SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI
“SOSIALISME”
KELOMPOK 4
I NYOMAN BAYU DIRGA 121515100
I KADEK DWI ADI PUTRA 121515100
KOMANG SRI AYU PUSPITA DEWI 1215151003
PUTU DIAH ARYA PURNAMA DEWI 1215151037
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
PEMBAHASAN
1. Latar Belakang Timbulnya Mashab Sosialisme
Sebelum adanya mashab sosialisme terlebih dahulu telah lahir mashab klasik. Dimana
tokoh utamanya adalah Adam Smith dan dilanjutkan dengan pemikiran-pemikiran dari tokoh-
tokoh klasik lainnya seperti Robert Malthus, David Ricardo, J.B Say, dan J.S Mill. Pandangan,
pemikiran, dan gagasan dari semua tokoh-tokoh ekonomi klasik yang tersebut di atas
mendukung sistem ekonomi pasar, atau liberal, atau kapitalis.
Sejak awal dikembangkannya ajaran liberalism-kapitalisme telah mengundang berbagai
reaksi yang kritis dari berbagai pihak. Reaksi tidak hanya dalam bentuk perdebatan secara
teoritis, melainkan juga dalam bentuk gerakan politik.
Di bawah panji-panji kapitalisme (tahap awal) di Eropa, golongan borjuis mulai
menguasai negara. Oleh kaum borjuis negara dijadikan sebagai kekuatan dan alat pemaksa untuk
mengatur organisasi ekonomi-politik dan kemasyarakatan guna memenuhi berbagai kepentingan
mereka.
Tentu tidak semua orang senang dengan apa yang dilakuakan oleh kaum borjuis di atas.
Mereka yang tidak senang ini kemudian berusaha melakukan balas dendam. Di banyak pabrik,
para pekerja mengamuk dan melakukan pengrusakan terhadap pabrik dan mesin-mesin. Mereka
melampiaskan rasa tidak senang mereka karena ditindas oleh kaum borjuis yang hanya
mementingkan diri mereka saja, dan tidak perduli dengan nasib kaum proletar.
Kondisi rakyat di bawah kaum borjuis dapat diikuti dari buku Englan Green and
Pleasant Land yang ditulis oleh William Blake (1775-1827). Buku tersebut berisi sindiran sangat
pahit tentang akibat-akibat yang ditimbulkan oleh liberalism-kapitalisme bagi masyarakat
Inggris. Dalam buku dikisahkan tentang masa lalu Inggris yang indah, damai, setiap orang hidup
harmonis di daerah-daerah pertanian yang hijau subur. Kemudian keadaan berubah seratus
delapan puluh derajat setelah dikembangkannya ajaran liberalism-kapitalisme oleh pemikir-
pemikir klasik. Ajaran kapitalisme telah membawa masyarakat ke arah hidup yang penuh
persaingan dan perkelahian.
Oleh sebab itu, maka lahirlah pemikiran sosialis yang mengecam pemikiran klasik.
Pokok-pokok pemikiran kaum sosialis, notabene, sangat berbeda dan bertolak belakang dengan
pemikiran tokoh-tokoh yang sudah dikemukakan sebelumnya.
Pemikiran-pemikiran ekonomi beraliran sosialis secara garis besar dapat dipilih atas tiga
kelompok, yaitu:
1. Dari kelompok pemikiran sosialis sebelum Marx
2. Pandangan Marx dan Engels, dan
3. Kelompok pemikir sosialis sesudah Marx
Dalam kehidupan sehari-hari istilah sosialisme digunakan dalam banyak arti. Istilah
sosialisme bisa digunakan untuk menunjukkan sistem ekonomi. Selain itu juga bisa digunakan
untuk menunjukkan aliran falsafah, ideology, cita-cita, ajaran-ajaran atau gerakan. Menurut Jhon
Stuart Mill sosialisme adalah kegiatan menolong orang-orang yang tak beruntung dan tertindas.
Kegiatan ini dilakukan dengan sesedikit mungkin bergantung dari bantuan pemerintah.
Sosialisme oleh sementara orang juga diartikan sebagai bentuk perekonomian yang
pemerintahannya paling kurang bertindak sebagai pihak yang dipercayai oleh seluruh warga
masyarakat. Pemerintah juga sebagai pihak yang menasionalisasikan industri-industri besar besar
seperti pertambangan, jalan-jalan dan jembatan, kereta api, serta cabang-cabang produksi lain
yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Dalam bentuk yang paling lengkap, sosialisme
melibatkan pemilikan semua alat-alat produksi, termasuk di dalamnya tanah-tanah pertanian oleh
negara dan menghilangkan milik swasta (Brinton, 1981).
Dari uraian di atas jelas bahwa pada awalnya “sosialisme” dimaksudkan untuk
menunjukkan sistem-sistem pemilikan dan pemanfaatan sumber-sumber produksi (selain labor)
secara kolektif (Whittaker,1960). Dengan definisi itu, sosialisme bisa mencakup asosiasi-asosiasi
kooperatif maupun pemilikan dan pengoperasian oleh pemerintah. Dengan definisi secara luas
seperti ini negara-negara seperti (eks) Uni Soviet dan Inggris yang dikuasai oleh partai buruh
dapat dimasukkan ke dalam sistem sosialis.
Dalam kehidupan sehari-hari, kata “sosialisme” sering di pakai bergantian dengan istilah
“komunisme”. Antara sosialisme dengan komunisme memang tidak banyak perbedaannya.
Bahkan Marx sering menggunakan istilah tersebut secara bergantian untuk menjelaskan hal yang
sama. Bagaimana pun, oleh pakar-pakar lain keduanya sering dibedakan.
Dalam masyarakat sosialis yang menonjol adalah rasa kebersamaan atau kolektivisme.
Salah satu bentuk kolektivisme yang extrim adalah komunisme. Keputusan-keputusan ekonomi
itu disususn, direncanakan, dan dikontrol oleh kekuatan pusat. Komunisme dapat dikatakan
sebagai bentuk sistem paling extrim di antara golongan kiri sosialis, sebab untuk mencapai
masyarakat komunis yang dicita-citakan diperoleh melalui suatu refolusi.
Aliran sosialisme sebelum Marx (yang lebih bersikap utopis) sering dimasukkan ke
dalam “sosialis”, sedakan sosialisme yang dikembangkan Marx digolongkan ke dalam
“komunis”. Cara lain menamakan sosialisme Marx adalah “marxisme”. Disebut “marxisme”
karena jasa Marx sangat besar dalam mengembangkan dan mempopulerkan aliran sosialis-
komunis ini. Akan tetapi, kemudian paham marxisme ini juga mengalami perkembangan, jenis-
jenis marxisme juga bervariasi, mulai dari marxisme ortodoks, neo-marxis, human marxis, aliran
kiri baru (New Left), sosialis idependen, dan sebagainya.
Walaupun kemudian pengertian tentang sosialisme semakin beragam dan bervariasi,
dapat dikatakan bahwa pandangan dari tiap-tiap aliran didasarkan pada ajaran Marx dan Engels.
Semua aliran marxisme tersebut pada intinya sama-sama melihat, mempertanyakan, dan
membahas mengapa dan bagaimana pola produksi kapitalis telah mengubah formasi sosial-
ekonomi masyarakat prakapitalis. Namun yang terjadi justru proses pemiskinan (pauperization),
proses penyengsaraan (immiserization), keadaan keterbelakangan (under-development) serta
makin banyak dan berkembangnya jumlah “tentara cadangan industri” (industrial reserve army),
dan bukannya proses pembangunan (development) atau kemajuan (progress)
2. Pemikiran Ekonomi Mashab Sosialisme
Sejarah pemikiran mazhab Sosialis dan kritik terhadap pemikiran ekonomi klasik. Kritik
yang dikemukakan oleh mazhab sosialis berhubungan dengan doktrin laissez faire dengan
pengendalian tangan tak kentara (invisible hand) dan intervensi pemerintah. Pemikiran yang
dibahas adalah tentang teori nilai, pembagian kerja, teori kependudukan, dan the law of
deminishing return, dan kritiknya karena asumsi bahwa negaralah yang berhak untuk mengatur
kekayaan bangsa.
Para pengritik mazhab klasik terutama dari Lauderdale, Sismonde, Carey, List dan
Bastiat. Lauderdale mengajukan kritik bahwa nilai barang ditentukan oleh kelangkaan dan
permintaan, sedangkan Muller dan List melihat bahwa nilai barang ditentukan juga tidak hanya
oleh modal fisik, tetapi juga oleh modal spiritual dan modal mental. Demikian juga Carey
melihat tentang teori nilai dari segi teori biaya reproduksi, sedangkan Bastiat bahwa faktor-faktor
yang menentukan nilai barang adalah besarnya tenaga kerja yang dikorbankan pada pembuatan
barang, menurut beliau hal-hal yang menjadi karunia alam tidak mempunyai nilai, kecuali telah
diolah manusia.
