SEJARAH,POLAISTINBATHMAZHABHANAFI &MALIKI      Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA
Manhaj & Penyebaran Mazhab•   Manhaj Imam Abu Hanifah dalam meng-istinbath hukum: Al-Quran, Sunnah,    Pendapat Sahabat, Q...
Ahmad              Shafe‘i         Malik          Abu Hanifah  ‫أحمد‬               ‫الشافعي‬         ‫مالك‬            ‫أ...
Peta Penyebaran Mazhab
Istilah-istilah Fiqh•   FARDHU dan WAJIB mempunyai makna yang sama menurut jumhur ulama selain    kalangan Hanafiyyah. Men...
Imam Abu Hanifah (80 – 150 H.)Dilahirkan di Kuffah, pada tahun 80 H (699 M). Nama aslinya Nu’mam bin Tsabit Bin Zhauth Bi...
Pendidikan Abu Hanifah Pada masa Abu Hanifah terdapat empat sahabat, mereka adalah: Anas bin Malik, Abdullah bin Abu Aufa,...
Murid-murid Abu Hanifah)80-150                 )H   Abu Yusuf (113-182 H)   Muhammad bin Al-Hasan (132-189 H)   Zufar b...
Metode Ijtihad Imam Abu HanifahSesungguhnya aku mencari hukum di dalam Kitabullah, bila tidak aku dapati aku mencarinya d...
Prinsip-prinsip Ijtihad Imam Abu HanifahLafaz ‘am dalalahnya adalah qath’iy;Mazhab sahabi dapat men-takhshis yang ‘am bi...
Skema Hadis Ahad           Single Narration ‫الحاد‬                  ‫)ص‬    ‫(رسول ال‬              The Prophet PBUH     ...
Terminologi ISTIHSAN (‫(إستحسان‬• Istihsan berasal dari kata ‫ إس تحسن – يس تحسن – إستحسانا‬yang     berarti “mencari keba...
Ikhtilaf Mengenai Istihsan• Mazhab Hanafi, Maliki dan Hanbali berpendapat bahwa istihsan  dapat dijadikan landasan dalam m...
ISTISHHAB• Kata istishhab secara etimologi berarti “meminta ikut serta  secara terus-menerus”. Secara terminologi, istishh...
Ikhtilaf Ulama Mengenai Istishhab• Para ulama Ushul Fiqh sepakat bahwa tiga macam istishhab (point   pertama hingga ketiga...
MASHLAHAH MURSALAH• Kata mashlahah menurut bahasa berarti “manfaat”. Kata mursalah  berarti “lepas”. Secara istilah, menur...
Ikhtilaf Ulama pada Mashlahah• Para ulama Ushul Fiqh sepakat bahwa mashlahah mursalah   tidak sah menjadi landasan hukum d...
• Al-’Urf al-’am yaitu adatMacam-macam                   kebiasaan mayoritas dari                              berbagai ne...
IJMA‘  Secara etimologi, ijma’ berarti “kebulatan tekad terhadap suatu  persoalan”, atau “kesepakatan tentang suatu masala...
Macam-macam Ijma‘                                        IJMA’                                          IJMA’ SHARIH      ...
QIYAS (ANALOGI)  Secara bahasa, qiyas berarti “mengukur sesuatu dengan  sesuatu yang lain untuk diketahui adanya persamaan...
Rukun Qiyas     Qiyas dianggap sah jika lengkap rukun-rukunnya. Ada 4 rukun qiyas:     ‫( الصل‬pokok tempat meng-qiyaskan ...
Imam Malik (93 – 179 H.) Imam Malik dilahirkan dikota Dzu al-Muruwah di selatan kota Madinah, lalu pindah ke Aqiq dan kemu...
Guru Imam Malik Imam Malik berguru kepada banyak guru diantaranya adalah Abdurrahman ibnu hurmuz, Rabi’ah bi Abdurrahman F...
Metode Ijtihad Imam Malik  Dalam merumuskan hukum-hukum yang bersumber dari al-Quran  dan al-hadis, Imam Malik menggunakan...
Metode Ijtihad Imam Malikd) Al-Mashlahat al-Mursalah, yaitu mempertimbangkan kepentingan   umum terhadap suatu permasalaha...
