Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.1 No.1 (2012)               Studi Deskriptif Burnout dan Coping...
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.1 No.1 (2012)terjadinya penurunan motivasi ketika perawat      ...
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.1 No.1 (2012)berdaya, tidak berpengharapan, dan merasa         ...
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.1 No.1 (2012)                                                  ...
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.1 No.1 (2012)memiliki karakteristik tugas atau lingkungan      ...
Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.1 No.1 (2012)   2(3), 140-152.Nurvida, H. (1997). Hubungan anta...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Studi Deskriptif Burnout dan Coping Stres pada Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya

3,534 views

Published on

  • Be the first to comment

Studi Deskriptif Burnout dan Coping Stres pada Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya

  1. 1. Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.1 No.1 (2012) Studi Deskriptif Burnout dan Coping Stres pada Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya Anastasia Susiani Nugroho, Andrian, Marselius Fakultas Psikologi, Universitas Surabaya Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran burnout yang dialami perawat dan penggunaan bentuk strategi coping yang dapat mereduksi stres perawat. Penelitian ini merupakan total population study. Subjek dalam penelitian ini adalah keseluruhan jumlah perawat yang bekerja di ruang rawat inap berjumlah 82 orang, terdiri dari 39 perempuan dan 43 laki-laki. Teknik pengambilan data menggunakan metode angket, yang terdiri dari angket terbuka dan tertutup, adapun angket tertutup meliputi burnout dan coping stres.Hasil analisis menunjukkan bahwa perawat di ruang rawat inap menggunakan kedua jenis strategi coping stres dengan kategori sedang, problem focused coping dengan persentase 53,7% dan emotional focused coping sebesar 57,3%. Burnout yang dihasilkan termasuk dalam kategori rendah (68,3%) dan sangat rendah (26,8%). Kata kunci: burnout, coping stres, perawat, rumah sakit jiwa Kerja merupakan suatu kebutuhan Keberhasilan rumah sakit dalam menjalankanmanusia yang sangat beragam, berkembang, dan fungsinya ditandai dengan adanya mutu pelayanandapat berubah seiring berjalannya waktu. Dewasa yang berkualitas oleh pihak rumah sakit. Mutuini, banyak orang yang bekerja tidak pada pelayanan rumah sakit sangat dipengaruhi olehkeahlian/keinginannya sehingga mengalami stres beberapa faktor, diantaranya yang paling dominankerja dan berdampak menimbulkan burnout adalah sumber daya manusia (SDM), yang(kelelahan kerja). Burnout merupakan respon meliputi tenaga medis (dokter, perawat) dan nonyang berkepanjangan terkait faktor penyebab stres medis. Menurut Gunarsa (1995) pekerjaanyang terus-menerus terjadi di tempat kerja di seorang perawat harus mengutamakan pelayananmana hasilnya merupakan perpaduan antara karena perawat berhubungan langsung denganpekerja dan pekerjaannya (Papalia, 2007). pasien sehingga harus mengetahui kebutuhanPenelitian yang diterbitkan dalam Health Science pasien yang merupakan konsumen utama diJournal (Malliarou, Moustaka, Konstantinidis, rumah sakit. Salah satu performa sebuah rumah2008) mengungkapkan bahwa sekarang ini sakit diukur dari performa perawatnya sehinggasemakin banyak ditemukan burnout di dalam seorang perawat harus memiliki kemampuanlingkungan kerja. Banyak faktor yang interpersonal yang tinggi, terutama rasa empati.memengaruhi munculnya gejala burnout tersebut. Menurut Dewi (dalam PPNI, 2001)Dalam tulisannya, para peneliti menyimpulkan