Tibaru7

891 views

Published on

Published in: Technology
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
891
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
20
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Tibaru7

  1. 1. TUTOR IMUNOLOGIPEMERIKSAAN CA 125 DENGAN METODE ELISA<br />dr. Faizah Yunianti<br />dr. Endang Retnowati, MS, Sp.PK(K)<br />22/06/2010<br />1<br />
  2. 2. PENDAHULUAN<br />22/06/2010<br />2<br />
  3. 3. 22/06/2010<br />Company Logo<br />3<br />m↑ : pd endometriosis berat, <br />karsinoma ovarium. <br />Glikoprotein BM besar<br />CA 125<br />antigen permukaan yg berhubungan dgn kanker ovarium jenis epitelial <br />
  4. 4. 22/06/2010<br />4<br />Tabel 1. Beberapa keadaan yang menyebabkan <br /> peningkatan kadar CA 125<br />
  5. 5. 22/06/2010<br />Company Logo<br />5<br />Kadar <br />CA 125 <br />Peningkatan :<br /><ul><li> 1% : ♀ sehat
  6. 6. 3% : ♀ sehat dgn </li></ul> penyaki t umor <br /> ovarium jinak,<br /><ul><li> 6% : non neoplastik
  7. 7. Normal <21 U/mL.
  8. 8. Batas atas nilai </li></ul> normal : 35 U/mL<br /><ul><li> 80% : kanker </li></ul> ovarium jenis epitelial.<br /><ul><li> m↑ : 26% tumor </li></ul> ovarium jinak<br />
  9. 9. 22/06/2010<br />6<br />Penentuan kadar CA 125<br />enzime linked immunosorbant assay<br />(ELISA)) :<br />Uji serologis<br />Reaksi <br />Ag – Ab yg <br />dilabel <br />enzim<br />Ekonomis &<br /> sensitivitas ↑ <br />
  10. 10. 22/06/2010<br />7<br />Skrining<br />Diagnosis & Stadium<br />PENGGUNAAN <br />CA 125<br />Monitoring Terapi <br />& Prognosis<br />
  11. 11. Skrining<br />22/06/2010<br />8<br />Pada kelompok yg berisiko tinggi :<br />♀ dgn riwayat keluarga mempunyai karsinoma ovarium pd usia postmenopause<br /> adanya massa di pelvis .<br />
  12. 12. Diagnosis & penentuan stadium<br />22/06/2010<br />9<br />Membedakan jinak & keganasan : cut off 35 UI/mL.<br />>65 U/mL : 90% keganasan (massa di pelvis).<br />Kesalahan interpretasi : <br /> ♀ haid : cutoff 65 – 200 U/mL. <br />50% penderita st.I atau II  p↑ kadar CA 125.<br />P↑ sangat jelas : karsinoma ovarium st.II-IV (kriteria FIGO).<br />Asimtomatik + massa di pelvis+ kadar CA 125 <br /> >65 U/mL : sensitivitas 97% <br /> spesifisitas 78%.<br />
  13. 13. Monitoring terapi & Prognosis<br />22/06/2010<br />10<br />kekambuhan penyakit post oophorectomy. <br />CA 125 m ↓ : 50-75% penderita yg mendapat first line kemoterapi.<br />Gard dkk : <br /> batas terendah 15 U/mL<br /> cut off monitoring penderita <br />15-35 UI/mL  kekambuhan penyakit.<br />Kadar :<br />> 450 U/mL : prognosis buruk, <br />< 55 U/mL : prognosis lebih baik.<br />
  14. 14. PEMERIKSAAN CA 125 METODE ELISA<br />22/06/2010<br />11<br />Prinsip Pemeriksaan<br />Cara Kerja <br />Hasil Perhitungan<br />Kurva Standar<br /> Interferens Hasil Pemeriksaan<br />
  15. 15. Prinsip pemeriksaan<br />22/06/2010<br />12<br />Ab dilapis enzim (konjugat)<br />substrat<br /> warna kuning dibaca fotometer λ 450 nm<br />Ab dilapiskan <br />pd sumuran<br />Ag serum yg diperiksa<br />
