Hubungan antara Motivasi Kerja Perawat denganKecenderungan mengalami Burnout pada Perawat diRSUD Serui–PapuaEfa Novita Taw...
Efa Novita Tawale, Widjajaning Budi, Gartiniasecara prima, dalam hal pelayanan rawat inap        burnout ini diindikasikan...
Hubungan antara Motivasi Kerja Perawat dengan Kecenderungan mengalami Burnout pada perawatdi RSUD Serui-Papuasurvey kemati...
Efa Novita Tawale, Widjajaning Budi, Gartiniatugasnya. Proses pengunduran ini ditunjukkan          Desain organisasi memil...
Hubungan antara Motivasi Kerja Perawat dengan Kecenderungan mengalami Burnout pada perawatdi RSUD Serui-Papuamerupakan sum...
Efa Novita Tawale, Widjajaning Budi, Gartiniab     Faktor Hygiene                                   perlu mengingat bahwa ...
Hubungan antara Motivasi Kerja Perawat dengan Kecenderungan mengalami Burnout pada perawatdi RSUD Serui-Papuatulus terhada...
Efa Novita Tawale, Widjajaning Budi, Gartinia      Penentuan jumlah sampel dalam penelitian          0,887 pada taraf sign...
Hubungan antara Motivasi Kerja Perawat dengan Kecenderungan mengalami Burnout pada perawatdi RSUD Serui-PapuaBahasan      ...
Efa Novita Tawale, Widjajaning Budi, Gartinia          SIMPULAN DAN SARAN                                      motivasi ke...
Hubungan antara Motivasi Kerja Perawat dengan Kecenderungan mengalami Burnout pada perawatdi RSUD Serui-Papua             ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Hubungan antara Motivasi Kerja Perawat dengan Kecenderungan mengalami Burnout pada Perawat di RSUD Serui–Papua

5,108 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
5,108
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
538
Actions
Shares
0
Downloads
61
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Hubungan antara Motivasi Kerja Perawat dengan Kecenderungan mengalami Burnout pada Perawat di RSUD Serui–Papua

  1. 1. Hubungan antara Motivasi Kerja Perawat denganKecenderungan mengalami Burnout pada Perawat diRSUD Serui–PapuaEfa Novita TawaleWidjajaning BudiGartinia NurcholisFakultas Psikologi Universitas Hang-Tuah Surabaya Abstract. The purpose of this study was to determine the relationship between work motivations of nurses and nurses burnout tendency in hospitals Serui-Papua. The hypothesis proposed in this study: there is negative relationship between nurses work motivations with nurses burnout tendency in hospitals Serui-Papua. It means that the higher nurses work motivations, the lower of nurses burnout tendency, and vice versa. Based on the product moment analysis of nurses work motivations and nurses burnout tendency are obtained the result rxy = -0.526 at significance level (p) 0.000 (p <0.01). Thus nurses work motivations have a negative corelation with the nurses burnout tendency in hospital Serui-Papua. It means that the hypothesis in this study is accepted. Keywords: motivation, burnout, nurses Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara motivasi kerja perawat dengan kecenderungan mengalami burnout pada perawat di RSUD Serui-Papua. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan yang negatif antara motivasi kerja perawat dengan kecenderungan mengalami burnout pada perawat di RSUD Serui-Papua. Artinya semakin tinggi motivasi kerja yang dimiliki perawat maka kecenderungan perawat dalam mengalami burnout akan semakin rendah, begitu pula sebaliknya. Berdasarkan analisis product moment antara motivasi kerja perawat dengan kecenderungan mengalami burnout diperoleh hasil rxy sebesar -0,526 pada taraf signifikansi (p) 0,000 (p < 0,01). Dengan demikian motivasi kerja perawat mempunyai hubungan negatif dengan kecenderungan mengalami burnout pada perawat di RSUD Serui-Papua. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini diterima. Kata kunci: motivasi kerja, burnout, perawat Visi Indonesia Sehat 2010 menuntut adanya dituntut memiliki standar pelayanan dan fasilitaspelayanan kesehatan yang bermutu. Rumah Sakit yang memadai. Namun, permasalahan yangsebagai salah satu tempat untuk menciptakan terjadi adalah, tidak seluruh rumah sakit mampumasyarakat sehat baik secara jasmani dan rohani, memberikan pelayanan terhadap masyarakat Korespondensi: Gartinia Nurcholis. Fakultas Psikologi Universitas Hang-Tuah, Jalan Arief Rahman Hakim 150 SurabayaTelp: (031) 5945894, (031)5946261. Email: niia_ziip@yahoo.comINSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011 74
  2. 2. Efa Novita Tawale, Widjajaning Budi, Gartiniasecara prima, dalam hal pelayanan rawat inap burnout ini diindikasikan dengan adanyamaupun gawat darurat. kelelahan secara fisik, mental, maupun emosional, Di rumah sakit, selain profesi dokter, juga serta menarik diri dari lingkungan pekerjaanterdapat perawat yang memegang peranan (dalam Daud, 2007).penting dalam hal melayani dan merawat orang Kecenderungan burnout yang dialamiyang sakit secara langsung. Dalam melaksanakan perawat dalam bekerja akan sangattugasnya sehari-hari, seorang perawat sering mempengaruhi kualitas pelayanan keperawatandihadapkan pada suatu usaha penyelamat yang diberikan kepada pasien, serta dapatkelangsungan hidup atau nyawa seseorang. menyebabkan efektifitas pekerjaan menurun,Berkaitan dengan ruang lingkup kerjanya, hubungan sosial antar rekan kerja menjadiperawat selalu berhadapan dengan hal-hal yang renggang, dan timbul perasaan negatif terhadapmonoton dan rutin, ruang kerja yang sesak dan