‫الدلة الفقهية في المذهب المالكي‬Sources of Maliki School                                 Quran                           ...
The End
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Sejarah, pola istinbath mazhab hanafi maliki

10,307
-1

Published on

0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
10,307
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
5
Actions
Shares
0
Downloads
359
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Sejarah, pola istinbath mazhab hanafi maliki

  1. 1. SEJARAH,POLAISTINBATHMAZHABHANAFI &MALIKI Oleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA
  2. 2. Manhaj & Penyebaran Mazhab• Manhaj Imam Abu Hanifah dalam meng-istinbath hukum: Al-Quran, Sunnah, Pendapat Sahabat, Qiyas, Istihsan, Ijma’ dan ‘Urf. Mazhab Hanafi mulai tersebar di Kufah, kemudian Baghdad, Mesir, Syam, Persia, Romawi, Yaman, India, China, Bukhara, Kaukasus, Afghanistan, Turkistan.• Dasar Mazhab Imam Maliki: Al-Quran, Sunnah, Amalan penduduk Madinah, Fatwa Sahabat, Qiyas, Mashalih Mursalah, Istihsan, Sadd al-dzarai’, ‘Urf. Mazhab Imam Malik tersebar di negeri Hijaz, Mesir, Tunisia, Aljazair, Maroko, Tripoli, Sudan, Bashrah dan Baghdad.• Sumber hukum Imam Syafi’i: Nash-nash (Al-Quran dan Sunnah), Ijma’, Pendapat para sahabat, Qiyas. Penyebaran mazhab Syafi’i di Irak, Mesir, kawasan Khurasan, Palestina, Hadramaut (Yaman), Persia, Pakistan, Srilanka, India, Indonesia, Australia.• Dasar mazhab Hanbali: Nash Al-Quran dan sunnah, Fatwa sahabat yang tidak ada penentangnya (belia tidak menamakannya sebagai ijma’, tapi belaiu menamakannya wara’), jika sahabat berbeda pendapat maka beliau memilih salah satunya jika sesuai dengan Quran dan Sunnah, kemudian menggunakan hadis mursal dan hadis dha’if jika tidak ada dalil lain yang menguatkannya dan didahulukan daripada qiyas (Hadis Dha’if yang diterima adalah jika orang/rawi yang belum mencapai derajat tsiqah tapi tidak sampai dituduh berdusta). Sumber lainnya adalah qiyas. Penyebaran mazhab Hanbali: Irak, Mesir, Semenanjung Arab dan Syam, dan menjadi mazhab resmi Kerajaan Saudi Arabia.
  3. 3. Ahmad Shafe‘i Malik Abu Hanifah ‫أحمد‬ ‫الشافعي‬ ‫مالك‬ ‫أبو حنيفة‬ Quran Quran Quran Quran ‫القرآن‬ ‫القرآن‬ ‫القرآن‬ ‫القرآن‬ Sunnah Sunnah Sunnah Sunnah ‫السنة‬ ‫السنة‬ ‫السنة‬ ‫السنة‬ Sahaba Agreement Sahaba Sahaba ‫قول الصحابي‬ ‫الجماع‬ ‫قول الصحابي‬ ‫قول الصحابي‬Agreement Comparison Agreement Agreement ‫الجماع‬ ‫القياس‬ ‫الجماع‬ ‫الجماع‬ Practice inComparison Sahaba Comparison Medina ‫القياس‬ ‫قول الصحابي‬ ‫عمل أهل المدينة‬ ‫القياس‬ Preserving Status Quo Comparison Preference ‫الستصحاب‬ ‫القياس‬ ‫الستحسان‬ CommonGeneral Benefit Preference Practice ‫المصالح المرسلة‬ ‫الستحسان‬ ‫العرف‬
  4. 4. Peta Penyebaran Mazhab
