SlideShare a Scribd company logo
1 of 35
Western Blot Sebagai Tes Konfirmasi HIV  Diah Puspita Rini Siswanto Darmadi
PENDAHULUAN
AIDS Disebabkan oleh HIV HIV-1, virus pertama yang diidentifikasi tahun 1983 HIV-2, tahun 1984 yang diisolasi dari pasien di Afrika Barat HIV : famili retrovirus, termasuk virus RNA BM 9,7 kb Khas : enzim reverse transkriptase
STRUKTUR HIV
PEMERIKSAAN LAB HIV Salah satu cara penentuan serologi HIV yang dianjurkan adalah ELISA, mempunyai sensitivitas 93-98% dan   spesifisitas 98-99%. Pemeriksaan serologi HIV sebaiknya dilakukan dengan 3 metode berbeda. Dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan yang lebih spesifik Western Blot.
Tes diagnostik untuk infeksi HIV Skrening Enzyme-linked immunoassay (EIA, ELISA), HIV-1/2 	Aglutinasi latek untuk HIV-1 Konfirmasi Western Blot (WB) , HIV-1 dan HIV-2 Indirect immunofluorescence antibody assay 	(IFA),HIV-1 Radioimmunoprecipitation antibody assay 	(RIPA),HIV-1 Lain-lain 		ELISA untuk HIV-1 p24 antigen Polymerase chain reaction (PCR), HIV-1
Algoritma Pemeriksaan Tes Serologi HIV Diambil dari Manual of Clinical Laboratory Immunology
Prinsip Pemeriksaan  WESTERN BLOT
WESTERN BLOT Modifikasi dari prinsip imunoelektroforesis Menggabungkan selektivitas elektroforesis gel dengan spesifisitas immunoassay
PRINSIP PEMERIKSAAN Fraksi protein dipisahkan dengan elektroforesis pd gel poliakrilamida Fraksi protein dipindah ke membran, menggambarkan replika pola fraksi-fraksi protein Membran disaturasikan untuk menghindari pengikatan antibodi non spesifik
PRINSIP PEMERIKSAAN 4.   Membran direaksikan dengan antibodi primer 5.   Membran direaksikan dengan antibodi sekunder spesifik terhadap antibodi primer, sebelumnya antibodi sekunder dikonjugasikan dengan enzim 6.   Pita protein yang berlabel enzim direaksikan dg substrat kromogen yang akan menghasilkan produk berwarna
PROSEDUR    		 		    PEMERIKSAAN
PEMISAHAN & TRANSFER PROTEIN  Lakukan elektroforesis dalam SDS-PAGE (sodium dodecyl sulfate-polyacrilamide gel electrophoresis), setelah selesai dicuci dengan buffer 25mM Tris-Cl pH 8.3/20% methanol(atau pH 7.0 - 8.8)  Membran nitoselulosa dipotong dan direndam dalam larutan buffer selama 15 menit
PEMISAHAN & TRANSFER PROTEIN 3. Alat transfer dipasang dengan membran menghadap anode dan gel menghadapkatode. Pastikan tidak ada gelembung, elektrotransfer dilakukan dengan menjalankan unit selama 1 jam dengan voltase 500mA
PEMISAHAN & TRANSFER PROTEIN    Setelah selesai, membran dicuci selama 15 menit dalam larutan penyangga TBS (0,02 M Tris-Cl,  0,5 M NaCl  pH 7,5)
BLOKING DAN DETEKSI ANTIBODI Pada tahap bloking ini membran disaturasikan / dijenuhkan untuk menghindari pengikatan antibodi non spesifik Digunakan antibodi primer dan sekunder untuk mendeteksi protein spesifik yang dicari
Tahapan Bloking dan Deteksi Antibodi Memblok  membran larutan bloking 10 mM Tris-Cl/150 mM NaCl 1-5% Protea non- fat 	   milk powder dan 0.05% Tween-2030-60 menit  pada suhu 370C   	   atau 2 hari pada suhu kamar Cuci membran 2 x 5 menit larutan pencuci 10 mM Tris-Cl/150 mM NaCl pH 7.4 (atau   	    		    saline) yang mengandung 0,05% Tween-20 (TTBS) Membran diinkubasi dengan antibodi primer  selama 1-2 jam pada suhu kamar
Tahapan Bloking dan Deteksi Antibodi Cuci membran 3x, 5 menit dengan larutan pencuciuntuk membuang antibodi primer  Membran diinkubasi pada antibodi sekunder konjugasi alkali fosfatase,1-2 jam suhu kamar Cuci membran 2 x 5 menit dengan TTBS
Tahapan Bloking dan Deteksi Antibodi Cuci membran dengan TBS  menghilangkan Tween Inkubasi dengan substrat selama 1 jam, cuci dengan air Inkubasi membran  20 menit dengan TBS mengandung 0,3 % Tween 20, cuci dengan air 5 menit Masukkan membran ke dalam zat warna emas koloid/ Amido Black/ India ink/ Ponceau S selama 4 jam.
INTERPRETASI 		WESTERN BLOT
INTERPRETASI WESTERN BLOT      Berdasarkan United States Centers for Disease Control (CDC)  NEGATIF : tidak terbentuk pita POSITIF: terdeteksi dua pita dari gp 120/160 dan gp41 atau gp 24 INDETERMINATE : terdapat satu pita saja yang positif yaitu p24, gp41, gp120/160, p66, p55, p51, p31 atau p17
RIBA (Recombinant Immunoblot Assay) Tes konfirmasi HIV komersial dengan menggunakan prinsip indirect solid phase-enzyme immunoassay (EIA). Fase solidnya adalah kartu dengan 12 tonjolan (“gigi” ). Masing-masing kartu memiliki enam pasang gigi, dengan enam titik antigen (3 titik pada masing-masing gigi).
RIBA (Recombinant Immunoblot Assay) Pada bagian kiri dari tiap pasang gigi secara berurutan dari atas ke bawah  terdapat internal control, dan dua protein marker p24 (gag) dan p 31 (pol). Pada bagian kanan terdapat tiga protein dari bagian env virus yaitu gp41, gp 120 dan gp 36.
PRINSIP REAKSI RIBA
INTERPRETASI HASIL
PERBEDAAN WB dan RIBA WESTERN BLOT Inti : p17,p24,p55 Polimerase : p21, p51, 		   p66 Envelope : gp41, 		      gp120, gp 160 RIBA Inti : p24 Polimerase : p31 Envelope : gp 120 			gp 41
Thank You ! FOR YOUR ATTENTION
RIBA TEST INSTRUCTION 1. Antigen-antibody reaction (row A) 2. First wash (row B) 3. Binding of conjugate (row C) 4. Second wash (row D) 5. Third wash (row E) 6. Color reaction / chromogenic substrate containing 5-bromo-4-chloro-3-indolyl phosphate (BCIP) and nitro blue tetrazolium (NBT) (row F) 7. Stop reaction (row E)
HASIL NEGATIF PALSU Potensi terjadinya negatif palsu 0,3% pada populasi prevalensi tinggi dan < 0,001% pada populasi prevalensi rendah Penyebab: ,[object Object]
Serokonversi
Agammaglobulinemia
Atypical host response
Strain N atau O atau HIV-2,[object Object]
INDETERMINATE Penyebab : Tes serologi dilakukan pada saat serokonversi Infeksi HIV stadium lanjut Reaksi silang antibodi nonspesifik, multiple skelosis, psx vaskular-kolagen, limfoma, penyakit liver HIV vaccine recipients