pasien, pekerjaan, dan tempat kerja perawat.sumpek bagi yang bertugas dibangsal, harus Dengan demikian, gejala yang menunjukkanberhati-hati menangani peralatan diruang adanya kecenderungan burnout yang dialami olehoperasi, serta harus dapat bertindak cepat namun perawat perlu mendapatkan perhatian yang cukuptepat dalam menangani penderita yang masuk serius dari pihak terkait, dalam hal ini adalahUnit Gawat Darurat. manajemen rumah sakit. Schaufeli dan Jauczur (1994) menyatakan Salah satu hal yang ditengarai dapatbahwa, dalam menjalankan peran dan fungsinya, mempengaruhi terjadinya kecenderunganseorang perawat dituntut untuk memiliki burnout yang dialami perawat adalah motivasikeahlian, pengetahuan, dan konsentrasi yang kerja. Setiap manusia mempunyai alasan tertentutinggi. Selain itu pula seorang perawat selalu bersedia melakukan jenis kegiatan atau pekerjaandihadapkan pada tuntutan idealisme profesi dan tertentu, mengapa individu yang satu bekerjasering menghadapi berbagai macam persoalan lebih giat, sedangkan yang lainnya bekerja denganbaik dari pasien maupun teman sekerja. Itu semua biasa saja, hal ini sangat tergantung pada motivasidapat menimbulkan rasa tertekan pada perawat, yang mendasari individu tersebut. Motivasi sangatsehingga mudah mengalami stres dan berpotensi penting untuk dipahami karena melalui motivasimengalami kecenderungan burnout pada perawat. seseorang terdorong untuk melakukan suatu Fraser (dalam Widanti dkk, 2010) pekerjaan (Anoraga, 2006).menyatakan bahwa stres kerja dapat terjadi dalam Dalam dunia keperawatan sangatkomponen-komponen fisik pekerjaan atau dibutuhkan motivasi yang tinggi dalamlingkungan sosial pekerjaan. Gejala stres ini melakukan suatu pelayanan kesehatan yangdiantaranya ditandai dengan hilangnya nafsu diberikan kepada pasien. Perawat yang memilikimakan, turunnya berat badan secara drastis, susah motivasi kerja yang tinggi cenderung tidak akantidur atau kelelahan secara terus-menerus. mengalami burnout dalam bekerja, namun jikaDampak negatif dari stres kerja berpengaruh perawat tersebut memiliki motivasi kerja yangterhadap organisasi. Dampak ini diwujudkan rendah, maka ia akan mengalami kecenderungandalam bentuk absenteeism (tidak masuk kerja), burnout dalam bekerja sehingga membuatproduktifitas kerja menjadi rendah, kurangnya perawat tersebut menjadi malas dalam melakukantanggung jawab dan loyalitas terhadap aktifitasnya yaitu melayani dan merawat pasienperusahaan. Selain itu dampak stres kerja juga yang sedang membutuhkan pelayanannya.berpengaruh pada individu itu sendiri. Karyawan Fakta yang menunjukkan bahwa rendahnyaakan mengalami kebosanan, depresi, lekas marah, motivasi perawat dapat berpengaruh terhadapdan mudah mengalami kecelakaan kerja serta produktifitas kerjanya dapat dilihat dari hasilkurangnya konsentrasi (Gibson dkk dalam penelitian WHO (organisasi kesehatan dunia)Widanti dkk, 2010). pada tahun 2001 menyebutkan kabupaten Permasalahan akan muncul bilamana stres Jayapura dan Yapen Waropen, merupakan daerahterjadi dalam jangka waktu yang lama dengan yang paling tinggi angka kematian ibu dan anak, diintensitas yang cukup tinggi, inilah yang disebut mana hal ini berkaitan dengan transportasi untukdengan burnout. Kecenderungan mengalami akses pelayanan kesehatan masyarakat. Dari hasil75 INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011
  3. 3. Hubungan antara Motivasi Kerja Perawat dengan Kecenderungan mengalami Burnout pada perawatdi RSUD Serui-Papuasurvey kematian ibu pada tahun 2001 di Papua juga langsung dapat menurunkan motivasi kerjaditemukan 80 % penyebab kematian bayi dan anak perawat. Jika hal ini tidak diantisipasi, dapatini karena penyakit pneumonia (infeksi saluran berpotensi menimbulkan kecenderungan burnoutpernafasan atas). Tingginya kasus kematian ibu pada perawat dalam melakukan aktifitasnya.dan anak ini, ternyata berkaitan dengan pelayanan Hal inilah yang mendasari peneliti untukdan perilaku petugas kesehatan, yang mana sering meniliti apakah ada hubungan antara motivasiditemui banyak tenaga-tenaga kesehatan baik di kerja perawat dengan kecenderungan mengalamidistrik dan desa tidak menjalankan tugasnya burnout pada perawat RSUD Serui-Papua.dengan baik, dan sementara gaji setiap bulanberjalan terus. Perilaku petugas kesehatan ini Pengertian Burnoutternyata berkaitan dengan rendahnya motivasi Burnout merupakan istilah baru yangdan komitmen karena tidak dilandasi dengan visi digunakan untuk menunjukkan satu jenis stres.melayani rakyat. Rendahnya motivasi dan Istilah burnout pertama kali diperkenalkan olehkomitmen petugas ini berkaitan erat dengan Bradley pada tahun 1969, namun tokoh yangrendahnya pendapatan mereka dianggap sebagai penemu dan penggagas istilah(http://www.fisip.ui.ac.id/pdf). burnout adalah Herbert Freudenberger pada Hal ini sesuai dengan penelitian yang telah tahun 1974. Freundenberger yang bekerja sebagaidilakukan oleh Munawaroh (2009) di Siloam psikiater di salah satu klinik kecanduan obat diHospitals menunjukkan bahwa permasalahan New York melihat bahwa banyak tenagatimbul karena kebijakan manajemen yang sukarelawan yang semula bersemangat melayanimempertegas job description mempengaruhi pasien lalu mengalami penurunan motivasi danperawat yang sikapnya belum menyesuaikan komitmen kerja yang disertai dengan gejaladengan job description yang diberlakukan oleh keletihan f isik dan mentalpihak manajemen rumah