  5. 5. Istilah-istilah Fiqh• FARDHU dan WAJIB mempunyai makna yang sama menurut jumhur ulama selain kalangan Hanafiyyah. Menurut mazhab Hanafi, pengertian FARDHU adalah kewajiban yang dituntut dengan dalil yang Qath’i (pasti), semisal shalat, haji dan zakat. Sedangkan WAJIB adalah kewajiban yang dituntut dengan dalil zhanni (ada kesamaran) seperti khitan, akikah dll.• Jumhur ulama selain kalangan Malikiyyah menyamakan istilah SUNNAH dengan mandub, nafilah,mustahab, tathawu’, murghab fih, ihsan, dan husn. SUNNAH menurut istilah Hanafiyah adalah sesuatu yang terus dilakukan oleh Rasulullah saw. Namun kadang-kadang beliau meninggalkannya tanpa uzur. Mandub dan mustahab adalah sesuatu yang beliau tidak terus menerus mengerjakannya, meskipun beliau tidak mengerjakannya sesudah menggemarkannya pada orang lain.• Menurut Mazhab Hanafi, MAKRUH terbagi menjadi dua, yaitu makruh tahrim dan makruh tanzih. Makruh tahrim yaitu makruh yang dilarang dengan dalil yang tidak pasti, contohnya : bertunangan dengan tunangan orang lain. Sedangkan makruh tanzih yaitu larangan melalui larangan yang tidak pasti dan tidak mengisyaratkan adanya hukuman, seperti memakan daging kuda dan berwudhu dari bejana. Sedangkan jumhur ulama memandang makruh hanya satu jenis saja.• RUKUN menurut ulama Hanafi adalah sesuatu yang kewujudan sesuatu yang lain adalah bergantung pada kewujudannya, dan ia merupakan bagian dari hakikat itu. Menurut jumhur, RUKUN ialah perkara yang menjadi asas bagi kewujudan sesuatu, meskipun ia berada diluar hakikat sesuatu itu.
  6. 6. Imam Abu Hanifah (80 – 150 H.)Dilahirkan di Kuffah, pada tahun 80 H (699 M). Nama aslinya Nu’mam bin Tsabit Bin Zhauth Bin Mah, digelari dengan Abu Hanifah karena diantara putra beliau bernama Hanifah. Dalam riwayat yang lain gelar tersebut muncul karena ketaatan beliau dalam beribadah, yaitu berasal dari bahasa Arab Hanif yang berarti condong kepada yang benar. Ada riwayat pula, gelar Abu Hanifah diberikan karena beliau adalah penulis. Hanifah menurut bahasa Irak berarti tinta.Ayahnya keturunan bangsa Persi (Kabul Afganistan) yang menetap di Kuffah. Tsabit, ayah dari Abu Hanifah seorang muslim berasal dari bangsa Anbar. Ia adaalah seorang pedagang yang kaya dan taat beragama, pernah bertemu dengan Ali bin Abi Thalib, lalu sang imam mendoakan dan keturunananya dengan kebaikan dan keberkahan.Abu Hanifah lahir pada masa pemerintahan Islam di tangan Abdul Malik bin Marwan, raja Bani Umayyah yang kelima.Abu Hanifah merupakan imam pertama dari keempat imam dan yang paling dahulu lahir juga wafatnya, ia dijuluki Imam A’zham (pemimpin terbesar), ia juga dikenal sebagai faqih Irak, dan imam Ar-Ra’y (Imam Aliran Rasional).
  7. 7. Pendidikan Abu Hanifah Pada masa Abu Hanifah terdapat empat sahabat, mereka adalah: Anas bin Malik, Abdullah bin Abu Aufa, Sahl bin Sa’ad dan Abu Thufail. Mereka adalah sahabat-sahabat yang paling akhir wafat, namun Abu Hanifah tidak berguru kepada mereka.