More Related Content

What's hot

Algoritma interpretasi hasil kultur darah (+)
Algoritma interpretasi hasil kultur darah (+)Algoritma interpretasi hasil kultur darah (+)
Algoritma interpretasi hasil kultur darah (+)
Dewie Yunianti
 
Algoritma Neuro AIDS
Algoritma Neuro AIDSAlgoritma Neuro AIDS
Algoritma Neuro AIDS
Wulung Gono
 
Infeksi dan penyakit tropis
Infeksi dan penyakit tropisInfeksi dan penyakit tropis
Infeksi dan penyakit tropis
Kindal
 
Pemekrisaan hiv xi tlm
Pemekrisaan hiv xi tlmPemekrisaan hiv xi tlm
Pemekrisaan hiv xi tlm
materipptgc
 
Makalah imunologi dx typhoid
Makalah imunologi dx typhoidMakalah imunologi dx typhoid
Makalah imunologi dx typhoid
kikykiky24
 

What's hot (19)

Algoritma interpretasi hasil kultur darah (+)
Algoritma interpretasi hasil kultur darah (+)Algoritma interpretasi hasil kultur darah (+)
Algoritma interpretasi hasil kultur darah (+)
 
Cara kerja Anti Retro Viral
Cara kerja Anti Retro ViralCara kerja Anti Retro Viral
Cara kerja Anti Retro Viral
 
Algoritma Neuro AIDS
Algoritma Neuro AIDSAlgoritma Neuro AIDS
Algoritma Neuro AIDS
 
Tibaru8
Tibaru8Tibaru8
Tibaru8
 
MAKALAH UJI WIDAL
MAKALAH UJI WIDALMAKALAH UJI WIDAL
MAKALAH UJI WIDAL
 
Vaksin n sera
Vaksin n seraVaksin n sera
Vaksin n sera
 
Protein interferon
Protein interferonProtein interferon
Protein interferon
 
Infeksi dan penyakit tropis
Infeksi dan penyakit tropisInfeksi dan penyakit tropis
Infeksi dan penyakit tropis
 