mengungkapkan bahwa perawat merupakan motorbahwa faktor lingkungan, seperti kerja sama tim suatu rumah sakit sehingga perlu adanyadan shift kerja turut memengaruhi munculnya pemberdayaan yang maksimal. Keperawatansindrom burnout. Maslach di dalam Papalia merupakan salah satu bentuk pelayanan yang(2007) mengemukakan bahwa burnout dapat menjadi bagian integral dari sistem pelayananterjadi pada orang yang profesinya terkait dengan kesehatan. Perawat selalu mengadakan interaksipelayanan masyarakat (guru, terapis, pekerja langsung dengan pasien, keluarga, tim kesehatansosial, polisi, dan pekerja rumah sakit) di mana dan lingkungannya (Priharjo, 1995).mereka akan merasa frustrasi dengan Permasalahan terkait perawat juga terjadiketidakmampuannya untuk membantu masyarakat di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya.dengan baik dan optimal. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Rumah sakit merupakan salah satu bentuk Bidang Keperawatan diperoleh informasi bahwasarana kesehatan yang diselenggarakan baik oleh terdapat salah satu permasalahan yang masihpemerintah maupun swasta. Rumah sakit di dalam dihadapi yaitu dalam hal operasional, yaknimenjalankan fungsinya diharapkan dapat kekurangan SDM terutama tenaga perawat danmemperhatikan fungsi sosial dalam memberikan dokter. Keterbatasan jumlah tenaga kerja padapelayanan kesehatan kepada masyarakat. perawat Rumah Sakit Jiwa Menur menyebabkan 1
  2. 2. Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.1 No.1 (2012)terjadinya penurunan motivasi ketika perawat coping: individu berpegang teguh padamelakukan atau melaksanakan pekerjaanya. pendiriannya dan memperjuangkan apa yangSebagian besar para perawat di rumah sakit jiwa diinginkan, dan mengubah situasi agresif. Seekingmemiliki kecenderungan untuk bekerja lebih support coping: mencari bantuan dan dukungansantai dan waktu yang tersedia cukup banyak dari orang lain untuk mengatasi situasi stres.sehingga menjadikan mereka mengalami stres Planful problem solving: indvidu membuatkerja karena merasa dirinya menganggur. Pada rencana tindakan dan mengubah situasi untukperawat yang bertugas shift pagi-siang merasa memecahkan masalah yang sedang dihadapinya.santai dalam pekerjaannya karena ada bantuan Yang kedua ialah Coping yang berfokus padadari perawat yang sedang magang, namun pada emosi/emotion-focused coping sebagai usahaperawat shift malam merasa kewalahan dengan untuk menurunkan emosi negatif yang dirasakanjumlah perawat yang lebih sedikit dan terkadang ketika sedang menghadapi masalah atau tekanan.pasien mengalami gaduh gelisah di tengah malam. Emotion focused coping terdiri dari lima jenisAda juga yang mengatakan bentuk pelayanan ,yaitu Self control: invididu mengontrol perasaanyang monoton menjadikan mereka jenuh bekerja dan tindakannya. Distancing: individudan tidak bisa mengembangkan potensi yang ada menggambarkan usaha-usaha untuk melepaskandi dalam diri mereka. diri dengan menyibukkan diri dalam berbagai Hasil survey awal burnout melalui aktivitas. Positive reappraisal: individupengisian angket dari 25 orang perawat di ruang mengubah pemikiran dirinya secara positif danrawat inap dapat dijelaskan bahwa sebanyak 36% mengandung nilai religius. Accepting(9 orang) perawat tergolong dalam tahap 1, yaitu responsibility: individu mengenali peran dirinyamasih belum dijumpai adanya stres kerja diantara terhadap masalah dan belajar dari pengalamanmereka, 24% (6 orang) perawat tergolong dalam yang ada. Escape avoidance: individutahap 2, yaitu mulai adanya kejenuhan dan stres menghindari atau melarikan diri dari lingkungankerja namun masih dapat menekan/mengatasi hal secara nyata.tersebut, 20% (5 orang) perawat tergolong dalam Rutter (dalam