1. KANJI
 Pada penetapan dengan metode iodometri
menggunakan indikator kanji atau pati yang banyak
mengandung β-Amilosa (Amilopektin)
 Pati disebut juga amilum yang terbagi menjadi 2 yaitu:
› Amilosa (1,4) atau disebut juga β-Amilosa yang
memiliki bentuk molekul rantai panjang lurus
› Amilosa + I2 Biru
› Amilopektin (1,4); (1,6) disebut α-Amilosa
› Amilopektin + I2 Violet
 Penambahan indikator pada proses Iodometri &
Iodimetri berbeda pada proses iodometri indikator
kanji ditambahkan ketika mendekati titik akhir,
karena bila penambahan kanji diawal titrasi akan
dikhawatirkan akan membungkus ion iodida yang
telah ditambahkan. Selain itu, pengocokan larutan
harus lebih sering dilakukan.
 Pada proses Iodimetri penambahan kanji dilakukan
diawal titrasi karena sebagai penitarnya adalah
iodium sehingga kemungkinan I2 yang terbungkus
kanji lebih kecil
 Pada titrasi Iodimetri kanji tidak boleh ditambahkan
tepat sebelum TA dicapai.
2. Natrium Pati Glikolat
 Senyawa ini berupa bubuk putih, tidak higroskopis,
mudah larut dalam air panas, stabil selama berbulan-
bulan, tidak membentuk kompleks yang tidak dapat larut
dengan iod. Sehingga dapat ditambahkan kapan saja
saat proses penitaran dengan tio.
 Pada penambahan indikator ini, larutan akan berwarna
hijau.
 Saat konsentrasi iod berkurang,warna berubah menjadi
biru,yang menjadi kuat sebelum titik akhir tercapai. Titik
akhir sangatlah tajam,dan tidak ada hanyutan pada
larutan encer.
INDIKATOR
3. Karbon tertraklorida (CCl4)
 Karbon tetraklorida telah digunakan pada reaksi-reaksi
tertentu sebagai pengganti dari larutan kanji sebagai
indikator. Satu liter CCl4 pada 25°C akan melarutkan
kira-kira 0,355 g iod. Penambahan indikator CCl4 ialah
pada awal penitaran.
 Setelah penambahan larutan. Kalium iodida (KI) berlebih
lalu ditambahkan 5-10 ml karbon tetraklorida ke dalam
larutan(akan berwarna ungu) untuk selanjutnya dititar
dengan tio (Na2S2O3.5H2O).
 Menjelang titik akhir, erlenmeyer disumbat dan dikocok
setelah setiap penambahan larutan tio. Warna titik akhir
yang diperoleh ialah tidak berwarna
Prinsip
Penetapan kadar NaBO3. 4H2O dengan cara yodometri
adalah penitaran dengan larutan Na2S2O3 (Natrium Tiosulfat)
atau disebut juga titrasi secara tidak langsung karena iodium
yang dititar berasal dari donor iodium yaitu KI. Zat – zat
oksidator dalam larutan asam mengoksidasi KI menjadi I2 dan
selanjutnya I2 ini dititar dengan larutan tiosulfat. Sebagai
indikator disini dipergunakan larutan kanji 0.5%. Penambahan
indikator dilakukan pada akhir titrasi yaitu setelah larutan
berwarna kuning muda. Perubahan warna titrasi yang
diamati dari coklat tua, lalu ditambah tiosulfat menjadi kuning
muda, lalu ditambah indikator kanji menjadi biru tua, setelah
ditambah tiosulfat menjadi tepat tidak berwarna lagi.
Reaksi
4NaBO3 + 5H2O Na2B4O7 + 4H2O2 + 2NaOH
H2O2 + 2KI 2KOH + I2
I2 + 2Na2S3O3 Na2S4O6 + 2NaI
Perhitungan
 Kadar = ml. Na2S2O3 x N. Na2S2O3 x P x BE NaBO3 x 100 %
Berat Contoh (mg contoh)
Penetapan Kadar NaBO3. 4H2O
Catatan Penting:
 Larutan KI 10% dan larutan amonium molibdat 4%
ditambahkan sebagai katalis.