Karakterisasi Aplikasi Antibodi Monoklonal untuk Deteksi Virus Dengue
Karakterisasi Aplikasi Antibodi Monoklonal untuk Deteksi Virus DengueKarakterisasi Aplikasi Antibodi Monoklonal untuk Deteksi Virus Dengue
Karakterisasi Aplikasi Antibodi Monoklonal untuk Deteksi Virus Dengue
 
Virus
VirusVirus
Virus
 
ANALISIS JURNAL INTERNASIONAL PENERAPAN BIOTEKNOLOGI MODERN
ANALISIS JURNAL INTERNASIONAL PENERAPAN BIOTEKNOLOGI MODERNANALISIS JURNAL INTERNASIONAL PENERAPAN BIOTEKNOLOGI MODERN
ANALISIS JURNAL INTERNASIONAL PENERAPAN BIOTEKNOLOGI MODERN
 
Bakteri 1
Bakteri 1Bakteri 1
Bakteri 1
 
Serba-Serbi Bakteri: Archaeobacteria dan Eubacteria
Serba-Serbi Bakteri: Archaeobacteria dan EubacteriaSerba-Serbi Bakteri: Archaeobacteria dan Eubacteria
Serba-Serbi Bakteri: Archaeobacteria dan Eubacteria
 
Basic immunology
Basic immunology Basic immunology
Basic immunology
 
Materi#6 bakteri
Materi#6 bakteri Materi#6 bakteri
Materi#6 bakteri
 
Rkk15
Rkk15Rkk15
Rkk15
 
Bakteri
BakteriBakteri
Bakteri
 
Pemekrisaan hiv xi tlm
Pemekrisaan hiv xi tlmPemekrisaan hiv xi tlm
Pemekrisaan hiv xi tlm
 
Makalah imunologi dx typhoid
Makalah imunologi dx typhoidMakalah imunologi dx typhoid
Makalah imunologi dx typhoid
 

Similar to Ti18

Tibaru11
Tibaru11Tibaru11
Tibaru11
andreei
 
BUKU PENUNTUN PRAKTIKUM IMUNOSEROLOGI II (1).pdf
BUKU PENUNTUN PRAKTIKUM IMUNOSEROLOGI II (1).pdfBUKU PENUNTUN PRAKTIKUM IMUNOSEROLOGI II (1).pdf
BUKU PENUNTUN PRAKTIKUM IMUNOSEROLOGI II (1).pdf
Ddokebi18
 
Pemeriksaan laboratorium sifilis (1) (1).pptx
Pemeriksaan laboratorium sifilis (1) (1).pptxPemeriksaan laboratorium sifilis (1) (1).pptx
Pemeriksaan laboratorium sifilis (1) (1).pptx
LaboratoriumMoeis
 
Pemeriksaan hb s ag
Pemeriksaan hb s agPemeriksaan hb s ag
Pemeriksaan hb s ag
materipptgc
 
Tuberkulosis TB, RSUD JAYAPURA, FK Uncen.pptx
Tuberkulosis TB, RSUD JAYAPURA, FK Uncen.pptxTuberkulosis TB, RSUD JAYAPURA, FK Uncen.pptx
Tuberkulosis TB, RSUD JAYAPURA, FK Uncen.pptx
ThyaraaAudiaPutriNag
 
Pemeriksaan laboratorium mikrobiologi
Pemeriksaan laboratorium mikrobiologiPemeriksaan laboratorium mikrobiologi
Pemeriksaan laboratorium mikrobiologi
Fina Fe
 
Alur skrining hepatitis akut di RSCM 5 Mei 2022.pdf
Alur skrining hepatitis akut di RSCM 5 Mei 2022.pdfAlur skrining hepatitis akut di RSCM 5 Mei 2022.pdf
Alur skrining hepatitis akut di RSCM 5 Mei 2022.pdf
yessiMalinda
 
Tibaru18
Tibaru18Tibaru18
Tibaru18
andreei
 

Similar to Ti18 (20)

Tibaru11
Tibaru11Tibaru11
Tibaru11
 
04. TUGAS PPT_IMLTD II_TRANSLATE JURNAL_KELOMPOK 4.pptx
04. TUGAS PPT_IMLTD II_TRANSLATE JURNAL_KELOMPOK 4.pptx04. TUGAS PPT_IMLTD II_TRANSLATE JURNAL_KELOMPOK 4.pptx
04. TUGAS PPT_IMLTD II_TRANSLATE JURNAL_KELOMPOK 4.pptx
 