  16. 16. Cara kerja<br />22/06/2010<br />13<br />Reagen :<br /><ul><li> Murine monoklonal </li></ul> anti CA 125<br /><ul><li> Reagen enzim konjugat
  17. 17. Standar referensi CA 125
  18. 18. Reagen TMB : </li></ul> 3, 3', 5, 5' tetramethyl <br /> benzidine <br /><ul><li>Stop Solution(1N HCl)
  19. 19. Kosentrasi Bufer pencuci
  20. 20. Kontrol </li></ul>Persiapan & Pengumpulan Sampel :<br /><ul><li> Serum
  21. 21. disimpan t :</li></ul> - 2-8° C (3 hari)<br /> - freezer (6 bulan)<br />. Hindari : penyimpanan <br /> dlm freezer & thawing <br /> secara berulang. <br /><ul><li> Serum lipemia, hemolisis, </li></ul> keruh tdk dpt digunakan <br /> utk tes<br />
  22. 22. Prosedur Pemeriksaan<br />22/06/2010<br />14<br />Sumuran dilapisi antibodi + 100 μL CA 125 <br /> standar, sampel & kontrol <br /> Ditambahkan 100 μL reagen enzim konjugat ke <br /> tiap- tiap sumuran, dicampur selama 30’’ <br /> Inkubasi : 90 menit, t : 37° C<br /> Setelah inkubasi, campuran dibuang dgn <br /> mengosongkan sumurandgn cara :<br /> - dicuci menggunakan larutan pencuci. <br /> - cuci sumuran sebanyak 5x dgn bufer pencuci <br />
  23. 23. Prosedur Pemeriksaan<br />22/06/2010<br />15<br />Sumurandibalik & dipukulkan pd kertas penyerap atau paper towel utk membuang seluruh sisa air<br />Masukkan 100 μL larutan TMB pd masing-masing sumuran (warna biru), campur :10’’<br />Inkubasi pd suhu kamar pd ruang gelap selama 20’<br />Ditambahkan 100 μL larutan penghenti pd masing-masing sumuran, campur selama 30’’  warna biru berubah kuning <br />Dibaca pd λ 450 nm.<br />
  24. 24. Prosedur Pemeriksaan<br />22/06/2010<br />16<br />
  25. 25. Nilai kontrol yg digunakan utk metode ELISA<br />22/06/2010<br />17<br />
  26. 26. ALAT YANG DIGUNAKAN <br />22/06/2010<br />18<br />Stat FaxR 303 Microstrip Reader<br />Chemwell 2910<br />
  27. 27. Chemwell 2910<br />22/06/2010<br />Company Logo<br />19<br />
  28. 28. Hasil perhitungan<br />22/06/2010<br />20<br />Hitung nilai absorbans (λ 450) untuk masing-masing standar , kontrol & sampel<br />Kurva standar : <br />memplot nilai mean dari absorbans yg didapat dari masing-masing standar terhadap kadar dlm U/mL pd kertas grafik bergaris. Absorbans : sumbu Y ; Kadar : sumbu X<br />Nilai absorbans sampel digunakan untuk menentukan kadar CA 125 (U/mL) berdasarkan kurva standar<br />
  29. 29. Tabel 3. Perbandingan kadar CA 125 dgn absorbans pada λ 450 nm<br />22/06/2010<br />21<br />
  30. 30. Kurva standar<br />22/06/2010<br />Company Logo<br />22<br />
  31. 31. Hasil pemeriksaan dipengaruhi oleh :<br />22/06/2010<br />23<br />Preanalitik :<br /><ul><li>Pengambilan sampel
  32. 32. Penggunaan anti koagulan
  33. 33. Sampel hemolisis, hiperbilirubinemia, lipemia
  34. 34. Penyimpanan sampel</li></ul>2. Analitik :<br /><ul><li>Hasil yg reliabel & reproduksibilitas </li></ul>  bila prosedur pemeriksaan benar, lengkap & <br /> berurutan oleh tenaga laboratorium yg baik & <br /> terlatih<br /><ul><li>Pencucian yg kurang baik </li></ul>presisi jelek & pembacaan absorbans yg positif m↑<br />