 Ditambahkan asam agar dapat mengoksidasi KI
menjadi I2 dan selanjutnya I2 dapat dititar dengan
larutan tiosulfat
Prinsip
 Untuk mengetahui kadar clor aktif Cl2Klor aktif akan
membebaskan iodine I2 dari larutan kaliumiodida KI jika
pH < 8 (terbaik adalah pH < 3 atau 4). Sebagai
indicator digunakan kanji yang merubah warna sesuai
larutan yang mengandung iodine menjadi biru. Untuk
menentukan jumlah klor aktif, iodine yang telah
dibebaskan oleh klor aktif tersebut dititrasikan dengan
larutan standar natriumtiosulfat. Titik akhir titrasi
dinyatakan dengan hilangnya warna biru dari larutan.
Reaksi
NaOCl + H2SO4 Na2SO4 + HClO
HClO HCl + O
2 KI + O K2 + I2
I2 + 2Na2S2O3 Na2S4O6 + 2Nal
Perhitungan
Cl2 = ml.titrasi x N Na2S2O3 x Bst x P mg/L
Catatan Penting
 Ditambahkan asam agar klor aktif dapat
membebaskan iodine dari kalium iodida.
 Digunakan asam kuat karena pH idealnya sekitar 3-4.
Prinsip
Di dalam cairan tersebut terdapat bahan aktif NaClO. Ion
hipoklorit dalam cairan pemutih dapat mengoksidasi iodida
menjadi I2 . Banyaknya I2 yang dihasilkan ditentukan dengan
menitrasi larutan tersebut menggunakan larutan standar
Na2S2O3 . Pada titrasi ini digunakan indikator amilum yang
berwarna biru dalam larutan I2 . Titik akhir titrasi ditandai
dengan hilangnya warna biru dari amilum.
Reaksi
 NaClO + 2KI + 2HCl → NaCl + 2KCl + I2 + H2O
 I2 + 2Na2S2O3 → 2NaI + Na2S2O6
Perhitungan
Kadar = Fp x Vtitran x Ntitran x Bst contoh
Mg contoh
Catatan Penting
 Cairan pemutih harus diencerkan terlebih dahulu sebelum
dititrasi dikarenakan agar perubahan-perubahan yang
terjadi selama reaksi dapat teramati dengan baik selain itu,
agar apabila cairan tersebut terkena tangan, tangan kita
tidak gatal.
 Penambahan HCl untuk memberi suasana asam, karena
reaksi di atas hanya akan terjadi jika suasana asam.
 Penambahan larutan KI yang dibuat berlebihan agar hasil
I2 yang bereaksi dengan Na2S2O3 dapat bereaksi seperti
yang diharapkan.
Prinsip
Timbal adalah suatu unsur kimia yang terdapat pada
golongan IV A dan periode ke enam pada tabel periodik.
Timbal yang diberi lambang Pb yang merupakan
singkatan dari bahasa Latinnya, yaitu plumbum. Timbal
memiliki nomor atom 82 dan nomor massa 207,2. Timbal
merupakan logam berwarna abu-abu, mempunyai
massa jenis yang sangat tinggi yaitu 11,34 g/cm3, jauh
lebih tinggi daripada massa jenis tertinggi bagi logam
transisi pertama yaitu 8,92 g/cm3 untuk tembaga.
Reaksi
 Pb(NO3)2(l) + K2CrO4(aq) → PbCrO4(s) + NO3
-
(aq)
(ditambah K2Cr2O7)
 2PbCrO4(s) + 2H + (aq) → 2Pb2+(aq)+ Cr2O7
2-
(aq) + H2O (l)
(ditambah HCl)
 Cr2O7
2- + 14H+ + 6I- → 3I2 + 2Cr3+ + 7H2O
(ditambah KI)
 I2 + 2S2O3
2- → 2I- + S4O6
2-
(dititrasi dengan Na2S3O3)
Perhitungan
Kadar = Fp x Vtitran x Ntitran x Bst contoh
Mg contoh
Catatan Penting
 Asam asetat glacial dan natrium asetat untuk
membufferkan larutan.