Sismonde mengajukan keberatan terhadap teori kependudukan Malthus, dan tidak
mungkin dapat dikendalikan dengan cara-cara yang dikemukakan Malthus, sebab sangat
tergantung pada kemauan manusia dan kesempatan kerja, dan kawin yang selalu dikaitkan
dengan kemampuan ekonomi. Mesin mempunyai fungsi untuk menggantikan tenaga kerja
manusia, aspek mesin tidak selalu mempunyai keuntungan dalam meningkatkan kekayaan
bangsa. Carey berpendapat pertambahan modal lebih cepat dari pertambahan penduduk.
Sismonde berpendapat bahwa pembagian kerja skala produksi menjadi semakin besar dan
tidak dapat dikendalikan sehingga terjadi kelebihan produksi. Muller berpendapat bahwa
pembagian kerja telah membawa pekerjaan ke dalam perbudakan dan tenaga kerja menjadi
mesin. Pemikiran List bukan pembagian kerja yang paling penting tetapi mengetahui dan
menggunakan kekuatan-kekuatan produktif dalam usaha meningkatkan kekayaan bangsa.
Pemikiran John Stuart Mill banyak dipengaruhi oleh Jeremy Bentam yang beraliran
falsafah utilitarian, bebannya sangat berat dalam mempelajari falsafah, politik dan ilmu sosial,
yang menjadikan mental breakdown. Kritik terhadap ekonomi klasik terutama pada Smith,
Malthus dan Ricardo, dipelajari oleh Mill. Sementara itu pemikiran ekonomi sosialis mulai
berkembang, dasar sistem ekonomi klasik adalah laissez faire, hipotesis kependudukan Malthus,
hukum lahan yang semakin berkurang, teori dana upah mendapat tantangan. Dalam era inilah
pemikiran Mill dituangkan dalam bukunya yang berjudul Principle of Political Economy, dengan
pemikiran yang eklektiknya.
Sumbangan yang paling besar Mill adalah metode ilmu ekonomi yang bersifat deduktif
dan bersama dengan metode induktif. Karena hipotesisnya belum didukung dengan data empirik,
di samping itu pembahasannya tentang teori nilai tidak melihat dari biaya produksi, tetapi telah
menggunakan sisi permintaan melalui teori elastisitas. Mill menjelaskan bahwa hukum yang
mengatur produksi lain dengan hukum distribusi pendapatan, juga memperkenalkan human
capital investment yaitu keterampilan, kerajinan dan moral tenaga kerja dalam meningkatkan
produktivitas.
Kecaman Marx terhadap Sistem Kapitalis. Karl Marx sangat benci dengan sistem
perekonomian yang digagas oleh Adam Smith dan kawan–kawan. Untuk menunjukkan
kebenciannya, Marx menggunakan berbagai argumen untuk “membuktikan” bahwa sistem
liberal/kapitalis itu buruk. Argumen-argumen yang disusun Marx dapat dilihat dari berbagai segi,
baik dari sisi moral, sosiologi maupun ekonomi.
Dari segi moral Marx melihat bahwa sistem kapitalis mewarisi berbagai ketidakadilan
dari dalam. Ketidakadilan ini akhirnya akan membawa masyarakat kapitalis ke arah kondisi
ekonomi dan sosial yang tidak bisa dipertahankan. Walau ada pengakuan bahwa sistem yang
didasarkan pada mekanisme pasar ini lebih efesien sistem ini teteap dikecam. Hal itu karena
sistem liberal tersebut tidak perduli tentang masalah kepincangan dan kesenjangan sosial.
Dengan menerapkan sistem “upah besi” kaum buruh dalam sistem perekonomian liberal tidak
akan pernah mampu mengangkat derajatnya lebih tinggi karena-sebagaimana di ucapkan Marx-
“pasar bebas memang telah mentakdirkannya demikian”. Untuk mengangkat harkat para buruh
yang sangat menderita dalam sistem liberal tersebut, Marx mengajak kaum buruh untuk bersatu.
Dari segi sosiologi, Marx melihat adanya sumber konflik antarkelas. Dalam sistem
liberal-kapitalis yang diamati Marx ada sekelompok orang (yaitu pemilik modal) yang
menguasai kapital. Di lain pihak, ada sekelompok orang lainnya (yaitu kaum buruh) sebagai
kelas proletar yang seperti sudah ditakdirkan untuk selalu menduduki posisi kelas bawah. Alasan
sistem perekonomian liberal harus diganti menurut Marx ialah jumlah kaum nestapa akan
bertambah besar dan sistem liberal cenderung menciptakan masyarakat berkelas-kelas, yaitu
kelas kapitalis yang kaya raya dan kelas proletar kaum buruh.
Dari segi ekonomi, Marx melihat bahwa akumulasi kapital ditangan kaum kapitalis
memungkinkan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Akan tetapi, pembangunan
dalam sistem kapitalis sangat bisa terhadap pemilik modal. Untuk bisa membangun secara nyata
bagi seluruh lapisan masyarakat, perlu dilakukan perombakkan struktural melalui revolusi sosial.
Jika langkah ini berhasil, langkah berikutnya yang harus diambil ialah penataan kembali
hubungan produksi (khususnya dalam sistem pemilikan tanah, alat-alat produksi dan modal).
Menurut Marx, hanya atas dasar hubungan yang lebih manusiawi ini pembangunan dapat
berjalan lancar tanpa hambatan dan dapat diterima oleh seluruh lapisan rakyat.
Teori Pertentangan Kelas. Menurut Marx, sejarah segala masyarakat yang ada hingga
sekarang pada hakikatnya adalah sejarah pertentangan kelas. Di zaman kuno ada kaum
bangsawan yang bebas dan budak yang terikat. Di zaman pertengahan ada tuan tanah sebagai
pemilik dan hamba sahaya yang menggarap tanah bukan kepunyaannya. Bahkan, di zaman
modern ini juga ada majikan yang memiliki alat-alat produksi dan buruh yang hanya punya
tenaga kerja untuk dijual kepada majikan. Di samping itu, ada masyarakat kelas kaya (the haves)
dan kelas takberpunya (the haves not). Semua kelas-kelas masyarakat ini dianggap Marx timbul
sebagai hasil dari kehidupan ekonomi masyarakat.
Menurut pengamatan Marx, di seluruh dunia ini, sepanjang sejarah kelas yang lebih
bawah selalu berusaha untuk membebaskan dan meningkatkan status kesejahteraan mereka.
Sekarang pun (maksudnya di masa Marx) tidak terkecuali, tetap ada perjuangan kelas. Dengan
anggapan seperti ini, Marx meramal bahwa kaum proletar yang terdiri dari kaum buruh akan
bangkit melawan kesewenang-wenagan kaum pemilik modal dan akan menghancurkan kelas
yang berkuasa. Bagaimana Marx menganggap bahwa kaum proletar diisap dan diperas oleh para
pemilik modal? Teori yang digunakan untuk menjelaskan penindasan tersebut adalah teori nilai
lebih (theory of surplus value), yang sebenarnya berasal dari kaum klasik sendiri.
Teori “Surplus Value” dan Penindasan Buruh. Menurut pandangan kaum klasik
(Ricardo), nilai suatu barang harus sama dengan biaya-biaya untuk menghasilkan barang
tersebut, yang di dalamnya sudah termasuk ongkos tenaga kerja berupa upah alami(natural
wages). Upah alami yang diterima oleh para buruh hanya cukup sekedar penyambung hidup
secara subsisten, yaitu untuk memenuhi kebutuhan yang sangat pokok-pokok saja. Padahal, nilai
dari hasil kerja para buruh jauh lebih besar dari jumlah yang diterima mereka sebagai upah
alami. Kelebihan nilai produktivitas kerja buruh atas upah alami inilah yang disebut Marx
sebagai nilai lebih(surplus value), dinikmati oleh para pemilik modal. Semakin kecil upah alami
yang dibayarkan pada kaum buruh, semakin besar nilai surplus yang dinikmati pemilik modal.
Bagi Marx ini berarti semakin besar pengisapan atau eksploitasi dari pemilik modal atas kaum
buruh.