sakit. Mereka mengeluh (http://books.google.co.id/books?id).dan merasa berat dengan tugasnya sehingga Me n u r u t Pi n e s & A ron son (d a la mmempengaruhi semangat dalam bekerja. Fakta ini Kusumastuti,2005), burnout adalah suatu bentukterjadi di berbagai ruangan, dimana pada saat ketegangan atau tekanan psikis yang berhubunganbekerja perawat selalu menggerutu, bertindak dengan stres kronik, dialami seseorang dari hari kesemaunya pada tim kerja pada saat berjaga dengan hari, yang ditandai dengan kelelahan fisik, mental,shift tersebut, terkesan ogah-ogahan dan selalu & emosional. Hal ini dijelaskan pula oleh Leatz &datang terlambat ke tempat kerja, sikapnya Stolar (dalam Kusumastuti,2005), bahwamencerminkan kebosanan, dan timbulnya rasa permasalahan akan muncul bilamana stres terjadiputus asa, bahkan ada yang memilih untuk dalam jangka waktu yang lama dengan intensitasmengundurkan diri dari pekerjaannya. yang cukup tinggi. Keadaan ini disebut dengan Berdasarkan hasil wawancara peneliti burnout, yaitu kelelahan fisik, mental, dandengan seorang perawat dapat diketahui bahwa emosional yang terjadi karena stres yang dideritaRSUD Serui merupakan rumah sakit umum dalam jangka waktu yang cukup lama, pada situasidaerah yang memiliki jumlah perawat yang cukup yang menuntut keterlibatan emosional yangsedikit yaitu sekitar 120 orang tenaga perawat. cukup tinggi.Kendala lainnya dalam melaksanakan Riggio (dalam Kusumastuti,2005)pekerjaannya yaitu dengan keterbatasan obat yang menjelaskan bahwa jika individu menghadapiada di apotik rumah sakit, pembagian honor atau konflik personal yang tak terpecahkan, akaninsentif yang terlambat, serta ketidakhadiran dari mengalami kebingungan atas tugas dan tanggungrekan kerja membuat perawat menjadi kurang jawab, pekerjaan yang berlebihan namun kurangproduktif dalam melakukan pekerjaannya. penghargaan yang sesuai, atau terjadinyaKondisi tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa hukuman yang tidak sesuai dapat menjadidengan keterbatasan jumlah perawat serta penyebabnya seseorang mengalami burnout,berbagai kendala yang dialami oleh rumah sakit sebuah proses yang dapat menurunkan komitmen(penyediaan obat-obatan di apotik yang tidak mereka atas pekerjaan yang dilakukan sehinggamemadai dan terlambatnya insentif), secara tidak membuat mereka mengundurkan diri dariINSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011 76
  4. 4. Efa Novita Tawale, Widjajaning Budi, Gartiniatugasnya. Proses pengunduran ini ditunjukkan Desain organisasi memiliki 4 komponen pentingdengan reaksi meningkatnya keterlambatan dan yang dapat menyebabkan burnout yaitu: a)ketidakhadiran, serta penurunan dan kualitas Struktur peran, pada kondisi ini dapatkerja. menimbulkan burnout melalui konflik peran dan ketidakjelasan peran; b) Konflik peran dan Gejala-gejala burnout ke t i d a k j e l a s a n p e ra n , C h e r n i s s ( d a l a m George (2005) menjelaskan tentang gejala- Daud,2007) menyatakan bahwa individugejala burnout, yaitu: a) Kelelahan fisik, yang mengalami kesulitan untuk melaksanakanditunjukkan dengan adanya kekurangan energi, tuntutan pekerjaan yang dapat menyebabkanmerasa kelelahan dalam kurun waktu yang individu merasa tidak mungkin tercapaipanjang dan menunjukkan keluhan fisik seperti kesuksesan individu dalam pekerjaan. Individusakit kepala, mual, susah tidur, dan mengalami merasa tidak mampu mengubah situasi kerja danperubahan kelelahan makan yang diekspresikan meminimalkan konflik peran dan ketidakjelasandengan kurang bergairah dalam bekerja, lebih peran, maka perasaan tidak berdaya individu akanbanyak melakukan kesalahan, merasa sakit menimbulkan perilaku menarik diri secarapadahal tidak terdapat kelainan fisik. b) Kelelahan emosional; c) Struktur kekuasaan dalam programmental, yang ditunjukkan oleh adanya sikap sinis layanan manusia, ada sejumlah tugas yang harusterhadap orang lain, bersikap negatif terhadap dilaksanakan oleh individu maka akan adaorang lain, cenderung merugikan diri sendiri, sejumlah keputusan yang harus dibuat. Beberapapekerjaan dan organisasi, dan kehidupan pada keputusan yang berpengaruh pada kinerjaumumnya diekspresikan dengan mudah curiga individu dibuat oleh individu itu sendiri, individuterhadap orang lain, menunjukkan sikap sinis bersama orang lain dalam kelompok atauterhadap orang lain, menunjukan sikap agresif pimpinan; d) Struktur normatif, hal yang tercakupbaik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, dalam struktur normatif antara lain tujuan normamenunjukkan sikap masa bodoh terhadap orang dan ideologi organisasi. Cherniss (dalamlain dan dengan sengaja menyakiti diri sendiri. c) Daud,2007) menyatakan tujuan organisasi yangKelelahan emosional, yang ditunjukkan oleh dijabarkan secara spesifik dan operasional dapatgejala-gejala seperti depresi, perasaan tidak mengurangi terjadinya burnout. 