tingkat Kota Tangerang pemanfaatan jamban keluarga untuk masyarakat miskin sebanyak 100% Rumah Tangga Miskin Kota Tangerang Dinas Pekerjaan Umum Program optimalisasi pelayanan IPAL Tanah Tinggi dan IPAL Perumnas 1 Karawaci (Program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah) Optimalisasi pelayanan IPAL Tanah Tinggi dan - 1 - - - Penyusunan studi evaluasi kinerja dan kemungkinan pengembangan IPAL Tanah Tinggi dan IPAL Perumnas 1 Karawaci (Fasilitasi pembinaan teknik pengolahan air limbah) Jumlah dokumen studi evaluasi kinerja dan kemungkinan pengembangan IPAL Tanah Tinggi dan IPAL Perumnas 1 Karawaci sebanyak 1 dokumen pada tahun 2014 Tingkat pemanfaatan dokumen studi evaluasi kinerja dan kemungkinan pengembangan IPAL Tanah Tinggi dan IPAL Perumnas 1 Karawaci sebesar 100% Kota Tangerang Penduduk Kota Tangerang Dinas Pekerjaan Umum - Peningkatan ketersediaan dana untuk pembiayaan pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik - 1 1 1 Rehabilitasi/ pemeliharaan IPAL Tanah Tinggi dan IPAL Perumnas 1 Karawaci (Rehabilitasi/ pemeliharaan sarana dan prasarana air limbah) Jumlah kegiatan rehabilitasi/ pemeliharaan IPAL Tanah Tinggi dan IPAL Perumnas 1 Karawaci sebanyak 1 kegiatan per tahun (2015-2017) Tingkat Kota Tangerang pemanfaatan hasil rehabilitasi/ pemeliharaan IPAL Tanah dan IPAL Perumnas 1 Karawaci Tinggi sebesar 100% Penduduk Kota Tangerang Dinas Pekerjaan Umum 1 - - - - Penyusunan rencana induk pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik (Fasilitasi pembinaan teknik pengolahan air limbah) Jumlah dokumen rencana induk pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik sebanyak 1 dokumen pada tahun 2013 Tingkat Kota Tangerang pemanfaatan dokumen rencana induk pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik sebesar 100% Penduduk Kota Tangerang Dinas Pekerjaan Umum Program peningkatan ketersediaan dana untuk pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik (Program pengembangan Peningkatan anggaran belanja sektor sanitasi khususnya air limbah domestik melalui penyusunan rencana pengembangan yang jelas dan 10 SKPD Pembangunan MCK umum untuk masyarakat miskin sebanyak 340 unit hingga tahun 2017 100% dari total kapasitasnya pada tahun 2017 9 Kelompok Sasaran 4 IPAL Perumnas 1 Karawaci menjadi 8 Lokasi Program pembangunan jamban keluarga untuk masyarakat miskin (Program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah) Meningkatnya ketersediaan dana untuk pembiayaan pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik 7 Outcome Program pembangunan MCK umum untuk masyarakat miskin (Program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah) Optimalisasi pelayanan prasarana dan sarana air limbah domestik sistem terpusat (off-site) 6 Kegiatan 11 5
  20. 20. Sasaran Strategi Kebijakan 1 2 3 Program Indikator Sasaran Program 4 Target Sasaran Pengembangan 5 2013 2014 2015 2016 2017 Kegiatan 6 Indikator Kinerja Output 7 Outcome 8 Lokasi Kelompok Sasaran SKPD 9 10 11 kinerja pengelolaan terukur air minum dan air limbah) 1 Menguatnya kelembagaan pengelola air limbah domestik Penguatan kelembagaan pengelola air limbah domestik Membentuk lembaga operator dalam pengelolaan air limbah domestik melalui pola kemitraan pemerintah swasta (KPS) Program penguatan lembaga regulator pengelola air limbah domestik (Program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah) Program pembentukan lembaga operator pengelola air limbah domestik (Program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah) Penguatan lembaga regulator dalam pengelolaan air limbah domestik Pembentukan lembaga operator dalam pengelolaan air limbah domestik melalui pengembangan kemitraan pemerintah swasta (KPS) - - - Penyusunan studi kelayakan investasi sektor air limbah domestik (Fasilitasi pembinaan teknik pengolahan air limbah) Jumlah dokumen studi kelayakan investasi sektor air limbah domestik sebanyak 1 dokumen pada tahun 2013 