  35. 35. Wassalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuhTerima kasihthank you<br />22/06/2010<br />24<br />
  36. 36. Radioimmunoassay (RIA)<br />22/06/2010<br />Company Logo<br />25<br />R<br />cuci<br />R<br />Ag serum yg diperiksa<br />Radiation <br />counter<br />Ag berlabel<br />Antibodi pd fase padat<br />
  37. 37. Immunoradiometric assay (IRMA)<br />22/06/2010<br />Company Logo<br />26<br />
  38. 38. 22/06/2010<br />Company Logo<br />27<br />Kadar Sampel Absorbans Sampel<br /> =<br />Kadar Standar Absorbans Standar<br />Kadar Sampel = Absorbans sampel<br /> Absorbans standar<br />X Kadar Standar<br />
  39. 39. MUC-1<br />22/06/2010<br />Company Logo<br />28<br />Mucin 1, cell surface associated (MUC1) or polymorphic epithelial mucin (PEM) is a mucin, the protein part of which is encoded by the MUC1gene in humans.[1]<br />Mucin proteins penetrate the membranes of epithelial cells, on the inner surface of the intestine and other organs. <br />Mucin protects the body from infection by binding to pathogens. <br />Overexpression of the mucin protein is often associated with colon and many other cancer<br />
  40. 40. 22/06/2010<br />Company Logo<br />29<br />molecular weight glycoproteins that provide a protective layer on epithelial surfaces and are involved in cell-cell interactions, signaling, and metastasis<br />expressed at the apical surface of ductal epithelia of tissues, including breast, pancreas, airway, and the gastrointestinal tract<br />
  41. 41. Penanda tumor <br />22/06/2010<br />Company Logo<br />30<br />ALPHA – FETOPROTEIN ( AFP )<br />respon terapi pada kanker hati ( Karsinoma Hepatoseluler ).<br />Kadar normal < 20 ng/mL.<br />Kadar AFP m↑ bersama membesarnya tumor. <br />Kanker hepar, kadar AFP m↑ > 500 ng/mL. <br />m↑ pula pada hepatitis akut & kronis, tapi jarang > 100 ng/mL.<br />Meningkat juga :<br /> - kanker testis<br /> - kanker ovarium jenis <br />
  42. 42. Penanda tumor <br />22/06/2010<br />Company Logo<br />31<br />CA 15-3<br />monitoring kanker payudara. <br />P↑ dijumpai pd <10 % pasien dengan stadium awal <br />70 % pasien dengan stadium lanjut.<br />Kadar biasanya turun seiring keberhasilan terapi. <br />Kadar normal : < 25 U/mL, <br />kadar sampai 100 U/mL kadang dijumpai pd ♀sehat.<br />responds terapi pada kanker hati ( Karsinoma Hepatoseluler ). Kada normal AFP biasanya kurang dari 20 ng/mL. Kadar AFP akan meningkat pada 2 dan 3 pasien dengan kanker hati. Kadar AFP meningkat bersama membesarnya tumor. Pada kebanyakan pasien dengan kanker hati, kadar AFP meningkat lebih dari 500 ng/mL. AFP meningkat pula pada hepatitis akut dan kronis, tapi jarang lebih dari 100 ng/mL. AFP juga meningkatk pada kanker testis tertentu ( jenis sel embryonal dan endodermal sinus ) dan digunakan untuk follow – up kanker tersebut. Peningkatan kadar AFP juga pada Kanker ovarium jenis tertentu yang jarang dan kanker testis yang disebut yolk sac tumor atau mixed germ cell cancer.<br />