2)berdaya, dan merasa terperangkap dalam Kepemimpinan. Pearlman dan Hartman (dalampekerjaan yang diekspresikan dengan sering Kusumastuti,2005) menyatakan kepemimpinanmerasa cemas dalam bekerja, mudah putus asa, dan pengawasan merupakan variabel yangmerasa tersiksa dalam melaksanakan pekerjaan, signifikan berhubungan dengan burnout. Konsepmengalami kebosanan atau kejenuhan dalam mengenai kepemimpinan yang ideal selalubekerja. d) Penghargaan diri yang rendah, ditandai berubah dari waktu ke waktu, namun asumsioleh adanya penyimpulan bahwa dirinya tidak bahwa kualitas pemimpin menentukkan motivasimampu menunaikan tugas dengan baik dimasa d a n k i n e r j a b aw a h a n s e l a l u d i te r i m a .lalu dan beranggapan sama untuk masa depannya Ditambahkan pula oleh Cherniss (dalamyang diekspresikan dengan merasa tidak pernah Daud,2007) menyatakan bahwa adanya hubunganmelakukan sesuatu yang bermanfaat, derajat keterasingan pada perawat rumah sakitmenganggap bahwa pekerjaan sudah tidak dengan cara yang digunakan oleh atasan dalammempunyai arti bagi dirinya, menganggap bahwa memberikan perintah. Atasan yang memberikandirinya tidak mempunyai masa depan di alasan atas perintahnya, lebih kecilperusahaan. kemungkinannya daripada atasan yang bersifat otoriter dan sewenang-wenang. 3) Interaksi sosialFaktor-faktor yang mempengaruhi dan dukungan dari rekan kerja. Menurut Hartmanburnout & H a r t m a n ( d a l a m Ku s u m a s t u t i , 2 0 0 5 ) Cherniss (dalam Daud,2007) mengatakan menyatakan dukungan rekan kerja merupakanada 3 faktor dalam organisasi yang dapat menjadi variabel yang secara signifikan berhubungansumber burnout, yaitu: 1) Desain Organisasi. dengan burnout. Menurut Cherniss (dalam Daud,2007), interaksi sosial dengan rekan kerja77 INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011
  5. 5. Hubungan antara Motivasi Kerja Perawat dengan Kecenderungan mengalami Burnout pada perawatdi RSUD Serui-Papuamerupakan sumber dukungan yang sangat psikologi karya biasa disebut pendorong semangatpenting bagi individu untuk dapat menyesuaikan kerja. Kuat dan lemahnya motivasi kerja seorangdiri dengan stres. Pines (dalam Daud,2007) tenaga kerja ikut menentukkan besar kecilnyamenyatakan bahwa individu kecil prestasinya. Asad (dalam Munawaroh, 2009) jugakemungkinannya untuk mengalami burnout menjelaskan motivasi kerja adalah pendorongdalam suatu organisasi yang memberikan semangat kerja.kesempatan pada individu untuk mengungkapkan Menurut Herzberg (dalam Anoraga,2006),perasaan akan mendapatkan dukungan dengan sistem kebutuhan-kebutuhan orang yangumpan balik dari rekan kerja. mendasari motivasinya, dan dibagi menjadi dua golongan, yaitu: faktor Hygiene dan faktorKarakteristik Individu sebagai Sumber Motivator. Herzberg menemukan bahwa faktor-Burnout faktor yang menimbulkan kepuasan kerja berbeda Karakteristik individual yang berpengaruh dengan faktor-faktor yang menimbulkanantara lain: motivasi, kebutuhan (needs) nilai-nilai ketidakpuasan kerja. Faktor-faktor yangyang dianut, self esteem, emotional expressiveness, menimbulkan kepuasan kerja dinamakan faktordan kontrol dan personal style. Faktor internal motivator, yang mencakup isi dari pekerjaan dantersebut menentukan bagaimana seseorang yang merupakan faktor intrinsik dari pekerjaan itumengatasi sumber eksternal dari emotional stress sendiri, yang meliputi: tanggung jawab, kemajuan,dan menjelaskan mengapa individu A mengalami pekerjaan itu sendiri, capaian, pengakuan.burnout dilingkungan kerja sementara individu B Sedangkan faktor-faktor yang menimbulkantidak. Hal ini juga mempengaruhi individu yang ketidakpuasan kerja dinamakan faktor hygiene,bekerja sebagai perawat atau “penolong”. berkaitan dengan konteks dari pekerjaan dan merupakan faktor ekstrinsik dari pekerjaan,Pengertian Motivasi Kerja meliputi: administrasi dan kebijakan perusahaan, Dalam pengertian umum, motivasi penyeliaan, gaji, hubungan antar pribadi, kondisidikatakan sebagai kebutuhan yang mendorong kerja.suatu perbuatan kearah suatu tujuan tertentu.Menurut Wiramihardja (2006), motivasi diartikan Faktor-faktor yang mempengaruhisebagai kebutuhan psikologis yang telah memiliki motivasi kerjacorak atau arah yang ada dalam diri individu yang Menurut Herzberg (dalam Thoha,2008),harus dipenuhi agar kehidupan kejiwaannya faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi kerja,terpelihara, yaitu senantiasa berada dalam adalah sebagai berikut :keadaan seimbang yang nyaman (homeostatis, a. Faktor Motivatorequilibrium). Kebutuhan ini berupa kekuatan Seperti yang telah dijelaskan diatas, faktordasar yang selanjutnya berubah menjadi suatu motivator ini mencakup isi dari pekerjaan danvektor yang disebut motivasi, karena memiliki merupakan faktor intrinsik dari pekerjaan itukekuatan sekaligus arah. Arah yang s e n d i r i m e l i p u t i : 1 ) Ta n g g u n g J a w a bmenggambarkan bahwa manusia tidak hanya (responsibility), besar kecilnya tanggung jawabmemiliki kebutuhan melainkan keinginan untuk yang dirasakan dan diberikan kepada seorangm e n c a p a i s e s u a t u ya n g s e s u a i d e n g a n tenaga kerja. 2) Kemajuan (advancement), besarkebutuhannya. kecilnya kemungkinan tenaga kerja dapat maju Pada umumnya motivasi kerja diberi batasan dalam pekerjaannya. 3) Pekerjaan itu sendiri, besarsebagai kemauan seseorang dalam melaksanakan kecilnya tantangan yang dirasakan tenaga kerjasuatu pekerjaan. Berikut ini adalah beberapa dari pekerjaanya. 4) Capaian atau prestasipengertian lain dari motivasi kerja menurut para (achievement), besar kecilnya kemungkinanahli psikologi industri dan organisasi, antara lain : tenaga kerja mencapai prestasi kerja yang tinggi. 5) Menurut Anoraga (2006), motivasi kerja Pengakuan (recognition), besar kecilnyaadalah sesuatu yang menimbulkan semangat atau pengakuan yang diberikan kepada tenaga kerjadorongan. Oleh sebab itu, motivasi kerja dalam atas unjuk-kerjanya.INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011 78