Secara umum Marx percaya bahwa nilai suatu barang atau komoditas umumnya sepadan
dengan input-input labor, dan hanya labor langsung yang dapat menghasilkan laba(yang
disebutnya nilai surplus). Lebih jelas, menurut Marx:
Komoditas (C) = c + v + s
Istilah Marx tentang modal tetap atau biaya-biaya labor tak langsung (c) dan modal variabel atau
biaya-biaya labor langsung (v), serta laba atau nilai surplus (s).
Nilai surplus adalah kelebihan nilai produktivitas kerja atas upah alami yang diberikan
kepada buruh. Semakin rendah nilai upah yang diberikan kepada buruh, semakin besar nilai
surplus yang dinikmati pemilik modal. Tingkat surplus ini oleh Marx dijadikan sebagai ukuran
eksploitasi terhadap kaum buruh. Tingkat eksploitasi (s’) tersebut bisa diukur dengan
membandingkan nilai surplus (s) dengan upah yang diberikan (v),
Tingkat Eksploitasi (s’) = s/v
Dari uraian di atas, jelaslah bagaimana kaum pemilik modal memperoleh kekayaan
dengan menindas kaum buruh. Sebagian dari laba yang merupakan surplus value tersebut
ditanankan kembali sebagai investasi. Dari hasil investasi ini kekayaan mereka akan semakin
menumpuk, semakin lama semakin besar.
Akumulasi kapital akan semakin berhasil jika para kapitalis bisa menindas kaum buruh
sekeras-kerasnya, yaitu dengan memberikan tingkat upah yang sangat rendah. Di sini tampak
perbedaan yang sangat nyata antara Marx dan Smith dalam memandang persaingan. Smith
menganggap persaingan bebas sebagai prasyarat bagi terbentuknya masyarakat sejahtera.
Sebaliknya, Marx memandang sebagai penyebab terjadi konsentrasi-konsentrasi ekonomi atau
monopoli. Kompetensi dinilai Marx mengandung suatu daya yang kalau tidak diawasi akan
menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Perusahaan-perusahaan besar akan
mencaplok yang kecil. Yang lemah akan tergusur dari pasar. Akibatnya, jumlah golongan
menengah menciut, sedangkan jumlah kaum proletar akan semakin banyak.
Akan tetapi, dengan praktik “gencet-menggencet” seperti ini siapa sesungguhnya yang
rugi? Kaum buruh jelas rugi, sebab mereka hanya bisa memperoleh nafkah sekedar penyambung
hidup belaka. Bagaimana dengan pemilik modal? Pada mulanya dengan menekan upah buruh
mereka memang untung. Akan tetapi, dengan jumlah bururh yang sangat banyak, sedangkan
pendapatan mereka sangat rendah menimbulkan masalah lain. Siapa yang akan membeli barang-
barang dan jasa yang dihasikan oleh pabrik-pabrik? Karena daya beli masyarakat rendah, barabg-
barang yang dihasilkan menjadi tidak laku. Pabrik-pabrik terpaksa tutup. Semua ini bukan
kesalahan pihak tertentu, melainkan tingkah kaum kapitalis sendiri. Lebih lanjut, Marx
menganalisis : jika pabrik-pabrik tutup, pengangguran akan semakin merajalela, yang akan
membawa kekalutan pada masyarakat. Marx meramal akan datang suatu masa, terjadi krisis
besar-besaran yang akan mengakhiri riwayat sistem kapitalis.
Dialektika Materialisme Historis. Dari setiap argumen yang dilontarkan Marx, ide
tentang konflik selalu ditekankan: Konflik antara ideal dan realitas, antara kapital dan labor, juga
antara pertumbuhan dan stagnasi. Konflik diganti dengan harmonis atau keselarasan etis, sosial,
dan ekonomi. Proses pembangunan melalui konflik merupakan proses dialektik. Proses ini
mempunyai basis dalam pembagian masyarakat atas kaum pekerja dan kapitalis. Bagi Marx,
pangkal dari semua perubahan adalah karena dilakukannya pengisapan atau eksploitasi para
kapitalis terhadap kaum buruh.
Perbedaan yang sangatmencolok antara pemilik kapital dan kaum proletariat akan
membawa kearah revolusi sosial.Bagi Marx, dialetika sejarah merupakan suatu keniscayaan
sesuatu yang pasti akan terjadi. Jika kaum proletar sudah tidak tahan lagi, mereka akan
melancarkan revolusi. Agar revolusi berjalan sukses, Marx menganjurkan kaum komunis
mendukung setiap gerakan melawan sosial politik sistem kapitalis.
Teori Marx tentang kejatuhan kapitalisme untuk kemudian digantikan dengan
sosialisme/komunisme didasarkan pada dialektika materialisme sejarah. Konsep dialetika
materialisme dipelajari Marx dan filsuf Georg Wilhem Hegel dan Ludwig
Feuerbach.Berdasarkan dialetika materialisme sejarah, Marx percaya bahwa kekuatan - kekuatan
ekonomi (yang disebutnya kekuatan – kekuatan produktif,productive forces) sangat menentukan
hubungan – hubungan produksi,pasar,masyarakat, dan bahkan termasuk “suprastruktur (ideologi,
falsafah, hukum sosial, budaya, agama, kesenian, dan sebagainya), nantinya diorganisasi.
Fase – fase Perkembangan Masyarakat. Menurut Marx, semua kelompok masyarakat
akan mengalami fase – fase sebagai berikut :
1. Komunisme primitif ( suku ),
2. Perbudakan,
3. Feodalisme,
4. Kapitalisme,
5. Sosialisme,
6. Komunisme.
Dalam masyarakat komunisme primitif dan juga sosialisme komunisme, alat berproduksi
merupakan milik bersama. Namun, dalam tiga kelompok masyarakat yang lain, yaitu
perbudakan, feodalisme, dan kapitalisme, alat – alat atau modal produksi dimiliki dan
dikendalikan oleh suatu kelompok, sedangkan kelompok lain hanya sebagai pekerja.
Menurut Marx, perubahan dari suatu fase ke fase berikutnya yang lebih maju terjadi
karena kurang atau tidak seimbangnya kemajuan dalam teknologi dengan kemajuan dalam
institusi. Teknologi merupakan suatu tenaga dinamis yang sangat penting dalam sejarah umat
manusia. Teknologi menentukan kekuatan produktif suatu kelompok masyarakat. Kemajuan
teknologi membawa berbagai pengubahan. Teknologi memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk
merombak institusi yang bergerak lamban. Lembaga akan diciptakan, sesuai dengan kemauan
dan keinginan para perombaknya,yaitu mereka yang menguasai kekuasaan.
Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, kapitalisme bagi Marx hanya jaya pada tahap
awal. Salah satu dari hasil temuan tersebut adalah teknologi yang hemat tenaga kerja ( labor
saving technology ). Menurut Marx, produksi yang berlebih – lebihan ( over- production ),
tingkat konsumsi rendah ( under- consumption ), disproporsi, daneksploitasi serta alienasi yang
dialami kaum buruh. Beberapa program yang dianjurkan Marx untuk dilakukan setelah revolusi
berhasil antara lain :
1. Penghapusan hak milik atas tanah dan menggunakan semua bentuk tanah untuk tujuan -
tujuan umum,
2. Program pajak pendapatan progresif atau gradual,
3. Penghapusan semua bentuk hak pewarisan,
4. Pemusatan kredit ditangan negara,
5. Pemusatan alat- alat komunikasi dan transportasi ditangan negaa,
6. Pengembangan pabrik- pabrik dan alat- alat produksi milik negara.
Dari berbagai program diatas yang sangat perlu diperhatikan adalah alat - alat kekayaan
produktif, terutama modal dan tanah, secara berangsur - angsur harus dikuasai negara. Sementara
tahap komunisme penuh belum dicapai, fungsinegara terutama elit pimpinan partai sangat
diperlukanuntuk menuntun masyarakat kearah komunisme penuh.
Perbedaan Sosialisme dan Komunisme Menurut Marx. Marx membedakan fase
sosialisme dengan komunisme penuh atau lengkap. Perbedaan diantara kedua fase tersebut dapat
dilihat dari :
1. Produktivitas,
2. Hakikat manusia sebagai produsen, dan
3. Pembagian pendapatan.
Dalam fase sosialisme, produktivitas masih rendah dan kebutuhan materi belum
terpenuhi secara cukup. Fase komunisme penuh produktivitas sudah tinggi sehingga semua
kebutuhan materi diproduksi secara cukup. Tentang pembagian atau distribusi pendapatan, dalam
fase sosialisme berlaku prinsip: “from each according to his ability, to each according to his
labor”, sedangkan fase komunisme penuh prinsipnya: “from each according to his ability, to each
according to his needs”.