Tingkat Kota Tangerang pemanfaatan dokumen studi kelayakan investasi sektor air limbah domestik sebesar 100% Penduduk Kota Tangerang Dinas Pekerjaan Umum 1 - - - - Penyusunan studi analisis kelembagaan pengelola air limbah domestik (Fasilitasi pembinaan teknik pengolahan air limbah) Jumlah dokumen studi analisis kelembagaan pengelola air limbah domestik sebanyak 1 dokumen pada tahun 2013 Tingkat Kota Tangerang pemanfaatan dokumen studi analisis kelembagaan pengelola air limbah domestik sebesar 100% Penduduk Kota Tangerang Dinas Pekerjaan Umum 1 Menguatkan lembaga regulator pengelola air limbah domestik - 1 1 1 1 Pendidikan dan pelatihan personil lembaga regulator pengelola air limbah domestik (Pendidikan dan pelatihan teknis) Jumlah kegiatan pendidikan dan pelatihan personil lembaga regulator pengelola air limbah domestik sebanyak 1 kegiatan per tahun (20132017) Tingkat Kota Tangerang pemanfaatan hasil pendidikan dan pelatihan personil lembaga regulator pengelola air limbah domestik sebesar 100% Personil Lembaga Regulator Pengelola Air Limbah Domestik Badan Kepegawaian, Pendidikan, dan Pelatihan 1 - - - - Penyusunan studi pembentukan Kota Tangerang Penduduk Kota Tangerang Dinas Pekerjaan Umum Tingkat Kota Tangerang pemanfaatan lembaga operator pengelola air limbah domestik melalui KPS sebesar 100% Penduduk Kota Tangerang Dinas Pekerjaan Umum Jumlah dokumen Tingkat studi pemanfaatan dokumen studi lembaga operator pembentukan pembentukan lembaga pengelola air limbah domestik operator pengelola air melalui KPS limbah (Fasilitasi pembinaan teknik domestik pengolahan air melalui KPS limbah) - 1 - - - Fasilitasi pembentukan lembaga operator pengelola air limbah domestik melalui KPS (Fasilitasi pembinaan teknik sebanyak 1 dokumen pada tahun 2013 Jumlah lembaga operator pengelola air limbah domestik melalui KPS yang dibentuk sebanyak 1 lembaga pada lembaga operator pengelola air limbah domestik melalui KPS sebesar 100% 6
  21. 21. Sasaran Strategi Kebijakan Program Indikator Sasaran Program 1 2 3 4 Target Sasaran Pengembangan 5 2013 2014 2015 2016 2017 6 Kegiatan 7 pengolahan air limbah) Membentuk lembaga pengelola air limbah domestik tingkat masyarakat Tersedianya peraturan tentang pengelolaan air limbah domestik Pengembangan peraturan tentang pengelolaan air limbah domestik Program Pembentukan pembentukan 340 lembaga lembaga pengelola pengelola air Mengembangkan peraturan tentang kebijakan dan rencana induk pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik Program pengembangan peraturan tentang kebijakan dan 68 68 68 Indikator Kinerja Output 68 68 Outcome 8 Lokasi Kelompok Sasaran SKPD 9 10 11 tahun 2014 (Program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah) Tingkat pemanfaatan lembaga Kota Tangerang Rumah Tangga Miskin Kota Tangerang Dinas Pekerjaan Umum air limbah domestik domestik tingkat tingkat masyarakat masyarakat (Fasilitasi yang dibentuk pembinaan teknik sebanyak 68 pengolahan air lembaga per limbah) tahun (20132017) air limbah limbah domestik domestik tingkat tingkat masyarakat masyarakat Fasilitasi Jumlah lembaga pembentukan pengelola air lembaga pengelola limbah pengelola air limbah domestik tingkat masyarakat sebesar 100% 1 - - - - Penyusunan dan penetapan peraturan tentang kebijakan dan Jumlah peraturan tentang kebijakan dan rencana induk rencana induk pengembangan pengembangan prasarana dan prasarana dan sarana air limbah sarana air limbah domestik yang domestik disusun dan (Legislasi ditetapkan rancangan sebanyak 1 buah peraturan (2013) perundangundangan ) Tingkat Kota Tangerang pemanfaatan peraturan tentang kebijakan dan rencana induk pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik sebesar 100% Penduduk Kota Tangerang Sekretariat Daerah (Bagian Hukum) - Penyusunan, penetapan, penyebarluasan informasi, dan rencana induk penerapan pengembangan peraturan prasarana dan tentang kebijakan sarana air limbah dan rencana domestik induk (Program penataan pengembangan peraturan prasarana dan perundangsarana air limbah undangan) domestik 1 - - - Sosialisasi peraturan tentang kebijakan dan Tingkat pemanfaatan hasil sosialisasi peraturan tentang kebijakan dan Kota Tangerang Penduduk Kota Tangerang Sekretariat Daerah (Bagian Hukum) Kota Tangerang Penduduk Kota Tangerang Sekretariat Daerah (Bagian Hukum) Jumlah kegiatan sosialisasi peraturan tentang kebijakan dan rencana induk pengembangan rencana induk prasarana dan sarana air limbah pengembangan prasarana dan domestik sarana air (Fasilitasi limbah sosialisasi peraturan domestik perundangsebanyak 1 undangan) kegiatan (2014) Mengembangkan peraturan tentang kemitraan pemerintah swasta (KPS) dalam pengelolaan air limbah domestik Program Penyusunan, pengembangan penetapan, peraturan tentang penyebarluasan kemitraan pemerintah swasta (KPS) dalam pengelolaan air limbah domestik (Program penataan informasi, dan penerapan peraturan tentang kemitraan pemerintah 1 - - - - Penyusunan dan Jumlah penetapan peraturan peraturan tentang tentang kemitraan pemerintah swasta (KPS) dalam pengelolaan air limbah domestik (Legislasi kemitraan pemerintah swasta (KPS) rencana induk pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik sebesar 100% Tingkat pemanfaatan peraturan tentang kemitraan pemerintah yang disusun dan swasta (KPS) ditetapkan sebesar 100% sebanyak 1 buah (2013) 7
  22. 22. Sasaran Strategi Kebijakan 1 2 3 Program 4 peraturan perundangundangan) Indikator Sasaran Program Target Sasaran Pengembangan 2013 2014 5 2015 2016 2017 Kegiatan 6 Indikator Kinerja Output 7 Outcome 8 Lokasi Kelompok Sasaran SKPD 9 10 11 rancangan peraturan perundangundangan ) swasta (KPS) dalam pengelolaan air limbah domestik - 1 - - - Sosialisasi Jumlah kegiatan peraturan tentang sosialisasi peraturan KPS dalam tentang KPS pengelolaan air Tingkat pemanfaatan hasil sosialisasi peraturan tentang KPS Kota Tangerang Penduduk Kota Tangerang Sekretariat Daerah (Bagian Hukum) limbah domestik sebanyak 1 kegiatan (2014) sebesar 100% (Fasilitasi sosialisasi peraturan perundangundangan) Meningkatnya peran serta masyarakat dalam pengelolaan air limbah domestik Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengelolaan air limbah domestik Meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap perlunya pengelolaan air limbah domestik Program pembinaan kesehatan lingkungan (Program pengembangan lingkungan sehat) Peningkatan pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap perlunya pengelolaan air limbah domestik 1 1 1 1 1 Penyuluhan kepada masyarakat tentang perlunya pengelolaan air limbah domestik (Penyuluhan menciptakan lingkungan sehat) Jumlah kegiatan penyuluhan kepada masyarakat tentang perlunya pengelolaan air limbah domestik sebanyak 1 kegiatan per tahun (20132017) Tingkat Kota Tangerang pemanfaatan hasil penyuluhan kepada masyarakat tentang perlunya pengelolaan air limbah domestik sebesar 100% Rumah Tangga Miskin Kota Tangerang Dinas Kesehatan Meningkatkan partisipasi swasta dalam penyelenggaraan pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik melalui Corporate Social Responsibility (CSR) Program peningkatan Peningkatan partisipasi swasta dalam penyelenggaraan pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik melalui CSR 1 1 1 1 1 Fasilitasi Jumlah kegiatan fasilitasi pengembangan Tingkat pemanfaatan hasil fasilitasi pengembangan Penduduk Kota Tangerang Dinas Pekerjaan Umum partisipasi swasta dalam penyelenggaraan pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik melalui CSR (Program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah) penyelenggaraan pengembangan prasarana dan sarana air limbah domestik melalui CSR (Fasilitasi pembinaan teknik pengolahan air limbah) prasarana dan sarana air limbah domestik melalui CSR sebanyak 1 kegiatan per tahun (20132017) Kota Tangerang prasarana dan sarana air limbah domestik melalui CSR sebesar 100% 8

×