  6. 6. Efa Novita Tawale, Widjajaning Budi, Gartiniab Faktor Hygiene perlu mengingat bahwa pada pengambilan Faktor hygiene merupakan faktor ekstrinsik keputusan dan tindakan-tindakan yang baru perluyang berkaitan dengan konteks dari pekerjaan, mempertimbangkan pendapat perawat supervisormeliputi: 1) Administrasi dan kebijakan atau dokter yang merawat pasien tersebut.perusahaan, derajat kesesuaian yang dirasakantenaga kerja dari semua kebijakan dan peraturan Hubungan antara motivasi kerja denganyang berlaku dalam perusahaan. 2) Penyeliaan, kecenderungan mengalami burnout padaderajat kewajaran penyeliaan yang dirasakan perawatditerima oleh tenaga kerja. 3) Gaji, derajat Peran seorang perawat dalam duniakewajaran dari gaji yang diterima sebagai imbalan kesehatan tidak kalah pentingnya dengan profesidalam pekerjaannya. 4) Hubungan antar pribadi, seorang dokter. Dalam kaitannya dalamderajat kesesuaian yang dirasakan dalam melaksanakan tugas sesuai denganberinteraksi dengan tenaga kerja lainnya. 5) profesionalisme kerja, seorang perawat dituntutKondisi kerja, derajat kesesuaian kondisi kerja untuk memiliki sifat-sifat yang menunjukkandengan proses pelaksanaan tugas pekerjaannya. dedikasi kerjanya. Menurut Gunarsa (2008), seorang perawat harus memiliki sifat-sifat sebagaiPengertian Perawat berikut : a) Minat terhadap orang lain, seorang Menurut Permenkes RI No. 1239 Tahun 2001 perawat seharusnya dapat menyenangi orang lain,tentang Registrasi dan Praktik Perawat, dijelaskan khususnya kepada siapa membaktikan diri danbahwa perawat adalah seseorang yang telah lulus kepada siapa ia bekerja. b) Memiliki kepekaanpendidikan keperawatan, baik di dalam maupun (Derajat sensitifitas), perawat harus memilikidi luar negeri, sesuai dengan ketentutan kepekaan karena ia menghadapi beraneka macamperundang-undangan yang berlaku. Menurut kepribadian sehingga harus dapat membedakanKozier (dalam Putri,2010) fungsi perawat ada tiga, setiap orang yang dihadapi. c) Menghargaiyaitu: fungsi keperawatan mandiri (independen), hubungan-hubungan, keberhasilan seorangfungsi keperawatan ketergantungan (dependen), perawat, juga ditentukan oleh kemampuandan fungsi keperawatan kolaboratif mengadakan penyesuaian-penyesuaian yakni(interdependen). hubungan dan ikatan-ikatan kemanusiaan yang diperlukan dalam menangani orang yang sehatSifat-sifat yang mendasari dedikasi dan yang sakit. d) Sikap terhadap mereka yangseorang perawat berkedudukan lebih tinggi, seorang perawat yang Menurut Gunarsa (2008), seorang perawat bekerja dengan perawat senior atau dokter selaluharus memiliki sifat-sifat sebagai berikut: a) Minat perlu mengingat bahwa pada pengambilanterhadap orang lain, seorang perawat seharusnya keputusan dan tindakan-tindakan yang baru perludapat menyenangi orang lain, khususnya kepada mempertimbangkan pendapat perawat supervisorsiapa membaktikan diri dan kepada siapa ia atau dokter yang merawat pasien tersebut.bekerja. b) Memiliki kepekaan (derajat Salah satu hal yang mendasari sifat-sifatsensitifitas), perawat harus memiliki kepekaan profesionalisme kerja perawat tersebut adalahkarena ia menghadapi beraneka macam motivasi kerja. Seseorang dikatakan mempunyaikepribadian sehingga harus dapat membedakan motivasi kerja yang tinggi apabila ia mulaisetiap orang yang dihadapi. c) Menghargai merasakan adanya bentuk perhatian danhubungan-hubungan, keberhasilan seorang dorongan yang diberikan dari suatu instansiperawat, juga ditentukan oleh kemampuan terkait untuk dirinya dalam rangka menghargaimengadakan penyesuaian-penyesuaian yakni hasil pekerjaan yang telah dilakukannya sehinggahubungan dan ikatan-ikatan kemanusiaan yang ia akan merasa puas terhadap hasil pekerjaan yangdiperlukan dalam menangani orang yang sehat telah ia kerjakan (Anoraga, 2006). Wujud nyatadan yang sakit. d) Sikap terhadap mereka yang dari adanya motivasi kerja yang tinggi padaberkedudukan lebih tinggi, seorang perawat yang perawat ditunjukkan dengan perilaku perawatbekerja dengan perawat senior atau dokter selalu sebagai berikut: menunjukkan perhatian yang79 INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011
  7. 7. Hubungan antara Motivasi Kerja Perawat dengan Kecenderungan mengalami Burnout pada perawatdi RSUD Serui-Papuatulus terhadap pekerjaan orang lain, selalu sedang dikerjakannya. Kelelahan ini disebabkanmenjaga keseimbangan sikap dalam berbagai oleh aktifitas yang dilakukan perawat itu setiapsituasi, selalu bersikap dan positif terhadap hari, dan juga karena kurangnya dukungan daripekerjaannya. rekan-rekan kerja atau atasan bahkan dari Dengan kata lain, seorang perawat yang ideal lingkungan sekitar. Perawat dengan motivasi kerjadan memiliki motivasi kerja yang tinggi adalah yang rendah berpotensi mengalamiperawat yang mampu memahami segala bentuk kecenderungan burnout, terutama jika perawatkeluhan pasien tentang penyakitnya, dan mampu tersebut kurang mampu menyelaraskan dirimenjaga hubungan yang baik diantara pasien, terhadap tuntutan organisasi. Jika hal ini terjadirekan kerja, suster kepala, dan juga dokter. Selain secara terus menerus akan mengakibatkan stresitu perawat tersebut memiliki rasa tanggung jawab dan pada gilirannya akan berkembang menjadiyang tinggi terhadap tugas-tugas yang suatu kondisi yang disebut dengandikerjakannya, dan mampu menunjukkan prestasi kecenderungan burnout seperti tersebut diatas.kerja