Ti12
Ti12Ti12
Ti12
 
INFEKSI MENULAR LEWAT TRANFUSI DARAH (1).pptx
INFEKSI MENULAR LEWAT TRANFUSI DARAH (1).pptxINFEKSI MENULAR LEWAT TRANFUSI DARAH (1).pptx
INFEKSI MENULAR LEWAT TRANFUSI DARAH (1).pptx
 
pOTENSI-dEPARTEMEN-1.ppt
pOTENSI-dEPARTEMEN-1.pptpOTENSI-dEPARTEMEN-1.ppt
pOTENSI-dEPARTEMEN-1.ppt
 
BUKU PENUNTUN PRAKTIKUM IMUNOSEROLOGI II (1).pdf
BUKU PENUNTUN PRAKTIKUM IMUNOSEROLOGI II (1).pdfBUKU PENUNTUN PRAKTIKUM IMUNOSEROLOGI II (1).pdf
BUKU PENUNTUN PRAKTIKUM IMUNOSEROLOGI II (1).pdf
 
Pemeriksaan laboratorium sifilis (1) (1).pptx
Pemeriksaan laboratorium sifilis (1) (1).pptxPemeriksaan laboratorium sifilis (1) (1).pptx
Pemeriksaan laboratorium sifilis (1) (1).pptx
 
Indah
IndahIndah
Indah
 
Pemeriksaan hb s ag
Pemeriksaan hb s agPemeriksaan hb s ag
Pemeriksaan hb s ag
 
Tuberkulosis TB, RSUD JAYAPURA, FK Uncen.pptx
Tuberkulosis TB, RSUD JAYAPURA, FK Uncen.pptxTuberkulosis TB, RSUD JAYAPURA, FK Uncen.pptx
Tuberkulosis TB, RSUD JAYAPURA, FK Uncen.pptx
 
SE Pelaporan PPRA .docx
SE Pelaporan PPRA .docxSE Pelaporan PPRA .docx
SE Pelaporan PPRA .docx
 
180219037-PPT-DEMAM-TIFOID-pptx.pptx
180219037-PPT-DEMAM-TIFOID-pptx.pptx180219037-PPT-DEMAM-TIFOID-pptx.pptx
180219037-PPT-DEMAM-TIFOID-pptx.pptx
 
Pemeriksaan laboratorium mikrobiologi
Pemeriksaan laboratorium mikrobiologiPemeriksaan laboratorium mikrobiologi
Pemeriksaan laboratorium mikrobiologi
 
Ti4
Ti4Ti4
Ti4
 
askephivkl1 (4).pptx
askephivkl1 (4).pptxaskephivkl1 (4).pptx
askephivkl1 (4).pptx
 
Alur skrining hepatitis akut di RSCM 5 Mei 2022.pdf
Alur skrining hepatitis akut di RSCM 5 Mei 2022.pdfAlur skrining hepatitis akut di RSCM 5 Mei 2022.pdf
Alur skrining hepatitis akut di RSCM 5 Mei 2022.pdf
 
Upgrade Diagnostik“Waspada Resurjensi” Malaria
Upgrade Diagnostik“Waspada Resurjensi” MalariaUpgrade Diagnostik“Waspada Resurjensi” Malaria
Upgrade Diagnostik“Waspada Resurjensi” Malaria
 
Tibaru18
Tibaru18Tibaru18
Tibaru18
 
Yellow fever
Yellow feverYellow fever
Yellow fever
 
Yellow fever
Yellow feverYellow fever
Yellow fever
 

More from andreei

More from andreei (20)

Tibaru17
Tibaru17Tibaru17
Tibaru17
 
Tibaru16
Tibaru16Tibaru16
Tibaru16
 
Tibaru15
Tibaru15Tibaru15
Tibaru15
 
Tibaru14
Tibaru14Tibaru14
Tibaru14
 
Tibaru13
Tibaru13Tibaru13
Tibaru13
 
Tibaru12
Tibaru12Tibaru12
Tibaru12
 
Tibaru9
Tibaru9Tibaru9
Tibaru9
 
Tibaru10
Tibaru10Tibaru10
Tibaru10
 
Tibaru7
Tibaru7Tibaru7
Tibaru7
 
Refhemabaru8
Refhemabaru8Refhemabaru8
Refhemabaru8
 
Refhemabaru7
Refhemabaru7Refhemabaru7
Refhemabaru7
 
Refhemabaru6
Refhemabaru6Refhemabaru6
Refhemabaru6
 
Refhemabaru5
Refhemabaru5Refhemabaru5
Refhemabaru5
 
12
1212
12
 
12
1212
12
 
11
1111
11
 
Tutor hematologi
Tutor hematologiTutor hematologi
Tutor hematologi
 
10
1010
10
 
Tutor hema sutul
Tutor hema sutulTutor hema sutul
Tutor hema sutul
 
8
88
8
 

Recently uploaded

Asuhan Keperawatan Jiwa Resiko Bunuh Diri
Asuhan Keperawatan Jiwa Resiko Bunuh DiriAsuhan Keperawatan Jiwa Resiko Bunuh Diri
Asuhan Keperawatan Jiwa Resiko Bunuh Diri
andi861789
 