Pada waktu Marxmenulis Manifesto Komunis, belum ada suatu negara sosialis, apalagi
negara komunis. Pada awal abad ke-20 partai komunis Marxistelah menjadi partai radikal
penting didunia, kecuali di negara- negara Inggris dan Amerika Serikat.
3. Kaum Utopis
Tokoh sosialis-utopis yang paling terkenal adalah Sir Thomas More (1478-1535).
Bahkan, istilah “sosialis-utopis” diberikan karena More pernah menulis tentang sebuah “negara
impian” dalam sebuah tulisannya yang sangat terkenal: “Utopia”. Buku Utopia ditulis pertama
kali dalam bahasa Latin di Belgia tahun 1516, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tahun
1551. Dalam buku tersebut More menjelaskan bahwa disebuah pulau khayal bernama Utopia,
yang dapat juga ditafsirkan sebagai sebuah negara, semua milik merupakan milik bersama.
Semua orang tinggal dalam suatu tempat bersama. Makanan serta segala kebutuhan lainnya
disediakan secara bersama-sama pula.
Untuk menghasilkan barang-barang dan jasa, semua orang harus bekerja. Masyarakat
dianjurkan untuk hidup sederhana. Orang tidak perlu bekerja mati-matian dalam waktu terlalu
lama, melainkan cukup sekedar dapat memenuhi kebutuhan dengan bekerja sekitar enam jam
setiap hari. Dalam hidup penuh kesederhanaan ini, uang tidak diperlukan. Pakaian semua orang
seragam. Dengan demikian, tidak perlu mengikuti mode. Lebih ekstrem lagi, perhiasan emas dan
perak tidak dihargai. Toleransi hidup bermasyarakat ditanamkan. Pemerintahan dijalankan secara
“demokratis” dan pimpinan untuk seumur hidup adalah merupakan hasil pemilihan rakyat.
Dari gambarannya tentang negara Utopia sebagaimana dijelaskan di atas, tidak sulit
ditebak bahwa Thomas More juga dapat digolongkan sebagai penganut sosialisme/komunisme.
Namun, jika ditelusuri dari latar belakang penulisan buku, yang dimaksud More sesungguhnya
adalah menyindir kehidupan sosial-ekonomi masyarakat di Inggris pada abad ke-XVI, pada masa
itu perbandingan antara yang kaya dengan yang miskin sangat mencolok. Kaum buruh bekerja
sangat keras dalam waktu terlalu lama sehingga tidak ada kemungkinan atau kesempatan bagi
mereka untuk meningkatkan pendidikan, dan melanjutkan kegiatan-kegiatan sosial lainnya.
Tulisan-tulisan lain yang senada dengan Utopia More cukup banyak, antara lain dapat
dilihat dari karangan Tomasso Campanella (1568-1639), Francis Bacon (1560-1626), dan James
Harrington. Tomasso Campanella dari Itali, menulis sebuah buku berjudul Civitas Solis. Judul
tersebut secara sederhana berarti Kota Matahari (City of the Sun). buku ini oleh sebagian
kalangan dianggap sangat mirip dengan Respublika yang ditulis oleh Plato kira-kira satu abad
sebelumnya. Tokoh Utopis lain, yaitu Francis Bacon, mengarang sebuah buku dengan judul New
Atlantis, atau Nova Atlantis pada tahun 1629. James Harrington, seorang penganjur demokrasi
politik, menerbitkan sebuah karangan dengan judul “Oceana” pada tahun 1656.
Buku-buku yang sifatnya Utopia tersebut banyak mempengaruhi pemikir-pemikir sosialis
lain dikemudian hari. Misalnya, pandangan-pandangan Comte de Saint Simon (1760-1825), jelas
sangat dipengaruhi oleh pandangan Francis Bacon melalui bukunya New Atlantis. Melalui karya-
karyanya Saint Simon, seorang bangsawan pra-revolusi Prancis, dipandang sebagai salah seorang
pemikir ulung sosialis. Ia merasa bahwa sistem produksi dalam suatu organisasi sosialis sangat
penting artinya. Pada waktu itu sangat dikuasai oleh kaum feodal, dan berjalan tanpa kontrol.
Agar sistem produksi ini bisa memberikan kesejahteraan yang sebesar-besarnya bagi masyarakat,
perlu ada suatu lembaga yang mampu melakukan pengawasan. Lembaga apa dan oleh siapa?
Saint Simon mengusulkan agar fungsi pengawasan tersebut dipegang oleh suatu badan yang
disebut industrial elite, yang anggota-anggotanya, terdiri atas pakar-pakar ilmiah (scientist), para
teknisi serta para pimpinan pengusaha.
4. Sosialisme Ilmiah
Sosialisme ilmiah adalah salah satu cabang sosialisme yang memandang bahwa
sosialisme tidaklah dapat dibangun di ruang hampa. Sosialisme adalah penerus kapitalisme,
dalam arti sosialisme akan menggantikan kapitalisme sebagai cara hidup. Karena sosialisme
adalah penerus kapitalisme, ia akan membangun dirinya dengan memanfaatkan kemajuan-
kemajuan yang telah dicapai kapitalisme. Karena sekalipun dicapai dengan mengorbankan rakyat
banyak, tak dapat disangkal bahwa kapitalisme menghasilkan berbagai kemajuan. Sosialisme
ilmiah tidak menolak kemajuan ini, melainkan akan merangkulnya, memberinya arah baru
sehingga bermanfaat bagi khalayak ramai, dan mengaturnya secara demokratis, di mana semua
orang – laki-laki dan perempuan – berhak bersumbang-saran dan bahu-membahu demi kemajuan
bersama.
Sosialisme ilmiah juga menganggap bahwa kemajuan ilmu pengetahuan adalah cara
terbaik untuk melatih kelas pekerja dan rakyat pekerja lainnya agar mampu merebut dan
mengendalikan kekuasaan (jika sudah tergenggam). Kelas pekerja dan rakyat pekerja pada
umumnya harus menguasai ilmu pengetahuan modern, mampu menggunakan analisa dan teknik
modern untuk memecahkan masalah serta meninggalkan tradisi lama yang menghambat
kemajuan-kesetaraan-keadilan. Dengan demikian, kelas pekerja tidak akan lagi menjadi
warganegara kelas dua, yang hanya memiliki otot tapi tidak punya otak – seperti anggapan para
penguasa dan (sayangnya) sebagian besar kelas pekerja itu sendiri.
Sosialisme bukan sekedar panggilan moral melainkan sebuah seruan agar rakyat pekerja
memegang sendiri kekuasaan secara ekonomi dan politik. Sosialisme yang diinginkan adalah
sistem masyarakat di mana rakyat pekerja, mereka yang tidak memiliki modal dan harus menjual
tenaganya agar dapat hidup, memegang kendali atas hidup mereka sendiri. Secara praktek, hal ini
dapat diwujudkan jika rakyat pekerja memegang kekuasaan atas negara, dengan demikian, segala
alat dan sumberdaya yang ada pada negara akan dapat digunakan sebaik-baiknya demi
kepentingan meningkatkan kesejahteraan rakyat pekerja. Hanya jika demikianlah semua UU dan
peraturan negara, pembagian anggaran dan dana publik, birokrasi dan kependudukan, serta tata-
pembangunan secara umum akan berpihak pada rakyat pekerja.
Sosialisme adalah anti-tesis (lawan) dari kapitalisme. Segala nilai, moral, tata-berpikir,
susunan kemasyarakatan dan cara kerja yang ada di bawah kapitalisme mendapatkan lawannya
di bawah sosialisme. Jika kapitalisme mendewakan kepentingan pribadi, maka sosialisme
mendahulukan kepentingan orang banyak. Jika kapitalisme mengejar kekayaan perorangan,
sosialisme bekerja demi pemerataan kesejahteraan. Jika kapitalisme memperkenankan
eksploitasi terhadap alam dan perempuan (termasuk seksualitas) demi memberi keuntungan pada
segelintir orang, sosialisme berusaha keras memelihara keharmonisan dengan alam dan martabat
perempuan.
Jika kapitalisme menggunakan upah sebagai alat untuk membius buruh agar bekerja
membanting tulang di pabrik-pabrik, sosialisme menggunakan alat-alat kesejahteraan sosial
untuk membuat kehidupan buruh bertambah nyaman. Jika kapitalisme memperkenankan perang
untuk berebut sumberdaya dan memaksa pihak yang lemah untuk tunduk, sosialisme berupaya
memajukan perdamaian dunia dan hanya memperkenankan perang sebagai alat bela diri. Jika
kapitalisme menghancurkan perikehidupan bertani dengan perampasan-perampasan tanah,
sosialisme berusaha memajukan pertanian dengan melatih kaum tani bekerja dengan cara
produksi yang modern dalam kemandirian dan kebersamaan. Pendeknya, sosialisme berusaha
membalik segala keburukan dan dampak kapitalisme.