Smeth, 1994)tahap 3, yakni perawat tersebut sudah memasuki menambahkan strategi coping yang efektif adalahtingkat stres kerja yang sedang, mereka akan sesuai dengan jenis dan situasi stres yang dialamiberusaha untuk mempertimbangkan cara-cara individu tersebut. Taylor (dalam Smeth, 1994)dalam mengurangi stres kerjanya, dan 20% (5 juga mengungkapkan keberhasilan suatu copingorang) perawat yang terakhir tergolong dalam yang dilakukan individu tergantung padatahap 5, yakni mereka sudah memasuki tahapan penggabungan pemilihan jenis coping sesuaiyang sangat rentan dalam pekerjaanya dan mulai permasalahan yang dihadapi daripada mencarimengalami terjadinya burnout. satu strategi yang paling cocok.Coping stres Burnout Menurut Sarafino (2008) coping Burnout merupakan istilah yang menunjukmerupakan suatu proses dimana individu mencoba pada sindroma yang merupakan kumpulan responuntuk mengelola jarak yang ada diantara tuntutan- individu terhadap stres. Burnout merupakantuntutan dengan sumber daya yang mereka respon yang berkepanjangan terkait faktorgunakan dalam menghadapi situasi stressful. penyebab stres yang terus-menerus terjadi tempat Weiten (2010) mengungkapkan coping kerja di mana hasilnya merupakan perpaduanadalah upaya yang dilakukan oleh individu untuk antara pekerja dan pekerjaannya (Papalia, 2007).mengatasi masalah atau menangani emosi yang Weiten (2010) menjelaskan bahwa burnoutumumnya bersifat negatif. meliputi kelelahan fisik, kelelahan mental, danMenurut Sarafino (2008) dan Folkman (dalam emosi yang disebabkan stres yang berhubunganWortman, 1992) terdapat dua jenis coping stres, dengan pekerjaan, yang biasa terjadi padayaitu coping yg berfokus pada masalah/problem- individu yang bekerja dalam bidang pelayanansolving focused coping sebagai usaha untuk sosial. Kelelahan fisik yang terjadi dapat meliputimengurangi tuntutan dari situasi yang dapat merasakan berkurangnya tenaga, merasa lemah,menimbulkan stres atau meningkatkan sumber atau kelelahan yang kronis. Kelelahan mentaldaya untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang dapat dimunculkan dengan tingginya sikap negatifmenyebabkan stres tersebut. Problem focused pada seseorang, pekerjaan, dan hidupnya.coping terdiri dari tiga jenis, yaitu Confrontive Kelelahan emosi terkait adanya perasaan tidak 2
  3. 3. Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.1 No.1 (2012)berdaya, tidak berpengharapan, dan merasa merupakan perempuan, yakni sebanyak 43 subjekterjebak atau terperangkap dalam pekerjaannya. (52,4%) dan sisanya sebesar 47,6% merupakan Menurut Baron dan Greenberg (2003) laki-laki. Subjek dalam penelitian ini mayoritasterdapat dua faktor penyebab yang menimbulkan berusia 20-30 tahun (48,8%).terjadinya burnout, yaitu: faktoreksternal/lingkungan kerja, yaitu kondisi Deskripsi variabel penelitianpekerjaan yang buruk, kurang adanya promosijabatan, prosedur aturan yang kaku, dan tuntutan Berdasarkan hasil distribusi frekuensi, makapekerjaan, gaya kepemimpinan, dan faktor diperoleh faktor utama penyebab stres dapatinternal, yaitu usia, jenis kelamin, harga diri, dan dinyatakan bahwa sebesar 43,9% subjek memilihkepribadian. faktor pekerjaan sebagai pendorong utama yang Menurut Maslach dan Jackson (dalam menyebabkan stres, 22% subjek memilihSarafino, 2008) Terdapat tiga komponen yang keluarga, 14,6% menjawab tidak ada, dan 19,5%sering digunakan untuk menjelaskan terjadinya menjawab lain-lain. Pilihan jawaban lain-lainburnout, yaitu kelelahan emosi; pada kondisi ini, meliputi kekurangan uang dan faktor lawan jenis.rasa lelah muncul begitu saja tanpa sebelumnyadidahului oleh pengeluaran energi yang berarti. Analisis butir dan reliabilitas pengukuranSelain itu, rasa lelah