PPT.Materi-Pembelajaran-genetika.dasarpptx
PPT.Materi-Pembelajaran-genetika.dasarpptxPPT.Materi-Pembelajaran-genetika.dasarpptx
PPT.Materi-Pembelajaran-genetika.dasarpptx
Acephasan2
 
pengertian mengenai BAKTERI dan segala bentuk bakteri.ppt
pengertian mengenai BAKTERI dan segala bentuk bakteri.pptpengertian mengenai BAKTERI dan segala bentuk bakteri.ppt
pengertian mengenai BAKTERI dan segala bentuk bakteri.ppt
RekhaDP2
 
Anatomi pada perineum serta anorektal.pdf
Anatomi pada perineum serta anorektal.pdfAnatomi pada perineum serta anorektal.pdf
Anatomi pada perineum serta anorektal.pdf
srirezeki99
 
ANATOMI FISIOLOGI SISTEM CARDIOVASKULER.ppt
ANATOMI FISIOLOGI SISTEM CARDIOVASKULER.pptANATOMI FISIOLOGI SISTEM CARDIOVASKULER.ppt
ANATOMI FISIOLOGI SISTEM CARDIOVASKULER.ppt
Acephasan2
 
DAM DALAM IBADAH HAJI 2023 BURHANUDDIN_1 (1).pptx
DAM DALAM IBADAH HAJI  2023 BURHANUDDIN_1 (1).pptxDAM DALAM IBADAH HAJI  2023 BURHANUDDIN_1 (1).pptx
DAM DALAM IBADAH HAJI 2023 BURHANUDDIN_1 (1).pptx
kemenaghajids83
 
Adaftasi fisiologis neonatus setelah dilahirkan antara lain pernafasan, suhu ...
Adaftasi fisiologis neonatus setelah dilahirkan antara lain pernafasan, suhu ...Adaftasi fisiologis neonatus setelah dilahirkan antara lain pernafasan, suhu ...
Adaftasi fisiologis neonatus setelah dilahirkan antara lain pernafasan, suhu ...
AGHNIA17
 
RTL PPI dr.Intan.docx puskesmas wairasa.
RTL PPI dr.Intan.docx puskesmas wairasa.RTL PPI dr.Intan.docx puskesmas wairasa.
RTL PPI dr.Intan.docx puskesmas wairasa.
RambuIntanKondi
 

Recently uploaded (20)

Asuhan Keperawatan Jiwa Resiko Bunuh Diri
Asuhan Keperawatan Jiwa Resiko Bunuh DiriAsuhan Keperawatan Jiwa Resiko Bunuh Diri
Asuhan Keperawatan Jiwa Resiko Bunuh Diri
 
High Risk Infant modul perkembangan bayi risiko tinggi
High Risk Infant modul perkembangan bayi risiko tinggiHigh Risk Infant modul perkembangan bayi risiko tinggi
High Risk Infant modul perkembangan bayi risiko tinggi
 
Statistik Kecelakaan Kerja manajemen risiko kecelakaan kerja .pptx
Statistik Kecelakaan Kerja manajemen risiko kecelakaan kerja .pptxStatistik Kecelakaan Kerja manajemen risiko kecelakaan kerja .pptx
Statistik Kecelakaan Kerja manajemen risiko kecelakaan kerja .pptx
 
KOHORT balita 2015 DI PUSKESMAS HARUS DIBUAT.pdf
KOHORT balita 2015 DI PUSKESMAS HARUS DIBUAT.pdfKOHORT balita 2015 DI PUSKESMAS HARUS DIBUAT.pdf
KOHORT balita 2015 DI PUSKESMAS HARUS DIBUAT.pdf
 
Jenis-Jenis-Karakter-Pasien-Rumah-Sakit.pdf
Jenis-Jenis-Karakter-Pasien-Rumah-Sakit.pdfJenis-Jenis-Karakter-Pasien-Rumah-Sakit.pdf
Jenis-Jenis-Karakter-Pasien-Rumah-Sakit.pdf
 