Sosialisme

  • 1.
    SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI “SOSIALISME” KELOMPOK4 I NYOMAN BAYU DIRGA 121515100 I KADEK DWI ADI PUTRA 121515100 KOMANG SRI AYU PUSPITA DEWI 1215151003 PUTU DIAH ARYA PURNAMA DEWI 1215151037 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR
  • 2.
    PEMBAHASAN 1. Latar BelakangTimbulnya Mashab Sosialisme Sebelum adanya mashab sosialisme terlebih dahulu telah lahir mashab klasik. Dimana tokoh utamanya adalah Adam Smith dan dilanjutkan dengan pemikiran-pemikiran dari tokoh- tokoh klasik lainnya seperti Robert Malthus, David Ricardo, J.B Say, dan J.S Mill. Pandangan, pemikiran, dan gagasan dari semua tokoh-tokoh ekonomi klasik yang tersebut di atas mendukung sistem ekonomi pasar, atau liberal, atau kapitalis. Sejak awal dikembangkannya ajaran liberalism-kapitalisme telah mengundang berbagai reaksi yang kritis dari berbagai pihak. Reaksi tidak hanya dalam bentuk perdebatan secara teoritis, melainkan juga dalam bentuk gerakan politik. Di bawah panji-panji kapitalisme (tahap awal) di Eropa, golongan borjuis mulai menguasai negara. Oleh kaum borjuis negara dijadikan sebagai kekuatan dan alat pemaksa untuk mengatur organisasi ekonomi-politik dan kemasyarakatan guna memenuhi berbagai kepentingan mereka. Tentu tidak semua orang senang dengan apa yang dilakuakan oleh kaum borjuis di atas. Mereka yang tidak senang ini kemudian berusaha melakukan balas dendam. Di banyak pabrik, para pekerja mengamuk dan melakukan pengrusakan terhadap pabrik dan mesin-mesin. Mereka melampiaskan rasa tidak senang mereka karena ditindas oleh kaum borjuis yang hanya mementingkan diri mereka saja, dan tidak perduli dengan nasib kaum proletar. Kondisi rakyat di bawah kaum borjuis dapat diikuti dari buku Englan Green and Pleasant Land yang ditulis oleh William Blake (1775-1827). Buku tersebut berisi sindiran sangat pahit tentang akibat-akibat yang ditimbulkan oleh liberalism-kapitalisme bagi masyarakat Inggris. Dalam buku dikisahkan tentang masa lalu Inggris yang indah, damai, setiap orang hidup harmonis di daerah-daerah pertanian yang hijau subur. Kemudian keadaan berubah seratus delapan puluh derajat setelah dikembangkannya ajaran liberalism-kapitalisme oleh pemikir- pemikir klasik. Ajaran kapitalisme telah membawa masyarakat ke arah hidup yang penuh persaingan dan perkelahian.
  • 3.
    Oleh sebab itu,maka lahirlah pemikiran sosialis yang mengecam pemikiran klasik. Pokok-pokok pemikiran kaum sosialis, notabene, sangat berbeda dan bertolak belakang dengan pemikiran tokoh-tokoh yang sudah dikemukakan sebelumnya. Pemikiran-pemikiran ekonomi beraliran sosialis secara garis besar dapat dipilih atas tiga kelompok, yaitu: 1. Dari kelompok pemikiran sosialis sebelum Marx 2. Pandangan Marx dan Engels, dan 3. Kelompok pemikir sosialis sesudah Marx Dalam kehidupan sehari-hari istilah sosialisme digunakan dalam banyak arti. Istilah sosialisme bisa digunakan untuk menunjukkan sistem ekonomi. Selain itu juga bisa digunakan untuk menunjukkan aliran falsafah, ideology, cita-cita, ajaran-ajaran atau gerakan. Menurut Jhon Stuart Mill sosialisme adalah kegiatan menolong orang-orang yang tak beruntung dan tertindas. Kegiatan ini dilakukan dengan sesedikit mungkin bergantung dari bantuan pemerintah. Sosialisme oleh sementara orang juga diartikan sebagai bentuk perekonomian yang pemerintahannya paling kurang bertindak sebagai pihak yang dipercayai oleh seluruh warga masyarakat. Pemerintah juga sebagai pihak yang menasionalisasikan industri-industri besar besar seperti pertambangan, jalan-jalan dan jembatan, kereta api, serta cabang-cabang produksi lain yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Dalam bentuk yang paling lengkap, sosialisme melibatkan pemilikan semua alat-alat produksi, termasuk di dalamnya tanah-tanah pertanian oleh negara dan menghilangkan milik swasta (Brinton, 1981). Dari uraian di atas jelas bahwa pada awalnya “sosialisme” dimaksudkan untuk menunjukkan sistem-sistem pemilikan dan pemanfaatan sumber-sumber produksi (selain labor) secara kolektif (Whittaker,1960). Dengan definisi itu, sosialisme bisa mencakup asosiasi-asosiasi kooperatif maupun pemilikan dan pengoperasian oleh pemerintah. Dengan definisi secara luas seperti ini negara-negara seperti (eks) Uni Soviet dan Inggris yang dikuasai oleh partai buruh dapat dimasukkan ke dalam sistem sosialis. Dalam kehidupan sehari-hari, kata “sosialisme” sering di pakai bergantian dengan istilah “komunisme”. Antara sosialisme dengan komunisme memang tidak banyak perbedaannya.
  • 4.
    Bahkan Marx seringmenggunakan istilah tersebut secara bergantian untuk menjelaskan hal yang sama. Bagaimana pun, oleh pakar-pakar lain keduanya sering dibedakan. Dalam masyarakat sosialis yang menonjol adalah rasa kebersamaan atau kolektivisme. Salah satu bentuk kolektivisme yang extrim adalah komunisme. Keputusan-keputusan ekonomi itu disususn, direncanakan, dan dikontrol oleh kekuatan pusat. Komunisme dapat dikatakan sebagai bentuk sistem paling extrim di antara golongan kiri sosialis, sebab untuk mencapai masyarakat komunis yang dicita-citakan diperoleh melalui suatu refolusi. Aliran sosialisme sebelum Marx (yang lebih bersikap utopis) sering dimasukkan ke dalam “sosialis”, sedakan sosialisme yang dikembangkan Marx digolongkan ke dalam “komunis”. Cara lain menamakan sosialisme Marx adalah “marxisme”. Disebut “marxisme” karena jasa Marx sangat besar dalam mengembangkan dan mempopulerkan aliran sosialis- komunis ini. Akan tetapi, kemudian paham marxisme ini juga mengalami perkembangan, jenis- jenis marxisme juga bervariasi, mulai dari marxisme ortodoks, neo-marxis, human marxis, aliran kiri baru (New Left), sosialis idependen, dan sebagainya. Walaupun kemudian pengertian tentang sosialisme semakin beragam dan bervariasi, dapat dikatakan bahwa pandangan dari tiap-tiap aliran didasarkan pada ajaran Marx dan Engels. Semua aliran marxisme tersebut pada intinya sama-sama melihat, mempertanyakan, dan membahas mengapa dan bagaimana pola produksi kapitalis telah mengubah formasi sosial- ekonomi masyarakat prakapitalis. Namun yang terjadi justru proses pemiskinan (pauperization), proses penyengsaraan (immiserization), keadaan keterbelakangan (under-development) serta makin banyak dan berkembangnya jumlah “tentara cadangan industri” (industrial reserve army), dan bukannya proses pembangunan (development) atau kemajuan (progress) 2. Pemikiran Ekonomi Mashab Sosialisme Sejarah pemikiran mazhab Sosialis dan kritik terhadap pemikiran ekonomi klasik. Kritik yang dikemukakan oleh mazhab sosialis berhubungan dengan doktrin laissez faire dengan pengendalian tangan tak kentara (invisible hand) dan intervensi pemerintah. Pemikiran yang dibahas adalah tentang teori nilai, pembagian kerja, teori kependudukan, dan the law of deminishing return, dan kritiknya karena asumsi bahwa negaralah yang berhak untuk mengatur kekayaan bangsa.
  • 5.