ini tidak dapat hilang,meskipun individu tersebut sudah melakukan Hasil analisis butir dan reliabilitas untukistirahat selama beberapa hari. Kelelahan emosi variabel burnout dan coping stres berturut-turutditandai dengan munculnya rasa marah, depresi, adalah 0,276-0,874 dan 0,968, serta 0,220-0,831dan mudah tersinggung. Depersonalisasi; suatu dan 0,972.kondisi kecenderungan individu untuk menjauhatau menghilang dari lingkungannya, bahkan tidak Distribusi frekuensi burnoutmemperdulikan orang-orang di sekitarnya dan Kategori Interval Frekuensi Persentasebersikap negatif. Feeling of low accomplishment; Sangatsuatu kondisi ketika individu merasa bahwa tinggi X > 125,8 1 1,2%dirinya tidak mampu atau tidak puas melakukan Tinggi 103,6< Xtugas yang dibebankan padanya secara tepat. <125,8 1 1,2% Sedang 81,4< X <103,6 2 2,4 % Rendah 59,2< X Metode <81,4 56 68,3% Sangat Penelitian ini merupakan total population rendah X < 59,2 22 26,8 %study, subjek penelitian ini adalah seluruh Total 82 100 %populasi perawat yang bekerja di ruang rawat inapRumah Sakit Jiwa Menur Surabaya yang Nilai mean ideal problem focused coping antarberjumlah 82 orang, terdiri dari 36 laki-laki dan ruangan46 perempuan, dan peneliti akan mengambil No Ruang Kerja Mean Kategorikeseluruhannya. Proses analisis data akan diawali 1 Puri Anggrek 49,08 Sedangdengan uji validitas dan reliabilitas skala yang 2 Flamboyan 47,54 Sedangdigunakan. Apabila skala tidak valid bila sig>0,05 3 Wijaya Kusuma 59,50 Tinggidan r<0,3; dan reliabel (α< 0,7; Nunnally, 1978), 4 Puri Mitra 47,29 Sedangmaka akan dilakukan pengguguran butir sampai 5 Gelatik 49,36 Sedangskala valid dan reliabel. Selanjutnya akan 6 Kenari 46,14 Sedangdilakukan distribusi frekuensi dan tabulasi silangmenggunakan spss 16.00. Nilai mean ideal emotional focused coping antar ruangan No Ruang Kerja Mean Kategori Hasil 1 Puri Anggrek 76,46 Sedang 2 Flamboyan 72,39 SedangDeskripsi subjek penelitian 3 Wijaya Kusuma 93,00 Tinggi 4 Puri Mitra 74,00 Sedang 5 Gelatik 76,86 Sedang Subjek penelitian dalam penelitian ini 6 Kenari 73,57 Sedangberjumlah 82 subjek. Subjek sebagian besar 3
  4. 4. Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.1 No.1 (2012) BahasanTabulasi silang PFC dan ruang kerja Ruang Distribusi frekuensi nilai mean ideal dari Puri Flam Wijaya Puri Tota problem focused coping yang digunakan subjekKTP Gela Ken Anggr boya Kusum Mitr lFC ek n a a tik ari termasuk dalam kategori sedang (53,7%). F % F % F % F % F % F % F % Distribusi frekuensi nilai mean ideal dariSan 1 1 emotional focused coping yang digunakan olehgat 7 4 5Ting 1 71 , , 1 , subjek dan termasuk dalam kategori sedang gi 0 0 0 0 0 ,5 1 1 2 8 0 0 3 9 (57,3%). Penggunaan coping stres pada perawat 1 3 3 2 ruang rawat inap tersebut termasuk dalam kategori 3 4 5 5 4Ting 0, 2 7, , , , 2 , sedang, artinya ada kekonsistenan dalam diri gi 4 8 3 3 1 1 2 3 5 7 5 7 0 4 subjek, hal ini berarti pada masalah yang 7 3 5 5 6 8 5 0 3 membutuhkan penyelesaian subjek akanSeda 9, 1 7 14 1 , , , 4 , menggunakan coping stres berupa problem ng 9 2 0 7 2 ,3 1 6 5 7 7 1 4 7 focused coping, dan pada masalah yang hanya 7 1Ren , , perlu penurunan emosi negatif maka akandah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 2 menggunakan emotional focused coping, ataupunSan 1 kombinasi dari kedua coping. Menurut Ruttergat 4 7 4Ren 7, , , , (dalam Smeth, 1994) keefektifan penggunaandah 0 0 0 0 1 1 0 0 2 3 1 1 4 9 suatu coping tergantung pada cara pemilihan 1 1 1 1 1 1Tota 1 0 1 0 1 10 1 0 1 0 1 0 8 0 ketepatan coping sesuai dengan permasalahan l 3 0 3 0 4 0 4 0 4 0 4 0 2 0 yang ada. Berdasarkan hasil wawancara enam orangTabulasi silang EFC dan ruang kerja subjek penelitian terkait tabel 20, permasalahan