PPT.Materi-Pembelajaran-genetika.dasarpptx
PPT.Materi-Pembelajaran-genetika.dasarpptxPPT.Materi-Pembelajaran-genetika.dasarpptx
PPT.Materi-Pembelajaran-genetika.dasarpptx
 
power point kesehatan reproduksi pria dan wanita
power point kesehatan reproduksi pria dan wanitapower point kesehatan reproduksi pria dan wanita
power point kesehatan reproduksi pria dan wanita
 
MODUL Keperawatan Keluarga pny riyani.pdf
MODUL Keperawatan Keluarga pny riyani.pdfMODUL Keperawatan Keluarga pny riyani.pdf
MODUL Keperawatan Keluarga pny riyani.pdf
 
pengertian mengenai BAKTERI dan segala bentuk bakteri.ppt
pengertian mengenai BAKTERI dan segala bentuk bakteri.pptpengertian mengenai BAKTERI dan segala bentuk bakteri.ppt
pengertian mengenai BAKTERI dan segala bentuk bakteri.ppt
 
Anatomi pada perineum serta anorektal.pdf
Anatomi pada perineum serta anorektal.pdfAnatomi pada perineum serta anorektal.pdf
Anatomi pada perineum serta anorektal.pdf
 
karbohidrat dalam bidang ilmu farmakognosi
karbohidrat dalam bidang ilmu farmakognosikarbohidrat dalam bidang ilmu farmakognosi
karbohidrat dalam bidang ilmu farmakognosi
 
ANATOMI FISIOLOGI SISTEM CARDIOVASKULER.ppt
ANATOMI FISIOLOGI SISTEM CARDIOVASKULER.pptANATOMI FISIOLOGI SISTEM CARDIOVASKULER.ppt
ANATOMI FISIOLOGI SISTEM CARDIOVASKULER.ppt
 
Dbd analisis SOAP, tugas Farmakoterapi klinis dan komunitas
Dbd analisis SOAP, tugas Farmakoterapi klinis dan komunitasDbd analisis SOAP, tugas Farmakoterapi klinis dan komunitas
Dbd analisis SOAP, tugas Farmakoterapi klinis dan komunitas
 
DAM DALAM IBADAH HAJI 2023 BURHANUDDIN_1 (1).pptx
DAM DALAM IBADAH HAJI  2023 BURHANUDDIN_1 (1).pptxDAM DALAM IBADAH HAJI  2023 BURHANUDDIN_1 (1).pptx
DAM DALAM IBADAH HAJI 2023 BURHANUDDIN_1 (1).pptx
 
Referat Penurunan Kesadaran_Stase Neurologi
Referat Penurunan Kesadaran_Stase NeurologiReferat Penurunan Kesadaran_Stase Neurologi
Referat Penurunan Kesadaran_Stase Neurologi
 
Adaftasi fisiologis neonatus setelah dilahirkan antara lain pernafasan, suhu ...
Adaftasi fisiologis neonatus setelah dilahirkan antara lain pernafasan, suhu ...Adaftasi fisiologis neonatus setelah dilahirkan antara lain pernafasan, suhu ...
Adaftasi fisiologis neonatus setelah dilahirkan antara lain pernafasan, suhu ...
 
Proses Keperawatan Pada Area Keperawatan Gawat Darurat.pptx
Proses Keperawatan Pada Area Keperawatan Gawat Darurat.pptxProses Keperawatan Pada Area Keperawatan Gawat Darurat.pptx
Proses Keperawatan Pada Area Keperawatan Gawat Darurat.pptx
 
Logic Model perencanaan dan evaluasi kesehatan
Logic Model perencanaan dan evaluasi kesehatanLogic Model perencanaan dan evaluasi kesehatan
Logic Model perencanaan dan evaluasi kesehatan
 
FRAKTUR presentasion patah tulang paripurna OK.pptx
FRAKTUR presentasion patah tulang paripurna OK.pptxFRAKTUR presentasion patah tulang paripurna OK.pptx
FRAKTUR presentasion patah tulang paripurna OK.pptx
 
RTL PPI dr.Intan.docx puskesmas wairasa.
RTL PPI dr.Intan.docx puskesmas wairasa.RTL PPI dr.Intan.docx puskesmas wairasa.
RTL PPI dr.Intan.docx puskesmas wairasa.
 