  8. 8. Murid-murid Abu Hanifah)80-150 )H Abu Yusuf (113-182 H) Muhammad bin Al-Hasan (132-189 H) Zufar bin Huthayl (110-158 H)
  9. 9. Metode Ijtihad Imam Abu HanifahSesungguhnya aku mencari hukum di dalam Kitabullah, bila tidak aku dapati aku mencarinya dalam hadis yang sahih yang berasal dari orang atau perawi-perawi yang tsiqaat. Kalau aku tidak memperolehnya, aku berpegang kepada perkataan sahabat, siapa saja di antaranya yang aku pilih, dan bila belum kudapati juga, meskipun telah sampai kajianku pada perkataan Ibrahim Nakh’iy, Sya’by , Ibnu Sirin, Hasan, ‘Atha’, Sa’id bin Musayyab dan beberapa yang lain, maka aku akan berijtihad sebagaimana mereka berijtihad”.Jadi, jika tidak ada dalil dari al-Quran dan Sunnah, Abu Hanifah melihat perkataan sahabat yang kemudian diambil pendapat mereka yang sejalan dengan pikiran beliau dan ditinggalkan mana yang tidak sesuai. Apabila semua sahabat sependapat dalam menetapkan suatu hukum, beliau akan mengikuti pendapat itu sepenuhnya.Akan tetapi, jika pendapat itu dikemukakan oleh Ibrahim Nakh’iy, Sya’by , Ibnu Sirin, Hasan, ‘Atha’, Sa’id bin Musayyab dan beberapa yang lain, dalam hal ini Abu Haifah akan berijtihad seperti para imam mujtahid tersebut. Artinya, beliau tidak mengambil pendapat tabi’in dan ulama yang sezaman dengannya. Dalam berijtihad, Abu Hanifah melakukan dengan metode qiyas, istihsan dan ‘urf.
  10. 10. Prinsip-prinsip Ijtihad Imam Abu HanifahLafaz ‘am dalalahnya adalah qath’iy;Mazhab sahabi dapat men-takhshis yang ‘am bila bertentangan;Banyak perawi tidak menjamin terhadap kesahihan hadis;Tidak menerima HADIS AHAD;Amar sudah pasti menunjukkan wajib selama tidak ada penyanggah;Bila bertentangan riwayat dan perbuatan seorang perawi, maka yang dipegang adalah perbuatan perawi;Berpegang kepada Istihsan;Meninggalkan Qiyas jika diperlukanAbu Hanifah menyatakan :” Istihsan itu sembilan sepersepuluh ilmu”. Oleh sebab itulah istihsan mendominasi dalam ijtihad mazhab Hanafi.
  11. 11. Skema Hadis Ahad Single Narration ‫الحاد‬ ‫)ص‬ ‫(رسول ال‬ The Prophet PBUH ‫صحابي‬ Companion ‫تابعي‬ Follower ‫راوي‬ Narrator ‫راوي‬ ‫راوي‬ ‫راوي‬ ‫راوي‬ ‫راوي‬Narrator Narrator Narrator Narrator Narrator ‫راوي‬ ‫راوي‬ ‫راوي‬ ‫راوي‬ ‫راوي‬Narrator Narrator Narrator Narrator Narrator
  12. 12. Terminologi ISTIHSAN (‫(إستحسان‬• Istihsan berasal dari kata ‫ إس تحسن – يس تحسن – إستحسانا‬yang berarti “mencari kebaikan”. Istihsan juga berarti “sesuatu yang dianggap baik”, diambil dari kata al-husnu (baik).• Secara terminologi, Imam Abu Hasan al-Karkhi mengatakan bahwa istihsan ialah “penetapan hukum dari seorang mujtahid terhadap suatu masalah yang menyimpang dari ketetapan hukum yang diterapkan pada masalah-masalah yang serupa, karena ada alasan yang lebih kuat yang menghendaki dilakukannya penyimpangan itu.”• DASAR ISTIHSAN: QS. al-Zumar: 17-18 disebutkan:* ‫• َاّ ِينَ اجْ َ َ ُوا ال ّا ُوتَ َنْ َعْ ُ ُوهَا ََ َا ُوا ِلَى ا ِّ َ ُ ُ الْ ُشْ َى َ َ ّر ِ َا ِي‬ ‫وأن ب إ ل لهم ب ر فبش ْ عب د‬ ‫أ ي بد‬ ‫تنب ط غ‬ ‫و لذ‬ ‫بب‬ ِ ‫اّ ِي َ َسْ َ ِ ُو َ الْ َو َ َ َ ّ ِ ُو َ أَحْ َ َ ُ ُو َ ِ َ اّ ِي َ َ َا ُم ا ُ َُو َ ِ َ ُمْ ُوُو اللْ َا‬ ‫لذ ن ي تمع ن ق ْل فيتبع ن سنه أ لئك لذ ن هد ه ُ ّ وأ لئك ه أ ل‬ ‫ل‬ Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk, mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.• Rasul Saw juga bersabda: ‫مارءاه المسلمون حسن ً فهو عند ال حسن‬ ‫ا‬