Tugas kimia Aanalisis XI-4

  • 2.
    1. KANJI  Padapenetapan dengan metode iodometri menggunakan indikator kanji atau pati yang banyak mengandung β-Amilosa (Amilopektin)  Pati disebut juga amilum yang terbagi menjadi 2 yaitu: › Amilosa (1,4) atau disebut juga β-Amilosa yang memiliki bentuk molekul rantai panjang lurus › Amilosa + I2 Biru › Amilopektin (1,4); (1,6) disebut α-Amilosa › Amilopektin + I2 Violet
  • 3.
     Penambahan indikatorpada proses Iodometri & Iodimetri berbeda pada proses iodometri indikator kanji ditambahkan ketika mendekati titik akhir, karena bila penambahan kanji diawal titrasi akan dikhawatirkan akan membungkus ion iodida yang telah ditambahkan. Selain itu, pengocokan larutan harus lebih sering dilakukan.  Pada proses Iodimetri penambahan kanji dilakukan diawal titrasi karena sebagai penitarnya adalah iodium sehingga kemungkinan I2 yang terbungkus kanji lebih kecil  Pada titrasi Iodimetri kanji tidak boleh ditambahkan tepat sebelum TA dicapai.
  • 4.
    2. Natrium PatiGlikolat  Senyawa ini berupa bubuk putih, tidak higroskopis, mudah larut dalam air panas, stabil selama berbulan- bulan, tidak membentuk kompleks yang tidak dapat larut dengan iod. Sehingga dapat ditambahkan kapan saja saat proses penitaran dengan tio.  Pada penambahan indikator ini, larutan akan berwarna hijau.  Saat konsentrasi iod berkurang,warna berubah menjadi biru,yang menjadi kuat sebelum titik akhir tercapai. Titik akhir sangatlah tajam,dan tidak ada hanyutan pada larutan encer. INDIKATOR
  • 5.
    3. Karbon tertraklorida(CCl4)  Karbon tetraklorida telah digunakan pada reaksi-reaksi tertentu sebagai pengganti dari larutan kanji sebagai indikator. Satu liter CCl4 pada 25°C akan melarutkan kira-kira 0,355 g iod. Penambahan indikator CCl4 ialah pada awal penitaran.  Setelah penambahan larutan. Kalium iodida (KI) berlebih lalu ditambahkan 5-10 ml karbon tetraklorida ke dalam larutan(akan berwarna ungu) untuk selanjutnya dititar dengan tio (Na2S2O3.5H2O).  Menjelang titik akhir, erlenmeyer disumbat dan dikocok setelah setiap penambahan larutan tio. Warna titik akhir yang diperoleh ialah tidak berwarna
  • 6.
    Prinsip Penetapan kadar NaBO3.4H2O dengan cara yodometri adalah penitaran dengan larutan Na2S2O3 (Natrium Tiosulfat) atau disebut juga titrasi secara tidak langsung karena iodium yang dititar berasal dari donor iodium yaitu KI. Zat – zat oksidator dalam larutan asam mengoksidasi KI menjadi I2 dan selanjutnya I2 ini dititar dengan larutan tiosulfat. Sebagai indikator disini dipergunakan larutan kanji 0.5%. Penambahan indikator dilakukan pada akhir titrasi yaitu setelah larutan berwarna kuning muda. Perubahan warna titrasi yang diamati dari coklat tua, lalu ditambah tiosulfat menjadi kuning muda, lalu ditambah indikator kanji menjadi biru tua, setelah ditambah tiosulfat menjadi tepat tidak berwarna lagi.
  • 7.
    Reaksi 4NaBO3 + 5H2ONa2B4O7 + 4H2O2 + 2NaOH H2O2 + 2KI 2KOH + I2 I2 + 2Na2S3O3 Na2S4O6 + 2NaI Perhitungan  Kadar = ml. Na2S2O3 x N. Na2S2O3 x P x BE NaBO3 x 100 % Berat Contoh (mg contoh) Penetapan Kadar NaBO3. 4H2O
  • 8.