Ti18

  • 1. Western Blot Sebagai Tes Konfirmasi HIV Diah Puspita Rini Siswanto Darmadi
  • 3. AIDS Disebabkan oleh HIV HIV-1, virus pertama yang diidentifikasi tahun 1983 HIV-2, tahun 1984 yang diisolasi dari pasien di Afrika Barat HIV : famili retrovirus, termasuk virus RNA BM 9,7 kb Khas : enzim reverse transkriptase
  • 5. PEMERIKSAAN LAB HIV Salah satu cara penentuan serologi HIV yang dianjurkan adalah ELISA, mempunyai sensitivitas 93-98% dan spesifisitas 98-99%. Pemeriksaan serologi HIV sebaiknya dilakukan dengan 3 metode berbeda. Dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan yang lebih spesifik Western Blot.
  • 6. Tes diagnostik untuk infeksi HIV Skrening Enzyme-linked immunoassay (EIA, ELISA), HIV-1/2 Aglutinasi latek untuk HIV-1 Konfirmasi Western Blot (WB) , HIV-1 dan HIV-2 Indirect immunofluorescence antibody assay (IFA),HIV-1 Radioimmunoprecipitation antibody assay (RIPA),HIV-1 Lain-lain ELISA untuk HIV-1 p24 antigen Polymerase chain reaction (PCR), HIV-1
  • 7. Algoritma Pemeriksaan Tes Serologi HIV Diambil dari Manual of Clinical Laboratory Immunology
  • 8. Prinsip Pemeriksaan WESTERN BLOT
  • 9. WESTERN BLOT Modifikasi dari prinsip imunoelektroforesis Menggabungkan selektivitas elektroforesis gel dengan spesifisitas immunoassay
  • 10. PRINSIP PEMERIKSAAN Fraksi protein dipisahkan dengan elektroforesis pd gel poliakrilamida Fraksi protein dipindah ke membran, menggambarkan replika pola fraksi-fraksi protein Membran disaturasikan untuk menghindari pengikatan antibodi non spesifik
  • 11. PRINSIP PEMERIKSAAN 4. Membran direaksikan dengan antibodi primer 5. Membran direaksikan dengan antibodi sekunder spesifik terhadap antibodi primer, sebelumnya antibodi sekunder dikonjugasikan dengan enzim 6. Pita protein yang berlabel enzim direaksikan dg substrat kromogen yang akan menghasilkan produk berwarna
  • 12. PROSEDUR PEMERIKSAAN
  • 13. PEMISAHAN & TRANSFER PROTEIN Lakukan elektroforesis dalam SDS-PAGE (sodium dodecyl sulfate-polyacrilamide gel electrophoresis), setelah selesai dicuci dengan buffer 25mM Tris-Cl pH 8.3/20% methanol(atau pH 7.0 - 8.8) Membran nitoselulosa dipotong dan direndam dalam larutan buffer selama 15 menit
  • 14. PEMISAHAN & TRANSFER PROTEIN 3. Alat transfer dipasang dengan membran menghadap anode dan gel menghadapkatode. Pastikan tidak ada gelembung, elektrotransfer dilakukan dengan menjalankan unit selama 1 jam dengan voltase 500mA
  • 15. PEMISAHAN & TRANSFER PROTEIN Setelah selesai, membran dicuci selama 15 menit dalam larutan penyangga TBS (0,02 M Tris-Cl, 0,5 M NaCl pH 7,5)
  • 16. BLOKING DAN DETEKSI ANTIBODI Pada tahap bloking ini membran disaturasikan / dijenuhkan untuk menghindari pengikatan antibodi non spesifik Digunakan antibodi primer dan sekunder untuk mendeteksi protein spesifik yang dicari
  • 17. Tahapan Bloking dan Deteksi Antibodi Memblok membran larutan bloking 10 mM Tris-Cl/150 mM NaCl 1-5% Protea non- fat milk powder dan 0.05% Tween-2030-60 menit pada suhu 370C atau 2 hari pada suhu kamar Cuci membran 2 x 5 menit larutan pencuci 10 mM Tris-Cl/150 mM NaCl pH 7.4 (atau saline) yang mengandung 0,05% Tween-20 (TTBS) Membran diinkubasi dengan antibodi primer selama 1-2 jam pada suhu kamar
  • 18. Tahapan Bloking dan Deteksi Antibodi Cuci membran 3x, 5 menit dengan larutan pencuciuntuk membuang antibodi primer Membran diinkubasi pada antibodi sekunder konjugasi alkali fosfatase,1-2 jam suhu kamar Cuci membran 2 x 5 menit dengan TTBS
  • 19. Tahapan Bloking dan Deteksi Antibodi Cuci membran dengan TBS menghilangkan Tween Inkubasi dengan substrat selama 1 jam, cuci dengan air Inkubasi membran 20 menit dengan TBS mengandung 0,3 % Tween 20, cuci dengan air 5 menit Masukkan membran ke dalam zat warna emas koloid/ Amido Black/ India ink/ Ponceau S selama 4 jam.