    Para pengritik mazhabklasik terutama dari Lauderdale, Sismonde, Carey, List dan Bastiat. Lauderdale mengajukan kritik bahwa nilai barang ditentukan oleh kelangkaan dan permintaan, sedangkan Muller dan List melihat bahwa nilai barang ditentukan juga tidak hanya oleh modal fisik, tetapi juga oleh modal spiritual dan modal mental. Demikian juga Carey melihat tentang teori nilai dari segi teori biaya reproduksi, sedangkan Bastiat bahwa faktor-faktor yang menentukan nilai barang adalah besarnya tenaga kerja yang dikorbankan pada pembuatan barang, menurut beliau hal-hal yang menjadi karunia alam tidak mempunyai nilai, kecuali telah diolah manusia. Sismonde mengajukan keberatan terhadap teori kependudukan Malthus, dan tidak mungkin dapat dikendalikan dengan cara-cara yang dikemukakan Malthus, sebab sangat tergantung pada kemauan manusia dan kesempatan kerja, dan kawin yang selalu dikaitkan dengan kemampuan ekonomi. Mesin mempunyai fungsi untuk menggantikan tenaga kerja manusia, aspek mesin tidak selalu mempunyai keuntungan dalam meningkatkan kekayaan bangsa. Carey berpendapat pertambahan modal lebih cepat dari pertambahan penduduk. Sismonde berpendapat bahwa pembagian kerja skala produksi menjadi semakin besar dan tidak dapat dikendalikan sehingga terjadi kelebihan produksi. Muller berpendapat bahwa pembagian kerja telah membawa pekerjaan ke dalam perbudakan dan tenaga kerja menjadi mesin. Pemikiran List bukan pembagian kerja yang paling penting tetapi mengetahui dan menggunakan kekuatan-kekuatan produktif dalam usaha meningkatkan kekayaan bangsa. Pemikiran John Stuart Mill banyak dipengaruhi oleh Jeremy Bentam yang beraliran falsafah utilitarian, bebannya sangat berat dalam mempelajari falsafah, politik dan ilmu sosial, yang menjadikan mental breakdown. Kritik terhadap ekonomi klasik terutama pada Smith, Malthus dan Ricardo, dipelajari oleh Mill. Sementara itu pemikiran ekonomi sosialis mulai berkembang, dasar sistem ekonomi klasik adalah laissez faire, hipotesis kependudukan Malthus, hukum lahan yang semakin berkurang, teori dana upah mendapat tantangan. Dalam era inilah pemikiran Mill dituangkan dalam bukunya yang berjudul Principle of Political Economy, dengan pemikiran yang eklektiknya. Sumbangan yang paling besar Mill adalah metode ilmu ekonomi yang bersifat deduktif dan bersama dengan metode induktif. Karena hipotesisnya belum didukung dengan data empirik,
  • 6.
    di samping itupembahasannya tentang teori nilai tidak melihat dari biaya produksi, tetapi telah menggunakan sisi permintaan melalui teori elastisitas. Mill menjelaskan bahwa hukum yang mengatur produksi lain dengan hukum distribusi pendapatan, juga memperkenalkan human capital investment yaitu keterampilan, kerajinan dan moral tenaga kerja dalam meningkatkan produktivitas. Kecaman Marx terhadap Sistem Kapitalis. Karl Marx sangat benci dengan sistem perekonomian yang digagas oleh Adam Smith dan kawan–kawan. Untuk menunjukkan kebenciannya, Marx menggunakan berbagai argumen untuk “membuktikan” bahwa sistem liberal/kapitalis itu buruk. Argumen-argumen yang disusun Marx dapat dilihat dari berbagai segi, baik dari sisi moral, sosiologi maupun ekonomi. Dari segi moral Marx melihat bahwa sistem kapitalis mewarisi berbagai ketidakadilan dari dalam. Ketidakadilan ini akhirnya akan membawa masyarakat kapitalis ke arah kondisi ekonomi dan sosial yang tidak bisa dipertahankan. Walau ada pengakuan bahwa sistem yang didasarkan pada mekanisme pasar ini lebih efesien sistem ini teteap dikecam. Hal itu karena sistem liberal tersebut tidak perduli tentang masalah kepincangan dan kesenjangan sosial. Dengan menerapkan sistem “upah besi” kaum buruh dalam sistem perekonomian liberal tidak akan pernah mampu mengangkat derajatnya lebih tinggi karena-sebagaimana di ucapkan Marx- “pasar bebas memang telah mentakdirkannya demikian”. Untuk mengangkat harkat para buruh yang sangat menderita dalam sistem liberal tersebut, Marx mengajak kaum buruh untuk bersatu. Dari segi sosiologi, Marx melihat adanya sumber konflik antarkelas. Dalam sistem liberal-kapitalis yang diamati Marx ada sekelompok orang (yaitu pemilik modal) yang menguasai kapital. Di lain pihak, ada sekelompok orang lainnya (yaitu kaum buruh) sebagai kelas proletar yang seperti sudah ditakdirkan untuk selalu menduduki posisi kelas bawah. Alasan sistem perekonomian liberal harus diganti menurut Marx ialah jumlah kaum nestapa akan bertambah besar dan sistem liberal cenderung menciptakan masyarakat berkelas-kelas, yaitu kelas kapitalis yang kaya raya dan kelas proletar kaum buruh. Dari segi ekonomi, Marx melihat bahwa akumulasi kapital ditangan kaum kapitalis memungkinkan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Akan tetapi, pembangunan dalam sistem kapitalis sangat bisa terhadap pemilik modal. Untuk bisa membangun secara nyata
  • 7.
    bagi seluruh lapisanmasyarakat, perlu dilakukan perombakkan struktural melalui revolusi sosial. Jika langkah ini berhasil, langkah berikutnya yang harus diambil ialah penataan kembali hubungan produksi (khususnya dalam sistem pemilikan tanah, alat-alat produksi dan modal). Menurut Marx, hanya atas dasar hubungan yang lebih manusiawi ini pembangunan dapat berjalan lancar tanpa hambatan dan dapat diterima oleh seluruh lapisan rakyat. Teori Pertentangan Kelas. Menurut Marx, sejarah segala masyarakat yang ada hingga sekarang pada hakikatnya adalah sejarah pertentangan kelas. Di zaman kuno ada kaum bangsawan yang bebas dan budak yang terikat. Di zaman pertengahan ada tuan tanah sebagai pemilik dan hamba sahaya yang menggarap tanah bukan kepunyaannya. Bahkan, di zaman modern ini juga ada majikan yang memiliki alat-alat produksi dan buruh yang hanya punya tenaga kerja untuk dijual kepada majikan. Di samping itu, ada masyarakat kelas kaya (the haves) dan kelas takberpunya (the haves not). Semua kelas-kelas masyarakat ini dianggap Marx timbul sebagai hasil dari kehidupan ekonomi masyarakat. Menurut pengamatan Marx, di seluruh dunia ini, sepanjang sejarah kelas yang lebih bawah selalu berusaha untuk membebaskan dan meningkatkan status kesejahteraan mereka. Sekarang pun (maksudnya di masa Marx) tidak terkecuali, tetap ada perjuangan kelas. Dengan anggapan seperti ini, Marx meramal bahwa kaum proletar yang terdiri dari kaum buruh akan bangkit melawan kesewenang-wenagan kaum pemilik modal dan akan menghancurkan kelas yang berkuasa. Bagaimana Marx menganggap bahwa kaum proletar diisap dan diperas oleh para pemilik modal? Teori yang digunakan untuk menjelaskan penindasan tersebut adalah teori nilai lebih (theory of surplus value), yang sebenarnya berasal dari kaum klasik sendiri. Teori “Surplus Value” dan Penindasan Buruh. Menurut pandangan kaum klasik (Ricardo), nilai suatu barang harus sama dengan biaya-biaya untuk menghasilkan barang tersebut, yang di dalamnya sudah termasuk ongkos tenaga kerja berupa upah alami(natural wages). Upah alami yang diterima oleh para buruh hanya cukup sekedar penyambung hidup secara subsisten, yaitu untuk memenuhi kebutuhan yang sangat pokok-pokok saja. Padahal, nilai dari hasil kerja para buruh jauh lebih besar dari jumlah yang diterima mereka sebagai upah alami. Kelebihan nilai produktivitas kerja buruh atas upah alami inilah yang disebut Marx sebagai nilai lebih(surplus value), dinikmati oleh para pemilik modal. Semakin kecil upah alami yang dibayarkan pada kaum buruh, semakin besar nilai surplus yang dinikmati pemilik modal.
  • 8.