    Catatan Penting:  LarutanKI 10% dan larutan amonium molibdat 4% ditambahkan sebagai katalis.  Ditambahkan asam agar dapat mengoksidasi KI menjadi I2 dan selanjutnya I2 dapat dititar dengan larutan tiosulfat
  • 9.
    Prinsip  Untuk mengetahuikadar clor aktif Cl2Klor aktif akan membebaskan iodine I2 dari larutan kaliumiodida KI jika pH < 8 (terbaik adalah pH < 3 atau 4). Sebagai indicator digunakan kanji yang merubah warna sesuai larutan yang mengandung iodine menjadi biru. Untuk menentukan jumlah klor aktif, iodine yang telah dibebaskan oleh klor aktif tersebut dititrasikan dengan larutan standar natriumtiosulfat. Titik akhir titrasi dinyatakan dengan hilangnya warna biru dari larutan.
  • 10.
    Reaksi NaOCl + H2SO4Na2SO4 + HClO HClO HCl + O 2 KI + O K2 + I2 I2 + 2Na2S2O3 Na2S4O6 + 2Nal Perhitungan Cl2 = ml.titrasi x N Na2S2O3 x Bst x P mg/L
  • 11.
    Catatan Penting  Ditambahkanasam agar klor aktif dapat membebaskan iodine dari kalium iodida.  Digunakan asam kuat karena pH idealnya sekitar 3-4.
  • 12.
    Prinsip Di dalam cairantersebut terdapat bahan aktif NaClO. Ion hipoklorit dalam cairan pemutih dapat mengoksidasi iodida menjadi I2 . Banyaknya I2 yang dihasilkan ditentukan dengan menitrasi larutan tersebut menggunakan larutan standar Na2S2O3 . Pada titrasi ini digunakan indikator amilum yang berwarna biru dalam larutan I2 . Titik akhir titrasi ditandai dengan hilangnya warna biru dari amilum.
  • 13.
    Reaksi  NaClO +2KI + 2HCl → NaCl + 2KCl + I2 + H2O  I2 + 2Na2S2O3 → 2NaI + Na2S2O6 Perhitungan Kadar = Fp x Vtitran x Ntitran x Bst contoh Mg contoh
  • 14.
    Catatan Penting  Cairanpemutih harus diencerkan terlebih dahulu sebelum dititrasi dikarenakan agar perubahan-perubahan yang terjadi selama reaksi dapat teramati dengan baik selain itu, agar apabila cairan tersebut terkena tangan, tangan kita tidak gatal.  Penambahan HCl untuk memberi suasana asam, karena reaksi di atas hanya akan terjadi jika suasana asam.  Penambahan larutan KI yang dibuat berlebihan agar hasil I2 yang bereaksi dengan Na2S2O3 dapat bereaksi seperti yang diharapkan.
  • 15.
    Prinsip Timbal adalah suatuunsur kimia yang terdapat pada golongan IV A dan periode ke enam pada tabel periodik. Timbal yang diberi lambang Pb yang merupakan singkatan dari bahasa Latinnya, yaitu plumbum. Timbal memiliki nomor atom 82 dan nomor massa 207,2. Timbal merupakan logam berwarna abu-abu, mempunyai massa jenis yang sangat tinggi yaitu 11,34 g/cm3, jauh lebih tinggi daripada massa jenis tertinggi bagi logam transisi pertama yaitu 8,92 g/cm3 untuk tembaga.
  • 16.
    Reaksi  Pb(NO3)2(l) +K2CrO4(aq) → PbCrO4(s) + NO3 - (aq) (ditambah K2Cr2O7)  2PbCrO4(s) + 2H + (aq) → 2Pb2+(aq)+ Cr2O7 2- (aq) + H2O (l) (ditambah HCl)  Cr2O7 2- + 14H+ + 6I- → 3I2 + 2Cr3+ + 7H2O (ditambah KI)  I2 + 2S2O3 2- → 2I- + S4O6 2- (dititrasi dengan Na2S3O3)
  • 17.
    Perhitungan Kadar = Fpx Vtitran x Ntitran x Bst contoh Mg contoh Catatan Penting  Asam asetat glacial dan natrium asetat untuk membufferkan larutan.