Ruang utama yang mereka hadapi yaitu terkait keluarga K Wija Tot dan pekerjaan yang meliputi, kenaikan biaya Puri Fla ya Puri TE Ang mbo Kusu Mitr Gel Ken al hidup tidak diimbangi dengan kenaikan gaji, FC grek yan ma a atik ari kurangnya sumber daya perawat pada shift malam F % F % F % F % F % F % F % menjadikan perawat yang bertugas cukup Sa ng kewalahan apabila ada pasien yang gelisah di at 7 1 malam hari, banyaknya waktu menganggur/santai Ti 1 7 3 karena adanya perawat yang magang sehingga ng 1 , , 1 , gi 0 0 0 0 0 5 0 0 1 1 0 0 1 4 subjek merasa kemampuannya tidak dapat 2 1 5 2 berkembang, dan adanya gangguan selama Ti 7 3 7 4 0 8 ng , , , , , , 1 2 bekerja (suara TV, sesama teman kerja yang gi 1 7 3 0 1 1 2 3 7 0 4 6 8 2 saling bercakap-cakap). Permasalahan- 9 7 1 8 2 5 5 permasalahan yang dialami sebagian subjek Se 2 7 4 5 8 7 8 da 1 , 1 , , 1 , , , 4 , tersebut merupakan sumber stres yang bersifat ng 2 3 0 0 2 3 2 7 4 6 8 2 8 5 negatif (distress) yang dapat memengaruhi Re 7 1 penurunan kinerja subjek. nd , , ah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 2 Distribusi frekuensi nilai mean ideal Sa burnout, sebanyak 56 orang subjek penelitian ng zat 1 memiliki burnout dengan kategori rendah Re 7 4 7 4 (68,3%) kemudian dilanjutkan 22 orang nd , , , , ah 0 0 0 0 1 1 0 0 2 3 1 1 4 9 subjek dengan kategori sangat rendah 1 1 1 1 1 1 1 (26,8%). Weiten (2010) menjelaskan burnout To 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 8 0 tal 3 0 3 0 4 0 4 0 4 0 4 0 2 0 terdiri dari kelelahan fisik, emosi, dan mental dalam diri individu terkait dengan pekerjaanya terutama dalam bidang pelayanan sosial. Perawat merupakan salah satu dari pekerja sosial yang paling rentan mengalami burnout karena selain harus berinteraksi langsung dengan pasien dan keluarganya dalam waktu yang tidak singkat, perawat juga 4
  5. 5. Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.1 No.1 (2012)memiliki karakteristik tugas atau lingkungan rumah sakit dapat menyiasati kurangnya jumlahkerja yang bersifat kompleks, dan terkadang perawat pada shift malam sehingga dapatberkaitan dengan keselamatan jiwa seseorang. mencegah meningkatnya burnout pada perawatBurnout yang terjadi pada sebagian besar yang bekerja di shift malam.subjek termasuk dalam kategori rendah dan Saran-saran yang dapat diberikan untuk dapat meminimalisasi kelemahan pada penelitiansangat rendah dikarenakan subjek sudah selanjutnya yaitu: sebaiknya penelitian inimemiliki strategi coping yang dirasa efektif dilakukan menggunakan metode kualitatif agarsehingga tidak berdampak pada hal-hal yang dapat lebih dilakukan probing dan mendalamiburuk terkait pekerjaannya. permasalahan yang sedang dialami subjek sehingga tidak menimbulkan bias. Penelitian Simpulan selanjutnya diharapkan menambahkan kaitan dukungan sosial dengan pemilihan strategi coping Strategi coping stres yang digunakan oleh stres.perawat di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabayameliputi dua jenis, yaitu problem focused coping Pustaka Acuandan emotional focused coping. Coping stres dapatmembantu subjek dalam menghadapi situasi Aronson, E. & Pines, A. (1988). Career burnout:stressful/burnout. Penggunaan strategi coping Causes & cures. New York:yang efektif sesuai dengan permasalahan yang Free Press.sedang dihadapi dapat meminimalkan terjadinya Azwar, S. (2000). Tes prestasi: Fungsi danstres/burnout di tempat kerja. pengembangan pengukuran prestasi belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Bahtiar, Y. & Suarli, S. (2009). Manajemen Kelemahan keperawatan dengan pendekatan praktis. Jakarta: Erlangga. Penelitian ini memiliki beberapa Baron, R. A. & Grennberg, J. (2003). Behavior inketerbatasan, yaitu: adanya singkatan di dalam organizations: Understandingmemberikan simbol untuk jenis kelamin and managing the human side of work (8th ed.).menjadikan jumlah perawat laki-laki dan Upper Saddle River: Pearsonperempuan pada hasil olahan angket tidak sama Education.dengan data yang diberikan oleh pendamping. Chesham, D. J., Quine, L., & Rutter, D. R. (1993).Adanya keterbatasan peneliti dalam menggali Social psychologicaljawaban-jawaban yang kurang jelas, seperti lain- approaches to health. New York: Harversterlain, tidak ada. Adanya bias/faking good antara Wheatsheaf.hasil angket dan wawancara sehingga terjadi Dubrin, J. A. (1994). Applying psychology:ketidaksesuaian antara keduanya. Peneliti kurang Individual and organizationalmemiliki kemampuan yang baik di dalam effectiveness. New Jersey: Prentice-Hall inc.membahasakan hasil penelitian. Berdasarkan hasil Elcom. (2010). Seri belajar kilat SPSS 17.wawancara di akhir penelitian baru disadari Yogyakarta: Andi Offset.adanya faktor dukungan sosial di dalam pemilihan Farber, B. A. (1985). Stress and burnout in thestrategi coping stres. human service professions. New York: Pergamon Press. Gunarsa, S. D., & Gunarsa, Y. S. (1995). Saran Psikologi perawatan. Jakarta: BPK Gunung Mulia Hadi, S Bagi perawat, sebaiknya perawat dapat Maherawati, H. (2007). Perbedaan stres danmenyeimbangkan antara penggunaan problem intensitas rokok ditinjau dari copingfocused coping dan emotional focused coping stres pada perokok mahasiswa. (Skripsi tidaksehingga tidak berdampak buruk pada keseharian diterbitkan). Fakultas Psikologidan kinerjanya. Universitas Surabaya. Bagi rumah sakit, walaupun hasil Malliarou, M. M., Moustaka, E. C., &penelitian menunjukkan bahwa mayoritas subjek Konstantinidis, T. C. (2008). Burnout ofpenelitian mengalami burnout pada kategori nursing personnel in a regional universityrendah dan sangat rendah, namun sebaiknya pihak hospital. Health Science Journal, 5
  6. 6. Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya Vol.1 No.1 (2012) 2(3), 140-152.Nurvida, H. (1997). Hubungan antara motivasiberprestasi dengan gejala burnout pada polantas di Satlantas PolwiltabesSurabaya. (Skripsi tidak diterbitkan). Fakultas Psikologi UniversitasSurabaya.Ogden, J. (2004). Health psychology (3rd ed.).New York: Open University.Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D.(2007). Human development (10th ed.). New York: McGraw Hill.Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).(2011). Perawat, ujung tombak pelayanankesehatan. Jakarta: Penulis.Priharjo, R. (1995). Etika keperawatan.Yogyakarta: Kanisius.Riduwan. (2006). Dasar-dasar statistika.Bandung: Alfabeta.Robbins, S. P. (2008). Perilaku organisasi:Organizational behavior (12th ed.). Jakarta: Salemba Empat.Sarafino, E. P. (2008). Health biopsychosocialinteractions (6th ed.). New York: John Willey& Sons, Inc.Sihotang, I. N. (2004). Burnout pada karyawanditinjau dari persepsi terhadap lingkungan kerja psikologis dan jenis kelamin.Jurnal Psyche,1(1), 9-17.Smet, B. (1994). Psikologi kesehatan. Jakarta:Grasindo.Soebekti, S. (2007). Hubungan kemampuanpenyesuaian diri dengan burnout buruh linting rokok Prima Lestari. (Skripsitidak diterbitkan). Fakultas Psikologi Universitas Surabaya.Sudjana. (1992). Metoda statistika. Bandung:Tarsito.Suryabrata, S. (2009). Metodologi penelitian.Jakarta: Raja Grafindo Persada.Weiten, W. (2010). Psychology: Themes andvariations (8th ed.). California: Wadworth.Widyawati, S. N. (2012). Konsep dasarkeperawatan. Jakarta: Prestasi Pustaka.Wolf, L. V., Weitzel, M. H., & Fuerst, E. V.(1984). Dasar-dasar ilmu keperawatan. Jakarta: Gunung Agung.Wortman, C. B. & Loftus, E. F. (1992).Psychology (4th ed.). USA: McGraw Hill inc. 6

×