  43. 43. Penanda tumor<br />22/06/2010<br />Company Logo<br />32<br />Ca 19-9<br />awalnya dikembangkan untuk deteksi kanker colorectal, tapi ternyata lebih sensitif terhadap kanker pankreas. <br />Kadar normal < 37 U/mL. <br />Kadar yang tinggi pada awal diagnosis menunjukan stadium lanjut dari kanker<br />responds terapi pada kanker hati ( Karsinoma Hepatoseluler ). Kada normal AFP biasanya kurang dari 20 ng/mL. Kadar AFP akan meningkat pada 2 dan 3 pasien dengan kanker hati. Kadar AFP meningkat bersama membesarnya tumor. Pada kebanyakan pasien dengan kanker hati, kadar AFP meningkat lebih dari 500 ng/mL. AFP meningkat pula pada hepatitis akut dan kronis, tapi jarang lebih dari 100 ng/mL. AFP juga meningkatk pada kanker testis tertentu ( jenis sel embryonal dan endodermal sinus ) dan digunakan untuk follow – up kanker tersebut. Peningkatan kadar AFP juga pada Kanker ovarium jenis tertentu yang jarang dan kanker testis yang disebut yolk sac tumor atau mixed germ cell cancer.<br />
  44. 44. Penanda tumor <br />22/06/2010<br />Company Logo<br />33<br />Carcinoembryonic Antigen ( CEA ) <br />Penanda tumor untuk memonitoring pasien dengan kanker colorectal selama / setelah terapi, <br />tidak bisa dipakai untuk skrining atau diagnosis.<br />Kadar normalnya sangat bervariasi antar laboratorium<br />kadar > 5 ng/mL dikatakan Abnormal.<br />
  45. 45. Penanda tumor<br />22/06/2010<br />Company Logo<br />34<br />Human Chorionic Gonadotropin ( HCG )<br />Beta – HCG. <br />Kadarnya m↑ :<br /> - beberapa jenis kanker testis dan ovarium<br /> ( tumor germ cell ) <br /> - gestational trophoblastic, terutama <br /> Choriocarcinoma.<br />
  46. 46. Penanda tumor<br />22/06/2010<br />Company Logo<br />35<br />Prostate-Specific Antigen ( PSA )<br />kanker prostat.<br />Suatu protein yang dihasilkan sel grandula prostat.<br />Benign prostate hyperplasia ( BPH ) kadang menunjukan peningkatan kadar PSA. <br />Kadar PSA <br />< 4 ng/mL bukan kanker<br />> 10 ng/mLkanker,<br /> 4 – 10 ng/mL grey zonebiopsi. <br />
  47. 47. Kriteria kanker ovarium menurut FIGO<br />22/06/2010<br />Company Logo<br />36<br />Stadium I :terbatas pd ovarium<br />Stadium Ia : terbatas pd 1 ovarium, asites berisi sel ganas (-) pertumbuhan di permukaan luar (-) kapsul utuh<br />Stadium Ib : terbatas pd kedua ovarium, asites berisi sel ganas (-), tumor di permukaan luar (-), kapsul intak<br />Stadium Ic : tumor dgn stadium Ia & Ib, tetapi ada tumor di permukaan luar satu/kedua ovarium, atau dgn kapsul pecah/asites berisi sel ganas/ dengan bilasan peritoneum positif <br />
  48. 48. Kriteria kanker ovarium menurut FIGO<br />22/06/2010<br />Company Logo<br />37<br />Stadium II :Pertumbuhan pd 1 atau 2 ovarium dgn perluasan ke panggul<br />Stadium II a :perluasan dan/atau metastase ke uterus dan/atau tuba<br />Stadium IIb : perluasan ke jaringan pelvis lainnya<br />Stadium IIc : tumor stadium IIa dan IIb tetapi dgn tumor pd permukaan1 atau 2 ovarium, kapsul pecah, atau dgn asites yang mengandung sel ganas atau dgn bilasan peritoneum positif<br />