  13. 13. Ikhtilaf Mengenai Istihsan• Mazhab Hanafi, Maliki dan Hanbali berpendapat bahwa istihsan dapat dijadikan landasan dalam menetapkan hukum, dengan menggunakan dalil-dalil yang menjadi dasar istihsan.• Imam Syafi’i menolak istihsan sebagai landasan hukum. Menurut beliau, menetapkan hukum berlandaskan istihsan sama dengan membuat-buat syariat baru dengan hawa nafsu. QS. Al-Maidah: 49. ‫• ََ ِ احْ ُمْ َيْ َ ُمْ ِ َا َنْ َ َ ا ُ َل َ ّ ِعْ َهْ َا َ ُمْ َاحْ َرْ ُمْ َنْ َفْ ِ ُو َ َنْ َعْ ِ َا َنْ َ َ ال‬ ّ ُ ‫وأن ك ب نه بم أ زل ّ و تتب أ و ءه و ذ ه أ ي تن ك ع ب ض م أ زل‬ ‫ل‬ ‫إل ك فإ تول ف ل أنم ير د ّ أ يص به بب ض ذن به وإن كث ر من ن س لف سق ن‬ َ ‫َِيْ َ َ ِنْ َ َّوْا َاعَْمْ َ ّ َا ُ ِي ُ ا ُ َنْ ُ ِي َ ُمْ ِ َعْ ِ ُ ُو ِ ِمْ َِ ّ َ ِي ًا ِ َ ال ّا ِ َ َا ِ ُو‬ ‫ل‬ Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Ayat ini memerintahkan manusia untuk mengikuti petunjuk Allah Swt dan RasulNya, dan larangan mengikuti kesimpulan hawa nafsu. Hukum yang dibentuk melalui istihsan adalah kesimpulan hawa nafsu, jadi tidak sah dijadikan landasan hukum.
  14. 14. ISTISHHAB• Kata istishhab secara etimologi berarti “meminta ikut serta secara terus-menerus”. Secara terminologi, istishhab ialah “menganggap tetapnya status sesuatu seperti keadaannya semula, selama belum terbukti ada sesuatu yang mengubahnya.• Contoh istishhab: Seseorang yang diketahui masih hidup pada masa tertentu, tetap dianggap hidup pada masa sesudahnya selama belum terbukti bahwa ia telah wafat. Begitupula seseorang yang telah berwudhu’, jika ia ragu, dianggap tetap wudhu’nya selama belum terjadi hal yang membuktikan batal wudhu’nya.
  15. 15. Ikhtilaf Ulama Mengenai Istishhab• Para ulama Ushul Fiqh sepakat bahwa tiga macam istishhab (point pertama hingga ketiga) adalah sah dijadikan landasan hukum.• Mereka berbeda pendapat pada jenis istishhab al-washf:3. Kalangan Hanabilah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa istishhab al- washf dapat dijadikan landasan hukum secara penuh, baik dalam menimbulkan hak yang baru maupun dalam mempertahankan haknya yang sudah ada. Misalnya, seseorang yang hilang tidak ketahuan rimbanya, tetap dianggap hidup sampai ada bukti bahwa ia telah wafat. Jadi harta dan istrinya masih dianggap kepunyaannya, dan jika ahli warisnya wafat, dia turut mewarisi harta peninggalan dan kadar pembagiannya langsung dinyatakan sebagai hak miliknya.4. Kalangan Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa istishhab al- washf hanya berlaku untuk mempertahankan haknya yang sudah ada, bukan untuk menimbulkan hak yang baru. Dalam contoh orang hilang tsb meskipun harta dan istrinya masih dianggap sebagai kepunyaannya, tapi jika ada hali waris yang wafat maka khusus kadar bagiannya disimpan dan belum dapat dinyatakan sebagai haknya sampai terbukti ia hidup.