    Bagi Marx iniberarti semakin besar pengisapan atau eksploitasi dari pemilik modal atas kaum buruh. Secara umum Marx percaya bahwa nilai suatu barang atau komoditas umumnya sepadan dengan input-input labor, dan hanya labor langsung yang dapat menghasilkan laba(yang disebutnya nilai surplus). Lebih jelas, menurut Marx: Komoditas (C) = c + v + s Istilah Marx tentang modal tetap atau biaya-biaya labor tak langsung (c) dan modal variabel atau biaya-biaya labor langsung (v), serta laba atau nilai surplus (s). Nilai surplus adalah kelebihan nilai produktivitas kerja atas upah alami yang diberikan kepada buruh. Semakin rendah nilai upah yang diberikan kepada buruh, semakin besar nilai surplus yang dinikmati pemilik modal. Tingkat surplus ini oleh Marx dijadikan sebagai ukuran eksploitasi terhadap kaum buruh. Tingkat eksploitasi (s’) tersebut bisa diukur dengan membandingkan nilai surplus (s) dengan upah yang diberikan (v), Tingkat Eksploitasi (s’) = s/v Dari uraian di atas, jelaslah bagaimana kaum pemilik modal memperoleh kekayaan dengan menindas kaum buruh. Sebagian dari laba yang merupakan surplus value tersebut ditanankan kembali sebagai investasi. Dari hasil investasi ini kekayaan mereka akan semakin menumpuk, semakin lama semakin besar. Akumulasi kapital akan semakin berhasil jika para kapitalis bisa menindas kaum buruh sekeras-kerasnya, yaitu dengan memberikan tingkat upah yang sangat rendah. Di sini tampak perbedaan yang sangat nyata antara Marx dan Smith dalam memandang persaingan. Smith menganggap persaingan bebas sebagai prasyarat bagi terbentuknya masyarakat sejahtera. Sebaliknya, Marx memandang sebagai penyebab terjadi konsentrasi-konsentrasi ekonomi atau monopoli. Kompetensi dinilai Marx mengandung suatu daya yang kalau tidak diawasi akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Perusahaan-perusahaan besar akan mencaplok yang kecil. Yang lemah akan tergusur dari pasar. Akibatnya, jumlah golongan menengah menciut, sedangkan jumlah kaum proletar akan semakin banyak.
  • 9.
    Akan tetapi, denganpraktik “gencet-menggencet” seperti ini siapa sesungguhnya yang rugi? Kaum buruh jelas rugi, sebab mereka hanya bisa memperoleh nafkah sekedar penyambung hidup belaka. Bagaimana dengan pemilik modal? Pada mulanya dengan menekan upah buruh mereka memang untung. Akan tetapi, dengan jumlah bururh yang sangat banyak, sedangkan pendapatan mereka sangat rendah menimbulkan masalah lain. Siapa yang akan membeli barang- barang dan jasa yang dihasikan oleh pabrik-pabrik? Karena daya beli masyarakat rendah, barabg- barang yang dihasilkan menjadi tidak laku. Pabrik-pabrik terpaksa tutup. Semua ini bukan kesalahan pihak tertentu, melainkan tingkah kaum kapitalis sendiri. Lebih lanjut, Marx menganalisis : jika pabrik-pabrik tutup, pengangguran akan semakin merajalela, yang akan membawa kekalutan pada masyarakat. Marx meramal akan datang suatu masa, terjadi krisis besar-besaran yang akan mengakhiri riwayat sistem kapitalis. Dialektika Materialisme Historis. Dari setiap argumen yang dilontarkan Marx, ide tentang konflik selalu ditekankan: Konflik antara ideal dan realitas, antara kapital dan labor, juga antara pertumbuhan dan stagnasi. Konflik diganti dengan harmonis atau keselarasan etis, sosial, dan ekonomi. Proses pembangunan melalui konflik merupakan proses dialektik. Proses ini mempunyai basis dalam pembagian masyarakat atas kaum pekerja dan kapitalis. Bagi Marx, pangkal dari semua perubahan adalah karena dilakukannya pengisapan atau eksploitasi para kapitalis terhadap kaum buruh. Perbedaan yang sangatmencolok antara pemilik kapital dan kaum proletariat akan membawa kearah revolusi sosial.Bagi Marx, dialetika sejarah merupakan suatu keniscayaan sesuatu yang pasti akan terjadi. Jika kaum proletar sudah tidak tahan lagi, mereka akan melancarkan revolusi. Agar revolusi berjalan sukses, Marx menganjurkan kaum komunis mendukung setiap gerakan melawan sosial politik sistem kapitalis. Teori Marx tentang kejatuhan kapitalisme untuk kemudian digantikan dengan sosialisme/komunisme didasarkan pada dialektika materialisme sejarah. Konsep dialetika materialisme dipelajari Marx dan filsuf Georg Wilhem Hegel dan Ludwig Feuerbach.Berdasarkan dialetika materialisme sejarah, Marx percaya bahwa kekuatan - kekuatan ekonomi (yang disebutnya kekuatan – kekuatan produktif,productive forces) sangat menentukan hubungan – hubungan produksi,pasar,masyarakat, dan bahkan termasuk “suprastruktur (ideologi, falsafah, hukum sosial, budaya, agama, kesenian, dan sebagainya), nantinya diorganisasi.
  • 10.
    Fase – fasePerkembangan Masyarakat. Menurut Marx, semua kelompok masyarakat akan mengalami fase – fase sebagai berikut : 1. Komunisme primitif ( suku ), 2. Perbudakan, 3. Feodalisme, 4. Kapitalisme, 5. Sosialisme, 6. Komunisme. Dalam masyarakat komunisme primitif dan juga sosialisme komunisme, alat berproduksi merupakan milik bersama. Namun, dalam tiga kelompok masyarakat yang lain, yaitu perbudakan, feodalisme, dan kapitalisme, alat – alat atau modal produksi dimiliki dan dikendalikan oleh suatu kelompok, sedangkan kelompok lain hanya sebagai pekerja. Menurut Marx, perubahan dari suatu fase ke fase berikutnya yang lebih maju terjadi karena kurang atau tidak seimbangnya kemajuan dalam teknologi dengan kemajuan dalam institusi. Teknologi merupakan suatu tenaga dinamis yang sangat penting dalam sejarah umat manusia. Teknologi menentukan kekuatan produktif suatu kelompok masyarakat. Kemajuan teknologi membawa berbagai pengubahan. Teknologi memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk merombak institusi yang bergerak lamban. Lembaga akan diciptakan, sesuai dengan kemauan dan keinginan para perombaknya,yaitu mereka yang menguasai kekuasaan. Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, kapitalisme bagi Marx hanya jaya pada tahap awal. Salah satu dari hasil temuan tersebut adalah teknologi yang hemat tenaga kerja ( labor saving technology ). Menurut Marx, produksi yang berlebih – lebihan ( over- production ), tingkat konsumsi rendah ( under- consumption ), disproporsi, daneksploitasi serta alienasi yang dialami kaum buruh. Beberapa program yang dianjurkan Marx untuk dilakukan setelah revolusi berhasil antara lain : 1. Penghapusan hak milik atas tanah dan menggunakan semua bentuk tanah untuk tujuan - tujuan umum, 2. Program pajak pendapatan progresif atau gradual, 3. Penghapusan semua bentuk hak pewarisan,
  • 11.
    4. Pemusatan kreditditangan negara, 5. Pemusatan alat- alat komunikasi dan transportasi ditangan negaa, 6. Pengembangan pabrik- pabrik dan alat- alat produksi milik negara. Dari berbagai program diatas yang sangat perlu diperhatikan adalah alat - alat kekayaan produktif, terutama modal dan tanah, secara berangsur - angsur harus dikuasai negara. Sementara tahap komunisme penuh belum dicapai, fungsinegara terutama elit pimpinan partai sangat diperlukanuntuk menuntun masyarakat kearah komunisme penuh. Perbedaan Sosialisme dan Komunisme Menurut Marx. Marx membedakan fase sosialisme dengan komunisme penuh atau lengkap. Perbedaan diantara kedua fase tersebut dapat dilihat dari : 1. Produktivitas, 2. Hakikat manusia sebagai produsen, dan 3. Pembagian pendapatan. Dalam fase sosialisme, produktivitas masih rendah dan kebutuhan materi belum terpenuhi secara cukup. Fase komunisme penuh produktivitas sudah tinggi sehingga semua kebutuhan materi diproduksi secara cukup. Tentang pembagian atau distribusi pendapatan, dalam fase sosialisme berlaku prinsip: “from each according to his ability, to each according to his labor”, sedangkan fase komunisme penuh prinsipnya: “from each according to his ability, to each according to his needs”. Pada waktu Marxmenulis Manifesto Komunis, belum ada suatu negara sosialis, apalagi negara komunis. Pada awal abad ke-20 partai komunis Marxistelah menjadi partai radikal penting didunia, kecuali di negara- negara Inggris dan Amerika Serikat. 3. Kaum Utopis Tokoh sosialis-utopis yang paling terkenal adalah Sir Thomas More (1478-1535). Bahkan, istilah “sosialis-utopis” diberikan karena More pernah menulis tentang sebuah “negara impian” dalam sebuah tulisannya yang sangat terkenal: “Utopia”. Buku Utopia ditulis pertama kali dalam bahasa Latin di Belgia tahun 1516, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tahun 1551. Dalam buku tersebut More menjelaskan bahwa disebuah pulau khayal bernama Utopia,
  • 12.