yang baik kepada instansi terkait. Berdasarkan hal tersebut, apabila seorang Dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari, perawat memiliki motivasi kerja yang rendahseorang perawat akan lebih mudah mengalami maka ia akan berpotensi mengalamistres apabila kurang mampu mengadaptasikan kecenderungan burnout yang tinggi dalamkeinginan dan kenyataan. Hal ini disebabkan pekerjaanya. Begitupula sebaliknya, apabilakarena seorang perawat sering dihadapkan pada seorang perawat memiliki motivasi kerja yangsuatu usaha penyelamatan nyawa seseorang. tinggi maka perawat tersebut tidak akanPerawat juga selalu dihadapkan dengan hal-hal mengalami kecenderungan burnout (rendah).yang monoton dan rutin, ruang kerja yang sesakdan sumpek, dalam menangani peralatan diruang Hipotesis Penelitianoperasi pun seorang perawat dituntut untuk selalu Berdasarkan landasan teori diatas, makaberhati-hati, dan harus bertindak cepat dalam hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagaimelayani keluhan pasien. Selain itu, dalam berikut:hubungannya dengan pekerjaan seorang perawat, ”Ada hubungan yang negatif antara motivasisemakin banyak jumlah pasien yang dirawat dan kerja perawat dengan kecenderungan mengalamisemakin beragamnya penyakit serta tingkat burnout pada perawat di RSUD Serui-Papua”.kebutuhan yang tinggi dari pasien akan membuatperawat menjadi rentan terkena stres. Jika perawat METODE PENELITIANtidak mampu memanajemen pekerjaannya, hal inidapat memicu terjadinya stres kerja. Je n i s p e n e l i t i a n a d a l a h p e n e l i t i a n Menurut Fraser (dalam Widanti dkk, 2010) korelasional. Adapun variabel yang digunakanstres kerja dapat terjadi dalam komponen- dalam penelitian ini ada 2 (dua), yaitu: variabelkomponen fisik pekerjaan atau lingkungan sosial tergantung : kecenderungan mengalami burnout,pekerjaan. Gejala stres ini diantaranya ditandai dan variabel bebas : motivasi kerja perawat.dengan hilangnya nafsu makan, turunnya berat Populasi pada penelitian ini adalah perawatbadan secara drastis, susah tidur atau kelelahan di RSUD Serui–Papua yang berjumlah 120 orang.secara terus-menerus. Dampak negatif dari stres Teknik pengambilan sampel dalamkerja berpengaruh terhadap organisasi dan juga penelitian ini menggunakan teknik purposiveberpengaruh pada individu itu sendiri. sampling, dengan batasan kriteria sampel yang Permasalahan akan muncul bilamana stres menjadi batasan sebagai berikut : perawat denganterjadi dalam jangka waktu yang lama dengan usia antara 24 – 56 tahun, bekerja minimal 2 tahunintensitas yang cukup tinggi, inilah yang disebut dan merupakan pegawai tetap. Alasan penelitidengan burnout. menetapkan batasan sampel diatas adalah karena Kecenderungan burnout pada perawat pada kriteria sampel yang ditetapkan sudah mulaiadalah suatu keadaan dimana seorang perawat menunjukkan indikasi adanya kecenderunganmerasakan kelelahan dan keletihan secara fisik, burnout terhadap pekerjaannya.mental, dan emosional terhadap pekerjaan yangINSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011 80
  8. 8. Efa Novita Tawale, Widjajaning Budi, Gartinia Penentuan jumlah sampel dalam penelitian 0,887 pada taraf signifikansi (p) = 0,000. Hal iniini didasarkan pada tabel Krejcie dengan taraf berarti skala tersebut andal.kesalahan 5% (dalam Sugiyono, 2008). Artinya,sampel yang diperoleh berdasarkan data yang ada Uji Normalitas Sebarandi tabel tersebut mempunyai kepercayaan 95% Hasil uji normalitas sebaran ini dilakukanterhadap populasi. Jumlah sampel yang diambil terhadap variabel kecenderungan burnout padapenulis berdasarkan tabel Isaac dan Michael perawat. Hasil uji normalitas sebaran adalahadalah 89 orang dari 120 orang karyawan. bahwa variabel tersebut pada derajat kebebasan Pengumpulan data menggunakan skala (db) = 9, mempunyai Kai Kuadrat sebesar 4,382likert untuk mengukur variabel yang diteliti, dengan taraf signifikansi (p) = 0,884. Hal iniantara lain Skala Motivasi Kerja dan Skala berarti sebaran variabel Y mempunyai bentukKecenderungan Mengalami Burnout. Skala kurva normaltersebut disusun berdasarkan pengembanganindikator perilaku sesuai dengan definisi Uji Linieritas Hubungan.operasional yang melekat pada masing-masing Uji Linieritas Hubungan ini dilakukan antaravariabel. variabel bebas dengan variabel terikat. Hasil perhitungan uji linieritas hubungan HASIL DAN BAHASAN menunjukkan hasil bahwa antara variabel bebas dengan variabel terikat mempunyai Fbeda Ke2 -Hasil Analisa Data Ke1 = 0,921 pada taraf signifikansi (p) 0,0658 > 0,05. Teknik analisis data menggunakan analisis Hal tersebut menunjukkan bahwa kedua variabeldata product moment, namun sebelumnya mempunyai hubungan linier.dilakukan uji instrument dan uji prasyarat. Ujiinstrument meliputi uji validitas alat ukur dan uji Hasil Analisa Datareliabilitas, sedangkan uji prasyarat meliputi uji Analisis Korelasi Product Moment ininormalitas sebaran dan uji linieritas. Keseluruhan dilakukan menguji hubungan variabel bebas (X)perhitungan menggunakan program Paket Seri dengan variabel terikat (Y). Kaidah Uji StatistikProgram Statistik (SPS-2000). yang dipergunakan adalah bila p ≤ 0,01 berarti sangat signifikan, bila p ≤0,05 berarti signifikan,Uji Validitas Ukur bila p > 0,05 berarti nirsignifikan (Hadi, 2000). Hasil analisis kesahihan butir terhadap skala Penggunaan analisis ini didasarkan pada dataMotivasi Kerja Perawat adalah dari 40 