  • 21. INTERPRETASI WESTERN BLOT Berdasarkan United States Centers for Disease Control (CDC) NEGATIF : tidak terbentuk pita POSITIF: terdeteksi dua pita dari gp 120/160 dan gp41 atau gp 24 INDETERMINATE : terdapat satu pita saja yang positif yaitu p24, gp41, gp120/160, p66, p55, p51, p31 atau p17
  • 22.
  • 23. RIBA (Recombinant Immunoblot Assay) Tes konfirmasi HIV komersial dengan menggunakan prinsip indirect solid phase-enzyme immunoassay (EIA). Fase solidnya adalah kartu dengan 12 tonjolan (“gigi” ). Masing-masing kartu memiliki enam pasang gigi, dengan enam titik antigen (3 titik pada masing-masing gigi).
  • 24. RIBA (Recombinant Immunoblot Assay) Pada bagian kiri dari tiap pasang gigi secara berurutan dari atas ke bawah terdapat internal control, dan dua protein marker p24 (gag) dan p 31 (pol). Pada bagian kanan terdapat tiga protein dari bagian env virus yaitu gp41, gp 120 dan gp 36.
  • 27. PERBEDAAN WB dan RIBA WESTERN BLOT Inti : p17,p24,p55 Polimerase : p21, p51, p66 Envelope : gp41, gp120, gp 160 RIBA Inti : p24 Polimerase : p31 Envelope : gp 120 gp 41
  • 28. Thank You ! FOR YOUR ATTENTION
  • 29. RIBA TEST INSTRUCTION 1. Antigen-antibody reaction (row A) 2. First wash (row B) 3. Binding of conjugate (row C) 4. Second wash (row D) 5. Third wash (row E) 6. Color reaction / chromogenic substrate containing 5-bromo-4-chloro-3-indolyl phosphate (BCIP) and nitro blue tetrazolium (NBT) (row F) 7. Stop reaction (row E)
  • 30.
  • 34.
  • 35. INDETERMINATE Penyebab : Tes serologi dilakukan pada saat serokonversi Infeksi HIV stadium lanjut Reaksi silang antibodi nonspesifik, multiple skelosis, psx vaskular-kolagen, limfoma, penyakit liver HIV vaccine recipients
  • 36. HIV-1 adalah virus yang sangat berubah-ubah yang dapat bermutasi dengan sangat mudah. Jadi ada banyak jenis (strain) HIV-1 yang berbeda-beda. Jenis ini digolongkan menurut golongan (group) dan subtipe (subtype). Ada dua golongan, yaitu golongan M dan golongan O. Pada September 1998, peneliti dari Perancis mengumumkan penemuan jenis HIV baru pada seorang wanita dari Kamerun di Afrika Barat. Jenis ini tidak termasuk dalam golongan M atau pun golongan O, dan hanya ditemukan pada tiga orang lainnya, semua di Kamerun. Saat ini dalam golongan M sedikitnya diketahui adasepuluh subtipe HIV-1 yang secara genetis berbeda. Subtipe ini terdiri dari A sampai J. Tambahan pula, golongan O terdiri dari beberapa golongan yang berbeda dari virus yang sangat beraneka ragam. Subtipe di golongan M dapat berbeda antar subtipe sebanyak perbedaan golongan M dengan golongan O.
  • 37. SUBTIPE BERDASAR LOKASI PENEMUAN Subtipe tersebar sangat tidak merata di seluruh dunia. Sebagai contoh, subtipe B kebanyakan ditemukan di sekitar Amerika (utara dan selatan), Jepang, Australia, Karibia, dan Eropa; subtipe A dan D adalah yang paling sering ditemukan di Afrika sub-Sahara; subtipe C di Afrika Selatan dan India; dan subtipe E di Republik Afrika Tengah, Thailand, dan negara lainnya di Asia Tenggara. Subtipe F (Brazil dan Rumania),G dan H (Rusia dan Afrika Tengah),I (Siprus), dan golongan O (Kamerun) mempunyai prevalensi sangat rendah. Di Afrika, sebagian besar subtipe ditemukan, walaupun subtipe B kurang umum.
  • 38. subtipe tertentu dapat dihubungkan dengan cara penyebaran tertentu pula: misalnya, subtipe B dengan hubungan homoseksual dan penggunaan narkotik secara suntikan (pada intinya, melalui darah) dan subtipe E dan C, melalui hubungan heteroseksual (melalui jalur mukosal). Penelitian di laboratorium yang dilakukan oleh Dr. Max Essex dari Harvard School of Public Health di Boston, AS, menunjukkan subtipe C dan E menularkan dan menggandakan diri lebih efisien dibandingkan dengan subtipe B pada sel Langerhans yang ada dalam mukosa vagina, leher rahim, dan kulup penis, tetapi tidak pada dinding dubur. Data memperlihatkan HIV subtipe E dan C lebih mudah menyebar secara heteroseksual dibandingkan dengan subtipe B.