    yang dapat jugaditafsirkan sebagai sebuah negara, semua milik merupakan milik bersama. Semua orang tinggal dalam suatu tempat bersama. Makanan serta segala kebutuhan lainnya disediakan secara bersama-sama pula. Untuk menghasilkan barang-barang dan jasa, semua orang harus bekerja. Masyarakat dianjurkan untuk hidup sederhana. Orang tidak perlu bekerja mati-matian dalam waktu terlalu lama, melainkan cukup sekedar dapat memenuhi kebutuhan dengan bekerja sekitar enam jam setiap hari. Dalam hidup penuh kesederhanaan ini, uang tidak diperlukan. Pakaian semua orang seragam. Dengan demikian, tidak perlu mengikuti mode. Lebih ekstrem lagi, perhiasan emas dan perak tidak dihargai. Toleransi hidup bermasyarakat ditanamkan. Pemerintahan dijalankan secara “demokratis” dan pimpinan untuk seumur hidup adalah merupakan hasil pemilihan rakyat. Dari gambarannya tentang negara Utopia sebagaimana dijelaskan di atas, tidak sulit ditebak bahwa Thomas More juga dapat digolongkan sebagai penganut sosialisme/komunisme. Namun, jika ditelusuri dari latar belakang penulisan buku, yang dimaksud More sesungguhnya adalah menyindir kehidupan sosial-ekonomi masyarakat di Inggris pada abad ke-XVI, pada masa itu perbandingan antara yang kaya dengan yang miskin sangat mencolok. Kaum buruh bekerja sangat keras dalam waktu terlalu lama sehingga tidak ada kemungkinan atau kesempatan bagi mereka untuk meningkatkan pendidikan, dan melanjutkan kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Tulisan-tulisan lain yang senada dengan Utopia More cukup banyak, antara lain dapat dilihat dari karangan Tomasso Campanella (1568-1639), Francis Bacon (1560-1626), dan James Harrington. Tomasso Campanella dari Itali, menulis sebuah buku berjudul Civitas Solis. Judul tersebut secara sederhana berarti Kota Matahari (City of the Sun). buku ini oleh sebagian kalangan dianggap sangat mirip dengan Respublika yang ditulis oleh Plato kira-kira satu abad sebelumnya. Tokoh Utopis lain, yaitu Francis Bacon, mengarang sebuah buku dengan judul New Atlantis, atau Nova Atlantis pada tahun 1629. James Harrington, seorang penganjur demokrasi politik, menerbitkan sebuah karangan dengan judul “Oceana” pada tahun 1656. Buku-buku yang sifatnya Utopia tersebut banyak mempengaruhi pemikir-pemikir sosialis lain dikemudian hari. Misalnya, pandangan-pandangan Comte de Saint Simon (1760-1825), jelas sangat dipengaruhi oleh pandangan Francis Bacon melalui bukunya New Atlantis. Melalui karya- karyanya Saint Simon, seorang bangsawan pra-revolusi Prancis, dipandang sebagai salah seorang
  • 13.
    pemikir ulung sosialis.Ia merasa bahwa sistem produksi dalam suatu organisasi sosialis sangat penting artinya. Pada waktu itu sangat dikuasai oleh kaum feodal, dan berjalan tanpa kontrol. Agar sistem produksi ini bisa memberikan kesejahteraan yang sebesar-besarnya bagi masyarakat, perlu ada suatu lembaga yang mampu melakukan pengawasan. Lembaga apa dan oleh siapa? Saint Simon mengusulkan agar fungsi pengawasan tersebut dipegang oleh suatu badan yang disebut industrial elite, yang anggota-anggotanya, terdiri atas pakar-pakar ilmiah (scientist), para teknisi serta para pimpinan pengusaha. 4. Sosialisme Ilmiah Sosialisme ilmiah adalah salah satu cabang sosialisme yang memandang bahwa sosialisme tidaklah dapat dibangun di ruang hampa. Sosialisme adalah penerus kapitalisme, dalam arti sosialisme akan menggantikan kapitalisme sebagai cara hidup. Karena sosialisme adalah penerus kapitalisme, ia akan membangun dirinya dengan memanfaatkan kemajuan- kemajuan yang telah dicapai kapitalisme. Karena sekalipun dicapai dengan mengorbankan rakyat banyak, tak dapat disangkal bahwa kapitalisme menghasilkan berbagai kemajuan. Sosialisme ilmiah tidak menolak kemajuan ini, melainkan akan merangkulnya, memberinya arah baru sehingga bermanfaat bagi khalayak ramai, dan mengaturnya secara demokratis, di mana semua orang – laki-laki dan perempuan – berhak bersumbang-saran dan bahu-membahu demi kemajuan bersama. Sosialisme ilmiah juga menganggap bahwa kemajuan ilmu pengetahuan adalah cara terbaik untuk melatih kelas pekerja dan rakyat pekerja lainnya agar mampu merebut dan mengendalikan kekuasaan (jika sudah tergenggam). Kelas pekerja dan rakyat pekerja pada umumnya harus menguasai ilmu pengetahuan modern, mampu menggunakan analisa dan teknik modern untuk memecahkan masalah serta meninggalkan tradisi lama yang menghambat kemajuan-kesetaraan-keadilan. Dengan demikian, kelas pekerja tidak akan lagi menjadi warganegara kelas dua, yang hanya memiliki otot tapi tidak punya otak – seperti anggapan para penguasa dan (sayangnya) sebagian besar kelas pekerja itu sendiri. Sosialisme bukan sekedar panggilan moral melainkan sebuah seruan agar rakyat pekerja memegang sendiri kekuasaan secara ekonomi dan politik. Sosialisme yang diinginkan adalah sistem masyarakat di mana rakyat pekerja, mereka yang tidak memiliki modal dan harus menjual tenaganya agar dapat hidup, memegang kendali atas hidup mereka sendiri. Secara praktek, hal ini
  • 14.
    dapat diwujudkan jikarakyat pekerja memegang kekuasaan atas negara, dengan demikian, segala alat dan sumberdaya yang ada pada negara akan dapat digunakan sebaik-baiknya demi kepentingan meningkatkan kesejahteraan rakyat pekerja. Hanya jika demikianlah semua UU dan peraturan negara, pembagian anggaran dan dana publik, birokrasi dan kependudukan, serta tata- pembangunan secara umum akan berpihak pada rakyat pekerja. Sosialisme adalah anti-tesis (lawan) dari kapitalisme. Segala nilai, moral, tata-berpikir, susunan kemasyarakatan dan cara kerja yang ada di bawah kapitalisme mendapatkan lawannya di bawah sosialisme. Jika kapitalisme mendewakan kepentingan pribadi, maka sosialisme mendahulukan kepentingan orang banyak. Jika kapitalisme mengejar kekayaan perorangan, sosialisme bekerja demi pemerataan kesejahteraan. Jika kapitalisme memperkenankan eksploitasi terhadap alam dan perempuan (termasuk seksualitas) demi memberi keuntungan pada segelintir orang, sosialisme berusaha keras memelihara keharmonisan dengan alam dan martabat perempuan. Jika kapitalisme menggunakan upah sebagai alat untuk membius buruh agar bekerja membanting tulang di pabrik-pabrik, sosialisme menggunakan alat-alat kesejahteraan sosial untuk membuat kehidupan buruh bertambah nyaman. Jika kapitalisme memperkenankan perang untuk berebut sumberdaya dan memaksa pihak yang lemah untuk tunduk, sosialisme berupaya memajukan perdamaian dunia dan hanya memperkenankan perang sebagai alat bela diri. Jika kapitalisme menghancurkan perikehidupan bertani dengan perampasan-perampasan tanah, sosialisme berusaha memajukan pertanian dengan melatih kaum tani bekerja dengan cara produksi yang modern dalam kemandirian dan kebersamaan. Pendeknya, sosialisme berusaha membalik segala keburukan dan dampak kapitalisme.