aitem yang variabel X interval dan variabel Y interval.disusun, 13 aitem gugur dan 27 aitem sahih, dengan Hasil perhitungan analisis Korelasi Productkoefisien korelasi (rbt) antara 0,184 – 0,550 dengan Moment diperoleh hasil rxy sebesar 0,526 padataraf signifikansi (p) 0,040 – 0,000. taraf signifikansi (p) 0,000 p ≤ 0,01 (signifikan). Hasil analisis kesahihan butir terhadap skala Hal ini berarti variabel motivasi kerja perawatKecenderungan Mengalami Burnout adalah dari mempunyai hubungan negatif dengan variabel40 aitem yang disusun, 7 aitem gugur dan 33 aitem kecenderungan mengalami burnout.sahih, dengan koefisien korelasi (rbt) antara 0,216 – Hal ini berarti variabel bebas (X) mempunyai0,640 dengan taraf signifikansi (p) 0,020 – 0,000. hubungan dengan variabel terikat (Y). Koefisien Determinansi r2 = 0,138 sehingga sumbanganUji Reliabilitas efektif = 0,138 x 100 = 13,8. Artinya variabel X Uji reliabilitas terhadap skala Motivasi Kerja berpengaruh terhadap variabel Y sebesar 13,8%.dan Skala Kecenderungan Mengalami Burn Out Artinya persepsi memiliki pengaruh sebesar 13,8 %diperoleh nilai (rtt) = 0,835 pada taraf signifikansi terhadap produktivitas kerja karyawan, sedangkan(p) = 0,000. Hal ini berarti skala ini andal, 86,2% sisanya adalah faktor-faktor didalamsedangkan uji reliabilitas terhadap skala produktivitas kerja karyawan.kecenderungan Burn Out pada perawatmenunjukan bahwa koefisien keandalan (rtt) =81 INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011
  9. 9. Hubungan antara Motivasi Kerja Perawat dengan Kecenderungan mengalami Burnout pada perawatdi RSUD Serui-PapuaBahasan Hal ini menunjukkan bahwa antara Rerata Pada penelitian ini menyatakan korelasi Hipotesis dan Rerata Empiris pada variabela n t a ra m o t iva s i ke r j a p e rawa t d e n g a n kecenderungan mengalami burnout terdapatkecenderungan mengalami burnout, yakni rxy perbedaan yang signifikan, dan intensitas variabelsebesar -0,526 pada taraf signifikansi (p) 0,000 (p < ini masuk dalam kategori rendah atau negatif.0,01 artinya signifikan), yang menunjukkan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwaadanya hubungan negatif antara kedua variabel. kecenderungan burnout yang dialami olehDengan demikian diperoleh kesimpulan jika perawat RSUD Serui termasuk dalam kategorim o t i v a s i ke r j a p e raw a t r e n d a h , m a k a rendah atau negatif. Hal ini diperkuat dengan hasilkecenderungan mengalami burnout pada perawat observasi yang dilakukan oleh peneliti di RSUDakan tinggi. Begitu pula sebaliknya jika motivasi Serui, bahwa pada umumnya perawat melakukankerja perawat tinggi, maka kecenderungan pekerjaannya tanpa merasakan adanya keluhanmengalami burnout pada perawat akan rendah. secara fisik, mental, emosional dalam melakukan Adanya hubungan negatif antara motivasi rutinitas pekerjaannya, perawat di RSUD Seruikerja perawat dengan kecenderungan mengalami secara kasat mata tidak terlihat mengalami hal-halburnout pada perawat dapat didukung oleh yang menunjukkan adanya indikasi kelelahanp e r n y a t a a n M a s l a c h secara fisik, mental, dan emosional seperti adanya(http://www.lpmpjabar.go.id) yang menekankan keluhan susah tidur, sakit kepala, mengalamipada terjadinya suatu perubahan motivasi kerja, perubahan pola makan, menunjukkan adanyahilangnya semangat yang dialami pekerja atau sikap sinis terhadap pasien, mudah curiga,“penolong” berkaitan dengan stres atau menunjukkan sikap masa bodoh, depresi,kekecewaan yang berlebih yang dialami dalam perasaan cemas, mudah putus asa, perasaan bosansituasi kerja. dan jenuh dalam bekerja. Pada penelitian ini, dilakukan uji beda antara Berdasarkan hasil penelitian diatas makarerata empiris dan rerata hipotesis yang digunakan dapat disimpulkan bahwa hipotesis padauntuk menentukkan intensitas (tinggi rendahnya) penelitian ini diterima, yaitu ada hubungan yangdari variabel penelitian yang diteliti, dengan negatif antara motivasi kerja perawat denganmenggunakan Uji-Z. Hasil Uji-Z variabel Motivasi kecenderungan mengalami burnout pada perawatKerja Perawat = 21,284 pada taraf signifikansi (p) = di RSUD Serui-Papua. Artinya, semakin tinggi0,000 Signifikan. Rerata Empiris = 84,551, dan motivasi kerja yang dimiliki perawat makaRerata Hipotesis = 67,500 (RE > RH). Ini berarti, kecenderungan perawat dalam mengalamimotivasi kerja yang dimiliki oleh perawat di RSUD burnout akan semakin rendah. Begitu pulaSerui termasuk dalam kategori tinggi atau positif. sebaliknya, semakin rendah motivasi kerja yang Hal yang ditengarai menjadi penyebab dimiliki perawat maka kecenderungan perawattingginya motivasi kerja perawat di RSUD Serui dalam mengalami burnout akan semakin tinggi.adalah dalam melakukan pekerjaannya, perawat Hasil penelitian berdasarkan penghitunganselalu berusaha untuk memberikan pelayanan koefisien determinasi (r2) menunjukkan bahwayang terbaik bagi kesembuhan dan kenyamanan motivasi kerja hanyalah salah satu faktor daripasien. Pelaksanaan pekerjannya, perawat juga penyebab terjadinya burnout. Faktor lainselalu bersikap positif terhadap pekerjaannya, penyebab terjadinya burnout seperti yangtanpa merasa mengeluh dan terbebani dengan dikemukakan oleh Cherniss (dalam Daud,2007)tanggung jawabnya sebagai perawat. Pada proses yaitu: gaya kepemimpinan yang diterapkan olehpemberian pelayanan kesehatan pun, perawat di atasan, kurangnya dukungan sosial yang diberikanRSUD Serui mampu menunjukkan perhatian yang keluarga, teman kerja, atau atasan, selain itu jugatulus kepada pasien, rekan kerja, atau atasannya, faktor budaya dan sejarah yang sedang terjadidan mampu bekerja sama dalam sebuah tim kerja. dalam suatu lingkungan. Hasil Uji-Z variabel Kecenderunganmengalami Burnout = -25,806 pada tarafsignifikansi (p) = 0,000 Signifikan. Rerata Empiris= 57,281, dan Rerata Hipotesis = 82,500 (RE < RH).INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011 82