  16. 16. MASHLAHAH MURSALAH• Kata mashlahah menurut bahasa berarti “manfaat”. Kata mursalah berarti “lepas”. Secara istilah, menurut Abdul Wahab Khalaf, mashlahah mursalah berarti “sesuatu yang dianggap mashlahat namun tidak ada ketegasan hukum untuk merealisasikannya dan tidak ada pula dalil tertentu baik yang mendukung maupun yang menolaknya”, sehingga disebut mashlahat yang lepas.• MACAM-MACAM MASHLAHAH:• Al-mashlalah al-mu’tabarah, yaitu mashlahah yang secara tegas diakui syariat dan telah ditetapkan ketentuan2 hukum untuk merealisasikannya. Misal: Diwajibkan hukum qishash untuk menjaga kelestarian jiwa, ancaman hukuman zina bertujuan untuk memelihara kehormatan dan keturunan, dsb.• Al-mashlahah al-mulghah, yaitu sesuatu yang dianggap mashlahah oleh akal pikiran, tetapi dianggap palsu karena kenyataannya bertentang dengan ketentuan syariat. Misal: ada asumsi menyamakan pembagian warisan anak laki-laki dan wanita adalah mashlahah, padahal itu bertentang dengan QS. Al-Nisa`: 11.• Al-Mashlahah al-mursalah. Banyak terdapat dalam masalah- masalah muamalah. Misal: Peraturan dan rambu lalu lintas.
  17. 17. Ikhtilaf Ulama pada Mashlahah• Para ulama Ushul Fiqh sepakat bahwa mashlahah mursalah tidak sah menjadi landasan hukum dalam BIDANG IBADAH, karena bidang ibadah harus diamalkan sebagaimana adanya diwariskan oleh Rasul Saw, makanya bidang ibadah tidak berkembang.• Mereka berbeda pendapat dalam bidang muamalah.3. Kalangan Zahiriyah, sebagian Syafi’iyah dan hanafiyah tidak mengakui mashlahah mursalah sebagai landasan pembentukan hukum, karena menganggap syariat Islam tidak lengkap dengan asumsi ada mashlalah yang belum tertampung dalam hukum- hukumnya.4. Kalangan hanafiyah dan Malikiyah serta sebagian Syafi’iyah berpendapat bahwa mashlahah mursalah secara sah dapat dijadikan landasan penetapan hukum. Alasannya, kebutuhan manusia selalu berkembang, yang tidak mungkin semuanya dirinci Quran dan sunnah, selama tidak bertentangan dengan Quran dan sunnah maka mashlahah mursalah dapat diterima.
  18. 18. • Al-’Urf al-’am yaitu adatMacam-macam kebiasaan mayoritas dari berbagai negeri di satu masa. Seperti ucapan engkau telah‘Urf (Adat) haram aku gauli sebagai ucapan talak kepada istri. • Al-’Urf al-Khash yaitu adat yang ‫العرف‬ berlaku pada masyarakat atau negeri tertentu. Seperti kebiasaan masyarakat Irak menggunakan kata al-dabbah hanya kepada kuda.‫العرف العام‬ ‫العرف الخاص‬ • Adat yang benar (shahih) yaitu suatu hal baik yg menjadi kebiasaan suatu masyarakat, seperti anggapan bahwa apa yg diberikan pihak laki-laki kepada calon istri ketika khitbah dianggap ‫العرف‬ hadiah, bukan mahar. • Adat yang salah (fasid) yaitu sesuatu yang menjadi adat yang sampai menghalalkan yang‫العرف الصحيح‬ ‫العرف الفاسد‬ diharamkan Allah atau sebaliknya. Seperti tari perut di Mesir saat pesta perkawinan.