  49. 49. 22/06/2010<br />Company Logo<br />38<br />Stadium III :1 atau ke 2 ovarium dgn implan di peritoneum di luar pelvis & atau kGB retroperitoneal atau inguinal (+). Metastase pd permukaan liver masuk stadium III. Terbatas pd pelvis kecil, tetapi secara histologik terbukti meluas ke usus besar/omentum<br />Stadium III a : terbatas pd pelvis kecil dgn kGB (-), tetapi secara histologik & dikonfirmasi secara mikroskopik adanya penumbuhan (seeding) di permukaan peritoneum abdominal<br />Stadium IIIb : 1 atau2 ovarium dgn implan dipermukaan peritoneum & terbukti secara mikroskopik diameter tidak melebihi 2 CM, KGB(-) <br />Stadium IIIc :implan di abdomen dgn diameter > 2 cm & atau KGB retroperotoneal & inguinal (+) <br />
  50. 50. Kriteria kanker ovarium menurut FIGO<br />22/06/2010<br />Company Logo<br />39<br />Stadium IV<br />Pertumbuhan mengenai 1 atau ke 2 ovarium dengan metastasis jauh. <br />efusi pleura dan hasil sitologinya positif dimasukkan dalam stadium IV. <br />metastase ke liver.<br />
  51. 51. Penanda tumor untuk skrining kanker ovarium<br />22/06/2010<br />Company Logo<br />40<br />CA 72-4 atau TAG 72<br />M-CSF<br /> OVX1<br /> LPA<br />Prostasin<br /> Osteopontin<br /> Inhibin<br /> Kallikrein<br />
  52. 52. Bufer pencuci<br />22/06/2010<br />Company Logo<br />41<br />Pengenceran 20x<br />1 vol larutan bufer + 19 volume distilled water<br />Stabil untuk 1 bulan pada t 2-8°C<br />
  53. 53. CA 125<br />22/06/2010<br />Company Logo<br />42<br />Sensivisitas : 69,8%<br />Spesifisitas : 72,3%<br />Nilai ramal positif : 49,2%<br />Nilai ramal negatif : 86,2%<br />
  54. 54. TMB<br />22/06/2010<br />Company Logo<br />43<br />3, 3', 5, 5' tetramethyl benzidine (TMB). <br />The substrate can be catalyzed with peroxidase to produce a pale blue color which can be read spectrophotometrically at 370 or 620-650 nm. <br />The TMB reaction may be stopped with 2N H2SO4 or 1M H3PO4 (resulting in a yellow color), and read at 450 nm.<br />
  55. 55. HRPO<br />22/06/2010<br />Company Logo<br />44<br />Nomenclature:donor : hydrogen-peroxide ixidoreductase, EC 1.11.1.7<br />Molecular weight: 40,000 <br />Isoelectric point: 7.2 <br />Structure: Glycoprotein with one mole of protoheme IX <br />Inhibitors: Cyanide, sulfide, fluoride, azide, hydroxylamine, hydroxyl ions <br />Activators: Peroxidation of o-dianisidine is accelerated by ammonia, pyridine, imidazole at pH values > 7.0<br />pH optimum: 6.0-6.5 (Figure 1 left)<br />Temperature dependence: See Figure 1 righ<br />t pH stability: 4.0 - 10.0 <br />Thermal stability: Below 60ºC (Figure 2)<br />Specificity: Peroxidase is specific to the hydrogen acceptor; only H2O2, methyl- and ethyl peroxides are active. In contrast, the enzyme is not specific for the hydrogen donor. A large number of phenols, aminophenols, diamines, indophenols, leuco dyes, ascorbate, and several amino acids react.<br />

×