  10. 10. Efa Novita Tawale, Widjajaning Budi, Gartinia SIMPULAN DAN SARAN motivasi kerja yang sifatnya ekstrinsik, berkaitan dengan konteks dari pekerjaan,Simpulan diantaranya administrasi dan kebijakan Berdasarkan hasil penelitian yang telah perusahaan, penyeliaan, gaji dan imbalandilakukan, dapat ditarik beberapa kesimpulan sesuai dengan beban kerja yang dikerjakan,sebagai berikut : menciptakan lingkungan atau kondisi kerja1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang kondusif untuk berinteraksi. hipotesis penelitian diterima yaitu, ada 2. Bagi perawat hubungan yang negatif antara motivasi kerja Pada umumnya motivasi kerja pada perawat dengan kecenderungan mengalami perawat di RSUD Serui termasuk dalam burnout pada perawat di RSUD Serui-Papua, kategori yang tinggi, sehingga tidak terdapat dengan rxy = - 0,526. gejala kecenderungan burnout seperti yang telah dikemukakan pada asumsi awal peneliti.2. Hasil analisa data dengan menggunakan uji-Z H a l i n i m e n u n j u k k a n b a hwa s i k a p pada variabel motivasi kerja perawat, profesionalisme perawat dalam melayani menunjukkan bahwa secara statistik rerata pasien cukup terlihat dalam wujud yang nyata, empiris lebih tinggi jika dibandingkan dengan m e s k i p u n p e ke r j a a n y a n g d i t e k u n i rerata hipotesis (ME > MH). Dengan mempunyai tingkat stres cukup tinggi. demikian, maka motivasi kerja perawat dalam Meskipun demikian, hal tersebut hendaknya kategori positif/tinggi. tidak menjadikan perawat cukup puas dengan3. Hasil analisa data dengan menggunakan uji-Z kondisi tersebut. Memperhatikan hal pada variabel kecenderungan mengalami tersebut, saran yang perlu diberikan kepada burnout, menunjukkan bahwa secara statistik karyawan terkait untuk mempertahakan atau rerata empiris lebih rendah jika dibandingkan meningkatkan motivasi kerja perawat dalam dengan rerata hipotesis (ME < MH). Dengan rangka mencegah terjadinya kecenderungan demikian, maka kecenderungan mengalami burnout, antara lain dengan meningkatkan burnout dalam kategori negatif/rendah. ketrampilan dan profesionalisme kerjanya,4. Motivasi kerja perawat memberikan dengan aktif meningkatkan kemampuan diri ko n t r i b u s i te rh a d a p ke ce n d e r u n g a n melalui proses belajar secara formal maupun mengalami burnout pada perawat di RSUD non formal. Serui-Papua sebesar 27,7%. Dengan demikian, 3. Bagi peneliti selanjutnya terdapat sekitar 72,3% faktor-faktor lain yang Peneliti selanjutnya disarankan agar lebih berpengaruh terhadap kecenderungan memperhatikan variabel-variabel lain selain mengalami burnout pada perawat di RSUD motivasi kerja yang diduga juga mempunyai Serui. hubungan dan mempengaruhi kecenderungan mengalami burnout padaSaran perawat. Misalnya dukungan sosial keluarga, Dari hasil penelitian, pembahasan, dan rekan kerja, atasan, faktor budaya dan sejarahkesimpulan diatas maka penulis mengajukan dalam suatu lingkungan, kondisi kerja yangsaran sebagai berikut: buruk, kurangnya kesempatan untuk1. Bagi pihak manajemen Rumah Sakit promosi, prosedur yang kaku, gaya Berkaitan dengan visi, misi dan motto kepemimpinan, tuntutan pekerjaan, jenis RSUD Serui, yaitu memberikan pelayanan kelamin, kepribadian, usia, persepsi. terbaik kepada masyarakat secara berkualitas dengan Sumber Daya Manusia yang professional, maka mempertahankan atau setidaknya meningkatkan motivasi kerja karyawan pada umumnya dan perawat pada khususnya adalah dengan memperhatikan atau mengkaji ulang faktor penunjang83 INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011
  11. 11. Hubungan antara Motivasi Kerja Perawat dengan Kecenderungan mengalami Burnout pada perawatdi RSUD Serui-Papua PUSTAKA ACUANAnoraga, P. (2006). Psikologi kerja. Jakarta: Rineka Cipta.Azwar, S. (2007). Metode penelitian. Yogyakarta: Pustaka BelajarGeorge, J. M. & Jones, G. R. (2005). Understanding and managing organizational behavior. New Jersey: Pearson EducationHadi, S. (1991). Analisa butir untuk instrumen angket, tes, skala nilai dengan basica. Yogyakarta:Andi Offset.Kusumastuti, R. (2005). Studi tentang kecenderungan burnout perawat di rumah sakit internasional Surabaya (Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta), Skripsi Sarjana (tidak diterbitkan). Surabaya. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.Munandar, A.S. (2006). Psikologi industri dan organisasi. Jakarta. Penerbit Universitas Indonesia.Schultz, D. & Schultz. S.E. (2002). Psychology and work today. New Jersey; Prentice Hall International.Inc.Suryabrata, S. (2006). Metodologi penelitian. Jakarta; PT. RajaGrafindo Persada.Sugiyono, (2010). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan RD. Bandung: Alfabeta.Widanti, N.S., dkk. (2010). Tingkat burnout perawat di Rumah Sakit “X” Surabaya (tidak diterbitkan). Surabaya, Fakultas Psikologi Universitas Hang Tuah Surabaya.INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011 84

×