  19. 19. IJMA‘ Secara etimologi, ijma’ berarti “kebulatan tekad terhadap suatu persoalan”, atau “kesepakatan tentang suatu masalah”. Secara terminologi, menurut ‘Abdul Karim Zaidan, ijma’ adalah “kesepakatan para mujtahid dari kalangan umat Islam tentang hukum syara’ pada satu masa setelah Rasulullah Saw wafat”. Para ulama sepakat bahwa ijma’ sah dijadikan sebagai dalil hukum. Ada ikhtilaf mengenai jumlah pelaku kesepakatan sehingga dapat dianggap ijma’. Menurut mazhab Maliki, kesepakatan sudah dianggap ijma’ meskipun hanya merupakan kesepakatan penduduk Madinah (ijma’ ahl al-madinah). Menurut Syi’ah, ijma’ adalah kesepakatan para imam di kalangan mereka. Menurut jumhur, ijma’ sudah dianggap sah dengan adanya kesepakatan dari mayoritas ulama mujtahid. Presented by Marhamah Saleh
  20. 20. Macam-macam Ijma‘ IJMA’ IJMA’ SHARIH IJMA’ SUKUTI (TEGAS) (DIAM) Ijma’ sharih adalah kesepakatan tegas dari para ulama mujtahid dimana masing-masing mujtahid menyatakan persetujuannya secara tegas terhadap kesimpulan hukum. Ijma’ sukuti adalah bahwa sebagian ulama menyatakan pendapatnya, sedangkan ulama mujtahid lainnya hanya diam tanpa komentar. Menurut Imam Syafi’i dan kalangan Mailikiyah, ijma’ sukuti tidak dapat dijadikan landasan pembentukan hukum. Karena diamnya sebagian ulama belum tentu menandakan setuju, bisa jadi disebabkan takut kepada penguasa bilamana pendapat itu telah didukung penguasa, atau boleh jadi disebabkan merasa sungkan menentang pendapat mujtahid karena dianggap lebih senior. Menurut Hanafiyah dan Hanabilah, ijma’ sukuti sah dijadikan sumber hukum, karena diamnya sebagian ulam dipahami sebagai persetujuan. Jika mereka tidak setuju dan memandangnya keliru, pasti secara tegas menentangnya. Presented by Marhamah Saleh
  21. 21. QIYAS (ANALOGI) Secara bahasa, qiyas berarti “mengukur sesuatu dengan sesuatu yang lain untuk diketahui adanya persamaan antara keduanya”. Secara istilah, DR. Wahbah al-Zuhaili mendefinisikan: ‫فى علة الحكم‬ Qiyas adalah: Menghubungkan (menyamakan hukum) sesuatu yang tidak ada ketentuan hukumnya, dengan sesuatu yang ada ketentuan hukumnya, karena ada persamaan ‘illat antara keduanya. Presented by Marhamah Saleh
  22. 22. Rukun Qiyas Qiyas dianggap sah jika lengkap rukun-rukunnya. Ada 4 rukun qiyas: ‫( الصل‬pokok tempat meng-qiyaskan sesuatu), yaitu masalah yang telah ditetapkan hukumnya, baik dalam al-Quran atau dalam sunnah. ‫الصل‬ disebut juga ‫( المقيس عليه‬yang menjadi ukuran). Misalnya khamer ditegaskan dalam QS. Al-Maidah: 90 ‫م ر س م عمل ش ط ن ف تنب ه‬ ُ ‫َا َ ّ َا اّ ِي َ آ َ ُوا ِ ّ َا الْخمْ ُ َالْ َيْ ِ ُ َالنْ َا ُ َالزْل ُ ِجْ ٌ ِنْ َ َ ِ ال ّيْ َا ِ َاجْ َ ِ ُو‬ ‫ي أيه لذ ن من إنم َ ر و م سر و ص ب و‬4. Adanya ‫ حكم الصل‬yaitu hukum syara’ yang terdapat pada ‫ الصل‬yang hendak ditetapkan pada ‫( الفرع‬cabang) dengan jalan qiyas. Misalnya hukum haramnya khamer.5. Adanya cabang (‫ (الفرع‬yaitu sesutau yang tidak ada ketegasan hukumnya dalam Quran, sunnah atau ijma’, yang hendak ditemukan hukumnya melalui qiyas. Misalnya hukum wisky, bir.6. ‘illat (‫ (علة‬yang merupakan inti bagi praktik qiyas, yaitu suatu sifat yang ada pada ashal dan sifat itu yang dicari pada fara. Seandainya sifat ada pula pada fara, maka persamaan sifat itu menjadi dasar untuk menetapkan hukum fara sama dengan hukum ashal. Presented by Marhamah Saleh
  23. 23. Imam Malik (93 – 179 H.) Imam Malik dilahirkan dikota Dzu al-Muruwah di selatan kota Madinah, lalu pindah ke Aqiq dan kemudian pindah ke Madinah, menurut riwayat beliau dilahirkan di Madinah pada tahun 93 H . Beliau bernama asli Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir bin Amr bin Ghaimah bin Khutsail bin Amr bi Harits. Ia termasuk dari bani Taim bin Murrah. Kakek keduanya, Abu Amir bin Amr adalah seorang sahabat Rasulullah SAW, sedangkan kakek pertamanya, Malik bin Abu Amir adalah salah satu tokoh Tabi’in. Mazhab Maliki ini tersebar dan diikuti di berbagai wilayah seperti Tunisia, Aljazair, Maroko, Spanyol dan Mesir.
  24. 24. Guru Imam Malik Imam Malik berguru kepada banyak guru diantaranya adalah Abdurrahman ibnu hurmuz, Rabi’ah bi Abdurrahman Farrukh, Ati’ budak Abdullah bin Umar, Ja’far bin Muhammad Baqir, Muhammad bin Muslim Az-Zuhri, Abdurrahman Dzakwan, Yahya bin Sa’id Al-Anshari, Abu hazim Salamah bin Dinar, dan guru- gurunya yang lain dari kalangan tabi’in, seperti yang di ungkapkan oleh An-Nawawi. Imam malik menurut riwayat An-Nawawi bahwa imam Malik berguru kepada pada 900 guru, 300 dari kalangan tabi’in, dan 600 dari kalangan tabi’it tabi’in yang terdiri dari ulama yang ia pilih, ia akui agamanya, fiqihnya, pemenuhan kewajiban periwayatan dan syarat-syaratnya, serta ia percaya.
  25. 25. Metode Ijtihad Imam Malik Dalam merumuskan hukum-hukum yang bersumber dari al-Quran dan al-hadis, Imam Malik menggunakan metode sebagai berikut:a) tidak seketat Abu Hanifah dalam menerima hadis. Jika Abu Hanifah hanya menerima hadis kalau hadis itu mutawatir atau paling tidak pada tingkatan masyhur, Imam Malik hanya menerima hadis ahad bahkan hadis ahad yang mursal asal periwayatannya orang yang terpercaya. Hadis ahad juga lebih diutamakan daripada qiyas, sehingga ia lebih banyak menggunakan hadis daripada ra’yu;b) ‘Amal ahl al-Madinah (praktik masyarakat Madinah), karena mereka dianggap orang yang paling tahu tentang al-Quran dan penjelasan- penjelasan Rasulullah;c) Pernyataan sahabat (qaul al-shahabi). Menurut Imam Malik, jika tidak ada hadis sahih dari Nabi saw yang dapat digunakan untuk memecahkan suatu masalah, maka pernyataan sahabat dapat dijadikan sumber hukum. Pendapat ini didasarkan pada pandangan bahwa para sahabat lebih memahami pengertian yang tersirat maupun tujuan ayat, karena mereka menyaksikan sendiri turunnya al-Quran dan mendengar langsung penjelasan Rasulullah s.a.w.)
  26. 26. Metode Ijtihad Imam Malikd) Al-Mashlahat al-Mursalah, yaitu mempertimbangkan kepentingan umum terhadap suatu permasalahan hukum yang secara eksplisit tidak terdapat dalam al-Quran dan al-hadis baik yang mendukung maupun yang menolak. Tujuannya adalah untuk menarik kemanfaatan (jalb al-manfa’ah) dan menghindari madarat (daf’ al- madharrah);e) Al-zari’ah, yaitu mempertimbangkan perkataan dan perbuatan yang menyebabkan terjadinya perbuatan lain. Perbuatan yang mengantarkan pada perbuatan haram, hukumnya haram, sedang perbuatan yang mengantarkan pada perbuatan halal hukumnya juga halal;f) Qiyas. Apabila suatu masalah tidak ditemukan ketentuannya dalam al-Quran, al-hadis, perkataan sahabat atau ijma’ ahl al-Madinah maka Imam Malik memutuskan masalah tersebut dengan qiyas, yaitu menyemakan suatu peristiwa yang belum ada ketentuan hukumnya dengan sesuatu yang jelas hukumnya karena keduanya ada persamaan illat.
  27. 27. ‫الدلة الفقهية في المذهب المالكي‬Sources of Maliki School Quran ‫القرآن‬ Sunnah ‫السنة‬ Sahaba ‫قول الصحابي‬ Agreement ‫الجماع‬ Practice in Medina ‫عمل أهل المدينة‬ Comparison ‫القياس‬ Common General Benefit Practice Preference ‫المصالح المرسلة‬ ‫الستحسان‬ ‫العرف‬
  28. 28. The End
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×